Anda di halaman 1dari 23

Presentasi Kasus

SEORANG LAKI LAKI 47 TAHUN DENGAN BRONKIEKTASIS DD


TUBERKULOSIS PARU











Oleh :
Anisa Febrina D.
G99122015



Pembimbing :
dr. Yunita Fatmawati, Sp. KFR


KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2014


STATUS PENDERITA

A. IDENTITAS PENDERITA
1. Nama : Tn. MR
2. Umur : 47 tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Pekerjaan : Buruh
5. Alamat : Tegal Kembang Pajang Laweyan Surakarta
6. No. RM : 01 25 77 38
7. Tanggal Masuk : Senin, 9 Juni 2014
8. Tanggal Periksa : Selasa, 10 Juni 2014

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Sesak napas
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh sesak napas sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit.
Sesak dirasakan terutama ketika kelelahan. Sesak berkurang jika istirahat,
namun tidak sampai menghilang. Sesak tidak dipengaruhi oleh cuaca,
debu, aktivitas maupun perubahan posisi Pasien biasanya masih dapat
tidur dengan 1 bantal, namun saat ini lebih enak dengan posisi duduk
karena sesaknya. Keluhan terbangun malam hari karena sesak disangkal
pasien.
Selain itu pasien juga mengeluhkan batuk sejak 3 bulan SMRS. Batuk
dirasakan semakin memberat. Dahak (+) warna kuning kehijauan dan
apabila ditampung membentuk 3 lapisan. Pasien memiliki riwayat batuk
lama 3 tahun yang lalu. Pasien pernah menjalani pengobatan TB pada
tahun 2011 selama 4 bulan, namun kemudian berhenti sendiri karena
merasa sudah sembuh.
Pasien pernah mengeluhkan batuk darah 1 kali 3 bulan SMRS sebanyak
kurang lebih 1 sendok teh. Mual (-), nafsu makan menurun (-), penurunan
berat badan (-), demam (-), keringat malam (-). BAK warna kuning,
kurang lebih 5 kali sehari @ 1/2-1 gelas. BAB warna kuning kecoklatan,
sehari BAB 1x, tidak ada darah, lendir.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat mondok : 3 bulan yang lalu (5 April 3 April 2014)
di BKPN dengan keluhan yang sama
b. Riwayat TB : (+) tahun 2011, berobat di Puskesmas
Gajahan, minum obat selama 4 bulan kemudian berhenti sendiri
c. Riwayat hipertensi : disangkal
d. Riwayat DM : disangkal
e. Riwayat alergi : disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Riwayat stroke : disangkal
b. Riwayat DM : disangkal
c. Riwayat hipertensi : disangkal
d. Riwayat sakit jantung : disangkal
5. Riwayat Kebiasaan
a. Riwayat minum alkohol : disangkal
b. Riwayat merokok : (+) kurang lebih 6 batang sehari selama 5
tahun, berhenti merokok sejak didiagnosa memiliki TB paru
c. Riwayat olahraga : pasien jarang olahraga
6. Riwayat Gizi
Sebelum sakit, pasien makan sebanyak 2-3 kali/hari dengan nasi, lauk
(tempe dan tahu), sayur, jarang makan telur, daging, dan makanan
berlemak. Minum air putih 6-8 gelas belimbing/hari.
7. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang laki-laki usia 47 tahun, saat ini bekerja
sebagai buruh. Pasien dirawat di RSDM dengan menggunakan jaminan
BPJS.


