Anda di halaman 1dari 43

i

KATA PENGANTAR

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 tentang
Implementasi Kurikulum 2013, menyatakan bahwa Kurikulum 2013 dilakukan secara
terbatas dan bertahap mulai tahun ajaran 2013/2014. Kurikulum 2013 merupakan
pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan baik
internal dan eksternal. Fokus pengembangan Kurikulum 2013, adalah penyempurnaan pola
pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses
pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa
yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Untuk mendukung implementasi Kurikulum
2013 tersebut Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan berbagai upaya salah satunya adalah
penyusunan berbagai panduan teknis sebagai operasionalisasi dari panduan umum yang
diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Panduan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Model Pembelajaran Berbasis Penemuan (discovery learning) di Sekolah Dasar.
2. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (project based learning) di Sekolah Dasar.
3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (problem based learning) di Sekolah Dasar.
4. Panduan Teknis Penilaian Berbasis Portofolio di Sekolah Dasar.
5. Panduan Teknis Penilaian Tematik di Sekolah Dasar.
6. Panduan Teknis Monitoring dan Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah
Dasar.
Panduan-panduan tersebut diterbitkan sebagai panduan teknis atau acuan bagi guru, kepala
sekolah, pengawas, pejabat dinas pendidikan dan orangtua serta masyarakat dalam
melaksanakan, mengawal, mendampingi dan memfasilitasi implementasi Kurikulum 2013 di
Sekolah Dasar.
Sebagai langkah awal, tentu panduan teknis ini masih perlu penyempurnaan secara
berkelanjutan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan naskah ini kami sampaikan
terima kasih. Semoga panduan-panduan tersebut dapat bermanfaat bagi pelaksanaan
kurikulum 2013 di Sekolah Dasar dengan baik.

a.n. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar
Direktur Pembinaan SD

Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd.
NIP196412281987011001


ii




iii

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ---------------------------------------------------------------------- I
DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------------------- III
BAB I PENDAHULUAN ------------------------------------------------------------------ 1
A. LATAR BELAKANG ------------------------------------------------------------------------------------ 1
B. LANDASAN HUKUM ----------------------------------------------------------------------------------- 3
C. TUJUAN --------------------------------------------------------------------------------------------- 4
BAB II METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) ---------- 5
A. KONSEP DASAR ------------------------------------------------------------------------------------ 5
B. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) ---------11
C. SKENARIO PEMBELAJARAN ---------------------------------------------------------------------33
BAB III PENUTUP ---------------------------------------------------------------------39




iv




1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mulai tahun 2013, pemerintah menetapkan penerapan kurikulum baru yang disebut
dengan Kurikulum 2013. Kurikulum ini dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia Indonesia terutama karena beberapa alasan: (1) tantangan perubahan
kebutuhan pada abad 21, (2) rendahnya daya saing kompetitif pelajar Indonesia dalam
kancah asesmen internasional, PISA dan TIMMS, serta (3) potensi modalitas keemasan
sumber daya manusia beberapa puluh tahun ke depan.
Terkait dengan penerapan Kurikulum 2013 tersebut, pemerintah menekankan
penggunaan tematik terpadu dalam pembelajaran di sekolah dasar, dan pendekatan
saintifik dalam proses pembelajarannya untuk pengembangan ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan
perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas
menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan
diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis,
mengevaluasi, mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati,
menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Untuk memperkuat pendekatan
ilmiah (scientific), tematik terpadu perlu diterapkan pembelajaran berbasis
penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Sedangkan untuk mendorong
kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual
maupun kelompok maka disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang
menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah(project based learning). Dalam
konteks pembelajaran di kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah,
peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata.
Mengingat pelaksanaan Kurikulum 2013 menuntut penggunaan tematik terpadu dan
pendekatan saintifik, agar tidak terjadi kebingungan pada tahap pelaksanaan di kelas,
Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar berkepentingan untuk memberikan bimbingan
teknis kepada para guru agar mereka memperoleh pemahaman yang jelas tentang
beberapa model pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik.


2

Buku ini dikembangkan untuk memberi kesempatan kepada para guru untuk memahami
secara mandiri konsep Pendekatan Saintifik pada model pembelajaran berbasis
penemuan (discovery learning), pembelajaran berbasis proyek (project based learning),
dan pembeajaran berbasis masalah (problem based learning).
Isi bab 2 adalah uraian tentang konsep dasar dan pelaksanaan model pembelajaran
berbasis penemuan (discovery learning). Isi bab 3 akan diuraikan tentang Konsep
Dasar dan pelaksanaan pembelajaran berbasis projek (project based learning). Isi bab 4
berisi tentang konsep dasar model pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning), dan Bab 5 penutup.
Saat ini penataan Kurikulum 2013, sudah memasuki tahap implementasi bertahap-
terbatas pada Kelas I dan IV SD/MI,Kelas VII SMP/MTs, dan Kelas IX SMA pada
sebagian satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah Indonesia.
Pentahapan implementasi ini, dimaksudkan untuk memperoleh informasi tingkat
keterlaksanaan kurikulum dan memberi peluang bagi penyempurnaan kurikulum secara
bertahap.
Langkah awal yang telah dilakukan dalam rangka implementasi Kurikulum 2013 adalah
melakukan Pendidikan dan Pelatihan dalam rangka Implementasi Kurikulum 2013
kepada seluruh unsur pendidikan, dalam hal ini pendidik dan tenaga kependidikan di
sekolah serta unsur-unsur lain yang terlibat langsung dalam proses pendidikan. Salah
satu strategi untuk memahami dan memantapkan implementasi Kurikulum 2013, yaitu
melalui Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Implementasi Kurikulum 2013 yang
diperuntukkan bagi guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.
Atas dasar itu, Diklat Implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah awal yang
sangat penting untuk mempercepat pemahaman dan keterampilan dalam
mengimplementasikan kurikulum tersebut. Untuk memelihara dan meningkatkan
kesinambungan pemahaman dan implementasi Kurikulum 2013 di masing-masing
satuan pendidikan, diprogramkan kegiatan pendampingan untuk para guru dan kepala
sekolah. Program pendampingan ini dilakukan sebagai penguatan dalam memahami
konsep Kurikulum 2013 berikut perubahannya di lapangan serta untuk membantu
mengatasi berbagai kendala yang muncul pada saat implementasi kurikulum tersebut di
sekolah.


