Anda di halaman 1dari 12

Dangdut Koplo: Konsumsi Hiburan Masyarakat

Pinggiran
(Kajian Konsumi Kebudayaan)

Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Sosiologi Kebudayaan



Disusun Oleh:
Nama : Erik Sutanto
No. Registrasi: 4815101561

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI (REGULER 2010)
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2011/2012
Dangdut Koplo: Konsumsi Hiburan Masyarakat
Pinggiran
(Kajian Konsumsi Kebudayaan)
1

Erik Sutanto. Sosok yang lahir di Lampung 14 November 1991
ini merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Sosiologi
Universitas Negeri Jakarta. Ia memiliki keterkaitan tinggi
terhadap kajian sosiologis dibidang politik, budaya dan agama.
Sosok yang mengemari sepak bola, otomotif dan menyanyi ini
dapat dihubungi melalui Email: eriks76@ymail.com, dan
facebook: erick soe@ymail.com.


Abstrak
Penelitian ini dilakukan guna melihat fenomena Dangdut Koplo yang berkaitan dengan
konsumsi kebudayan. Sebagai salah satu jenis kebudayaan, Dangdut Koplo tidak terlepas
dari pro dan kontra di masyarakat. Meskipun banyak pro kontra di masyarakat, kehadiran
Dangdut Koplo sebagai salah satu hiburan kebudayaan telah membius banyak penikmatnya.
Penikmat Dangdut Koplo sendiri di dominasi masyarakat pinggiran ketimbang masyarakat
di luar pinggiran. Karna banyaknya masyarakat pinggiran yang suka akan Dangdut Koplo,
hal ini kemudian membuat pandangan akan Dangdut Koplo sebagai salah satu konsumsi
hiburan masyarakat pinggiran menjadi semakin benar adanya. Dan pada akhirnya
pandangan tersebut menjadi salah satu bagian dari simbolisasi pandangan baru akan bentuk
konsumsi kebudayaan ditengah masyarakat pinggiran.

1. Pengantar
Pada era saat ini banyak sekali jenis musik yang beredar di masyarakat Indonesia.
Jenis musik tersebut pun beragama, antara lain: K-POP, POP, ROCK, JASS, Dangdut dan
masih banyak jenis musik lanninya. Penikmat dari aliran jenis musik ini pun beragam-
ragam dari mulai dari masyarakat menengah ke atas maupun menengah kebawah.
Meskipun antara kelas masyarakat menengah ke bawah dan menengah ke atas sama-sama
menyukai musik tetapi biasanya terdapat sebuah perbedaan selera antara menengah
kebawah dan menengah keatas. Biasanya masyarakat menengah ke atas lebih suka selera
mendengarkan musik Jass, K-Pop, Klasik dan Rock sedangkan biasanya masyarakat
menengah kebawah atau masyarakat pinggiran biasanyanya lebih suka mendengarkan
musik asli Indonesia, yakni: Dangdut.

1
Tulisan ini merupakan tugas Akhir Semester dari mata kuliah Sosiologi Kebudayaan. Penulis
mengucapakan terima kasih kepada Allah SWT, Bapak dan Emak di Kampung, Teman-teman
Asrama Mahasiswa Lampung, dan Bapak Robertus Robet selaku dosen mata kuliah Sosiologi
Kebudayaan atas bimbingan dan saranya.

Masyarakat menengah kebawah yang suka musik dangdut juga beraneka ragam.
Dalam perkembangannya saat ini banyak kita jumpai jenis musik dangdut. Salah satu jenis
musik dangdut yang saat ini fenomenal adalah musik Dangdut Koplo.
Musik Dangdut Koplo saat ini banyak kita jumpai pada saat acara-acara
pernikahan, khitanan dan pertunjukan-pertunjukan. Penikmat konsumsi dangdut ini sendiri
kebanyakan adalah masyarakat pinggiran. Pada umumnya mereka suka dengan aliran
musik Dangdut Koplo karena musiknya lebih energik ketimbang musik dangdut biasanya.
Musik Dangdut Koplo sendiri bisasanya identitik dengan cewek cantik dan seksi.
Dalam saat pemetasannya mereka tak canggung-canggung mempertontonkan ke erotisme
tubuh mereka. Melihat hal tersebut tak pelak banyak masyarakat yang pro dan kontra atas
pertunjukan Dangdut Koplo.
Tulisan ini akan dijelaskan dalam lima bagian. Pertama, adalah pengantar yang
akan menjelaskan maksut dan tujuan penelitian serta permasalahan pokok yang terdapat
dalam penelitian. Kedua, adalah kajian mengenai pengertian masyarakat pinggiran.
Ketiga, adalah kajian historis mengenai Dangdut Koplo. Keempat, adalah Dangdut Koplo
dijadikan konsumsi masyarakat pinggiran. Kelima, adalah penutup yang menjelaskan
kesimpulan fenomena sosial yang terkait Dangdut Koplo dijadikan sebagai konsumsi
hiburan masyarakat pinggiran. Penulisan ini sendiri dilakukan dengan menggunakan
metode kualitatif yakni dengan berdasarkan kepada studi historis, observasi dan
wawancara kepada lapisan masyarakat pinggiran. Selain itu juga digunakan pula metode
deskriptive dalam penulisan ini agar fenomena sosial yang terjadi dapat terlihat dengan
baik.

