Anda di halaman 1dari 8

Alasan Pemohon

1. Bahwa meskipun Pasal 3 ayat (5) dan Pasal 9 UU 42/2008 telah pernah dimintakan
pengujian di hadapan Mahkamah seperti sebagaimana dalam Putusan Nomor 51-52-
59/PUU-VI/2008 dan dalam putusan-putusan Mahkamah yang lain
2. pemohon bermaksud melakukan pengujian kembali pasal 42 ayat (1) dan ayat (2)
Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman Beracara
tersebut dengan alasan konstitusional dan kerugian konstitusional
3. Alasan konstitusionalnya merupakan sesuatu yang baru
4. hak Konstitusional dan Kenyataan Empirik ini sebetulnya telah diakui oleh
Pemerintah
5. hak warga Negara memilih secara efisien terkait dengan penggunaan waktu, energi,
biaya warga negara untuk melaksanakan Hak Pilihnya yang lebih terjamin dengan
penyelenggaraan Pemilihan Umum Serentak.
6. Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara serentak akan mendorong partai politik
lebih cermat dalam menentukan arah kaderisasinya, apakah ke arah anggota legislatif di
tingkat mana, ataukah ke arah Presiden dan Wakil Presiden, dan di masa depan ke arah
calon kepala daerah di tingkat mana (sehingga tidak terjadi seorang kader mencoba
mencari peruntungan politik di aneka tingkatan pada aneka tahun pemilihan). Pemilihan
Umum yang dilaksanakan secara serentak juga
sering dikaitkan dengan peluang memunculkan pemimpin-pemimpin eksekutif
alternatif.
7. Adanya Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara serentak juga sering dikaitkan
dengan Penghematan serta Pencegahan KORUPSI POLITIk.

Menurut man Putra Sidin
ada beberapa motif, alasan, tujuan kebutuhan yang melatarbelakangi pembentuk
undang-undang guna menentukan model pilihan pelaksaaan pemilu tak serentak. Motif
atau dasar inilah yang kemudian mendapatkan basis pembenaran konstitusional sebagai
kebiasaan dalam Putusan MK 51-52-59/PUU-VI/2008 33
yang lalu diantaranya.
1. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden sulit dilaksanakan bersamaan dengan
pemilihan umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD karena untuk dapat terpilihnya
pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50%
dari jumlah suara pemilih dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang tersebar
di lebih dari setengah provinsi di Indonesia sulit di penuhi dengan satu kali putaran,
apabila terdapat lebih dari dua Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang
diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilu tahun 2009;
2. Pemilu serentak berpengaruh terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan di daerah;
3. Pemilu tak serentak karena lebih didasarkan pada pertimbangan persoalan-persoalan
teknis penyelenggaraan Pemilu yang kalau pelaksanaannya dilakukan secara simultan
akan menimbulkan kerepotan dan kesulitan pelaksanaan teknis penyelenggaraan
Pemilu;
4. Pengaturan terhadap Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dalam Undang-Undang ini
juga dimaksudkan untuk menegaskan sistem presidensial yang kuat dan efektif, dimana
presiden dan wakil presiden terpilih tidak hanya memperoleh legitimasi yang kuat dari
rakyat, namun dalam rangka mewujudkan efektivitas pemerintahan juga diperlukan
basis dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat; Setidaknya 4 alasan inilah yang
menjadi motif atau dasar atau kebutuhan
konstitusional pembentuk undang undang dibalik pilihan pemilu tak serentak tersebut.


Menurut Ham di Muluk, psikologi politik

Pertama :dengan cara ini partai politik akan sungguh-sungguh mempersiapkan paket
yang menarik antara presiden dan susunan anggota legislatif dalam satu paket
pemilihan. Kondisi ini jauh lebih ideal bagi partai-partai untuk secara sungguh-sungguh
mengedepankan ideologi dan platform partai, serta menghilangkan peluang kompromi
(politik dagang sapi) ideologi politik demi sebuah koalisi mengusung presiden. Kondisi
straigth ticket akan didapat kalau memang partai politik serius mendekatkan presiden
dan platform partai, beserta susunan anggota legislatif dalam suatu paket dan waktu
yang bersamaan.
Kedua : pemilihan serentak, apalagi digabungkan juga dengan pemilihan kepala daerah
akan mengurangi keleiahan psikologis (psychologicalfatigue) para pemilih, yang terus
menerus dalam waktu beberapa bulan harus kembali ke bilik suara. Pemilihan yang
terlalu sering akan membuat rakyat bingung, capek, dan menurun motivasinya untuk
ikut pemilihan umum. Pemilu serentak dalam beberapa studi (misal lihat Csaba
Nikolenyi, Political Studies, Volume 58, Issues 1, Februari2010) berhasil menaikkan
partisipasi politik (voter turn-out).



