P. 1
Kisah Seorang Penyandang Cacat Yang Berhasil Menyeberangi Selat Inggris

Kisah Seorang Penyandang Cacat Yang Berhasil Menyeberangi Selat Inggris

|Views: 3,066|Likes:
Dipublikasikan oleh Muhammad Nur

More info:

Published by: Muhammad Nur on Nov 23, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

Kisah seorang penyandang cacat yang berhasil menyeberangi Selat Inggris Dia berhasil berenang menyeberangi Selat Inggris

dalam waktu 16 jam 44 menit; dia adalah seorang penyandang cacat pertama di dunia yang menaklukkan Selat Qiongzhou di Tiongkok selatan dan Selat Inggris. Siapa dia? Dalam acara kali ini saudara pendengar, akan kami perkenalkan, seorang penyandang cacat bernama Xie Yanhong yang berasal dari kota Dalian kota pantai Tiongkok timur itu. Berenang menyeberangi Selat Inggris selalu menjadi impian banyak penggemar renang jarak jauh di dunia. Sejak tahun 1875, di dunia ini sudah ada 6 ribu orang yang mencoba berenang menyeberangi Selat Inggris, tapi yang berhasil hanya 800 orang lebih dan dalam sejarah belum ada contohnya orang cacat yang berhasil berenang menyeberangi Selat Inggris. Pada tanggal 24 Agustus tahun ini, Xie Yanhong penyandang cacat Tiongkok itu mencapai rekor tersebut dan menjadi penyandang cacat pertama di dunia yang menaklukkan Selat Inggris. Baru-baru ini Xie Yanhong yang duduk di kursi roda secara khusus diwawancarai wartawan CRI. Ia dengan gembira menceritakan penyeberangan kali ini:? Saya adalah seorang penyandang cacat biasa, tapi berambisi ingin berenang menyeberangi selatselat. Sekarang 2 sasaran saya sudah terwujud yaitu selat Qiongzhou dan Selat Inggris. Kelak hari saya berencana akan berenang menyeberangi 1 atau 2 selat setiap tahun. Keberhasilan tersebut tak terpisahkan dari peran orang-orang yang menaruh perhatian dan sokongan kepada usaha saya disamping bantuan sekuat tenaga dari pelatih saya.? Demikian dikatakan Xie Yanhong. Xie Yanhong yang berusia 35 tahun itu sejak lahir, anggota badannya sudah cacat, sehingga ia tak dapat berdiri dan juga tak dapat memegang sesuatu. Tetapi Xie Yanhong sejak kecil tidak mau kalah dengan orang lain. Ia bukan saja dapat mengurus dirinya sendiri, tetapi dengan lancar menyelesaikan pelajaran SMA dengan bantuan sanak keluarga dan para teman sekolah. Kemudian untuk pencaharian dan menghidupi ayah dan ibu yang lanjut usia, Xie Yanhong membuka sebuah toko kecil di kampung halamannya, sehingga penghidupannya bisa swasembada. Pada waktu berusia 22 tahun Xie Yanhong untuk pertama kali turun ke laut berenang dan perasaan yang baru dan bebas itu sangat mencengkam hatinya. Sejak itulah ia sering berenang di laut dan bertahan terus berenang di musim dingin selama 10 tahun. Akan tetapi lambat laun ia merasa juga dirinya sangat dibatasi oleh cacat badannya karena sewaktu berenang hanya tangannya bergerak tapi kakinya tidak berperan, sehingga gaya dan kecepatannya sangat terbatas. Pada tahun 2000, Xie Yanhong yang berupaya mencari pelatih renang, bertemu dengan Ge Jie dan menjadi muridnya yang khusus. Dengan bantuan dan inspirasi pelatihnya itu, Xie Yanhong bisa berenang tak berhenti, mulai dari 20 meter semula sampai 5000 meter 2 bulan kemudian, dan semakin menunjukkan kemampuan yang terpendam dalam hal berenang.

