Anda di halaman 1dari 104

KATA PENGANTAR

Sejak terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang


Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang kemudian
disempurnakan melalui Peraturan Pemerintah. Nomor 51 Tahun 1993, telah
dilakukan berbagai evaluasi mengenai pelaksanaannya. Hasil evaluasi,
baik yang dilakukan oleh pemerintah, pakar, maupun pihak-pihak lain,
secara umum memberikan indikasi rendahnya mutu dokumen AMDAL
yang telah dihasilkan selama ini. Apabila indikasi ini benar, sasaran yang
terkandung dalam AMDAL, yaitu pengendalian dampak pembangunan
terhadap lingkungan, dikhawatirkan tidak tercapai.

Berbagai langkah telah diambil oleh pemerintah dalam upaya


meningkatkan mutu AMDAL ini, antara lain berupa pengembangan
panduan-panduan.
Dan berbagai upaya yang dilakukan terungkap bahwa salah satu
penyebab rendahnya mutu AMDAL adalah kurang tajamnya penilaian
aspek-aspek yang perlu dikaji dalam dokumen AMDAL, khususnya bagi
kegiatan-kegiatan yang berlokasi di ekosistem khusus, seperti wilayah
pesisir dan lautan.

Sehubungan dengan itu Panduan Penyusunan Studi AMDAL


Rencana Usaha atau Kegiatan Pembangunan di Wilayah Pesisir dan
Lautan diterbitkan pelaksana studi AMDAL untuk dapat melakukan
penyusunan dokumen AMDAL yang lebih terarah dan lebih baik.

Jakarta, Desember 1996


Kepala Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan

Ttd,

Sarwono Kusumaatmadja

-1-
DAFTAR ISI

Halaman

ATA PENGANTAR............................................................................................... 1
DAFTAR ISI........................................................................................................... 2
DAFTAR TABEL............…………………............................................................... 4
DAFTAR GAMBAR.............................……………............................................... 5

BAB I PENJELASAN UMUM..........................................…................................... 6


A LATAR BELAKANG...........................................………............................... 6
B TUJUAN PANDUAN.................................................………........................ 7
C RUANG LINGKUP DAN SISTEMATIKA....................................................... 7

BAB II KONSEP WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN.............................................. 10


A. BATASAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN..............................………..... 10
B. EKOSISTEM UTAMA WIILAYAHPESISIR DAN LUTAN................................ 12
1. Hutan Mangrove..................................................................……..... 12
2. Padang lamun (Sea Grass Beds)........ ..............................……..... 16
3. Terumbu Karang (Coral Reefs) ...................................................... 18
4. Rumput Laut (Sea Weeds) .................................................……..... 20
5. Estuaria..................................................................................……..... 21
.
6. Pantai Pasir (Sandy Beach) .................................................……... 22
7. Pantai Berbatu (Rocky Beach)....................................................... 22
8. Pulau-Pulau Kecil (Small Islands).............................................…... 23
9. Laut Terbuka.............................................................................…..... 24
C. Masyarakat 24
Pantai/Kelautan..................................................................

BAB III PROSES-PROSES DALAM PENYUSUNAN


KERANGKA ACUAN.............................................................................. 29

-2-
A. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING........................................................... 29
1. ldentifikasi Dampak Potensial..............................................……... 29
2. Evaluasi Dampak 30
Potensial..............................................………....
3. Pemusatan Dampak 30
Potensia........................................................
B. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI................................................................ 31
A. Batas Proyek...................................................................………….... 31
B. Batas 32
Ekologis...................................................................………......
C. Batas Sosial....................................................................…………..... 33
D. Batas Administrasi............................................................................. 34
C. PELINGKUPAN WAKTU PRAKIRAAN DAMPAK........................................ 34

BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN................................. 36


A. METODE PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA....................................... 36
a. Komponen Fisik Lingkungan.............................................................. 37
b. Komponen Kimia................................................................................. 49
c. Komponen Biologi......……….............................................................. 54
d. Komponen Sosial...........................................………........................... 62
B. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN............................................ 64
C. RONA LINGKUNGAN HIDUP....................................................................... 64
D. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING..............................…................................ 64
E. EVALUASI DAMPAK PENTING..............................………............................ 68

BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL)


DAN RENCANA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN (RPL) …………….………………………………………… 70
A. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL…....................................
B. RENCA.NA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL).......................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 75
LAMPIRAN..............................………………………….................................. 78

-3-
-4-
DAFTAR TABEL

Halaman

TABEL 1. Pencatatan Metode IPA untuk Satwa Burung .................... 60

-5-
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL di


Wilayah Pesisir dan laut…………………………………. 9

-6-
BAB I
PENJELASAN UMUM

A. LATAR BELAKANG

Kebutuhan untuk menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan


(sustainable development) sudah semakin dirasakan oleh seluruh bangsa
di dunia sejak awal 1980-an. Dari perspektif ekologis, pelaksanaan
pembangunan berkelanjutan mensyaratkan bahwa resultante laju
pembangunan ekonomi hendaknya tidak melebihi daya dukung
lingkungan untuk menopangnya. Dengan perkataan lain, total dampak
lingkungan (baik dalam bentuk pencemaran, over-exploitation
sumberdaya alam, perubahan bentang alam, maupun perubahan proses
ekologis) akibat kegiatan pembangunan harus diusahakan tidak melebihi
kemampuan sistem alam (ekosistem) untuk menetralisir segenap dampak
tersebut.

Upaya memasukkan dimensi ekologis ke dalam pembangunan sosial


ekonomi seperti di atas sudah barang tentu memerlukan pendekatan
antisipatif (anticipatory approach), bukan pendekatan pembangunan
yang sifatnya reaktif (react and cure). Salah satu cara sistematis untuk
menerapkan pendekatan antisipatif dalam mengharmoniskan
pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangunan sosial ekonomi
adalah AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Kualitas atau keberhasilan suatu studi AMDAL sangat bergantung


pada kemampuan tim studi dalam melakukan impact assessment, yang
terdiri dan proses identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak lingkungan.
Proses ini dibuat berdasarkan pada analisis keterkaitan antara jenis dan
besaran dan suatu rencana kegiatan (proyek) pembangunan itu sendiri
dengan karaktenstik dan dinamika sistem lingkungan yang diduga akan
menerima dampak kegiatan termaksud.

Mengingat bahwa karakteristik dan dinamika sistem lingkungan


bersifat site spesific, rnaka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan
oleh suatu proyek biasanya akan berbeda dari satu ekosistem ke
ekosistem lainnya. Sifat ekosistem pesisir dan laut yang sangat dinamis dan
kekayaan habitatnya sangat beragam serta saling berinteraksi, seperti
antara hutan mangrove, padang lamun (seagrass beds), dan terumbu
karang, membuat penyusunan studi AMDAL kegiatan pembangunan
untuk kawasan pesisir dan laut bersifat unik.

Sementara itu, ekosistem pesisir dan laut, terutama perairan


pesisirnya, merupakan ekosistem yang paling mudah (prone) terkena

-7-
dampak pembangunan. Ekosistem laut menerima dampak tidak saja
yang berasal dan kegiatan pembangunan yang berlangsung di kawasan
laut, tetapi juga dan kegiatan pembangunan yang terletak di daerah
hulu. Saat ini sekitar 60 % penduduk Indonesia tinggal di kawasan pesisir.
Wajar bila saat ini ekosistem perairan pesisir merupakan salah satu
ekosistem yang paling rusak baik di tingkat global maupun nasional.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan semakin menipisnya


sumberdaya daratan (upland), maka dalam PJPT II(Pembangunan
Jangka Panjang Tahap II dan tahun-tahun berikutnya ekosistem pesisir
dan laut beserta sumberdaya alam yang ada di dalamnya akan menjadi
tumpuan kiprah pembangunan nasional. Kecenderungan ini sudah
secara tepat diantisipasi oleh bangsa Indonesia, dengan menjadikan
kelautan menjadi sektor tersendiri dalam GBHN 1993.

Jika segenap dampak yang ditimbulkan oleh berbagai kegiatan


terhadap ekosistem pesisir dan laut tidak diantisipasi dan dikelola secara
cermat dan efisien, dikhawatirkan kapasitas berkelanjutan (sustainable
capacity) dan ekosistem laut untuk mendukung kegiatan pembangunan
nasional akan terancam.

B. TUJUAN PANDUAN

Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan


penyusunan AMDAL untuk berbagai kegiatan (proyek) pembangunan di
wilayah pesisir dan lautan.

C. RUANG LINGKUP DAN SISTEMATIKA

Untuk dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak


lingkungan secara benar dan tepat, maka diperlukan pengetahuan
tentang karakteristik dan dinamika sistem lingkungan (ekosistem) yang
akan menerima dampak, terutama yang berkaitan dengan respons dan
ekosistem termaksud terhadap suatu dampak.

Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan penjelasan tentang


pengertian ekosistem pesisir dan lautan (Bab II) yang meliputi batasan
wilayah pesisir dan lautan. struktur dan dinamika serta kepekaan berbagai
ekosistem pesisir terhadap dampak lingkungan. Kemudian diikuti oleh
proses pelingkupan (Bab III) yang menjelaskan panduan dalam
menentukan isu pokok. komponen/parameter lingkungan yang harus
ditelaah. batas wilayah studi dan lingkup waktu prakiraan dampak dalam
studi AMDAL di lingkungan pesisir dan lautan.

-8-
Panduan tentang Penyusunan Analisis Dampak Lingkunan (ANDAL)
disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode
yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan
dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan
atau analisis data secara terpennci. Selanjutnya, panduan untuk
Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis,
sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL
seperti pada Gambar 1.

Jenis dan besaran dampak yang akan timbul sangat bergantung pada
jenis kegiatan (proyek) pembangunan yang akan dilaksanakan dan
sistem lingkungan yang terkena dampak. Mengingat tujuan akhir dan
suatu studi AMDAL adalah untuk memelihara kapasitas keberlanjutan
segenap ekosistem alamiah. sementara vanasi jenis kegiatan
pembangunan jauh lebih banyak dan pada jenis ekosistem utama
wilayah pesisir dan lautan, maka segenap panduan dalam hal penentuan
paramater/komponen lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan
dan analisis data, prakiraan dan evaluasi dampak disusun berdasarkan
pada pendekatan ekosistem (ecosystem based approaches).

-9-
Rona Lingkungan RKL
Awal

Landasan Ruang Lingkup Metodologi


Hukum • Daerah studi • Pengumpulan dan Dokumen Pembangunan
• Waktu prakiraan analisis data AMDAL Berkelanjutan
dampak • Prakiraan dampak
• Komp. + parameter
lingkungan
• Evaluasi dampak

Deskripsi RPL
Rencana
Kegiatan

Gambar 1. Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL di Wilayah Pesisir dan laut

- 10 -
BAB II
KONSEP WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

Wilayah pesisir merupakan pusat berbagai macam kegiatan


pembangunan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena wilayah ini
memiliki sumberdaya alam yang sangat kaya dan beragam. baik
sumberdaya yang dapat diperbaharui maupun sumberdaya yang tidak
dapat diperbaharui. Selain itu, wilayah ini juga memiliki aksesibilitas yang
sangat baik untuk berbagai kegiatan ekonomi. seperti transportasi dan
pelabuhan. industri, pemukiman, dan pariwisata. Namun demikian,
seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan intensitas
pembangunan, daya dukung ekosistem pesisir dalam menyediakan
segenap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan akan terancam
rusak atau menurun.

Sementara itu, sumberdaya wilayah pesisir umumnya bersifat


“pemilikan bersama" (common property) yang dapat dimanfaatkan oleh
semua orang. Padahal setiap pengguna sumberdaya pesisir biasanya
berprinsip memaksimalkan keuntungan. Oleh karena itu, konflik
penggunaan sumberdaya dan over-exploitation sering kali terjadi di
wilayah ini. Dan sudut pandang biofisik, wilayah pesisir bukan merupakan
suatu ekosistem yang berdiri sendiri, wilayah ini memiliki hubungan
fungsional yang dinamis dengan ekosistem daratan maupun laut lepas
(lautan), baik melalui proses-proses hidrologi dan oseanografi maupun
migrasi biota. Kondisi biofisik semacam ini membuat wilayah pesisir tidak
saja menerima dampak dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di
dalam wilayah pesisir, tetapi juga dan berbagai kegiatan yang terdapat
di daratan dan laut lepas.

A. BATASAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

Sehubungan dengan kompleksitas ekosistem pesisir seperti diuraikan


di atas, maka perlu ditetapkan lebih dahulu tentang batasan wilayah
pesisir dan lautan. Ekosistem laut dapat dipandang dari dimensi
horizontal dan vertikal. Secara horizontal. laut dapat dibagi menjadi dua
yaitu laut pesisir (zona nentik) yang meliputi daerah paparan benua, dan
laut lepas (Lautan atau zona oseanik). Pemintakatan (zonation) perairan
laut dapat pula dilakukan atas dasar faktor-faktor fisik dan penyebaran
komunitas. Seluruh perairan laut terbuka disebut sebagai daerah pelagik.
Organisme pelagik adalah organisme yang hidup di laut terbuka dan
lepas dari dasar laut. Dalam pada itu. zona dasar laut beserta
organismenya disebut daerah dan organisme bentik.

- 11 -
Wilayah pesisir lazim didefinisikan sebagai daerah peralihan antara
ekosistem laut dan daratan, ke arah laut meliputi perairan paparan
benua atau perairan laut yang masih terpengaruh oleh aktivitas manusia
atau proses-proses alamiah di daratan seperti pencemaran dan
sedimentasi, dan ke arah darat mencakup daerah yang terkena
percikan air laut atau proses-proses kelautan seperti pasang surut dan
salinitas.

Pembagian wilayah laut secara verlikal dilakukan berdasarkan


intensitas cahaya matahari yang memasuki kolom perairan yaitu zona
fotik dan zona afotik. Zona fotik adalah bagian kolom perairan laut yang
masih mendapatkan cahaya matahari. Pada zona inilah proses
fotosintesa serta berbagai macam proses fisik, kimia, dan biologi
berlangsung yang antara lain dapat mempengaruhi distribusi unsur hara
dalam perairan laut, penyerapan gas-gas rumah kaca dan atmosfir, dan
pertukaran gas yang dapat menyediakan oksigen bagi organisme nabati
laut. Zona ini disebut juga sebagai zona epipelagik. Pada umumnya
batas zona fotik adalah hingga kedalaman perairan 50 - 150 m.
Sementara itu, zona afotik adalah daerah yang secara terus menerus
dalam keadaan gelap, tidak mendapatkan cahaya matahari.

Secara vertikal, zona afotik pada kawasan pelagik juga dapat


dibagi lagi ke dalam beberapa zona, yaitu :

(1) Zona mesopelagik, zona ini merupakan bagian teratas dan zona
afotik sampai kedalaman 700 - 1000 m atau hingga isoterm 1 0 0C
(2) Zona batipelagik, terletak pada daerah yang memiliki suhu berkisar
antara 10 - 4 kedalaman antara 700 - 100 m dan 2000 - 4000 m.

(3) Zona abisal pelagik, terletak di atas dataran pasut laut sampai
kedalaman 6000 m.

(4) Zona hadal pelagik, zona ini merupakan perairan terbuka dan palung
laut dalam dengan kedalaman 6000 hingga 10000 m.

Pembagian zona dasar laut atau bentik berkaitan erat dengan


ketiga zona pelagik pada daerah afotik yang telah diuraikan di atas.
Zona batial adalah daerah dasar yang mencakup lereng benua sampai
kedalaman 4000 m. Zona abisal termasuk dataran abisal yang luas dan
palung laut dengan kedalaman antara 4000 - 6000 m. Zona hadal
adalah zona pada palung laut dengan kedalaman antara 6000 - 10000
m.

- 12 -
Zona bentik di bawah zona neritik pelagik pada paparan benua
disebut sublitoral atau zona paparan. Zona ini dihuni oleh berbagai
organisme dan terdiri dan berbagai komunitas seperti padang lamun.
rumput laut dan terumbu karang. Daerah pantai yang terletak di antara
pasang tertinggi dan surut terendah disebut zona intertidal atau litoral.
Zona litoral merupakan daerah peralihan antara kondisi lautan ke kondisi
daratan sehingga berbagai macam organisme terdapat dalam zona ini.

Secara skematis, pembagian wilayah laut secara vertikal dan


horizontal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

B. EKOSISTEM UTAMA WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

Di daerah tropis, seperti Indonesia, pada umumnya terdapat


sembilan macam ekosistem utama wilayah pesisir, dan ekosistem lautan.
Uraian singkat tentang karaktenstik dan parameter lingkungan utama
yang mempengaruhi kelestarian ekosistem tersebut disajikan berikut ini.

1. Hutan Mangrove

a. Karakteristik

Hutan mangrove seringkali juga disebut hutan pantai, hutan


pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Akan tetapi, istilah bakau
sebenarnya hanya merupakan nama dan salah satu jenis tumbuhan
yang menyusun hutan mangrove, yaitu jenis Rhizopora spp. Oleh karena
itu, hutan mangrove sudah ditetapkan sebagai nama baku untuk
mangrove forest. Hutan mangrove merupakan tipe hutan tropika yang
khas tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai dipengaruhi oleh
pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang
terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai. Mangrove
tumbuh optimal di wilayah pesisir yang memiliki muara sungai besar dan
delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur. Sedangkan di
wilayah pesisir yang tidak terdapat muara sungai, hutan mangrove
pertumbuhannya tidak optimal. Mangrove tidak atau sulit tumbuh di
wilayah pesisir yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut
kuat, karena kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan
lumpur, substrat yang diperlukan untuk pertumbuhannya. ini terbukti dan
daerah persebaran mangrove di Indonesia, yang umumnya terdapat di
Pantai Timur Sumatra, Kalimantan, Pantai Utara Jawa dan Irian Jaya.
Penyebaran hutan mangrove juga dibatasi oleh letak lintang, karena
mangrove sangat sensitif terhadap suhu dingin.

- 13 -
Selain itu akibat ketergantungan mangrove terhadap aliran air tawar
menyebabkan penyebaran mangrove juga terbatas. Oleh karenanya
mangrove tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal di daerah
tropis dan sub-tropis yang cukup mendapat aliran air tawar. Hutan
mangrove ditemukan tumbuh di sepanjang pantai-pantai yang
terlindung dan aktivitas gelombang besar dan arus pasang- surut yang
kuat. Gelombang yang besar dan arus pasang-surut yang kuat tidak
memungkinkan terjadinya pengendapan sedimen yang diperlukan
sebagai substrat bagi tumbuhnya mangrove ini (Snedaker et al., 1985..
Nontji, 1987).

Ekosistem mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis


yang termasuk tertinggi di dunia, seluruhnya tercatat 89 jenis; 35 jenis
berupa pohon, dan selebihnya berupa terna (5 jenis), perdu (9 jenis),
liana (9 jenis), epifit (29 jenis) dan parasit (2 jenis). (Nontji, 1987). Beberapa
jenis pohon mangrove yang umum dijumpai di wilayah pesisir Indonesia
adalah bakau (Rhizopora spp), Api-api (Avicennia spp), Pedada
(Sonneratia spp), Tanjang (Bruguiera spp), Nyinh (Xylocarpus spp), Tengar
(Cenops spp) dan Buta-buta (Exoecana spp).

- 14 -
Tumbuhan mangrove memiliki daya adaptasi yang khas untuk
dapat terus hidup di perairan laut yang dangkal. Daya adaptasi tersebut
meliputi (Nybakken, 1988):

(1) Perakaran yang pendek dan melebar luas, dengan akar penyangga
atau tudung akar yang tumbuh dan batang dan dahan sehingga
menjamin kokohnya batang.

(2) Berdaun kuat dan mengandung banyak air.

(3) Mempunyai jaringan internal penyimpan air dan konsentrasi garam


yang tinggi. Beberapa tumbuhan mangrove mempunyai kelenjar
garam yang menolong menjaga keseimbangan osmotik dengan
mengeluarkan garam.

Dilihat dan segi ekosistem perairan, hutan mangrove mempunyai


arti yang penting karena memberikan sumbangan berupa bahan
organik bagi perairan sekitarnya. Daun mangrove yang gugur melalui
proses penguraian oleh mikroorganisme diuraikan menjadi partikel-
partikel detritus, partikel-parlikel detritus ini menjadi sumber makanan bagi
berbagai macam hewan laut. Selain itu, bahan organik terlarut yang
dihasilkan dan proses penguraian (dekomposisi) di hutan mangrove juga
memasuki lingkungan perairan pesisir yang dihuni oleh berbagai macam
filter feeder (organisme yang cara makannya dengan menyaring air)
lautan dan estuari serta berbagai macam hewan pemakan hewan dasar
(Snedaker et al.. 1985).

Perakaran yang kokoh dari mangrove ini memiliki kemampuan untuk


meredam pengaruh gelombang, menahan lumpur dan melindungi
pantai dari erosi, gelombang pasang dan angin taufan. Hutan
mangrove juga merupakan daerah asuhan (nursery ground) dan
pemijahan (spawning ground) beberapa hewan perairan seperti udang,
ikan dan kerang-kerangan.

Lebih jauh, Hamilton dan Snedaker (1994) mencatat sekitar 58


produk langsung dan tidak langsung dan mangrove berupa kayu bakar,
bahan bangunan, alat dan teknik penangkapan ikan, pupuk, bahan
baku kertas, bahan makanan, obat-obatan, minuman, peralatan rumah
tangga, bahan baku tekstil dan kulit, madu, lilin, dan tempat rekreasi.

b. Parameter Lingkungan Utama yang Mempengaruhi Kelestanan


Hutan Mangrove

- 15 -
Ada 3 parameter lingkungan utama yang menentukan
kelangsungan hidup dan pertumbuhan mangrove, yaitu:

(1). Suplai air tawar dan Salinitas

Ketersediaan air tawar dan konsentrasi kadar garam (salinitas)


mengendalikan efisiensi metabolik (metabolic efficiency) dan ekosistem
hutan mangrove. Ketersediaan air tawar tergantung dari : (a) frekuensi
dan volume air dari sistem sungai dan ingasi dari darat, (b) frekuensi dan
volume air pertukaran pasang surut, dan (c) tingkat evaporasi ke atmosfir.
Walaupun spesies hutan mangrove memiliki mekanisme adaptasi
terhadap salinitas yang tinggi (ekstnm), namun tidak adanya suplai air
tawar akan mempengaruhi kemampuan toleransi fisiologis bagi hutan
mangrove dan biota yang terkait terhadap salinitas. Efisiensi kelimpahan
air tawar yang mengatur kadar garam tanah dan isi air tergantung dari
tipe tanah dan sistem pembuatan ingasi. Perubahan penggunaan lahan
darat mengakibatkan terjadinya modifikasi masukan air tawar, tidak
hanya mengubah kadar garam yang ada, tetapi juga dapat mengubah
aliran nutrien dan sedimen.

