Anda di halaman 1dari 382

HALAMAN JU MODUL PLPG

PENDIDIKAN JASMANI DAN


KESEHATAN







Penulis
Tim Instruktur Pendidikan Jasmani dan Kesehatan




KONSORSIUM SERTIFIKASI GURU
2013



TIM PENULIS

Drs. Agus Margono, M.Kes.
Drs. Agus Mukholid, M.Pd.
Drs. Sapta Kunta Purnama, M.Pd.
Drs. Budi Satyawan, M.Pd.
Dr. H. Iis Marwan, Drs.,S.H., M.Pd.
Hj. Giri Verianti, Dra., M.Pd.
Dr. H. Cucu Hidayat, Drs., M.Pd.
Gumilar Mulya, Drs., M.Pd.
Muhajir, Drs., M.Ed.









Modul PLPG Penjaskes 2013
v
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Dalam rangka mendukung pencapaian visi Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2025 Insan Indonesia
Cerdas dan Kompetetif dan Visi Kemendikbud tahun 2014 Terselenggaranya
Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk membentuk Insan Indonesia Cerdas
Komprehensif, Universitas Siliwangi (UNSIL) Tasikmalaya tahun 2010-2014
telah mengembangkan berbagai program dan kegiatan peningkatan
kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, program-program
dimaksud didesain dalam kawasan peningkatan kompetensi pendidik dan
tenaga kependidikan di bidang pengembangan pendidikan yang didukung
dengan penguatan teknologi pembelajaran.
Salah satu upaya Universitas Siliwangi (UNSIL) Tasikmalaya
merealisasikan program peningkatan kompetensi pendidik di bidang
pendidikan adalah menyelenggarakan Pendidikan Dan Latihan Profesi
Guru (PLPG). Guna mendukung pencapaian kompetensi Diklat tersebut,
dikembangkan bahan pembelajaran dalam bentuk modul yang akan
digunakan oleh para guru (peserta PLPG), khususnya guru Pendidikan
Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dalam mengikuti program Diklat
dimaksud.
Sebagaimana peruntukkannya, bahan pembelajaran yang
didesain dalam bentuk modul dimaksud agar dapat dipelajari secara
mandiri oleh para peserta PLPG. Beberapa karakteristik yang khas dari
bahan pembelajaran tersebut, yaitu: (1) lengkap (self-contained), artinya
seluruh materi yang diperlukan peserta didik untuk mencapai kompetensi
dasar tersedia secara memadai; (2) dapat menjelaskan dirinya sendiri (self-
explanatory), maksudnya, penjelasan dalam paket bahan pembelajaran
Modul PLPG Penjaskes 2013
vi
memungkinkan peserta PLPG untuk dapat mempelajari dan menguasai
kompetensi secara mandiri; serta (3) mampu membelajarkan peserta PLPG
(self-instructional material), yakni sajian dalam paket bahan pembelajaran
ditata sedemikian rupa sehingga dapat memicu peserta diklat untuk secara
aktif melakukan interaksi belajar, bahkan menilai sendiri kemampuan
belajar yang dicapainya.
Diharapkan dengan tersusunnya bahan pembelajaran ini
dapat dijadikan referensi bagi guru pendidikan jasmani pada umumnya
dalam membelajarkan peserta didik, dan khususnya bagi guru pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan yang mengikuti program Pendidikan dan
Latihan Profesi Guru (PLPG).
Akhirnya pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima
kasih dan memberikan appresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya
kepada tim penyusun, baik para penulis, tim IT, pengetik, tim editor,
maupun tim penilai yang telah mencurahkan pemikiran, meluangkan
waktu untuk bekerja keras secara kolaboratif dalam mewujudkan bahan
ajar PLPG ini.
Semoga apa yang telah kita hasilkan memiliki makna strategis
dan mampu memberikan kontribusi dalam rangka meningkatkan mutu
pendidik dan tenaga kependidikan terutama dalam bidang pendidikan
jasmani, yang akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan nasional.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, Agustus 2013.
Penulis



Modul PLPG Penjaskes 2013
vii
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ..................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... v
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
BAB I PENDALAMAN UJI DIRI/ SENAM ..................................................... 1
A. PENGERTIAN SENAM ........................................................................... 3
B. KARAKTERISTIK DAN STRUKTUR GERAK DASAR SENAM ...... 4
C. PENDEKATAN PEMBELAJARAN SENAM ...................................... 11
D. METODE DAN STRATEGI PEMBELA JARAN SENAM. ................ 13
TUGAS DAN LATIHAN .............................................................................. 29
BAB II MATERI BELA DIRI ............................................................................. 31
A. PENDAHULUAN ................................................................................... 31
B. PETUNJUK PELAKSANAAN BELAJAR PENCAK SILAT ............. 32
C. PENBENTUKAN KETERAMPILAN DASAR .................................... 34
D. SIKAP PASANG ...................................................................................... 37
E. Elakan, Tangkisan dan Hindaran ......................................................... 38
F. SERANGAN ............................................................................................. 44
BAB III PEMBELAJARAN PERMAINAN & OLAH RAGA ....................... 53
A. Memahami Isi Dari Pendidikan Jasmani ............................................. 53
B. Permainan Bolavoli ................................................................................. 72
C. Permainan Sepakbola ............................................................................. 76
D. Permainan Bolabasket ............................................................................ 77
E. Contoh dalam RPP .................................................................................. 78
BAB IV MATERI ATLETIK............................................................................... 82
A. Program Pembelajaran Atletik. ............................................................. 82
B. Dimensi Pengalaman Belajar Dalam Permainan Atletik. .............. 87
C. Pendekatan Pembelajaran Atletik. ........................................................ 91
D. Modifikasi Pembelajaran Atletik .......................................................... 95
E. Pembelajaran Pola Gerak Dasar Dominan Dalam Atletik. ................ 96
E. EVALUASI DAN REFLEKSI ............................................................... 105
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 113

Modul PLPG Penjaskes 2013
viii
BAB V KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU ................ 116
BAB VI PENDALAMAN MATERI ASAS DAN FALSAFAH
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN
.......................................................................................................... 148
BAB VII PENDALAMAN MATERI BELAJAR GERAK (MOTOR
LEARNING) .................................................................................... 170
BAB VIII PENDALAMAN MATERI PENGEMBANGAN AKTIVITAS
KEBUGARAN JASMANI ............................................................... 189
BAB IX PENDALAMAN MATERI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR
PENJASORKES ............................................................................... 206
BAB X PENDALAMAN MATERI EKSTRAKURIKULER DAN
AKTIVITAS LUAR KELAS ........................................................... 221
BAB XI PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PENJASORKES
.......................................................................................................... 236
BAB XII PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PENJASORKES
.......................................................................................................... 275
BAB XIII SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
PENJASORKES ............................................................................... 292
BAB XIV PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) ................. 313
BAB V PENGEMBANGAN SISTEM PENILAIAN PEMBELAJARAN
PENJASORKES ............................................................................... 327
BAB VI PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) ................................. 343


Modul PLPG Penjaskes 2013
1
BAB I
PENDAHULUAN


A. DESKRIPSI PENDALAMAN MATERI PENJASOR
Pembelajaran bidang studi penjasor sampai saat ini masih
menjadi mata pelajaran yang kurang diminati oleh sebagian siswa.
Ironis sekali, karena Penjasor merupakan bidang studi yang sangat
penting bagi perkembangan dan pertumbuhan siswa. Hal tersebut
mungkin disebabkan hampir dipastikan bahwa pembelajaran yang
dilakukan masih konvensional yang sifatnya kaku, terikat pada
peraturan dan teknik dasar, dengan tuntutan penguasaan prestasi
(Sport Oriented). Lalu bagaimana supaya pembelajaran Penjasor bisa
disenangi siswa ? Pernahkah anda mendengar istilah pembelajaran
penjasor yang dimodifikasi ?
Sebagai contoh; materi pembelajaran Atletik. Pembelajaran
atletik yang dimodifikasi dalam bentuk permainan memang belum
banyak dikenal, dipahami apalagi dilaksanakan dalam proses
pembelajaran, bahkan masih banyak menghadapi tantangan.
modifikasi atletik dalam bentuk bermain bukan merupakan atletik
yang baru dan juga bukan pengganti atletik lama, tetapi pembelajaran
atletik yang dikemas dengan bentuk dan model yang menarik serta
menyenangkan, sehingga meningkatkan motivasi, semangat siswa
dalam mengikuti pembelajaran.
modul pendalaman materi penjasor ini berisi materi materi
sebagai berikut : Uji diri / Senam, Beladiri, Permainan dan Olahraga
serta Atletik. Yang masing masing akan membahas tentang
pengertian, Pola gerak dasar, teknik gerakan, Pendekatan
pembelajaran, Modifikasi pembelajaran, Tugas dan latihan.
B. PRASYARAT
Modul Pendalaman materi Penjasor ini tidak merupakan
prasyarat maupun menjadi prasyarat dari modul yang lain.
Modul PLPG Penjaskes 2013
2
C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Sebelum saudara mempelajari modul Pendalaman materi
penjasor ini dari bab ke bab, dianjurkan membaca dan memahami
deskripsi, petunjuk dan tujuan.
Setelah saudara paham betul kompetensi apa yang akan saudara
peroleh, selanjutnya dipersilahkan membaca seluruh materi dalm
modul ini, dan berusahalah untuk memahami makna bagian demi
bagian dari setiap materi. Untuk memudahkan dalam mempelajari dan
memahami setiap materi dalm modul ini, terlebih dahulu saudara
harus yakin bahwa saudara betul betul ingin tahu tentang Penjasor.
Kemudian setelah selesai mempelajari setiap bab/ sub bab,
buatlah rangkuman / ikhtisar bagian bagian penting yang saudara
yakini dapat merubah pola pikir saudara dan diimplementasikan
dalam program pembelajaran penjasor. Dan cobalah saudara kerjakan
tugas dan latihan yang tersaji pada setiap akhir materi.



Modul PLPG Penjaskes 2013
3
BAB II
PENDALAMAN UJI DIRI/SENAM

A. PENGERTIAN SENAM
Senam merupakan aktifitas fisik yang dapat membantu
mengoptimalkan perkembangan anak. Gerakan gerakan senam
sangat sesuai nuk mendapat penekanan didalam program pendidikan
jasmani. Disamping itu senam juga memberi sumbangan yang tidak
kecil pada perkembangan gerak dasar fundamental yang penting bagi
aktivitas fisik cabang olahraga lainnya.
Senam sebagai salah satu cabang olahraga, merupakan
terjemahan langsung dari bahasa Inggris Gymnastics, atau Belanda
Gymnastiek. Gymnastics sendiri asal katanya dari Gymnos bahasa
Greka. Gymnos yang berarti telanjang. Gymnastiek pada zaman
Yunani kuno memang dilakukan dengan badan telanjang atau
setengah telanjang. Maksudnya agar gerakan dapat dilakukan tanpa
gangguan sehingga menjadi sempurna. Adapun tempat yang dipakai
berlatih senam di zaman Yunani kuno disebut Gymnasium.
Untuk memberi batasan yang tepat sangat sukar, oleh karenanya
harus jelas batas dan ruang lingkupnya. Merumuskan apa itu Senam,
kita harus pahami ciri - ciri dan kaidah kaidahnya, antara lain:
gerakan gerakannya selalu diciptakan dengan sengaja.
gerakan gerakannya harus berguna untuk mecapai tujuan
tertentu (meningkatkan kelentukan, memperbaiki sikap dan gerak-
katkan keindahan gerak dsb.)
gerakan gerakannya harus disusun secara sistematis.
Berangkat dari ciri dan kaidah diatas dapatlah ditarik suatu
pengertian sebagai berikut; Senam adalah Latihan tubuh yang dipilih
dan diciptakan dengan terencana, sistematis dan bertujuan membentuk
sikap dan gerak serta mengem-bangkan pribadi secara harmonis.
Modul PLPG Penjaskes 2013
4
Unsur unsur didalam latihan senam yaitu terdiri dari ;
Calesthenic dan Tumbling atau Akrobatik.
1. Calesthenic.
Calesthenic berasal dari kata Yunai (Greka), yaitu Kallos yang
artinya Indah dan Stenos yang artinya kekuatan.Jadi calesthenic
dapat diartikan sebagai kegiatan memperindah tubuh melalui
latihan kekuatan. Maksudnya adalah suatu latihan tubuh (baik
memakai alat maupun tanpa alat) untuk meningkatkan keindahan
tubuh. Dalam bahasa Inggris Calesthenic adalah kata lain dari Free
Exercises, dan dalam bahasa Belanda dari kata Frei Ubungen.
2. Tumbling atau akrobatik
Tumbling berasal dari kata Tombolan (bahasa Italia), Tommelen
(bahasa Belada), Tober (bahasa Perancis), yang artinya
melompat,melenting dan berjungkir balik secara berirama.
Tumbling atau akrobatik adalah suatu ketangkasan yang
merupakan gerakan yang cepat dan eksplosif serta terdapat gerak
berputar. Contoh ; handspring, kip, salto, walkover dsb.
B. KARAKTERISTIK DAN STRUKTUR GERAK DASAR SENAM
I. Karakteristik Gerak Dasar Senam.
Senam merupakan kegiatan fisik yang paling kaya struktur
geraknya.dari karakteristik dan struktur geraknya, senam dapat
dikatakan kegiatan fisik yang sangat cocok untuk dijadikan sebagai
alat pendidikan jasmani, karena dianggap mampu memberikan
sumbangan terhadap pengembangan kualitas motorik dan kualitas
fisik anak sekaligus. Karakteristik gerak senam sangat berarti dalam
peningkatan pengertian dan pemahaman anak terhadap prinsip
prinsip mekanika gerak dan hukum alam yang bekerja pada tubuh
yang bergerak, dalm mencapai keberhasilan menguasai keterampilan
senam. Keterampilan senam selalu dibangun diatas keterampilan
dasar lokomotor, nonlokomotor dan manipulatif.

Modul PLPG Penjaskes 2013
5
1. Keterampilan Lokomotor.
Lokomotor diartikan sebagai gerak berpindah tempat, seperti jalan,
lari, lompat, loncat dsb. Dalam senam gerakan gerakan tersebut
sangat penting digunakan bahkan ditambah beberapa gerak
berpindah yang lain, seperti guling, kip, hanspring dsb.Gerak
lokomotor sangat diperlukan untuk menambah momentum
horizontal, seperti lari awalan.
2. Keterampilan Nonlokomotor.
Nonlokomotor adalah gerak yang tidak berpindah tempat,
mengandalkan ruas-ruas persendian tubuh yang membentuk
posisi-posisi berbeda yang tetap tinggal di satu titik. Misalnya;
meliuk, membengkok dsb. Dapat dilaukan secara perorangan
ataupun berpasangan.
3. Keterampilan Manipulatif.
Manipulasi sering diartikan sebagai kemampuan untuk
memanipulasi objek tertentu dengan anggota tubuh: tangan, kaki
atau kepala.
Termasuk keterampilan manipulatif diantaranya; menangkap,
melempar,menendang dsb. Dalam senam artistik keterampilan ini
jarang dijumpai, Tetapi merupakan ciri utama di senam ritmik.
II. Konsep Gerak Dasar Senam.
Tubuh manusia dapat bergerak dalam berbagai cara dan dalam
kombinasi tak terbatas. Semua gerakan manusia memerlukan waktu
(Time), daya (daya), dan ruang (space). Tubuh manusia
mengekspresikan kebutuhannya melalui berbagai macam kombinasi
daya, waktu, ruang, yang masing-masing bersifat unit pada setiap
individu. Semakin komplek pola gerak yang dilakukan, semakin besar
instropeksi harus dilakukan, sehingga semakin memerlukan
pengertian mendasar tentang prinsip-prinsip mekanika gerak,
keseimbangan, sistem penggerak,dan hukum-hukum gerak,dll.
Modul PLPG Penjaskes 2013
6
III. Persyaratan Kualitas Fisik.
Kualitas fisik seperti kelentuan, kekuatan,power, dan daya
tahan merupakan faktor penting yang harus dimiliki oleh pesenam
untuk berhasil dalam menguasai gerakan senam.
a. Kelentukan (flexibility)
Kelentukan adalah salah satu komponen fisik yang sangat penting
kaitannya dalam prestasi senam.
Kelentukan adalah kualitas spesifik, yang menyatakan bahwa
seseorang bisa jadi fleksibel dalam salah satu persendiannya tetapi
tidak dalam sendi yang lain. Begitu juga dalam hal
perkembangannya, dimana satu persendian lebih cepat merespon
pada latihan stretching dan pada yang lainnya.
1). Mengapa Kelentukan Penting?
Pentingnya kelentukan dalam senam berkenaan dengan tiga hal
utama
(i) Jarak yang luas dan kelentukan penting untuk keindahan,
irama, dan keanggunan gerak.
(ii) Banyak keterampilan senam memerlukan kelentukan derajat
tinggi sebelum dapat ditampilkan. Misalnya, guling depan
kangkang atau kaki lurus tidak mungkin dilakukan tanpa
kelentukan yang baik. Apa lagi gerakan-gerakan seperti
walkover atau backover.
(iii) Kelentukan yang baik akan menurunkan kemungkinan
terjadinya cedera dan memperbaiki kesehatan tubuh.
2) Apa yang Membatasi kelentukan ?
Faktor yang membatasi kelentukan adalah jaringan jaringan
halus, misalnya otot, jaringan ikat, tendon dan ligamentum. Di
samping itu harus juga dicatat bahwa kurangnya kekuatan
merupakan faktor yang membatasi kelentukan aktif.
3). Bagaimana Meningkatkan Kelentukan?

Modul PLPG Penjaskes 2013
7
Sedikitnya ada tiga macam cara yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kelentukan, yaitu
a) Peregangan statis (static stretching)
Static stretching pada dasarnya adalah menempatkan diri
sendiri dalam posisi yang memanjangkan jaringan ikat dan
menahan posisi tersebut untuk satu priode waktu tertentu (60
detik atau lebih). Karena adanya suatu kontraksi reflexif dari
otot (stretch reflex) ketika meregang (terutama diregang
dengan cepat) dan karena adanya proses peredaman dan
reflex ini jika otot yang bersangkutan ditahan meregang
untuk beberapa menit (proses akomodasi), maka disarankan
proses meregang dilakukan pelan-pelan dan menahannya
untuk beberapa menit. Kita akan merasakan bahwa otot akan
melemas dan melonggar dan karenanya bisa memanjang.
b) Peregangan dinamis (ballistic or dynamic stretching)
Ballistic stretching melibatkan gerakan merenggut dan
memantul dalam posisi meregang. Karena adanya kontraksi
reflexif dan otot yang diregang. maka resiko cedera pada jenis
peregangan ini lebih besar, sehingga harus dilakukan dengan
extra hati-hati.
c) Peregangan yang dibantu (assisted stretching)
Assisted stretching menggabungkan penggunaan pasangan
atau bantuan dari orang lain untuk secara manual meregang
otot dan bagian tubuh yang diregang. Dalam latihan
peregangan untuk senam dikenal dua macam tipe bantuan
yang dapat diberikan, yaitu pertama, passive stretching, yaitu
pasangan hanya semata-mata menambah tekanan yang
lembut tapi kuat untuk menambah regangan, dan kedua,
passive stretch and active hold, yaitu ada bantuan dan
pasangan untuk meregang hingga posisi yang diinginkan,
Modul PLPG Penjaskes 2013
8
kemudian pesenam yang bersangkutan harus mencoba
menahan posisi itu secara aktif pada batas terjauh peregangan
itu.
Sebagai catatan, dari keseluruhan tehnik yang diuraikan di
atas, satu hal harus diperhatikan, bahwa untuk pertimbangan
pesenam dan hasil latihan yang maksimal, maka latihan
peregangan harus:
- Dalam keadaan panas / setelah melakukan pemanasan.
- Diregang perlahan-lahan, dan Melemaskan otot yang
sedang diregang
a. Kekuatan (strength)
1) Apakah kekuatan ?
Kekuatan adalah sejumlah daya yang dapat dihasilkan oleh suatu
otot ketika otot itu berkontraksi. Kekuatan dapat ditingkatkan
dengan menambah beban yang bisa diatasi otot secara progesif
sehingga otot tersebut menyesuaikan kekuataannya pada beban itu
dengan cara menambah tegangannya yang diistilahkan dengan
hyper trophy. Dilihat dan jenis kontraksinya pada saat melatih
kekuatan otot, maka jenis latihan kekuatan dapat dibedakan menjadi
dua macam latihan. Jika otot tersebut dilatih dengan gerakan yang
menyebabkan terlihat memanjang dan memendek, maka latihan
tersebut disebut latihan jenis isotonis sedangkan jika pada otot yang
dilatih tersebut tidak terlihat adanya gejala pemanjangan dan
pemendekan yang jelas, latihan tersebut dinamakan latihan
isometris. (iso artinya sama, tonis artinya tegangan, metris
artinya panjang).
Latihan isotonis biasanya dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu
concentric dan eccentric. Concentric adalah kontraksi yang
menyebabkan otot-otot memendek, sedangkan eccentric adalah

Modul PLPG Penjaskes 2013
9
sebaliknya, yaitu kontraksi karena bebannya terlalu berat karena
telah membuat otot yang berkontraksi terlihat memanjang.
2) Mengapa kekuatan penting?
Penampilan yang baik dalam senam sangat tergantung pada
kekuatan otot. Karenanya meningkatkan kekuatan pesenam akan
meningkatkan pula tingkat prestasinya dalam senam dan,
sebaliknya, keikutsertaan seseorang dalam senam akan otomatis
meningkatkan kekuatan seseorang. Jadi disamping adanya manfaat
biasa seperti berfungsinya fisik secara iebih baik, penampilan yang
lebih bagus serta banyaknya cadangan kekuatan, pengembangan
dalam kekuatan mempunyai manfaat langsung dalam penampilan
senam, diantaranya:
(i) Keselamatan; pesenam yang lebih kuat akan mampu mencegah
terjadinya cedera yang berbahaya ketika terjadi jatuh
dibandingkan dengan yang lebih lemah.
(ii) Keterampilan; banyak keterampilan senam tidak dapat
ditampilkan tanpa kekuatan yang lebih.
(iii) Mendukung kemampuan lain; kemampuan-ke mampuan
seperti kecepatan, daya tahan, power, dli, dalam batas tertentu,
tergantung pada kekuatan.
3) Bagaimana kekuatan dapat dikembangkan?
Dalam kaitan ini ada satu hukum yang berlaku bahwa untuk
meningkatkan kekuatan, anda harus membebani otot-otot anda.
Membebani otot-otot adalah memberikan beban kerja yang lebih
besar dan pada beban kerja yang biasa. Dengan kata lain, latihan otot
tidak membuat otot bekerja lebih keras (dari pada kekuatan
sebelumnya) tidak akan meningkatkan kekuatan otot tersebut.
Membebani otot untuk mengembangkan kekuatan yang paling
efektif adalah dengan cara memilih kegiatan yang tidak dapat
diulang lebih dan 5 hingga 7 kali dalam satu sen ulangan. Latihan-
Modul PLPG Penjaskes 2013
10
latihan yang bisa diulang melebihi jumlah ulangan di atas hanya
akan mengembangkan daya tahan otot yang bersangkutan, tetapi
tidak meningkatkan kekuatannya.
b. Daya Ledak (Power)
Power adalah kombinasi dan kekuatan dan kecepatan. Kekuatan
mengukur kemampuan untuk mengangkat bebannya dan kecepatan
mengukur kecepatan untuk mengangkat beban itu. Misalnya
melakukan pull-ups dengan baik memerlukan kekuatan, tetapi
melakukan pull-ups dengan cepat memerlukan power.
1) Mengapa Power penting?
Power adalah suatu atribut fisik yang paling dominan yang
diperlukan dalam senam. Kebanyakan keterampilan senam
bergantung pada kualitas fisik yang satu ini dalam hal bahwa
pesenam harus menggerakkan tubuhnya atau bagian tubuhnya
secara cepat, sehingga memerlukan kekuatan dan kecepatan secara
simultan.
2) Bagaimana Power dikembangkan? Pengembangan power, seperti
juga pengem bangan atribut fisik !ainnya, harus dijadikan program
yang teratur dalam latihan senam. Pengembangan program ini
dapat dilakukan dengan cara latihan yang sama dengan latihan
kekuatan, hanya kegiatannya dilakukan dengan kecepatan yang
tinggi.
c. Daya Tahan (Endurance)
Daya tahan dapat menunjuk pada kemampuan cardio respiratory
(jantung dan paru-paru) atau pada daya tahan otot (muscular
endurance). Untuk keperluan pembelajaran senam, maka kita hanya
akan membatasi pembahasan ini pada diskusi tentang daya tahan otot
yang dapat dianggap sebagai kemampuan menahan kelelahan otot atau
kemampuan untuk bertahan lama dalam kegiatan olahraga.