C. ANAMNESIS SISTEM
1. Sistem saraf pusat : nyeri kepala (-), kejang (-)
2. Mata : berkunang-kunang (-), pandangan dobel (-),
penglihatan kabur (-), pandangan berputar (-), kelopak mata sukar ditutup
(-)
3. Hidung : mimisan (-), pilek (-)
4. Telinga : pendengaran berkurang (-), telinga berdenging (-
), keluar cairan (-), darah (-), nyeri (-)
5. Mulut : mulut merot ke kanan (-), bicara pelo (-)
6. Tenggorokan : sakit menelan (-), suara serak (-)
7. Sistem respirasi : sesak nafas (+), batuk (+), batuk darah (+),
mengi (-), tidur mendengkur (-)
8. Sistem kardiovaskuler : sesak nafas saat beraktivitas (-), nyeri dada (-),
berdebar-debar (-)
9. Sistem gastrointestinal : mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), susah
BAB (-), perut sebah (-), kembung (-), nafsu makan berkurang (-).
10. Sistem muskuloskeletal : nyeri (-), nyeri sendi (-), kaku (-)
11. Sistem genitourinaria : mengompol (-), sulit mengontrol kencing (-)
12. Ekstremitas atas : luka (-), tremor (-), ujung jari terasa dingin (-),
kesemutan (-/-), bengkak (-), kelemahan (-/-), sakit sendi (-)
13. Ekstremitas bawah : luka (-), tremor (-), ujung jari terasa dingin (-),
kesemutan (-/-), bengkak (-), kelemahan (-/-), sakit sendi (-)
14. Sistem neuropsikiatri : kejang (-), gelisah (-), mengigau (-), emosi labil
(-)
15. Sistem Integumentum : kulit sawo matang, pucat (-), kering (-)

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : komposmentis, gizi kesan baik
Berat badan : 65 kg
Tinggi : 168 cm

2. Tanda vital
Nadi : 104 x/menit, regular, teraba kuat
Laju Pernapasan : 30 x/menit, reguler
Suhu : 36,4
0
C
SpO
2
: 90 % suhu ruangan, 96% dengan O
2
3 lpm
3. Kulit
Warna sawo matang, lembab, ujud kelainan kulit (-)
4. Kepala
Bentuk mesocephal, rambut hitam sukar dicabut
5. Mata
Conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), pupil
isokor (2 mm/ 2 mm), bulat, di tengah, mata cekung (-/-),
6. Hidung
Nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-)
7. Mulut
Sianosis (-), mukosa basah (+)
8. Telinga
Sekret (-), mastoid pain (-), tragus pain (-)
9. Tenggorok
Uvula di tengah, mukosa faring hiperemis (-), tonsil T
1
T
1

10. Leher
Kelenjar getah bening tidak membesar
11. Thorax
Bentuk : normochest
Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
Kanan atas : SIC II linea parasternalis dextra
Kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra
Kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra
Kiri bawah :SIC V linea medioclavicularis sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-)
Pulmo
Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri, retraksi (-)
Palpasi : fremitus raba dada kanan = kiri
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Batas paru hepar : SIC VI dextra
Batas paru lambung :spatium intercosta VII Sinistra
Redup relatif : batas paru hepar
Redup absolut : hepar
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), RBK (+/+) di basal paru,
RBH (-/-), wheezing (-/-)
12. Abdomen
Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba,
turgor kulit baik
13. Ekstremitas :
Akral dingin Oedema
- - - -
- - - -

Clubbing finger




14. Status Neurologis
a. Kesadaran : Compos mentis
b. Fungsi Luhur : dalam batas normal
+ +
+ +
c. Fungsi vegetatif : dalam batas normal
d. Fungsi sensorik : rasa eksteroseptik
Suhu : dalam batas normal
Nyeri : dalam batas normal
Rabaan : dalam batas normal


Rasa propioseptik
Rasa getar : dalam batas normal
Rasa posisi : dalam batas normal
Rasa nyeri tekan : dalam batas normal
Rasa nyeri tusukan: dalam batas normal
e. Fungsi Motorik
Kekuatan


Reflek fisiologis :
Dextra Sinistra
Biceps +2 +2
Triceps +2 +2
Patella +2 +2
Achilles +2 +2
Tonus
N N
N N
Reflek Patologis
Dextra Sinistra
Hoffman-Trommer - -
Babinsky - -
Chaddock - -
5/5/5/5/5 5/5/5/5/5
5/5/5/5/5 5/5/5/5/5
Oppenheim - -

