Anda di halaman 1dari 183

1

2

TERPELESET MENULIS
MENCARI EKSISTENSI DIRI


Prakata : Surochiem As, S.Sos, SH, M.Si.
(Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM )



Pengantar :
Teguh Hidayatul Rachmad, S.I.Kom., M.Si., M.A
Alumni Prodi komunikasi UTM
Penerima Program Beasiswa Unggulan Pascasarjana Dikti
tahun 2011




Afiyah., Ainul Hurriyah., Anharudin Hafidz., Dedy Onto Laksono.,
Eka., M. Firmansyah R., Kamalia Mazita D.R., Muhammad Faisal
Amir., Marina Tika Raya Oktavia Sibuea., Maya Adinar., Nurul.,
Okky Perdana Putra., A. Azis Wijaya Putra., Quryatul., Rahelmi
Zulkarnain Akbar., Rendi Limantara., Rio Kurniawan., Riska Putri
Trisna., Moch. Rizky Dharmawan., Silmia Nurilhutami.,
3

Sanksi Pelanggaran
Undang undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat
(2) dipidana penjara masing masing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau
denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara
paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak
Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1), dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling
banyak Rp. 50.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
TERPELESET MENULIS
MENCARI EKSISTENSI DIRI
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Trunojoyo Madura

Prakata : Surochiem As, S.Sos, SH, M.Si.
(Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM )

Pengantar :
Teguh Hidayatul Rachmad, S.I.Kom., M.Si., M.A
Alumni Prodi komunikasi UTM
Penerima Program Beasiswa Unggulan Pascasarjana Dikti tahun 2011

Hak cipta dilindungi undang undang
Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dalam
bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Trunojoyo Madura
4

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................... 4
Prakata Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM .............................................. 6
Pengantar ......................................................................................... 15
Sajadah Hitam, Tempat Inspirasi Menulis ........................................ 21
Artikel Populerku .............................................................................. 32
Cerita Akhir Sekolah ......................................................................... 40
Aku Terjerat Dunia Menulis .............................................................. 51
Tulisan Pertamaku ............................................................................ 59
Apa Itu Menulis ? .............................................................................. 68
My Diary ........................................................................................... 74
Membuka Jendela Dunia .................................................................. 84
Diary Versus Artikel .......................................................................... 93
Pena Terasing ................................................................................. 100
Menulis Adalah Hidupku ................................................................ 107
Kontribusi Cendekiawan Muda ...................................................... 114
Arti Penting Tulisan ........................................................................ 120
Fenomena Plagiasi Bagi Sebuah Karya Tulisan ............................... 128
Kiai, Santri dan Dunia Politik .......................................................... 139
Ketika Menulis Menjadi Sebuah Tuntutan ..................................... 144
Rekam Jejak Pengalamanku di Dalam Karya .................................. 149
Artikelku, Kepribadianku ................................................................ 159
5

Curahan Hati ................................................................................... 165
Kisahku Dan Kitty ............................................................................ 169
Menulis dengan Tidur ..................................................................... 177


6

Prakata Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM

Saatnya Berkarya, Eksis Melalui Buku
Sejak saya dipaksa dan kemudian menerima untuk
menjalankan amanah sebagai Kaprodi Ilmu Komunikasi
(Oktober, 2013), ada beberapa hal yang terus mengelayut
dalam benak saya. Mau dimulai dari mana membangun ikom-
UTM? Seberapa serius masalah yang harus dihadapi Prodi
Ikom? Modal apa yang sudah dimiliki? Masih adakah semangat
dan keyakinan menjadi lebih baik itu? . Deretan pertanyaan
itu tentu saja awalnya menjadi beban secara pribadi. Saya
masih ingat bahwa medan tugas awal ini -- seloroh Pak Muhtar
W Oetomo adalah baju kekecilan, tetapi saya anggap adalah
medan pengabdian yang lumayan -- menantang dan menjadi
pertaruhan bagi reputasi saya, sebagaimana harapan awal
rekan-rekan dosen ikom pada saat memberi mandat itu.
Waktu sungguh terbatas dan tugas harus segera
dikerjakan. Langkah awal saya adalah mengidentifikasi
beragam masalah dan bisa menemukan road-map atas masalah
yang dihadapi ikom-UTM. Deteksi masalah itu saya lakukan
7

melalui grup facebook warta prodi komunikasi dan hasilnya
sungguh diluar dugaan ikomers (begitu kami menyebut
warga ikom utm) berani untuk menyuarakan isi hatinya yang
lama terpendam. Mereka berani sharing berbagai persoalan
mulai dari pelayanan akademik, kuliah, administrasi, fasilitas,
hingga urusan akreditasi prodi. Intinya, tumplek blek masalah di
ikom, yang mereka sendiri tidak tahu mengapa demikian dan
harus seperti apa dipecahkan. Alumni juga tidak ketinggalan,
mereka penuh harap agar akreditasi ikom bisa berubah menjadi
lebih baik agar bisa memudahkan mereka meraih karier dan
profesi lebih baik. Saya masih ingat betul pada saat Bu Netty
menujukkan surat isi hati dari salah satu alumni yang terpaksa
gagal mendaftar lowongan di kementrian Jakarta gara-gara
status akreditasi, Kaprodi pertama ini sempat menitikkan air
mata dan berujar Ayo pak, kasihan mereka, mari kita
perjuangkan harapan mereka, akreditasi ini harus
diprioritaskan.

Sungguh, tidak sekadar masalah yang disuarakan
melalui grup media social ikom, tetapi juga prestasi, semangat,
8

dan banyak harapan. Ya, harapan menjadi lebih baik. Tidak
sedikit diantara ikomers yang dengan spontan memberi
komentar mengenai apa yang bisa mereka bantu. Saya masih
bisa menangkap bahwa ikomers tidak rela prodi ini menjadi
biasa-biasa saja. Mereka butuh perubahan dan juga
kebanggaan. Mereka bahkan rela untuk berpartisipasi
menjadikan prodi ini menjadi tidak biasa dan menjadi hebat.
Tentu saja, menjawab semua persoalan itu tidak bisa
dijawab dengan cara instant dan harus cermat agar tidak
kehabisan energi ditengah jalan, saya percaya sebagian itu.
Namun, saya juga berkeyakinan bahwa perlu percepatan untuk
menunjukkan bukti agar kepercayaan itu kembali pulih. Saya
berkeyakinan diatas semua masalah yang terekam melalui
jaring aspirasi itu persoalan status akreditasi dan meyakinkan
kembali ikomers bahwa kita bisa lebih baik adalah prioritas.
Jadi, garapan pertama adalah bagaimana mengubah
mindset ikomers menjadi tidak biasa dan tidak biasa biasa saja.
Dengan menjadi tidak biasa maka ikomers akan bisa unjuk
karya dan berkompetisi di level yang lebih tinggi. Dalam
konteks ini, harus ada terobosan kegiatan dan program out of
9

the box. Perlu diperbanyak cara membangkitkan kreativitas dan
inovasi ikomers. Ya terobosan baru menciptakan iklim
kompetisi internal alamiah dengan menghadirkan komunitas
berorientasi karya dan prestasi yang tidak biasa saatnya
mendorong kreativitas dan inovasi ikomers unjuk karya dan
prestasi.
Selanjutnya tinggal menentukan aksi tindak lanjut.
Masalah sudah dideteksi, skala prioritas sudah dikantongi
sekarang tinggal pilihan aksi mau langsung gas pol atau
perseneleng normal normal saja. Orang lain boleh saja mencibir
dan memberi tanggapan atas pilihan nekat kami. Namun, kami
telah berketetapan hati, kerja keras ini butuh percepatan. Ya,
pilihan itu adalah yang tidak bisa, segera setel gas polllll agar
ikom segera berubah Ikom Bisa . Ikom Eksis
Dalam rangka menggelorakan semangat untuk
menumbuhkan harapan dan keyakinan itu branding ikom
diluncurkan. Salam ikom Cie cie digemakan dan tradisikan
dalam berbagai forum Kreatif inovatif eksis . Menjadi nilai
utama yang harus ada dibenak para ikomers sebagai bentuk
transformasi visi misi ikom. Bendera restorasi ikom telah mulai
10

dikibarkan, selanjutnya adalah memberi akses, fasilitasi, dan
membangkitkan partisipasi ikomers. Saya tiada henti berdiskusi
dengan rekan rekan mahasiswa himakom untuk terus
menumbuhkan harapan dan keyakinan bahwa ikom bisa hebat
ikomers harus berubah perubahan itu harus dilakukan
tidak langsung oleh banyak orang, tetapi oleh kelompok kecil
yang tiada henti berkeyakinan maju meraih secercah cerah.
Saya mempercayai betul bahwa diantara sedikit orang yang
tulus dan penuh keyakinan akan membawa perubahan bagi
banyak orang jika sudah nampak hasilnya. Ikomers harus
menjadi pelopor dan menjadi bagian dari yang masih sedikit itu
dan berubah mindset menjadi tangguh, tidak mudah
menyerah, tidak gampang menuntut, tidak pasrah, dan itu
modal yang kemudian membangkitkan semangat CIE CIE
(creative, innovative, exist).
Mahasiswa harus memulai berbuat sesuatu untuk
kepentingan strategis itu Pilihan membuat karya buku bagi
saya adalah hadiah terindah menandai era kebangkitan ikom.
Awalnya saya juga harap harap cemas. Apa yang bisa mereka
hadirkan, mau menulis apa, bahkan diantara mereka juga terus
11

mencoba mendapatkan penguatan apa bisa ya, apa bisa ya
begitu mereka terus bertanya pada awalnya. Tidak kehabisan
akal, sudahlah Saya tantang mereka untuk menulis apa saja
asal bisa menumbuhkan kepercayaan diri ikomers .
Alhamdulillah kendati agak molor waktunya, tetapi akhirnya
karya itu hadir juga
Saya tidak terlampau berekspektasi bahwa karya
mahasiswa ini akan menjadi rujukan. Bagi saya yang berpenting
meraka telah berproses, urusan hasil akhir toh nanti dengan
sendirinya akan mengiringi dan tiba masanya. Ya dari segi isi
mungkin masih jauh dari layak, tetapi bukan itu semata yang
saya nilai. Bagi saya, semangat dan keyakinan untuk eksis
dengan karya buku itu yang mahal. Ikomers-Mahasiswa ikom
lho bisa berkarya, ini buktinya mereka tidak omong doang.
Mereka bisa menunjukkan jati dirinya. Mereka kini mulai bisa
eksis dan percaya diri dan itu semua adalah modal yang
pernah hilang dari mahasiswa ikom.
Saya juga memiliki keyakinan bahwa keterbatasan yang
ada bukanlah alasan untuk tidak berkarya. Justru ditengah
keterbatasan itu saya melihat lahirnya ikomers yang bermental
12

pejuang. Ikomers yang memiliki karakter kuat dan tangguh yang
menjadi pembeda dengan yang lain. Bukankah banyak ahli juga
telah menulis bahwa lahirnya kreativitas dan inovasi tidak
ditentukan semata oleh kelengkapan fasilitas, tetapi lebih
banyak didorong oleh kebutuhan untuk berprestasi.
Pengalaman mahasiswa juga membuktikan bahwa kreasi itu
sering muncul pada saat deadline dan karena kepepet. Nah,
kreativitas dan inovasi sungguh lagi-lagi bukan karena
sempurna dan lengkapnya fasilitas, tetapi lebih banyak
berkaitan dengan mindset, daya dorong untuk survive dan
eksis. Kreativitas dan inovasi, mengutip Hernowo (2004) adalah
wujud kuasa illahi yang akan campur tangan kepada mahluqnya
yang mau berusaha dan berikhtiar termasuk melebihi kapasitas
apa yang dipunyai. Kreativitas adalah adalah anugerah Allah
yang tidak boleh disia-siakan dan harus dieksplorasi apapun
kondisinya untuk melahirkan karya.
Atas alasan itu saya menyambut baik usaha mahasiswa
Ikom untuk berani berekpresi, berani berproses melalui karya
pertama ini. Sungguh saya menghargai dan merasa bangga. Ini
baru karya awal semoga bisa menjadi pematik bagi lahirnya
13

karya karya baru ikom selanjutnya. Saya percaya jika ikomers
mulai menggunakan persneleng dan gas poll maka setelah ini
akan muncul buku buku lain karya mahasiswa ikom yang hebat
dan penuh inspirasi
Kini karya pertama itu sudah hadir dihadapan pembaca,
silahkan diberikan tanggapan dan jika anda masih belum puas,
jawablah dengan karya susulan. Mari kita gelorkan terus slogan
ini karyaku mana karyamu agar iklim kompetisi di ikom dapat
tercipta dan perubahan itu segera bisa menjadi kenyataan
..amin. Semoga buku ini bisa menjadi tanda awal bahwa
mahasiswa ikom UTM ada (eksis) mahasiswa ikom masih
memiliki harapan dan keyakinan . Ikom UTM bisa lebih baik .
Sekali lagi saya menyampaikan terima kasih atas usaha awal
ini, lanjutkan dan teruslah berkarya dan jangan berhenti Cie Cie


Salam Cie Cie
Selalu ada Secercah Harapan dan Keyakinan untuk Menjadi
lebih baik

14

Kampus Telang Pertengahan Februari
Sore Hari Pasca Letusan Kelud

Kaprodi Ilmu Komunikasi-UTM
Surochiem As, S.Sos, SH, M.Si.



15

Pengantar

POINT OF VIEW FOR UNDER PRESSURE

Melihat dan membaca judul buku ini membuat teringat
akan filsuf terkenal asal Perancis Rene Descartes yang terkenal
dengan kata-katanya cogito ergo sum (aku berfikir maka aku
ada). Manusia dikatakan bermakna dan berguna di sekitar
masyarakat bila dia dapat berfikir. Itulah makna dibalik kata-
kata Descartes. Buku ini pun dibuat pertama kali dengan tujuan
bahwa mahasiswa dapat exist bagi masyarakat. Perwujudan
exist yang creative dan inovative salah satunya adalah
membuat hasil karya yang terpublikasikan di media, yaitu karya
tulis ataupun artikel pribadi. Semangat untuk creative,
innovative dan exist bagi mahasiswa sesuai dengan visi dari
Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura yang
baisa dikenal dengan CIE (Creative, Inovative, and Exist).
membuat hasil karya tulis dengan membiasakan diri kita untuk
menulis apa pun merupakan bentuk nyata dari eksistensi
mahasiswa di dunia pendidikan.
16

Menulis adalah aktivitas memindahkan pengalaman
kedalam simbol-simbol verbal. Pengalaman apa pun juga,
pengalaman empirik, pengalaman membaca, pengalaman
imajinatif, maupun pengalaman orang lain (Redi Panju, 2008:
09). Buku ini pun menceritakan berbagai pengalaman
mahasiswa ilmu komunikasi UTM, seperti; pengalaman
pertama kali menulis, kiat-kiat menulis dan pegalaman pribadi
tentang cinta, persahabatan dan cita-cita.
Banyak mahasiswa untuk memulai menulis berawal dari
under pressure. Faktor under pressure yang dimiliki oleh para
penulis dalam buku ini bermacam-macam, mulai dari tugas
sekolah, bentuk emosi, dan psikologi komunikasi. Sebagian
besar masyarakat tidak menyukai cara kerja under pressure
dikarenakan tidak memanusiakan manusia atau melanggar
human right. Pola kerja under pressure adalah membatasi
manusia untuk tidak bebas dalam melakukan aktivitas yang
diinginkannya, karena harus fokus untuk mengerjakan tugas
ataupun kerjaan yang harus diselesaikan tepat waktu.
Beberapa kritikan pola kerja under pressure yang ada di
atas telah membuat beberapa orang menjauh bahkan tidak
17

mau dengan sistem kerja yang seperti itu, namun berbeda
dengan mahasiswa ilmu komunikasi UTM. Mereka
mengerjakan artikel pribadinya sebagai bentuk perwujudan
tugas kuliah dengan sistem under pressure yang harus
dikumpulkan tepat waktu. Seorang psikolog terkenal bernama
Sheldon Kopp dalam buku Failing Forward yang ditulis oleh
John C Maxwell mengatakan,semua pertempuran yang
penting terjadinya di dalam diri sendiri. Orang mengadakan
pertempuran paling berat melawan kelemahan serta
kegagalannya sendiri. Mahasiswa ilmu komunikasi UTM
pertama kali mengalami pertempuran dengan dirinya sendiri
untuk memulai proses menulis artikel pribadinya. Setiap
mahasiswa berusaha untuk melawan rasa malas dan ketidak-
mampuannya dalam menulis agar dapat berkarya dalam ranah
intelektual.
Hasil akhir yang sangat signifikan adalah mahasiswa
dapat menumbuhkan bakat, minat dan keinginan menulis yang
sudah lama ditinggalkan. Dampak yang sangat mencolok dari
penentangan sistem under pressure adalah potensi-potensi
yang ada di dalam mahasiswa tidak ter-expose keluar, sehingga
18

bakat yang terpendam hanya berada di dalam diri mahasiswa
tanpa bisa diwujudkan dalam sebuah karya tulis yang
terdokumentasikan. Dibalik pola kerja under pressure yang
tidak disukai oleh masyarakat, ternyata menyimpan kelebihan
yang cukup significant untuk menumbuhkan potensi yang
terpendam di dalam diri seseorang. Judul buku terpeleset
menulis, mencari eksistensi diri yang berkorelasi dengan
faktor under pressure dengan disimbolisasikan oleh teks
terpeleset yang kemudian menghasilkan eksistensi diri
sebagai perwujudan mahasiswa ada di tengah-tengah
masyarakat.
Keanekaragaman pengalaman dan budaya mahasiswa
ilmu komunikasi UTM tentang konsep menulis dituangkan
dalam buku ini. Pemilihan bahasa yang ringan dan mudah
dimengerti seperti catatan harian membuat semua lapisan
masyarakat yang membacanya dapat menikmati buku ini,
sehingga menimbulkan motivasi untuk membuat karya-karya
tulis lainnya. Seperti salah satu artikel di dalam buku ini yang
dibuat oleh Anharudin Hafidz dengan judul Cerita Akhir Sekolah
(Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita) yang menceritakan bagaimana
19

kisah seorang sahabat mulai dari tingkat sekolah sampai ke perguruan
tinggi yang saling berjuang untuk menantang dunia hingga ke negeri
orang. diantara perjalanan menantang dunia, para sahabat itu
mengalami berbagai pengalaman cinta dan permasalahan hidup di
dalamnya. Pemaknaan atas tulisan Anharudin Hafidz adalah cita-cita,
keinginan dan cinta tidak hanya bisa dicapai oleh seseorang hanya
dengan bermalas-malasan saja. Namun, harus disertai dengan usaha
yang maksimal tanpa mengenal lelah agar dapat tercapai cita-cita dan
keinginannya. Cinta dari persahabatan menambah kekuatan dari
semangat yang mulai menurun. Karya tulis yang mempunyai emosional
untuk selalu menumbuhkan semangat agar terus menggapai cita-cita,
berawal dari under pressure karena tugas kuliah yang diberikan
oleh dosen. Hasil yang didapat dari sistem under pressure yang
diberikan oleh dosen adalah eksistensi buku Terpeleset
Menulis, Mencari Eksistensi Diri yang pertama kali di ranah
akademisi Ilmu Komunikasi UTM.
Hasil karya tulis mahasiswa lainnya yang merupakan
bagian dari isi buku ini sangat layak di apresiasi, karena mereka
telah mampu memulai menulis dan menceritakan kembali
pengalaman-pengalaman saat di rumah, sekolah maupun di
20

lingkungan masyarakat mengenai arti hidup. Beberapa kisah
mahasiswa juga ada yang bersifat secret, namun merelakannya
untuk tetap dipublikasikan agar para pembaca dapat
mengambil inti sari yang ada di dalam tulisan tersebut yang
kemudian dirubah menjadi saran untuk menjalani hidup
dengan berkarya dan terus berkarya.
Buku ini juga merupakan kritik atas ketidak berdayaan
kaum akademisi untuk melawan rasa malas dalam menulis dan
berkarya. Berkarya dalam tulisan mempunyai beberapa tujuan,
yaitu: menginformasikan, membujuk, mendidik, dan
menghibur (Elina, Zulkarnaini, dan Sumarno, 2009: 6). Semua
tujuan menulis sudah ada di dalam buku ini. Mahasiswa Ilmu
Komunikasi Universitas Trunojo Madura melalu artikel
populernya mencoba untuk menginformasikan pengalaman-
pengalamannya, membujuk pembaca buku ini agar dapat
menentukan sikap, mendidik para pembaca dengan membuka
wawasan dan pengetahuan setelah membaca buku ini, dan
mempunyai tujuan untuk menghibur para pembaca yang
sedang tidak bersemangat untuk menulis ataupun beraktivitas.


21

Sajadah Hitam, Tempat Inspirasi Menulis
Oleh : Afiyah

Aku menundukkan kepalaku di atas sajadah hitam yang
selalu menemaniku saat berkomunikasi dengan Allah SWT, dzat
maha sempurna dan pencipta . Sewaktu aku memohon kepada-
Nya, sempat teringat dalam memori ingatanku akan peristiwa
pedih yang telah menimpaku. Tanpa disengaja aku mulai
menangis dan mengadu pada-Nya. Aku menangis pada Allah
SWT, kuluapkan segalanya di hadapan ilahi Rabbi. Tidak lama
aku bangkit dari tempat shalatku, kemudian dengan penuh
semangat aku mengambil sebuah buku kosong dan segera aku
wujudkan inspirasi tangisanku melalui artikel. Semuanya akan
aku tulis pada buku yang berisi lembaran-lembaran putih ini.
Sembari kumenangis, aku mulai menulis dengan tangan
bergemetaran. Tak tahu kata pertama apa yang ingin kutulis.
Sajadah hitam yang selalu menemaniku saat berdoa
kepada Allah SWT, menjadi inspirasi aku menemukan kata yang
mengwali artikel pertamaku. Bismillahirrahmanirrahim,
22

Akhirnya kata itulah yang mengawali artikelku. Sebelumnya aku
tak pernah menulis dengan kata yang sungguh luar biasa
maknanya ini. Sedikit aku ulas makna bismillahirrahmanirrahim
atau biasa diucapkan basmalah ini. Maknanya adalah dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Arti dari kata ini bukan hanya sekedar menyebut
nama Allah SWT tapi kita langsung bernaung dan memohon
bantuan pada-Nya. Sungguh, Maha Besar Allah SWT. dengan
segala Maha Sempurnanya.
Tidak berapa lama, aku langsung menulis tentang
kepedihan yang kualami hari ini. Musuh dalam selimut.
Kalimat inilah yang membuatku menangis dihadapan Allah
SWT. aku mulai menulis dengan sambil menangis. Aku tak
pernah menyangka, teman sekaligus sudah kuanggap seperti
adikku sendiri, begitu tega menusukku dari belakang. Aku
dibuatnya menangis, menangis dan terus menangis di atas
buku ini. Aku mempunyai kekasih yang sangat aku sayangi,
begitu juga dengan kekasihku. Aku juga punya teman yang
sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Aku dengan temanku
selalu berdua kemanapun kami pergi.
23

Kekasihku memutuskan hubungan cintanya denganku karena
dia tidak mau keluargaku hancur dan citra dirinya jelek karena
berhubungan denganku, karena salah satu anggota keluargaku
pernah berkelahi atau Carok dengan orang lain. Anggota
keluargaku akhirnya mendekam di penjara. Karena itu, dia
memilih PHK (Putus Hubungan Kekasih) denganku. Kejadian ini
sebenarnya tidak bisa aku abaikan begitu saja. Karena sudah
jelas, aku begitu sangat mencintai kekasihku. Aku begitu tulus
menyayangi dia, walaupun bisa dikatakan dia hanya lulusan
Sekolah Dasar. Tapi itu tidak membuatku malu atau gengsi
tentang perasaanku ke dia.
Putus! Aku terima bila memang alasannya cukup
rasional dan masuk akal. Namun, ternyata, yang kudapatkan
bukan hanya itu. Ternyata dia diam-diam berhubungan dengan
sahabat, sekaligus sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku
membaca sebuah pesan singkat di Handphone temanku yang
banyak sekali berisi kata-kata sayang dari pacarku. Seketika itu
juga hatiku hancur, sakit bercampur benci kepada keduanya.
Mungkin itu alasan yang ke dua dan terkuat mengapa kekasihku
memilih putus denganku.
24

