Anda di halaman 1dari 15

PAPER I MMUNOSEROLOGI

PEMERIKSAAN WIDAL



Oleh
Kelompok IB (Genap) :

Luh Putu Ayu Bintang Utami (P07134012002)
Ni Wayan Desi Jumanti (P07134012004)
I Nyoman Bayu Disastra (P07134012006)
Ni Wayan Sintya Dewi (P07134012008)
Ni Putu Anugrah Eni (P07134012010)
Ni Kadek Ratna Yanti (P07134012014)

Disampaikan kepada :
Dosen Pengampu Mata Kuliah Immunoserologi



KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
DIII JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2014
PEMERIKSAAN WIDAL

I. TUJUAN
1.1 Tujuan Instruksional Umum
1. Untuk mengetahui pemeriksaan Imunoserologi yang tepat untuk penegakan
diagnosis demam typhoid.
2. Untuk mengetahui dan memahami prinsip kerja dari pemeriksaan tes Widal untuk
penegakan diagnosis demam typhoid.
1.2 Tujuan Instruksional Khusus
1. Untuk dapat melakukan pemeriksaan Widal untuk penegakan diagnosis demam
typhoid.
2. Untuk dapat adanya antibodi spesifik terhadap bakteri Salmonella.
3. Untuk dapat menginterpretasikan hasil yang didapatkan melalui tes Widal.

II. METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah Rapid Slide Test dan tes
aglutinasi tabung reaksi.

III. PRINSIP
Prinsip dari tes ini adalah reaksi imunologis diantara antibodi yang diproduksi oleh
bakteri (agglutinin) dengan jenis lain dari antigen fibril akan menyebabkan aglutinasi.

IV. DASAR TEORI
4.1 Pendahuluan
Demam tifoid merupakan penyakit sistemik yang menjadi masalah kesehatan
dunia. Demam tifoid terjadi baik di negara tropis maupun negara subtropis, terlebih
pada negara berkembang. Besarnya angka kejadian demam tifoid sulit ditentukan
karena mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang luas. (Muliawan SY, 1990)

Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica, terutama
serotype Salmonella typhi (S. typhi). Untuk menentukan diagnosis pasti dari penyakit
ini diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dapat
digunakan adalah pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi
dan biakan kuman, uji serologis, dan pemeriksaan kuman secara molekuler.
(Karsinah, 1994)
Pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan adalah uji serologis.
Akan tetapi, kultur Salmonella merupakan gold standard dalam menegakkan
diagnosis demam tifoid.

Tes serologis lain yang dapat digunakan dalam menentukan
diagnosis demam tifoid adalah tes Widal, dan tes IgM Salmonella typhi. (Karsinah,
1994)
Salah satu kajian ilmu yang diterapkan dalam pemeriksaan serologi adalah
imunoserologi. Imunologi merupakan studi mekanisme dan fungsi sistem kekebalan
akibat pengenalan terhadap zat asing dan usaha netralisasi, eliminasi dan metabolisme
terhadap zat asing atau produknya. Serologi merupakan pemeriksaan yang
menggunakan serum sebagai bahan pemeriksaan.
Dalam laboratorium klinik pemeriksaan imunoserologi dilakukan dengan
metoda, antara lain:
- Rapid test
- Tes Aglutinasi (Widal dan ASTO)
- Immunochromatography
- Pemeriksaan imunologi digunakan metoda ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent
Assay)
- CMIA (Chemiluminescent Microparticle Immuniasay)
- ECLIA (Electro-chemi-luminescence Immuno Assay)

4.2 Pengertian Uji Widal
Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak
tahun 1896. Hasil positif Widal akan memperkuat dugaan terinfeksi Salmonella typhi
pada penderita. Saat ini walaupun telah digunakan secara luas, namun belum ada
kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). (Bakr WM, 2011)
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica, terutama
serotype Salmonella typhi (S. typhi).

Bakteri ini termasuk kuman gram negatif yang
memiliki flagel, tidak berspora, motil, berbentuk batang, berkapsul dan bersifat fakultatif
anaerob dengan karakteristik antigen O, H dan Vi. (WHO, 2003)
Metode yang dipakai pada pemeriksaan widal ini adalah tabung aglutinasi.
Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test)
atau uji tabung (tube test). Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi
bila serum penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa.
Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan
antibodi (agglutinin). Antigen yang digunakan pada tes widal ini berasal dari suspense
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dalam laboratorium. Dengan jalan
mengencerkan serum, maka kadar anti dapat ditentukan. Pengenceran tertinggi yang
masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum
(Rahma Yuli. 2013).

4.3 Pengenalan Umun Bakteri Salmonella typhosa
Bakteri Salmonella typhosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan demam
typhoid (Typhoid Fever). Demam ini merupakan suatu penyakit infeksi sistemik
oleh Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi A,B dan C yang masih dijumpai
secara luas di negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan
subtropis.
Umumnya gejala klinis timbul 8-14 hari setelah infeksi yang ditandai dengan
demam yang tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam
yang khas adalah kenaikan tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari,
pola demam yang khas adalah kenaikan tidak langsung tinggi tetapi bertahap seperti
anak tangga (stepladder), sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan
(anoreksia), mual, muntah, sering sukar buang air besar (konstipasi) dan sebaliknya
dapat terjadi diare. Pada pemeriksaan fisik didapatkan peningkatan suhu tubuh, debar
jantung relatif lambat (bradikardi), lidah kotor, hepatomegali dan splenomegali,
kembung (meteorismus), pneumomia dan kadang-kadang dapat timbul gangguan
jiwa. Penyulit lain yang dapat terjadi adalah pendarahan usus, perforasi, radang
selaput perut (peritonitis) serta gagal ginjal. Tubuh yang kemasukan Salmonella akan
terangsang untuk membentuk antibodi yang bersifat spesifik terhadap antigen yang
merangsang pembentukannya. Antibodi yang dibentuk merupakan petanda demam
typhoid, yang dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Aglutinin O
Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang daripada aglutinin H
atau Vi, karena pembentukannya T independent sehingga dapat merangsang limposit
B untuk mengekskresikan antibodi tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin O ini
lebih bermanfaat dalam diagnosa dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi dengan
antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160
dinyatakan positif demam typhoid dengan catatan 8 bulan terakhir tidak mendapat
vaksinasi atau sembuh dari demam typhoid dan untuk yang tidak pernah terkena 1/80
merupakan positif.
b. Aglutinin H (flageller)
Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam pembentukan memerlukan
rangsangan limfosit T. Titer aglutinin 1/80 keatas mempunyai nilai diagnostik yang
baik dalam menentukan demam typhoid. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam
jangka 5-7 hari berguna untuk menentukan demam typhoid. Bila bereaksi dengan
antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti kapas atau awan.
c. Aglutinin Vi (Envelop)
Antigen Vi tidak digunakan untuk menunjang diagnosis demam thypoid.
Aglutinin Vi digunakan untuk mendeteksi adanya carrier. Antigen ini menghalangi
reaksi aglutinasi anti-O antibodi dengan antigen somatik. Selain itu antigen Vi dapat
untuk menentukan atau menemukan penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi
atau kuman-kuman yang identik (Rahma Yuli, 2013).

4.4 Teknik Pemeriksaan Uji Widal
Teknik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji
hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung
membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit
dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang
biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak
digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi
oleh jenis antigen yang digunakan. (dr. Joni, 2012)
Adapun teknik pemeriksaan uji Widal antara lain :
1. Test Slide
Uji penyaring
Prosedur kerja : Pada gelas objek 2 tetes serum penderita ditambahkan dengan
2 tetes suspensi antigen,dicampur dengan gelas pengaduk, gerakkan gelas
objek dengan gerakan memutar perlahan5 menit, pada suhu kamar, aglutinasi
dilihat dengan bantuan lampu neon atau cahaya matahari dekat jendela kaca.
Uji titrasi
Prosedur Kerja : Serum penderita diencerkan secara serial.
Contoh Serial pengenceran :
Titer
Perbandingan
Serum Antigen
1 : 20 25 40
1 : 40 25 20
1 : 80 25 10
1 : 160 25 5
1 : 320 50 5

2. Test Tabung
Adapun teknik pengujian dengan tes tabung adalah sebagai berikut.
Bahan : serum penderita
Alat :
1. Rak kecil berlubang
2. Tabung venoject 3 ml.
3. Pipet serologi 1 ml dengan skala 0,01 ml.
4. Mikropipet 50 uL
5. Inkubator
Reagen : Antigen Widal
- O : antigen Salmonella typhi (somatik)
- H : antigen Salmonella paratyphi A (flagelar)
- B : antigen Salmonella paratyphi B (flagelar)
Cara Kerja :
1. Dilakukan pengenceran serum
2. Tambahkan antigen 0,25 ml pada tiap tabung
3. Dicampur dengan cara menggoyang rak 3-4 kali
4. Inkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
5. Lihat adanya aglutinasi pada dasar tabung dengan bantuan cermin
(widal reader)
Cara Membaca Aglutinasi
- Pola sedimen di dasar tabung, lihat diatas cermin cekung
- Negatif : sedimen bulat, tepi halus
- Positif : sedimen melebar ke tepi dengan pola ireguler
- Setelah dilihat, goyangkan tabung
Aglutinin H : agregat flokuler, mudah pecah
Aglutinin O : agregat granuler dan halus

Kontrol
Kontrol Positif:
- Uji Widal dilakukan terhadap serum yang mengandung agglutinin dengan
iter > 1:160
- Dalam 1 rak, dikerjakan bersama beberapa rak yang berisi serum
penderita.
Kontrol Negatif
- 4 tabung berisi 0,25 ml PZ dan 0,25 antigen (O, H, A dan B)

4.5 Antigen dalam Uji Widal
Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai
parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut :
Antigen O
Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman.
Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan
100C selama 25 jam, alkohol dan asam yang encer.
Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi
dan berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang
juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas
suhu 60C dan pada pemberian alkohol atau asam.
Antigen Vi
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman
dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1
jam pada suhu 60C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini digunakan untuk
mengetahui adanya karier.
Outer Membrane Protein (OMP)
Antigen OMP S. typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar
membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap
lingkungan sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein
nonporin. Porin merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP
D, OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan
BM < 6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85
100C. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat
sensitif terhadap protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas
(Sutrimo, 2013).

4.6 Pembacaan Hasil
1. Rapid Screening Test
Jika aglutinasi terlihat dalam satu menit , titer yang signifikan harus diperoleh
dalam tes tabung konfirmasi . Reaksi kira-kira setara dengan yang diperoleh dalam tes
tabung aglutinasi dengan pengenceran serum dari 1 dalam 20 . Volume yang lebih
kecil dari serum dapat digunakan untuk tes skrining jika titer dianggap signifikan
lebih besar dari 1 dalam 20. Hal ini tidak mungkin untuk layar sera pada tingkat setara
dengan pengenceran tabung dari 1 dalam 10 .
2. Rapid Slide Titration
Reaksi yang diperoleh secara kasar setara dengan yang akan terjadi dalam tes
aglutinasi tabung dengan pengenceran serum dari 1/20 , 1/ 40, 1/80 , 1/160 , 1/320
masing-masing . Dalam reaksi ditemukan saran untuk mengkonfirmasi dan reaksi
membentuk titer dengan uji tabung meskipun dari pengalaman yang telah diperoleh
ini seharusnya tidak diperlukan . Tes tabung dilakukan saat hasil tidak sesuai dengan
temuan klinis . Kesalahan hasil pemeriksaan dapat diperoleh jika reagen tidak dapat
mencapai suhu kamar ( 18 sampai 30
0
C ) sebelum digunakan. Selain itu, reaksi positif
palsu kemungkinan terjadi jika tes dibaca lebih dari satu menit setelah pencampuran.
3. Tabung aglutinasi
Dalam reaksi O positif terdapat aglutinasi granular yang jelas. Aglutinasi H
memiliki karakteristik timbulnya flokular. Dalam reaksi negatif dan kontrol saline
penampilan suspensi seharusnya tidak berubah, dan menunjukkan pusaran khas ketika
tabung disentil . Tabung tidak boleh dikocok . Titer di setiap tempatnya adalah
pengenceran dari serum pada tabung terakhir yang menunjukkan aglutinasi.
Sebagai kontrol positif untuk setiap suspensi, serangkaian pengenceran dari serum
pengaglutinasi Salmonella yang tepat.



4.7 Kelebihan dan Kelemahan Uji Widal
1. Kelebihan
Kelebihan tes Widal adalah biaya yang relatif murah, hasil yang cepat, dan
hampir di semua pusat kesehatan dapat melakukan pemeriksaan ini.
2. Kelemahan
Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai
sarana penunjang diagnosis demam typhopid yaitu spesifitas yang agak rendah dan
kesukaran untuk menginterpretasikan hasil, sebab banyak faktor yang mempengaruhi
kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai
dengan titer yang lebih tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas
sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alasan ini maka pada daerah endemis
tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap
antibodi O S.typhi.
Uji Widal dapat memberikan hasil yang berbeda-beda antara lain karena uji ini
merupakan tes imunologik dan seharusnya dilakukan dalam keadaan yang baku,
Salmonella thypi mempunyai antigen O dan H yang sama dengan Salmonella lainnya,
maka kenaikan titer antibodi ini tidak spesifik untuk Salmonella thypi, penentuan hasil
positif mungkin didasarkan atas titer antibodi dalam populasi daerah endemis yang
secara konstan terpapar dengan organisme tersebut dan mempunyai titer antibodi yang
mungkin lebih tinggi daripada daerah non endemis pada orang yang tidak sakit
sekalipun. Tidak dihasilkannya antibodi terhadap Salmonella karena rendahnya
stimulus yang dapat merangsang timbulnya antibodi, sehingga antibodi terganggu.
Pemeriksaan serologi Widal juga tergantung pada waktu pengambilan spesimen dan
kenaikan titer agglutinin terhadap antigen Salmonella thypi. Kenaikan titer antibodi
tes serologi Widal pada umumnya paling baik pada minggu kedua dan ketiga, yaitu
95,7%, sedangkan kenaikan titer pada minggu pertama adalah hanya 85,7%. Karena
hal ini sehingga saat pengambilan spesimen perlu diperhatikan. Pemeriksaan tes
serologi Widal memerlukan dua kali pengambilan spesimen, yaitu pada masa akut dan
masa konvalesen dengan interval waktu 10-14 hari. Diagnosis ditegakkan dengan
melihat adanya kenaikan titer lebih atau sama dengan 4 kali titer masa akut, tetapi
pada pelaksanaan dilapangan pengambilan spesimen menggunakan spesimen tunggal.
Kenaikan titer aglutinin yang tinggi pada spesimen tunggal, tidak dapat membedakan
apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama, juga kenaikan titer aglutini
terutama aglutinin H tidak mempunyai anti diagnostik yang penting untuk demam
tifoid, namun masih dapat membantu dalam menegakkan diagnosis tersangka demam
tifoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemik atau pada anak
umur kurang dari 10 tahun di daerah endemik, sebab pada kelompok penderita ini
kemungkinan mendapat kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat
kecil. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah
endemik, kemungkinan untuk menelan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih
besar sehingga uji Widal dapat memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-
beda antar daerah endemik yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat
endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang
dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih diperlukan untuk menunjang
diagnosis demam tifoid, ambang atas titer rujukan, baik pada anak maupun orang
dewasa perlu ditentukan. (Levine, 1978)


Titer widal biasanya pada angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer.
Jika ada, maka dinyatakan (+).
Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasien
dengan gejala klinis khas.

4.8 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Uji Widal
Interprestasi uji widal harus memperhatikan beberapa faktor yaitu sensitivitas,
stadium penyakit, faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat
mempengaruhi pembentukan antibodi, gambaran imunologis dari masyarakat
setempat (daerah endemis atau non-endemis), faktor antigen, teknik serta reagen yang
digunakan.
Tes Widal mempunyai sensitivitas dan spesifisitas moderat ( 70%), dapat
menghasilkan hasil negatif palsu pada 30% kasus demam tifoid dengan kultur positif.
Tes Widal negatif palsu dapat terjadi pada:
1. Carrier tifoid
2. Jumlah bakteri hanya sedikit sehingga tidak cukup memicu produksi antibodi
pada host.
3. Pasien sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya
4. Waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit
5. Keadaan umum pasien yang buruk
6. Adanya penyakit imunologik lain.
Tes Widal positif palsu dapat terjadi pada:
1. Imunisasi dengan antigen Salmonella
2. Reaksi silang dengan Salmonella non tifoid
3. Infeksi malaria, dengue atau infeksi enterobacteriaceae lain
4. Pernah mendapat vaksinasi
5. Reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp)
6. Reaksi anamnestik (pernah sakit)
7. Adanya faktor rheumatoid (RF)
(Saputra,Andi, 2012)

V. ALAT DAN BAHAN
5.1 Alat
1. Kaca objek berbentuk cincin
2. Pipet serum
3. Stik pengaduk
4. Tabung reaksi
5. Pengaduk mekanik
5.2 Bahan
1. Larutan NaCl 0,9%
2. Antigen fibril
3. Serum
5.3 Reagen
1. Brucella abortus
2. Brucella militensis
3. Antigen Salmonella Grup A
4. Antigen Salmonella Grup B
5. Antigen Salmonella Grup C
6. Paratyphoid A ( Antigen Salmonella Flagellar A )
7. Paratyphoid B ( Antigen Salmonella Flagellar B )
8. Paratyphoid C ( Antigen Salmonella Flagellar C )
9. Proteus OX2
10. Proteus OX19
11. Proteus OXK
12. Typhoid O ( Salmonella Grup D, Somatik )

6. CARA KERJA
a. Rapid Slide Test
1. Disiapkan sebuah kaca slide transparan yang bersih dan kaca slide tersebut dibagi
menjadi kotak berukuran 1,5 inchi dengan pensil lilin atau sebuah pensil dengan
ujungnya bercahaya. Sebuah kaca jendela yang kecil bisa digunakan untuk tujuan
ini. Penggunaan kaca slide berbentuk cincin juga dianjurkan.
2. Dengan menggunakan pipet yang sesuai, ditambahkan sejumlah serum yang akan
diperiksa ke dalam kotak dari kiri ke kanan dengan berurutan : 0,008 ml, 0,04 ml,
0,02 ml, 0,01 ml, 0,05 ml. serum harus bersih dan tidak panas. Prosedur ini
diulangi dengan kontrol serum positif dan negatif.
3. Antigen dikocok dengan hati-hati untuk memastikan suspensi tercampur merata.
4. Dengan memegang penetesan secara vertical, ditambahkan satu tetes antigen
setiap sejumlah sampel.
5. Serum dan antigen dicampur dengan menggunakan stik pengaduk . digunakan stik
pengaduk yang berbeda untuk masing-masing jumlah serum atau digunakan stik
yang sama dan dikerjakan dari kanan ke kiri, masing-masing campuran harus
berbentuk area berukuran 0,5 inchi-1 inchi.
6. Slide digoyangkan dengan tangan atau pengaduk mekanik pada kecepatan 150
rpm selama 2-3 menit
7. Aglutinasi diamati dengan pencahayaan tidk langsung berlatar belakang gelap.
8. Serum positif oleh titer yang dikenali dan serum negative harus termasuk ke
dalam kontrol.
b. Tes Aglutinasi Tabung Reaksi
1. Sepuluh tabung bereaksi berukuran 12x75 m diletakkan di rak yang sesuai.
2. 1,9 ml larutan Natrium Klorida ditambahkan ke tabung pertama.
3. 1,0 ml larutan Natrium Klorida ditambahkan ke tabung yang tersisa.
4. 0,1 ml serum yang akan diuji ditambahkan ke tabung pertama. 1,0 mL serum yang
diencerkan diaduk rata dan dipindahkan dari tabung pertama ke tabung kedua.
Prosedur ini diulangi sampai kesepuluh tabung mengandung seri pengenceran
serum dua kali lipat dari 1:20 sampai1 : 10240. 1,0 mL pengencer serum diambil
dari tabung 10 dan dibuang. Tabung nomor 1 dianggap sebagai pengenceran 1:20.
Prosedur ini diulangi dengan serum kontrol positif dan negatif.
5. Satu tabung ditempatkan diakhir seri tabung pengenceran dan 1,0 mL larutan
Natrium Klorida 0,9% ditambahkan untuk mengencerkan serum. Tabung tersebut
dilabeli dengan nama control Saline.
6. Suspensi antigen dihomogenkan dengan mengocok botol secara hati-hati. Satu
tetes antigen ditambahkan untuk setiap tabung.
7. Rak dikocok untuk mencampur antigen dengan serum dan ditempatkan di
waterbath. Waktu dan suhu inkubasi yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

