Anda di halaman 1dari 6

Makalah Pendidikan Agama Islam

Makalah Pendidikan Pendidikan Agama Islam. Berikut ini saya mempunyai makalah
tentang bagaimana kita memperkenalkan agama islam kepada mereka. Dan saya beri
judul makalah tersebut Makalah Pendidikan Agama Islam. Semoga makalah ini
dapat membantu para pelajar dalam menuntut ilmu, terutama dalam penyelesaian tugas
makalah.
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Masyarakat modern adalah suatu himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat
dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mukhtahir. Mereka memiliki ciri-ciri
antara lain:
Bersifat rasional, mengutamakan akal pikiran daripada emosi.
Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh.
Menghargai waktu.
Bersikap terbuka, menerima saran/masukan baik kritik, gagasan, dan perbaikan.
Berfikir obyektif, melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya. Manusia-
manusia modern memiliki sifat yang kebanyakan hanya mencondongkan dirinya pada
segala sesuatu yang sifatnya adalah kebendaan atau duniawi. Sehingga, pada gilirannya
mereka akan dilanda kegersangan mental atau krisis spiritualitas. Mereka pada akhirnya
mulai mencari jatidirinya sebagai manusia yang hidup di muka bumi. Karena apakah
mereka ada di dunia?
Untuk apakah mereka hidup di dunia?
Apakah yang akan terjadi pada mereka setelah mereka meninggalkan dunia, atau tak lagi
dapat menikmati dunia?
Berbagai spekulasi lalu mulai bermunculan menaggapi pertanyaan-pertanyaan di atas.
Para penganut paham Darwinisme, yaitu orang-orang yang berkiblat pada Teori Evolusi
Darwin, menganggap bahwa manusia, beserta segala alam semesta ini adalah terlahir dari
suatu proses yang sepenuhnya terjadi secara kebetulan. Mereka beranggapan bahwa
manusia sendiri adalah suatu hasil evolusi dari makhluk sejenis kera, yang kemudian
berkembang mencapai wujud yang lebih sempurna. Karena menganggap manusia sejajar
dengan hewan, maka bagi mereka yang terpenting bagi manuisa adalah terpenuhinya
segala kebutuhan dan hawa nafsu. Norma dan kesusilaan tidak diperlukan, bahkan
menganggap agama sebagai suatu kebodohan.
Mereka yang tidak setuju dengan anggapan ini, mulai mencari-cari kebenaran yang sejati,
yang mana benar-benar mengantarkan mereka untuk mengetahui bagaimana hakekat
manusia yang sebenarnya. Mereka pun berbondong-bondong mencari kesejukan yang
mengobati kegersangan hati mereka yang sudah akut, karena telah menyadari pentingnya
aspek spiritualisme dalam kehidupan mereka. Dalam hal ini, yang paling dibutuhkan
mereka adalah suatu petunjuk yang mampu mengantarkan mereka menuju pemahaman
akan hakekat dan kedudukan mereka di dunia.
Sesungguhnya, Islam adalah jawaban dari segala pertanyaan di atas. Dengan petunjuk
langsung dari yang menciptakan manusia itu sendiri, manusia tidak hanya diberikan
penjelasan tuntas tentang asal-usul penciptaannya serta hakekat kedudukannya di muka
bumi, tetapi juga petunjuk bagaimana menjalani kehidupan di muka bumi ini dan
bagaimana mencapai kebahagiaan yang hakiki. Inilah agama yang Hak, satu-satunya
agama yang diridhoi oleh Allah SWT dan obat bagi krisis spiritualitas akut yang
didamba-dambakan oleh mereka yang terjebak dalam kehidupan materialisme dan
hedonisme.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah hakekat manusia dalam pandangan Islam?
Bagaimanakah eksistensi dan martabat manusia di hadapan Allah SWT?
Bagaimanakah tanggung jawab manusia di dunia sebagai khalifah dan sekaligus sebagai
hamba Allah SWT?
TUJUAN MAKALAH
Memahami hakekat manusia menurut fitrahnya, sebagaimana digambarkan dalam Al-
Quran.
Memahami sifat-sifat manusia serta kedudukannya di sisi Tuhan.
