Anda di halaman 1dari 26

Laporan DBT Tanam dan Pola Tanam

17JUN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pertanian, tanam dan pola tanam sangat diperlukan. Tanam dan pola tanam yang berbedaa
dapat menentukan tingkat produksi dalam kualitas maupun kuantitas. Ada banyak jenis pola tanam
dalam dunia pertanian. Ada yang menguntungkan kita namun merugikan alam, ada juga yang
menguntungkan alam namun bagi kita kurang menguntungkan dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kita harus mengetahui berbagai macam tanam menanam serta polanya yang baik bagi kita namun
tidak merusak lingkungan. Dalam makakah ini kami akan mengupas tentang bagaimana menanam
yang baik dan cara- cara pola tanam yang benar.
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media
tanah maupun bukan media tanah dalam satu bentuk pola tanam, sedangkan pola tanam sendiri
adalah usaha penanam pada sebidang lahan dengan mengatiur susunan tata letak dan urutan
tanaman selama periode waktu tertentu termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami
selama periode tertentu.
Jadi, dalam mengolah lahan kita perlu mempelajari cara tanam serta pola tanam untuk menempatkan
suatu bibit yang ditanam dengan tepat dn dapat menghasilkan hasil yang memuasan sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan para petani dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan
seimbang.
Dalam bercocok tanam, terdapat beberapa pola tanam agar efisien dan memudahkan kita dalam
penggunaan lahan, dan untuk menata ulang kalender penanaman. Pola tanam sendiri ada tiga
macam, yaitu : monokultur, polikultur (tumpangsari), dan rotasi tanaman. Ketiga pola tanam tersebut
memiliki nilai plus dan minus tersendiri. Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi
tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang
tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola
tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan
curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan
jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah
hujan.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang tersebut, laporan ini bertujuan :
a) Untuk mengetahui pengertian dari pola tanam
b) Untuk mengetahui potensi dan dampak penggunaan pola tanam
c) Untuk mengetahui macam-macam sistem pola tanam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Tanam dan Pola Tanam
2.1.1 Pengertian Tanam
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media
tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam. (Kumalasari. 2012)
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media
tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam. (Musyafa, 2011)
2.1.2 Pengertian Pola tanam
Pola tanam atau (cropping patten) ialah suatu urutan pertanaman pada sebidang tanah selama satu
periode. Lahan yang dimaksut bisa berupa lahan kosong atau lahan yang sudah terdapat tanaman
yang mampu dilakukan tumpang sirih. (saiful anwar, 2011)
Pola tanam adalah susunan tanaman yang diusahakan dalam satu satuan luas pada satu tahun. Pola
tata tanam yang berlaku pada setiap daerah akan berbeda dengan daerah lain, karena karakteristik
setiap daerah juga berbeda (Wirosoedarmo, 1985).
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Tanam
Beberapa faktor yang mempengaruhi pola tanam adalah:
1. Ketersediaan air dalam satu tahun
2. Prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut
3. Jenis tanah setempat
4. Kondisi umum daerah tersebut, misal genangan
5. Kebiasaan dan kemampuan petani setempat (Nur aulia. 2010)
2.3 Macam-Macam Pola Tanam
Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan polikultur. Monokultur adalah
penanaman satu jenis tanaman pada lahan dan waktu penanaman yang sama. Sedangkan polikultur
adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.
Dalam pola tanam polikultur terdapat beberapa macam istilah dari sistem ini, yang mana
pengertiannya sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama tetapi
alasan dan tujuannya yang berbeda, yaitu :
1) Tumpang Campuran yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam
waktu yang sama dan umumnya bertujuan mengurangi hama penyakit dari jenis tanaman yang satu
atau pendampingnya.
2) Tumpang Sari yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu
yang sama dengan barisan-barisan teratur.
3) Tumpang Gilir yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan yang sama selama
satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.
4) Tanaman Pendamping yaitu penanaman dalam satu bedeng ditanam lebih dari satu tanaman
sebagai pendamping jenis tanaman lainnya yang bertujuan untuk saling melengkapi dalam kebutuhan
fisik dan unsur hara.
5) Penanaman Lorong yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dengan
penanaman tanaman berumur pendek diantara larikan atau lorong tanaman berumur panjang atau
tanaman tahunan.
6) Pergiliran atau Rotasi Tanaman yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman yang tidak sefamili
secara bergilir pada satu lahan yang bertujuan untuk memutuskan siklus hidup hama penyakit
tanaman. (Wirosoedarmo, 1985)
2.4 Macam-Macam Tumpang Sari
Penggolongan sistem pola tanam tumpangsari antara lain :
1. Mixed Cropping merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam dilahan yang
sama, pada waktu yang sama atau dengan jarak/interval waktu tanam yang singkat, dengan
pengaturan jarak tanam yang sudah ditetapkan dan populasi didalamnya sudah tersusun rapi.
Kegunaan sistem ini dalam substansi pertanian adalah untuk mengatur lingkungan yang tidak stabil
dan lahan yang sangat variable, dengan penerapan sistem ini maka dapat melawan/menekan
terhadap kegagalan panen total. Pada lingkungan yang lebih stabil dan baik total hasil yang diperoleh
lebih tinggi pada lahan tersebut, sebab sumber daya yang tersedia seperti cahaya, unsur hara, nutrisi
tanah dan air lebih efektif dalam penggunaannya.
2. Relay Cropping merupakan sistem pola tanam dengan penanaman dua atau lebih tanaman
tahunan. Dimana tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih panjang ditanam pada penanaman
pertama, sedang tanaman yang ke-2 ditanam setelah tanaman yang pertama telah berkembang atau
mendekati panen. Kegunaan dari sistem ini yaitu pada tanaman yang ke dua dapat melindungi lahan
yang mudah longsor dari hujan sampai selesai panen pada tahun itu.
3. Strip Cropping/Inter Cropping adalah sistem format pola tanam dengan penanaman secara pola
baris sejajar rapi dan konservasi tanah dimana pengaturan jarak tanamnya sudah ditetapkan dan
pada format satu baris terdiri dari satu jenis tanaman dari berbagai jenis tanaman. Kegunaan sistem
ini yaitu biasanya digunakan pada tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih pendek, sehingga
dalam penggolahan tanah tidak sampai membongkar lapisan tanah yang paling bawah/bedrock,
sehingga dapat menekan penggunaan waktu tanam.
4. Multiple Cropping merupakan sistem pola tanam yang mengarahkan pada peningkatan
produktivitas lahan dan melindungi lahan dari erosi. Teknik ini melibatkan tanaman percontohan,
dimana dalam satu lahan tumbuh dua atau lebih tanaman budidaya yang mempunyai umur sama
serta pertumbuhan dari tanaman tersebut berada pada lahan dan waktu tanam yang sama, dalam
satu baris tanaman terdapat dua atau lebih jenis tanaman (Romulo A. del Castillo, 1994).
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pola Tanam Monokultur
Kelebihan sistem ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun
yang dipelihara hanya satu jenis. Selain itu, Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena
memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan
menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam.
Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun
penyakit dan keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman
(OPT, seperti hama dan penyakit tanaman). (Tambunan dkk. 2011)
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pola Tanam Tumpang sari
2.6.1 Keuntungan pola tanam tumpang sari antara lain:
a) Efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan,
pemupukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir
b) Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam
barisan, Menghsilkan produksi lebih banyak untuk di jual ke pasar
c) Perhatian lebih dapat di curahkan untuk tiap jenis tanaman sehingga tanaman yang ditanam dapat
dicocokkan dengan iklim, kesuburan dan tekstur tanah
d) Resiko kegagalan panen berkurang bila di bandingkan dengan monokultur
e) Kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan produksi tertinggi karena penggunaan tanah
dan sinar matahari lebih efisien
f) Banyak kombinasi jenis-jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis terhadap serangan
hama dan penyakit. (Kumalasari.2012)
2.6.2 Kelemahan pola tanam tumpang sari antara lain:
a) Persaingan dalam hal unsur hara
Dalam pola tanam tumpangsari, akan terjadi persaingan dalam menyerap unsur hara antar tanaman
yang ditanam. Sebab, setiap tanaman memiliki jumlah kebutuhan unsur hara yang berbeda-beda,
sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu tanaman akan mengalami defisiensi unsur
hara akibat kkalah bersaing dengan tanaman yang lainnya.
b) Pemilihan komoditas
Diperlukan wawasan yang luas untuk memilih tanaman sela sebagai pendamping dari tanaman
utama, karena tidak semua jenis tanaman cocok ditanam berdampingan. Kecocokan tanaman-
tanaman yang akan ditumpangsarikan dapat diukur dari kebutuhan unsur haranya, drainase,
naungan, penyinaran, suhu, kebutuhan air, dll.
c) Permintaan Pasar
Pada pola tanam tumpangsari, tidak selalu tanaman yang menjadi tanaman sela, memiliki permintaan
yang tinggi. Sedangkan, untuk memilih tanaman sela yang cocok ditumpangsarikan dengan tanaman
utama, merupakan usaha yang tidak mudah karena diperlukan wawasan yang lebih luaslagi. Maka
dari itu, diperlukan strategi pemasaran yang tepat agar hasil dari tanaman sela tersebut dapat
mendatangkan keuntungan pula bagi petani.
d) Memerlukan tambahan biaya dan perlakuan
Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor
lingkungan yang mempunyai pengaruh di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar
matahari dan hama penyakit. Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsari dan saat
penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini
dimaksudkan agar diperoleh pertumbuhan dan produksi secara optimal. Kesuburan tanah mutlak
diperlukan, hal ini dimaksudkan untuk menghindar persiangan (penyerapan hara dan air) pada satu
petak lahan antar tanaman. (Fahmi, 2012)
2.7 Syarat-Syarat yang Harus Diperhatikan dalam Pola Tanam
1) Ketersediaan air yang mencangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung pada kinerja
air.
2) Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah
3) Tinggi tempat dan permukaan laut, terutama berhubungan dengan suhu udara, tanah dan
ketersediaan air.
4) Efisiensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat potensial
5) Ketersediaan air dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas menurut
agroekosistem dan toleran terhadap hama.
6) Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil. (Willem, 1982)
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi
a) Alat
1) Tugal : Untuk menugal tanah
2) Secop : Untuk menutup tanah yang ditugal
3) Tali raffia : Untuk membuat petak
b) Bahan
1) Benih jagung : Sebagai spesimen tanaman
2) Pupuk urea , SP36 dan KCl : Sebagai bahan pupuk yang digunakan
3.2 Cara Kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tinggi Tanaman (Rata-rata Tiap Minggu)
Pengukuran tinggi tanaman dimulai pada minggu keempat setelah tanam.
Datanya adalah sebagai berikut:
Minggu Keempat
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 32 19 35 22 28 24 21 18 26 21 27 26
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 25 18 22 21 28 23 26 29 33 32 29 27
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 25 24 25 15 26 MATI 13 29 23 25 25 35
Dari data tersebut dapat diperoleh perhitungan rata-rata tinggi tanaman per minggu sebagai berikut :
Minggu kelima
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 56 38 63 49 54 53 62 56 61 48 60 59
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
59 42 51 36 60 57 58 66 68 53 58 44
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
55 39 51 31 60 MATI 25 60 46 48 47 60
Dari data tersebut dapat diperoleh perhitungan rata-rata tinggi tanaman per minggu sebagai berikut :
Minggu Keenam
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 82 56 105 78 84 83 100 87 95 83 98 94
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
78 70 86 69 89 79 99 95 102 95 75 MATI
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
82 71 81 61 93 MATI 49 89 71 77 78 89
Dari data tersebut dapat diperoleh perhitungan rata-rata tinggi tanaman per minggu sebagai berikut :
Minggu Ketujuh
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 85 73 155 122 136 134 145 130 152 98 136 134
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
132 124 126 112 140 120 130 116 147 120 110 MATI
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
111 102 130 87 143 MATI 70 125 104 116 108 135
Dari data tersebut dapat diperoleh perhitungan rata-rata tinggi tanaman per minggu sebagai berikut :
Minggu kedelapan
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
TINGGI 76 75 195 170 182 167 186 168 140 213 192 182
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
186 175 168 146 158 150 173 164 190 156 156 MATI
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
180 160 127 102 197 MATI 181 110 162 135 169 159
Dari data tersebut dapat diperoleh perhitungan rata-rata tinggi tanaman per minggu sebagai berikut :
4.1.2 Jumlah Daun (Rata-rata Tiap Minggu)
Minggu keempat
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
DAUN 6 5 5 5 5 4 6 5 5 4 5 5
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
5 4 5 4 6 4 6 6 6 6 5 5
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
4 4 6 3 5 MATI 3 5 4 5 5 5
Minggu kelima
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
DAUN 6 6 6 6 7 4 8 5 6 4 6 6
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
6 5 7 6 7 6 4 7 7 7 6 4
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
6 5 9 2 8 MATI 5 7 6 8 7 6
Minggu keenam
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
DAUN 9 8 11 8 9 9 9 8 9 9 10 10
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
9 8 10 9 9 9 8 10 7 8 7 MATI
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
8 7 7 6 11 MATI 5 10 7 7 9 7
Minggu ketujuh
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
DAUN 4 4 11 8 7 9 9 8 11 10 9 8
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
7 7 7 6 6 5 6 6 6 5 6 MATI
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
9 7 7 6 10 MATI 5 9 6 6 6 7
Rata-rata jumlah daun = = = 7,14 daun = 7 daun
Minggu kedelapan
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
DAUN 5 6 13 8 11 10 10 8 11 9 10 10
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
8 8 9 9 8 8 9 9 10 8 8 MATI
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
A B A B A B A B A B A B
8 8 8 7 11 MATI 10 5 7 7 8 8
Rata-rata jumlah daun = = = 8,6 daun = 9 daun
4.1.3 Jumlah Tongkol
Minggu kesembilan
PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
JML TGKOL 0 2 2 2 1 2
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
2 1 0 1 2 1
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
2 0 1 1 0 0
Rata-rata jumlah tongkol pertanaman adalah: 20/18 = 1,1111 atau 1 tongkol per tanaman.
4.1.4 Saat Munculnya Malai
Pada minggu ke 8, telah tumbuh tessel pada petak 1 sampel 3B dan sampel 2A terdapat tessel dan
tongkol, sedangkan pada petak yang lain belum tumbuh tessel maupun tongkol.
4.1.5 Bobot Tongkol Jagung Per Tanaman
BERAT TONGKOL PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL 2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
DG KLOBOT 150 400 250 350 300 75 350 350 160 100 400 300 275
TANPA KLOBOT 100 300 150 260 240 50 225 200 100 40 300 200 190