(2). Pasokan Nutrien

Pasokan nutrien bagi ekosistem mangrove ditentukan oleh berbagai


proses yang saling terkait, meliputi input dari ion-ion mineral anorganik
dan bahan organik serta pendaurulangan nutrien secara internal melalui
jaring-jaring makanan berbasis detritus (detrital food web). Konsentrasi
relatif dan nisbah (ratio) optimal dan nutrien yang diperlukan untuk
pemeliharaan produktivitas ekosistem mangrove ditentukan oleh (1)
frekuensi, jumlah dan lamanya penggenangan oleh air asin atau air
tawar dan(2) dinamika sirkulasi internal dan kompleks detritus (Odum.
1992).

(3) Stabilitas Substrat

Kestabilan substrat, rasio antara erosi dan perubahan letak


sedimen diatur oleh velositas air tawar, muatan sedimen, semburan air
pasang surut dan gerak angin. Arti penting dan perubahan
sedimentasi terhadap spesies hutan mangrove tergambar dari
kemampuan hutan mangrove untuk menahan akibat yang menimpa
ekosistemnya. Pokok-pokok perubahan sedimentasi dalam ambang
batas kritik meliputi : (a) penggumpalan sedimen yang diikuti dengan
kolonisasi oleh hutan mangrove. (b) nutrien, bahan pencemar dan
endapan lumpur yang dapat menyimpan nutrien dan menyaring
bahan beracun (waste toxic).

- 16 -
2. Padang Lamun (Sea Grass Beds)

a. Karaktenstik

Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga yang sudah


sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam di dalam laut.
Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir sering juga dijumpai di
terumbu karang. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang tinggi
produktivitas organiknya.

Pada daerah ini hidup bermacam-macam biota laut seperti


krustasea, molusca, cacing, dan ikan, Padang lamun di indonesia
terdiri dari tujuh marga lamun. Dari tujuh marga lamun tersebut. tiga
marga lamun termasuk suku Hydrocaritaceae yaitu Enhalus, Thalassia
dan Halophila, dan empat marga suku Pomatogetonaceae yaitu
Halodule, Cymodocea, Syringodium dan Thalassodendron (Nontji.
1987).

Secara ekologis padang lamun memiliki beberapa fungsi penting


bagi daerah pesisir yaitu:

1. Sumber utama produktifitas primer.


2. Sumber makanan penting bagi organisme (dalam bentuk
detritus).
3. Menstabilkan dasar yang lunak dengan sistem perakaran yang
padat dan saling menyilang.
4. Tempat berlindung organisme.
5. Tempat pembesaran bagi beberapa species yang menghabiskan
masa dewasanya dilingkungan ini. Misalnya udang dan ikan
beronang
6. Sebagai peredam arus sehingga menjadikan perairan di
sekitarnya tenang.
7. Sebagai tudung pelindung dan panas matahari yang kuat bagi
penghuninya (Nybakken. 1988).

b. Parameter Lingkungan Utama yang Mempengaruhi Kelestanan


Padang Lamun

Distribusi dan stabilitas ekosistem padang lamun tergantung dari


beberapa faktor. Parameter yang paling penting adalah. (1) kecerahan,
(2) temperatur, (3) salinitas, (4) substrat dan (5) kecepatan arus perairan.

- 17 -
(1) Kecerahan

Kebutuhan padang lamun akan intensitas cahaya yang tinggi untuk


membantu proses fotosintesis diperlihatkan dengan observasi di mana
distribusinya terbatas pada perairan dengan kedalaman tidak lebih dari
10 meter. Beberapa aktivitas yang meningkatkan muatan sedimentasi
pada badan air akan berakibat pada tingginya turbiditas residu
sehingga berpotensi untuk mengurangi penetrasi cahaya. Hal ini dapat
mengganggu produktivitas primer dan ekosistem padang lamun.

(2) Temperatur

Walaupun spesies padang lamun menyebar luas secara geografi


dan hal ini mengindikasikan adanya kisaran yang luas terhadap toleransi
temperatur, tetapi spesies lamun daerah tropik mempunyai toleransi
yang rendah terhadap perubahan temperatur. Kisaran temperatur
optimal bagi spesies padang lamun adalah 280 – 300 C dan kemampuan
proses fotosintesis akan menurun dengan tajam apabila temperatur
perairan berada di luar kisaran optimal tersebut.

(3) Salinitas

Walaupun spesies padang lamun memiliki toleransi terhadap


salinitas yang berbeda-beda, namun sebagian besar memiliki kisaran
yang lebar terhadap salinitas yaitu antara 10 – 40 0/00. Nilai optimum
toleransi terhadap salintas di air laut adalah 35 0/00. Penurunan salinitas
akan menurunkan kemampuan fotosintesis spesies ekosistem padang
lamun. Kerusakan padang lamun diakibatkan oleh berkurangnya air
tawar dekat garis pantai yang hilang. lnteraksi antara salinitas,
temperatur dan padang lamun tropik di mana spesies yang mempunyai
toleransi lebih rendah dari salintas normal dan pada temperatur yang
rendah, tidak mampu mempertahankan hidupnya pada salintas yang
sama dan dalam kondisi temperatur yang lebih tinggi.

(4) Substrat

Padang lamun hidup pada berbagai macam tipe sedimen, mulai


dari lumpur sampai sedimen dasar yang terdiri dari 40 persen endapan
lumpur dan fine mud. Kebutuhan substrat yang paling utama bagi
pengembangan padang lamun adalah kedalaman sedimen yang
cukup. Peranan kedalaman substrat dalam stabilitas sedimen mencakup
2 hal, yaitu. (a) pelindung tanaman dari arus air laut, (2) tempat
pengolahan dan pemasok nutrien.

- 18 -
(5) Kecepatan Arus Perairan

Produktivitas padang lamun tampak dari pengaruh keadaan


kecepatan arus perairan, Turtle grass mempunyai kemampuan maksimal
menghasilkan standing crop pada saat kecepatan arus sekitar 0.5
m/detik. Dari beberapa contoh hutan mangrove menunjukkan produksi
standing crop 262 gram berat kering/m2 dimana produksi totalnya
adalah 4.570 gram berat kering/m2

3. Terumbu Karang (Coral Reefs)

a. Karaktenstik

Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas terdapat di


daerah tropis, Meskipun terumbu karang ditemukan di seluruh perairan
dunia, tetapi hanya di daerah tropis terumbu karang dapat berkembang
dengan baik. Terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif terutama
kalsium karbonat yang dihasilkan oleh organisme karang (filum
Scnedana, klas anthozoa, ordo Madreporaria-Scleractinia) alga berkapur
dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat
(Nyabekken. 1988).

Di dunia terdapat dua kelompok karang yaitu karang hermatifik


dan karang ahermatifik. Perbedaan kedua kelompok karang ini adalah
terletak pada kemampuan karang hermatifik didalam menghasilkan
terumbu. Kemampuan menghasilkan terumbu ini disebabkan oleh
adanya sel-sel tumbuhan yang bersimbiosis di dalam jaringan karang
hermatifik. Sel-sel tumbuhan ini dinamakan zooxanthellae. Karang
hermatifik hanya ditemukan di daerah tropis sedangkan karang
ahermatifik tersebar di seluruh dunia.

Ekosistem terumbu karang mempunyai produktifitas organik yang


tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan terumbu untuk menahan
nutrien dalam sistem dan berperan sebagai kolam untuk menampung
segala masukan dari luar. Sebagai contoh, daur yang dapat mencegah
kehilangan nutrien ini adalah zooxanthellae dalam jaringan karang.
Setiap nutrien yang dihasilkan oleh karang sebagai hasil metabolisme
dapat digunakan langsung oleh tumbuhan tanpa mengedarkannya
lebih dahulu ke dalam perairan (Nybakken. 1988).

Terumbu karang kaya akan keragaman species penghuninya.


Salah satu penyebab tingginya keragaman species ini adalah karena
variasi habitat yang terdapat di terumbu. lkan merupakan organisme

- 19 -
yang jumlahnya terbanyak yang dapat ditemui di sebuah terumbu
karang. Goldman dan Talbot (1976) dalam Nybakken (1988) menyatakan
bahwa banyak dari karnivora ini tidak mengkhususkan makanannya
pada suatu sumber makanan tertentu, tetapi sebaliknya mengambil apa
saja yang berguna bagi mereka. Terumbu karang menempati areal yang
cukup luas dan terdiri dari asosiasi yang kompleks yang mempunyai
sejumlah tipe habitat yang berbeda-beda dan semuanya berada dalam
sistem yang sama. Namun kesemuanya terjalin dalam hubungan
fungsional yang harmonis. Di samping itu, terumbu karang dapat
melindungi komponen ekosistem pesisir dan laut lainnya dari tekanan
gelombang dan badai.

b. Parameter Lingkungan Utama

1. Distribusi dan stabilitas ekosistem terumbu karang


tergantung dan beberapa parameter fisika, yaitu (1)
kecerahan. (2) temperatur. (3) salinitas. (4) kecepatan arus
air. sirkulasi dan sedimentasi.

(1) Kecerahan

1. Radiasi sinar matahari memegang peranan


penting dalam pembentukan karang. Penetrasi sinar
menentukan kedalaman di mana proses fotosintesis terjadi
pada organisma alga bentik dan zooxanthellae dari jaringan
terumbu. Produksi primer yang dihasilkan oleh terumbu
karang diakibatkan oleh aktivitas zooxanthellae. Sehinga
distribusi vertikal terumbu karang hanya mencapai
kedalaman efektif sekitar 10 meter dari permukaan laut. Hal
ini disebabkan karena kebutuhan sinar matahari masih
dapat terpenuhi pada kedalaman tersebut.

(2) Temperatur

1. Pada umumnya, terumbu karang tumbuh secara


optimal pada kisaran suhu antara 25 - 290C. Namun suhu di
luar kisaran tersebut masih bisa ditolerir oleh spesies tertentu
dan terumbu karang untuk dapat berkembang dengan
baik.

(3) Salinitas

- 20 -
1. Banyak spesies terumbu karang yang peka
terhadap perubahan salinitas (naik turun) yang besar.
Umumnya, terumbu karang tumbuh dengan baik di sekitar
areal pesisir pada salinitas 30 - 35 0/00. Meskipun terumbu
karang mampu bertahan pada salinitas di luar kisaran
tersebut, namun pertumbuhannya kurang baik
dibandingkan pada salinitas normal.

11.. (4) Kecepatan Arus Air, Sirkulasi dan Sedimentasi

Adanya kondisi sedimentasi yang tinggi. akan menyebabkan


turunnya kualitas terumbu karang. Hal ini dapat diterangkan dengan
adanya suspensi dan sedimentasi yang mengganggu respirasi dari
terumbu karang. Selain itu dapat mengganggu kebiasaan makan
terumbu karang.

4. Rumput Laut (Sea Weeds)

a. Karaktenstik

Rumput laut tumbuh pada perairan yang memiliki substrat keras


yang kokoh untuk tempat melekat. Tumbuhan rumput laut ini hanya
dapat hidup pada perairan dimana tumbuhan mudanya yang kecil
mendapatkan cukup cahaya. Pada perairan yang jernih rumput laut
dapat tumbuh hingga kedalaman 20 - 30 m. Pertumbuhan rumput laut
juga dipengaruhi oleh suhu. Padang rumput laut tidak terdapat pada
daerah, hangat dan tropis tetapi tumbuh pada perairan sejuk.

Rumput laut mendapatkan makanannya langsung dari air laut


Nutrien dihantarkan melalui upwelling, turbulensi dan masukan dari
daratan, Walaupun produktivitas padang rumput laut cukup besar.
Namun hewan yang memakan tumbuhan ini secara langsung relatif
sedikit. Diperkirakan hanya 10 % dari produksi bersih yang memasuki
jaring makanan padang rumput laut melalui grazing, sedangkan 90 %
memasuki rantai makanan dalam bentuk detritus atau bahan organik
terlarut (Nybakken, 1988).

Laminaria, sejenis rumput laut, merupakan makanan kesukaan bulu


babi. Predator utama bulu babi adalah sejenis udang karang (Homarus
americanus) di perairan Atlantik, dan berang-berang (Etihydra Iutris).
Predator bulu babi yang lain adalah beberapa bintang laut serta ikan.

b. Parameter Lingkungan Utama

- 21 -
Parameter lingkungan utama untuk ekosistem rumput laut adalah
(1) kekeruhan, kecerahan air. (2) kandungan padatan terlarut dan
tersuspensi dan (3) arus laut.

5. Estuaria

a. Karaktenstik

Estuaria adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air


tawar dan air laut bertemu dan bercampur. Kebanyakan estuaria
didominasi oleh substrat berlumpur. Substrat berlumpur ini merupakan
endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut. Di antara partikel
yang mengendap di estuaria kebanyakan bersifat organik. Akibatnya
substrat ini kaya akan bahan organik. Bahan inilah yang menjadi
cadangan makanan yang besar bagi organisme estuaria.

Ada tiga komponen fauna di estuaria yaitu fauna lautan, air tawar
dan payau atau estuaria. Komponen fauna yang terbesar didominasi
oleh fauna lautan, yaitu hewan stenohaline yang terbatas
kemampuannya dalam mentolelir perubahan salinitas yaitu hanya
mampu rnentolelir sampai 30 0/00 dan hewan eurihalin, hewan ini khas
laut karena mampu mentolelir penurunan salinitas hingga di bawah 30
0/00. Komponen air payau atau estuaria terdiri dari species yang hidup di

pertengahan daerah estuaria pada salinitas antara 5 0/00 - 30 0/00.


Species ini tidak ditemukan hidup pada perairan laut maupun tawar.
Komponen air tawar biasanya terdiri dari hewan yang tidak mampu
mentolerir salinitas di atas 5 0/00 dan hanya terbatas pada bagian hulu
estuaria (Nyabakken, 1988).

Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikit herbivora dan


terdapatnya sejumlah besar detritus secara nyata menunjukkan bahwa
jaring-jaring makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai
makanan detritus. Detritus membentuk substrat untuk pertumbuhan
bakteri dan alga, yang kemudian menjadi sumber makanan penting bagi
binatang pemakan suspensi dan detritus. Yang dimaksud dengan
pengertian detritus disini ialah termasuk partikel organik, bakteri, alga.
bahkan protozoa yang berasosiasi.

c. Parameter Lingkungan Utama

- 22 -
Parameter lingkungan utama untuk ekosistem estuaria adalah (1)
aliran sungai, seperti limbah, toksikan. sedimen dan nutrien; (2) sifat-sifat
fisik air laut, seperti pasang surut, arus laut dan gelombang.

6. Pantai Pasir (Sandy Beach)

a. Karaktenstik

Kebanyakan pantai pasir terdiri dari kwarsa dan feldspar, bagian


yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan batu di gunung.
Di daerah tertentu lainnya, sisa-sisa pecahan terumbu karang yang
dominan, pantai yang berpasir dibatasi hanya di daerah dimana
gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan
ringan.

Partikel yang kasar ini menyebabkan hanya sebagian kecil


permukaannya yang menyerap bahan organik baik yang terlarut
maupun yang berukuran sangat kecil serta yang tersedia buat bakteri.
Total bahan organik dan organisme hidup di pantai yang berpasir jauh
lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya. Karena
sedimennya yang kasar, mereka tidak menahan air dengan baik,
akibatnya lapisan permukaan bisa menjadi kering sampai sedalam
beberapa centimeter dibagian atas pantai yang terbuka terhadap
matahari pada saat pasang surut, meskipun demikian tempat ini sering
merupakan tempat beberapa biota meletakkan telurnya.

b. Parameter Lingkungan Utama

Parameter utama bagi daerah pantai berpasir adalah (1) Pola arus
yang akan mengangkut pasir yang halus; (2) Gelombang yang akan
melepaskan energinya di pantai dan (3) Angin yang juga merupakan
pengangkut pasir.

7. Pantai Berbatu (Rocky Beach)

a. Karaktenstik

Pantai berbatu merupakan pantai yang berbatu-batu memanjang


ke laut dan terbenam di air Batu yang terbenam di air ini menciptakan
suatu zonasi habitat karena adanya perubahan naik-turunnya
permukaan air laut akibat proses pasang yang menyebabkan adanya
bagian yang selalu tergenang air. selalu terbuka terhadap matahari serta
zona di antaranya yang tergenang pada pasang naik dan terbuka

- 23 -
pada pasang surut. Zonasi habitat ini mengakibatkan zonasi organisme
yang menghuni pada batuan tersebut. Zonasi komunitas biota di batu-
batu yang dipengaruhi oleh fenomena pasang lebih nyata daripada
tempat lain manapun karena batu menyediakan tempat menempel
yang baik dan juga perlindungan bagi mereka. Komunitas biota di
daerah berbatu jauh lebih kompleks dan daerah lain karena
bervanasinya niche ekologis yang disediakan oleh genangan air, celah-
celah batu, permukaan bau dsb, dan hubungan mereka yang bervariasi
terhadap cahaya, gerakan air, perubahan suhu dan faktor lainnya.

b. Parameter Lingkungan Utama

Parameter utama yang sangat mempengaruhi kondisi pantai


berbatu adalah: (1) fenomena pasang, dinamikanya sangat
berpengaruh terhadap biota yang menginginkan kondisi alam yang
bergantian antara tergenang dan terbuka: (2) gelombang energi yang
dihempaskan bisa merusak komunitas biota yang menempel di batu-
batuan terutama pada batu yang langsung menghadap ke taut.

8. Pulau-pulau Kecil (Small Islands)

a. Karakteristik

Yang dimaksud dengan Pulau Kecil disini adalah pulau berukuran


kecil yang secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland).
Sebagai contoh bisa disebutkan misalnya pulau yang terletak di Teluk
Jakarta terhadap Pulau Jawa. Dalam skala yang lebih kecil, "pulau" disini
bisa berupa sekumpulan pohon, kolam, atau danau. Ekologi tempat-
tempat yang berukuran kecil ini menarik karena memiliki batas yang
pasti, "terisolasi" dari habitat lainnya, sehingga mempunyai sifat insular
(kemudian melahirkan teori insular ecology).

Pulau ini akan mendapatkan tambahan spesies baru dari pulau


induk dan sebaliknya dalam waktu yang bersamaan akan kehilangan
spesies yang sudah ada karena kompetisi lalu punah atau pindah ke
pulau lain. Pertambahan dan pengurangan jumlah spesies ini
berlangsung terus sampai akhirnya akan terjadi keseimbangan spesies,
yang jumlahnya tergantung dari besar-kecilnya pulau dan jarak pulau
tersebut dari pulau induknya.

b. Parameter Lingkungan Utama

- 24 -
Parameter utama yang mendukung ekosistem ini adalah
parameter yang berkaitan dengan terjaminnya kondisi alam ekosistem
tersebut.

9. Laut Terbuka (Lautan)

a. Karaktenstik

Laut terbuka biasanya sangat berstratifikasi dan beragam secara


horisontal dan musiman. Lapisan eufotik, dimana cahaya cukup kuat
untuk keperluan produksi primer, biasanya mencapai 50 m, tergantung
dari daerahnya, Dibandingkan dengan ekosistem pesisir. Perairan dalam
ini umumnya memiliki produktifitas biologis yang lebih tersebar dan
memiliki keragaman species yang jauh lebih rendah.

Organisme laut terbuka bergantung pada produksi fitoplankton


untuk makanan mereka. Produksi di perairan laut terbuka kira-kira 0,5
gC/m2/hari (sebagai perbandingan, di perairan dangkal 2 gC/m2/hari).
Daerah upwelling lebih produktif dan nampaknya juga lebih efisien
dalam memanfaatkan rnakanan yang tersedia. Karena produktifitas
primer terbatas pada daerah permukaan, sebagian besar perikanan
yang penting berada di perairan dangkal, meskipun perikanan, pelagik
juga besar artinya. Laut terbuka tidak saja mendukung perikanan, tetapi
juga transportasi laut dan penambangan minyak bumi dan mineral, dan
juga dipakai sebagai tempat pembuangan sampah.

Dampak utama manusia yang merusak di laut terbuka adalah polusi


dan eksploitasi sumberdaya laut (hayati dan non-hayati) secara
berlebihan.

b. Parameter Lingkungan Utama

Parameter lingkungan Utama dan ekosistem ini adalah : (1) Angin,


yang berperan dalam pembentukan arus dan percampuran vertikal (2)
Suhu dan (3) Cahaya.

C. MASYARAKAT PANTAI/KELAUTAN

Ditinjau dan segi mata pencahanannya masyarakat yang


mempunyai mata pencaharian di bidang perikanan seperti nelayan,
petani tambak, dan pengolah ikan biasanya merupakan kelompok yang

- 25 -
sangat dominan pada masyarakat di wilayah pesisir atau pantai. oleh
sebab itu, pembahasan mengenai karakteristik masyarakat pantai pesisir
dan kelautan ini difokuskan pada kelompok tersebut.

Masyarakat pantai mempunyai sifat-sifat atau karakteristik tertentu


yang khas. Sifat ini sangat erat kaitannya dengan sifat usaha di bidang
perikanan itu sendiri. Salah satu sifat usaha perikanan yang sangat
menonjol adalah bahwa kesinambungan atau keberhasilan usaha
tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan khususnya air.
Keadaan ini mempunyai implikasi yang sangat penting bagi kondisi
kehidupan sosial ekonomi masyarakat pantai. Kehidupan mereka
menjadi sangat tergantung pada kondisi lingkungan itu. Mereka sangat
rentan terhadap kerusakan lingkungan, khususnya air. Polusi air karena
limbah industri maupun tumpahan minyak, misalnya dapat
menggoncang sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat pantai.
Pencemaran air di pantai Jawa beberapa waktu yang lalu. contohnya.
telah menyebabkan produksi udang tambak anjlok secara drastis. Hal ini
tentu mempunyai konsekwensi yang besar terhadap kehidupan para
petani tambak tersebut.