Seketika itu juga aku bergegas ke kamar mandi,
mengambil wudlu, sambil menangis di dalam kamar mandi. Aku
menangis dan menangis. Hatiku begitu sakit saat membaca
pesan singkat tadi di handphone temanku. Dalam hati aku
mengatakan bahwa dia adalah musuh dalam selimut. Pantas
saja kekasihku tak pernah membalas pesan singkat dariku.
Setelah dari kamar mandi, aku bergegas mengambil mukenah
dan sajadah hitam ku kemudian shalat. Dalam shalat aku
menangis dan mengadu pada Allah SWT dan bertanya pada-
Nya, apa sebenarnya salahku?. Tapi aku mencoba untuk tegar
kembali.
Aku menuliskan betapa temanku telah menjadi musuh
dalam selimut. begitu juga dengan kekasihku, kekasih yang
menjadi dambaan hatiku dan kuingin kelak dia menjadi
suamiku, ternyata dia membuatku begini. Menusukku dari
belakang. Membuat hatiku rasanya hancur berkeping-keping,
kalau memang dia adalah jodohku, aku yakin nanti dia akan
bersatu lagi. Dalam doaku, aku ingin dialah kelak yang menjadi
pendamping hidupku. Aku ingin di dalam buku yang kutuliskan
namaku dan namanya tidak hilang dan tidak rapuh dimakan
25

zaman. Aku ingin jika nanti dia tahu melalui artikel ini, dia sadar
kalau aku begitu menyanyanginya.
Lembaran demi lembaran aku tuliskan tentang
kepedihaku pada dia. Dia yang telah menjadi musuh dalam
selimut. Sungguh aku tak dapat berkata apa-apa padanya. Aku
hanya bisa diam dan menuliskan perbuatan yang kurang baik di
dalam buku tulis. Air mataku yang tadinya mengalir dengan
deras dan rasanya tak ingin berhenti, sekarang begitu terasa
lega karena aku dapat meluapkan segala kesedihan hati di atas
buku ini. Aku sedikit tidak terbebani karena sudah kuungkapkan
semuanya. Aku berterima kasih kepada buku ini, karena dengan
aku menulis dapat membuat kesedihanku sedikit berkurang.
Menulis memang bukan kegemaran pribadiku. Sejak
kecil aku tidak pernah menuliskan apapun itu. Jangankan
menulis hal yang berat, hal yang kecil seperti catatan harian/
diary saja aku tidak pernah menulis. Aku lebih suka
menghitung, jalan-jalan, dan membaca saja. Tetapi karena
masalah yang kualami begitu kuat dan mendalam serta
26

menyakitkan, akhirnya aku tuangkan dalam bentuk artikel. Aku
ingin menuangkan peristiwa sakit ini melalui buku ini.
Menulis catatan harian untuk pertama kalinya bisa
dikatakan sangat susah karena aku tidak tahu kata apa yang
harus aku tuliskan untuk pertama kalinya. Sungguh heran,
walaupun artikel yang aku tuangkan nanti merupakan peristiwa
pedih yang kualami sendiri tapi ternyata tidak semudah yang
aku bayangkan. Menulis, sangat sulit bagiku untuk
mengawalinya. Namun, tidak apa akan terus aku coba dan
lakukan. Kalau berbicara tentang ini, teringat dalam benakku
tentang inspirasi yang disampaikan oleh motivator perempuan
nomor satu se-asia yang juga pengusaha jasa keuangan dengan
penghasilan 1 juta dollar pertamanya di usia 26 tahun, Merry
Riana. Dia mengatakan,lakukanlah yang kamu cintai dan
cintailah yang kamu lakukan. Sungguh sangat menginspirasi
aku untuk artikel pertama.
Aku ingin menuliskan dan mengenangkan kisah
asmaraku yang begitu menyakitkan di atas buku ini. Aku ingin
menumpahkan setiap kesedihan, kepedihan, kesakitan, dan
27

kemuakanku di atas artikel ini, hingga nantinya aku merasa lega
dan terasa ringan beban hidup yang kualami. Aku juga ingin
menulis agar otakku tidak tumpul, agar aku dapat menuliskan
peristiwa-peristiwa lain yang mungkin lebih dahsyat dari ini.
semoga sewaktu artikelku mulai lancar nanti, aku dapat
membuat cerpen bahkan dapat membuat novel yang nantinya
bisa dipublikasikan di media.
Jika aku memikirkan bagaimana awalnya aku menulis
dan memikirkan segala peraturan-peraturan dalam menulis
seperti kohesif dan koherensi, sedikit canggung dan merasa
tidak ttahu harus bagaimana. Tapi aku menulis yang pertama
ini untuk di konsumsi sendiri. Memang benar apa yang
dikatakan oleh guru dan dosenku, apabila kita mau menulis,
maka kita harus banyak-banyak membaca. Dari banyak
membaca, maka kita akan merasa nyaman dan lancar dalam
menulis.
Teringat juga dengan bacaan yang pernah aku temui,
Gus Luthfi. Seorang penulis dengan judul buku Langkah Demi
Langkah Meraih Sukses, yang mengatakan pada kita untuk
28

selalu membaca setiap hari minimal 15 menit, bacaan apa saja
wajib kita konsumsi disertai dengan artikel. Dengan menulis
otak kita akan bekerja. Penyesalanku adalah mengapa aku tak
menghiraukan nasihatnya. Mengapa aku hanya mengingatnya.
Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman untuk menulis
walau yang kutulis masih berupa catatan harian. Aku yakin
dengan terus menulis, aku bisa merasakan keindahan
mendalam dan manfaat besar dari kegiatan yang satu ini.
Dengan menulis, aku mulai merasakan keindahan dan
hikmah dibalik kepedihan yang aku alami. Dan dari artikel ini,
pikiranku mulai terbuka kalau aku tak boleh terus begini. Aku
tak boleh terus terkungkung dan merasakan sakit dan sakit
yang begitu mendalam karena asmara. Aku harus katakan pada
diriku sendiri kalau aku bisa jalani hidup sendiri walau tanpa
seorang kekasih di sampingku. Teringat juga dalam benakku,
kalau mati satu pasti akan tumbuh seribu. Maksudnya,
meskipun aku putus dengan dia, aku yakin masih ada insan-
insan lain yang mempunyai hati yang lebih tulus dan menerima
aku apa adanya serta tak ada musuh dalam selimut lagi.
29

Nikmat juga rasanya kalau aku terus menyelam dalam
artikel di atas kepedihan ini. Dan terbersit juga di benakku,
kalau kekasih sejati itu hanyalah Allah SWT. Dia tidak akan
pernah meninggalkanku selama aku mendekatkan diri pada-
Nya. Aku bersyukur juga dengan menulis, aku merasa lega dan
seperti tak ada beban pedih yang dialami. Aku bersyukur pada-
Nya yang telah menegarkan hatiku untuk menjalani hidup ini
bahkan memecahkannya lewat artikel, tanpa harus berteriak
melalui lisan kalau dia telah merebut kekasihku.
Dengan menulis yang aku awali dari asmara yang
kualami, aku yakin dapat terus menulis di diary-ku dan nantinya
dapat mengantarkanku untuk menjadi penulis terkenal. Amien.
Sempat juga terbayang dalam benakku tentang tokoh penulis
seperti Hernowo. Walau aku tidak kenal dengan beliau tapi aku
menyukainya. Menulis baginya seperti makan nasi.
Memang, aku tidak begitu tahu betul tentang karya-
karyanya tetapi namanya yang masih sangat asing di telingaku,
membuatku merasa kagum dengannya. Mungkin nanti, aku
dapat mengetahui artikel beliau, kemudian mengamati,
30

meniru, dan memodifikasi artikelnya dan nanti artikelku berada
di samping beliau. Sungguh, senang hatiku bila artikelku nanti
sejajar dengan artikelnya.
Aku dengan kesendirianku saat ini, hanya bisa berserah
diri pada Allah SWT dan tetap terus menyebut nama-Nya dalam
hatiku. Dialah kekasih sejatiku. Peristiwa pedih yang kualami ini
merupakan langkah awal bagiku untuk berpetualang di dunia
tulis-menulis walau saat ini masih berantakan dan hanya
didokumentasikan untuk diriku sendiri. Menulis itu bagiku
seperti menyelam di dunia tinta.
Membaca dapat memperkaya diri dengan kata-kata;
sementara itu, menulis dapat diibaratkan sebagai kegiatan
mengeluarkan diri dengan bantuan kata-kata. Jika kita ingin
menulis tetapi enggan membaca, kegiatan menulis yang kita
jalani akan menjadi kegiatan yang berat dan kadang-kadang
menyiksa, itulah kutipan dari artikel Hernowo Hasyim yang
begitu mengispirasi diriku untuk terus menulis. Aku ingin
menulis dalam keadaan apapun dan di manapun. Sebab, bila
aku tak menuliskannya baik dalam catatan harianku maupun di
31

media yang lain, maka sudah pasti aku akan kehilangan sejarah
hidupku.
Terbersit juga dalam benakku akan sebuah ucapan yang
disampaikan oleh Ali Bin Thalib, yakni Ikatlah ilmu dengan
menuliskannya. Ilmu di sini bagiku adalah sumber bacaan, bisa
dari buku, koran, majalah, atau bahkan pengalamanku sehari-
hari. Bila kita tidak menuliskan apa yang pernah kita baca, maka
hal itu akan menjadi hal yang mudah hilang. Membaca tanpa
menulis mungkin mudah dilakukan oleh setiap orang, tetapi
membaca kemudian menuliskannya yang sesuai dengan
Bahasa kita mungkin itu yang agak sulit dilakukan. Tetapi
selama kita mau terus belajar, maka membaca dan menulis
akan mudah kita lakukan. Aku percaya itu.



32

Artikel Populerku
Oleh :
AINUL HURRIYAH

Artikel bukan sesuatu hal yang baru dalam kehidupan
dan kegiatan sehari-hari saya dalam perkuliahan atau
kehidupan sehari-hari. Banyak tugas dari kampus yang
mengharuskan kita mencari sebuah artikel tentang mata kuliah
yang bersangkutan. Namun dalam hal membuat artikel sendiri,
merupakan sesuatu hal yang baru dan mungkin tidak pernah
saya duga dan bayangkan hingga sejauh ini. Terniat di benak
saya, apa yang akan saya tulis untuk membuat sebuah artikel.
Banyak referensi dan bantuan-bantuan untuk mempermudah
saya menulis sebuah artikel, baik referensi dari sebuah buku
atau dari internet. Itupun masih membuat saya kebingungan
hingga melamun sendiri, untuk menulis artikel. Bahkan
terkadang saya malas-malasan untuk menulis dan melanjutkan
33

tugas artikel tersebut, dikarenakan tidak ada ide yang dapat
saya tuangkan dalam artikel.
Artikel yang saya tulis, biasanya bersifat personal. Tidak
terfokus pada suatu bagian, baik pendidikan dan ilmu
pengetahuan. Dikarenakan kemampuan yang minim dalam hal
menulis artikel. Setiap menulis artikel, saya memiliki banyak
hambatan. Mulai dari malas, tidak berkonsentrasi, adanya
tugas-tugas yang harus lebih didahulukan. Artikel tersebut
sepertinya selesai dengan jangka waktu yang cukup lama,
karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung, yang
membuat artikel tersebut sulit untuk rampung dan dapat
dikumpulkan. Artikel yang dibuat pun tidak dapat dikatakan
layak atau bagus, tanpa adanya penilaian dari yang membaca.
Judul-judul yang biasa saya gunakan untuk artikel saya,
biasanya tentang bahasa sehari-hari kita sebagai anak muda,
salah satunya mengenai komunikasi jarak jauh, yang banyak
dilakukan oleh anak muda baru-baru ini. Kurangnya inspirasi
atau masukan untuk membuat artikel merupakan hambatan
tersendiri dalam penyelesaiannya. Baik hambatan seperti
kurang adanya semangat, bad mood, sampai tidak adanya
34

bahasan yang baik untuk dibentuk menjadi sebuah artikel. Suka
duka banyak saya alami dalam menulis sebuah artikel, suka
yang saya temui adalah dapat menghibur diri sendiri disaat
mengalami suatu masalah. Saya meluapkan segalanya, apa
yang ada di pikiran dan benak, saya tuangkan dalam artikel
tersebut, sehingga dengan menulis tersebut beban pikiran yang
ada, sedikit berkurang bahkan dapat menemukan solusi yang
bagus dalam masalah yang ada. Sedangkan dukanya adalah
benar-benar tidak bisa mengontrol emosi dan kemauan yang
ada, artikel yang sedang saya kerjakan terkadang dirobek atau
dicorat-coret, sehingga saya harus mengulanginya lagi.
Membuat yang sama persis bahkan kalau bisa lebih bagus dari
yang sudah saya hancurkan. Terkadang saya pun menyesali
tindakan yang sudah saya lakukan tersebut. Akibat adanya
masalah yang sangat besar, sehingga saya tidak bisa
mengontrol emosi, tindakan, hingga sikap saya sendiri dan
meluapkan segalanya kepada artikel yang sedang saya kerjakan
dan dalam proses finishing.
Dongkol, marah, emosi saya rasakan dan tuangkan
dalam artikel yang sedang saya tulis. Bahkan saat sedang
35

berselisih paham dengan pacar yang membuat semakin malas
atau bahkan tidak sedikitpun menyentuh laptop untuk
melanjutkan artikel yang sedang saya kerjakan tersebut.
Namun disaat lagi semangat untuk menulis artikel tersebut
hingga tidak sadar sudah larut malam, bahkan juga tidak sadar
belum makan dikarenakan asyiknya menyelesaikan artikel.
Keinginan menulis itu timbul sejak saya masih duduk di bangku
SMP. Semuanya mengalir sejak kurangnya atau bahkan tidak
adanya aktifitas yang saya lakukan, karena saat itu masih duduk
di bangku SMP tepatnya kelas 1. Disaat senggang saya mulai
menulis, menuangkan segala hal yang ada di otak dan pikiran.
Bila inspirasi atau ide itu tidak ada, saya keluar rumah
cari makan atau sekedar beli camilan untuk menemukan ide tau
gagasan untuk menyelesaikan artikel. Saya lebih senang dan
lebih nyaman menulis artikel di dalam kamar, dengan situasi
yang sepi dan tenang tanpa gangguan sedikitpun, karena bila
ada gangguan sedikit saja, konsentrasi akan terganggu dan
biasanya akan enggan melanjutkannya, bahkan cenderung
emosi dengan orang yang membuat gangguan itu. Tantangan
tersendiri dalam menulis artikel adalah bila tidak dapat
36

menyelesaikan artikel ini sesuai waktu yang telah saya
targetkan. Saya sendiri merasa telah gagal menulis, karena
seharusnya saya dapat bersikap profesional dalam artikel ini.
Bahkan faktor yang membuat artikel atau artikel saya tidak
dapat rampung sesuai jadwalnya, seperti kesibukan disaat
duduk di kelas 3 SMP dan tengah sibuk dengan persiapan ujian
akhir, maka artikel tersebut akan terbengkalai bahkan tidak
diperiksa sedikitpun. Terkadang saya rindu ingin menulis,
menuangkan segala ide-ide saya, namun situasi yang ada belum
memungkinkan, ada hal yang lebih penting untuk didahulukan
yaitu Ujian Akhir. Saya harus berkonsentrasi penuh terhadap
ujian yang akan saya hadapi.
Lulus SMP, saya melanjutkan pendidikan ke bangku
SMA, dan nasib artikel saya masih belum diketahui. Namun
semenjak masuk SMA, saya mulai melanjutkan lagi hobby saya
dalam menulis dan membaca. Saya mulai mencari referensi-
referensi yang lebih baru untuk menambah ide artikel.
Semenjak masuk SMA, saya memiliki semangat baru untuk
menulis kembali, meskipun saya sendiri kurang yakin dengan
artikel yang akan saya tulis kali ini, seperti nasib-nasib artikel
37

saya sebelumnya. Inspirasi-inspirasi dalam artikel, saya
dapatkan dari sahabat-sahabat, teman dekat serta keluarga
yang memberikan support. Dengan tujuan agar nantinya hobby
tersebut dapat berkembang dan bermanfaat untuk diri saya.
Namun kepercayaan diri tersebut masih sulit saya tumbuhkan
pada diri sendiri. Terkadang bila saya tidak menemukan ide
dalam artikel, saya mencoba mencari bantuan atau referensi
dari internet, yang digunakan hanya sebagai panduan sekilas.
Tidak hanya menulis artikel, saya juga terkadang menulis
cerpen yang saya tulis sendiri. Saya ambil dari kisah nyata
dalam kehidupan sehari-hari saya. Perjalanan hidup bahkan
asmara saya sendiri, saya tulis dalam cerpen tersebut.
Alhamdulillah hasil artikel saya yang kali ini berbentuk cerpen
terpilih dan dapat diterbitkan di Mading kelas, yang saya sendiri
kurang yakin akan hasil saya. Semenjak hari itu, kepercayaan
diri saya tumbuh. Setiap ada libur sekolah, saya mulai membuat
artikel yang lebih baru lagi dengan judul-judul yang lebih trend
di zamannya. Karena hanya saat liburan sekolah waktu yang
tepat untuk menulis dengan baik dan intensitas yang sering
karena tidak adanya gangguan seperti rutinitas sekolah, tugas,
38

dan bimbingan belajar. Terkadang saya memulai artikel saya
ditempat Hang-out dengan fasilitas Free Wi-fi dengan tujuan
dapat lebih mudah mengakses untuk menambah referensi
dalam artikel saya. Setelah dibaca-baca, saya terkadang merasa
artikel tersebut kurang terasa gregetannya, kurang menarik, itu
semua terjadi terkadang karena kekesalan saya terhadap
kekasih dan hal tersebut saya lampiaskan terhadap artikel saya,
sehingga artikel saya yang amburadul. Komunikasi jarak jauh
banyak terjadi kepada hubungan yang biasanya memiliki jarak
yang jauh (long distance relationship). Hal tersebut sangat sulit
dilakukan antara yang cowok atau cewek. Banyak hal yang
menjadi kendala, mulai dari biaya, jaringan, dan kesibukan.
Masih banyak juga yang mengatakan jika hubungan tersebut
tidak akan berumur panjang dikarenakan intensitas pertemuan
yang akan sulit dilakukan, serta komunikasi yang dilakukan
kurang lancar. Saya mendapatkan referensi ini dari pengalaman
saya dan teman-teman yang mengalami.
Tidak berhenti sampai disitu, saya terus menulis dan
menulis. Melanjutkan hobby saya yang semakin saya cintai ini.
Meskipun terkadang rasa malas itu menghinggapi saya,
39

begitupun rasa bosan, jenuh hingga dongkol tidak ada hentinya
saya rasakan. Hingga akhirnya saya pun lulus SMA dan nasib
artikel saya pun tidak diketahui ujungnya. Tapi sebagian artikel
saya dapat terselesaikan dengan baik, meskipun artikel saya
tidak dapat dimuat dan diterbitkan. Bila tidak ada kesibukan,
terkadang saya mengoreksi kembali artikel-artikel saya
tersebut. Agar hasilnya dapat lebih baik dari sebelumnya. Saat
ini saya cenderung lebih sering menulis cerita-cerita pribadi
saya sendiri pada sebuah catatan atau diary untuk meluapkan
segalanya.




40

Cerita Akhir Sekolah
(Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita)
oleh : Anharudin Hafidz

Tiap dari kita pasti memiliki teman dekat atau sahabat,
dimana waktu kita banyak dihabiskan bersama. Biasanya ditiap
episode kehidupan ada sahabat yang datang dan pergi. Namun
yang namanya sahabat biasanya memiliki jangka waktu
hubungan yang lebih lama, lebih awet dari jenis hubungan lain
seperti teman biasa ataupun pacar. Bicara tentang
persahabatan yang masih awet, saya memiliki beberapa orang
sahabat sejak duduk di bangku sekolah, saat masih memakai
seragam putih abu-abu. Mereka itu, Alvan, Bagus, dan Dito,
dimana kami kemana-mana selalu bersama, sampai ke kamar
mandi pun bersama. Menjalani waktu remaja yang buat kami
begitu indah.
Persahabatan, cinta, dan cita-cita. Ketiga tema itu lah
yang mewarnai hari-hari kami, yang ketika mulai
membicarakan tema tersebut seakan waktu menjadi berlalu
41

begitu cepat. Tentang persahabatan, Bagus dan Dito sudah saya
kenal sejak jaman kami masih memakai seragam putih biru tua,
di SMPN 2 Jember, namun saat itu belum dekat. Saya lebih dulu
dekat dengan Bagus, seorang pemuda berkacamata, dengan
kulih putih bersih dan mata sipit-nya yang sering kali membuat
orang mengira bahwa dia adalah seorang chinese. Ditambah
kemahirannya dalam bermain basket membuat cukup banyak
yang ngefans dengannya. Pertama kali memasuki dunia putih
abu-abu, di SMAN 1 Jember, secara tidak sengaja kami berada
di kelas yang sama, X.1. Duduklah kami sebangku selama
setahun. Kemudian saat naik ke kelas sebelas, saat mulai
penjurusan, saya memilih jurusan IPA, Bagus juga. Akhirnya
kami kembali sekelas. Karena sudah cocok dan belum terlalu
mengenal teman yang lainnya, kami duduk sebangku lagi.
Apalagi kami sudah menjadi satu tim yang sangat solid ketika
ada ulangan di sekolah, bekerja sama dengan sangat rapi
dengan modus yang tidak diketahui oleh guru manapun.
Dari kelas sebelas ini, cerita masa SMA kami pun mulai
berwarna. Kami menamakan diri kami Djabley, kependekan
dari Djajaran Anak Ipa Lima Euy, sebuah nama yang disepakati
42

oleh 36 siswa di kelas. Sempat sedikit dipertanyakan oleh wali
kelas kami karena namanya nyerempet ke satu kata yang
berkonotasi kurang baik, namun setelah diberi penjelasan dan
sedikit merayu, akhirnya disetujui dan disahkan langsung oleh
wali kelas kami tercinta, Bu Anita.
Di kelas ini, saya mulai mengenal Alvan, sosok pemuda
tegap yang bila pertama kali orang melihat, pasti bisa
merasakan jiwa kepemimpinannya. Aktif di Paskibra, dan dia
dipercaya menjadi ketua kelas kami. Orangnya lurus dan tidak
neko-neko, agak sedikit kaku, namun setia sekali terhadap
wanita yang dicintainya. Alvan sendiri dekat dengan Dito,
pemuda polos dan baik hati, yang bangga dengan motor Jupiter
MX merahnya, dan menjadi fans berat pembalap moto GP yang
lekat dengan nomor 46, Valentino Rossi. Ketika kami
ditakdirkan sekelas bersama, tidak dengan begitu saja kami
menjadi dekat. Bahkan boleh dibilang kedekatan itu baru
tercipta ketika kelas tiga. Awalnya kami masih memiliki
kesibukan sendiri-sendiri, Alvan di Paskibra, Bagus di basket,
sedangkan saya dan Dito punya kesibukan sendiri walaupun
kurang suka ikut ekskul ataupun organisasi.
43

Akhirnya kami menjadi dekat dan sering menghabiskan
waktu bersama. Jika kami punya rencana untuk pergi jalan-jalan
ke suatu tempat, rumah Bagus selalu menjadi tempat kami
bertemu. Jika kami pulang sekolah dan sedang tidak ada
pekerjaan rumah atau besoknya hari libur, kami biasanya
berkumpul di kosan Alvan. Yang menjadi menarik dari kosan
Alvan karea memiliki atap yang bisa dinaiki. Tempat kami
menggalau melihat bintang di langit malam, atau iseng
mengganggu kosan siswi perempuan di sebelah rumah. Bahkan
pernah kami ditegur ibu kos Alvan terkait hal ini.
Tidak cukup itu, kami juga memiliki sebuah tempat
rahasia yang jarang sekali dikunjungi orang, seolah tempat itu
hanya milik kami. Namanya Gumuk Kerang, yang dari tempat
itu kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota Jember. Bila
diingat-ingat, entah sejak kapan kami memutuskan untuk
menjadi empat orang sahabat, tapi jika dilihat lagi kebelakang,
saya pikir ada sebuah momen yang menjadikan kami begitu
akrab. Momen itu, adalah tentang cinta. Selalu ketika kami
membicarakan mengenai hal ini, cinta, bahasannya seakan
tiada habisnya. Dari empat orang, sebenarnya masing-masing
44

dari kami memiliki seseorang yang kami sukai secara diam-
diam. Namun hanya dua orang yang berani menyatakannya.
Lainnya beralasan tidak dibolehkan oleh orang tua, hingga tidak
diperjuangkan, walaupun disitu sebenarnya ada unsur tidak
berani mengungkapkan.
Saya masih ingat sekali, salah seorang dari kami sampai
membuat kode di plat nomor motornya, yang membentuk
sebuah tanggal, tanggal spesial mengenai dia dan orang yang
dia sukai. Momen yang menjadikan kami akrab, malah ketika
dua diantara kami yang berpacaran, akhirnya harus mengakhiri
hubungannya, karena sesuatu hal. Nah, tanpa kami sadari
momen itulah yang akhirnya mempersatukan kami, membuat
kami menjadi semakin akrab, bertambah dekat, dan mulai
mengerti mengenai arti sahabat. Tidak lama setelah momen
itu, kami sudah kembali move on, saat itu sudah memasuki
semester kedua di kelas dua belas, dan kami bertekad untuk
membayar waktu kami yang sempat hilang karena kesibukan
masing-masing, dengan membuat sisa waktu kami di bangku
SMA menjadi lebih indah dan berwarna.
45

