Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pompa Sentrifugal
Pompa, mungkin alat yang tidak begitu asing bagi kita dan apalagi bila
ditanyakan apa Anda mengenal pompa?. Pertanyaan ini juga mungkin terlalu
sederhana jika harus dilontarkan kepada mereka yang sudah bekerja di suatu
pabrik, bahkan bagi orang awam sekalipun..
Jika disebut nama pompa tentu yang pertama kita ingat, adalah pompa air
karena pompa ini mungkin yang berkenaan langsung dengan kehidupan kita
sehari-hari. Padahal jenis pompa sebenarnya tidak hanya pompa air saja, ada
banyak jenis pompa yang digunakan manusia untuk membantu meringankan
tugasnya.
Pompa secara sederhana didefinisikan sebagai alat transportasi fluida cair.
Jadi, jika fluidanya tidak cair, maka belum tentu pompa bisa melakukannya.
Misalnya fluida gas, maka pompa tidak dapat melakukan operasi pemindahan
tersebut. Namun, teknologi sekarang sudah jauh berkembang di mana mulai
diperkenalkan pompa yang multi-fasa, yang dapat memompakan fluida cair dan
gas. Namun dalam tulisan ini, hanya dibahas tentang pompa yang mengalirkan
fluida cair, dan topiknya dipersempit untuk yang berjenis sentrifugal. Pompa jenis
sentrifugal ini mungkin agak asing di telinga kita, padahal dia banyak memberi
manfaat bagi kita, terutama untuk dunia industri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana prinsip kerja pompa sentrifugal ?
2. Bagaiman karakteristik kerja dari pompa sentrifugal yang disusun secara
single, seri, dan paralel ?
2

3. Bagaimana hubungan antara head pompa dan kapasitas dari pompa yang
disusun secara seri, single, dan paralel.
1.3 Tujuan Praktikum
Percobaan berikut dilakukan menggunakan alat pengujian TQ H32 dengan
varian single, seri, dan paralel, dengan tujuan :
1. Memehami karakteristik kerja dari pompa sentrifugal yang disusun secara
single, seri, dan paralel.
2. Memahami hubungan antara head pompa dan kapasitas dari pompa
sentrifugal yang disusun secara seri, single, dan paralel.
Dengan ketentuan pengujian sebagai berikut :
a. Untuk kerja pompa 1 pada kecepatan yang ditentukan.
b. Untuk kerja pompa 2 pada kecepatan yang sama yang ditentukan.
c. Untuk kerja pompa single dengan menggunakan 3 kecepatan.
d. Untuk kerja 2 pompa yang dihubungkan seri, pada kecepatan yang sama.
e. Untuk kerja 2 pompa yang dihubungkan seri, dengan kecepatan yang
berbeda.
f. Untuk kerja 2 pompa yang dihubungkan paralel, pada kecepatan yang
sama.
g. Untuk kerja 2 pompa yang dihubungkan paralel, pada kecepatan yang
berbeda.

1.4 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan laporan praktikum ini, penulis menguraikan mengenai
sistematika penulisan dengan memberikan beberapa uraian yang penulis buat
dengan aturan berdasarkan bab-bab untuk setiap pembahasan laporan praktikum.
BAB I PENDAHULUAN
Mengungkapkan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan
praktikum, dan sistematika penulisan.
3


BAB II LANDASAN TEORI
Mengungkapkan mengenai sejarah dan perkembangan, pembagian dan
jenis-jenis, pengertian, prinsip kerja , dan rumus yang digunakan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini menguraikan tentang diagram alir, prosedur pengujian, serta
alat dan bahan praktikum.
BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan mengenai pembahasan tentang perhitungan data
percobaan, tabel dan grafik hasil perhitungan, serta tugas-tugas.
BAB V KESIMPULAN
Pada bab ini membahas tentang kesimpulan yang didapat dan juga saran.











4

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah dan Perkembangan Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal merupakan pilihan utama para insinyur dalam aplikasi
pompa. Hal ini di karenakan pompa sentrifugal sangat sederhana dan serbaguna.
Pompa sentrifugal diperkenalkan oleh Denis Papin tahun 1689 di Eropa dan
dikembangkan di AmerikaSerikat pada awal tahun 1800-an. Pada awalnya pompa
ini dikenal sebagai baling-baling Archimedean. Pada saat itu diproduksi untuk
aplikasi head rendah yang mana fluida bercampur sampah dan benda padat
lainnya. Dan awalnya mayoritas aplikasi pompa menggunakan pompa
positive_displacement.

