Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

BERBAGAI JENIS SKOR / SKALA DI BIDANG


ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF


DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SYARAT KEPANITRAAN KLINIK
BIDANG ANESTESIOLOGI DAN RAWAT INTENSIF
DI BLU RSUD KOTA SEMARANG







Oleh :
Ricco Aditya Pradana
030.09.201



KEPANITRAAN KLINIK ILMU ANESTESIOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
2014

LEMBAR PENGESAHAN


Nama : Ricco Aditya Pradana
NIM : 030.09.201
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Universitas Trisakti
Tingkat : Program Studi Profesi Dokter
Bidang Pendidikan : Anestesiologi dan Terapi Intensif
Periode Kepanitraan Klinik : 17 Februari 2014 21 Maret 2014
Judul Makalah : Berbagai Jenis Skor / Skala di Bidang Anestesiologi dan
Terapi Intensif
Diajukan : Maret 2014
Pembimbing : Dr. Purwito Nugroho, Sp.An, MM

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL:


Bagian Anestesiologi
RSUD Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Mengetahui,
Kepala SMF Anestesiologi
RSUD Kota Semarang




Dr. Purwito Nugroho Sp.An, MM
NIP. 19551221 198301 1 002
Pembimbing





Dr. Purwito Nugroho Sp.An, MM
NIP. 19551221 198301 1 002

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan petunjukNya,
penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, dengan bekal pengetahuan,
pengarahan, serta bimbingan yang diperoleh sebelum dan sesudah menjalani kepanitraan ini,
penulis mencoba menyusun makalah yang berjudul BERBAGAI JENIS SKOR / SKALA
DI BIDANG ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF.
Dalam menjalankan kepanitraan ANESTESIOLOGI ini, penulis berkesempatan untuk
menimba ilmu dan mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya di RSUD Kota Semarang
periode 17 Febeuari 2014 21 Maret 2014. Seluruh kegiatan yang kami laksanakan dapat
berjalan dengan baik berkat kerjasama yang terjalin antara Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti dan RSUD Kota Semarang.
Pada kesempatan kali ini, penulis juga ingin berterima kasih kepada:
- Dr. Susi Herawati, M.Kes, selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.
- Dr. Purwito Nugroho, Sp.An, MM, selaku Ka Instalasi Anestesiologi dan pembimbing
Kepanitraan Klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang.
- Dr. Donni Indra Kusuma, Sp.An, Msi. Med, selaku pembimbing Kepanitraan Klinik
Anestesiologi dan Rawat Intensif RSUD Kota Semarang.
- Dr. Satrio Adi W, SpAn, selaku pembimbing Kepanitraan Klinik Anestesiologi dan
Rawat Intensif RSUD Kota Semarang.
- Dr. Refni Riyanto, selaku Residen Anestesiologi dan Rawat Intensif Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro serta RSUD Kota Semarang serta Staff Anestesiologi dan Teapri
Intensif RSUD Kota Semarang.
- Rekan-rekan anggota Kepanitraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti,
Universitas Tarumanegara dan Universitas Sultan Agung di Bagian Anestesiologi RSUD
Kota Semarang.
- Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah ikut membantu
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan karena kemampuan dan pengalaman penulis
yang masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari semua pihak, supaya makalah ini dapat menjadi lebih baik dan dapat
berguna bagi yang membacanya. Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih
banyak kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi para Pembaca.



Semarang, Maret 2014

Penulis



















BERBAGAI JENIS SKOR / SKALA DI BIDANG ANESTESIOLOGI DAN
TERAPI INTENSIF
Ricco Aditya Pradana*, Purwito Nugroho**

Abstract
In carrying out its functions and duties, doctors profession are always associated with life
and human bodies. The doctors have a big risk due to their duties. The doctors is also a
man who is often in an attempt to cure their patients is inseparable from their failure. As a
result of the failure of a doctor to seek and cure a patient due to error or negligence in
medical treatment, resulting in the patient becoming injured or dies, can lead to
accusations to the doctor that had occurred the act or acts of malpractice. There are no
restrictions obvious how an act (or not act) is a doctor or an action that reasonably can be
categorized as malpractice, so it may be subject to criminal prosecution.

