Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik
diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan
akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi
guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk
diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma
kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki
kompleksitas yang tinggi.
Memimpin, mengarahkan, mengayomi, dan mempengaruhi orang lain
adalah suatu hal yang tidak mudah serta tidak semua orang mempunyai
kemampuan tersebut, karena memimpin merupakan bentuk tanggung jawab
yang besar dan berat untuk diemban yang membutuhkan pertanggung-
jawaban terhadap orang lain atau yang dipimpin terutama terhadap diri
sendiri. Tak jarang seorang pemimpin justru menggiring bawahan kearah
keterpurukan dan kehancuran, sehingga kurangnya komunikasi dan
hilangnya rasa kepercayaan bawahan terhadap atasan. Hal tersebut berimbas
pada terancamnya reputasi dan wibawa seorang pemimpin. Untuk itu
seorang pemimpin harus mampu menjadi contoh yang baik bagi
bawahannya.
Kepemimpinan merupakan unsur yang sangat menentukan dalam
keberlangsungan dan perkembangan suatu organisasi atau pemerintahan.
Dalam era yang penuh dinamika serta perubahan yang cepat seperti
sekarang ini, kepemimpinan yang peka terhadap perubahan sangat
diperlukan dalam memberdayakan semua potensi yang dimiliki masyarakat.
Dalam mewujudkan pembangunan desa tidak hanya dibutuhkan peranan
kepemimpinan pemerintahan desa saja, namun harus ada hubungan yang
sinergis antara kepemimpinan pemerintahan desa dengan partisipasi
masyarakat desa. Pemerintahan desa harus mampu meningkatkan
keberdayaan masyarakat desa agar tercipta masyarakat yang sejahtera serta
mewujudkan pembangunan desa yang selalu berkembang.

2

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi kepemimpinan ?
2. Bagaimana pola kepemimpinan di pedesaan ?
3. Bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan kepala desa terhadap
partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa ?
1.3 Tujuan
Makalah ini disusun bertujuan untuk mengetahui definisi
kepemimpinan, untuk mengetahui bagaimana gaya kepemimpinan pedesaan
yang sering diterapkan, serta untuk mengetahui pengaruh gaya
kepemimpinan kepala desa terhadap partisipasi masyarakat dalam
pembangunan desa.



























3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan
mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah
ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner,
Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah proses dalam
mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas
yang harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin(2000) membagi pengertian
kepemimpinan menjadi dua konsep, yaitu sebagai proses, dan sebagai
atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang
dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin
menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para
pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk
mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya
produktif dalam organisasi.
Dari uraian pendapat para ahli di atas, kepemimpinan dapat diartikan
sebagai proses dinamika interaksi sosial dalam kelompok manusia yang
bertitik-tolak pada figur, beradaptasi dengan situasi/kondisi lingkungan,
sekaligus memuat unsur-unsur mempengaruhi maupun dipengaruhi yang
dapat memunculkan aksi-reaksi melalui bentuk komunikasi tertentu demi
tercapainya cita-cita bersama.
Secara sederhana, jiwa kepemimpinan yang ada dalam seorang
pemimpin dibentuk oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang
dimaksud merupakan anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir, seperti bakat
alami kepemimpinan, daya tarik, kewibawaan, dan sebagainya. Di samping
itu, faktor eksternal juga memiliki pengaruh dalam membentuk jiwa
kepemimpinan lebih lanjut. Faktor eksternal yang dimaksud adalah
pengaruh dari luar individu yang bersangkutan, seperti pendidikan, situasi
dan kondisi lingkungan, pengalaman, dan lainnya.
Dari pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa muncul dan
berkembangnya seorang pemimpin merupakan hasil dari interaksi sosial

4
antara diri pemimpin itu sendiri dengan anggota kelompok yang dipimpin
dalam situasi, kondisi, serta tuntutan lingkungan ekologisnya. Dengan kata
lain kepemimpinan dapat bekerja sebagai berikut; pemimpin mempengaruhi
pengikut dan lingkungannya, sebaliknya pengikut dan lingkungan juga
dapat mempengaruhi pemimpin.
Tipe kepemimpinan dapat dibagi menjadi lima, antara lain:
1. Tipe otokratik
Tipe otokratik adalah seseorang pemimpin yang sangat egois.
Sikap yang umumnya ditunjukkan adalah kecenderungan
memperlakukan anggota dengan mengabaikan harkat dan
martabatnya, mengutamakan orientasi hasil dibandingkan proses
serta keputusan yang diambil tidak memikirkan kepentingan
anggota, dan pengabaian peran serta anggota dalam
pengambilan keputusan.
2. Tipe paternalistik
Tipe pemimpin ini biasanya ada dalam masyarakat agraris
dengan menghormati seseorang karena umurnya lebih tua atau
dituakan. Pemimpin memiliki sikap kebapaan, dan memiliki
sikap tauladan. Pemimpin ini dicontohkan dengan tokoh
masyarakat, ulama, guru, dan lainnya.
3. Tipe kharismatik
Pemimpin ini memiliki karakteristik yang khas sehingga mampu
menghimpun pengikut yang cukup besar. Intinya, seorang
pemimpin kharismatik dikagumi oleh pengikutnya walau
pengikutnya sendiri tidak dapat menjelaskan secara konkret
mengapa mengagumi pemimpin tersebut.
4. Tipe laissez faire
Pemimpin ini memiliki sikap optimis bahwa organisasi dapat
berjalan lancar dengan sendirinya karena orang-orang yang ada
dalam organisasi tersebut adalah orang-orang yang sudah
dewasa dan ahli dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam
organisasi.

