Anda di halaman 1dari 48

Tugas 13 MAKALAH Kelas B: Deadline: 03 June 2013 Time: 06.00.

Kelas A:
Deadline: 04 June 2013 Time: 06.00. MAKALAH. Tulis sebuah makalah tentang
teori akuntansi yang berisi rangkuman materi mata kuliah Teori Akuntansi dalam
semester ini. Karakteristik makalah: 1) Makalah disusun secara sistematis
komprehensif dengan disertai ilustrasi-ilustrasi yang bersifat teknis. 2) Makalah
yang anda susun diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan/atau praktisi
yang ingin memahami teori akuntansi, khususnya bagi mahasiswa akuntansi yang
sedang mempersiapkan ujian komprehensif dalam materi akuntansi keuangan. 3)
Penilaian makalah didasarkan pada: a) kualitas substansi (antara lain, kualitas
kesesuaian substansi makalah dengan tujuan penugasan, kualitas referensi,
kualitas deskripsi termasuk kualitas penggunaan gambar/grafik dan ilustrasi, dan
kualitas pembahasan serta kualitas penyimpulan), dan b) kualitas penyajian
(antara lain, kelengkapan, kualitas formattermasuk penulisan kutipan dan
referensi, kualitas bahasakata, kalimat, paragraf, dst.). Keterangan: Tugas ini
merupakan tugas individual. Pada perkuliahan dengan topik ybs., setiap
mahasiswa diminta siap untuk presentasi. File makalah menggunakan MSWord
DAN PowerPoint (atau program aplikasi sejenis). Kutip deskripsi tugas dan
buat surat pengantar yang menjelaskan proses pengerjaan tugas ini.













Surat Pengantar
Tugas individu ini dikerjakan Minggu, 02 Juni 2013 pukul 16.00 dengan diskusi
bersama teman satu kelompok
Dalam pengerjaan kami menggunakan referensi buku Teori Akuntansi
(Suwardjono) serta menggunakan bahan lain dari internet sebagai tambahan
informasi.

























BAB 1
PENGERTIAN TEORI AKUNTANSI

Ilmu akuntansi tidak hanya semata merupakan ilmu untuk menghitung aset
perusahaan, tetapi juga ilmu akuntansi mencakup bidang-bidang Seni, Sains dan
Teknologi.
Akuntansi sebagai Seni merupakan keterampilan mengerjakan sesuatu atau
menerapkan suatu konsep/pengetahuan yang memerlukan perasaan,
intuisi, pengalaman, bakat, dan pertimbangan (judgment).Keahlian dan
pengalaman untuk memilih perlakuan terbaik dalam rangka mencapai
suatu tujuan.Nilai (moral, ekonomik, dan sosial) menjadi basis
pertimbangan.
Akuntansi sebagai seni yaitu akuntansi sebagai bidang pengetahuan
keterampilan, keahlian, dan kerajinan yang menuntut praktik untuk
menguasainya.Akuntansi menuntut pertimbangan (judgment) dalam
penerapannya.Pertimbangan harus dituntun oleh pengalaman dan
pengetahuan (profesionalisma).
Akuntansi sebagai sains --> Akuntansi sebagai bidang pengetahuan yang
menjelaskan fenomena akuntansi secara objektif, apa adanya, dan bebas
nilai. Penjelasan dinyatakan dalam bentuk aksioma, proposisi, prinsip
umum, atau hipotesis yang tidak langsung berkaitan dengan
kebijakan. Pertimbangan dan penyimpulan dituntun oleh kaidah
ilmiah(rules of science).
Akuntansi sebagai teknologi adalah Penggunaan pengetahuan ilmiah
dalam suatu wilayah negara untuk menyediakan informasi keuangan
dalam rangka mencapai tujuan sosial dan ekonomik.

Pengertian Teori Akuntansi
Suatu penalaran logis untuk mengevaluasi dan mengembangkan praktik akuntansi.
Hasil penalaran logis adalah suatu rerangka konseptual yang menjadi semacam
konstitusi akuntansi. Adanya tujuan sosial yang harus dicapai oleh akuntansi
menjadikan teori akuntansi banyak membahas pertimbangan nilai.
Pembagian atas dasar sasaran yang ingin dicapai
Teori akuntansi dibedakan menjadi teori positif dan normatif. Teori positif
menjelaskan fenomena akuntansi seperti apa adanya atas dasar pengamatan
empiris. Teori normatif menjelaskan fenomena akuntansi untuk menjustifikasi
atau membenarkan standar akuntansi karena tujuan akuntansi tertentu harus
dicapai.
Teori Akuntansi sebagai Sains (Teori positif)
Seperangkat konsep, definisi, dan proposisi (pernyataan) yang saling berkaitan
secara sistematis yang diajukan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena
akuntansi.
Teori Akuntansi sebagai Teknologi (Teori normatif)
Penalaran logis yang melandasi praktik akuntansi. Proses penalaran untuk
menjustifikasi kelayakan praktik atau prinsip akuntansi tertentu. Teknologi
melekat pada perekayasaan pelaporan keuangan.
Sasaran Teori Akuntansi
Positif: Penjelasan atau penalaran untuk menunjukkan secara ilmiah
kebenaran pernyataan atau fenomena akuntansi seperti apa adanya sesuai
fakta. Fakta sebagai sasaran.
Normatif: Penjelasan atau penalaran untuk menjustifikasi kelayakan suatu
perlakuan akuntansi paling sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Nilai sebagai sasaran.



Pendekatan penalaran
Penalaran merupakan proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan
mengevaluasi validitas/kelayakan suatu pernyataan, simpulan, penjelasan, atau
prinsip.

















BAB 2
PENALARAN (REASONING)
Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan
mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Menentukan
secara logis dan objektif apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah)
sehingga pantas untuk diyakini atau dianut. Struktur penalaran terdiri atas
masukan, proses, dan keluaran.
Unsur atau Komponen Penalaran
Pernyataan atau asersi (assertion) : pernyataan bahwa sesuatu adalah
benar atau penegasan tentang suatu realitas.
Keyakinan (belief) : kebersediaan untuk menerima kebenaran suatu
pernyataan.
Argumen (argument) : proses penurunan simpulan atau konklusi atas
dasar beberapa asersi yang berkaitan secara logis.
Argumen adalah serangkaian asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang
terlibat di dalamnya. Simpulan dinyatakan pula dalam bentuk asersi. Merupakan
bukti rasional akan kebenaran suatu pernyataan. Argumen membentuk,
memelihara, atau mengubah keyakinan.
Jenis dan Fungsi Asersi
Jenis
Asumsi (assumption)
Hipotesis (hypothesis)
Pernyataan fakta (statement of facts)
Fungsinya sebagai pernyataan premis dan konklusi.


Keyakinan adalah kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar
tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut
benar atau tidak.
Properitas Keyakinan
Keadabenaran
Bukan pendapat
Bertingkat
Berbias
Bermuatan nilai
Berkekuatan
Veridikal
Berketertempaan

Jenis Argumen
Argumen Deduktif : Argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian
asersi umum yang disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik major
maupun minor). Pada umumnya berstruktur silogisma sehinga disebut argumen
logis (logical argument).
Kriteria Kebenaran Argumen Deduktif
Kelengkapan
Kejelasan
Kesahihan
Keterpercayaian
Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan
kebenaran empiris (realitas). Kriteria kebenaran logis:
1. Semua premis benar
2. Konklusi mengikuti semua premis
3. Semua premis dapat diterima
Argumen Induktif : Argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau
generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi
menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible
argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument).
Argumen Sebab-Akibat (Causal Generalization) : Argumen untuk mendukung
bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria
Penyebaban:
1. Faktor sebab bervariasi dengan faktor akibat (efek).
2. Faktor sebab terjadi sebelum atau mendahului faktor akibat.
3. Tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi.