Keywords: doctors profession, malpractice

Abstrak
Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya Profesi dokter selalu berhubungan dengan nyawa
dan tubuh manusia. Hal ini menyebabkan seorang dokter dalam menjalankan tugasnya
memiliki resiko yang sangat besar. Dokter adalah juga seorang manusia yang seringkali di
dalam usahanya untuk menyembuhkan pasien tidak terlepas dari kegagalan. Akibat dari
kegagalan seorang dokter dalam mengupayakan dan menyembuhkan seorang pasien
karena kesalahan atau kelalaiannya dalam tindakan medis, sehingga mengakibatkan pasien
menjadi terluka atau meninggal dunia, dapat menimbulkan tudingan kepada pihak dokter
bahwa telah terjadi tindakan atau perbuatan malpraktik. Tidak ada batasan-batasan yang
jelas bagaimanakah suatu perbuatan (atau tidak berbuat) seorang dokter adalah merupakan
tindakan yang sewajarnya ataukah dapat dikategorikan sebagai malpraktik, sehingga dapat
dikenakan tuntutan pidana.

Kata kunci: profesi dokter, malpraktik


*Coasisstant FK Universitas Trisakti
** Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif BLUD RSUD Kota Semarang
PENDAHULUAN
Dalam bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif banyak dikenal skor atau skala yang
digunakan untuk menilai keadaan pasien serta memberikan gambaran mengenai prognosis
pasien. Penggunaan skor atau skala sangat penting untuk mempermudah Dokter Anestesi
dalam menjalankan tugasnya sehari - hari.
Pada makalah ini penulis akan menjelaskan berbagai skor atau skala di dalam bidang
Anestesiologi dan Terapi Intensif yang sering digunakan dalam kegiatan klinik yang
dilakukan sehari hari.

BERBAGAI MACAM SKOR PRE-OPERATIF
A. Klasifikasi ASA (American Society of Anesthesiologist)
Sistem klasifikasi ASA dikembangkan pada tahun 1941 oleh Meyer Saklad atas
permintaan ASA. Klasifikasi ini digunakan untuk mengukur risiko yang terkait dengan
anestesi dan pembedahan. Sistem klasifikasi ini hanya didasarkan dari riwayat medis
pasien.

Selain itu klasifikasi ASA memberikan deskripsi yang mudah yang menunjukkan
status fisik pasien yang berhubungan dengan indikasi apakah tindakan bedah harus
dilakukan segera / cito atau elektif.
1,2

ASA I Pasien sehat tanpa penyakit organik, biokimia atau psikiatri
ASA II Pasien dengan penyakit sistemik ringan. Contohnya asma ringan atau
hipertensi yang terkontrol baik. Tidak mengganggu aktivitas sehari hari.
Mungkin dapat menggangu pada saat anestesi dan pembedahan
ASA III Penyakit sistemik berat atau signifikan yang membatasi aktivitas normal.
Contohnya gagal ginjal yang mendapat terapi dialisis atau penyakit jantung
kongesti. Mengganggu aktivitas secara signifikan dan kemungkinan besar
mengganggu anestesi dan pembedahan
ASA IV Penyakit sistemik berat yang membutuhkan terapi terus menerus atau
membutuhakan terapi intensif. Contohnya infark miokardial akut, gagal
nafas yang membutuhkan ventilasi. Sangat mengganggu aktivitas dan
memiliki dampak besar dalam anestesi dan pembedahan
ASA V Pasien yang hampir mati dalam 24 jam ke depan dengan atau tanpa
pembedahan
ASA VI Donor organ
Tabel 1, Klasifikasi ASA (dikutip dari daftar pustaka nomor 1)
B. Mallampati
Dalam menghindari kesulitan intubasi, maka penatalaksanaan dan persiapan preoperasi
harus tepat. Identifikasi pasien yang potensial diduga akan terjadi kesulitan dalam
melakukan intubasi harus dilakukan, untuk menentukan tindakan atau teknik anestesi yang
tepat harus dilakukan.
2

Salah satu penilaian klinik yang dapat dilakukan untuk menilai kemungkinan terjadinya
kesulitan intubasi adalah tes mallampati. Tes ini dilakukan dengan cara meminta pasien
untuk membuka mulut semaksimal mungkin yang dapat dilakukan disertai dengan lidah
yang dijulurkan, dan pada saat itu kita melihat daerah faring bagian posterior. Tes
Mallampati bertujuan untuk mengukur besarnya lidah di dalam rongga mulut, Apabila saat
tes mallampati ditemukan ukuran lidah yang besar yang menutupi struktur faring atau
bagian posterior faring tidak dapat terlihat, maka kemungkinan nantinya akan terjadi
kesulitan intubasi.
2,3

Gambar 1, Faring posterior pada tes mallampati (dikutip dari daftar pustaka nomor 4)