2. Pengertian Masyarakat Pinggiran
Menurut Karl Marx, masyarakat dilihat sebagai stuktur yang terdapat ketegangan
sebagai akibat pertentangan antarkelas sosial sebagai akibat pembagian nilai-nilai ekonomi
yang tidak merata didalamnya. Sedangkan menurut Selo Seomardjan mengartikan
masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

Kemudian pengertian masyarakat pinggiran sendiri adalah identik dengan
kemiskinan. Kemiskinan bukanlah semata-mata kekurangan dalam ukuran ekonomi, tetapi
juga melibatkan kekurangan dalam ukuran kebudayaan dan kejiwaan. Dimana di
dalamnya terkandung proses sosialisasi corak kebudayaan dari generasi yang tua ke
generasi berikutnya, inilah yang oleh Oscar Lewis disebut sebagai budaya kemiskinan
(Oscar Lewis 1959)
2
. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Latin (Meksiko) ini, ia
berpendapat bahwa kemiskinan merupakan suatu adaptasi atau penyesuaian dan sekaligus
merupakan reaksi kaum miskin terhadap kedudukan marginal mereka di dalam masyarakat

2
Oscar Lewis. Kebudayaan Kemiskinan. dikutip dari Parsudi Suparlan, Kemiskinan di
Perkotaan, Yayasan Obor, Jakarta, 1993
yang berstrata kelas, sangat individualistik, dan berciri kapitalisme. Kebudayaan tersebut
mencerminkan suatu upaya mengatasi rasa putus asa dan tanpa harapan akan perbaikan
nasibnya.


3. Konteks Historis Dangdut Koplo
Dangdut adalah aliran musik yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia,
Dangdut adalah musik yang sangat merakyat bagi bangsa Indonesia
3
. Musik Dangdut
berakar dari musik Melayu yang berkembang pada tahun 1940 an. Irama musik Melayu
sendiri sangat kental dengan unsur aliran musik dari India dan gabungan dengan irama
musik dari arab. Kemudian ditambah dengan unsur tabuhan gendang yang merupakan
bagian unsur dari musik India digabungkan dengan unsur cengkok penyanyi dan
harmonisasi dengan irama musiknya merupakan suatu ciri khas dari Irama Melayu
merupakan awal dari mutasi dari Irama Melayu ke Dangdut.
Pada awal mulanya Irama Dangdut Identik dengan Seni Musik kalangan kelas
bawah dan memang aliran seni Musik Dangdut ini merupakan cerminan dari aspirasi dari
kalangan masyarakat kelas bawah yang mempunyai ciri khas kelugasan dan kesederhaan
nya. Selanjutnya karena sifat kontemporer yang terdapat pada dangdut, maka di awal
tahun 1980 an Musik dangdut berintaraksi dengan aliran Seni musik lain, yaitu dengan
masuknya aliran Musik Pop, Rock dan Disco atau House Musik. Selain masuknya unsur
seni Musik Modern Musik dangdut juga mulai bersenyawa dengan irama Musik
tradisional seperti gamelan, Jaranan, Jaipongan dan musik tradisional lainnya.
Maka pada tahun 1990, mulailah era baru lagi yaitu datangnya Musik Dangdut
yang banyak dipengaruhi musik Tradisional yaitu Irama Gamelan yaitu Kesenian Musik
asli budaya Jawa maka pada masa ini Musik Dangdut mulai berasimilasi dengan Seni
Gamelan, dan terbentuklah suatu aliran musik baru yaitu Musik Dangdut Campursari.
Meski Musik dangdut yang lebih Original juga masih exist pada masa tersebut.
Pada era tahun 2000 an seiring dengan kejenuhan terhadapa Musik Dangdut yang
original maka diawal era ini Para musisi di wilayah Jawa Timur di daerah pesisir Pantura
mulai mengembangkan jenis Musik Dangdut baru yaitu seni Musik Dangdut Koplo.
Dangdut Koplo ini merupakan mutasi dari Musik Dangdut setelah Era Dangdut
Campursari yang bertambah kental irama tradisionalnya dan dengan ditambah dengan
masuknya unsur seni Musik Kendang Kempul yang merupakan Seni Musik dari daerah
Banyuwangi Jawa Timur dan irama tradisional lainya seperti jaranan dan gamelan. Dan
berkat kreatifitas para Musisi Dangdut Jawa Timuran inilah sampai saat ini Musik
Dangdut Koplo yang identik dengan gaya jingkrak pada goyangan penyanyi dan musiknya
ini saat ini sangat kondang dan banyak digandrungi segala kalangan masyarakat Indonesia.