Antigen Temperatur Waktu Inkubasi
Salmonella O Grup A 45
0
-50
0
C 18 jam
Salmonella O Grup B 45
0
-50
0
C 18 jam
Salmonella O Grup C 45
0
-50
0
C 18 jam
Salmonella O Grup D
(Typhoid O)
45
0
-50
0
C 18 jam
Salmonella H a 45
0
-50
0
C 2 jam
Salmonella H b 45
0
-50
0
C 2 jam
Salmonella H c 45
0
-50
0
C 2 jam
Salmonella H d
(Typhoid H)
45
0
-50
0
C 2 jam
Brucella aborius dan Brucella
Meltonois
37
0
C 48 jam
Proteus OX
2
, OX
19
, dan OXK 45
0
-50
0
C 18 jam
Catatan : Thypoid H dan antigen Salmonella flagellar harus diinkubasi selama 2
jam pada suhu 45
0
-50
0
C. Dilanjutkan dengan inkubasi 10 jam pada suhu 2
0
- 8
0
C
sebelum pembacaan terakhir.
8. Setelah diinkubasi, rak yang berisi tabung reaksi dipindahkan dengan hati-hati dan
diamati aglutinasinya. Menggunakan sumber cahaya tidak langsung dan latar
belakang hitam akan memberikan kondisi optimal untuk pembacaan tabung.
9. Hasil test dicatat sebagai berikut:
a. 4 + : semua organisme berkumpul di dasar tabung dan cairan supernatannya
bersih.
b. 3 + : Sekitar 75% organisme berkumpul dan supernatant sedikit keruh
c. 2 + : Sekitar 50 % organisme berkumpul supernatannya dengan kekeruhan
sedang
d. 1 + : sekitar 25 % organisme berkumpul dan supernatannya keruh
e. - : tidak terdapat aglutinasi yang teramati yang muncul kekeruhan pada
suspensi
10. Titer dari serum reaktif dicatat sebagai pengenceran terakhir yang memberikan
reaksi 2+.


7. INTERPRETASI HASIL
a. 4+ : Semua organisme berkumpul di dasar tabung dan cairan supernatant bersih
b. 3+ : Sekitar 75% organisme berkumpul dan supernatant sedikit keruh
c. 2+ : Sekitar 50% organisme berkumpul dan supernatant dengan kekeruhan sedang
d. 1+ : Sekitar 25% organisme berkumpul dan supernatant keruh
e. - : Tidak ada aglutinasi yang teramati dan muncul kekeruhan pada suspensi


8. DAFTAR PUSTAKA
Department of Vaccines and Biologicals. 2003. Background Document: The Diagnosis,
Treatment And Prevention Of Typhoid Fever. Geneva: WHO
dr. Joni, 2012, Widal untuk Demam Typoid, online,
http://www.sumbarsehat.com/2012/07/tes-widal-untuk-demam-typoid.html, 8 Maret
2014
Karsinah, Suharto, W. Mardiastuti, M. Lucky. 1994. Batang Negatif Gram. Dalam: Staf
Pengajar FK UI, penyunting. Buku ajar mikrobiologi kedokteran. Edisi Revisi. Jakarta:
Bina Rupa
Levine MM, Grados O, Gilman RH, Woodward W, Plaza RS, Waldman W. 1978. Diagnostic
value of the Widal test in area endemic for Typhoid Fever. Am J Trop Med Hyg
Muliawan SY, Surjawidjaya JE. 1999. Diagnosis Dini Demam Tifoid Dengan Menggunakan
Protein Membran Luar S. typhi Sebagai Antigen Spesifik. CDK
Rahma Yuli. 2013. Prosedur Pemeriksaan Laboratorium. Online.
http://myblogaintyours.blogspot.com/2013/02/prosedur-pemeriksaan-laboratorium-
tes.html. Diakses pada 7 Maret 2014.
Saputra, Andi, 2012, Pengertian Test Widal atau Uji widal, online,
http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/03/pengertian-test-widal-atau-uji-
widal.html, 8 Maret 2014
Sutrimo, 2013, Uji Widal, online, online,
http://analiskesehatankendariangkatan5.blogspot.com/2013/01/uji-widal.html, 8
Maret 2014
Wikipedia. 2013. Widal. Online. http://www.wikipedia.org. Diakses pada 7 Maret 2014.