Karakteristik lain yang sangat menyolok di kalangan para nelayan


adalah ketergantungan mereka pada musim. Ketergantungan pada
musim ini semakin besar bagi para nelayan kecil. Pada musim tangkap
para nelayan sangat sibuk melaut. Sebaliknya pada musim paceklik
kegiatan melaut menjadi berkurang. Pada musim ini banyak nelayan
yang terpaksa menganggur.

Kondisi ini mempunyai implikasi besar pula terhadap kondisi sosial


ekonomi masyarakat pantai secara umum dan kaum nelayan khususnya.
Pada musim tangkap biasanya kehidupan para nelayan menjadi lebih
baik. Mereka mungkin mampu membeli barang-barang yang mahal
seperti kursi-meja, lemari, dsb. Sebaliknya pada musim paceklik
pendapatan mereka turun drastis. sehingga kehidupan mereka juga
semakin buruk. Pada musim ini seringkali mereka terpaksa harus menjual
harta benda yang mereka miliki. Karena itu di daerah Padang (Sumbar).
misalnya, dikenal semacam peribahasa yang mengatakan bahwa “para
nelayan itu mampu membeli emas, tapi tidak mampu membeli beras".
Maksudnya, pada musim tangkap mereka mempunyai pendapatan
yang cukup besar sehingga mampu membeli emas, tetapi pada musim
paceklik membeli beraspun tidak mampu.

Perlu juga dicatat bahwa secara umum pendapatan nelayan itu


memang sangat berfluktuasi dari hari ke hari. Pada satu hari mereka

- 26 -
mungkin memperoleh tangkapan yang sangat tinggi. tapi pada hari
berikutnya bisa saja "kosong".

Hasil tangkapan, dan pada gilirannya pendapatan nelayan, juga


sangat dipengaruhi oleh jumlah nelayan yang beroperasi di suatu daerah
penangkapan (fishing ground). Di daerah yang padat penduduknya
seperli daerah pantai utara Jawa, misalnya, sudah terjadi kelebihan
tangkap (overfishing) atau over-exploitation. Oleh sebab itu, hasil
tangkap para nelayan menengah dan kecil khususnya menjadi semakin
kecil.

Kondisi di atas turut pula mendorong munculnya pola hubungan


tertentu yang sangat umum dijumpai dikalangan nelayan dan juga
petani tambak yakni pola hubungan yang bersifat patron-klien, Karena
keadaan ekonomi yang buruk. maka para nelayan kecil, buruh nelayan,
petani tambak kecil, buruh nelayan dan buruh tambak seringkali
terpaksa meminjam uang dan barang-barang kebutuhan hidup sehari-
hari dari para "juragan" atau para pedagang pengumpul (“tauke")
Sebagai "imbalannya" para peminjam tersebut menjadi “terikat" dengan
pihak juragan atau pedagang. Keterikatan tersebut antara lain berupa
keharusan menjual produknya kepada pedagang atau juragan tersebut.
Pola hubungan yang tidak simetris ini tentu saja sangat mudah berubah
menjadi alat dominasi dan ekploitasi.

Stratifikasi sosial yang sangat menonjol pada masyarakat nelayan


dan petani tambak adalah stratifikasi yang berdasarkan penguasaan
alat produksi. Pada masyarakat nelayan, ada empat strata yang cukup
kentara. Strata pertama dan yang paling atas adalah mereka yang
memiliki kapal motor (lengkap dengan alat tangkapnya). Mereka Ini
biasanya dikenal dengan nelayan besar atau "modern". Biasanya
mereka tidak ikut melaut. Operasi penangkapan diserahkan kepada
orang lain. Buruh atau tenaga kerja yang digunakan cukup banyak, bisa
sampai dua atau tiga puluhan. Strata berikutnya adalah rnereka yang
memiliki perahu dengan motor tempel. Pada strata ini biasanya para
pemilik tersebut ikut melaut memimpin kegiatan penangkapan. Buruh
yang ikut mungkin ada tapi terbatas dan seringkali anggota keluarga,
Strata berikutnya adalah nelayan yang menggunakan perahu tanpa
motor. Biasanya kegiatan mereka hanya rnelibatkan anggota keluarga
saja. Strata yang terakhir adalah buruh nelayan. Meskipun para
"nelayan kecil" bisa juga merangkap menjadi buruh. tetapi banyak pula
buruh ini yang tidak memiliki sarana produksi apa-apa, yang mereka
punyai adalah tenaga kerja mereka itu sendiri.

- 27 -
Seringkali nelayan besar juga merangkap sebagai pedagang
pengumpul. Namun demikian, biasanya ada pula pedagang pengumpul
yang bukan nelayan, sehingga pedagang ini merupakan kelas tersendiri.
Mereka biasanya menempati posisi yang dominan berhadapan dengan
para nelayan kecil.

Dalam masyarakat tambak stratifikasi sosial berdasarkan


penguasaan alat produksi ini juga menonjol. Strata atas adalah mereka
yang menguasai tambak yang luas, strata menengah yang memiliki luas
tambak sedang/kecil, dan strata paling bawah adalah para
pengelola/buruh. Perlu dicatat bahwa seringkali pemilik tambak yang
luas adalah "orang kota". sedangkan pengelolaan tambak diserahkan
kepada orang lain (di Patimban Jabar disebut "bujang")

Stratifikasi sosial berdasarkan penguasaan alat produksi ini sangat


perlu diperhatikan dalam melaksanakan suatu AMDAL. Dampak suatu
kegiatan pada suatu strata bisa sangat berbeda bahkan kontradiksi
dengan dampaknya pada strata yang lain.

Bagi para nelayan, penguasaan alat produksi tadi sangat


berhubungan dengan daya jelajah mereka dalam melakukan
penangkapan. Mereka yang beroperasi menggunakan kapal motor,
misalnya, dapat melakukan penangkapan dan sekaligus pemasaran di
daerah-daerah yang sangat jauh. Sementara nelayan kecil yang
menggunakan perahu tanpa motor hanya mampu beroperasi di daerah
yang dekat atau daerah pantai/pesisir saja.

Sifat usaha penangkapan juga menyebabkan munculnya pola


tertentu dalam hal "kebersamaan" antara anggota keluarga nelayan.
Bagi para nelayan kecil misalnya seringkali mereka berangkat sore dan
kemudian kembali besok harinya. Ada juga yang berangkat pagi-pagi
sekali, kemudian kembali pada sore atau malam harinya. Sementara
mereka yang beroperasi dengan kapal motor bisa meninggalkan rumah
berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Aspek lain yang perlu diperhatikan pada masyarakat pantai


adalah aktivitas kaum wanita dan anak-anak. Pada masyarakat ini,
umumnya wanita dan anak-anak ikut bekerja mencari nafkah. Kaum
wanita (orang tua maupun anak-anak) seringkali bekerja sebagai
pedagang ikan (pengecer), baik pengecer ikan segar maupun ikan
olahan. Mereka juga melakukan pengolahan ikan, baik kecil-kecilan di
rumah untuk dijual sendiri maupun sebagai buruh pada pengusaha
pengolahan ikan. Sementara itu, anak laki-laki seringkali sudah dilibatkan

- 28 -
dalam kegiatan melaut. lni antara lain yang menyebabkan anak-anak
nelayan banyak yang tidak sekolah.

Karakteristik berikutnya adalah ketergantungan pada pasar. Tidak


seperti petani padi, para nelayan dan petani tambak ini sangat
tergantung pada keadaan pasar. Hal ini disebabkan karena komoditas
yang dihasilkan oleh mereka itu harus dijual baru bisa digunakan untuk
memenuhi keperluan hidup, jika petani padi yang bersifat subsisten bisa
hidup tanpa menjual produknya. atau hanya rnenjual sedikit saja, maka
nelayan dan petani tambak harus menjual sebagian besar hasilnya.
Setradisiotial atau sekecil apapun nelayan dan petani tambak tersebut,
mereka harus menjual sebagian besar hasilnya demi memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Karakteristik di atas mempunyai implikasi yang sangat penting, yakni


masyarakat perikanan sangat peka terhadap harga. Perubahan harga
produk perikanan sangat mempengaruhi kondisi sosial ekonomi
masyarakat perikanan. Dengan demikian dalam suatu studi AMDAL, hal--
hal yang dapat mempengaruhi harga seperti saluran tataniaga, struktur
pasar (monopsoni, oligopsoni. atau "bersaing sempurna"), supply,
demand, dsb sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu, hal-hal yang
dapat mernpengaruhi mutu atau kualitas komoditas perikanan juga
sangat perlu ditelaah. Hal ini berkaitan dengan sifat produk perikanan
yang mudah rusak (perishable).

- 29 -
BAB III
PROSES PELINGKUPAN
DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN

A. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING

Pelingkupan dalam studi AMDAL diartikan sebagai proses


pemutusan identifikasi hal-hal penting (main issues) yang berkaitan
dengan dampak penting. Pelingkupan meliputi pelingkupan sosial,
pelingkupan ekologis, dan pelingkupan kebijaksanaan. perencanaan
dan institusional.

Tujuan akhir dari pelingkupan dampak penting adalah untuk


mengidentifikasi isu-isu pokok lingkungan yang mencerminkan secara
utuh dan lengkap perihal (1) keterkaitan antara rencana kegiatan
dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar
(dampak penting), dan (2) keterkaitan antara komponen dampak
penting. Prosedur pelingkupan dampak penting secara rinci dapat
dilihat pada Lampiran 1 KEP-14/MENLH/3/1994.

Sebagaimana diuraikan dalam Lampiran 1 Keputusan Menteri


Negara Lingkungan Hidup KEP-14/MENLH/3/1994, pelingkupan dampak
penting hendaknya dilakukan melalui tiga proses utama, yaitu (1)
identifikasi dampak potensial (2) evaluasi dampak potensial dan (3)
pemusatan dampak penting.

1. Identifikasi Dampak Potensial

Pada dasarnya identifikasi dampak potensial dapat dilakukan


dengan cara menganalisis keterkaitan antara rencana kegiatan proyek
dan rona lingkungan pesisir atau lautan yang diprakirakan akan terkena
dampak dari kegiatan tersebut. Beberapa metoda yang dapat
digunakan untuk melakukan identifikasi dampak potensial dapat dilihat
pada KEP14/MENLH/3/1994.

Dampak potensial yang mungkin timbul terhadap komponen fisik,


kimia dan biologi (hayati) lingkungan bergantung pada jenis kegiatan
(proyek) dan daerah dampak proyek. Dampak potensial yang biasanya
akan timbul terhadap komponen fisik-kimia adalah perubahan
parameter-parameter lingkungan utama yang mempengaruhi
kelestarian ekosistem pesisir dan lautan seperti yang telah diuraikan pada
Bab II. Sementara itiu dampak potensial yang mungkin timbul terhadap
biologi lingkungan adalah penurunan atau perusakan kelimpahan dan

- 30 -
keaneragaman jenis biota, penyusun ekosistem pesisir atau lautan yang
terkena dampak proyek.

Dampak potensial yang mungkin timbul terhadap komponen sosial


adalah perubahan pada ketiga sub-komponen utama aspek sosial
tersebut yakni: (1) demografi. (2) ekonomi dan (3) budaya. Secara rinci
penentuan dampak potensial untuk komponen sosial ini mengacu pada
Panduan Penyusunan Aspek Sosial AMDAL, ditambah beberapa aspek
yang bersifat khas masyarakat pesisir, yakni produksi/hasil tangkapan,
harga, saluran tataniaga, struktur pasar, frekwensi melaut, lama melaut
per-trip, pelapisan sosial berdasarkan pemilikan sarana produksi dan
kesempatan kerja bagi wanita/anak-anak.

2. Evaluasi Dampak Potensial

Tujuan evaluasi dampak penting dalam proses pelingkupan pada


dasarnya adalah meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak
relevan atau tidak penting, sehingga diperoleh daftar dampak penting
hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara
mendalam dalam Studi AMDAL. Metode evaluasi dampak penting
selengkapnya dapat dilihat pada KEP-14/MENLH/3/1994.

3. Pemusatan Dampak Potensial (Focussing)

Tujijan pemusatan dampak penting (focussing) adalah untuk


mengelompokkan/mengorganisir dampak potensial yang telah
dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-
isu pokok lingkungan. Penjelasan lengkap tentang pemusatan dampak
penting dalam proses pelingkupan dapat dilihat pada KEP-
14/MENLH/3/1994.

- 31 -
B. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI

Setelah pelingkupan dampak penting, penetapan batas wilayah


studi merupakan langkah yang paling penting dalam studi AMDAL. Jika
batas wilayah studi terlalu sempit, maka kemungkinan besar akan
banyak hal penting (rnain issues) atau dampak penting (significant
impact) yang sebenarnya disebabkan oleh kegiatan pembangunan
(proyek) tidak teridentifikasi. Sebaliknya apabila batas wilayah studi
terlalu luas maka hasil studi AMDAL akan kurang tajam atau tidak
mengenai sasaran yang sebenarnya atau memerlukan waktu yang
terlalu lama.

Batas wilayah studi AMDAL hendaknya mencakup batas terjauh dan


penyebaran dampak penting yang mungkin ditimbulkan oleh suatu
kegiatan (proyek). Oleh karena dampak dari suatu rencana kegiatan
terhadap lingkungan dapat berupa dampak ekologis (fisik, kimia dan
biologi) maupun dampak sosial (demografi, ekonomi dan budaya), maka
penetapan batas wilayah studipun harus mempertimbangkan
penyebaran dari kedua jenis dampak termaksud. Daerah penyebaran
dampak ekologis maupun sosial pada umumnya lebih luas dan pada
batas kegiatan (proyek) itu sendiri. Dengan demikian, batas wilayah studi
AMDAL hampir selalu lebih luas jika dibandingkan dengan batas areal
kegiatan. Batas wilayah studi AMDAL hendaknya meliputi areal
persebaran dampak penting, baik dampak ekologis maupun dampak
sosial yang paling jauh.

Batas proyek, batas ekologis, batas sosial, dan batas administratif


ditetapkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam KEP-
14/MENLH/3/1994. Berikut ini beberapa hal spesifik yang perlu
diperhatikan dalam penetapan keempat jenis batas tersebut bagi
AMDAL di wilayah pesisir dan laut.

a. Batas Proyek

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :


Apakah dalam batas proyek terdapat kawasan konservasi misalnya
taman nasional laut, cagar alam laut, taman wisata laut, atau
suaka laut ?
Apakah dalam batas proyek terdapat fungsi-fungsi ekologis atau
sistem penunjang kehidupan (seperti daerah pemijahan, daerah
asuhan, daerah up-welling, alur migrasi biota perairan, jalur hijau,
atau sempadan pantai) yang seharusnya dilindungi ?

- 32 -
Jika ada hal-hal khusus di atas, maka sebaiknya kegiatan suatu
proyek itu dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak merusak
ekosistem tersebut, atau bahkan harus dialihkan lokasinya.

b. Batas Ekologis

Dampak lingkungan yang timbul akibat suatu proyek


pembangunan (rencana kegiatan) di wilayah pesisir dan lautan akan
menyebar melalui badan air, dasar perairan, atau udara, bergantung
pada jenis dampak tersebut. Batas ekologis meliputi wilayah persebaran
terjauh (maksimum) yang dapat terkena dampak lingkungan dan suatu
proyek pembangunan.

Secara ekologis, dampak lingkungan yang terjadi pada ekosistem


pesisir dan lautan dapat berupa perubahan sifat fisik-kimia dan biologi
dan ekosistem tersebut. Dampak lingkungan yang bersifat fisik-kimia
pada ekosistem pesisir dan lautan dapat terjadi melalui :

a. Erosi atau sedimentasi.

b. Perubahan pola gerakan massa air.

c. Pencemaran.

Erosi, sedimentasi atau perubahan pola gerakan massa air


merupakan dampak lingkungan yang lazim terjadi akibat pembangunan
sarana dan prasarana di sepanjang garis pantai, seperli pelabuhan; jetty:
marina: dan reklamasi. Batas ekologis (daerah persebaran dampak) dari
jenis dampak erosi/sedimentasi ditentukan oleh kecepatan dan arah arus
menyusuri pantai (longshore current). arus pasut, batimetri, dan
karakteristik sumber dampak.

Pencemaran perairan lazim terjadi akibat kegiatan yang dilakukan


pada tahap operasionalisasi dari sarana dan prasarana yang dibangun
di sepanjang garis pantai. Pencemaran perairan dapat pula terjadi
pada tahap awal pembangunan dari sarana dan prasarana di
sepanjang garis pantai. Batas ekologis (daerah persebaran dampak)
ditentukan oleh kecepatan dari arah arus. tipe pasut, karakteristik dan
kuantitas limbah yang terbuang.

Luas persebaran terjauh dari dampak pencemaran dapat diduga


dengan 'mengetahui tipe pasang surut (pasut) perairan tersebut dan
kecepatan arusnya. Sebagai contoh :

- 33 -
(1) Jika kecepatan arus rataan dan perairan yang diteliti adalah 0.1
m/detik, dan bertipe pasut tunggal (waktu pasang tertinggi yang satu
dengan yang berikutnya adalah 24 jam), maka jarak terjauh
persebaran dampak oleh pasut adalah 0.1 m/detik x 12 jam = 4320
meter.

(2) Jika perairan tersebut mempunyai kecepatan arus yang sama seperti
di atas, tetapi mempunyai tipe pasut ganda (waktu pasang tertinggi
yang satu dengan yang berikutnya adalah 12 jam), maka jarak
terjauh persebaran dampak oleh pasut adalah 0.1 m/det x 6 jam =
2.160 meter.

Dampak lingkungan yang bersifat biologis pada ekosistem pesisir


dan lautan dapat terjadi melalui over-exploitation komponen biologi
(biota) atau perubahan sifat fisik-kimia perairan itu sendiri. Batas ekologis
dan jenis dampak biologi ini harus memperhatikan keterkaitan ekologis
antara satu ekosistem dengan ekosistem lainnya.

Sebagai contoh adalah keterkaitan antara ekosistern bakau


dengan padang lamun dengan terumbu karang, dan dengan laut
terbuka, yang berlangsung melalui aliran massa air (fisik). unsur hara,
bahan organik terlarut atau parlikulat. dan migrasi biota perairan.
Sehingga apabila dampak negatif dari suatu proyek pembangunan
menimpa salah satu dari keempat ekosistern ini, dampaknya akan
menyebar ketiga ekosistem lainnya. Oleh karena itu, meskipun lokasi
suatu rencana kegiatan terletak di daerah mangrove, maka dampaknya
akan menyebar ke ekosistem padang lamun, terumbu karang, dan laut
yang ada di depannya.

c. Batas Sosial

Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan beberapa faktor


sebagai berikut:

(1) Hasil telaahan batas proyek dan batas ekologis di atas.

(2) Lokasi komunitas sosial kegiatan ekonomi dan fasifitas umum/sosial


yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis, yang akan
mengalami perubahan mendasar akibat rencana usaha atau
kegiatan seperti : penyerapan tenaga kerja, pembangunan fasilitas
umum dan sosial.

(3) Batas-batas pemilikan sumberdaya alam baik yang besifat formal


maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat), yang

- 34 -
akan berubah mendasar sebagai akibat adanya rencana usaha
atau kegiatan.

(4) lnteraksi dan hubungan sosial di kalangan kelompok-kelompok


masyarakat yang akan mengalami perubahan mendasar sebagai
akibat adanya rencana usaha atau kegiatan.

d. Batas Administratif

Batas administratif pada dasarnya adalah ruang di mana


masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan ekonomi dan
sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di
dalam ruang tersebut (KEP-14/MENLH/3/1994). Untuk wilayah pesisir dan
lautan, batas administratif ini ditentukan berdasarkan kriteria desa atau
kecamatan pantai yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal
Pembangunan Desa Depdagri RI.

C. PELINGKUPAN WAKTU PRAKIRAAN DAMPAK

Prakiraan dampak suatu rencana kegiatan harus mencakup


keseluruhan tahap kegiatan (proyek) termaksud, yaitu pra konstruksi,
konstruksi dan operasi. Namun demikian, apabila suatu proyek
diperkirakan akan menimbulkan dampak penting yang berlangsung
bahkan sesudah masa operasi proyek (pasca operasi), maka prakiraan
untuk jenis dampak ini hendaknya lebih panjang lagi.

Contoh dan jenis dampak yang pengaruhnya baru terasa setelah


beberapa waktu (ada time lag), adalah pencemaran oleh bahan-bahan
kimia yang mengalami bioakumulasi atau biomagnifikasi dalam rantai
makanan. Peristiwa pencemaran logam berat Hg dan Cd di Teluk
Minimata Jepang, misalnya, baru rnenampakkan dampaknya pada
tahun 1950-an. Padahal pembuangan limbah yang mengandung logam
berat Hg dan Cd berlangsung sejak tahun 1940-an.

Demikian pula halnya dengan dampak limbah organik dari sisa


pakan udang untuk tambak intensif di sepanjang Pantai Utara Jawa.
Pembangunan dan kegiatan produksi tambak udang di sepanjang
Pantai Utara Jawa dimulai sejak tanun 1982. Kegiatan tambak udang
intensif membuang limbah pakan sekitar 40 persen dan total pakan
udang (pelet) yang diberikan sebesar 6 ton/ha/4 bulan (Cholik, 1989).
Pembuangan limbah pakan tersebut seolah-olah tidak berdampak
negatif terhadap kualitas air perairan pesisir yang menerimanya. Hal ini
dicerminkan oleh produktivitas tambak udang yang cukup tinggi dan

- 35 -
relatif stabil sampai tahun 1990, sehingga petani udang pada waktu itu
pun menjadi makmur. Namun demikian, sejak tahun 1991 produktivitas
udang mereka menjadi turun dan sering terjadi kegagalan panen udang
karena kematian udang secara rnassal atau pertumbuhannya yang
terhambat (stunted growth). Hal ini ternyata adalah akibat tercemarnya
perairan pesisir oleh limbah organik tambak sendiri, yang sekaligus
menjadi sumber air untuk proses produksi tambak selanjutnya.