5
5. Tipe demokratik
Pemimpin demokratik memandang bahwa dirinya adalah suatu
koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
organisasi, menyadari secara jelas apa yang harus dan tidak
dilakukan organisasi dalam pencapaian tujuannya, membagi
peranan sesuai dengan kemampuan anggotanya, dan menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia (Yukl, 1994).
2.2 Pola Kepemimpinan di Pedesaan
Desa merupakan sebutan secara umum untuk organisasi pemerintah
terendah yang ada di tiap daerah kabupaten dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan di wilayah NKRI. Menurut Unang Soenardjo (dalam
Nurcholis, 2011: 4) desa adalah suatu kesatuan masyarakat bedasarkan adat
dan hukum adat yang menetap dalam suatu wilayah yang tertentu batas-
batasnya; memiliki ikatan lahir dan batin yang sangat kuat, baik karena
seketurunan maupun karena sama-sama memiliki kepentingan politik,
ekonomi, sosial dan keamanan; memiliki susunan pengurus yang dipilih
bersama; memiliki kekayaan dalam jumlah tertentu dan berhak
menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri. Menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang desa, desa merupakan kesatuan
hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan
adat-istiadat setempat, yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa ciri masyarakat desa menurut Nurani Soyomukti (2010:
307-308) antara lain; warga pedesaan mempunyai hubungan erat dan
mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga pedesaan lainnya,
sistem kehidupan biasanya berkelompok berdasarkan kekeluargaan, warga
pedesaan umumnya mengandalkan hidupnya dari pertanian, sistem gotong-
royong, pembagian kerja tidak berdasarkan keahlian, cara bertani sangat
tradisional dan tidak efisien karena belum mengenal mekanisasi dalam
pertanian, golongan orang tua dalam masyarakat pedesaan memegang
peranan penting.

6
Menurut klasifikasinya, desa memiliki tiga aktivitas, yaitu (1) desa
agraris merupakan desa yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya
ialah di bidang pertanian dan perkebunan, (2) desa industri merupakan desa
yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya di bidang industri
rumah tangga, (3) desa nelayan merupakan desa yang sebagian besar mata
pencaharian penduduknya ialah di bidang perikanan dan pertambakan.
Dalam memajukan suatu desa, tentu dibutuhkan peran dari masyarakatnya
yang sungguh-sungguh di berbagai bidang, seperti bidang ekonomi, sosial,
maupun politik. Peran yang dibutuhkan haruslah dari semua lapisan
masyarakat, baik tua maupun muda, dan dari sekumpulan masyarakat
tersebut dibutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan untuk
mengorganisasi, persuasi, dan mengarahkan mereka demi memajukan desa
dalam satu visi yang sama. Peran tersebut yang biasanya disebut sebagai
pemimpin.
Kepemimpinan kepala desa adalah cara atau implementasi tindak
perilaku kepala desa dalam mempengaruhi, mengarahkan, mendorong,
sekaligus memobilisasi segenap elemen masyarakat desa untuk bekerja atau
berperan serta mencapai tujuan yang ditetapkan. Menurut Mc. Kinsey
(dalam Rahardjo, 2006: 126-127), keberhasilan Kepala Desa dalam
memimpin desanya secara efektif mencakup hubungan yang konsisten dari
tujuh faktor, yaitu struktur, style, sistem, skill, strategi, dan superordinate
goal.
Cara-cara atau usaha kepala desa mengelola masyarakat juga
bergantung pada respon dari dalam dirinya. Respon merupakan bentuk dari
perilaku seseorang (Soerjono Soekanto, 1993: 202). Penjelasan demikian
akan mudah dimengerti melalui sebuah contoh di lapangan. Misalnya,
apabila seseorang menemui perselisihan yang terjadi antara dua orang atau
lebih. Keinginan untuk menyelesaikan perselisihan, keinginan untuk tidak
mengacuhkan, ataupun keinginannya untuk mempertajam perselisihan, itu
merupakan pengertian dari sebuah kepribadian. Sedangkan tindakan dalam
mewujudkan keinginannya tersebut, itulah merupakan penjelasan dari
sebuah perilaku. Perilaku yang memiliki pengaruh tertentu bisa dikatakan