Kemudian kami sedikit melakukan provokasi pada
tema-teman Djabley yang waktu itu memiliki interest sendiri-
sendiri bersama gengnya, bersama kelompoknya, untuk
kembali bersatu padu. Karena kami percaya bahwa masa SMA
tidak harus melulu belajar saja, karena saat itu suasana di kelas
terlalu study oriented, tapi ada saat-saatnya kami tersenyum
dan tertawa, bersama menghabiskan waktu, melepas penat di
hati. Saat itu ada perlombaan antar kelas, yang menjadi momen
bagi kami untuk unjuk gigi diantara kelas lainnya. Untuk
perlombaan yang cukup bergengsi, yaitu sepak bola, kami harus
rela menjadi juara empat, karena memang secara kemampuan
fisik kami kalah dibanding kelas lain. Lomba lainnya adalah
lomba kebersihan kelas, dimana kami mengeluarkan segala
kreativitas untuk membuat kelas kami menjadi bersih dan
indah. Usaha kami terbayar dengan diraihnya peringkat kedua.
Puncak prestasi kami adalah saat pertandingan sepak bola
daster, saat itu kelas kami termasuk yang tidak diunggulkan,
karena saat sepak bola dilapangan rumput juga tidak cukup
bersaing. Pertandingan yang dilaksanakan di lapangan basket
sekolah itu diikuti oleh seluruh kelas dari kelas satu sampai
46

kelas tiga, setiap tim terdiri dari tiga orang yang menggunakan
daster dan ditonton oleh seluruh warga sekolah. Saya ikut
dalam tim itu, bersama Dito dan Luqman. Teman kelas lainnya
menjadi suporter. Ketika harus menggunakan daster, saya
meminjam daster mama saya yang berwarna pink. Dan ketika
pertandingan berlangsung, terdengar teriakan riuh, saya tidak
begitu memperhatikan karena fokus pada pertandingan.
Namun samar-samar saya mendengar,Mas Afdilla cantik pake
daster pink. Setelah beberapa kali memenangkan
pertandingan, bangganya saya, berhasil mencetak dua gol
penentu kemenangan, yang ahirnya kami keluar sebagai juara
pertama, kelas kami menang. Saat itu termasuk hari paling
bahagia yang dimiliki kelas kami, Djabley. Dan sebagai
tambahan, saya juga tidak menyangka bahwa saya secantik itu
saat memakai daster.
Suatu waktu kami menonton sebuah film bersama,
Catatan Akhir Sekolah, yang mengisahkan seorang yang
membuat film dokumenter mengenai kegiatan di sekolahnya.
Film itu sangat menginspirasi kami, kebetulan saat malam lepas
pisah kami diminta menampilkan profil masing-masing kelas,
47

dan kami menjadikan film itu sebagai acuan untuk membuat
profil kelas dalam bentuk video. Tema yang kami angkat adalah
tentang persahabatan, cinta dan cita-cita. Finally, dengan
beberapa kegilaan yang kami lakukan, kami berhasil membuat
sisa waktu kami di bangku putih abu-abu menjadi lebih indah.
Mission completed!
Tiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Usai lulus
dari SMA masing-masing dari kami sudah punya rencana sendiri
mengenai masa depan kami, melanjutkan studi di bangku
universitas. Tentang cita-cita, Dito memiliki mimpi untuk
menjadi seorang ahli mesin, dia melanjutkan studinya di teknik
mesin Universitas Brawijaya, di kota apel, Malang. Bagus,
mengikuti keinginan orang tuanya untuk melihat anaknya
menjadi seorang dokter. Dia melanjutkan studi di fakultas
kedokteran Universitas Jember. Alvan yang awalnya ingin
bergabung di angkatan udara Republik Indonesia, akhirnya
melanjutkan studi di fakultas ekonomi Universitas Jember.
Sedangkan saya sendiri, melanjutkan studi di manajemen bisnis
Institut Manajemen Telkom, di kota kembang, Bandung. Kami
pernah membuat janji, untuk bertemu kembali suatu saat
48

nanti, dengan kesuksesan masing-masing. Saat itu kami
berharap, semoga ada takdirnya. Together we fly ..
Bandung, Februari 2013
Hari ini langit Dago begitu dingin. Angin pun cukup
kencang menambah dinginnya udara sampai rasanya merasuk
ke setiap sendi tubuh ini. Sembari terduduk santai di kantor,
memandang laporan rekap order katering yang sebentar lagi
selesai, juga pada setumpuk kertas berisi jadwal penyusunan
proposal thesis. Semalam ada pesan singkat masuk
ke handphone saya, Ini aku uda duduk di dalam pesawat, di
tengah. Ya Allah, aku pengen dua tahun lagi yang duduk di
samping kanan kiriku adalah bapak, ibuku, guna naik haji
bersama. Sebuah pesan singkat dari Alvan. Ceritanya dia
sedang dalam perjalanan untuk mewujudkan salah satu
mimpinya, pergi melihat luasnya dunia. Beberapa waktu lalu
papernya diterima dan dia diundang untuk
mempresentasikannnya, di salah satu negara di benua biru,
Italia. Saya tahu betul, betapa bahagianya dia sekarang.
49

Beberapa waktu lalu juga ada sebuah kabar dari Dito,
Alhamdulillah bro.. matur nuwun semangat semeru nya dan
doanya. Aku lolos sampe tahap akhir. PTPN XI Saat turun dari
Semeru awal Januari lalu, memang saya sempat
merepotkannya dengan menumpang menginap di kosan dia di
daerah Pisang Dalam, dekat kampus UB. Paginya saya sempat
menemani dia lari pagi di Malang, ceritanya saat itu dia sedang
fokus untuk memaksimalkan persiapan tes kesehatan di PTPN
XI. Saya senang sekali saat mendengar kabar bahwa akhirnya
dia diterima,sebentar lagi jadi punya teman pak sinder nih,
canda saya padanya. Sedangkan Bagus, sekarang dia sedang
menyelesaikan koas dokternya di Jember sampai akhir taun
2013 ini. Dia nanti akan jadi seorang dokter favorit yang
digandrungi, karena baik, putih dan ganteng. Akhirnya, semoga
kami bisa menepati janji semasa sekolah dulu, untuk bertemu
kembali dengan kesuksesan masing masing.



50











51

Aku Terjerat Dunia Menulis
oleh : Dedy Onto Laksono

Mungkin banyak (termasuk aku) yang ingin memulai
karier sebagai penulis, kadang tidak sadar tentang dunia yang
mereka masuki. Terjun menjadi penulis tanpa perhitungan akan
menjadikan menulis menjadi pekerjaan yang menjemukan
seperti pekerjaan kantor lainnya. Menulis menurutku, adalah
bidang pekerjaan yang fokus dalam dunia informasi, literatur
sistematis, atau suatu karya ilmiah tertentu. Namun, perlu
dipahami bahwa menulis akan berjalan dengan baik dan terasa
cukup mudah apabila kita terus berlatih serta memahami
banyak pengetahuan, aturan atau tips tentang menulis. Seperti
dalam pemahaman ku, dasar untuk memulai menulis adalah
memahami segala aspek yang berkaitan, seperti; apa saja jenis
tulisan yang ada di media, bagaimana bahasa dalam menulis,
bagaimana mencari sumber informasi atau referensi untuk
memperkaya pengetahuan dan kata-kata, seperti yang ada di
bawah ini :
52

Tajuk. Sering juga disebut induk karangan (berasal dari
bahasa Belanda hoofd artikel), editorial atau leadaer (istilah
dari bahasa ini banyak digunakan di Negara yang pernah
dipengaruhi Inggris, misalnya : the economist sedangkan istilah
editorial umumnya dipakai oleh penerbitan Amerika). Seperti
halnya berita dan kolom, tajuk seringkali dijadikan acuan
kewibawaan sebuah media. Sedangkan, bentuk-bentuk tajuk
dapat berupa sekedar memberikan informasi, menjelaskan
atau memberikan intrepretasi mengenai sebuah kejadian,
argumentasi, sifatnya analitis, mendorong aksi, bersifat jihad,
persuasif, memuji ataupun menghibur.
Kolom, sebagai forum diskusi mempunyai tempat
terpandang dalam pers Indonesia. Ia ikut membentuk aliran
utama pemikiran intelektual yang tengah berkembang dalam
masyarakat. Kolom hanya menyoroti fakta dan datanya yang
telah dimuat berita. Sebuah kolom mungkin hanya memberikan
sebuah pandangan atau penilaian, penekanan pada segi
tertentu dan melihat kecenderungannya. Kolom juga biasanya
bercorak komis, komedis, anekdotis, atau humoris, bahkan
sarkatis atau bias satiris. Sehingga tulisan ini lebih otonom.
53

Pojok. Berisi komentar singkat mengenai topik yang
sedang hangat. Komentar bias humor, namun punya sindiran
tajam. Opini, tulisan berupa opini berisi gagasan, ulasan, dan
kritik terhadap sebuah permasalahan yang ditulis dalam bahasa
ilmiah popular. Tulisan ini juga menyediakan solusi. Memilah
perbedaan antara fakta dan opini melahirkan jurnalisme
evaluative (berperan mengevaluasi birokrasi, para pejabat
pemerintah dan realitas sosial yang lain) serta jurnalisme
partisan (memperjuangkan kebenaran versi media
bersangkutan).
Berita, Secara sederhana, berita mengandung unsur
5W+1H (What, Why, When, Where, Who, dan How). Berita
mengandung muatan nilai dan kepentingan dari pengasuh
(manajemen, wartawan, karyawan), pendukung (pembaca,
pemasang iklan), sehingga setiap kelompok penerbitan punya
visi dan misi tertentu, meski dikemas dengan label
independent. Fungsi penebritaan bukanlah untuk
memepringatkan, menginstruksikan maupun membuat
tercengang pembacanya. Berita harus bermanfaat tidak hanya
memberitahu saja. Agar bermanfaat berita diusahakan sebagai
54

pengetahuan umum dan alat kontrol sosial. Kemudian,
beberapa patokan yang aku pahami tentang menulis
diantaranya:
Gunakan kalimata-kalimat pendek dan mudah
dimengerti, bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan
informasi. Bahasa diperlukan untuk komunikasi. Kita perlu ingat
agar apa yang disampaikan kepada khalayak betul-betul dapat
dimengerti orang. Kalau tidak demikian, maka tidak dapat
disebut orang itu sebagai komunikatif. Kita harus berusaha
menjauhi penggunaan kata-kata teknik ilmiah, dia harus
menjelaskan terlebih dahulu apakah arti kata-kata tersebut.
Kita harus menjauhi kata-kata bahasa asing. Misalnya, aku lebih
yakin memakai kata partisipasi ketimbang keikutsertaan.
Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya,
Khalayak media massa, yaitu pembaca surat kabar, pendengar
radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia
dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-
beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang
berbeda-beda pula. Maka prinsip yang dipegang ialah; Gunakan
55

bahasa tanpa kalimat majemuk, yang terdiri dari kata pokok
atau subjek (S), kata sebutan atau predikat (P), dan kata tujuan
atau objek (O). Misalnya, kalimat Si Amat (S) pergi ke pasar (P)
membeli sebuah pena. Kalimat tersebut sudah lengkap berdiri
sendiri. Karena kadang kita akan terpengaruh oleh bahasa
Belanda atau Bahasa Inggris, yaitu menulisnya dengan kalimat
yang panjang, berbentuk compound sentence, kalimat
majemuk dengan induknya dan anaknya yang dihubungkan
dengan kata sambung. Seperti, Si Amat pergi ke pasar beli
sebuah pena yang mana merupakan pemborosan tenaga oleh
karena telah dikatakan kepadanya bahwa pena itu dapat juga
dibeli di took seberang rumahnya sehingga segala sesuatu lebih
mudah jadinya. Dengan menggunakan kalimat majemuk,
pengutaraan pikiran kita mudah terpeleset menjadi berbelit-
belit dan bertele-tele. Sebaiknya, kita menjauhkan diri dari
kesukaan memakai kalimat majemuk karena bias
mengakibatkan tulisan menjadi woolly alias tidak terang.
Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat
pasif, membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah
persyaratan yang dituntut dari seorang penulis. Berita demikian
56

lebih menarik dibaca. Aku mencoba membandingkan kalimat
yang berbunyi Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan
dengan kalimat yang berbunyi, Si Polan memukul si Amat
babak belur. Tidaklah terasa kalimat yang kedua jauh lebih
hidup bergaya? Kecuali tentunya jika fokus hendak dijuruskan
pada si Amat yang membuat kalimat pertama dapat
dipertanggungjawabkan, maka umummnya cara menulis
dengan kalimat kedua, yaitu dalam bentuk aktif lebih disukai
dalam dunia jurnalistik. Kalimat pasif jarang dipakai, walaupun
ada kalanya dia dapat menimbulkan kesan kuat.
Gunakan bahasa padat dan kuat, kita mungkin masih
seringkali terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang
sama dalam berbagai kata. Bahasa jurnalistik tidak
menghajatkan hal demikian karena kata-kata yang digunakan
harus efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa
harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-
kata.
Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif, Kembali
kepada pengarang Ernest Hemingway, mengemukakan sebuah
57

prinsip lain dalam penulisan berita. Kita bisa menulis
umpamanya kalimat berikut, Wartawan Sondang Meliala tidak
menghendaki penataran wartawan olahraga. Kalimat ini
secara teknis dinamakan berbentuk negatif (lihat perkataan
tidak menghendaki). Akan tetapi, dengan arti yang persis
sama, kita bisa pula menulis, Wartawan Sondang Meliala
menolak penataran wartawan olahraga, kalimat ini dinamakan
berbentuk positif (perkataan menolak positif sifatnya
dibandingkan dengan perkataan tidak menghendaki.
Ulasan di atas memberitahu kita tentang bagaimana
dasar-dasar kita memulai tulisan. Banyak sekali mengenai dasar
menulis yang perlu kita pahami. Perhatian terhadap makna
kalimat ataupun kata akan sangat diperhatikan oleh penulis
hebat untuk menghasilkan tulisan yang sungguh menarik
pembaca. Tidak diragukan lagi, kata memegang perananan
penting dalam berbahasa, sehingga kita pun mempunyai
kedudukan dalam berbagai macam aspek kehidupan kita. kita
dapat memahami manusia dengan kata-kata. kita dapat
berbicara kepada mereka dengan kata-kata. Kata-kata memang
mempunyai daya pukau untuk mengekspresikan diri, baik
58

dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Semakin banyak
kosakata kita, semakin banyak ide yang bisa kita utarakan.
Tidak mengherankan jika ada pertalian erat antara kosakata
dan kemampuan menulis. Dunia tulisan yang menggairahkan
dibangun oleh kata-kata yang bercita rasa.








59

Tulisan Pertamaku
oleh : Eka
Pertama kali aku menulis saat aku masih berada di
sekolah Taman Kanak-kanak (TK). Dulu di TK guruku mengajari
menulis huruf alphabet, mulai dari huruf kecil hingga huruf
kapital. Selain itu guru-guru di sekolah TK ku itu sering kali
menyuruhku untuk menuliskan nama dari masing-masing
muridnya. Mulai dari nama panggilan sampai nama lengkap
kami, baik itu di papan tulis maupun di kertas yang sudah
disediakan oleh guru kami. Jadi, setiap pulang sekolah aku
selalu ingin mencoba apa yang telah guruku ajarkan di sekolah.
Tidak hanya itu, saya selalu mencoba menulis dan mengeja
nama panggilanku begitupun nama panjangku. Setelah lancar
dan bisa menghafal huruf alphabet dari A sampai Z, aku
terkadang meminta orang tua ku untuk memberikan soal atau
meminta petunjuk apa yang akan aku pelajari selanjutnya.
Misalnya dengan menuliskan nama orang tuaku dan nama
teman-temanku. Pernah sekali ibuku menyuruh ku untuk
menuliskan sebuah kalimat dengan mencontohnya dari buku,
majalah kesukaan ku yaitu majalah bobo.
60

Dulu memang aku belum bisa membaca, hanya saja aku
lebih sering dan senang sekali jika aku melihat gambar-gambar
yang ada di majalah bobo. Dari kebiasaanku melihat gambar-
gambar di majalah tersebut, maka orang tua ku mempunyai ide
untuk memberikan tugas kepadaku untuk mengikuti tulisan-
tulisan yang ada di majalah itu, seperti halnya puisi yang ada di
halaman depan majalah bobo. Setelah terus berlatih dan sering
mendapat dukungan dari orang tua ku yang terus
mendampingi. Hingga saat aku masuk di bangku Sekoah Dasar
(SD), aku tidak merasa canggung dan takut lagi, jika ada guru
yang menyuruhku menulis di papan tulis di depan kelas. Akan
tetapi ketika aku melihat tulisan teman sekelasku yang terlihat
rapi dan bagus diantara teman kelasku yang lain, maka di
rumah aku bertekat untuk lebih rajin lagi menulis dan melatih
tanganku untuk terbiasa menulis sehingga tulisanku dapat
perlahan-lahan lebih rapi dan bagus dari pada awalnya. Tiba
saatnya ada tugas untuk merangkum sebuah wacana di buku
pedoman anak SD kelas 1, lalu aku pun berusaha untuk bisa
menulis dengan rapi dan bagus. Beberapa kali setelah aku
mencoba menulis memang masih belum sepenuhnya rapi dan
61

bagus tetapi setidaknya aku sudah bisa melihat sedikit
perubahan pada kerapian tulisanku.
Kemudian saat kelas lima SD, guruku memberikan tugas
untuk membuat puisi, sedikit bingung memang saat aku
membuatnya dirumah. Selain orang tua ku tidak begitu pandai
membuat puisi, juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-
masing. Sampai akhirnya aku teringat akan pertama kali
menirukan tulisan yang ada di majalah bobo, tulisan yang sering
kali aku tirukan yaitu puisi yang ada di halaman depan majalah
bobo. Dari situlah aku akhirnya mulai membuat tulisan puisi
yang memang tidak seberapa bagus seperti buatan para
seniman. Sangat sulit mendapatkan ide dan inspirasi untuk
membuat sebuah puisi pada awalnya, namun dari mencoba
dan terus mencoba akhirnya akupun terbiasa dan
menjadikanku bisa membuat puisi maupun tulisan-tulisan yang
lain. Sehingga saat aku mengumpulkan tugas puisi yang
menjadi pekerjaan rumah ku, guruku sempat memujiku dan
memberitahuku bahwa aku punya bakat untuk menjadi
sastrawan di kelasku. Meskipun puisiku belum begitu
62

sempurna, namun guruku setidaknya sudah memuji hasil
karyaku.
Tiba saatnya libur sekolah dan aku sering
memanfaatkannya untuk lebih sering membaca dan menulis
apa yang telah kubaca. Usai libur sekolah berlalu guruku
memberikan tugas yang sangat menarik bagiku yaitu
menuliskan pengalaman saat aku berlibur. Saat pelajaran
bahasa Indonesia berlangsung di kelas aku dan teman-teman
langsung menuliskan apa saja pengalaman yang telah kita
dapat saat kita libur panjang kemarin. Pengalaman teman-
teman ku bermacam-macam ketika mereka membacakan
tulisan pengalaman liburan mereka. Ternyata tidak hanya
pengalaman yang menyenangkan saja yang teman-temanku
tuliskan dalam cerita mereka, ada juga pengalaman lucu sampai
pengalaman yang menyedihkan. Pernah suatu waktu sekolah
ku mengadakan lomba menulis, dari menulis puisi sampai
menulis tulisan arab. Kemudian guruku memilihku untuk
mewakili kelas dengan mengikuti lomba menulis arab, awalnya
aku ragu namun guruku telah memberikan kepercayaan
kepadaku memenangkan lomba tersebut. Setelah aku
63

menuruti dan mengikuti perlombaan tersebut aku tidak
menyangka bahwa aku akhirnya bisa memenangkan lomba
menuis dengan juara pertama di sekolahku. Aku tidak
menyangkanya mungkin dari kebiasaanku menulis dan
menirukan tulisan-tulisan yang ada dibuku sehingga aku juga
bisa dan mampu menirukan tulisan arab yang sedang
dilombakan tersebut. Sejak saat itu guruku sering memberi
kepercayaan padaku untuk menuliskan rapot adik-adik kelasku
di SD. Guru SD ku terus memberikan motivasi dengan
menyuruh kami untuk lebih sering membaca buku cerita atau
majalah yang ada cerita pendeknya. Tujuannya adalah agar
kami murid-muridnya bisa memahami apa itu alur cerita dan
pilihan kata yang terdapat di dalam cerita.
Kemudian setelah aku beranjak duduk di bangku
Sekolah Menengah Pertama (SMP), guruku memberikan tugas
untuk membuat cerita pendek dan aku lebih sering mendapat
tugas merangkum. Aku senang dan menikmati tugas
merangkum yang telah diberikan oleh guruku, karena aku
sudah terlatih untuk menulis ataupun merangkum dari buku
pedoman yang diberikan oleh sekolah. Pernah suatu saat aku
64

diberi tugas untuk membuat cerita pendek oleh guruku, tema
cerita tersebut bebas boleh dari pengalaman pribadi maupun
dari pengalaman orang lain. Jujur saja pada awal menuliskan
cerita aku bingung karena aku sudah terbiasa dengan
menirukan tulisan-tulisan yang ada di buku cerita namun aku
belum memahami apa itu jalannya cerita yang mereka buat.
Sehingga tulisanku saat itu masih acak-acakan, maka dari itu
aku lebih sering membaca dan melihat lagi cerita-cerita pendek
yang sudah ada di buku pedoman dari sekolahku. Dari usahaku
membaca dan terus mencari untuk mengetahui, maka aku pun
lambat laun memahami dan mengerti bagaimana cara
membuat cerita pendek. Serta kita juga membutuhkan
imajinasi yang tinggi dan ide-ide kreatif sehingga cerita yang
nantinya kita buat bisa hidup tentunya lebih menarik. Cerita
yang bagus itu dari awal hingga akhir, ceritanya mengalir baik
dengan kita menggunakan alur mundur maupun campuran. Jika
ceritanya tidak nyambung maka cerita itu tidak akan menarik.
Guru bahasa indonesiaku juga sering kali mengingatkan bahwa
pilihan kata yang akan kita gunakan dalam membuat cerita juga
harus sesuai dengan cerita apa yang akan kita buat. Setelah
65

lulus dari SMP, kemudian aku masuk ke sebuah SMK yang
tergolong favorit di kota itu dan pada saat itulah kemampuan
menulisku bertambah sejak kelas 1 hingga kelas 2 SMK. Karena,
pada saat itu aku mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah
yang diadakan oleh sekolah untuk menyambut HUT RI.
Pada saat mulai membuat karya tulis ilmiah, aku sangat
bersemangat dan berharap bahwa tulisanku ini mendapatkan
juara dalam perlombaan tersebut. Setelah karyaku selesai aku
buat, aku memberikannya kepada seorang guru yang pada saat
itu menjadi juri dalam perlombaan tersebut. Setelah kuberikan,
guru tersebut mengatakan padaku bahwa pengumuman
pemenang lomba akan di beritahukan keesokan harinya. Aku
menantinya dengan harap-harap cemas dan muncul banyak
pertanyaan dalam benakku apakah karyaku tersebut masuk
juara atau tidak. Keesokan harinya aku sudah sangat tidak sabar
dengan hasil pengumuman juara lomba karya tulis ilmiah yang
aku ikuti, berharap dapat menduduki juara pertama ataupun
juara kedua. Namun, setelah pengumuman dibacakan aku
sama sekali tidak mendengar namaku disebut mulai dari juara
harapan hingga juara utama. Pada saat itu aku merasa sangat
66

kecewa dan sangat berkecil hati atas apa yang terjadi. Akan
tetapi, tiba-tiba ada seorang guru yang menghampiriku dan
mengatakan bahwa kalah menang adalah hal yang sudah biasa
dalam perlombaan. Namun yang terpanting adalah aku sudah
berani menuangkan pendapatku dalam sebuah tulisan apalagi
sebuah karya ilmiah yang jarang pada saat itu diminati oleh
banyak siswa SMK, dan pada saat itulah semangatku kembali
dan menjadi termotivasi agar tetap meneruskan kegiatan
menulisku. Namun seiring berjalannya waktu, aku perlahan-
lahan menjadi jarang menulis apalagi setelah aku lulus dari SMK
entah karena kegiatanku yang terlalu padat atau kerena
pergaulanku dengan teman-teman baru sehingga terlalu asyik
sehingga aku tinggalkan kegiatan menulisku. Hingga kini, aku
sudah tidak pernah menulis apalagi mencurahkan segala
perasaanku lewat tulisan yang biasanya aku lakukan. Sempat
terpikir bahwa ingin sekali kembali melakukan hal dulu yang
aku tinggal namun sekarang aku menjadi kaku kekita ingin
menulis kembali.


67











68

Apa Itu Menulis ?
oleh : M Firmansyah R
Setiap orang yang hidup pasti pernah menulis dan
belajar menulis karena dipaksa. Tidak mungkin waktu kanak-
kanak ada yang tiba-tiba berkeinginan menulis novel bahkan
membuat blog, semuanya pasti perintah guru taman kanak-
kanaknya. Bagi saya pribadi menulis itu merupakan hal yang
abstrak, kenapa? Menulis itu ibarat mengupil, ada hasrat
keinginan terpendam tapi segan untuk melakukannya, namun,
seakan-akan mendapat passion setelah berkutat didalamnya.
Itulah menulis. Berbicara tentang menulis, menurut pandangan
saya ada perbedaan antara belajar menulis sekedar coretan
(yang seperti diajarkan oleh taman kanak-kanak), dengan
belajar menulis yang membutuhkan inspirasi dan passion.
Terkait dengan pernyataan yang terakhir tadi saya pernah
pelajari ketika masih di SMA, dan tentu saja itu juga saya
menulis karena tugas bukan karena ingin jadi penulis novel,
bahkan blog. Waktu itu pun menulis masih bisa dikatakan
menulis bukan mengetik, karena memang pada waktu itu
menulis memang menggunakan pulpen dan bukan mengetik
69

memakai laptop atau komputer. Jadi singkat saja, ketika itu
saya menulis kata demi kata dan waktu berganti waktu hingga
sadar bahwa menulis empat jam hanya menghasilkan selembar
kertas cerita. Dari situ saya menyimpulkan bahwa menulis itu
susah dan tidak penting.
Sudah Sembilan tahun berlalu, pemikiran tentang tidak
pentingnya menulis, dan membosankannya membaca artikel
mulai berubah. Pintu hati saya mulai terbuka terhadap kegiatan
menulis. Tapi sebentar, mulai interest sama menulis bukan
berarti saya langsung ikut audisi penulis naskah film (kalau ada),
atau langsung menulis untuk ngebuat tiga buku sekaligus. Yang
saya maksud dengan terbuka dan mulai menyukai menulis
dimulai dulu dari saya menyukai membaca novel, biografi, dan
artikel. Terutama biografi tokoh dunia, saya tertarik dengan
buku yang berbau masa lalu dan sedikit misteri yang belum
terpecahkan (bukan horror). Yang saya sukai adalah biografi
mengenai Hitler dan yahudi, karena sampai sekarang efek-
efeknya masih terasa. Membaca buku seperti itu saya jalani
semasa saya masih SMA. Selain membaca buku itu bermanfaat,
saya juga beranggapan cowok baca buku sambil ditemani
70

segelas kopi itu keren. Namanya juga SMA status kelabilannya
masih dipertanyakan.
Beranjak menua, keinginan menulis pun mencuat.
Menulis sebuah artikel maupun sekedar cerpen di blog menjadi
keinginan yang terpendam. Maklum, akhir-akhir ini banyak
bermunculan bloger yang terkenal dengan tulisannya, sebut
saja Raditya Dika yang populer dengan kambing jantannya,
sampai-sampai dibuat buku hingga menembus kancah
perfilman indonesia. Dari situ mulai sering membaca buku
novel semi humor yang ringan, saya juga mulai memaksa diri
untuk membaca artikel yang berbau politik dan agak berat. Itu
juga saya lakukan karena sudah menjadi agent of change atau
bahasa mainstreamnya mahasiswa. Tidak lucu mahasiswa
hanya plongah-plongoh kalau ada yang nanyain soal politik.
Namun keinginan saya masih tetap pada tempatnya, yaitu
menulis di sebuah blog.
Manusia tetaplah manusia, keinginan sudah diubun-
ubun namun actionnya nol. Dari keinginan menjadi bloger
lama-lama mulai terlupakan, dari segi teknis sampai non teknis
71

menghalangi, dari gaptek sampai dinding malas yang tebal
membuat tak satupun tulisan dan blog tercipta. Belum lagi rasa
takut salah dan ditertawakan bila salah dalam penulisan
maupun model penggarapannya. Akhirya saya pun hanya
mampu menulis status di sosial media seperti; twitter. Menulis
status panjang lebar sampai kolom status penuh itu kegiatan
yang sangat menghibur. Menulis kata-kata indah yang
bermakna dan menginspirasi agar dapat dilihat para penghuni
timeline twitter. Lebih-lebih ada yang nge-retwett, senengnya
nggak ketulungan.
Dari setiap pemikiran tentang menulis dan keinginan
itu, saya seakan mendapat batu untuk berloncat. Dari ranah
Madura tempat saya mengabdi sebagai mahasiswa di kampus
negeri yang tengah merangkak menjadi kampus yang patut
diperhitungkan, Universitas Trunojoyo Madura. Segelintir
masukan para dosen yang bertugas memberi rangsangan
kepada keinginan saya yang mati suri. Teori-teori dan
pemahaman yang di berikan pada saat kuliah membuat
keinginan untuk mulai mengayuh muncul. Terlebih ucapan
salah satu dosen yang juga menjabat sebagai kaprodi. Beliau
72

berkata menulis itu seperti belajar bersepeda, jangan
memikirkan tentang teori bagaimana mengayuh sepeda, atau
bagaimana menjaga keseimbangan, tapi injak pedal sepeda dan
kayuh!!. Apa yang dikatakan beliau sesuai dengan apa yang
saya pikirkan selama ini, sehingga menjadi penerang bagi
tulisanku.
Pemikiran dari masa ke masa telah berbeda, bagi saya
sekarang menulis itu unidentified, tak tahu kapan hasrat itu
muncul dan tak tahu kapan otak kita akan sadar untuk
melakukannya. Saya yakin kalian juga merasakan hal yang
sama, bingung memikirkan tentang teori, tentang ketakutan
bila menulis, dan ragu. Sampai saya menulis ini saya masih
memikirkan tentang abstraknya menulis, sulitnya memutuskan
dan memulai untuk menulis. Namun, setelah mencoba untuk
menulis dan mendapatkan passion didalamnya yakinlah
dreams come true. Di tangan yang tepat, pena bisa lebih tajam
daripada sebuah pedang (kutipan film white house down ;
2012). Waktu terbuang sia-sia selama kalian takut untuk
melakukan, bayangkan bila waktu yang sia-sia tersebut kalian
pergunakan untuk action, pastinya masa sekarang akan
73

berbeda dengan apa yang terjadi pada anda sekarang. Mungkin
selanjutnya saya akan memulai untuk mengayuh, blogger
Indonesia masih cukup ruang untuk diisi satu orang lagi.