3

Untuk mendukung keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013 disekolah sesuai
dengan konsep dan desain yang telah dirancang, perlu dilakukan pendampingan
implementasi Kurikulum 2013 sekaligus mengetahui berbagai dukungan dan
kendalanya. Pedoman ini menjadi acuan bagi guru, kepala sekolah, pengawas, pejabat
dinas pendidikan dan orangtua serta masyarakat dalam melaksanakan, mengawal,
mendampingi dan memfasilitasi implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar.

B. Landasan Hukum
Secara normatif-konstitusional, pengembangan secara utuh Kurikulum 2013
berlandaskan ketentuan perundang-undangan sebagai berikut.
a. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
b. Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Nasional Tahun 2005-2025;
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan
Dosen
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru
e. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005;
f. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang
Standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah
g. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65
tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
h. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66
tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan
i. Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 67 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
j. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 71
Tahun 2013 Tentang Buku Teks Pelajaran dan Buku Panduan Guru Untuk
Pendidikan Dasar Dan Menengah
k. Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum, dan


4

l. Perkalan No.18 Tahun 2010, tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan
Pelatihan;

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Secara umum tujuan panduan ini adalah untuk memberikan acuan bagi guru, kepala
sekolah, pengawas, pejabat dinas pendidikan dan orangtua serta masyarakat dalam
melaksanakan, mengawal, mendampingi dan memfasilitasi pelaksanaan
pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning), pembelajaran berbasis projek
(project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
sebagai salah satu pembelajaran dalam implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah
Dasar.

2. Tujuan khusus
Secara khusus panduan ini bertujuan sebagai berikut:
a. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan bagi guru, kepala sekolah dan
pengawas, tentang konsep pembelajaran berbasis penemuan (discovery
learning) di Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum 2013.
b. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan bagi guru, kepala sekolah dan
pengawas, tentang konsep pembelajaran berbasis projek (project based
learning) di Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum 2013.
c. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan bagi guru, kepala sekolah dan
pengawas, tentang konsep pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) di Sekolah Dasar berdasarkan Kurikulum 2013.



5

BAB II
METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN
(DISCOVERY LEARNING)

Pada lampiran iv Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
81A Tahun 2013, untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum,
kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip: (1) berpusat pada peserta didik, (2)
mengembangkan kreativitas peserta didik, (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan
menantang, (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan (5)
menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan
metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.
Di dalam pembelajaran, peserta didik didorong untuk menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada
dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang
sesuai dengan lingkungannya. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa
pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik
adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah,
mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pembelajaran harus berkenaan
dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi
pengetahuan dalam proses kognitifnya.

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Discovery diartikan sebagai penemuan. Menurut Sund discovery adalah proses
mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses
mental tersebut ialah mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan,
membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya
(Roestiyah, 2001:20).
Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya discovery learning merupakan pembentukan
kategori-kategori atau konsep-konsep, yang dapat memungkinkan terjadinya
generalisasi. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam


6

discovery, bahwa discovery adalah pembentukan kategori-kategori, atau lebih sering
disebut sistem-sistem coding. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem
coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang
terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events).
Selanjutnya menurut Bruner penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara
dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan
tertentu. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan
adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu
masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan
pemecahan (Markaban, 2006:9).
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta
didik, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang
proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik pada
tahap eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan discovery learning environment, yaitu
lingkungan dimana peserta didik dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan
baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui.
Lingkungan seperti ini bertujuan agar peserta didik dalam proses belajar dapat
berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada
manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta
didik. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan
peserta didik dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan
tingkat perkembangannya. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi
melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactiv,
iconic, dan symbolic.
Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk
memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak
menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan,
dan sebagainya.
Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-
gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak
belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).


7

Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan
abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa,
logika, matematika, dan sebagainya.
Ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah
untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2)
berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan yang sudah ada.
Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode discovery learning menurut
Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk
menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historin, atau ahli matematika.
Dan melalui kegiatan tersebut peserta didik akan menguasainya, menerapkan, serta
menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning) yaitu:
a. Meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran.
b. Mendorong peserta didik untuk dapat menemukan dan menyelidiki sendiri
konsep yang dipelajari mudah diingat dan tidak mudah dilupakan peserta
didik;
c. Mendorong peserta didik untuk belajar menemukan pola dalam situasi konkret
maupun abstrak, serta meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang
diberikan.
d. Membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling
membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
e. Melatih peserta didik belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan
problema yang dihadapi sendiri

3. Manfaat
a. Peserta didik aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan
kemampuan untuk menemukan hasil akhir;


8

b. Peserta didik memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri
proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama
diingat;
c. Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong
ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
d. Peserta didik yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan
lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
e. Metode ini melatih peserta didik untuk lebih banyak belajar sendiri.