Modul PLPG Penjaskes 2013
11
1) Mengapa Daya Tahan Perlu?
Daya tahan otot tidak begitu penting dalam penampilan aktual dan
keterampi senam, Ia hanya penting untuk bisa bertahan dalam
kegiatan senam, baik latihan maupun pertandingan, yang memakan
waktu lama. Ketika melakukan atau mempelajari keterampilan,
seseorang harus melakukan banyak utangan terus menerus. Dengan
daya tahan otot yang baik, waktu latihan yang lebih lama akan dapat
ditempuh dan sedikit waktu istirahat yang diperlukan.
2) Bagaimana Daya Tahan Dikembangkan?
Latihan-latihan yang berulang-ulang dan memerlukan kegiatan yang
berkelanjutan merupakan jatan terbaik datam mengembangkan
kemampuan yang satu ml. Sebagai satu pedoman dasar, suatu
latihan yang diulang lebih dari sepuluh kali akan mengembangkan
daya tahan.
Kemampuan motorik yang menunjang pelaksanaan senam sangat
banyak, di antaranya adalah kelincahan (agitity), koordinasi, kecepatan,
keseimbangan, dll.
C. PENDEKATAN PEMBELAJARAN SENAM
1. Pendekatan Pola Gerak Dominan
Kiat pengajaran senam yang menyenangkan, tentu perlu
diwujudkan melalui pemilihan pendekatan pengajaran yang tepat.
Sejauh ini ada berbagai pendekatan yang dikenal dalam pengajaran
dan pelatihan senam, di antaranya adalah ; pendekatan melalui
pengelompokan keterampilan formal, pendekatan tahap
pertumbuhan dan perkembangan anak, serta pendekatan pola gerak
dominan (PGD).
Yang dimaksud dengan pola gerak dominan adalah pola gerak yang
mendasari terbentuknya keterampilan senam sehingga perannya
dianggap dominan. PGD inilah yang menjadi dinding bangunan
(building block) untuk terbentuknya keterampilan-keterampilan
Modul PLPG Penjaskes 2013
12
yang lebih kompleks. Misalnya putaran dalam roll depan adalah
PGD yang sama dengan putaran untuk berhasilnya salto depan.
2. Pola Gerak Dominan
Senam dapat dibedakan dari olahraga lainnya oleh seperarigkat
pola gerak dominannya yang unik. Kesemua pola gerak dominan
itu adalah :
1). Landings (pendaratan)
2). Static position (posisi-posisi statis)
3). Gerak berpindah (locomotion)
4). Swings (Ayunan)
5). Rotations (Putaran)
6). Springs (Lompatan)
7). Layangan dan ketinggian (flight and height)
Untuk keperluan pengenalan pendekatan PGD, di bawah ini hanya
akan diuraikan sebagian dari pengertian PGD sebagaiberikut :
1) Landing ( Pendaratan)
Istilah pendaratan diartikan secara meluas sebagai penghentian
yang terkontrol dan tubuh yang melayang turun. Pendaratan
bisa di pada kedua kaki, tangan, atau disebarkan pada bagian
tubuh yang lebih besar, seperti pada punggung. Landing
merupakan sikap yang paling umum dalam senam serta menjadi
penentu keberhasilan dari hampir setiap elemen senam.
2). Posisi Statis (Static position)
Statis berarti diam atau seimbang. Pesenam yang sedang dalam
posisi diam adalah pesenam yang sedang dalam posisi seimbang.
Pada saat demikian, titik pusat berat tubuhnya sedang tidak
bergerak
Yang dimaksud posisi statis adalah posisi tubuh yang dibuat oleh
semua posisi bertahan atau diam yang sangat umum dalam
senam. Posisi ini biasanya dapat dibedakan menjadi tiga macam,

Modul PLPG Penjaskes 2013
13
yaitu bertumpu (support), menggantung (hang), dan
keseimbangan (Balance).
3). Gerak berpindah ( Locomotion )
Locomotion adalah berulang-ulang memindahkan tubuh atau
gerak tubuh atau anggota tubuh yang menyebabkan tubuh
berpindah tempat.
Didalam senam gerakan berpindah tempat bisa dibilang sering
dilakukan dan bersifat unik. Misalnya ; berlari, melompat,
meloncat, berputar dll.
4). Ayunan ( Swing )
Adalah bagian integral dengan senam yang merupakan
keterampilan gerak, yang dilakukan baik dalam posisi
bergantung maupun bertumpu diatas alat.
5). Putaran ( Rotations ).
Adalah suatu gerak yang dilakukan, dan berada pada titik poros.
6). Springs ( Lompatan/Lentingan ).
Pola Gerak Dominan yang menghasilkan perpindahan tubuh
secara cepat , seperti ; menolak dari dua kaki.
7). Layangan dan Ketinggian ( flight and height ).
Adalah peristiwa ketika tubuh sedang berada di udara, terbebas
dari kontak denganalat atau permukaan tanah.
D. METODE DAN STRATEGI PEMBELA JARAN SENAM.
Pengajaran senam di sekolah (dalam pelajaran penjas) berbeda
sifatnya dengan pelatihan senam yang ada di klub-klub senam. Dalam
pendidikan jasmani, anak hadir di Hall senam bukan karena mereka
ingin ada disana, melainkan mereka harus ada disana. Tidak
mengherankan jika sebagian dan mereka terlihat antusias, sementara
tidak sedikit pula yang terlihat terpaksa, ragu-ragu, atau malah terlihat
malas.
Modul PLPG Penjaskes 2013
14
Tidak ada dua anak yang sama dalam segata hal. Mereka biasanya
berbeda dalam hal fisik, begitu pula dalam hal kepribadian dan
perbedaan individu lainnya. Apa yang disenangi seorang atau sebagian
anak bisa jadi sesuatu yang membosankan atau menakutkan bagi anak
lain. Kemungkinan tersebut bisa sangat berlaku datam pem belajaran
senam, dimana proses pembelajarannya bersifat sangat khusus dan
pelajaran keterampilan gerak lainnya seperti permainan.
Dalam senam anak biasanya melihat alat yang asing bagi mereka.
Belum lagi gerakan-gerakan yang harus dikuasai di dalamnya bersifat
sangat khas, seolah sangat ditentukan oleh kemampuan dan ciri fisik
anak yang melakukannya.
Bagaimanakah guru bisa sukses ditengah-tengah perbedaan yang
sangat khas tersebut? Tidak ada jawaban yang jitu. Tetapi kami yakin,
bahwa pendekatan yang tunggal yang selama ni sering ditempuh guru
(tradisional) tidak akan berhasil memecahkan perbedaan di atas,
bahkan bisa lebih memperburuk keadaan. Karena itu kami
menyarankan agar guru bisa menempuh pendekatan baru, dengan
menerapkan serta memanfaatkan bermacam-macam keterampilan
mengajar, metode dan gaya mengajar yang dapat berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan belajar yang khusus.
Uraian berikut mencoba menyinggung tentang metode dan
strategi yang bisa dipilih guru ketika mengajar senam. Dalam hal
metode, hanya metode progresif yang ditampilkan, karena dianggap
sangat cocok dengan jenis keterampilan senam, yang umumnya
merupakan keterampilan diskrit (jelas awal dan akhir gerakannya).
Sebagaimana diketahui, semua keterampilan diskrit cocok untuk
diajarkan dengan metode keseluruhan dan metode progresif. Tetapi
dalam senam, ketika faktor keselamatan harus dipertimbangkan,
metode keseluruhan tidak dapat dengan leluasa diterapkan.


Modul PLPG Penjaskes 2013
15
1. Metode Progresif
Metode progresif (progressive method) adalah cara mengajar
yang memecah bahan latihan atau keterampilan dalam beberapa
unit atau bagian. Perlu ditekankan pemisahan keterampilan menjadi
bagian-bagian ini berbeda sifatnya dan metode bagian. Yang harus
dilakukan dalam metode progresif adalah mencoba menentukan inti
(core) dan keterampilan yang bersangkutan Inti itulah yang
kemudian dijadikan bagian pertama.
Dalam mengajarkan salto bulat misalnya, memutar tubuh di
udara dianggap sebagai intinya. Yang harus dilakukan berikutnya
adalah menentukan tahapan-tahapan latihan yang disusun secara
progresif. Artinya, tahap pertama mengandung lebih kecil unit yang
dilatih daripada tahap berikutnya. Semakin lama tahapan latihan
semakin lengkap.
Pada prinsipnya, metode progresif ini mengikuti jalur
demikian. Tahap satu, latihan hanya melibatkan satu bagian dan
suatu keterampilan. Tahap dua, bagian per tama tadi digabung
dengan bagian kedua, sehingga menampilkan latihan pola gerak
yang berbeda. Tahap tiga, bagian satu dan bagian dua tadi digabung
lagi dengan bagian tiga yang menunjukkan pola gerak yang semakin
meningkat kompleksitasnya. Demikian seterus nya hingga seluruh
bagian yang tersisa akhirnya tergabung secara keseluruhan.
2. Keterampilan Mengajar
Keterampilan mengajar adalah seperangkat keterampilan yang
perlu dimiliki guru untuk memungkinkannya membantu anak
dalam belajar. Oleh karena itu keterampilan mengajar yang harus
dikuasai oleh guru penjas berbeda sifatnya dengan keterampilan
yang harus dimiliki oleh guru yang lain. Dalam pelajaran penjas,
keterampilan-keterampilan ini bervariasi dan mulai membuat
perencanaan hingga mengevaluasi hasil belajar. Keterampilan
Modul PLPG Penjaskes 2013
16
mengajar yang diperlukan meliputi perencanaan, mengembangkan
isi pelajaran, cara memotivasi siswa, mengorganisir alat serta
evaluasi.
a. Perencanaan
Tidak perlu diragukan bahwa setiap pelajaran yang baik
bermula dari perencanaan yang baik pula. Akan tetapi, untuk
kebanyakan guru, perencanaan adalah salah satu tugas yang
paling tidak menyenangkan dan keseluruhan aspek pengajaran.
Namun demikian, bagaimanapun perencanaan tetap
merupakan hal pokok dalam pengajaran, karena kegagalan
dalam perencanaan biasanya mengarah pada pelajaran yang
tidak berhasil. Paling tidak, akan banyak waktu terbuang,
karena guru harus memikirkan dan awal ketika ia baru masuk
ke hall senam.
Perencanaan yang tidak tepat dapat berpengaruh dalam jangka
panjang. Jika anak cenderung hanya terampil di satu bidang atau
sedikit kegiatan, hal itu dianggap sebagai kelemahan dalam
perencanaan,l Guru yang tidak memiliki perencanaan, besar I
mungkinan hanya mengajarkan apa yang mereka dan
menyebabkan anak gembira, sehin menghasilkan program yang
tidak seimbang.
Perencanaan yang baik harus mempertimbangkan banyak faktor.
Setiap faktor bersifat penting, dimana kesemuanya saling
berpengaruh dalam menentukan lingkungan pengajaran. Ketika
membuat perencanaan guru harus mempertimbangkan antara
lain :
- Jumlah anak
Jumlah anak sering menentukan jumlah dan jenis informasi
yang akan diberikan, disamping berhubungan dengan cara

Modul PLPG Penjaskes 2013
17
mengatur formasi, penyediaan alat, serta bagaimana
pembelajaran dilaksanakan.
- Alat yang tersedia
Ketika membuat perencanaan, guru harus sudah tahu persis
peralatan yang tersedia. mi akan menentukan bagaimana alat
dipersiapkan, kapan, serta pembagian kelompok untuk
penggunaanya. Jumlah alat yang minimal memang sangat
berpengaruh pada proses dan hasil pembelajaran. Namun
perlu juga diingat, bahwa kemampuan guru dalam
memanfaatkan alat sangat menentukan dalam prosesnya,
sehingga perlu direncanakan dengan matang. Bahkan dengan
perencanaan pula, guru mampu menylasati. Kurangnya alat
biasanya dapat diatasi dengan menggunakan alat-alat
modifikasi yang tersedia.
- Ciri-ciri Anak
Ciri anak berkaitan dengan banyak hal, termasuk tingkat
kemampuan geraknya, usia serta tahap perkembangannya, ciri
kepribadian serta tanggung jawabnya dan lain-lain.
Perencanaan harus mencakup pertimbangan ciri anak sehingga
guru dapat menetapkan program kegiatan yang cocok bagi
anak anak, menentukan gaya dan metode pengajaran, serta
menyiapkan alat yang dibutuhkan.
b. Mengembangkan isi pelajaran
Isu pentingnya pengembangan isi pelajaran sebagai sebuah
keterampilan pengajaran adalah kenyataan bahwa perencanaan
yang baik sekalipun tidak pernah berjalan sepenuhnya seperti
yang dikehendaki. Oleh karena itu, ketika pembelajaran
berlangsung, guru hendaknya mampu melihat dan mimilih cara
apa yang bisa ditempuh jika kegiatan yang direncanakan tidak
berjalan.
Modul PLPG Penjaskes 2013
18
Pada dasarnya ada empat cara yang dapat ditempuh oleh guru
untuk mengembangkan isi pelajaran, yaitu;
(1) informing yaitu memberikan informasi tentang konsep atau
keterampilan dan bagaimana tugas itu dilakukan; (2) extending
(memperluas) tugas, yaitu mengubah tugas gerak yang sedang
dilakukan
menjadi lebih mudah atau menjadi lebih sulit, tergantung pada
kemampuan murid; (3) refining (menyempurnakan) tugas yaitu
memberikan tanda- tanda pada anak atau kunci rahasia yang
bisa membantu menguasal tugas gerak yang dilakukan; dan (4)
applyng (menerapkan) tugas yang sedang dilatih pada kondisi-
kondisi yang sesuai dengan fungsi dan gerakan itu.
Informing
Informing adalah tahap awal dan penerapan perencanaan guru
dalam proses pengajaran. Dalam tahap ini guru akan memberi
tahu pada anak tentang tugas yang harus dilakukan. Dalam
memberitahukan tugas ini, hendaknya guru menggunakan
bahasa yang jelas dan singkat. Karena kemampuan anak untuk
menyimpan informasi mi sangat terbatas, akan sangat baik jika
guru menggabungkan keterangannya dengan peJaksanaan
demonstrasi.
Extending
Ketika anak sudah melakukan tugas pertama maka langkah
selanjutnya adalah guru harus mengamati kegiatan latihan anak
itu untuk menentukan apakah tugas yang mereka laksanakan
terlalu mudah atau terlalu sulit. Dalam kasus manapun anak
berada, guru perlu melakukan perubahan untuk
menyesuaikannya dengan kemampuan anak. ini perlu
dilakukan karena kedua keadaan tadi jika dibiarkan akan
menyebabkan anak tidak produktif atau tidak belajar sama

Modul PLPG Penjaskes 2013
19
sekali. Jika tugas terlalu mudah, jelas anak tidak akan merasa
tertantang. Sebaliknya jika tugas terlalu sulit anak akan frustasi.
Bagaimanakah guru dapat mengetahui bahwa tugas yang
sedang dilakukan anak terlalu mudah atau sulit?
Suatu tugas dianggap berada dalam penguasaan anak jika anak
dapat melakukan tugas itu dengan sukses sekitar 80 persen dan
keseluruhan. Walaupun itu merupakan perkiraan kasar, tetapi
cukup memberi pedoman apakah guru boleh melakukan
perubahan (extending) tugas atau tidak.
Menurut Rink (1993), perubahan ini bisa dilakukan dalam dua
cara, yaitu perubahan mempermudah atau mempersulit dalam
tugas yang sama (intratask) atau dengan menggantinya dengan
tugas yang berbeda (intertask).
Refining
Ketika suatu tugas dianggap sudah dikuasai,dapat memberikan
tanda atau kunci untuk membantu siswa menampilkan
gerakannya dengan lebih baik lagi atau lebih sempurna lagi.
Penyempurnaan gerak ini jelas merupakan pemberian umpan
balik yang sesuai dengan keadaan tugas tadi, sehingga anak
mampu memfokuskan perhatiannya pada cara menyelesaikan
tugasnya. Umpan balik dan guru bisa diberikan baik secara
klasikal atau secara individual.
Contohnya : Coba tekuk lagi lutut dan badan sehingga bisa
mendarat lebih lembut.
Applying
Setelah anak dianggap mampu melaksanakan tugas dengan baik,
tiba saatnya bagi guru untuk menantang anak menerapkan
keterampilannya pada kondisi tertentu. Dalam senam, tahapan
Applying ini bisa dilakukan dengan meminta anak melakukan
Modul PLPG Penjaskes 2013
20
gerakannya pada alat lain yang berbeda, atau bisa juga dengan
menggabungkannya dengan gerakan lain yang sudah dikuasai.
c. Memotivasi siswa.
Salah satu isu yang paling santer dalam pembelajaran senam
adalah bagaimana murid dapat termotivasi ketika mengikuti
pelajaran. Kenyataan menunjukkan, bahwa dalam banyak
situasi pembelajaran senam, banyak sekafi murid yang
nampaknya tidak tertarik untuk betul-betul menguasai
keterampilan senam. Dan pengalaman malahan hampir semua
murid putri sepertinya takut mengikuti pelajaran senam.
Sebenarnya persoalan takutnya anak dalam mengikuti pelajaran
senam bukan masalah baru. Dan itu terjadi bukan hanya di
sekolah-sekolah Indonesia yang peralatannya sangat tidak
memadai. Bahkan di negara majupun keadaan di atas tampak
sangat mencolok. Di mana sebenarnya letak kesalahannya?
menurut para ahli, kesalahannya justru pada pendekatan
pengajaran senam yang ditempuh para guru.
Jika para guru memiiih pendekatan pengajaran formal terhadap
senam prestasi, maka akan banyak anak yang merasa dirinya
tidak mampu dan karena itu tidak termotivasi sama sekali.
Untuk itu agar siswa termo tivasi guru perlu mengubah
pendekatan pengajaran senamnya dengan pendekatan yang
berorientasi permainan, atau pendekatan PGD.
Seperti diketahui motivasi untuk menguasai sesuatu termasuk
senam, bisa timbul karena dorongan dari luar (motivasi extrinsik
dan bisa juga timbul dari dalam diri anak (mofivasi intrinsik,).
Motivasi extrinsik bisa timbul karena dorongan guru, baik
bersifat pujian atau umpan balik positif, sedangkan motivasi
intrinsik biasanya timbul karena murid biasanya mengalami
bahwa pelajaran yang dilakukan cukup bermakna.

Modul PLPG Penjaskes 2013
21
Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh guru untuk
membangkitkan motivasi anak, baik bersifat ekstrinsik maupun
intrinsik.
1). Pilihlah kegiatan pembelajaran yang bisa disesuaikan bagi
semua anak.
2). Beri kesempatan pada anak untuk merasa berhasil dalam
suatu tugas pembelajarannya.
3). Buat cara agar anak bisa merasa unggul dalam bidang-bidang
tertentu, dan siapkan alternatif bagi yang belum. Siapkan pula
reward-reward yang membanggakan, seperti misalnya
pemberian gelar bagi murid-murid yang punya kemampuan
khusus, seperti Mr. atau Miss. flexible, Mr. atau Miss. Altius,
Mr. atau Miss. Fortius, dll.
4). Sediakan umpan balik positif sesering mungkin. Tunjukkan
kemajuan mereka dengan kata-kata atau expresi seperti
lompatan kamu sangat indah, bagus sekali cara kamu
mempertahankan keseimbangan, dll.
5). Pujian dan dorongan harus diberikan segera setelah satu
kejadian berlangsung.
6). Keterampilan bukan hanya satu-satunya dasar untuk
memberikan pujian, tetapi termasuk bagaimana anak antusias
melakukannya, caranya bekerjasama, kerajinannya termasuk
pula perilakunya yang selalu tertib dan teratur.
d. Menilai kemajuan anak dalam senam.
Jelas sekali bahwa menilai kemajuan anak dalam senam adalah
dengan mengamati langsung penampilan anak ketika
melakukan salah satu keterampilan atau rangkaian. Yang perlu
diingat adalah bahwa kemajuan anak dalam gerak (bukan hanya
senam) hanya dapat diliihat melalui pengamatan yang
berkelanjutan.
Modul PLPG Penjaskes 2013
22
Hindari menetapkan target atau kriteria yang terlalu berat
sebelah pada keterampilan senam yang sudah dipelajari tanpa
melihat kemungkinan kemajuan pada aspek yang mendasarinya,
misalnya kemajuan dalam PGD-nya atau pada kualitas fisiknya.
Sebagai patokan umum cara menilai keterampilan senam,
sebagai berikut:
1) Ketahui apa yang diharapkan untuk dilihat
a) Miliki gagasan jelas tentang model ideal dan keterampilan
rangkaian yang akan dinilai
b) Bacalah uraian teknik dan keterampilan senam dari buku
sumber yang bisa dipercaya.
2) Amati keterampilan atau rangkaian yang ditampilkan.
a) Amati dengan cermat gambaran utama dan keterampilan
yang ditampilkan sebelum melihat detil-detilnya.
b) Amati detil kesalahan yang dibuat, misalnya kaki, tangan,
atau tubuh.
c) Amati dengan cermat apakah gambaran penting dan
keterampilan sudah tertampilkan atau belum.
d) Sebagai patokan, pertanyakan: apakah bentuknya bagus,
tekniknya bagus, ditampilkan dengan irama, amplitudo,
dan harmoni yang bagus?
e. Mengorganisir Ruang dan Peralatan
Keharusan guru dalam mengorganisir ruang dan peralatan
dimaksudkan agar pembelajaran senam memenuhi beberapa
persyaratan; yaitu:
1) Keamanan dan penggunaan alat serta ruang secara keseluruhan
2) Memungkinkan terjadinya kegiatan belajar yang memenuhi
persyaratan ALT (active learning time = waktu aktif belajar)
yang optimum.

Modul PLPG Penjaskes 2013
23
Keamanan dalam pembelajaran senam memang bukan hanya
berkaitan dengan peralatan semata mata, melainkan pula
berhubungan dengan kesiapan fisik anak, terkuasainya
persyaratan minimal dari keterampilan anak, kemampuan guru
dalam mengajar serta mungkin pula dan pengontrolan kelas.
Dalam kaitannya dengan peralatan, keharusan untuk mengatur
ruang dan peralatan supaya memenuhi persyaratan keamanan
adalah penempatan alat-alat sesuai dengan klasifikasinya.
Hindari, misalnya, pemakaian alat yang sudah tidak memenuhi
persyaratan, atau yang sudah diketahui rusak. Disamping itu,
guru pun harus mengetahui, bahwa untuk gerakan-gerakan
tertentu dari senam yang sedang dipelajari anak, ada persyaratan
minimal tentang alat yang dipakai. Misalnya berapa lapis matras
yang perlu digunakan untuk latihan salto atau kuda lompat,
berapa lapis untuk latihan baling-baling, dlsb.
Keterampilan dalam mengorganisir ruangan dan alat, sebenarnya
lebih diperlukan terutama untuk peningkatan aktivitas betajar
anak. Jika sekolah hanya memiliki dua matras di ruangan yang
lebar, guru harus mengetahui bagaimana caranya supaya
aktivitas belajar tidak terlalu terhamat oleh waktu menunggu,
misalnya. Kesemua itu memerlukan perhatian khusus dari guru
dalam menata ruangan sedemikian rupa, serta bagaimana supaya
alat yang ada bisa dimaksimalkan pemakaiannya.
Sebagai pedoman, bisa dikemukakan di sini, bahwa guru perlu
menata ruangan dan alat supaya menyerupai serta
memungkinkan terjadinya latihan dalam bentuk circuit. Alat yang
ada, di tambah alat lain yang memungkinkan untuk dipakai,
dikelompokkan sesuai jumlah anak, dalam beberapa station (pos).
Pada setiap pos, misalnya, tentukan tugas gerak yang berbeda-
beda, sehingga setiap anak diberi kegiatan yang berupa tugas
Modul PLPG Penjaskes 2013
24
gerak. Caranya, walaupun pokok bahasannya adalah salah satu
keterampilan senam, guru bisa menetapkan tugas-tugas gerak
yang lain di pos yang berbeda.
3. Strategi Pengajaran Senam
Sudah sejak ama para guru dibingungkan dengan pemilihan strategi
yang tepat untuk mengajarkan senam. Di satu pihak, sudah sejak
lama diharapkan bahwa senam dapat diajarkan melalui pendekatan
non-formal, sehingga tidak terlalu menakutkan bagi anak maupun
guru. Di pihak lain, ditemukan kenyataan bahwa gaya-gaya
mengajar induktif seperti problem solving dan discovery yang
diterapkan dalam mengajar senam, telah mengarah pada
pembelajaran yang tidak menghasilkan apa-apa dan segi
keterampilan gerak.
Menyadari kenyataan tersebut, Mace dan Benn telah menawarkan
pendekatan atau strategi baru dalam mengajarkan senam, yang
disebutnya sebagai pendekatan educational gymnastics.
Pendekatan ini pada dasarnya merupakan serangkaian episode yang
masing masing diisi oleh tema yang berbeda, termasuk dalam gaya
dan metode.
Pendekatan episodis yang ditawarkan Mace dan Benn, terdiri dan
enam tahapan pengajaran, yang urutannya adalah sebagai berikut:
a. Memperkenalkan Keterampilan
b. Kegiatan Orientasi
c. Keterampilan lnti
d. Perluasan Keterampilan
e. Variasi
f. Rangkaian
Keenam tahapan tersebut di atas, hendaknya dapat diterapkan pada
setiap pertemuan pembelajaran senam, baik pertemuan itu

Modul PLPG Penjaskes 2013
25
mengajarkan satu keterampilan tunggal maupun mengajarkan
beberapa keterampilan sekaligus.
Marilah kita lihat pendekatan itu tahap demi tahap. Dimana
keistimewaan pendekatan ini jika dibandingkan dengan pendekatan
lama yang sudah sering kita jadikan rujukan dalam mengajar.
a. Memperkenalkan Keterampilan
Pada tahap ini guru harus memperkenalkan keterampilan senam
yang akan dipelajari, dengan maksud agar setiap murid
memperoleh gambaran yang jelas tentang keterampilan yang
dimaksud. Untuk pelaksanaannya guru bisa melakukannya
dengan cara visual verbal. Visual artinya bisa dalam bentuk
demontrasi langsung dari guru, pemutaran video, slide, gambar,
yang memperlihatkan keterampilan yang diajarkan. Verbal
berarti guru mencoba menerangkannya dalam bentuk kata-kata,
yang juga menggambarkan keterampilan tersebut secara utuh.
Baik secara visual maupun verbal, keduanya harus sama-sama
mampu mendukung maksud dan tahap ini, yaitu membenikan
konsep atau imaginatif tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan gerakan yang akan dipelajari.
b. Kegiatan Orientasi
Tahapan kegiatan orientasi adalah tahap mengarahkan kesiapan
anak yang bersifat perilaku atau gerak, dengan cara
memperkenalkan keterampilan yang akan dipelajari setahap
demi setahap. Dalam tahap inii guru memberikan tugas gerak
tertentu pada anak untuk dipelajari secara praktek, berupa
bagian-bagian atau inti gerakan yang telah disederhanakan
dengan maksud memudahkan anak menguasai keterampilan
tersebut. Sebagai contoh keterampilan handspring. Untuk
mengajarkan handspring, biasanya guru akan memilih kegiatan-
kegiatan orientasi sebagai berikut: handstand secara berpasangan,
Modul PLPG Penjaskes 2013
26
handstand ke tembok dengan ayunan kaki yang kuat, handstand
jatuh tumbang, sebelum akhirnya diminta untuk melakukan
handspring yang sesungguhnya. Intinya, guru memilih gerakan
gerakan yang menjadi ciri utama dari keterampilan yang
dipelajari, termasuk ciri gerak dan sikap tubuh yang
dipersyaratkan oleh keterampilan tersebut.
Secara tegas Mace dan Benn (1982) menjelaskan bahwa fungsi dan
kegiatan orientasi adalah untuk (1) merangsang dan
membiasakan perasaan anak pada pengalaman gerak yang akan
ditemui, dan (2) menghilangkan perasaan-perasaan disorientasi
yang dihasilkan dari arah dan posisi tubuh yang baru dan
keterampilan itu. Jika diperhatikan secara teliti, kegiatan orientasi
in sama saja dengan penerapan dan metode progresif.
c. Keterampilan Inti
Setelah waktu kegiatan orientasi dirasa cukup, maka tahap
berikutnya adalah melatih keterampilan sesungguhnya dan
gerakan yang dipelajari. Inilah yang disebut tahap pembelajaran
keterampilan inti.
Perpindahan dari tahap sebelumnya ke tahap ketiga ini biasanya
tidak ditandai dengan batas yang jelas, sebab kadang-kadang
beberapa anak sudah menguasai seluruh keterampilan pada
tahap kegiatan orientasi. Ciri yang paling mencolok dan tahap ini
adalah mayoritas murid sudah mulai mencoba menampilkan
keterampilan yang dipelajari secara ututh, walaupun masih
dengan bantuan temannya sendiri atau guru.
Kemampuan guru dalam hal mengobservasi dan menganalisis
gerakan perlu ditingkatkan sejalan dengan bertambahnya waktu.
Informasi yang akurat mengenal kesalahan yang masih dibuat
dan bagaimana memperbaikinya adalah kata kunci dan nilai
umpan balik yang diberikan guru.

Modul PLPG Penjaskes 2013
27
d. Perluasan keterampilan
Ketika keterampilan inti telah dikuasai, tugas guru selanjutnya
adalah menciptakan situasi yang dapat mengembangkan
keterampilan itu dalam lingkungan yang lebih menantang.
Keterampilan baling-baling, misalnya, pada tahap ini dapat
dilakukan di atas bangku panjang atau mungkin di atas balok
keseimbangan. Intinya, pada tahap ini murid diberi kesempatan
untuk mencoba keterampilan yang baru dikuasainya pada
kondisi yang berbeda. Gerakannya tetap sama, tetapi tempat
pelaksanaan gerak itu berbeda.
e. Variasi
Ketika anak-anak telah menguasai keterampilan Inti dan
mencobanya di tempat-tempat yang berbeda, tahap selanjutnya
adalah menantang dan melatih kreativitas anak dengan meminta
mereka untuk memvariasikan keterampilan tadi supaya terlihat
berbeda. Pada tahap ini anak harus dibuat sadar bahwa
keterampilan yang dikuasainya bisa ditampilkan dengan cara
yang berbeda.
Pada awalnya, anak tentu perlu diberi contoh tentang bagaimana
variasi dapat ditambahkan pada keterampilan yang ada. Setelah
itu, anak ditugaskan mencari sendiri, baik perorangan maupun
perkelompok.. Sebagal contoh, jika roll depan biasanya diawali
dari posisi berdiri kemudian membungkukkan badan, maka
sikap awal roll tersebut bisa divariasikan dengan cara
mengangkat satu kaki.
f. Rangkaian
Merangkaikan adalah tahap akhir dari pendekatan pengajaran
educational gymnastics. Tahap ini berkaitan dengan tugas untuk
merangkaikan keterampilan yang sudah dipelajari menjadi satu
rangkaian latihan. Idealnya ketika satu gerakan dengan gerakan
Modul PLPG Penjaskes 2013
28
lain dirangkaikan, maka secara keseluruhan rangkaian itu
mengandung nilai tambah yang berbeda jika dilaksanakan sendiri
- sendiri. Di akhir pertemuan, boleh juga dipertimbangkan untuk
menutup kelas dengan semacam festival atau eksibisi hasil kerja
anak dalam membuat rangkaian. Setiap anak atau kelompok
diwajibkan untuk menampilkan rangkaian ciptaannya di
hadapan murid lain, secara bergiliran. Demikianlah tahapan
pendekatan pengajaran senam ala Mace dan Benn yang disebut
educational gymnastics


Modul PLPG Penjaskes 2013
29
TUGAS DAN LATIHAN

1. Jelaskan pengertian Senam ?
2. Apakah cirri-ciri dan kaidah senam ?
3. Sebutkan dan Jelaskan unsur-unsur dalam Latihan senam?
4. Sebutkan dan Jelaskan karakteristik Gerak Dasar Senam ?
5. Mengapa komponen kelentukan penting dalam senam?
6. Bagaimana cara meningkatkan kelentukan ?
7. Apakah yang dimaksud dengan kekuatan, jelaskan ?
8. Sebutkan dan Jelaskan macam kontraksi otot ?
9. Sebutkan keterampilan mengajar yang harus diperhatikan oleh
seorang guru ?
10. Jelaskan metode progresif dalam senam ?
11. Jelaskan empat cara untuk menembangkan isi pelajaran ?
12. Persyaratan apa yang harus dipenuhi oleh guru dalam
mengorganisir ruang dan peralatan ?
13. Sebutkan enam tahapan pengajaran senam dalam pendekatan
episodis menurut Mace dan Benn,?
14. Apa yang dlakukan dalam kegiatan orientasi ?
15. Buatlah model pendekatan mengajar, jika mendapati siswa
mengalami kesulitan dalam melakukan roll kebelakang jongok ?.
16. Coba lakukan tahapan tahapan dalam gerakan head spring pada
senam lantai?
17. Lakukan secara berurutan tahapan gerakan roll kedepan ?
18. Latihlah beberapa bentuk latihan untuk mengembangkan
kelentukan ?
19. Latihlah gerakan keseimbangan hand stand sampai dapat berhani
diam dalam 3 detik ?
20. Buatlah dan latihlah suatu rangkaian dalam senam lantai ?