Kelas 1 Palatum durum, palatum molle, uvula dan kedua pilar faring terlihat
Kelas 2 Palatum durum, palatum molle, Sebagian uvula dan bagian atas kedua pilar
terlihat
Kelas 3 Hanya palatum durum, palatum molle dan dasar uvula yang terlihat
Kelas 4 Hanya palatum durum yang terlihat
Tabel 2, Mallampati (dikutip dari daftar pustaka nomor 3,5)
C. Goldman Cardiac Risk Index
Indeks prediksi klinis telah dikembangkan untuk memperkirakan risiko pasien komplikasi
jantung perioperatif. Pada tahun 1977 Goldman, Mengembangkan indeks risiko jantung
pertama, terdapat 9 variabel yang terkait dengan peningkatan risiko komplikasi jantung
perioperatif. Indeks Goldman dikenal sebagai indeks resiko jantung orisinil.
6

Faktor Resiko Nilai
Suara jantung III atau distensi vena jugularis 11
Infark myocardial dalam 6 bulan terkahir 10
Irama selain sinus atau kontraksi prematur
atrial
7
Lebih dari 5 denyutan ventricular ektopik
dalam 1 menit
7
Operasi abdomen, thoraks atau aorta 3
Usia > 70 Tahun 5
Stenosis aorta 3
Tindakan pembedahan darurat 4
Kondisi buruk yang ditandai salah satu dari:
PaO
2
< 8 kPa
PaCO
2
> 6,5 kPa
Kalium < 3 mmol/L
HCO
3
<20 mmol/L
Urea > 7,5 mmol/L
Kreatinin > 270 mmol/L
SGOT abnormal
Penyakit hepar kronis
3
Total 53
Tabel 2, Indeks Goldman (dikutip dari daftar pustaka nomor 6)

Penilaian Indeks Goldman :
Nilai 0 5 : Komplikasi kardiak mayor 0,3 3 %
Nilai 6 12 : Komplikasi kardiak mayor 6 12 %
Nilai 13 25 : Komplikasi kardiak mayor 3 30 %
Nilai 26 53 : Komplikasi kardiak mayor 19 75 %

D. Revised Cardiac Risk I ndex (RCRI )
Pada tahun 1999, Lee menerbitkan indeks risiko jantung yang kemudian dikenal sebagai
Revised Cardiac Risk Index (RCRI). Lee mengidentifikasi 6 variabel independen yang
memprediksi peningkatan risiko komplikasi jantung. Risiko pasien untuk komplikasi
jantung perioperatif meningkat dengan jumlah variabel yang ada. Dibandingkan dengan
indeks resiko jantung orisinil, RCRI lebih mudah digunakan dan lebih akurat. RCRI
digunakan secara luas dalam praktek klinis, penelitian, dan dimasukkan ke dalam
pedoman evaluasi risiko jantung pre-operasi tahun 2007 dari American Heart Association
dan American College of Cardiology.
7,8