- 36 -
BAB IV

PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN

A. METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA

Keabsahan dan ketepatan dari prakiraan dan evaluasi darnpak


sangat tergantung pada kualitas data dari komponen/parameter
lingkungan yang terkait. Sementara itu kualitas data ditentukan oleh
cara pengumpulan dan metode analisisnya.

Untuk studi AMDAL pengumpulan data komponen lingkungan fisik-


kimia, biologi dan sosial, hampir selalu dilakukan dengan cara
pengambilan contoh (sampling).

Strategi pengambilan contoh dan analisis data parameter


lingkungan untuk AMDAL ditetapkan berdasarkan 2 tujuan utama, yaitu
agar dapat :

a. mengidentifikasi, memprakirakan dan mengevaluasi dampak


lingkungan yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana kegiatan.

b. membandingkan kondisi lingkungan sebelum/tidak terkena dampak


dengan sesudah/terkena dampak melalui pemantauan dalam
jangka panjang.

Teknik pengambilan contoh untuk komponen fisik-kimia dan biologi


lingkungan pesisir dan laut, secara garis besar terdiri dari 2 tahap :

a. Penentuan lokasi dan waktu pengambilan contoh

b. Pengukuran atau pengumpulan contoh, pengawetan, dan analisis


di laboratorium.

Lokasi pengambilan contoh, secara pnnsip harus meliputi:

a. daerah yang diprakirakan akan terkena dampak.

b. daerah yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai


lokasi pengambnan contoh rujukan/pembanding (reference
station).

- 37 -
Di daerah yang terkena dampak, pengambilan contoh dilakukan
dari daerah yang paling dekat dari sumber dampak hingga yang terjauh
sesuai dengan batas wilayah studi dan sebaran dampak yang sudah
ditentukan sebelumnya.

Pengambilan (pengukuran) contoh parameter fisika, kimia dan


biologi lingkungan pesisir dan lautan serta aspek sosial harus dilakukan di
beberapa lokasi yang dapat mewakili daerah yang terkena dampak
akibat rencana kegiatan yang sedang ditelaah. Untuk kegiatan di
wilayah pesisir dan lautan, sebaiknya pengambilan contoh dilakukan
lebih dari satu kali sehingga dapat mewakili keadaan musim kemarau
dan musim penghujan. Dasar pemilihan teknik pengambilan contoh dan
analisis data adalah:

a. Skala observasi dalam ruang dan waktu.

b. Metoda analisis data yang tepat dan tersedia.

c. Tujuan utama AMDAL.

Batasan-batasan yang perlu diperhatikan dalam menentukan


pilihan untuk teknik pengambilan contoh dan analisis data .

a. Batasan alami, yang berkaitan dengan keragaman skala yang


dipilih

b. Batasan teknik, yang menyangkut kemampuan dan ketepatan alat


yang digunakan, luas skala ruang dan waktu yang diperuntukkan
dalam pengambilan contoh

c. Batasan statistik yang berkenaan dengan struktur dan kualitas dari


data yang ada.

A. Komponen Fisik Lingkungan

Daya dukung ekosistem suatu perairan pesisir dipengaruhi oleh


keadaan lingkungan yang mengelilinginya, yaitu daratan (terrestrial),
atmosfir, dan lingkungan perairannya sendiri.

Untuk dapat memahami dan mengkaji komponen fisik lingkungan,


perlu diketahui parameter-parameter fisik perairan. Parameter tersebut
adalah : batimetri, debit aliran sungai, keadaan angin (arah dan
kecepatan), pasang-surut (pasut), gelombang, arus, salinitas, suhu,
kekeruhan (turbiditas), pola sedimentasi-erosi dan kualitas tanah pesisir.

- 38 -
Berikut ini diuraikan teknik pengumpulan dan analisis data untuk
komponen fisik lingkungan yang dapat digunakan dalam Studi AMDAL.

a.1. Batimetri

lnformasi tentang batimetri sangat diperlukan untuk :

(1). Mengetahui pola dan proses fisik yang terjadi di perairan pesisir
dan lautan, seperti pola arus atau gelombang.

(2). Menduga transportasi sedimen, dan proses pendangkalan atau


erosi di kawasan pesisir.

(3). Mengelola ekosistem pesisir.

(4). Melakukan pemintakatan wilayah perairan, yang dikenal sebagai


marine provinces.

a.1.1. Pengumpulan data

Pengukuran batimetri dilakukan secara:

(1). Langsung, yaitu dengan menggunakan batu penduga, echo


sounder, atau deep sounder.

(2). Tidak langsung, dengan memanfaatkan peta batimetri yang ada,


yang dikeluarkan secara berkala oleh DISHIDROS (Dinas Hidro-
Oseanografi) TNI-AL, atau sumber-sumber lainnya.

a.1.2. Analisis data

(1). Jika garis isodepth saling sejajar satu dengan lainnya, maka ini
berarti bahwa dasar perairan menurun secara teratur.

(2). Jika garis isodepth yang satu dengan lainnya merapat, ini berarti
bahwa dasar perairan tersebut menurun dengan curam.

(3). Jika garis isodepth yang satu dengan lainnya merenggang, maka
ini dapat diartikan bahwa dasar perairan tersebut landai.

a.2. Debit Aliran Sungai

Data debit aliran sungai diperlukan untuk:

- 39 -
(1). mengetahui besarnya limpasan air tawar yang masuk ke laut
melalui muara sungai.

(2). memprakirakan jumlah kandungan limbah atau bahan


pencemar organisme perairan, sedimen, maupun padatan
tersuspensi (suspended solid) yang dibawa oleh aliran sungai ke
laut.

Sedangkan metode untuk mengukur debit aliran sungai adalah:

(1). Hidrografi dari saluran di bagian outlet sungai.

(2). Hubungan antara curah hujan dengan debit.

(2). Simulasi neraca air.

a.2.1. Pengumpulan Data

Dalam hal keterbatasan data, debit sesaat dapat dihitung dengan


mengukur kecepatan arus (aliran) sungai dan luas penampang outlet
sungai. Debit aliran sungai tersebut diperoleh dengan mengalikan
kecepatan aliran dengan luas penampang sungai.

a.2.2. Analisis data

(1). Besarnya debit aliran sungai perlu dibedakan ketika air pasang dan
air surut.

(2). Debit aliran sungai dapat dihitung secara langsung dengan


menganalisis antara luas penampang sungai dengan kecepatan
alirannya pada segrnen/ruas sungai tertentu.

(3). Dengan mengetahui besarnya debit aliran sungai, maka beban


pencemaran (pollution load) yang masuk ke perairan pesisir dapat
dihitung dengan mengalikan debit sungai dengan konsetrasi dari
zat pencemarnya dari waktu ke waktu.

a.3. Angin

Data tentang kecepatan dan arah angin diperlukan untuk :

(1). Memprakirakan besar dan arah gelombang yang terjadi

(2). Memprakirakan kuat dan arah arus non-pasut yang terjadi.

- 40 -
(3). Memprakirakan arah dan cepat penyebaran limbah terapung
yang terjadi di perairan, seperti tumpahan minyak atau bahan
pencemar lainnya.

a.3.1. Pengumpulan Data

Kecepatan dan arah angin dapat diperoleh secara

(1). Langsung, dengan menggunakan anemometer (alat pengukur


cepat dan arah angin) yang biasa atau otomatis.

(2). Tidak langsung, dengan melihat gerak ranting pohon di pesisir, atau
kondisi gelombang, dan mengkonversikannya menjadi kecepatan
angin dengan skala Beufort misalnya. Cara ini tidak dianjurkan
karena hasiinya tidak akurat dan arah dari angin tidak dapat
diketahui dengan pasti.

(3). Tidak langsung, dengan memanfaatkan data sekunder yang


dikeluarkan oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), atau
sumber-sumber lainnya.

Untuk mengetahui pola angin rataan dan suatu kawasan


diperlukan, data angin paling sedikit selama 10 tahun. lni berarti bahwa
pengukuran angin sesaat tidak dapat menggambarkan pola angin dan
daerah tersebut.

a.3.2. Analisis Data

(1). Dari data angin dibuat rosa angin (wind roses) yang
menggambarkan arah dan kecepatan angin untuk tiap bulannya.

(2). Dari data tersebut dapat diketahui arah dan kecepatan angin
dominan untuk tiap bulan, yang akan digunakan untuk keperluan
lain. seperti memprakirakan besar gelombang atau persebaran
limbah terapung di perairan tersebut.

a.4. Pasang Surut (Pasut)

lnformasi tentang pasang-surut (pasut) diperlukan untuk:

(1). Mengetahui daerah pesisir atau daratan yang masih dipengaruhi


oleh laut, dan sebaliknya.

- 41 -
(2). Mengetahui proses gerakan massa air yang disebabkan oleh pasut.

(3). Mengetahui luas perairan yang dipengaruhi oleh pasut sehingga


dapat memprakirakan luas persebaran dampak.

(4). Mengelola ekosistem perairan pesisir.

a.4.1. Pengumpulan Data

Data pasut dapat diperoleh secara:

(1). Langsung, dengan mengukur tinggi muka laut sejam satu kali,
selama 24 jam sehari, dan paling sedikit selama 15 hari, untuk
dapat menganalisis amplitudo, dan fase dan komponen-
komponen pasutnya.

(2). Tidak langsung, yaitu dari peramalan pasut di lokasi-lokasi tertentu


yang diterbitkan oleh DISHIDROS TNI-AL setiap tahun. lnformasi ini
sangat berguna untuk mengetahui kondisi pasut di lokasi tersebut.

Pengukuran pasut dapat dilakukan dengan:

(1) Papan berskala (tide pole)

(2), Alat pengukur otomatis AWLR (Automatic Water Level Recorder).

Penempatan alat pengukur pasut (papan berskala maupun AWLR)


harus rnemperhatikan kondisi berikut :

(1). Ditempatkan di lokasi yang selalu terendam air pada saat surut
terendah

(2). Diternpatkan di lokasi yang tidak banyak dilalui oleh transportasi air

(3). Terlindung dari hempasan gelombang besar, dan arus yang deras

(4). Aman dari gangguan tangan-tangan jahil.

a.4.2. Analisis data

(1). Data hasil pengukuran pasut dianalisis dengan menggunakan


metoda harmonik atau metoda admiralti untuk memperoleh
amplitudo dan fase dari komponen pasutnya. Keterangan

- 42 -
tentang metoda Admiralti dapat diperoleh dari DISHIDROS-AL,
Ancol, Jakarta.

(2). Dari amplitudo komponen pasut utama, dapat ditentukan tipe


pasut dan perairan yang diamati. Pada umumnya formula
Formzahl yang digunakan untuk keperluan ini.

(3). Dari amplitudo komponen-komponen pasut tersebut, dapat


dihitung pasang tertinggi dan surut terendah yang dapat terjadi di
perairan tersebut.

a.5. Gelombang

Informasi tentang gelombang diperlukan untuk:

(1). Mengetahui besarnya energi laut yang dihempas ke pesisir.

(2). Mengetahui arah dan kuat arus menyusuri pantai (longshore


current) yang berperan penting dalam transportasi sedimen di
sepanjang pesisir.

(3). Pengelolaan kawasan pesisir.

a.5.1. Pengumpulan Data

Gelombang diukur dengan cara:

(1). Langsung, dengan menggunakan alat pengukur otomatis, seperti


alat pencatat gelombang (wave rider), atau dengan
menggunakan papan, berskala maupun kamera video. Dengan
papan berskala atau kamera video dilakukan
pengamatan/pengambilan gambar selama 10 menit tiap jamnya,
selama kurun waktu yang diperlukan. Dari pengukuran ini dapat
diperoleh data tentang tinggi dan periode dari gelombang.
Penggunaan, kamera video pada umumnya hanya dilakukan
pada siang hari, karena keterbatasan teknis yang dihadapinya.

(2). Tidak langsung, yaitu dengan memprakirakannya melalui data


arah dan kecepatan angin, lama bertiupnya (duration), serla
panjang lintasan tiupan anginnya (fetch).

- 43 -
a.5.2. Analisis Data

Analisis data dapat dilakukan sebagai berikut:

(1). Tinggi dan periode gelombang yang diperoleh dari hasil


pengukuran dikelompokkan ke dalam periode tertentu (seperti 0 -
10 detik; 10-20 detik; 20-30 detik; dan seterusnya), dan tinggi
tertentu (seperti 0-25 cm; 25-50 cm; 50-75 cm; 75-100 cm; dan
seterusnya).

(2). Dari pengelompokkan tersebut dapat diketahui tinggi dan periode


gelombang dominan yang ada di perairan tersebut.

a.6. Arus

Informasi tentang arus diperlukan untuk:

(1). Mengetahui arah dan besarnya massa air yang mengalir dari suatu
tempat ke tempat lain.

(2). Memperkirakan arah dan jarak persebaran sedimen, limbah, atau


bahan pencemar lainnya dari sumber dampak.

(3). Mengelola ekosistem perairan pesisir.

a.6.1. Pengumpulan Data

Metoda pengukuran arus ada dua, yaitu:

(1). Metoda Lagrangian, yaitu dengan cara mengikuti arah gerak dari
massa air. Alat yang digunakan adalah benda apung seperti
floating drogue. Kecepatan arus ditentukan dengan menghitung
lama waktu yang diperlukan benda apung tersebut menempuh
jarak tertentu. Adapun arah arusnya ditentukan dengan
menggunakan kompas. Metoda ini sangat sederhana, mudah
dilaksanakan, tetapi akurasinya rendah.

(2). Metoda Eulerian, dimana aliran massa air diukur dari suatu titik
yang tetap (tidak bergeser), Alat yang digunakan untuk keperluan
ini adalah alat pengukur arus (current meter). Alat pengukur ini
dapat berdasarkan gerakan mekanik (dengan baling-baling), arus
listrik (GEK), atau dengan gelombang suara/akustik (ADCP,
Acoustic Doppler Current Profiler).

- 44 -
a.6.2. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

(1). Dari data hasil pengukuran, arah dan kuat arus dapat
digambarkan (diplotkan) pada koordinat polar (sumbu x dan y
menunjukkan arah dan arus, dan jarak dari titik pusat menunjukkan
kuat arusnya).

(2). Dari grafik tersebut, dapat diketahui arah dan kuat arus yang
dominan di perairan yang diamati.

a.7. Suhu

lnformasi tentang suhu diperlukan untuk:

(1). Indikator dari pola persebaran massa air, terutama di daerah


estuaria

(2). Mengetahui adanya proses penaikan massa air dari lapisan bawah
permukaan menuju ke permukaan (dikenal sebagai proses
upwelling)

(3). Bersama dengan data salinitas, dapat mengetahui apakah ada


pelapisan (stratification) di perairan yang diamati. Pelapisan di
suatu perairan perlu diketahui karena pola arus di lapisan atas
dapat berbeda dengan pola arus di bagian dalamnya. Pelapisan
ini biasa ditemui di daerah estuaria.

a.7.1. Pengambilan Data

Prosedur pengukuran suhu adalah:

(1). Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan termometer


biasa (untuk perairan dangkal), atau dengan termometer khusus
(reversing thermometer, untuk perairan dalam).

(2). Untuk perairan dangkal (hingga sekitar 20 meter), pengukuran suhu


minimal dilakukan di tiga kedalaman, yaitu di lapisan permukaan
(0,2 D), lapisan tengah (0.6 D), dan di lapisan bawah (0.8 D),
dimana D adalah kedalaman dari perairan.

- 45 -
(3). Untuk perairan dalam (lebih dari 20 meter) pengukuran suhu
dilakukan pada kedalaman-kedalaman standar, yaitu pada
(dalam meter) permukaan; 10; 20; 30; 50; 75; 100; 125; 150; 175; 200;
250; 300; 400; dan seterusnya (lihat Sverdrup et al. (1961)). Suhu
sebaiknya diukur secara vertikal dan horisontal.

a.7.2. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan ketentuan:

(1). Data suhu dari berbagai lokasi pengamatan dan kedalaman


digambarkan persebarannya secara mendatar (horisontal) dan
menegak (vertikal).

(2). Dari deskripsi persebaran suhu secara mendatar dan menegak,


analisis dilakukan. Jika garis isoterm pada tiap kedalaman sejajar
dengan garis horisontal, maka perairan tersebut dapat dikatakan
normal, Jika garis-garis isoterm itu bergelombang, maka dapat
diartikan bahwa perairan tersebut sangat dinamik.

a.8. Kecerahan

lnformasi tentang kecerahan perairan diperlukan untuk:

(1) Mengetahui sampai sedalam berapa cahaya matahari dapat


rnenembus perairan, untuk menentukan daerah dimana proses
fotosintesis berlangsung dengan efektif (zona eufotik).

(2). Mengevaluasi produktivitas perairan.

(3). Ada atau tidaknya bahan organik yang terlarut atau tersuspensi di
perairan yang diamati.

a.8.1. Pengurnpulan Data

Cara pengambilan contoh adalah:

(1) Memakai alat transmissometer dan alat pengukur irradiance.


Cara ini adalah yang terbaik, alatnya sederhana, mudah
dioperasikan, tetapi mahal harganya.

(2). Dengan menggunakan keping Sechii (Sechii disc). Keping atau


lempeng ini diturunkan ke dalam air dengan perlahan-lahan
sampai keping ini hilang dari pandangan mata, dan dicatat

- 46 -
kedalamannya. Alat ini sederhana, mudah dioperasikan, murah,
tetapi akurasinya rendah.

a.8.2. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan ketentuan:

(1). Dengan alat pengukur hasil dapat langsung diketahui.

(2). Dengan keping Sechii, dapat diketahui koefisien ekstiksinya (k),


dimana k = 1.7/d (d = kedalaman saat Sechii menghilang dari
pandangan).

(3). Data ini dari lokasi pengukuran digambarkan pada peta,


sehingga diketahui persebaran dan kecerahannya.

a.9. Salinitas

Salinitas bersama-sama dengan suhu merupakan dua komponen


yang berperan penting dalam mengontrol densitas air laut.

a.9.1. Pengumpulan Data

Titik pengambilan contoh untuk parameter salinitas sama dengan


titik pengambilan contoh untuk parameter kualitas air lainnya.
Pengukuran salinitas dapat menggunakan alat SCT (Salino-Conductivity-
Temperature) meter atau dengan alat hand refractometer.

a.9.2. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan melakukan perbandingan nilai


salinitas perairan di daerah yang terkena dampak dan daerah yang
tidak terkena dampak, serta antar stasiun pengamatan dengan
menggunakan baku mutu yang sudah ditetapkan. Selain itu dapat pula
dilakukan dengan menggunakan teknik tabulasi atau analisis statistik
lanjutan.

a.10. Sedimentasi/Erosi

Sedimentasi atau erosi sangat diperlukan untuk:

(1). Mengetahui daerah pesisir yang mengalami sedimentasi, dan


yang mengalami erosi.

- 47 -
(2). Mengetahui kestabilan wilayah pesisir.

(3). Pengelolaan wilayah pesisir.

a.10.1. Pengumpulan Data

Cara pengambilan contoh:

(1). Secara langsung, dengan mengambil sampel substrat dari dasar


perairan dan tepi pesisir dengan cara pengerukan (dredging),
atau dengan cara pemboran (coring).

(2). Secara tidak langsung, dengan mencari informasi geomorfologis


dari daerah tersebut dari instansi atau lembaga terkait, seperti
PPPGL (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut) atau
lainnya.

a.10.2. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

(1). Data hasil pengambilan contoh dianalisis di laboratorium untuk


mengetahui struktur fisik, dan kimianya.

(2). Diameter dan partikel-partikel sedimen juga diukur.

(3). Dengan mengetahui diameter partikel sedimen, kelandaian dari


dasar perairan, tinggi dan panjang gelombang, proses terjadinya
sedimentasi atau erosi di wilayah pesisir dapat diketahui.

Formula untuk ini dapat diperoleh dari buku CERC (1984).

a.11. Kualitas Tanah

Kualitas tanah seperti halnya kualitas air, merupakan salah satu


parameter fisik lingkungan penting yang harus ditelaah. Hal ini
disebabkan karena tanah di wilayah pesisir mempunyai karakteristik yang
agak berbeda dengan tanah di daerah atas.

- 48 -
a.11.1. Pengumpulan Data

Pengambilan titik contoh untuk kualitas tanah merupakan faktor


yang penting dalam studi AMDAL. Beberapa hal yang harus
diperhatikan adalah :

(1) Lokasi Pengambilan Contoh

Lokasi pengambilan contoh untuk kualitas tanah ditentukan


berdasarkan karakteristik wilayah studi. Sebaiknya lokasi pengambilan
contoh minimal dilakukan di dua tempat, yaitu menjauh dari arah pantai
dan menjauh dari arah sungai.

(2). Jumlah Titik Contoh

Pada dasarnya jumlah titik contoh ditentukan berdasarkan


karakteristik wilayah studi. Semakin kompleks karakteristik wilayah studi,
rnaka semakin banyak titik contoh yang harus diambil. Hal ini
berhubungan erat dengan dampak yang diprakirakan akan muncul dari
sebuah proyek pembangunan. Misalnya apabila terdapat dua macam
land use di wilayah studi, maka di kedua macam land use tersebut harus
diambil contoh tanahnya, dan sebagainya.

(3). Parameter yang harus diukur

Selain mengambil contoh tanah untuk kemudian dianalisis di


Laboratorium, parameter lain yang hendaknya diukur adalah : (a)
Ketebalan gambut; (2) ketinggian air genangan/air tanah dan (c)
kedalaman lapisan Potential Acid Sulfit (PAS).

a.11.2. Analisis Data

Analisis kualitas tanah dilakukan di laboratorium. Pada prinsipnya


tidak terdapat perbedaan antara analisis kualitas tanah pesisir dan tanah
wilayah pedalaman. Namun demikian perlu diperhatikan parameter-
parameter yang khas untuk tanah di wilayah pesisir, yaitu : kadar pirit,
kadar besi (Fe), tingkat kematangan tanah, kadar bahan organik, dan
electrical conductivity. Parameter lainnya sama dengan untuk kualitas
tanah di pedalaman.