Gambar 2.1 : pompa sentrifugal saat pertama kali dibuat
Tingkat kepopuleran pompa sentrifugal dimulai sejak adanya
pengembangan motor elektrik kecepatan tinggi (high speed electric motors),
turbin uap, dan mesin pembakaran ruangan (internal combustion engines). Pompa
sentrifugal merupakan mesin berkecepatan tinggi dan dengan adanya
pengembangan penggerak kecepatan tinggi telah memungkinkan pengembangan
menjadi lebih effisien.
5

Sejak tahun 1940-an, pompa sentrifugal menjadi pompa pilihan untuk
berbagai aplikasi. Riset dan pengembangan menghasilkan peningkatkan
kemampuan dan dengan ditemukannya material konstruksi yang baru membuat
pompa memiliki cakupan bidang yang sangat luas dalam penggunaannya.
Sehingga tidak mengherankan jika hari ini ditemukan efisiensi 93% lebih untuk
pompa besar dan 50% lebih untuk pompa kecil.
Pompa sentrifugal modern mampu mengirimkan hingga 1,000,000,_
(gl/min) dengan head hingga 300 feet yang biasanya dipakai pada industri tenaga
nuklir. Dan boiler feed pump telah dikembangkan sehingga dapat mengirimkan
300 (gl/min) dengan head lebih dari 1800 feet.
Pada fase selanjutnya pompa sentrifugal ini paling banyak digunakan di
pabrik kimia. Pompa sentrifugal biasa digunakan untuk memindahkan berbagai
macam fluida, mulai dari air, asam sampaislur ry atau campuran cairan dengan
katalis padat (solid). Dengan desain yang cukup sederhana, pompa sentrifugal bisa
disebut sebagai pompa yang paling populer di industri kimia

2.2 Pembagian dan Jenis-jenis Pompa Sentrifugal

Gambar 2.2. Bagian-bagian Utama Pompa Sentrifugal


6

A. Stuffing Box
Stuffing Box berfungsi untuk mencegah kebocoran pada daerah dimana poros
pompa menembus casing.
B. Packing
Digunakan untuk mencegah dan mengurangi bocoran cairan dari casing pompa
melalui poros. Biasanya terbuat dari asbes atau teflon.
C. Shaft (poros)
Poros berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama
beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian berputar lainnya.
D. Shaft sleeve
Shaft sleeve untuk melindungi poros dari erosi, korosi dan keausan pada stuffing
box.
E. Vane
Sudu dari impeller sebagai tempat berlalunya cairan pada impeller.
F. Casing
berfungsi sebagai pelindung elemen yang berputar
G. Eye of Impeller
Bagian sisi masuk pada arah isap impeller.
H. Impeller
Impeller untuk mengubah energi mekanis dari pompa menjadi energi kecepatan
pada cairan yang dipompakan secara kontinyu,
I. Wearing Ring
Wearing ring untuk memperkecil kebocoran cairan yang melewati bagian depan
impeller maupun bagian belakang impeller, dengan cara memperkecil celah antara
casing dengan impeller.
J. Bearing
Beraing (bantalan) untuk menumpu dan menahan beban dari poros agar dapat
berputar, baik berupa beban radial maupun beban axial



7

Jenis jenis pompa sentrifugal
1. Klasifikasi menurut Jenis Impeller
a. Pompa Sentrifugal
Pompa ini mempunyai konstruksi sedemikian rupa hingga aliran zat cair
yang keluar dari impeller akan melalui sebuah bidang tegak lurus poros pompa.
Namun konstruksi yang sebenarnya dari pompa-pompa yang banyak
dipakai adalah seperti diperlihatkan dalam gambar.2.6. Impeller dipasang pada
saatu ujung poros, dan pada ujung yang lain dipasang kopling untuk meneruskan
daya dari penggerak. Poros ditumpu oleh dua buah bantalan. Sebuah perapat
dipasang pada bagian rumah yang ditembus poros, untuk untuk diperlihatkan
perapat sebagai perapat poros. Namun selain perapat juga digunaka perapat
mekanis.

Gambar 2.3. Pompa Sentrifugal
b. Pompa Aliran Campur
Secara diagramatik aliran yang meninggalkan impeller akan bergerak
sepanjang permukaan kerucut di dalam pompa aliran campur ini.
Salah satu ujung poros dimana impeller dipasang, ditumpu oleh bantalan dalam
pada ujung yang lain dipasang kopling dengan sebuah bantalan luar di dekatnya.
Bantalan luar terdiri dari sebuah bantalan aksial dan radial yang berupa bantalan
belimbing.
8

c. Pompa Aliran Aksial
Dalam pompa aliran aksial zat cair atau fluida yang meninggalkan
impeller akan bergerak sepanjang permukaan silinder ke luar . Adapun konstruksi
pompa aliran aksial yang sesungguhnya dibawah ini,

Gambar 2.4 Pompa aliran aksial
2. Klasifikasi menurut Sisi Masuk Impeller
a. Pompa Isapan Tunggal
Konstruksi pompa ini sangat sederhana sehingga banyak dipakai dan
dibuat dipasaran. Pada pompa ini zat cair yang masuk melalui satu sisi impeller
saja. Gaya akan ditahan oleh bantalan aksial jika ukuran pompa cukup kecil.untuk
lebih jelas lihat gambar 2.8
Impeler jenis tak berimbang

Gambar 2.5. Tekanan air yang bekerja pada sisi impeller
9

b. Pompa Isapan Ganda
Pompa ini memasukkan zat cair melalui dua sisi impeller. Pada pompa ini
poros yang menggerakkan impeller dipasang menembus kedua sisi rumah dan
impeller serta ditumpu oleh bantalan diluar rumah pompa, oleh karena itu poros
lebih panjang jika dibandingkan dengan pompa jenis yang lainnya. Impeller yang
digunakan pada dasarnya sama dengan dua buah impeller pompa isapan tunggal
yang dipasang secara bertolak belakang, sehingga dengan demikian gaya aksial
yang timbul akan saling mengimbangi menjadi nol. Pompa isapan ganda dapat
dipandang sebagai pompa yang mempunyai dua buah impeller yang bekerja
secara sejajar.
Dibawah ini dapat kita lihat pompa isap ganda.