4. Langkah-langkah Pembelajaran Discovery Learning
a. Langkah Persiapan
1. Menentukan tujuan pembelajaran
2. Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal,
minat, gaya belajar, dan sebagainya)
3. Memilih materi pelajaran.
4. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara
induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik
6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari
yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke
simbolik
7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

b. Pelaksanaan Model Discovery Learning
Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan strategi discovery learning di
kelas, langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar
mengajar secara umum sebagai berikut:






9



Tabel 1 : Sintaksis Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery learning)
Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
Tahap 1
Stimulation/pemberian
rangsangan
Siswa dihadapkan pada suatu permasalahan agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Dalam PBM guru
dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan, anjuran
membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan masalah
Tahap 2
Problem statement/
pernyataan/identifikasi
masalah
Setelah dilakukan stimulasi, guru memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin
masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. Kemudian
dipilih salah satu untuk dirumuskan dalam bentuk
hipotesis
Tahap 3
Data collection /
pengumpulan data
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengumpulkan data /informasi sebanyak2nya. Pada
tahap ini berfungsi untuk menyatakan / membuktikan
benar atau tidaknya hipotesis. Kegiatan yang dilakukan
bisa dengan membaca literature, mengamati obyek,
wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba
sendiri, dan sebagainya.
1. Stimulation /
pemberian
rangsangan
2. Problem
statement /
pernyataan /
identifikasi masalah
3. Pengumpulan data
4. Pengolahan data 5. Pembuktian
6. Menarik
kesimpulan


10

Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
Tahap 4
Data processing /
pengolahan data
Data yang diperoleh siswa melalui membaca literatur,
mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber,
melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya, diolah,
diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu
dihitung dengan cara tertentu serta ditafsir pada tingkat
kepercayaan tertentu.
Tahap 5
Verification/
pembuktian
Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Verifikasi
akan berjalan baik dan kreatif jika guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-
contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya
Tahap 6
Generalization /
menarik kesimpulan /
generalisasi
Proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan
prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau
masalah yang sama.


11

B. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PENEMUAN (Discovery Learning)
1. Pemetaan Indikator Pembelajaran




12

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah : SD .......
Kelas/Semester : I / 1
Tema : 2. Kegemaranku
Sub tema : 2.2. Bernyanyi dan Menari
Pembelajaran : 5
Alokasi Waktu : 1 hari (5 x 35menit)

A. Kompetensi Inti
1. Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang di anutnya
2. Menunjukkan perilaku jujur disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat,
membaca ) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya makluk
ciptaan tuhan dan kegiatannya dan benda - benda yang di jumpainya di rumah dan
di sekolah
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, dan logis, dalam bahasa
yang jelas dan logis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam
tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Bahasa Indonesia
1.1 Menerima anugerah Tuhan YME berupa Bahasa Indonesia yang dikenal sebagai
bahasa persatuan dan sarana belajar di tengan keberagaman bahasa daerah.
1.2 Memiliki rasa percaya diri terhadap keberadaan tubuh melalui pemanfaatan
bahasa Indonesi dan / atau bahasa daerah
3.1 Mengenal teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat
benda, serta peristiwa siang dan malam dengan bantuan guru atau teman dalam
bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa
daerah untuk membantu pemahaman


13


Indikator :
3.1.1 Mengikuti arahan guru dalam melakukan permainan.
3.1.2 Mengemukakan pendapat secara lisan tentang pengalaman mengikuti
permainan.
4.1 Mengamati dan menirukan teks deskriptif tentang anggota tubuh dan
pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam secara
mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata
bahasa daerah untuk membantu penyajian.

PPKN
2.1 Menunjukkan perlilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru sebagai
perwujudan nilai dan moral pancasila.
3.2 Mengenal tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di
rumah dan sekolah.
Indikator
3.2.1 Mengikuti aturan dalam melakukan permainan
4.2 Melaksanakan tata tertib di rumah dan sekolah
Indikator
4.2.1 Bekerja sama untuk melakukan permainan tradisional.
4.3 Mengamati dan menceritakan kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan
sekolah.

Matematika
2.1 Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam melakukan penjumlahan dan
pengurangan sesuai prosedur/aturan dengan memperhatikan nilai tempat
puluhan dan satuan.


14

3.1 Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-benda yang ada
di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain.
Indikator
3.1.1 Mengidentifikasi pasangan bilangan dengan jumlah tertentu.
4.8 Mengurai sebuah bilangan asli sampai dengan 99 sebagai hasil penjumlahan
atau pengurangan dua buah bilangan asli lainnya dengan berbagai kemungkinan
jawaban.
Indikator
4.8.1 Menentukan pasangan bilangan dengan jumlah yang ditentukan.

SBDP
2.1 Menunjukkan rasa percaya diri untuk berlatih mengekspresikan diri dalam
mengolah karya seni.
4.7 Menyanyikan lagu anak-anak dan berlatih memahami isi lagu.
Indikator
4.7.1 Siswa mampu menyanyikan sebuah lagu permainan anak.

C. Tujuan pembelajaran
1. Melalui lagu, siswa dapat melakukan permainan cublak cublak suwengsecara
berkelompok .
2. Melalui permainan, siswa dapat melakukan gerak lokomotar dengan benar.
3. Setelah bermain, siswa dapat mengemukakkan pendapat tentang permainan yang
dilakukan secara lisan.
4. Dengan permainan, siswa mampu menemukan pasangan bilangan dengan jumlah
tertentu secara tepat.

