Anda di halaman 1dari 16

DASAR ILMU GENETIKA

(PENYAKIT GENETIK PADA TERNAK)



OLEH :
1. SERLY M. LUDJI (NIM : 1309011001)
2. HELDA A.N GADJA (NIM : 1309011002)
3. AGNES L. TANDJUNG (NIM : 1309012004)
4. SARRAH A. JOSEPH (NIM : 1309012007)
5. MARISA APLUGI (NIM : 1309012008)
6. ROMULA A. JEMADI (NIM : 1309012014)
7. CHRISTIN MELKIANUS (NIM : 1309012023)
8. YOHANES PAKALAKA (NIM : 1309012026)
9. ANDREAS U. JARA SIPUL (NIM : 1309012038)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan karunia dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah Dasar Ilmu Genetika ini
dapat diselesaikan sesuai dengan tuntutan proses pembelajaran di Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Nusa Cendana.
Makalah ini membahas mengenai Kelainan/penyakit pada ternak yang disebabkan
oleh faktor genetik. Kami sangat berharap makalah ini dapat membantu dalam memahami
kelainan pada ternak yang disebabkan oleh faktor genetik.
Ucapan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini
dapat terselesaikan. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.




Kupang, 12 Juni 2014

Penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. ............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN. ...................................................................................... 1
A. Latar belakang. .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah. .............................................................................. 1
C. Tujuan. ................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN. ....................................................................................... 4
A. Kelainan/Penyakit pada ternak disebabkan faktor genetik . ........... 4-12
B. Contoh Penurunan kelainan pada ternak. ...................................... 13-14
PENUTUP. ............................................................................................................ 15
A. Kesimpulan. ...................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA. .......................................................................................... 16








BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sifat-sifat makhluk hidup diturunkan pada keturunannya mengikuti pola pewarisan sifat
tertentu. Sifat yang diturunkan ada yang merugikan dan ada yang tidak merugikan (normal).
Sifat menurun yang akan dibahas adalah cacat dan penyakit bawaan. Fenomena kelainan fisik
berupa cacat atau penyakit bawaan pada makhluk hidup khususnya hewan ternak semakin
lama semakin banyak dijumpai. Penyakit ini bukan disebabkan infeksi kuman penyakit,
melainkan diwarisi dari orang tua melalui gen. Penyakit genetis ini tidak menular, dan dapat
diusahakan agar terhindar.
Pada umumnya, penyakit genetis dibawa oleh gen yang bersifat resesif. Jadi, gen akan
muncul sebagai suatu penyakit atau cacat jika dalam keadaan resesif homozigot. Untuk
keadaan gen yang heterozigot, individu yang bersangkutan tidak manampakkan kelainan atau
penyakit. Individu yang demikian dikatakan sebagai pembawa sifat (carrier). Individu yang
bersifat carrier walaupun menampakkan fenotipe normal, dapat mewariskan sifat yang
negatif kepada generasi selanjutnya.
Cacat kelainan bawaan dapat diturunkan lewat kromosom kelamin atau kromosom tubuh.
Cacat bawaan yang tertaut kromosom tubuh ada yang bersifat resesif dan ada yang bersifat
dominan. Cacat bawaan yang tertaut kromosom kelamin biasanya bersifat resesifelainan
tetapi bersifat carrier.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja Kelainan/penyakit pada ternak yang disebabkan oleh faktor genetik ?
2. Apa penyebab dari kelainan-kelainan tersebut ( gen dominan atau gen resesif ) ?
3. Bagaimana ciri-ciri dari masing-masing kelainan tersebut ?
4. Bagaimana contoh penurunan kelainan tersebut dengan menggunakan diagram
perkawinan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui kelainan/penyakit pada ternak yang disebabkan oleh faktor genetik
2. Mengetahui penyebab dari kelainan tersebut ( gen dominan atau gen resesif )
3. Mengetahui ciri-ciri dari kelainan tersebut
4. Mampu membuat contoh penurunan kelainan tersebut dengan menggunakan diagram
perkawinan


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyakit/Abnormalitas/Kelainan pada ternak yang disebabkan oleh faktor genetik:

1. Albinisme pada Hewan
Seperti pada manusia, albinisme pada hewan juga merupakan kelainan genetik yang
menyebabkan kelainan atau absennya pigmen melanin.
Berbagai mutasi gen bertanggung jawab atas terjadinya albinisme.
Albinisme bisa terjadi di hampir semua spesies hewan yang memiliki melanin dalam tubuh
mereka seperti reptil, amfibi, moluska, burung, dan mamalia.
Oleh karena itu, albinisme terjadi pada berbagai spesies hewan seperti ular, hiu, paus, lumba-
lumba, zebra, kelinci, burung merak, kura-kura, katak, rusa, dan sigung.
Ciri-Ciri penyakit Albino :
Mata hewan albino akan berwarna merah muda atau merah. Kurangnya melanin membuat
pembuluh darah mata menjadi terlihat sehingga mata nampak berwarna merah.
Hewan albino juga akan memiliki kuku, kulit, dan sisik yang berwarna kemerahan. Ada
beberapa kondisi pada hewan yang berhubungan dengan albinisme. Sementara axanthic
albino (axanthism) terjadi karena kekurangan warna kuning pada tubuh, anerythristic
albino terjadi karena kekurangan warna merah. Albinisme juga sering tertukar dengan
leucisme Pada leucisme, hewan memiliki warna yang sangat pucat atau putih, namun
memiliki mata gelap. Hewan leucisme tidak kekurangan melanin dan dapat diidentifikasi
dengan warna mata mereka yang tetap gelap atau normal.

2. Hip Dysplasia (HD)
Istilah Hip Dysplasia berarti formasi persendian pangkal paha (hip joint) yang jelek, dan
menggambarkan suatu Penyakit dalam masa perkembangan pada anjing-anjing muda dari
berbagai trah. Hip joints yang tidak baik merupakan kasus umum pada trah besar, dan hip
dysplasia dapat menjadi hambatan serius pada setiap anjing yang dilatih untuk kegiatan
dengan aktivitas tinggi. Hip dysplasia adalah suatu kelainan genetik yang mempunyai banyak
faktor dalam cara penurunannya. Kemunculan dari kelainan genetik ini dapat dipicu oleh
faktor-faktor lingkungan, seperti perubahan nutrisi, exercise dan pengalaman buruk (trauma).
Secara alami, daya waris HD moderat saja, maksudnya, formasi hip joint dapat juga dibentuk
oleh faktor-faktor lingkungan seperti kelebihan nutrisi, pertumbuhan yang terlalu cepat, dan
trauma tertentu selama masa pertumbuhan tulang. Bila dipilah-pilah secara quantitatif,
kondisi hip joint dapat diklasifikasi dari baik hingga jelek dengan segala tingkatan
diantaranya.
Ciri-ciri : Tanda-tanda HD tidak dapat dideteksi pada anakan yang masih kecil, tetapi
biasanya muncul dalam masa pertumbuhan yang cepat antara usia 4 hingga 9 bulan. Tanda-
tanda dari Penyakit ini dapat bervariasi amat luas, dari yang sekedar kurang teratur
langkahnya hingga yang sama sekali tidak dapat melangkah dengan benar. Perbaikan, bahkan
hingga tampak seolah normal, dapat terjadi seiring dengan usia yang makin dewasa yang
menyebabkan makin stabilnya persendian, meredanya peradangan, dan menguatnya struktur
otot. Namun demikian, anjing yang menngidap HD biasanya akan mengalami peradangan
sendi pada suatu saat nanti dalam hidupnya.
3. KELAINAN GENETIKA KETURUNAN ANOMALI BULU KASAR DAN KAKU
Biasa di kenal dengan istilah Frizzling, bulu kehitaman yang amat bersimpangsiur, kasar dan
kaku. Manifestasi kelainan ini berbeda beda menurut kondisi kelainan tersebut, apakah dalam
kondisi Homozygot atau kah Heterozygot, ini berkaitan dengan hokum Mendel.
Kelainan ini di sebabkan oleh bekerjanya Gen Otosom Dominan. Ayam Heterozygot
berbeda dengan ayam Homozygot. Melengkungnya bulu Heterozygot tidak begitu kuat di
banding dengan Homozygot. Modifikasi gen akan mengakibatkan kuat dan lemahnya bentuk
kedua tipe.
Ayam dan bebek dengan bulu kasar dan kaku tidak boleh di pergunakan menjadi
Indukan,karena biasanya asupan pakan tinggi dan oleh karena itu kemampuan hidup lebih
pendek dan Imunitas dan Produktivitas juga lebih rendah.
ANOMALI HILANG BULU
Jika di temukan ayam dan bebek gundul sama sekali dan atau hanya memiliki bulu pendek
dan tumpul, ini di sebabkan oleh suatu gen yang letaknya pada kelamin ayam yang bersifat
Resesif dan ini biasanya hanya pada betina saja meskipun hanya memiliki gen yang
bermutasi/Homozygot. Sedang jantan normal
Perkawinan antara jantan yang kelihatan normal dan betina yang tidak mempunyai hubungan
genetic sama sekali berakibat gejala sampingan berupa keanekaragaman bulu/Fenotif, semua
jantan berbulu normal sedang betina 50% tidak mempunyai bulu.
Pemisahan unsure kelainan genetic ini akan menjadi sulit dan ruwet jika breeder penetas
tidak melakukan seleksi pada ayam bebek Indukannya yang buat kawinan. Karena Gen yang
bersangkutan masih memiliki factor sifat Lettal, yang nantinya mematikan 50% embrio
betina sewaktu berumur 2-3 hari sebelum menetas.
ANOMALI BENTUK LEHER TAK BERBULU
Keadaan seperti ini biasanya di duga karena habis berlaga. Kelainan di sebabkan gen otonom
dominan akibat perkawinan Inbreding dan biasanya produktivitas telur juga rendah, tapi
kelebihan sifat mengeram sudah terpendam dalam. Tetapi korelasi genetika murni varian
hayati ini belum diketahui