Gambar 2.6 Pompa isap ganda

3. Klasifikasi menurut Jenis Casing
a. Pompa Volut
Aliran yang keluar dari impeller pompa volut ditampung didalam volut
(rumah spiral), yang selanjutnya akan menyalurkan kenosel keluar. Harga ns dari
pompa volut bervariasi pada daerah yang cukup luas, yaitu antara 100 sampai700.

b. Pompa Difuser
Adapun pompa diffuser mempunyai difuser yang dipasang mengelilingi
impeller. Difuser berguna untuk menurunkan kecepatan aliran yang keluar dari
10

impeller, sehingga senergi kinetic aliran dapat diubah menjadi energi tekanan
secara efisien. Pompa difuser dipakai untuk memperoleh head total yang tinggi.
Harga n pompa ini berkisar antara 100 sampai 300.

Gambar 2.7. Pompa diffuser

4. Klasifikasi menurut Jumlah Tingkat
a. Pompa Satu Tingkat
Adalah pompa yang hanya memiliki satu impeller, sehingga tekanan
discharge dan head pompa hanya tergantung oleh impeller. Head total rendah
karena berasal dari satu impeller.
b. Pompa Bertingkat Banyak
Adalah pompa yang memiliki beberapa impeller yang dipasang secara
berderet dalam satu poros dan casing. Agar gaya aksial yang timbul dari putaran
impeller dapat berlangsung seimbang maka diperlukan system penyeimbang.
Pompa bertingkat ini mengahilkan head yang tinggi dan memiliki tekanan yang
tinggi yang dihasilkan oleh tiap tingkat.
11


Gambar 2.8. Pompa Bertingkat Banyak
5. Klasifikasi menurut Posisi Poros
a. Pompa Jenis Poros Mendatar
Pompa ini mempunyai poros dengan posisi mendatar seperti yang terlihat
dalam gambar 2.11. Letak poros dengan pompa selalu mendatar.

Gambar 2.9 Letak Poros Datar

b. Pompa Jenis Poros Tegak
Pompa ini mempunyai poros dengan posisi tegak seperti yang
diperlihatkan dalam gambar.2.12. pompa aliran campur dan aliran aksial sering
dibuat dengan poros tegak. Rumah pompa semacam ini digantung pada lantai oleh
pipa kolom yang menyalurkan zat cair dari pompa ke atas. Poros pompa yang
menggerkkan impeller dipasang sepanjang sumbu pipa kolom dan dihubungkan
dengan motor penggerak pada lantai.. Poros ini dipegang dibeberapa tempat
12

sepanjang pipa kolom oleh bantalan. Poros ini dpat diselubungi oleh pipa yang
berfungsi juga seperti penyalur air pelumas.


Gambar 2.10 .Pompa Poros Tegak
6. Menurut Sistem Penggerak
Menurut sistem penggeraknya pompa dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Penggerak Motor Listrik
Motor Listrik merupakan alat yang efisien untuk menggerakkan pompa
dan merupakan cara praktis untuk memperbaiki faktor daya. Penggerak dengan
motor listrik dibedakan lagi sebagai berikut :
Motor Arus Bolak balik
Motor Arus Searah
b. Penggerak Turbin Uap
Unit jenis ini umumnya dikenal dengan turbin penggerak-mekanis dan
dapat menggerakkan pompa secara langsung atau dihubungkan melalui perangkat
roda gigi pemercepat atu pengurang kecepatan tergantung kebutuhan putaran yang
dibutuhkan.

c. Penggerak Mesin Uap
13

Mesin uap sekarang ini sudah jarang dipakai. Akan tetapi mesin uap ini
masih banyak dipakai untuk penggunaan kapal tunda dan kapal keruk. Mesin
sederhana atau gabungan dipakai untuk penggerak pompa.

d. Penggerak Motor Bakar Internal
Motor bakar kira-kira hanya menggerakkan sebesar 13 % dari seluruh
pompa sentrifugal. Walaupun motor bakar jarang menjadi pilihan terbaik dari segi
ekonomi, motor bakar ini sangat penting untuk beberapa instalasi yang berbeda.

e. Penggerak Turbin Gas
Terakhir ini turbin gas menjadi populer untuk untuk menggerakkan
pompa. Dikemas dengan roda pengurang kecepatan yang terpadu, kecepatan
keluaran antara 30.000 sampai 900 rpm dapt diberikan.

2.3 Pengertian Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal adalah suatu pompa yang memindahkan cairan dengan
memanfaatkan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh putaran impeler. Pompa
sentrifugal mengubah enegi kecepatan menjadi energi tekanan. Ada juga yang
menyebutnya sebagai mesin kecepatan karena semakin cepat putaran pompanya
maka akan semakin tinggi tekanan (head) dihasilkan.