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL 2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
230 300 110 350 125 160 160 110 300 150 200 50
150 200 90 220 60 110 140 75 200 100 150 20
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL 2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
300 200 50 350 250 50 50 100 75
200 150 25 300 200 25 25 25 50
Botot tongkol jagung dengan klobot adalah 7130/35 = 203,71 gram
Botot tongkol jagung tanpa klobot 4870/35 = 139,14 gram.
4.1.6 Bobot Jagung Per Petak
BERAT TONGKOL PETAK 1
SAMPEL 1 SAMPEL 2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
DG KLOBOT 150 400 250 350 300 75 350 350 160 100 400 300 275
TANPA KLOBOT 100 300 150 260 240 50 225 200 100 40 300 200 190
Jumlah bobot jagung per petak dengan klobot = 3460 gram
Jumlah bobot jagung per petak tanpa klobot = 2355 gram
PETAK 2
SAMPEL 1 SAMPEL 2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
230 300 110 350 125 160 160 110 300 150 200 50
150 200 90 220 60 110 140 75 200 100 150 20
Jumlah bobot jagung per petak dengan klobot = 2245 gram
Jumlah bobot jagung per petak tanpa klobot = 1515 gram
PETAK 3
SAMPEL 1 SAMPEL 2 SAMPEL 3 SAMPEL 4 SAMPEL 5 SAMPEL 6
300 200 50 350 250 50 50 100 75
200 150 25 300 200 25 25 25 50
Jumlah bobot jagung per petak dengan klobot = 1425 gram
Jumlah bobot jagung per petak tanpa klobot = 1000 gram
Jadi, jumlah bobot jagung keseluruhan dengan klobot adalah 7130 gram serta jumlah bobot jagung
keseluruhan tanpa klobot adalah 4870 gram.
4.1.7 Konversi Per Hektar
Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m
= 73,5 m2
= 7,35 x 10-3 ha
Jika 7,35 x 10-3 ha 57,3 kg (dengan klobot dari seluruh tanaman)
Maka 1 ha x kg
X = = 7796 kg = 7,8 ton
4.1.8 Data dari Kelompok Lain (dilihat dalam lampiran)
4.2 Pembahasan
4.2.1 Tinggi tanaman
Minggu ke-4
Rata-rata tinggi tanaman = = = 25,06 cm
Minggu ke-5
Rata-rata tinggi tanaman = = = 52,37 cm
Minggu ke-6
Rata-rata tinggi tanaman = = = 80,65 cm
Minggu ke-7
Rata-rata tinggi tanaman = = = 117,37 cm
Minggu ke-8
Rata-rata tinggi tanaman = = = 155,71 cm
Berdasarkan hasil perhitungan diatas, diketahui bahwa bahwa semakin lama hari semakin lama
pertumbuhan jagung semakin meningkat. Dengan perawatan yang dilakukan menunjukkan bahwa
pertumbuhan jagung dari minggu ke minggu meningkat. Peningkatan ditemukan dengan tumbuhnya
malai dan tongkol jagung serta peningkatan tinggi dari jagung tersebut.
4.2.2 Jumlah Daun
Minngu ke-4
Rata-rata jumlah daun = = = 4,88 daun = 5 daun
Minggu ke-5
Rata-rata jumlah daun = = = 6,03 daun = 6 daun
Minggu ke-6
Rata-rata jumlah daun = = = 8,44 daun = 8 daun
Minggu ke-7
Rata-rata jumlah daun = = = 7,14 daun = 7 daun
Minggu ke-8
Rata-rata jumlah daun = = = 8,6 daun = 9 daun
Berdasarkan data dan perhitungan tersebut ternyata jumlah dan pertumbuhan daun jagung semakin
baik, nampak dari jumlahnya yang banyak dan ukurannya yang semakin besar, namun, ditemukan
pada minggu ketujuh mengalami penurunan, yang bisa diakibatkan karena penurunan unsur hara
dalam tanaman maupun dalam tanah, tetapi mengalami peningkatan kembali pada minggu
kedelapan.
Menurut Subekti dkk (2012), sesudah koleoptil muncul di atas permukaan tanah, daun jagung mulai
terbuka. Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat melekat pada
batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18
helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun.
4.2.3 Perbandingan dengan Kelompok Lain
a. Jumlah Tongkol
Pada tanaman jagung A2 dan J2 Jumlah tongkol pada tanaman jagung rata-rata jumlah tongkol
pertanaman adalah 1 tongkol. Hal tersebut sesuai dengan teori yang ada. Menurut Subekti dkk
(2012), tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung
diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu
terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10
16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.
b. Saat Munculnya Malai
saat munculnya malai antara A2 dan J2 mengalami sedikit perbedaan. Pada lahan A2 yang ditanami
jagung monokultur, munculnya malai jagung tersebut rata-rata terjadi pada minggu ketiga ataupun
minggu ke dua. Hanya ada satu sampel yang muncul pada minggu ke empat, dibandingkan dengan
kelas J2 munculnya malai terjadi pada minggu kedelapan.
Menurut Subekti dkk (2012), tanaman jagung adalah protandry, di mana pada sebagian besar
varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking).
c. Bobot Tongkol Jagung per Tanaman
Untuk bobot tongkol jagung pertanaman, pada lahan A2 bobot tongkol yang diperoleh sangatlah
beragam. Bobot tongkol jagung yang paling kecil diperoleh pada sampel 14 yaitu 100 gr sedangkan
bobot tongkol paling besar yaitu ada pada sampel 11 yaitu 750 gr. Bila dibandingkan dengan
kelompok J2, bobot tongkol yang diperoleh dengan klobot adalah 7130/35 = 203,71 gram, sedangkan
Botot tongkol jagung tanpa klobot 4870/35 = 139,14 gram.
d. Bobot Jagung per Petak
Bisa dilihat perbedaan bobot jagung per petak pada lahan J2 dengan A2. Ada perbedaan bobot
jagung pada J2 jumlah bobot jagung perpetak adalah 4,870 kg. Sedangkan pada lahan A2 5,2 kg.
Perbedaan muncul karena perbedaan tanah yang ditanami di J2 berbeda dengan tanah yang
ditanami A2. Maksudnya disini unsur yang terdapat didalam tanah J2 beda dengan tanah yang
ditanami A2.
e. Konversi per Hektar
Konversi per hektar pada lahan J2
Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m
= 73,5 m2 = 7,35 x 10-3 ha
Jika 7,35 x 10-3 ha 57,3 kg (dengan klobot)
Maka 1 ha x kg
X = = 7796 kg = 7,8 ton
Konversi per hektar pada lahan A2
X = = 7199 kg = 7,2 ton
Jadi disimpulkan bahwa lahan yang lebih memnghasilkan produksi jagung yang tinggi adalah lahan
dari J2.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pola tanam merupakan susunan tanaman yang diusahakan dalam satu satuan luas pada satu tahun.
Pola tata tanam yang berlaku pada setiap daerah akan berbeda dengan daerah lain, karena
karakteristik setiap daerah juga berbeda. Ada beberapa macam pola tanam, diantaranya adalah
monokultur, tumpangsari dan agroforestry, terkadang juga dicantumkan polikultur.
Berdasarkan pengamatan pada praktikum dilahan dan dengan perbandingan dengan kelas lain,
dengan menggunakan pola tanam monokultur yang sama, ternyata ditemukan bahwa jumlah daun
dan tinggi tanaman tidak semuanya sama dan juga tidak jauh berbeda. Pada pertumbuhan malaipun
pada kedua kelas J2 dibandingkan dengan A2 mengalami perbedaan. Perbedaan ini bisa disebabkan
oleh perawawatan dan faktor lingkungan lain yang mengalami perlakuan berbeda dari setiap lahan.
Kelebihan sistem monokultur yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam
maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini adalah tanaman
relatif mudah terserang hama maupun penyakit dan keseragaman kultivar mempercepat penyebaran
organisme pengganggu tanaman (OPT, seperti hama dan penyakit tanaman).
5.2 Kritik dan Saran
Ternyata, kalau terlalu banyak laporan numpuk, hampir kewalahan mas , untuk selanjutnya laporan
harus benar-benar terkordinir.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi.2012. Pola Tanam.http://kickfahmi.blogspot.com/2012/05/pola-tanam.html. Diakses 12 Juni
2012
Kumalasari, Devy. 2012. Tanam dan Pola Tanam.
file:///c:/users/asus/documents/tanam%20dan%20pola%20tanam%20%20%20devy%20k.htm diakses
14 juni 2012
Musyafa, 2011. Musafa _Al ihyar.blogspot.com. diakses 11 Juni 2012
Nur, Aulia mustaqim. 2010.Alam dan lingkungan. http://aulia-nm.blogspot.com/2010/02/pola-tata-
tanam-pola-tanam-adalah.html. Diakses tanggal 12 Juni 2012
Romulo A.del Castillo, 1994. blogspot.com. diakses 11 Juni 2012
Subekti, Nuning Argo, dkk. 2012. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Maros: Balai
Penelitian Tanaman Serealia, (on line).
http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10232.pdf. Diakses tanggal 16 Juni 2012.
Tambunan, Sonia. dkk. 2011. Tanam dan Pola Tanam. http://www.tanam-dan-pola-tanam.pdf.html.
Diakses 12 Juni 2012
Wirosoedarmo. 1985. dasar dasar irigasi pertanian. universitas brawijaya: malang
