D. Materi pembelajaran.
1. Bermain sambil bernyanyi
2. Keluarga bilangan


15

E. Metode pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model pembelajaran : Discovery Learning
3. Metode : tanya jawab dan demonstrasi

F. Media, Alat dan Sumber Belajar
1. Media : lagu cublak-cublak suweng.
2. Alat : Batu kerikil (batu kecil)
3. Sumber belajar : Buku siswa dan buku guru

G. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU
Pendahuluan 1. Guru mengucapkan salam, kemudian mengajak
siswa berdoa menurut agama dan kepercayaan
masing-masing (mengawali kegiatan pembelajaran).
2. Guru mengecek kehadiran siswa
3. Guru mengarahkan siswa mengarahkan siswa pada
situasi belajar dengan menyanyikan lagu selamat
pagi
10 menit
Kegiatan Inti








Tahap 1 : Pemberian Rangsangan
1. Siswa mengenal lagu daerah dari Jawa Tengah
Cublak cublak suweng yang disajikan guru
(mengamati).
2. Bersama sama siswa menyanyikan lagu Cublak
cublak suweng.
3. Guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan lagu
yang di nyanykan.Apakah kamu senang
menyanyikan lagu-lagu daerah? (menanya)
4. Kemudian guru mengajak siswa melakukan
permainan dari lagu yang dinyanyikan.
5. Siswa dikenalkan dengan permainan Cublak Cublak
Suweng. Berikut ini aturan permainannya:
Salah satu siswa duduk seperti posisi bersujud
dengan menutup mata.
120 menit


16

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU
























Siswa yang lain membuka telapak tangannya di
atas punggung seorang siswa sambil
menyanyikan lagu Cublak cublak suweng.
Salah satu siswa memegang satu batu dan
menjalankan batu tersebut diatas tangan
teman-temannya secara bergantian.
Ketika lagu selesai dinyanyikan batu diletakkan
di atas tangan seorang siswa.
Lalu semua siswa menggenggam tangan sambil
menggoyang-goyangkannya dan menyanyikan
sir..sir..pong....dele kopong, berkali-kali.
Siswa yang bersujud bangun dan menebak di
tangan siapa batu tersebut disimpan.
Jika tebakannya tepat maka siswa yang
memegang batu menggantikan siswa yang
duduk bersujud.Jika tebakannya salah maka
yang menebak kembali duduk bersujud untuk
bermain Cublak Cublak Suweng dari awal.
Permainan Cublak-cublak suweng efektif jika
pesertanya berjumlah 5-7 siswa. Guru
menjelaskan pasangan bilangan dengan jumlah
yang telah ditentukan hasilnya di papan tulis,
misalnya siswa mencari pasangan bilangan yang
jumlahnya 15.

Tahap 2 : Mengidentifikasi Masalah
1. Siswa berkelompok melakukan diskusi untuk
mendapatkan pasangan bilangan dari soal di atas.
2. Siswa mencari pola bilangan agar mendapatkan
hasil
3. Siswa mencari pasangan-pasangan bilangan yang
bisa dijadikan hasil penjumlahan kurang dari 10 .
(menalar)
4. Cari pasangan bilangan yang jumlahnya 15.








17

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU































5. Untuk menguatkan konsep kerja sama, siswa
bermain dalam kelompok.
6. Siswa dikelompokan dengan jumlah kelompok
antara 10 20 siswa.
7. Setiap kelompok berperan sebagai kelompok pemain
musik. Mereka harus membagi kelompok menjadi
peniup suling dan pemain gitar.
8. Siswa melakukan hipotesis untuk membuktikan pola
bilangan melalui permainan untuk mendapatkan
pasangan bilangan dari keluarga bilangan.

Setelah istirahat siswa kembali di beri pertanyaan
untuk mengkaitkan materi tahap sebelumnya

Tahap 3 : Pengumpulan Data
Siswa membaca buku tentang cara bermain dalam
kelompok dan berpasangan antara11-20. (mencari
informasi). Mengingat siswa kelas 1 masih belum
lancar membaca menulis, maka untuk mengumpulkan
informasi dilakukan:
1. Guru meminta 12 siswa ke depan kelas :
2. Guru bertanya pada siswa, jika pemain suling terdiri
dari 6 siswa, berupa jumlah pemain gitar ?
3. Siswa diminta berhitung sampai 6 lalu memisahkan
diri dari barisan semula, kelompok ini adalah peniup
suling.
4. Guru bertanya pada siswa, berapa jumlah siswa
pemain gitar?
5. Bagaimana cara memasangkan bilangan, seperti
5
6
9
17
6
8


18

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU


















yang dicontohkan dengan menuliskan di papan tulis
dan menanyakan kembali pada siswa, jika peniup
suling terdiri dari 8 siswa, berapa jumlah siswa
pemain gitar ?

Tahap 4 Pengolahan Data
1. Siswa dikelompokkan menjadi 2 kelompok bermain
peran : kelompok pertama sebagai pemain suling
dan kelompok kedua sebagai pemain gitar
2. Setiap kelompok membuat variasi pasangan
keluarga bilangan, dengan langkah :
a) Setiap kelompok diminta mendiskusikan variasi
pasangan keluarga bilangan. Sejumlah 8 siswa
memisahkan diri dari barisan. Siswa diminta
menghitung jumlah siswa yang berada di
barisan ?
b) Siswa diminta untuk mencari pasangan bilangan
lainnya dari bilangan 12.
c) Masing-masing kelompok mendapatkan kertas
kosong untuk menuliskan variasi pasangan
bilangan dari keluarga bilangan.
d) Setiap kelompok menuliskan hasil dari variasi
keluarga bilangan.