74

My Diary
oleh : Kamalia Mazita D.R


Aku pertama kali menulis ketika duduk di bangku SMP,
waktu itu aku meminta ibuku membelikanku sebuah buku
catatan kecil yang biasa disebut diary dan aku beri nama
Snoopy. Sejak itu aku mulai menulis. Aku menulis diary ketika
mau tidur, dan aku simpan di bawah bantal agar tidak ada orang
lain yang mengambilnya, aku menulis semua hal yang aku lihat,
semua hal yang aku dengar, dan semua hal yang aku rasakan.
Seperti tentang saat aku senang bermain dengan temanku, saat
aku kesal karena bertengkar dengan temanku. Kegiatan itu
terus berlangsung sampai aku SMA, namun yang aku tulis
tidaklah sama dengan yang aku tulis waktu SMP. Semenjak SMA
aku menulis mulai tentang keseharianku bersama teman-
teman, cerita tentang perasaanku, rasa kekagumanku terhadap
sosok anak laki-laki yang berubah menjadi perasaan suka,
karena aku baru mengenal cinta waktu SMA. Suatu hari pacarku
memberiku kata-kata romantis lalu aku menulisnya di diary
75

Kadang orang yang kita cintai adalah orang
yang paling menyakiti kita, dan kadang pula teman yang
main bersama kita adalah cinta yang kita tidak sadari,
apabila kita mencintai seseorang jangan lepaskan dia,
jangan percaya bahwa melepaskan selalu berarti kita
benar-benar mencintai melainkan berjuanglah demi
cinta kita, itulah cinta sejati, cinta yang agung adalah
ketika kita menitihkan air mata dan masih perduli
terhadapnya, masih menunggu dengan setia ketika dia
tidak memperdulikan kita. Ketika dia mencintai orang
lain dan kita masih tersenyum sembari berkata kuturut
bahagia untukmu, akan tiba saatnya dimana kita harus
berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu
berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepasnya, cinta karena terpaksa bagai
pasir dalam genggaman semakin di tekan akan semakin
sulit dipertahankan
Selain itu, dia juga mengirimkanku puisi, dan aku tulis di
snoopyku sebagai berikut :
76

Ku terpaku menatap langit biru
Ku goreskan imaji dalam angan
Selintas wajah gadis pujaan
Tersenyum manis tersipu malu
Jalan tak selalu maju
Karna hidup takkan jemu
Hanya cinta setia pada satu jiwa
Membawa ini jadi selamanya
Biarlah rasa biarlah cinta
Memelukmu dan meyelimutimu
Satu cinta satu jiwa
Aku dabn kamu saling menyatu
Ini merupakn puisi pertama yang aku dapatkan selama
hidup, dan selalu aku baca setiap hari, meskipun sudah tidak
ada hubungan dengan orang yang membuat puisi tersebut.
Karena aku sedikit bangga menjadi objek dalam membuat puisi
meskipun itu hanya sebuah puisi gombal dari cinta monyet
waktu dulu.
Aku termasuk tipikal orang yang pendiam, tidak suka
bercerita kepada teman lebih leluasa bercerita dalam diary,
77

karena menurutku bercerita kepada orang lain tidak akan
menyelesaikan masalah, tidak leluasa dalam bercerita yang ada
hanya pendapat. Karena kebanyakan pendapat hanya akan
menambah masalah. Hal itulah yang membuatku hanya
menuangkan masalah yang saya hadapi dalam tulisan.
Suatu hari ketika aku sudah tidak tahan dengan keadaan
keluarga yang tidak harmonis karena masalah saudaraku yang
tesangkut kasus narkoba, yang sedang di kejar-kejar polisi, aku
bercerita tentang masalah yang aku rasakan pada saat itu
dengan teman, tapi yang ada mereka hanya membuka aib
keluargaku kepada teman yang lain. Sejak saat itu aku
merasakan kecewa dan tidak mudah percaya kepada orang lain.
Awalnya aku pikir menulis itu sangat membosankan karena
tidak ada yang mendengarkan aku bercerita hanya tertuang
dalam sebuah abjad yang tidak bisa menjawab serta memberi
tanggapan dengan apa yang aku ceritakan, tetapi sejak kejadian
itu aku lebih suka menulis dari pada harus bercerita kepada
orang lain. Sejak saat itu pula aku mulai mengoleksi binder
untuk menuliskan semua masalah yang aku rasakan saat itu.
78

Karena kesukaanku dalam menulis dan seringnya aku
menulis sampai-sampai di sekolah ketika pelajaran menulis aku
mendapatkan nilai tertinggi dan aku juga pernah
memenangkan lomba karya tulis ilmiah antar SMA, dan aku
mulai merasakan hikmah yang aku dapatkan dari kegemaranku
dalam menulis. Mungkin karena terlalu seringnya saya menulis
tulisan tanganku mirip dengan ketikan dalam microsoft word.
Bukan satu atau dua orang yang berpendapat seperti itu.
Meskipun tulisanku bagus, tapi aku tidak pernah sombong.
Kejadian yang membuat aku bangga ketika sebagian
teman-teman kelasku mengcopy semua catatanku dengan
alasan karena tulisanku bagus dan lebih enak dibaca apalagi
buat belajar. Padahal hal itu justru membuat teman-teman
malas untuk menulis, tapi aku tidak bisa menolak semua itu
karena bermanfaat bagi mereka agar lebih giat belajar.
Mungkin dengan hal itu aku bisa lebih bermanfaat bagi orang
lain. Meskipun aku gemar menulis tapi kadang untuk melihat
bulpen dan buku rasa malas itu tetap ada bahkan kadang malas
sampai-sampai untuk menulis pun aku enggan karena sangat
malasnya untuk menulis hari itu. Tapi aku sadar malas itu tidak
79

untuk dibiarkan, tetapi menulis sudah menjadi hobiku sejak
waktu itu.
Namun dengan seiring berjalannya waktu dan seiring
berkembangnya tekhnologi aku memulai menulis dengan
menggunakan handphone atau laptop, dan memang rasanya
sungguh sangat berbeda. Lebih asyik menulis di buku memang,
memakai pensil. Karena kegiatan menulis sudah aku tinggalkan,
jadi sekarang tulisanku menjadi jelek, dan aku mulai malas
menulis dengan menggunakan tangan. Aku sempat berpikir
bahwa menulis atau curhat kepada diary adalah hal yang
kekanak-kanakan, namun pikiranku itu salah. Justru menulis
adalah seni. Ketika menulis di buku itu beda di bandingkan
menulis di alat elektronik, karena dengan menulis di buku
pikiranku mengalir, tetapi tidak jika menulis di alat elektronik.
Ketika aku kuliah, aku melihat teman-temanku sudah
tidak ada yang menulis di diary lagi. Hal itulah yang membuatku
bertambah untuk malas menulis, sekarang sudah jamannya
internet, facebook, twitter. Akupun beralih menulis cerita di
facebook, mulai dari cerita pendek yang aku karang dan kisah
kehidupanku. Aku tidak malu bila semua orang di dunia maya
80

bisa melihat dan membaca tulisanku, karena bagiku menulis
adalah hal yang tidak bisa aku hindari. Anak-anak remaja dan
orang tua semua tersihir oleh media sosial. Ungkapan perasaan
langsung saja di tulis di status, tidak perlu di tulis di buku harian.
Trend menulis di diary pun perlahan-lahan menghilang dan
digantikan oleh budaya blog dan media sosial
Ternyata menulis buku harian banyak manfaatnya.
Selain melatih kita untuk menulis lebih baik dan tentunya juga
dapat menghilangkan masalah yang ada dikepala. Buku diary
adalah tempat menyimpan memori seperti halnya sebuah blog,
tetapi buku diary lebih privasi. Semua memori kita dapat
tersimpan dengan baik, dan kemudian hari kita dapat
mengambil hikmah dari apa yeng telah kita lalui, dan dengan
menulis buku diary kita bisa belajar dari masa lalu agar tidak
salah untuk yang kedua kalinya. Mengekpresikan rasa marah,
harapan, ketakutan kecemburuan dalam bentuk tulisan juga
dapat mencegah dan mengubur emosi dalam-dalam. Buku
harian juga adalah tempat yang bisa aku datangi kapanpun dan
dimanapun tanpa harus merasa tidak enak karena buku tidak
mempunyai perasaan. Buku harian juga teman yang selalu ada
81

di smpingku tanpa harus sibuk dengan urusannya, bahkan dia
tidak sibuk dengan pacar barunya karena dia hanya benda mati
yang tidak memerlukan itu semua. Buku harian juga dapat
menyimpan rahasiaku tanpa bocor sedikitpun kecuali buku itu
dibaca oleh orang lain.
Meskipun aku sering menulis dalam buku harian bukan
berarti aku kurang update dalam jejaring sosial. Seiring dengan
berjalannya waktu aku sering memposting cerita dalam social
network atau facebook tapi semua tulisanku dalam facebook
hanya sebuah cerita pendek atau pengalaman yang biasa tidak
terlalu privasi. Biasanya kalau memposting cerita dalam
facebook aku menandai ke teman-teman agar mereka bisa
membaca hasil karyaku dan memberikan komentarnya agar
aku bisa memperbaiki. Jika itu kurang baik atau masih ada
sesuatu yang kurang, komentar dari para pembaca itu sangat
diperlukan agar aku bisa merevisi tulisan yang di-posting dan
juga membuat aku tidak mudah puas dengan apa yang aku
buat. Selain cerpen aku juga sering memposting kata-kata
motivator yang biasa aku dapat dari pengalaman pribadi tapi
82

kadang jika ada kata-kata motivator di twitter yang bagus aku
copas dalam homepage di facebook.
Sampai sekarang Diaryku tetap ada, aku simpan,
sewaktu-waktu aku tertawa sendiri ketika membacanya.
Karena menurutku waktu jaman SMP-SMA aku sangat alay,
menurut orang-orang alay itu adalah proses menuju
kedewasaan, dan ternyata itu benar. Diary merupakan curahan
hatiku tentang suatu masalah dan kejadian yang dialami pada
hari itu. Catatan harian ini merupakan ungkapan yang jujur
tentang suatu keadaan bersifat pribadi dan tidak boleh orang
lain membacanya. Sifat rahasia dari diary itu aku simpan
dengan hati-hati bahkan aku kunci rapat-rapat. Diary terasa
sangan personal, karena kadang juga mengandung banyak
rahasia pribadi yang tidak boleh orang lain tahu. Diary erat
kaitannya dngan orang jadul seperti saya.
Buat aku diary tidak akan tergantikan oleh
media sosial atau blog, ada hal-hal yang biar menjadi
rahasia pribadi tidak boleh diketahui orang lain.
meskipun aku tidak lagi menulis diary. Namun tulisan
untuk konsumsi sendiripun kadang saya lakukan tentu
83

saja tidak menggunakan buku melainkan menggunakan
laptop biarlah diary menjadi cerita usang yang indah
untuk dikenal.

84

Membuka Jendela Dunia
oleh : Muhammad Faisal Amir

As a general rule the most successful man in life is the
man who has the best information. / Aturan utama untuk
menjadi orang yang paling sukses dalam kehidupan adalah
orang yang kaya akan sebuah informasi dan pengetahuan.
Benjamin Disraeli (1804 - 1881). Saya terpaku dengan kata-kata
filusuf dari bapak Benjamin Disraeli diatas bahwasannya, kiat
untuk menjadi orang yang sukses di dunia adalah kita harus
memperkaya diri kita dengan informasi dan pengetahuan yang
luas atau dengan kata lain Orang yang menguasai Informasi
akan menguasai Dunia (New York Times). Saya memang setuju
akan hal tersebut. Setiap hari kita secara langsung atau tidak
langsung memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan yang
masuk lewat panca indra kita, baik melalui media elektronik,
media cetak, perbincangan antar teman, ataupun melihat dan
mengamati sebuah peristiwa. Hal-hal tersebut merupakan
bukti nyata bahwa kita selalu diperkaya akan informasi.
85

Saya sangat menyukai cerita history, baik sejarah negara
Indonesia, maupun sejarah dunia. (Firaun, Adolf Hitler,
Mussolini, Soekarno, Alexander Graham Bell, Francis Drake,
Oda Nobunaga, Mahatma Gandhi, Albert Einstein, dsb.) adalah
tokoh-tokoh sejarah yang hebat serta mampu mempengaruhi
dan merubah pandangan dunia. Setiap negara, provinsi, kota,
maupun kecamatan mempunyai cerita bersejarah tersendiri.
Bahkan, setiap orang mempunyai biografi dan cerita tersendiri,
sama halnya dengan menulis. Dalam hal menulis, baik menulis
karya ilmiah ataupun karangan bebas semua orang dapat
menulis. Karena di dalam benak diri tiap individu, mereka
memiliki cerita tersendiri. Guru, Petani, Dokter, Pejabat,
Pengusaha, Ibu rumah tangga, Buruh, dsb dapat menulis. Tidak
ada batasan stratifikasi sosial dalam hal menulis selama tulisan
tersebut mendidik, memberikan informasi dan pengetahuan
yang dapat berguna bagi orang lain.
Saya ingin sekali melihat dunia, menjelajahi dunia, dan
mempelajari sejarah yang terkait di setiap negara yang ada di
dunia. Tak heran, sebuah buku memiliki julukan buku adalah
cakrawala dunia. Dengan membaca sebuah buku, kita seolah-
86

olah membaca informasi yang ada di dunia ini. Apabila di dunia
ini sudah tidak ada lagi orang yang berminat di bidang tulis-
menulis. Lalu, siapa yang akan menceritakan sejarah yang
mampu merubah dunia kepada generasi muda kita?. Mereka
sepatutnya berhak mengetahui cerita bersejarah dibalik dunia
ini. Semua orang berhak menulis, sehingga dunia ini selalu
dipenuhi oleh ilmu pengetahuan, cerita, dan sejarah tanpa
henti. Selanjutnya, kita dapat melihat cakrawala dunia menurut
pandangan orang yang berbeda-beda.
Di negara maju, contohnya Negara Jepang. N.E.E.T yang
merupakan kepanjangan dari Not in Education, Employment,
nor Training (Tidak sedang dalam menjalani Pendidikan,
Pekerjaan, maupun Pelatihan) dengan kata lain Pengangguran.
Adalah aib bagi negara mereka. Para pengangguran disana
diperlakukan dengan tidak menyenangkan. Seperti; tidak
dihormati, menjadi bahan perbincangan dan dijauhi serta
dibenci oleh masyarakat sekitar atau lebih tepatnya sampah
masyarakat / negara. Mereka beranggapan bahwa N.E.E.T
adalah orang yang malas, dan tidak mau berusaha. Sedangkan,
Label negara mereka adalah Negara yang Maju. Tak heran,
87

istilah atau julukan N.E.E.T sangat melekat bagi para
Pengangguran disana. Mengapa mereka menjadi
pengangguran? Mengapa mereka tidak memiliki pendidikan
atau pekerjaan?. Banyak sekali pertanyaan dan jawaban yang
terlontar, Apakah hal tersebut masalah pribadi, keluarga
ataupun masalah ekonomi. Hal yang kemudian terjadi kepada
para pengangguran disana akhirnya memberikan saya sebuah
ide. Kenapa para pengangguran disana tidak membuat dan
menulis sebuah buku saja?. Jika seseorang pengangguran
disana memiliki hobi di bidang teknologi, maka ia bisa menulis
Tips & Trik merawat Komputer, atau Menjaga Printer Agar
Tidak Rusak. Jika ada yang memiliki hobi berkebun, maka ia
bisa menulis Merawat Sunflower, atau Menanam Tomat
Segar. Sesuai hobi dan kesukaan mereka masing-masing.
Dengan demikian, mereka memiliki pekerjaan sebagai penulis
buku daripada harus dijauhi masyarakat sekitar.
Menurut saya, menulis adalah sebuah kegiatan tulis
yang dimana seseorang mencurahkan isi pikirannya ke dalam
sebuah tulisan. Sama halnya dengan pencipta lagu. Mereka,
mencurahkan isi hatinya melalui nada dan lirik yang
88

diciptakannya. Sama juga dengan halnya seorang seniman.
Mereka mencurahkan isi hatinya melalui lukisan dan aksi
teatrikal. Bingung? Ragu? Bimbang? dengan apa yang kita
tulis?, sebenarnya sifat-sifat tersebut tidak ada, melainkan
rekonstruksi pesan dari pikiran atau otak kita sendiri.
Di dunia ini terdapat dua energy, yaitu; energi positif
dan negatif. Bisa dibilang dalam sebuah kompas yaitu arah
utara dan selatan yang sangat berlawanan. Tinggal bagaimana
kita mengarahkan diri masing-masing? menuju utara atau
menuju selatan? energi positif atau negatif?. Dalam contoh
sehari-hari, mungkin ada orang yang semasa hidupnya merasa
sering gagal. Seperti selalu gagal dalam mencari sebuah
pekerjaan atau istilah N.E.E.T tadi. Bisa jadi, orang-orang
seperti mereka dikelilingi oleh energi negatif atau keputus-
asaan. Mereka bertanya-tanya dalam benak angan dan pikiran
mereka, Kenapa saya selalu gagal? kenapa saya tidak bisa
mendapatkan pekerjaan? Apa yang harus saya lakukan demi
mendapatkan sebuah pekerjaan? dan berbagai pertanyaan
lain yang terlontar dalam isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan
tak terjawab tersebut menjadi pukulan bagi mereka dan
89

bersarang di otak sebagai energi negatif yang kemudian
merasakan trauma dan Keputus-asaan yang mendalam,
sehingga menjadi pengangguran.
Banyaknya energi negatif yang masuk kedalam otak pun
masih dapat dirubah dengan energi positif selama kita
mempunyai sikap optimis, dan kita wajib mempunyai sikap itu.
Orang-orang yang memiliki sikap optimis merasa bahwa
mereka selalu bisa dalam segala hal dan selalu memandang
masa depan tanpa menoleh kebelakang serta melihat
kegagalan masa lalu. Dalam kamus mereka tidak ada kata tidak
bisa melainkan saya harus bisa!. Meskipun mereka sering
gagal, namun tidak mudah menyerah. Pertanyaan-pertanyaan
yang bersarang di otaknya bisa dijawab di lain hari ketika
mereka sudah menjadi seseorang yang sukses.
Saya terkesan dengan cerita Pak Herman, guru semasa
saya sekolah di SMK. Beliau, menceritakan tentang kisah Bapak
Honda yang memiliki perusahaan Bermotor merk Honda.
Dahulu, awal bapak Honda sebelum sukses memiliki
perusahaan motor yang besar. Bapak Honda kesusahan akan
90

mengenalkan atau mempresentasikan produknya kepada
perusahaan-perusahaan terkenal. Bapak Honda sering ditolak
oleh perusahaan, produk motor asli buatan negaranya sendiri
pun ditolak mentah-mentah oleh perusahaan-perusahaan yang
ternama. Namun, bapak Honda tidak pernah menyerah. Sudah
beribu-ribu kali bapak Honda mengetuk pintu perusahaan, dan
sudah beribu-ribu kali dia ditolak demi mensukseskan
produknya. Setelah sekian lama dia mengetuk pintu demi pintu
perusahaan. Akhirnya, terdapat sebuah perusahaan yang
mampu menerima dan mewujudkan impiannya. Mimpinya pun
terkabul, Perusahaan Motor Merk Honda kini sukses besar. Tak
hanya, di negaranya Jepang. Namun juga di seluruh dunia
termasuk di Negara Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang
merasa pernah menolak Produk Bapak Honda pun merasa
menyesal. Tetapi, apa boleh buat. nasi sudah menjadi bubur
mereka tidak pernah menyangka bahwa produk bapak Honda
akan sukses besar serta segalanya berada diluar perhitungan
mereka. Cerita ini menanamkan kesan di dalam benak pikiran
kita, bahwa kita semua harus memiliki sikap optimis. Sebanyak
apapun keputus-asaan yang menggerogoti otak kita, selama
91

kita optimis, kita masih mempunyai sebuah harapan untuk bisa
melakukan apa yang ingin kita lakukan.
Apa sih manfaatnya menulis ? Apa sih untungnya
menulis bagi kita ?. Banyak sekali manfaat serta untungnya
dalam hal menulis. Untungnya tidak hanya dirasakan sang
penulis, namun pembacanya pun juga mendapatkan ilmu yang
diceritakan oleh sang penulis. Jadi, sang penulis disini menjadi
storyteller (pendongeng) sebuah cerita di dalam karya-karya
tulisnya. Ilmu tidaklah hanya untuk dipendam sendiri, namun
juga wajib dibagikan kepada orang lain.
Setiap orang punya alasan tersendiri di bidang tulis-
menulis. Ada yang menulis karena hobi atau cinta, ada yang
menulis karena memang pekerjaannya sebagai penulis buku,
ada yang menulis karena sebagai curhatan hati. Semua orang
bebas dan berhak untuk menulis, tanpa memandang kelas
sosial. Umur, pekerjaan, usia, ataupun jenis kelamin semuanya
memiliki hak yang sama untuk menulis. Selama isinya dapat
bermanfaat kepada orang lain, kenapa tidak ?. Dengan
demikian, dunia ini tidak akan pernah kehilangan warnanya.
92

Sehingga, kita dapat memandang sebuahcerita dan cakrawala
dunia yang begitu luas.