Alasan Mahkamah Konstitusi mengabulkan pemohon
Mahkamah Konstitusi memutuskan mengabulkan permohonan uji materi Undang-
Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang
diajukan akademisi Effendi Gazali bersama Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Serentak.
Pasal yang diajukan ialah Pasal (3) Ayat (5), Pasal 9, Pasal 12 Ayat (1) dan (2), Pasal 14
Ayat (2), dan Pasal 112. Namun, MK menyatakan putusan pemilu serentak berlaku.
Mahkamah mempertimbangkan tahapan penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2014
telah dan sedang berjalan serta mendekati waktu pelaksanaan. Peraturan perundang-
undangan, tata cara pelaksanaan pemilihan umum, dan persiapan teknis juga telah
diimplementasikan. Jika pemilu serentak ditetapkan tahun ini, menurut Mahkamah,
tahapan pemilihan umum tahun 2014 yang saat ini telah dan sedang berjalan menjadi
terganggu atau terhambat karena kehilangan dasar hukum.
Salah satu butir pertimbagan ialah dapat menyebabkan pelaksanaan pemilihan umum
pada tahun 2014 mengalami kekacauan dan menimbulkan ketidakpastian hukum yang
justru tidak dikehendaki karena bertentangan dengan UUD 1945. Maka dari itu, pemilu
legislatif (pileg) dan pilpres dilaksanakan serentak. Akan tetapi, dalam putusannya, MK
menyatakan, pelaksanaan pemilu serentak itu dilakukan mulai 2019 mendatang.
Selain itu, Mahkamah mempertimbangkan, jangka waktu yang tersisa tidak
memungkinkan atau tidak cukup memadai untuk membentuk peraturan perundang-
undangan yang baik dan komprehensif jika pemilu serentak digelar pada Pemilu 2014.
Akan tetapi, meski menjatuhkan putusan mengenai Pasal 3 Ayat (5), Pasal 12 Ayat (1)
dan ayat (2), Pasal 14 Ayat (2), dan Pasal 112 UU 42/2008, menurut Mahkamah,
penyelenggaraan Pilpres dan Pemilu Legislatif tahun 2009 dan 2014 yang
diselenggarakan secara tidak serentak dengan segala akibat hukumnya harus tetap
dinyatakan sah dan konstitusional.


























ISTILAH


1. Politik Transaksional
politik transaksional adalah pembagian kekuasaan politik berdasarkan
kesepatan-kesepakatan politik yang dibuat oleh beberapa partai politik atau elite politik.
Politik transaksional, tidak melulu berkaitan dengan transaksi keuangan saja. Biasanya,
pembagian kekuasaan tersebut berkaitan dengan koalisi politik yang sebelumnya
dibangun. Tanpa ada koalisi, kemungkinan adanya politik transaksional itu sangat kecil.
Biasanya, sebelum koalisi dibangun, maka transaksi-transaksi politik itu harus sudah
disepakati. Jika dalam pelaksanaannya ada pengkhiatan, maka kesepakatan atau
transaksi politik itu bisa dievaluasi atau tidak dilakukan sama sekali.
Ketika baru tahapan koalisi baru berjalan, seperti tahapan Pilkada, maka
transaksi politik itu bisa saja dilakukan. Misalnya, Partai A mengusung calon bupati,
maka Partai B mengusung calon wakil bupati. Jika ada partai lain, maka partai lain itu
akan mendapat jatah lainnya. Misalnya jika pasangan calon yang diusung itu jadi, akan
mendapat jatah dalam kekuasaan nanti. Paling tidak, partai pengusung itu akan menjadi
mitra pemerintah di lembaga legislatif.
Namun ketika pembagian kekuasaan itu tidak dilakukan, maka transaksi politik
bisa diwujudkan dalam hal lain. Misalnya kompensasi dalam bentuk uang. Inilah yang
kadang disebut sebagai politik transaksional.


2. Political Efficacy
Political efficacysendiri terkait dengan konsep umum yang dikemukakan oleh Bandura
(1986) tentang Self efficacy. Self efficacydapat di definisikan sebagai penilaian
mengenai seberapa baik seseorang dapat menampilkan perilaku yang dibutuhkan untuk
mengatasi situasi atau tugas tertentu. Penilaian ini berpengaruh kuat terhadap pilihan-
pilihan individu, usaha, ketekunan serta emosi yang dikaitkan dengan tugas. Konsep self
efficacymerupakan elemen penting dari teori sosial kognitif tentang proses belajar,
dimana pembelajar mengalami proses belajar secara langsung.

3. A Quo
A quo dalam hukum berarti tersebut. Perkara a quo berarti perkara tersebut, perkara
yang sedang diperselisihkan.

4. Platform politik
Serangkaian prinsip atau kebijakan yang didukung oleh partai politik, kelompok
tertentu, atau praktisi politik perorangan. Platform ini bisa digunakan untuk menarik
perhatian masyarakat dalam pemilihan umum, seperti dengan diungkapkannya
dukungan bagi, atau penentangan terhadap suatu topik kontroversial. Selain itu, juga
bisa digunakan untuk melihat kesamaan atau perbedaan prinsip dan kebijakan yang bisa
dipertimbangkan saat membentuk koalisi. Beberapa platform politik yang biasa
digunakan partai politik diantaranya: agama, nasionalisme, pembelaan terhadap rakyat
kecil, upaya menggapai kesejahteraan dan memerangi kemiskinan, dsb.

.















HUKUM KELEMBAGAAN NEGARA
(KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG
PEMILU SERENTAK)






DISUSUN OLEH :
MOULYTA ELGI TRINANDA
02111001103




FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014/2015