- 49 -
b. Komponen Kimia

Air laut merupakan larutan kompleks yang terdiri dari mineral, unsur
hara, dan garam. Pada hakekatnya semua unsur stabil yang kita kenal
bisa kita jumpai dalam air laut, walaupun kadang-kadang hanya dalam
konsentrasi yang sangat kecil. Kehidupan secara umum sangat
bergantung pada ketersediaan karbon, oksigen, nitrogen, dan fosfor,
selain air. Nitrogen merupakan salah satu unsur dalam asam amino, yang
merupakan bahan untuk protein, sedangkan fosfor diperlukan untuk
bahan pembentuk senyawa seperli ATP (adenosine trifosfat) yang sangat
penting dalam proses transfer energi di dalam tubuh organisme. Di
dalam air laut, unsur-unsur yang disebutkan di atas tersedia dalam bentuk
senyawa bikarbonat, fosfat, dan nitrat terlarut, serta bentuk-bentuk
lainnya. Oleh karena itu dalam setiap kegiatan fisik di ekosistem perairan
(mangrove, terumbu karang, estuaria, dan sebagainya) parameter
kimiawi harus selalu diperhatikan.

Parameter kimiawi kualitas air, mempengaruhi produktivitas biologis


lewat interaksi dengan proses-proses fisiologis organisme, parameter yang
perlu diukur berkenaan dengan studi lapangan meliputi turbiditas oksigen
terlarut, pH. alkalinitas, nitrogen, sulfur, fosfor. silikon, dan konduktivitas.
Berikut ini diuraikan teknik pengumpulan dan analisis data untuk
komponen kimia.

b.1. Oksigen terlarut

Tujuan pengambilan data oksigen terlarut adalah untuk mengetahui


kandungan gas ini di perairan. Oksigen terlarut penting karena
merupakan salah satu unsur yang diperlukan dalam respirasi dan aktifitas
lainnya seperti untuk tumbuh, berenang dan sebagainya. Kandungan
oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman organisme. Perairan
dengan kandungan oksigen terlarut yang cukup dan stabil biasanya
memiliki jumlah spesies yang lebih banyak.

b.1.1. Pengambilan Data

Pengukuran oksigen terlarut dapat dilakukan dengan metode titrasi


Winkler atau DO-meter (oxygen probe). Kalau dilakukan dengan baik
(teliti dan cermat) metode Winkler ini menghasilkan angka kandungan
oksigen terlarut yag akurat. Sehubungan dengan sifatnya yang cepat
berubah, pengukuran oksigen terlarut sebaiknya dilakukan langsung di
lapang (in situ measurement).

- 50 -
Dalam mengukur kandungan oksigen terlarut suatu perairan, perlu
diperhatikan siklus harian dan produksi 02 yang maksimum pada siang
menjelang sore hari, ataupun yang minimum menjelang pagi hari.

Selain mengukur kandungan oksigen terlarut di perairan, kadang-


kadang dilakukan juga pengukuran BOD (Biological oxygen Demand)
dan COD (Chemical Oxygen Demand). BOD biasanya diukur dengan
teknik botol gelap-terang dengan cara menginkubasikan air contoh
dalam botol BOD selama 5 hari pada suhu setempat. Setelah diinkubasi
kemudian nilai oksigen terlarut dalam botol BOD diukur dengan cara
yang telah dikemukakan di atas. BOD mengukur kebutuhan mikro-
organisme akan oksigen untuk keperluan mengurai bahan organik hasil
buangan yang berasal dari industri.

Perlu diketahui bahwa BOD dan COD kurang/tidak baik untuk


mengukur kebutuhan mikro-organisme akan oksigen, karena BOD dan
COD diukur semata-mata berdasarkan kebutuhan oksigen untuk proses
biokimiawi dalam contoh air yang diinkubasikan tersebut. Kalau
sewaktu pengukuran dilakukan mikro-organisme sedang bereaksi maka
nilai BOD dan COD-nya tinggi, dan sebaliknya.

b.1.2. Analisis Data

Analisis data untuk parameter oksigen terlarut dimaksudkan untuk


mengetahui perbedaan kandungan oksigen diantara daerah yang
terkena dampak dan yang tidak terkena dampak, serta antar stasiun
pengamatan.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik tabulasi atau


analisis statistik lanjutan.

b. 2. Derajat Keasaman (pH)

Pengukuran pH penting sebagai informasi dasar. karena perubahan pH


yang terjadi di dalam perairan di kemudian hari tidak saja berasal dari
masukan bahan-bahan asam atau basa ke perairan pesisir, tetapi juga
dari perubahan tidak langsung aktifitas metabolik biota perairan.

b.2.1. Pengumpulan Data

Penentuan pH yang sering dilakukan adalah dengan


menggunakan PH-meter seperti misalnya yang terdapat pada "Hach
field kit multiple analyzer", atau dengan kertas pH.

- 51 -
b.2.2. Analisis Data

Analisis data untuk parameter oksigen terlarut dimaksudkan untuk


mengetahui perbedaan derajat keasaman di antara daerah yang
terkena dampak dan yang tidak terkena dampak, serta antar stasiun
pengamatan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik
tabulasi atau analisis statistik lanjutan.

b.3. Fenol

Fenol (phenolic substances) merupakan senyawa yang terdapat


dalarn fraksi minyak. Tujuan mengukur fenol adalah untuk mengetahui
konsentrasinya di perairan.

b.3.1. Pengumpulan Data

Senyawa fenol dapat berubah melalui proses biodegradasi, di


mana hasil biodegradasinya dapat mempengaruhi senyawa lainnya
seperti sulfida. Karena itu, air contoh perlu ditangani dengan baik melalui
pemberian larutan H3P04 1 N dan CuSO4 kristal agar proses biodegradasi
dapat dihambat. Ukur pH air contoh dengan menggunakan pH paper
atau pH meter. Jika pH air contoh belum mencapai 2, tambahkan
beberapa tetes lagi H3P04. Pengukuran konsentrasi fenol pada air
contoh dilakukan dengan menggunakan metode Gas Chromatography.

b.3.2. Analisis Data

Analisis data untuk parameter oksigen terlarut dimaksudkan untuk


rnengetahui perbedaan kandungan fenol di antara daerah yang terkena
dampak dan yang tidak terkena dampak, serta antar stasiun
pengamatan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik
tabulasi atau analisis statistik lanjutan.

b.4. Oil dan Grease (Minyak dan Lemak)

Mengukur kandungan minyak dan lemak (oil dan grease) dilakukan


untuk mengetahui keberadaannya, yang dalam perairan
akan mempengaruhi nilai estetika, nilai peruntukan perairan, dan biota
air.

b.4.1. Pengurnpulan Data

Sama halnya dengan fenol, minyak dan lemak dapat berubah


melalui proses biodegradasi. Untuk itu air contoh yang akan dianalisis

- 52 -
perlu ditambahkan larutan H2S04 pekat hingga pH-nya mencapai 2 agar
proses biodegradasi dapat dihambat. Konsentrasi minyak dan lemak dari
air contoh di atas diukur dengan menggunakan metode Atomic
Absorbtion Spectrophotometer (AAS) lnfra Red dengan ekstrasi freon.

b.4.2. Analisis Data

Analisis data untuk parameter oksigen terlarut dimaksudkan untuk


mengetahui perbedaan konsentrasi minyak dan lemak di perairan antara
daerah yang terkena dampak dan yang tidak terkena dampak, serta
antar stasiun pengamatan. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teknik tabulasi atau analisis statistik lanjutan.

b.5. Nutrien

Nutrien sangat vital bagi seluruh rantai kehidupan di perairan


karena unsur ini diperlukan oleh semua tumbuhan, sedangkan tumbuhan
ini mendukung kehidupan hewan. Nutrien utama yang diperlukan oleh
tumbuhan adalah nitrogen (dalam bentuk nitrat) dan fosfor (dalam
bentuk ortho-fosfat). Khusus organisme diatom memerlukan silikon
(dalam bentuk silikat) untuk membentuk cangkangnya.

b.5.1. Pengumpulan Data

Air contoh yang akan diukur kandungan nutriennya diambil


dengan menggunakan botol Kemmerer atau sejenisnya. Penentuan titik
contoh untuk parameter ini, dalam sebuah studi AMDAL, sama dengan
titik contoh untuk parameter kualitas air lainnya.

b.5.2. Analisis Data

Untuk mengukur kandungan nutrien diperlukan prosedur yang harus


dilakukan dengan sangat cermat. Analisis data nutrien dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan spektrofotometer.

b.6. Unsur Logam Berat

Mengukur konsentrasi unsur logam berat yang berasal dari limbah


berbagai kegiatan pembangunan atau pemanfaatan sumberdaya alam
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaannya, dimana
dalam perairan unsur ini merupakan bahan pencemar.

- 53 -
b.6.1. Pengumpulan Data

Contoh air diarnbil dari perairan yang diperkirakan terkena dampak


limbah industri atau pembangunan di sekitar lokasi studi. Kandungan
unsur logam berat dalam air contoh diukur dengan menggunakan
metode AAS seperti pada parameter minyak dan lemak.

b.6.2. Analisis Data

Analisis data untuk parameter oksigen terlarut dimaksudkan untuk


mengetahui perbedaan kandungan logam berat di perairan antara
daerah yang terkena dampak dan yang tidak terkena dampak, serta
antar stasiun pengamatan. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teknik tabulasi atau analisis statistik lanjutan.

b.7. Muatan Padatan Tersuspensi

Parameter ini diukur dengan tujuan:

(1). untuk mengetahui laju erosi yang masuk ke dalam perairan pesisir.

(2). untuk mengetahui penyebab kekeruhan perairan pesisir.

b.7.1. Pengumpulan Data

Titik pengambilan contoh untuk parameter ini dalam suatu studi


AMDAL sama dengan titik pengambilan contoh parameter kualitas air
lainnya. Contoh air diambil secara komposit dengan menggunakan
botol Kemmerer.

b.7.2. Analisis Data

Analisis data untuk parameter ini menggunakan metode


Gravimetri, kemudian dilanjutkan dengan analisis tabulasi atau analisis
statistik lanjutan.

Teknik pengumpulan dan analisis data untuk parameter kimia dan


beberapa parameter fisik perairan secara rinci dapat dilihat pada
Strickland and Pearsons (1968), Pearsons, et al (1984), dan Grasshoff and
Kremling (1983),

- 54 -
c. Komponen Biologi

Ekosistem pesisir dan lautan merupakan suatu himpunan integral dari


komponen-komponen abiotik (fisik-kimia) dan biotik (organisme hidup)
yang berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk
suatu struktur fungsional.

Analisis komponen biologis dalam studi AMDAL di wilayah pesisir dan


lautan merupakan pengukuran respon biologis terhadap perubahan
lingkungan hidup akibat kegiatan proyek. Respons biologis tersebut
dapat dikaji melalui struktur dan tipologi komunitas organisme yang
dijadikan parameter biologi penting. Pengkajian struktur dan tipologi ini
didekati melalui analisis kelimpahan, nilai penting jenis, keanekaragaman
jenis, dominasi jenis dan similaritas spasial dan temporal komunitas dan
parameter biologi penting. Komponen/parameter biologi penting yang
diukur pada lingkungan wilayah pesisir dan lautan, meliputi vegetasi
mangrove, rumput laut dan lamun, terumbu karang, plankton,
makrozoobenthos dan nekton. Teknik pengumpulan dan analisis data
untuk komponen biologi yang dapat digunakan dalam studi AMDAL di
wilayah pesisir dan lautan diuraikan berikut ini. Sedangkan contoh rumus-
rumus analisa data komponen biologi selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 2 Panduan ini.

c.1. Vegetasi mangrove

Dilihat dari kemampuannya sebagai penyaring nutrien, ekosistem


hutan mangrove merupakan kawasan yang paling produktif di ekosistem
wilayah pesisir. Dengan keunikan sistem perakarannya yang mampu
mengikat sedimen dan menstabilkan substrat, maka hutan mangrove
mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan dan
keberlangsungan ekosistem pesisir dan lautan.

c.1.1. Pengumpulan Data

Lokasi pengambilan contoh vegetasi ditentukan secara acak atau


purposif dengan petak contoh berukuran sebagai berikut :

(1) Untuk tumbuhan pendek, rerumputan dan pepohonan pada stadia


semai (anakan), gunakan petak contoh (plot) dengan ukuran 2 x 2
m2, Jarak antar petak contoh (plot) minimal 10 m.

(2). Untuk tumbuhan perdu atau pepohonan pancang atau tiang


(tinggi pohon 1,5 m atau kurang), gunakan petak contoh (plot)
dengan ukuran 5x5 m2 .

- 55 -
(3). Untuk tumbuhan pepohonan pada stadia pohon (tinggi 1,5 m atau
lebih), gunakan petak contoh (plot) berukuran 20x20 m2.

Peletakan petak contoh (plot) yang telah dirancang dalam lokasi


pengamatan dilakukan secara acak.

c.1.2. Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari ekosistem hutan mangrove adalah


(1) Kerapatan; (2) Kerapatan Relatif; (3) Frekuensi; (4) Frekuensi Relatif; (5)
Penutupan; (6) Penutupan Relatif; (7) indeks Nilai Penting; dan (8)
Keanekaragaman.

c.2. Rumput Laut dan Padang Lamun

Peranan ekosistem rumput laut dan padang lamun kurang lebih


identik dengan peranan hutan mangrove. Tingginya kemampuan
ekosistem rumput laut dan padang lamun untuk menyuplai nutrien dan
oksigen memungkinkan ekosistem ini memiliki produktifitas yang tinggi.
Kondisi demikian menjadikan ekosistem rumput laut dan padang lamun
berperan pula sebagai habitat bagi jenis-jenis biota tertentu (terutama
ikan dan udang).

c.2.1. Pengambilan Data

Pengambilan contoh rumput laut dan padang lamun dilakukan


melalui petak contoh (plot) berbentuk kuadrat dengan luas 1 m2, yang
diletakkan secara acak. Pada setiap petak contoh yang telah
ditentukan, setiap jenis rumput laut dan padang lamun yang ada
diidentifikasi dan dihitung jumlah individunya.

c.2.2. Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari ekosistem rumput laut dan padang
lamun adalah : (1) Kerapatan; (2) Kerapatan Relatif; (3) Frekuensi; (4)
Frekuensi Relatif; (5) Keanekaragaman; dan (6) Dominansi.

c.3. Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang produktif,


memiliki keanekaragaman biota yang tinggi, dan sensitif terhadap
perubahan lingkungan.

- 56 -
Berbagai jenis biota yang hidup di daerah terumbu karang
merupakan suatu komunitas yang terdiri dari berbagai tingkatan trofik, di
mana masing-masing komponen dalam komunitas ini memiliki
ketergantungan yang erat satu sama lain. Terumbu karang dijadikan
tempat oleh berbagai jenis biota tersebut, baik sebagai tempat
berlindung dan mencari makan maupun sebagai tempat pemijahan dan
pembesaran. Karena itu, terumbu karang memberikan andil yang besar
bagi keanekaragaman biota dan dapat menjadi sumber plasma nutfah
bagi ekosistem pesisir maupun lautan.

c.3.1. Pengambilan Data

Lokasi kajian ditentukan melalui penilikan areal terumbu karang


yang didasarkan pada data foto udara dan observasi renang bebas
(free swimming observation). Pengambilan contoh karang dilakukan
berdasarkan metode transek garis, untuk dapat menggambarkan struktur
komunitas karang secara kuantitatif.

c.3.2. Analisis Data

Data yang perlu dianalisis dari ekosistem terumbu karang adalah:


(1) Penutupan; dan (2) Keanekaragaman.
Metode pengumpulan dan analisis data yang berhubungan
dengan ekosistem mangrove, padang lamun/rumput laut, dan terumbu
karang dapat dilihat pada English et al (1994).

c.4. plankton

Plankton adalah organisme mikro yang hidup melayang-layang


dalam kolom air dan pergerakannya dipengaruhi oleh gerakan air.
Plankton terdiri dari plankton nabati (fitoplankton) dan plankton hewani
(zooplankton).

Plankton nabati merupakan produser primer utama di sebagian


besar perairan, sedangkan plankton hewani merupakan konsumen
pertama yang mentransfer energi dan produser ke organisme konsumen
yang lebih tinggi tingkatannya, seperti udang dan ikan.

Sebagai produser dan konsumen primer, plankton sangat


dipengaruhi oleh perubahan kualitas perairan. Dengan demikian, struktur
komunitas plankton dapat dijadikan indikator atau petunjuk perubahan
kualitas perairan, melalui pengkajian stabilitas dan kualitas lingkungan
perairan dengan melihat komposisi dan kelimpahan jenis plankton.

- 57 -
c.4.1. Pengambilan Data

Air contoh pada setiap stasiun dapat diambil dengan Kemmerer


water sampler atau Nansen Bottle apabila diinginkan contoh plankton
dari berbagai kedalaman perairan atau secara komposit. Air contoh
yang diambil kemudian disaring dengan menggunakan jaring plankton
standard. Usahakan agar sedikit mungkin jumlah plankton yang
tertinggal menempel di jaring plankton. Pengumpulan plankton dapat
pula dilakukan dengan menggunakan jaring Kitahara yang berukuran
mata jaring 0,119 mm untuk fitoplankton dan jaring NORPAC (North
Pacific Standard Net) atau jaring JudayINansen.

c.4.2. Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari parameter plankton adalah: (1)


Kelimpahan; (2) Keanekaragaman; dan (3) Dominansi.

C.5. Benthos

Benthos terdiri dari fitobenthos dan zoobenthos, baik yang berukuran


makro maupun mikro atau mikroskopik. Pada umumnya, yang disajikan
sebagai indikator dampak lingkungan hanyalah makrozoobenthos.

Makrozoobenthos merupakan organisme penghuni dasar perairan


yang relatif menetap atau tidak berpindah tempat. Dari segi rantai
makanan makrozoobenthos umumnya sebagai detritus feeder, filter
feeder dan scavenger (pemakan bangkai). Dengan demikian,
organisme hewani ini berperan dalam memanfaatkan kembali energi
yang relatif akan hilang ke dasar perairan.

Dengan sifatnya yang relatif menetap, maka komunitas organisme


makrozoobenthos merupakan organisme yang paling menderita terkena
dampak lingkungan perairan. Oleh karena itu, struktur komunitas
makrozoobenthos merupakan indikator yang baik bagi dampak
lingkungan perairan.

c.5.1. Pengambilan Data

Pada setiap stasiun pengambilan contoh, substrat dasar diambil


dengan menggunakan Ekman dredge untuk perairan yang berarus
lambat dan bersubstrat lunak. Sedangkan untuk perairan yang relatif
dalam dan berarus kuat digunakan Peterson grab atau Smith-Mclntyre
grab.

- 58 -
Substrat dasar yang telah diambil disaring dengan
menggunakan saringan bertingkat (sieve set) untuk memisahkan
contoh makrozoobenthos dan substrat dasar. Untuk membantu
pemisahan tersebut dapat pula dilakukan dengan menambahkan
larutan gula pada contoh yang akan disaring.

c.5.2. Analisis Data

Data yang perlu dianalisis dan biota benthos adalah :


(1) Kelimpahan, (2) Keanekaragaman; (3) Dominansi; dan (4)
Similaritas.

C.6. Nekton

Nekton terdiri dan organisme-organisme hewani dari kelas pisces


(ikan), crustacea (udang-udangan) dan insecta dewasa yang hidup di
perairan. Nekton dapat bergerak bebas dan umumnya mempunyai
kemampuan bermigrasi ke perairan atau bagian perairan yang
dikehendakinya atau mempunyai preferensi.

Keberadaan ikan dalam suatu perairan sangat tergantung pada


berbagai faktor baik faktor internal maupun eksternal. Faktor-faktor
internal antara lain: stadia ikan, umur ikan dan fungsi fisiologisnya
misalnya reproduksi, pola ruaya dan lain-lain. Sedangkan faktor-faktor
eksternal adalah kondisi lingkungan perairan, yang bersifat fisik (suhu,
kekeruhan, kecerahan, DHL dan lain-lain), kimia (kandungan oksigen, P04,
NO3 dan lain-lain) serta kondisi biologi perairan seperti misalnya
keberadaan organisme fitoplankton, zooplankton dan benthos serta
organisme lainnya sebagai kompetitor atau predator. Karena itu, nekton
dapat dijadikan indikator dampak lingkungan terutama perluasannya
melalui pengkajian struktur komunitasnya.

c.6.1. Pengambilan Data

Tempat pengambilan contoh nekton ditentukan baik secara acak


maupun purposif. Pengambilan contoh dilakukan melalui penangkapan
dengan menggunakan alat-alat yang disesuaikan dengan jenis dan
habitatnya. Untuk perairan dengan dasar lumpur, dangkal dan relatif
tidak berarus dapat digunakan alat pancing, jala atau jaring insang (gill
net), Untuk perairan yang dalam dengan dasar lumpur dan cukup
berarus dapat digunakan jaring insang (gill net). Sedangkan untuk
perairan yang berbatu, berkarang dan berarus dapat digunakan bubu
(trap net) atau jaring insang (gill net). Organisme nekton yang

- 59 -
tertangkap langsung diukur dan ditimbang. Sebagian diambil sebagai
contoh dengan memasukkannya kedalarn kantong plastik dan
dipisahkan berdasarkan lokasi pengambilan contoh. Untuk organisme
yang berukuran besar, sayat bagian perutnya dan awetkan di dalam
larutan formalin berkadar 10 %. Sedangkan organisme yarlg berukuran
kecil diawetkan di dalam larutan formalin berkadar 4 – 5 %

c.6.2. Analisis Data

Data yang perlu dianalisis untuk parameter ini antara lain adalah
(1) Kelimpahan, dan (2) Keanekaragaman.

