Anda di halaman 1dari 4

Kompas.

com Cetak ePaper Kompas TV Bola Entertainment Tekno Otomotif Female Health Properti Urbanesia Images More
Ekonomi Moneter Artikel
Jefri Hidayat
domisili di Sumbar, lajang, 30 tahun. Twitter @jefrineger
TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Hatta Rajasa, Titik Magnet
Abdul Munir Sara
HEADLINE ARTICLES
REGISTRASI | MASUK
FEATURED ARTICLE
Sampai Lulus, Mahasiswa Hanya
OPINI | 18 November 2012 | 22:00
Dibaca: 6379 Komentar: 5 0
Rumah Saya Hampir Hilang Gara-gara
Bank
Saya dan keluarga sangat banyak mempunyai pengalaman apabila berbicara
dengan Hutang piutang, baik dengan pihak Bank, Leasing maupun dengan rentenir.
Sebelumnya, saya sudah menulis pengalaman berurusan dengan rentenir, dan itu
benar pengalaman pribadi dan sekarang saya juga ingin curhat dan menceritakan
pengalaman Keluarga (orang tua).
Sebelum membuka usaha Rumah Makan kecil-kecilan, orang tua membuka usaha
barang bekas, besi tua, logam dan plastic. Karena di daerah saya banyak terdapat
perusahaan perkebunan kelapa sawit, pengolahan kayu (sebelum ada illegal loging)
usaha besi tua itu pun berkembang.
Alat transportasi dari rumah kelokasi orang tua punya dua unit mobil pick up, tapi
untuk membawa barang bekas itu ke Jakarta atapun ke kota Medan orang tua harus
menyewa jasa transportasi, karena kami tidak mempunyai Truck, Ini lah awal dari
sebuah bencana itu.
Setelah melalui perenungan panjang dan kalkulasi perhitungan dagangnya, orang
tua memutuskan untuk membeli dua unit truck dengan cara kredit. Mengingat, agar
barang dirumah tidak menumpuk dan agar perputaran uang biar cepat, karena
modal orang tua tidak begitu besar maka jalan satu-satunya untuk mendapatkan
truck baru itu, dengan menggadaikan tanah beserta bangunan (rumah) diatasnya .
Pihak Bank sangat baik hati tanpa perlu bertele-tele dikucurkanlah dana segar
sejumlah 400 juta, separo dari uang tersebut digunakan orang tua sebagai DP
(Down Payment) atau muka. Separo lagi atau 200 juta di proyeksikan untuk
menambah modal usaha. Saat itu saya dan kedua adik masih kuliah, mengingat
biaya yang dikeluarkan cukup besar saya protes dengan langkah yang diambil
orang tua. Ketika itu Bapak menjelaskan tentang pemasukannya sekitar 15-20 juta.
Penjelasan ortu kala itu sederhana saja, dan saya cukup memahaminya. Untuk
setoran ke Bank orang tua harus merogoh 4,4 juta/bulan, hanya bunga saja tanpa
membayar modal selama 4 tahun. Dua unit Truck yang telah dibeli angsuran nya
sekitar 8 juta/bulan selama 5 tahun. Secara akumulatif si bapak harus mengeluarkan
uang sekitar 12 jutaan/ bulan selama 4-5 tahun. Beban berat sangat panjang yang
harus ditanggung oleh kedua orang, jika di bandingkan dari pemasukan tentu akan
tercukupi. Namun ada satu hal yang terlupakan oleh orang tua saya, beliau tidak
Rumah Saya Hampir Hilang Gara-gara Bank http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/11/18/rumah-saya-hampir...