ANOMALI BULU JAMBU

Bisa merupakan cirri khas varian ayam tertentu, tapi bisa juga karena Cerebralis Hernia,
meski hal ini tidak terlalu merugikan dari segi ekonomi. Ini di sebabkan gen otosom yang
tidak penuh dominan. Tapi kemampuan hidup ternak tidak terpengaruh sama sekali.
ANOMALI BULU PADA KAKI
Sebenarnya ini pun merupakan ciri khas varian dari ayam tertentu, Partridge Cochin, Light
Brahman, Black Langshan. Biasanya cirri seperti ini di hindari oleh breeder/penetas, ayam
yang kelihatan secara Fenotif normal masih mempunyai dasar melanjutkan penyakit
keturunanya /punya sifat Carrier.
Ayam jantan dengan sifat kaki berbulu di silangkan dengan betina yang tidak ada hubungan
keturunan sama sekali ,memberikan keturunan 15 ekor kaki berbulu dan 29 ekor kaki tidak
berbulu dan ternyata perkawinan dari ayam sejenis ternyata memberikan keturunan yang
100% bersifat sama.
ANOMALI JALU GANDA
Jantan dan betina bisa mengalami anomaly ini, pada salah satu kaki atau pada ke dua kaki.
Bentuk kelainan ini bisa di turunkan anak secara Resesif, tapi tidak menunjukan pembelahan
yang jelas. Secara ekonomis tidak terlalu berpengaruh.
ANOMALI JARI BENGKOK
Ada dugaan kuat kaki bengkok di sebabkan karena perkawinan Inbreeding perkawinan antara
ayam ayam dalam satu kelompok, sehingga menyebabkan mutasi gen.
Ada juga yang mengatakan karena defisiensi vitamin B2, sehingga menyimpulkan factor
eksternal dapat mempengaruhi perkembangan fenotif, ini masih dugaan.
Sampai sekarang kemungkinan karena kekurangan vitamin, masih belum bisa di
kesampingkan. Selalu dapat di tunjukkan kembali bahwa pada tiap bentuk kelainan karena
factor genetika, mungkin bisa juga karena Fenokopi
4. ATAKSI PADA ANAK AYAM
Akibat adanya factor lettal dapat di lihat pada kemampuan anak ayam penderita yang setelah
lahir hanya bertahan berdiri sebentar dan kemudian cepat jatuh. Kepalabiasanya sering
membelok ke belakang sehingga mudah jatuh
Faktor tersebut terletak biasanya pada garis keturunan resesif dan melibatkan kedua macam
jenis ayam, biasanya karena otosomal.
5. HERNIA CEREBRALIS DAN BRACHYGNATHIA SUPERIOR
Iniada hubungannya dengan tumbuhnya bulu jambul di kepala,anomaly ini di jumpai pada
perkawinan yang saling mempunyai hubungan darah. Biasanya embrio mengalami kematian
pada hari keram ke 8 10 lainnya lagi pada hari ke 15-18. Ayam yang dapat menetas ,
menampakkan daya hidup yang rendah/lemah tetapi menunjukan gejala aktasi kuat. Bentuk
paruh yang tidak serasi atau panjang sesisih baik yang atas atau yang bawah, di sebabkan
oleh hal tersebut
Asal anak ayam yang mudah mengalami kematian tersebut , berasal dari jantan yang sama,
dan betina berasal dari jantan di atas. Sehingga factor Lettal lah yang menyebabkan DOC
mudah mati akibat dari perkawinan yang terlalu dekat hubungan darah/Inbreeding.
Faktor genetik (keturunan) yaitu suatu sifat kebakaan yang berasal dari bapak atau ibu yang
menurun kepada anaknya. Bila manifestasinya pada alat kelamin, mempunyai peranan dalam
menimbulkan kemajiran pada ternak. Faktor ini apabila muncul pada alat kelamin akan
tampak dalam bentuk kelainan anatomi, kelainan anatomi alat kelamin yang bersifat menurun
umumnya disebabkan oleh kelainan pada kromosom kelamin atau adanya kelainan satu gen
yang resesif pada autosomnya. Ada beberapa faktor yang dapat memperberat terjadinya
kelainan genetik pada alat kelamin, seperti bangsa ternak, lokasi geografis dari peternakan,
musim, jenis kelamin, umur induk, dan beberapa macam zat bersifat racun yang masuk tubuh