2.4 Prinsip Kerja Pompa Sentrifugal
Cairan masuk ke impeler dengan arah aksial melalui mata impeler
(impeller eye) dan bergerak ke arah radial diantara sudu-sudu impeler (impeller
vanes) hingga cairan tersebut keluar dari diameter luar impeler. Ketika cairan
tersebut. meninggalkan impeler, cairan tersebut dikumpulkan didalam rumah
pompa (casing).
14

Salah satu desain casing dibentuk sepertiyang mengumpulkan cairan dari
impeler dan mengarahkannya ke discharge nozzle. Discharge nozzle dibentuk
seperti suatu kerucut sehingga kecepatan aliran yang tinggi dari impeler secara
bertahap turun. Kerucuspiral t ini disebut difuser (diffuser). Pada waktu
penurunan kecepatan di dalam diffuser, energi kecepatan pada aliran cairan
diubah menjadi energi tekanan..

2.5 Rumus yang Digunakan
Head statis total :
(


Dimana :
Z = Head statis total
Z
d
= Head statis pada sisi tekan
Z
s
= Head statis pada sisi isap


Head kecepatan :


Dimana :

= Kecepatan fluida pada saluran tekan


= Kecepatan fluida pada saluran isap


G = Grafitasi

Head Loss Mayor


Dimana :

= head loss mayor


= faktor gesekan
15

L = panjang pipa
V = kecepatan rata-rata fluida dalam pipa
D = diameter pipa
Reynold Number :


Dimana :

= Reynold number
= Density fluida cair
= Viskositas absolut fluida cair

Head Loss Minor :


Dimana :
n = Jumlah fitting / valve yang sama
k = Koefisien gesekan


Head Total



Laju Aliran Massa Melalui Pompa :
(

)
Daya Hydraulic :

()

Daya Listrik masukan pompa :

= W
Effisiensi pompa :
16



Kenaikan tekanan yang melintasi pompa :


Tekanan pada saluran masuk pompa :

( Pengukuran)

Tekanan paralel :



Tekanan seri dan single :




Pipa sangat pendek :



Pipa satu meter :



Pipa dua meter :



Effisiensi pompa :



17

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Percobaan











Ya Tidak









START
Setting katup

Mulai percobaan

Amati pada Percobaan

Masukan dalam tabel

SELESAI
Perhitungan hasil
percobaan
18

3.2 Prosedur Pengujian
a. Setting katup untuk ketelitian pengujian pompa.
b. Setting kecepatan pompa yang diinginkan.
c. Nyalakan switch dengan menekan tombol hijau pada penyangga.
d. Setting laju aliran pengiriman dengan menyetel pintu katup pada
sisi luar pompa. Itu mempermudah untuk memulai dengan
membuka pintu katup secara penuh. Ukur laju aliran menggunakan
hydraulic bench (lihat petunjuk pada panduan hydraulic bench
untuk mengukur laju aliran)
e. Baca tekanan pada semua pompa melalui Switch P
1
dan P
2
.
Pastikan switch dimatikan setelah melakukan pengukuran
semuanya.
f. Masukkan hasilnya dalam tabel.
g. Ulangi untuk beberapa laju aliran yang berbeda selama katup
pengontrol tertutup rapat.
h. Ukur perbedaan tinggi antara permukaan air di dalam reservior dan
saluran masuk pompa. Hitung tekanan yang masuk (P
in
).
i. Hitung Debit pada masing-masing percobaan.
j. Hitung dan kelompokkan effisiensi seluruhnya dari pompa.
k. Buat grafik antara kenaikan tekanan laju aliran atau (laju aliran)
2
.
l. Buat grafik hubungan antara effisiensi dengan debit.

3.3 Alat dan Bahan yang Digunakan
Pompa sentrifugal
Katup
Oplivery pressure
Fluida (air)
Menometer
Stopwatch

19

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Data Percobaan
1. Menghitung Debit pada masing-masing percobaan
a. Percobaan I ( single 1800 rpm)



b. Percobaan II ( seri 1150rpm)



c. Percobaan III ( seri 750rpm dan 1800rpm)



d. Percobaan IV ( paralel 1150rpm)


20



e. Percobaan V ( paralel 750rpm dan 1800rpm)



2. Menghitung tekanan yang masuk



a. Percobaan I ( single 1800 rpm)
Kecepatan V
1



21

Kecepatan V
2



Kecepatan rata-rata :



22




Tekanan masuk :





b. Percobaan II ( single 1800 rpm)
Kecepatan V
1


23



Kecepatan V
2


Kecepatan rata-rata :


24





Tekanan masuk :




c. Percobaan III ( Seri 750 & 1800 rpm)
Kecepatan V
1


25



Kecepatan V
2


Kecepatan rata-rata :


26




Tekanan masuk :





d. Percobaan IV ( Paralel 1150 rpm)
Kecepatan V
1


27



Kecepatan V
2


Kecepatan rata-rata :




28






Tekanan masuk :





