Anda di halaman 1dari 6

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2004


ISSN : 1411 - 4216
PROSPEK PENGGUNAAN DIRECT METHANOL FUEL CELLS
(DMFC) DIBANDINGKAN DENGAN HYDROGEN SOLID
POLYMER FUEL CELLS (H2 SPFC)

Haifa Wahyu, Nenen Rusnaeni, Achiar Oemry
Pusat Penelitian Fisika LIPI
Kompleks LIPI
Jln. Cisitu-Sangkuriang 21/154D
Bandung 40135
Telp. 62-22-2507771, 2507773, 2503052
Fax. 62-22-2503050
Email. haifa@fisika.lipi.go.id


Abstrak

Makalah ini mengemukakan kemungkinan keberhasilan aplikasi direct methanol fuel cell dibandingkan
dengan hydrogen solid polymer fuel cell berdasarkan eksperimen terhadap DMFC dan studi literatur. Terlihat
bahwa DMFC mempunyai beberapa kemudahan dibandingkan dengan H SPFC karena strukturnya yang
lebih sederhana dan biaya operasi yang lebih murah dengan penggunaan umpan larutan methanol. Dari sisi
lain, DMFC mempunyai densitas power yang lebih rendah dibandingkan H SPFC, dan juga sifat korosif dan
beracun dari methanol berpotensi untuk menghambat perkembangan aplikasi massal. Untuk aplikasi di
Indonesia, keduanya mempunyai prospek yang baik jika dilihat dari suplai bahan bakar (umpan) yang
menggunakan gas alam yang banyak terdapat di Indonesia. Dari segi teknologi, Indonesia masih jauh
ketinggalan, dan harus dilakukan usaha-usaha yang intensif untuk mengejar ketinggalan tersebut, baik DMFC
maupun H SPFC.
2
2
2

Pendahuluan
Direct Methanol Fuel Cells (DMFC) saat ini memperoleh perhatian yang lebih besar untuk aplikasi
sel bahan bakar pada kendaraan bermotor dibandingkan dengan Hydrogen Solid Polymer Fuel Cell (H
2

SPFC) karena kemudahan struktur sistem DMFC untuk aplikasi on-board. Uji coba pada kendaraan bermotor
telah dilakukan oleh perusahaan mobil seperti Daimler-Benz dan Toyota. Penggunaan methanol sebagai
bahan bakar fuel cell cenderung lebih mempunyai prospek dibandingkan dengan gas alam, karena beberapa
keuntungan yang dipunyainya, seperti penggunaan langsung dan penyediaan methanol yang tidak terlalu
rumit. Selain untuk mobil, Toshiba juga telah mengembangkan prototipe power supply menggunakan DMFC
untuk telepon genggam dan komputer notebook dengan kapasitas power antara 12 20 W yang dapat
beroperasi selama 5 jam untuk larutan methanol konsentrasi tinggi 50 cc dan 10 jam untuk larutan methanol
100 cc. Makalah ini membahas tentang studi sistem sel bahan bakar dengan umpan metanol ukuran 50 mW
serta prospek penggunaan direct methanol fuel cells di Indonesia.