3
Penulis menceritakan tentang sejarah dangdut koplo yang didapat dari http://indonesiaku.esc-
creation.com/2011/04/16/sejarah-perkembangan-musik-dangdut-indonesia (diakses tanggal 16 Juni 2012)
supaya pembaca dapat mengetahui tentang gambaran konteks historis dari Dangdut Koplo.
Kemudian pada era Musik Dangdut Koplo inilah mulai memacu tumbuhnya Group
Musik Dangdut yang lebih terkenal dengan sebutan OM atau Orkes Melayu antara lain
OM. Sera, OM. Monata, OM Palapa, OM New Palapa, OM RGS dan OM yang lebih kecil
lainya yang mengibarkan aliran Musik Dangdut Koplo di Nusantara ini.
Dan saat ini Musik dangdut sudah menjangkau segala kalangan masyarakat dari
kalangan kelas bawah (masyarakat pinggiran) sampai kalangan kelas ataspun(masyarakat
diluar pinggiran) sudah mulai ketagihan dengan Seni Musik Dangdut ini. Meskipun begitu
kebanyakan penikmat dangdut jenis ini kebanyakan masyarakat pinggiran ketimbang
masyarakat diluar pinggiran.
Gambar 1
Pertunjukan Dangdut Koplo

Sumber: http://dangdutkoplo.multiply.com(diakses tanggal 15 Juni 2012)
Gambar 2
Pertunjukan Dangdut Koplo

Sumber: http://musik-flazher.com(diakses tanggal 15 Juni 2012)
3. Dangdut Koplo dalam Kacamata Masyarakat
Pertunjukan Dangdut Koplo saat ini sering kita jumpai ditengah masyarakat.
Pertunjukan Dangdut Koplo tersebut saat ini sering menuai banyak kritikan di lingkungan
sosial
4
. Kritikan tersebut muncul seiring dengan kontroversi yang sering muncul di dalam
musik Dangdut Koplo. Kritikan tersebut yang kemudian membuat masyarakat memiliki
dua segi sudut pandang kacamata berbeda dalam melihat Dangdut Koplo. Dua segi
pandang tersebut, yakni: masyarakat yang pro dan masyarakat yang kontra terhadap
Dangdut Koplo.
3.1. Sudut Pandang Kacamata Masyarakat Pro
Maraknya pertunjukan Dangdut Koplo saat ini bukanlah barang baru. Meskipun
bukan baru setiap kekahadiran pertunjukan Dangdut Koplo sering memunculkan
kontroversi ditengah masyarakat. Ada sebagaian masyarakat yang tidak suka akan
pertunjukan Dangdut Koplo dan ada juga sebagaian masyarakat yang pro akan
kehadiran pertunjukan Dangdut Koplo tersebut.
Bagi masyarakat yang pro Dangdut Koplo, mereka menganggap bahwa Dangdut
Koplo memiliki keindahan dan kelebihan tersendiri ketimbang dangdut lainnya.
Mereka menggap apa yang dipertontonkan oleh pelantun Dandut Koplo ketika
bernyanyi dengan goyangan yang energik, dengan pakaian penyanyinya yang minim
dan dilantukan oleh penyanyi yang cantik, mereka menggap hal ini termasuk kedalam
sesuatu yang wajar dan inilah seni nya musik dangdut.
Apa yang diungkapkan di atas senada dengan apa yang di ungkapkan oleh Bang
Chandra salah satu penjaga toko di kawasan Palmariam, Matraman ketika di
wawancara penulis terkait Dangdut Koplo:
Kalau menurut saya mah Dangdut Koplo itu hal yang wajar, gak seronoh-
seronoh amat. Apa yang mereka lakukan semata-mata demi memenuhi
kelangsungan hidupnya, jadi bisa dibilang mereka gak salah dan yang mereka
lakukan dengan pertunjukan Dangdut Koplo itu adalah pertunjukan seni
5
.
Berdasarakan penuturan dari Bang Chandra diatas kita dapat mengetahui bahwa
Bang Chandara dalam hal ini setuju akan kehadiran pertunjukan Dangdut Koplo.
Beliau mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan(penyanyi dan kru Dangdut
Koplo) pada saat pertunjukan Dangdut Koplo berlangsung semata-mata dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan mereka dan itu termasuk dalam kesenian.
Penuturan dari Bang Chandra kemudian didukung juga dari pernyataan Bang
Safei seorang penjual Mie rebus:

4
Lingkungan Sosial adalah wilayah tempat berlangsungnya berbagai kegiatan dan interaksi sosial antar berbagai
kelompok beserta pranatanya dengan simbol dan nilai serta terkait dengan ekosistem(sebagai komponen
lingkungan alam) dan tata ruang atau peruntukan ruang(sebagian bagian dari lingkungan binaan/buatan).
5
Hasil wawancara dengan Bang Chandra tanggal 13 Juni 2012
Goyangan dan goyangan musik Dangdut Koplo itu sah-sah saja, justru
goyangan tersebut yang membuat nikmat, karna goyangan nya tersebut saya
jadi ikut merasa pingin goyang terus, apalagi dengan penyanyi nya idih cantik-
cantik bikin semangat kalau dengirin nya pingin goyang terus, orang boleh
bicara apa tentang Dangdut Koplo tapi sensasi nya mantap, tamabah orang
bilang tentang Dangdut Koplo tambah juga kesukaan saya akan Dangdut
Koplo
6

Berdasarkan dengan wawancara dari penuturan Bang Safei tersebut kita dapat
mengetahui bahwa Bang Safei disini termasuk dalam masyarakat yang pro terhadap
Dangdut Koplo. Bang Safei juga mengatakan bahwa Dangdut Koplo membuat beliau
menjadi semangat dan ingin goyang terus, beliau mengatakan bahwa terserah
masyarakat berekspresi apa tentang Dangdut Koplo tapi buat Bang Safei hal tersebut
tak membuatnya benci akan Dangdut Koplo bahkan dia tambah suka akan Dangdut
Koplo tersebut.
Dari dua wawancara diatas kita dapat menyimpulkan bahwa masyarakat pro
menganggap pertunjukan Dangdut Koplo itu adalah hal yang sah-sah saja dan hal
tersebut merupakan bagian dari kesenian dan termasuk dalam sub kultur kebudayaaan
bangsa kita. Oleh karnanya kesenian tersebut harus dilestarikan dan dijaga meskipun
ada sisi pandangan yang berbeda akan pertunjukan seni ini.
3.2. Sudut Pandang Kacamata Masyarakat Kontra
Maraknya pertunjukan Dangdut Koplo yang saat ini sering dipentaskan telah
menimbulkan kontroversi oleh sebagian masyarakat. Kontroversi tersebut memicu
kontra dengan pertunjukan Dangdut Koplo. Sebagaian dari masyarakat yang kontra
merasa bahwa Dangdut Koplo telah merusak moral generasi bangsa terutama pada
anak-anak. Hal ini terjadi karena pertunjukan Dangdut Koplo saat pertunjukan
berlangsung dimulai sarat dengan erotisme dan vulgarisme dan ketika pertunjukan
tersebut berlangsung mulai dari orang dewasa hingga anak-anak juga
menyaksikannya. Padahal Dangdut Koplo ini tersebut tidak layak ditonton oleh anak-
anak.
Menurut salah satu masyarakat yang kontra akan Dangdut Koplo beliau
mengungkapkan bahwa mau dibawa kemana bangsa ini apabila generasi bangsanya
memiliki moral yang salah. Hal ini senada dengan apa yang di ungkapkan oleh Ibu
Minah seorang ibu berusia 45 tahun yang menangapi adanya pertunjukan Dangdut
Koplo:
Menurut saya dangdut koplo adalah dangdut bejat, dangdut yang tidak
memiliki moral yang tinggi, Bagi seorang ibu seperti saya, mau dibawa kemana