Kecohan (Fallacy)
Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen yang
mengandung catat (faulty) atau tidak valid. Orang dapat terkecoh akibat taktik
membujuk selain dengan argumen yang valid.
Orang dapat mengecoh atau terkecoh lantaran:
1. Strategem
2. Salah nalar (reasoning fallacy)
3. Aspek manusia dalam berargumen
Kecohan lantaran Strategem
Persuasi taklangsung
Membidik orangnya
Menyampingkan masalah
Misrepresentasi
Imbauan cacah
Imbauan autoritas
Imbauan tradisi
Dilema semu
Imbauan emosi
Kecohan lantaran Salah Nalar
Menyangkal anteseden
Pentaksaan
Perampatan-lebih
Parsialitas
Pembuktian dengan analogi
Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban
Menarik simpulan pasangan

Kecohan lantaran Aspek Manusia
Puas dengan penjelasan sederhana
Kepentingan mengalahkan nalar
Sindroma tes klinis
Mentalitas Djoko Tingkir
Merasionalkan daripada menalar
Persistensi
Fiksasi fungsional


















BAB 3
PEREKAYASAAN PELAPORAN KEUANGAN
Pelaporan Keuangan
Bagaimana informasi akuntansi dalam suatu masyarakat (negara) diatur,
disediakan, dan disampaikan untuk mencapai tujuan tertentu (sosial dan
ekonomik). Pelaporan keuangan yang berjalan merupakan hasil dari perekayasaan
pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan meliputi struktur dan proses.
Statement Keuangan
Media utama pelaporan keuangan. Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU),
terutama standar akuntansi, menentukan bentuk, isi, dan susunan statement
keuangan. Pedoman resmi yang membentuk PABU ditetapkan dengan cara
seksama.
Perekayasaan Pelaporan Keuangan
Proses pemikiran logis dan objektif untuk membangun suatu struktur dan
mekanisme pelaporan keuangan dalam suatu negara untuk menunjang pencapaian
tujuan negara. Perekayasaan melibatkan pemilihan dan pertimbangan ideologi,
teori, konsep dasar, dan teknologi yang tersedia secara praktis dan teoritis dengan
mempertimbangkan faktor lingkungan negara.
Hasil Perekayasaan
Didokumentasi dalam bentuk Rerangka Konseptual yang dapat dianalogi
fungsinya dengan konstitusi.
Langkah-Langkah Perekayasaan
1. Penentuan konsep dasar, postulat, faktor lingkungan.
2. Penetapan tujuan pelaporan.
3. Pengidentifikasian pihak yang dituju oleh pelaporan
4. Pemilihan dan penentuan informasi yang diperlukan.
5. Penentuan cara menyampaikan informasi
6. Pengidentifikasian kendala-kendala pelaporan
7. Penyusunan dokumen resmi dalam bentuk pernyataan konsep
8. Penetapan standar akuntansi dan perancangan sistem akuntansi dalam
rangka penerapan standar.
Proses Saksama
1. Evaluasi masalah
2. Riset dan analisis
3. Diskusi dan penyusunan Memorandum Diskusi (MD)
4. Dengar pendapat terhadap MD
5. Diskusi dan pertimbangan terhadap dengar pendapat
6. Penebitan Draft Pernyataan (DP)
7. Analisis dan petimbangan atas tanggapan DP
8. Keputusan untuk menerbitkan pernyataan
9. Penerbitan secara resmi pernyataan
Rerangka Konseptual (FASB)
Pengertian
Beberapa tujuan dan hal mendasar yang saling berkaitan yang membentuk suatu
sistem/ rerangka terpadu yang melandasi penyusunan standar akuntansi yang
konsisten dan yang menetapkan sifat, fungsi, dan keterbatasan pelaporan
keuangan dan statement keuangan.
Sasaran
Melayani kepentingan publik dengan menyediakan struktur dan haluan pelaporan
akuntansi dan keuangan untuk memfasiltasi penyediaan informasi keuangan dan
yang berkaitan secara objektif yang bermanfaat dalam membantu bekerjanya
pasar modal dan lainnya secara efisien dalam rangka alokasi sumber ekonomik
(langka) dalam perekonomian masyarakat (negara).
Manfaat atau fungsi
1. Pedoman bagi penyusun standar
2. Acuan pemecahan masalah praktik akuntansi
3. Batas pertimbangan penyusunan statement keuangan
4. Pendidikan dalam pemahaman dan peningkatan keyakinan
5. Peningkatan keterbandingan antarperusahaan
Komponen konsep
1. Tujuan pelaporan keuangan
2. Kriteria kualitas informasi
3. Elemen-elemen statement keuangan
4. Pengukuran dan pengakuan
dinyatakan dalambentuk pernyataan konsep (Statement of Financial Accounting
Concepts)
Prinsip Akuntansi Berterima Umum
Rerangka konseptual harus dijabarkan dalam bentuk standar akuntansi sebagai
pedoman operasional pelaporan di tingkat perusahaan. Diperlukan rerangka
pedoman lebih dari sekedar standar akuntansi untuk menentukan kewajaran
penyajian statement keuangan. PABU merupakan rerangka pedoman membatasi
sumber-sumber prinsip akuntansi yang layak dianut berdasarkan
keautoritatifannya.





BAB 4
KERANGKA KONSEPTUAL
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh FASB
sebagai suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental
yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang
konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi keuangan
dan laporan keuangan.
Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan. Sedangkan
fundamentals (kaidah-kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasari
akuntansi keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian,
dan keadaan-keadaan yang harus dipertanggungjawabkan, pengakuan dan
pengukurannya, cara meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.
Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya bahwa konsep-
konsep lainnya mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan
sebagai referensi berulang-ulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan
menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan.
Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual FASB (Financial Accounting
Standard Board) telah menerbitkan enam statement of financial accounting
concept yang berhubungan dengan pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu:
1. SFAC no. 1 objective of financial reporting by business enterprises,
yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
2. SFAC no. 2 qualitative caracteristics of accounting information,
yang menjelaskan karakteristik yang membuat informasi akuntansi
bermanfaat.
3. SFAC no. 3 element of financial statement of business enterprises,
yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan
keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.
4. SFAC no. 5 recognition and measurement in financial statement of
business enterprises, yang menetapkan kriteria pengakuan dan
pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi.
5. SFAC no. 6 element of financial statement, yang menggantikan
SFAC no. 3 dan memperluas SFAC no. 3 dengan memasukkan
organisasi-organisasi nirlaba.
6. SFAC no. 7 using cash flow information and present value in
accounting measurement, yang memberikan kerangka kerja bagi
pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang
(present value) sebagai dasar pengukuran
Pengurus pusat IAI pada tanggal 7 september 1994, menamakan kerangka
konseptual indonesia dengan istilah Kerangka Dasar Penyusunan Dan Penyajian
Laporan Keuangan
PENGERTIAN DAN MANFAAT KERANGKA DASAR
IAI (2004, hal. 1) menyatakan bahwa tujuan kerangka dasar penyusunan dan
penyajian laporan keuangan adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:
1. Komite penyusun standar akuntansi keuangan dalam pelaksanaan
tugasnya
2. Penyusunan laporan keuangan untuk menanggulangi masalah
akuntansi yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan
3. Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan
keuangan disusun sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum
4. Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang
disajikan dalam lk yang disusun sesuai PSAK
TUJUAN
Menurut IAI tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang
berkaitan dengan posisi keuangan, prestasi hasil usaha serta perubahan posisi
keuangan perusahaan yang bermanfaat bagi pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi.
ASUMSI DASAR
Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (IAI, 2004,
hal.6) menetapkan dua asumsi dasar yaitu:
1. Dasar Akrual
Asumsi ini mengandung arti bahwa pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui
pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar)
dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada
periode bersangkutan
2. Kelangsungan Usaha
Asumsi ini memiliki arti bahwa perusahaan diasumsikan akan beroperasi terus di
masa depan tanpa batasan, tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau
mengurangi secara material skala usahanya. Jika maksud atau keinginan tersebut
timbul, laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan
dasar yang digunakan harus diungkapkan.