f. Meningeal sign
- Kaku kuduk (-)
- Brudzinsky 1/2/3/4 (-/-/-/-)
- Laseque (-/-)
- Kernig (-/-)
- Patrick (-/-)
- Kontra patrick (-/-)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium Darah (9 Juni 2014)
9/06/2014 Rujukan Normal
Hb 13 g/dl 12-15,6 g/dl
Hct 40 33-45%
AL 11,8 ribu/ul 4,5-11 ribu/ul
AT 349 ribu/ul 150-450 ribu/ul
AE 4,82 juta/ul 4,1-5,1 juta/ul
GDS 81 mg/dl 60-140 mg/dl
SGOT 43 u/l 0-35 u/l
SGPT 76 u/l 0-45 u/l
Na 140 mmol/L 136-145 mmol/L
K 4,4 mmol/L 3,3-5,1 mmol/L
Cl 107 mmol/L 98-106 mmol/L
Alb 3,3 g/dl 3,5-5,2 g/dl
Cr 0,9 mg/dl 0,6-1,1 mg/dl
Ur 40 mg/dl <50 mg/dl
HbsAg Reactive Non-reactive
Analisa Gas Darah
pH 7,392 7,350-7,450
BE 1,6 mmol/L -2 - +3 mmol/L
pCO2 45,4 mmHg 27-41 mmHg
pO2 77,7 mmHg 83-108 mmHg
HCO3 25,5 mmol/L 21-28
Total CO2 24,4 mmol/L 19-24
O2 saturasi 95,3 % 94-98

2. Pemeriksaan Radiografi
Foto thorax PA


Kesimpulan : TB paru aktif lesi luas yang disertai pleural reaction bilateral
Cardiomegali
Terdapat honeycomb appearance

F. ASSESMENT
Bronkiektasis terinfeksi DD TB Paru
CPC Decompesated

G. DAFTAR MASALAH
Masalah medis
Sesak napas
Batuk dahak warna kuning kehijauan
Riwayat batuk darah
Riwayat TB paru
Honeycomb appearance


Problem Rehabilitasi Medik
Fisioterapi : pasien merasa sesak dan kesulitan untuk bernapas, juga
mengeluhkan batuk berdahak
Speech Terapi : tidak ada
Okupasi Terapi : tidak ada
Sosiomedik : tidak ada
Ortesa-protesa : tidak ada
Psikologi : Bronkiektasis merupakan penyakit yang bersifat permanent
dan kronis sehingga akan diderita dalam jangka waktu lama,
sehingga pasien sering merasa depresi karena penyakitnya.

H. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Medikamentosa (dari bagian paru)
O2 3 lpm
Diet TKTD 1700 kkal
Inj Ceftriaxone 2 gr/24 jam
Nebulisasi ipatropium bromide : fenoterol = 0,25 : 1 mg / 6 jam
N asetil sistein 3x200 mg
Curcuma 3x1 tab

2. Rehabilitasi Medik
a. Fisioterapi
Chest physical therapy :
- Breathing exercise
- Postural drainage
- Tapping
- Latihan batuk efektif
b. Sosiomedik : tidak dilaksanakan
c. Ortesa-protesa : tidak dilaksanakan.
d. Speech Terapi : tidak dilaksanakan
e. Okupasi terapi : tidak dilaksanakan
f. Psikologi
Memberikan support mental dan psikoterapi pada pasien
Memberikan dorongan pada pasien agar mau berobat dan terapi
secara teratur

I. TUJUAN
1. Mengurangi dan mencegah terjadinya penumpukan lendir pada saluran
nafas.
2. Mencegah perburukan dan semaksimal mungkin meperbaiki faal paru.
3. Memperbaiki postur tubuh terutama dada/ thorax.
4. Mengurangi kecemasan penderita akan penyakitnya.

J. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia et bonam
Ad sanam : dubia et malam
Ad fungsionam : dubia et bonam















TINJAUAN PUSTAKA
BRONKIEKTASIS

A. Definisi
Bronkientasis adalah pelebaran atau dilatasi bronkus lokal dan
permanen sebagai akibat kerusakan struktur dinding. Artinya dilatasi
abnormal proksimal dari bronkus ukuran medium (diameter > 2mm)
disebabkan oleh destruksi otot dan komponen elastis dinding bronkus.
Atau pelebaran bronkus yang disertai kerusakan dinding bronkus yang
bersifat kronik dan menetap.
Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran pada
bronkus yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang
berada dibawahnya sering membentuk jaringan parut dan menyempit.
Kadang-kadang bronkiektasis terjadi pada bronkus yang lebih besar,
seperti yang terjadi pada aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatu
keadaan yang disebabkan oleh adanya respon imunologis terhadap jamur
Aspergillus
Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi
melalui berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang
mengenai dinding bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang
mengganggu sistem pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas,
atau mungkin muncul di satu atau dua tempat.
B. Prevalensi
Data di RSUD Dr. Soetomo Surabaya bronkiektasis merupakan
kelainan nomer tujuh terbanyak dari penderita rawat inap selama periode
1979-1985 dan nomer enam pada tahun 1987 serta menurun kembali di
nomer tujuh pada tahun 1990. bronkiektasis didapatkan pada 221 dari
11.081 (1,01 %) penderita.
Insidens bronkiektasis cenderung menurun dengan adanya
kemajuan pengobatan antibiotika. Akan tetapi perlu diingat bahwa
insidens ini juga dipenggaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi udara dan
kelinan kogenital.