Modul PLPG Penjaskes 2013
30


Modul PLPG Penjaskes 2013
31
BAB II
MATERI BELADIRI

A. PENDAHULUAN
Salah satu macam bela diri yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah
bela diri pencak silat. Pencak silat sebagai olahraga dan seni bela diri yang
telah membudaya sejak nenek moyang kita, untuk itu perlu dibina dan
dikembangkan serta diwariskan kepada generasi muda, baik melalui
pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah, sejak sekolah dasar sampai
dengan perguruan tinggi.
Salah satu tujuan dari pembelajaran pencak silat di Jurusan POK
FKIP UNS adalah mahasiswa mampu mengajar pelajaran pencaksilat di
sekolah. Baik di sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama (SMP) maupun
sekolah lanjutan atas (SMU/SMK/MA). Untuk itu selain sikap dan gerak
teknik dasar pencak silat yang harus dikuasai oleh mahasiswa sebagai calon
guru penjas, juga harus menguasai metodik (pengajaran) pencak silat di
sekolah.
Secara umum pencak silat bercirikan: sebagai beladiri hasil budaya
bangsa Indonesia, menggunakan seluruh bagian tubuh dan anggota badan
sebagai alat untuk membela diri dan untuk menyerang, tidak memerlukan
senjata tertentu (benda apapun dapat dijadikan senjata).
Sedangkan secara khusus pencak silat bercirikan: gerakan pencak
silat merupakan budaya daerah lingkungan, sering ditampilkan dengan
diiringi musik tradisional, dan lebih ditekankan untuk membela diri dari
pada menyerang.
Menurut sejarahnya, pencak silat lahir dan berkembang dalam
masyarakat Semenanjung Malaka atau Rumpun Melayu yaitu penduduk
asli yang berada di negara-negara Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam,
dan terutama negara Indonesia. Pada awalnya, pencak silat hanya
berfungsi untuk mempertahankan diri dari berbagai ancaman alam dan
Modul PLPG Penjaskes 2013
32
isinya (hewan dan manusia). Namun dalam perkembangannya pencak silat
berfungsi lebih luas dari hanya sekedar pembelaan diri saja, yaitu sebagai
sarana untuk berolahraga, mencurahkan jiwa kesenian, dan sebagai
pendidikan spiritual. Jadi, dalam perkembangannya pencak silat
mempunyai empat aspek, yaitu: olahraga pencak silat, seni (tari) pencak
silat, bela diri pencak silat, serta kerokhanian pencak silat.
Salah satu aspek di dalam pencak silat adalah olahraga pencak silat
atau pencak silat olahraga. Pencak silat olahraga merupakan istilah yang
pertama kali digunakan untuk menyebut pertandingan antara dua (2)
pesilat di gelanggang dari kubu (asal) yang berbeda dengan peraturan
yang telah ditentukan, dalam rangka meraih angka sebanyak-banyaknya
sehingga dapat mencapai suatu kemenangan. Pada perkembangannya,
istilah pencak silat olahraga beberapa kali mengalami suatu perubahan,
yakni pada Munas IPSI tahun 1996 disebut dengan istilah Wiralaga dan
pada Munas X tahun 1999 disebut dengan pencak silat kategori tanding.
Pada Munas X tahun 1999 tersebut muncul istilah lain yaitu, tunggal, ganda
dan regu, yang kesemuanya masuk dalam kelompok pencak silat olahraga
prestasi.
B. PETUNJUK PELAKSANAAN BELAJAR PENCAK SILAT
Berikut adalah petunjuk bagi mahasiswa untuk melaksanakan
belajar pencak silat:
1. Sebelum dan sesudah pembelajaran/latihan pencak silat, hendaknya
didahului dengan berdoa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan dilanjutkan dengan salam (hormat) kepada pembina
(pengajar/pelatih) maupun sesama pembelajar (siswa).
2. Pembelajaran/latihan diawali dari gerak yang sederhana menuju yang
kompleks (dari yang mudah ke yang sukar), dari yang menggunakan
tenaga sedikit berangsur-angsur menuju tenaga yang banyak.

Modul PLPG Penjaskes 2013
33
3. Strategi atau cara pembelajaran, diusahakan membuat pembelajar aktif
bergerak. Semakin pembelajar banyak mencoba gerakan (bergerak),
maka semakin bagus pula hasil yang diharapkan.
4. Setiap manusia memiliki naluri pembelaan diri, dan lebih berkembang
lagi dengan adanya tayangan media elektronika yang mudah ditonton
dan ditiru oleh pembelajar. Untuk itu guru pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan dapat menggali, mengembangkan dan mengarahkan
(menghindari cedera) dalam pembelajaran pencak silat berdasarkan
kemampuan pembelajar.
5. Iringan musik/irama (tradisional/modern) dapat digunakan untuk
menambah motivasi pembelajar dalam pembelajaran pencak silat.
6. Sebagai contoh pendekatan antara lain:
6.1. Pembelajaran diawali dengan gerakan/aktivitas di tempat (mundur,
serong, samping, maju, berputar) dan dilanjutkan dengan berpindah
tempat.
6.2. Setiap gerakan (rangkaian) diulang sebanyak 8 hitungan, dan
dilanjutkan dengan kebalikannya. Hitungan bisa difariasi dengan
tepukan tangan atau bunyi peluit, selain dengan ucapan/verbal.
6.3. Pembelajaran/latihan ditekankan pada teknik belaan yaitu elakan,
hindaran dan tangkisan. Kemudian dilanjutkan dengan teknik serangan
(lengan/tangan dan kaki/tungkai).
6.4. Usahakan pembelajaran/latihan dengan cara berpasangan yaitu: satu
orang sebagai yang menghindar dan satu orang sebagai penyerang.
Kemudian dilakukan secara bergantian.
6.1. Jangan terpaku dengan satu atau dua rangkaian gerakan
(serang/hindar saja). Tetapi kembangkan materi sebanyak mungkin,
misalnya difariasi dengan berbagai langkah.
Tugas/Soal:
1. Diskusikan dengan teman Saudara, tentang petunjuk pelaksanaan
pembelajaran pencak silat di sekolah!
Modul PLPG Penjaskes 2013
34
2. Buatlah satu contoh gerakan yang mengandung prinsip:
2.1. Dari yang sederhana ke yang kompleks.
2.2. Dari yang menggunakan tenaga sedikit menuju ke tenaga yang
banyak.
C. PENBENTUKAN KETERAMPILAN DASAR
1. Cara Melakukan Doa/Salam.
1) Diawali dengan berdiri tegak, telapak kaki membentuk sudut
kurang lebih 60 derajat.
2) Rapatkan kedua telapak tangan di depan dada, kemudian
tundukkan kepala disertai dengan doa.
2. Pembentukan Gerak Dasar
Untuk menguasai keterampilan pencak silat seseorang harus
menguasai pembentukan gerak dasar, yaitu: Pembentukan sikap,
pembentukan gerak, teknik pembelaan, dan teknik serangan.
Pembentukan sikap adalah posisi tungkai / kaki tertentu sebagai
dasar tumpuan untuk melakukan sikap dan gerak bela-serang. Secara
umum sikap kuda-kuda dapat dibedakan dalam berbagai posisi, yaitu:
Kuda-kuda depan, kuda-kuda belakang, kuda-kuda tengah, kuda-kuda
samping, dan kuda-kuda silang.
Pembentukan gerak dapat diartikan bagaimana dan kemana
seseorang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Adapun
pembentukan gerak meliputi: Arah delapan (8) penjuru mata angin, gentuk
atau pola langkah, dan cara melangkah.
3. Cara Pembelajaran Pembentukan Sikap dan Gerak.
Cara pembelajaran pembentukan gerak dapat dilakukan dengan
berbagai bentuk. Cara pembelajaran pembentukan gerak tersebut
berdasarkan arah, bentuk atau pola langkah dan cara melangkah.
Untuk menguasai materi pembentukan sikap dan gerak, akan lebih
efektif apabila kedua materi tersebut dipisahkan. Adapun salah satu cara

Modul PLPG Penjaskes 2013
35
agar pembelajar dapat melakukannya dengan mudah dan menarik adalah
sebagai berikut:
Pembelajar dirangsang untuk menemukan sikap kuda-kuda yang
sesuai dan merasakan cara melangkah serta arah. Antara lain dengan cara:
3.1. Sikap awal berdiri kangkang (kurang lebih selebar bahu), dan sikap
tangan bebas.
3.2. Pindahkan kaki (kiri/kanan) ke depan, serong kanan depan, kanan
(samping), serong kanan belakang, belakang, serong kiri belakang, kiri
(samping) serong kiri depan.
3.3. Dengan cara melangkah (geser, ingsutan, angkatan, lompatan,
loncatan).
3.4. Berat badan bertumpu pada kaki (kiri, kanan), dan sebagainya.
3.5. Untuk memberi pembebanan, setiap selesai satu gerakan
dipertahankan sambil memberikan penjelasan.
3.6. Lakukan berulangkali.
3.7. Usahakan pembebanan antara kaki kanan dan kiri seimbang.
3.8. Untuk menambah berat/ringan pembebanan dapat dilakukan dengan
cara antara lain: pada sikap tertentu dipertahankan semakin lama, jarak
antara kaki diperlebar, dan gerakan dipercepat.
3.9. Untuk tahap awal (pemula) hanya satu langkah saja. Tetapi selanjutnya
dapat ditambah dengan berberapa langkah.
Penjelasan tentang pelaksanaan kuda-kuda:
Menurut PB IPSI (Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia)
yang dimaksud dengan kuda-kuda adalah suatu teknik yang
memperlihatkan kaki dalam keadaan statis. Berdasarkan bobotnya kuda-
kuda dibedakan menjadi tiga, yakni:
1) kuda-kuda ringan, yaitu sikap kuda-kuda dengan dua kaki menopang
sebagian berat badan. Titik berat badan berada di atas rata-rata.
2) kuda-kuda sedang, yaitu sikap kuda-kuda dengan menopang titik berat
badan berada di tengah (rata-rata).
Modul PLPG Penjaskes 2013
36
3) kuda-kuda berat, yaitu sikap kuda-kuda yang salah satu atau kedua
kaki/tungkai menopang seluruh berat badan. Titik berat badan berada
di bawah.
Berdasarkan bentuknya kuda-kuda dibedakan menjadi empat jenis, yakni:
1) kuda-kuda depan, yaitu salah satu jenis kuda-kuda yang dalam
pelaksanaannya dengan sikap salah satu kaki/tungkai berada di depan,
sedangkan kaki/tungkai lainnya di belakang dan berat badan ditopang
oleh kaki depan. Posisi kedua telapak kaki membentuk sudut kurang
lebih 30 derajat. Kuda-kuda depan ini masih dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu (1) kuda-kuda depan lurus, dan (2) kuda-kuda depan
serong.
2) kuda-kuda belakang, yaitu salah satu jenis kuda-kuda yang dalam
pelaksanaannya dengan sikap salah satu kaki/tungkai berada di depan
sedangkan kaki/tungkai lainnya berada di belakang dengan berat badan
ditopang oleh kaki/tungkai belakang. Posisi telapak kaki depan lurus
dan telapak kaki belakang membentuk sudut kurang lebih 60 derajat.
3) kuda-kuda tengah, yaitu salah satu jenis kuda-kuda yang dalam
pelaksanannya dengan sikap kedua kaki melebar sejajar dengan bahu
dan berat badan ditopang secara merata oleh kedua kaki. Kuda-kuda ini
dapat juga dilakukan dengan posisi serong. Posisi kedua telapak kaki
serong membentuk sudut 30 derajat.
4) kuda-kuda samping, yaitu salah satu jenis kuda-kuda yang
pelaksanaannya dengan posisi kedua kaki melebar sejajar dengan tubuh
dan berat badan ditopang oleh salah satu kaki yang menekuk. Posisi
kedua telapak kaki sejajar membentuk sudut sekitar 30 derajat.
Tugas/Soal:
1. Bagaimanakah cara melakukan sikap dan gerak doa (versi IPSI) dan
salah satu perguruan / padepokan pencak silat yang ada disekitar
Anda?
2. Jelaskanlah teknik kuda-kuda depan!

Modul PLPG Penjaskes 2013
37
3. Jelaskanlah pelaksanaan kuda-kuda belakang!
4. Bagaimanakah cara mengajar agar supaya siswa bisa merasakan sikap
kuda-kuda dan gerak langkah ke berbagai arah penjuru?
5. Jelaskanlah berbagai macam kuda-kuda berdasarkan bobotnya!
6. Jelaskanlah berbagai macam kuda-kuda berdasarkan titik berat badan
(bentuknya)!
7. Bagaimanakah pelaksanaan kuda-kuda ringan?
8. Bagaimanakah pelaksanan kuda-kuda berat?
D. SIKAP PASANG
Sikap pasang adalah suatu sikap tubuh dan mental secara
keseluruhan yang ditandai oleh sikap lengan dalam keadaan siaga yaitu
salah satu atau kedua tangan berada di atas pusat, dan posisi kaki/tungkai
dalam keadaan siaga, serta badan (togok) menyesuaikan. Jadi sikap pasang
adalah koordinasi dari sikap kuda-kuda, sikap tangan / lengan dan sikap
tubuh. Sikap pasang dapat dilakukan dengan posisi kaki: sejajar
(menghadap), salah satu kaki di depan (kiri depan atau kanan depan), dan
kaki silang.
Sedangkan sikap tangan/lengan dalam posisi sikap pasang dapat
dilakukan dengan cara: terbuka, tertutup, dan memutar.
Sikap pasang jika ditinjau dari taktik penggunaannya dibedakan
menjadi dua, yaitu: (1) sikap pasang terbuka, dan (2) sikap pasang tertutup.
1. Sikap pasang terbuka.
Tangan dibuka lebar-lebar dan membiarkan daerah yang lemah
terbuka. Hal ini untuk memancing lawan agar menyerang.
2. Sikap pasang tertutup.
Tangan ditempatkan pada daerah tubuh yang lemah dan tubuh
sedikit membungkuk ke depan untuk mempersempit dan menutup daerah
rawan tubuh.
Dua belas (12) bentuk sikap pasang tertutup:

Modul PLPG Penjaskes 2013
38
Tugas/Soal:
1. Bagaimanakah sikap dasar persiapan untuk melakukan sikap pasang?
2. Bagaimanakah teknik sikap pasang terbuka dan tertutup?
E. Elakan, Tangkisan dan Hindaran
1. Elakan
Elakan adalah usaha pembelaan dengan cara memindahkan sasaran
dari arah serangan lawan, dengan cara tidak melangkah (memindahkan
kaki), tetapi dengan menggeser badan/tubuh. Sasaran yang dimaksud
adalah bagian badan yang menjadi tujuan serangan lawan.
Unsur dalam elakan adalah: sikap tangan, sikap kaki/tungkai, dan
sikap tubuh/togok. Sedangkan macam-macam elakan adalah: (1) elak
bawah, (2) elak atas, (3) elak samping, dan (4) elak belakang putar.
1.1. Elak bawah
Mengelakkan diri dari serangan lawan pada bagian badan sebelah
atas. Gerakannya adalah merendahkan diri dengan cara menekuk kedua
lutut tanpa memindah-kan letak kedua kaki. Kedua tangan berjaga-jaga di
depan atas kepala dan sikap badan menyesuaikan.
1.2. Elak atas
Mengelakkan diri dari serangan lawan pada bagian badan sebelah
bawah. Gerakannya adalah mengangkat badan/tubuh ke atas dengan cara
kedua kaki dengan sikap kedua tungkai ditekuk disertai dengan sikap
tubuh dan tangan waspada. Mendarat dengan kaki saling menyusul atau
dengan kedua kaki bersama-sama.
1.3. Elak samping
Mengelakkan diri dari serangan lurus depan agak ke atas.
Gerakannya adalah dari sikap kangkang, memindahkan badan ke samping
dengan merubah sikap tungkai/kuda-kuda. Disertai dengan sikap tubuh
dan tangan/lengan waspada (tangan berada di depan dada).

Modul PLPG Penjaskes 2013
39
1.4. Elak belakang berputar
Mengelakkan diri dari serangan lurus depan dan samping.
Gerakannya adalah dari sikap kuda-kuda depan (salah satu kaki berada di
depan) memindahkan berat badan ke belakang dengan cara badan
memutar. Gerakan tersebut disertai dengan sikap tubuh dan sikap
tangan/lengan dalam keadaan waspada (tangan berada di depan dada).
2. Tangkisan
Tangkisan adalah usaha pembelaan dengan cara memindahkan
sasaran dari arah serangan lawan dengan cara mengadakan kontak
langsung dengan serangan.
Kontak langsung yang dilakukan pada teknik tangkisan bertujuan untuk:
mengalihkan serangan dari lintasan, dan membendung atau menahan
serangan, jika terpaksa.
Sikap menangkis selalu disertai sikap kuda-kuda dan sikap tubuh
dengan menggunakan: (1) satu tangan, (2) siku, (3) dua tangan, dan (4)
kaki/tungkai. Terhadap serangan yang mempunyai bentuk dan
arah/lintasan yang bervariasi, maka tangkisan mempunyai variasi sebagai
berikut: posisi tinggi atau rendah, dengan tangan terbuka atau tertutup,
dan arah ke dalam atau keluar.
Sedangkan unsur lainnya dalam elakan dan tangkisan adalah: sikap tangan,
sikap kaki/tungkai, dan sikap tubuh/togok.
2.1. Tangkisan satu lengan
Tangkis satu lengan dapat dilakukan dengan (1) tangkis dalam, (2)
tangkis luar, (3) tangkis atas, dan (4) tangkis bawah.
1) Tangkis dalam
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada.
Gerakan: Langkahkan salah satu kaki ke belakang (misalnya kaki
kiri) disertai dengan tangan kanan (tangan yang untuk menangkis)
bergerak ke samping kiri (ke dalam). Tangan kanan saat bergerak
Modul PLPG Penjaskes 2013
40
menghadap ke belakang dengan jari-jari tangan terbuka, sedangkan tangan
kiri tetap berada di depan dada dengan sikap siaga. Perkenaan tangkisan
pada lengan bawah atau pada pisau tangan dekat pergelangan tangan
kanan.
2) Tangkis luar
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada.
Gerakan: Langkahkan salah satu kaki ke belakang (misalnya kaki
kiri) disertai dengan tangan kanan (tangan yang untuk menangkis)
bergerak ke samping kanan (ke luar). Tangan kanan saat bergerak
menghadap ke depan dengan jari-jari tangan terbuka, sedangkan tangan
kiri tetap berada di depan dada dengan sikap siaga. Perkenaan tangkisan
pada lengan bawah atau pada pisau tangan dekat pergelangan tangan
kanan.
3) Tangkis atas
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada.
Gerakan: Langkahkan salah satu kaki ke belakang (misalnya kaki
kiri) disertai dengan tangan kanan (tangan yang untuk menangkis)
bergerak ke atas. Saat bergerak lengan bawah tangan kanan tetap
horizontal sehingga siku tangan kanan bergerak mengikuti ke atas. Tangan
kanan saat bergerak menghadap ke depan dengan jari-jari tangan terbuka,
sedangkan tangan kiri tetap berada di depan dada dengan sikap siaga.
Perkenaan tangkisan pada lengan bawah atau pada pisau tangan dekat
pergelangan tangan kanan.
4) Tangkis bawah
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada. Gerakan: Langkahkan salah satu
kaki ke belakang (misalnya kaki kiri) disertai dengan tangan kanan (tangan
yang untuk menangkis) bergerak ke bawah di depan badan. Tapak tangan

Modul PLPG Penjaskes 2013
41
kanan saat bergerak menghadap ke belakang dengan jari-jari tangan
terbuka, sedangkan tangan kiri tetap berada di depan dada dengan sikap
siaga. Perkenaan tangkisan pada lengan bawah atau pada pisau tangan
dekat pergelangan tangan kanan.
2.2. Tangkisan dua tangan/lengan
Tangkis dua lengan dapat dilakukan dengan: sejajar dua
tangan/lengan atas, belah tinggi dan rendah, silang tinggi dan rendah, dan
buang samping.
1) Tangkis sejajar dua tangan/lengan
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada. Gerakan: Langkahkan salah satu
kaki ke belakang disertai dengan gerakan kedua lengan atau tangan
menangkis ke depan. Gerakan dilakukan oleh kedua lengan bawah secara
bersamaan dan sejajar, serta kedua tapak tangan saling berhadapan (jari-
jari tangan terbuka). Perkenaan tangkisan pada kedua tangan atau lengan
bawah dekat pergelangan tangan.
2) Tangkis belah
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada. Gerakan: Langkahkan salah satu
kaki ke belakang disertai dengan gerakan ke dua lengan / tangan
membelah ke atas atau ke bawah. Gerakan dilakukan oleh kedua
lengan/tangan secara bersamaan. Saat bergerak pada awalnya kedua
tangan saling berhadapan, namun setelah kedua lengan hampir lurus
secara mendadak kedua tangan diputar dan masing-masing di bawa ke luar
atau samping, sehingga kedua tapak tangan saling membelakangi dan
secara bersamaan menjauh. Gerakan lengan/tangan pada tangkis belah ini
seperti pada gerakan lengan/tangan pada renang gaya kupu-kupu.
3) Tangkis Silang
Sikap awal: Berdiri tegak dengan kedua kaki rapat pada tumitnya
dan kedua tangan berada di depan dada. Gerakan: Langkahkan salah satu
Modul PLPG Penjaskes 2013
42
kaki ke belakang disertai dengan gerakan ke dua lengan/tangan menyilang
ke atas atau ke bawah. Gerakan dilakukan oleh kedua lengan / tangan
secara bersamaan, jari-jari terbuka dan rapat. Tempat pertemuan kedua
lengan untuk posisi silang adalah pada pertengahan lengan bawah. Kedua
tapak tangan menghadap keluar, sehingga punggung tangan saling
berhadapan.
4) Tangkis buang samping
Sikap awal: Berdiri tegak kedua tumit rapat, dan kedua tangan
berada di depan dada. Gerakan: Langkahkan salah satu kaki ke belakang,
dan kedua lengan menjulur ke depan dengan kedua tangan berada di atas
dan di bawah. Kedua telapak tangan menghadap ke samping badan
dengan kedua ibu jari saling berdekatan. Siku lengan yang berada di atas
agak diangkat sehingga berada lebih tinggi dari pada tangan. Gerakan
tangan dari depan badan sampai di samping badan. Kedua lutut agak
ditekuk untuk keseimbangan badan. Perkenaan pada kedua telapak tangan
dan serangan lawan dibuang ke arah samping badan.
2.3. Tangkisan siku
Tangkisan siku terdiri dari dari: (1) tangkis siku dalam dan (2)
tangkis siku luar. Keduanya dapat dilakukan dengan tinggi dan rendah.
1) Tangkis siku dalam
Sikap awal: Berdiri dengan kedua tumit rapat dan kedua tangan
berada di depan dada. Gerakan: Langkahkan salah satu kaki ke belakang
dan kedua siku ditekuk kemudian digerakkan ke arah dalam melewati
depan badan sampai berhenti di sisi badan yang lain. Saat bergerak posisi
siku tetap ditekuk sehingga lengan bawah vertikal ke atas, dan tapak
tangan menghadap ke badan. Tangan yang tidak untuk menangkis tetap
berada di depan dada dalam sikap siaga. Perkenaan tangkisan pada siku.
2) Tangkis siku luar
Sikap awal berdiri dengan kedua tumit rapat dan kedua tangan
berada di depan dada. Gerakan, langkahkan salah satu kaki ke belakang

Modul PLPG Penjaskes 2013
43
dan kedua siku ditekuk kemudian digerakkan ke arah luar melewati depan
badan sampai berhenti di sisi badan yang lain. Saat bergerak posisi siku
tetap ditekuk sehingga lengan bawah vertikal ke atas, dan tapak tangan
menghadap ke badan. Tangan yang tidak untuk menangkis tetap berada di
depan dada dalam sikap siaga. Perkenaan tangkisan pada siku.
3. Hindaran.
Hindaran adalah teknik belaan untuk menggagalkan serangan
lawan yang dilakukan dengan tanpa menyentuh tubuh lawan (alat serang
lawan) dan dilaksanakan dengan berpindah tempat (menggeser tumpuan
kaki.
T eknik hindaran terdiri dari:
1. Hindar kanan / kiri (Egosan). Untuk menghindari serangan lawan
dengan cara memindahkan kedua kaki dengan arah ke kanan atau ke kiri.
Untuk latihan yang perlu ditekankan adalah, setelah melakukan gerakan
perpindahan kaki (hindaran) hendaknya kembali ke sikap pasang atau
sikap kuda-kuda.
2. Hindar belakang. Hindar belakang adalah adalah teknik hindaran yang
dilakukan dengan memindahkan salah satu kaki ke arah belakang, Ketika
mengelak yang berpindah hanya satu kaki/tungkai, untuk menghindari
agar serangan lawan tidak kena sasaran. Biasanya, teknik elakan ini
dilanjutkan (sebagai modal dasar) untuk teknik jatuhan.
Tugas/Soal:
1. Jelaskanlah perbedaan antar tangkisan dan elakan!
2. Bagaimanakah teknik tangkisan dengan menggunakan dua tangan
atau dua lengan?
3. Bagaimanakah pelaksanaan tangkisan luar dan tangkisan dalam?
4. Jelaskanlah cara melakukan hinder samping !
5. Jelaskanlah perbedaan antara hindaran dan elakan !
Modul PLPG Penjaskes 2013
44
F. SERANGAN
Pencak silat adalah hasil usaha budidaya bangsa Indonesia yang
telah dikembangkan secara turun-temurun hingga mencapai bentuknya
yang sekarang. Pencak silat mempunyai 4 aspek sebagai kesatuan yang tak
terpisahkan, yaitu (1) aspek mental spiritual, (2) aspek beladiri, (3) aspek
seni dan (4) aspek olahraga.
Aspek mental spiritual meliputi: Bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa; Tenggangrasa, percaya diri, dan disiplin; Cinta bangsa dan tanah
air; Persaudaraan; Solidaritas sosial.
Aspek beladiri, meliputi: Berani, tahan uji, tangguh, tanggap,
melaksanakan ilmu padi, dan membela keselamatan diri, bangsa dan tanah
air.
Aspek olahraga, meliputi: Sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,
meningkatkan prestasi, menjunjung tinggi sportivitas, dan pantang
menyerah.
a. Pukulan
Pukulan dalam pencak silat merupakan salah satu serangan yang
menggunakan lengan atau tangan. Setiap serangan mempunyai unsur: (a)
sikap tangan / lengan sebagai alat serang, (2) sikap kuda-kuda, dan (3)
sikap tubuh.
Sikap tangan atau lengan yang digunakan untuk menyerang (memukul)
menyesuaikan jenis pukulan yang digunakan, sedangkan tangan atau
lengan yang lain berada di depan dada dalam keadaan rileks (tidak tegang).
Sikap kuda-kuda maksudnya adalah suatu sikap tungkai / kaki yang
menyesuaikan jenis serangan (pukulan) yang digunakan dan tergantung
pada situasi yang ada. Pada dasarnya sikap tungkai (kuda-kuda) saat
menyerang adalah situasional sekali, dan berat badan biasanya pindah ke
tungkai yang terdekat dengan sasaran. Hal ini dalam rangka untuk meraih
keuntungan dalam penggunaan tenaga yang efektif dan jangkauan yang
lebih jauh ke arah sasaran. Sedangkan sikap tubuh maksudnya adalah