IASB menyatakan bahwa kerangka konseptual meliputi:
1. Menentukan tujuan laporan keuangan
2. Mengidentifikasi karakteristik kualitatif yang membuat informasi
dalam laporan keuangan berguna
3. Mendefinisikan elemen dasar laporan keuangan dan konsep untuk
pengakuan dan pengukuran mereka dalam laporan keuangan.
4. Konsep modal dan pemeliharaan modal

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
1. Informasi tentang posisi keuangan
2. Informasi tentang kinerja
3. Informasi tentang perubahan dalam posisi keuangan

ASUMSI DASAR
1. Dasar akrual
2. Kelangsungan usaha

KARAKTERISTIK KUALITATIF
1. Dapat dipahami
2. Relevan
3. Keandalan
4. Dapat dibandingkan

UNSUR LAPORAN KEUANGAN
1. Asset
2. Kewajiban
3. Ekuitas
4. Penghasilan
5. Beban




BAB 5
KONSEP DASAR
Pengertian
Konsep yang dianut dan dijadikan dasar dalam penalaran dan perekayasaan.
Disebut dasar karena kalau dianut akan mempunyai implikasi tertentu. Standar
pada umumnya dilandasi konsep dasar tertentu. Disebut dengan berbagai nama.
Berbagai Nama
Postulat (postulates)
Asumsi dasar (basic assumptions)
Sifat dasar (basic features)
Prinsip mendasar/umum (pervasive/broad principles)
Aksioma (axioms)
Doktrin (doctrines)
Konvensi (conventions)
Fundamental (fundamentals)
Premis dasar (basic premises)
Kendala (constraints)
Sumber Konsep Dasar
IAI/IASC
Paul Grady
Accounting Principles Board (APB)
Wolk, Tearney, dan Dodd
Anthony, Hawkins, dan Merchant
Paton dan Littleton
Sumber lain (buku-buku akuntansi keuangan pada umumnya termasuk
buku-buku teori akuntansi)
Kesatuan Usaha
Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan dipandang sebagai badan atau orang
yang:
berdiri sendiri,
bertindak atas namanya sendiri, dan
terpisah dari pemilik.
Konsep ini didukung secara administratif dan yuridis. Batas kesatuan adalah
ekonomik bukan yuridis.
Implikasi Konsep Kesatuan Usaha
Perusahaan menjadi pusat perhatian akuntansi dan subjek pelaporan
Hubungan perusahaan dan pemilik merupakan hubungan bisnis sehingga
perlu adanya pertanggungjelasan
Ekuitas bermakna sebagai utang perusahaan kepada pemilik
Pendapatan merupakan kenaikan aset
Biaya merupakan penurunan aset
Sistem berpasangan dalam pencatatan dan pelaporan
Persamaan akuntansi bukan persamaan aljabar
Statemen keuangan berartikulasi

Kontinuitas Usaha
Kesatuan usaha akan berlangsung terus bila tidak ada gejala atau rencana untuk
membubarkannya. Dipertimbangkan pada saat penyusunan statemen keuangan.
Lawan/pasangan konsep likuidasi.
Dasar validitas konsep:
Masa datang tidak pasti
Kelangsungan hidup merupakan harapan umum
Implikasi Konsep Kontinuitas Usaha
Laba periodik menjadi informasi penting dalam menilai daya melaba
(earning power)
Statemen laba-rugi periodik merupakan penggalan aliran laba jangka
panjang sehingga bersifat tentatif
Statemen laba-rugi periodik harus disajikan secara komparatif atau serial
Fluktuasi laba tahunan adalah hal wajar sehingga untung/rugi luar biasa
harus masuk dalam statemen laba-rugi (mendasari all-inclusive)
Neraca merupakan sarana untuk menunjukkan sisa potensi jasa bukan nilai
perusahaan

Penghargaan Sepakatan
Jumlah rupiah atau penghargaan sepakatan yang terlibat dalam tiap transaksi atau
pertukaran merupakan pengukur dan bahan olah akuntansi yang paling objektif.
Dasar validitas konsep:
Sebagian kegiatan perusahaan melibatkan pertukaran
Kesepakatan dua pihak independen menjamin objektivitas dan
keterandalan pengukuran.
Asumsi/Implikasi Penghargaan Sepakatan
Pihak yang melakukan pertukaran merupakan pihak yang independen dan
setara dalam hal kemampuan dan kehendak (arms length bargaining).
Satuan mata uang stabil.
Kos merupakan pengukur bukan elemen statemen keuangan.
Biaya tidak tepat sebagai padan kata cost.
Kos merepresentasi besarnya jasa di balik angka kos.
Kos merupakan pengukur semua elemen statemen keuangan yang berbasis
kos historis
Kos Melekat
Kos melekat pada objek yang direpresentasinya. Gabungan berbagai objek untuk
membentuk objek baru hanya memerlukan gabungan kos yang melekat pada tiap
objek pembentuk.
Dasar validitas konsep:
Tujuan penelusuran kos adalah untuk merunut upaya
Kos dapat dipecah dan digabung seakan-akan mempunyai daya saling
mengikat
Dilandasi kos terkandung (embodied cost)
Implikasi Kos Melekat
Aliran fisis operasi direpresentasi dalam aliran kos.
Kos mengalami tiga tahap perlakuan: pemerolehan, penelusuran, dan
pembebanan.
Penggabungan kos tidak memperhitungkan/ mengakui tambahan utilitas
objek yang diikuti.
Manfaat baru diakui setelah ada kesepakatan pihak independen
terhadapnya (Gambar 5.8).
Produk menjadi wadah penggabungan kos yang mudah dikaitkan dengan
produk.
Perioda menjadi wadah penggabungan kos yang tidak mudah dikaitkan
dengan produk.

Upaya dan Hasil
Biaya merupakan upaya dalam rangka mencapai hasil atau capaian berupa
pendapatan. Jadi, biaya (penyerahan barang dan jasa) menimbulkan pendapatan
bukan sebaliknya, pendapatan menanggung biaya.
Dasar validitas konsep:
Untuk mendapatkan sesuatu orang harus berusaha.
Pada umumnya, orang mengharapkan upayanya membuahkan hasil.
Upaya dilakukan dengan senang hati dan bukan beban siksaan, atau
cobaan.
Hasil pada umumnya sepadan dengan upaya.
Implikasi Upaya dan Hasil
Perlunya basis asosiasi untuk penentuan laba yang bermakna.
Produk merupakan penakar untuk mengasosiasi pendapatan dan biaya
yang ideal.
Laba akuntansi merupakan residual hasil penandingan.
Hanya kos aktual yang ditandingkan.
Dianutnya asas akrual.
Depresiasi merupakan bagian dari upaya.
Penandingan upaya dan hasil dari perspektif jangka panjang.
Bukti Terverifikasi dan Objektif
Kebermanfaatan informasi akan tinggi kalau informasi didukung dengan bukti
yang objektif dan dapat diuji kebenarannya. Terverifikasi yaitu memungkinkan
orang untuk meyakinkan kebenaran akan sesuatu. Objektif yaitu penentuan
kebenaran didasarkan atas fakta bukan subjektivitas. Akuntansi mendasarkan diri
pada objektivitas relatif sesuai dengan keadaan yang melingkupi.

Implikasi Bukti Terverifikasi dan Objektif
Menentukan tingkat kewajaran dalam pengauditan.
Tingat keobjektifan bukti harus dilihat dalam perspektif jangka panjang.
Bukti dalam akuntansi tidak harus sama dengan bukti yuridis.
Keterverifikasian dan keobjektifan bukti dalam akuntansi bersifat relatif
atau bertingkat (terbaik diperoleh) bukannya mutlak.
Asumsi
Konsep dasar merupakan asumsi atau paling tidak dilandasi oleh asumsi-asumsi
tertentu yaitu:
Harapan atau pengalaman umum menjadi landasan konsep kontinuitas
usaha.
Perioda satu tahun diasumsi tidak terlalu pendek atau panjang.
Kos sebagai pengukur dilandasi asumsi bahwa orang bertindak rasional.
Unit moneter digunakan sebagai pengukur didasarkan pada asumsi bahwa
mata uang stabil.
Penekanan pada penentuan laba didasarkan pada asumsi bahwa tujuan
umum perusahaan adalah mencari laba.
Konservatisma
Sikap dalam menghadapi ketidakpastian dengan cara mengambil keputusan atas
dasar munculan yang terjelek.
Implikasi akuntansi:
Dalam kondisi ketidakpastian, akuntansi akan memilih perlakuan atau
menentukan standar atas dasar munculan yang kurang menguntungkan.
Akibatnya, biaya/rugi segera diakui walaupun belum pasti terjadi sementara
pendapatan/untung tidak diantisipasi atau diakui walaupun cukup pasti terjadi.
Manfaat Konsep Dasar
Menjadi komponen argumen dalam penalaran logis pada tingkat
perekayasaan, penetapan standar, atau penerapan standar.
Terrefleksi di basis penyimpulan (basis for conclusion) dalam rerangka
konseptual sebagai hasil perekayasaan.
Terrefleksi di latar belakang penyimpulan (background information)
dalam pernyataan standar akuntansi.
Terrefleksi di kebijakan akuntansi (accounting policy) perusahaan dalam
buku pedoman akuntansi.