melalui pakan. Faktor genetik yang menimbulkan kemajiran mencapai 0,2-3,0% dari seluruh
kasus kemajiran yang dilaporkan. Kelainan genetik. Kelainan anatomi pada alat kelamin yang
disebabkan oleh faktor genetik dan bersifat menurun, dapat terjadi baik pada hewan jantan
maupun betina. Kelainan anatomi dapat terjadi pada ovarium dan saluran alat kelamin betina
seperti tuba fallopi, uterus, serviks, vagina, dan vulva pada hewan betina. Pada hewan jantan
dapat terjadi pada testis, epididimis, vas deferens, kelenjar asesoris, dan penis.
6. ABNORMALITAS KONGENITAL
Abnormalitas struktur dan fungsi dari organ organ fetus yang terjadi sebelum atau pada saat
lahir. Pada kasus kasus tertentu kelainan tsb tidak terlihat sampai beberapa saat setelah lahir,
sebagai konsekwensinya maka dapat terjadi :
Kematian prenatal
Distokia
Berpengaruh terhadap kemampuan pedet untuk hidup
Kemungkinan pedet yang dilahirkan kurang ekonomis untuk dipelihara (kurang
produktif), atau dapat menularkan cacat tsb pada keturunannya
Penyebab
Faktor lingkungan misalnya stres panas mengakibatkan hipertermia,
atau agen teratogenik
Defek genetik akibat dari mutasi gen atau abnormalitas kromosom
Penyakit infeksi : BVD, virus bluetongue atau virus Akabane
Pada beberapa kasus penyebabnya tidak diketahui, oleh karenanya apabila
diketemukan defek kongenital, maka dianggap sebagai cacat berasal yang berasal
dari faktor genetik dan pedet tsb sebaiknya tidak dipelihara untuk tujuan breeding
(diternakkan)
7. Prolapsus serviks dan vagina (Cervico vaginal)
Terjadi akibat kelemahan dari musculus konstriktor vestibulum vagina dan vulva serta
berkurangnya ketegangan ligamentum suspensori dari tractus genitalis
Beberapa faktor predisposisi pada kondisi ini adalah :
o Genetik, seringkali terdapat pada sapi potong bangsa Hereford dan Charolais
o Obesitas, terutama akibat deposisi lemak yang berlebihan pada daerah
retroperitoneal
o Kebuntingan : sering terjadi pada bunting tua , mungkin berhubungan erat dengan
relaksasi vagina dan perineum akibat perubahan status hormonal pada waktu bunting
8. Torsio uteri
Perputaran uterus pada sumbu memanjangnya pada ternak yang sedang bunting
Sering terjadi pada bunting tua dan pada saat melahirkan
Gejala klinis timbul bila perputaran uterus lebih dari 180 yakni :
Rasa tidak enak (nyeri) pada perut pada bunting tua
Meningkatnya denyut nadi
Diagnosis :
Palpasi per vaginal pada sapi induk (bukan dara/premipara)
Palpasi per rektal
Pada kasus tertentu dapat terjadi kematian fetus dengan mumifikasi atau ruptura uteri dengan
pseudo ectopic pregnancy
9. Hidrops amnii dan hidrops allantois
Adanya cairan berlebihan di dalam selaput fetus (amnion dan allantois)
Banyak terjadi pada kuda dan sapi, jarang pada domba, kambing,babi atau anjing
Pada kuda dan sapi di akhir kebuntingan volume cairan amnion
berkisar antara 3 5 liter, cairan allantois 8 15 liter
Gejala klinis
Pada sepertiga akhir kebuntingan, terdapat tekanan abdomen yang
berlebihan
Nafsu makan berkurang karena rumen tertekan menjadi kecil
Ternak menjadi sulit berjalan, pada keadaan yang berat ternak berbaring
10. Perdarahan plasenta
o Sangat jarang terjadi pada ternak, sering terjadi pada manusia dan
primata
o Penyebabnya adalah trauma misalnya jatuh, ditendang/ditanduk/
dipukul pada bagian perut yang mengakibatkan persobekan pada
mukosa uterus atau karunkulanya.
o Perdarahan ringan dapat diserap oleh dinding uterus dan tidak
memberikan gejala klinis
o Induk ternak mengalami anemia, pucat, kurus dan bila berlangsung
lama, dapat menyebabkan kematian