Modul PLPG Penjaskes 2013
45
sikap tubuh dalam mengkoordinasikan gerakan yang menggunakan togok,
anggota tubuh dan tubuh secara keseluruhan. Kecondongan tubuh ke arah
sasaran saat mengenai sasaran, dan salah satu bahu yang berada pada
posisi sedekat mungkin ke arah sasaran merupakan hal yang sangat
penting dalam usaha penyerangan dengan tangan atau lengan (pukulan).
Pukulan berdasarkan arah serangan dapat melalui: (1) depan, (2) bawah, (3)
atas, dan (4) samping.
1. Pukulan Depan.
Pukulan depan atau pukulan lurus adalah pukulan yang dilakukan dengan
lintasan lurus ke arah depan. Agar hasil pukulan dapat efektif, gerakan
pukulan harus dibantu dengan gerakan putaran bahu ke depan dan
putaran pinggang menuju ke arah lengan yang digunakan untuk memukul.
1) pukulan depan dengan posisi tangan yang digunakan untuk menyerang
sejajar dengan posisi tungkai/kaki yang berada di depan, dan
2) pukulan depan dengan posisi tangan yang digunakan untuk memukul
tidak sejajar dengan posisi tungkai/kaki yang berada di depan.
2. Pukulan Samping.
Pukulan samping adalah pukulan yang dilakukan dengan menggunakan
pungung tangan. Lintasan geraknya adalah dari samping dalam tubuh ke
arah luar tubuh.
3. Pukulan Bandul.
Pukulan bandul adalah pukulan yang dilakukan dengan posisi lengan (siku)
ditekuk lebih kurang 90 derajat. Adapun lintasan pukulan ini adalah
diayun dari bawah menuju ke arah atas (dengan lintasan vertikal). Pukulan
bandul dapat dilakukan dengan berbagai variasi posisi tungkai.
4. Pukulan Lingkar.
Pukulan lingkar adalah pukulan yang dilakukan dengan lintasan dari arah
samping luar tubuh menuju ke arah dalam tubuh, dengan lintasan datar
(horisontal). Agar pukulan jenis ini lebih efektif, maka harus didukung oleh
gerakan bahu dan pinggang yang searah dengan arah pukulan yang dituju
(sasaran).
Modul PLPG Penjaskes 2013
46
b. Tendangan
Tendangan adalah serangan dengan menggunakan tungkai/kaki. Adapun
bagian kaki untuk menendang dapat menggunakan: punggung kaki,
telapak kaki, ujung kaki, tumit, sisi kaki (pisau kaki), dan pergelangan kaki.
Teknik tendangan dapat dilakukan dengan posisi badan dan lintasan
sebagai berikut: depan, samping, belakang, dan busur. Sebelum melakukan
serangan dengan tungkai/kaki (tendangan), yang perlu diperhatikan
adalah sikap dasar sebelum melakukan tendangan. Adapun sikap dasar
tersebut adalah sikap pasang.
1) Teknik tendangan depan
Kaki tendang diangkat sedemikian rupa sehingga lutut berada di
depan perut, dan tungkai bawah menggantung. Tendangkan ke depan
dengan lintasan kaki dihentakkan (ditendangkan) ke depan agak ke atas
(tergantung sasaran). Arah sasaran perkenaan adalah ulu hati lawan.
Sedangkan perkenaan pada kaki yang menendang adalah pada tumit
atau ujung kaki.
2) Teknik tendangan samping
Kaki tendang diangkat ke depan dengan bersamaan kaki tumpu di
putar ke luar, sehingga lutut kaki tendang berada di depan perut
sedangkan tungkai bawah berada di sisi samping badan. Hentakkan
atau tendangkan ke depan, dengan telapak kaki tendang datar, sehingga
perkenaan pada telapak kaki atau sisi samping kaki (pisau kaki) tendang.
Arah sasaran yang dituju adalah pada ulu hati, leher, atau persendian
bahu lawan. Pada saat menendang posisi lawan berada di samping
badan atau berada pada sisi bahu kaki yang menendang.
3) Teknik tendangan belakang
Sikap awal, bediri sikap pasang dengan salah satu kaki di depan.
Putar badan sampai membelakangi sasaran, kapala tetap menghadap ke
arah sasaran, sehingga kaki yang terdekat dengan sasaran (kaki tumpu)
berdiri pada ujung jari kaki, sedangkan berat badan pada kaki yang

Modul PLPG Penjaskes 2013
47
berada jauh dari sasaran (pada kaki tendang). Badan agak condong ke
kaki tendang. Gerakan, kaki tendang diangkat ke depan sehingga tumit
dekat dengan pantat, kemudian tendangkan ke arah sasaran yang
berada di belakang badan. Tendangan lurus ke belakang dan arah
sasaran adalah ulu hati lawan. Sedangkan bagian kaki yang menendang
yang mengenai sasaran adalah bagian tumit atau telapak kaki.
4) Teknik tendangan busur
Angkat kaki tendang serong ke depan, sehingga kaki tendang
berada agak jauh dari tungkai kaki tumpuan. Tendangkan/hentakkan
kaki tendang ke serong depan dengan arah sasaran ditujukan ke sisi
tubuh atau pinggang lawan atau sisi/samping kepala/leher lawan.
Perkenaan kaki tendang adalah pada punggung kaki atau pada ujung
kaki tendang.

Penjelasan.
Tendangan dalam bela diri pencak silat adalah teknik serangan yang
digunakan untuk menyerang dengan jangkauan sedang dan jauh.
Tendangan tentunya menggunakan tungkai (kaki) sebagai komponen
penyerangnya. Nilai tendangan dalam pencak silat prestasi kategori
tanding adalah dua (2).
Adapun teknik tendangan yang digunakan dalam pertandingan
pencak silat adalah sebagai berikut: tendangan depan atau tendangan A,
tendangan samping atau tendangan T, tendangan sabit atau tendangan C,
tendangan belakang atau tendangan B, tendangan gajul, dan tendangan
jejag.
Tugas/Soal:
1. Bagaimanakah teknik pukulan depan?
2. Jelaskanlah perbedaan pukulan bawah dan pukulan atas!
3. Bagaimanakah teknik tendangan T atau tendangan samping?
4. Jelaskanlah perbedaan tendangan depan dengan tendangan belakang!
Modul PLPG Penjaskes 2013
48
5. Bagaimanakah pelaksanaan tendangan gajul?
6. Bagaimanakah pelaksanaan tendangan jejag?
7. Bagaimanakah pelaksanaan tendangan sabit?
8. Jelaskanlah persamaan antara tendangan gajul dan tendangan jejag!







Modul PLPG Penjaskes 2013
49
KUNCI JAWABAN TUGAS/SOAL

Bagian A Petunjuk Pelaksanaan Belajar Pencak Silat
Nomor 1: Lihat halaman dan tentang petunjuk pelaksanaan belajar
pencak silat!
Nomor 2:
2.1: Pertama, kuda-kuda konsentrasi hanya pada tungkai/kaki.
Kedua, kuda-kuda konsentrasi pada tungkai/kaki dan
lengan/tangan.
Ketiga, kuda-kuda konsentrasi pada tungkai/kaki, lengan/tangan
dan pandangan.
Keempat, dan sebagainya.
2.2: Pertama, kuda-kuda atas atau tinggi.
Kedua, kuda-kuda tengah atau sedang.
Ketiga, kuda-kuda rendah atau bawah.

Bagian B Pembentukan Keterampilan Dasar
Nomor 1: Lihat halaman tentang sikap dan gerak doa versi IPSI. Sikap
dan gerak hormat pada salah satu perguruan pencak silat,
misal di Perguruan Tapak Suci, caranya addalah: pertama
sikap kedua kaki kangkang selebar bahu, posisi kedua tangan
ditarik bersamaan di samping badan. Kedua tapak tangan
kanan di bawa ke depan badan di tarik ke samping badan
menghadap ke depan dan siku lengan kanan ditekuk.
Bersamaan dengan gerakan kedua tangan kiri terbuka jari-jari
tegak ke atas menghadap ke tapak tangan kanan (menghadap
ke arah samping kanan).
Nomor 2: Lihat halaman tentang teknik kuda-kuda depan.
Nomor 3: Lihat halaman tentang teknik kuda-kuda belakang.
Modul PLPG Penjaskes 2013
50
Nomor 4: Dengan mempraktekkan satu persatu gerakan dan sikap kuda-
kuda secara alamiah kemudian ditingkatkan dengan
kombinasi berbagai arah penjuru mata angin.
Nomor 5: Lihat halaman tentang macam kuda-kuda berdasarkan
bobotnya.
Nomor 6: Lihat halaman tentang macam kuda-kuda berdasarkan titik
berat badan (bentuknya).
Nomor 7: Lihat halaman tentang kuda-kuda ringan.
Nomor 8: Lihat halaman tentang kuda-kuda berat.

Bagian C Sikap Pasang
Nomor 1: Lihat halaman dan tentang sikap dasar untuk melakukan
sikap pasang.
Nomor 2: Lihat halaman dan tentang teknik sikap pasang terbuka
dan tertutup.

Bab D Elakan dan Tangkisan
Nomor 1: Tangkisan terjadi kontak fisik antara alat yang diigunakan
untuk menangkis (misal lengan) dengan alat serang lawan
(misal tungkai). Elakan menghindar dari serangan lawan tanpa
terjadi kontak fisik.
Nomor 2: Lihat halaman dan tentang teknik tangkisan dengan
menggunakan dua tangan atau dua lengan.
Nomor 3: Lihat halaman tentang pelaksanaan tangkisan luar dan
tangkisan dalam.



Modul PLPG Penjaskes 2013
51
Bagian E Serangan
Nomor 1: Lihat halaman dan tentang teknik pukulan depan.
Nomor 2: Pukulan bawah, lintasan pukulan dari bawah menuju ke
depan atas, sedangkan pukulan atas lintasan pukulan dari arah
atas menuju ke depan bawah.
Nomor 3: Lihat halaman tentang teknik tendangan samping atau
tendangan T.
Nomor 4: Tendangan depan saat kaki mengenai sasaran lawan badan
menghadap ke arah lawan berada, tetapi kalau tendangan
belakang saat kaki mengenai sasaran lawan badan
membelakangi lawan, meskipun begitu pandangan tetap
menghadap ke lawan.
Nomor 5: Lihat halaman tentang tendangan gajul.
Nomor 6: Lihat halaman tentang tendangan jejag.
Nomor 7: Lihat halaman tentang tendangan sabit.
Nomor 8: Tendangan gajul lintasan kaki dari bawah menuju ke atas,
sedangkan tendangan jejag lintasan kaki dari atas ke
depan/bawah.





Modul PLPG Penjaskes 2013
52


Modul PLPG Penjaskes 2013
53
BAB III
PEMBELAJARAN PERMAINAN & OLAHRAGA

A. Memahami Isi Dari Pendidikan Jasmani
Pada dasarnya program pendidikan jasmani memiliki kepentingan
yang relatif sama dengan program pendidikan, antara lain
mengembangkan tiga domain utama : psikomotor, afektif, dan kognitif.
Namun demikian ada keunikan dalam program penjas yang tidak dimiliki
oleh program pendidikan lainnya, yaitu dalam hal pengembangan domain
psikomotor. Dalam mengembangkan domain psikomotor biasanya
dikaitkan dengan tujuan mengembangkan kebugaran jasmani anak dan
pencapaian keterampilan geraknya.
Para guru diharapkan dapat memahami hakikat tugas ajar yang
harus diajarkan dalam pendidikan jasmani, sehingga para guru dapat
secara tepat merancang dan menyediakan pengalaman belajar yang sesuai
dengan kemampuan anak dalam ketiga domain di atas.
1. Merancang Tugas Ajar dalam Wilayah Psikomotor
Tugas ajar yang berada dalam wilayah psikomotor, biasanya dibagi
menjadi 2 tujuan utama yaitu tujuan yang berhubungan dengan
pengembangan pencapaian keterampilan gerak dan peningkatan
kebugaran jasmani anak (fitness). Kedua tujuan ini, oleh para ahli dianggap
sebagai kelebihan yang terdapat dalam pelajaran pendidikan jasmani, yang
tentunya tidak mungkin dapat dicapai oleh pelajaran lain.
Pembelajaran Keterampilan Gerak
Pembelajaran keterampilan gerak bertujuan anak dapat menguasai
keterampilan dalam berbagai cabang olahraga. Meskipun banyak bagian
yang berhubungan dengan kebugaran jasmani dimasukkan ke dalam
program penjas untuk meningkatkan kesehatan anak, guru penjas tetap
dianggap memiliki tanggung jawab yang unik yaitu mengembangkan
keterampilan gerak.
Modul PLPG Penjaskes 2013
54
Tujuan utama dalam mengajarkan pendidikan jasmani adalah
pengembangan keterampilan gerak, sehingga anak dapat dan mau
berpartisipasi dalam kegiatan olahraga bahkan kelak disepanjang
hidupnya.
Untuk dapat menentukan materi apa yang tepat agar anak
meningkatkan keterampilannya, pertama-tama guru perlu mengetahui
apakah yang dimaksud dengan keterampilan, dan apa pula ciri dari
keterampilan itu? Untuk membantu memahami makna istilah
keterampilan, persoalan ini dapat dijabarkan lebih operasional, misalnya
dikaitkan dengan Keterampilan suatu cabang olahraga, contoh terampil
dalam bulutangkis.
Pemain bulutangkis dianggap terampil jika (1) dapat menempatkan
bola secara akurat di tempat yang diinginkan, (2) teknik pukulannya baik
sehingga efisien dalam tenaga, (3) dapat menggunakan teknik tersebut
disegala kondisi dan berbagai lawan.
Uraian di atas merujuk pada tiga hal penting dari keterampilan atau
performa yang terampil. Ketika seorang pemain mampu menempatkan
bola secara akurat, hal ini menunjukkkan kepada kualitas efektivitas.
Kemudian, ketika pemain itu melakukannya dengan cara yang benar sesuai
dengan tuntutan teknik, hal itu menunjukkkan adanya kualitas efisiensi.
Ketika pemain dapat menggunakan pukulan tersebut dalam segala kondisi
permainan hal itu menunjukkan kepada kualits adaptasi.
Pembelajaran permainan menuntut pengembangan tahapan
permainan. Pentingnya aspek tahapan permainan ini, muncul hasil dari
studi bagaimana keterampilan digunakan dalam permainan. Setiap
tahapan pengajaran harus melibatkan perpindahan dari latihan yang secara
bertahap, lalu meningkat kesulitannya ke kondisi seperti permainan yang
sesungguhnya.
Perkembangan pemain dapat dibagi menjadi empat tahap, tahapan-
tahapan tersebut dijelaskan dalam bagian berikut.

Modul PLPG Penjaskes 2013
55
Tahap satu. Dalam tahap satu, guru memusatkan perhatiannya pada
kemampuan siswa untuk mengontrol benda (objek) atau tubuhnya. Siswa
pemula dihadapkan dengan masalah ketidaktahuan, tentang apa yang
akan terjadi, misalnya ketika mereka memukul, melempar, menangkap
atau mengumpulkan benda tertentu. Tingkat kemampuan mengontrol
benda sangat penting untuk dikuasai pada tahapan pembelajaran
permainan ini. Pengontrolan yang dimaksud adalah kemampuan
kemampuan sebagai berikut :
a. Aksi melontarkan (misalnya memukul, menendang, melempar). Anak
dapat mengarahkan benda ke suatu tempat dengan besaran daya yang
sesuai kepentingannya secara konsisten.
b. Aksi menerima (misalnya menangkap, mengumpulkan). Anak dapat
menguasai suatu benda yang datang padanya dari arah, kecepatan dan
ketinggian yang berbeda.
c. Aksi membawa dan melepaskan (misalnya mendribbling, menggiring
dan sebagainya). Anak dapat menjaga penguasaan terhadap benda
yang bergerak dalam berbagai cara dan pada berbagai kecepatan.
Perkembangan keterampilan dalam satu tahap, melibatkan
pemberian pengalaman dalam menangkap dan melempar. Pengalaman
demikian pertama-tama, diberikan dalam kondisi yang paling mudah dan
bertahap pengontrolannya yang dilakukan dalam situasi yang lebih sulit
dengan memanipulasi ketinggian, arah, tenaga dari benda yang
dilemparkan atau ditangkap. Perkembangan dalam tahap satu, juga
memasukkan perubahan dari posisi bendas diam ke benda yang bergerak
dan dari posisi penerima diam ke posisi bergerak. Bandingkan tahapan
pembelajaran antara anak SD dan siswa SMU yang tengah belajar pass atas
pada bola voli.


Modul PLPG Penjaskes 2013
56
Tahapan Permainan
Tahap Satu
1. Berkepentingan meningkatkan keterampilan tunggal.
2. Kemampuan mengontrol suatu benda
3. Aksi melontarkan mengarahkan benda ke satu tempat dengan
besaran daya yang diperlukan, ketinggian dan arah secara konsisten
diam atau bergerak.
Contoh :
Sederhana passing atas ke tosser dengan bola yang di toss ringan oleh
guru atau pasangan.
Kompleks passing atas dengan bola dari serve ke arah pemain kiri
atau pemain kanan. Aksi menerima menguasai benda yang datang ke
arah anak dari arah, ketinggian atau kecepatan yang berbeda dalam
posisi diam atau bergerak.
Tahap Dua :
1. Menggunakan keterampilan dengan menggabungnya dengan
keterampilan lain.
2. Menghubungkan gerak pribadi dengan gerakan orang lain dengan
cara bekerja sama.
Contoh :
Sederhana dribbling dan melakukan suatu tembakan ke arah basket
Komplek menjaga bola tetap bisa melintasi net dalam tennis dengan
bermacam macam pukulan, baik dengan pantulan maupun secara
volley.
Tahap tiga
1. Strategi penyerangan dan pertahanan dasar
Contoh
Sederhana bermain satu lawan satu dalam bola basket dan tidak ada
tembakan.
Komplek bermain lima lawan lima dalam sepak bola dengan dua
orang kiper.

Modul PLPG Penjaskes 2013
57
Tahap empat
1. Permainan dimodifikasi dengan perubahan pada peraturan, luas
lapangan jumlah pemain dengan posisi yang dikhususkan.
2. Permainan sebenarnya.
Contoh :
Sederhana memperkenalkan posisi khusus dalam permainan.
Kompleks permainan sebenarnya dengan peraturan penuh
Dan selanjutnya..

Dalam contoh di atas, tahapan yang meningkat dilakukan sehingga
mengarahkan anak ke tingkat penguasaan dan pengontrolan yang
meningkat terhadap bola dengan mengubah ubah kondisinya. Semua tugas
tugas ajar yang mengandalkan keterampilan anggota badan tangan dan
kaki untuk mengontrol objek kompleksitasnya dengan memanipulasi daya,
arah atau ketinggian benda, juga perubahan dari posisi diam ke posisi
gerak. Melempar dan menangkap dari keadaan bergerak, lebih sulit
dilakukan dari pada dari posisi diam.
Pada tahap dua. Pada tahap dua fokus pembelajaran masih pada
peningkatan penguasaan dan pengontrolan terhadap objek, tetapi
latihannya sudah lebih komplek. Dalam tahap dua ini dua keterampilan
digabungkan (misalnya dribbling dan passing) peraturan ditekankan
sehingga membatasi aksi yang dilakukan misalnya aturan traveling dalam
basket dan keterampilan tersebut dilatih secara kooperatif dengan anak lain.
Melatih keterampilan dengan penggabungan merupakan hal yang
rumit, tetapi penting dan sering diabaikan dalam pembelajaran permainan.
Anak yang sudah dapat melakukan dribble, pass dan shoot sebagai
keterampilan tunggal, belum tentu dapat dengan mudah melakukan
dribble langsung shoot atau dribble pass. Ini disebabkan persiapan untuk
melakukan keterampilan kedua dilakukan selama berlangsungnya
Modul PLPG Penjaskes 2013
58
keterampilan pertama (transisi), banyak anak pemula akan melakukakn
dribble, stop dan baru kemudian melakukan shotta.
Oleh karena itu, fokus kegiatan dari pembelajaran tahap dua adalah
pada gerak transisi di antara keterampilan. Misalnya bagaimana dalam
dribbling sepak bola anak harus menempatkan bola pada posisi yang
memungkinkan ia segera menembak setelah dribbling tidak berhenti dulu,
kemudian ia mundur mengambil ancang ancang dan menembak.
Meskipun banyak anak akan sampai pada kemampuan ini dengan baik
melalui latihan tetapi akan banyak pula anak yang tidak akan mampu
melakukannya, tanpa bantuan guru. Berikut adalah contoh penggabungan
keterampilan yag harus dipelajari khusus dalam sepak bola ketika anak
anak memasuki tahapan dua.
Menerima bola dari passing anak lain kemudian langsung dribble :
Dribble kemudian passing
Dribble kemudian menembak ke gawang
Menerima bola passing, dribble, kemudian menembak ke
gawang.
Bahkan dalam situasi permainan yang melibatkan keterampilan
tunggal yang singkat (distrik) melatih keterampilan secara gabungan ini
tetap perlu dilakukan. Dalam permainan bola Voli misalnya, seorang anak
dapat melakukan passing bawah ke anak lainnya yang berikutnya
melakukan toss (set up) ke anak lain lagi sehingga anak yang pertama dapat
melakukan smes.
Untuk menentukan keterampilan apa yang harus dilatih dalam
gabungan, guru harus menganalisis permainan yang dipelajari untuk
menentukan keterampilan keterampilan yang akan digabungkan.
Akhirnya, keterampilan keterampilan tadi harus dilatih dengan cara yang
sama ketika keterampilan itu digunakan dalam permainan, bahkan hingga
ke saat servis dilakukan dan perpindahan posisi (contoh dalam bola voli).

Modul PLPG Penjaskes 2013
59
Tahap ke dua. Juga melibatkan siswa dalam kegiatan latihan bekerja
sama dengan siswa lainnya seperti mencoba menjaga agar bola terus dapat
berada di udara tanpa jatuh dalam permainan voli, atau menjaaga agar
shuttle cock selalu bisa menyeberangi net dalam bandminton. Pada tahap
ini, tujuan dari permainan adalah menguasai dan mengontrol bola atau
cock dan bukan berkompetisi dengan pasangan untuk saling mengalahkan.
Tahap tiga. Dalam tahap tiga, fokus pembelajaran ajarana aah
pelaksanaan taktik penyerangan dan pertahanan secara sederhana dengan
menggunakan keterampilan yang sudah dikuasai. Ketika tahap ini
dilaksanakan siswa diasumsikan sudah mampu menguasai dan
mengontrol bola tanpa kesulitan sehingga dapat berkonsentrasi pada
penggunaan keterampilan itu dalam proses penyerangan atau bertahan.
Tahapan empat. Tidak ada batas yang jelas dimana pengalaman pada
tahap tiga berakhir dan pengalaman tahap empat dimulai. Pengalaman
tahap empat bersifat sangat kompleks. Tahap ini meliputi tidak saja
permainan penuh, tetapi juga termasuk kegiatan kegiatan yang
dimodifikasi untuk membantu siswa mencapai targetnya.
Untuk kebanyakan jenis permainan tahap empat dimulai ketika
pemain penyerang dan bertahan, ditetapkan secara khusus sesuai
peranannya. Para pemain jumlahnya ditambah, keterampilan yang
dipelajari digunakan, dan ditambah, keterampilan sudah semakin
kompleks. Ketika siswa mencapai tahap empat hal itu dianggap bahwa
siswa telah menguasai dengan baik keterampilan individual dan
melampaui strategi permainan dasar yang digunakan dalam kondisi
permainan dasar yang digunakan dalam kondisi yang disederhanakan.
Misalnya, diasumsikan bahwa siswa dapat bertahan melawan pemain
penyerang secara individual atau dengan pemain lain dalam permainan
invasi atau mereka sudah dapat menempatkan bola jauh dari pemain lawan
dan dapat mempertahankan daerahnya sendiri dalam permainan net.
Modul PLPG Penjaskes 2013
60
Aspek kunci untuk melaksanakan kegiatan tahap empat dengan
cara yang bemakna adalah konsep bahwa permainan harus berlangsung
berkelanjutan. Maksudnya, jika suatu peraturan atau bagian dari
permainan yang ditampilkan dalam cara tertentu memperlambat aliran
permainan atau sering menghentikan kelangsungan permainan,
permainan itu harus dimodifikasi untuk menjaga kelanjutannya, jika siswa
tidak dapat menggunakan semua pemain dalam suatu regu, jumlah pemain
harus dikurangi. Contoh dari modifikasi permainan meliputi
menghilangkan tembakan hukuman, mengganti tindakan service pada
permaianan voli, pukulan pada soft ball diganti dengan lemparan atau
menempatkan bola pada tonggak pukulan untuk sebagian pemain
memulai permainan tanpa ada bola keluar dan mengurangi ukuran
lapangan permainan dan sebagainya.
Contoh modifikasi permainan yang baik
Bola basket - Empat lawan empat tanpa menggunakan dribbling
- Lima lawan lima tanpa memakai peraturan tembakan
hukuman atau jump
Sepak bola - Tujuh lawan tujuh, peraturan penuh
- Sebelas lawan sebelas, tidak ada bola keluar dan tendangan
- Sudut
Bola voli - Peraturan sebenarnya minimal bola dimainkan dua kali
- Empat lawan empat lebar lapangan dimodifkasi
Tenis - Lapangan lebih kecil, peraturan penuh
- Permainan dimulai dengan serve yang dipermudah.
Guru yang memilih untuk menggunakan permainan tahap empat,
tidak boleh berhenti mengawasi jalannya pembelajaran. Tujuannya adalah
mengajar siswa, bagaimana memainkan permainan dengan baik, tidak
hanya membiarkan mereka bermain ketika mereka mencapai tingkat ini.
Tugas di tahap empat adalah menerapkan permainan yang dapat diperluas
dengan cara membuat permainan lebih sulit atau lebih mudah. Guru juga

Modul PLPG Penjaskes 2013
61
harus menghaluskan penampilan siswa melalui penggunaan tugas
penyempurnaan dan berkonsentrasi pada permainan mereka.
Kebugaran Fisik
Menjadi semacam kesepakatan umum bahwa tujuan pembelajaran
dalam domain piskimotor yang harus terkembangkan melalui program
pendidikan jasmani harus pula mencakup peningkatan kebugaran jasmani
siswa. Pertanyaannya adalah, apakah kebugaran jasmani ini dapat dicapai
melaui program penjas yang alokasi waktunya sangat minim? Apakah
mungkin kebugaran jasmani siswa dapat ditingkatkan ketika anak harus
pula mencapai tujuan pembelajaran yang lain (keterampilan gerak dari
berbagai cabang olahraga) dalam program penjas yang dilaksanakan satu
minggu sekali?
Memang tidaklah sulit untuk mengetahui cara bagaimana membuat siswa
menjadi fit (bugar) dari kaca mata kondisioning. Kita semua sebagai guru
penjas sudah mengetahui prinsip prinsip peningkatan kodisi fisik yang
meliputi pengembangan kapasitas kardiovaskular daya tahan otot lokal,
kekuatan, kelenturan dan power. Yang tidak mudah adalah bagaimana
memadukan program kebugaran ini dalam program kurikulum
pendidikan jasmani. Dan bagaimana meyakini bahwa siswa akan terus
tertarik untuk melakukannya dalam kehidupannya sehari-hari.

