Anda di halaman 1dari 8

V.

PEMIMPIN BERMORAL

5.1. Tauhid

artinya: keesaan sedangkan menurut istilah Menurut Aly dkk (2008), Tauhid ialah
ilmu yang membahas hal-hal menetapkan akidah agama dengan dalil yang
meyakinkan. Ilmu Tauhid adalah suatu ilmu membahas tentang wujud Allah,
sifat-sifat wajib bagi-Nya sifat-sifat yang boleh dan yang tidak boleh disifati
kepada-Nya. Di samping itu Ilmu Tauhid juga menyikapi Rasul-rasul Allah guna
menetapkan risalah mereka, yang boleh mereka nasabkan dan apa yang dilarang
atas mereka. Nasution dan Hasan (2001), menyatakan bahwa Ilmu Tauhid adalah
ilmu yang menyelidiki dan membahas soal yang wajib, jaiz, dan mustahil bagi
Allah dan bagi sekalian utusan-utusan-Nya, dan juga mengupas dalil-dalil yang
mungkin cocok dengan akal pikiran sebagai alat untuk membuktikan adanya Zat
yang mewujudkan. Ilmu ini dinamakan Ilmu Tauhid karena pembahasannya yang
paling menonjol adalah tentang ke-Esaan Tuhan yang asas pokok agama Islam,
sebagaimana yang berlaku terhadap agama yang benar yang telah di bawa oleh
para rasul yang di utus Allah. (Ahmad dan Muhammad, 1998).
5.2. Menikah
Nikah adalah salah satu pokok hidup yang utama dalam pergaulan atau
masyarakat yang sempurna, bukan saja perkawinan itu satu jalan yang sangat
Nama : Indra Sugiharto
NIM : D1F013008
Kelas : B
mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi perkawinan
itu dapat di pandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu umat
dengan yang lain. Selain dari pada itu, dengan perkawinan seseorang akan
terpelihara dari kebinasaan hawa nafsu. Sebagaimana sabda nabi Muhammad
SW. yg y: H p-pemuda barang siapa yang mampu diantara
kamu serta berkeinginan hendak kawin, hendaklah dia kawin. Karena
sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadapat orang yang
tidak halal dilaihatnya. Dan akan memeliharakannya dari godaan syhwat. Dan
barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa,
hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang (Aminudin, 2008). Sementara
ada yang berpendapat bahwa, nikah merupakan suatu ikatan perjanjian yang
sakral dan kekal antara seorang lelaki (calon suami) dengan seorang perempuan
(calon istri) untuk bersama-sama dalam membentuk lembaga keluarga (rumah
tangga) agar memperoleh kedamaian hati, ketentraman jiwa, dan cinta kasih (Didi,
2000).
Terjadinya gejolak biologis merupakan pertanda munculnya
kecenderungan seksual dalam diri seseorang ibarat api dalam sekam, semua itu
akan mempengaruhi kepribadian si pemuda tersebut, kecenderungan seksual akan
menghidupkan imajinasi dan menggiring orang yang mengalaminya keluar dari
alam nyata, untuk kemudian membentuk kecenderungan baru yang belum pernah
terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu para pemuda (yang mengalami masa
tersebut) harus segera memperoleh jawaban atas tuntutan baru yang muncul dalam
dirinya, apabila kita tidak segera menjawab kebutuhan tersebut, mereka tentu akan
terhempas ke dalam jurang kesulitan yang amat dalam dan kelam (Husain
Mazhahiri, 2004). Perkawinan dalam Islam dianggap sah apabila telah memenuhi
rukun syaratnya yang telah digariskan oleh para fuqoha. Rukun perkawinan ada
lima yaitu Calon suami, Calon Istri, Wali, Dua Orang saksi, dan Ijab Qabul (Al-
Hamdani, 2002).

5.3. Nilai hayati/ kemanusiaan
Manusia semuanya dimata Allah itu sama sedrajat. Hal ini dijelaskan pula
dalam pancasila sila ke 2 yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, dijelaskan
pula dalam surat al-hujarat ayat 13 yang artinya : Hai manusia, Sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal. ( Universitas Islam Indonesia, 2003 ).
Nilai kemanusiaan berarti suatu pandangan atau perspektif dimana hormat
dasar yang diberikan kepada orang lain tidak tergantung dari ciri-ciri atau
kemampuan kemampuannya, melainkan semata-mata dari kenyataan bahwa dia
adalah seorang manusia. Oleh sebab itu, tindakan yang buruk atau kejahatan
terhadap orang lainmerupakan kekejaman yang jauh dari nilai humanis. Tidak
bersikap kejam berarti tidak pernah membuat orang lain merasa sakit, dengan
tidak melukai orang lain secara fisik maupun merendahkannya secara psikis.
Yang penting bagi seorang humanis adalah tidak perlu ada alasan teoretis untuk
tidak bersikap kejam (Magnis-Suseno, 2001).
Untuk itu, merupakan kebutuhan mendesak mengajarkan kepada kaum
muda nilai nilai fundamental kemanusiaan dan akhlak mulia yang amat penting
bagi kehidupanpribadi dan komunitasnya. Perlu upaya mengembangkan
kecerdasan spiritual dan nilai nilai kebangsaan, agar kaum muda tidak terkotak-
kotak dalam budaya dan agama yang saling bertentangan, yang dapat memecah
kesatuan dan persatuan bangsa. Menurut Azyumardi Azra (2007) harus
diupayakan secara sistematis, programatis, integrated, dan berkesinambungan
pendidikan multikultural yang diselenggarakan melalui seluruh lembaga
pendidikan baik formal, non formal, bahkan informal dalam masyarakat luas.