11. Katarak
Bovine katarak adalah autosomal resesif yang jarang terjadi pada anak sapi di seluruh dunia
Penyakit ini ditandai dengan lensa mata abnormal kecil dan megkristal. Penyakit ini dapat
terjadi unilateral atau bilateral. Pada sapi, katarak menyebabkan kebutaan penyakit bawaan
lainnya seperti microphthalmos, microcoria, microcornea, microlentia, displasia retina, ablasi
retina, segmen anterior disgenesis, acorea dan proliferasi dari neuroectoderm anterior.


12. Hypotrichosis
Hypotrichosis adalah penyakit kulit genetik yang disebabkan karen tidak lengkapnya X-
linked dominan pada sapi pedaging dan sapi perah di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai
dengan tidak adanya sebagian atau seluruh folikel rambut, dengan atau tanpa cacat
perkembangan terkait dengan warna. Ternak yang terkena penyakit ini menunjukkan
kelainan pada folikel rambut, keratinosit, kelenjar keringat, dan gigi.

Abnormalitas Sistem Reproduksi yang Diwariskan Pada Betina

1. Aplasia ovarium Suatu kelainan yaitu tidak terdapat pertumbuhan sejak lahir sampai
dewasa dari satu atau kedua ovarium, sehingga ovarium tidak dapat ditemukan sama sekali.
Hewan yang menderita sepenuhnya akan majir. Aplasia ovarium ini biasa berhubungan
dengan kelainan pada saluran alat kelamin.
2. Hipoplasia ovarium Salah satu atau kedua ovarium tidak berkembang sempurna sehingga
ukurannya lebih kecil dari ukuran normal. Hipoplasia pada bangsa sapi perah disebabkan
oleh satu gen yang resesif. Hipoplasia ada dua yaitu: hipoplasia berat atau totalis yang terjadi
pada kedua ovarium (bilateral) atau satu ovarium (unilateral); hipoplasia ringan (parsialis).
3. Nodula pada tuba fallopi Penyumbatan pada tuba fallopi oleh nodula menyebabkan
saluran menjadi buntu, sehingga mencegah pertemuan antara ovum yang diovulasikan
dengan spermatozoa ketika terjadi proses perkawinan. Kelainan pada tuba fallopi ni bersifat
genetik sehingga tidak dapat diobati. Hewan penderita tetap terlihat birahi karena ovariumnya
normal hanya saja saluran tuba fallopi buntu sehingga tidak dapat terjadi pembuahan.
4. Aplasia segmentalis duktus Mulleri Kelainan ini terjadi pada uterus, sebagai akibat tidak
sempurnanya persatuan kedua saluran Muller pada periode embrional. Akibatnya terjadi
kelainan pada bentuk uterus. Kelainan ini disebabkan oleh gen yang resesif yang semula
diduga bertautan dengan warna putih (sex lingkage) sehingga sering disebut white heifer
disease karena banyak dijumpai pada sapi dara yang berwarna putih dari bangsa shorthorn.
Tetapi kelainan ini biasanya dijumpai pada sapi-sapi yang tidak berwarna putih seperti
Frisian Holstein, Jersey, dan Guerensey.
5. Uterus unikornus Suatu kelainan apabila hanya satu kornu yang berukuran normal
sedangkan kornu yang lain kecil hanya seperti pita tidak berongga. Kornu yang mengecil
dapat terjadi pada yang sebelah kanan atau sebelah kiri. Kasus kelainan ini bersifat menurun
dan jarang terjadi.

6. Uterus didelpis Suatu kelainan tidak mempunyai korpus uteri, menyebabkan kornu uteri
berhubungan langsung dengan serviks yang mempunyai saluran ganda. Kelainan ini
disebabkan karena kedua saluran Mullerian gagal bersatu secara normal pada masa
embrional. Kelainan ini adalah sama dengan kelainan serviks, dimana ada dua saluran pada
batang serviks yang bermuara pada vagina. Kasus kelainan ini sangat jarang terjadi.

7. Saluran serviks yang ganda Kelainan adanya dua lubang serviks yang menghadap
vagina. Penyebabnya pada masa embrional kedua saluran Mullerian tidak bersatu secara
normal, sehingga ada pita yang membagi korpus uteri dan saluran serviks menjadi dua
saluran terpisah. Pita pemisah serviks mempunyai lebar 1-5 cm dan tebal 1-2,5 cm.

8. Kista vagina Kelainan pada saluran Wolff hewan betina pada masa embrional. Secara
normal saluran Wolff akan menghilang setelah fetus dilahirkan dan sisa-sisanya dapat
dikenali di bawah mukosa lantai vagina sebagai saluran Wolff. Pada kasus ini terjadi kelainan
pertumbuhan saluran tersebut di bawah mukosa pada lantai vagina terdapat serangkaian kista
sepanjang saluran Wolff tersebut. Ukuran kista sangat bervariasi, kecil, sedang, sampai besar
yang berdiameter 10-15 cm, dan berisi cairan atau lendir sampai lebih 1 liter. Jumlah kista
biasanya satu atau juga beberapa. Kista dapat mengganggu pada waktu proses perkawinan
alam, yaitu menghalangi penetrasi penis di dalam vagina, dapat juga mengganggu jalannya
spermatozoa di dalam menuju tuba fallopi tempat pembuahan. Kista dapat dihilangkan
dengan operasi yaitu pemotongan tangkai kista.

9. Selaput dara yang menetap (hymen persisten) Kelainan ini berupa pembatas antara
vulva dengan vagina (selaput dara) yang bersifat menetap. Pada keadaan yang normal selaput
dara hanya merupakan penebalan mukosa pada bagian posterior vagina. Namun karena
tebalnya maka sulit untuk dilalui. Penebalan selaput dara ini disebut juga imperforate hymen.
Kasus ini ada hubungannya dengan kegagalan bersatunya duktus Mulleri pada masa
embrional. Penanggulangan kasus ini dengan dilakukan penyobekan selaput dara dengan
operasi kecil yaitu penyayatan pada selaput dara dan bekas sayatan diobati.

10. Atresia vulva Suatu keadaan pada vulvaa yang terjadi pertumbuhan tidak sempurna
dalam bentuk adanya perlekatan kedua labia vulva (labia mayora dan labia minora) di bagian
ventralnya. Kelainan ini bersifat menurun, kasusnya jarang sekali terjadi. Apabila didapati
kasus seperti ini sebaiknya ternak tidak perlu dikawinkan.

11. Freemartin Keadaan yang diakibatkan oleh pedet betina yang dilahirkan kembar
bersama pedet jantan. Sapi freemartin sepenuhnya majir. Kembar betina ini pada sapi lebih
dari 90% yang betina bersifat freemartin. Hanya 5-10% dari kembar berbeda jenis ini, tidak
freemartin. Gejala yang timbul dari sapi freemartin adalah alat kelamin tidak tumbuh normal.
Vulva kecil dan rambut yang tumbuh di bawah vulva sangat lebat, klitoris berkembang
menjadi lebih besar, vagina kecil dan ujungnya buntu, serviks tidak tumbuh normal, uterus
seperti pita, tuba
fallopi tidak teraba, dan ovarium hanya merupakan penebalan jaringan. Pada sapi jantan
freemartin, mempunyai kesuburan yang normal namun.
Kelainan alat kelamin jantan bersifat menurun/diwariskan antara lain:
1. Kriptorchid Testes gagal turun ke canalis inguinalis pada skrotum sehingga testis tetap
berada di rongga abdomen. Kegagalan penurunan biasanya terjadi hanya satu testis disebut
monolateral atau monorchid dapat pula disebut kriptorchid unilateral, sedangkan apabila
terjadi pada kedua tests disebut dengan kriptorchid bilateral (menyebabkan steril). Biasa
terjadi pada mamalia, lebih sering terjadi pada kuda, kambing, dan babi dari pada kerbau,
pada sapi juga jarang terjadi. Penyebabnya karena adanya penyempitan saluran inguinal.
Kelainan ini bersifat herediter atau menurun. Pada kuda dan sapi, kelainan anatomi ini
merupakan kelainan genetik yang dibawa oleh gen dominan pada yang jantan. Hewan jantan
penderita kriptorchid bilateral sepenuhnya steril karena kedua testis berada dalam rongga
perut sehingga tidak dapat melakukan spermatogenesis. Kriptorchid unilateral,
spermatogenesis masih dapat terjadi pada testes yang berada di skrotum. Namun sebaiknya
pejantan monorchid tidak digunakan sebagai pemacek sebab sifat genetik yang jelek dapat
diturunkan pada anaknya.
2. Hipoplasia testis Satu atau kedua testes lebih kecil jika dibandingkan dengan testis
normal. Banyak ditemukan di dataran tinggi Swedia. Hipoplasia sering terjadi unilateral,
umumnya terjadi pada testis kiri. Testis yang mengalami hipoplasia mengecil, tinggal separuh
atau sepertiga bagian dari testis normal dan bebas bergerak di dalam rongga skrotum. Dengan
pemeriksaan histologi nampak adanya perlekatan kromosom pada intinya sehingga
mengganggu pembelahan sel germinatif dan adanya inti ganda yang bentuknya gepeng pada
spermatosit yang ada pada tubulus seminiferus.
3. Aplasia testis [ilustrasi: 1] Kedua testes tidak ada dalam skrotum. Penyebabnya belum
diketahui secara pasti, diduga ada hubungannya dengan faktor genetik. Di dalam rongga
skrotum terdapat sisa jaringan berbentuk gepeng. Kasusnya jarang terjadi pada semua
golongan ternak. Hewan penderita akan sepenuhnya majir.
4. Poliorchid
Dalam skrotum terdapat lebih dari dua testes, baik yang bentuknya normal maupun tidak
normal. Bila salah satu testes normal ternak dapat bereproduksi. Kasusnya sangat jarang
dijumpai.
5. Kelainan Perkembangan Saluran Wolfii (duktus Mesoneprikus) Saluran Wolfii atau
duktus Mesoneprikus bertanggung jawab terhadap perkembangan saluran reproduksi hewan
jantan (epididimis, vas deferens, ampula, dan kelenjar vesikula seminalis), sehingga kelainan
pada perkembangan ini akan mengakibatkan kelainan pada perkembangan saluran
reproduksinya. Contohnya: epididimis lebih kecil dari normal (aplasia segmentalis
epididimis), kelenjar vesikula mengecil (aplasia/hipoplasia vesikula seminalis),
aplasia/hipoplasia kelenjar bulbourethralis atau prostata.
6. Abnormalitas alat kelamin luar Dapat terjadi karena bawaan lahir (kongenital) maupun
perolehan (acquired). Kongenital: penis pendek (berkaitan erat dengan kelainan muskulus
retraktor penis); hipospadias (urethra terbuka pada bagian bawah penis atau di daerah
perineum); deviasi penis (penis seperti spiral atau berbentuk seperti pembuka botol).
7. Hermaprodit Secara anatomis mempunyai 2 alat kelamin. Hermaprodit murni: memiliki
testis dan ovarium (ovotestis); Hermaprodit semu (pseudohermaprodit): memiliki salah satu
gonad, testis atau ovarium, tetapi dalam saluran kelaminnya masih merupakan kedua jenis
kelamin.
CONTOH PENURUNAN KELAINAN PADA TERNAK YANG DISEBABKAN OLEH
FAKTOR GENETIK