2. Merancang Tugas Ajar Dalam Wilayah Kognitif
Pendidikan jasmani yang tradisional banyak menekankan
pengajarannya pada peningkatan keterampilan gerak. Padahal, salah satu
tugas dari penjas adalah meningkatkan pengertian anak tentang tumbuh
dan kemungkinan geraknya serta berbagai faktof yang memengaruhinya
itu dari segi konsep gerak. Sedangkan dari konsep kebugaran pun anak
diharapkan memiliki pengertian tentang pengaruh latihan atau kegiatan fisik
terhadap kesehatan tubuh yang berguna bagi mereka untuk menjalani gaya hidup
yang aktif.
Modul PLPG Penjaskes 2013
62
Guru penjas di Indonesia sering bias menjawab bahwa
pembelajaran penjas dalam wilayah kognitif sudah dilaksanakan dengan
cara mewajibkan anak membaca buku sumber yang berkaitan konsep
teoritis dan mengujinya pada EBTA.
Yang harus disadari oleh kita semua adalah bahwa mengajarkan
aspek kognitif dalam penjas tidaklah semudah praktek di atas.
Pelaksanaannya perlu dilandaskan pada perencanaan yang sungguh-
sungguh, termasuk dalam hal apa yang menjadi isi atau materinya. Di
samping itu, pelaksanaan pembelajaran aspek ini tidak hanya
dilaksanakan di dalam kelas dengan menghafal fakta-fakta tentang teknik
dasar dan ukuran lapangan. Akan tetapi kesemuanya itu dapat
dilaksanakan di dalam pembelajaran praktek penjas, diintegrasikan
dengan pembelajaran keterampilan gerak.
Jenis
Konsep
Materi
Contoh Khusus Dari
Konsep
Rangkaian
Aksi
Berpindah tempat,
keseimbangan, melempar,
memukul, berputar,
mengangkat, dan
sebagainya.
Keseimbangan
Meningkatkan ukuran titik
tumpu untuk
menstabilkan gerakan
Kualitas
Gerak
Kecepatan, arah, ketinggian,
jalur, kesadaran tubuh,
gerak yang cepat dan
tertahan.
Gerak tiba-tiba dan
tertahan.
Mengkontrasikan tipe
gerakan merupakan
bagian pengalaman
ekspresif. Kualitas usaha
yang tepat harus dipilih
untuk keterampilan gerak.
Prinsip
Gerak
Gerak lanjutan, pengalihan
berat badan, putaran
stabilitas, penghasilan daya,
pengurangan daya
Penghasilan daya: Lebih
banyak bagian tubuh yang
dilibatkan, semakin besar
daya yang dihasilkan.
Strategi
Gerak
Stratego penyerangan,
strategi pertahanan, strategi
kerjasama, penyesuaian
ketika berhubungan dengan
orang lain.
Hubungan dengan orang
lain: Bola harus dilempar
lebih dahulu jika dilempar
kepada penerima yang
sedang bergerak.

Modul PLPG Penjaskes 2013
63
Jenis
Konsep
Materi
Contoh Khusus Dari
Konsep
Pengaruh
Gerak
Pengaruh gerak
Pengaruh latihan pada
jantung, kekuatan otot, daya
tahan, kelenturan.
Kekuata: Kekuatan otot
meningkat bersamaan
dengan meningkatnya
beban kerja atau lamanya
kegiatan latihan.
Emosi
Gerak
Hubungan partisipasi
dalam kegiatan terhadap
perasaan ekspresif, perilaku
social, kerjasama regu,
sportivitas.
Perasaan: Orang tampil
lebih baik ketika rekan
seregu saling mendukung.

3. Merancang Tugas Ajar Dalam Wilayah Afektif
Pembelanjaran afektif jarang diperkenalkan secara sengaja ke dalam
kurikulum. Satu alasan untuk ini adalah karena pengajaran yang
berkaitan dengan aspek pengetahuan (kognitif) dan keterampilan
psikomotor itu bisa dilakukan dengan mudah, akan tetapi untuk
memadukan pembelajaran afektif ke dalam proses pendidikan, seolah-
olah memerlukan latihan khusus.
Strategi pembelajaran afektif yang sudah digunakan dalam program
penjas selama ini, baru terbatas pada upaya membangkitkan sikap dan
minat siswa terhadap pendidikan jasmani, walaupun tanpa pegangan
yang jelas. Padahal, lebih jauh, pembelajaran domain afektif dapat
digunakan untuk memfokuskan perhatian, memelihara konsentrasi,
menimbulkan dan menjaga motivasi, mengelola kecemasan,
mengembangkan harga diri (self esteem), dan mempelajari etika, serta
perilaku sosial.
Kondisi yang berorientasi Tugas Gerak:
1. Menentukan instruksi yang menantang yang mengarah pada
keberhasilan
2. Membantu siswa mengetahui tujuan pembelajaran dan bagaimana
siswa mencapainya.
Modul PLPG Penjaskes 2013
64
3. Memberikan umpan balik yang segera dan bersifat khusus dalam
cara yang positif.
4. Membantu siswa mengembangkan keyakinan dalam
penampilannya dengan menguasai keterampilan secara mantap.
5. Menjaga pemberian intruksi verbal seminimal mungkin.
6. Menggunakan item test yang relevan dengan yang dipelajari.
7. Mengijikan siswa memilih beberapa kegiatan pembelajaran.
8. Memberikan nilai didasarkan prestasi siswa dibandingkan dengan
siswa lain.
Kondisi yang berorientasi dengan siswa
1. Mengungkapkan minat yang sungguh-sungguh pada kesuksesan
siswa.
2. Memperlakukan seluruh siswa sebagai manusia yang berharga.
3. Mengakui respons siswa sebagai suatu usaha yang pautt dihargai,
walaupun gerakannya salah.
4. Mengijinkan siswa untuk belajar tanpa mengumumkan
kesalahannya di depan yang lain.
Lingkungan
1. Menyediakan lingkungan di mana siswa merasa diterima, didukung,
dan dipercayai.
2. Menyediakan banyak kegiatan dimana siswa dapat memilih untuk
terlibat dengan berhasil.
3. Berfokus pada apa yang dapat siswa lakukan daripada terhadap apa
yang tidak bisa dilakukan.

Bermain
Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.
Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain
akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini

Modul PLPG Penjaskes 2013
65
kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa
permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak
Ada beberapa teori tentang permainan yang perlu diketahui antara
lain Teori Rekreasi, Schaller dan Lazarus yang menyatakan permainan
merupakan kegiatan manusia yang berlawanan dengan kerja dan
kesanggupan hidup tetapi permainan itu merupakan imbangan antara
kerja dan istirahat; Permainan mempunyai tugas biologik yg mempelajari
fungsi hidup sebagai persiapan utk hidup yg akan dating. (Teori teleology,
Karl Groos); Permainan bukan hanya mempelajari fungsi hidup, tetapi juga
merupakan proses sublimasi (menjadi lebih mulia, tinggi, atau indah)
dengan bermain. (Teori Sublimasi, Ed Claparede).
Dari hal tersebut di atas dapat disarikan sebagai berikut Permainan
sebagai kecenderungan; sebagai keadilan sosial mencakup motivasi
intrinsik, perhatian, eksplorasi, perilaku yg tdk harafiah, keluwesan, dan
keterlibatan aktif; Permainan sebagai konteks Biasanya diakrabi dan bebas
stres, juga melibatkan pilihan bebas; Permainan sebagai perilaku dapat
diamati dalam 3 tahap: fungsional, simbolik dan permainan yg mempunyai
aturan (Piaget)
Frobel mengatakan bahwa bermain sangat penting dalam belajar.
Belajar berkaitan dengan proses konsentrasi. Orang yang mampu belajar
adalah orang yang mampu memusatkan perhatian. Bermain adalah salah
satu cara untuk melatih anak konsentrasi karena anak mencapai
kemampuan maksimal ketika terfokus pada kegiatan bermain dan
bereksplorasi dengan mainan. Bermain juga dapat membentuk belajar yang
efektif karena dapat memberikan rasa senang sehingga dapat
menimbulkan motivasi instrinsik anak untuk belajar. Motivasi instrinsik
tersebut terlihat dari emosi positif anak yang ditunjukkan melalui rasa
ingin tahu yang besar terhadap kegiatan pembelajaran.
Menurut Gross, kegiatan bermain memiliki tujuan untuk
memperoleh dan melatih keterampilan tertentu dan sangat penting
Modul PLPG Penjaskes 2013
66
fungsinya bagi mereka pada saat dewasa kelak, contoh, bayi yang
menggerak-gerakkan tangan, jari, kaki dan berceloteh merupakan kegiatan
bermain yang bertujuan untuk mengembangkan fungsi motorik dan
bahasa agar dapat digunakan dimasa datang.
Sigmund Freud berdasarkan Teori Psychoanalytic mengatakan
bahwa bermain berfungsi untuk mengekspresikan dorongan implusif
sebagai cara untuk mengurangi kecemasan yang berlebihan pada anak
Teori Cognitive-Developmental dari Jean Piaget, juga
mengungkapkan bahwa bermain mampu mengaktifkan otak anak,
mengintegrasikan fungsi belahan otak kanan dan kiri secara seimbang dan
membentuk struktur syaraf, serta mengembangkan pemahaman suatu
konsep yang berguna untuk masa datang..
Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak:
1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain
dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak
yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang
membutuhkan banyak energi.
2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak
yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi
permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang
banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama,
menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.
3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang
menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau
kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak
perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan
masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang
lembut dan bertingkah laku yang halus.

Modul PLPG Penjaskes 2013
67
4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan
peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan
aktivitas bermain anak berkurang.
5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial
ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang
lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga
yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak
1. Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
2. Bermain dapat digunakan sebagai terapi
3. Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
4. Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
5. Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
6. Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Berdasarkan hasil analisis Caillois, permainan (game) dibagi menjadi
empat kategori utama, yaitu: agon, alea, mimikri dan ilinx.
Agon adalah jenis permainan yang mencakup semua bentuk permainan
yang bersifat pertandingan atau perlombaan. Dalam pelaksanaan semua
pihak mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, hal ini diatur oleh
peraturan, karena itu ada wasit yang mengaturnya. Contoh: Bulutangkis,
tenis sepakbola dll.
Alea adalah permaian memakai dadu atau sekelompok permainan yang
bersifat untung-untungan. Pelaksanaannya si pemain cenderung pasif dan
tidak memperagakan kemampuan yang bersumber pada penguasaan
keterampilan, otot atau kecerdasan.
Modul PLPG Penjaskes 2013
68
Mimikri adalah bentuk permainan yang bercirikan kebebasan, batas waktu
dan ruang, dan bukan sungguhan. Di dalamnya tersirat ilusi, imajinasi, dan
interprestasi. Dalam hal ini pemain cenderung berperan pura-pura contoh:
main perang-perangan, memanusiakan suatu benda dll.
Illinx adalah bentuk permainan yang mencerminkan pelampiasan
keinginan bergerak, berpetualang, dan dalam ujud kegiatan dinamis.
Contoh: mendaki gunung, out bound dll.

Pembelajaran Permainan Olahraga
Permainan yang disajikan dalam proses pembelajaran dapat
diciptakan sedemikian rupa untuk berbagai macam tujuan yang berguna
dalam pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan tersebut antara lain:
permainan untuk membangun keakraban antar sesama siswa, percaya diri,
kerjasama, kumunikasi, konsentrasi, kemampuan komponen kondisi fisik,
iamjinasi/kreativitas dan lain-lain. Sebagai contoh permainan untuk
membangun kecepatan reakai:
Jumlah siswa bebas, cara bermain; 1) pimpinan menciptakan formasi baris,
2) jika pimpinan menyerukan angka ganji peser harus meloncat ke depan,
angka genap peserta meloncat ke belakang, jika respon sudah cepat aba
aba ditambah 3) jika sebut nama anak perempuan peserta bergeser ke kiri
melenggang seperti perempuan dan jika nama anak laki-laki bergeser ke
kanan tengan gerakan tegas seperti militer dan berseru dasyat!.....
Guru dapat menciptakan variasi yang lain, sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.
Dalam olahraga, permainan sering dikalasifikasikan dalam 2 jenis
permainan yaitu bola besar dan bola kecil, dikotomi tersebut didasarkan
pada sarana dan prasarana yang digunakan. Permaianan bola besar antara
lain: Sepakbola, Bolavoli, Bolabasket; sedangkan permainan bola kecil
antara lain: kasti, tenis meja, rounders dll.

Modul PLPG Penjaskes 2013
69
Namun demikian ada yang menggolongkan sesuai dengan proses
pembelajaran menurut taktik yang digunakan, yaitu permainan invasi, net,
fielding dan target. Permainan invasi atau invansion games adalah
permainan yang menjadikan gawang sebagai sasaran untuk saling
menyerang daerah lawan dalam rangka membuat skor. Net dan wall games
adalah permainan yang menggerakan suatu obyek ke dalam ruang agar
obyek tersebut tidak dapat kembali lagi ke lapangan sendiri. Fieiding dan
run-scoring games adalah permainan memukul sebuah obyek ; biasanya
yang dipukul adalah bola kemudian berlari kesuatu target sambil
menghindari penjagaan.
Target games adalah permainan yang menggerakkan sebuah obyek dan
menekankan pada ketepatan.
Sistem Klasifikasi dalam olahraga Permainan
Invasion Net/Wall
Fielding/Run-
Scoring
Target
Bolabasket,
Bola-tangan,
Polo air,
Sepakbola,
Hoki, Rugby dll
Net:
Bulutangkis,
tenis, tenis meja,
Bola voli
Wall:
Raquetball,
Squash
Baseball, Softball,
Rounders, Kasti,
dll
Golf,
Bowling,
Bilyard,
Snokers,
Panahan ,dll

Untuk menguasai keterampilan bermain dalam olahraga permainan,
tidak hanya cukup hanya menguasai keterampilan teknik memainkan bola,
tetapi meliputi juga keterampilan-keterampilan gerak lainnya, untuk
mendukung pemain yang memainkan bola. Misalnya dalam permainan
bolavoli pemain menerima semes, ia siap mengoper bola ke arah yang tepat,
dengan ketinggian yang tepat, sementara pemain yang lain siap menerima
bola tersebut, bila bola rendah maka harus dipassing bawah dan lain-lain
yang terjadi dilapangan.
Dengan demikian berati cakupan dari fenomena bermain tidak
hanya meliputi pelaksanaan keterampilan gerak dasar dan keterampilan
Modul PLPG Penjaskes 2013
70
teknik, tetapi juga komponen lainnya seperti membuat keputusan,
mendukung pemain lain, membatasi gerak lawan, mengatur posisi untuk
membangun serangan balik dan lin-lain.
Guru pendidikan jasmani disarankan untuk mendalami pendekatan
taktis untuk mengajarkan olahraga permainan hal ini sangat efektif untuk
semua jenjang pendidikan. Namun demikian perlu diingat bahwa tidak
ada metode yang paling unggul.
Kelebihan pendekatan taktik pada kemampuan untuk
mengidentifikasi, mengurutkan, dan menghayati masalah taktis pada
permainan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Kita
dapat menyusun kerangka kerja, membatasi lingkup taktik, dan
mengidentifikasi tahap-tahap kompleksitas taktik pada setiap bentuk
permainan.
Pendekatan taktis dalam pembelajaran permainan adalah untuk
meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep bermain melalui penerapan
teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam permainan
sesungguhnya.
Pendekatan tradisional dalam pembelajaran olahraga menekankan
komponen-komponen teknik, misalnya dalam unit-unit pembelajaran
bolavoli beberapa pertemuan dihabiskan oleh latihan passing, umpan,
servis, spike, blocking dan perencanaan sendiri-sendiri, atau
penggabungan dua, tiga teknik.

Gambar: Bagan Pembelajaran Olahraga Permainan
1
Bentuk Permainan
3
Pelak. Ketramp.
(Bagaimana melakukan)

2
Kesadaran Taktik
(Apa yg dilakukan)


Modul PLPG Penjaskes 2013
71
Kesadaran Taktis: kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-
masalah taktik yang muncul selama permainan berlangsung, sekaligus
kemampuan memilih jawaban yang tepat untuk memecahkannya.
Jawabannya mungkin berupa keterampilan menentukan elemen teknik
yang akan diterapkan.
Tujuan mengajar dengan pendekatan taktis bagi siswa adalah:
Penguasaan kemampuan bermain melalui keterkaitan antara taktik
dengan perkembangan permainan.
Memberikan kesenangan melalui aneka ragam aktivitas
Memecahkan masalah dan membuat keputusan cepat dan tepat dalam
bermain.
Dasar-dasar Pendekatan Taktik
1. Memupuk Minat dan Kegembiraan
2. Merangsang untuk berpikir
3. Pengalihan pemahaman (transfer) melalui bermain
Modul PLPG Penjaskes 2013
72
B. Permainan Bolavoli
1. Pelajaran Level Satu

Masalah Taktis : Persiapan Serangan
Fokus Pelajaran : Posisi dasar dan Pas Bawah
Tujuan : Passing bawah tepat ke posisi pengumpan
Permainan : 3 VS 3
Tujuan Aktivitas : Mempersiapkan bola untuk serangan
Kondisi : Lapangan terbatas dan pendek, permainan dimulai
dari lambungan bola, bergantian (rotasi) dari setiap
rally, menggunakan lebih dari 3 pukulan.
Kunci pertanyaan:
T : Apa yang pertama dibutuhkan pengumpan agar dapat mengumpan
ke Penyerang?
J : Passing bawah

T : Ke mana harus passing bola?
J : ke Pengumpan atau target, garis depan

T : Bagaimana posisi anda saat melakukan passing bawah?
J : Posisi badan agak condong, kaki segaris dengan arah bola, bola melambung
tepat pada sasaran.

Tugas Latihan : Latihan passing bawah, formasi segitiga
Tujuan Aktivitas : Dua atau tiga kali pasing bagus sebelum rotasi
Kondisi : T melambungkan bola di daerah sendiri kemudian
pasing arah ke P, P pasing bawah ke S, S menangkap
bola dan dikembalikan ke T dengan bola dipantulkan
ke lantai.


Modul PLPG Penjaskes 2013
73



P
T



S
T



S


P


P 2
S

3 .

1 T
S



T


P

Petunjuk : Posisi badan dan Posisi kaki (teknik passing bawah)
Modul PLPG Penjaskes 2013
74
2. Pelajaran Level Dua

Masalah Taktis : Persiapan Serangan
Fokus Pelajaran : Reviu persiapan untuk menyerang
Tujuan : Ketepatan passing dan kesiapan pengumpan
Permainan : 3 VS 3
a. Tujuan Aktivitas : Mempersiapkan bola untuk seranganBeri satu poin
jika satu tim dapat memainkan bola dua kali
pukulan atau sentuhan di lap. Sendiri.
Kondisi : Lapangan terbatas dan pendek, permainan dimulai
dari lambungan bola, bergantian (rotasi) setelah satu
rally, maksimal 3 sentuhan atau pukulan dlm satu
tim.

Kuncip pertanyaan :
T : Apa yang menjadi tujuan permainan?
J : Dua kali memainkan bola di lap sendiri

T : Apa yg harus dilakukan supaya berhasil?
J : passing bawah, umpan, siap bergerak, komunikasi dan pergantian peran.

T : Mengapa anda ingin melakukan umpan untuk spike?
J : karena spike sulit utk dikembalikan atau dimainkan.

Tugas Latihan : Persiapan menyerang, formasi segitiga
Tujuan Aktivitas : Dua atau tiga kali pasing bagus sebelum rotasi
Kondisi : T berdiri 3 mtr dibelakang net melambungkan bola di
daerah-nya sendiri kemudian pasing arah ke P, P
pasing bawah ke S, S menangkap bola dan
dikembalikan ke T. T dpt juga dg servis atas utk
menambah kesulian.

Modul PLPG Penjaskes 2013
75


P

T




S




S
T

P


2


P
S

1 .

T
S



1
T

2

P
Modul PLPG Penjaskes 2013
76
C. Permainan Sepakbola
1. Pelajaran Level Satu

Masalah Taktis : Menguasai bola
Fokus Pelajaran : Mengoper dan menerima bola menggunakan kaki bag
dlm
Tujuan : Meningkatkan ketepatan operan pendek.
a. Permainan : 3 VS 3
Tujuan Aktivitas : Melakukan 5 kali operan pendek secara berurutan
Kondisi : Lapangan terbatas dan pendek, permainan dimulai
dari bola mati.
Kunci pertanyaan:
T : Apa yang anda lakukan dalam permainan?
J : menjaga bola
T : Bagaimana anda mempertahankan bola?
J : Melakukan operan kepada teman
b. Tugas Latihan : Siswa melakukan latihan dg cara berpasangan
bertiga jarak 5 - 10 meter, mrk melakukan passing
dan kontrol bola yg baik.
c. Tujuan Aktivitas : Siswa menggunakan 1 sentuhan dlm kontrol dan
mengumpan
Kondisi : Lihat Video.
Level yg lain tergantung Identifikasi Guru.
Masalah Taktik, Gerak dan Keterampilan dalam Permainan Sepakbola
Masalah taktik Gerak Tanpa Bola Gerak dg Bola
Mempertahankan
penguasaan bola

Mengatur ruang utk
menyerang

dll
Mendukung
pembawa bola

Menggunakan target
pemain

dll
Pass dekat, pass jauh


Kontrol kaki
.

Dll

Modul PLPG Penjaskes 2013
77
D. Permainan Bolabasket
1. Pelajaran Level Satu

Masalah Taktis : Mempertahankan penguasaan bola
Inti Pelajaran : Gerakan pura-pura dengan bola, Passing, Receiving
Tujuan : Memberi isyarat kepada pengoper, passing dengan cepat
& tepat.
a. Permainan : 3 VS 3
Tujuan Aktivitas : Melakukan 3 kali operan pendek secara berurutan
Kondisi : Lapangan terbatas dan pendek, permainan dimulai dari
bola mati.
Kunci pertanyaan:
T : Apa yang anda lakukan dalam permainan?
J : passing dengan cepat dan epat
T : Apakah anda mengisyaratkan sesuatu kepada teman anda sebelum
passing?
J : ya, dg mengangkat atau menjulurkan tangan agar pengoper mengetahui.
b. Tugas Latihan : Siswa melakukan latihan dg cara berpasangan
bertiga jarak 5 - 10 meter, mrk
melakukan passing dan kontrol bola yg baik.
c. Tujuan Aktivitas : Siswa menggunakan 1 sentuhan dlm kontrol dan
mengumpan
Kondisi : Lihat Video.
Level yg lain tergantung Identifikasi Guru.
Masalah Taktik, Gerak dan Keterampilan dalam Permainan Bolabasket
Masalah taktik Gerak Tanpa Bola Gerak dg Bola
Mempertahankan
penguasaan bola

Serangan ke Basket

dll
Mendukung
pembawa bola

Menutup gerak
lawan

dll
Gerak tipu dg bola


Lay up

Dll
Modul PLPG Penjaskes 2013
78
E. Contoh dalam RPP
Permainan Bulutangkis
Standar Kompetensi: mempraktikkan berbagai tehnik dasar permainan
dan olahraga serta nilai yang terkandung di dalamnya.
Kompetensi Dasar: mempraktikkan teknik dasar salah satu permainan dan
olahraga beregu bola kecil dengan baik, serta nilai kerjasama, toleransi,
percaya diri, keberanian, menghargai lawan, besedia berbagi tempat dan
peralatan.
Indikator: Mempratikkan teknik dasar memegang raket; teknik dasar
servis dan pukulan forehand.
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit ( 1 x pertemuan )
A. Tujuan Pembelajaran :
1. Peserta didik dapat menyajikan cara servis yang baik agar tidak mudah
diserang
2. Peserta didik melakukan pukulan forehand agar dapat mempersiapkan
serangan
B. Materi Pembelajaran :
1. Cara memegang raket
2. Pukulan forehand
C. Metode Pembelajaran ;
1. Demonstrasi
2. Penugasan
D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Pendahuluan ( 10 menit)
a. Siswa dikumpulkan, berbaris, berdoa, presensi
b. Penguluran dan Pemanasan yang mengarah pada pelajaran inti.
Melakukan beberapa gerakan penguluran sesuai dengan gambar


Modul PLPG Penjaskes 2013
79



2. Pelajaran Inti ( 60 menit)
a. Siswa mempraktikkan pukulan servis dengan pegangan raket yang
berbeda

b. Siswa mempraktikkan gerakan pukulan forehand dengan pegangan
raket yang berbeda


Modul PLPG Penjaskes 2013
80
c. Model pembelajaran teknik dasar pukulan forehand

Latihan memukul shuttlecock.

Latihan memukul shuttlecock
d. Model bermain untuk meningkatkan keterampilan dasar

Latihan bermain 3 lawan 3

Modul PLPG Penjaskes 2013
81

Latihan bermain 3 lawan 2

Latihan bermain 2 lawan 2

3. Pendinginan ( 10 menit)
a. Siswa dikumpulkan kembali, evaluasi kegiatan tersaji.
b.Presensi, dan berdoa
c.Pelajaran selesai siswa dibubarkan untuk persiapan pelajaran
berikutnya.
Modul PLPG Penjaskes 2013
82
BAB IV
MATERI ATLETIK

A. Program Pembelajaran Atletik.
Pengembangan program pembelajaran atletik berawal dari
pemahaman kebutuhan siswa terhadap gerak, baik gerak dalam jalan,
lari, lompat, maupun lempar. Tuntutan didalam program pembelajaran
atletik bukan terfokus pada seberapa cepat siswa bias berlari, seberapa
jauh dan tinggi siswa dapat melompat, serta seberapa jauh siswa dapat
melempar, namun fokusnya lebih pada pengelaman siswa dalam
melaksanakan tugas gerak dan pengalaman berhasil siswa dalam
melaksankan tugas gerak. Hal ini dapat berupa kemampuan fisik dan
motorik, kecepatan berpikir, kemampuan pemecahan masalah, serta
kecakapan emosional dan social. Dengan demikian tujuan yang utama
dari program pembelajaranatletik adalah memberikan pengalaman
belajar, yang mencakup pengalaman gerak dan pengalaman berhasil
dari setiap siswa.
Pengalaman belajar atletik adalah seperangkat kejadian yang
berisikan aktivitas dan kondisi belajar gerak atletik, untuk memberi
struktur terhadap pengelaman siswa, yang mana seperangkat kejadian
tersebut untuk pencapaian tujuan pembelajaran atletik seperti yang
diharapkan. Ada beberapa criteria dalam merencanakan pengalaman
belajar atletik, sebagai berikut: 1).Program pembelajaran atletik harus
memiliki potensi/memberikan peluang untuk meningkatkan
keterampilan dan penampilan gerak siswa, 2).Program pembelajaran
atletik harus menyediakan waktu aktif belajar/berlatih secara
maksimal pada semua siswa, dan pada tingkat kemampuan masing-
masing siswa, 3).Program pembelajaran atletik harus sesuai dengan
tingkat pengalaman siswa, 4).Program pembelajaran atletik harus
dapat mengintegrasikan perkembangan aspek psikomotor, kognitif,
dan afektif siswa.

