Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR/ SEMI


PADAT
LARUTAN







OLEH:
KELOMPOK VI


LABORATORIUM FARMASETIKA
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Salah satu bentuk sediaan farmasi adalah sediaan cair yang terdiri
dari larutan, suspensi dan emulsi. Sediaan cair yang mengandung dua
atau lebih zat terlarut obat, baik berupa zat padat, cair atau gas yang
molekulnya terdispersi kedalam pelarut yang cocok untuk membentuk
sistem termodinamika yang stabil secara fisika dan kimia disebut sebagai
larutan.Jadi, komponen larutan terdiri dari zat terlarut (solut) dan zat
pelarut (solven).Adapun kemampuan zat terlarut untuk terdispersi kedalam
pelarut yang sesuai disebut sebagai kelarutan.
Dalam percobaan ini sebelum melakukan praktikum terlebih dahulu
dilakukan preformulasi dan formulasi, kemudian hasil formulasi
dipraktekkan di laboratorium. Adapun hasil formulasi terdiri dari zat aktif
dan zat tambahan yang dipilih sesuai dengan literatur yang ada.
Contoh formula yang dibuat dalam percobaan ini yaitu obat batuk
asma yang mengandung zat aktif salbutamol sulfat dan ambroksol HCl
serta zat tambahan seperti pemanis, pengawet, pewarna, pengaroma
serta pelarutnya.
Sebagai seorang farmasis dituntut untuk belajar menjadi formulator
yang baik, sehingga nantinya akan dengan mudah dalam pembuatan
sediaan dan menghasilkan sediaan yang nyaman bagi pasiennya.

I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1. Maksud Percobaan
Dapat mengetahui dan memahami cara formulasi
sediaan larutan dan pembuatan sediaan tersebut.
I.2.2. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami cara formulasi larutan
obat batuk asma dan cara membuat sediaan tersebut.
I.3. Prinsip Percobaan
Berdasarkan pemilihan bahan aktif dan bahan tambahan dalam
preformulasi sampai formulasi sediaan larutan obat batuk asma. Dan
dengan pembuatan sediaan tersebut sesuai prosedur kerja, yang
ditempatkan dalam botol coklat, dimasukkan kedalam wadah dan diberi
etiket dan brosur.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Teori Umum
Larutan merupakan sediaan cairan berupa campuran homogen
yang terdiri atas satu atau lebih zat terlarut baik berupa padatan,
cairan atau gas dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut
yang bercampur membentuk system termodinamika yang stabil
secara fisika dan kimia dimana zat terlarut terdispersi dalam sejumlah
pelarut untuk membentuk cairan jernih.
Kelarutan merupakan kemampuan suatu zat untuk melarut atau
terdispersi dalam pelarut yang sesuai pada temperatur 20
0
C dan
banyaknya jumlah zat terlarut pada zat yang dapat dilarutkan oleh
sejumlah zat terlarut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan antara lain:
1. Polaritas
Sifat polar atau non-polar dapat mempengaruhi kelarutan dimana
senyawa yang bersifat polar hanya bisa dilarutkan oleh senyawa
atau pelarut polar.Begitupun sebaliknya, senyawa yang bersifat
non-polar hanya bisa melarutkan senyawa yang bersifat non-polar
juga dan biasanya disebut dengan istilah Like dissolve like.
2. Kosolvensi
Suatu zat yang ditambahkan untuk meningkatkan kelarutan dari
elektrolit lemah dan molekul non-polar dalam air.Kosolven hanya
melarutkan bagian zat yang tidak bisa dilarutkan sepenuhnya oleh
air.Jadi, zat terlarut ditambah kosolven, kemudian ditambahkan
pelarut air.Contoh kosolven adalah etanol, gliserol, propilenglikol,
sorbitol, dll.
3. Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat
tersebut bersifat endoterm karena proses kelarutannya
membutuhkan panas.
4. Salting out dan salting in
Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang
mempunyai kelarutan lebih besar dibandingkan zat utamanya,
sehingga menyebabkan penurunan kelarutan zat utama,
sedangkan salting in adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu
yang mempunyai kelarutan lebih kecil dibandingkan zat utamanya,
sehingga menyebabkan kenaikan kelarutan zat utama.
5. Pembentukan kompleks
Adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tidak larut
dan zat yang larut dengan membentuk senyawa kompleks yang
larut.
6. Hidrotropi
Adalah peristiwa bertambahnya kelarutan suatu senyawa yang
tidak larut atau sukar larut dengan penambahan senyawa lain
namun bukan surfaktan. Mekanismenya mungkin salting in,
kompleksasi atau kombinasi beberapa faktor.
7. Parameter kelarutan
Hanya untuk memprediksi apakah larut atau tidak dalam suatu
sistem tersebut dengan menggunakan rumus.
8. Efek ion
Jika zat yang terisonisasi sempurna akan larut sempurna,
sedangkan jika terionisasi sebagian tidak larut seluruhnya.
9. Ukuran partikel
Makin halus zat terlarut, makin kecil ukuran partikel, makin luas
permukaannya yang kontak dengan pelarut, sehingga zat terlarut
makin cepat larut.
10. Bentuk dan ukuran molekul
Sifat-sifat dapat melarutkan oleh air sebagian besar disebabkan
oleh ukuran molekulnya yang kecil.
Pembagian larutan antara lain:
1. Pembagian larutan secara umum.
- Larutan sederhana adalah larutan yang terdiri dari satu jenis zat
terlarut.
- Larutan campuran adalah larutan yang terdiri dua jenis atau
lebih zat terlarut
- Larutan stok adalah larutan yang dibuat sebagai bahan / pelarut
pada pembuatan resep.
2. Larutan berdasarkan banyaknya zat terlarut
- Larutan encer adalah sejumlah kecil zat terlarut dalam larutan.
- Larutan pekat adalah fraksi besar larutan yang terdiri dari zat
terlarut.
- Larutan jenuh adalah mengandung sejumlah zat maximum dari
zat terlarut yang dapat bercampur dengan air pada suhu dan
tekanan tertentu.
- Larutan lewat jenuh adalah sejumlah zat terlarut yang melebihi
batas kelarutannya dalam air pada suhu kamar.
3. Berdasarkan fungsi
- Collyrium adalah Larutan yang dimaksudkan digunakan pada
mata.
- Collunarium adalah Larutan yang dimaksudkan digunakan pada
hidung.
- Collutorium adalah Larutan yang dimaksudkan sebagai obat
kumur.
- Gargle adalah Larutan yang dimaksudkan digunakan pada
mulut dan tenggorokan.
- Spray adalah Larutan yang dimaksudkan digunakan dengan
cara disemprot.
- Injeksi adalah Larutan yang dimaksudkan digunakan dengan
cara disuntikkan.
- Dauche adalah Larutan yang dimaksudkan digunakan pada
vagina.
- Larutan oral adalah Larutan yang dimaksudkan pada
penggunaan oral seperti potiones, eliksir, sirup, saturation, dll.
- Enema adalah Larutan yang dimaksudkan untuk disisipkan ke
rektum.
4. Berdasarkan sifat fisika-kimia
- Larutan langsung (direct)
Larutan yang terjadi karena semata-mata peristiwa fisika, buka
peristiwa kimia. Misalnya, NaCl atau KBr dilarutkan kedalam air,
jika pelarutnya (air) diuapkan, maka NaCl atau KBr akan
diperoleh kembali.
- Larutan tidak langsung (indirect)
Larutan yang terjadi semata-mata karena perubahan kimia,
bukan peristiwa fisika. Misalnya jika Zn ditambahkan H
2
SO
4
,
maka akan terjadi reaksi kimia menjadi larutan ZnSO
4
yang
tidak dapat kembali menjadi Zn dan H
2
SO
4
.
5. Berdasarkan ukuran
- Larutan mikromolekuler
Adalah suatu larutan yang secara keseluruhan mengandung
mikrounit yang terdiri atas molekul atau ion, seperti alcohol,
gliserin, ion natrium, dan ion klorida dengan ukuran 1-10 .

- Larutan miseler
Suatu larutan yang mengandung bahan padat terlarut berupa
agregat (misel) baik dalam bentuk molekul atau ion.Jadi, larutan
miseler dapat dianggap sebagai larutan perserikatan koloid.
- Larutan makromolekuler
Larutan yang mengandung bahan padat terlarut berupa larutan
mikromolekuler, tetapi ukuran molekul atau ionnya lebih besar
dari mikromolekuler, misalnya larutan PGA, larutan CMC,
larutan albumin, dan larutan polivinil pirolidon.
Adapun istilah kelarutan antara lain:
Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang
dapat melarutkan 1 gram zat
Sangat mudah larut
Mudah larut
Larut
Agak sukar larut
Sukar larut
Sangat sukar larut
Praktis tidak larut
<1
1-10
10-30
30-100
100-1.000
1.000-10.000
>10.000


Keuntungan dan kerugian larutan:
Keuntungan
- Dosisnya dapat atau mudah divariasikan.
- Aksi obat terjadi cepat karena obat lebih mudah atau cepat
diabsorpsi dalam bentuk larutan.
- Sediaan larutan mudah diberikan perasa, pemanis dan
pewarna.
- Keuntungan bagi anak-anak atau pasien yang tidak dapat
menelan tablet atau kapsul.
- Beberapa obat mengiritasi mukosa lambung ketika diberikan
dalam sediaan tablet atau kapsul.
Kerugian
- Kurang stabil dari segi mikrobiologi dan kimia daripada sediaan
padat.
- Beberapa obat untuk penggunaan oral tidak cocok sebagai
sediaan larutan jika rasanya pahit.
- Harus menggunakan pengawet.
- Mudah pecah atau tidak efisien atau tidak mudah dibawah
kemana-mana.
- Penggunaannya ribet.



Adapun komposisi larutan beserta contohnya antara lain:
1. Zat aktif
Contoh: Parasetamol, Atropin sulfat, codein, morfin sulfat, luminal,
sulfadiazin, dll.
2. Solvent (pelarut)
- Air (H
2
O) : melarutkan garam-garam seperti NaCl.
- Alcohol : melarutkan mentol, kamfer, dan Iodium.
- Gliserin : melarutkan zat-zat borax, fenol.
- Eter : melarutkan kamfer, fosfat.
- Minyak : melarutkan kamfer, mentol.
- Paraffin liq : melarutkan cera, cetaceum, minyak-minyak dan
kamfer.
3. Zat tambahan
Contoh:
- Pengawet : etanol, asam benzoat, asam sorbat, etil paraben,
metil paraben, natrium propionat.
- Perasa : Sorbitol, mannitol, xylitol, saccharin, aspartame, dll.
- Pewarna : Tartrazin, karmin, karotenoid, caramel, dll.
- Pengaroma : Oleum citri, peppermint, raspberry, anise,
cinnamon, dll.
- Pengstabil : Asam askorbat, asam sitrat, sodium metabisulfit,
sodium sulfit, natrium sulfit.
Larutan dikatakan stabil secara termodinamika apabila energi
bebas permukaan=0 yang berarti bahwa tidak banyak energi yang
diperlukan untuk membentuk larutan stabil.
Rumus:
F=.SL.A

II.2. Uraian Bahan
1. Ambroksol HCl
Nama IUPAC : 4-{[(2-amino-3-s-dibromophenyl) methyl-
aminocycloheksanol)
RM/BM : C
13
H
18
Br
2
N
2
O.HCl/378,1 gram/mol
Pemerian : Serbuk kristal putih atau sedikit kekuningan.
Kelarutan : Sedikit larut dalam air, larut dalam metanol,
praktis tidak larut dalam kloroform.
Khasiat : sebagai mukolitik ekspektoran.
Farmakologi : Absorpsi: cepat diabsorpsi setelah pemberian
peroral, bioavailabilitas oral kira-kira 70-80%.
Distribusi: waktu paruh distribusi 1-3 jam.
Metabolisme: matabolit dibromoanthranilic
acid. Ekskresi: melalui ginjal.
Stabilitas penyimpanan: Disimpan terlindung dari cahaya.
Kontraindikasi : Absolut kontraindikasi masih belum diketahui.
Efek samping : Gangguan ringan pada saluran pencernaan,
reaksi alergi.
DL : 30-60mg/-
2. Salbutamol sulfat
Nama resmi : SALBUTAMOL
Sinonim : Mesoprostol
RM/BM : C
13
H
21
NO
3
/239,3
Pemerian : Putih, hampir putih, bentuk Kristal.
Kelarutan : Larut dalam alkohol, sedikit larut dalam air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : zat aktif
DL : 2-4mg/-
3. Aquadest (FI edisi III P.96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Sinonim : Air suling
RM/BM : H
2
O/18,02
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau;
tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : sebagai pelarut.
4. Natrium sakarin (FI edisi III P.561)
Nama resmi : SACCHARINUM NATRICUM
Pemerian : Hablur, putih; tidak berbau atau agak aromatik;
sangat manis.
Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air dan dalam 50 bagian
etanol (95%) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : sebagai pemanis.
5. Nipagin (Excipient P.310)
Nama resmi : METHYL HYDROXIBENZOATE
Sinonim : metil para hidroxybenzoat/methyl oxiben
Pemerian : Kristal tidak berwarna atau serbuk putih,
berbau atau tidak berbau, seperti bau lemak
Kelarutan : larut dalam 400 bagiam air, dalam 3 bagian
alcohol, 10 bagian eter, mudah larut dalam
metal alkohol.
Konsentrasi : 0,015-0,2%
Kegunaan : sebagai Pengawet
Incomp : penurunan aktivitas antimikrobanya dengan
obat sufraktan Non ionik.
6. Oleum citri (FI edisi III P.455)
Nama resmi : OLEUM CITRI
Sinonim : Minyak jeruk
Pemerian : Cairan, kuning pucat atau kuning kehijauan,
bau khas; rasa pedas dan agak pahit.
Penyimpanan : Dalam wadah terisi penuh dan tertutup rapat,
terlindung dari cahaya; ditempat sejuk.
Kegunaan : Sebagai pengaroma
7. Tartrazin (Excipient P.195)
Nama resmi : TARTRAZIN
Sinonim : F D & C yellow No.5
Pemerian : Tepung berwarna kuning jingga
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sedikit larut dalam
alkohol (95%) P, mudah larut dalam gliserol
dan glikol.
Stabilitas : Tahan terhadap asam asetat, HCl, NaOH
10%.
Incomp : Penambahan NaOH 30% dapat berubah
warna menjadi kemerah-merahan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pewarna.














BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan
III.1.1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu
batang pengaduk, beaker, botol semprot, gelas ukur, hotplate, kertas
perkamen, lap kasar, lumpang dan alu, sendok tanduk, sudip dan
timbangan.
III.1.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini
yaitu ambroksol HCl, aquadest, natrium sakarin, nipagin, oleum citri,
salbutamol sulfat dan tartrazin.
III.2. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang semua bahan sesuai perhitungan bahan dan
pengenceran.
3. Ambroksol HCl dan Salbutamol Sulfat masing-masing digerus dan
dilarutkan dalam air dan homogenkan hingga larut.
4. Natrium sakarin dilarutkan dalam air, kemudian dicampurkan ke
campuran tadi.
5. Nipagin dilarutkan dalam air panas, kemudian ditambahkan
kedalam campuran tadi.
6. Ditambahkan tartrazin kedalamnya.
7. Campuran tersebut dimasukkan kedalam botol.
8. Ditetesi dengan oleum citri dan diadkan dengan aquadest.
9. Ditutup dan dihomogenkan/dikocok.
10. Diberi etiket dan dimasukkan kedalam wadah serta dimasukkan
brosur obat.


















BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1. Data Pengamatan
Formula asli
Obat Batuk Asma
Rancangan formula:
Tiap 5 ml mengandung:
Salbutamol sulfat 1,2 mg
Ambroksol HCl 15 mg
Natrium sakarin 0,15 %
Nipagin 0,1 %
Tartrazin 0,06 %
Oleum citri 0,1 %
Aquadest ad 100 ml
Pemerian larutan obat batuk asma:
Bentuk : Cairan
Bau : Jeruk
Warna : Kuning
Rasa : Manis seperti jeruk
IV.2. Perhitungan
Perhitungan dosis:
Salbutamol sulfat 1,2 mg (DL=2-4 mg/-)
Untuk 3 tahun:

/ 8 , 0 4 , 0 / 4 2
15
3
12
mg mg x xDL
n
n

Untuk 6 tahun:

/ 2 , 1 6 , 0 / 4 2
18
6
12
mg mg X xDL
n
n

Untuk 12 tahun:

/ 4 , 2 2 , 1 / 4 2
20
12
12
mg mg x xDL
n
n

Ambroksol HCl 15 mg (DL=30-60 mg/-)
Untuk 3 tahun:

/ 12 6 / 60 30
15
3
12
mg mg x xDL
n
n

Untuk 6 tahun:

/ 20 10 / 60 30
18
6
12
mg mg X xDL
n
n

Untuk 12 tahun:

/ 36 18 / 60 30
20
12
12
mg mg x xDL
n
n

Aturan pakai:
Untuk 3 tahun: 1 sendok teh
Untuk 6 tahun: 1 sendok teh
Untuk 12 tahun: 2 sendok teh
Untuk >12 tahun: 1 sendok makan
(3-4 kali sehari)
Perhitungan bahan:
Tiap 5 ml mengandung: (+10%)
Salbutamol sulfat = mg mg x
ml
4 , 26 2 , 1
5
110

Ambroksol HCl = mg mg x
ml
330 15
5
110

Natrium sakarin = gram x 165 , 0 110
100
15 , 0

Nipagin = gram x 11 , 0 110
100
1 , 0

Tartrazin = gram x 066 , 0 110
100
06 , 0

Oleum citri = gram x 11 , 0 110
100
1 , 0

Aquadest = 100-(0,024+0,3+0,15+0,1+0,06+0,1)
= 100-0,734
= 99,266 ml
Perhitungan pengenceran
Salbutamol sulfat = 26,4 mg






60 x = 660 mg


= 11 ml
Tartrazine = 6.6 mg






60 x = 660 mg


= 11 ml



BAB V
PEMBAHASAN
Larutan merupakan campuran homogen yang terdiri atas satu atau
lebih zat terlarut baik berupa padatan, cairan atau gas dalam pelarut yang
sesuai atau campuran pelarut yang bercampur secara termodinamika,
stabil secara kimia dimana zat terlarut terdispersi dalam sebuah pelarut
untuk membentuk cairan jernih.Disebut campuran homogen karena
komponen didalamnya tercampur secara homogen atau zat terlarut
terdispersi secara merata kedalam pelarut, sehingga komponennya tidak
bisa lagi dibedakan secara kasat mata. Selanjutnya, dikatakan stabil
secara termodinamika apabila energi bebas permukaan = 0 yang berarti
tidak banyak energi yang dibutuhkan untuk membentuk larutan stabil.
Dengan kata lain, sediaan larutan tidak memiliki tegangan antar muka
dimana partikel yang berbeda semuanya menjadi satu. Kemudian, stabil
secara kimia karena terjadi perubahan fase dari padat ke cair tetapi tidak
stabil secara mikrobiologi karena merupakan wujud cairan yang mudah
ditumbuhi mikroorganisme.
Salah satu contoh sediaan larutan yang dibuat dalam percobaan ini
yaitu obat batuk asma.Asma merupakan suatu inflamasi kronik saluran
napas.Inflamasi kronik tersebut menyebabkan peningkatan hiperesponsif
(hiperaktivitas) jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang
berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
pada malam dan atau dini hari.Episodik tersebut berkaitan dengan
sumbatan saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat
reversibel dengan atau tanpa pengobatan.Faktor resiko untuk pasien
asma yakni predisposisi genetik asma, alergi, hiperaktivitas bronkus, jenis
kelamin, ras/etnik.Selanjutnya, batuk merupakan suatu refleks pertahanan
tubuh untuk mengeluarkan dahak, riak dan benda asing dari saluran
nafas.Batuk menyerang saluran nafas bagian atas.Obat batuk digunakan
untuk menghilangkan gejala penyakit, sehingga disebut simptomatik dan
obat batuk digunakan bila dirasakan gejala sudah mengganggu.Adapun
obat batuk ada yang bersifat antitusif, ekspektoran dan mukolitik.Antitusif
untuk batuk kering. Ekspektoran dan mukolitik biasanya untuk batuk
berdahak dimana ekspektoran membantu merangsang sekresi mukus
atau dahak dari saluran nafas, sedangkan mukolitik membantu
pengeluaran mukus dengan cara menghancurkan benang-benang protein
dari mukus hingga mudah dikeluarkan dari saluran nafas.
Adapun komposisi larutan adalah zat aktif, solven serta zat
tambahan dimana zat aktif untuk obat batuk asma dalam percobaan ini
sesuai formulasi yaitu salbutamol sulfat dan ambroksol HCl. Alasan
digunakan zat aktif salbutamol sulfat adalah salbutamol sulfat merupakan
obat golongan agonis yang selektif pada reseptor
2
dan banyak
digunakan sebagai bronkodilator oral pada pasien asma atau pada pasien
dengan obstruksi paru kronis, kemudian digunakan salbutamol yang sulfat
dibanding salbutamol saja karena memiliki sifat mudah larut dalam air,
sehingga langsung diabsorpsi di saluran gastrointestinal dan diekskresi
cepat dengan waktu paruh sekitar 4-6 jam. Salbutamol sulfat juga memiliki
atau berdaya bronkodilatasi yang baik dan juga memiliki efek yang lemah
terhadap stabilitas sel mast, sehingga efektif mencegah atau meniadakan
asma, kemudian tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler, sehingga
aman untuk penderita penyakit jantung.Adapun zat aktif ambroksol HCl
dipilih dengan alasan karena ambroksol bersifat mukolitik dan sekretolitik,
dapat mengeluarkan lendir yang kental dan lengket dari saluran
pernafasan.Kemudian, penggunaan jangka panjang dimungkinkan karena
ambroksol mempunyai toleransi yang baik.Ambroksol memiliki indikasi
terhadap gangguan saluran pernafasan akut dan kronis disertai dengan
sekresi bronkial abnormal terutama pada eksaserbasi dan bronkitis kronis,
asma bronkial dan bronkitis asmatis serta kontraindikasi hampir tidak ada
atau belum diketahui. Adapun alasan salbutamol sulfat dikombinasikan
dengan ambroksol HCl yaitu karena ketika pasien asma diberikan
salbutamol maka akan memberikan efek stimulasi sekresi mukus. Jadi,
pasien asma akan sering batuk-batuk karena efek samping salbutamol,
sehingga dikombinasikan dengan ambroksol HCl sebagai mukolitik yang
membantu menghancurkan benang-benang protein mukus, sehingga
akan mudah dikeluarkan dari saluran napas.
Ketika zat aktif sudah ditentukan, maka ditentukan bahan
tambahan apa saja yang akan digunakan. Bahan tambahan yang
digunakan terdiri dari zat pemanis, pengawet, pewarna, pengaroma dan
pelarut.
Pemanis digunakan untuk memberi rasa pada larutan, sehingga
meningkatkan kemauan pengguna untuk meminumnya karena rasa yang
diberikan, dapat juga meningkatkan viskositas larutan dan memberi
sensasi kesejukan dalam mulut seperti sukrosa.Pemanis yang digunakan
dalam percobaan ini yaitu natrium sakarin.Digunakan natrium sakarin
karena memiliki tingkat kemanisan yang tinggi dalam jumlah kecil
dibanding sukrosa dengan konsentrasi besar dan sedikit larut dalam
alkohol serta mempunyai sifat stabil.
Pengawet digunakan untuk menjaga kestabilan sediaan dari
pertumbuhan mikroba, sebagaimana diketahui larutan berwujud cair yang
tidak stabil secara mikrobiologi, sehingga dibutuhkan pengawet, sehingga
waktu penyimpanan bisa diperpanjang. Pengawet yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu nipagin. Digunakan nipagin karena mempunyai range
pH yang lebih luas, sehingga ketika terjadi perubahan pada sediaan,
pengawet masih tetap berfungsi, dibandingkan dengan sediaan yang
menggunakan turunan benzoat lebih pada sediaan asam dan tidak mudah
terdisosiasi.
Pewarna digunakan untuk meningkatkan penampilan dari sediaan
supaya tampil lebih menarik.Pewarna yang digunakan dalam percobaan
ini yaitu tartrazin.Digunakan tartrazinuntuk memberi warna kuning pada
larutan karena disesuaikan dengan pemerian warna zat aktif yakni
ambroksol sedikit kekuningan dan salbutamol serbuk putih, sehingga
cocok diberi warna kuning.
Pengaroma digunakan untuk dapat membuat obat lebih diterima
terutama jika obat mempunyai rasa yang tidak menyenangkan Pengaroma
yang digunakan dalam percobaan ini yaitu oleum citri. Digunakan oleum
citri untuk memberi sensasi kesejukan dan sesuai dengan pewarna
tartrazin yang diberikan dimana identik dengan jeruk,sehingga diberi
aroma jeruk.
Adapun pelarut yang digunakan dalam percobaan ini yaitu
aquadest dimana aquadest bersifat inert.
Setelah menulis rancangan formula, maka formula tersebut
dipraktekkan di laboratorium dengan cara ditimbang semua bahan sesuai
perhitungan bahan dan pengenceran, kemudian ambroksol HCl dan
salbutamol sulfat masing-masing digerus dan dilarutkan dalam air dan
dihomogenkan hingga larut.Natrium sakarin dilarutkan dalam air,
kemudian dicampurkan ke campuran tadi.Nipagin dilarutkan dalam air
panas, kemudian ditambahkan kedalam campuran tadi.Ditambahkan
tartrazin kedalamnya.Campuran tersebut dimasukkan kedalam
botol.Ditetesi dengan oleum citri dan diadkan dengan aquadest.Ditutup
dan dihomogenkan/dikocok.Diberi etiket dan dimasukkan kedalam wadah
serta dimasukkan brosur obat.




BAB VI
PENUTUP
VI.1. Kesimpulan
1. Larutan memiliki komposisi zat aktif dan zat tambahan dimana zat
aktif yang digunakan untuk larutan obat batuk asma yaitu
salbutamol sulfat dan ambroksol HCl serta zat tambahan yang
sesuai dengan hasil formulasi yang disertai alasan yang
mendukung.
2. Didapatkan larutan obat asma dengan bentuk cair, rasa seperti
buah jeruk, warna kuning dan aroma jeruk.
3. Obat batuk asma yang telah dibuat digunakan 3-4 kali sehari dan
keterangan lengkap bisa dilihat pada etiket dan brosur.
VI.2. Saran
Diharapkan kepada asisten untuk memberikan saran, kritikan
dan masukan untuk laporan ini, sehingga bisa lebih membangun ilmu
pengetahuan bagi praktikan.







DAFTAR PUSTAKA
1. American Pharmaceutical Association. Handbook of
Pharmaceutical Excipient . Washington.

2. American Pharmaceutical Association. Handbook of Martindale
Edition 36. Washington.

3. Allen, Loyd. The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical
Compounding. Washington: American Pharmaceutical
Association. 2002.

4. Parrot,L.Eugene. Pharmaceutical Practice. New York: Philadelphia
ST Louis Sydney Toronto. 2004.

5. American Pharmaceutical Association Remington The science and
Practice Of Pharmacy. Washington.

6. Tjay Tan Huan dan Drs. Kirana Rahardja. Obat-Obat Penting edisi
VI Jakarta : PT. Gramedia. 2008.

7. Depkes RI. Farmakope Indonesia edisi III . Jakarta: Balai Pustaka.
1979.