BAB 6
ASET

Aset merupakan elemen neraca pembentuk informasi semantic berupa posisi
keuangan dan merepresentasi potensi jasa fisis dan nonfisis yang memampukan
badan usaha untuk menyediakan barang dan jasa.
aset adalah Manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti (probable) yang
diperoleh atau dikuasai oleh suatu entitas sebagai hasil transaksi atau kejadian
masa lalu.
Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat beberapa karakteristik utama yaitu:
1) Manfaat Ekonomik
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat
ekonomik di masa datang yang cukup pasti (probable). Ini mengisyaratkan
bahwa manfaat tersebut terukur dan dapat dikaitkan dengan kemampuannya
untuk mendatangkan pendapatan atau aliran kas di masa datang. Atau Manfaat
ekonomik aset ditunjukkan oleh potensi jasa atau utilitas yang melekat
padanya yaitu sumber daya atau kapasitas langka yang dapat dimanfaatkan
kesatuan usaha dalam upayanya untuk mendatangkan pendapatan melalui
kegiatan ekonomik yaitu konsumsi, produksi, dan pertukaran.
2) Dikuasai oleh Entitas
Atas dasar konsep substansi daripada bentuk, suatu objek cukup dikuasai dan
tidak perlu dimiliki oleh kesatuan usaha untuk dapat disebut sebagai aset
kesatuan usaha. Penguasaan dapat diperoleh melalui pembelian, pemberian,
penemuan, perjanjian, produksi, penjualan, pertukaran, peminjaman,
penjaminan, pengkonsignaan (leasing), dan berbagai transaksi komersial
lainnya.
3) Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu
Penguasaan harus didahului oleh transaksi atau kejadian ekonomik. Bahwa
aset harus timbul akibat transaksi atau kejadian masa lalu adalah criteria untuk
memenuhi definisi tetapi bukan criteria untuk pengakuan. Manfaat ekonomik
dan penguasaan atau hak atas manfaat saja tidak cukup untuk memasukkan
suatu objek ke dalam aset kesatuan usaha untuk dilaporkan via statemen
keuangan (neraca). Kriteria pengakuan yang lain harus dipenuhi
(keterandalan, keberpautan, dan keterukuran). Jadi, definisi aset harus
dibedakan dengan pengakuan aset. Definisi hanya merupakan salah satu
criteria pengakuan.

Beberapa karakteristik merupakan pendukung yang meyakinkan adanya aset.
Karakteristik tersebut adalah (1) melibatkan kos, (2) berwujud, (3) tertukarkan, (4)
terpisahkan, dan (5) penegasan atau kekuatan secara legal. Karakteristik
pendukung tersebut lebih menguatkan atau meyakinkan adanya aset tetapi tidak
harus dipenuhi untuk memasukkan suatu objek sebagai aset.
Dengan konsep kontinuitas usaha, pos atau sumber ekonomik akan mengalami
tiga tahap perlakuan sejalan dengan aliran fisis kegiatan usaha yaitu:
1) Tahap Pemerolehan (acquisition)
2) Tahap Pengolahan (processing)
3) Tahap Penjualan/Penyerahan (Sales/Delivery).
Secara aliran informasi, aliran fisis suatu sumber ekonomik atau objek harus
direpresentasi dalam kos sehingga hubungan antar objek bermakna sebagai
informasi. Kos merupakan representasi kuantitatif suatu objek. Oleh karena itu,
kos juga mengalami tiga tahap akuntansi mengikuti aliran fisis yaitu:
1) Pengukuran (Measurement)
2) Penelusuran (Tracing)
3) Pembebanan (Charging)

Kriteria manfaat masa datang yang cukup pasti dalam definisi aset menjadikan
terjadinya pengeluaran yang menjadi kos mengalami masalah teknis yaitu dicatat
sebagai aset atau biaya.
1) Dicatat sebagai aset pengeluaran untuk capital
2) Dicatat sebagai biaya pengeluran untuk pendapatan.
Walaupun secara teknis kos dapat dicatat sebagai biaya, secara konseptual
dianggap badan usaha telah dicatat sebagai aset meskipun sekejap. Artinya,
dianggap kos dicatat sebagai aset dan pada saat yang sama langsung dipindah ke
biaya. Karena hal inilah makna kos, biaya, dan aset sering dirancukan.

Penentuan kos suatu objek pada saat pemerolehan merupakan hal yang sangat
kritis karena penentuan ini akan mempengaruhi pengukuran aset dan biaya
selanjutnya khususnya pada tahap pembebanan. Pengukur aset pada saat
pemerolehan yang paling objektif adalah penghargaan sepakatan. Penghargaan
sepakatan merupakan estimator terbaik nilai sebenarnya (true value). Penghargaan
sepakataan menghindari adanya transaksi sepihak dan menjamin bahwa kos
merupakan nilai wajar pada saat transaksi. Keobjektifan dapat dicapai khususnya
untuk barang-barang yang standar yang mudah dijumpai dipasar bebas.

Kos yang melekat pada suatu aset ditentukan oleh batas kegiatan pemerolehan dan
jenis penghargaan. Secara konseptual, pembentuk kos suatu aset adalah semua
pengeluaran (pengorbanan sumber ekonomik) yang terjadi atau yang diperlukan
akbat kegiatan pemerolehan suatu aset sampai ditempatkan dalam kondisi siap
pakai atau berfungsi sesuai dengan tujuan pemerolehannya. Pengeluaran selama
periode pemerolehan masuk sebagai unsure kos aset.
Jenis Penghargaan Kos:
1) Bila transaksi terjadi dalam pemerolehan mekanisma pasar bebas anatara
pihak independen, kos tunai adalah adalah pengukuran aset yang paling valid
dan objektif.
2) Bila kos barang atau jasa yang diperoleh melalui pertukaran dengan barang
atau jasa lain (nonkas), KOS merupakan jumlah tunai yang secara implisit
melekat pada nilai jual barang atau jasa yang diserahkan dalam pertukaran
tersebut. Jumlah rupiah melekat ini disebut jumlah setara tunai atau kos tuai
terkandung atau implisit dari wujud penghargaann yang diserahkan oleh
pemeroleh aset.
3) Bila aset tanpa peghargaan (misalnya hadiah), kos aset ditentukan atas dasar
setara tunai atau kos tunai terkandung aset yang diterima pada saat transaksi
atau kejadian. Cara penentuan kos adalah unik untuk berbagai jenis transaksi:
barter, saham sebagai penghargaan, reorganisasi, hadiah/hibah, temuan dan
pembelian kredit.
Potongan tunai secara teoritis tidak dapat diperlakukan sebagai pendapatan tetapi
lebih merupakan penghematan kos. Lebih jauh, kalau potongan tunai memang
ditawarkan, ketidakmampuan memanfaatkan potongan merupakan suatu salah
kelola sehingga jumlah itu harus diakui sebagai rugi. Kos yang merepresentasi
rugi tidak dapat menjadi bagian dari aset karena hilangnya atau tiadanya manfaat
ekonomik masa datang.
Penilaian adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu pos
aset pada saat akan dilaporkan atau disajikan dalam statemen keuangan pada
tanggal tertentu. Tujuan penilaian aset adalah merepresentasi atribut pos-pos aset
yang berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis yang
sesuai. Penilaian dapat didasarkan pada nilai masukan atau keluaran bergantung
pada tujuan menrepresentasi aset. Secara umum nilai masukan terdiri kos historis,
kos pengganti, dan kos harapan sedangkan nilai keluaran terdiri atas harga jual
masa lalu, harga jual sekarang dan nilai terealisasi harapan.
Pengakuan dan penyajian aset biasanya ditentukan dalam standar akuntansi yang
mengatur tiap pos aset. Masalah akuntansi yang menyangkut pengakuan biasanya
berkaitan dengan masalah apakah suatu kos atau jumlah rupiah yang terlibat
dalam transaksi, kejadian, atau keadaan tertentu dapat diasetkan.



