1. Riwayat penyakit jantung iskemik
- Riwayat infark miorkardial
- Riwayat hasil positif pada Exercise test
- Mengeluhkan nyeri dada yang dianggap sebagai iskemik miokardial kedua
- Menggunakan terapi nitrat
- EKG dengan gelombang Q patologis
2. Riwayat penyakit jantung kongesti
- Edema pulmoner
- Paroxysmal Nocturnal Dyspnoe (PND)
- Bilateral rales atau S3 gallop
- Radiografi dada menggambarkan redistribusi vaskularisasi pulmoner
3. Riwayat penyakit serebrovaskular
- Riwayat Transient Ischemic Attack atau stroke
4. Prosedur pembedahan beresiko tinggi
- Intra-torakal
- Intra-peritoneal
- Pembuluh darah suprainguinal
5. Riwayat Diabetes Mellitus yang membutuhkan terapi insulin preoperatif
6. Gagal ginjal kronik (CKD) dengan kreatinin preoperative > 2.0 mg/dl
Tabel 3, Revised Cardiac Risk Index (RCRI) (dikutip dari daftar pustaka nomor 7)
Resiko terjadinya komplikasi jantung :
- 0 variabel beresiko 0,4 % - 2 variabel beresiko 6,6 %
- 1 variabel beresiko 0,9 % - 3 atau lebih variable beresiko 11 %
BERBAGAI MACAM SKALA TINGKAT SEDASI
Skala sedasi digunakan dalam hubungannya dengan riwayat medis untuk menilai tingkat
sedasi pada setiap pasien untuk menghindari under sedation (pasien berisiko mengalami rasa
sakit) dan over sedation (pasien berisiko mendapatkan efek samping yang berlebih seperti
depresi pernapasan, yang mungkin dapat menyebabkan kematian).
A. Skala Sedasi Ramsay
Skala sedasi Ramsay digunakan untuk mengukur tingkat sedasi pada setiap pasien. Dari
berbagai macam skala sedasi yang sering digunakan dalam anestesiologi, Skala sedasi
Ramsay telah menjadi skala sedasi yang sering diadopsi sejak diperkenalkan pada tahun
1974 . Skala pemantauan tahapan sedasi menggunakan enam tingkat skala. Tingkat satu
yang mewakili sedasi minimal dan tingkat enam mewakili sedasi maksimal. Skala sedasi
Ramsay dibagi menjadi dua bagian : tingkat satu sampai tiga memantau keadaan pasien
pada saat tersadar, dan tingkat empat sampai enam memantau keadaan pasien ketika
tertidur.
9
Skala Deskripsi
1 Cemas, agitasi atau gelisah
2 Pasien kooperatif, beorientasi dan tenang
3 Pasien dapat merespon perintah
4 Pasien tertidur, reaksi cepat terhadap nyeri
tekan glabella atau rangsang suara yang
keras
5 Pasien tertidur, reaksi lambat terhadap nyeri
tekan glabella atau rangsang suara yang
keras
6 Pasien tertidur, tidak ada respon
Tabel 4, Skala sedasi Ramsay (dikutip dari daftar pustaka nomor 10)
Dr Michael AE Ramsay, seorang ahli anestesi yang menjadi presiden dari Baylor Research
Institute, mengembangkan Sedasi Skala Ramsay selama studi klinis yang memonitor
berbagai tingkat sedasi pasien yang menggunakan obat penenang disebut alphaxalone-
alphadolone, atau Althesin. Penelitian ini berusaha untuk mengoptimalkan tingkat sedasi
dalam berbagai pasien, dengan tingkat yang memuaskan berkisar antara dua dan lima.
Hasil penelitian itu diterbitkan dalam British Medical Journal, dalam sebuah artikel
berjudul "Controlled Sedasi dengan Alphaxalone-Alphadolone".
9

B. Richmond Agitation Sedation Scale (RAAS)
Skor Keadaan Deskripsi
+4 Agresif Sangat agresif, berbahaya
+3 Sangat gelisah Mencabut atau melepas ETT / kateter, agresif
+2 Gelisah Melakukan gerakan yang tidak bertujuan dan
melawan ventilator
+1 Resah Cemas tetapi gerakan tidak agresif
0 Waspada dan tenang
-1 Mengantuk Tidak sepenuhnya waspada (membuka mata / kontak
mata terhadap rangsang suara > 10 detik)
-2 Sedasi ringan Terbangun sebentar dengan kontak mata terhadap
rangsang suara < 10 detik
-3 Sedasi sedang Bergerak atau membuka mata terhadap rangsang
suara (tidak terdapat kontak mata)
-4 Sedasi dalam Tidak terdapar respon terhadap suara, tetapi bergerak
atau membuka mata dengan stimulasi fisik
-5 Unarousable Tidak ada respon terhadap suara dan stimulasi fisik
Tabel 5, Richmond Agitation Sedation Scale (dikutip dari daftar pustaka nomor 11)
Prosedur penilaian RAAS :
1. Observasi pasien.
a. Pasien waspada, cemas, atau gelisah. (skor 0 - +4)
2. Jika tidak waspada, maka mintalah pasien untuk menyebutkan nama atau meminta
membuka mata dan melihat kea rah datangnya suara.
b. Pasien terbangun dengan membuka mata dan terdapat kontak mata terus menerus.
(skor -1)
c. Pasien terbangun dengan membuka mata dan terdapat jontak mata tetapi tidak terus
menerus. (skor -2)
d. Pasien melakukan pergerakan dengan rangsangan suara tetapi tidak terdapat kontak
mata. (skor -3)
3. Ketika tidak terdapat respon dengan stimulasi verbal, gunakan stimulasi fisik dengan
menggoyang-goyangkan pundaknya dan / atau tekan sternum pasien.
e. Pasien melakukan pergerakan dengan stimulasi fisik. (skor -4)
f. Tidak terdapat respon dengan berbagai macam stimulasi. (skor -5)
12