Latarbelakang Teknis
1. Hydrogen solid polymer fuel cell (H
2
SPFC) dan direct methanol fuel cell (DMFC) menggunakan divais
elektroda dan elektrolit yang sama yaitu karbon dengan katalis Platinum dan membran polimer yang
dapat mentransfer proton. Perbedaannya adalah pada penggunaan umpan (bahan bakar), dimana DMFC
menggunakan larutan metanol langsung sebagai bahan umpan untuk menghasilkan listrik tanpa harus
menggunakan reformer. Sedangkan aplikasi H
2
SPFC yang menggunakan umpan gas alam, harus
memakai reformer untuk menghasilkan hidrogen yang akan dipakai didalam sel.
2. Metanol mempunyai rumus kimia CH
3
OH yang mempunyai sifat-sifat tidak berwarna, jernih dan mudah
menguap yang terbukti dapat digunakan sebagai bahan bakar didalam motor bakar pengganti BBM pada
sektor transportasi. Kendaraan berbahan bakar metanol telah digunakan secara komersial dalam lingkup
terbatas, terutama Amerika Serikat. Metanol dapat dibuat dengan cara distilasi bahan baku yang
mengandung karbon seperti biomassa. Selain untuk motor bakar, metanol dapat diaplikasikan sebagai
bahan umpan sel bahan bakar berbasis polimer yang saat ini diminati oleh produser barang-barang
elektronik dan mobil. Sifat-sifat yang terdapat didalam fuel cell membuat DMFC mempunyai prospek
lebih baik sebagai alternatif pengganti baterai dan mesin kalor. Perbedaan mekanisme reaksi didalam sel
bahan bakar polimer dengan umpan hidrogen atau hydrogen solid polymer fuel cell (H
2
SPFC) dibahas
dalam uraian berikut.

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-1-1
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Hydrogen Solid Polymer Fuel Cell (H
2
SPFC)

Reaksi utama didalam H
2
SPFC adalah sebagai persamaan berikut:

!
! " ! e O H O H
2 2 2
2
1
Energi listrik diperoleh dari konversi energi yang terdapat didalam ikatan kimia zat-zat umpan
(reaktan), hidrogen dan oksigen. Reaksi konversi hidrogen melibatkan transfer elektron dari suatu reaktan ke
reaktan lainnya yang disebut juga dengan reaksi REDOX (reduksi-oksidasi). Reaksi reduksi adalah reaksi
dimana reaktan memperoleh tambahan elektron dan reaksi oksidasi adalah reaksi dimana reaktan kehilangan
elektron.

Reaksi pada anoda:
# !
! " e H H 2 2
2


Reaksi pada katoda:
O H H e O
2 2
2 4 4 " ! !
! #


Isu utama yang menjadi permasalahan dalam aplikasi H SPFC muncul ketika umpan yang digunakan
merupakan hidrogen hasil reformasi gas alam. Proses reformasi hidrokarbon dapat menghasilkan gas CO
yang bersifat ketakmurnian yang dapat mengganggu performa katalis karena CO mempunyai sifat keterikatan
pada katalis Pt (Platinum) sehingga dapat memblokir permukaan katalis. Walaupun katalis dapat dibersihkan
dari CO, kontaminasi CO serendah 10 ppm pun akan mempercepat degradasi hasil performa dari SPFC.
Secara teoritis efisiensi sebesar 90 % dapat dicapai dalam fuel cell yang diperlihatkan dalam persamaan
reaksi berikut, sedangkan mesin kalor hanya 25 %. Persamaan reaksi (2) menunjukkan jumlah kerja yang
dihasilkan oleh reaksi kimia netto didalam suatu fuel cell hidrogen dengan menggunakan hasil reformasi gas
alam.
2
O H CO O CH
2 2 2 4
2 2 ! " !

Perbedaan antara perubahan entalpi dan energi bebas Gibbs kira-kira 75 kJ/mol, yang sama dengan
kehilangan panas teoritis. Dalam aplikasinya efisiensi teoritis tidak mungkin dicapai karena kondisi
ketidakidealan umpan-umpan yang dipakai. Dengan adanya reformer ini, sistem menjadi lebih rumit dengan
ukuran yang lebih besar.
mol kJ H
mol kJ G
o
o
/ 4 . 892
/ 9 . 817
# $ %
# $ %

Selain isu kontaminasi CO pada katalis, isu lain yang juga penting adalah pengelolaan panas didalam
stack. Reaksi elektrokimia didalam SPFC menghasilkan energi yang muncul dalam bentuk listrik dan termal.
Jumlah panas yang harus dibuang kira-kira 60 % dari jumlah keluaran, dan untuk menghilangkannya harus
digunakan pendingin. Jika ukuran stack kecil, dapat digunakan pendinginan udara langsung, tetapi jika
ukuran stack besar, maka diperlukan pendingin cair dengan panas jenis yang relatif tinggi.

Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah sistem pengelolaan air dan humidifikasi. Untuk
stack ukuran besar, elektrolit membran dapat mengalami distribusi air atau kelembaban yang tidak homogen.
Didalam suatu sistem sel bahan bakar, transportasi air melalui elektrolit terjadi dengan proses difusi, elektro-
osmosis dan permeasi hidrolik karena perbedaan tekanan antara anoda dan katoda. Kekeringan dapat terjadi
didaerah bagian inlet yang temperaturnya tinggi, kondisi ideal terdapat didaerah ditengah sel, sedangkan
kelebihan air terjadi pada daerah outlet. Kelebihan air kemungkinan besar didaerah katoda yang
menyebabkan akses oksigen kedalam sel jadi terhambat.

Direct Methanol Fuel Cell (DMFC)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-1-2
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Fuel cell yang menggunakan umpan metanol secara langsung mempunyai beberapa kelebihan
dibandingkan dengan H
2
SPFC, diantaranya adalah tidak adanya reformer sehingga mengurangi jumlah
peralatan tambahan didalam suatu sistem fuel cell menyebabkan struktur yang lebih sederhana. Fuel cell
yang menggunakan metanol ini terdiri dari dua jenis yaitu fuel cell metanol tak langsung (Indirect Methanol
Fuel Cell) dan fuel cell methanol langsung (Direct Methanol Fuel Cell). Saat ini riset-riset lebih difokuskan
pada DMFC dibanding yang satunya karena kemudahan struktur sistem.

Umpan yang dipakai untuk DMFC adalah larutan metanol didalam air dengan konsentrasi 0.5-2 molar
yang dimasukkan lewat anoda. Katalis Pt didalam sel akan mengubah metanol menjadi hidrogen secara
elektrokimia sehingga terbentuk aliran listrik sebagai output. Reaksi netto antara metanol dan oksigen
didalam sel ditunjukkan dalam persamaan berikut:
O H CO O OH CH
2 2 2 3
2
2
3
! " !
Reaksi pada anoda ditunjukkan dalam persamaan berikut:
# !
! ! " ! e H CO O H OH CH 6 6
2 2 3


Reaksi pada katoda:
O H O e H
2 2
6
2
3
6 6 " ! !
# !


Dengan adanya proses reformasi metanol internal didalam sel pada suhu rendah menyebabkan DMFC
mempunyai densitas power yang lebih rendah dibandingkan dengan H SPFC pada kondisi yang sama.
Namun demikian, kelebihan yang dimiliki oleh DMFC berikut dapat mengatasi kekurangan diatas
diantaranya:
2
& Aliran pada anoda terdiri dari cairan sehingga tidak diperlukan pendinginan dan humidifikasi yang
terpisah.
& Kebutuhan pompa berkurang karena penggunaan umpan cair pada anoda, bahkan pada beberapa
aplikasi tidak digunakan pompa sama sekali, transportasi reaktan hanya bergantung pada aksi kapiler,
buoyancy dan difusi.
& Cairan umpan yang digunakan menghilangkan masalah penggunaan reformer atau storage
hidrogen pada alat transportasi.