5.4. Nilai keadilan
Adil adalah proporsional, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Pemimpin harus bersikap adil, karena jika pemimpin tidak adil maka
memunculkan kecemburuan masyarakat yang dapat memicu kerawanan social,
konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin
yang dapat membawa rakyatnya menjadi makmur dalam keadilan dan adil dalam
kemakmuran. Allah berfirman dalam surat Al- y 8 yg y
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang orang yang selalu
menegakkan ( kebenaran ) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. Dan
bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah maha mengetahui apa
yg j. ( H 2007 ).
Banyak pihak yang menyatakan bahwa saat seseorang merasa dirinya
menjadi korban atas tindakan disriminasi yang dilakukan orang lain terhadap
dirinya, maka dapat diakatakan dirinya tidak mendapat bentuk keadilan yang
nyata. Begitu pula jika dirinya mendapat tindakan belah sebelah, atau tidak
mendapat bagian yang wajar dalam suatu perjanjian maka dapat dikatakan
tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai keadilan (Velasquez, 2005). Keadilan
dan kemanusian dari Allah adalah risalah yang memberi batas kepada setiap
aturan, msi kemanusiaan, dan aturan buatan manusia yang tersebar di muka bumi
(Alamsyah, 2008).
5.5. Amanah/ nilai kejujuran
Amanah adalah salah satu bahasa Indonesia yang telah disadur dari bahasa
Arab. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata yang menunjuk makna kepercayaan
menggunakan dua kata, yaitu amanah atau amanat. Amanah memiliki beberapa
arti, antara lain 1) pesan yang dititipkan kepada orang lain untuk disampaikan. 2)
keamanan: ketenteraman. 3) kepercayaan. (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa,
2008)
Amanah dapat ditampilkan dalam bentuk keterbukaan, kejujuran,
pelayanan yang optimal, ihsan ( berbuat yang terbaik dalam segala hal untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat ). Dengan amanah maka akan
terhindar dari kolusi, korupsi dan manipulasi serta akan dapat memberikan
kepercayaan penuh dari anggotanya atau orang lain sehingga program-program
kepemimpinan akan dapat dukungan optimal dari para anggotanya. Dijelaskan
dalam Al- y 8 yg y og-orang yang memelihara
amanat-amanat ( yang dipikulnya ) dan janjinya ( Al-nun: 8 ) ( Hakim,
2007 ).
Amanah adalah sesuatu yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia
untuk mememliharanya demi keselamatanya, kemudian amat itu dikembalikan
kepada Allah sebagaimana yang dikehendakinya. Secara umum, amanah yaitu
sebagai seluruh amanat baik dalam kehidupan manusia mauun amnat dalam
agama ( Diah, 2004).













DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Muhammad. 1998. Tauhid Ilmu Kalam. Bandung : CV. Pustaka Setia
Alamsyah, A. 2008. Akuntasi dan Ideologi : Perumusan Konsep Dasar Akuntasi
Sy . g : UIN P.
Al-Hamdani, Risalah Nikah (Hukum Perkawinan Islam), terj. Agus Salim,
Jakarta: Pustaka Amani, 2002, hlm. 67
Aly, Abdullah dan Eny Rahma, 2008. Ilmu Alamiah Dasar, Bumi Aksara:Jakarta.
Aminuddin.2008. Pendidikan Agam Islam Jakarta:Bumi Aksara

Azyumardi Azra, 2007. Merawat kemajemukan merawat Indonesia. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Diah, Rahmawati. 2004. Penafsiran Amanah Dalam Al-Q
D Syy QSp Yogy UIN S
Kalijaga.
Didi Jubaidi Ismail, Membina Rumah Tangga Islami di bawah Ridha Allah,
Bandung: Pustaka Setia, 2000, hlm. 64.
Hakim, Abdul. 2007. Kepemimpinan Islami. Semarang : Unissula Press.
Husain Mazhahiri, Membangun Surga dalam Rumah Tangga, Bogor: Cahaya,
2004,
hlm.31-32.

Magnis-Suseno, F. 1991. Etika Jawa, Sebuah Analisis Falsafi tentang
Kebijaksanaan
Hidup Jawa. Jakarta: P.T. Gramedia.
Nasution, Hasan Bakti, 2001. Filsafat Umum, Gaya Media Pratama : Jakarta.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: {Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 48.
Universitas Islam Indonesia, 2003. Al-Quran Karim Dan Terjemahnya, Jilid I.
Yogyakarta : UI Press.

Velasquez, 2005, Etika Bisnis, Konsep dan Kasus, Edisi 5, Penerbit Andi,
Yogyakarta.