BAB 7
KEWAJIBAN

KEWAJIBAN Pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti
yang timbul dari keharusan (obligations) sekarang suatu entitas untuk mentransfer
aset atau menyerahkan jasa kepada entitas lain di masa datang sebagai akibat dari
transaksi atau kejadian masa lalu.
Kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu:
1. Pengorbanan manfaat ekonomik masa datang,
Kewajiban menjadi tegas adanya bila didukung oleh keharusan membayar kas,
teridentifikasinya terbayar, dan terpaksakan secara hukum. Untuk dapat
disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat suatu tugas (duty) atau
tanggung jawab (responsibility) kepada pihak lain yang mengharuskan
kesatuan usaha untuk melunasi, menunaikan, atau melaksanakannya dengan
cara mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti di masa datang.
Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk transfer atau
penggunaan aset kesatuan. Cukup pasti di masa datang mengandung makna
bahwa jumlah rupiah pengorbanan dapat ditentukan dengan layak.
2. Menjadi keharusan sekarang (obligations)
Transaksi atau kejadian masa lalu menimbulkan keharusan sekarang pada
tanggal pelaporan yang berarti bahwa seandainya pada saat sekarang
perusahaan harus mengorbankan manfaat ekonomik maka hal tersebut harus
dilakukan. Kewajiban sekarang yang menimbulkan kewajiban bersifat
kontraktual, konstruktif, demi keadilan, dan bergantung.
3. Timbul akibat transaksi atau kejadian masa lalu.
Pengertian kewajiban merupakan bayangan cermin pengertian aset. Transaksi
atau kejadian masa lalu menimbulkan penguasaan sekarang pemerolehan
manfaat ekonomik masa datang untuk aset sedangkan untuk kewajiban hal
tersebut menimbulkan keharusan sekarang pengorbanan manfaat ekonomik
masa datang. Transaksi, kejadian atau keadaan dapat mempengaruhi aset dan
kewajiban secara bersamaan.

Timbulnya aset sering harus diimbangi dengan timbulnya kewajiban. Dalam
kondisi tertentu, kewajiban tidak dapat timbul tanpa diimbangi aset yang dikuasai
perusahaan. Hal ini disebut hak-kewajiban tak-bersyarat. Kalau aset mengalami
tiga tahap perlakuan (pemerolehan, pengolahan, dan penyerahan), kewajiban
sebenarnya juga mengalami tiga tahap perlakuan yaitu: penanggungan (pengakuan
terjadinya), penelusuran, dan pelunasan (penyelesaian).

Kewajiban dapat diakui atas dasar criteria pengakuan yaitu definisi, keterukuran,
keterandalan, dan keberpautan. Saat untuk menandai bahwa criteria pengakuan
dipenuhi adalah kaidah pengakuan yaitu: (a) ketersedian dasar hukum, (b)
keterterapan konsep dasar konservatisma, (c) ketertentuan substansi ekonomik
transaksi, dan (d) keterukuran nilai kewajiban.
Secara umum, kewajiban harus diakui pertama kali dengan penghargaan
sepakatan dan bukan dengan nilai nominal kewajiban atau utang. Utang obligasi
diukur dan diakui atas dasar jumlah rupiah yang berterima dalam penerbitan
obligasi. Diskon dan premium obligasi merupakan jumlah rupiah penyesuai
bungan nominal untuk mendapatkan bunga efektif.
Kewajiban nonmoneter berupa keharusan menyerahkan barang atau jasa
masih memenuhi definisi kewajiban. Kewajiban nonmoneter ini tidak perlu
dipisahkan menjadi porsi yang menunjukkan kos untuk menutup penyediaan
barang atau jasa dan porsi yang menunjukkan laba tangguhan.
Pada setiap saat akan dilaporkan, kewajiban secara umum dinilai atas
dasar jumlah rupiah yang harus dikorbankan seandainya saat itu kewajiban harus
dilunasi. Jumlah ini disebut nilai pelunasan sekarang (current settlement value).
Sesuai dengan atributnya, kewajiban dapat dinilai atas dasar harga pasar sekarang,
nilai pelunasan neto, dan nilai diskunan aliran kas masa datang.
Kewajiban dapat dinyatakan lenyap dan diakui dari catatan bila debitor
telah:
1) membayar kreditor dan terbebaskan dari semua keharusan yang melekat
pada kewajiban dan
2) dibebaskan secara hukum sebagai penanggung utang utama oleh
keputusan pengadilan atau kreditor.
Keadaan pembebasan substantive tidak memenuhi criteria kritis untuk
mengakui kewajiban. Kewajiban tidak lenyap dengan sendirinya meskipun
perusahan telah menyediakan dana yang cukup untuk melunasinya.
Bila kewajiban dilunasi sebelum jatuh tempo, pada umumnya akan terjadi
selisih antara nilai bawaan dan nilai penebusan atau penarikan. Selisih ini harus
diakui sebagai laba atau rugi pada saat penarikan. Bila penarikan dilakukan
dengan pendanaan kembali, terdapat tiga perlakuaan terhadap selisih tersebut
yaitu: (a) diamortisasi selama sisa umur semua utang yang dilunasi, (b)
diamortisasi selama umur utang baru, dan (c) diakui sebagai laba atau rugi pada
saat penarikan.
Utang terkonversi menimbulkan masalah akuntansi karena dua sifat yang
melekat padanya yaitu sebagai kewajiban dan ekuitas. Masalah teoritis yang
ditimbulkan adalah apakah pada saat pengakuan pertama kali komponen utang
dan komponen hak konversi (ekuitas) dipisahkan. Pendukung pemisahan
beragumen bahwa hak konversi dapat dinilai karena hak tersebut tidak berbeda
dengan hak beli saham. Sementara itu, pendukung utang semata-mata berpendapat
bahwa karakteristik tidak dapat dipisahkan dan implementasi akan mengalami
kesulitan teknis.
Pembebasan substantive adalah suatu keadaan yang dicapai pada saat
debitor telah menempatkan kas atau aset lainnya ke perwalian yang ditujukan
semata-mata untuk pelunasan utang teetentu (dan tidak padat tertarik kembali) dan
pada saat itu dapat dipastikan bahwa debitor tidak lagi harus melakukan
pembayaran karena dana yang terkumpul dan aliran kas dari aset tersebut cukup
untuk menutup pokok pinjaman dan bunga. Masalah teoritis akuntansi adalah
apakah pada saat tersebut kewajiban dapat dinyatakan lenyap dan diakui dari
catatan sehingga tidak tampak dalam neraca. Secara teoritis kewajiban tidak
lenyap dengan tidak terlibat dalam pembentukan dana sehingga secara yuridis
kreditor tidak membebaskan kewajiban yang bersangkutan. Lebih dari itu,
pengakuan kewajiban atas dasar pembebasan substantive dapat mendorong
debitor untuk melakukan manajemen laba dan perbaikan kinerja secara kosmetik.
Secara umum, kewajiban disajikan di neraca atas dasar urutan
likuiditasnya. Hal ini sesuai dengan urutan perlindungan dalam hal terjadi
likuidasi. Kewajiban hendaknya tidak dikompensasi dengan aser yang berkaitan
dan dilaporkan jumlah bersihnya saja kecuali dalam keadaan khusus yang di
dalamnya pihak pelapor mempunyai hak mengontra (right to setoff).