Jadi secara total, dengan berkurangnya kompleksitas sistem, densitas power pada DMFC akan dapat
menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan H SPFC. Disamping keuntungan-keuntungan itu, penggunaan
methanol mempunyai sisi negatif, yaitu sifat beracun metanol yang dapat mencemari air tanah, nyala yang
tak berwarna dan lebih korosif dibandingkan bensin. Hal ini merupakan potensi yang dapat menghambat
penggunaan direct metanol fuel cell secara massal.
2

Dari beberapa studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti[1], uji performa DMFC menunjukkan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sistem secara teknis terdiri dari:
& Manajemen air
& Pelintasan methanol dari anoda ke katoda (methanol crossover)
& Manajemen transportasi dua fase pada anoda
& Rugi-rugi akibat aktivitas polarisasi dan pembebanan katalis
Walaupun humidifikasi tidak diperlukan untuk DMFC, namun pembentukan air yang berlebih pada
katoda dapat terjadi jika terjadi pelintasan methanol dari anoda ke katoda sehingga terjadi reaksi oksidasi
pada katoda. Jika hal ini terjadi, gradien aktivitas air menjadi nol dan difusi melalui elektrolit akan terhenti.
Untuk mencegah terjadinya hal ini, diperlukan sistem pembuangan air dari katoda. Disamping itu, elektrolit
yang dipakai haruslah yang dapat mencegah terjadinya pelintasan tersebut, sehingga mempunyai
ketebalannya lebih besar dari yang dipakai untuk H
2
SPFC. DMFC menggunakan Nafion 117 (ketebalan 178
m), sedangkan H
2
SPFC menggunakan Nafion 112 yang ketebalannya sepertiga dari Nafion 117.


Studi sistem DMFC 50 mW

Mekanisme reaksi didalam SPFC secara skematik dapat dilihat dalam gambar berikut (Gb. 1).

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-1-3
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG


Bipolar
plate
terkoneksi
pada sel
Lapisan
difusi
SPFC
Elektrolit
Lapisan
elektroda
/katalis
Alur
aliran
Reaksi Anoda
# !
! ! " ! e H CO O H OH CH 6 6
2 2 3

Reaksi Katoda
O H O e H
2 2
6
2
3
6 6 " ! !
# !

Gb. 1 Mekanisme reaksi didalam SPFC dengan umpan larutan methanol

Percobaan dilakukan dengan menggunakan suatu DMFC kit dengan spesifikasi teknis berikut:
Luas elektroda 16 cm
2

Voltase 300 500 mV DC
Power 50 mW
Umpan larutan methanol 3 %


Gb. 2 DMFC demo kit 50 mW (h-tec product)



JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-1-4
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Hasilnya ditunjukkan dalam Gb. dimana sel tersebut berjalan pada output konstan selama 30 jam
terus menerus dengan konsentrasi awal larutan methanol 3 %. Output terlihat menurun setelah lebih dari 30
jam dan berhenti sama sekali ketika waktunya mencapai 36 jam.


Performa DMFC 50 mW
0
100
200
300
400
500
1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37
Waktu
I
V
W

Gb. 3 Performa DFMC 50 mW

Prospek Aplikasi DMFC di Indonesia
Perkembangan teknologi DMFC masih terus berlangsung dalam upaya mengatasi kekurangan-
kekurangan dari segi teknis yang terdapat dalam DMFC. Proses DMFC yang menggunakan proses reformasi
internal menimbulkan fenomena baru dari segi disain dan transportasi cairan didalam sel. Perubahan disain
diperlukan untuk mengatasi pelintasan metanol dari anoda ke katoda, proses difusi, elektro osmotik drag dan
permeasi hidrolik akibat perubahan tekanan antara katoda dan anoda. Didalam DMFC proses difusi ini lebih
kritikal dibandingkan dengan H
2
SPFC karena dapat menyebabkan kelebihan produksi air pada katoda yang
akan menimbulkan gradien nol. Untuk memahami karakteristik DMFC secara lebih jauh, diperlukan ilmu
transportasi dan dinamika fluida supaya fenomena yang terjadi dapat dijabarkan secara detil. Dengan
berkembangnya DMFC menjadi mikro DMFC, maka aplikasi ilmu tersebut dalam disain dan rancangan
sistem menjadi lebih krusial. Topik utama dalam riset DMFC adalah simulasi aliran didalam SPFC yang
dapat dilihat dalam makalah-makalah berikut ini[2,3,4,5,6,7,8].
Dari segi suplai methanol, Indonesia memproduksi methanol sebanyak 990,000 MT/tahun yang
diekspor ke Asia terutama Jepang. Methanol diproduksi dari gas alam di PT Kaltim Methanol Industry
Bontang dengan kapasitas 660,000 MT/tahun dan Pulau Bunyu (Medco Energi) dengan kapasitas 330,000
MT/tahun. Saat ini methanol digunakan sebagai bahan baku dalam industri petrokimia. Ladang gas alam
Natuna mempunyai prospek sebagai penghasil methanol jika hasil samping gas CO berhasil dikonversi
menjadi methanol melalui proses reformasi dan hidrogenasi. Dari uji coba diatas, secara kasar biaya
operasional DMFC jauh lebih murah dibandingkan dengan H SPFC.
2
2