Laporan DBT Tanam & Pola Tanam Serta Pemulsaan
11 June 2013
Goto commentsLeave a comment

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setelah kita mempersiapkan media tanam dan bahan tanam yang hendak kita gunakan dalam
budidaya tanaman, langkah berikutnya ialah mulai melakukan penanaman. Tanam merupakan
kegiatan menempatkan bahan tanam pada media tanam. Media tanam yang digunakan harus
disesuaikan dengan bahan tanamnya.
Dalam melakukan penanaman, pemiliha pola tanam merupakan hal yang sangat penting karena
bersangkutan dengan hasil yang akan diperoleh nantinya. Dengan pola tanam tersebut dapat
memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen seperti iklim, tanah, tanaman, dinamika
hama dan penyakit dan aspek sosial ekonomi dalam upaya mendapatkan produksi dam margin
yang tinggi. Pada umumnya, pola tanam terbagi menjadi dua, yaitu pola tanam monokultur dan
pola tanam polikultur. Pola tanam monokultur umumnya digunakan untuk lahan yang luas,
misalnya perkebunan kelapa sawit. Sedaangkan untuk lahan sempit, biasanya memanfaatkan
pola tanam tumpangsari. Pola tanam tumpangsari memiliki banyak kelebihan terutama untuk
pengendalian hama. Selain menentukan pola tanam, pengaturan jarak tanam juga harus
diperhatikan agar antar tanaman tidak saling menaungi sehingga produksi yang dihasilkan juga
akan optimal.
Selain pemilihan pola tanam, penggunaan mulsa juga dapat membantu mengoptimalkan hasil
produksi. Mulsa merupakan bahan atau material penutup tanah pada tanaman budidaya yang
digunakan untuk menekan pertumbuhan gulma. Selain itu, mulsa juga bermanfaat untuk
menjaga kelembaban tanah, mempertahankan agregat tanah, memeperkecil erosi permukaan
tanah, mencegah penguapan air, dan melindungi tanah dari terpaan matahari. Mulsa dapat
terbuat dari bahan organik dan anorganik. Masing-masing jenis bahan mulsa memiliki kelebihan
dan kekurangan.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tanam dan pola tanam
2. Untuk mengatahui pola tanam monokultur dan tumpangsari
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemilihan pola tanam
4. Untuk mengetahui syarat yang harus diperhatikan dalam pemilihan pola tanam
5. Untuk mengetahui definisi dan fungsi mulsa
6. Untuk mengetahui macam-macam mulsa
7. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan jenis bahan mulsa