6
Hasil wawancara dengan Bang Safei tanggal 13 Juni 2012
anak-anak generasi bangsa ini apabila terus menerus menonton pertunjukan
yang tidak bermoral seperti ini
7
.
Dari wawancara terhadap Ibu Minah diatas, kita dapat mengetahui bahwa ada
bukti sebagian masyarakat menolak adanya pertunjukan Dangdut Koplo. Menurut
penuturan Ibu Minah, Dangdut Koplo merupakan dangdut bejat dan tidak bermoral.
Dengan nada keras beliau menolak terang-terangan pertunjukan Dangdut Koplo yang
saat ini sering marak dipentaskan. Bagi beliau menonton Dangdut Koplo bisa sama
halnya merusak moral generasi anak bangsa.
Pernyataan Ibu Minah juga dipertegas oleh pernyatan dari Bapak H. Jailani
salah seorang tokoh agama dikawasan komunitas RT009/RW003, Palmariam,
Matraman, Jakarta Timur.
Dangdut Koplo adalah ajaran setan, mempertontonkan aurat, tubuh wanita
ditonton oleh orang-orang dan membat orang tersebut membuat lupa akan
tugasnya. Ini adalah perbuatan setan, apalagi jika anak-anak menonton
Dangdut Koplo, Astafirrulloh Haladzim.
8

Dari penuturan wawancara dengan bapak H. Jailani diatas kita dapat
disimpulkan bahwa menurut Bapak H. Jailani Dangdut Koplo adalah dangdutnya
setan. Masyarakat seharusnya tidak layak melihat dangdut seperti ini terlebih lagi
anak-anak.
Dari kedua penuturan wawancara diatas dapat ditarik simpulan bahwa sebagaian
masyarakat menolak kehadiran pertunjukan Dangdut Koplo. Pertunjukan tersebut
dinilai pertunjukan yang tidak memiliki moral dan akhlak. Pertunjukan ini tidak layak
ditonton oleh oleh masyarakat terlebih lagi pada anak-anak. Alasannya karena anak-
anak adalah calon generasi bangsa yang harus memiliki akhlak dan moral yang baik
buat masa depannya.
4. Dangdut Koplo dijadikan Konsumsi Hiburan Masyarakat Pinggiran
Menurut Mac Iver, culture adalah ekspresi dari jiwa yang terwujud dalam cara-cara
hidup dan berfikir, perjalanan hidup, kesustraan, agama, rekreasi, dan hiburan
9
. Karena
Dangdut Koplo termasuk dalam sebuah hiburan, hal ini membuat Dangdut Koplo bisa
dikatakan sebagai salah satu kebudayaan.
Sebagai salah satu kebudayaan, Dangdut Koplo tidak terlepas dari pro kontra di
masyarakat. Meskipun menuai pro kontra di masyarakat, Dangdut Koplo tetap saja
Dangdut Koplo beliau akan selalu ada dihati penikmatnya. Membicarakan mengenai
penikmat Dangdut Koplo, pada umumnya penikmat Dangdut Koplo adalah masyarakat
pinggiran dalam hal ini masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi menengah
kebawah.

7
Hasil wawancara dengan Ibu Minah tanggal 14 Juni 2012
8
Hasil wawancara dengan H. Jailani tanggal 14 Juni 2012.
9
Elly M. Setiadi Dan Usman Kolip. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana. 2011. Hal 641.
Gambar 3
Penyanyi Dangdut Koplo Ketika Pentas