29

e. Percobaan V ( Paralel 750 & 1800 rpm)
Kecepatan V
1



Kecepatan V
2



Kecepatan rata-rata :


30




Tekanan masuk :



31

3. Menghitung Effisiensi dari masing-masing percobaan


Percobaan 1 (Single 1800 rpm ): W = 105 Watt



Percobaan II (Seri 1150 rpm ): W = 70Watt


Percobaan III (Seri 750 & 1800 rpm ): W = 145 Watt



32



Percobaan IV (Paralel 1150 rpm ): W = 70 Watt



Percobaan IV (Paralel 750 & 1800 rpm ): W = 145 Watt





33

4.2 Tabel dan Grafik Hasil Perhitungan
4. Grafik perbandingan
a. Grafik hubungan H dengan Q pada pompa tunggal
Head Pompa Tunggal (H) Debit Pompa Tunggal (Q)
0,65 0,08 x 10
-3
0,65 0,18 x 10
-3

0,66 0,17 x 10
-3

0,65 0,175 x 10
-3

Tabel 4.1 Head Pompa Tunggal (H) Vs Debit Pompa Tunggal (Q)


Grafik 4.1 Head Pompa Tunggal (H) Vs Debit Pompa Tunggal (Q)
b. Grafik hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan seri 1150 rpm
Head Pompa
Tunggal (H)
Debit Pompa
Tunggal (Q)
Head Pompa Seri
(H)
Debit Pompa Seri
(Q)
0,65 0,08 x 10
-3
0,74 0,1 x 10
-3

0,65 0,18 x 10
-3
0,74 0,18 x 10
-3

0,66 0,17 x 10
-3
0,74 0,188 x 10
-3

0,65 0,175 x 10
-3
0,72 0,186 x 10
-3

Tabel 4.2 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan seri 1150 rpm
0.644
0.646
0.648
0.65
0.652
0.654
0.656
0.658
0.66
0.662
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,17 x 10-3 0,175 x 10-3
Head Pompa Tunggal
34


Grafik 4.2 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan seri 1150 rpm

Grafik hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan seri 750 &1800 rpm
Head Pompa
Tunggal (H)
Debit Pompa
Tunggal (Q)
Head Pompa Seri
(H)
Debit Pompa Seri
(Q)
0,65 0,08 x 10
-3
0,75 0,1 x 10
-3

0,65 0,18 x 10
-3
0,74 0,215 x 10
-3

0,66 0,17 x 10
-3
0,71 0,2 x 10
-3

0,65 0,175 x 10
-3
0,72 0,2 x 10
-3

Tabel 4.3 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan seri 750 &1800 rpm

0.6
0.62
0.64
0.66
0.68
0.7
0.72
0.74
0.76
0,1 x 10-3 0,18 x 10-3 0,188 x 10-30,186 x 10-3
Head Pompa Tunggal
Head Pompa Seri
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
35


Grafik 4.3 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan seri 750 &1800 rpm

c. Grafik hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan paralel 1150rpm
Head Pompa
Tunggal (H)
Debit Pompa
Tunggal (Q)
Head Pompa
Paralel (H)
Debit Pompa
Paralel (Q)
0,65 0,08 x 10
-3
0,74 0,1 x 10
-3

0,65 0,18 x 10
-3
0,74 0,18 x 10
-3

0,66 0,17 x 10
-3
0,74 0,188 x 10
-3

0,65 0,175 x 10
-3
0,72 0,186 x 10
-3

Tabel 4.4 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan paralel 1150rpm
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Head Pompa Tunggal
Head Pompa Seri
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
36


Grafik 4.4 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan paralel 1150rpm

Grafik hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan paralel 750 & 1800 rpm
Head Pompa
Tunggal (H)
Debit Pompa
Tunggal (Q)
Head Pompa
Paralel (H)
Debit Pompa
Paralel (Q)
0,65 0,08 x 10
-3
0,76 0,08 x 10
-3

0,65 0,18 x 10
-3
0,73 0,18 x 10
-3

0,66 0,17 x 10
-3
0,73 0,2 x 10
-3

0,65 0,175 x 10
-3
0,73 0,19 x 10
-3

Tabel 4.5 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan paralel 1150rpm

0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Head Pompa Tunggal
Head Pompa Paraleli
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
37


Grafik 4.5 hubungan H dengan Q pada pompa tunggal dan paralel 750 & 1800
rpm

d. Grafik perbandingan hubungan H dan Q pada pompa seri 1150 rpm dan paralel
1150 rpm
Head Pompa Seri
(H)
Debit Pompa Seri
(Q)
Head Pompa
Paralel (H)
Debit Pompa
Paralel (Q)
0,65 0,1 x 10
-3
0,74 0,1 x 10
-3

0,65 0,18 x 10
-3
0,74 0,18 x 10
-3

0,66 0,188 x 10
-3
0,74 0,188 x 10
-3

0,65 0,186 x 10
-3
0,72 0,186 x 10
-3

Tabel 4.6 hubungan H dan Q pada pompa seri 1150 rpm dan paralel 1150 rpm


0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Head Pompa Tunggal
Head Pompa Paraleli
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
38