Modul PLPG Penjaskes 2013
83
Tujuan program pembelajaran atletik yaitu memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina
sekaligus mengembangkan potensi siswa, baik dalam aspek fisik,
mental, social, emosional, dan moral. Singkatnya, tujuan dari program
pembelajaran atletik adalah untuk memberikan pengalaman gerak,
untuk membentuk pobdasi gerak yang kokoh. Tujuan inilah yang
merupakan awal berpijak dan pedoman bagi para guru penjasorkes
dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru sekaligis sebagai pendidik.
Tujuan tersebut dapat dicapai melalui kegiatan pembelajaran atletik
yang direncanakan secara matang dengan berpedoman pada ilmu
mendidik. Tujuan tersenut harus masuk dalam perencanaan dan
scenario pembelajaramn atletik. Untuk mencapainya, maka guru
penjasorkes perlu membiasakan diri untuk mengajar tentang apa yang
akan dipelajari berlandaskan pemahaman terhadap prinsip-prinsip
yang mendasarinya. Pergaulan yang terjadi didalam adegan
pembelajaran yang bersifat mendidik itu dimanfaatkan secara sengaja
untuk menumbuhkan berbagai kesadaran emosional dan social siswa.
Maka program pembelajarn atletik ini harus dapat membantu siswa
belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Karena itu, seluruh
adegan pembelajaran atletik dalam mempelajari pola-pola gerak dasar
jalan, lari, lompat, dan lempar lebih penting daripada hasilnya, dalam
pengertian lain pembelajaran atletik harus lebih memperhatikan proses
pembelajaran daripada tuntutan prestasi.
Pembelajaran atletik di Sekolah Dasar samasekali belum
memberikan teknik-teknik dasar standar/baku, namun pengenalan
pola-pola gerak dasr dominan dalam atletik yang disesuaikan dengan
perbedaan kemampuan siswa. Setelah gerak-gerak dasar dominan
dalam atletik ini semakin matang dan bertambah kaya pola geraknya,
maka pembelajaran atletik di SMP ditambah dengan pengenalan
teknik-teknik dasar atletik, dan ketika SLTA pematangan gerak-gerak
Modul PLPG Penjaskes 2013
84
dan teknik-teknik dasar perlu diupayakan oleh guru penjasorkes.
Namun demikian pengenalan dan pematangan teknik-teknik dasar ini
tetap harus dikemas dalam model pembelajaran yang menarik, dengan
berbagai pendekatan yang sesuai. Segala sesuatu yang berkaitan
dengan pembelajaran atletik harus disesuaikan dengan perkembangan
siswa, jumlah siswa, dan lapangan yang tersedia. Untuk menyesuaikan
dengan tingkat perkembangan siswa, maka dengan mengubah
kuantitas dan kualitas dari lapangan, alat-alat pembelajaran, waktu
belajar, peraturan, dan bahkan model pembelajarannya baik sebagian
maupun keseluruhan berarti sudah meningkatkan tingkat kesukaran
dan tantangan tugas gerak. Bagaimanapun kondisi tugas gerak, apakah
tugas gerak mudah ataukah sukar, yang paling penting dan menjadi
pertimbangan utama adalah bagaimana guru penjasorkes memilih
metode dan gaya mengajar yang tepat, melibatkan seluruh siswa dalam
adegan pembelajaran, membuat atmosfer pembelajaran yang menarik,
dan menggunakan alat-alat pembelajaran yang selengkap mungkin.
Pertimbangan lain yang tidak kalah penting dalam merencanakan
dan melaksanakan program pembelajaran atletik harus disesuaikan
dengan minat, kemampuan, kebutuhan, dan tingkat perlkembangan
siswa. Program pembelajaran atletik harus dapat memperkecil
kesenjangan antara siswa berbakat dan siswa kurang berbakat dalam
atletik, juga antara siswa yang senang dan siswa yang kurang senang
atletik. Melalui programpembelajaran atletik yang aktif, inovatif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan, semua kecenderungan kesenjangan
berbakat-tidak berbakat dan senang-tidak senang atletik dapat
diminimalisir. Siswa yang tidak/kurang berbakat dan siswa yang
tidak/kurang senang atletik menjadi menyenangi setiap bentuk dan
model pembelajaran gerak atletik, yang kesemua itu untukmemberi
kesempatan kepada semua siswa dalam memperoleh pengalaman
gerak dan pengalaman berhasil, sesuai dengan tingkat kemampuan

Modul PLPG Penjaskes 2013
85
setiap siswa. Untu dapat mencapainya, guru penjasorkes harus
membedakan bentuk tugas gerak yang dilakukan siswanya, dan
criteria keberhasilannyapun harus dibedakan pula. Untuk kelompok
siswa mampu/berbakat criteria keberhasilannya harus lebih berat dan
sukar daripada kelompok siswa yang kurang mampu/kurang berbakat,
misalnya: dalam pembelajaran lompat tinggi, untuksiswa yang
mampu/berbakat harus dapat melompat tumpukan lima kardus,
sedangkan untuk siswa yang kurang mampu/kurang berbakat hanya
dituntut untuk dapat melompat tumpukan dua atau tuga kardus saja.
Dengan demikian semua siswa akan memperoleh kesempatan sama
dalam tugas gerak yang sama dan merasakan pengalaman
berhasil/sukses meski dengan tingkat kesulitan tugas gerak dan
kriteria keberhasilan yang berbeda. Dengan dimilikinya pengalaman
berhasil semua siswa pada kriteria tuntutan ini, maka rasa percaya diri
siswa semakin tinggi, yang akan memotivasi mereka kepada
peningkatan tugas gerak baru yang lebih sukar dan merangsang dari
tugas gerak sebelumnya yang telah dicapainya dengan berhasil.
Agar semua siswa bersedia terlibat aktif dalam proses
pembelajaran atletik meski pada tingkat tugas gerak yang berbeda,
maka guru penjasorkes harus mempertimbangkan secara matang
perbedaan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa. Artinya,
setiap bentuk dan model pembelajaran atletik tugas ajar perlu dibuat
sedemikian rupa sehingga tuntutan tugas gerak atletik harus
dibedakan meski pola tuntutan tugas geraknya sama. Disamping itu,
materi kurikulum untuk aspek bahasan sama tidak dapat diberikan
dengan cara yang sama pada siswa untuk jenjang pendidikan yang
berbeda. Misalnya: untuk pembelajaran lompat jauh di kelas V Sekolah
Dasar dan pembelajaran lompat jauh di kelas X SMA, tingkat kesulitan
dan ragam variasi model pembelajarannya tidak boleh disamakan,
mengingat karakteristik perkembangan siswanyapun berbeda. Tugas
Modul PLPG Penjaskes 2013
86
gerak yang terlalu sukar membuat siswa enggan melakukan karena
takut atau pesimis akan ketidakmampuan melakukannya. Sebaliknya,
tugas gerak yang terlalu mudah untuk dilakukan juga berdampak pada
kebosanan gerak, yang lebih jauh berpengaruh juga pada keengganan
untuk terlibat aktif dalam tugas gerak yang diberikan guru. Kedua
kondisi inilah yang harus dihindari oleh seorang guru penjasorkes.
Agar program pembelajaran atletik yang selama ini tidak ada
kemenarikan dan membosankan bagi siswa menjadi lebih bermakna
dan menarik bagi siswa untuk mau terlibat aktif, maka guru
penjasorkes dituntut untuk mau dan mampu merencanakan
pembelajaran atletik dengan pendekatan yang bukan lagi
konvensional/tradisional yang masih berorientasi pada prestasi (sport
oriented), tetapi dengan pendekatan yang lebih fleksibel dengan
PAIKEM yang lebih berorientasi pada siswa (children oriented).
Karakteristik dan minat, baik itu dalam domain psikomotorik, kognitif,
maupun afektif pada setiap tingkatan kelompok umur siswa harus
menjadi pertimbangan bagi guru penjasorkes dalam membuat
perencanaan program pembelajaran atletik, agar atletik yang selama ini
kurang diminati dan disenangi siswa dapat menjadi pembelajaran
atletik yang diminati dan dicintai, serta selalu ditunggu-tunggu oleh
semua siswa. Pedoman dasar yang digunakan untuk membuat
perencanan program pembelajaran penjasor, termasuk atletik
didalamnya seperti diuraikan diatas dinamakan dengan
Developmentally Appropriate Practices (DAP).dan Instructionally
Appropriate Practces (IAP). DAP adalah tugas ajar yang memperhatikan
perubahan kemampuan dan perbedaan karakteristik tingkat
perkembangan siswa, dan sekaligus tugas ajar yang dapat membantu
mendorong perubahan tersebut. Sedangkan IAP adalah tugas ajar yang
memungkinkan semua siswa memperoleh kesempatan berpartisipasi
dan mencapai keberhasilan belajar secara maksimal.

Modul PLPG Penjaskes 2013
87
B. Dimensi Pengalaman Belajar Dalam Permainan Atletik.
Atletik merupakan cabang olahraga yang wajib diberikan di
semua jenjang pendidikan (SK. Mendikbud Nomor 0413/U/1987).
Dasar dari diberikannya pembelajaran atletik di semua jenjang
pendidikan ini karena atletik merupakan induk dari semua cabang
olahraga, dan olehkarenanya atletik dipandang penting untuk
diberikan sejak anak usia dini.
Meskipun atletik merupakan induk dari semua cabang olahraga,
namun pada kenyataan dilapangan atletik merupakan cabang olahraga
yang paling tidak diminati dan disenangi oleh sebagian besar siswa.
Salah satu penyebabnya adalah kurang menarik dan
menyenangkannya model pembelajaran dan metode pendekatan
pembelajaran yang di terapkan oleh para guru penjasorkes.
Ketidakmenarikan pembelajaran inilah yang membuat siswa bosan,
kurang sungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran, dan pada
akhirnya siswa menghindar dari kegiatan pembelajaran atletik. Perlu
diyakini bahwa sebenarnya atletik dapat menjadi pelajaran primadona
melebihi pembelajaran permainan yang selama ini menjadi idola
sebagian besar siswa, asalkan para guru penjasorkes mampu
mengemas program pembelajaran atletik ini sedemikian rupa dalam
bentuk permainan atletik.
Permainan Atletik merupakan kombinasi antara kegembiraan
tugas bergerak dan tantangan tugas gerak atletik yang dekat dekat
dengan pengalaman nyata. Ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan dalam merencanakan program pembelajaran
permainan atletik yang sekaligus merupakan karakteristik dari
permainan atletik ini, sebagai berikut:
1. Semua siswa terlibat dalam tugas gerak yang bervariasi dengan
irama tertentu.
2. Model pendekatan pembelajarannya dapat membangkitkan
kegemaran dan kegembiraan berkompetisi secara sehat.
Modul PLPG Penjaskes 2013
88
2. Memberi kesempatan kepada semua siswa untuk menyalurkan
keinginan mencoba menggunakan alat-alat pembelajaran.
3. Ada tugas gerak yang mengandung resiko yang sepadan dengan
kemampuan siswa, siswa meski pola gerak sama.
4. Setiap siswa memperoleh kepuasan dan pengalaman sukses
dalam memperlihatkan keterampilan pada setiap tahapan
pembelajaran.
5. Memberi kesempatan kepada semua siswa menguji keterampilan
untuk melaksanakan tugas gerak yang baru, dalam arti bias
model yang berbeda atau dengan model sama tetapi tingkat
kesulitan berbeda.
Atletik yang bernuansakan permainan ini menyediakan
pengalaman gerak yang kaya, yang akan membangkitkan motivasi
pada semua siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Permainan atletik dapat diawali dengan gagasan yang mampu
memotivasi para siswa untuk melakukan setiap adegan pembelajaran.
Faktor motivasi ini sebenarnya merupakan bagian dari tugas gerak,
dimana tantangan didalamnya memerlukan jawaban/tanggapan,
sehingga akan merangsang siswa untuk bermain/bergerak. Sebagai
contoh: penggunaan kardus yang disusun ke atas satu, dua, tiga, dan
seterusnya, juga di tata kedepan satu, dua, tiga dan seterusnya dapat
membangkitkan motivasi siswa untuk melompatinya secara bebas
sesuai dengan tingkat penguasaan kemampuan dari setiap siswa.
Bermain atletik yang mengandung unsure belajar gerak khususnya
pola-pola gerak ddasar dominant dapat dimasukkan kedalam program
pengembangan karakter siswa. Dalam upaya pengembangannya, guru
perlu menentukan lingkup permainannya dalam batas-batas tertentu,
yaitu tugas gerak aman dan dapat merangsang pertumbuhan dan
perkembangan gerak siswa.

Modul PLPG Penjaskes 2013
89
Belajar gerak atletik dengan bermain yang mencakup berbagai
tugas gerak dari yang mudah sampai adanya tingkat kesulitan tinggi
inimemerlukan koordinasi yang dapat menunjang terhadap proses
belajar gerak atletik itu sendiri. Keberhasilan dalam bermain akan
sangat tergantung pada kemampuan siswa melaksanakan tugas-tugas
gerak yang dituntutkan kepada siswa. Olehkarena itu, tugas-tugas
gerak harus dirancang sedekat konteks atletikmungkin dengan
pengalaman nyata, yang memerlukan koordinasi dasar seperti; daya
kreasi, irama, keseimbangan, orientasi baik tempat maupun ruang.
Apabila tugas ajar jabarkan kedalam bentuk bermain konteks atletik,
maka keterlibatan siswa bergantung pula pada tujuan pembelajaran.
Dan bila bermain dimaksudkan hanya sekedar rangsangan umum
terhadap jalan, lari, lempar, dan lompat, maka kebebasan bergerak
yang menjadi prioritas pembelajarannya. Namun demikian tujuan
khusus juga menuntut adanya rancangan bermain dengan model yang
khusus pula. Jalan, lari, lempar, dan lompat mengandung sifat-sifat
atletik yang spesifik, bila tugas gerak nya menekankan performa,
misalnya berlari secepat mungkin, melempar sejauh mungkin, dan
melompat sejauh/setinggi mungkin. Rancangan tugas gerak seperti ini
menunjukkan sifat atletik sebagai suatu kegiatan olahraga yang
memerlukan pembinaan melalui jasmani. Ide-ide bermain harus dipilih
secara cermat agar sifat-sifat dasar atau semua pola-pola gerak dasar
dalam atletik dan sekaligus juga performa dalam atletik dapat
diberikan dan dilakukan semua siswa, dengan tetap menyesuaika
karakteristik perbedaan siswa dan tingkat perkembangan siswa.
Permainan atletik yang tujuannya untuk mengembangkan daya
tahan harus diatur secara tepat dalam bentuk dan model pembelajaran
yang penggunaan waktunya semaksimal mungkin pada setiap tahapan
pembelajaran guna peningkatan kualitas kemampuan fisik yang
dimaksudkan. Perlu dirancang secara seksama penentuan kepadatan
Modul PLPG Penjaskes 2013
90
rangsangan. Perkembangan kecepatan dalam lari cepat misalnya,
memerlukan bentuk dan model pembelajaran yang memungkinkan
tuntutan kecepatan gerak, jarak lari harus di buat pendek, dengan ada
interval waktu untuk istirahat diantara pelaksanaan tahapan tugas
gerak lari. Dalam permainan lempar dan lompat disesuaikan dengan
kebutuhan untuk peningkatan daya kekuataan dan kecepatan , yang
caranya dengan rancangan tugas ajar dengan banyak mengulang
gerakan, pembedaanjarak dan ketinggian, serta rangsang peningkatan
jarak dan ketinggian.
Pembelajaran atletik tidak hanya terdiri dari tugas gerak jalan, lari,
lompat, dan lempar, tetapi juga mengandung unsur pengayaan gerak
dan peletakan dari kemampuan yang merupakan dasar dari cabang
olahraga lainnya. Untuk lari dapat diklasifikasikan menjadi: 1). Lari
jarak pendek atau yang lebih dikenal dengan lari cepat (sprint), dengan
jarak lari 100 meter, 200 meter, dan 400 meter, estefet sprint 4x100m,
4x200m, 4x400m, lari gawang 100m, 110m, 300m, dan 400m., 2). Lari
jarak menengah, dengan jarak lari 800 meter dan 1500 meter. 3). Lari
jarak jauh, dengan jarak lari 3000 meter, 5000 meter, dan 10.000 meter,
4). Lari marathon 42 km. Untuk nomor lompat dapat diklasifikasikan
kedalam: 1) Lompat jauh (gaya sit down in the air, gaya schneeper, dan
gaya walking in the air), 2) Lompat tinggi (gaya gunting, gaya guling sisi,
gaya straddle, gaya flop), 3) Lompat tinggi galah. Sedangkan untuk
nomor lempar dapat diklasifikasikan menjadi: 1). Lempar cakram (gaya
berputar atau rotasi), 2). Lempar lembing (gaya hop step dan gaya cross
step), 3). Tolak peluru (gaya orthodox, gaya OBrian, gaya rotasi), 4).
Lontar martil.
Untuk nomor lari selalu diawali dengan start. Start untuk lari
jarak pendek menggunakan start jongkok, yang terdiri dari short start
(bunch start), medium start, dan elongated start. Fokus dari start
jongkok ini adalah pada: balok tumpuan, posisi siap, dan

Modul PLPG Penjaskes 2013
91
meninggalkan balok tumpuan. Start untuk lari jarak menengah adalah
start berdiri (standing start). Sedangkan untuk lari jarak jauh dan
marathon menggunakan start melayang (flying start) untuk mengawali
pemberangkatannya.
Untuk dapat mewujudkan pembelajaran semua materi ajar atletik
seperti tersaji dalam kurikulum,maka dalam membelajarkan materi-
materi atletik ini perlu dikemas dalam konsep bermain yang membuat
siswa tertarik dan berminat untuk terlibat dalam proses pembelajaran
secara aktif dan bersemangat. Rancangan tugas gerak dengan model
pembelajaran atletik yang atraktif dan menggembirakan serta dikemas
dalam bentuk permainan dan kompetisis dapat memotivasi siswa
untuk mau secara sukarela terlibat didalamnya.
C. Pendekatan Pembelajaran Atletik.
Pada kurikulum di semua jenjang pendidikan, aspek bahasan
atletik selalu ada, yang mau tidak mau guru penjasorkes harus
mengajarkannya kepada siswa. Olehkarena pelajaran atletik ini
kkurang diminati oleh sebagian besar siswa, maka guru penjasorkes
dituntut untuk memiliki kreativitas dan inisiatif dalam membuat
perencanaan program pembelajaran atletik dengan model
pembelajaran yang menarik, sehingga memotivasi siswa untuk
mengikuti seluruh tahapan proses pembelajaran atletik. Disamping itu,
untuk lebih menambah daya tarik keikutsertaan siswa dalam
pembelajaran, perlu beberapa pendekatan dan strategi pembelajaran
yang menarik dan sesuai dengan materi ajar yang akan disampaikan
kepada siswa.
Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran atletik, meliputi: pendekatan bermain, pendekatan
kompetisis, dan pendekatan teknik. Penjabaran dari masing-masing
pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan Bermain (Games Approach)
Modul PLPG Penjaskes 2013
92
Pendekatan bermain dalam pembelajaran atletik mempunyai
manfaat untuk memberikan pengalaman belajar yang lengkap,
membina hubungan dengan sesama siswa (seperti: kerjasama,
pengakuan kelebihan siswa lain, dsb.), serta media dalam
menyalurkan perasaan tertekan dari siswa. Dengan mengetahui
manfaat bermain, guru penjasorkes dapat melahirkan ide-ide baru
mengenai cara memanfaatkan kegiatan bermain untuk
mengembangkan bermacam-macam aspek perkembangan siswa,
seperti: perkembangan fisik, motorik, social-emosional, kepribadian,
kognisi, dan keterampilan olahraga.
Bentuk konkrit sederhana dari pendekatan bermain ini berupa
tantangan tugas gerak yang dirancang dekat dengan pengalaman
nyata atau keadaan yang sebenarnya, dan merupakan tugas gerak
dasar spesifik yang dapat merangsang siswa secara aktif, dengan
penuh kegembiraan dalam waktu yang lama dari waktu untuk
pembelajaran stletik. Sehingga melalui bermain atletik ini dapat
terbentuk pondasi dasar etletik yang kokoh, yang pada tahap
perkembangan berikutnya dapat meningkatkan keterampilan
khusus dalam semua nomor atletik.
2. Pendekatan Kompetisi (Competition Approach).
Makna kompetisis secara umum diartikan sebagai sustu proses
dalam menentukan pemenang dan yang kalah, dengan
mengidentifikasi siapa saja melakukan sesuatu yang lebih baik
daripada yang lainnya dalam sustu perlombaan atau pertandingan.
Setiap orang yang terlibat didalamnya akan selalu berusaha
semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik untuk dirinya
maupun kelompoknya. Dalam pembelajaran atletik, iklim kompetisi
dapat di wujudkan asal tidak keluar dari aturan pasti yang sudah
ditetapkan guru, dan disepakati bersama-sama dengan siswa.

Modul PLPG Penjaskes 2013
93
Pendekatan kompetisis dalam pembelajaran atletik
mempunyai manfaat utama untuk membentuk karakter siswa, dan
sekaligus mempersiapkan siswa dalam menghadapi kehidupan
nyata di masyarakat di luar sekolah. Untuk itu, guru perlu
menciptakan atmosfer pembelajaran yang memungkinkan
terjadinya iklim kompetisi yang sehat antara siswa/kelompok siswa
satu dengan siswa/kelompok siswa lain.. Dalam pendekatan
kompetisi ini juga dapat merupakan media untuk pembelajaran bagi
para siswa/kelompok siswa untuk secara ikhlas menerima
kekalahan dan mau mengakui bahwa siswa/kelompok siswa lain
lebih baik dari diri/kelompoknya, dan sekaligus memotivasi
siswa/kelompok siswa kalah utnuk berusaha secara maksimal
berupaya memperbaiki kemampuan gerak dan kerjasamanya.
Sebaliknya, bagi siswa/kelompok siswa pemenang diajarkan untuk
tetap rendah hati akan kemenangan yang telah diperolehnya, dan
mau memberikan motivasi kepada siswa/kelompok siswa kalah
untuk lebih keras dan serius dalam berlatih/belajar.
Bentuk konkrit dari pendekatan kompetisi dalam pembelajaran
atletik ini yaitu dengan cara memperlombakan bentuk dan model
pembelajaran yang telah diajarkan kepada semua siswa dalam
atmosfer pembelajaran yang kondusif dan menarik Namun
demikian harus dipertimbangan tentang keseimbangan antara
siswa/kelompok siswa yang berlomba, supaya iklim kompetisi tetap
sejuk tanpa timbul kekecewaan siswa.
3. Pendekatan Teknik (Technical Approach).
Pendekatan teknik dalam pembelajaran atletik merupakan cara
pembelajaran teknik-teknik dasar atletik, baik teknik dasar jalan, lari,
lempar, dan lompat secara berulang-ulang dalam bentuk tata urutan
pelaksanaan yang tetap sesuai dengan yang telah ditentukan
sebelumnya. Pembelajaran atletik dengan pendekatan teknik ini
menekankan pada penguasaan keterampilan atau teknik dasar
Modul PLPG Penjaskes 2013
94
berbagai sub aspek bahasan dari atletik, sehingga pembelajaran
dengan pendekatan ini mengarah pada tuntutan prestasi.
Pembelajaran dengan pendekatan teknik ini mempunyai
manfaat mengenalkan kepada siswa teknik teknik gerak atletik
yang benar dan dapat mendukung penampilan siswa dalam gerak
atletik. Dengan dikuasainya keterampilan teknik atletik, maka
penampilan gerak siswa menjadi lebih baik. Dalam pendekatan ini
selalu terjadi pengulangan gerak yang sering, disertai dengan
koreksi atas kesalahan teknik gerak atletik yang dilakukan siswa.
Sehingga siswa akan merasa cepat bosan karena siswa diharuskan
mengulang-ulang gerak yang sama dengan cara yang benar sesuai
dengan tuntutan teknik gerak yang telah ditetapkan. Bagi siswa
yang memang sudah memiliki bakat dan senang dalam atletik,
biasanya tidak akan mengalami kesulitan dalam mempelajarai
teknik-teknik dasar gerak atletik ini, namun bagi siswa yang tidak
berbakat dalam atletik bias jadi pembelajaran dengan pendekatan
teknik ini merupakan siksaan. Kondisi ini diperparah apabila siswa
yang tidak bisa memenuhi tuntutan penguasaan teknik atletik
menjadi semakin tidak senang terhadap atletik, dan pada akhirnya
menjadi apatis terhadap pelajaran dengan materi atletik.
Pembelajaran atletik dengan pendekatan teknik ini kurang
sesuai dengan sifat dasar manusia yang gemar bermain (homo
ludens).Pendekatan teknik ini seringkali membatasi hasrat gerak
siswa, sehingga kebebasan untuk bergerak sangat kurang karena
gerak siswa diatur dengan teknik-teknik gerak yang harus dikuasai.
Kebebasan melakukan gerak sesuai dengan keinginan dan tingkat
penguasaan kemampuan dan perbedaan individu siswa juga
berkurang dan bahkan menjadi hilang samasekali. Untuk mengatasi
kebosanan dalam pembelajaran atletik dengan pendekatan teknik ini,
dapat diupayakan dengan pengenalan dan pengayaan teknik-teknik
dasar gerak melalui model pembelajaran yang menarik.