BERBAGAI MACAM SKOR POST-OPERATIF
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang
menggunakan general anestesi, maka kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk
menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi
di ruang pemulihan.
A. Aldrete Score
Aldrete score digunakan untuk menentukan kapan pasien cukup layak untuk pindah ke
daerah pemulihan tahap kedua yaitu ruang rawat inap. Aldrete Score digunakan untuk
pasien pasien dewasa. Kemampuan pasien untuk bergerak, respirasi, sirkulasi, kesadaran,
dan saturasi oksigen mereka dinilai. Dua poin maksimal diberikan dalam setiap kategori,
dan setiap pasien harus memiliki skor 9 atau 10 untuk dapat pindah keruang rawat inap.
13
Parameter Kriteria Skor
Aktivitas Menggerakan seluruh ekstremitas secara volunteer
atau dengan perintah
Menggerakan dua ekstremitas
Tidak dapat menggerakkan ekstremitas
2

1
0
Respirasi Napas dalam dan batuk secara bebas
Dyspnoe, napas dangkal dan bernapas secara terbatas
Apneu
2
1
0
Sirkulasi (Tekanan darah) Tekanan darah sistolik < 20 mmHg
Tekanan darah sistolik 20 50 mmHg
Tekanan darah sistolik > 50 mmHg
2
1
0
Kesadaran Sadar penuh
Terbangun dengan stimulasi verbal
Tidak ada respon
2
1
0
Saturasi O
2
Saturasi O
2
> 90% ketika bernapas dengan udara
ruangan
Saturasi O
2
> 90% dengan bantuan O
2
suplemental
Saturasi O
2
< 90 % dengan bantuan O2 suplemental
2

1
0
Tabel 6, Aldrete Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 13)

B. Bromage Score
Pengukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur blok motor adalah bromage
skor. Pada Skala ini intensitas blok motorik dinilai dengan kemampuan pasien untuk
menggerakan ekstremitas bawah. Skor ini terdiri dari empat tingkatan, apabila didapatkan
skor sama atau kurang dari dua maka pasien dapat segera dipindahkan dari ruang
pemulihan.
14
Skala Deskripsi
0 Tungkai dan kaki dapat bergerak bebas
1 Hanya dapat memfleksikan lutut dan kaki dapat bergerak bebas
2 Tidak dapat memfleksikan lutut dan kaki dapat bergerak bebas
3 Tidak dapat menggerakkan tungaki dan kaki
Tabel 7, Bromage Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 14)

Gambar 2, Bromage Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 15)
C. Stewart Score
Stewart score Merupakan skor yang digunakan dalam penilaian postoperative pasien
pasien anak dengan general anestesi. Stewart score memiliki tiga variabel antara lain:
kesadaran, respirasi, dan aktivitas motorik. Pasien boleh meninggalkan ruang pemulihan
apabila jumlah skor sama atau lebih dari lima.
16
Kriteria Skala
Kesadaran :
- Bangun
- Ada respon terhadap rangsang
- Tidak ada respon

2
1
0
Respirasi :
- Batuk atau menangis
- Berusaha bernapas
- Perlu bantuan bernapas

2
1
0
Aktivitas motorik :
- Gerakan bertujuan
- Gerakan tanpa tujuan
- Tidak bergerak

2
1
0
Tabel 8, Stewart Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 16)

BERBAGAI MACAM SKOR DALAM TERAPI INTENSIF
A. Glasgow Coma Scale (GCS)
Glasgow Coma Scale adalah skala neurologis yang bertujuan untuk menilai secara
obyektif kesadaran seseorang pada saat awal serta penilaian selanjutnya. GCS pada
awalnya digunakan untuk menilai tingkat kesadaran setelah terjadi cedera kepala dan pada
saat ini GCS digunakan untuk pertolongan pertama dan berlaku untuk semua pasien dan
trauma akut . Saat ini GCS juga digunakan dalam pemantauan pasien kronis dalam
perawatan intensif. GCS dipublikasikan pada tahun 1974 oleh Graham Teasdale dan Bryan
J. Jennett, profesor bedah saraf di Institut Ilmu Neurologi Universtias Glasgow di rumah
sakit umum Citys Southern. GCS digunakan sebagai bagian dari beberapa sistem skoring
ICU, termasuk APACHE II, SAPS II dan SOFA untuk menilai status dari sistem saraf
pusat.
17
GCS terdiri dari tiga variabel antara lain: Eye, Verbal, Motor. GCS memiliki nilai tertinggi
15 dan nilai terendah 3. Dapat dikatakan koma apabila jumlah skor GCS berkisar diantara
8 3.
18
Kriteria Skala
Eye :
- Dapat membuka mata secara spontan
- Dapat membuka mata dengan rangsang verbal atau perintah
- Dapat membuka mata dengan rangsang nyeri
- Tidak dapat membuka mata