Grafik 4.6 hubungan H dan Q pada pompa seri 1150 rpm dan paralel 1150 rpm

Grafik perbandingan hubungan H dan Q pada pompa seri 750 & 1800 rpm dan
paralel 750 & 1800 rpm
Head Pompa Seri
(H)
Debit Pompa Seri
(Q)
Head Pompa
Paralel (H)
Debit Pompa
Paralel (Q)
0,62 0,01 x 10
-3
0,76 0,08 x 10
-3

0,63 0,165 x 10
-3
0,73 0,18 x 10
-3

0,62 0,188 x 10
-3
0,73 0,2 x 10
-3

0,62 0,175 x 10
-3
0,73 0,19 x 10
-3

Tabel 4.7 hubungan H dan Q pada pompa seri 750 & 1800 rpm dan paralel 750 &
1800 rpm
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Head Pompa Seri
Head Pompa Paraleli
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
39


Grafik 4.7 hubungan H dan Q pada pompa seri 750 & 1800 rpm dan paralel 750
& 1800 rpm
e. Grafik perbanding hubungan H dan Q pada pompa tunggal, seri, dan Paralel
Head
Pompa
Tunggal
(H)
Debit
Pompa
Tunggal
(Q)
Head
Pompa
Seri
1150
rpm
(H)
Debit
Pompa
Seri
1150
rpm
(Q)
Head
Pompa
Seri
750 &
1800
rpm
(H)
Debit
Pompa
Seri
750 &
1800
rpm
(Q)
Head
Pompa
Paralel
1150
rpm
(H)
Debit
Pompa
Paralel
1150
rpm
(Q)
Head
Pompa
Paralel
750 &
1800
rpm
(H)
Debit
Pompa
Paralel
750 &
1800
rpm
(Q)
0,65 0,88 x
10
-3
0,74 0,1 x
10
-3

0,62 0,1 x
10
-3

0,75 0,1 x
10
-3

0,76 0,08 x
10
-3

0,65 0,18 x
10
-3

0,74 0,18 x
10
-3

0,63 0,165
x 10
-3

0,74 0,215
x 10
-3

0,73 0,18 x
10
-3

0,66 0,17 x
10
-3

0,74 0,188
x 10
-3

0,62 0,188
x 10
-3

0,71 0,2 x
10
-3

0,73 0,2 x
10
-3

0,65 0,175 x
x 10
-3

0,72 0,186
x 10
-3

0,62 0,175
x 10
-3

0,72 0,2 x
10
-3

0,73 0,19 x
10
-3

Tabel 4.8 Hubungan H dan Q pada pompa tunggal, seri, dan paralel
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Head Pompa Seri
Head Pompa Paraleli
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
40


Grafik 4.8 Hubungan H dan Q pada pompa tunggal, seri, dan paralel
f. Grafik antara kenaikan tekanan dengan laju aliran
a. Percobaan I Single 1800 rpm
Laju aliran Tekanan
0,08 x 10
-3
20,2
0,18 x 10
-3
98,4
0,17 x 10
-3
88,21
0,175 x 10
-3
80,707
Tabel 4..9 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran single 1800rpm


Grafik 4.9 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran 1800 rpm
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0,1 x 10-3 0,215 x
10-3
0,2 x 10-30,2 x 10-3
Head Pompa Tunggal
Head Pompa Seri
1150rpm
Head Pompa Seri 750
&1800rpm
Head Pompa Paralel
1150rpm
Head Pompa Paralel
750 & 1800rpm
H
e
a
d

P
o
m
p
a

(
H
)

Debit Pompa (Q)
0
20
40
60
80
100
120
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,17 x 10-3 0,175 x 10-3
41

b. Percobaan II Seri 1150 rpm
Laju aliran Tekanan
0,1 x 10
-3
31,55
0,18 x 10
-3
99,29
0,188 x 10
-3
108,14
0,184 x 10
-3
105,89
Tabel 4.10 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Seri 1150 rpm

Grafik 4.10 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Seri 1150 rpm
c. Percobaan III Seri 750 &1800 rpm
Laju aliran Tekanan
0,1 x 10
-3
31,45
0,165 x 10
-3
83,62
0,188 x 10
-3
108,14
0,175 x 10
-3
93,85
Tabel 4.11 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Seri 750 & 1800
rpm
0
20
40
60
80
100
120
0,1 x 10-3 0,18 x 10-3 0,188 x 10-3 0,184 x 10-3
T
e
k
a
n
a
n

Laju Aliran
42


Grafik 4.11 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Seri 750 &
1800 rpm
d. Percobaan IV Paralel 1150 rpm
Laju aliran Tekanan
0,1 x 10
-3
3,9
0,215 x 10
-3
140,86
0,2 x 10
-3
121,5
0,2 x 10
-3
121,5
Tabel 4.12 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Paralel 1150
rpm

Grafik 4.12 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Paralel 1150
rpm
0
20
40
60
80
100
120
0,1 x 10-3 0,165 x 10-3 0,188 x 10-3 0,175 x 10-3
T
e
k
a
n
a
n

