Anda di halaman 1dari 3

Anggota Kelompok 1 : 1.

WAHYU AJI AL AMIN B04080140


2. ANDI NUR IZZATI B04088011
3. ZUL FIKHIRAN B04088016
4. AHMAD FADHIL B04088018
5. MOHD ASRAF B04088019
6. NORAFIZAH M. B04088024
7. MUHAMMAD ZHAAHIR B04090003
8. ANDRA ADI ESNAWAN B04090010
9. AHMAD RAJA B04090036
10. RIZA AKMAL HAQIQI B04090103

ANTRAKS
Pencegahan dan Penanganan Penyakit Antraks
Langkah Pencegahan
Langkah pencegahan dimaksudkan agar ternak-ternak yang ada tidak
tertular penyakit antraks selama jangka waktu tertentu. Dengan meningkatkan
kekebalan ternak setelah dilakukan suntikan pencegahan menggunakan vaksin
tertentu secara periodik. Untuk kawasan endemik antraks, vaksinasi seharusnya
diulang setiap tahun secara kontinyu. Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan
oleh kemudahan dan ketersediaan vaksin. Untuk itu, Dinas Peternakan/Pertanian
harus bertanggung jawab dalam pengadaan vaksin.
Langkah Pengawasan
Langkah ini untuk memantau kesehatan ternak secara umum di suatu
wilayah (dukuh, desa, kecamatan), khususnya terhadap penyakit antraks. Petugas
Dinas Peternakan/Pertanian harus mampu merangkul seluruh anggota kelompok
tani ternak di wilayahnya agar mau melaporkan kondisi kesehatan ternaknya dari
waktu ke waktu. Peternak harus diyakinkan bahwa ternak yang keluar (dijual)
atau yang masuk (dibeli) benar-benar dalam keadaan sehat.
Pengawasan lalu lintas ternak antarprovinsi hendaknya lebih diperketat,
agar ternak-ternak yang sakit tidak berpindah wilayah sehingga penyebaran
penyakit dapat dicegah. Pemerintah hendaknya menerapkan dengan ketat
pengawasan kesehatan masyarakat veteriner, dengan penyembelihan ternak
dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan melalui pemeriksaan kesehatan
prapenyembelihan dan pascapenyembelihan. Hanya daging yang berasal dari
ternak yang sehat yang boleh diperdagangkan dan dikonsumsi. Pelanggaran dari
larangan ini dapat dikenakan pidana berdasarkan perundang-undangan yang
berlaku.
Pembinaan dan Bimbingan
Hubungan baik antara petugas/tim pembina dan pembimbing dengan
masyarakat peternak harus tetap dipelihara dan dipupuk, melalui kegiatan
pendidikan/pelatihan, penyuluhan maupun sarasehan secara berkala, utamanya di
kawasan endemik antraks. Langkah pembinaan dan pembimbingan tersebut antara
lain dengan mengadakan kegiatan:
a. Sosialisasi Undang-undang Republik Indonesia No 6 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat
Veteriner. Sosialisasi hendaknya dilakukan secara menarik sehingga hak dan
kewajiban peternak dapat dipahami dan disadari dengan baik.
b. Penyuluhan tentang manajemen zooteknis ternak potong (sapi, kerbau,
kambing, domba dan babi) dengan tekanan pada manajemen pencegahan dan
penanganan penyakit.
c. Pelatihan usaha ternak potong guna meningkatkan keterampilan peternak,
meliputi: sistem perkandangan, pakan, pemeliharaan, penyakit dan
penanggulangannya, pengaturan produksi/panen serta analisis ekonomi.
Dengan kegiatan ini maka peternak akan merasa diperhatikan dan menjadi lebih
tahu sehingga lebih mudah dilibatkan dalam upaya pengendalian penyakit
antraks.(Dr.Ir. Djarot Harsojo Reksowardojo MS/ Fakultas Peternakan Undip-
35)
Langkah Penanganan terhadap Kawasan Penyakit Antraks:
Penutupan wilayah terhadap lalu lintas (keluar-masuk) ternak maupun lalu
lintas umum.
Mengisolasi ternak yang sakit pada suatu tempat yang terpindah dari lalu
lintas ramai.
Penyucihamaan ternak yang sakit, dengan cara: lantai ditaburi kapur,
membuka atap kandang hingga sinar matahari dapat menjangkau seluruh
luasan kandang selama pengistirahatan kandang dan gunakan desinfektan
yang sesuai untuk seluruh permukaan dan bagian kandang.
Segera lakukan vaksinasi terhadap seluruh ternak yang masih sehat di
seluruh kawasan.
Jangan melakukan otopsi/bedah mayat karena berisiko tinggi terhadap
penyebaran B.a.
Yakinkan tidak ada ternak sakit yang disembelih dan dagingnya
dikonsumsi oleh masyarakat. Bila ada, segera bawa konsumen ke rumah
sakit untuk mendapat penanganan/perawatan selanjutnya.
Bakar bangkai ternak yang mati sampai habis atau kubur pada kedalaman
2,50 m di dalam tanah. Sebelum bangkai ditimbun dengan tanah, tutuplah
dengan kapur atau disiram dengan larutan formalin.
Bunuh segera ternak yang dalam keadaan sakit parah.
Obati ternak yang terserang pada gejala awal dan isolasikan.
Tutup padang/lapangan penggembalaan dari aktivitas merumput.