4
3
2
1
Verbal :
- Berbicara normal dan memiliki orientasi
- Confused dan disorientasi
- Mengucapkan kata yang tidak berhubungan
- Mengerang
- Tidak ada respon

5
4
3
2
1
Motor :
- Bergerak mengikuti perintah
- Dapat melokalisir lokasi nyeri bila diberi rangsang nyeri
- Menghindar sebagai respon dari rangsang nyeri
- Fleksi ekstremitas sebagai respon rangsang nyeri (dekortikasi)
- Ekstensi ekstremitas sebagai respon rangsang nyeri (desebrasi)
- Tidak ada respon

6
5
4
3
2
1
Tabel 9, Glasgow Coma Scale (dikutip dari daftar pustaka nomor 17,18)
B. Acute Physiology and Chronic Health Evaluation I I (APACHE I I )
APACHE II adalah sistem klasifikasi untuk menilai seberapa beratnya suatu penyakit pada
pasien dewasa yang dirawat di ICU, skor ini tidak dapat digunakan untuk pasien anak
anak atau pasien dibawah usia 16 tahun. APACHE II dipublikasikan oleh Knaus pada
tahun 1985. APACHE II merupakan salah satu dari beberapa sistem penilaian pasien di
ICU. Penilaian APACHE II dimulai sejak 24 jam pertama saat pasien masuk ICU.
APACHE II memiliki rentang skor 0 - 71 dihitung berdasarkan 12 variabel antara lain; usia,
temperature (rectum), Mean Arterial Pressure (MAP), pH arteri, denyut jantung, frekuensi
pernapasan, natrium (Serum), kalium (serum), kreatinin, hematokrit, hitung jenis leukosit,
Glasgow Coma Scale. apabila jumlah skor tinggi maka pasien menderita penyakit yang
berat serat memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
19
Tabel 10, APACHE II (dikutip dari daftar pustaka nomor 19)
C. Sequential Organ Failure Assessment Score (SOFA Score)
Skor SOFA dibentuk dalam rapat konsensus European Society of Intensive Care
Medicine pada tahun 1994 dan selanjutnya direvisi pada tahun 1996. Setiap organ dinilai
dari 0 (normal) sampai 4 (abnormal), memberikan skor total 0 sampai 24 poin. Tujuan
dalam pengembangan skor SOFA adalah untuk memberikan penilaian terhadap status
pasien di perawatan intensif dengan mudah dan berkesinambungan pada setiap instansi
yang terkait.
20
Skor SOFA, digunakan untuk menilai status pasien selama tinggal di unit perawatan
intensif (ICU) . Skor ini merupakan salah satu dari beberapa sistem skoring di ICU. Skor
SOFA merupakan suatu sistem penilaian untuk menentukan sejauh mana fungsi organ
seorang pasien atau untuk menilai kegagalan fungsi organ. Skor tersebut didasarkan pada
enam variabel antara lain; fungsi respirasi, koagulasi, hepar, kardiovaskular, susunan saraf
pusat (SSP), dan ginjal. Peningkatan skor SOFA selama 24 sampai 48 jam di ICU
Variabel Fisiologis Risiko Abnormal Tinggi Risiko Abnormal Rendah
+4 +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 -4
Temperatur rektum (C) 41 39 - 40,9 38,5 - 38,9 36 - 38,4 34 - 35,9 32 - 33,9 30 - 31,9 29,9
MAP (mmHg) 160 130 - 159 110 - 129 70 - 109 50 -69 49
Denyut jantung 180 140 - 179 110 - 139 70 - 109 55 - 69 40 - 54 39
Frekuensi Napas 50 35 - 49 25 - 34 12 - 24 9 - 11 6 - 9 5
Oksigenasi (mmHg)
FiO
2
> 0,5 A-aDO
2
FiO2 < 0,5 PaO
2

500

350499

200349


<200
>70 61 70 55 60 < 55
pH arteri
Serum HCO
3
7,7
52
7,6 7,69
41-51,9
7,57,59
32-40,9
7,337,49
22-31,9
7,257,32
18-21,9
7,157,24
15-17,9
<7,15
<15
Natrium serum (mEq/L) 180 160-179 155-159 150-154 130-149 120-129 111-119 110
Kalium serum (mEq/L) 7 6-6,9