Laju Aliran
0
20
40
60
80
100
120
140
160
0,1 x 10-3 0,215 x 10-3 0,2 x 10-3 0,2 x 10-3
T
e
k
a
n
a
n

43

e. Percobaan V Paralel 750 & 1800 rpm
Laju aliran Tekanan
0,08 x 10
-3
20,1
0,18 x 10
-3
98,64
0,2 x 10
-3
121,5
0,19 x 10
-3
109,77
Tabel 4.13 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Paralel 750 &
1800 rpm

Grafik 4.13 Hubungan antara kenaikan tekanan dengan laju aliran Paralel 750 &
1800 rpm

g. Grafik Hubungan antara efisiensi dengan debit
a. Percobaan I Single 1800 rpm
Efisiensi Debit
1,53 x 10
-5
0,08 x 10
-3

1,68 x 10
-4
0,18 x 10
-3

1,42 x 10
-3
0,17 x 10
-3

1,34 x 10
-3
0,175 x 10
-3

Tabel 4.14 Hubungan antara efisiensi dengan debit Single 1800 rpm
0
20
40
60
80
100
120
140
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Laju Aliran
44


Grafik 4.14 Hubungan antara efisiensi dengan debit Single 1800 rpm
b. Percobaan II Seri 1150 rpm
Efisiensi Debit
4,5 x 10
-3
0,1 x 10
-3

2,55 x 10
-2
0,18 x 10
-3

2,9 x 10
-2
0,188 x 10
-3

2,881 x 10
-2
0,184 x 10
-3

Tabel 4.15 Hubungan antara efisiensi dengan debit Seri 1150 rpm

Grafik 4.15 Hubungan antara efisiensi dengan debit Seri 1150 rpm
0
0.0002
0.0004
0.0006
0.0008
0.001
0.0012
0.0014
0.0016
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,17 x 10-3 0,175 x 10-3
Series1
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
0,01 x 10-3 0,18 x 10-3 0,188 x 10-
3
0,184 x 10-
3
E
f
i
s
i
e
n
s
i

45

c. Percobaan III Seri 750 &1800 rpm
Efisiensi Debit
2,17 x 10
-3
0,1 x 10
-3

9,5 x 10
-3
0,165 x 10
-3

1,4 x 10
-2
0,188 x 10
-3

1,33 x 10
-2
0,175 x 10
-3

Tabel 4.16 Hubungan antara efisiensi dengan debit Seri 750 &1800 rpm

Grafik 4.16 Hubungan antara efisiensi dengan debit Seri 750 &1800 rpm
d. Percobaan IV Paralel 1150 rpm
Efisiensi Debit
5,57 x 10
-4
0,1 x 10
-3

4,32 x 10
-2
0,215 x 10
-3

3,47 x 10
-2
0,2 x 10
-3

3,47 x 10
-2
0,2 x 10
-3

Tabel 6.17 Hubungan antara efisiensi dengan debit Paralel 1150 rpm
0
0.002
0.004
0.006
0.008
0.01
0.012
0.014
0.016
0,01 x 10-3 0,165 x 10-3 0,188 x 10-3 0,175 x 10-3
E
f
i
s
i
e
n
s
i

46


Grafik 4.17 Hubungan antara efisiensi dengan debit Paralel 1150 rpm
e. Percobaan V Paralel 750 & 1800 rpm
Efisiensi Debit
1,1 x 10
-3
0,08 x 10
-3

1,22 x 10
-2
0,18 x 10
-3

1,67 x 10
-2
0,2 x 10
-3

1,43 x 10
-2
0,19 x 10
-3

Tabel 4.18 Hubungan antara efisiensi dengan debit Paralel 750 & 1800 rpm

Grafik 4.18 Hubungan antara efisiensi dengan debit Paralel 750 & 1800 rpm

0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
0.04
0.045
0.05
0,1 x 10-3 0,215 x 10-3 0,2 x 10-3 0,2 x 10-3
E
f
i
s
i
e
n
s
i

0
0.002
0.004
0.006
0.008
0.01
0.012
0.014
0.016
0.018
0,08 x 10-3 0,18 x 10-3 0,2 x 10-3 0,19 x 10-3
Series1
E
f
i
s
i
e
n
s
i

47

5. Buat analisa dari masing-masing grafik tersebut
Grafik 1
Pada grafik tersebut diperoleh nilai hasil pompa tunggal percobaan I didapatkan
nilai tertinggi head pompa sebesar 0,66 terjadi pada debit pompa sebesar 0,17 x
10
-3
Grafik 2 dan Grafik 3
Dari grafik tersebut didapatkan nilai head pompa seri lebih besar dibandingkan
dengan head pompa tunggal
Grafik 4 dan Grafik 5
Dari grafik tersebut didapatkan nilai head pompa paralel lebih besar dibandingkan
dengan head pompa tunggal


Grafik 6 dan Grafik 7
Dari grafik tersebut didapatkan nilai head pompa paralel lebih besar dibandingkan
dengan head pompa seri
Grafik 8
Dari grafik tersebut bahwa nilai head pompa seri 1150 rpm cenderung lebih
tinggi, sedangkan head pompa seri 750 &1800 rpm memiliki nilai yang lebih
rendah
Grafik 9
Dari grafik tersebut didapat nilai tekanan terbesar sebesar 98,4 pada laju aliran
sebesar 0,17 x 10
-3
dan tekanan terkecil sebesar 20,2 pada laju aliran sebesar 0,08
x 10
-3
Grafik 10
48