Misalkan : Induk Jantan Normal : XYHH
Induk Betina Albino : xxhh

XYHH >< xxhh
Fenotip : XH xh
YH
Anak : XxHh , xYHh

Anak I : XxHh () disilangkan dengan jantan albino (homozigot resesif)
XxHh >< xYhh
Fenotip : XH xh
xh Yh
Anak


xh Yh
XH XxHh XYHh
xh xxhh xYhh

Persentase Carier = 50 % : Albino = 50%
XxHh xxhh
XYHh xYhh

Anak II : XYHh () disilangkan dengan betina carier (heterozigot)

XYHh >< xxHh
Fenotipe : XH xH
Xh xh
YH
Yh
Anak :


XH Xh YH Yh
xH XxHH XxHh xYHH xYHh
xh XxHh Xxhh xYHh xYhh

Persentase : Normal : Cariers : Albino
25% 50% 25%
XxHH XxHh Xxhh
xYHH xYHh xYhh


Diagram :

><


>< ><





= Normal


= Carier


= Albino

























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kelainan genetik pada ternak adalah penyakit yang disebabkan oleg mutasi pada gen
penyandi sifat-sifat fisik dan fisiologi ternak. Pada umumnya kelainan ini bersifat letal dalam
kondisi homozigot resesif.
Penyakit genetis dibawa oleh gen yang bersifat resesif. Jadi, gen akan muncul sebagai
suatu penyakit atau cacat jika dalam keadaan resesif homozigot. Untuk keadaan gen yang
heterozigot, individu yang bersangkutan tidak manampakkan kelainan atau penyakit. Individu
yang demikian dikatakan sebagai pembawa sifat (carrier). Individu yang bersifat carrier
walaupun menampakkan fenotipe normal, dapat mewariskan sifat yang negatif kepada
generasi selanjutnya.
















DAFTAR PUSTAKA
http://vetbook.org/wiki/cow/index.php/Genetic_diseases_of_cows. diakses pada Kamis, 12
Juni 2014 pukul 17.00 wita
http://www.amazine.co/22205/albinisme-pada-hewan-penyebab-masalah-pada-hewan-
albino/. Diakses pada Rabu, 11 Juni 2014 pukul 21.00 wita
http://anjingkita.com/wmview.php?ArtID=301. Diakses pada Rabu, 11 Juni 2014 pukul 21.00
wita