Metoda pengumpulan dan analisis data untuk plankton, benthos,


dan nekton di wilayah pesisir dan lautan dapat dilihat, antara lain, pada
Pearson et al (1 994), Brower et al (1989), dan Cox (1967).

c.7. Satwa Liar

c.7.1. Metode Pengambilan Data

Pengamatan di lapangan dengan cara pengamatan langsung


dan tidak langsung, wawancara dengan masyarakat dan data
sekunder/studi pustaka tentang jenis-jenis satwa liar yang ada di wilayah
studi.

a. Burung (AVES)

Pengamatan terhadap burung dilakukan dengan metode IPA


(Index Point of Abundance). Cara kerja diawali dengan penentuan
nomor-nomor IPA yang menjadi titik-titik pengamatan, jarak masing-
masing titik pengamatan kurang lebih 400 meter dan arah jalur
pengamatan dibuat sedemikian rupa sehingga tipe-tipe habitat satwa
liar atau zonasi yang ada terwakili.

Pada setiap titik pengamatan dilakukan pencatatan terhadap jenis


dan jumlah selama kurang lebih 15 menit. Tabel pencatatan metode IPA
untuk satwa burung seperti pada tabel 1.

Dari data itu dapat dianalisis nilai Kelimpahan Relatif (KR) dan nilai
lndeks Keanekaragaman Jenis (H1).

- 60 -
Tabel 1 . Pencatatan Metode IPA untuk Satwa Burung

No. Nama Jenis Jumlah burung (ekor) Keterangan


5 menit I 5 menit II 5 menit III

b. Mamalia dan Reptilia

Untuk pengamatan satwa mamalia dan reptilia dilakukan secara


langsung dengan metode jalur/transek terutama pada hutan tanah
kering dan Recoguition terutama dilakukan pada ekosistem hutan rawa
dan payau.

Data yang dicatat dari hasil pengamatan tersebut adalah jenis


individu, jumlah aktivitas dan jenis pohon/vegetasi, dalam hubungannya
dengan pemanfaatan habitat.

c.7.2. Metode Analisis Data

(l). Analisis Kelimpahan Relatif

a. Burung (AVES)

Analisis Kelimpahan Relatif jenis burung dengan menggunakan


metode IPA, dinyatakan dalam bentuk Indeks Nilai Penting Jenis yang
merupakan jumlah dari Kerapatan Relatif (KR = %) dan Frekuensi Relatif
(F R = %)

Jumlah Suatu Jenis


Kerapatan = ------------------------------
Jumlah Semua Jenis

Kerapatan Suatu Jenis


KR (% ) = ------------------------------------- X 100%
Kerapatan Semua Jenis

Jumlah Titik Ditemukan Suatu Jenis


Frekuensi = --------------------------------------------------
Jumlah Semua Titik Pengamatan

- 61 -
Frekuensi Suatu Jenis
FR (%) = --------------------------------- X 100 %
Frekuensi Semua Jenis

Indeks Nilai Penting Jenis (INP) = KR + FR

b. Mamalia dan Reptilia

Analisis Kelimpahan Relatif dengan Metode Jalur Transek dengan


rumus sebagai berikut :

Jumlah Suatu Jenis


Kerapatan = -------------------------------
Jumlah Semua Jenis

Kerapatan Suatu Jenis


KR (%) = ---------------------------------- X 100%
Kerapatan Semua Jenis

Jumlah Titik Ditemukan Suatu Jenis


Frekuensi = ---------------------------------------------------
Jumlah Semua Titik Pengamatan

Frekuensi Suatu Jenis


FR (%) = -------------------------------- X 100%
Frekuensi Semua Jenis

lndeks Nilai Penting Jenis (INP) = KR + FR

(2). Analisis Keanekaragaman Jenis

Perhitungan lndeks Keanekaragaman Jenis (H1) satwa liar dihitung


dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

H1 = Σ (pi In pi)
dimana :
pi = ni

- 62 -
N

Ni = INP Suatu Jenis

N = Jumlah INP Semua Jenis

d. Komponen Sosial

d.1 Metode Pengambilan Data


a. Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana atau kegiatan
pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh
kelompok dan lapisan masyarakat. Dengan demikian dalam
menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis
data yang relevan, baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif
perlu dipertimbangkan:

- Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang


akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat
yang akan ditelaah;

- Satuan analisis (rumah tangga, desa, kabupaten, propinsi)


yang akan diukur;

- Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan


masyarakat (emic) di sekitar rencana usaha atau
kegiatan;

- Ketersediaan tenaga, waktu dan dana

b. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data


sekunder. Data ekonomis sedapat mungkin diberi nilai moneter
(valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi
dapat dikuantifikasi.

Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan


antara lain, adalah :
- Observasi/pengamatan lapangan
- wawancara dengan kuesioner

Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui


wawancara dengan kuesioner yang terstruktur

- 63 -
- Wawancara mendalam dengan menggunakan
pedoman pertanyaan

Wawancara mendalam ini dilakukan dengan tokoh-


tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap
mengetahui tentang kondisi masyarakat.

- Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion)

Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 - 7 orang)


yang homogen untuk menghimpun pendapat,
pandangan dan aspirasi mereka.

Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya


digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh
keabsahan dan ketelitian yang tinggi.

c. Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi


suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena
dampak. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat
dipergunakan antara lain :

- Teknik pengambilan sampel secara proporsional.

- Teknik pengambilan sampel secara sengaja (purposive)

- Teknik pengambilan sampel secara acak sederhana (simple


random sampling)

- Teknik pengambilan sampel secara acak berstratifikasi


(stratifikasi random sampling)

Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan


karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial
masyarakat.

Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini:

- Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Makin


seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampling
yang akan diambil.

- 64 -
- Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki dari studi
ANDAL. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, makin
besar jumlah sampel yang akan diambil.

- Kedalaman analisis yang ingin diperoleh, semakin dalam


analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang
dibutuhkan.

Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari berbagai


sumber yang relevan seperti dinas-dinas, BPS, dan
sebagainya.

d.2. Analisis Data

Data dapat dianalisis dengan menggunakan :

- metode analisis yang bersifat kuantitatif, seperti analisis statistik

- metode analisis yang bersifat kualitatif, seperti analisis deskriptif.

Metode pengumpulan dan analisis data untuk komponen sosial


mengacu pada Panduan Aspek Sosial pada Studi AMDAL.

B. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN

Dalam studi AMDAL deskripsi rencana kegiatan pembangunan di


wilayah pesisir hendaknya diuraikan secara detail. Uraian lengkap
mengenai bab ini mengacu pada KEP-14/MENLH/3/1994.

C. RONA LINGKUNGAN HIDUP

Uraian mengenai rona lingkungan yang perlu ditelaah dalam Studi


AMDAL kegiatan di wilayah pesisir dan lautan antara lain mengacu pada
KEP-14/MENLH/3/1994 dan lampiran pada panduan ini.

D. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING

Prakiraan dampak merupakan salah satu kegiatan dalam studi


AMDAL yang bertujuan untuk memprakirakan besarnya perubahan
kualitas lingkungan (dampak), yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan
pembangunan di daerah tertentu. Besarnya perubahan kualitas
lingkungan tersebut merupakan selisih (perbedaan) antara kualitas
lingkungan jika ada kegiatan pembangunan dengan kualitas lingkungan
tanpa kegiatan pembangunan. Dampak lingkungan dapat bersifat

- 65 -
positif maupun negatif. Dampak positif terjadi manakala kualitas
lingkungan dengan adanya kegiatan pembangunan lebih baik daripada
tanpa kegiatan pembangunan. Dampak negatif terjadi, apabila kualitas
lingkungan dengan adanya kegiatan pembangunan lebih buruk
daripada kualitas lingkungan tanpa kegiatan pembangunan. Selain itu,
prakiraan dampak yang mungkin menimpa segenap komponen
lingkungan tersebut hendaknya meliputi rentang waktu pra-konstruksi,
konstruksi, operasi dan pasca operasi dari suatu rencana kegiatan.

Dengan demikian, prakiraan dampak hendaknya mencakup


prakiraan besaran (magnitude) setiap dampak terhadap komponen
lingkungan yang mungkin timbul akibat suatu kegiatan dari mulai tahap
prakonstruksi sampai tahap pasca konstruksi dari suatu proyek. Selain itu,
mekanisme aliran dampak dan sumber penyebabnya (rencana
kegiatan) sampai dengan komponen lingkungan terakhir yang menerima
dampak juga perlu disajikan.

a. Pendekatan Sistem

Esensi dari AMDAL pada dasarnya adalah bagaimana


mengidentifikasi, memprakirakan, dan mengevaluasi dampak yang
mungkin timbul akibat suatu rencana kegiatan terhadap ekosistem
(sistem lingkungan) termasuk komponen manusia (sosial). Kemudian, hasil
dari proses identifikasi, prakiraan, dan evaluasi dampak ini akan menjadi
dasar dalam menyusun Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) guna meminimalkan dampak
negatif penting, dan sekaligus mengembangkan dampak positif penting
yang mungkin muncul dari suatu rencana kegiatan.

Keberhasilan dalam melakukan proses tersebut sangat bergantung


pada pemahaman kita tentang bagaimana ekosistem, yang
diprakirakan akan terkena dampak dari suatu rencana kegiatan, tersusun
dan berfungsi serta bagaimana response setiap komponen dan fungsi
ekosistem, baik secara individual maupun kolektif, terhadap suatu jenis
dampak tertentu (Carpenter and Maragos, 1989).

Mengingat kompleksitas dan dinamika ekosistem wilayah pesisir dan


lautan, maka pendekatan sistem perlu diterapkan dalam melakukan
studi AMDAL, khususnya dalam menilai mekanisme aliran dampak, dan
rencana kegiatan di wilayah pesisir dan lautan. Dalam hal ini, yang
dimaksud pendekatan sistem adalah pendekatan menyeluruh (holistik) di
dalam memahami struktur dan fungsi ekosistem yang akan menerima
dampak dari suatu rencana kegiatan.

- 66 -
Dalam perspektif pendekatan sistem, ada beberapa hal khusus
(spesific) yang harus diperhatikan dalam melakukan identifikasi,
prakiraan, dan evaluasi dampak suatu rencana kegiatan di wilayah
pesisir dan lautan. Beberapa hal khusus tersebut diuraikan di bawah ini.

(1) Keterkaitan Inter dan Antar Ekosistem

Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan antara daratan dan


lautan, yang sangat dinamis dan kompleks, dan biasanya memiliki lebih
dari satu jenis ekosistem, seperti hutan mangrove, padang lamun,
terumbu karang, estuaria, dan pantai berpasir.

Di dalam melakukan proses identifikasi, prakiraan, dan evaluasi


dampak lingkungan suatu rencana kegiatan di wilayah pesisir dan
lautan, perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak yang terdapat
pada ekosistem di mana rencana kegiatan tertentu akan diadakan, dan
aliran dampak yang mungkin terjadi karena adanya hubungan
fungsional antara ekosistem tersebut dengan ekosistem lain di luar
wilayah rencana kegiatan.

Mekanisme aliran darnpak di dalam (inter) suatu ekosistem wilayah


pesisir secara garis besar mengikuti empat pola Pertama, suatu rencana
kegiatan (sumber dampak) mempengaruhi komponen fisik-kimia
lingkungan (faktor abiotik). Perubahan komponen fisik-kimia ini akan
mempengaruhi salah satu biota, dan selanjutnya biota lainnya akan
terpengaruhi sesuai dengan pola rantai makanan (food chain) atau
jejaring makanan (food web) yang ada dalam ekosistem termaksud.
Kemudian, dampak tersebut akan mempengaruhi komponen sosial
(manusia) lingkungan pesisir melalui penurunan produksi atau peracunan
(pencemaran) biota yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Kedua,
dampak suatu rencana kegiatan langsung mengenai salah satu biota,
dan selanjutnya melalui alur rantai makanan atau jejaring makanan
menimpa biota-biota lainnya, serta akhirnya akan merugikan manusia
melalui penurunan produksi biota termaksud. Ketiga, perubahan
komponen fisik-kimia lingkungan secara langsung memberikan dampak
terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia yang memanfaatkan
lingkungan pesisir dan lautan. Keempat, kegiatan proyek berdampak
negatif terhadap pola sirkulasi air dan sedimentasi-erosi yang selain
merugikan biota perairan juga akhirnya merugikan manusia.

Keterkaitan antar ekosistem dalam wilayah pesisir dan lautan


menunjukkan adanya hubungan ekologis yang tidak terpisahkan antara
satu ekosistem dengan ekosistem yang lainnya. Sebagai contoh, jika
suatu kegiatan pembangunan mengakibatkan terjadinya penurunan

- 67 -
kualitas sebuah ekosistem mangrove, maka aliran dampaknya tidak
hanya terjadi pada ekosistem mangrove itu sendiri, melainkan menyebar
hingga ekosistem padang lamun atau terumbu karang. Hal ini
disebabkan adanya keterkaitan antara fungsi ekologis dan ekosistem
mangrove dengan kedua ekosistem tersebut di atas. Keterkaitan yang
terjadi antara ketiga ekosistem tersebut, paling tidak terjadi untuk 5 hal,
yaitu (1) keterkaitan fisik, (2) keterkaitan suplai nutrien, (3) keterkaitan
bahan-bahan organik, (4) keterkaitan migrasi biota, dan (5) keterkaitan
aktifitas manusia yang memanfaatkan jasa-jasa sumberdaya ketiga
ekosistem tersebut. Dengan demikian sebuah studi AMDAL harus
melakukan sebuah prakiraan dampak yang bersifat holistik, dan tidak
hanya pada ekosistem di mana kegiatan pembangunan (proyek)
tersebut dilakukan, tetapi ekosistem lain yang terkait dengan ekosistem
termaksud.

(2) Penilaian Menyeluruh Dari Fungsi dan Manfaat Ekosistem

Seperti yang telah diuraikan di atas, penilaian menyeluruh dari


fungsi ekosistem merupakan salah satu faktor yang penting dalam
melakukan prakiraan dampak pembangunan terhadap lingkungan.
Penilaian menyeluruh dari fungsi ekosistem adalah telaahan secara
holistik dan total terhadap segenap fungsi dan manfaat ekologis maupun
ekonomis dari ekosistem wilayah pesisir dan lautan. Sebagai contoh,
ekosistem mangrove mempunyai manfaat langsung maupun tidak
langsung dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Jasa-jasa
sumberdaya dan hutan mangrove antara lain telah dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk kayu api, arang, penyamak kulit, bahan bangunan,
peralatan rumah tangga, obat-obatan dan bahan baku untuk pulp dan
industri kertas (Nontji, 1987). Selain itu, manfaat tidak langsung yang
dapat diperoleh dari ekosistem ini adalah manfaat ekologis dari
berbagai organisma akuatik dan beberapa di antaranya memiliki nilai
komersial. Daun-daun mangrove berjatuhan dan berakumulasi pada
sedimen-sedimen mangrove sebagai leaf litter (lapisan dari sisa-sisa
daun) dan berperan sebagai pendukung komunitas-komunitas
organisme detrital. Organisme-organisme ini kemudian menguraikan
daun-daun mangrove dan mengubahnya menjadi enerji yang dapat
dimanfaatkan oleh sejumlah spesies, baik yang mempunyai nilai
ekonomi, misalnya udang-udangan, kepiting bakau dan beberapa
spesies ikan (nekton) lain, tiram-tiram, reptilia laut, juga mamalia dan
burung-burung penghuni ekosistem mangrove.

Penilaian menyeluruh dari ekosistem wilayah pesisir dan lautan


diharapkan dilakukan tidak hanya untuk sebuah ekosistem di mana lokasi
kegiatan pembangunan (proyek) berada, tetapi juga untuk ekosistem

- 68 -
lain sesuai dengan konsep keterkaitan antar dan inter ekosistem seperti
yang telah diuraikan di muka.

(3) Dampak kumulatif

Salah satu berkah alamiah dari ekosistem pesisir dan lautan adalah
sebagai penampung limbah. Berkah ini berimplikasi pada ketajaman
prakiraan dampak yang harus dilakukan dalam sebuah studi AMDAL.
Artinya, analisis prakiraan dampak tidak hanya difokuskan pada sumber
dampak dan kegiatan pembangunan (proyek) yang sedang dianalisis,
melainkan harus pula memperhatikan aliran dampak yang disebabkan
oleh sumber dampak di luar wilayah pesisir dan lautan, seperti dari
daerah atas (upland).

b. Metoda Penilaian Besarnya Dampak

Besarnya perubahan kualitas lingkungan akibat kegiatan


pembangunan dinyatakan dalam suatu nilai terlentu. Besarnya dampak
lingkungan tersebut dapat dilakukan dengan 4 pendekatan yaitu (1)
model matematik; (2) penilaian para ahli; (3) pendekatan analogi; dan
(4) pendekatan eksperimental. Beberapa contoh penggunaan model
matematik dan metode kuantitatif lainnya dalam prakiraan dampak
dapat dilihat pada Lampiran 2 panduan ini.

E. EVALUASI DAMPAK PENTING

Setelah dampak diidentifikasi dan diprediksi, maka untuk dapat


diambil suatu keputusan perlu dilakukan pengukuran, interpretasi dan
evaluasi dampak. Evaluasi dampak dimaksudkan untuk dapat
mencapai 2 (dua) sasaran:

1. Memberikan informasi tentang komponen apa saja yang terkena


dampak dan seberapa besar dampak itu terjadi.

2. Memberi bahan untuk mengambil keputusan terutama komponen


apa saja yang terkena dampak. Sementara itu dengan informasi
ini akan dapat diputuskan macam dan jenis mitigasinya. Lebih jauh
dapat diketahui seluruh komponen yang terkena dampak serta
kepastian apakah ilmu pengetahuan dan teknologi mampu
mencegah dan menanggulangi dampak negatif yang muncul.
Apabila IPTEK tidak mampu menanggulangi dan mencegah
dampak negatif, maka dapat diambil keputusan dengan alternatif:

- 69 -
a. Memindahkan rencana kegiatan pembangunan ke tempat
lain atau memindahkan lokasi,

b. Mengganti peralatan atau mengganti proses pembangunan.

Evaluasi dampak penting dilakukan dengan telaah holistik seluruh


komponen dan parameter lingkungan yang mengalami perubahan
mendasar. Sifat dampak berdasarkan berbagai alternatif cara
pelaksanaan proyek yang dilakukan akan dievaluasi dengan analisis
kegiatan yang dominan dalam menimbulkan dampak penting terhadap
komponen lingkungan. Pedoman penentuan dampak penting yang
telah ditetapkan pemerintah dalam keputusan Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan hidup No 49/MENKLH/611987 merupakan
tolak ukur untuk menilai ada atau tidaknya dampak penting akibat
kegiatan pembangunan.

Hasil perkiraan dampak atau besaran dampak dievaluasi menurut


tingkat kepentingannya secara holistik dengan hasil evaluasi penting
atau tidak penting.

Untuk melakukan evaluasi dampak kegiatan pembangunan


terhadap kualitas lingkungan digunakan metode evaluasi dampak, yaitu
(1) Metode Bagan Alir (Flow chart) dan (2) Metode Matriks.

- 70 -
BAB V

PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN


LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA
PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL)

Dalam keseluruhan proses AMDAL di Indonesia, dokumen RKL


(Rencana Pengelolaan Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan
Lingkungan) mempunyai kedudukan yang paling penting. Ini
disebabkan karena kedua dokumen ini akan terus digunakan oleh
pemrakarsa proyek dan instansi lain terkait sebagai pedoman dalam
melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan selama
kegiatan proyek yang sedang diteliti berlangsung. Dengan demikian
kualitas dokumen RKL dan RPL akan sangat menentukan keberhasilan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan proyek
pembangunan yang sedang dikaji untuk mencapai tujuan
pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Bab ini menguraikan beberapa arahan yang bersifat umum yang


harus dimuat dalam dokumen RKL dan RPL maupun yang bersifat khusus
yang mencakup pendekatan teknis dalam hal pengelolaan dan
pemantauan lingkungan.

Arahan Umum

Dalam arahan umum ini diuraikan beberapa hal yaitu : (1) Dampak
lingkungan yang harus dikelola dan atau dipantau, (2) lsi utama dari
dokumen RKL dan RPL dan (3) Pendekatan pengelolaan/pemantauan
lingkungan.

Dampak lingkungan yang harus dikelola atau dipantau.

Penentuan dampak lingkungan yang perlu dikelola atau dipantau


harus berdasarkan pada dokumen ANDAL yang bersangkutan. Dampak
lingkungan yang perlu dikelola dan atau dipantau hendaknya hanya
mencakup komponen-komponen lingkungan yang mengalami
perubahan secara mendasar (significant). Oleh karena itu segenap
program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dituangkan
dalam RKL dan RPL hendaknya hanya ditujukan untuk mengelola dan
atau memantau dampak lingkungan, beserta kegiatan proyek yang
menimbulkannya, yang menurut dokumen ANDAL bersifat penting.

- 71 -
A. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL)

Dokumen RKL seharusnya dapat dijadikan sebagai pedoman


dalam pengelolaan lingkungan suatu kegiatan proyek guna
meminimalkan dampak negatip penting dan mengembangkan
dampak positip penting yang diperkirakan akan timbul, sehingga
pembangunan proyek tersebut dapat berlangsung secara
berkelanjutan (sustainable).

Untuk memenuhi tujuan ini, maka suatu dokumen RKL harus


memuat lima aspek utama yaitu : (1) kegiatan penyebab timbulnya
dampak penting, (2) komponen lingkungan yang terkena dampak, (3)
program pengelolaan lingkungan, (4) waktu dan biaya yang diperlukan
untuk melaksanakan program pengelolaan lingkungan dan (5) instansi
pelaksana kegiatan pengelolaan lingkungan.

Sumber Dampak

Pada butir ini hendaknya diuraikan jenis-jenis kegiatan proyek


yang merupakan sumber timbulnya dampak penting pada komponen-
komponen lingkungan tertentu. Seyogyanya jenis-jenis kegiatan ini
dapat ditemukan dalam dokumen ANDAL.

Komponen/parameter linqkungan yang terkena dampak

Pada butir ini hendaknya disebutkan komponen, sub komponen


atau parameter lingkungan yang diprakirakan akan mengalami
perubahan mendasar akibat kegiatan proyek tertentu. lnformasi
tentang komponen/sub komponen/parameter lingkungan yang terkena
dampak penting juga terdapat dalam dokumen ANDAL.