Sumber: http://rochmany.blogspot.com(diakses tanggal 16 Juni 2012)
Masyarakat menengah kebawah lebih suka Dangdut Koplo ketimbang musik yang
lain karena menurut mereka musik ini gampang untuk didengar dimana-mana, kapan pun
dan dimana pun tempatnya. Musik Dangdut Koplo sendiri memiliki ke khasan yang
berbeda dengan musik lainnya, seperti: K Pop, Jass, Klasik, Pop dan Rock ataupun jenis
musik dangdut yang lain. Sedangkan pada masyarakat diluar pinggiran pada umumnya
mereka lebih suka aliran musik lain seperti Jass, Pop, Rock atau kalaupun dangdut mereka
lebih memilih dangdut yang lain ketimbang Dangdut Koplo. Hal inilah yang mendasari
perbedaan selera bermusik antara masyarakat pinggiran dan masyarakat diluar pinggiran.
Berikut ini adalah wawancara dengan tukang ojek yang sering mangkal di wilayah
Palmariam, Matraman, Jakarta, yakni: Bapak Yadi, Bapak Andi dan Bapak Nur ketika
ditanyai mengenai fenomena Dangdut Koplo.
Wawancara Bapak Yadi:
Kalau menurut saya, Dangdut Koplo sama halnya obat lelah ketika saya selesai
ngojek, badan yang tadinya lelah menjadi semangat kembali setelah menyaksikan
Dangdut Koplo di layar TV.
10

Wawancara Bapak Andi:
Kalau menurut saya ketimbang musik yang lain kayak musik Pop, Rock, saya
lebih suka dengan musik Dangdut, apalagi musik Dangdut Koplo, mantap dach
goyangannya
11
.
Wawancara dengan Bapak Nur:

10
Hasil wawancara dengan Bapak Yadi tanggal 15 Juni 2012
11
Hasil wawancara dengan Bapak Andi tanggal 15 Juni 2012
Musik Dangdut Koplo selalu ada dihati saya, jiwa dan raga saya ada semua di
Dangdut Koplo, pokoknya semua mantap.
12

Dari ketiga wawancara tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa masyarakat
saat ini suka dengan musik dangdut koplo terlebih lagi masyarakat yang termasuk dalam
masyarakat pinggiran.
Dalam perkembangannya Dangdut Koplo di masyarakat bukan hanya sekedar
melalui pertunjukan pementasan Dangdut Koplo berlangsung saja namun melaui media
lainpun masyarakat dapat dengan mudah melihat pertunjukan Dangdut Koplo tersebut.
Salah satunya adalah dengan menyaksikannnya di kaset DVD ataupun layanan
Internet(youtube).
Gambar 4
Cover Kaset DVD Dangdut Koplo

Sumber: http://blogger-nganjuk.blogspot.com(diakses tanggal 16 Juni 2012)
Kaset DVD yang berisi mengani Dangdut Koplo banyak sekali tersebar di
pedagang asongan kaset di pinggir jalan. Kaset DVD yang berisi pertunjukan Dangdut
Koplo memang sengaja diproduksi dan di distribusikan ke masyarakat. Tujuan nya
diproduksi dan pendistribusikan Dangdut Koplo ke masyarakat adalah untuk memperoleh
keuntungan dari penjualan kaset DVD tersebut. Hal ini terjadi karena masyarakat dalam
hal ini masyarakat pinggiran suka membeli kaset Dangdut Koplo ini.
Fenomena sosial terhadap Dangdut Koplo sebagai konsumsi hiburan masyarakat
pinggiran telah memberikan gambaran bahwa Dangdut Koplo saat ini bukan hanya
sekedar dangdut biasa namun memiliki kelebihaan telah menjadi sebuah konsumsi
kebudayaan. Fenomena sosial akan kebudayaan ini senada dengan istilah yang
diungkapkan oleh Mike Featherstone (2003),budaya konsumen
13
. Istilah ini di

12
Hasil wawancara dengan Bapak Nur tanggal 15 Juni 2012.
13
http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/03/konsumsi-kebudayaan-dan-pemilu (diakses tanggal 16 Juni 2012)

definisikannya sebagai hubungan penggunaan benda-benda dan cara-cara melukiskan
sesuatu guna membedakan orang atau kelompok lainnya. Praktik dan sikap yang
menggambarkan gaya hidup masuk akal dalam konteks tertentu. Konteks ini seperti yang
terjadi di masyarakat pinggiran terhadap Dangdut Koplo, dimana masyarakat pinggiran
suka mengkonsumsi musik Dangdut Koplo sebagai hiburannya.
Fenomena sosial terhadap Dangdut Koplo sebagai bentuk konsumsi hiburan
masyarakat pinggiran ternyata bisa menjadi bahaya laten bagi masyarakat itu sendiri.
Bahaya laten tersebut seperti diungkapkan oleh George Simmel (1997) yang
berkesimpulan bahwa mengkonsumsi kebudayaan telah membentuk konstruksi
masyarakat, dan menimbulkan budaya baru dalam masyarakat. Dengan kata lain, telah
terjadi pergeseran kebudayaan dari masyarakat konsumen (consumer society) menjadi
budaya konsumen (consumer culture) setelah masyarakat mengkonsumsi Dangdut Koplo.