1.3 Manfaat
Praktikan dapat mengetahui definisi tanam dan pola tanam, mengatahui pola tanam
monokultur dan tumpangsari, mengetahui faktor yang mempengaruhi pemilihan pola tanam,
mengetahui syarat yang harus diperhatikan dalam pemilihan pola tanam. Selain itu, praktikan
juga dapat mengetahui definisi dan fungsi mulsa, macam-macam mulsa, kelebihan dan
kekurangan jenis bahan mulsa.


BAB II
TNJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tanam
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan
ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan minimal
bagi pribadi yang menanam (Aak, 1993).
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau
bibit pada media tanam baik media tanah maupun bukan
media tanah dalam satu bentuk pola tanam (Sastradiharja,
2005).

2.2 Pengertian Pola Tanam
Pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman yang akan
ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan tertentu (Novitan, 2002).
Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan
mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode
waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau
tidak ditanam selama periode tertentu. (Campbell, 2002).

2.3 Pola Tanam Monokultur
Pola tanam monokultur yaitu cara bertanam dengan menggunakan sattu jenis tanaman pada
lahan dalam waktu yang sama. Kelebihan dari pola tanam monokultur yaitu teknis budidayanya
relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis saja.
Sedangkan kelemahannya ialah tanaman akan lebih mudah terserang hama maupun penyakit.
(Sastradiharja, 2005)
2.4 Pola Tanam Tumpang Sari
Pola tanam tumpangsari atau polikultur adalah menanam lebih dari satu jenis tanaman pada
lahan dan waktu yang sama. Dengan pemilihan tanaman yang tepat, sistem tumpangsari dapat
memberikan beberapa keuntungan, antara lain sebagai berikut.
a) Mengurangai hama dan penyakit tanaman
Tanaman yang satu dapat mengurangi hama maupun penyakit tanaman lainnya. Misalnya
bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan
bau allicin.
b) Menambah kesuburan tanah
Dengan menanam kacang-kacangan, kandungaan unsur N dalam tanah akan bertambah karena
adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar. Dengan menanam tanaman yang
mempunyai perakaran berbeda tanah disekitarnya akan lebih gembur.
c) Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus
Sistem polikultur yang dibarengi dengan rotasi tanaman dapat memutus siklus hidup hama dan
penyakit tanaman.
d) Memperoleh hasil panen yang beragam
Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini
menguntungkan karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga
komoditas lainnya.
Apabila penanaman jenis tanaman tidak sesuai, sistem polikultur dapat memberi dampak
negative, seperti terjadinya persaingan unsir hara antar tanaman, hama dan penyakit semakin
banyak sehingga menyulitkan dalam pemeliharaan.
(Pracaya, 2002)
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pemiliham Pola Tanam
Ketersediaan air
Hal ini mencakup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung pada kinerja air irigasi
serta pola distribusi dan jumlah hujan. Karena sebagian besar tanamanmemerlukan prosentase
air besar disetiap fase pertumbuhannya
Keadaan tanah
Dalam menentukan pola tanam juga harus diperhatikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Serta
perlu diperhatikan permukaan tanah. Karena akan menentukan pola tanam jenis apa yang cocok
digunakan.
Ketinggian tempat
Ketinggian tempat ini diukur dari permukaan laut karena ketinggian tempat ini sangat
berpengaruh dengan suhu udara, suhu tanah dan ketersediaan tanah.
Eksistensi hama penyakit
Eksistensi dari serangan hama penyakit ini biasanya langsung bersifat kronis dan potensial,
sehingga memerlukan pengawasan dan pola tanam yang tepat.
Pemasaran produk
Suatu pola tanam juga harus didukung oleh aksebilitas dan kelancaran pemasaran hasil
produksi dengan dukungan infrastruktur dan potensi pasar yang memadai.
(Reijntjes, Haverkort dan Bayer ,1992)