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan komponen lingkungan


adalah komponen fisik. kimia, biologi dan sosial ekonomi budaya. Sub
komponen meliputi antara lain iklim, kualitas udara, tanah. kualitas air
dan kependudukan. Sementara itu parameter lingkungan mencakup
antara lain arus laut, suhu air, salinitas, BOD, kelimpahan plankton dan
indeks keanekaragaman bentos.

Program Pengelolaan Linakungan

Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas dan terperinci


upaya-upaya untuk mencegah, menanggulangi dan mengendalikan

- 72 -
dampak negatip penting serta berbagai upaya untuk
mengembangkan dampak positip penting akibat kegiatan proyek.

Upaya pengelolaan lingkungan tersebut dapat merupakan salah


satu atau kombinasi dari tiga pendekatan teknologi, ekonomi atau
kelembagaan. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui
pendekatan teknologi, maka sedapat mungkin dituangkan desain
teknologinya. Lokasi atau ruang upaya pengelolaan lingkungan yang
akan dilaksanakan perlu juga disebutkan secara tegas.

Waktu dan biaya Pengelolaan

Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan periode


suatu pengelolaan lingkungan pada suatu lokasi tertentu. Besar biaya
yang diperlukan untuk melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan
juga perlu dikemukakan.

lnstansi Pelaksana Kegiatan Pegelolaan Lingkungan

Sehubungan dengan kompleksnya sifat dan dinamika dampak


lingkungan yang terjadi di wilayah pesisir dan lautan, maka sebagian
besar upaya pengelolaan lingkungan tidak mungkin dapat dilakukan
hanya oleh pemrakarsa proyek melainkan perlu kerjasama dengan
instansi lain yang terkait.

Pada butir ini perlu dikemukakan secara jelas hal-hal sebagai


berikut :

a. Instansi (pihak) yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan


dana kegiatan pengelolaan lingkungan.

b. Instansi yang secara teknis akan melakukan upaya pengelolaan


lingkungan.

c. instansi yang berkepentingan atau berkaitan dengan hasil upaya


pengelolaan lingkungan.

B. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL)

Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk


melaksanakan upaya pemantauan lingkungan, sehingga dapat dijamin
bahwa rencana pengelolaan dampak lingkungan yang tertuang dalam

- 73 -
dokumen ANDAL maupun RKL terlaksana secara efektif dan untuk
mendeteksi perubahan-perubahan yang tidak terduga pada
komponen/parameter lingkungan tertentu.

Oleh karena itu isu pokok dari suatu dokumen RPL harus mencakup :
(1) sumber dampak, (2) jenis dampak lingkungan yang diperkirakan akan
timbul, (3) komponen/parameter lingkungan yang akan dipantau, (4)
tolak ukur dampak. (5) alat dan metode pengambilan contoh serta
analisis datanya, (6) lokasi pemantauan. (7) waktu dan biaya
pemantauan dan (8) instansi pelaksana.

Perihal yang berhubungan dengan sumber dampak, jenis dampak


lingkungan yang akan timbul dan komponen/parameter lingkungan
yang akan dipantau dapat dilihat dari dokumen RKL maupun dokumen
ANDAL.

Tolok Ukur Dampak

Penetapan tolok ukur dampak berdasarkan pada baku mutu


lingkungan dari setiap parameter lingkungan sesuai dengan peraturan
yang berlaku, seperti Peraturan Pemerintah No 20/1990 tentang Baku
Mutu Kualitas Air Ambient, Keputusan Menteri KLH No 02/1988 Tentang
Baku Mutu Ambient untuk Perairan Laut dan Keputusan Menteri KLH No
03/1991 tentang Baku Mutu Kualitas Air Untuk Buangan Limbah (effluent
standard)

Alat dan metoda Pengambilan Contoh dan Analisisnya

Pada butir ini hendaknya dijelaskan alat dan metoda yang tepat
untuk mengukur setiap parameter lingkungan yang akan dipantau. Selain
itu metoda analisis data juga harus dikemukakan secara jelas.

Waktu dan Biaya Pemantauan

Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang lama, periode dan


frekuensi pemantauan untuk setiap parameter lingkungan. Biaya
pemantauan juga perlu dikemukakan pada butir ini.

Lokasi Penantauan

Pada butir ini hendaknya dikemukakan lokasi pengambilan


contoh/data untuk setiap parameter lingkungan yang akan dipantau.

- 74 -
Institusi Pemantauan Lingkungan

Mengacu pada KEP-14/MENLH/311994, institusi pemantauan


lingkungan yang perlu dikemukakan meliputi pelaksana, pengawas, dan
pelaporan hasil pemantauan lingkungan.

- 75 -
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1994. Himpunan Peraturan


Tentang Pengendalian Dampak Lingkungan. BAPEDAL-RI.

Balakrishnan Nair, N and D.M. Thampy. 1980. A Textbook of Marine


Ecology. The Macmillan Co. India Ltd, New Delhi.

Beanlands, G.G. and P.N. Duinker. 1983. An Ecological Framework for


Environmental Impact Assesment in Canada. Institute for Resource
and Environmental Studies, Dalhouise University, Halifax, N.S.

Berwick, N.L. 1983. Guidelines for the Analysis of Biophysical Impact to


Tropical Coastal Marine Resources. The Bombay Natural History
Society Centernary Seminar Conservation in Developing Countries.
Bombay, India.

Browe, J.E. and J.A. Zar. 1977. Field and Laboratory Methods for General
Ecology. Wim. C Brown C Co Publishing. Iowa.

Browe. J.E. and J.A. Zar. 1989. Field and Laboratory Methods for General
Ecology. Third Edition. Wim. C Brown C Co Publishing. Iowa.

Carson. R. 1962. Silent Spring. Fawceet Crest Book. New York.

Clark. J. 1974. Coastal Ecosystem Ecological Considerations for


Managements of The Coastal Zone. The Conservation Foundation.
Washington, DC.

Clark, 1985. Principles for Coastal Area Management Planning (CAMP)


Publised Manuscript. Washington.

Clark, J.R. 1992. Integrated Management of Coastal Zones. FAO Fishenes


Technical Paper.

Carpenter, R.A and James E. Maragos. 1989, How to Asses Environmental


Impact s on Tropical Island and Coastal Areas. Environmental and
Policy Insutute. East-West Center. Honolulu.

Daget, J. 1976. Les Modeles Mathemateques en Ecologie. Collection


d'Ecoiogie 8. Masson Paris. 172 p.

- 76 -
English, S., C. Wilknison and V Baker. 1994. Survey Manual for Tropical
Marine Resources. ASEAN-Australia Marine Science Project: Living
Coastal Resources. Australian Institute of Marine Science,
Townsville. Australia.

Frontier. S. 1985. Diversity and Structure in Aquatic Ecosystem. In


Oceanography and Marine Biology (M. Barnes. ed.). Goerge Alien
and Unwin Ltd. London.

Hamilton, L.S. and S.C. Snedaker. 1984. Handbook for Mangrove Area

Management. East-West Center, IUCN. UNESCO and UNEP.

Hodgson, G and John A Dixon. 1988. Logging versus Fishenes and Tourism
in Palawan. Occasional Papers of The East-West Environment and
Policy Insutute.

Kantor Menten Negara Lingkungan Hidup. 1992. Mekanisme Pengelolaan

Wilayah Pesisir dan Lautan. Kantor Meneg LH. Jakarta.

Krom, M.D. 1986. An Evaluation of The Concept of Assimilative Capacity


as Applied to Marine Waters. Ambio XV: 208-214.

Levinton, J.S. 1982. Marine Ecology. Prentice-Hall, Inc. Engiewood Cliffs,


New Jersey.

Lewis, J.B. 1988. Coral Reef Ecosystem. In Analysis of Marine Ecosystem


(ed. A.R. Longhurst). Academic Press, San Diego.

Loya. Y. 1978. Plottes and Transect Methods. In Coral Reffs


ResearchMethods (D.R- Stoddart and R-E. Johannes. ed.). UNESCO.

Ludwig. J-A. and J.F, Reynolds. 1988- Statistical Ecology: A Primer on


Methods and Computing. John Wiley and Sons. Lnc.New York. 337 p

Macnae. W. 1968. A General Account of the Fauna and Flora of


Mangrove Swamps and Forest in The indo-West-Pasific Region. In
Advances in Marine Biology. Volume 6 (ed- F-S Rusell and M.
Yonge), pp 74 -270. Academic Press, London.

Magurran, A.E. 1988. Ecological Diversity and Its Mea-surement- Croom


Helm Ltd. London. 179 p.

- 77 -
Nonjti. A- 1987 Laut Nusantara Penerbit Djambatan Jakarta

Nybakken- 1988- Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Penerbit


Gramedia. Jakarta.

Odum. H-T. 1982. System Ecology : An Introduction- John Wiley and Sons.
New York-

Ortolano. L- 1984- Environmental Planning and Decision Making- John


Wiley and Sons. Toronto. 243 p.

Pearson- T-R-. Y. Maita, and C.M. Laili. 1984. A Manual of Chemical and
Biological Methods for Seawater Analysis. Pergamon Press. Oxford.
XIV + 173 pp.

Pelly. U- 1995. Dampak Kelemahan Aspek Sosial Dalam Studi AMDAL.


Artikel Harian REPUBLIKA 19 Apnl 1995: halaman 6.

Ncker. W-E. 1980. Calculet Interpretation des Stautiques Bioloqiues des


Populations des Population des Poissons. Bull. Fish. Res. Bd.
Canada. 409 p.

Snedaker. C.S. and Charles D Getter. 1985. Coastal Publication NO 2.


Renewable Resources Management Guidelines. Coastal
Publication No 2. USA.

Salm. R.V. and J.R. Clafk. 1984. Marine and Coastal Protected Areas A
Guide for Planners and Managers. IUCN. Glaild, Switzerland.

WCED. 1987. Our Common Future. Oxford University Press. New York. 400
pages.

Yonge, C.M. 1970, The Biology of Coral Reefs. In Advances in Marine


Biology, Volume 1 (Ed. F.S. Russeli). pp. 209-260. Academic Press.
London.

- 78 -
Lampiran 1. Beberapa Contoh Analisa Data Komponen Biologi

1. Ekosistem Hutan Mangrove

Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari ekosistem hutan mangrove adalah:

(1). Kerapatan (D), yaitu jumlah total individu dalam suatu unit area
yang diukur :

Di = ni/A

Dimana:
Di = kerapatan jenis i
Ni = adalah jumlah total individu dari jenis i
A = adalah luas area total pengambilan contoh.

(2). Kerapatan Relatif (RD), yaitu perbandingan antara jumlah individu


jenis (ni) dan jumlah total individu seluruh jenis (∑n)

RDi = ni/ n

di mana :
RD = kerapatan relatif
ni = jumlah individu jenis
∑n = jumlah total individu seluruh jenis

(3). Frekuensi (F). yaitu peluang ditemukannya suatu jenis dalam petak
contoh yang dibuat :

Fi = pi/∑p

dimana :

Fi = frekuensi jenis i

Pi = jumlah petak contoh di mana ditemukan jenis i


∑P = jumlah total petak contoh yang dibuat.

(4). Frekuensi Relatif (RF), yaitu perbandingan antara frekuensi jenis i (Fi)
dan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis (∑F).

RF Fi/F

- 79 -
Dimana:
RF = frekuensi relatif
Fi = frekuensi jenis ke-i
∑F = jumlah frkuensi untuk seluruh jenis

(5). Penutupan (C) adalah luas penutu tajuk suatu


jenistumbuhan/tanaman (yang diproyeksikan ke permukaan
tanah) pada Suatu area tertentu

Ci = ai/A

Dimana:
Ai = luas total area penutupan jenis i.
A = luas area total pengambilan contoh.

(6). Penutupan Relatif (RC) adalah perbandingan antara luas area


penutupan jenis i (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh
jenis (∑C)

RC = Ci/∑C

Di mana:

RC = penutupan relatif.
ci = luas area penutupan jenis i.
∑C = total area penutupan untuk seluruh jenis.

(7) Jumlah nilai kerapatan relatif (RD), frekwensi relatif (RF) dan
penutupan relatif (RC) untuk jenis i disebut sebagai indeks Nilai
Penting (IV):

IVi = RDi + RFi + RCi

Nilai Penting suatu jenis berkisar antara 0 dan 3. Nilai Penting


ini memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh atau
peranan suatu jenis tumbuhan/tanaman dalam komunitas.

(8). Keanekaragaman yang diwujudkan dalarn indeks


keanekaragaman adalah suatu penggambaran mengenai struktur
organisme berupa persekutuan (assemblages) jenis dalam

- 80 -
komunitas. lndeks keanekaragaman yang digunakan di sini adalah
indeks keanekaragaman Shannon(Daget, 1976: Magurran. 1988).

H' = -∑pi log2 Pi = -∑ni/N log2 ni/N


Dimana:
H’ = indeks keanekaagaman shannon
n = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis.

2. Ekosistem Rumput Laut dan Padang Lamun

Analisis Data

Data yang perlu diketahui dan ekosistem rumput laut dan padang
lamun adalah :

(1). Kerapatan (D), yaitu jumlah total individu dalam suatu unit area
yang diukur :

Di = ni/A

Dimana
Di = kerapatan jenis i
n = adalah jumlah total individu dari jenis i
A = adalah luas area total pengambilan contoh.

(2). Kerapatan Relatif (RD). yaitu perbandingan antara jumjah individu


jenis i (ni) dan jumlah total individu seluruh jenis (∑n) ;

RDi = ni/∑n

Di mana :
RD = kerapatan relatif
n, = jumlah individu
n = jumlah total individu seluruh jenis

(3). frekuensi (F), yaitu peluang ditemukannya suatu jenis dalam petak
contoh yang dibuat:

Fi = pi/∑p
Dimana:
Fi = frekuensi jenis i

- 81 -
Pi = jumlah petak contoh di mana ditemukan jenis i
∑p = jumlah total petak contoh yang dibuat.

(4). Frekuensi Relatif (RF), yaitu perbandingan antara frekuensi jenis i (Fi)
dan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis (∑F);

RF = Fi/∑F

Di mana:
RF = frekuensi relatif
Fi = frekuensi jenis ke-i
∑F = jumlah frekuensi untuk seluruh jenis

(5). Keanekaragaman yang diwujudkan dalam Indeks Keseragaman (E)


adalah suatu penggambaran mengenai struktur organisme berupa
persekutuan (assemblages) jenis dalam komunitas. lndeks
keanekaragaman yang digunakan di sini adalah lndeks
Keanekaragaman Shannon (Daget, 1976; Magurran. 1988).

H' = -∑Pi log2 Pi = -∑ ni/N log2 ni/N

Dimana:
H = Indeks Keanekaragaman Shannon
Ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis.

(6). Dominansi, yaitu suatu penggambaran mengenai dominansi suatu


jenis dalam suatu komunitas. Dominansi diwujudkan dalam lndeks
Dominansi Simpson (Magurran, 1988; Brower & Zar, 1977).

∑i = ∑ni(ni-1)/N(N-1)

Di mana:

∑i = indeks dominansi Simpson


ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis

3. Ekosistem Terumbu Karang

Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari ekosistem terumbu karang adalah :

- 82 -
(1). Penutupan (C), yaitu persentase penutupan satu jenis karang hidup
(yang diproyeksikan ke dasar perairan) pada suatu area tertentu.

C = a/A x 1 00%

Di mana:
a = penutupan karang jenis i (cm)
A = ukuran transek (cm).

(2). Keanekaragarnan yang diwujudkan dalam indeks


keanekaragaman pada prinsipnya memadukan kekayaan jenis
(species richness) dan keseragaman (evenness) dalam satu nilai
unik. Karena itu. indeks ini menggambarkan struktur organisme
berupa persekutuan (assemblages) jenis dalam komunitas. lndeks
keanekaragaman yang digunakan di sini adalah indeks
keanekaragaman Briillouin (Magurran. 1988) yang diturunkan dari
teori informasi:

HB = In N - ∑In ni / N

Dimana :
HB = indeks keanekaragaman Brillouin
Ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis.

4. Plankton

Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari parameter plankton adalah:

(1) kelimpahan yang dinyatakan sebagai jumlah individu plankton per


satuan volume air.

(2). Keanekaragamanan yang diwujudkan dalam indeks


Keanekaragaman adalah suatu penggambaran mengenai struktur
organisme berupa persekutuan (assemblages) jenis dalam
komunitas. indeks keanekaragaman yang digunakan di

- 83 -
sini adalah indeks keanekaragaman Shannon (Daget. 1976.
Magurran, 1988) :

H' = -∑Pi log2 Pi = ∑ni/N log2 ni/N

Dimana :
H = lndeks Keanekaragaman Shannon
Ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis.

(3) Dominansi yang diwujudkan dalam indeks Dominansi adalah suatu


penggambaran mengenai dominansi jenis dalam komunitas.
lndeks yang digunakan di sini adalah indeks dominansi Simpson ;

Ti = ∑ni(ni-1)/N(N-1)
Di mana :
Ti = indeks dominansi Simpson
Ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis.

5. Benthos

Analisis Data

Data yang perlu diketahui dari biodata benthos adalah :

(1). Kelimpahan yang dinyatakan sebagai jumlah individu per satuan


luas transek / alat dihitung dari rata-rata jumlah individu pada
beberapa pengambilan contoh dengan rumus :

X = Xi/n

Dimana :
X = rata-rata jumlah individu pada pengambilan contoh ke n.
Xi = jumlah individu pada pengambilan contoh ke i.
N = jumlah pengambilan contoh.

(2). Keanekaragaman yang diwujudkan dalam indeks


keanekaragaman, yaitu suatu penggambaran mengenai struktur
organisme berupa persekutuan (assemblages) jenis sebuah
komunitas. lndeks keanekaragaman yang digunakan adalah
indeks keanekaragaman Shannon (Daget, 1976; Magurran, 1988),

- 84 -
Hi = -∑Pi log2 Pi = -∑ni/N log2 ni/N

Dimana :
H = lndeks Keanekaragaman Shannon
ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis.

(3). Dominansi yang diwujudkan dalam indeks dominansi, yaitu


penggambaran mengenai dominansi jenis dalam sebuah
komunitas. lndeks dominansi yang digunakan adalah indeks
dominansi Simpson (Magurran, 1988: Brower & Zar, 1977)

ti = ∑ni(ni-l)/N(N-1)

Di mana :
Ti = indeks dominansi Simpson
ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total indifidu seluruh jenis

(4). Similaritas yang merupakan suatu fungsi kemiripan dalam


mempelajari struktur komunitas. ditujukan untuk membandingkan
kemiripan antara dua komunitas baik secara spasial maupun
temporal Pengukuran similaritas dapat diwujudkan dalam indeks
similaritas yang terdiri dari beragam cara penurunannya. indeks
similartas yang digunakan di sini adalah indeks Dice untuk kemiripan
kualitatif dan indeks czekanovski untuk kemiripan kuantitatif (Ludwig
dan Reynolds, 1988: Magurran. 1988). lndeks Dice dihitung
berdasarkan rumus :

Di = 2a / 2a + b + c

Dimana :

Di = lndeks Dice
a = jumlah jenis makrozoobenthos yang ditemukan pada kedua
lokasi atau waktu yang diperbandingkan.
b = jumlah jenis makrozoobenthos yang ditemukan pada lokasi
atau waktu ke-1
c = jumlah jenis makrozoobenthos yang ditemukan pada lokasi
atau waktu ke-2.

Sedangkan indeks Czekanovski dihitung berdasarkan rumus:

- 85 -
Cz = 2Nmn / (Ni + Nj)

Dimana

Cz = indeks Czekanovski
Nmn = kelimpahan terendah untuk tiap jenis Makrozoobenthos
yang ditemukan pada kedua lokasi atau waktu i dan j
yang diperbandingkan.
Ni. Nj = kelimpahan makrozoobenthos pada lokasi atau waktu i
dan j

6. Nekton

Analisis Data

Data-data mengenai jenis nekton dan jumlah hasil tangkapan


diolah lebih lanjut untuk memperoleh distribusi kelimpahan,
keanekaragaman jenis dan faktor kondisinya. Distribusi kelimpahan yang
didekati dari model distribusi kelimpahan merupakan suatu pengkajian
terhadap tingkat kestabilan komunitas. Model-model distribusi
kelimpahan yang dikenal terdiri atas 3 model. yaitu: model Motomura.
Preston dan McArthur.

Keanekaragaman diwujudkan dalam lndeks Keanekarabaman


pada prinsipnya memadukan kekayaan jenis (species richness) dan
keseragaman (evenness) dalam satu nilai unik. Karena itu. indeks ini
menggambarkan struktur organisme berupa persekutuan (assemblages)
jenis dalam komunitas. lndeks keanekaragaman yang digunakan di sini
adalah kumpulan indeks keanekaragaman Hill (Ludwig dan Reynolds.
1988.. Magurran. 1988) yang diturunkan berdasarkan rumus berikut:

NA = ∑s (Pi) 1 / (1 -A)
I=1

Dimana:
NA = Kelompok indeks keanekaragaman Hill
Pi = Proporsi individu (biomassa) jenis ke-i
A = Urutan (orde) jumlah N: (0,1,2)
N0 = S (jumlah total jenis)
N1 = eH' (H'= - ∑pi log2pi, indeks shannon)
N2 = 1/t(t=∑pi2, indeks simpson

- 86 -
GAMBAR 1 SISTEMATIKA STUDI PANDUAN AMDAL UNTUK PEMBANGUNAN DI WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

Ekosistem pesisir
Dan lautan

Proses Pengumpulan Prakiraan


Latar belakang Kebijakan pengelolaan
pelingkungan dan dan analisis data dampak
Tujuan dan ruang Wilayah pesisir dan
identifikasi dampak
Lingkup studi lautan

Evaluasi dampak
Premise dasar
AMDAL kelautan

Arahan
RKL dan RPL

- 87 -
- 88 -
Lampiran 2. Contoh Pendekatan Model Matematik Dalam Prakiraan
Dampak Penting

a. Komponen Fisik-Kimia

Kualitas udara

Langkah-langkah yang harus diambil untuk memperkirakan


dampak pembangunan terhadap kualitas udara adalah .