Modul PLPG Penjaskes 2013
95
D. Modifikasi Pembelajaran Atletik
Modifikasi dalam pembelajaran atletik ditekankan pada aspek
bermain, karena bermain adalah suatu kegiatan yang menyenangkan
dan disukai oleh semua orang termasuk siswa di semua jenjang
pendidikan. Pembelajaran dengan bermain yang tertata dengan baik,
baik model dan atmosfer pembelajarannya dapat memberikan manfaat
yang besar bagi perkembangan siswa secara menyeluruh (multilateral).
Tujuan modifikasi pembelajaran atletik adalah untuk sedini mungkin
memperkenalkan pola-pola gerak dasar dominant atletik dengan cara
yang sederhana, menarik, dan menyenangkan, sehingga keterlibatan
siswa dalam pembelajaran atletik menjadi lebih optimal dan lebih aktif.
Partisipasi optimal, aktif, dan leluasa siswa dalam proses pembelajaran
atletik dengan didasari pemahaman yang benar mengenai aktivitas
gerak yang dilakukannya inilah yang merupakan tujuan utama dari
modifikasi pembelajaran atletik.
Modifikasi pembelajaran atletik memiliki manfaat untukmemnberikan
pengalaman belajar sevariatif dan semenarik mungkin, sehingga dapat
membantu siswa untuk lebih mengerti dan mencintai atletik. Pada
gilirannya, merubah pandangan siswa terhadap atletik dari atletik
yang monoton dan membosankan menjadi atletik yang variatif dan
menyenangkan, sehingga pelajaran atletik menjadi idola dan sangat
dinantikan semua siswa melebihi pelajaran permainan yang selama ini
menjadi primadona bagi para siswa.
Beberapa hal yang dapat dimodifikasi dalam pembelajaran atletik,
meliputi; prasarana/lapangannya, sarana/peralatannya, dan
peraturannya., serta jumlah siswa dalam kelompok belajar. Tujuan
modifikasi ini disesuaikan dengan kondisi sekolah, jenjang pendidikan,
keadaan dan jumlah siswa, dan materi yang akan diajarkan kepada
siswa. Dalam merencanakan modifikasi pembelajaran atletik perlu
dipertimbangkan model pembelajaran, strategi penyampaian materi,
Modul PLPG Penjaskes 2013
96
dan tingkat kesulitan tugas ajar yang berbeda beda untuk setiap
karakteristik kelompok usia dan jenjang pendidikan meskipun materi
ajarnya sama. Misalnnya; untuk materi pembelajaran lompat jauh
untuk siswa kelas VII SMP strategi/pendekatan pembelajaran dan
tingkat kesulitan tugas ajarnya tidak bisa disamakan dengan materi
lompat jauh untuk siswa kelas XI SMA, karena karakteristik
perkembangan baik psikomotor, kognitif, dan afektif, serta
permebangan social-emosional kedua jenjang pendidikan ini juga
berbeda. Unsur penting dalam perencanaan modifikasi pembelajaran
atletik adalah pentahapan dan pengembangan sekuensi tugas gerak
atletik. Melalui serangkaian proses modifikasi pembelajaran atletik
maka perbendaharaan gerak dasar dominant atletik semakin lengkap,
yang pada gilirannya akan menuju kepada teknik gerak dari setiap
materi ajar atletik yang diinginkan, baik teknik jalan, lari, lompat,
maupun lempar.
E. Pembelajaran Pola Gerak Dasar Dominan Dalam Atletik.
Ada empat materi pokok dalam atletik, yaitu: jalan, lari, lompat,
dan lempar. Progarm pembelajaran atletik memiliki alokasi waktu
yang sangat terbatas, sedangkan materi pembelalajarannya cukup
banyak, dan oleh karenanya guru penjasorkes dituntut untuk dapat
mengaturnya secara cermat.
Program pembelajaran atletik yang disampaikan kepada siswa
disajikan dengan sistematika pembelajaran sebagai berikut:
Terlebih dahulu ajarkan pola gerak dasar dominant, sebelum
mengajarkan keterampilan teknik-teknik dasar yang sebenarnya.
Jika perlu pola gerak dasr dipecah dalam beberapa bagian/
tahapan tugas gerak, dan ajarkan masing-masing bagian/tahapan
secara terpisah. Dalam mengajarkan materi atletik, diperlukan
alat bantu pembelajaran yang dimodifikasi sebanyak dan

Modul PLPG Penjaskes 2013
97
selengkap mungkin sesuai dengan materi yang akan disajikan
dan jumlah siswa. Tujuannya, agar semua materi pembelajaran
dapat tersampaikan dan mudah diserap oleh para siswa.
Disamping itu, penggunaan metode dan pendekatan
pembelajaran yang tepat dapat membantu guru dalam
menyampaikan pokok/aspek bahasan agar lebih komunikatif
dan bermakna.
Apabila siswa sudah menguasai kemampuan gerak dasr
dominant atletik, guru dapat melanjutkan pembelajaran ke tahap
kemampuan yang lebih kompleks, yang lebih menuntut
koordinasi gerak dengan terlebih dahulu mengoreksi
kekurangan/kesalahan pada kemampuan gerak sebelumnya
yang masih banyak dilakukan siwa.
Bagi siswa yang telah menguasai tugas gerak yang lebih kompleks,
maka guru perlu mengenalkan dan mengajarkan teknik-teknik
gerak pada nomor keterampilan atletik. Guru dapat memberikan
tugas kepada siswa untuk terus mengulangi teknik gerak ini
Pengulangan melakukan teknik gerak ini dimaksudkan agar
gerak keterampilan dari setiap materi ajar atletik menjadi lebih
otomatis.
Meskipun pola-pola gerak dasar dominan dalam atletik ini perlu
diberikan pada semua jenjang pendidikan, namun prioritas
pendekatan yang diterapkan dalam penyampaian pembelajaran atletik
ini berbeda. Untuk jenjang pendidikan SD, guru harus lebih
menekankan pembelajaran atletik melalui pendekatan bermain yang
lebih banyak daripada pendekatan kompetisi, dan belum melakukan
pendekatan teknik. Untuk jenjang pendidikan SMP, pembelajaran
atletik disampaikan dengan proporsi seimbang antara pendekatan
bermain dan pendekatan kompetisi, dan sudah memulai
memperkenalkan teknik-teknik dasar atletik melaluipendekatan teknik.
Modul PLPG Penjaskes 2013
98
Dan pada jenjang pendidikan SLTA, pendekatan kompetisi dan teknik
menjadi prioritas daripada pendekatan bermain.
Pembelajaran atletik perlu dikembangkan dengan berbagai
bentuk yang sevariatif dan semenarik mungkin. Pengembangan setiap
materi ajar atletik harus mencakup; pengembangan kebugaran,
pengembangan kerjasma, pengembangan keterampilan,
pengembangan kemampuan kognitif, serta pengembangan sikap
kompetitif
1. Pengembangan pembelajaran jalan.
Pembelajaran berbagai macam gerak jalan dalam pola gerak
serasi dan seimbang perlu diperkenalkan kepada siswa. Secara
teknis, untuk menghasilkan gerak jalan yang serasi dan seimbang,
posisi badan dalam keadaan tegak, dada dibuka, kepala tegak, dan
pandangan kedepan. Pada saat berjalan, terlebih daulu langkahkan
kaki kiri kedepan dengan lutut sedikit ditekuk. Pada saat melangkah
gerakan kaki dan lengan harus berlawanan, artnya ketrika kiri
melangkah, maka lengan kanan yang diayunkan kedepan.
a. Bentuk pengembangan kebugaran jasmani dalam materi ajar jalan, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Jalan sambil menirukan gerak binatang
2). Jalan maju mundur
3). Jalan berkelok-kelok, dsb.
b. Bentuk pengembangan kerjasma dalam materi ajar jalan, dapat disajikan
dengan tugas ajar:
1). Jalan bergandengan tangan
2). Jalan mengelilingi area dengan setiap kali bertemu temannya
saling bertepuk
3). Jalan sambil mencari pasangan masing-masing, dsb.
c. Bentuk pengembangan keterampilan dalam materi ajar jalan, dapt
disajikan dengan tugas ajar:

Modul PLPG Penjaskes 2013
99
1). Jalan diatas garis lurus dan berkelok
2). Jalan kesamping dan serong
3). Jalan dengan ujung kaki, dsb.
d. Bentuk pengembangan kemampuan kognitif dalam materi ajar jalan,
dapat disajikan daengan tugas ajar:
1). Jalan mengelilingi lapangan sambil menghitung kecepatan/
batas-batas
2). Jalan mengangkat lutut sambil menghitung berapa kali angkat
lutut dalam waktu yang ditentukan, dsb.
e. Bentuk pengembangan sikap kompetitif dalam materi ajar jalan, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Lomba jalan estafet
2). Lomba jalan cepat
3). Lomba jalan rintangan, dsb.
2. Pengembangan pembelajaran lari.
Variasi dalam pengembangan pembelajaran lari dapt berupa;
lintasannya, susunan regunya, peralatannya, dan gerak lari itu
sendiri. Materi pengembangan pembelajaran lari ini harus
disampaikan semenarik dan semenyenangkan mungkin dengan
bentuk-bentuk tugas yang berbeda-beda, dan dengan berbagai
variasi yang selalu diubah-ubah. Secara teknis, untuk menghasilkan
gerak lari yang cepat, posisi badan condong, lengan rileks dengan
siku ditekuk kurang lebih 90 derajat, dan pada saat lari paha
diangakat tinggi, dan jatuhnya pada ujung kaki, dengan frkuensi
langkah cepat.
a. Bentuk pengembangan kesegaran jasmani dalam materi ajar lari, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Lari mengelilingi lapangan dengan diiringi musik
2). Lari bebas dalam area yang ditentukan dengan waktu yang
ditentukan
3). Lari maju mundur dank e kiri ke kanan, dsb.
Modul PLPG Penjaskes 2013
100
b. Bentuk pengembangan kerjasama dalam materi ajar lari, dapat disajikan
dengan tugas ajar:
1). Lari saling menjemput teman dengan banbekas/simpai
2). Lari sambil menyampaiakn pesan bersambung
3). Lari sambil mengoper bola ke teman, dsb.
c. Bentuk pengembangan keterampilan dalam materi ajar lari, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Lari zig-zag/berkelok-kelok
2). Lari mengelilingi bentuk bintang
3). Lari melewati susunan ban sepeda
4). Lari melompati kardus dengan variasi ketinggian, dsb.
d. Bentuk pengembangan kemampuan kognitif dalam materi ajar lari, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Berlari sambil menghitung berapa kali bertemu dengan siswa
lain
2). Berlari mengelilingi cone dalam waktu tertentu dan
menghitung cone yang dilewati
3). Berlari sambil mengangkat lutut dalam waktu yang ditentukan,
dan bisa berapa kali dapat mengangkat lutut.
e. Bentuk pengembangan sikap kompetitif dalam materi ajar lari, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Lomba lari estafet
2). Lomba lari memindahkan sekumpulan bola
3). Lomba lari menuju pos warna tertentu dengan instruksi guru
4). Lomba lari mengumpulkan bola sebar sebanyak mungkin, dsb.
3. Pengembangan Pembelajaran Lempar.
Keterampilan melempar menjadi bagian dasar keterampilan
manipulatif. Meskipun kemampuan dasar siswa dalam melempar
mengalami penurunan dalam permainan bebas, namun kesempatan
mencoba melempar dengan berbagai variasi gerak perlu diberikan
sebanyak mungkin dalam atmosfer pembelajaran yang menarik dan

Modul PLPG Penjaskes 2013
101
merangsang siswa untuk mencoba sendiri kemampuannya dalam
melempar dalam suasana bermain bebas dan kompetisi. Pada taha
selanjutnya dapat ditingkatkan keterampilan melempar sesuai
karakteristik melempar, baik lempar lembing, lempar cakram,
maupun tolak peluru sesuai dengan keterampilan teknik atletik
lempar yang sesungguhnya. Peralatan yang dilempar bila dibuat
menarik merupakan rangsangan yang baik memotivasi siswa untuk
mencoba alat tersebut, sebagai contoh: bola tennis berekor.
Disamping itu sasaran lempar yang beraneka ragam juga
memotivasi siswa untuk melempar. Semakin sulit dan menantang
tugas gerak yang diberikan merangsang keinginan siswa untuk
mencoba melempar, dengan didorong keingintahuan melakukan
tugas gerak baru dan menantang tersebut.
Secatra teknis untuk menghasilkan gerak melempar yang benar
sangat ditentukan oleh sikap melempar, koordinasi gerak tungkai,
panggul, lengan, serta power dari tungkai dan lengan. Untuk lempar
lembing, saat sikap melempar berat badan ada di kaki kanan dan
badab menghadap kekanan, lengan yang memegang lembing
diluruskan jauh ke belakang, putaran badan dimulai dari tungkai,
lalu panggul, dan terakhir lengan. Pelepasan lembing dilakukan dari
atas dengan disertai sedikit lecutan pergelangan tangan, dan terakhir
diikuti dengan gerak lanjutan. Untuk lempar cakram, saat sikap
melampar berat badan jga berada di kaki kanan dengan lengan
pemegang cakram ditarik jauh ke belakang hampir sejajar dengan
tanah. Yang digerakkan pertama kali tungkai, lalu panggul, dan
terakhir gerak lengan kedepan sampai badan dan lengan terkunci
lurus kedepan, dan kemudian diikuti gerak lanjutan sesaat setelah
cakram lepas. Sedangkan untuk tolak peluru, sikap lmelempar
lurtut kanan ditekuk, tungkai kiri ke belakang/kesamping hampir
lurus, berat badan berada di kaki kanan dengan badan sedikit
membongkok. Peluru dipegang dengan jari-jari tangan terbuka,
Modul PLPG Penjaskes 2013
102
lengan atas sedikit terbuka ke atas, dan peluru ditempelkan pada
belakang rahang bawah di bawah telinga. Pelepasan pelurur dimulai
dengan pelurusan tungkai kanan, lalu pemutaran panggul, dan
kemudian pelurusan pelurusan lengan disertai dorongan kuat untuk
melepas peluru.
a. Bentuk pengembangan kebugaran jasmani dalam materi ajar lempar,
dapat disajikan dengan tugas ajar:
1). Melempar/mendorong bola dengan satu tangan dari
samping/atas sejauh mungkin diikuti dengan lari untuk
mengambil bola yang dilempar/didorongnya.
2). Melempar/menolak bola/ simpai ke sasarn tertentu
3). Melempar/menolak bola/slang plastic sabil duduk melewati
bentangan tali
b. Bentuk pengembangan kerjasama dalam materi ajar lempar, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Bola/slang hadang
2). Lempar /tolak bola ke dinding sementara siswa lain
menangkap pantulan bola
3). Lempar/tolak bola/slang pindah tempat
4) Estafet lempar/tolak.
c. Bentuk pengembangan keterampilan dalam materi ajar lempar, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
Rangkaian gerak melempar dari awalan, sikap
melempar/menolak, gerak tungkai, panggul, lengan, dan cara
pelepasan lembing/cakram/peluru, dan gerak lanjutan.
Rangkaian gerak ini masih dilakukan dengan alat-alat modifikasi
seperti; simpai, ban bekas, slang plastik, bola karet, bola plastic,
dsb., dan belum menggunakan alat-alat yang standar/baku.
d. Bentuk pengembangan sikap kompetitif dalam materi ajar lempar, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Lomba lempar bola ke sasaran bergerak

Modul PLPG Penjaskes 2013
103
2). Lomba lempar simpai/ban bekas ke dalam lembing yang
ditancapkan berdiri
3). Lomba menolakkan bola besar ke sekumpulan kardus
4). Lomba menolak peluru, melempar lembing/cakram pada
ukuran-ukuran jarak yang dibatatasi dengan raffia, dsb.
4. Pengembangan Pembelajaran Lompat.
Gerak dasar dominant lompat yang diajarkan di SD,
diperdalam penguasaan dan pengayaan gerak lompat ketika siswa
di SMP dan di SLTA. Penguasaan dan pengayaan keterampilan
lompat perlu ditingkatkan seiring dengan tingkat perkembangan
kekuatan otot-otot tungkai siswa, namun tetap dilakukan dalam
suasana pembelajaran yang menyenangkan. Yang membedakan
pengembangan pembelajaran lompat ini adalah pada substansi
bentuk dan tingkat kesulitan tugas geraknya saja.
Gerak melompat merupakan salah satu bentuk gerak
lokomotor, utnuk itu pengembangan kemampuan daya gerak siswa
perlu diupayakan sesering dan semaksimal mungkin dengan cara
merancang bentuk dan model gerakan yang juga harus semenarik
mungkin bagi siswa agar siswa bersedia melakukan gerak berulang
kali tanpa adanya paksaan dari guru. Sehingga siswa yang tidak
berani pada ketinggian meski rendah menjadi berani melompat, dan
siswa yang sudah berani melompat pada ketinggian tertentu,
termotivasi untuk mencoba pada ketinggian lain yang diatur baik
oleh guru, siswa itu sendiri, maupun dengan kesepakatan bersama
antara guru dan siswa. Oleh karena didalam gerak lompat yang
diutamakan adalah tolakan atau tumpuan kaki, maka
pembelajarannya harus lebih terfokuskan pada pematangan
kekuatan dan daya gerak tungkai, serta keseimbangan dalam gerak
lompat.
Modul PLPG Penjaskes 2013
104
Secara teknis, tolakan/tumpuan kaki pada bidang tumpu yang
tepat dengan kaki yang terkuat, dengan lutut sedikit ditekuk jatuh
pertama pada tumit serta badan dicondongkan ke belakang,
hemtakkan kaki sampai pada ujung jari kaki sampai lutut benar-
benar lurus kedepan atas, sangat membantu rangkaian gerak
tumpuan yang dominant dalam lompat. Secara keseluruhan,
rangkaian gerak lompat terdiri dari awalan, tolakan, saat
melayang/melakukan gaya lompatan, baik dalam lompat jauh
maupun lompat tinggi, dan diakhiri dengan pendaratan.
a. Bentuk pengembangan kebugaran jasmani dalam materi ajar lompat,
dapat disajikan dengan tugas ajar:
1). Melompat ban sepeda/simpai yang disusun sedemikian rupa
2). Melompat kardus yang disusun sedemikian rupa
3). Melompat bilah-bilah bamboo yang disusun sedemikian rupa
4). Melompatparit buatan dengan berbagai ukuran lebar
5). Lompat tali karet
6). Melompat kedepan, kebelakang, maupun kesamping beberapa
kali, dsb.
b. Bentuk pengembangan kerjasama dalam materi ajar lompat, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Melompat keatas dan kedepan sambil bergandengan tangan
2). Melompat sambil menangkap bola yang dilempar teman
3). Melompat berganti sambil pindah tempat, dsb.
c. Bentuk pengembangan keterampilan dalam materi ajar lompat, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Melompat kardus yang disusun keatas dua, tiga, empat dst.
2). Melompat kardus yang disusun kedepan dua, tiga, empat, dst.
3). Jengket diantara susunan bilah, susunan kardus, meloncat
kedalam susunan ban bekas, dan diakhiri lari ke tempat jengket
dimulai.
4). Melompat dengan menyundul bola gantung, dsb.

Modul PLPG Penjaskes 2013
105
d. Bentuk pengembangan sikap kompetitif dalam materi ajar lompat, dapat
disajikan dengan tugas ajar:
1). Lomba lompat jauh/lompat tinggi tanpa awalan
2).Lomba lompat kardus dari susunan keatas/ kedepan setinggi
mungkin
3). Lomba melompat parit yang dibuat dari bilah-bilah bamboo
4). Lomba lompat ban bekas yang dibentuk sedemikian rupa., dsb.
E. EVALUASI DAN REFLEKSI
a. Evaluasi
Setelah anda mempelajari modul pendalaman materi bidang
studi atletik ini, anda dimohon utnuk mencoba mengerjakan
pertanyaan-pertanyaan yang tersaji dibawah ini, dan kemudian
cocokanlah jawaban anda dengan kunci jawaban yang ada. Hasilnya
merupakan seberapa jauh penguasaan dan pemahaman anda
tentang konsep pembelajaran atletik nuansa baru.
1. Pertanyaan berkait dengan materi: Program Pembelajaran Atletik:
a. Jelaskan focus/tujuan utama dari program pembelajaran
atletik !
b. Apa yang dimaksud dengan pengalaman belajar atletik ?
c. Apa yang perlu dilakukan guru penjasorkes dalam
pelaksanaan program pembelajaran atletik ?
d. Apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan
program pembelajaran atletik ?
e. Sebutkan dua pedoman yang dipakai acuan untuk membuat
program pembelajaran atletik !
f. Bagaimana cara meningkatkan tingkat kesulitan tugas gerak
dalam pembelajaran atletik ?


Modul PLPG Penjaskes 2013
106
2. Pertanyaan berkait dengan materi: Dimensi Pengalaman Gerak
dalam Permainan Atletik:
a. Apa yang dimaksud dengan permainan atletik ?
b. Sebutkan beberapa pertimbangan dalam merencanakan
program pembelajaran permainan atletik !
c. Sebutkan karakteristik pembelajaran atletik yang
bernuansakan permainan !
d. Sebutkan materi ajar lengkap dari pembelajaran atletik !
e. Jelaskan bagaimana rancangan tugas ajar yang harus dibuat
guru penjasorkes agar semua siswa termotivasi untuk terlibat
aktif dalam proses pembelajaran !
3. Pertanyaan berkait dengan materi: Pendekatan Pembelajaran
Atletik:
a. Sebutkan pendekatan pembelajaran yang lazim diterapkan
dalam pembelajaran atletik !
b. Jelaskan manfaat pendekatan bermain dalam pembelajaran
atletik !
c. Jelaskan manfaat utama dari pendekatan kompetisi dalam
pembelajaran atletik !
d. Jelaskan hubungan antara pendekatan kompetisi dan fair
play/sikap sportif dalam pembelajaran atletik !
e. Sebut dan jelaskan pendekatan pembelajaran atletik yang
sesuai dan dapat diterapkan untuk siswa pada jenjang
pendidikan SMP !
4. Pertanyaan berkait dengan materi: Modifikasi Pembelajaran
Atletik
a. Jelaskan tujuan modifikasi pembelajaran atletik !
b. Jelaskan manfaat dari modifikasi pembelajaran atletik !
c. Apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan
modifikasi pembelajaran atletik ?

Modul PLPG Penjaskes 2013
107
d. Sebutkan unsure penting dalam merencanakan modifikasi
pembelajaran atletik !
e. Sebutkan beberapa sarana modifikasi yang dapat dipakai
untuk pembelajaran lompat jauh !
5. Pertanyaan berkait dengan materi: Pembelajaran Pola Gerak
Dasar Dominan dalamAtletik
a. Apa yang dimaksud dengan pola gerak dasar dominant dalam
atletik ?
b. Jelaskan sistematika penyajian pembelajaran atletik !
c. Bagaimana teknik gerak dari jalan agar dihasilkan gerak yang
serasi dan seimbang ?
d. Sebutkan hal-hal yang dapat divariasi dalam pengembangan
pembelajaran lari !
e. Sebutkan tugas-tugas ajar yang disajikan dalam materi lari
untuk pengembangan kemampuan kognitif !
f. Sebutkan tugas-tugas ajar yang disajikan dalam materi lempar
utnuk pengembangan kerjasama !
g. Sebutkan tugas-tugas ajar yang dapat disajikan dalam metri
lompat untuk pengembangan kebugaran jasmani !
b. Refleksi
Pertanyaan dan tugas berikut perlu anda kerjakan, yang akan
memperoleh gambaran antara materi yang telah tersaji dalam modul
ini dengan kenyataan yang anda alami sebagai guru penjasorkes di
sekolah anda masing-masing.
1. Buatlah deskripsi tentang kondisi sekolah anda berkait dengan
kemungkinan dapat dilaksanakannya kegiatan pembelajaran
atletik disekolah anda dengan model pembelajaran atletik seperti
tersaji dalam modul ini.
a. Berapa luas lahan yang dimiliki sekolah yang mungkin dapat
dipakai untuk pembelajaran atletik ?
Modul PLPG Penjaskes 2013
108
b. Lapangan apa saja yang dimiliki sekolah dan bagaimana
ukurannya ?
c. Alat-alat baku/standar olahraga apa saja yang dimiliki sekolah?
Alat-alat modifikasi apa saja yang sudah dimiliki sekolah? Dan
alat-alat modifikasi apa saja yang mungkin dibuat oleh sekolah
untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran semua materi
ajar atletik?
2. Coba anda buat model pembelajaran permainan atletik, baik jalan,
lari, lempar, dan lompat yang sesuai dengan kondisi
lapangan/lahan dan peralatan yang dimiliki sekolah anda.
Buatlah laporan setelah anda cobakan dalam pembelajaran atletik
di sekolah anda !
3. Cobalah anda buat program pembelajaran atletik dengan materi
ajar lompat tinggi untuk jenjang pendidikan SD, SLTP, SLTA
seperti yang anda laksanakan selama ini disekolah anda. Buatlah
juga bentuk dan model pembelajarnnya dengan berpedoman
pada meteri dalam modul ini. Kemudian laporkan tentang:
a. Kelebihan dan kekurangan serta kendala dari masing-masing
pembelajarannya .
b. Hubungkan dengan motivasi keikutsertaan dan penguasaan
gerak siswa.
c. Kemukakan komentar dan saran anda berkait dengan kedua
pembelajaran tersebut.




Modul PLPG Penjaskes 2013
109
KUNCI JAWABAN EVALUASI

1. a. Pengalaman siswa dalam melaksanakan tugas gerak dan pengalaman
berhasil siswa dalam melaksanakan tugas gerak tersebut
b. Seperangkat kejadian yang berisikan aktivitas dan kondisi belajar gerak
atletik untuk memberi struktur terhadap pengalaman siswa, yang mana
seperangkat kejadian tersebut untuk pencapaian tujuan pembelajaran
atletik seperti diinginkan.
c. Memberi kesempatan kepada semuasiswa untuk mempelajari berbagai
variasi gerak yang membina dan mengembangkan potensi siswa, baik
dalam aspek fisik, mental, social-emosional, dan moral.
d. -Pemilihan metode dan gaya mengajar
-Pelibatan seluruh siswa dalam pembelajaran
-Pemberian motivasi kepada siswa untuk berinteraksi dengan guru,
siswa, dan alat
Pembelajaran
-Penyesuaian program pembelajaran dengan minat, kebutuhan,
kemampuan, dan
Tingkat perkembangan siswa.
e. - DAP (Developmentally Appropriate Practices)
- IAP (Instructionally Appropriate Practices)
f. - Menambah jumlah peralatan modifikasi/alat bantu pembelajaran
- Merubah bentuk dan model pembelajaran
2.a. Permainan atletik adalah kombinasi antara kegembiraan bergerak dan
tantangan tugas gerak atletik yang dekat dengan pengalaman nyata.
b. Keterlibatan semus siswa dalam variasi tugas gerak sesuai iramanya
masing-masing
- Harus dapat membangkitkan kegemaran dan kegembiraan
berkompetisi secara sehat
Modul PLPG Penjaskes 2013
110
- Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba alat-alat
pembelajaran
- Menyediakan tugas gerak yang sepadan dengan kemampuan siswa
dan juga tugas gerak yang menantang.
- Dapat menumbuhkan pengalaman sukses siswa pada setiap tahap
pembelajaran
- Memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji keterampilannya
dalam tugas gerak baru dengan tingkat kesulitan baru.
c. Menyediakan pengalaman gerak yang kaya, yang dapat
membangkitkan motivasi pada semua siswa untuk berpartisipasi aktif
dalam gerak.
d. Jalan, lari, lempar, lompat, dan pengayaan gerak, serta keterampilan
gerak spesifik
e. Rancangan tugas ajar dengan model pembelajaran atletik yang atraktif
dan menggembirakan, yang dikemas dalam bentuk bermain dan
berkompetisi
3.a,.-Pendekatan bermain
-Pendekatan kompetisi
-Pendekatan teknik
b. Memberikan pengalaman belajar yang lengkap, membina hubungan
dengan sesame siswa, serta media dalam menyalurkan perasaan
tertekan siswa, mengembangkan seluruh aspek perlkembangan siswa.
c. Membentuk karakter siswa dan mempersiapkan siswa dalam
menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.
d. Pendekatan kompetisi memberikan kesempatan kepada
siswa/kelompok siswa yang kalah dalam perlombaan untuk dengan
ikhlas menerima kekalahannya dan bersedia mengakui kelebihan
siswa/kelompok siswa lain. Dan sekaligus memberi kesempatan
kepada siswa/kelompok siswa pemenang dalam perlombaan untuk
tidak terlalu membanggakan kemenangannya yang bisa

Modul PLPG Penjaskes 2013
111
menyebabkan tinggi hati/sombong, tetapi diajar untuk bersedia
memotivasi pihak yang kalah dalam kompetisi.
e. Pendekatan pembelajaran harus seimbang antara pendekatan bermain
dan pendekatan kompetisi, dan mulai memperkenalkan teknik-teknik
dasar gerak atletik dengan pendekatan teknik.
4.a. Untuk sedini mungkin memperkenalkan pola-pola gerak dasar
dominant atletik dengan cara yang menarik dan menyenangkan,
sehingga keterlibatan siswa dalam pembelajaran atletik menjadi lebih
optimal dan aktif.
b. Untuk memberikan pengalaman belajar sevariatif dan semenarik
mungkin, sehingga dapat membantu siswa utnuk lebih mengerti dan
mencintai atletik.
c. Model penyampaian dan tingkat kesulitan tugas ajar yang berbeda
untuk setiap jenjang tingkatan pendidikan meski materi bahasannya
sama
d. Pentahapan dan pengembangan sekuensi tugas gerak atletik.
e. Kardus, bilah bambu/kayu, ban bekas, simpai, cone.
5.a. Macam/variasi gerak yang mendukung dan digunakan dalam teknik
keterampilan gerak spesifik dalam setiap materi atletik yang
sesungguhnya.
b.- Pembelajaran pola gerak dasar dominant, yang dipecah dalam
beberapa tahapan .
- Jika sudah dikuasai, pengajaran kemampuan gerak yang lebih
kompleks dan pengayaan gerak.
- Bagi siswa yang sudah menguasai gerak yang lebih kompleks, siswa
perlu diperkenalkan dan diajarkan teknik-teknik gerak spesifik atletik.
c. Posisi badan dalam keadaan tegak, dada dibuka, kepala tegak dengan
pandangan kedepan. Pada saat berjalan, terlebih dahulu langkahkan
kaki kiri kedepan dengan lutut sedikit ditekuk. Pada saat melanhkah
Modul PLPG Penjaskes 2013
112
gerakan kaki dan lengan harus berlawanan, artinya saat kaki kiri
melangkah kedepan, maka lengan kanan yang diayunkan kedepan.
d. Lintasannya, susunan regunya, peralatannya, dan gerak larinya.
e. - Berlari sambil menghitung berapa banyak teman yang berpapasan
- Berlari mengelilingi cone dalam waktu tertentu sambil menghitung
cone yang telah dilewatinya
- Berlari sambil mengangkat lutut, dan menghitung berapa kali
angkatan lutut dalam waktu yang dinetukan
f. - Bola slang hadang
- Lempar bola kedinding sementara siswa lain menangkap pantulan
bola
- Lempar bola/slang pindah tempat
- Esatafet lempar bola
g. - Melompat kardus/bilah bamboo/ban bekas yang disusun sedemikian
rupa
- Melompat parit buatan dengan berbagai variasi lebar
- Melompat- dan meloncat bergantian kedepan, kebelakang, kesamping
dalam waktu yang cukup lama


Modul PLPG Penjaskes 2013
113
DAFTAR PUSTAKA
Adang Suherman dan Agus Mahendra. 2001. Menuju Perkembangan
Menyeluruh. Departemen Pendidikan Nasional Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Dirjen
Olahraga
Adang Suherman. 2000. Dasar-Dasar Penjaskes. Dirjen Dikdasmen,
Depdiknas, Jakarta.
Agus Mahendra. 2001. Pembelajaran Senam : Pendekatan Pola Gerak
Dominan untuk Siswa SLTP. Jakarta. Direktorat Jenderal Olahraga,
Depdiknas.
------------------------. 2004. Azas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Dirjen
Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.
Agus Margono. 2009. Senam. Surakarta. UNS Press.
Agus Mukholid. 2004. Pendidikan Jasmani Kelas 1 SMA Kurikulum Berbasis
Kompetensi 2004. Jakarta: Yudhistira.
---------------------. 2005. Pendidikan Jasmani Kelas XI SMA. Jakarta:
Yudhistira.
Amung Mamun dan Toto Subroto. 2001. Pendekatan Taktis Permaianan
Bolavoli: Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan
Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Dirjen Olahraga.
Beltasar Tarigan. 2001. Pendekatan Taktis Dalam Pembelajaran Sepakbola:
Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah bekerja sama dengan Dirjen Olahraga.
Cholik Mutohir. 1996. Pengembangan Model Pengajaran Pendidikan Jasmani
di SD. Lembaga Penelitian IKIP, Surabaya.
Danu Hudaya. 2001. Pendekatan Taktis Dalam Pembelajaran BolaBasket:
Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah bekerja sama dengan Dirjen Olahraga.
Depdikbud. 1984. Tuntunan Pelajaran Olahraga Pencak Silat. Jakarta:
Depdikbud.
Elizabeth H. 1978. Perkembangan Anak 1. Jakarta : Erlangga
-------------. 2002. Working with play. http://www.cyc-net.org/index.html
Modul PLPG Penjaskes 2013
114
Gerling, Ilona E.1998. Teaching Childrenis Gymnastics, Spotting and
Securing. Aachen, Meyer & Meyer Sport.
Graham, George; Holt, Shirley Ann; Parker, Melissa. 1993. Children
Moving, A Reflective Approach to Teaching Physical Education.
California. Mayfield Pub. Co.
Icuk, Furqon dan Kunta. 2002. Total Badminton. Surakarta: CV. Setiaki
Imam Hidayat. 1996. Senam. Diktat. Bandung. FPOK-IKIP Bandung
Jess Jarver. 2007. Belajar dan Berlatih Atletik. CV>Pioner Jaya, Bandung.
Joan Packer Isenberg and Nancy Quisenberry.____. Play Essential for
Children APosition Paper of the Association for Childhood Education
International. http://www.acei.org/playpaper.htm
John and Marry ,Jean, Traeta.1985. Dasar-Dasar Senam, Bandung.
Angkasa.
Mayke Sugianto. 1995. Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta : Dirjen
Pendidikan Tinggi
Newton, C.L. dan Robert. J.W. 1986. Petunjuk Lengkap Gymnastic.
Sernarang. Dahara Prize.
Nurlan Kusmadi, Dkk. 2004. Pembelajaran Olahraga Pilihan. Jakarta:
Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat
Tenaga Kependidikan.
Pengurus Besar IPSI. 2003. Pedoman Pelaksanaan Tugas Wasit Juri Ikatan
Pencak Silat Indonesia. Jakarta: PB. IPSI.
---------------------------. 2003. Peraturan Pertandingan Pencak Silat. Jakarta:
PB. IPSI.
R. Kotot Slamet Hariyadi. 2003. Teknik Dasar Pencak Silat Tanding. Jakarta:
PT. Dian Rakyat.
Rusli Lutan dkk. Manusia dan Olahraga. Bandung: ITB dan IKIP Bandung.
Sayuti Sahara. 2002. Senam Dasar. Jakarta. Pusat Penerbitan Universitas
Terbuka.
Schembri, Gene. 1983. Introductory Gymnastics. A Guide for Coaches and
Teachers. Australian Gymnastics. Federation Inc.