Sebagai seorang penyandang cacat Xie Yanhong telah berupaya berlipat-ganda daripada orang sehat untuk mencapai setiap langkah kemajuan dalam berenangnya. Pelatihnya Gejie menyusun rencana latihan khusus dengan memperhatikan keadaan khususnya. Kata pelatih itu:?Mengingat bobot tubuhnya agak berat dan badan cacat, saya terutama meningkatkan daya tahan dan kekuatannya dengan cara pelatihan berenang jarak jauh. Dalam latihan itu Xie Yanhong juga giat melatih diri dengan tak kenal susah-payah.? Melalui latihan serupa itu selama satu setengah tahun, Xie Yanhong telah mampu berenang dengan kecepatan 3 kilometer per jam , tak kalah dari kecepatan orang normal. Seiring dengan terus meningkatnya taraf berenang, Xie Yanhong sangat ingin membuktikan kekuatannya dengan melalui suatu pertandingan. Pada tahun 2002, Federasi Renang Internasional menyelenggarakan perlombaan menyeberangi selat di Selat Qiongzhou Tiongkok. Ia mengajukan permohonan untuk ikut perlombaan kepada pihak penyelenggara, tetapi tidak berhasil diterima karena faktor cacat badannya. Pada tanggal 4 Juni tahun 2002, Xie Yanhong yang tidak mau melepaskan keinginannya itu akhirnya berhasil menyebernagi Selat Qiongzhou dan pada bulan Agustus tahun itu juga, ia sebagai penyandang cacat pertama di dunia yang berhasil menyeberangi selat Qingzhou telah dicantumkan ke dalam Rekor Dunia Guinness. Setelah menyeberangi Selat Qiongzhou, Xie Yanhong menjadikan Selat Inggris sebagai sasaran selanjutnya. Dikatakannya:?Selat Inggris adalah sasaran yang sangat didambakan penggemar berenang jarak jauh, karena menyeberangi Selat Inggris mengandung nilai tantangan. Sebagai seorang penyandang cacat biasa, saya menyeberangi Selat Inggris hanya berkeinginan menginspirasi lebih banyak orang dan memperagakan semangat penyandang cacat yang cinta kehidupan dan cinta jiwa.? Dengan bantuan berbagai kalangan masyarakat Tiongkok, akhirnya Xie Yenhong memperoleh kesempatan menyeberangi Selat Inggris. Untuk mencapai sasaran itu, ia mengintensifkan latihannya dengan setiap hari berenang 10 ribu meter di kolam renang, ditambah lagi latihan di laut yang suhu airnya sama dingin dengan suhu air Selat Inggris untuk meningkatkan daya tahan dingin dan air deras. Dengan sifat tabah dan berani menyongsong tantangan, Xie Yanhong sekali lagi menciptakan keajaiban. Setelah berhasil menyeberangi Selat Inggris, ia mengatakan kepada wartawan, meskipun sangat dingin air laut di Selat Inggris, tetapi sangat hangat dalam lubuk hatinya, karena penyandang cacat diperhatikan banyak orang dan ia juga memperoleh kekuatan darinya. Ia berharap juga menyampaikan sepatah dua kata kepada para penyandang cacat di seluruh dunia melalui siaran radio CRI. Dikatakannya: penyandang cacat di berbagai negara harus sama-sama menyadari bahwa mereka bukan sekelompok manusia yang ditinggalkan masyarakat, tetapi diperlukan. Menghadapi kehidupan dengan teguh dan mencintai kehidupan dengan sepenuh hati. Penyandang cacat bukan saja diberi sesuatu oleh orang normal, tetapi juga memberikan sesuatu kepada mereka, jadi sama, sederajat.? Demikian kata Xie Yanhong.

Langkah Xie Yanhong tidak berhenti. Ia berkeinginan menyeberangi lebih banyak selat seperti teluk Meksiko, Selat Gibraltar, Selat Malacca dan lain-lain. Marilah kita berharap semoga Xie Yanhong dapat menciptakan prestasi yang lebih gemilang.