1 of 4 23/05/2014 19:55
Giri Lumakto | | 23 May 2014 | 14:42
Ilyani Sudardjat | | 23 May 2014 | 12:25
Adi W. Gunawan | | 23 May 2014 | 15:56
Dewi Sumardi | | 23 May 2014 | 14:40
Kompasiana | | 08 May 2014 | 15:17
TRENDING ARTICLES
Muhammad Armand | 9 jam lalu
Pical Gadi | 9 jam lalu
Ellen Maringka | 10 jam lalu
Indria Salim | 15 jam lalu
Venusgazer | 17 jam lalu
INFO & PENGUMUMAN KONTAK KOMPASIANA
INDEX
Butuh Google
Pemerkosaan Mahasiswa
Malaysia di Unpad;
Sehat atau Sakit oleh Pikiran
Sendiri
Hebat! Mahasiswa Universitas
Indonesia Raih
Ikuti Blog Reportase Nangkring
bareng PU dan
Kampanye Hitam Itu Telah Tiba
di Masyarakat
Artis, Main-mainnya Cukup di TV
Saja
Blak-blakan Soal Arisan S-E-K-S

Kampanye yang Menyejukkan


Jadi Tersangka, SDA Coreng
Muka Prabowo
[Test Drive] Rally Wisata bareng New
Ikuti Lomba Blog Reportase Nangkring
Jakarta Monorail : Persoalan
Mengapa?
Mengangkat Harkat Hidup Orang Disabel dengan Kulit
Telur
Hebat, Inovasi Siswi SMA Sumsel Juara International
Science
Kiat Agar Tetap Sehat dan Prima Walau Usia Sudah
Lewati 70
Anak-anak Muda di Panggung Belakang Politik Pak

Marah-marah dan Gebrak Meja, Itulah Ahok.


Pertahankan!
Luar Biasa, Inikah Cara Tuhan Melindungi Jokowi?
Keajaiban Doa Seorang Isteri
Pelacur Kursi
Cabang Sekuat Batang
Tags: urusanutang freez
Siapa yang menilai tulisan ini?
Artikel ini belum ada yang menilai.
18 November 2012 22:20:47
sangat menarik, kbtulan saya jg mau ngembangn usaha, rencna jg mau utang bank,
Kang
memikirkan andaikan usahanya itu mandek atau macet.
Singkat cerita, dua tahun berlalu tepatnya kisaran tahun 2005 munculnya UU no 4
tahun 2005 tentang Illegal Loging, efeknya hampir seluruhnya perusahaan
pengolahan kayu menutup usahanya karena tidak mempunyai Hak Pengusahaan
Hutan (HPH). UU itu secara tak langsung juga menggerus usaha Besi Tua yang
digeluti orang tua saya. Tsunami telah melanda keuangan keluarga saya, karena
Besi Tua dan logam tersebut sebagian berasal dari perusahaan-perusahan kayu
Pemasukan yang tidak seimbang dengan pengeluaran membuat ekonomi keluarga
saya limbung, perlahan tapi pasti satu persatu asset yang telah ada terjual, yang
diawal dijualnya mobil Escudo untuk menutupi angsuran Bank dan kedua Truck,
karena sudah 5 bulan tidak dibayar. Belum lagi support biaya pendidikan kami pun
sering telat. Walaupun keadaan sudah berbanding terbalik namun orang tua saya
tidak menyerah dan terus berjuang memperbaiki keadaan.
Hari-hari berat yang dilalui keluarga disertai tiga unit mobil pick up telah tiada,
mengharuskan orang tua mengalihkan perhatian kepada ruko yang, ruko itu pun
berpindah tangan pada orang lain. Namun ekonomi tak kunjung membaik juga.
Selang beberapa bulan pasca terjualnya ruko dua unit truck tersebut akhirnya ditarik
orang leasing,orang tua saya hanya menerima sekitar 60 juta untuk harga kedua
mobil tersebut. Uang itu pun dginukan untuk menutupi bungan Bank yang dari hari
kehari terus membumbung, dan perlu diingat dengan pihak Bank komitment hanya
membiayai bunga, sedangkan Hutang pokok masih tetap (400juta).
Kisaran 2010-2011 ditengah orang tua yang mulai sakit-sakitan, sehingga bunga
Bank (angsuran) berhenti tanpa sadar, sudah dua tahun angsuran tidak dibayarkan.