93

Diary Versus Artikel
oleh : Marina Tika Raya Oktavia Sibuea

Dimulai dari kebisaaan dan kegemaran saya, merekam
dalam ingatan tentang kejadian apa saja yang sepanjang hari
telah saya lewati dan menuangkannya melalui tulisan yang
sejak kecil saya buat seperti Diary. Saya merasa, dengan
menuangkan segala pengalaman, baik itu pengalaman pahit
maupun sukacita, membuat merasa lebih lega dan bisa
melepaskan segala kepenatan pikiran. Menulis juga membantu
ingatan saya menjadi lebih kuat, karena kebisaaan mengamati
tiap kejadian sekecil apapun di sekitar lingkungan. Dari sinilah
kebisaaan menulis saya mulai terasah.
Kebisaaan menulis Diary semakin saya tinggalkan
seiring beranjak dewasa. Saya beralih menyukai Novel, bacaan
yang mampu membangkitkan imajinasi mengenai keadaan
atau kejadian yang dibaca. Hal ini semakin saya dalami, dengan
mencoba menulis novel karya sendiri,s ebagai novel pertama.
Sungguh menantang untuk menulis karya sendiri. Tantangan
94

yang berbeda jika di bandingkan dengan saat menulis diary.
Novel adalah suatu karya yang nantinya juga dapat di baca
orang banyak dan khalayak. Sedangkan dahulu saya menulis
diary, seperti rahasia kecil dari pengalaman hidup.
Semakin hari saya menerima banyak pengetahuan dan
pengalaman. Suatu hari dari hasil pembelajaran (saya lupa
tepatnya kapan) kami mendapatkan tugas untuk menulis
artikel. Pertama, saya merasa bingung, artikel itu apa?. Seperti
apa artikel ini?. Ternyata saat guru menjelaskan artikel saya
menerima pengertian sangat berbeda dengan pengalaman
menulis yang saya pelajari selama ini. Dalam menulis artikel
saya temukan berbagai aturan, tata, dan etika penulisan, yang
sebelumnya sangat berbeda dengan tulisan-tulisan yang sudah
dibuat. Jika dalam penulisan diary, saya terbiasa terbuka, maka
dalam artikel harus tahu aturan tentang ruang publik. Jika
kejadian itu kontra dengan kepribadian saya (sedang marah
dengan seseorang), maka bisa saja dengan seenaknya
menuliskan kata-kata kasar yang sebenarnya tidak patut di
ucapkan, karena tulisan ini hanya di ketahui saya sendiri.
Berbeda dengan artikel, baik tulisan itu akan di cantumkan di
95

majalah maupun di Koran tentunya akan menjadi tidak sopan
dan tidak masuk akal. Jika tata penulisan di diary kita samakan
dengan penulisan dalam artikel. Maka melalui mata kuliah
Teknik Mencari dan Menulis Berita (TMMB) dan Penulisan
Artikel Populer (PAP), saya semakin mengerti tata penulisan
dan itu semakin memperkaya \dalam karya tulis. Hal ini juga
menunjukkan bahwa tiap model tulisan yang kita tulis tidak
dapat di sama ratakan karena semua memiliki aturan dan
dibutuhkan penulisan sesuai konteks. Konteks di sini menurut
saya menjadi sangat penting dalam menulis berita, artikel
maupun jenis karya tulis lain. Bayangkan saja bagaimana jika
artikel di Harian Tempo kita terapkan sama dengan penulisan
artikel di majalah Gadis, tentu hal ini akan sangat bertolak
belakang, dan mungkin bahkan maksud yang disampaikan
penulis tidak sampai kepada konsumen karena gaya penulisan
yang terlalu kaku. Karena itu sasaran konsumen yang kita tuju
sangat menentukan gaya bahasa yang akan kita tuliskan,
sehingga mampu di baca dan diterima oleh publik.
I. Pengetahuan Konteks Perihal Topik,Tema, dan
Penjudulan
96

Struktur dasar organisasi tulis menulis, dalam konteks
penulisan ini merujuk pada cara kita menentukn topik,
tema dan judul tulisan (Catatan: struktur adalah cara
menyusun atau membangun sesuatu-WW). Topik atau
pokok masalah adalah pokok pembicaraan. Topik
tersedia secara melimpah di sekitar kita, seperti
persoalan sosial-budaya, teknik, keuangan, dan musik.
Menentukan topik, berarti kita harus memilih hal atau
gagasan apa yang akan di utamakan dan menjadi
bahasan pokok dalam artikel kita. Itulah sebabnya
dalam memilih topik perlu dipertimbangkan beberapa
hal yang benar-benar menguntungkan dari sudut
penulis. Perhatikanlah hal-hal berikut ini (lihat:
Brook,1979; Sabarti,1988; Wahyu, 2003; E.Zainal 2003).
Topik tersebut bermanfaat dan layak di bahas.
Bermanfaat, berarti bahasan tentang topik itu
akan memberikan sumbangan pada ilmu atau
profesi kita. Layak di bahas, berarti topik itu
memang memerlukan pembahasan yang sesuai
dengan bidang yang kita tekuni. Topik-topik
97

yang tidak bermanfaat dan tidak layak untuk di
bahas, sebagai contoh,kecenderungan kawin-
cerai para selebritas kita. Aktivitas sehari-hari
para istri kepala daerah, atau jumlah sepatu
dan jenis pakaian dalam yang di koleksi artis
dangdut kita.
Topik tersebut harus topik yang paling menarik
menurut kita. Topik yang menarik perhatian kita
otomatis akan meningkatkan kegairahan kita
dalam mengembangkan tulisan. Bayangkan
bagaimana kegairahan kita tatkala menulis topik
Penggusuran pedagang kaki lima tanpa upaya
relokasi. Mencari topik yang menarik, dapat
pula kita lakukan dengan memperhatikan
headline surat kabar atau berita-berita terkini
yang di sajikan surat kabar: masalah aktual apa
yang sedang di angkat surat kabar itu;
Topik tersebut cukup kita kenal dengan baik
(berada di sekitar kita). Berada di sekitar kita
98

berarti di sekitar pengalaman atau pengetahuan
kita. Hindarilah topik yang jauh dari diri kita,
karena akan menyulitkan kita dalam
mengarangnya (terutama dalam hal data dan
informasi). Agar dapat menulis dengan baik, kita
perlu memiliki pengetahuan yang baik mengenai
topik itu. Untuk menulis tentang Bahaya obat-
obatan bagi remaja, sebelumnya kita mesti
memahami seluk-beluk obat-obatan tersebut.
Akan tetapi, pemahaman itu bukan berarti harus
bersifat empirik.
Topik jangan selalu baru. Baru, sekalipun relatif,
mengakibatkan bahan pendukung (data dan
informasi) sulit di cari. Artinya, data dan fakta
objektif tidak kita miliki. Kita jadinya akan
berkutat di seputar subjektivitas belaka, angan-
angan dan bahkan impian. Dengan demikian,
topik kita hendaknya memiliki sumber acuan
yang akan memberikan informasi mengenai
pokok masalah yang akan kita tulis.
99

Bayangkanlah, bagaimana kita akan
mengembangkan topik Perjalanan rahasia
George W.Bush ke Irak dalam rangka
memperingati hari thanksgiving, sementara
perjalanan baru berlangsung dua hari lalu?





100

Pena Terasing
oleh : Maya Adinar

Keterasingan membuat saya merasa terbelenggu oleh
kehidupan. Kadang terasa tidak adil ketika hidup saya yang
stabil dan nyaman dirombak oleh takdir yang mengharuskan
saya menjalani kehidupan kehidupan baru yang asing. Namun
setidaknya saya dapat memulai dan memberanikan diri untuk
melanjutkan kemahiran goresan pena sehingga kini dapat
membantu dan menunjang kehidupan serta untuk masa depan
cerah. Saya awali goresan pena dengan pengalaman terasing
dari kehidupan yang tidak pernah terduga. Barito Selatan,
tepatnya daerah Buntok Kalimantan Tengah. Sebuah kota kecil
diujung kabupaten menjadi saksi jatuhnya tinta pertama yang
termuat di majalah MAMETA (Majalah Menengah Pertama).
Sebuah majalah bulanan sederhana yang di peruntukkan untuk
siswa siswi menengah pertama di daerah itu.
Mutasi ayah yang membuat keluarga kami
meninggalkan hiruk pikuk masyarakat berkebudayaan Jawa
101

Timur dengan aksen khas kota Gresik dan berpindah ke tempat
sepi dan berbalik seratus delapan puluh derajat. Meninggalkan
semua kehidupan rutin, Kerabat, kampung halaman, dan
pondok tercinta merupakan sesuatu yang berat. Terlebih lagi
kondisi saya yang masih dalam tataran Sekolah Menengah
Pertama, kelas dua semester ke dua membuat situasi dan
kesanggupan dalam beradaptasi jauh berkurang. Pertama
menginjakkan kaki di bumi ber-rawa itu, tersurat perbedaan
yang signifikan dalam bermasyarakat dan berkebudayaannya.
Mulai dari agama, tiga agama mayoritas yang tersorot adalah
Islam, Nasrani dan Kahayanan. Penduduk asli kota Buntok
mayoritas beragama Nasrani, masyarakat pendatang baik
berasal dari Jawa maupun dari kabupaten lainnya mayoritas
beragama Islam. Sedangkan masyarakat dari pedesaan adalah
beragama Kahayanan.
Rumah dan bangunan serta jembatan yang semuanya
berdiri diatas rawa rawa membuat keadaan semakin khas.
Gerakan dan derik antar kayu yang bergerak ketika terinjak
menjadi bagian dari alunan tiap detik waktu yang terlewat.
Ketika ada suara babi yang riuh di pekarangan tetangga, maka
102

akan jadi pertanda bahwa sebentar lagi si empunya akan
menyelenggarakan pesta. Banyak kenangan tentang proses
belajar mengajar yang telah mengakar dari tahun ke tahun.
Seluruh kota adalah sebagian besar berawa membuat hujan
menjadi kendala sekaligus anugrah bagi seluruh siswa siswi.
Ketika sungai barito meluap dan rawa penuh air, sekolahan
beserta akses menuju ruang belajar banjir. Terlebih lagi ketika
hujan badai dan petir melanda, tak kenal siang maupun malam.
Tidak ada hiburan, Water boom, Mall, pusat
perbelanjaan Modern, maupun obyek wisata. Hanya ada sungai
yang terbentang luas menjadi salah satu tempat hiburan
masyarakat. Sungai Barito akan menjadi pantai pasir putih
ketika air sungai surut. Sebaliknya, akan menjadi kolam raksasa
yang sanggup menenggelamkan orang dewasa ketika air
pasang. Pasar yang terbagi menjadi dua area, yakni area basah,
berdiri diatas sungai ketika mulai pasang, berisikan sayur mayur
dengan harga dua kali lipat serta ikan, ayam, bebek maupun
udang sungai yang seukuran paha orang dewasa. Di tengah
kota terdapat pasar modern yang berisi dagangan kering.
103

Keadaan yang asing membuat saya tertertekan.
Terlebih lagi ketika pertama pindah saya sekeluarga
dihadapkan oleh musim ulat bulu. Ditiap jengkal serambi
rumah, mobil, maupun jendela terdapat ratusan bahkan ribuan
ulat bulu yang menyebar merata. Hal ini membuat saya semakit
stress. Seorang guru matematika yang melihat potensi saya
membimbing dalam menulis. Beliau mengharuskan saya
menulis kegiatan dan kejadian yang telah terlewat dalam
sebuah buku. Perlahan tapi pasti, kebudayaan asing, kehidupan
asing, situasi asing, gambaran kehidupan asing, mlai dari yang
biasa sampai ter-ekstrem saya tuliskan.
Bermula dari nilai matematika saya yang turun sangat
drastis jika dibandingkan bulan awal masuk ke sekolahan baru
itu. Guru matematika itu secara privat menawarkan saya untuk
les matematika. Namun, sampai tiga bulan selanjutnya, masih
belum ada perkembangan yang signifikan. Akhirnya beliau
mengharuskan saya menulis minimal tiga ratus kata dalam
buku diary, tentang semua yang saya rasakan. Lambat laun saya
merasa menemukan cara mengusir keterasingan terhadap
104

lingkungan baru tempat hidup saya. Puluhan buku diary masih
tersimpan rapi dalam lemari kamar saya.
Hinga suatu ketika, guru matematika memberikan
sebuah majalah kepada saya, beliau berpesan agar mulai
menulis untuk menunjukkan diri saya yang sebenarnya. Dengan
keadaan saya yang menggunakan jilbab ditengah 900 siswa
SMPN 1 Dusun Selatan/ Buntok, namun tetap survive apa
adanya itu, beliau ingin muridmurid didiknya yang mempunyai
keinginan untuk berjilbab dapat berani melakukannya. Awalnya
saya tidak tertarik dengan dunia tulis menulis. Yang ada
dipikiran saya, akan sangat banyak aturan dalam penyampaian
perasaan serta maksud yang ada diotak saya. Akan banyak
editingediting yang merusak kata demi kata yang ingin saya
pergunakan. Banyak hal yang akan terbuang karena tidak layak
muat dalam majalah itu, dan saya takut merasa kecewa.
Sampai ketika terjadi banjir bandang dilingkungan itu.
Membuat inspirasi saya dalam menulis hilang sewaktu banjir
bandang menelan rumah guru matematika itu dan akhirnya
meninggalkan kami. Keinginan terakhirnya adalah ketika saya
105

dengan memakai jilbab menjadi sebuah cerita mengalahkan
ratusan cemooh orang orang disekitar saya dan keteguhan
menjadi satu satunya siswi berjilbab di kompleks pelajar
termuat di majalah khusus tingkatan SMP. Keinginan guru
matematika itu saya wujudkan dalam bentuk puisi dan termuat
di majalah seperti yang diinginkannya.
Kini, saya melanjutkan perjuangan dalam menuntut
ilmu sesuai dengan objek yang saya minati, yakni Program Studi
Ilmu Komunikasi di luar pulau Jawa kembali. Caracara adaptasi
dengan menggunakan Pena Terasing yang telah diajarkan
almarhumah guru matematika yang sangat membantu saya
dalam berbagai hal. Sering tugas luar kota yang mengharuskan
saya luwes dengan kebudayaan dan keterbatasan kota kota
tersebut membuat tulisan makin beraneka ragam. Banyak
makna kehidupan yang dapat menggantikan guru matematika
mendampingi saya dalam menggoreskan pena dimasa kini serta
masa mendatang.
Ketika saya mulai menekuni bidang fotografi sebagai
hobi sekaligus mengasah kemampuan dan kemahiran
106

mengambil gambar, saya selalu mencari maknamakna
kehidupan yang terselip di tiap foto yang diambil. Semakin
banyak foto terkumpul, semakin banyak pula imaji yang
tercipta. Mengungkapkan realita yang sebenarnya adalah suatu
kebanggaan tersendiri bagi saya. Sederet kisah dan
pengungkapan realita versi saya selalu menuai kritik dan
koreksi dari pihak pihak disekitar. Hal ini membuat saya lebih
senang terus berkarya dan mencurahkan segala yang dirasa,
dilihat serta dijalani kedalam folder pribadi yang hanya orang-
orang tertentu saja yang bisa membacanya. Kini, menulis
adalah salah satu kewajiban agar jiwa dan hati saya terasa
tenang.

107

Menulis Adalah Hidupku
oleh : Nurul
Saat kecil, aku melihat salah seorang keluargaku sedang
asik menulis. Dialah ayahku, beliau terlihat begitu sangat
berkonsentrasi dan berhati-hati. Aku tidak mengerti, apa yang
sebenarnya sedang ayahku tulis. Sehingga membuat kening
ayahku mengkerut. Bertambah tahun bertambah pula usiaku.
Saat itu usiaku adalah lima tahun, dan tiba saatnya aku
bersekolah. Aku begitu sangat antusias saat aku tahu bahwa
aku akan bersekolah di Taman kanak-kanak. Saat itu aku
melihat banyak sekali macam macam permainan didalam
sekolahku. Itukah yang dinamakan dengan sekolah? mengapa
aku begitu sangat antusias untuk bersekolah?. Ternyata aku
sangat ingin bersekolah, karena aku melihat begitu asyiknya
bila melihat orang-orang disekitarku menulis sehingga
membuatku sangat ingin sekali mengetahui cara menulis. Hal
itu timbul karena rasa penasaranku ketika aku melihat orang-
orang disekitarku, seperti; ayahku yang waktu itu sangat serius
sekali dan terlihat asik sekali menuliskan sesuatu. Bel berbunyi,
tanda jam kelas dimulai. Aku tidak tahu apakah yang akan
108

kulakukan, teman-temanku dan guruku. Guruku mengambil
sepotong kapur lalu menggoreskannya keatas papan. Tulisan
itu sangatlah indah dimataku, tulisan itu menggambar eloknya
lambaian tangan guruku. Itu kah sebuah tulisan? Rasa
penasaranku bertambah. Aku terus memandangi tulisan itu,
meski tidak ku mengerti baca dan artinya. Itu membuatku
benar-benar semakin ingin belajar menulis. Waktu pun belum
berjalan, guruku mengajariku satu per satu abjad dan angka.
Menulis tidak semudah yang aku kira, satu per satu aku
diajarkan menulis huruf, a, b, c, d, hingga z. Sulit bagiku untuk
menirukan tulisan huruf a yang guruku sedang contohkan
padaku. Walaupun sulit aku terus berusaha, kamu pasti bisa
nak! itulah kata ibuku. Aku terus bersemangat dan terus
berusaha. Hari-haripun mulai berlalu, aku masih saja berada
diatas kesulitanku. Suatu ketika, akhirnya akupun dapat
menulliskan huruf-huruf dan abjad-abjad itu dengan baik
walaupun tidak sebagus tulisan guru TK ku.
Kini aku telah memasuki sekolah dasar. Didalamnya
tidak ada lagi mainan. Jangankan bermacam-macam, satu
macampun tidak ada. Tidak ada lagi nyanyian-nyanyian serta
109

permainan. Semuanya berubah. Suasana, tempat, teman, juga
gurunya. Hari pertama aku sekolah dasar. Aku berangkat
dengan langkah kaki yang semangat sambil bernyanyi disetiap
langkahku. Setibanya disekolah aku berkenalan dengan teman-
teman baruku. Semakin hari aku semakin terbiasa dengan
lingkungan sekolahku. Aku juga semakin senang untuk
bersekolah. Hingga suatu hari tepatnya saat aku duduk di kelas
dua Sekolah Dasar. Saat itu aku lelah selesai melalui hari liburan
kenaikan kelas. Hari kedua adalah hari dimana ada pelajaran
bahasa Indonesia. Guru sastraku memulai pengajarannya
dengan bercerita saat mempergunakan waktu liburannya.
Setelah selesai bercerita, kemudian guruku menyuruh saya dan
teman-teman untuk menuliskan kisah liburan yang dilakukan.
Sontak aku kaget ditambah bingung. Aku bertanya pada diriku
sendiri apa yang harus aku lakukan. Aku bingung harus memulai
cerita ini dari mana. Aku terus berpikir dan tidak tahu
bagaimana cara mengawalinya. Dengan keteguhan hati yang
besar aku terus mengerjakannya. Bel tanda pelajaran
berakhirpun berbunyi, tetapi aku belum juga menuntaskan
pekerjaanku. Setibanya dirumah, aku bercerita pada kakakku
110

mengenai tugas dari guru sastraku. Tentu saja ia ingin
membantu dan akhirnya tugaskupun terselesaikan.
Hari menjelang pagi itulah saatnya aku pergi kesekolah.
Guru sastraku menyuruh aku dan teman-temanku untuk
membacakan cerita yang sudah kami tulis didepan kelas. Aku
membacanya dengan penuh keseriusan dan guruku berkata,
liburan yang menyenangkan. Membuat suatu karangan
ataupun membuat suatu tulisan tidaklah semudah yang aku
kira. Kegiatan semacam itu terus ada disetiap pelajaran
disekolahku. Sekolah Dasar, sekolah Menengah Pertama,
kegiatan itu selalu ada. Aku selalu mengalami kesulitan yang
sama yaitu tidak tahu cara mengawali sebuah cerita dan cara
mengarang alur yang akan aku ceritakan. oh Tuhan, ternyata
menulis itu sangat sulit, aku tidak berbakat untuk menulis.
Keputus asaanku semakin kuat. Hari-hari bersekolahku terus
berlalu. Tetapi aku terus menjalaninya dengan penuh
semangat.
Kini aku telah beranjak remaja. Aku beropini bahwa
berhitung lebih menyenangkan dan lebih mengasikkan,
111

daripada harus menulis ataupun mengarang. Opiniku tentang
hal itu adalah menulis sangat membosankan memberiku titik
kejenuhan dalam belajar dan benar-benar tidak
menyenangkan. Kesulitan akan hal itu selalu ada saat pelajaran
Bahasa Indonesia, memulai materinya dengan pengalaman
atau bercerita. Aku tidak suka sekali menulis. Saat harus
menulis sesuatu, aku merasakan hal bagaikan jatuh dari atas
pohon dan aku ingin teriakkan kata menulis itu menakutkan.
Namun, suatu ketika aku mengenal suatu materi yaitu
puisi. Guruku menggambarkan suatu puisi padaku tentang cara
menuliskannya, cara membuatnya dan cara membacanya.
Pembuatan puisi bagiku adalah sesuatu yang sangat mudah
untuk dimengerti. Tidak perlu bingung untuk mengawalinya
karena semuanya sudah tertata rapi dalam ingatan. Puisi
pertama yang aku buat adalah suatu puisi yang menjelaskan
bahwa aku kini tidak takut untuk menulis. Puisi itulah yang
mengawali aku suka menulis seperti halnya orang lain. Satu per
satu waktu terus kujalani. Menulis bukanlah suatu kendala lagi
bagiku.
112

Hari pertama masuk sekolah, kini aku telah berada di
Sekolah Menengah Atas. Menulis bukanlah hal yang menjadi
kendala lagi. Menulis memang bukanlah hobi untukku. Namun
menulis akan tetap ada dalam setiap perjalanan hidupku.
Tugas-tugas sekolahku mulai menumpuk. Mulai dari
matematika, IPA, IPS, Bahasa Asing. Semua itu tidak
membuatku enggan untuk belajar menulis. Hasil tulisanku
memang jauh sekali dari kata sempurna, sebab itu aku terus
berusaha. Dari semua yang selalu aku kerjakan menulis selalu
membantu aku, saat aku menulis aku dapat merasakan
ketenangan hati. Tidak aku buat dalam bentuk diari, tidak juga
dalam bentuk puisi maupun cerpen. Namun aku selalu
mengemas ceritaku dalam bentuk tulisan yang aku tulis dalam
secarik kertas yang kemudian aku terbangkan impiannya agar
Tuhan dapat membaca isi hatiku. Menulis juga aku gunakan
untuk mencatat waktu luangku. Namun aku gunakan di sosial
media yang ada, sebagai tempatku mengarang. Dengan
maksud agar siapa saja yang membaca tulisanku dapat
memahami, mengerti, dan dapat merasakannya juga. Serta
113

dapat menjadi gambaran ataupun tujuan yang sama bersama
impian yang berbeda.
Kini menulis adalah suatu kebiasaan yang
berdampingan dalam jalan hidupku. Bukan cita-cita bukan juga
suatu hobi namun merupakan kebiasaanku. Jika dulu aku
pernah berkata menulis itu membosankan, menjenuhkan,
bahkan menakutkan, sekarang aku akan katakan dan
beritahukan pada semuanya bahwa menulislah berkaryalah
dengan goresan bolpoin yang ada ditanganmu. Apakah kita bisa
lari dari yang namanya menulis?. Jawabannya tentu tidak,
disetiap kehidupan kita mengandung berbagai macam cerita
dan kegiatan dan saat itulah sebuah tulisan pasti ada
mendampingi hidup kita. Percayalah menulis tidak akan
merugikan dirimu sedikitpun, namun akan memberikan
ketenangan hati dan jiwa. Ketenangan yang tak dapat kamu
temukan. Jadi, ayo menulislah mulai dari sekarang bersamaku
dan jangan pernah ada kata menyerah dan menyesal.


114

Kontribusi Cendekiawan Muda
oleh : Okky Perdana Putra

Istilah cendikiawan yang sudah umum dan sering kita
dengar, yang dilihat sebagai suatu hal yang sangat bagus dalam
asumsi kita. Cendikiawan atau orang yang mempunyai jiwa
intelektual yang luas dengan pemikiran-pemikiran ilmiah yang
menjadi keinginan dan sesuatu hal yang menggebu-gebu serta
diidam-idamkan. Banyak terdapat jiwa-jiwa berintelektual
tinggi di zaman yang modern seperti sekarang ini, tapi masih
sedikit sekali cendikiawan berintelek tinggi yang benar-benar
berguna bagi masyarakat, yang benar-benar berkontribusi
nyata kepada masyarakat. Apa gunannya memiliki intelektual
tinggi tetapi tidak dapat disalurkan dengan baik kepada
masyarakat. Bahkan ada yang tidak tersalurkan sama sekali
atau hanya untuk kepentingan diri sendiri. Begitu miris-nya dan
egoisnya jiwa-jiwa ini.
Banyak para intelek yang sombong dan bangga
terhadap dirinya sendiri atas ilmu yang mereka miliki. Mereka
merasa dengan hasil besar membawa kemakmuran,
115

kemakmuran apa?. Untuk dirinya sendiri, bukannya kemajuan
yang didapat, tetapi kemerosotan moral yang terjadi. Makanya
masih banyak disana sini kesenjangan yang terjadi. Hal ini
menunjukan masih sedikitnya kepekaan sosial dan juga
menunjukan pentingnya kontribusi terhadap masyarakat yang
secara otomatis memajukan bangsa dan negara tercinta ini.
Kontribusi sendiri tidak terbatas dengan hal-hal ini-itu, tetapi
memikirkan sesuatu hal yang baru, produktif dan dapat
dinikmati serta berguna bagi masyarakat adalah suatu hal yang
kontribusi, apapun itu! Besar ataupun kecil, dan sederhana
maupun megah. Jadi tedapat banyak sekali peluang yang bisa
dilakukan untuk berkontribusi kepada masyarakat, walaupun
bukan seorang cendikiawan sekalipun.
Bentuk-bentuk kontribusi sendiri yang abstrak karena
setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menjadi
sesuatu yang berguna bagi orang lain. Kontribusi tidak harus
mengadakan suatu kegiatan, tetapi dengan berpartisipasi
dalam kegiatan-kegiatan masyarakat pun adalah kontribusi.
Jadi dengan kontribusi, menentukan pandangan dan peran kita
dalam masyarakat. Walaupun seorang itu tidak berintelektual
116

luas, tetapi ia berpartisipasi dan berkontribusi ke dalam
masyarakat, akan lebih dipandang baik oleh masyarakat
daripada seorang yang berintelektual luas tetapi hanya
berdiam diri, tidak menggunakan jiwa dan kelebihannya
kepada masyarakat.
Pemuda-pemudi adalah salah satu harapan bangsa,
disaat itulah semangat masih menggebu-gebu, waktu masih
lapang, pikiran masih jernih, dan banyak hal yang bisa dilakukan
di masa ini. Orang yang berkecukupan saja ilmunya bisa
menjadi sosok yang besar karena langkah awalnya dengan
berani berkontribusi. Sekarang banyak cendikiawan yang
berintelektual luas, hanya saja mereka tidak ada keberanian
untuk terjun ke masyarakat. Banyak cendikiawan yang
berintelek luas juga memiliki keberanian tetapi dia egois,
mementingkan diri sendiri. Bahkan ada yang rela membodohi
orang lain ataupun masyarakat hanya untuk kepentingan dan
keinginan dirinya sendiri. Itulah kebanyakan jiwa intelektual
Indonesia. Penyalahgunaan ilmu sekarang ini banyak sekali
terjadi. Intelektual yang seharusnya memajukan bangsa dan
negara Indonesia, tetapi banyak intelek yang menggunakannya
117

untuk kepentingan dirinya sendiri. Korupsi, jual beli hukum, dan
sebagainya sangat sering kita dengar di negara ini, sampai
panas telinga ini mendengar isu-isu yang tidak kunjung tuntas
penyelesaiannya. Hukum sudah tidak tegak lagi. Moral sudah
tak berarti lagi. Semua itu hanya karena egoisme kepentingan
diri sendiri. Disinilah masyarakat berharap besar kepada
munculnya sosok cendikiawan muda yang intelektual, prestasi,
dan kontribusi, yang diimbangi dengan spiritual.
Maka dari itu, jiwa-jiwa intelektual perlu digugah
kembali. Menjadikan cendikiawan dengan intelektual yang
dimilikinya dapat tersalurkan dan teraplikasikan dengan baik
kepada masyarakat. Karena masyarakat tidak bisa menunggu,
tetapi hadirlah para cendikiawan muda yang berpengaruh
tanpa egoisme, yang intelektual, prestasi, kontribusi, spiritual,
yang benar-benar berguna bagi masyarakat. Dengan jiwa-jiwa
seperti inilah yang akan membawa kemajuan masyarakat,
bangsa, dan negara. Para cendikiawan muda, kalau bukan kita
siapa lagi. Cendikiawan muda yang berakhlak mulia adalah
harapan utama masyarakat Indonesia, yang memajukan dan
patut menjadi contoh bagi masyarakat dan generasi-generasi
118

penerus. Jiwa yang membawa kepada perubahan juga menjadi
salah satu harapan masyarakat dan bangsa ini untuk menjadi
yang lebih baik dan produktif. Orang berpengaruh sangat
dibutuhkan sekarang ini untuk mengelola dan memajukan
masyarakat, karena sumber daya manusia di Indonesia belum
mencukupi untuk mengolah kekayaan sumber daya alam yang
ada. Maka dari itu masyarakat membutuhkan sosok
pembimbing untuk menuntunnya menuju hal-hal yang lebih
baik dan produktif. Salah satu sosok pembimbing yang menjadi
orang berpengaruh adalah para cendikiawan yang berani
berkontribusi secara nyata kepada masyarakat.
Salah satu modal untuk merangkul hati masyarakat
adalah dengan akhlak mulia yang harus dimiliki oleh para
cendikiawan, yang menjadi landasan kepercayaan masyarakat
akan para cendikiawan. Dengan kepercayaan, cendikiawan
akan mudah mengelola masyarakat untuk melangkah lebih
maju dari sebelumnya. Untuk menjadi sosok seorang yang
berakhlak mulia adalah dimulai dari diri sendiri. Karena ia harus
konsekuen antara keyakinan, pembicaraan, dan perbuatannya.
ia harus mampu memimpin dirinya sendiri, selalu introspeksi
119

diri, hingga benar-benar mampu menunjukan bahwa dirinya
pribadi yang baik, disukai dan dipercaya masyarakat. Sehingga
ia siap untuk memimpin orang lain. Masyarakat akan
mempunyai respect positif terhadap orang-orang yang seperti
ini.
Dengan para cendikiawan yang berkontributif secara
nyata diharapkan mengangkat derajat Sumber Daya Manusia
(SDM), mampu membimbing dan memajukan masyarakat.
Tidak peduli seberapa besar hasil dan pengaruh cendikiawan
terhadap kemajuan masyarakat yang dikelolanya, tetapi
melalui proses yang mereka hadapi, dan keberanian mereka
berkontribusi sudah menjadi hal yang sangat besar untuk
mewujudkan kejayaan masyarakat Indonesia.