5,5-5,9 3,5-5,4 3-3,4 2,5-2,9 <2,5
Kreatinin serum (mg/dl)
Dikali dua untuk ARF 3,5 2-3,4 1,5-1,9 0,6-1,4 <0,6
Hematokrit (%) 60 50-59,9 46-49,9 30-45,9 20-29,9 <20
Hitung jenis leukosit 40 20-39,9 15-19,9 3-14,9 1-2,9 <1
GCS = dikurang 15
Total skor fisiologi akut (total skor dari ke-12 variabel) (A)
Poin Usia 44 = 0; 45 54 = 2; 55 64 = 3; 65 74 = 5; 75 = 6 (B)
Chronic health point (Pasien dengan insufisiensi organ yang berat atau pasien immunocompromosed) (C)
Operasi emergensi -5
Operasi elektif -2
Total skor APACHE II (A+B+C)
memprediksi tingkat kematian minimal 50% sampai 95%. Skor kurang dari 9 memberikan
prediksi kematian pada 33% sedangkan skor di atas 11 bisa mendekati atau dapat diatas
95%.
(21)

Variabel 0 1 2 3

4
Respirasi :
PaO
2
/FiO
2
(mmHg)
SaO
2
/FiO
2

>400

<400
221 301

<300
142 - 220

<200
67 141

<100
<67
Koagulasi :
Platelet 10
3
/mm
3

>150

<150

<100

<50

<20
Hepar :
Bilirubin (mg/dL)

<1,2

1,2 1,9

2,0 5,9

6,0 11,9

>12,0
Kardiovaskular :
Hipotensi

Normal

MAP <70

Dopamin atau
dobutamin 5

Dopamin >5
atau
norepinefrin
0,1

Dopamin >15
atau
norepinefrin
> 0,1
SSP :
Glasgow Coma Scale


15

13 14

10 12

6 9

< 6
Ginjal :
Kreatinin (mg/dL)
atau urine output
(mL/d)

<1,2

1,2 1,9

2,0 3,4

3,5 4,9 atau
<500

>5,0 atau <
200
Tabel 11, SOFA Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 21)
D. Multiple Organ Dysfunction Score (MODS)
MODS dikembangkan pada tahun 1995 sebagai alat penilaian fisiologis untuk
menggambarkan disfungsi organ pada hasil keluaran di ICU. MODS menggunakan
metode pendekatan formal. MODS menggunakan variabel fisiologis dan bukan
menggunakan variabel terapeutik. Para pengembang MODS ingin meminimalkan bias
yang dihasilkan dari pendekatan terapi yang berbeda pada setiap pasien.
22

Prosedur penilaian:
1. Penilaian dimulai pada pagi hari jam 08.00
2. Konsentrasi kreatinin serum di ukur tanpa melakukan proses dialysis
3. Rasio PO
2
/ FIO
2
(PO
2
dalam mmHg dan FIO
2
dalam %) dihitung atau diukur tanpa
penggunaan ventilator mekanik dan tanpa menggunakan positive end expiratory
pressure.
23

Sistem Organ 0 1 2 3 4 Nilai normal
Hematologis :
Trombosit
(10
3
/mm
3
)

>120

81 - 120

51 80

21 50

20

>120
Hepar :
Bilirubin serum
(mol/L)

20

21 60

61 120

121- 240

>240

20
Ginjal :
Kreatinin serum
(mol/L)

100

101 - 200

201 - 350

351 - 500

>500

100
Kardiovaskular :
PAR

10

10,1 15

15,1 - 20

21 30

>30

10
Glasgow Coma
Scale (GCS)

15

13 14

10 12

7 9

6

15
Respirasi :
PO
2
/FiO
2

>300

226 - 300

151 - 225

76 - 150

75

>300
Tabel 12, Multiple Organ Dysfunction Score (dikutip dari daftar pustaka nomor 23)
Keterangan : PAR (Pressure Adjusted heart Rate). PAR = HR x CVP/MAP. Jika CVP tidak
dapat dinilai maka terdapat nilai konstanta CVP yaitu 8.