2.6 Syarat yang Harus Diperhatikan dalam Pemilihan Pola Tanam
Kebutuhan sinar matahari
Setiap tanaman memerlukan proporsi penyinaran yang berbeda beda. Oleh karena itu, dalam
penentuan pola tanam harus diperhatikan sifat sifat tanamanya lebih sesuai di monokultur
atau polikultur.
Kebutuhan unsur hara tanaman
Dalam melakukan pola tanam baik yang monokultur maupun polikultur, ketersediaan unsur
hara bagi tanaman harus tetap tersedia terlebih lagi pada pola tanam monokultur yang mana
kebutuhan unsur hara tanaman sama.
Perakaran tanaman
Sistem perakan tanaman akan sangat mempengaruhi pola tanam yang akan dipakai karena
perakaran tanaman ada yang akar serabut, dalam, dangkal, dan melebar. Sehingga hal ini harus
diperhatikan dalam pola tanamn suatu tanaman tertentu
(Setjanata, S. 1983)
2.7 Definisi Mulsa
Mulsa adalah bahan atau material yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau
lahan pertanian dengan tujuan tertentu yang prinsipnya adalah untuk meningkatkan produksi
tanaman (Marliah, dkk., 2012).
Mulsa adalah bahan yang dipakai pada permukaan tanah dan berfungsi untuk menghindari
kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan gulma. Salah satu bahan yang
dapat digunakan sebagai mulsa adalah jerami padi (Purwowidodo, 1999).
Mulch is a covering placed around plants (or covering the ground in lieu of plants), to prevent
the growth of weeds. If placed around plants, a mulch provides additional benefits, including
the diminution of erosion and water loss, and the regulation of soil temperature. (Mulsa adalah
penutup ditempatkan di sekitar tanaman (atau menutupi tanah sebagai pengganti tanaman),
untuk mencegah pertumbuhan gulma. Jika ditempatkan di sekitar tanaman, mulsa memberikan
manfaat tambahan, termasuk berkurangnya erosi dan kehilangan air, dan pengaturan suhu
tanah) (Beaulieu, 2010).

2.8 Fungsi Mulsa
menghemat penggunaan air dengan laju evaporasi dari permukaan tanah,
memperkecil fluktuasi suhu tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan
tanaman dan mikroorganisme tanah
memperkecil laju erosi tanah baik akibat tumbukan butir-butir hujan
menghambat laju pertumbuhan gulma
(Lakitan, 1995)
2.9 Macam-macam Jenis Mulsa
Mulsa ada dua jenis yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik.
a) Mulsa organik
Mulsa organik adalah mulsa yang berasal dari sisa panen, tanaman pupuk hijau atau limbah
hasil kegiatan pertanian, yang dapat menutupi permukaan tanah, dan dapat melestarikan
produktivitas lahan untuk jangka waktu yang lama.
Contoh: mulsa jerami, sekam bakar dan batang jagung.
(Lakitan, 1995)

Mulsa Jerami Mulsa Sekam Bakar

Sumber gambar : www.google.com
Mulsa Batang Jagung
b) Mulsa anorganik
Mulsa anorganik adalah mulsa yang meliputi semua bahan yang bernilai ekonomis tinggi
seperti plastik dan batuan dalam bentuk ukuran 2-10 cm.
Contoh: Mulsa plastik.
(Lakitan, 1995)

Mulsa Plastik
Sumber gambar : www.google.com

2.10 Kelebihan dan Kekurangan Jenis Bahan Mulsa
a) Mulsa Organik
Keuntungan: lebih mudah didapatkan karena dapat diperoleh secara gratis, memiliki efek
menurunkan suhu tanah, konservasi tanah dengan menekan erosi, dapat menghambat tanaman
pengganngu, dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah, mulsa
jerami kaya akan unsur hara yang dibutuhkan tanaman yaitu K, Al, dan Mg
Kekurangan: menyebabkan timbulnya cendawan pada kelembabab yang tinggi, tidak tersedia
sepanjang musim tanam, tidak dapat dipergunakan lagi untuk masa tanam berikutnya.

b) Mulsa Anorganik
Kelebihan: dapat diperoleh setiap saat, memiliki efek yang beragam terhadap suhu tanah
tergantung jenis plastik, dapat menekan erosi, mudah diangkut sehingga dapat digunakan di
setiap tempat, dapat digunakan lebih dari satu musim tanam tergantung perawatan bahan
mulsa.
Kekurangan: tidak memiliki efek menambah kesuburan tanah karena sifatnya sukar lapuk, serta
harganya relatif mahal.
(Umboh, 1997)


BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan
1) Tanam dan Pola Tanam
Alat:
- Cangkul : untuk meratakan tanah
- Tali Rafia : sebagai pembatas lahan
- Meteran/penggaris : untuk mengukur tali rafia, panjang jarak tanam, dan mengukur tinggi
tanaman
- Kayu penegak : sebagai penegak tali rafia
Bahan:
- Benih jagung : sebagai bahan tanam
- Benih kacang hijau : sebagai bahan tanam
- Benih kangkung : sebagai bahan tanam
- Bibit ubi jalar : sebagai bahan tanam
- Urea, KCl, SP36 : sebagai pupuk dasar
2) Mulsa
Alat:
- Karung : sebagai tempat mulsa
- Kamera : untuk dokumentasi
- Gembor : untuk menyiram tanaman
B[ahan:
- Jerami padi utuh : sebagai mulsa
- Jerami padi cacah : sebagai mulsa

3.2 Alur Kerja
Alat dan bahan disiapkan
Tanah diratakan dengan cangkul
Dibuat petak dan diukur sesuai jarak tanam yang ditentukan
Tanam kacang hijau dan ubi jalar secara tumpangsari
Tanam jagung dan kangkung secara tumpangsari
Diberi pupuk dasar
Dilakukan perawatan setiap minggu
2 guludan pertama diberi mulsa cacah
2 guludan kedua diberi mulsa utuh
2 guludan berikutnya tidak diberi mulsa
Tanam jagung dan kangkung secara tumpangsari
Dilakukan pengamatan setiap minggu dan didokumentasi
Hasil

3.3 Analisa Perlakuan Mulsa
Sebelum melakukan pemulsaan, terlebih dahulu menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Pada praktikum ini, mulsa yang digunakan ialah mulsa jerami cacah dan jerami
panjang. Lahan yang dibuat 6 gundukan/guludan, diberi perlakuan yang berbeda. Pada 2
gulungan pertama diberi mulsa cacah. Selanjutnya pada 2 guludan kedua diberi mulsa utuh,
sedangkan untuk 2 guludan terakhir tidak diberi mulsa. Pada minggu berikutnya dilakukan
pengamatan kondisi tanaman yang diberi mulsa dan tanpa mulsa, diukur tinggi tanaman dan
jumlah daun tanaman jagung dan ubi jalar. Kemudian didokumentasi dan dicatat hasil
pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Yogyakarta : Kanisius.
Beaulieu, David. 2010. Mulch.
(online)http://landscaping.about.com/cs/lazylandscaping/g/mulch.htm. Diakses 1 Juni 2013.
Campbell, Vell,A. 2002. Biology. Jakarta : Erlangga.
Lakitan, B. 1995. Hortikultura I. Teori Budidaya dan Pasca Panen. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Marliah, dkk. 2012. Pengaruh Jenis Mulsa Dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Super Bionik
Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.).Jurnal Flaratek. 7. 2 :
164-172.
Novitan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Pracaya. 2002. Bertanam Sayuran Organik di Kebun, Pot, dan Polibag. Jakarta : Penebar Swadaya.
Purwowidodo. 1999. Teknologi Mulsa. Jakarta : Penebar Swadaya.
Reijntjes, Haverkort dan Bayer .1992.Pertanian Masa Depan Pengantar Pertanian
Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Yogyakarta : Kanisius.
Ruijter, J dan Agus, F. 2004/ Mulsa Bebas Banjir. (online) www.worldagroforestry.org. Diakses 8
Juni 2013.
Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi Jalar, Budi Daya dan Pascapanen.Yogyakarta: Kanisius.
Sastradiharja, Singgih.2005. Menanam Sayuran Secara Organik. Jakarta:
Azka Press.
Seta, A.K. 1987. Konservasi Sumberdaya Tanah dan Air. Jakarta: Kalam Mulia.
Setjanata, S. 1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani dalam UsahaIntensifikasi
(Proyek Bimas). Lokakarya Teknologi dan Dampak Penelitian Pola Tanam dan Usahatani. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanam Bogor 20-21 Juni 1983.
Sinukaban, N. 1986. Dasar-dasar Konservasi Tanah dan Perencanaan Pertanian Konservasi.Jurusan
Tanah, IPB. Bogor.
Umboh. A. H. 1997. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Jakarta : Penebar Swadaya.
www.google.com. Diakses 3 Juni 2013.


















TANAM,POLA TANAM DAN PEMULSAAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha pertanian yang efektif adalah memadukan penggunaan sumber daya alam terutama
iklim dan tanah. Dalam pertanian, tanam dan pola tanam sangat diperlukan. Tanam dan pola yang
berbeda dapat menentukan tingkat produksi dala kualitas mapun kuantitas. Ada banyak jenis pola
tanam dalam dunia pertanian. Ada yang menguntungkan namun ada juga yang manfaatnya
kurang dirasakan bagi pengguna. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai macam pola tanam
yang diterapkan pada tanaman budidaya. Sehingga kita dapat memaksimalkan penggunaannya
pada lahan berdasarkan kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan.
Selain melakukan tanam dan pola tanam yang baik, pemberian mulsa juga perlu dilakukan
untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal yang nantinya
mampu meningatka kualitas dan kuantitas pada lahan dan tanaman yang dibudidayakan. Mulsa
adalah proses atau praktek yang meliputi tanah / tanah untuk membuat lebih pada kondisi yang
menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, perkembanngan. Tujuan dari pemberian mulsa ini
adalah melindungi agregat tanah dari percikan air hujan, menekan pertubuhan gilma pada sekitar
tanaman budidaya, mengurangi dan masih banyak lagi tujun dari mulsa ini.
Jadi, dalam membudidayakan tanaman budidaya perlu diperhatikan tanam, pola tanam
dan pemberian mulsa untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari tanaman budidayanya.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum dan penulisan dari laporan ini adalah mahasiswa lebih
memahami dan mengetahui :
Pengertian tanam
Perngertian pola tanam
Pola tanam monokultur
Pola tanam tumpang sari
Faktor yang mempengaruhi pemilihan pola tanam
Syarat yang harus diperhatikan dalam pemilihan pola tanam
Pengertian mulsa
Fungsi mulsa
Macam-macam jenis mulsa
Kelebihan dan kekurangan jenis bahan mulsa
1.3 Manfaat
Setelah dilakukannya pratikum dan penulisan laporan tanam, pola tanam dan pemulsaan
maka mahasiswa akan lebih memahami mengenai materi yang berhubungan dengan tanam, pola
tanam dan pemulsaan yang nantinya akan bermanfaat untuk dunia pertanian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Tanam
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam
baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam.
(Vincent, 1996)
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi
dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan sesuatu yang menguntungkan minimal
bagi pribadi yang menanam.
(Setjanata, 1983)
2.2 Pengertian Pola Tanam
Pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman yang akan
ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan tertentu.
(Novitan, 2002)
Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata
letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah
dan masa baru atau tidak ditanam selama periode tertentu.
(Campbell, 2002)
2.3 Pola Tanam Monokultur
Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian
dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal.
Kekurangan pola tanam ini adalah pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan
hasil yang lebih besar daripada pola tanam lainnya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya
persaingan antar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar matahari, akan tetapi
pola tanam lainnya lebih efisien dalam penggunaan lahan karena nilai LER lebih dari 1.
Kelebihan pola tanam ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang
ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini
adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit.
(Setjanata, 1983)
2.4 Pola Tanam Tumpang Sari
Tumpangsari merupakan salah satu jenis pola tanam yang termasuk jenis polikultur.
Polikultur adalah penanaman serentak dua jenis tanaman atau lebih dalam barisan berseling-
seling pada sebidang tanah.
Kelebihan dari pola tanam ini salah satunya yaitu dapat mengurangi serangan OPT
(pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya.
Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena
mengeluarkan bau allicin. Sedangkan kekurangannya yaitu terjadi persaingan unsur hara antar
tanaman.
(Semeru, 1995)
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pola Tanam
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam, yaitu :
1. Iklim
Dimana pada keadaan musim hujan dan kemarau akan berpengaruh pada persediaan air untuk
tanaman dimana pada msim hujan maka persediaan air untuk tanaman berada dalam jumlah yang
besar, sebaliknya pada musim kemarau persediaan air akan menurun.