5. Penutup
Berbagai hal yang telah diuraikan di atas telah memperlihatkan bagaimana
fenomena sosial akan kebudayaan Dangdut Koplo terjadi di tengah masyarakat. Fenomena
sosial akan akan dangdut koplo di masyarakat saat ini dapat dilihat dari sudut pandang
kacamata masyarakat. Dari kacamata masyarakat, fenomena akan Dangdut Koplo menuai
pro dan kontra. Masyarakat pro pada umumnya menganggap pertunjukan Dangdut Koplo
itu adalah hal yang sah-sah saja dan hal tersebut merupakan bagian dari kesenian dan
termasuk dalam sub kultur kebudayaaan bangsa. Sedangkan masyarakat yang kontra akan
Dangdut Koplo menilai bahwa pertunjukan Dangdut Koplo yang saat ini menjadi
fenomena masyarakat tidak memiliki moral dan akhlak. Oleh karananya bagi masyarakat
yang kontra, pertunjukan Dangdut Koplo tidak layak ditonton oleh oleh masyarakat
terlebih lagi pada anak-anak. Alasannya karena anak-anak adalah calon generasi bangsa
yang harus memiliki akhlak dan moral yang baik buat masa depannya.
Walaupun menuai pro kontra di masyarakat, Dangdut Koplo tetap saja Dangdut
Koplo, dangdut jenis ini akan selalu ada dihati penikmatnya. Penikmat Dangdut Koplo
sendiri saat ini pada umumnya adalah masyarakat pinggiran dalam hal ini masyarakat
yang memiliki kemampuan ekonomi menengah kebawah. Alasan masyarakat pinggiran
lebih suka Dangdut Koplo ketimbang musik yang lain karena menurut mereka musik ini
gampang untuk didengar dimana-mana, kapan pun dan dimana pun tempatnya. Musik
Dangdut Koplo sendiri memiliki ke khasan yang berbeda dengan musik lainnya, seperti: K
Pop, Jass, Klasik, Pop dan Rock ataupun jenis musik dangdut yang lain. Banyaknya
masyarakat pinggiran yang menjadi penikmat Dangdut Koplo membuat jenis kebudayaan
dangdut ini telah menjadi konsumsi hiburan pada masyarakat pinggiran. Hal ini yang
kemudia lantas dapat disimpulkan bahwa dangdut koplo merupakan konsumsi hiburan
masyarakat pinggiran.
Meskipun Dangdut Koplo telah menjadi konsumsi hiburan masyarakat pinggiran,
perlu diingat bahwa fenomena sosial terhadap Dangdut Koplo sebagai bentuk konsumsi
hiburan masyarakat pinggiran ternyata bisa menjadi bahaya laten bagi masyarakat. Bahaya
laten tersebut dapat menimbulkan pergeseran kebudayaan dari masyarakat konsumen
(consumer society) menjadi budaya konsumen (consumer culture) setelah masyarakat
mengkonsumsi Dangdut Koplo.

Daftar Pustaka
Bahan Bacaan
Hermiato dan Winarno. 2011. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Setiadi, M. Elly dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana.
Sunarto, Kamanto. 2010. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Suparlan, Parsudi. 1993. Kebudayaan Kemiskinan Perkotaan, Jakarta: Yayasan Obor.

Internet:
http://dangdutkoplo.multiply.com(diakses tanggal 15 Juni 2012)
http://musik-flazher.com(diakses tanggal 15 Juni 2012)
http://rochmany.blogspot.com(diakses tanggal 16 Juni 2012)
http://blogger-nganjuk.blogspot.com(diakses tanggal 16 Juni 2012)
http://indonesiaku.esc-creation.com/2011/04/16/sejarah-perkembangan-musik-dangdut-
indonesia (diakses tanggal 16 Juni 2012)
http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/03/konsumsi-kebudayaan-dan-pemilu (diakses
tanggal 16 Juni 2012)