BAB 8
PENDAPATAN
Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan mengenai definisi dari pendapatan,
diantaranya adalah menurut FASB dalam SFAC No. 6, IAI yang mengadopsi
definisi dari IASC, dan APB No. 4. dari beberapa sumber tersaebut dapat didaftar
beberapa kharakteristik yang membentuk pengertian pendapatan dan untung.
Kharakteristik tersebut adalah kenaikan aset, operasi utama berlanjut, penurunan
kewaiban, suatu entitas, produk perusahaan, pertukaran produk, menyandang
beberapa nama, dan mengakibatkan kenaikan ekuitas.
Pendapatan dapat diadakan ada jika terjadi suatu transaksi atau kejadian yang
menaikkan aset atau menimbulkan aliran masuk kas. Paton dan Littleton
menyebutkan transaksi, kejadian dan peristiwa yang dapat menambah aset, yaitu:
transaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor, laba yang berasal dari
kegiatan investasi, misalnya penjualan aset tetap, hadiah, donasi atau temuan,
revaluasi aset yang telah ada, dan penyediaan dan / atau penyerahan produk
(barang atau jasa). Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan
pendefinisian dengan konsep aliran masuk.
Tidak semua kenaikan dari aset dapat disebut sebagai pendapatan. Kegiatan
sentral menerus atau berlanjut merupakan kharakteristik yang membatasi
kenaikan aset sebagai pendapatan. Menurut kharakteristik operasi utama berlanjut,
pendapatan merupakan produk perusahaan yang dihasilkan sebagai upaya
produktif. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan bisa diklasifikasikan sebagai
pendapatan operasi dan non operasi.
Kharakteristik lain yang membentuk definisi pendapatan adalah penurunan
kewajiban. Penurunan Kewajiban terjadi bila suatu entitas telah mengalami
kenaikan aset sebelumnya misalnya menerima pembayaran di muka dari
pelanggan. Penerimaan ini merupakan kewajiban sampai ada kegiatan dari
perusahaan berupa pengiriman barang atau pelaksanaan jasa. Pengiriman barang
atau pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban yang menimbulkan
pendapatan.
Kata entitas atau perusahaan dimasukkan dalam pendefinisian suatu pendapatan,
hal ini mengisyaratkan bahwa konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefiisian.
Pendapatan merupakan kenaikan aset, dimana aset tersebut dikuasai oleh
perusahaan. Akan tetapi, antara perusahaan dan pemilik mempunyai hubungan
hutang piutang sehingga pada aset naik sebagai pendapatan, utang perusahaan
kepada pemilik juga naik dalam jumlah yang sama.
Paton dan Littleton menyatakan bahwa pendapatan adalah produk perusahaan.
Pendapatan dikatakan sebagai produk perusahaan karena pendapatan terbentuk
bersamaan atau selama kegiatan produktif tanpa harus menunggu kejadian atau
saat penyerahan produk kepada pelanggan. Paton dan Littleton juga memasukkan
kharakteristik pertukaran dalam pendefinisian pendapatan. Hal ini dikarenakan
pendapatan harus dinyatakan dalam satuan moneter untuk dicatat dalam sistem
pembukuan. Satuan moneter yang paling obyektif adalah kalau jumlah rupiah
tersebut merupakan hasil dari transaksi atau pertukaran antar pihak yang
independen. Pendapatan juga merupakan suatu konsep yang bersifat generik dan
mencakupi semua pos dengan berbagai bentuk dan nama apapun, sehingga antara
perusahaan dagang atau jasa bisa memiliki nama yang berbeda dalam
pendefinisian pendapatan.
Banyak argumen yang diajukan mengenai pembedaan definisi antara pendapatan
dan untung. FASB membatasi pendapatan hanya untuk kenaikan aset yang
berkaitan dengan operasi utama. Sedangkan IAI dan APB tidak memebdakan
pendapatan dan untung, dan keduanya digabung dalam konsep income. Seperti
halnya pendapatan, terdapat kharakteristik yang membentuk pengertian untun,
yaitu kenaikan ekuitas, transaksi periferal atau insidental, dan selain yang berupa
pendapatan atau investasi oleh pemilik. FASB melalui SFAC No. 6 merinci lebih
lanjut mengenai transaksi, kejadian atau keadaan yang menimbulkan untung, yaitu
periferal dan insidental, transfer nontimbal-balik, penahanan aset, dan faktor
lingkungan.
Pengakuan pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah pendapatan secara formal ke dalam
sistem pembukuan sehingga jumlah tersebut terrefleksi dalam statemen keuangan.
Pendefinisian pendapatan harus dipisahkan dari pengetian pengakuan pendapatan.
Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang dari landasan konseptual. Oleh
karena itu secara konseptual, pendapatan hanya diakui kalau memenuhi kualitas
keterukuran dan keterandalan. Kualitas tersebut harus dioperasionalkan dalam
bentuk kriteria pengakuan pendapatan.
Untuk menjabarkan kriteria kualitas informasi menjadi kriteria pembentukan
pendapatan, terdapat dua konsep penting yang perlu dipahami yaitu pembentukan
pendapatan dan realisasi pendapatan. Pembentukan pendapatan merupakan suatu
konsep yang berkaitan dengan masalah kapan dan bagaimana sesungguhnya
pendapatan itu timbul atau menjadi ada. Konsep ini menyatakan bahwa
pendapatan terbentuk, terhimpun atau terhak bersamaan dengan dan melekat pada
seluruh atau totalitas proses berlangsungnya operasi perusahaan dan bukan
sebagai hasil transaksi tertentu. Sementara itu, konsep Realisasi Pendapatan
menjelaskan bahwa Pendapatan terjadi atau terbentuk pada saat produk selesai
dikerjakan dan terjual langsung atau pada saat terjual atas dasar kontrak
penjualan. Konsep realisasi pendapatan lebih berkaitan dengan masalah
pengukuran pendapatan secara objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan
daripada bersifat makna pendapatan.
Untuk memenuhi kualitas keterukuran dan reliabilitas dan untuk memenuhi
konsep dasar upaya dan hasil, kriteria pengakuan pendapatan didasarkan atas dua
konsep yang saling melengkapi yaitu untuk dapat mengakui pendapatan,
pembentukan pendapatan harus dikonfirmasi dengan realitas. FASB mengajukan
dua kriteria pengakuan pendapatan yang keduanya harus dipenuhi, yaitu :
terrealisasi atau cukup pasti terrealisasi, terbentuk/terhak. Meskipun harus
dipenuhi, bobot pentingnya dua kriteria tersebut bisa berbeda untuk keadaan
tertentu.
Terbentuknya pendapatan tidak harus selalu mendahului realisasi pendapatan.
Pendapatan baru dapat diakui kalau dipenuhi syarat-syarat yaitu keterukuran nilai
aset, adanya suatu transaksi, dan proses penghimpunan secara substansial telah
selesai.
Saat Pengakuan Pendapatan
Pada Saat Kontrak Penjualan
Pendapatan diakui jika sudah terjadi penjualan. Jika saat kontrak dilakukan ada
pembayaran di muka, maka harus diakui sebagai kewajiban sampai barang atau
jasa diserahkan kepada pembeli.
Selama Proses Produksi Secara Bertahap
Dalam industri tertentu, pembuatan produk memerlukan waktu yang cukup lama
dalam penyelesaiannya misalnya proyek pembangunan gedung atau jalan.
Pengakuan pendapatan dapat dilakukan secara bertahap sejalan dengan kemajuan
proses produksi atau sekaligus pada saat proyek selesai dan diserahkan. Ada dua
metoda yang digunakan yaitu metoda prosentase selesai dan metoda kontrak
selesai. Terdapat beberapa masalah masalah yang terkait dengan pengakuan
selama proses produksi yaitu akresi, apresiasi dan penghematan kos. Secara
definisonal, akresi merupakan pendapatan karena tia merefleksi kenaikan aset dan
berkaitan dengan operasi utama perusahaan. Akan tetapi jumlah kenaikan tidak
dapat diakui sebagai pendapatan karena kriteria realitas belum terpenuhi. Namun
demikian, akresi cukup pentinguntuk diukur dan dilaporkan sebagai data
tambahan. Selama jangka waktu persiapan, pemeliharaan, da pertumbuhan, semua
kos yang selayaknya telah terjadi dapat dapat diakumulasi menjadi kos yang akan
dibebankan terhadap pendapatan yang diharapkan.
Seperti halnya akresi, apresiasi dapat dipandang sebagai pendapatan secara
definisonal khususnya untuk aset berupa produk atau barang dagangan. Akan
tetapi apresiasi tidak dapat dianggap sebagai pendapatan karena belum terealisasi
dan juga bukan hasil suatu proses pembentukan pendapatan.
Potongan tunai dan keringanan-keringanan yang terjadi dalam pembelian barang
atau jasa bukanlah merupakan suatu pendapatan melainkan merupakan pengurang
kos atau penghematan kos aset yang diperoleh. Demikian juga halnya dengan
penghematan kos yang terjadi dalam pembelian dengan harga murah bukanlah
merupakan suatu laba meskipun hal tersebut akan mempunyai pengaruh terhadap
laba neto yang akhirnya akan terealisasi.
Pada Saat Produksi Selesai
Ini memiliki arti bahwa pendapatan diakui pada saat akhir tahap produksi.
Misalnya untuk produk pertambangan dan pertanian. Walaupun dasar pengakuan
pendapatan atas dasar saat produk selesai mempunyai alasan logis yang kuat
untuk industri ekstraktif, penggunaannya secara umum kurang dapat diterima
bahkan dalam industri ekstraktif sekalipun.
Pada Saat Penjualan
Saat penjualan kriteria penghimpunan dan realisasi telah dipenuhi. Saat penjualan
juga merupakan saat yang kritis dalam operasi perusahaan sehingga menjadi
standar utama dalam pengakuan pendapatan. Biasanya untuk perusahaan yang
bergerak dalam bidang industri dan perdagangan. Masalah-masalah yang timbul
pada pengakuan ini adalah kepastian pengukuran pendapatan akibat kos pasca-jual
dan pengembalian barang. Cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah sbb
:
1. Kembalian dan Potongan Tunai
Kembalian atau return untuk suatu perioda yang timbul akibat barang cacat
atau rusak dicatat dengan membalik jurnal yang telah dibuat pada saat
penjualan dengan jumlah rupiah pengembalian. Potongan tunai sama sekali
tidak menghalangi pengakuan pendapatan pada saat penjualan. Potongan tunai
adalah potongan yang ditawarkan penjual melalui penjualan.
2. Kos purna-jual
Prosedur umum yang dilakukan terkait dengan kos purna jual adalah dengan
mendebit jumlah rupiah taksiran kos kegiatan dan mengkredit jumlah rupiah
yang sama ke dalam suatu akun cadangan melalui penyesuaian akhir tahun.
Kerugian Piutang
Keberatan lain atas dasarpenjualan alah pendapat mengenai piutang yang bukan
merupakan bukti efektif terhadap realisasi pendapatan. Namun hal ini bisa diatasi
dengan membentuk cadangan kerugian piutang.
Transaksi Penjualan
Kontrak penjualan yang belum disertai transfer produk secara teknis belum dapat
dikatakan sebagai transaksi penjualan betapapun perusahaan telah menerima uang
muka.
Pada Saat Kas Terkumpul
Pengakuan pendapatan pada saat kas terkumpul sebenarnya merupakan
pengakuan pendapatan berdasarkan asa kas. Berbeda dengan pengakun pada saat
kontrak yang barangnya belum diserahkan, pengakuan dasar kas digunakan untuk
transaksi penjualan yang barang atau jasanya telah diserahkan/dilaksanakan tetapi
kasnya baru akan diterima secara berkala dalam waktu yang cukup panjang.
Saat Pengakuan Penjualan Jasa
Pengakuan pendapatan dari penjualan jasa secara umum mengikuti pemikiran
yang melandasi pengakuan pendapatan untuk penjualan barang. Masalah teoritis
yang dihadapi lebih banyak menyangkut kriteria realisasi daripada pembentukan
pendapatan. AICPA memberikan kaidah umum untuk penjualan jasa, yaitu Saat
jasa telah dilaksanakan atau dikonsumsi, selama proses pelaksanaan secara
bertahap, saat pelaksanaan jasa selesai sepenuhnya, dan saat kas terkumpul
Prosedur pengukuran
Saat atau kaidah pengakuan pendapatan merupakan ketentuan pada level penetap
standar. Agar dapat dilaksanakan pada level perusahaan, kaidah tersebut harus
dijabarkan secara teknis dan prosedural dalam bentuk kebijakan akuntansi
perusahaan. Kebijakan akuntansi perusahaan yang menetapkan kapan suatu
penjualan dianggap secara teknis telah terjadi sehingga memicu pencatatan jumlah
rupiah penjualan tersebut.