Memahami peran-peran manusia sebagai khalifah di bumi, sekaligus kewajibannya
menghamba kapada Allah SWT, serta bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.
BAB II PEMBAHASAN
HAKEKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
Penciptaan Manusia Dari Dua Unsur Manusia dalam pandangan kebendaan (materialis)
hanyalah merupakan sekepal tanah di bumi. Dari bumi asal kejadiannya, di bumi dia
berjalan, dari bumi dia makan dan ke dalam bumi dia kembali. Dari tanah, kembali
menjadi tanah. Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan
daging, darah, urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran,
dianggapnya barang benda yang dihasilkan oleh otak. Pandangan mereka hanya sampai
benda, dan hanya mempercayai benda-benda yang dapat diraba. Maka oleh karena itu
dalam anggapan mereka, tidak ada keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk
lain yang hidup di muka bumi ini, bahkan dimasukannya ke dalam bangsa kera, yang
setelah melalui masa panjang, berubah menjadi manusia sebagaimana kita lihat sekarang
ini. Ini adalah Teori Evolusi atau Teori Desendesi, bahwa hayat berasal dari makhluk satu
sel. Dia berevolusi ke dua arah, yaitu binatang dan tanaman. Evolusi itu berlangsung
setingkat demi setingkat membentuk sejuta jenis hewan dan sepertiga juta jenis tanaman.
Binatang satu sel sebagai awal evolusi dan manusia akhir (sementara) evolusi
Dalam pandangan orang yang beriman, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat
pada sisi Tuhan. Manusia diciptakan tuhan dalam bentuk yang amat baik. Sesudah
ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya, para malaikat disuruh sujud (memberi hormat)
kepadanya. Sebagaimana Allah S.W.T telah berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 28-29:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman pada para malaikat: sesungguhnya Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk, (28) maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan
telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu padanya dengan
bersujud, (29). Dari proses kejadian dan asal manusia menurut Al-Quran itu, Ali
Syariati, sejarawan dan ahli sosiolog Islam, yang dikutip oleh Mohammad Daud Ali,
mengemukakan pendapatnya berupa interpretasi tentang hakekat penciptaan manusia.
Menurut beliau ada simbolisme dalam penciptaan dari tanah dan ruh (ciptaan) Allah.
Maka simbolisnya adalah manusia mempunyai dua dimensi (bi-dimensional): dimensi
ketuhanan dan dimensi kerendahan atau kehinaan. Makhluk lain hanya memppunayi satu
dimensi saja (uni-dimensional). Dalam pengertian simbolis, lumpur (tanah) hitam
menunjuk pada keburukan, kehinaan yang tercermin pada dimensi kerendahan. Di
samping itu, dimensi lain yang dimiliki manusia adalah dimensi keIlahian yang tercermin
dari perkataan ruh (ciptaan)-Nya itu. Dimensi ini menunjukkan pada kecenderungan
manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mencapai asal ruh (ciptaan) Allah
dan atau Allah sendiri. Karena hakekat penciptaan inilah maka manusia pada suatu saat
dapat mencapai derajat yang tinggi, tetapi pada saat yang lain dapat meluncur ke lembah
yang dalam, hina dan rendah. Fungsi kebebasan manusia untuk memilih, terbuka baik ke
jalan Tuhan maupun sebaliknya, ke jalan kehinaan. Kehormatan dan arti penting
manusia, dalam hubungan ini, terletak dalam kehendak bebasnya untuk menentukan arah
hidupnya. Naluri Ketuhanan Manusia Sifat manusia tersebut, yang mana memiliki
kecenderungan untuk berTuhan telah dijelaskan oleh Allah S.W.T dalam surat Al-Araf
ayat 176: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
bukankah Aku ini Tuhanmu? mereka menjawab: betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi. (Kami lakukan yang sedemikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-oprang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan). Marilah kita berkaca pada kisah Nabiyullah Ibrahim
sebagai cerminan, bagaimana beliau merenungi keberadaan alam sebagai bukti akan
adanya Tuhan yang telah menciptakannya. Nabi Ibrahim lahir di negeri Babilon yang
dikuasai oleh raja Namrudz, yang mana memerintahkan rakyatnya untuk menyembah
berhala. Ayah nabi Ibrahim sendiri, yang bernama Azar adalah seorang pembuat berhala.