Pihak Bank pun mendatangi rumah membuat suatu komitmen atau lebih tepatnya
Bank memberikan ultimatum jika selama 6 bulan kedepan hutang tersebut gak
terlunasi keseluruhan maka tanah beserta bangunan (rumah) akan dilelang oleh
pihak Bank bagaikan disambar petir disiang bolong rumah akan disita oleh pihak
Bank, walaupun rumah saya dua namun kehilangan satu rumah yang ditempati
bersama akan menjadi sebuah pukulan telak, karena mobil, ruko dan lain-lain sudah
habis terjual.
Sebulan menjelang hari H, datanglah surat dari pengadilan Tata Usaha Negara
(kalau gak lupa) tentang jadwal hari pelelangan, dua minggu setelah kedatangan
surat orang tua saya belum juga mendapat solusi, dag-dig-dug, detak jantung
berpacu sangat cepat. Orang tua saya harus mencari orang membeli sebagian
tanah tempat kami bertempat tinggal, karena lokasi rumah saya yang sanga
strategis di tengah-tengah perkantoran pemerintah, dengan waktu yang tak terlalu
lama datanglah pembeli perish tiga hari sebelum eksekusi dilakukan. Saat itu saya
dan keluarga bertekad tak akan pernah lagi berurusan dengan Bank dan lembaga
pembiayaan sekalipun, sudah terlalu banyak harta keluarga saya telah habis terjual
untuk menutupi hutang-hutang itu. Dan bagi kompasiana berfikirlah seribu kali jika
mau berhutang baik dengan Leasing, Bank ataupun rentenir.
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana
menjadi tanggung jawab Penulis.
KOMENTAR BERDASARKAN :
12 Recommend Recommend
Big Savings, Book Online
bsatower-makati.com
Check out our Summer Promo Free Car Transfer, with breakfast
TERAKTUAL
INSPIRATIF
Laporkan Tanggapi
0
Rumah Saya Hampir Hilang Gara-gara Bank http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/11/18/rumah-saya-hampir...
2 of 4 23/05/2014 19:55
Subscribe and Follow Kompasiana:
makasi bgt saranny, slm knal
0 Balas
Laporkan Komentar
19 November 2012 00:00:56
iya kang,,pikir2 dulu dech,,,sangat sedikit org yang berhasil dari pinjaman Bank
0 Balas
Laporkan Komentar
Hidayat
18 November 2012 23:24:18
Semoga jangan sampe ngutang gak sanggup kalau harus berurusan dengan rentenir
0 Balas
Laporkan Komentar
18 November 2012 23:56:14
amit2 dech bung,,saya gak akan pernah kebayang lagi dech
0 Balas
Laporkan Komentar
Hidayat
18 November 2012 23:42:22
ck ck ck. sejumlah tetangga sy kehilangan rumahnya depan mata sy gara2 kredit bank yg
melenakan. dan sy lah salah seorang pembeli rumah itu.
sy benar2 berlindung kepada Allah dari berurusan dgn bank pakai sertifikat rumah dan tanah.
jgnlah sesekali nyari modal usaha dgn sertifikat tanah jaminan bank.
0 Balas
Laporkan Komentar
18 November 2012 23:57:16
di kampung saya Bank,,saat harga kelapa sawit turun ada yg gantung diri karena
gak kuat bayar angsuran Bank dan tunggakan kredit mobil..
0 Balas
Laporkan Komentar
Jefri
Hidayat
19 November 2012 08:25:15
tragis mas, orangtua saya pernah hampir kejeblos urusan beginian, rumah satu2nya hampir di
sita, pendidikan anak2nya jadi morat marit tp karena itulah juga yang mendidik saya dan
saudara yg lainnya menjadi lebih mandiri dan tegar ( gak kebayang klo inget dulu ibu saya
harus menghadapi serangan psikis dari debt collector)
0 Balas
Laporkan Komentar
Gals86
19 November 2012 08:49:41
Mohon maaf saya sedikit berbeda menanggapinya. Dari cerita bapak ada yg salah dlm
penggunaan kredit. Jika pinjaman di bank tsb hanya membayar bunga saja dpt dipastikan
kredit yg digunakan adalah modal kerja. Akan ttp setengahnya dipakai utk uang muka leasing.