BAB 9
BIAYA
Menurut FSAB
expense are outflows or other using up of assets or incurrences of
liabilities (or a combination of both) from delivering or producing goods,
rendering, services, or carrying out other activities that constitute the entitys on
going major or central operation.
SAK (1994)
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya
kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut
pembagian kepada penanam modal.
Menurut Vernon Kam (1986)
Expenses are decreases in the value of assets or increases in the value of
liabilities due to the using up of goods or services in the major or central
operation of the entity.
Pengukuran dan Pengakuan Biaya
1. Dasar Pengukuran
Meskipun ada berbagai dasar pengukuran namun dalam praktik dasar paling
banyak digunakan untuk mengukur biaya adalah biaya historis. Dasar pengukuran
tersebut antara lain:
Biaya Historis
Biaya Masuk Terkini
Setara Kas
2. Pengakuan Biaya
Biaya pada umumnya diakui bilamana salah satu dari dua kriteria berikut
dipenuhi (SFAC No.5):
Konsumsi manfaat
Biaya diakui bilamana manfaat ekonomik yang dikuasai suatu entitas telah
dimanfaatkan atau dikonsumsi dalam pengiriman atau pembuatan barang,
penyerahan atau pelaksanaan jasa, atau kegiatan lain yang merepresentasikan
operasi utama atau sentral entitas tersebut.
Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa datang
Biaya diakui bilamana aset yang telah diakui sebelumnya diperkirakan telah
berkurang manfaat ekonomiknya atau tidak lagi mempunyai manfaat ekonomik.


















BAB 10
LABA (INCOME)