Tahap 5 : Pembuktian
1. Salah satu siswa menghitung dengan bersuara
untuk membuktikan kebenaran jumlah pasangan
keluarga bilangan. (Komunikasi)



19

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU

2. Setiap kelompok menampilkan alternatif variasi
pasangan bilangan dari jumlah sejumlah anggota
kelompoknya. (presentasi)

Tahap 6 Menarik Kesimpulan
1. Siswa bersama guru menarik kesimpulan unsur
unsur dan sikap yang dikembamgkan dalam
permainan cublak-cublak suweng
2. Secara klasikal guru dan siswa menyimpulkan ciri-
ciri pasangan keluarga bilangan.
Kegiatan
Penutup
1. Guru melakukan refleksi kegiatan dengan meminta
siswa mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.
2. Guru memberikan penghargaan dengan memberi
bintang prestasi pada siswa sesuai dengan tingkat
kinerjanya .
3. Guru memberikan kegiatan tindak lanjut dalam
bentuk pemberian tugas di rumah (mencari lagu
untuk dijadikan permainan.
4. Guru memberi tindak lanjut untuk tugas di rumah
5. Doa akhir pelajaran
15 menit




20

H. Penilaian
1. Teknik penilaian
a. Penilaian unjuk kerja
Rubrik kegiatan melakukan permainan sambil bernyanyi

No Kriteria
Baik sekali
4
Baik
3
Cukup
2
Perlu
bimbingan
1
1 Ketepatan
aturan main
Kelompok
mampu
menjalankan
urutan
permainan
dengan tepat
Kelompok
melakukan
1-2 kali
kesalahan
urutan
permainan
Kelompok
melakukan
3-4
kali
kesalahan
urutan
permainan
Kelompok
belum
mampu
mengikuti
aturan
permainan
2 Penguasaan
lagu
Kelompok
mampu
menghafal
seluruh
syair lagu,
Irama tepat
Kelompok
mampu
menghafal
seluruh
syair lagu,
Irama
kurang
tepat atau
sebaliknya
Kelompok
hanya
mampu
menghafal
sebagian
kecil
syair lagu
Kelompok
belum
mampu
menghafal
syair
lagu




21

b. Penilaian sikap, meliputi : Disiplin dan kerjasama
Lembar penilaian sikap:
Nama
Siswa
Disiplin
Kerjasama
membudaya
mulai
berkembang
mulai
terlihat
terlihat membudaya
mulai
berkembang
mulai
terlihat
terlihat

Uli

Anis

dst








1. Penilaian tes tertulis
Pasangkan bilangan siswa peniup suling dan pemain gitar
Jumlah pasangannya harus 15.

dan


















8 3
12 2
7
10 13
14 9
4
6
5
1
11
Siswa bermain gitar
Siwa peniup suling


22

Penskoran:





2. Penilaian sikap
Format penilaian sikap:

No
Nama Peserta
Didik
Aspek Penilaian Sikap
Percaya diri
Rasa ingin tahu
BS B C K BS B C
K
1.
Suliasih
2.
Eva
3.
Odas
4.
Anis
5.
Luqman
dst

Catatan :
BS = Baik Sekali
B = Baik
C = Cukup
K = Kurang

Keterangan skor :
4 = Baik Sekali
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang

Skor masksimal = 16
Penskoran :









23

3. Penilaian : Observasi (pengamatan)
Lembar pengamatan ketaatan dalam melakukan tugas:
No Kriteria
Terlihat

Belum
Terlihat

1
Mampu mengikuti instruksi guru
2
Terlibat aktif dalam kegiatan
3
Mematuhi peraturan dalam melakukan
kegiatan

4
Memahami konsep bilangan penjumlahan
sampai 20




_________, ___________


Mengetahui
Kepala Sekolah



______________________

Guru Kelas 1



_______________________




24

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN
(DISCOVERY LEARNING)

Sekolah : SD .....
Kelas/Semester : IV / I
Tema/ : 1. Indahnya kebersamaan
Sub tema : 1.1 Keberagaman Budaya Bangsaku
Pembelajaran : 2
Alokasi Waktu : 1 hari (5 x 35 menit)

A. Kompetensi Inti
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan keluarga,teman, dan guru.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat,
membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk
ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di
sekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, dan logis, dalam karya
yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan
yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Bahasa Indonesia
1.1 Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang
diakui sebagai bahasa persatuan yang kokoh dan sarana belajar untuk
memperoleh ilmu pengetahuan
2.2 Memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap penggunaan alat teknologi
modern dan tradisional, proses pembuatannya melalui pemanfaatan bahasa
Indonesia


25

3.1 Menggali informasi dari teks laporan hasil pengamatan tentang gaya, gerak,
energi panas, bunyi, dan cahaya dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa
Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku
Indikator:
3.1.1. Menjelaskan persamaan antara dua rumah adat yang disajikan
4.1 Mengamati, mengolah, dan menyajikan teks laporan hasil pengamatan tentang
gaya, gerak, energi panas, bunyi, dan cahaya dalam ahasa Indonesia lisan dan
tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku
Indikator:
3.1.2. Menjelaskan perbedaan antara dua rumah adat yang disajikan

SBdP
1.1 Mengagumi ciri khas keindahan karya seni dan karya kreatif masing-masing
daerah sebagai anugerah Tuhan
2.1 Menujukkan sikap berani mengekspresikan diri dalam berkarya seni
3.4. Mengenal tari-tari daerah dan keunikan gerakannya.
Indikator:
3.4.1. Menjelaskan (asal, keunikan gerakan) salah satu tarian adat (tari Kipas)
4.10 Memperagakan makna gerak ke dalam bentuk tari bertema dengan mengacu
pada gaya tari daerah berdasarkan ruang gerak.

Matematika
2.2 Menunjukkan perilaku cermat dan teliti dalam melakukan tabulasi pengukuran
panjang daun-daun atau benda-benda lain menggunakan pembulatan
(dinyatakan dalam cm terdekat)
3.6 Mengenal sudut siku-siku melalui pengamatan dan membandingkannya dengan
sudut yang berbeda.
Indikator:


26

3.6.1. Membedakan jenis sudut lancip, tumpul, dan siku-siku
3.6.2. Mengukur besar sudut dengan menggunakan busur
4.16 Merepresentasikan sudut lancip dan sudut tumpul dalam bangun datar.
Indikator:
4.16.1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk sudut

C. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah membaca teks dan mengamati gambar, siswa mampu menjelaskan
perbedaan antara dua rumah adat dengan benar.
2. Setelah membaca teks dan mengamati gambar, siswa mampu menjelaskan
persamaan antara dua rumah adat dengan benar.
3. Setelah bereksplorasi, siswa mampu membedakan jenis sudut lancip, tumpul, dan
siku- siku dengan benar.
4. Setelah bereksplorasi, siswa mampu mengukur besar sudut dengan menggunakan
busur dengan benar.
5. Setelah membaca teks dan berdiskusi, siswa mampu menjelaskan (asal, keunikan
gerakan) salah satu tarian adat (tari Kipas) dengan benar.