120

Arti Penting Tulisan
oleh : A. Azis Wijaya Putra

Menulis adalah sesuatu yang sederhana dan biasa
dilakukan hampir semua orang di dunia. Menulis surat, menulis
nota, menulis cerpen, bahkan yang hanya sekedar mencoret.
Namun tidak semua orang bisa menulis dengan pemaknaan-
pemaknaan agar bisa dinikmati oleh yang membaca tulisan
tersebut. Menulis dengan pemaknaan-pemaknaan tertentu
memang bukanlah hal yang mudah. Perlu konsentrasi dan
feeling yang tajam untuk menghasilkan tulisan yang benar-
benar bagus. Tidak hanya pada penulisan cerpen, poin-poin di
atas juga wajib ada pada setiap penulisan suatu karya tulis.
Tidak semua orang memiliki konsentrasi dan feeling yang sama
dalam kegiatan menulis. Itulah yang menyebabkan adanya
sudut pandang yang berbeda antara penulis satu dengan
penulis yang lainnya. Namun bukannya sudut pandang itu
menjadikan satu tulisan menjadi tidak bagus, justru adanya
sudut pandang yang berbeda-beda itulah yang menjadikan
dunia menulis tidak stagnan dan selalu menarik.
121

Orang tua saya keduanya berkecimpung di dunia
pendidikan menengah sejak mereka belum mengenal satu
sama lain. Ayah seorang guru honorer sebuah Sekolah
Menengah Pertama swasta, dan ibu sebagai staf tata usaha di
sekolah yang sama. Mungkin jika dibayangkan sekilas, dunia
mereka tidak jauh dari dunia menulis. Menulis ujian, data siswa,
rapot, atau bahkan ijazah para siswanya. Tapi kegiatan menulis
hanya sebatas itu, dan itupun karena kewajiban mereka dalam
pekerjaan. Semenjak kecil saya tidak mempunyai bakat untuk
menceritakan sesuatu kepada orang banyak, baik lisan,
maupun tulisan. Saya hanya senang bercerita secara lisan
kepada ibu saya, atau nenek. Karena itu, saya tidak terbiasa
untuk menuliskan sesuatu yang berarti. Jangankan untuk
menulis suatu penggambaran, pada saat pertama belajar
menggoreskan pensil di secarik kertas pada saat duduk di
Taman Kanak-kanak, saya adalah salah satu anak yang paling
akhir untuk menyelesaikan tugas menulis dari guru. Tidak
hanya saat itu, hal serupa seringkali terjadi hingga tahun
terakhir di Taman Kanak-kanak.
122

Hingga SD, pada tahun pertama, dapat dikatakan saya
adalah anak yang mempunyai kelebihan verbal di kelas, namun
mempunyai kekurangan pada pengolahan pena. Kelebihan
disini dalam arti selalu banyak bicara sendiri dengan teman
dibanding memperhatikan guru. Oleh sebab itu, di tahun-tahun
pertama memakai seragam putih merah, prestasi saya tidak
terlihat oleh kedua orang tua. Setelah tahun ketiga, ibu lebih
banyak waktu dirumah, dan dari situlah kemampuan saya
dalam mengolah pena mengalami perkembangan. Kesukaan
akan tulisan mulai muncul, karena pekerjaan-pekerjaan rumah
yang diberikan guru. Tetapi dibanding saya harus menghitung
serta menghafal perkalian dan pembagian, lebih baik saya
menulis untuk mata pelajaran yang lain.
Kebiasaan-kebiasaan itu terus berkembang hingga
tahun terakhir saya berseragam putih biru. Lebih suka
menuliskan sepuluh sampai dua puluh huruf, daripada
menuliskan satu sampai sepuluh angka pada selembar kertas
yang ada di depan saya. Kebiasaan itu membuat saya sedikit
demi sedikit mulai bercerita kesana kemari di lembaran kertas
usang sisa pembuatan soal untuk anak didik ayah. Apalagi
123

ketika pertama kali ayah membelikan perangkat digital
berpentium 1 di tahun terakhir Sekolah Dasar. Semuanya
seolah ingin dituangkan pada sebuah tampilan lembar
Microsoft Word 98. Entah itu tentang cinta monyet pribadi,
tentang cerita seram karangan orang kampung, atau bahkan
hanya sekedar membuat susunan-susunan beberapa kata yang
tidak memiliki maksud dan tujuan yang jelas dengan bentuk
variasi-variasi bentuk dan warna huruf yang lebay. Semua itu
menurut saya sebuah awal ketertarikan pada produk pena dari
pada produk bibir.
Pertama kali melakukan kegiatan menulis dengan
pemaknaan-pemaknaan tertentu, karena ada tugas untuk
menulis satu artikel pada waktu sekolah di tingkat pertama di
bangku SMP. Bisa dikatakan semua itu berjalan dengan
keterpaksaan karena jika tidak mengerjakan tugas, maka tidak
akan mendapatkan nilai. Untuk pertama kali menulis, yang bisa
dikatakan benar-benar menulis, tulisan saya bisa dikatakan
semrawut dan tidak ada fokus pada suatu obyek. Pada saat itu
saya sedikit tidak peduli, yang penting sudah mengerjakan
sesuai dengan ketentuan fisik tulisan yang diberikan oleh guru.
124

Pada saat berseragam putih biru itulah saya mulai terbiasa
untuk menulis artikel, cerpen maupun dialog-dialog drama,
dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Sering menulis
karena tugas juga banyak, walaupun kualitasnya masih belum
bisa dikatakan tulisan bagus. Namun menurut wali kelas,
dibandingkan dengan tulisan pada waktu pertama kali menulis,
itu sangat jauh sekali perkembangan positifnya.
Waktu itu siswa SMP di kota saya seakan diberikan
fasilitas menulis dengan adanya majalah-majalah remaja
maupun anak-anak yang mau menampung karya tulis siswa-
siswi tersebut. Dari trend itu pula saya mulai tertarik dengan
menulis artikel-artikel ringan, walaupun jumlah yang
diterbitkan majalah tidak sebanyak jumlah jari tangan kanan.
Tetapi menurut saya, disitulah letak motivasi, walaupun jika
misalnya seorang sastrawan bahasa Indonesia mengoreksi
tulisan yang saya buat, mungkin tidak akan terima dengan
bahasa-bahasa yang digunakan karena sangat amburadul-nya
tulisan itu.
Pada waktu saya duduk di bangku sekolah menengah
kejuruan, saya kurang sering menulis, karena ada hal lain yang
125

menurut saya menarik. Saya sekolah di jurusan yang
mendukung kesukaan pada dunia digital. Dari sekolah kejuruan
tersebut, saya jadi lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau
teknis komputer dan pekerjaan yang berhubungan dengan
lapangan dan aplikasi secara langsung. Saya hanya menulis
ketika benar-benar senggang dan itupun tidak sebanyak pada
waktu berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Hingga
waktu kuliah kualitas tulisan saya tidak banyak berubah. Tetap
seperti itu, dan tanpa tahu lagi apa yang kurang dari tulisan
saya. Hanya jika ada tugas menulis, saya menulis saja, dan sekali
lagi tidak ada koreksi tentang tulisan.
Namun lama-kelamaan, karena tugas menulis di bangku
perkuliahan tidak seperti pada bangku Sekolah Menengah
Kejuruan, saya terbiasa untuk menulis lagi. Apalagi pada
konsentrasi ilmu yang saya ambil, terdapat beberapa mata
kuliah yang orientasinya memang untuk menulis seperti Teknik
Membaca dan Menulis Berita, Produksi Media Cetak, Produksi
Media Radio, Public Speaking, serta yang saat ini saya jalani
yaitu Penulisan Artikel Populer. Hernowo, seorang sastrawan
dan penulis terkenal mengutip suatu pertanyaan dari khalifah
126

Islam, Ali bin Abi Thalib, yang menyatakan bahwa ikatlah ilmu
dengan menuliskannya. Dengan menuliskan sesuatu, kita akan
mengingat apa yang kita tulis, apakah itu sebuah ilmu yang
sudah ada, ataupun sebuah ilmu bagi diri kita sendiri yang
dapat memotivasi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Dari situ saya mengambil poin penting tentang menulis.
Tulisan yang bagus bukan karena kita mempelajari teori-teori
yang ada tentang menulis, tetapi bagaimana kita berlatih
menulis, dengan melatih konsentrasi kita pada apa yang akan
kita tulis dan melatih ketajaman feeling kita dalam menulis.
Menulis bukan soal bagaimana kita menyusun sebuah kata
hingga secara tata bahasa benar dan bernilai sastra, tetapi
bagaimana luasnya pikiran dan hati kita dapat tertuang dalam
secarik benda tipis berwarna putih dengan tinta hitam yang
membuatnya menjadi sangat jelas. Apa yang kita pikirkan tidak
hanya tertuang setetes, atau dua tetes, tapi sebanyak-
banyaknya, sebebas-bebasnya, apa saja yang ada dalam pikiran
dan hati kita. Dengan begitu sebuah tulisan akan memiliki nilai
secara sendirinya, tanpa seseorang memaksa untuk
127

memasukkan hasil goresan penanya pada kotak nilai sastra
yang amat luas penjabarannya.

128

Fenomena Plagiasi Bagi Sebuah Karya Tulisan
oleh : Quryatul
Plagiasi, satu kata yang cukup menggemparkan pikiran
dan perasaanku. Sungguh, aku begitu takut dengan kata-kata
ini untuk mulai menulis. Plagiasi, satu kata yang kata dosenku
adalah tindakan kriminal dalam menulis membuatku seakan tak
ingin menulis. Aku merasa sedikit bingung untuk menulis, baik
menulis di media cetak maupun on line. Nanti aku akan di
penjara oleh pihak-pihak yang mengatur tulisan orang kalau
ketahuan mem-plagiasi. Cukup antik bagiku bila harus
memplagiasi tulisan orang karena dikatakan tidak kreatif.
Namun, jauh dalam benakku; jika aku memplagiasi tulisan
orang, mungkin aku menjadi orang malas dan pada akhirnya
menjadi bodoh. Sungguh aku tak ingin menjadi seperti itu.
Plagiasi, plagiasi lagi. Di benakku saat ini dipenuhi dengan kata
yang satu ini. Gara-gara kata ini juga membuatku cukup anti
untuk mulai menulis.
Sebenarnya aku ingin menulis di sebuah buku dengan
sampul yang berwarna biru. Ingin kutuangkan kata demi kata di
129

buku yang bersampul biru tentang pengalaman dan kejadian-
kejadian yang akan kutemui nanti. Berbicara tentang sampul
biru memang telihat biasa saja, namun bagiku ini cukup unik.
Sederhana memang mengapa aku nanti menulis pengalamanku
di buku yang bersampul biru, jawabannya adalah karena aku
sangat suka dengan warna ini. Kata orang warna ini
menunjukkan warna angan-angan yang tinggi. Pemaknaan
terhadap makna tergantung dari kita sendiri yang
mengartikannya. Yang pernah aku tahu, warna biru
menunjukkan kalau kita bercita-cita tinggi. Kembali lagi ke
plagiasi. dosen yang mengampu suatu mata kuliah memintaku
dan teman-teman yang lain untuk menulis. Menulis tentang
pengalaman pertamaku menulis. Dalam beberapa menit,
memori ingatanku tentang masa lalu mulai kuingat. Masa di
mana aku mulai pertama menulis. Ketika itu aku sedang
menyendiri dan kesepian di dalam kamar tempat aku tinggal.
Aku tinggal di rumah dosen. Tempat aku tinggal sementara
karena sedang kuliah di Kampus yang paling megah di wilayah
Madura, Universitas Trunojoyo Madura. Waktu itu, aku tidak
punya Handphone (HP), tidak ada hiburan dan aktivitas apapun
130

yang kulakukan selain tidur. Karena bosan tidur, akhirnya aku
coba-coba menulis sejarah hidupku mulai dari kecil sampai
Sekolah Menengah Atas (SMA). Ternyata sangat sulit,
gumamku dalam hati. Mungkin ini karena aku tak pernah
menulis walau hanya sekedar catatan harian.
Selang beberapa menit, aku mulai mengambil dan
membaca sebuah buku dengan judul Emotional and Spiritual
Quation yang ditulis Ary Ginanjar. Sungguh, bagiku, bahasa dan
kosa kata yang digunakan senada dengan suara hati manusia.
Sangat menyentuh dan begitu sederhana sehingga mudah
dipahami dan sangat membangun. Kata-katanya begitu indah.
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, aku tutup buku itu dan aku
mulai mencatat ulang apa yang aku baca tadi dengan
menggunakan bahasaku sendiri. Walau masih agak sulit karena
aku sudah jarang mencatat namun tetap aku paksakan. Aku
yakin aku bisa lancar menulis jika aku berlatih untuk menulis
minimal lima menit setiap harinya. Aku dengan lancarnya
mencatat ulang apa yang aku baca dari buku Ary Ginanjar. Aku
yang mencatat dengan bahasaku sendiri membuatku ingin
menulis sesuatu hal lain yang menjadi langkah awalku untuk
131

menulis, yakni mulai dari sederhana saja dulu; apa yang
kulakukan hari itu.
Aku mulai menuliskan aktivitas-aktivitasku saat itu.
Mulai dari bangun tidur ketika ayam belum berkokok sampai
aku bosan dengan aktivitas tidurku. Aku menuliskan aktivitas-
aktivitas seperti sholat tahajjud saat bangun tidur pada dini
hari, shalat witir, mengaji, membaca buku karya Ary Ginanjar
karena buku unik yang aku punya saat itu adalah buku ini,
kemudian tidur lima belas menit, lalu kudengar suara adzan
shubuh berkumandang, kemudian bergegas ke masjid, mengaji
lagi, membereskan tempat tidur dan melakukan aktivitas di
dapur dan halaman, mandi, shalat dhuha, mengaji, sampai tak
ada aktivitas apa-apa lagi selain tidur karena waktu itu kuliah
sedang libur. Setelah menulis tentang aktivitas-aktivitas
harianku lalu aku menulis sedikit demi sedikit peristiwa-
peristiwa unik yang kualami. Setelah aku menulis cukup banyak
tentang peristiwa-peristiwa yang kualami lalu aku tutup
bukuku. Aku sedikit lega karena dengan menulis kisah-kisah
hidupku yang kecil nantinya dapat menjadi catatan yang bisa
kubaca di waktu senggang. Membaca ulang setiap kisah
132

hidupku, dapat menjadikanku senang karena aku dapat melalui
berbagai peristiwa, peristiwa sulit sekalipun.
Kembali memori ingatanku pada kata plagiasi. Aku
sedikit enggan untuk menulis bila teringat dengan kata yang
satu ini. Walaupun aku menulis sesuatu hal yang kurang
menarik, hal yang kecil, dan tidak terlalu berguna tapi
setidaknya aku tidak memplagiasi tulisan orang lain. Dalam
tulis-menulis aku memang tak begitu mahir, tetapi aku yakin
dengan hanya menulis dari sesuatu hal kecil seperti; menulis
kegiatan harian yang tentunya tidak memplagiasi tulisan orang
lain, aku yakin dapat menghindarkan diriku dari kata enggan
untuk menulis karena takut dengan kata plagiasi. Mendengar
kata plagiasi, rasanya aku tak ingin memulai untuk menulis yang
berat-berat atau yang berkaitan dengan teori yang cukup berat.
Aku sedikit takut untuk memulainya. Menulis sedikit demi
sedikit akan aku tuangkan dalam buku harianku baik itu hanya
berupa pengalaman atau tulisan-tulisan yang teori dan
konsepnya ringan dalam kehidupan sehari-hari sampai yang tak
berteori sekalipun akan kutulis. Plagiasi, aku harap tak akan
menemuinya. Walaupun aku harus melihat tulisan orang lain,
133

akan aku tuliskan kalau tulisan itu merupakan kutipan dari
tulisan orang lain. Aku tak ingin melihat dan meniru bila suatu
tulisan orang lain itu berada di luar potensiku. Sedikit rumit
memang bagiku bila aku mengawali sebuah peristiwa yang
ingin kutulis apalagi kalau dibenakku sudah teracuni kata
plagiasi. Plagiasi yang mengartikan kalau kita Copas (copy
paste) tulisan orang membuatku merasa seperti terjepit di
pintu emas. Mengapa di pintu emas? Tulisan yang akan kutulis
nanti merupakan hal yang bagus, tetapi sayang sudah ada yang
menulis. Kalau sudah ada yang menulis, kalau ditulis ulang,
plagiasi namanya.
Plagiasi memang bukan merupakan karakter tulisanku.
Aku menulis tentang apa yang aku tahu. Aku menulis apa yang
ada di benakku. Tulisan apapun itu. Terlebih bila tulisan itu
tulisan ringan. Bila tulisan itu berhubungan dengan teori apalagi
sulit aku mengerti, maka aku tak lupa mencatat ulang dengan
mengatakan kalau itu tulisan kutipan. Pikiranku buntu pada
tulisan apa yang akan aku tulis. Aku mulai terus menggali
potensiku akan pengetahuan-pengetahuan yang aku punya.
Aku menulis dari sesuatu hal yang tak berbobot sampai puisi.
134

Bila berkata tentang puisi, bisa dikatakan aku bisa merangkai
puisi dan pernah menjuarai lomba menulis puisi. Teringat lagi
dalam benakku tentang pengalaman pertamaku menulis. Saat
aku sedih dan merasa kesepian. Aku mulai menulis dari
pengalaman sehari-hariku sampai aku menulis tentang
kepelikan dan kepahitan hidup yang kualami. Terkadang aku
menangis dalam tulisanku. Aku merasa tidak kuat jalani hidup,
tetapi aku serahkan semuanya kepada Allah SWT. Aku yakin
dengan pertolongan dan kasih sayang-Nya aku dapat melewati
masa-masa sulit dan kelak memenangkannya. Aku menulis dari
hal yang kecil dalam hidupku sampai peristiwa-peristiwa yang
mungkin tidak dialami oleh gadis seusiaku. Aku tetap tegar
jalani hidup ini. Selama aku yakin Allah SWT akan
memberikanku jalan terindahnya kelak, aku tak akan mencoba
mengeluh. Aku yakin dengan tulisan-tulisan yang aku
dokumentasikan untuk diriku sendiri, aku akan tersenyum
bangga bila kelak aku telah keluar dari kepelikan ini. Aku yakin
pula, dengan tulisan-tulisan ini dapat menginspirasi diriku
sendiri dan kelak bisa menginspirasi orang-orang yang mungkin
akan mengalami apa yang aku alami sekarang. Buntu, saat
135

pikiranku mulai aku kembalikan pada kata plagiasi, aku tak
dapat menemukan kata-kata yang dapat aku tuangkan.
Mungkin, memang karena aku bukan tipikal orang yang
memplagiasi tulisan orang, maka pikiranku tak kan melayang
jauh menerAwang tinggi tentang plagiasi.
Lalu, aku coba memulai mengingat lagi dan menulis dari
awal tentang mengapa aku menulis pada kali pertama. Saat itu
aku sendiri berada di dalam kamar, tak melakukan kegiatan
apapun selain tidur. Maka dengan iseng-iseng, aku membaca
buku, mencatat, dan mulai menulis hal-hal yang lain. Sekarang
aku sudah mulai mengingat kembali saat kali pertama aku
menulis. Aku menulis tentang kesedihan diriku saat berulang
tahun. Saat itu, usiaku genap 19 tahun. Aku tak punya
handphone dan tak punya apa-apa. Sangat pelik diriku saat itu.
Aku menangis sendirian di dalam kamar, tanpa ditemani oleh
siapapun. Tak ada yang mengucapkan ulang tahun padaku.
Cukup sedih memang, tetapi apa mau di kata, waktu itu aku
memang tidak punya apa-apa. Karena yang kupunya hanyalah
buku dan pulpen, akhirnya aku menulis hari ulang tahunku ini
yang berbeda 180 derajat dari tahun sebelumnya. Tahun
136

sebelumnya, aku bersama teman-teman SMA-ku dan
kekasihku, merayakan ulang tahunku di sekolah. Sungguh indah
waktu itu. Tetapi sekarang tidak lagi.
Aku menulis waktu itu karena tidak mendapat kado
spesial dari orang yang aku sayang, tetapi aku tetap bersyukur
karena Allah SWT yang selalu menyayangiku tetap
memberikanku hati yang tegar, kuat, dan tetap jalani hidup ini.
Aku bersyukur pada-Nya atas kenikmatan hidup yang telah
diberikan. Aku bersyukur dengan hidup yang kualami dulu dan
sekarang. Aku bersyukur karena mungkin tak akan kutemui lagi
kelak. Dengan hidup yang kualami sekarang dapat
menjadikanku pribadi yang memperjuangkan hidup yang sulit.
Saat diriku menulis tentang hari ultahku yang tak meriah, aku
merasa dan berpikir itu sudah kado terindah dari Allah SWT
untukku karena aku dapat menuliskannya. Dengan menulis,
jiwaku yang tegar, semakin terasah ketegaranku. Pikiran dan
perasaanku tidak sunyi waktu aku menuliskan hari ultah yang
tak meriah. Aku bersyukur yang banyak pada Allah SWT karena
dengan tulisan ditulis dapat menghibur jiwaku yang kelam,
sedih, merana, dan galau. Teringat pula pada buku motivasi
137

yang ditulis oleh Ary Ginanjar, bahwa selama kita yakin dan
percaya akan pertolongan Allah SWT, maka hidup ini akan
terasa damai dan tenang walaupun hidup dalam keadaan
susah. Tetapi kita harus tetap berpikir dan bercita-cita besar
serta berusaha sekuat mungkin untuk meraihnya. Aku
bersyukur dengan aku menulis, jiwaku tidak terasa hampa.
Apalagi dengan menulis, aku berkomunikasi dengan diriku
sendiri dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Tuhan Pencipta
alam. Aku bersyukur pula dengan membaca buku motivasi Ary
Ginanjar dapat menjadikan tegar dan kuat jalani hidup yang
berliku ini. Aku mau setiap momen dan peristiwa yang
menimpaku dapat kutuliskan. Tulisanku adalah sejarah hidupku
dalam mengarungi hidup yang seperti lautan ini. Kita tidak akan
sampai pada tujuan kalau tidak ada petunjuk dari Allah SWT.
Dengan aku menuliskan setiap kisah dan perjuangan hidup
yang aku tempuh dapat menjadi sejarah hidupku dan semoga
kelak dapat aku baca kembali dan dapat kuceritakan pada
orang-orang di sekitarku saat aku sukses nanti.
Menulis bagiku adalah modal awal dalam mengawali,
memperjuangkan, dan memenangkan hidup yang penuh
138

warna. Menulis bagiku ibarat mengikat kuda yang liar. Pada
saat kita membaca sesuatu, tentunya otak kita menyerap
puluhan bahkan ribuan informasi setiap harinya. Bila kita
membaca suatu sumber bacaan, kita akan mudah lupa apabila
tidak disertai dengan menulis. Setelah membaca lalu
menuliskannya, maka informasi yang kita dapat bisa kita
lontarkan kembali dalam sebuah tulisan.