HIROTADA OTOTAKE, Raih Kesuksesan dari Kekurangan Fisik

Meski dilahirkan cacat, namun Ototake tidak menyerah. Dia tetap percaya diri dan melakukan yang terbaik demi meraih cita-citanya. PRIA berwajah tampan ini mengaku sangat berbahagia di bulan April ini. Betapa tidak, pada Jumat (6/4) lalu dia merayakan hari kelahiran yang ke-31. Tidak hanya itu, sehari hari sebelumnya, atau Kamis (5/4), Ototake, untuk pertama kalinya, menjalani profesi baru sebagai guru SD full-time.Ototake mendapatkan kepercayaan dari Dinas Pendidikan Tokyo untuk mengajar olahraga dan kesehatan di SD Suginamiku, Tokyo.Sebelumnya,selain menulis buku dan artikel, Ototake adalah pekerja paruh waktu di sekolah itu. ”Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudi memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengemban tanggung jawab ini.Saya berharap kehadiran saya di sekolah ini dapat memberikan yang terbaik bagi para murid,”kata Ototake kepada sejumlah wartawan yang meliput hari pertamanya sebagai guru full-time. Ototake mengaku ingin menjadi guru pada awal 2005 lalu. Ototake menilai, dengan profesi itu dia dapat mendidik plus membimbing para murid untuk menghargai setiap potensi yang dimiliki. Ototake yakin dengan kekurangan dan pengalaman yang dimiliki,dirinya dapat lebih meyakinkan anak didiknya tentang arti kemampuan diri. ”Saya ingin semua orang, terutama murid-murid saya dapat mengenali, menggali dan mengembangkan setiap potensi yang mereka miliki.Saya yakin,dengan cara ini,seseorang akan dapat meraih apa yang mereka cita-citakan,”kata Ototake mantap. Guna menguasai ilmu paedagogi (ilmu mengajar), lulusan ilmu komunikasi Waseda University ini rela menempuh studi lanjutan selama dua tahun di Meisei University.Dari sini,Ototake berkesempatan magang di SD Suginamiku pada Oktober lalu Di sini,Ototake dipercaya mengajar siswa kelas dua. Selain dengan metode ceramah, Ototake juga menggunakan bantuan komputer dan proyektor sebagai alat bantu mengajar. Ototake mengoperasikan alat-alat tersebut dengan pensil yang dijepitkan antara dagu dan pangkal lengan. Ototake pertama kali dikenal publik Jepang pada 1998. Saat itu, dia sukses menulis buku berjudul Gotai Fumanzoku (Nobody’s Perfect). Buku yang mengisahkan perjalanan hidup Ototake sebagai penyandang cacat itu berhasil membuat pembacanya kagum dan bersimpati. Tidak hanya itu,buku tersebut mengilhami Pemerintah Jepang untuk memperlakukan para penyandang cacat dengan semestinya. Banyak fasilitas umum seperti mal, gedung perkantoran, dan sekolahan di Jepang yang

awalnya tidak dilengkapi fasilitas khusus penyandang cacat akhirnya membangun fasilitas itu.Tak ayal,buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea,Inggris,dan China itu terjual lebih dari 4 juta kopi. Dari sini,Ototake mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara seminar, lokakarya hingga presenter sebuah televisi.Perlahan namun pasti, sosok Ototake menjelma menjadi seorang individu yang mapan dan karismatik. Meski demikian, Ototake tetap bersahaja dan rendah hati.Terbukti, dia justru terjun ke dunia pendidikan demi memperjuangkan idealismenya. Ototake mengaku ingin melakukan sesuatu yang tak kalah berharganya, yakni menikah dan punya anak. Namun, Ototake belum tahu dengan siapa dirinya akan menikah. Dia hanya mengatakan bahwa seorang wanita cantik saat ini telah ada di dalam lubuk hatinya. ”Seperti halnya laki-laki normal lain, saya juga ingin menikah dan punya anak,”katanya tersenyum. Pejabat National Federation of Physically Handicapped People (Federasi Nasional Penyandang Cacat) Inagaki Hiroki menyebut keberhasilan Ototake sebagai sesuatu yang patut dibanggakan.Selain berhasil meraih kesuksesan dengan segala keterbatasan, Ototake juga mampu mengubah imej warga Jepang terhadap dua juta penyandang cacat di Negeri Matahari Terbit itu. ”Dia punya cara unik dalam menggalang kepedulian publik tentang nasib para penyandang cacat,” pujinya. Tidak mudah bagi Ototake untuk menjadi seperti sekarang ini. Terlahir sebagai orang cacat (lahir tanpa tangan dan kaki) Ototake harus jatuh bangun demi meraih cita-cita. Namun, semua itu dilakukan Ototake dengan penuh keikhlasan dan semangat yang tinggi. Tanpa malu, dia melewati semua tahapan untuk sukses, termasuk menempuh pendidikan formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Layaknya orang normal, usia lima tahun Ototake masuk sekolah TK. Di sini, Ototake menemukan pengalaman yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Jika sebelum masuk sekolah Ototake lebih banyak tinggal di dalam rumah, saat itu Ototake harus berinteraksi dengan anak-anak sebayanya. Tak jarang sebagian teman-teman Ototake mengejeknya karena tidak bisa berjalan. Beruntung orangtua Ototake tahu apa yang harus dilakukan. Ayahnya, yang berprofesi sebagai arsitek, tetap mendukung kemauan anaknya untuk hidup normal dan meraih citacita. Seiring berjalannya waktu, Ototake berhasil mengatasi masalah sosialnya. Bahkan, sewaktu duduk di bangku SD,Ototake menjadi kebanggaan tersendiri bagi temantemannya.”Mereka senang melihat saya yang ke mana-mana harus menggunakan kursi roda elektrik.Mereka juga kagum karena saya bisa menulis dengan pensil yang dijepitkan antara dagu dan lengan,”kenangnya. ”Kehebatan” Ototake berlanjut hingga jenjang SMP dan SMA. Dia sempat beberapa kali dipercaya menjadi ketua organisasi intrasekolah. Dari sini, Ototake kerap mengadakan peristiwa-peristiwa budaya dan sosial. Karenanya tak heran jika sosok Ototake begitu dibanggakan rekan-rekannya, termasuk para siswi. ”Saya adalah siswa yang paling banyak mendapat hadiah cokelat saat perayaan Valentine,” kenangnya. (berbagai sumber/imam gem sufaat) sindo

Meski Cacat Tapi Berhasil Membuat Lampu Unik

Karya kreatifitas Suparti dari barang bekas menjadi bernilai ribuan rupiah

Kegigihan sosok satu ini tidak kalah dengan orang yang normal pada umumnya, meski dengan tubuh cacat akan tetapi berjuang untuk bertahan hidup di era yang membutuhkan tantangan. Namun ketrampilan yang dimiliki dalam membuat kerajinan tangan berupa lampu unik dapat menyabung hidup bersama keluarganya. Warga dari Kecamatan Balung keseharian membuat lampu unik diperoleh dari temannya ketika lampu unik tapi tidak berhasil. “Awal bersama temennya membuat lampu itu tidak berhasil karena sering nyeblos, sehingga lambat laun saya berhasil membuat sendiri dengan dilobangi atasnya,”ungkap Suparto. Dengan keberhasilan itu, Suparto yang berdomisili di Jalan Menco No. 45 Balung sebelah timur Pondok Pesantren Al Multajam, akhirnya dapat membuat memproduksi sendiri. “Sehingga dengan membuat sendiri itulah maka saya bisa menyambung hidup saya ini,”pungkasnya. Namun bagi Suparto, pemikiran kuatnya muncul dalam membuat lampu unik ini ternyata seringnya ada pemadaman diwilayahnya. “Sehingga dengan pemadaman ini apa yang saya buat ini menjadi salah satu jalan keluar ketika ada pemadaman listrik,”paparnya. Menurut Parto sebenarnya tidak saja berguna untuk penerangan rumah atau di halaman, namun karena bentuknya sekilas menyerupai lampu strongking, itu yang membuat pembeli tertarik. “Banyak pembeli karena tertarik keunikkannya sehingga banyak digunakan untuk hiasan,”imbuhnya. Selanjutnya diungkap oleh Parto dirinya dalam sehari dengan berbekal bahan baku yang tidak terpakai seperti kaleng susu, kaleng roti dan kaca bekas. “Merangkai bahan baku itu sehari bisa membuat sebanyak 20 buah dan selebihnya waktunya untuk digunakan berjualan sampai sekuatnya berspeda ontel,”jelasnya. Puasnya lagi dalam membuat lampu unik itu dirinya bersama anak-anaknya dalam membuat lampu unik itu sebenarnya ada di bahan bakunya. “Dengan bahan baku bekas itulah membuat kami lebih puas, karena apa yang kami buat meski dari bahan yang tidak

berguna kami buat menjadi yang lebih berguna,”tambahnya. Karena yang membuat hanya dirinya bersama keluarganya, Parto menjamin apa yang dibuat tidak akan ada di etalase took di Jember. “Lampu ini langsung saya jajakan sendiri sehingga di took tidak akan ada,”paparnya. Berbekal speda ontel buatan dalam negeri yang dulu menjadi milik anaknya, namun sekarang digunakan untuk berjualan keliling Jember. “Kalau seperti sekarang ini karena berangkatnya jam 1 siang maka nanti pulangnya malam hari sampai di Balung,”akunya. Dituturkan oleh bapak 3 anak ini, terkait dengan nama lampu unik berawal dari seringnya pembeli menyebutnya unik. “Banyak pembeli yang saya tawarkan ini menyebutnya dengan sebutan lampu unik, sehingga saya beri merk lampu saya ini lampu unik bintang terang,”jelasnya. Perjuangan hidup yang ia tekuni bersama anak-anaknya mengalami pasang surut.. “Karena sebagai pelukis kaligrafi lagi sepi maka saya berusaha untuk membuat lampu unik ini yang saya jual ke seluruh pelosok Jember sambil menunggu istrinya yang sekarang menjadi TKW Malaysia,”tandasnya. Dirinya bersama keluarga dalam membuat lampu unik ini berharap banyak ketika pemerintah nantinya dengan mengetahui lampu unik hasil produksinya. “Mudahmudahan dapat membantu pemasaran dan modal agar kami bisa membuat lebih banyak lagi,”harapnya. (*/jok) Bagaimana mungkin seorang anak usia 20 tahun, dengan memiliki kekurangan pada fisiknya, karena harus naik kursi roda kemana-mana, ditambah ia menekuni usaha yang mensyaratkan bahwa ia harusnya bisa berbahasa inggris (karena ia memasarkan sesuatu di amazon di internet), namun pada kenyataannya dia bisa sukses melakukannya. Bahkan menurut saya sangat sukses, karena penghasilan $5600 itu tidaklah kecil. Untuk ukuran kita di Indonesia, $1000 sebulan saja sudah sangat lumayan. Itu bila kita mendapatkannya secara normal dengan bekerja atau berbisnis dengan jam normal. Dan hebatnya itu dilakukan dengan menggunakan Internet, dirumah sementara ia masih dapat bermain game seperti layaknya anak-anak lain usia 20 tahunan. Hem, saya sangat terinspirasi membaca ceritanya… sekali lagi dibuktikan, bahwa dengan sikap yang tepat, maka segala kekurangan dan tantangan harus bisa dikalahkan. Saya pernah membaca sebuah buku “Attitude Plus” dimana seorang cacat dengan kursi roda, tanpa kaki, bisa menaklukkan gunung Kilimanjaro, mempunyai puluhan medali Olimpiade (untuk orang cacat), menerbangkan pesawat solo dan banyak lagi prestasi hebat lainnya.
Usia Farida Oeyono (47) yang akrab dipanggil Afa baru empat tahun saat demam menyerangnya. Pagi itu, saat bangun tidur tubuh kecilnya panas dingin. Kaki Afa lemah tak mampu untuk berjalan. Ia tak lagi lincah bermain. Berbulan-bulan hanya berbaring.