Pada suatu ketika, sang raja bermimpi seorang anak datang dan mengambil mahkotanya
lalu menghancurkannya. Ahli nujumnya menafsirkan mimpi tersebut bahwa akan lahir
seorang bayi laki-laki yang akan menghancurkan kekuasaannya. Akhirnya, raja Namrudz
memerintahkan para pengawalnya untuk membunuh tiap bayi laki-laki yang lahir.
Pada waktu itu, ibu nabi Ibrahim sedang mengandung beliau. Untuk menyelamatkan
anaknya, sang ibu memutuskan untuk bersembunyi di dalam sebuah gua dan melahirkan
di sana. Selama bertahun-tahun, Nabi Ibrahim muda dibesarkan di dalam gua untuk
menghindari kekejaman raja Namrudz.
Pada saat beliau telah dewasa dan keluar dari dalam gua, Nabi Ibrahim melihat betapa
menakjubkannya alam semesta. Beliau bertanya-tanya dalam hati bagaimanakah hal itu
bisa tercipta. Beliau juga merenungkan mengapa ayahnya serta kaumnya menyembah
berhala yang dibuat sendiri oleh ayahnya, dan menganggap berhala tersebut sebagai
Tuhan. Menurut beliau, tidak mungkin berhala yang tidak dapat berbuat apa-apa tersebut
layak dijadikan sesembahan.
Pada saat beliau melihat bintang yang terang, beliau beranggapan bahwa bintang itulah
Tuhan, karena ketinggian dan keindahannya. Tetapi pada saat bintang tersebut terbenam,
maka beliau sadar bahwa Tuhan tidak mungkin tenggelam. Kemudian beliau melihat
bulan. Beliaupun beranggapan bahwa bulan itulah Tuhan, karena lebih terang dan lebih
besar dari bintang yang dilihatnya tersebut. Tetapi tatkala bulan juga terbenam, maka
beliaupun menyadari bahwa Tuhan adalah sesuatu yang kekal, yang tidak mungkin
terbenam atau mati. Kemudian, beliaupun melihat matahari terbit. Matahari tersebut
memancarkan sinar yang hangat dan terang, yang mana jauh melampaui bintang dan
bulan yang telah dilihatnya. Beliaupun menyangka bahwa matahari tersebutlah Tuhan
yang sesungguhnya. Akan tetapi, tatkala matahari juga terbenam, maka beliaupun
menyadari bahwa matahari itu bukanlah Tuhan. Matahari, bagaimanapun besarnya,
adalah sama dengan makhluk-makhluk lainnya, yang akhirnya terbenam atau mati. Tuhan
diyakininya adalah sesuatu yang terlepas dari sifat-sifat tersebut. Tuhan adalah Dzat yang
mengandalikan jalannya alam semesta beserta isinya.
Demikian itulah kisah Nabiyullah Ibrahim AS yang menjadi gambaran bagi kita bahwa
manusia terlahir dengan fitrahnya sebagai makhluk yang berTuhan. Di samping itu, alam
semesta beserta isinya adalah bukti akan adanya Sang Pencipta.
EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA
Kemuliaan Manusia
Manusia pada dasarnya tidak akan dapat memahami tentang dirinya secara pasti, karena
ketidakmungkinan manusia untuk dapat berdiri netral dan memandang dirinya dari luar
dirinya sendiri. Pencipta atau pembuat dalam hal apapun akan lebih memahami barang
ciptaannya. Demikian pula dengan manusia. Yang lebih mengetahui adalah sang pencipta
manusia itu sendiri. Ini berarti bahwa jika manusia ingin mengetahui secara pasti
mengenai hakekat dirinya secara benar, maka hendaklah ia menanyakannya kepada
penciptanya sendiri, yaitu Tuhan, Allah SWT.