139

Kiai, Santri dan Dunia Politik
oleh : Rahelmi Zulkarnain Akbar

Manusia modern di zaman sekarang telah banyak
perubahan dalam mengamati suatu partai politik yang akan
mereka pilih. Beda pada zaman dahulu , dimana para
masyarakat memilih partai politik dikarenakan dibawah
kepemimpinan seorang muslim yang taat beragama. Namun di
era reformasi ini pandangan tersebut telah terkikis. Hal
tersebut dapat dikatakan religius muslim di Indonesia tidak
berdampak besar terhadap politik kepartaian. Masyarakat lebih
memandang nasionalisme yang dimiliki oleh suatu partai politik
daripada partai yang dianggap taat agama namun tidak
membawa perubahan atas negeri ini. Pesantren yang
terpolitisasi membuat posisi ulama menjadikan terdelegitimasi
di mata umat muslim. Pesan kultural dan kebangsaan yang coba
dibangun oleh ulama melalui pesantren semakin terkooptasi
oleh berbagai kepentingan politik praktis.Ulama terseret pada
pusaran konflik tersebut sehingga memudarkan kharismatiknya
sebagai filter sosial kemasyarakatan. Konflik antarulama
140

tersebut tidaklah dilakukan oleh satu atau dua aktor ulama,
namun melainkan terjadi secara berjejaring antar pesantren.
Hal ini dikarenakan hubungan yang terjadi antara kiai dan santri
dibangun dalam pola patron klien dan bersifat irasional.
Kesetiaan dibangun atas dasar ikatan emosional, psikologis dan
kadangkala imbas hutang budi yang bersifat ekonomis dari
santri pada kiai. Maka, ketika santri tersebut menjadi kiai dan
mendirikan pesantren di tempat tinggalnya. Secara tidak
langsung santri yang telah menjadi kiai tersebut menjaga
hubungan baik dengan kiai gurunya termasuk dalam berpolitik.
Kemudian, manakala kiai sepuh terseret dalam arus konflik
politis, maka kiai juniornya terpanggil untuk membela sang
guru dalam konflik politis tersebut.
Istilah politik berasal dari bahasa Belanda politek dan
bahasa Inggris politics yang masing-masing bersumber dari
bahasa yunani yaitu politika atau yang berhubungan dengan
negara dan polites atau disebut dengan warga negara. Politik
juga merupakan suatu proses pembentukan dan pembagian
kekuasaan dalam masyarakat yang berwujud proses
pembuatan keputusan khususnya dalam suatu negara. Santri
141

merupakan sebutan bagi murid yang mengikuti pendidikan
agama disebuah pondok pesantren. Pondok pesantren
merupakan sekolah pendidikan yang prestasi ajarannya lebih
banyak menuju kepada ajaran-ajaran agama islam. Santri juga
diidentikkan dengan kata sasantri yang berasal dari bahasa
sansekerta yang artinya pelajaran agama atau juga cantrik yang
artinya berdiam diri bersama guru dalam sebuah asrama demi
memperdalam ilmu agama dalam beberapa waktu lamanya.
Pada zaman reformasi ini telah banyak para politikus dari
berbagai kalangan maupun status. Tidak jarang para DPR
(Dewan Perwakilan Rakyat) kita tidak lebih pintar daripada
seorang rakyat biasa. Indonesia termasuk negara dengan
jumlah penduduk beragama islam terbesar didunia. Namun,
Indonesia masih sangat kurang dengan keadaan para petinggi
negara yang tidak memiliki kepribadian dalam berbagai aspek.
Didalam politik di Indonesia sangat marak dengan
adanya para kiai, tokoh ulama dan pesantren yang sering
menjadi sasaran dalam membangun basis dukungan politik.
Dalam perspektif pemerintah, kiai cukup memiliki kekuasaan
untuk mempengaruhi tindakan sosial dan politik dalam
142

masyarakat. Sebagai contoh adanya pemilihan politik di
Madura para kiai sangat berperan penting dalam pemilihannya.
Oleh sebab itu legitimasi keagamaan tersebut digunakan untuk
melegalkan segala tindakan para elit politik dalam mencapai
tujuan mereka. Banyak pula asumsi negatif masyarakat kepada
kiai yang terjun dalam dunia politik. Mereka beranggapan
bahwa parpol yang berada dalam naungan lingkup kiai hanya
menginginkan suara daripada kualitas diri. Namun, tak jarang
juga masyarakat yang hanya mengikuti permainan para elit
politik tersebut. Fenomena seperti diatas merupakan budaya
yang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Moralitas para
pejabat tak pernah kita perhatikan. Tak banyak pula para
pejabatpejabat kita yang kehilangan akhlak dan moralnya
sebagai teladan bagi masyarakat. Dengan adanya femonema
seperti diatas setidaknya budaya tersebut dapat dirubah
menjadi budaya yang bisa menjadi tauladan. Para santri
maupun kiai tidak hanya eksis dengan legitimasi yang mereka
miliki. Namun, mereka juga dapat membawa perubahan
terhadap peradaban yang mulai terkikis oleh adanya kebebasan
globalisasi saat ini.
143








144

Ketika Menulis Menjadi Sebuah Tuntutan
oleh : Rendi Limantara

Pada awalnya menulis memang sudah menjadi tuntutan
bagi setiap orang. Baik itu menulis untuk kepentingan belajar,
kepentingan tugas atau mungkin menulis sebagai wadah untuk
menuangkan curahan dan imajinasi. Namun, pada jaman
sekarang khususnya para pelajar, mayoritas mereka menulis
bukan karena ingin menciptakan sebuah karya, akan tetapi
menulis bagi mereka adalah sebuah tuntutan dimana mereka
harus menulis karena adanya tugas dari guru atau paksaan
orang tua. Seperti saya contohnya, bagi saya menulis
merupakan tuntutan yang harus saya penuhi dan jalani. Saya
menulispun kalau tidak karena adanya tugas sekolah tidak akan
menulis. Saya juga memiliki pengalaman dimana saat saya
masih Sekolah Dasar. Guru saya menyuruh muridnya untuk
membuat cerita minimal setengah halaman. Jikalau tidak
membuat atau masih belum mencapai setengah halaman maka
tidak boleh pulang.
145

Saya awalnya membenci mata pekajaran Bahasa
Indonesia karena pasti tugasnya kalau tidak membuat puisi,
pantun, cerita dan saya tidak menyukai mata pelajaran itu. Saya
membuat cerita pada kelas tersebut dan kebingungan sejenak,
diam termenung sampai ada teman yang sudah selesai duluan
langsung gugup sampai berkeringat karena takut tidak bisa
pulang. Sampai teman sebangku sudah sampai setengah
halaman, saya juga masih belum menulis apa-apa. Frustasi dulu
sampai-sampai mau menangis karena takut tidak bisa pulang.
Saya memiliki ide untuk membuat cerita bebas yaitu menulis
cerita serial kartun Doraemonyang kemaren pagi saya lihat.
Saya terpaksa menulis daripada saya tidak pulang. Pada saat
saya kumpulkan guru saya bertanya loh, kenapa kok ceritanya
tentang doraemon? Masa tidak ada cerita lagi? lalu saya
menjawab Saya bingung bu mau kasih cerita apa. Daripada
saya tidak pulang, saya tulis aja cerita Doraemon bu lalu guru
saya hanya bisa tertawa dan akhirnya saya bisa pulang.
Saya juga ada pengalaman menulis yang lain, yaitu pada
saat kelas satu SMP mendapatkan tugas dari mata pelajaran
Bahasa Indonesia membuat karangan cerita dengan tema
146

rumah , begitu mendapatkan tugas yang luar biasa susahnya.
Saya jadi malas sekali untuk mengerjakannya. Saya mencoba
bertanya pada kakak bagaimana membuat karangan cerita
yang bagus dengan tema rumah, maksud saya bertanya pada
kakak seperti itu dengan harapan agar dia yang
mengerjakannya. Dia yang berpikir tentang isi cerita tadi dan
saya hanya mendengarkan serta menuliskannya saja. Namun,
harapan itu sirna ketika kakak mengerti tujuan awal mengapa
saya menanyakan tentang karangan cerita yang agak berbelit-
belit. Meminta bantuan pada kakak gagal, kemudian mencoba
untuk bertanya pada mama tentang membuat karangan cerita
yang bagus. Akan tetapi sebelum saya bertanya dan membahas
tentang karangan cerita, mama saya langsung berkata, ini
buku cerpen, kamu baca dan coba kamu buat cerita kamu, kali
saja bisa dapat inspirasi dari situ, mama mengerti apa maksud
kamu mau tanya ke mama, lalu saya hanya bisa terdiam
sejenak dan berkata iya ma, makasih. Akhirnya saya baca-
baca dan tetap tidak mendapatkan ispirasi padahal tugas
karangan ini harus di kumpulkan besok. Pada akhirnya saya
frustasi dan membaca buku tentang humor. Dari membaca
147

buku humor tadi saya terhibur dan dapat mengurangi rasa
frustasi dari tugas mengarang. Malahan dari buku humor itu
saya mendapat inspirasi dan mencoba merangkai karangan.
Dari kata hingga menjadi sebuah kalimat, berkali-kali
menghapus tulisan, berkali-kali termenung untuk melanjutkan
karangan saat daya imajinasi berkurang. Pada akhirnya tugas
mengarangpun telah selesai saya rampungkan. Sekalipun
banyak kalimat-kalimat yang bisa dikatakan tidak sesuai
standart EYD (Ejaan yang Disempurnakan).
Keesokan harinya tugas ini dikumpulkan dan dibacakan
di depan kelas, dengan percaya diri saya membacakan karya
karangan cerita saya. Pada awalnya saya membaca karangan itu
tertawa-tertawa sendiri dan teman-teman tidak ada yang
tertawa, tetapi saya tetap percaya diri sekalipun tidak ada yang
tertawa, padahal saya rasa cerita yang dibuat adalah cerita
humor. Akan tetapi kepercayaan diri saya berakhir dengan baik,
akhirnya ada yang tertawa sekalipun tidak lebih dari lima orang.
Bagi saya paling tidak ada yang tertawa, jadi ceritanya bisa di
sebut cerita humor. Pengalaman-pengalaman tersebut saya
jadi bisa memiliki memory tersendiri dari pengalaman itu.
148

Jikalau saya mendapat tugas menulis lagi di kelas saya jadi
tertawa sendiri saat mengingat kenangan itu. Dulu saya bisa
dikatakan susah sekali bila di suruh menulis dan sampai-sampai
orang tua saya marah akibat malasnya saya. Sealin itu juga dari
pengalaman-pengalaman yang ada, baik itu pengalaman yang
buruk atau bagus yang anda alami pengalaman itu bisa
dijadikan motivasi jika kita lagi malas atau sedang tidak ada
imajinasi untuk menulis. Menulis bukan merupakan hal sulit
untuk di lakukan pada jaman sekarang, bahkan sering kali
sekarang menulis pada kalangan anak-anak yang masih kecil,
remaja dan dewasa bahkan yang sudah tua menulis adalah
sebuah hobi bagi mereka. Menulis salain bisa meyalurkan
imajinasi menulis juga bisa menyalurkan sebuah emosi, saat
sedih, saat bahagia atau saat marah.

149

Rekam Jejak Pengalamanku di Dalam Karya
oleh : Rio Kurniawan

Pepatah terdahulu berkata membaca adalah jendela
dunia. Logika pikirnya ketika ada jendela pastilah disitu
terdapat pintu. Membaca dan menulis adalah hal yang tidak
bisa terpisahkan seperti dua sisi pada uang koin emas. Dengan
membaca kita bisa membuka jendela dunia, namun dengan
menulis kita akan membuka pintu dunia. Dengan kata lain kita
membaca akan melihat sesuatu yang baru, dan ketika menulis
kita akan memiliki sesuatu yang baru. Bermula dari seorang
bocah yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Memiliki cita-
cita yang tinggi merupakan bekal untuknya menempuh dunia
nyata ini. Anak lelaki yang akrab disapa Awang selalu terlihat
senang ketika pelajaran bahasa dan sejarah disekolahnya. Dari
dua pelajaran ini dia dapat membaca, menulis, dan mengetahui
sejarah dunia luar. Awang banyak memiliki teman yang sangat
dekat secara emosional dengannya. Saat waktunya longgar,
Awang selalu menulis sesuatu yang terkadang hanya sekedar
iseng. Kesukaanya untuk menulis telah muncul sejak dini,
150

sampai pada suatu saat dia diminta oleh salah satu guru untuk
mengikuti lomba menulis cerpen tingkat Sekolah Dasar.
Tetapi berhubung dia masih belum menguasai ilmu seutuhnya
dalam menulis, dia tidak ingin mencoba dan memutuskan ingin
berlatih terlebih dahulu dengan cara menulis dibuku hariannya.
Dengan metode seperti itu, dia berharap akan berkembang dan
sambil meminta petunjuk kepada guru dan orangtua terutama
ayah, yang selalu ingin anaknya mendapatkan ranking satu
dikelas.
Beranjak pada kelas lima, suatu ketika sang ayah
bertanya kepada Awang, mas, kamu bercita-cita ingin menjadi
apa? Dia menjawab,, aku ingin menjadi pilot yah. Lalu sang
ayah memberi nasehat kepadanya. Kamu ingin menjadi pilot,
tapi sering sekali menulis. Jika ingin menjadi pilot harus suka
berhitung dan pintar pelajaran matematika. Setelah mendapat
sedikit nasehat itu, Awang mulai berusaha menyukai
matematika. Meski pada realita yang ada selama enam tahun
dibangku sekolah dasar, bocah yang bernama lengkap Rio
Kurniawan ini tidak pernah suka pada pelajaran matematika
dan dia hanya mampu memberikan prestasi ranking dua
151

sebanyak enam kali kepada ayahnya. Harapan sang ayah pun
pupus dan hilang. Masa pendidikan Seklah Dasar akhirnya usai.
Sebelum masuk Sekolah Menengah Pertama, Awang mulai
mengenal musik yang dikenalkan oleh sang ayah. Lalu Awang
mulai tertarik dengan salah satu nada pada setiap lagu yang
ayahnya berikan. Nada itu berasal dari alat musik bernama
drum. Sang ayahpun langsung memberikan pendidikan non
formal kepada Awang. Berupa kursus musik yang ada dikota
Surabaya. Berawal dari lembaga ternama inilah dia mulai
belajar apa itu musik dan bagaimana berprestasi dengan musik.
Pada saat musik telah mendarah daging di dalam dirinya. Dia
lambat laun sudah mulai menghilangkan kebiasaan menulisnya,
karena pada saat SMP, dia lebih sering mengisi waktunya
dengan berkumpul bersama teman temannya dan belatih.
Terlebih ketika Awang mulai memiliki sebuah grup band
pertamanya. Dia setiap minggunya ada agenda untuk berlatih
bersama grup bandnya yang baru berdiri dari SMP 1 Kamal
Peoples Pie.
Nama ini dipilih karena kelima anak SMP 1 Kamal
berasal dari komplek perumahan yang sama yaitu perumnas
152

kamal. Awang dan anggotanya sangat berkomitmen dalam hal
ini, demi nama baik sekolah dan prestasi yang akan diperoleh.
Dengan dibimbing oleh salah satu guru kesenian, mereka
sedikit demi sedikit telah kompak dan berhasil membuat
sebuah lagu untuk awal dari band ini. Tiga tahun masa SMP
hampir tidak pernah digunakan oleh Awang untuk menulis, bisa
dibilang masamasa ini adalah sangat sulit untuknya. Tetapi dia
tidak pernah lupa belajar demi akademiknya disekolah dan
lebih sering membaca. Karena terbatasnya waktu dan
kesempatan untuk menulis. Tiga tahunpun telah usai,
memasuki masa SMA. Band yang dia bangun dari SMP, akhirnya
kandas ketika pasca lulus dari SMP. Kelima anggota peoples pie
berpisah karena mereka harus melanjutkan pendidikan SMA
yang berbeda kota. Awang dan kedua temannya berada di
SMA2 Bangkalan, dan kedua temannya lagi berada di kota
Surabaya. Awal sekolahnya di Smada Bangkalan, Awang
memiliki banyak teman baru dan sangat unik. Pada masa SMA
Awang mulai merasakan cinta kepada lawan jenisnya. Dia
menjalani hubungan dengan seorang gadis manis asal kota
Surabaya yang umurnya selisih dua tahun dari Awang. Tiga
153

belas bulan mereka berpasangan dan harus berpisah karena
faktor yang tidak seharusnya terjadi.
Mulai dari pengalaman yang sempat membuat Awang
sedih ini, memutuskan untuk kembali bermain musik. Saat itu
juga dia mencoba membuat grup dengan dua orang personel
baru dari sekolahnya. Band kali ini sangat berbeda karena
didasari oleh organisasi internal sekolah yakni Sanggar Seni
Smada. Band yang disebut Smada Big Band sering mengikuti
perlombaan dalam skala regional maupun nasional. Dengan
prestasi yang cukup membanggakan. Setalah dua tahun
sekolah di Smada Bangkalan. Awang akhirnya merindukan
bakat yang ada dalam dirinya yaitu menulis, tidak berpikir lama
dia langsung menuliskan perjalanan kisahnya dengan gadis
manis kota pahlawan itu. Untuk mengawali kebiasaan
menulisnnya yang sudah lama dia tinggalkan karena
kecintaannya kepada musik.
Pada saat itu sangat terasa aneh baginya, menulis kisah
cinta yang sangat berarti itu. Sedikit demi sedikit susunan huruf
menjadi kata dan barisan kalimat menjadi beberapa paragraph
154

memenuhi lembaran putihnya. Akhirnya selesailah tulisan
Awang, dengan judul agama jalan yang terakhir yang
berisikan kisah manis dan pahit masa dia menjalin hubungan
romantis dengan wanita berasal dari kota Surabaya. Ada
beberapa nilai sosial didalamnya tentang bagaimana kita
menjalankan cinta terhadap seseorang dengan penuh rasa
sabar, serta niat dan etikat dalam hal segala kebaikan. Tidak
lupa menyertakan nilai nilai Islam didalam hubungan yang
akan kita jalani. Setelah Awang kehilanagn rasa senangnya dari
menulis, kini dia mendapatkan kembali rasa itu. Tetapi tetap
saja selama tiga tahun di SMA, dia hanya menyempatkan diri
untuk menulis. Karena dia harus fokus pada band yang dia
bangun dan impian untuk melanjutkan pendidikan di
perguruan tinggi ternama Jakarta, yang berkonsentrasi dalam
bidang seni musik. Tempat itu adalah Institut Kesenian Jakarta.
Takdir berkata lain, setelah dia lulus SMA dengan nilai
yang memuaskan. Dia tidak mendapatkan restu oleh
orangtuanya untuk melanjutkan sekolah ke ibukota Jakarta.
Alhasil dengan berjalannya waktu Rio Kurniawan memutuskan
untuk kuliah di Universitas Trunojoyo Madura. Dia memilih ilmu
155

komunikasi sebagai jalan untuk menggapai impian impian
besarnya. Dia memiliki impian untuk menjadi musisi ternama
nanti, namun rasanya impian itu seakan hilang terbawa
gelombang ombak pantai. Ketika orang tuanya melarang dia
untuk pergi ke Jakarta. Tetapi Awang tidak putus asa sampai
disini, dia percaya bahwa esok kelak akan menjadi terkenal
meskipun bukan dari musik. Namun dari maha karyanya yang
lain dengan berlandaskan ilmu komunikasi. Pada masa
perkuliahan, dia mulai belajar dengan serius.
Awang sudah sedikit vakum dengan dunia musik, band
pada saat SMA sudah terpisah. Karena anggota personel
melanjutkan kuliah di beberapa kota berbeda. Namun sesekali
Awang tetap eksis didalam kampus untuk acara internal, karena
dia juga masuk dalam anggota UKMF ViperC. Saat masa
perkuliahan berjalan sekitar satu tahun, tepatnya ketika Awang
masih berada di semester tiga. Saat itulah dia sangat
merasakan perlunya keahlian menulis, ketika itu banyak
beberapa mata kuliah yang menuntut para mahasiswa untuk
menulis. Seperti saat ujian mata kuliah TMMB dan produksi
media cetak. Prakteknya ketika mahasiswa diajarkan
156

bagaimana menjadi seorang wartawan atau jurnalis. Memiliki
tugas membuat berita, dengan mengacu pada unsur 5W 1H.
Apa yang terjadi, kapan kejadiannya, dimana itu terjadi, siapa
yang ada dalam kejadian itu, mengapa kejadian itu terjadi,
bagaimana kejadian itu. Demikianlah rumus menulis berita
yang dia dapatkan ketika teori didalam kelas. Namun, ketika
langsung terjun dilapangan, pada saat ujian praktek di kota
gudeg Jogjakarta, teori yang dapat diaplikasikan hanya
mencapai beberapa persen saja. Banyak faktor lain yang
mempengaruhi ketika menulis berita, seperti; latarbelakang
wartawan dan media yang menjadi dasar dari sudut pandang
sebuah berita diberikan untuk publik. Selanjutnya ketika satu
tahun berlalu, saat semester lima Awang mempelajari konsep
dasar dari sebuah penelitian. Yang langsung dibimbing oleh
salah satu dosen dalam matakuliah MPS (Metode Penelitian
Sosial). Pada saat itu Awang mempelajarinya dengan serius.
Agar kemampuan menulisnya menjadi terus berkembang.
Banyak pengetahuan baru yang didapat dari dosen pengampu
matakuliah tersebut, terkait dengan sebuah penelitian.
Beberapa bulan ketika semester enam, Awang mendapat
157

pembelajaran yang lebih berharga lagi. Yakni ketika dia harus
pergi KKN dan mengabdikan dirinya untuk masyarakat selama
kurang lebih satu bulan di desa yang dingin dan hijau berada
pada dataran tinggi pulau Madura. Saat itulah Awang,
mengaplikasikan ilmu yang dia dapat untuk menulis. Alhasil
saat KKN, dia mampu menulis sedikit kisah cerita dengan judul
26 hari dikaki bukit hijau. Kisah ini melukiskan tentang enam
belas mahasiswa yang awalnya tidak saling mengenal, memiliki
kepentingan berbeda, dan saling bersaing. Namun akhirnya
mereka menjadi suatu keluarga kecil nan bahagia, yang tidak
akan pernah mereka lupakan sampai akhir nanti. Semua
kenangan yang telah terjadi diantara mereka, akan memiliki
cerita yang berbeda.
Namun saat ini, Rio telah mendapatkan pengalaman
berharga dalam menulis. Rio menganggap menulis bagaikan
menyiram tanaman. Selama persediaan airnya terus terpenuhi
maka jangan khawatir untuk menyiram diberbagai lahan yang
sangat luas. Dari hal inilah Rio sangat merasakan pentingnya
membaca. Ketika kita menulis dengan berdasarkan pada
pengalaman, pasti akan terasa mudah dan senang untuk
158

menulis. Seperti karya yang telah sebelumnya Rio buat dengan
judul agama jalan terakhir, sepuluh tangkai cinta putih,
menunggu dibalik keraton kuno, dan terakhir tulisan tentang
menulis ini. Lalu akan datang lagi satu karya berjudul cintamu
dimalam natal. Semua karya tulis ini dibuat hanya sekedar uji
coba. Namun dari hal yang dirasa tidak penting, disitulah
adanya tahapan untuk mencapai impian. Bagaimana saat
pertama kali menulis, jenuh dan bosan, hingga menjadi senang.
Seakan menyiram tanaman pada lahan yang sangat luas.
Terlebih saat ini dia sedang menghadapi proposal skipsi yang
harus diseleseikannya pada akhir tahun 2013. Segala bentuk
revisi dari dosen akan menjadi stimulus yang sangat berharga
dan harus dapat menjadi yang lebih baik lagi.