Dari grafik tersebut didapat nilai tekanan tertinggi terdapat pada titik 108,14 pada
laju aliran sebesar 0,188 x 10
-3
dan tekanan terndah sebesar 31,55 pada laju aliran
sebesar 0,1 x 10
-3

Grafik 11
Dari grafik tersebut didapat nilai tekanan terbesar sebesar 108,14 pada laju aliran
sebesar 0,188 x 10
-3
dan tekanan terkecil sebesar 31,45 pada laju aliran sebesar
0,1 x 10
-3
Grafik 12
Dari grafik tersebut didapatkan tekanan terbesar sebesar 140,86 pada laju aliran
sebesar 0,215 x 10
-3
dan tekanan terkecil sebesar 3,9 pada laju aliran sebesar 0,1 x
10
-3




Grafik 13
Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai tekanan terbesar sebesar 121,5
pada laju aliran sebesar 0,2 x 10
-3
dan tekanan terkecil sebesar 20,1 dengan laju
aliran sebesar 0,08 x 10
-3
Grafik 14
Dari grafik tersebut didapatkan nilai efisiensi terbesar sebesar 1,42 x 10
-3
pada
laju aliran sebesar 0,17 x 10
-3
Grafik 15
Dari grafik tersebut nilai efisiensi terbesar sebesar 2,9 x 10
-2
pada laju aliran
sebesar 0,188 x 10
-3
dan effisiensi terkecil sebesar 4,5 x 10
-3
debit sebesar 0,1 x
10
-3
Grafik 16
49

Dari grafik tersebut didapatkan nilai efisiensi terbesar sebesar 1,4 x 10
-2
pada
debit sebesar 1,88 x 10
-3
dan nilai efisiensi terkecil sebesar 2,17 x 10
-3
pada debit
sebesar 0,1 x 10
-3
Grafik 17
Dari grafik tersebut nilai efisiensi terbesar sebesar 4,32 x 10
-2
pada debit 1,215 x
10
-3

Grafik 18
Dari grafik tersebut nilai efisiensi terbesar sebesar 1,67 x 10
-2
pada laju aliran
sebesar 0,2 x 10
-3
6. kesimpulan dari masing-masing percobaan
Percobaan 1 pompa tunggal vs debit bagus
Percobaan 2 debit pompa seri rata-rata 1,63 x 10
-4
m
3
/s
Percobaan 3 debit pompa seri rata-rata sebesar 1,57 x 10
-4
m
3
/s
Percobaan 4 debit pompa paralel rata-rata sebesar 1,78 x 10
-4
m
3
/s
Percobaan 5 debit pompa paralel rata-rata sebesar 3,42 x 10
-4
m
3
/s
Debit paralel memiliki nilai yang lebih besar daripada debit seri
4.3 Tugas tugas
1. Bilangan Reynold adalah bilangan tanpa dimensi, sehingga harganya tidak
tergantung pada sistem satuan yang dipakai
2. Besarnya bilangan reynold dapat dibedakan sebagai berikut :
Nilai Re < 2000 termasuk kedalam aliran laminer
Nilai Re > 4000 termasuk aliran turbulen




50

BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan didapat debit dari masing-masing percobaan
f. Percobaan I ( single 1800 rpm)



g. Percobaan II ( seri 1150rpm)



h. Percobaan III ( seri 750rpm dan 1800rpm)



i. Percobaan IV ( paralel 1150rpm)


51



j. Percobaan V ( paralel 750rpm dan 1800rpm)



Percobaan 1 pompa tunggal vs debit bagus
Percobaan 2 debit pompa seri rata-rata 1,63 x 10
-4
m
3
/s
Percobaan 3 debit pompa seri rata-rata sebesar 1,57 x 10
-4
m
3
/s
Percobaan 4 debit pompa paralel rata-rata sebesar 1,78 x 10
-4
m
3
/s
Percobaan 5 debit pompa paralel rata-rata sebesar 3,42 x 10
-4
m
3
/s
Debit paralel memiliki nilai yang lebih besar daripada debit seri
Pada kenaikan yang terjadi terdapat perbedaan antara laju aliran
pada pipa 5 dan 6, hal ini di sebabkan terjadinya head loss pada
saluran pipa 4


5.2 Saran
Sebaiknya alat ukur dalam praktikum ini harus di perbaruhi agar bisa
memperoleh data pengukuran yang presisi



52

DAFTAR PUSTAKA

Assisten Laboratorium Prestasi Mesin Modul Praktikum Laporan Prestasi
Mesin 2014. FT UNTIRTA. Cilegon
ukmsttmigas.blogspot.com/2013/05/makalah-pompa-sentrifugal.html
www.sandaipump.com/.../info%20pompa%20sentrifugal%202.html
ml.scribd.com/doc/32235908/Prinsip-Kerja-Pompa-Sentrifugal