Anda di halaman 1dari 7

Latar Belakang

Revolusi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia melawan pemerintahkolonial Belanda, tidaklah hanya
suatu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan politik semata-mata, tetapi disamping itu revolusi
dimaksud juga merupakan suaturevolusi sosial dan ekonomi, yang ditimbulkan oleh suatu Bangsa yang
bertekadsebulat-bulatnya untuk menempatkan nasib Indonesia dalam tangannya sendiri.

1. Hal ini dapat kita lihat kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh proklamasi kemerdekaan
Indonesia sebagai pemberi semangat yang luar biasakepada Bangsa Indonesia yaitu:
2. Menggerakan Indonesia yang dahulunya Negara jajahan Belanda menjadi Negara Republik Indonesia
yang merdeka dan berdaulat.Sejak itu pula lahirlah Tata Hukum Indonesia.Salah satu peninggalan
pemerintah kolonial Belanda pada BangsaIndonesia di bidang hukum adalah keanekawarnaan hukum
yang berlaku,memecah belah bangsa Indonesia menjadi golongan-golongan penduduk, dankemudian
tiap-tiap golongan penduduk tersebut diberlakukan hukum yang berbeda-beda pula. Pada zaman
penjajahan Belanda sebagian besar hukum yangdiperuntukkan bagi bangsa Indonesia adalah alat bagi
penjajah Belanda untuk melestarikan kekuasaannya. Hal ini tercermin dengan jelas pada kewenangan-
kewenangan pembentukan hukum, proses pembentukan hukum, pembedaan- pembedaan dalam
macam hukum yang berlaku bagi seseorang atau golongan-golongan penduduk, perbedaan dalam
macam hukum yang berlaku bagi seseorangatau golongan-golongan penduduk, perbedaan dalam
penegakannya dan ebagainya. Pendeknya dapat dikatakan segala kehidupan hukum yang dibinauntuk
mencapai tujuan-tujuan penjajah. Sehingga konsepsi hukum pada waktu itutidak menguntungkan bagi
bangsa Indonesia, sehingga, hukum yang masih law inbook
selalu bertentangan dengan keinginan masyarakat baik secara
filosofis, sosiologis dan yuridis
, karena apabila kepastian hukum bertentengan asas kemampaatan dan keadilan maka asas kepastian
hukum harus dikesampingkan.

3. Dengan tamatnya kekuasaan kolonial Belanda, Indonesia dihadapkankepada masalah mengubah dan
membaharui Indonesia, yang berarti meruntuhkantata tertib masyarakat kolonial belanda dahulu dan
kemudian mewujudkanketentuan-ketentuan baru, disesuaikan dengan iklim Indonesia yang telah
merdekadan berdaulat, serta disesuaikan pula dengan tuntutan untuk mencapai Negara maju dan
modern.

3





Landasan Yuridis Berlakunya Hukum Adat di Indonesia:
Landasan yuridis berlakunya hukum adat adalah ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 Lampiran A Pragraf
402, ditetapkannya hukum adat sebagai azas-azas Pembinaan Hukum Nasional. Ketetapan MPRS No.
II/MPRS/1960 LampiranA Pragraf 402 tersebut, merupakan garis-garis besar politik dibidang hukum
adatsebagai berikut:
Azas-azas pembinaan hukum nasional supaya sesuai dengan haluan Negara dan berlandaskan pada
hukum adat yang tidak menghambat perkembanganmasyarakat adil dan makmur.Di dalam usaha kearah
homoginitas dalam bidang hukum supaya diperhatikankenyataan-kenyataan yang hidup di
Indonesia.Dalam penyempurnaan hukum perkawinan dan hukum waris supayadiperhatikan adanya
faktor-faktor agama, adat dan lain-lainya.Dengan diundangkannya Tap MPRS No. II/MPRS/1960
tersebutdiatas, maka kedudukan serta peran hukum adat dalam pembangunan hukumnasional menjadi
lebih jelas dan tegas, yaitu sepanjang tidak menghambat perkembangan masyarakat adil dan makmur,
merupakan landasannya. Hukumadat bisa sebagai landasan azas-azas hukum nasional harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut: Hukum adat tidak boleh bertentangan dengan kepentingan nasional dan
Negara yang berdasarkan atas persatuan bangsa.Hukum adat tidak boleh bertentangan dengan Negara
Indonesia yang berfalsafah pancasila.Hukum adat tidak boleh bertentangan dengan ius constitutum.
Hukum adat yang bersih dari sifat-sifat Feodalisme, Kapitalisme, serta pengisapan manusia atas
manusia.Hukum adat tidak bertentangan dengan unsur-unsur agama.Tap MPRS No.II/MPRS/1960 dalam
arti materiil, artinya peraturantertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh penguasa yang sah, ruang
lingkupnya adalah :Peraturan Pusat atau Algemene Verordering,
yakni peraturan tertulis yangdibuat oleh pemerintah pusat, yang berlaku umum diseluruh atausebagaian
wilayah negara.Peraturan setempat atau locale verordering , yang merupakan peraturan tertulis yang
dibuat oleh penguasa setempat dan hanya berlaku di tempatatau daerah itu saja.