Kesimpulan
Teknologi DMFC dan H
2
SPFC masih dalam perkembangan dan masing-masing mempunyai
kelebihan dan kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Indonesia mempunyai sumberdaya alam yang
berlimpah untuk aplikasi direct methanol fuel cell dan hydrogen SPFC secara komersial. Namun masih
diperlukan usaha-usaha yang terus menerus dan terintegrasi dalam upaya penguasaan teknologi kedua jenis
fuel cell tersebut. Dari segi teknis, Indonesia jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara yang saat
ini secara intensif mengembangkan fuel cell seperti USA, Eropa dan Jepang. Keterlibatan Indonesia dalam
pengembangan fuel cell secara umum atau DMFC secara khusus memerlukan pengetahuan yang mendalam
tentang material dan engineering yang menjadi inti dari teknologi fuel cell baik DMFC maupun H
2
SPFC.

Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pusat Penelitian Fisika LIPI yang
telah menyediakan dana penelitian DIP untuk kegiatan tersebut diatas.
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-1-5
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG


Referensi

1. Mench, M.M, Wang, C.Y., and Thynell, S.T., (2000), An Introduction to Fuel Cells and Related
Transport Phenomena, Technical Report, Dept. Of Mechanical and Nuclear Engineering, The
Pennsylvania State University, USA.
2. Um,S., Wang,C.Y., and Chen,K.S., (2000), Computational Fluid Dynamics Modeling of Proton
Exchange Membrane Fuel Cells, J. Of the Electrochemical Society, 147 (12) 4485-4493.
3. Mench,M.M., Wang,Z.H., Bhatia, K. And Wang, C.Y., (2001), Design of A Micro Direct Methanol Fuel
Cell (DMFC), Proceedings of the IMECE01, Int. Mech. Eng. Congress and Expo., New York.
4. Mench,M.M., Scott,J., Thynell,S., and Wang,C.Y., (2001), Direct Methanol Fuel Cell Experimental and
Model Validation Study, Meeting of the Electrochem. Soc., San Franncisco, California.
5. Wang,Z.H. and Wang,C.Y., (2001), Mathematical Modeling of Liquid-Feed Direct Methanol Fuel Cells,
Proceedings of Direct Methanol Fuel Cell Symp., 199 , Electrochem. I. Soc., Washington DC.
th
6. Argyropoulos,P.,Scott,K., and Taama,W.M., (1999), Pressure drop modelling for liquid feed direct
methanol fuel cells, Part I. Model development, Chemical Engineering Journal 73, 217-227.
7. Argyropoulos,P.,Scott,K., and Taama,W.M., (1999), Pressure drop modelling for liquid feed direct
methanol fuel cells, Part II. Model based parametric analysis, Chemical Engineering Journal 73, 229-
245.
8. Ralph,T.R. and Hogarth,M.P, (2002), Catalysis for Low Temperature Fuel Cells, Part II: The Anode
Challenges, Johnson Matthey Technology Centre, Reading,U.K.





























JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-1-6
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG