Anda di halaman 1dari 64

SEORANG LAKI-LAKI, 49 TAHUN

DATANG DENGAN KELUHAN


NYERI DADA MENDADAK
Trinda Paramitha
NIM 030.08.245
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
Nama : Tn. Syahroni
Umur : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Jl. Pegedangan RT 12 RW 02
Status Pernikahan : Menikah
Tanggal Masuk RS : 1 Juni 2014 pukul 08:20 WIB
Ruang Perawatan : Rosella
No. Rekam Medik : 738946

ANAMNESIS
Autoanamnesis Rabu, 4 Juni 2014 15:00 Ruang Rawat Rosella
RSUD Kardinah, Tegal

Keluhan Utama
Nyeri dada mendadak > 30 menit smrs.

Keluhan Tambahan
Sesak nafas.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSUD Kardinah pada tanggal 1 Juni
2014 pukul 08.20 WIB dengan keluhan nyeri dada selama
lebih dari 30 menit sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dada
dirasakan mendadak. Pasien merasakan dada bagian
tengah terasa berat namun nyeri dada tidak dapat ditunjuk
dengan satu jari. Sifat nyeri dirasakan tumpul bukan seperti
ditusuk tusuk dan nyeri dada dirasakan seperti ditindih serta
dada terasa panas. Nyeri dada juga dirasakan terus menerus
selama lebih dari 30 menit dan nyeri dada dirasakan
menjalar ke daerah bahu maupun punggung dan nyeri dada
tidak dipengaruhi oleh aktifitas. Nyeri dada juga disertai
dengan adanya keringat dingin, mual dan muntah. Muntah
dirasakan satu kali dan berisi cairan.

Sebelumnya pasien sedang melakukan lari pagi bersama
temannya. Setelah 30 menit melakukan lari pagi, pasien sempat
duduk untuk beristirahat sambil menghisap sebatang rokok.
Setelah itu, pasien kembali melanjutkan lari paginya. Namun, pada
saat pasien berdiri dari tempat duduknya, mendadak pasien
merasakan nyeri dada yang mendadak hebat. Saat itu pasien
langsung dilarikan ke rumah sakit oleh temannya.
Saat pasien di IGD, pasien baru mulai merasakan adanya sesak
nafas yang dirasakan mendadak. Sesak nafas dirasakan terus
menerus dan sesak dirasakan pada saat pasien menarik nafas
serta sesak nafas tidak dipengaruhi dengan perubahan posisi.
Setelah itu pasien dipindahkan ke ruang ICU RSUD Kardinah.
Keesokan harinya pada tanggal 2 Juni 2014 keluhan pasien sudah
mulai membaik. Sesak nafas sudah tidak dikeluhkan pasien
namun nyeri dada bagian tengah masih dirasakan oleh pasien.
Saat hari itu pasien sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Setelah di ruang perawatan biasa, keesokan harinya pada tanggal
3 Juni 2014 pasien mengeluhkan adanya batuk kering dan nyeri
dada sudah mulai berkurang.

Pada tanggal 4 Juni 2014, keluhan nyeri dada sudah
semakin berkurang, keringat dingin sudah tidak terlalu
dirsakan dan mual muntah sudah tidak dikeluhkan. Namun
pasien masih mengeluhkan adanya batuk kering yang tidak
kunjung sembuh dan adanya demam yang naik turun.
Demam dirasakan meningkat pada siang hari. Saat ini juga
pasien mengaku bahwa tidur lebih nyaman jika
menggunakan dua bantal. Pasien menyangkal adanya pilek
serta menyangkal adanya penurunan kesadaran dari hari
pertama masuk rumah sakit hingga saat ini. Pasien juga
mengaku bahwa BAB dan BAK lancar, nafsu makan tidak
menurun dan pasien tidak ada kesulitan untuk tidur.

Riwayat Penyakit Dahulu
- Asam urat (+)
- Kolesterol (+)
- Darah tinggi ( - )
- Kencing manis ( - )
- Penyakit jantung ( - )
- Penyakit paru ( - )
- Asma ( - )
- Alergi obat ( - )

Riwayat Penyakit Keluarga
- Penyakit jantung/ibu (+)
- Penyakit lainnya ( - )

Riwayat Kebiasaan dan Sosial Ekonomi
- Merokok 1 bungkus perhari
- Meminum kopi hitam
- Berolahraga
- Bekerja di pabrik knalpot
PEMERIKSAAN FISIK
Rabu, 4 Juni 2014 15:15 Ruang Rawat Rosella
RSUD Kardinah, Tegal
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
(E4 M6 V5)
Gizi (WHO 2004) : Pre Obesitas

BMI = BB/TB
2
70/1.65
2
= 26 kg/m
2


Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 96 x/menit, reguler
Pernafasan : 24 x/menit
Suhu : 37 C pada axiler

Status Generalis
KEPALA
Ukuran : Normocephali
Ekspresi Wajah : Tenang
Rambut : Berwarna hitam, distribusi cukup
Simetris Muka : Simetris, tidak ada deformitas
Hidung : Tidak ada septum deviasi,
epistaksis -/- , rhinorea -/-
Sinus Paranasal : Tidak ada nyeri tekan
Telinga : Normotia, liang telinga lapang,
secret -/-
MATA (OD dan OS)
Kelopak : Tidak bengkak, tidak ptosis, tidak
radang,
Lensa : Jernih, tidak keruh, tidak ada selaput
Konjungtiva : Tidak anemis
Sklera : Berwarna putih, tidak ikterik
Visus : Menggunakan kacamata plus
Tek. Bola Mata : Normal/palpasi
Pupil : Bulat, isokor, reflex cahaya +/+

MULUT DAN TENGGOROKAN
Bibir : Tidak pucat, tidak sianosis
Langit-langit : Normal, warna merah muda
Gigi geligi : Kebersihan mulut baik
Faring : Tenang, arcus faring simetris, dinding posterior
hiperemis dan granular +
Lidah : Normoglotia, warna merah tidak pucat,
tidak kotor
Tonsil : T1 T1
LEHER
Kelenjar Tiroid : Tidak teraba membesar
Kelenjar Limfe : Tidak teraba membesar
JVP : 5 2 cm
Trachea : Tidak terdapat deviasi

KELENJAR GETAH BENING
Tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening preaurikular,
submandibular, submnetal, supraklavikula, jugularis dan axillaris

DADA (THORAX)
Bentuk : Normochest, oval, tidak ada kelainan bentuk,
simetris
Pembuluh Darah : Tidak tampak dilatasi
Paru
Inspeksi :Gerakan nafas simetris saat inspirasi maupun
ekspirasi, retraksi -/-
Palpasi : Vokal fremitus kanan kiri +/+
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler, wheezing -/-. rhonki -/-

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba 2 jari lateral sela iga V garis
midclavicularis kiri
Perkusi :
- Batas paru dan jantung kanan pada ICS 3 hingga ICS 5
garis sternalis kanan
- Batas paru dan jantung kiri setinggi ICS 5 2 cm medial
linea midclavicularis kiri
- Batas atas jantung setinggi ICS 3 linea parasternalis kiri
- Pinggang jantung setinggi ICS 4 linea parasternalis kiri
Auskultasi : BJ1 & BJ2 reguler, tidak ada BJ tambahan,
murmur (-), gallop (-)
PUNGGUNG
Tidak ada kelainan bentuk, nyeri ketuk pada regio
costovertebralis (-)
ABDOMEN
Supel, datar, bising usus normal 2x/menit, nyeri tekan (-),
timpani pada seluruh kuadran abdomen, tidak teraba
pembesaran hepar, vesica fellea, lien, balotemen (-)
INGUINAL
Tidak teraba pembesaran KGB
GENITALIA
Tidak dilakukan
EKSTREMITAS
Lengan dan Tangan ( Kanan dan Kiri )
Kulit : Ptechie -/-, jejas -/-, luka -/-, teraba suhu hangat +/+

Otot : Normotonus +/+, Normotrofi +/+
Sendi : Dapat digerakan, nyeri -/-, bengkak -/-
Gerakan : Baik +/+, tremor -/-, kaku -/-
Kekuatan : 5
Tungkai dan Kaki ( Kanan dan Kiri )
Kulit : Ptechie -/-, luka -/-, varices -/-, teraba suhu hangat +/+
Sendi : Dapat digerakan, nyeri -/-, bengkak -/-
Gerakan : Baik +/+, tremor -/-, kaku -/-
Kekuatan : 5

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
KIMIA KLINIK
Hasil Normal
Glukosa Sewaktu 116 mg% 70-260
SGOT 37.0 U/L <37
SGPT 25.0 U/L <42
Ureum 46 mg/dl 10-50
Creatinin 1.18 mg/dl 0.6-1.2
Natrium 147.2 mmol/L 135.0- 148.0
Kalium 3.82 mmol/L 3.60-5.50
Klorida H 115.6 mmol/L 95.0-108.0

Pemeriksaan
Laboratoriu
m
Minggu,
1 Juni 2014
HEMATOLOGI
CBC
Leukosit H 11.1 10^3/ul 4.0-10.0
Eritrosit 5.3 10^6/ul 4.7-6.1
Hemoglobin (Hb) 15.5 g/dl 14.0-18.0
Hematrokit (Ht) 42.9 % 42-52
MCV 80.9 U 76-96
MCH 29.2 Pcg 27-31
MCHC 26.1 g/dl 33.0-37.0
Trombosit 214 ribu/mm
3
150-400
Diff
Netrofil H 84.2 % 50-70
Limfosit L 9.0 % 25-40
Monosit 5.6 % 2-8
Eosinofil L 1 % 2-4
Basofil 0.2 % 0-1
Laju Endap Darah
LED 1 Jam 5 mm/jam 0-15
LED 2 Jam 9 mm/jam 0-25
SERO IMUNOLOGI
HBsAg Negatif Negatif

- Cor : CTR > 50 %, apex
jantung tertanam
- Pulmo : Corakan bronkovaskuler
meningkat, tidak tampak
proses spesifik aktif di
kedua paru
- Kedua sinus dan diafragma baik
- Tulang dan soft tissue baik
Pemeriksaan Foto Rontgen
Minggu, 1 Juni 2014
Left Ventricel Hypertrophy
Pemeriksaan Elektrokardiografi
Minggu, 1 Juni 2014
Irama : Sinus rythem
Gelombang P : Defleksi positif
Interval PR : 0.20 detik (0.10-0.20 detik)
Kompleks QRS : 0.08 detik (0.04-0.12 detik )
Segmen ST : ST Elevasi pada V2, V3,
V4
Gelombang T : T Elevasi pada V2, V3, V4
Frekuensi : 80 x/menit
Irama : Teratur
Iskemik Miokard Dengan ST Elevasi

DAFTAR ABNORMALITAS
1. Nyeri dada mendadak, sifat tumpul dan dada bagian tengah terasa berat seperti
ditindih, terasa panas, lebih dari 30 menit, menjalar ke daerah bahu dan
punggung.
2. Sesak nafas mendadak
3. Keringat dingin
4. Mual, muntah
5. Batuk kering
6. Demam naik turun
7. LVH
8. Peningkatan corakan bronkovaskular
9. Leukositosis
10. ST Elevasi pada V2,V3,V4

DAFTAR MASALAH
SUSP. ACS
TIPE STEMI
BRONCHITIS
AKUT
Merokok
Konsumsi
Kopi
Pre Obesitas
RENCANA PEMECAHAN
MASALAH
1. Suspect ACS tipe STEMI
Assesment : -
Initial Plan :
- Dx : - Enzim jantung (troponin, CK-CKMB)
- Angiografi
- Tx : - Kirim ke ICU7z
- Mx : - IVFD RL
- O2 kanul 3 lpm
- Injeksi Fluxum 1x0.6 ml
- Injeksi Ranitidin 2x1 ampul
- Injeksi Ceftriaxon 2x1 gram
- Injeksi Furosemid 2x2 gram
- Monecto 2x1/2 tab

- CPG 1x1
- KSR 2x2 tab
- Aspilet 1x1
- Ex : - Bed rest
- Kurangi aktifitas fisik berat
- Berhenti merokok
- Kurangi minum minuman berkafein
- Kurangi makanan berlemak
- Hindari stress

2. Bronchitis Akut
Assesment : Bronchitis Akut
Initial Plan :
- Dx : -
- Tx :
- Mx : - O
2
kanul 3 liter/menit
- Antibiotika
- Ambroxol 3 x 1
- Ex : - Istirahat
- Minum yang cukup
- Hindari paparan asap rokok
- Istirahat cukup

PROGNOSIS
Ad Vitam : Dubia ad Bonam
Ad Functionam : Dubia ad Malam
Ad Sanationam : Dubia ad Malam
TINJAUAN
PUSTAKA
ACUTE CORONARY
SYNDROME
Keadaan darurat jantung dengan manifestasi klinis
rasa tidak enak di dada atau gejala lain sebagai
akibat iskemia miokardium

Istilah atau terminologi untuk menggambarkan spektrum
keadaan atau kumpulan proses penyakit. Meliputi :

- Angina pektoris tidak stabil/APTS (unstable angina/ UA)
- Infark miokard tanpa elevasi segmen ST (Non-ST
elevation myocardial infarction/NSTEMI)
- Infark miokard dengan elevasi segmen ST (ST elevation
myocardial infarction/STEMI).
ETIOLOGI
Trombus tidak oklusif pada plak yang sudah ada
Obstruksi dinamik
Obstruksi mekanik yang progresif
Inflamasi / infeksi

FAKTOR RESIKO
Tidak dapat dimodifikasi :
- Umur
- Jenis kelamin (laki-laki)
- Riwayat penyakit jantung koroner dalam keluarga

Dapat dimodifikasi :
1. Dislipidemia : Resiko meningkat 2x lipat pada
individu dengan kolesterol
total
240 mg/dL
2. Merokok : - Proses oksidasi modifikasi LDL
- HDL
- Hipoksia jaringan, adhesi trombosit ,
molekul leukosit , respon inflamasi
kelainan disfungsi endotel pembuluh darah
aterosklerosis
3. Diabetes Melitus
4. Hipertensi
DIAGNOSIS
Anamnesis :
- Gejala klinis nyeri dada spesifik :
1. Lokasi : substermal, retrostermal, dan
prekordial
2. Sifat nyeri : rasa sakit, seperti ditekan, rasa
terbakar, ditindih benda berat, seperti ditusuk,
rasa diperas, dan dipelintir
3. Penjalaran ke : leher, lengan kiri, mandibula,
gigi, punggung / interskapula, dan dapat juga
ke lengan kanan

4. Nyeri membaik atau hilang dengan istirahat atau obat nitrat
5. Faktor pencetus : latihan fisik, stress emosi, udara dingin, dan
sesudah makan
6. Gejala yang menyertai : mual, muntah, sulit bernafas, keringat
dingin, dan lemas
Pemeriksaan Fisik
- Hipertensi
- Anemia
- Tirotoksikosis
- Stenosis aorta berat
- Kardiomiopati hipertropik
- Kondisi lain, seperti penyakit paru
PENATALAKSANAAN
Prinsip : Mengembalikan aliran darah koroner untuk
menyelamatkan jantung dari infark miokard,
membatasi luas infark miokard, dan
mempertahankan fungsi jantung
Terapi awal : MONA ( Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin )
- Oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA dalam 6
jam pertama tanpa mempertimbangkan saturasi O
2
arteri
- Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang
tidak diketahui intoleransinya terhadap aspirin. Aspirin tidak
bersalut lebih terpilih meningkatkan absorpsi bukal yang lebih
cepat
- Nitrogliserin (NTG) :
- Spray/tablet sublingual pasien dengan nyeri dada yang
masih
berlangsung saat tiba diruang gawat darurat. Dapat
diulang
setiap 5 menit sampai maksimal 3x
- Intravena pasien yang tidak responsif dengan terapi 3
dosis
NTG sublingual. Dalam keadaan tidak tersedia NTG,
isosorbid
dinitrat (ISDN) dapat dipakai sebagai pengganti

- Morfin Sulfat 1-5 mg intravena, dapat diulang setiap 10-
30 menit, bagi pasien yang tidak responsif dengan terapi
tiga dosis NTG sublingual

KLASIFIKASI
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
elektrokardiografi (EKG) dan pemeriksaan marka
jantung, SKA dibagi menjadi :
1. Sindrom Koroner Akut Segmen ST Non-elevasi
(Non-ST Elevation Acute Coronary Syndrome /
NSTEACS)
2. Sindrom Koroner Akut Segmen ST Elevasi (ST
Elevation Acute Coronary Syndromes / STEACS)

Non-ST Elevation Acute Coronary
Syndrome / NSTEACS
NSTEACS dibedakan menjadi 2 berdasarkan kenaikan
penanda biokimia jantung (Troponin I/T atau CKMB),
menjadi :
- Non ST Elevasi Miokard Infark (NSTEMI)
- Angina Pectoris Tak Stabil (Unstable Angina
Pectoris / UAP)

Angina Pektoris
Suatu nyeri di daerah dada yang biasanya menjalar
ke bahu dan lengan kiri yang disebabkan oleh
menurunnya suplai oksigen ke jantung

Yang termasuk angina pectoris tak stabil antara lain :
- Pasien dengan angina yang masih baru dalam 2 bulan,
dimana angina tersebut cukup berat dan frekuensi nya
cukup sering > 3x sehari
- Pasien dengan angina yang makin bertambah berat,
sebelumnya angina stabil lalu serangan angina
timbul lebih sering dan lebih berat sakit dadanya
sedangkan faktor presipitasinya lebih ringan
- Pasien dengan serangan angina pada waktu istirahat
Grading of Angina Pectoris According to CCS Classification
Class Description of Stage
I Ordinary physical activity does not cause angina, such as
walking or climbing stairs. Angina occurs with strenuous,
rapid, or prolonged exertion at work or recreation.
II Slight limitation of ordinary activity. Angina occurs on
walking or climbing stairs rapidly; walking uphill; walking
or stair climbing after meals; in cold, in wind, or under
emotional stress; or only during the few hours after
awakening. Angina occurs on walking 2 blocks on the
level and climbing 1 flight of ordinary stairs at a normal
pace and under normal conditions.
III Marked limitations of ordinary physical activity. Angina
occurs on walking 1 to 2 blocks on the level and climbing
1 flight of stairs under normal conditions and at a normal pace.
IV Inability to carry on any physical activity without
discomfortanginal symptoms may be present at rest.
Adapted with permission from Campeau L. Grading of angina
pectoris (letter).
Circulation 1976;54:5223. 1976, American Heart Association, Inc

Penilaian Resiko
Penilaian resiko harus dimulai dengan penilaian terhadap
kecenderungan penyakit jantung koroner (PJK). Lima
faktor terpenting yang dimulai dari riwayat klinis yang
berhubungan dengan kecenderungan adanya PJK,
diurutkan berdasarkan kepentingannya adalah :
1. Adanya gejala angina
2. Riwayat PJK sebelumnya
3. Jenis kelamin
4. Usia
5. Diabetes, faktor resiko tradisonal lainnya

Diagnosis
Anamnesis :
- Kualitas nyeri
- Lokasi
- Mekanisme nyeri dada
Pemeriksaan Laboratorium :
- Dianggap terdapat mionekrosis bila cTn T dan I positif dalam 24
jam. cTn
tetap positif dalam 2 minggu
- CKMB kurang spesifik untuk diagnosa karena ditemukan juga
pada otot
skeletal, tapi berguna untuk diagnosis iskemia akut dan akan
meningkat
dalam beberapa jam, kembali normal dalam 48 jam

Pemeriksaan Penunjang :
- EKG
- Exercise Test
- Ekokardiografi
Penatalaksanaan
Terapi umum :
- Pasang infus intravena : dekstrosa 5% atau NaCl 0,9%.
- Aktivitas : istirahat di tempat tidur dengan kursi commode di
samping
tempat tidur dan mobilisasi sesuai toleransi setelah 12
jam.
- Diet: puasa sampai nyeri hilang, kemudian diet cair. Selanjutnya
diet
jantung (rendah lemak tinggi serat).

- Medikamentosa :
- Oksigen nasal
- Nitrat sublingual atau patch
- Aspirin, tiklopidin
- Heparin
- Beta Blocker
- Kateterisasi jantung

Farmakoterapi
1. Obat anti iskemia
- Nitrat
- Beta blocker
- Antagonis kalsium
2. Obat anti agregasi trombosit
- Aspirin
- Tienopiridin : tiklopidin, clopidogrel
- GP IIb/IIIa inhibitors
3. Obat anti trombin
- Unfractionated heparin
- Low Molecular Weight Heparin (LMWH)
- Direct Trombin Inhibitor

ST Elevation Acute Coronary
Syndromes / STEACS (STEMI)

Diagnosis :
Diagnosis STEMI ditegakkan dengan anamnesis khas IMA ,
gambaran EKG adanya elevasi segmen ST lebih dari atau
sama dengan 2 mm pada minimal 2 sandapan prekordial
yang berdampingan, elevasi segmen ST lebih dari atau
sama dengan 1 mm pada 2 sandapan ekstrimitas dan
pemeriksaan penanda biokimia jantung, troponin T yang
meningkat, memperkuat diagnosis.

Anamnesis :
- Riwayat infark miokard sebelumnya
- Faktor resiko lain : hipertensi, DM, dislipidemia,
merokok, stres
- Faktor pencetus : aktivitas fisik berat, stres emosi,
penyakit medis atau bedah

Walaupun STEMI bisa terjadi sepanjang hari atau malam,
variasi sirkadian dilaporkan pada pagi hari dalam beberapa
jam setelah bangun tidur

Pemeriksaan Fisik :
- Cemas, tidak bisa istirahat (gelisah)
- Ekstremitas pucat
- Keringat dingin
Kombinasi nyeri dada substernal > 30 menit dan banyak
keringat curiga kuat adanya STEMI.
Pada pasien IMA terjadi disfungsi ventrikel yaitu, S3 dan S4
gallop, penurunan intensitas S1 dan split paradoksal S2
Dapat ditemukan murmur midsistolik atau late sistolik apikal
sementara karena adanya disfungsi katup mitral dan
pericardial friction rub. Pada minggu pertama pasca STEMI
dapat ditemukan peningkatan suhu sampai 38 derajat.

EKG
Penanda Biokimia Jantung :
- CKMB
- Troponin
- Mioglobin
- Kreatin Kinase
- Laktat Dehidrogenase

Penatalaksanaan
Tatalaksana awal
1. Tatalaksana pre hospital
Prognosis STEMI tergantung terhadap 2 kelompok
komplikasi yaitu komplikasi elektrikal (aritmia) dan
komplikasi mekanik (pump failure). Elemen utama tatalaksana
pre hospital :
- Pengenalan gejala oleh pasien dan segera mencari
pertolongan medis
- Segera memanggil tim emergensi medis dan segera
melakukan resusitasi
- Tranportasi pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas
ICCU/ICU serta staf medis dokter dan perawat yang
terlatih
- Melakukan terapi reperfusi

2. Tatalaksana di ruang emergensi
Tata laksana mencakup mengurangi/menghilangkan nyeri dada,
identifikasi cepat pasien yang merupakan kandidat terapi reperfusi
segera, triase pasien yang tepat dan hindari pemulangan cepat pada
pasien dengan STEMI
3. Tatalaksana Umum
- Oksigen
- Nitrogliserin (NTG)
- Morfin
- Aspirin
- Beta Blocker
- Terapi reperfusi
Sasaran terapi reperfusi pada pasien STEMI adalah door-to-needle
(atau medical contact-to-needle) time untuk memulai terapi
fibrinolitik dapat dicapai dalam 30 menit atau door-to-balloon (atau medical
contact-to-balloon) time untuk PCI dapat dicapai dalam 60 menit

Langkah langkah penilaian dalam memilih terapi
reperfusi pada pasien STEMI :
1. Nilai waktu dan resiko
- Waktu sejak onset gejala
- Resiko STEMI
- Resiko fibrinolitik
- Waktu yang dibutuhkan dalam transportasi
menuju laboratorium PCI
2. Tentukan apakah terapi fibrinolisis atau terapi
invasive lebih disukai

Reperfusi farmakologis :
Jika tidak ada kontraindikasi, terapi fibrinolisis idealnya
diberikan dalam 30 menit sejak masuk (door-to-needle-time < 30
menit). Tujuan utama fibrinolisis adalah restorasi cepat patensi
arteri coroner
Jika dinilai secara angiografi, aliran didalam arteri koroner yang
terlibat (culprit) digambarkan dengan skala kualitatif sederhana
disebut thrombolysis in myocardial infarction (TIMI) grading
system:
Grade 0 : menunjukan oklusi total (complete occlusions)
Grade 1: menunjukan penetrasi sebagian materi kontras
melewati titik obstruksi tetapi tanpa perfusi vaskular distal
Grade 2 : menunjukan perfusi pembuluh darah yang
mengalami infark ke bagian distal tetapi dengan aliran
yang melambat dibanding aliran arteri normal
Grade 3 : menunjukan perfusi penuh pembuluh yang
mengalami infark dengan aliran normal

Target terapi reperfusi adalah aliran TIMI grade 3, karena
perfusi penuh pada arteri koroner yang terkena infark
menunjukan hasil yang lebih baik dalam membatasi luasnya
infark, mempertahankan fungsi ventrikel kiri dan
menurunkan laju mortalitas jangka pendek dan jangka
panjang

Terapi Fibrinolitik
Indikasi :
- Klas I
Jika tidak ada kontraindikasi, dilakukan pada pasien STEMI dengan
onset gejala < 12 jam dan Elevasi ST > 0,1 mV pada sekurang-
kurangnya dua sandapan prekordial atau sekurang-kurangnya dua
sandapan ekstremitas.
Jika tidak ada kontraindikasi , onset gejala < 12 jam, dan LBBB
baru atau diduga baru

- Klas IIa
Jika tidak ada kontraindikasi, onset gejala < 12 jam dan
EKG 12 sandapan konsisten dengan infark miokard
posterior
Jika tidak ada kontraindikasi, dengan gejala mulai dari <
12 jam sampai 24 jam yang mengalami gejala iskemia
yang terus berlanjut dan elevasi ST 0.1 mV pada
sekurang-kurangnya 2 sandapan prekordial yang
berdampingan atau sekurang-kurangnya 2 sandapan
ekstremitas


Kontraindikasi :
Kontraindikasi fibrinolitik absolute :
- Riwayat perdarahan intracranial kapanpun
- Lesi structural cerebrovascular. Contoh : arterio
venous malformation
- Tumor intracranial ( primer maupun metastasis )
- Stroke iskemik dalam 3 bulan kecuali dalam 3 jam
terakhir
- Dicurigai diseksi aorta
- Adanya trauma/pembedahan/trauma kepala dalam 3
bulan terakhir
- Adanya perdarahan aktif ( tidak termasuk menstruasi
)

Kontraindikasi fibrinolitik relative :
- Riwayat hipertensi kronik
- Hipertensi berat tidak terkontrol. Systole > 180 mmHg Diastole > 110
mmHg
- Riwayat stroke, iskemik > 3 bulan, demensia, atau kelainan
intracranial selain pada absolute
- Resusitasi jantung paru traumatik atau lama > 10 menit atau operasi
besar < 3 minggu
- Perdarahan internal dalam 24 minggu terakhir
- Terapi anti koagulan oral
- Kehamilan

KOMPLIKASI
Aritmia : Ventrikel dan Atrial
AV Block
Gagal Jantung (pump failure)
Emboli / tromboemboli
Ruptura

PROGNOSIS
Klasifikasi Killip