Uraian didasarkan pada hierarki perundang-undangan dan hukum adatdi sini, diidentikkan dengan
hukum kebiasaan (hukum tidak tertulis),sedangkanyang akan dibahas adalah kedudukan hukum adat
yang dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan tersebut.Apabila diteliti, sebelum amandemen
ke II tahun 2000 di dalam UUD1945 tidak ada satu ketentuan pun yang secara tegas menyinggung
persoalantentang hukum adat. Untuk itu merupakan suatu hal yang menarik untuk diamati, bahwa
sekalipun banyak kalangan hukum adat diterima sebagai salah satu sumber hukum, namun Undang-
undang Dasar sama sekali tidak menyebutkan
.Didalam penjelasan UUD 1945 yang menurut Hukum Tata Negara Indonesia mempunyainilai yuridis,
kita akan mendapatkan ketentuan sebagai berikut :Undang-undang Dasar Negara adalah hanya sebagian
dari hukumdasar negara itu. Undangundang Dasar adalah hukum dasar yang tertulis,sedangkan
disamping Undang-undang Dasar berlaku juga hukum dasar yang tidak tertulis, yaitu aturan-aturan
dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara meskipun tidak tertulis. Para
ahli hukum tata negaraumumnya memberikan arti hukum dasar tertulis itu sebagai konversi, yang
biasanya dicontohkan dengan praktek ketatanegaraan yang tidak diatur olehUndang-Undang Dasar
1945. Namun apabila kita mengkajinya lebih jauh dan melihat apa yangdikemukakan oleh Soepomo
tentang hukum adat, yang pada intinya bahwa hukumadat adalah sinonim dari hukum tidak tertulis di
dalam peraturan legislatif (unstatory law)
hukum yang hidup sebagai konversi dalam badan-badan hukumnegara (parlemen, dewan propinsi dan
sebagainya), hukum yang hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan di dalam pergaulan
hidup, baik di kota-kota maupun di desa-desa
(customary law),
maka konversi tersebut juga termasuk golongan hukum adat.
Dalam Pasal II AP disebutkan
Segala badan negara dan peraturan yang masih ada langsung berlaku selama belum diadakan yang baru
menurut Undang-undang Dasar ini.
Pasal II AP ini dimaksudkan untuk mengisikekosongan hukum
(rechtsvacum)
terhadap permasalahan-permasalahan yang belum diatur dalam perundang-undangan. Mengingat pada
waktu proklamasikemerdekaan dan yang menurut soepomo juga sampai saat ini belum ada
satuketentuan yang mengatur secara tegas mengenai peranan dan kedudukan hukumadat, maka
aturan-aturan yang mengatur tentang hukum adat untuk sebagianmasih dapat dipandang berlaku.
Setelah Amandemen ke II tahun 2000 didalam UUD 1945 mengenaihukum adat dituangkan dalam Bab
IV Pasal 18 B (2) dan penjelasan Pasal 18 (2).Didalam Pasal 18 B (2) disebutkan :
Negara mengakui dan menghormatikesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang.
Setelah hukum adat dijadikan Azas-Azs Hukum Nasional, makakemudian lahirlah antara lain:Undang-
Undang Pokok Agraria Undang-Undang No.5 Tahun 1960; undang-undang ini merupakan undang-
undang nasional menggantikan berbagai jenis hukum yang mengatur masalah pertanahan di tanah
air.Undang-Undang No 1 Tahun 1947 tentang perkawinan.Undang-Undang Perjanjian bagi hasil
pertanian (UU No.2 Tahun 1960)
























Dasar Yuridis Berlakunya Hukum Adat Di Indonesia dari masa ke masa


Masa Hindia Belanda

Berawal dari zaman penjajahan, hukum adat sangat kental di dalam diri tiap pribumi. Karena
belum terbiasa dengan hukum barat yang telah ditetapkan oleh Belanda, maka dibuatlah sistem hukum
pluralisme atau Indische Staatsregeling (IS) agar penduduk golongan eropa, timur asing, dan pribumi
dapat menyesuaikan dengan hukum masing-masing.