2. Topografi
Merupakan letak atau ketinggian lahan dari permukaan air laut yang berpengaruh terhadap suhu
dan kelembaban udara dimana keduanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3. Debit Air yang Tersedia
Dimana debit air pada musim hujan akan lebih besar dibandingkan pada musim kemarau,
sehingga haruslah diperhitungkan apakah debit saat itu mencukupi jika akan ditanam suatu jenis
tanaman tertentu.
4. Jenis tanah
Jenis tanah yaitu tentang keadaan fisik , bioligis dan kimia tanaman.
5. Sosial ekonomi
Dalam usaha pertanian faktor ini merupakan faktor yang sulit untuk dirubah sebab berhubungan
dengan kebiasaan petani dalam menanam suatu jenis tanaman.
(Setjanata, 1983)
2.6 Syarat yang Harus Diperhatikan dalam Pemilihan Pola Tanam
Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam atau usahatani yaitu :
1. Ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung pada kinerja
air irigasi serta pola distribusi dan jumlah hujan.
2. Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik, kimia serta bentuk permukaan tanah.
3. Tinggi tempat dari permukaan laut, terutama sehubungan dengan suhu udara, tanah
dan ketersediaan air.
4. Eksistensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat kronis dan potensial.
5. Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas
menurut agroekosistem dan toleransi terhadap jasad pengganggu.
6. Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil produksi dengan dukungan infrastruktur dan
potensial yang memadai.
(Beets, 1982)
2.7 Pengertian Mulsa
Mulsa adalah bahan atau material yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau
lahan pertanian dengan tujuan tertentu yang prinsipnya adalah untuk meningkatkan produksi
tanaman.
(Lakitan, 1995)
Mulsa adalah semua bahan yang digunakan pada permukaan tanah terutama untuk
menghalangi hilangnya air karena penguapan atau untuk mematikan tanaman pengganggu. Mulsa
sering juga disebut sersah.
(Buckman, 1969)
Mulch retains soil moisture, prevents erosion, blocks weeds, and promotes a steady soil
temperature.Mulsa mempertahankan kelembaban tanah, mencegah erosi, blok gulma, dan
mempromosikan suhu tanah stabil.
(Cunningham, 2000)
2.8 Fungsi Mulsa
Fungsi mulsa atau penutup tanah adalah berpengaruh :
1. positif terhadap tanaman maupun tanah itu sendiri, baik diterapkan pada pertanian
2. organik maupun pertanian biasa.
3. Dalam peranannya untuk peningkatan kesuburan tanah.
4. Mengurangi penyiraman, karena penguapan air dari tanah menjadi berkurang.
5. Menjaga suhu tanah lebih stabil. suhu di sekitar perakaran tetap sejuk hingga akar bisa bekerja
lebih optimal.
6. Pengendali gulma.
7. Mengurangi erosi air atau angin.
8. Menambah keindahan lahan pertanian.
(Setjanata, 1983)
2.9 Macam-Macam Jenis Mulsa
1. Mulsa Organik
Berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan
alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik
adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah
kandungan bahan organik dalam tanah.
Contoh mulsa organik adalah jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis
rumput-rumputan lainnya.
2. Mulsa Anorganik
Terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Mulsa anorganik dipasang
sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini
harganya relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam
budidaya cabai atau melon. fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar matahari secara
tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid, selain itu mulsa plastik
digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman serta
dapat menghambat munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri.
Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung.
(Acquaah, 2005 )
2.10 Kelebihan dan Kekurangan Jenis Bahan Mulsa
1. Mulsa Organik
a. Kelebihannya meliputi :
Dapat di peroleh secara bebas/gratis
Memiliki efek menurunkan suhu tanah
Mengonservasi tanah dengan menekan erosi
Dapat menghambat pertumbuhan tanaman pengganggu
Menambah bahan organic tanah karena mudah lapuk setelah rentang waktu tertentu
b. Kekurangannya meliputi :
Tidak tersedia sepanjang musim tanam, tetapi hanya saat musim panen tadi.
Hanya tersedia di sekitar sentra budidaya padi sehingga daerah yang jauh dari pusat budidaya padi
membutuhkan biya ekstra untuk transportasi.
Tidak dapat digunakan lagi untuk masa tanam berikutnya.
2. Mulsa Anorganik
a. Kelebihannya adalah :
Dapat di peroleh setiap saat.
Memiliki sifat yang beragam terhadap suhu tanah tergantung pla/spanstik.
Dapat menekan erosi.
Mudah di angkut sehingga dapat digunakan di setiap tempat.
Menekan pertumbuhan tanaman pengganggu.
Dapat digunakan lebih dari satu musim tanam tergantung perawatan bahan mulsa.
b. Kekurangannya adalah :
Tidak memiliki efek menambah kesuburan tanah karena sifatnya sukar lapuk.
Harganya relative mahal.
(Chairumansyah, 2010)
DAFTAR PUSTAKA
Acquaah, G. 2005. Horticulture: Principles and Practices. Marcel Dekker, Inc. New York
Beets, W,C. 1982. Multiple cropping and tropical faring system growth pusb. Co. Ltd. Aldersho
Buckman, Harry O and Brandy, Nile C. 1969. The Nature and Properties of Soils, 7th Edn., The Macmillan
Company, p 486-487
Campbell, V.A. 2002. Biology. Jakarta: Erlangga
Chairumansyah. 2010. Keuntungan Penggunaan Mulsa Plastik.
http://binatani.blogspot.com/2010/03/keuntungan-penggunaan-mulsa-plastik.html. Diakses pada
tanggal 2 Juni 2013
Cunningham, Sally Jean.2000.Great Garden Companion. USA: St. Martins Press.
Lakitan. 1995. pengaruh jenis mulsa dan konsentrasi pupuk organik cair super bionik terhadap
pertumbuhan dan hasil bawang merah (allium ascalonicum l).
http://jurnalfloratek.wordpress.com/tag/mulsa/. Diakses pada tanggal 2 Juni 2013
Novitan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Jakarta: Agromedia Pustaka
Semeru. 1995. Hortikultura dan Aspek Budaya. Jakarta: UI Press
Setjanata, S. 1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani dalam Usaha Intensifikasi
Vincent, H. R. 1998. Agriculture Fertilizer and Envisement. CO. BI Publishing. New York