1. ldentifikasi emisi gas atau debu yang dikeluarkan oleh kegiatan


dalam proyek.
2. Penjelasan tentang rona lingkungan awal komponen kualitas
udara.
3. Penentuan dispersi patoka udara dengan memperhatikan
kecepatan angin, tinggi cerobong dan inversinya pada musim
kemarau dan musim hujan.
4. Mempelajari data iklim secara time series.
5. Penentuan dampak yang timbul pada saat kegiatan
pembangunan dilaksanakan.

Prakiraan dampak kualitas udara, misalnya,menggunakan formula:

CX,Y,0 (Q/∏αy2v) - (H2/α2α2z+y2/2α2y)

di mana .
C = konsentrasi suatu gas di atas permukaan tanah (Ug/m2)
Q = banyaknya gas yang dikeluarkan (Ug/detik)
Y = pembauran parameter gas secara horisontal
Z = pembauran parameter gas secara vertikal
V = rata-rata kecepatan angin (meter/detik)
H = tinggi cerobong efektif (meter)
X,y = jarak terjauh angin yang searah dan berlawanan arah angin
(meter)
Y = tinggi permukaan di atas tanah (meter)

Sehingga apabila pada saat ini diukur konsentrasi gas sebesar y


Ug/m3 sebagai rona lingkungan awal, sedangkan yang akan datang
tanpa proyek adalah x Ug/m3 dan di waktu yang akan datang dengan
adanya proyek sebesar z Ug/m3 maka dampak kegiatan
pembangunan terhadap parameter gas tersebut adalah (z-x) Ug/m3

- 89 -
Kadar Logarn Berat

Logam berat dalam areal pembangunan dapat melarut oleh air


hujan dan kelengasan tanah membentuk senyawa hidroksida Larutan
hidroksida logam berat akan terdifusi ke dalam tanah mengikuti
formula:

c/∆t = k c2/ - ∆x2

Dengan adanya rembesaran larutan logam berat, maka kadar logam


dalam tanah akan meningkat hingga mencapai keadaan jenuhnya.
Pada saat aliran larutan logam berat mencapai muka air tanah (water
table), maka logam berat dapat terdispersi dalam aliran tanah
sehingga terjadi proses pengenceran mengikuti formula

W = 1/∆t log Cm/Ca

di mana :

W = laju logam berat (kg/hari)


Cm = kadar logam berat (pada t=0)
Ca = kadar logam berat setelah terencerkan
∆t = waktu alir (hari)

Sedangkan untuk mengukur konsentrasi parameter anorganis


dalam air mengikuti formula:

Kt = Ko . 10-rt

Dimana:

Kt = konsentrasi parameter B3 di waktu mendatang


Ko = konsentrasi parameter B3 saat ini
r = tingkat pertambahan setiap waktu tertentu
t = waktu prediksi (tahun)

Buangan termal

Model buangan termal ini dirancang untuk memenuhi tujuan-


tujuan sebagai berikut :

- 90 -
(1) Menentukan peningkatan kelebihan termal di sekitar pembuangan
(2) Menentukan besarnya kehilangan termal akibat adanya jarak dan
pembuangan
(3) Menentukan plume trajectory
(4) Menentukan areal suhu guna menduga dampak potensial
pembuangan termal terhadap sumberdaya biologi.

Untuk mengkaji masalah thermal plumess. maka sangat penting untuk


mengetahui rnekanisme paling penting. baik mekanisme peningkatan
maupun penurunan, dari sebaran termal di tempat pembuangan.

Salah satu dari mekanisme paling penting dalam hal pembuangan


termal adalah densimetric froude number (DFN), yang didefinisikan
sebagai:

F = SQR(u/(∆/)). gd

di mana:
F = densimetric froude number
U = velositas lokal
∆ = perbedaan densitas antara pembuangan dan air ambient
 = densitas ambient
g = akseleritas gravitasi
d = dimensi referensi, nilai ini biasanya diambil dari kedalaman
aliran dan saluran pembuangan

Penyebaran Bahan Pencemar Minyak

Mengingat semakin meningkatnya aktifitas industri minyak yang


beroperasi di laut (offshore oil industry) beserta seluruh kegiatan
penunjangnya, maka peluang terjadinya pencemaran laut oleh minyak
menjadi semakin besar. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
pencemaran tersebut, ada 4 komponen yang perlu dikaji yaitu pollutan
fate, ecological effect, economic impact dan associated governmental
policies Salah satu yang penting adalah polutan fate. karena
komponen ini sangat ditentukan oleh proses-proses meteorologi dan
oseanografi yang cenderung untuk mengubah atau Termodifikasi
konsentrasi bahan pencemar berdasarkan ruang dan waktu.

Mengingat kompleksnya masalah ini, maka dalam uraian berikut


ini hanya dibahas prediksi terhadap penyebaran tumpahan minyak di
laut.

- 91 -
(a). Pengaruh Angin

Dalam jangka pendek lapisan minyak di permukaan laut akan


mengikuti arah angin. Secara empiris diketahui bahwa kecepatan
minyak (Vd) adalah antara 2.5 - 4.2 % dan kecepatan angin (Vw). Angka
yang sering digunakan adalah 3.3 %. Dengan demikian hubungan
tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

Vd = 0.033 Vv

Karena angin tidak selalu bertiup dengan kecepatan dan arah yang
tetap, rnaka variasi tersebut perlu dipertimbangkan dengan
memasukkan faktor presentase (Pw) untuk mengoreksinya. Presentase
kejadian diperoleh dengan melihat arah angin dominan pada bulan-
bulan tertentu, sedangkan kecepatannya merupakan rata-rata
kecepatan pada arah dominan tersebut. Sehingga untuk mencapai
jarak tertentu (D), waktu yang diperlukan oleh lapisan minyak adalah :

Tw = D/0.033 Vw x Pw

(b). Pengaruh Arus

Untuk minyak yang berada pada lapisan permukaan laut, pengaruh


arus lebih dominan dibanding pengaruh angin. Lapisan minyak akan
bergerak searah dan dengan kecepatan yang sama dengan arus
permukaan. Waktu minimum (Tc) yang diperlukan lapisan minyak untuk
menempuh jarak D dengan hanya memperhitungkan pengaruh arus
adalah:

Tc = D/Vc x Pc

di mana :
VC = kecepatan arus permukaan
Pc = presentase arah arus dominan (current constancy)

(c). Kombinasi Pengaruh Angin dan Arus

Lapisan minyak di laut biasanya mendapat pengaruh sekaligus dari


arus dan angin. Dalam keadaan demikian, kecepatan hanyut lapisan
minyak merupakan vektor dua kecepatan, yaitu :

- 92 -
Vcw = 0.033 Vw + 0.56 VC

Kombinasi faktor koreksi angin-arus (wind current constancy) dapat


dihitung sebagai berikut:

Pcw = 0.5 (Pc + Pw)

Dengan demikian hanyutan minyak yang dipengaruhi arus dan


angin untuk menempuh jarak D adalah:

Tcw = D/Vcw x Pcw

Setiap konstruksi yang dibangun di tepi pantai akan


mempengaruhi proses sedimentasi di lokasi tersebut. Untuk mengetahui
besarnya transportasi sedimen di daerah pantai tersebut perlu diketahui:

(1). Batimetri perairan tersebut.


(2). Arah dan gelombang yang datang ke pantai.
(3). Tipe substrat dari pantai tersebut.

Sedangkan formula untuk menghitung transportasi sedimen itu


mengikuti formula :

Q = 0,34 nE Sm 2X

a.1. Sedimentasi

Sedimentasi adalah proses mengendapnya partikel sedimen, sedangkan


erosi adalah kebalikan dari proses sedimentasi. Yang dimaksud dengan
sedimen adalah partikel-partikel padat yang diendapkan di dasar
perairan. Proses mengendapnya partikel tersebut ditentukan oleh ukuran
partikelnya dan kecepatan aliran dari air yang mengangkutnya. Jika
kecepatan fluida tersebut lebih kecil dari nilai ambang tertentu, yang
dikenal sebagai kecepatan endapan (settling velocity), maka partikel
sedimen tersebut akan mengendap ke dasar fluida. Keadaan sebaliknya
akan terjadi bila kecepatan air lebih besar dari nilai ambang tersebut.
Nilai ambang ini berbeda-beda tergantung pada ukuran dan partikel
sedimennya.

Untuk mengetahui besarnya perubahan proses sedimentasi di suatu


perairan tertentu, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi
proses sedimentasi, yaitu :

- 93 -
• Sifat fisik-kimia dari sedimen (terutama yang berada di dasar
perairan), seperti ukuran, sebaran, densitasnya, dan bentuk dari
sedimen, kandungan sedimen tersuspensi, dan komposisi kimia
sedimen.

• Sifat fisik-kimia dari media yang mengelilinginya, yaitu dari badan air
di perairan yang diamati, seperti kecepatan alir dari badan air
(arus), sifat aliran (laminar atau turbulin), tahanan dasar perairan
(bed shear stress), salinitas, dan komposisi kimia dari badan airnya.

Berikut disajikan satu contoh untuk menghitung laju sedimentasi di suatu


perairan berdasarkan konsep di atas.

1. Mula-mula dihitung kecepatan gesek dari perairan tersebut (friction


velocity) dengan menggunakan formula berikut (Askren 1979)

(U 2 +V 2 ) 1/2
U* = ------------------- (1,1)
22

dimana :

U* = adalah kecepatan gesek


U = adalah komponen kecepatan searah sb-X
V = adalah komponen kecepatan searah sb-Y

2. Kecepatan rerata, Vr, aliran massa air perlu diketahui. Data ini
diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan.

3. Tekanan tangenisial dasar perairan (bed shear stress,. Tb,


ditentukan melaui formula berikut:

Tb = P(U*)2 (1,2)

dimana p adalah densitas air


4. Tekanan tangensial dasar perairan (Tb) ini dibandingkan dengan
tekanan tangensial kritis (critical shear stress = Tc).
Jika Th > Tc maka erosi yang akan terjadi
Jika Tb < Tc maka sedimentasi yang terjadi

5. Selanjutnya dihitung konsentarasi rerata dan sedimen


tersuspensinya dengan menggunakan formula berikut ini

- 94 -
d P*vs*C
S = --------(C) = ------------- (1,3)
dt d

dimana P adalah kemungkinan sedimentasi (probability of


sedimentation)

= 1 -(Tb/Tc)

vs = adalah kecepatan pengendapan (setting vel)


c = adalah konsentrasi sedimen tersuspensi
d = adalah kedalaman air rerata
t = adalah unit waktu
S = adalah proses sedimentasi jika < 0)
atau proses erosi (jika > 0)

6. Kecepatan pengendapan ditentukan oleh besamya nilai


konsentrasi sedimen tersuspensi (C).

Jika nilai C<3.(10-4 )kg/l maka nilai vs yang digunakan adalah tetap
= 6.6 (10-6) m/s
Jika nilai C>3.(10-4 ) kg/l maka nilai vs yang ditentukan sbb:
vs = K(C) 4/3 dimana K adalah konstanta empiris (0.3)

7. Besarnya/banyaknya sedimentasi/erosi yang terjadi per detik, hari,


bulan, dan tahun dapat diperkirakan melalui persamaan (1,3) di
atas.

b. Komponen Sosial Ekonomi Budaya

Jumlah Penduduk

Model matematik dapat digunakan untuk menduga jumlah penduduk


setelah proyek pembangunan dilaksanakan, mengikuti formula sebagai
berikut :

Pn = Po (1 +r)t

- 95 -
di mana :

Pn = jumlah penduduk pada saat proyek dilaksanakan


PO = jumlah penduduk pada saat pengukuran (rona lingkungan awal)
r = angka rata-rata pertumbuhan penduduk selama kurun waktu n – o
T = waktu prediksi (tahun)

Densitas Penduduk

Besaran dampak densitas penduduk dapat diperkirakan dengan


menghitung densitas penduduk tanpa proyek dan densitas penduduk
dengan proyek. Densitas penduduk tanpa proyek mengikuti formula

Dtp = Po(1+rtp)t/L

di mana :

Dtp = densitas penduduk tanpa proyek


PO = jumlah penduduk pada saat pengukuran (rona lingkungan awal)
Rtp = angka rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun tanpa proyek
t = waktu prediksi (tahun)
L = luas total daerah (km persegi)

Sedangkan densitas penduduk dengan proyek mengikuti formula

Ddp = Po(1+rdp)t/L tot-Li

di mana:
Li = luas lahan yang dipergunakan untuk proyek
PO = jumlah penduduk awal tahun
rdp = angka rata-rata( pertumbuhan penduduk dengan proyek
t = waktu prediksi (tahun)
Ltot = Luas total daerah
Li = luas lahan yang dipergunakan untuk proyek

Besarnya dampak adalah :

D = Ddp Dtp

- 96 -
di mana:
D = dampak proyek pembangunan terhadap densitas penduduk
Ddp = densitas penduduk dengan proyek
Dtp = densitas penduduk tanpa proyek

C.2. Sosial Ekonomi .

Secara umum, analisis data untuk komponen sosial ekonomi meliputi


analisis data secara kualitatif, kuantitatif, analisis tabulasi, dan analisis
yang relevan dengan studi ini. Beberapa alat analisis yang digunakan
disajikan berikut ini.

(a) Metode Regional

a.l. Metode Prakiraan PDRB

Seperti halnya dengan Produk Nasional Bruto (PNB), Produk Domestik


Regional Bruto (PDRB) dapat didekati dengan 3 jenis pendekatan : (a)
pendekatan produksi (production approach), (b) pendekatan
pendapatan (income approach), dan (c) pendekatan
penggunaan/pengeluaran (expenditure approach). Expenditure
approach adalah satu-satunya pendekatan yang sesuai jika analisis PDRB
bertujuan untuk melihat dampak suatu investasi. Pendekatan
pengeluaran pada dasarnya merupakan penjumlahan dan pengeluaran
(aggregate expenditure) yang bersifat permintaan terakhir (final
demand). Total pengeluaran yang membentuk PDRB (Y) ini terdiri dari 4
komponen pengeluaran : Konsumsi Rumah Tangga (C). Pengeluaran
untuk lnvestasi (I). Pengeluaran untuk Pemerintah (G) dan Net Ekspor (NE)
yang merupakan Nilai Ekspor dikurangi Pengeluaran untuk lmpor (X-M).
Penjumlahan komponen-komponen pengeluaran PDRB secara
matematis dapat dijelaskan dalam bentuk persamaan berikut :

Y = C + l + G + (X - M)...................................... (1)

Jika konsumsi adalah fungsi dari pendapatan regional yang siap


dibelanjakan (Yd) yakni pendapatan regional kotor (Y) setelah dikurangi
dengan pajak dan retribusi-retribusi daerah (Tx), maka

C = a1 + b1yd...................................... (2)
Yd = Y - Tx
Tx = a2 + b2Y ......................................... (3)

Dalam hal penyusunan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah


(APBD). pemerintah daerah, seperti halnya dengan pemerintah pusat-

- 97 -
`menggunakan prinsip anggaran berimbang. Oleh karena itu
pengeluaran pemerintah dapat diasumsikan sama dengan penerimaan
pemerintah yang dihasilkan dari pajak dan retribusi-retribusi daerah, atau
G = Tx = a2 + b2Y.

NE = a3 + b3Y ...................................... (4)

Jika persamaan (2), (3) dan (4) disubsitusikan ke dalam persamaan (1),
maka:

Y = a1 + a2 + a3 - a2b1 + b1Y + b2Y + b3Y – b1b2Y + 1.................... (5)

(a1 + a2 + a3 - a2b1) + 1
Y = ------------------------------------- atau
(1 – b1 - b2 - b3 + b1b2)

1
Y = ---------- * (A + 1)
(1 -B)

dimana: A = a1 +a2 + a3 - a2b1


B = 1 – b1 - b2 -b3 + b1b2

sehingga:

1
-------------- = r = koefisien pengganda investasi terhadap PDRB
(1-B)

Dari hasil perhitungan diperoleh persamaan berikut:

Yt = 79,263.467 + 6.8185 lt

dimana :

Yt = total PDRB pada tahun ke i,


1t = jumlah investasi pada tahun ke i yang terdiri atas komponen

- 98 -
investasi tanpa pelaksanaan proyek (l1t.) dan investasi (l2t).

Perkembangan komponen Investasi tanpa pelaksanaan proyek (l1t)


dihitung dengan menggunakan rumus:

l1t = l10 (1+r)t

dimana :
l1tt = Jumlah investasi tahun ke tt,
l1o0 = jumlah investasi tahun ke oO, dan
r = koefisien pertumbuhan investasi.

a.2. Metode Prakiraan Pendapatan Per Kapita

Pendapatan per kapita, diukur dengan pendapatan kotor (PDRB) per


kapita serta pendapatan netto (PDRN atas biaya faktor) per kapita,
diperkirakan dengan membagi total PDRB serta total PRDN atas biaya
faktor dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada tahun yang
sama. Perkembangan PDRB dihitung dengan mengikuti pendekatan
PDRB yang telah dijelaskan di atas.

PDRN atas biaya faktor dihitung dengan menggunakan rumus

Ynt = Yt - Txt - Dt

dimana:
Ynt = PDRN atas biaya faktor pada tahun ke t,
yt = PDRN pada tahun ke i.
TXt = pajak dan retribusi-retribusi daerah pada tahun ke t
yang dihitung berdasarkan rumus i

Txt = TXo ( 1 + r)t.

dimana:
TXo = total pajak dan retribusi-retribusi daerah pada tahun keo
dan r adalah tingkat pertumbuhan tahunan dari Tx,
Dt = penyusutan barang modal pada tahun ke t yang
dihitung berdasarkan rumus :

Dt = Do (1 + r )t

- 99 -
dimana:

Do = penyusutan barang modal pada tahun ke o dan r


adalah tingkat pertumbuhan dari D.

Sama halnya dengan perkembangan PDRN dari penyusutan barang


modal, perkembangan jumlah penduduk dihitung dengan
menggunakan rumus:

Pt = Po (1 + r)t

dimana :
Po = Jumlah penduduk pada tahun keo dan r adalah tingkat
pertumbuhan penduduk.

a.3. Metode Prakiraan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Dengan mengasumsikan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD)


merupakan fungsi dari pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan PDRB,
koefisien pengganda PAD dapat didekati dengan menggunakan
persamaan berikut :

log Y = a + b log x

dimana :
Y = Pendapatan Asli Daerah,
x = PDRB, dan
b = Koefisien elastisitas yang menjadi faktor pengganda PAD.

a.4. Metode Prakiraan Kesempatan Kerja

koefisien pengganda (multiplier coeficient) dari investasi terhadap


kesempatan kerja didekati dengan menggunakan persamaan double
log berikut .
log Y = a + b log x,

dimana :
Y = jumlah orang yang bekerja,
x = jumlah investasi, dan
b = koefisien elastisitas yang menjadi faktor pengganda kesempatan
kerja.

- 100 -
Lampiran 3. Daftar Komponen, Sub-Komponen, dan Parameter Sosial

Perhatian : Daftar komponen, sub komponen dan parameter aspek sosial


berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan
karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi
lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi).

Komponen Sub-komponen parameter


Sosial 1.Demografi 1. Struktur Penduduk :
- Komposisi penduduk menurut
kelompok umur jenis kelamin, mata
pencaharian, pendidikan, agama.
- Kepadatan penduduk

2. Proses Penduduk
- Penumbuhan Penduduk
- Tingkat kelahiran
- Tingkat kematian bayi
- Tingkat kematian kasar
- Pola perkembangan
- Mobilitas penduduk
- Migrasi penduduk
- Migrasi keluar
- Pola migrasi (sirkuler, komuter,
permanen)
- Pola persebaran penduduk

3. Tenaga Kerja
- Tingkat partisipasi angkatan kerja
- Tingkat pengangguran

2. Ekonomi 1. Ekonomi Rumah Tangga


- Tingkat pendapatan
- Pola nafkah ganda
- Produksi /hasil tangkapan
- Frekuensi melaut
- Lama melaut per trip

2. Ekonomi Sumber Daya Alam


- Pola pemilikan dan penguasaan
sumber daya alam
- Pola pemanfaatan sumber daya
alam

- 101 -
- Pola penggunaan lahan
- Nilai tanah dan sumber daya alam
lainnya
- Sumber daya alam milik umum
(common property

Sosial 1. Demografi 3. Perekonomian Lokal dan Regional


- Kesempatan kerja dan berusaha
(pria, wanita dan anak-anak).
- Nilai tambah karena proses
manufaktur
- Jenis dan jumlah aktivitas ekonomi
non-formal
- Distribusi pendapatan
- Efek ganda ekonomi (multiflyer
effect).
- Produk Domestik Regional Bruto
- Pendapatan asli daerah
- Pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi
- Fasilitas umum dan fasilitas sosial
- Aksesibilitas wilayah
- Harga komoditas perikanan
- Saluran tataniaga produk
perikanan
- Struktur pasar

3. Budaya 1. Kebudayaan
- Adat istiadat
- Nilai dan norma budaya

2. Proses Sosial
- Proses asosiatif (kerjasama)
- Proses disosiatif (konflik sosial)
- Akulturasi
- Asimilasi dan integrasi
- Kohesi masyarakat

3. Pranata Sosial/Kelembagaan
Masyarakat di bidang:
- ekonomi, misalnya hak ulayat
- pendidikan
- agama

- 102 -
- sosial
- keluarga

4. Warisan Budaya
- situs purbakala
- cagar budaya

Sosial 1. Demografi 5. Pelapisan Sosial berdasarkan :


- pendidikan
- ekonomi
- pekerjaan
- kekuasaan
- penguasann alat/sarana produksi

6. Kekuasaan dan Wewenang


- kepemimpinan formal dan informal
- kewenangan formal dan informal
- mekanisme pengambilan
keputusan
- kelompok atau individu yang
dominan
- pergeseran nilai kepemimpinan

7. Sikap dan Persepsi Masyarakat


Terhadap Rencana Usaha Atau
Kegiatan

8. Adaptasi Ekologis

- 103 -