C. Etiologi
Bronkiektasis bisa disebabkan oleh:
1. Infeksi pernapasan
o Campak
o Pertusis
o Infeksi adenovirus
o Infeksi bakteri contohnya Klebsiella, Staphylococcus atau
Pseudomonas br>- Influenza
o Tuberkulosa
o Infeksi jamur
o Infeksi mikoplasma
2. Penyumbatan bronkus
o Benda asing yang terisap
o Pembesaran kelenjar getah bening
o Tumor paru
o Sumbatan oleh lendir
3. Cedera penghirupan
o Cedera karena asap, gas atau partikel beracun
o Menghirup getah lambung dan partikel makanan
4. Keadaan genetik
o Fibrosis kistik
o Diskinesia silia, termasuk sindroma Kartagener
o Kekurangan alfa-1-antitripsin
5. Kelainan imunologik
o Sindroma kekurangan imunoglobulin
o Disfungsi sel darah putih
o Kekurangan koplemen
o Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti rematoid artritis,
kolitis ulserativa
o
6. Keadaan lain
o Penyalahgunaan obat (misalnya heroin)
o Infeksi HIV
o Sindroma Young (azoospermia obstruktif)
o Sindroma Marfan.
D. Patogenesis
1. Faktor Radang dan Nekrosis
Radang pada saluran pernafasan menyebabkan silia dari sel-sel
epitel bronkus tidak berfungsi. Jaringan juga rusak sebagian oleh
tanggapan host neutrophilic protease, sitokin inflamasi nitrat oksida,
dan oksigen radikal. Epitel kolumner mengalami degenerasi dan
diganti menjadi epitel torak. Selanjutnya elemen kartilago muskularis
mengalami nekrosis dan jaringan elastis yang terdapat disekitarnya
mengalami kerusakan sehingga berakibat dinding bronkus menjadi
lemah, melebar tak teratur dan permanent. Hasilnya adalah bronkial
abnormal, dilatasi bronkial dengan peradangan transmural. Perubahan
anatomi dinding bronkial mengakibatkan pembersihan sekresi saluran
pernafasan melemah. Gangguan bersihan sekresi menyebabkan
kolonisasi dan infeksi dengan organisme patogen dan ganguan dahak
sekret purulen, hasilnya adalah kerusakan bronkus berlanjut dan
lingkaran setan kerusakan bronkus, dilatsi, gangauna pembersihan
sekret, infeksi berulang dan kerusakan bronkus lebih diffuse. Bila
ulserasi mengenai pembuluh darah serta terbentuk anastomosis antara
vena bronkialis dengan vena pulmonaris (right to left shunt) dengan
akibat timbul hipoksemia kronis dan berahir dengan kor pulmonal
kronis.