D. Materi Pembelajaran
1. Ciri-ciri rumah adat panjang dan lontik
2. Jenis-jenis sudut (sudut lancip, tumpul dan siku-siku)
3. Cara mengukur sudut
4. Tari kipas pakarena

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Pembelajaran Penemuan (Discovey Learning)
3. Metode : mengamati, tanya jawab, dan demonstrasi


27


F. Media, Alat dan Sumber Belajar
1. Busur, penggaris, dan benang.
2. Buku siswa halaman 10 17 dan buku guru halaman 11 - 17

G. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Sesi Pertama
KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU
Pendahuluan 1. Siswa memulai kegiatan dengan berdoa
2. Mengucapkan salam
3. Mengecek kehadiran siswa
4. Apersepsi:
Guru menyampaikan hari ini akan belajar tentang
ciri-ciri rumah adat
5 menit
Kegiatan Inti Tahap 1: Stimulasi
- Siswa membaca teks tentang rumah adat dan
mengamati bentuknya.

Tahap 2: Identifikasi masalah
- Siswa secara berkelompok mengidentifikasi ciri-
ciri rumah adat panjang dan rumah lontik

Tahap 3: Pengumpulan data
- Siswa mencatat sebanyak-banyaknya ciri-ciri
rumah adat panjang dan rumah adat lontik

Tahap 4 : Pengolahan data
- Siswa mengumpulkan dan membuat table yang
termasuk persamaan dan perbedaan antara
rumah adat panjang dan rumah adat lontik


70 menit


28

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU
Tahap 5 : Pembuktian
- Siswa membuktikan bahwa antara ciri-ciri rumah
adat yang dibuat dengan gambar yang disajikan
sudah sesuai

Tahap 6 : Kesimpulan
- Siswa dapat menyimpulkan bahwa ternyata
persamaan dan perbedaan rumah adat panjang
dan lontik adalah :

Perbedaan :
Rumah panjang Rumah lontik
1. Rumah tradisional
suku Dayak
Kalimantan
2. Bentuknya atapnya
lurus


3. Tangga dan pintu
lebih dari satu
4. Rumah tradisional
Riau

5. Bentuk atapnya
melengkung
keatas dan
runcing
6. Tangga dan pintu
hanya satu

Persamaan :
Sama-sama rumah adat
Sama-sama rumah panggung
Sama-sama terbuat dari bahan kayu
Kegiatan
Penutup
1. Guru bersama-sama siswa menyimpulkan tentang
persamaan dan perbedaan rumah adat panjang
dan lontik
2. Guru menyampaikan bahwa di Indonesia terdapat
beragam rumah adat, maka kita harus bangga
sebagai bangsa Indonesia
3. Doa akhir pelajaran
15 menit



29

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU
Sesi kedua 1. Selesai beristirahat, siswa diminta duduk tertib dan berdoa
sebelum memulai kegiatan
2. Guru bertanya apa ada teman yang masih berada diluar
kelas?
3. Apersepsi :
Guru menyampaikan bahwa setelah kita belajar tentang
rumah adat, maka kita akan belajar tentang jenis-jenis
sudut dan cara mengukur sudut
5 menit
Kegiatan Inti Tahap 1: Stimulasi
- Guru menjelaskan tentang jenis-jenis sudut beserta
ukurannya (sudut lancip, siku2 dan tumpul)

Tahap 2: Identifikasi masalah
- Siswa mengidentifikasi jenis-jenis sudut pada kedua
rumah adat panjang dan lontik dengan cara melingkari
(dibuku siswa halaman 11)

Tahap 3: Pengumpulan data
- Siswa mencari berbagai benda yang berada dikelas untuk
ditentukan jenis sudutnya (missal buku, penggaris, kotak
pensil,dsb)

Tahap 4 : Pengolahan data
- Siswa mengukur benda yang dikumpulkan, kemudian
membuat table yang berisi kolom nama benda, perkiraan
besar sudut, besar sudut hasil pengukuran dan jenis
sudut
- Siswa menuliskan hasil pengukuran ditabel yang sudah
dibuat

Tahap 5 : Pembuktian
- Siswa dapat membuktikan besar sudut setelah melakukan
pengukuran
70 menit


30

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI
WAKTU
Tahab 6 : Kesimpulan
- Siswa dapat menyimpulkan bahwa jika besar sudut yang
dia perkirakan sebelum pengukuran besarnya sama
dengan setelah diukur, dan mengetahui jenis sudutnya

Setelah kegiatan mengukur sudut berakhir, siswa membaca
bacaan dibuku siswa halaman 15. Kemudian berdiskusi
dengan teman sebangkunya menjawab pertanyaan yang ada
dibuku siswa. (tentang tari kipas pakarena)
Kegiatan
Penutup
1. Guru bersama-sama siswa menyimpulkan tentang besar
sudut dan jenisnya
2. Guru mengungatkan penting dan indahnya kebersamaan
dalam keberagaman bangsa.
3. Guru memberi motivasi kepada siswa untuk melakukan
pengukuran besar sudut pada benda2 yang ada dirumah
dengan teliti (sebagai tugas pengayaan)
4. Doa akhir pelajaran
10 menit


H. Penilaian
1. Teknik Penilaian:
a. Observasi / pengamatan ( menilai sikap saat melakukan kegiatan)
b. Penugasan (menilai pengetahuan saat mencari persamaan dan perbedaan
rumah adat, serta saat mengidentifikasi jenis sudut dalam gambar dan
mengukur sudut)
c. Tes tulis (menilai pengetahuan saat menjawab pertanyaan dibuku siswa hal.15)


2. Bentuk Instrumen Penilaian
a. Lembar penilaian sikap (pengamatan) saat siswa melakukan kegiatan
Perilaku yang diamati : rasa ingin tahu, teliti




31

Nama
Siswa
Rasa ingin tahu
Teliti
membudaya
mulai
berkembang
mulai
terlihat
Belum
terlihat
membudaya
mulai
berkembang
mulai
terlihat
Belum
terlihat

Ani

Ali

dst

















b. Lembar penilaian pengetahuan / penugasan (saat mencari persamaan dan
perbedaan rumah adat)

Nama
Persamaan Perbedaan
Menulis 1 persamaan Menulis 2 perbedaan
Ya tidak Ya Tidak
Egalita
Panji


c. Penilaian pengetahuan/penugasan (saat mengidentifikasi sudut dalam
gambar dan saat mengukur sudut dari benda)


Nama
Siswa dapat menerapkan
pemahaman sudut lancip,
tumpul,
dan siku-siku dalam gambar.
Siswa dapat mengukur
sudut dengan tepat.
Ya tidak Ya Tidak
Egalita
Panji

d. Lembar penilaian pengetahuan / tes tulis (saat menjawab pertanyaan dibuku
siswa hal 15)
Rubrik :


32

Nomor soal Nilai Keterangan :
1
30 Jika jawaban memuat asal tarian dan kisah tarian
15
Jika jawaban hanya memuat salah satunya (asalnya saja
atau kisahnya saja)
2
30
Jika jawaban memuat 2 gerakan (berputar searah jarum
jam dan naik turun) dan memuat 2 makna gerakan tersebut
15
Jika jawaban memuat 1 gerakan (bisa berputar searah
jarum jam saja atau naik turun saja) dan memuat 1 makna
gerakan tersebut
3
40
Jika jawaban memuat ide2 yang masuk akal (bisa
dilaksanakan)
20 Jika jawaban memuat ide2 yang kurang masuk akal


Nama No.1 No.2 No.3 Total
Egalita 30 15 40 85
Panji 15 15 40 70



Jakarta, 10 Oktober 2013

Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Kelas IV



_____________________ _____________________
NIP. NIP .




33


C. SKENARIO PEMBELAJARAN

Dari salah satu contoh RPP di atas, dapat dilaksanakan sesuai kemampuan guru, sarana
prasarana pembelajaran, dan intake siswa dalam situasi pembelajaran. Berikut ini salah satu
contoh situasi pembelajaran.

Satuan Pendidikan : SD ....
Kelas/Semester : IV / 1
Tema : Indahnya kebersamaan
Sub tema : Keberagaman budaya bangsaku
Pembelajaran : 2
Alokasi Waktu : 1 hari (5 x 35)

Pada sesi pertama dikegiatan pendahuluan :
Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan / gambar
Selamat pagi anak-anak
Baik, sebelum kita mulai belajar
kita berdoa dulu yacoba mas
Panji maju dipimpin teman-
temannya berdoa.
Terima kasih mas Panji,
Nah..hari ini ada teman kalian
yang tidak masuk ?
Wahhebat, semua anak ibu
rajin sekolah. Nah sebagai
hadiahnya hari ini ibu ingin
mengajak kalian untuk belajar
tentang ciri-ciri rumah adat. Ada
yang bisa menjelaskan ini gambar
rumah adat mana?
Pagi bu guru.
Baik bu. Mari
teman-teman kita
berdoa. Berdoa
mulai..
Tidak ada bu.

Suku Dayak bu
Suku Riau bu.







34

Dilanjutkan pada kegiatan inti
Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan / gambar
Betulhebat anak ibu, Sekarang
kita baca buku halaman . Ayo
kita baca bersama-sama. Dimulai
ibu guru dulu ya..nanti kalian
lanjutkan.
OK. Sekarang kalian bentuk
kelompok dengan teman
sebangku. Coba kalian amati
gambar 2 rumah adat tersebut.
Namanya apa ? rumah adat mana
? ciri-cirinya bagaimana ?
kemudian dicari persamaan dan
perbedaan dari 2 rumah adat
tersebut. Kalian diskusikan
dengan teman sebangku. Ada
pertanyaan anak-anak ?
Ditulis dibuku masing-masing
dengan membuat table. Ini ibu
beri contoh membuat table
Guru berkeliling mengamati siswa
dalam melakukan kegiatan sambil
menilai sikap (rasa ingin tahu dan
ketelitian). Setelah waktu yang
disediakan habis guru
menyampaikan :
Baik anak-anakwaktu
mengerjakan tugas sudah selesai,
coba sekarang siapa yang mau
menyampaikan hasilnya lebih
dulu?
Iya, kelompok egalita dan panji.
Ayo siapa yang akan
menyampaikan ?
Gimana anak-anakyang
disampaikan egalita ? ada yang
bisa nambah?


Pintar.. Ayo ada yang mau
menyampaikan lagi? kegiatan ini
bisa berlanjut sampai beberapa
kelompok yang menyampaikan
dan waktu berakhir.
Baik bu




Bu hasilnya ditulis
dimana bu ?


















Saya bu..




Saya buEgalita


Saya bu,
persamaannya
sama terbuat dari
kayu

Saya bu.






Perbedaan :
Rumah adat
panjang
Rumah adat
lontik





Persamaan :








35

Kegiatan penutup
Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan
Anak-anak mari kita
simpulkan bersama-sama,
sambil kalian cek kembali
catatan kalian dibuku
masing2.
Coba gambar yang atas
rumah adat mana? apa
namanya ?
Yang bawah?