Makna income dalam konteks perpajakan berbeda dengan makna income
dalam akuntansi. Dalam perpajakan, income dimaknai sebagai penghasilan,
sedangkan di dalam buku-buku teks akuntansi, istilah income pada umumnya
dimaknai sebagai jumlah bersih. Di dalam FASB konsep income di dalam teori
akuntansi tersebut disebut dengan laba komprehensif. Karena secara
umum,akuntansi menganut konsep penandingan, konsep kos historis, dan asas
akrual, maka laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih
pendapatan dan biaya.
Tujuan pelaporan laba
Laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya secara akrual. Pengertian
seperti ini akan mempermudah di dalam pengukuran dan pelaporan laba secara
objektif. Pendefinisian laba seperti ini juga akan lebih bermakna sebagai pengukur
kembalian atas investasi daripada sekedar perubahan kas. Berdasarkan pengertian
dan cara pengukuran, laba akuntansi diharapkan dapat digunakan sebagai:
pengukur efisiensi, pengukur kinerja entitas dan manajemen, dasar penentuan
pajak, sarana alokasi sumber ekonomik, penentuan tarif jasa publik, optimalisasi
kontrak utang-piutang, basis kompensasi, motivator, dasar pembagian dividen
Konsep laba konvensional
Berdasarkan konsep ini, laba didefinisi sebagai selisih pendapatan dan biaya yang
diukur dan disajikan atas dasar prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Laba
akuntansi menurut konsep konvensional memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
tidak bermakna semantik, berfokus pemegang saham, PABU memberi peluang
perbedaan antarentitas, berbasis kos histories, dan hanya sebagian masukan
informasi bagi investor.
Konsep laba dalam tataran semantik
Konsep laba dalam tataran semantik berkaitan dengan masalah makna apa yang
harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada simbol atau elemen laba
sehingga laba bermanfaat dan bermakna sebagai informasi. Terdapat beberapa
konsep atau fungsi laba dalam tataran semantik, yaitu: pengukur kinerja,
konfirmasi harapan investor, dan sebagai estimator laba ekonomik.
Sebagai pengukur kinerja, laba dapat diinterpretasi sebagai sebagai pengukur
keefisienan (efisiensi) bila dihubungkan dengan tingkat investasi karena efesiensi
secara konseptual merupakan suatu hubungan atau indeks. Oleh investor, lana
sebagai pengukur efisiensi digunakan dalam bentuk kembalian atas investasi.
Laba dapat merepresentasi kinerja efisiensi karena laba menentukan ROI, ROA
dan ROL sebagai pengukur efisiensi. Sebagai konfirmasi harapan investor.
Perekayasa pelaporan juga berusaha menyediakan informasi untuk meyakinkan
bahwa harapan-harapan investor atau pemakai lainnya di masa lalu tentang kinerja
perusahaan memang terrealisasi, sehingga laba dapat diinterpretasi sebagai sarana
untuk mengkonfirmasi harapan-harapan tersebut.
Laba ekonomik adalah laba dari kacamata investor karena keperluan untuk
menilai investasi dalam saham yang dalam banyak hal bersifat subjektif. Dalam
beberapa hal, laba akuntansi berbeda dengan laba ekonomik. Jika laba akuntansi
bebas dari gangguan dan mendekati laba ekonomik, maka laba akuntansi akan
menjadi prediktor yang andal.
Pada dasarnya belum terdapat kesepakatan mengenai makna laba dalam tataran
semantik. Beberapa sumber dan penelitian memberikan definisi laba dalam tataran
semantik yang berbeda. Secara umum, dari beberapa pengertian laba yang ada
dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga kharakteristik yang melekat pada
pengertian laba secara semantik, yaitu kenaikan kemakmuran (kapital), kenaikan
dalam suatu perioda, serta dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas
yang menguasai kemakmuran asalkan kemakmuran awal dipertahankan.
Pembahasan laba tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan kapital tetapi makna
keduanya harus dipisahkan. Kapital diasosiasi dengan sediaan atau potensi jasa,
dapat dipandang sebagai sediaan kemakmuran pada saat tertentu. sementara itu
laba diasosiasi dengan aliran kemakmuran. Jadi, laba adalah aliran potensi jasa
yang dapat dinikmati dalam kurun waktu tertentu dengan tetap mempertahankan
tingkat potensi jasa mula-mula.
Konsep pemertahanan kapital muncul karena adanya gagasan bahwa entitas
berhak mendapatkan kembalian atau imbalan dan menikmatinya setelah kapital
dipertahankan keutuhannya atau pulih seperti sedia kala. Harapan umum dalam
kegiatan bisnis adalah kapital atau investasi yang tertanam selalu berkembang.
Konsep ini memiliki arti penting dalam beberapa hal yang saling berkaitan, yaitu:
Kembalian atas investasi tidak sama dengan pengembalian investasi, transaksi
operasi tidak sama dengan transaksi dengan pemilik, membatasi distribusi ke
pemilik dalam rangka mempertahankan kapital mula-mula, menuntut jumlah
rupiah untuk penyesuaian kapital dalam rangka mempertahankan capital, serta
penerapan pendekatan aset-kewajiban dalam penilaian.
Konsep laba dalam tataran sintaktik
Makna semantik laba yang dikembangkan pada akhirnya harus dapat dijabarkan
dalam tataran sintaktik. Salah satu bentuk penjabarannya adalah mendefinisi laba
sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya. Konsep
laba dalam tataran sintatik membahas mengenai bagaimana laba diukur, diakui,
dan disajikan. Terdapat beberapa criteria atau pendekatan dalam konsep ini, yaitu
pendekatan transaksi, pendekatan kegiatan, dan pendekatan pemertahanan capital.
Berdasarkan pendekatan transaksi laba diukur dan diakui pada saat terjadinya
transaksi yang kemudian terakumulasi sampai akhir perioda. Pengukuran dan
pengakuan laba akan paralel dengan kriteria pengakuan pendapatan dan biaya.
Sedangkan menurut pendekatan kegiatan, laba dianggap timbul bersamaan dengan
berlangsungnya kegiatan atau kejadian. Pendekatan ini paralel dengan konsep
penghimpunan atau pembentukan pendapatan sebagai basis pengakuan
pendapatan. Pada konsep pemertahanan kapital, laba didefinisikan sebagai
konsekuansi dari pengukuran kapital pada dua titik waktu yang berbeda. Elemen
statemen keuangan diukur atas dasar pendekatan aset-kewajiban.
Pengukuran kapital pada dua titik waktu menimbulkan masalah konseptual karena
dengan berjalannya waktu, beberapa hal yang bersifat ekonomik berubah dan
harus dipertimbangkan yaitu unit atau skala pengukur dan dasar pengukuran. Hal
lain yang menentukan cara menilai kapital adalah jenis kapital (fisis atau
finansial) dan dasar penilaian. Tiga jenis faktor penentu nilai kapital ini, dimana
ketiganya saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam atau basis penilaian
kapital. Tiap pendekatan sebenarnya merefleksi kombinasi antara ketiga faktor
yang dipertimbangkan. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain: kapitalisasi
aliran kas harapan, penilaian pasar, setara kas sekarang, harga masukan histories,
harga masukan sekarang, dan pemertahanan daya beli.
Konsep laba dalam tataran pragmatik
Tataran pragmatik dalam teori komunikasi berkepentingan untuk menentukan
apakah pesan sampai kepada penerima dan mempengaruhi perilaku sebagaimana
diarah, sedangkan dalam teori akuntansi Tataran pragmatik membahas mengenai
apakah informasi laba bermanfaat atau apakah informasi laba nyatanya
digunakan. Beberapa pendekatan laba dalam konsep laba tataran pragmatik yaitu
prediktor aliran kas, sarana kontrak efisien, alat pengendalian manajemen, dan
kandungan informasi laba dalam teori pasar efisien.
Berdasarkan pendekatan prediktor aliran kas ke investor, hubungan logis antara
laba dan aliran kas ke investor dan kreditor sebagaiman dinyatakan ole FASB
dalam tujuan pelaporan keuangan dapat membantu investor dan kreditor dalam
mengembangkan model untuk memprediksi aliran kas ke mereka guna menilai
investasi atau kapitalnya. Pendekatan yang lain adalah Perkontrakan efisien. Teori
ini merupakan bagian atau turunan dari teori keagenan, sehingga didasarkan atas
berbagai aspek dan implikasi hubungan keagenan. Pemasukan angka akuntansi
(angka laba) dalam kontrak mendorong pihak berkontrak (terutama agen) untuk
mencapai tujuan kontrak sehingga kontrak menjadi efisien.
Dalam tataran pragmatik, laba juga dapat digunakan sebagai pengendalian
manajemen, yaitu sebagai pengukur kinerja divisi atau manajernya. Perilaku
manajer dikendalikan melalui laba dengan cara mengaitkan kompensasi dengan
laba sebagai pengukur kinerja.
Efisiensi pasar dalam kaitannya dengan konsep laba dalam tataran pragmatik
harus dikaitkan dengan sistem informasi, yaitu mekanisme penyediaan informasi
dengan segala regulasi yang berlaku dalam lingkup beroperasinya pasar modal.
Pasar modal dikatakan efisien terhadap suatu informasi bila harga saham
merefleksi secara penuh informasi tersebut. Karena efisiensi pasar hanya dapat
dikaitkan dengan informasi atau signal tertentu dalam suatu mekanisme
penyediaan informasi, terdapat tiga bentuk efisiensi pasar yaitu bentuklemah,
semi-kuat, dan kuat. Hipotesis pasar efisien juga merupakan sarana pengujian
empiris terhadap kandungan informasi laba. Terdapat dua bentuk pengujian
terhadap kandungan informasi laba yaitu pengujian peristiwa dan pengujian
asosiasi (nilai relevan laba)
Laba dan teori entitas
Membahas berbagai konsep entitas selain kesatuan usaha dan implikasinya
terhadap pengertian dan penyajian laba. Karena berkaitan dengan siapa yang
berhak atas laba, teori entitas (kesatuan) sering disebut pula dengan teori ekuitas.
Terdapat beberapa teori entitas atau teori ekuitas yang banyak dibahas dalam
literatur teori akutansi, yaitu entitas usaha bersama, entitas usaha atau bisnis,
entitas investor, entitas pemilik, entitas pemilik residual, entitas pengendali, dan
entitas dana.
Teori entitas selalu dikaitkan dengan partisipan dalam kegiatan ekonomik.
Partispan tersebut merupakan pihak yang akhirnya meneima manfaat dari nilai
tambahan yang timbul akibat kegiatan ekonomik. Teori kesatuan juga mempunyai
implikasi tentang tujuan pelaporan keuangan dan bentuk atau susunan statemen
laba-rugi.
Penyajian laba
Masalah yang dibahas dalam penyajian laba ini lebih difokuskan pada masalah
konseptual tentang apa yang disebut laba. Masalah yang erat kaitannya dengan
penyajian adalah pemisahan pelaporan pos-pos transaksi operasi dan pos-pos
transaksi dengan pemilik (transaksi modal). Pos-pos operasi dalam arti luas
(transaksi nonpemilik) pada umumnya dilaporkan melalui statemen laba-rugi,
sedangkan pos-pos yang merupakan transaksi modal dilaporkan melalui statemen
laba ditahan atau statemen perubahan ekuitas