159

Artikelku, Kepribadianku
oleh : Riska Putri Trisna

Pengalaman pertama saya menulis artikel awalnya
memang sangat sulit karena masih pemula dan dan tidak
terbiasa dengan menulis artikel. Kesulitannya mulai dari
bingung, kehabisan kata-kata karena minimnya pengetahuan.
Saya menyadari hal ini karena kurangnya membaca. Dari
pengalaman dalam mempelajari tentang menulis artikel,
pertama kali saya mencoba menulis artikel rasanya sangat sulit.
Namun saya tidak menyerah dan berusaha menyajikan sebuah
artikel di blog saya ini, paling tidak satu artikel setiap
minggunya. Dalam menulis artikel itu pun saya kebingungan
sampai harus googling dulu untuk menemukan bahan yang
akan saya buat menjadi sebuah artikel. Apabila sudah
kehabisan ide dan bosan, maka yang saya lakukan sebagai jeda
dalam melanjutkan menulis yaitu mematikan laptop sambil
melakukan aktivitas yang lain seperti mendengarkan musik
160

atau menonton televisi untuk membangkitkan semangat
kembali. Tulisan dilanjutkan apabila mood sudah mulai baik.
Di masa dewasa sejak ada jejaring sosial, salah satunya
adalah Facebook, saya memilih untuk menulis beberapa
kontemplasi pribadi di Facebook, bukan di blog. Meskipun saya
memiliki beberapa jejaring sosial, namun pengalaman
membuktikan bahwa saya tidak pernah bisa aktif menulis aktif
di jejaring sosial, terutama di blog. Mungkin karena saya tidak
tahu bagaimana caranya mempromosikan sebuah blog agar
banyak yang mau membacanya, maka saya merasa tulisan
saya di blog tidak pernah terapresiasi oleh siapapun, sedangkan
di Facebook teman-teman saya adalah audience-nya. Satu lagi
beda blog dengan Facebook adalah adanya section Photo
Album di Facebook. Saya gemar memfoto dan difoto serta
memamerkannya seperti teman-teman yang lain, sehingga
tiap kali saya upload sebuah album, saya selalu ingin
melengkapi album tersebut dengan penjelasan aktivitas yang
terkait saat itu. Tadinya berbentuk komentar atau liputan,
lama-lama saya cenderung membuatnya dalam bentuk cerita.
Tujuannya adalah untuk memperpendek penjelasan saya dan
161

sekaligus menuangkan perasaan yang saya alami di dalamnya.
Dengan menggunakan bahasa alay jatuhnya jadi lebih
dramatis, dan saya ternyata menikmatinya. Mungkin disitulah
awalnya saya mulai suka menulis.
Dalam pengalaman saya, karena status saya sebagai
siswa, salah satu cara untuk menghindar dari sifat pemalas
adalah dengan mengambil waktu luang untuk mencorat-coret
kertas putih di saat bosan waktu belajar malam. Beruntung
saya adalah seorang siswa dengan tugas sekolah yang tidak
cukup padat. Karena saya tidak mengikuti dan tidak aktif dalam
organisasi maupun ekstra kurikuler, sehingga mempunyai
waktu luang yang panjang yang saya ambil sedikit demi sedikit
waktu untuk kebutuhan menulis ini. Disamping itu, profesi saya
saat itu sebagai siswa SMA seringkali mengharuskan fokus
untuk belajar menghadapi ujian nasional. Saya selalu
menyempatkan diri diantara waktu luang saya di luar jam
belajar untuk menulis, sejak dari pulang bimbingan belajar
sambil ngumpul bersama teman di kafe yang ada wifinya,
alasannya agar mudah koneksi jaringan internet sebagi
mempermudah mencari bahan dalam menulis. Sampai di
162

kamar begadang hingga tengah malam. Tidak ada kiat khusus
dalam menyikapi masalah ini. Yang pasti usahakan selalu fokus
dalam belajar pelajaran di sekolah dan jadwal les tidak
berantakan, serta proses menulis berjalan lancar. Setiap kali
saya sudah ada ide untuk menulis, saya menulis di note agar
tidak lupa pada waktu menulis dalam waktu luang, meskipun
ide yang saya dapatkan tidak berada di rumah. Saya pergi di
pagi hari di jam yang sama karena harus tetap masuk
kesekolah. Namun sesampainya di sekolah, saya tidak
melanjutkan proses tulis menulis, akan tetapi saya ke
perpustakaan sekolah. Saya selalu berada disana setiap hari
selama mencari bahan dan menambah wawasan. Sejak pagi
sampai sore untuk menulis, kemudian dijemput oleh ayah untuk
pulang di waktu seperti biasa. Bagi saya, suasana di
perpustakaan sangat kondusif dalam proses pencarian ide atau
bahan untuk menulis.
Tempat yang ternyaman menurut saya saat itu adalah
perpustakaan di sekolah, karena lokasinya tidak sempit,
kalaupun banyak yang datang dari siswa. Suasana tetap
terjaga dan terkendali sehingga tidak terkesan sesak, dan tidak
163

ada suara berisik yang mengganggu konsentrasi saya,
menenangkan pikiran dan menumbuhkan semangat untuk
menulis. Dari pengalaman saya di bidang menulis yang sangat
minim ini, menurut saya modal yang perlu dimiliki penulis
adalah ketrampilan menulis dan kemampuan memperhatikan.
Ketrampilan menulis bisa diperoleh dari seringnya menulis.
Practice makes better! Silahkan kalau ingin mengambil kursus
menulis atau tidak, tapi yang pasti sering-seringlah menulis.
Saya sendiri belum pernah kursus menulis, tapi saya tidak
menyerah pada sulitnya membuat karya tulis meskipun
berawal dari iseng-iseng. Kemampuan memperhatikan tidak
ada kursusnya. Disini menurut saya sangat penting bagi penulis
untuk mengasah sensitivitas hati dan pikiran. Caranya adalah
dengan menangkap makna pada setiap kejadian dalam
kehidupan. Sebuah karya akan dianggap dalam dan tidak
dangkal adalah pada saat karya itu menyentuh satu sisi di
kehidupan. Sebagai latihan, cobalah mencermati lirik lagu yang
mendapat penghargaan atau mencari sisi kemanusiaan dari
sebuah film action, komedi, animasi dan drama yang masuk
nominasi Oscar.
164

Kalau sudah bisa menangkap esensinya, mulailah
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya
menjadi pendengar yang baik bagi teman-teman, mencari sisi-
sisi kemanusiaan dari berita-berita di televisi dan koran, atau
mencermati pengalaman hidup kita sendiri atas suatu nilai
hidup yang saat ini kita tahu. Mungkin dari situ kita akan
menemukan bagaimana diri kita menjadi lebih mengerti atau
lebih bijaksana dalam memandang sesuatu. Setelah sekian
lama belajar dan berusaha menulis artikel saya mulai mengerti
kiat kiat dalam membuat sebuah artikel, dan saya mulai berpikir
ternyata hal yang sepele di sekitar kita bisa di jadikan bahan
untuk menulis sebuah artikel yang bermanfaat.

165

Curahan Hati
oleh : Moch. Rizky Dharmawan

Ketika beranjak dewasa rasa akan menulis karya tulis
mulai terbentuk dengan sedikit paksaan dan tuntutan akan
tugas. Kulakukan tugas itu sendiri dengan berat hati. Meskipun
aku tahu itu bukan keinginan dalam hati dan tidak mengubah
pendirian aku suka akan hal dalam menulis. Itu terbukti dari
komentar pedas yang aku dapat, "le awakmu iso ora gawe
cerito tulis? Kebacut le hasil tulisanmu elek tenan iki (kamu bisa
tidak membuat cerita tulis? Keterlaluan kamu hasilnya jelek
beneran ini)". Memang mengecewakan kalau mendengar
komentar seperti itu. Itulah sedikit catatan aku dan mungkin
bisa jadi pengalaman pertama saat menulis karya tulis. Menulis
bagi aku bukan cerminan dari diri aku. Memang menyedihkan
melihat seperti itu di saat aku harus melihat ke arah belakang.
Aku adalah Moch. Rizky Dharmawan, bisa dipanggil
Dhar, itu panggilan dari seseorang cewek yang lama aku kenal.
Aku anak pertama dari pasangan suami istri; Tuan Besar Yitno
166

dan Nyonya besar Nurhayati Boru Capah. Aku lahir dari dua
bersaudara, adik ku bernama Rizka Damayanti biasanya
dipanggil Yanti. Sekarang masih berumur dua puluh satu tahun.
Ayahku bekerja sebagai karyawan pabrik swasta dan ibuku
bekerja sebagai guru. Mungkin aku sangat beruntung memiliki
keluarga seperti mereka, karena mereka sangat sabar mendidik
aku sampai sekarang ini. Meskipun terkadang aku selalu
membuatnya jengkel karena ulah nakalku. Namun untuk saat
ini aku berkeinginan untuk merubah semua tingkah lakuku. Aku
ingin membahagiakannya seperti mereka yang sudah
membahagiakan ku. Bagi aku Sesuatu yang bisa melindungi
kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan Raditya
Dika.
Berbicara soal curhat (curahan hati), aku sendiri bukan
tipe orang yang dengan mudah curhat sama orang lain. Banyak
yang bilang kalau aku termasuk orang yang tertutup dan itu
memang benar adanya. Tetapi ada juga yang berani-beraninya
bilang kalau aku itu kurang gaul, gaptek (gagap teknologi) atau
apalah aku juga tidak tahu kata mereka, dan itu ada benernya
juga. Aku lebih nyaman nongkrong di tempat sepi atau tidak
167

terlalu ramai. Kalaupun aku punya masalah, aku sendiri
biasanya cerita sama pada diriku sendiri. Memang itu yang
sering aku lakukan pada keseharianku. Mungkin dari kalian
yang membaca tulisanku ini merasakan hal yang sama kan.
Semuanya berjalan dengan sendirinya dan tidak ada hal dari
luar yang mempengaruhi kita. Tapi bukan berarti aku tidak
punya sahabat yang bisa aku percaya untuk menjadi tempat
curhat aku. Pasti ada, tapi masalahnya aku masih suka memilah
mana yang pantas aku ceritakan buat sahabat. Memang aku
masih merasakan kalau emotional attachment (keterikatan
emosi) dengan orang lain cenderung kurang dibandingkan
dengan orang-orang normal pada umumnya.
Mungkin aku lebih cenderung cool, tetapi itu memang
style (gaya) keseharianku dan boleh dikatakan lebih baik diam
kalau tidak ada yang diomongin. Menurut aku seperti itu, bisa
dibilang sebagai personality type (tipe kepribadian) dan bukan
sebagai personality disorder (Gangguan kepribadian). Misalnya
kalau saat ada acara kumpul-kumpul bersama teman dan
sahabat cuma berbicara seperlunya kalau dirasa perlu bicara.
Apalagi soal berbicara diri sendiri ditulisanku ini, tidak semudah
168

apa yang kalian saat menulis cerpen di buku tulis. Menurutku,
butuh kepercayaan diri yang tinggi dan mungkin suasananya
seketika berubah sewaktu kita nyaman untuk menulis. Itu yang
coba aku cari-cari ketika menulis.







169

Kisahku Dan Kitty
oleh : Silmia Nurilhutami
Saat aku duduk dibangku SMP, aku tinggal dirumah yang
bersebelahan dengan rumah saudara-saudara dari ayahku.
Waktu itu aku senang sekali bermain dengan tanteku yang saat
itu masih duduk dibangku SMA. Tanteku suka sekali menulis
dibuku yang menurutku buku itu lucu dan sangat menarik, ada
gemboknya pula. te, itu buku apa sih? tanya aku, Jawab tante
oh ini namanya buku diary. Keesokan harinya aku rela tidak
membeli snack waktu disekolah, uangnya aku tabung untuk
membeli buku diary seperti punya tante. Selama semingu itulah
yang aku lakukan disekolah. Setelah aku rasa uangku cukup
untuk membeli buku diary, aku pergi ke toko buku
menggunakan sepeda miniku. Sesampai disana aku melihat
buku diary seperti punya tante tapi harganya sangat mahal. Aku
memilih buku diary kecil dan sederhana yang harganya sesuai
dengan isi dompetku.
Menulis buku diary adalah suatu pengalaman yang aneh
bagiku, karena aku belum pernah menulis secara kreatif
170

sebelumnya. Namun, hal itu tidak menurunkan semangatku
untuk menulis, yang terpenting adalah aku perlu mengeluarkan
uneg-uneg yang membebani otakku kedalam diary ini. Setiap
kali aku tertekan, di rumah bosan tanpa kegiatan. Aku lebih
memilih untuk diam dan merenung, meluapkan isi hatiku
kedalam tulisan, karena aku merasa lebih aman menulis pada
diary dari pada harus bercerita kepada seseorang yang tidak
menjamin kerahasiaannya dan aku takkan membiarkan
seorangpun membaca isi diaryku. Alasan pertama yang
mendorongku untuk menulis diary adalah karena aku tak
memiliki seorang teman yang bisa diajak untuk bertukar
pendapat dan dapat dipercaya atau biasa disebut sahabat
sejati. Aku ingin diary ini menjadi sahabatku, oleh sebab itu aku
memanggilnya dengan nama kitty.
Awal masuk SMP tulisan pada diary ku sangat
menyedihkan. Pada saat itu aku banyak dimusuhi oleh kakak
kelasku, pastinya yang tidak suka denganku yaitu perempuan
karena kekasih mereka banyak yang memberikan perhatian
kepadaku. Aku sering di datangi dikelasku dan dimaki-maki,
sampai sampai ban sepedaku di tusuk menggunakan paku.
171

Setiap hari seperti itu dan terkadang keranjang sepedaku sering
dirusak. Aku tidak tahan bersekolah dengan situasi yang setiap
harinya membuat aku down. Aku ingin sekali pindah sekolah
saat itu, tapi aku tidak tega untuk menyusahkan orang tuaku.
Aku mencoba bersabar dan berdoa, hanya dengan menulis aku
bisa meluapkan rasa kesal, jengkel dan amarahku. Menginjak
kelas tiga SMP, aku mulai jarang membuka kitty, mulai malas
menulis karena tidak ada cerita yang membuatku bersemangat
untuk ditulis. Aku mulai lega karena tidak ada lagi kakak kelas
yang memusuhiku. Prestasi ku mulai meningkat karena tidak
ada lagi yang membuat beban fikiranku. Aku fokus belajar, UAS
sudah mendekati dan Kitty pun mulai terabaikan. Aku lulus SMP
dengan nilai yang cukup bagus, tapi aku tidak berminat untuk
masuk ke SMA Negeri. Aku langsung daftar di SMA Swasta
favorit di kotaku. Suasana yang berbeda dari waktu SMP, masa-
masa SMA adalah masa yang indah menurutku. Ternyata benar
persepsi banyak orang tentang kehidupan masa SMA. Begitu
banyak kebahagiaan yang aku dapatkan.
Kitty pun aku buka kembali dan mulai menulis lagi kisah
kehidupanku yang penuh warna. Disitulah aku mulai mengenal
172

CINTA, yang tak lain adalah kakak kelasku sendiri. Kebetulan
kita satu ruangan tapi dia kelas pagi dan aku kelas sore. Dia
mengetahuiku saat aku menunggu kelas pagi usai, dari situlah
dia mengaggumiku dan sering mengirim surat untuku yang
diletakan dikolom mejaku. Suatu saat dia meninggalkan buku
puisinya dikolom mejaku dan disitu ada nama dan nomor
Handphone nya, entah itu sengaja atau tidak. Aku membawa
buku itu pulang karena aku sangat menyukai puisi, sesampai
dirumah aku membaca puisi-puisinya. Indah sekali tulisan
puisinya, dan aku ingin tahu seperti apa orang-nya. Aku
memberanikan diri untuk menelponnya, dan itulah awal
kedekatan kita.
Hari berganti hari kita semakin dekat dan aku semakin
salah tingkah karena aku tidak pernah merasakan yang seperti
ini. Setiap hari dia mengantarkanku pulang dan selalu
memberikan bunga mawar merah kepadaku. Bunga itu aku
letakkan di vas bunga kamarku, setelah mengering aku taruh di
dalam kitty dan di vas bunga aku ganti dengan mawar yang
masih segar. Bunga itu masih aku simpan sampai sekarang,
kering dan warnanya coklat kehitaman. Kitty pun selalu aku
173

tulis dengan cerita yang sangat membahagiakan. Mungkin
kalau kitty manusia dia bisa merasakan kegembiraan yang aku
rasakan. Puisi-puisi dari bukunya ada yang sebagian aku
pindahkan ke kitty. Aku menulis prinsipku pada kitty, yaitu :
Cinta mengajarkan kita untuk hidup berdua..
Bukan untuk mendua.
Cinta mengajarkan kita secara utuh..
Bukan untuk selingkuh.
Cinta mengajarkan kita untuk saling berbagi..
Bukan untuk saling menyakiti.
Kedekatan kita mulai menjauh sehari sebelum hari ulang
tahunku, entah mengapa dia seperti itu. Bukan kado atau
kejutan yang aku harapkan tetapi kedatanganya hadir di acara
bertambahnya usiaku. Aku pasrah jika dia menjauh dariku, dan
aku pun menulis kata mutiara pada kitty yang aku kutip dari
google, yaitu :
Ada saatnya seseorang berhenti mengharapkan apa
yang dia inginkan, bukan karena dia telah mendapatkan
yang lain,, tapi karena dia sadar, orang yang dia inginkan
tidak mengharapkannya!
Aku bersyukur mempunyai kitty walaupun hanya sekedar buku
diary tapi sangat bermakna buat aku. Aku sangat berhati-hati
174

menaruh kitty karena aku mempunyai dua adik yang sangat
aktif. Aku tidak takut buku itu dibaca oleh adikku karena pada
saat itu adikku masih belum lancar membaca, yang aku
takutkan kitty akan dicoret-coret dan dirobek-robek olehnya.
Aku mulai malas menulis semenjak membuat akun
facebook, semua yang aku rasakan, alami, aku update di
facebook. Namun, aku tidak seleluasa menulis pada kitty
karena aku takut statusku menyinggung perasaan orang lain.
Komentar-komentar distatusku banyak yang menyimpang, aku
sangat kesal melihatnya, aku putuskan untuk menutup akun
facebook tersebut dan kembali bercerita pada sahabatku
kitty. Kitty lah yang mengerti aku tanpa mengeluh. Siapapun
yang ingin jadi penulis ia bukan hanya harus menguasai teori
tekhnik menulis yang baik. Lebih dari itu, ia mesti mampu
mengusir segala pikiran negatif yang menghambat energinya
untuk menulis. Menulis tentang trauma, menuliskan hal-hal
yang sangat pribadi akan membantu melepaskan beban dan
keresahan yang ada di hati. Menulis hal pribadi membantu
menggali sisi paling intim dan emosional seseorang. Semakin
dalam akan semakin membantu menjernihkan pikiran dan
175

bahkan menyelesaikan masalah. Karena itu menulis catatan
pribadi menjadi sangat penting dilakukan bagi siapa saja.
Terutama bagi mereka yang sering berada pada situasi
bertekanan tinggi.
Tidak usah terlalu memikirkan tata bahasa, ejaan, atau
struktur kalimat. Tulis saja se-alami mungkin. Ini akan sangat
membantu meringankan beban yang dialami. Akibatnya pikiran
akan lebih sehat. Badanpun ikut sehat. Maka yakinilah sedalam-
dalamnya bahwa menulis menyehatkan dan buktikanlah.
Menurut saya menulis buku diary itu bebas mengekspesikan
diri melalui tulisan tanpa ada rasa takut disalahkan dan dikecam
orang lain. Melegakan hati, membuat pikiran fresh jika
mendapatkan sebuah masalah. Menulis juga melatih otak
kanan untuk bekerja.






176



















177

Menulis dengan Tidur
oleh : Tubagus Satria Wibisana
Pukul 01.00 WIB dini hari, mata masih terbuka bukanlah
hal yang langka bagiku. Malam ini terdengar suara hujan
dengan riuhnya. Beberapa jam yang lalu aku tertidur.
Tertidurku adalah berfikirku akan sebuah persembahan
terutama untuk orang tuaku. Tertidurku biasa saya sebut
sebagai lamunanku. Aku seorang mahasiswa yang mempunyai
banyak inpirasi dalam otakku. Imajinasiku tergolong tinggi. Aku
suka menggambar. Tapi malam ini, media gambar ku sulap jadi
media menulis. Sebenarnya cukup buat aku tertawa, bukan
jiwaku mengutarakan unek-unek otak dengan menulis. Kamar
tidur itu persinggahan paling hangat terutama menghangatkan
otak di tengah dingin hujan bagiku. Awal mula tertidurku
berasal dari umur. Usiaku bertambah setelah melewati jam
00.00 tadi, tengah malam ini bukan hanya pergantian hari saja,
namun termasuk sejarah. Bertambahnya usiaku membuat
pikiran terkocak melesat mengikuti detik-detik jam yang
terdengar bersahutan dengan hujan. Memejamkan mata
seolah bermimpi. Bukan tak ada niat untuk masuk ke dalam
178

dunia fana, Tampak alur-alur perjalanan yang aku inginkan dan
tak ku inginkan. Menitih tujuan yang benar-benar ku tuju
sebagai hasil akhir. Mendadak nadi terasa berdenyut kencang,
mengernyitkan alis mata dan seolah baru terbangun,
kutumpahkan pemikiranku dalam coretan. Bukan sekedar
sandi-sandi atau coretan bentuk gambar, tapi susunan kata
yang menyerupai daftar menu makanan dengan harga murah
dan mahal. Bias-bias lamunanku memperlihatkan fatamorgana
di dinding kamar dengan pesona keindahannya.
ku mulai tulisannku dengan menceritakan kembabli
aktvitas rutinku. Menunjukkan Pukul 06.00, bangun dari tidur
yang benar-benar tidur. Kesiangan, matahari sudah secerah
anggapan mimpiku. Bergegas ku sapa ayah dan ibu, di rumah
sederhana hidup dengan sedikit anggota keluarga membuat
aktivitasku tidak jauh dari pengaruh kedua orang tua. Jadwal
kuliah jelas terpasang di dinding tepat di bawah jam dinding.
Tertidurku yang bias semalam menimbulkan semangat baru,
kuputuskan berangkat menuju kampus lebih awal dari jadwal
kuliah saja.
179

Pukul 10.00 WIB, tidak biasanya sedikit istimewalah
pandanganku hari ini. Berhenti di depan kampus, duduk di
warung kecil ditemani secangkir kopi. Menikmati setapak demi
setapak yang terlihat mata, tampak dengan anggunnya gedung-
gedung yang berjajar kokoh dalam satu gerbang universitas
tempatku melukis masa depan. Cita-cita masa kecil kembali
terlintas, lagi-lagi aku tertidur (baca: melamun). Ku ambil
perlengkapan menulis seperti seorang jurnalis. Mencoba
terbiasa untuk menumpahkan pemikiran dalam kertas. Seorang
pilot, tertawa geli melihat saat ini aku tidak berada dalam
sekolah penerbangan sesuai cita-citaku. Entah alasan apa aku
mengingkan menjadi seorang pilot. Kuanggap saja hanya
imajinasi masa kecil untuk melegakan hati. Pemikiran itu
standart tinggi untuk masa depan yang cerah, namun nyata nya
di usia ku kepala dua aku seorang mahasiswa biasa dengan
mimpi yang baru.
Nada BBM meramaikan handphone, memang sedikit ku
abaikan. Tak lama terdengar suara nyaring menyebut namaku
dari seberang jalan. Tersontak aku merespon cepat panggilan
seorang yang sebaya denganku. Kelas, ruang belajar yang
180

selama ini masih menjadi tempat pusat ilmu. Aku menyukai
suasana kelas dengan warna-warni kelakuan teman-temanku.
Ku anggap pendukung meraih kesuksesan yang bagaikan
pemandu sorak di lingkup kompetisi. Jam kuliah berakhir, tidak
terdengar bel berbunyi selayaknya Sekolah Dasar. Kantin,
tujuan kedua saat berada dikampus, maklum manusiawi
setelah kegiatan ion tubuh berkurang. Hiruk pikuk melepas
penat tampak dari wajah-wajah kerumunan mahasiswa. Hari ini
masih peringatan hari bertambahnya usiaku. Tak sedikit ucapan
yang ku terima, hingga acara makan-makan mendadak pun
terjadi sebut saja traktiran. Berbaik hati membagi rezeki apa
salahnya, pikirku. Tak ada sesuatu yang lebih indah daripada
berbagi.
Menjelang sore, sesampai di rumah menyempatkan diri
untuk beristirahat. Tidur merupakan salah satu cara melupakan
rutinitas sejenak. Suara ibu bagai alarm pribadi yang selalu
membangunkan ku. Membasuh diri dan duduk di ruang
kesayangan keluarga. Hampir setiap hari cerita bersama
keluarga menjadi agenda yang tak terlewatkan. Gelak tawa
ayah dan ibu sudah menjadi matahari yang menuntut aku
181

secara tidak langsung untuk memintaku hidup sukses. Mungkin
itu salah satu tujuan terbesarku, melihat kedua oaring tua
bangga. Pukul 20.00 WIB, tugas-tugas kuliah menanti di kamar
tidurku. Berfikir positif, lelah penat pasti ada dihantui tugas
yang berjibun tapi ini jalan menuju mimpi yang baru. Tugas
kuliah selesai, ku ulangi tertidurku dengan bermimpi. Kali ini
aku berniat memikirkan rencana susunan atau semacam jadwal
apalah untuk mengatur waktu berusaha lebih cepat meraih
kesuksesan. Tersadar, aku menulis lagi, inilah yang ku sebut
tertidur dengan menulis melayangkan pikiran berisi mimpi
sama hal nya lamunanku dan menuangkannya dalam tulisan.
Aku mulai terbiasa, iya aku sengaja melatih jari-jari
menuangkan pemikiran. Bukan bermaksud membelokkan hobi
ku yang pada dasarnya menuangkan dalam gambar, secara
realita saat ini aku berada dalam lingkup yang memang
seharusnya aku beradaptasi dengan jurusan yang ku ambil
dalam perkuliahan Ilmu Komunikasi.
Berkuliah di jurusan ilmu komunikasi memberi
tantangan baru untuk belajar menulis. Dalam belajar menulis,
aku mempelajari dari pendapat-pendapat para ahli. Menulis
182

dapat dijadikan kegiatan untuk mengungkapkan perasaan
seperti pendapat menurut D.H. Lawrence , Saya suka menulis
waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.
Lalu dengan menulis dapat memudahkan untuk membantu
dalam memahami suatu hal menurut C. Day Lewis, Kita tidak
menulis untuk dipahami; tetapi untuk memahami. Susunan-
susunan huruf yang kita tulis memiliki arti yang luar biasa
semacam kata-kata mutiara, Kadang-kadang, kata yang
paling sederhana adalah yang paling indah.
Ada beberapa tips menulis yang aku petik dalam
pengalaman menulis. Pertama, menciptakan ide dan
menemukan inti dari cerita, lebih mudah berisi pengalaman diri
sendiri atau lingkungan terdekat, jika jauh dari pengalaman
pribadi maka penulis lebih banyak mempunyai tugas. Kedua,
tentukan judul yang bersifat menarik, mudah dan membuat
orang penasaran karena pandangan pertama pembaca adalah
ada pada judul kemudian turun kesinopsis. Ketiga, kembangkan
inti cerita menjadi storyline, buat cerita menjadi senyata
mungkin, jangan hanya menyebut adegan cerita tapi
gambarkan juga suasananya sehingga pembaca dapat masuk ke
183

dalam cerita. Lalu buat paragraf yang memfokuskan pada inti
cerita sesuai alur yang ditentukan. Dalam menulis, penulis
harus dapat mendalami cerita kalau perlu mendatangi lokasi
atau pemeran yang menjadi sumber ide untuk lebih mudah
mencurahkan ke dalam tulisan.