Anda di halaman 1dari 11

Makalah Pengantar Perpajakan

Pajak Penghasilan




Kelas Y1

Nama Kelompok 1:
1. Farah Hidayat (2013410021)
2. Moch. Nasikin (2013410991)
3. Iga Hastanuri (2013410996)
4. Italia Vanesya (2013411002)
5. Iqbal Rismawan (2013411069)


D3 AKUNTANSI
STIE PERBANAS SURABAYA
2014

2 | P a j a k P e n g h a s i l a n

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji syukur alhamdulilah kepada Allah SWT karena
atas pemberian rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Pajak Penghasilan , makalah ini dibuat dalam rangka nilai dan sebagai bahan
informasi untuk para pembaca.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa dalam pembahasan
masih banyak terdapat kekurangan baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun
dalam penulisan kalimat. Walaupun demikian kami telah berusaha semaksimal
mungkin supaya dapat mencapai sasaran penulisan makalah ini. Kami berharap
semoga makalah ini dapat dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan para
pembaca umumnya .



Surabaya, 18 Mei 2014

Penulis

3 | P a j a k P e n g h a s i l a n

Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................................................ 2
Daftar Isi .................................................................................................................................................. 3
BAB I ........................................................................................................................................................ 4
Pendahuluan ....................................................................................................................................... 4
I. Latar Belakang ......................................................................................................................... 4
II. Dasar Hukum ........................................................................................................................... 4
BAB II ....................................................................................................................................................... 5
ISI ......................................................................................................................................................... 5
III. Pengertian Pajak Penghasilan ............................................................................................. 5
IV. Subyek Pajak Penghasilan adalah : .......................................................................................... 5
V. Subyek Pajak dalam Negeri ..................................................................................................... 5
VI. Subjek Pajak Luar Negeri ..................................................................................................... 6
VII. Tidak Termasuk Subjek Pajak .............................................................................................. 6
VIII. Objek Pajak Penghasilan ..................................................................................................... 6
IX. Tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan ............................................................................... 8
X. Tarif Pajak ............................................................................................................................... 9
XI. Tarif Pajak Penghasilan (Pasal 17 UU PPh) ............................................................................ 10
BAB III .................................................................................................................................................... 11
Penutup ............................................................................................................................................. 11
XII. Kesimpulan ........................................................................................................................ 11
Daftar Pustaka ....................................................................................................................................... 11


4 | P a j a k P e n g h a s i l a n

BAB I
Pendahuluan


I. Latar Belakang

Sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem self assesment.
Dengan sistem tersebut Wajib Pajak diberikan kepercayaan untuk
menghitung sendiri besarnya pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak.
Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) terutang dilakukan oleh Wajib Pajak
sendiri dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

II. Dasar Hukum

Pajak Penghasilan (disingkat PPh) di Indonesia diatur pertama kali
dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dengan penjelasan pada
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Selanjutnya
Berturut-turut diamandemen oleh :
1. UU Nomor 7 Tahun 1991 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan, mulai berlaku 1 Januari 1992
2. UU Nomor 10 Tahun 1994 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, mulai berlaku 1 Januari 1995
3. UU Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, mulai berlaku 1 Januari 2001
4. UU Nomor 36 Tahun 2008

Pajak Penghasilan dikenakan terhadap orang pribadi badan, berkenaan
dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh selama satu tahun pajak.

5 | P a j a k P e n g h a s i l a n

BAB II
ISI


III. Pengertian Pajak Penghasilan

Penghasilan yang telah diperoleh oleh setiap wajib pajak yang memiliki
NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) wajib dikenakan pajak yaitu pajak
penghasilan. Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan pada subjek
pajak atas penghasilan yang diperolehnya pada tahun pajak, dapat pula
dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak, dapat pula
dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak bila kewajiban
pajak subjektifnya dimulai atau berakhir tahun pajak.
IV. Subyek Pajak Penghasilan adalah :

a. Orang Pribadi;
b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan;
c. Badan (PT, CV, BUMN/BUMD, Firma, Koperasi, dll);
d. Bentuk Usaha Tetap (BUT);
e. Kantor Perwakilan;
f. Gedung Kantor;
g. Pabrik;
h. Bengkel;
i. Gudang;
j. Ruang untuk promosi penjualan;
k. Pertambangan dan penggalian sumber alam;
l. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
m. Dll.

V. Subyek Pajak dalam Negeri
Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di
Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan, atau yang dalam suatu tahun pajak berada di
Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit
tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria pembentukannya
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, pembiayaannya
bersumber dari APBN atau APBD, penerimaannya dimasukan dalam
anggaran pusat atau daerah, pembukuannya diperiksa oleh aparat
pengawasan fungsional negara.
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang
berhak.