Artinya sdh terjadi penyimpangan kredit. Harusnya utk pembelian truck gunakan saja fasilitas
KKB di bank atau kredit investasi, atau kalauodal kerja hanya butuh 200 jt kenapa harus
minjam 400 jt. Di sini ketidakmamuan bayar setelah masa krisis lebih disebabkan oleh
tambahan pinjaman kpd leasing, krn hitungan bank tsb sdh cocok dgn kondisi paling minim, tp
ternyata ditambah lagi dg leasing sesudahnya. Baiknya kita sbg nasabah harus selalu
memperhatikan penggunaan kredit scr real di sektor yg dibiayai, usahakan jgn sampai
mempunyai kewajiban hutang lebih dr satu tempat/bank, gunakan pemakaian plafond kredit
seperlunya, sehingga hanya yg terpakai saja yg dikenakan bungademikian terima kasih
1 Balas
Laporkan Komentar
Dues K
Arbain
(sufi Anak
Zaman)
19 November 2012 11:47:07
Betul sekali kata bung Dues,kalau kita sudah pinjam uang ke Bank untuk menambah modal
usaha,sebaiknya jangan menambah utang ke pihak lain lagi karena beban kewajiban untuk
bisa melunasi hutang + bunga akan semakin berat,seharusnya untuk membeli kendaraan
Achmad
Rifai
BERMANFAAT
MENARIK
Rumah Saya Hampir Hilang Gara-gara Bank http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/11/18/rumah-saya-hampir...
3 of 4 23/05/2014 19:55
2008-2014
About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar
truck setelah mendapatkan dana pinjaman sebesar 400 jt dr bank,belilah kendaraan bekas
saja yg masih layak kemudian sisanya di alokasikan untuk modal usaha.Pedoman untuk
menghitung kalkulasi atau Rasio antara pemasukan dan jumlah angsuran adalah sekitar 30%
dari pendapatan kita per bln,jadi misalnya seseorang pendapatannya adalah 10jt/bln,maka
pihak bank akan menyarankan untuk membayar angsuran sebesar kurang lebih
3jt/bln,mengenai plafon pinjaman serta jangka waktu pinjaman bisa diatur sesuai dengan
kesepakatan bersama antara kriditur & debitur.Demikian sedikit tambahan dari saya,Nice
Posting,,Salam Kompasiana
1 Balas
Laporkan Komentar
20 November 2012 09:38:38
utang adalah wajar. kalau gaji kecil, katakan lah Rp 5 juta/bulan, bagaimana mau beli rumah
kalau bukan dengan utang? kalau anak cerdas, masuk universitas bagus, biaya masuk
puluhan juta, apa bisa bayar tunai? utang wajar asal tujuannya jelas dan sesuai kemampuan.
utang jelek bila ddipakai untuk spekulasi. misal spekulasi gadai emas (kebun emas),
spekulasi saham, spekulasi properti (spt di Amerika, Spanyol, dan China saat ini), dan banyak
contoh lagi. bapak ARB sang calon capres juga hobi ngutang ama perusahaan keuangan
global dan si yahudi Nat Rostchild, karena perusahaan2 beliau tidak layak dapat utang dari
bank komersial biasa. jadi utang yg wajar boleh2 aja, asal pemanfaatannya jelas dan
produktif.
0 Balas
Laporkan Komentar
Komentar Berikutnya
Tulis Tanggapan Anda
Rumah Saya Hampir Hilang Gara-gara Bank http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/11/18/rumah-saya-hampir...
4 of 4 23/05/2014 19:55