Dalam Indische Staatsregeling, salah satu dasar hukum yang menjelaskan berlakunya hukum adat
terdapat pada Pasal 131 ayat (2) huruf a menjelaskan hukum yang berlaku bagi golongan eropa, bahwa
untuk hukum perdata materiil bagi golongan eropa berlaku asas konkordansi, artinya bagi orang eropa
pada asasnya hukum perdata yang berlaku di negeri Belanda akan dipakai sebagai pedoman dengan
kemungkinan penyimpangan-penyimpangan berhubung keadaan yang istimewa, dan juga pada Pasal
131 ayat (2) huruf b yang menjelaskan hukum yang berlaku bagi golongan Indonesia asli atau pribumi
dan golongan timur asing, yang pada intinya menjelaskan bagi golongan pribumi dan timur asing berlaku
hukum adat masing-masing dengan kemungkinan penyimpangan dalam hal:

Kebutuhan masyarakat menghendakinya, maka akan ditundukan pada perundang-undangan yang
berlaku bagi golongan eropa.
Kebutuhan masyarakat menghendaki atau berdasarkan kepentingan umum, maka pembentuk
ordonansi dapat mengadakan hukum yang berlaku bagi orang Indonesia dan timur asing atau bagian-
bagian tersendiri dari golongan itu, yang bukan hukum adat bukan pula hukum eropa melainkan hukum
yang diciptakan oleh Pembntuk UU sendiri.

Jadi pada intinya, di masa Hindia Belanda terdapat delegasi kewenangan atau perintah untuk
mengkodifikasikan hukum bagi pribumi dan timur asing.

Masa Penjajahan Jepang
7
Pada masa penjajahan Jepang juga terdapat regulasi yang mengatur tentang hukum adat di
Indonesia, yaitu pada Pasal 3 UU No.1 Tahun 1942 yang menjelaskan bahwa semua badan pemerintah
dan kekuasaanya, hukum dan UU dari pemerintah yang dahulu tetap diakui sah buat sementara waktu
saja, asal tidak bertentangan dengan peraturan militer.

Arti dari Pasal tersebut adalah hukum adat yang diatur pada saat masa penjajahan Jepang sama
ketika pada masa Hindia Belanda, tetapi harus sesuai dengan peraturan militer Jepang dan tidak boleh
bertentangan. Pada hakikatnya, dasar yuridis berlakunya hukum adat pada masa penjajahan Jepang
hanya merupakan ketentuan peralihan karena masanya yang pendek.

Masa Pasca Kemerdekaan

Dasar hukum berlakunya dan diakuinya hukum adat di Indonesia juga diatur setelah Indonesia
merdeka. Contohnya pada Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi Segala badan negara dan
peraturan yang masih berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini menjelaskan bahwa
dalam pembentukan regulasi peraturan mengenai hukum adat yang lebih jelas, maka dasar hukum
sebelumnya yang tetap digunakan untuk perihal berlakunya hukum adat.

Pada Pasal 104 ayat (1) UUDS 1950 pun juga terdapat penjelasan mengenai dasar berlakunya
hukum adat. Pasal tersebut menjelaskan bahwa segala keputusan pengadilan harus berisi alasan-
alasannya dan dalam perkara hukuman menyebut aturan-aturan Undang-Undang dan aturan-aturan
hukum adat yang dijadikan dasar hukuman itu. Terdapat juga pada Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945
pasca dekrit presiden 5 Juli 1959 Ranah Undang-Undang dan Pasal 3 UU No. 19 Tahun 1964 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi Hukum yang dipakai oleh kekuasaan
kehakiman adalah hukum yang berdasarkan Pancasila, yakni yang sidatnya berakar pada kepribadian
bangsa dan Pasal 17 ayat (2) yang menjelaskan bahwa berlakunya hukum tertulis dan hukum tidak
tertulis.

Era Reformasi

Di zaman modern, setelah Indonesia memasuki era reformasi, ketentuan yang mengatur
mengenai hukum adat lebih jelas dasar yuridisnya. Setelah amandemen kedua UUD 1945, tepatnya pada
Pasal 18B ayat (2), hukum adat dihargai dan diakui oleh negara, Pasal tersebut berbunyi Negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat berserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.. Pasal tersebut telah membuktikan bahwa
dasar yuridis berlakunya hukum adat di Indonesia ada, dan diakui oleh pemerintah.

Tak hanya itu, dalam beberapa Undang-Undang juga mengatur keberlakuan hukum adat. Contoh
dalam Undang-Undang Pokok Agraria, lebih tepatnya pada Pasal 5 yang berbunyi Hukum agraria yang
berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan
kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme
Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undangundang ini dan dengan
peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar
pada hukum agama.. Dasar yuridis tersebutlah yang dapat menjelaskan berlakunya hukum adat secara
sah di Indonesia. Hukum adat adalah hukum yang yang harus diperjuangkan karena ia merupakan
hukum tertua yang telah dimiliki Indonesia dan juga karena Indonesia merupakan bangsa yang sangat
kaya dengan keanekaragaman budaya, suku, dan ras, dan dengan hukum adat, maka segala kepentingan
masyarakat adat dapat diayomi olehnya, untuk Indonesia yang lebih baik.














9