2. Faktor Mekanik
- Distensi mekanis sebagai akibat dinding bronkus yang lemah,
sekret yang menumpuk dalam bronkus, adanya tumor atau
pembesaran kelenjar limfe
- Peningkatan tekanan intra brokial distal dari penyempitan
akibat batuk
- Penarikan dinding bronkus oleh karena fibrosis jaringan paru
sebagai akibat timbulnya perlekatan lokal yang permanen dari
dinding bronkus.
Pelebaran bronkus dapat berbentuk :
- Sirkuler
- Turbuler
- Varikosis
E. Gambaran Klinis
1. Keluhan
Gejala klinik timbul sebagai akibat gangguan fungsi silia dan
adanya stasis secret sehingga memungkinkan secret terkumpul di
segmen yang mengalami dilatsi. Dugaan adanya bronkiektasis
sebagaian besar ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan
pemeriksaan radiologi masal, sebab gejala klinik baru timbul bila
penderita mengalami infeksi sekunder.
Penderita bronkiektasis mengeluh batuk produktif yang sering
bersifat menahun, disertai dahak purulen dalam jumlah banyak.
Apabila ditampung dalam gelas transparan dan didiamkan akan
tampak tiga lapisan dari atas ke bawah yaitu : buih, cairan
jernih/saliva, dan endapan pus.
Ekspektorasi timbul dengan perubahan posisi tubuh yang
memungkinkan pengaliran sputum dari segmen bronkiektasis,
misalnya waktu bangun tidur, miring ke kiri atau ke kanan. Sesak
nafas timbul apabila ada stagnasi sputum yang luas pada saluran nafas
dan keradangan akut.
Batuk darah timbul pada 50 % penderita, sering perdarahan cukup
banyak tetapi jarang fatal. Kebanyakan batuk darah pada anak
disebabkan oleh bronkiektasis.
Penderita tampak kurus, astenia dan aneroksia. Panas badan timbul
akibat infeksi sekunder.
2. Temuan Fisik
Penderita tampak kurang gizi, anemi, dispneu, kadang-kadang
sianosis dan sering didapatkan jari tabuh pada tangan dan kaki. Ronki
basah persisten pada lobus inferior paru seringkali merupakan kelainan
yang amat penting. Gejala tersebut lebih jelas terdengar bila
pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah posisi drainase postural
dan penderita disuruh batuk.
3. Laboratorium
Tidak khas, Hb dapat rendah (anemia), dapt pula tinggi bila ada
polisitemia sekunder sebagai akibat dari insufisiensi paru. Leukositosis
dengan laju endap darah yang tinggi sering dijumpai bila ada infeksi
sekunder.
4. Gambaran Radiologis
Foto torak PA dan lateral : tampak infiltrat pada paru bagian basal
dengan daerah radiolusen yang multipel menyerupai sarang lebah
(honey comb appeareance).

Bronkografi : merupakan sarana diagnosis pasti untuk
bronkiektasis, karena dengan bahan kontras yang dimasukan kedalam
saluran nafas akan tampak kelainan ektsis.
5. Bronkoskopi
Tidak dapat digunakan untuk melihat ektasis, akan tetapi dapat
untuk mengetahui adanya tumor atau benda asing, sumber batuk darah,
sputum dan perdarahan.
6. Pemeriksaan faal paru
Untuk melihat akibatnya yaitu kelainan resrtiksi dan atau obstruksi.
Kelainan faal paru yang terjadi tergantung luas dan beratnya penyakit.
Fungsi ventilasi dapat masih normal bila kelainannya ringan. Pada
penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital (KV) dan kecepatan
aliran udara ekspirasi satu detik pertama (VEP 1) terdapat tendensi
penurunan, karena terjadinya obstruksi aliran udara pernafasan. Pada
bronkiektasis dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan
PaO2 derajat ringan sampai berat, tergantung pada beratnya kelainan.
Penurunan PaO2 ini menunjukan adanya abnormalitas regional
(maupun difuse) distribusi ventilasi yang berpengaruh pada perfusi
paru.

F. Tingkat beratnya penyakit
Bronkiektasis ringan
Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah
demam (ada infeksi sekunder), produksi sputum terjadi dengan adanya
perubahan posisi tubuh, biasanya ada hemoptisis sangat ringan, pasien
tampak sehat dan fungsi paru normal. Foto dada normal.
Bronkiektasis sedang
Ciri klinis : batuk-batuk produktif terjadi tiap saat, sputum timbul tiap saat
(umumnya warna hijau dan jarang mukoid, serta bau mulut busuk), sering-
sering ada hemoptisis, pasien umumnya masih tampak sehat dan fungsi
paru normal, jarang terjadi jari tabuh. Pada pemeriksaan fisis paru sering
ditemukan ronki basah kasar pada paru yang terkena, gambaran foto dada
boleh dikatakan masih normal.
Bronkiektasis berat
Ciri klinis : batuk-batuk produktif dengan sputum banyak berwarna kotor
dan berbau . sering ditemukan adanya neumonia dengan hemoptisis dan
nyeri pleura. Sering ditemukan jari tabuh. Bila ada obstruksi saluran nafas
akan dapat ditemukan adanya dispneu, sianosis, atau tanda kegagalan paru.
Umumnya keadaan pasien kurang baik. Sering ditemukan infeksi piogenik
pada kulit, infeksi mata, dan sebagainya. Pasien mudah timbul pneumonia,
septikemia, abses metastasis, kadang-kadang amiloidoisis. Pada
pemeriksaan fisis dapat ditemukan ronki basah kasar pada daerah yang
terkena. Pada gmbaran foto dada ditemukan kelainan penambahan
bronchovascular marking dan multipel cyst containing fluid level (honey
comb appeareance).

G. Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakan dengan pemeriksaan broskografi/ CT
scan yang tampak pelebaran bronkus.
Bronkogram tidak selalu dapat dikerjakan pada setiap pasien
bronkiektasis , karena terikat akan adanya indikasi, kontra indikasi,
komplikasi dan syarat-syarat kapan melakukanya.
CT scan paru menjadi alternatif penunjang yang paling sesuai
untuk evalusai bronkiektasis, karena sifatnya non invasif dan hasilnya
akurat bila menggunakan potongan yang lebih tipis dan mempunyai
sepesifitas dan sensitivitas lebih dari 95%.

H. Diagnosis Banding
1. Bronkitis kronis
Bronkitis kronis menunjukan gambaran bronkus yang normal pada
pemeriksaan bronkografi.
2. Tuberkulosis paru
Pada tuberkulosis paru tampak gambaran radiologis yang berbeda
dengan gambaran bronkiektasis, terlebih lagi bila dijumpai basil
tuberkulosis dalam sputum. Akan tetapi perlu diingat bahwa
bronkiektasis dapat merupakan penyulit dari tuberkulosis paru.
3. Abses Paru
Pada radiologis tampak abses yang dapat dibedakan dari gambaran
bronkiektatais.
4. Tumor Paru
Tampak gambaran masa padat pada paru, bila proses keganasan
memberi gambaran infiltrat, maka perlu dibedakan dengan proses
pneumonia.

I. Penatalaksanaan
1. Konservatif
- mengobati penyakit dasar
- drainase postural
Tindakan ini merupakan cara paling efektif untuk
mengurangi gejala, tetapi harus dikerjakan terus menerus.
Pasien diletakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa hingga
dapat dicapai drainase sputum secara maksimal. Tiap kali
melakukan drainase postural dikerjakan selama 10-20 menit
dan tiap hari dikerjakan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase
postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum (sekret
bronkus) dengan bantuan gaya gravitasi. Apabila dengan
mengatur posisi tubuh pasien seperti disebut di atas belum
diperoleh drainase sputum secara maksimal dapat dibantu
dengan tindakan memberikan ketukan dengan jari pada pasien
(tabbottage)
- Penggunaan antibiotika yang tepat dan segera
- Mencairkan sputum yang kental, hal ini dapat dilakukan
dengan misalnya : inhalasi uap air panas atau dingin (menurut
keadaan), menggunakan obat-obat mukolitik dan perbaikan
hidrasi tubuh (banyak minum air putih)
2. Suportif
- Memperbaiki keadaan umum
- Psikoterapi agar tidak menarik diri dari lingkungan
3. Pembedahan
Paling ideal dilakukan pada bagian yang sakit
Indikasi : Batuk darah berulang, proses ektasis yang local/
soliter
Kontra indikasi: pada bronkiektasis yang difuse, faal paru yang
jelek

J. Penyulit
- batuk darah massif
- Kor pulmonal kronikum dekompensata
- Infeksi sekunder


K. Prognosis
Prognosis tergantung dari penyebab, lokasi, luas, proses, drajat
ganguan faal paru dan adanya penyulit. Penggunaan antibiotika yang tepat
dan tindakan bedah sangat berpengaruh terhadap prognosis. Tanpa
pengobatan penderita ektasis jarang dapat hidup melewati umur 10-15
tahun. Kebanyakan penderita meninggal pada umur kurang dari 40 tahun
karena adanya penyulit.
.













DAFTAR PUSTAKA


Allsagaf, Hood, Abdul Mukti. 2002. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :
Airrlangga University Press

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://www.lu
ng.ca/diseases-maladies/a-z/bronchiectasis-bronchiectasie/index_e.php

http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/brn/brn_treatments.html

Rahmatullah, Pasiyan. 2006. Bronkiektasis dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FK UI