VIRUS POLIO

Afa memutar ingatannya. Tahun 1964, Pangkal Pinang, Bangka, tempat tinggalnya belumlah seperti sekarang. Saat itu, fasilitas kesehatan teramat minim. Bahkan, seingat Afa, di sana hanya ada satu dokter. Akhirnya orangtua membawa Afa ke sinshe, diberi obat masuk angin. Tak terbayangkan bahwa itu ternyata virus polio. “Kami tinggal di kampung, jadi kurang informasi kesehatan. Orangtua mengira cuma masuk angin biasa,” tutur anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Tjen Sui Ho dan Harjanto Oeyono. Pekerjaan orangtua Afa adalah petani sederhana dan pedagang es keliling. Mereka sibuk bekerja tiap hari untuk bisa memenuhi kebutuhan. Oleh sinshe pula, Afa disarankan berobat jalan dan diterapi di rumah. “Kakek merawat saya hampir setahun. Kaki direndam air hangat supaya peredaran darah lancar. Kalau pagi, saya diajak berjemur supaya kena sinar matahari.” Afa belajar berjalan kembali. Ia membutuhkan bantuan tangan orang lain untuk memegangnya berjalan. Jalannya tertatih. Langkah demi langkah.
INGIN MANDIRI

1978. Lulus SMEA, Afa nekat keJakarta menyusul kokonya, Muk Sak. Afa sempat melamar menjadi tukang jahit di perusahaan konveksi. Namun mengalami kesulitan dengan mesin jahit listrik. Kaki kanan Afa terasa sakit saat menginjak mesin, bertahan hanya 2 hari saja. Lalu Afa melontarkan keinginan untuk bekerja pada kokonya. Muk Sak tidak setuju dan minta Afa tinggal di kampung saja, menerima uang bulanan darinya. Afa berontak, ia tak mau mengandalkan kiriman. Ia harus bekerja. “Koko keberatan saya bekerja. Dia nggak tega, tapi tak mampu menolak. Karena saya bilang, kalau nggak diterima di tokonya, saya akan cari di tempat lain. Akhirnya saya diterima.” Afa mengerjakan banyak pekerjaan operan kokonya. Dari pemesanan, ngecek dan mengurus pengiriman barang. Sedangkan Muk Sak memperluas usaha di luar kota. Seluruh pekerjaan di Jakarta, di bawah pengawasan Afa. “Wow… tanggung jawab besar. Ini tantangan. Saya berdoa minta kekuatan Tuhan.” Kadang Afa harus melakukan pekerjaan dengan cepat. Tenaga kerja terbatas. Afa harus bisa melakukan pekerjaan seperti ngepak barang-barang dan “lari” ke gudang menghitung barang masuk. Ketika melakukan tugas “di luar meja”, orang-orang melihat keadaan kaki Afa. Inilah proses belajar Afa untuk tidak malu kondisinya diketahui orang lain. Hampir seluruh teman bisnis adalah kaum pria. MERINTIS USAHA Toko bangunan pertama milik kokonya berada di Pasar Jembatan Merah. Setelah hampir 17 tahun mengerjakan pekerjaan kokonya, Afa tertantang membuka usaha sendiri. Mampukah? Pertanyaan itu selalu timbul tenggelam di hati dan Afa coba menepiskan. Bukankah selama ini Tuhan telah menolong? Melakukan hal-hal yang tak pernah terlintas dipikirannya. Maka ketika keinginan itu tumbuh di hatinya, Afa membawanya pada Tuhan. Kerinduan itu hanya disimpan dalam hatinya. Baru dua tahun kemudian Afa memberanikan diri