Sekarang perbedaan rumah
adat panjang dan lontik apa
ya ?

Ayo apalagi perbedaannya?



Sekarang siapa yang bisa
menjelaskan persamaan
rumah adat panjang dan
lontik ?

Wahanak ibu sudah
hebat, jadi anak-anak di
Indonesia itu banyak ragam
rumah adat, maka kita
harus bangga menjadi
bangsa Indonesia.
Ok, sekarang waktu
istirahat, sebelum istirahat
kita berdoa dulu setelah
belajar.





Dayak bu namanya
panjang

Riau bu namanya
lontik

Kalau panjang atapnya
lurus, lontik atapnya
melengkung dan
ujungnya lancip


Rumah panjang pintu
dan tangganya banyak,
kalau lontik pintu dan
tangganya hanya satu.




Saya bu, sama-sama
rumah adat, sama
rumah panggung,
sama-sama terbuat
dari kayu


















36

Sesi kedua setelah istirahat pada tahap pendahuluan :
Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan
Selamat siang anak-anak ?

Bagaimana dengan istirahat
kalian? Senang ?

Baik sekarang duduk yang
rapi kita berdoa dulu
sebelum belajar. Ayo Egalita
dipimpin berdoa
Terima kasih egalitaanak-
anak setelah tadi kita
belajar tentang rumah adat,
sekarang kita akan belajar
tentang jenis-jenis sudut
dan cara mengukurnya.

Siapa yang tahu apa yang
dimaksud sudut ?

Hebat.nah coba lihat
gambar ini. Ada dua garis
bertemu disatu titik.
Titiknya namanya titik
sudut, dua garisnya disebut
sisi-sisi sudut
Siang bu guru

Senang bu


Baik bu.teman-teman
mari berdoa. Berdoa
mulai








Saya bu.pertemuan
dua garis









Contoh sudut lancip :



Kegiatan inti :
Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan / gambar
Sekarang coba kalian amati
beberapa gambar sudut ini.
Jadi ada berapa jenis sudut
?
Coba kita ukur besarnya
sudut digambar ini dengan
busur. Apa benar besarnya
seperti yang ditulis
digambar ?
Jadi yang namanya sudut
lancip adalah sudut yang
besarnya antara 0 90
derajad, sudut tumpul
besarnya antara 90 180
3 bu guru, sudut
lancip, sudut tumpul
dan sudut siku-siku






Jelas bu guru




Contoh sudut tumpul :





37

Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan / gambar
derajad dan sudut siku-siku
besarnya 90 derajad. Jelas
anak-anak ?
Nah ..sekarang coba kalian
buka buku halaman 11. Cari
dan sebutkan jenis sudut
yang ada di gambar rumah
adat. Lingkari sudut kalian
temukan dan beri nama
sudutnya! jelas anak-anak ?
Anak-anak, yang sudah
selesai bukunya
dikumpulkan dimeja bu
guru. Setelah itu coba kalian
buat kelompok masing2 3 /
4 siswa. Nah setelah itu
kalian mencari benda-benda
yang ada dikelas dan ukur
besar sudut dan tentukan
jenis sudutnya.
Jumlah bendanya bisa 3 / 4
benda, hasilnya kalian bisa
tulis dibuku masing-masing
dengan membuat table
seperti yang tadi pagi sudah
bu guru contohkan. Atau
coba lihat contoh tabel yang
ibu buatkan.
Baik yang sudah selesai,
boleh dilanjutkan dengan
membaca buku halaman 15.
Kemudian diskusikan
dengan temanmu untuk
menjawab pertanyaan yang
ada dibuku.
Guru berkeliling mengamati
sikap saat siswa melakukan
kegiatan





Jelas bu,









Bu guru bendanya
berapa bu? terus hasil
ditulis dimana bu ?










Bu guru sudah selesai















Sudut siku-siku :

90
o







Tabel hasil pengukuran sudut
Nama
benda
Perkir
aan
besar
sudut
Hasil
pengu
kuran
besar
sudut
Nama
sudut








38

Kegiatan penutup
Kegiatan guru Kegiatan siswa Keterangan / gambar
Anak-anak hari ini kita
sudah belajar apa saja ya?






Wahpintar-pintar anak
ibu, Nah ibu punya tugas
untuk kalian semua nanti
coba kalian cari benda-
benda yang ada dirumah
dan coba kalian ukur besar
sudutnya.Besok
dikumpulkan ya !
Terserah kalian, lebih
banyak lebih baik. Ok,
sekarang waktunya pulang,
tapi kita berdoa dulu ya
supaya Tuhan memberi
keselamatan kepada kita
semua. Berdoa mulai.
Ciri-ciri rumah adat,
persamaan dan
perbedaan rumah adat
panjang dan lontik,
Jenis-jenis sudut, cara
mengukur besar sudut
Tari pakarena









Berapa bendanya bu?






39

BAB III
PENUTUP


Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan
pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta
penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian
kompetensi lulusan. Dengan tersusunnya buku model pembelajaran di SD ini diharapkan
dapat memfasilitasi guru, kepala sekolah, dan pengawas, serta para pemangku kepentingan
pendidikan baik secara individu dan kelompok dalam mengembangan rencana dan
pelaksanaan pembelajaran serta penilaian hasil pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning), pembelajaran berbasis proyek
(project based learning), dan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
dimaksudkan untuk memperkaya dan menambah wawasan bagi guru, kepala sekolah, dan
pengawas dalam memilih model pembelajaran. Model-model tersebut dimaksudkan untuk
memperkuat pendekatan saintifik pada pembelajaran tematik terpadu sebagaimana
Kurikulum 2013.