6 | P a j a k P e n g h a s i l a n

VI. Subjek Pajak Luar Negeri
Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
yang dapat menerima atau memperoleh panghasilan dari Indonesia
bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di
Indonesia.
VII. Tidak Termasuk Subjek Pajak
1. Badan perwakilan negara asing;
2. Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari
negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang
bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan
syarat:
bukan warga Negara Indonesia; dan
di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar
jabatan atau pekerjaannya tersebut; serta
negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
3. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan dengan syarat :
Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut;
tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada
pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat :
bukan warga negara Indonesia; dan
tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia.
VIII. Objek Pajak Penghasilan
Adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan
dalam bentuk apapun termasuk:
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium,
komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun atau imbalan dalam bentuk
lainnya kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang Pajak Penghasilan;
2. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
7 | P a j a k P e n g h a s i l a n

3. laba usaha;
4. keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
- keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan,
dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
- keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya
karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota ;
- keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan atau pengambilalihan usaha;
- keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan
pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi
yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan
dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-
pihak yang bersangkutan;
5. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya;
6. bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang;
7. dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil
usaha koperasi ;
8. royalti;
9. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
10. penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
11. keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
12. keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
13. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
14. premi asuransi;
15. iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang
terdiri dari WP yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
16. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum
dikenakan pajak.
17. penghasilan dari usaha berbasis syariah.
18. Surplus Bank Indonesia
19. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam UU yang mnegatur
mengenai KUP.
Objek Pajak yang dikenakan PPh final
Atas penghasilan berupa:
bunga deposito dan tabungan-tabungan lainnya;
penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek;
penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan, serta
penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

8 | P a j a k P e n g h a s i l a n

IX. Tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan
1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh Badan Amil
Zakat atau Lembaga Amil Zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
Pemerintah dan yang diterima oleh yang berhak serta harta hibahan yang
diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan
oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk Koperasi yang ditetapkan Menteri Keuangan;
sepanjang tidak ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
2. Warisan
3. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh Badan sebagai pengganti
saham atau penyertaan modal8
4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa dalam
bentuk natura atau kenikmatan dari wajib pajak atau pemerintah
5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwi
guna, dan asuransi bea siswa
6. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh Perseroan Terbatas
(PT), Koperasi, Yayasan atau sejenisnya, BUMN/BUMD, yang merupakan
wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan berkedudukan di Indonesia, dengan syarat ;
- dividen tersebut berasal dari cadangan laba yang ditahan
- dalam hal penerima dividen adalah Perseroan Terbatas, BUMN, dan
BUMD, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen
paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan harus memiliki
usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut.
7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan baik dibayar oleh pemberi kerja maupun
pegawai.
8. Penghasilan dana pensiun tersebut dari modal yang ditanamkan dalam
bidang-bidang tertentu, yaitu ;
- deposito, sertifikat deposito, tabungan pada bank di Indonesia
- obligasi yang diperdagangkan di Pasar Modal Indonesia
- saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi yang modalnya tidak terbagi
atas saham-saham.
10. Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksa dana selama 5
tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau sejak pemberian ijin usaha.
11. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura, berupa
bagian laba dari pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha di
Indonesia, sepanjang perusahaan pasangan usaha tersebut ;
9 | P a j a k P e n g h a s i l a n

- merupakan perusahaan kecil atau menengah (penjualan bersih
setahun tidak melebihi Rp 5 juta) atau yang menjalankan usaha dalam
sektor usaha yang ditetapkan Menteri Keuangan
- sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia

X. Tarif Pajak
Tarif Pajak merupakan angka atau presentase yang digunakan untuk
menghitung jumlah pajak yang terhutang .Cara pemungutan pajak atau
sistem penetapan tarif pajak terdiri atas empat cara, yaitu seperti berikut :


a. Tarif pajak proporsional (sebanding), adalah tarif pajak dengan
menggunakan persentase yang tetap untuk setiap dasar pengenaan pajak.



b. Tarif pajak degresif (menurun), adalah tarif pajak dengan menggunakan
persentase yang menurun untuk setiap dasar pengenaan pajak.





10 | P a j a k P e n g h a s i l a n


c. Tarif pajak konstan (tetap), adalah tarif pajak yang tetap untuk setiap dasar
pengenaan pajak atau besarnya pajak yang dibayarkan jumlahnya tetap.




d. Tarif pajak progresif (menaik), adalah tarif pajak dengan prosentase yang
semakin meningkat untuk setiap dasar pengenaan pajak.




XI. Tarif Pajak Penghasilan

Berdasar Pasal 17 ayat 1 UU Pajak Penghasilan Nomor 36 Tahun 2008, besarnya
tarif pajak penghasilan yang di terapkan bagi penghasilan WP Dalam Negeri dan WP
Luar Negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan usaha di Indonesia
melalui suatu bentu usaha tetap di Indonesia adalah sebagai berikut :

a. Untuk WP OP :
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
- 0 s.d. Rp. 50.000.000 5 %
- Diatas Rp.50 juta s.d. Rp.250 juta 15 %
- Diatas Rp.250 juta s.d. Rp.500 juta 25 %
- Diatas Rp.500 juta 30 %

b. Untuk WP Badan DN :
Dikenakan tarif tunggal sebesar 28 % untuk tahun pajak 2009, sedangkan
mulai tahun pajak 2010 diturunkan menjadi 25 %.
Bagi WP badan yang peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun sampai
dengan 50 miliar mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50%
dari tarif tersebut diatas, yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari
bagian peredaran bruto sampai dengan 4,8 miliar (Pasal 31E Undang-
Undang PPh).
11 | P a j a k P e n g h a s i l a n

BAB III
Penutup

XII. Kesimpulan

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan pada subjek pajak atas penghasilan
yang diperolehnya pada tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan
dalam bagian tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian
tahun pajak bila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir tahun pajak.

Daftar Pustaka


Modul Pembelajaran PENGANTAR PERPAJAKAN STIE PERBANAS SURABAYA