mengungkapkannya pada salah satu importir. “Dialah Ko Bun Ing, pemilik Toko Besi Gunung Subur, Surabaya. Ko Bun Ing menanggapi dengan positif. Dulu, pertama kali melihat kaki saya, dia bilang nggak perlu malu dan minder.” Afa senang seperti mendapat tanda untuk bisa mandiri. Masalah selanjutnya, bagaimana ia menyampaikan keinginannya itu pada kokonya. Ada perasaan tak enak hati, tapi sesuatu harus dicoba. “Meskipun agak khawatir, koko senang saya mau berjuang. Cici juga mengkhawatirkan kondisi saya, bagaimana kalau orang meremehkan dan menipu saya. Namun akhirnya mereka melepas saya…” Selama bekerja, Afa rajin menabung. Menyimpan uangnya dari tahun ke tahun. Tabungan itulah yang dipakainya merintis usaha di tahun 1995. Ditambah lagi Muk Sak memberinya uang jasa.Afa kaget ketika beberapa importir menelepon mengucapkan selamat atas langkah beraninya. Tak hanya itu. Mereka juga mengatakan siap menyuplai barang-barang yang dibutuhkan Afa. “Ko Bun Ing telepon ke importir lain untuk bantu saya. Bahkan dia bilang akan back up kalau usaha saya ada apa-apa.” RANCANGAN-NYA INDAH Dua belas tahun sudah, Afa punya usaha sendiri. Menyemai harapan dalam keterbatasan. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Afa membeli dan menempati ruko Permata Kota berlantai 3 di daerah Tubagus Angke, Jakarta Barat. Di tempat inilah Afa ngantor. Selain toko-toko bangunan di Jakarta, Afa juga memasok di daerah Sumatera, Jambi, Palembang, Lampung, dan tempat kelahirannya, Bangka. “Kalau ketemu teman sewaktu di Bangka, mereka suka bilang, nggak kira Fa, kamu bisa begini… Saya bilang ini karena pertolongan Tuhan.” Melalui jerih payahnya, Afa bisa keliling ke banyak negara. Salah satunya melancong ke Gedung Putih, Washington DC. Ah, manalah terpikir semua itu. “Di Gedung Putih saya terharu banget, ketika datang langsung disambut polisi wanita. Dia mengawal, melayani penuh keramahan dan memberikan jalur khusus karena kondisi kaki saya. Saat di lift, momen tak terlupakan. Kursi roda saya menginjak kaki tentara, eeh malah dia yang berulang kali minta maaf. Padahal seharusnya saya yang minta maaf. Di negara Barat mereka sangat mengutamakan penyandang cacat,” ungkap penyuka olah raga tenis itu. Bertemu banyak orang, Afa kerap ditanya mengenai berbagai hal. Dari keterbatasan fisik sampai kehidupan pribadinya. “Ada yang langsung tanya, anak sudah berapa? Saya jawab ada dua, laki-laki dan perempuan. Mereka di pedalaman Papua di Pantai Kasuari. Setelah menyantuni mereka lewat World Vision, saya seperti punya anak. Suatu kali nanti saya ingin bertemu mereka,” tutur Afa yang masih melajang itu tertawa. Ia bahagia, bersyukur bisa menolong orang lain mendapatkan pendidikan. Afa tergabung di Laetitia, sebuah lembaga pelayanan bagi penyandang cacat. “Padahal dulu kalau ketemu orang cacat saya sering ngumpet. Gimana ya,” kenangnya tertawa lepas. Hidup Afa membuktikan bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->