Allah SWT menciptakan manusia sebagai mahkluk yang mulia, sebagaimana telah
difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al- Baqarah ayat 34 : Dan (ingatlah) ketika
Kami berfirman kepada para Malaikat: sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah
mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang
kafir,
Perintah Allah SWT kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam As,
menunjukkan keagungan dan kemuliaan manusia di sisi Allah SWT sebagai ciptaan-Nya
yang paling sempurna. Malikat dan manusia sama-sama diperintahkan oleh Allah SWT
untuk senantiasa menghambat kepada-Nya, senantiasa beriman dan bertakwa, serta tidak
menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. Akan tetaapi malaikat dan manusia tidaklah
sama. Malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya, serta di sucikan dari segala
bentuk hawa nafsu duniawi. Sedangkan manusia, yang mana diciptakan dari dua unsur,
yaitu tanah dan ruh, disamping sifat ketaatannya manusia juga dibekali oleh Allah SWT
dengan akal pikiran dan hawa nafsu. Denga ndi bekali oleh hawa nafsu, maka keimanan
manusia tidak dapat stabil sebagaimana keimanan para malaikat, karena hawa nafsu akan
mendorong manusia untuk condong pada kehidupan duniawi. Akan tetapi, apabila
manusia tetap menjaga keimanannya, maka keimanan manusia akan lebih mulia di
hadapan Allah SWT.
Kesempurnan penciptaan manusia tersebut, oleh Allah SWT difirmankan dalam surat At-
Tiin ayat 4 : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya Kedudukan Manusia yang dapat lebih rendah dari hewan. Kemuliaan manusia
yang diberikan Allah SWT seperti yang disebutkan diatas, hanya berlaku apabila manusia
tetap memelihara keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Apabila keimanan
dan ketakwaan tersebut tidak dapat dijaga, bahkan manusia ingkar dan mendurhakai
Tuhannya, maka kedudukannya di sisi Allah SWT adalah lebih rendah dari pada hewan,
sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 179 : Dan sesungguhnya
Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah ), dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DAN HAMBA ALLAH
Besarnya Tanggung Jawab Manusia
Manusia hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah makhluk yang bertanggung jawab.
Kenapa demikian, karena manusia selain merupakan makhluk individual dan makhluk
sosial, juga merupakan makhluk Tuhan. Manusia memiliki tuntutan yang besar untuk
hidup bertanggung jawab mengingat ia mementaskan sejumlah peranan dalam konteks
individual, sosial ataupun teologis. Menjalani kehidupan ini merupakan kewajiban yang
sifatnya mutlak.
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya) manusia berasa bertanggung
jawab bhwa ia menyadari akibat baik ataupun buruk perbuatannya,dan menyadari pula
bahwa pihak lain memerlukan pengorbanan atau pengbdian untuk memperoleh atau
meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu di tempuh memlalui pendidikan,
penyuluhan, keteladanan, dan takwa terhadap Allah SWT.
Manusia itu berjuang untuk memenuhi keperluannya sendiri atau keperluan pihak
lain.Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi linkungan
alam.Dalam usahanya itu juga manusia menyadari bahwa ada kekutan lain yang ikut
menentukan yaitu kekusaan Tuhan.Oleh karena itu tanggung jawab harus di miliki dalam
setiap manusia agar merka men yadari apa-apa yang harus di lakukan harus
mempertanggung jawabkan semua yang telah di kerjakan. Perhatikan firman Allah SWT
dalam surat Al-Ahzab ayat 72:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanta kepada langit, bumi, dan gunung-
gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu
amat dzolim dan amat bodoh.
Dalam ayat diatas, dijelaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang amat berat.
Yang bahkan langit, bumi, dan gunung-gunung pun enggan memikulnya. Akan tetapi,
manusia sering sekali menganggap remeh amanah yang dibebankan oleh Allah SWT
tersebut. Padahal setiap amanat akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah
SWT kelak.
Manusia sebagai Khalifah di Bumi Allah SWT berfirman bahwa fungsi dan peran
manusia adalah sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. Allah berfirman dalam
surat Al-Baqarah Ayat 30: Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat :
Sesungguhnya aku hendak menjadikanmu sebagai khalifah di muka bumi, mereka
berkata : Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?. Allah berfirman :
Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, khalifah berarti pimpinan umat. Menjadi pemimpin
adalah fitrah setiap manusia. Namun karena satu dan lain hal, fitrah ini tersembunyi,
tercemar bahkan mungkin telah lama hilang. Akibatnya, banyak orang yang merasa