BERBAGAI MACAM SKOR DALAM MANAJEMEN NYERI

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1. Bader AM, Fischer SP, Sweitzer B. Preoperative Evaluation. In : Millers Anesthesia. 8
th

ed. Editor: Miller RD. USA. Churchill Livingstone; 2009 : 1002.
2. Arifin J, Harahap MS, Sasongko H. Persiapan Preanestesi. In : Anestesiologi. Editors:
Jatmiko HD, Soenarjo. Semarang. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro; 2010 : 85 100.
3. Chowles CE. Anesthetic Management : Airway Management. In : Morgan & Mikhails.
13
th
ed. Editors: Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. New York. The McGraw-Hill
Companies; 2013 : 313.
4. Spence. Surgical Preoperative Assessment. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014.
Available on http://www.studydroid.com/index.php?page=viewPack&packId=197787.
5. Samson GL, Young JR. Difficult Tracheal Intubation : a Retrospective Study. London:
AAGBI Anaesth; 2007; 42: 487 490.
6. Goldman L, Caldera DL, Nussbaum SR et al. Multifacorial Index of Cardiac Risk in
Noncardiac Surgical Procedures. England: N. Engl. J. Med; 1977; 297: 845 50.
7. Lee TH, Mangione CM, Marcantonio ER et al. Deriavation of Prospective Validation of a
Simple Index for Prediction of Cardiac Risk of Major Noncardiac Surgery. USA:
Circulation; 1999; 100: 1043 1049.
8. Beckman JA, Brown KA, Fleisher LA et al. ACC/AHA 2007 Guidelines on Perioperative
Cardiovascular Evaluation and Care for Noncardiac Surgery: Executive Summary : A
Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on
Practice Guidelines. USA: J. Am. Col. Cardiol; 2008; 52: 794 7.
9. Anonymus. What is the Ramsay Sedation Scale?. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014.
Available on http://www.wisegeek.com/what-is-the-ramsay-sedation-scale.htm.
10. Ramsay MA, Savege TM, Simpson BR, Goodwin R. Controlled sedation with
alphaxalone-alphadolone. Br. Med. J; 1974; 2:656 9.
11. Sessler CN, Gosnell M, Grap MJ, Brophy GT et al. The Richmond Agitation Sedation
Scale: Validity and Reliability in Adult Intensive Care Patients. Am. J. Respir. Crit. Care.
Med; 2002; 166: 1338 44.
12. Ely EW, Truman B, Shintani A et al. Monitoring Sedation Status Over Time in ICU
Patients: The Reliability and Validity of The Richmond Agitation Sedation Scale (RAAS).
JAMA; 2003; 289: 2983 91.
13. Barone CP, Barone GW, Pablo CS. Postanesthetic Care in The Critical Care Unit. Crit.
Care. Nurse; 2004; 24: 38-45.
14. Bromage PR. Bromage Score. Philadelphia. WB Saunders; 1978: 144.
15. The Royal Childrens Hospital Melbourne. Anaesthesia & Pain Management: Assessment
of Motor Block. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014. Available on
http://www.rch.org.au/anaes/pain_management/Assessment_of_motor_block/.
16. Noviarni M. Kriteria Pulih Sadar Anesthesi Sebelum Pasien Pindah dari Ruangan
Pemulihan ke Ruangan. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014. Available on
http://www.scribd.com/doc/89388503/Kriteria-Pulih-Sadar-Dari-Anesthesi-Sebelum-
Pasien.
17. Teasdale G, Jennett B. Assessment of coma and impaired consciousness. Lancet; 1974: 81
4.
18. CDC. Mass Casualties: Glasgow Coma Scale. 2003. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014.
Available on http://www.bt.cdc.gov/masscasualties/pdf/glasgow-coma-scale.pdf.
19. Draper EA, Knaus WA, Wagner DP, Zimmerman JE. APACHE II: A Severity of Disease
Classification System. Crit. Care. Med; 1985; 13 (10): 818- 29.
20. Respiratory Critical Care and Sleep Medicine. The Sequential Organ Failure Assessment
(SOFA) Score. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014. Available on
http://respicriticalcareandsleep.blogspot.com/2009/11/sequential-organ-failure-
assessment.html.
21. Moreno R, Takala J, Vincent JL et al. The SOFA (Sepsis - Related Organ Failure
Assessment) Score to Describe Organ Dysfunction / Failure on Behalf of The Working
Group on Sepsis-Related Problems of the European Society of Intensive Care Medicine.
Intensive. Care. Med; 1996; 22(7) : 707-10.
22. Hekmat K. Cardiac Intensive Care: The Multiple Organ Dysfunction Score. Diunduh pada
tanggal 14 Maret 2014. Available on http://www.cardiac-icu.org/MODS.html.
23. Bernard GR, Christou NV, Cook DJ, Marshall JC, Sibbald WJ, Sprung CL. Multiple
Organ Dysfunction Score: A Reliable Descriptor of A Complex Clinical Outcome. Crit.
Care. Med; 1995 ;23(10): 1638-52.
24.

Anda mungkin juga menyukai