7
mengacu pada perilaku kepemimpinan (gaya kepemimpinan), yakni sebuah
pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik tampak maupun
tidak oleh bawahannya yang mampu memunculkan persepsi tersendiri pada
pengikut-pengikutnya.
Reddin (dalam Kartono, 2008: 34), menentukan gaya kepemimpinan
atas tiga pola dasar, yaitu berorientasi tugas, berorientasi pada hubungan,
dan berorientasi pada hasil yang efektif. Berdasarkan ketiga pola dasar di
atas akan berwujud dalam tiga tipe pokok kepemimpinan antara lain
kepemimpinan otoriter, kepemimpinan kendali bebas, dan kepemimpinan
demokratis. Masing-masing tipe kepemimpinan memiliki relevansi dengan
kepemimpinan pedesaan dengan ciri sebagai berikut:
1) Kepemimpinan otoriter
a. Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara sepihak.
b. Pengikut sama sekali tidak diajak untuk ikut serta merumuskan tujuan
kelompok dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
c. Pemimpin terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut dalam
proses interaksi di dalam kelompok tersebut.
2) Kepemimpinan demokratis
a. Secara musyawarah dan mufakat pemimpin mengajak warga atau
anggota kelompok untuk ikut serta merumuskan tujuan-tujuan yang
harus dicapai kelompok, serta cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.
b. Pemimpin secara aktif memberikan saran dan petunjuk-petunjuk.
c. Ada kritik positif, baik dari pemimpin maupun pengikut-pengikut.
d. Pemimpin secara aktif ikut berpartisipasi di dalam kegiatan-kegiatan
kelompok.
3) Kepemimpinan bebas
a. Pemimpin menjalankan peranannya secara pasif.
b. Penentuan tujuan yang akan dicapai kelompok sepenuhnya diserahkan
pada kelompok.
c. Pemimpin hanya menyediakan sarana yang diperlukan kelompok.

8
d. Pemimpin berada di tengah-tengah kelompok, namun dia hanya
berperan sebagai penonton (Soerjono Soekanto, 2012: 257).
Pola kepemimpinan yang ada didesa lebih cenderung ditentukan
karena kualitas pribadi daripada individu. Misalnya, pemimpin di desa yang
ditentukan karena kebaikan akhlaknya (kejujuran, sopan santun, religious,
dll). Pemimpin di desa juga tidak mementingkan kepentingan pribadi seperti
mengharapkan gaji yang banyak, mereka cenderung memimpin masyarakat
tanpa pamrih. Sedangkan hal tersebut bertolak belakang dengan pemimpin
di kota. Sebagian besar pemimpin di kota lebih mementingkan kepentingan
pribadi dibandingkan kepentingan masyarakat luas.
Pada prakteknya di lapangan, ketiganya akan saling mengisi atau
menunjang satu sama lain dengan beradaptasi pada situasi dan kondisi
sehingga akan menghasilkan kepemimpinan yang efektif. Kharakter
kepemimpinan kepala desa akan memiliki ke-khas-annya masing-masing
bergantung pada situasi dan kondisi lingkungan kerja kepala desa
bersangkutan. Maka, pola kepemimpinan kepala desa sebagai
kepemimpinan lokal (local leadership) bisa jadi berbeda-beda di tiap
daerah.

2.3 Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Desa Terhadap Partisipasi
Masyarakat Dalam Pembangunan Desa
Gaya kepemimpinan kepala desa tentunya sangat berpengaruh
terhadap partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa itu sendiri, karena
apabila gaya kepemimpinan yang dihasilkan oleh kepala desa tidak sesuai
atau tidak disenangi oleh masyarakat desanya maka pembangunan di desa
tidak akan berjalan dengan lancar, dan sebaliknya apabila gaya
kepemimpinan kepala desa sesuai dengan yang diharapkan masyarakat
maka partisipasi masyarakat akan sangat besar dan sangat berpengaruh bagi
pembagunan desa itu sendiri.
Di atas telah dijelaskan bahwa pola kepemimpinan kepala desa
sebagai kepemimpinan lokal bisa jadi berbeda-beda tiap daerah, oleh karena
itu maka pembangunan desa di tiap daerah pun pasti berbeda-beda pula,

9
mungkin ada yang desanya semakin maju adapula desanya yang semakin
terpuruk akibat oleh gaya kepemimpinan kepala desa itu sendiri.
Agar masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan desa demi
kemajuan desa, maka diperlukan gaya kepemimpinan kepala desa yang adil
dan bijaksana, namun tidak cukup hanya sifat tersebut namun juga harus
memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang lain


10
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah :
1. Kepemimpinan adalah
2. Pola kepemimpinan di pedesaan
3. Pengaruh