Modul PLPG Penjaskes 2013
115
Soepartono. 2004. Pembelajaran Atletik. Dirjan Dikdasmen, Depdiknas,
Jakarta.
Stuart, Nick. 1978. Gymnastics for Men. London, Stanley Paul.
Sugiyanto. 2000. Belajar Gerak (BPK FKIP-UNS). Surakarta: Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
Sukintaka. 2004. Teori Pendidikan Jasmani. Filosofi Pembelajaran & Masa
Depan. Penerbit Nuansa, Bandung.
Udin Saefudin Sautd. 2008. Inovasi Pendidikan. Penerbit Alfabeta,
Bandung.
Vincentius Endy S., Iin Mendah M. 2008. Permaianan Kreatif untuk Outbond
dan training. Yogyakarta: ANDI.
Wall, Jennifer and Murray, Nancy. 1994. Children & Movement, Physical
Education in The Elementary School. Dubuque, Iowa, WM.C. Brown and
Benchmar
Yudha M. Saputra. 2000. Pembelajaran Atletik untuk Sekolah Dasar. Dirjen
Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.
------------------------. 2001. Dasar-Dasar Keterampilan Atletik. Pendekatan
Bermain untuk SLTP. Dirjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.



Modul PLPG Penjaskes 2013
116
BAB V
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU

A. Hakikat Guru Profesional
1. Pengertian Profesi
Kata profesi adalah kata benda yang diambil dari kata
profession, sedangkan profesional merupakan kata sifat yang
berasal dari kata professional. Menurut Hornby, profession,
occupation, esp one requiring advanced education and special training, eg
the law, architecture, medicine, accountancy; professional adj 1. of a
profession (1): ~ skill; ~ eti-quette, the special conventions, form of
politeness, etc asociated with a certain pofession: ~ men, eg doctors, lawyers.
2. Doing or practising something as a full time occupation or to make a
living.
Page&Thomas (1979) memberikan batasan tentang profesi
sebagai berikut: profes-sion, evaluative term describing the most
prestigious occupations which may be termed professions if they carry out
an essential social service, are founded on systematic knowl-edge, require
lengthy academic and practical training, have high autonomy, a code of eth-
ics, and generate in-service growth. Teaching should be judged as a
profession on these criteria.
Pengertian profesi pada hakekatnya menunjuk kepada
pekerjaan atau jabatan. Tidak semua pekerjaan disebut sebagai
profesi. Ada sejumlah ciri atau persyaratan yang harus dipenuhi
untuk mengatakan suatu pekerjaan sebagai profesi.
2. Karakteristik Profesi
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1, pengertian guru
professional sebagai berikut.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang
memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan
profesi. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
a. Ciri Profesi
Menurut Ornstein & Lavine (1984), suatu pekerjaan
dikatakan sebagai profesi apabila memenuhi sejumlah ciri
sebagai berikut:
1) Melayani masyarakat, dan pekerjaan tersebut merupakan
karier yang dijalani seseorang dalam kurun waktu yang lama
(sepanjang hayat, tidak mudah berganti).

Modul PLPG Penjaskes 2013
117
2) Pekerjaan tersebut membutuhkan bidang ilmu dan
keterampilan yang khusus (tertentu), yang tidak semua orang
dapat melakukannya.
3) Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi teori ke dalam
praktik.
4) Membutuhkan pelatihan (pendidikan) khusus dalam waktu
yang panjang.
5) Terkendali berdasarkan lisensi baku dan/atau memiliki
persyaratan khusus (izin) untuk menduduki pekerjaan
tersebut.
6) Otonomi dalam membuat keputusan dalam lingkup
pekerjaannya.
7) Menerima tanggung jawab terhadap keputusan-keputusan
yang diambilnya.
8) Memiliki komitmen terhadap jabatan dan klien, khususnya
berkaitan dengan layanan yang diberikannya.
9) Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya,
dan relatif bebas dari supervisi jabatan (dokter menggunkan
tenaga administrasi untuk mengelola data klien, sementara
tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter).
10) Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesinya.
11) Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok elit untuk
mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya
(keberhasilan pekerjaan dokter dihargai dan diakui oleh IDI
dan bukan oleh departemen kesehatan).
12) Mempunyai kode etik, sebagai pedoman dalam
melaksanakan layanan.
13) Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari publik dan
dari setiap anggotanya.
14) Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi.
Penulis lain mencoba menggolongkan ciri profesi menjadi
dua kelompok yaitu (1) ciri utama dan (2) ciri tambahan
(Sulistiyo-Basuki, 2004). Ciri utama adalah ciri yang mutlak
harus ada atau melekat dalam suatu pekerjaan untuk dikatakan
sebagai profesi. Jika ciri utama ini tidak tampak atau beberapa di
antaranya tidak ada, maka sulit untuk mengelompokkan
pekerjaan tersebut ke dalam profesi.
Ada tiga ciri utama yang harus dipenuhi oleh suatu jenis
pekerjaan untuk dikatakan sebagai profesi yaitu (1) Sebuah
profesi mensyaratkan suatu pendidikan atau pelatihan yang
ekstensif sebelum memasuki profesi tersebut. Pelatihan ini
dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana; (2)
Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang
signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur, dan pengrajin
lebih merupakan ketrampilan fisik. Sedangkan pelatihan
Modul PLPG Penjaskes 2013
118
akuntan, engineer, dokter lebih didominasi oleh muatan
intelektual; (3) Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa
yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi
berorientasi kepada pemberian layanan jasa untuk kepentingan
umum daripada kepentingan sendiri.
Ciri tambahan adalah ciri yang kehadirannya tidak
mutlak harus ada. Jika ciri-ciri tambahan ini dipenuhi maka akan
semakin memperkokoh kualitas atau eksistensi profesi dari
pekerjaan tersebut. Ada tiga yang termasuk dalam katagori ciri
tambahan, yaitu (1) Adanya proses lisensi atau sertifikat. Ciri ini
lazim pada banyak profesi namun tidak selalu perlu untuk status
profesional. Dokter diwajibkan memiliki sertifikat praktek
sebelum diizinkan berpraktek. Namun pemberian lisensi atau
sertifikat tidak selalu menjadikan sesuatu yang mutlak sebagai
syarat profesi; (2) Adanya organisasi profesi yang mewadahi
para anggotanya sebagai sarana komunikasi dan sarana
perjuangan untuk memajukan profesinya dan kesejahteraan
anggotanya; (3) Otonomi dalam pekerjaannya. Profesi memiliki
otonomi atas penyediaan jasanya dan tindakan-tindakan atas
pengambilan keputusan dalam profesinya. Kode etik juga
merupakan ciri tambahan dalam sebuah profesi. Kode etik
disusun oleh organisasi profesi. Jadi kehadirannya terkait
dengan keberadaan organisasi yang juga masuk dalam katagori
ciri tambahan.
b. Guru Sebagai Profesi
Apakah pekerjaan atau jabatan guru sebagai sebuah
profesi? Jabawannya ya. Hal ini didasarkan kepada beberapa
karakteristik sebagai berikut:
1) Pekerjaan guru memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang
menentukan (penting) dalam masyarakat.
2) Untuk bekerja sebagai guru dibutuhkan keterampilan atau
keahlian tertentu (khusus).
3) Keahlian dalam pekerjaan guru didasarkan pada teori dan
metode ilmiah.
4) Ilmu keguruan memiliki batang tubuh disiplin ilmu yang
jelas, sistematik dan eksplisit.
5) Pekerjaan guru memerlukan pendidikan tingkat perguruan
tinggi dengan waktu yang cukup lama.
6) Guru memiliki organisasi profesi sebagai wadah untuk
memperkuat kualitas profesinya.
7) Guru memiliki kode etik sebagai landasan dalam bekerja.
8) Dalam menjalankan tugasnya, para pendidik/guru
berpegang teguh kepada kode etik yang dikontrol oleh
organisasi profesi.

Modul PLPG Penjaskes 2013
119
9) Setiap anggota yang bekerja sebagai guru mempunyai
kebebasan dalam memberikan judgement terhadap masalah
profesi yang dihadapinya.
10) Guru memiliki otonomi dan bebas dari campur tangan pihak
luar dalam melaksanakan tugasnya memberi layanan kepada
masyarakat.
11) Pekerjaan guru mempunyai prestise yang tinggi dalam
masyarakat
12) Guru memperoleh imbalan (penghargaan finansial) yang
cukup memadai.
3. Kompetensi Guru
a. Profil Pendidik Guru
Luangkanlah waktu anda sejenak saja untuk
membayangkan peran seorang guru di dalam masyarakat. Kita
akan melihat hasil kerja guru melalui orang-orang yang telah
dididik oleh para guru. Mereka mampu menciptakan arsitektur
bangunan-bangunan menjulang tinggi, memproduksi teknologi
canggih, sebagai contoh nyata. Bukti hasil kerja guru banyak dan
begitu besar. Tentunya, disamping keberhasilan masih banyak
pula masalah yang perlu dibenahi, terutama masalah peran
pendidik dalam membangun mental bangsa yang sehat,
membangun karakter bangsa yang akan membawa kedamaian.
Masalah ini berkaitan dengan pendidikan, merupakan beban
berat yang harus dipanggul oleh para guru. Kekecewaan
terhadap karya guru banyak pula didengar. Perilaku guru yang
tidak senonoh, korupsi yang terjadi di lingkungan pendidikan,
premanisme yang berkembang di sekolah. Lantas, sosok guru
seperti apa yang dapat membantu negara mengatasi masalah
yang sangat kompleks dalam rangka menyiapkan pemimpin
masa depan. Diharapkan para guru sendirilah yang harus
memikirkan kembali, bermenung sejenak tentang dirinya dan
profesi yang diembannya.
Mahmud Khalifah menuliskan (2009) tentang guru yang
dirindukan: Guru adalah orang yang bersamudrakan ilmu
pengetahuan. Ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan
manusia, ia adalah musuh kebodohan, dan penghapus
kejahiliyahan. Ia juga mencerdaskan akal dan mencerahkan
akhlak.
Begitu mulianya seorang guru dimata Khalifah, guru
adalah orang yang pantas mendapatkan penghormatan.
Sungguh, orang yang mendidik anak-anak dengan kesungguhan
berhak untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan.
Terpujilah engkau guru seperti yang dinyanyi anak-anak kita.
Bagaimana mungkin bisa menghasilkan output siswa
yang baik jika yang mengajar punya kualitas kurang?
Modul PLPG Penjaskes 2013
120
Profil pendidik guru mewakili gambaran tujuan
pendidikan nasional yang akan dicapai, yakni menyiapkan anak
yang berkembang menjadi dewasa secara utuh, cerdas, beriman,
taqwa dan berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohaninya. Untuk
mencerdaskan anak didiknya guru haruslah mencerdaskan
dirinya dahulu. Cerdas dibidang spiritual, yang dapat
membimbing anak didiknya menjadi manusia yang beriman dan
berakhlak mulia. Cerdas menguasai, menerapkan dan
mengembangkan keilmuannya. Cerdas dalam merawat
kesehatan jasmani-rohani dan sosialnya sehingga patut ditiru.
Dengan demikian profil guru pendidik adalah guru yang
memiliki pribadi cerdas unggul.
Sebutan pendidik dan guru di dalam kehidupan sehari-
hari sering diartikan sama maksudnya. Secara etimologi
pendidik adalah orang yang melakukan bimbingan. Pengertian
ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang
melakukan kegiatan dalam bidang pendidikan. Pendidik
memiliki batasan tugas yang lebih luas dalam pengertian awam,
sedangkan guru lebih spesifik dimana tugasnya lebih jelas.
Pendidik bisa siapa saja yang tertarik membantu
mengembangkan orang lain dan waktu dan tempat tidak
terbatas. Dalam bahasan ini digunakan kata pendidik guru.
Karakteristik pendidik guru di antaranya adalah sebagai berikut:
Pendidik yang juga guru, adalah seseorang yang dituntut
untuk komitmen terhadap profesinya, orang yang selalu
berusaha memperbaiki dan memperbaharui cara kerjanya
sesuai dengan tuntutan zaman
Pendidik guru adalah orang yang memiliki ilmu, yang
mampu menangkap hakikat sesuatu, orang yang mampu
menjelaskan hakikat dalam pengetahuan yang diajarkannya.
Pendidik guru adalah orang yang kreatif, yang mampu
menyiapkan peserta didiknya agar mampu berkreaasi,
sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk
tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan
alam sekitarnya.
Seorang guru yang berusaha menularkan penghayatan
akhlak atau kepribadian kepada peserta didiknya.
Pendidik guru adalah orang yang berusaha mencerdaskan
peserta didiknya, melatihkan berbagai keterampilan mereka
sesuai bakat, minat dan kemampuan.
Pendidik guru adalah seorang yang beradab sekaligus
memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban
yang berkualitas dimasa depan.

Modul PLPG Penjaskes 2013
121
Perilaku guru hendaknya dapat memberikan pengaruh
baik kepada para anak didiknya, yang dapat mempengaruhi dan
merubah kehidupan anak ke arah yang lebih baik.
Pribadi unggul yang efektif
Adalah Guru Cerdas Berakhlak Mulia
Dan Guru untuk anak-anak yang memiliki masa depan
Guru biasa adalah yang mampu membagi pengetahuan
kepada anak didiknya
Guru baik yang mampu menjelaskan
Dan yang mampu mendemonstrasikan
Guru luar biasa adalah yang mampu memberi inspirasi
anak didiknya menjadi cerdas dan sukses di masa depan

b. Tanggung Jawab Keprofesionalan
1) Makna tanggung jawab
Tanggungjawab menurut kamus bahasa Indonesia
adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatu. Sehingga
bertanggungjawab adalah kewajiban menanggung, memikul,
menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan
menanggung akibatnya. Menurut Widagdo (2001)
Tanggungjawab adalah kesadaran akan tingkahlaku atau
perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Tanggungjawab juga berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran dan kewajiban. Jenis tanggungjawab
tersebut yakni; tanggungjawab terhadap diri sendiri,
tanggungjawab terhadap keluarga, tanggungjawab
masyarakat, tanggungjawab bangsa dan Negara, dan
tanggungjawab terhadap tuhan.
Tanggungjawab erat kaitannya dengan kewajiban.
Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap
seseorang. Kewajiban merupakan bandingan hak, dan dapat
juga tidak mengacu hak. Maka tanggung jawab dalam hal ini
adalah tanggungjawab terhadap kewajibannya.
Pembagian kewajiban bermacam-macam dan berbeda-
beda. Setiap keadaan hidup menentukan kewajiban yang
tertentu. Kedudukan, status dan peranan menentukan
kewajiban seseorang. Kewajiban ini ada yang terbatas dan
tidak terbatas. Kewajiban terbatas tanggungjawabnya sama
untuk semua orang. Misalnya yang berkaitan hukum. Yang
melanggar undang-undang sanksinya sama. Kewajiban tidak
terbatas, tanggungjawabnya memiliki nilai yang lebih tinggi
sebab dilakukan oleh suara hati nurani. Seperti guru
melaksanakan tugasnya dengan tulus dan ikhlas tanpa
pamrih di luar jadwal yang seharusnya.
Modul PLPG Penjaskes 2013
122
2) Tanggung jawab Guru, Kesadaran, Pengabdian dan
Pengorbanan
Seseorang diharapkan melaksanakan tanggungjawab
atas kesadaran. Kesadaran adalah keinsyafan akan
perbuatannya. Sadar artinya merasa, ingat (kepada keadaan
sebenarnya) keadaan ingat akan dirinya, tahu dan mengerti.
Jadi kesadaran adalah hati yang terbuka atau pikiran yang
telah terbuka tentang apa yang telah dikerjakan. Seperti guru
memilih pekerjaan sebagai guru atas kesadaran diri yang
tinggi, sehingga ia akan dapat mempertanggungjwabkan
tugasnya kepada diri sendiri, tidak suka mengeluh dan
menyesali pilihannya. Diapun tahu kalau pihannya itu akan
dipertanggunjawabkan kepada keluarga, negara, masyarakat
dan Tuhannya.
Guru saat melaksanakan kewajibannya mengelola
pembelajaran di kelas, seringkali harus mengeluarkan dana
sendiri untuk membeli kapur tulis,atau kebutuhan belajar
lainnya karena barang belum tersedia. Rasa tanggungjawab
yang tinggi terhadap tugas yang tidak terbatas, kadangkala
kita harus berkorban materi atau nonmateri. Pengorbanan
artinya memberikan secara ikhlas, harta, benda, waktu,
tenaga, pikiran, bahkan nyawa, demi cinta atas sesuatu
kesetiaan dan kebenaran.
Pengorbanan dalam melaksanakan tanggungjawab
juga memiliki makna pengabdian. Perbedaan pengertian
antara pengorbanan dan pengabdian sering tidak begitu jelas.
Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan.
Pengorbanan merupakan akibat pengabdian. Pengorbanan
diserahkan secara ikhlas, tanpa pamrih, tanpa perjanjian,
tanpa ada transaksi, kapan saja siap, saat diperlukan.
Pengabdian merupakan perbuatan baik yang dapat
berupa pikiran ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan
dan kecintaan, rasa hormat atau suatu ikatan dan semuanya
dilakukan dengan ikhlas. Timbulnya pengabdian itu hakikat
dari rasa tanggung jawab. Menjadi guru merupakan
pengabdian yang tulus dan ikhlas demi kecintaan pada
bangsa dan Negara ini, yang akan dilaksanakan dengan sikap
tanggungjawab yang tinggi.
Cir-ciri khas orang yang mempunyai tanggung jawab
pribadi yang tinggi:
Mengerjakan pekerjaan yang diberikan kepadanya secara
tuntas.
Selalu berusaha menghasilkan yang terbaik
Merasa bertanggung jawab atas semua yang
dihasilkannya baik yang buruk atau yang jelek

Modul PLPG Penjaskes 2013
123
Cenderung menyalahkan diri sendiri, kalau ada hal-hal
yang kurang tepat-salah
Ciri khas dari orang yang tidak mempunyai rasa
tanggung jawab yang tinggi:
Santai, tidak disiplin, kurang menghargai waktu.
Sering tidak mengerjakan suatu pekerjaan secara tuntas.
Hal-hal yang sering terjadi sering dilihat sebagai akibat
dari keadaan dibanding dari tindak-tanduk sendiri.
Berkembangnya rasa tanggung jawab pribadi
disebabkan sebagian kecil oleh faktor bawaan dan sebagian
dari faktor lingkungan pendidikan dan lingkungan rumah.
Terbentuknya sikap bertanggungjawab karena adanya proses
latihan dan pembiasaan yang akhirnya menjadi alami,
menyatu dalam bentuk kesadaran diri.
3) Kewajiban guru profesional
Apa yang harus dilaksanakan guru dalam tugas
keprofesionalannya telah tercantum dengan jelas di dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
Tentang Guru dan Dosen Pasal 20, seperti yang dikutip
berikut ini. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru
berkewajiban:
merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses
pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan
mengevaluasi hasil pembelajaran;
meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik
dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar
pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan
kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan
status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan,
hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan
etika; dan
memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan
bangsa;
Tanggungjawab keprofesionalan juga dapat meliputi:
Tanggungjawab moral, tenaga professional berkewajiban
menghayati, mengamalkan Panca sila, mewariskan pada
peserta didiknya.
Tanggungjawab bidang pendidikan, bertanggungjawab
terhadap proses pendidikan, mengelola, melakukan
bimbingan.
Modul PLPG Penjaskes 2013
124
Tanggungjawab kemasyarakan, ikut bertanggungjawab
memajukan masyarakat secara umum terutama berkaitan
dengan pendidikan.
Tanggungjawab keilmuan, di dalam melaksanakan tugas
profesi sebagai guru bertanggungjawab memajukan ilmu
pengetahuan dan tekonologi, terutama bidang
keilmuannya sendiri.
c. Kompetensi Guru
Pengertian kompetensi guru berdasarkan Undang-
Undang Republik Indonesia nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru
dan Dosen Pasal 1, butir c. adalah sebagai berikut:
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan
dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan.
Selanjutnya jenis kompetensi guru tersebut lebih
ditegaskan pada pasal 10:
1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi.
2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 19/2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, pendidik adalah agen
pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi,
yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan
sosial. Dalam konteks itu, maka kompetensi guru dapat diartikan
sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang
diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh
tanggung jawab yang dimiliki seseorang guru untuk memangku
jabatan guru sebagai profesi. Keempat jenis kompetensi guru
yang dipersyaratkan beserta subkompetensi dan indikator
esensialnya diuraikan sebagai berikut.
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan
personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,
dan berakhlak mulia.
Secara rinci setiap elemen kepribadian tersebut dapat
dijabarkan menjadi subkompetensi dan indikator esensial
sebagai berikut:
1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil.
Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: bertindak
sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan norma

Modul PLPG Penjaskes 2013
125
sosial; bangga sebagai pendidik; dan memiliki konsistensi
dalam bertindak sesuai dengan norma.
2) Memiliki kepribadian yang dewasa. Subkompetensi ini
memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian
dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja
sebagai pendidik.
3) Memiliki kepribadian yang arif. Subkompetensi ini memiliki
indikator esensial: menampilkan tindakan yang didasarkan
pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat
dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan
bertindak.
4) Memiliki kepribadian yang berwibawa. Subkompetensi ini
memiliki indikator esensial: memiliki perilaku yang
berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki
perilaku yang disegani.
5) Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan.
Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: bertindak
sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka
menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta
didik.
Para siswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan
guru, mereka juga belajar dari totalitas kepribadian gurunya.
Kepribadian guru yang tidak efektif akan menghalangi
pembelajaran yang efektif. Beberapa kepribadian buruk guru
yang sering ditemukan di sekolah, ditulis oleh Sukadi,
diantaranya;
sering meninggalkan kelas
tidak menghargai siswa
pilih kasih terhadap siswa
menyuruh siswa menulis di papan tulis-tidak disiplin
kurang memerhatikan siswa
materialistis
Dengan ditetapkannya seperangkat kompetensi guru,
masyarakat sangat berharap terjadi perubahan perilaku
mengajar guru di kelas. Menurut Diaz dkk (2006 keberadaan
guru di kelas hendaknya menjadikan ia sebagai model belajar
dari peserta didiknya. Guru sebagai model diantaranya
menunjukkan;
Guru sebagai orang yang ahli di bidangnya.
Guru sebagai contoh pembentukan moral
Guru sebagai orang memiliki kepedulian dan melakukan
tindakan
Guru sebagai figure pemimpin yang memiliki otoritas
Guru sebagai fasilitator yang selalu siap membatu siswanya
Guru sebagai delagator
Modul PLPG Penjaskes 2013
126
Mulyana lebih memperluas peran guru professional yang
akan mampu menciptakan kelas untuk anak-anak berprestasi
unggul, yang merupakan ramuan dari bebagai kompetensi guru.
Guru sebagai pendidik
Guru sebagai pengajar
Guru sebagai pembimbing
Guru sebagai pelatih
Guru sebagai penasihat
Guru sebagai pembaharu (innovator)
Guru sebagai model dan teladan
Guru sebagai pribadi
Guru sebagai peneliti
Guru sebagai pendorong kreativitas
Guru sebagai pembangkit pandangan
Guru sebagai pekerja rutin
Guru sebagai pemindah kemah
Guru sebagai pembawa cerita
Guru sebagai aktor
Guru sebagai emancipator
Guru sebagai evaluator
Guru sebagai pengawet
Guru sebagai kulminator
B. Pengembangan Profesional Guru
1. Citra Diri Positif
a. Makna Citra Diri
Citra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
suatu gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi,
produk maupun suatu lembaga. Sedangkan citra diri (self-
image), diartikan sebagai pandangan dalam berbagai peran
(sebagai anak, orangtua, guru, dsb). Self-image menurut kamus
Random House memiliki pengertian gagasan, konsepsi atau
gambaran mental diri, self-estem, respect yang menguntungkan
citra diri.
Di dalam kajian psikologi kepribadian, citra diri sebagai
konsep diri tentang individu. Citra diri sebagai salah satu unsure
penting dalam penilaian diri sendiri.menunjukkan siapa diri kita
sebenarnya. Bagaimana Anda melihat diri sendiri. Ini adalah
gambaran diri yang telah dibangun dari waktu ke waktu. Apa
harapan Anda? Apa yang anda pikirkan dan rasakan? Apa yang
anda telah lakukan sepanjang hidup anda dan apa yang Anda
ingin lakukan.
Pandangan pribadi yang kita pahami tentang diri kita
sendiri merupakan citra mental atau potret diri. Menggambarkan
karakteristik diri, termasuk cerdas, cantik, jelek, berbakat, egois

Modul PLPG Penjaskes 2013
127
dan baik. Ciri-ciri membentuk representative, kolektif asset dan
yang bisa teramati. Citra diri positif memberikan keyakinan ke
pada seseorang dalam pikiran dan tindakan, dan citra diri
negative membuat seseorang ragu akan kemampuan mereka.
b. Citra Diri Guru
Citra Diri Guru dapat dimaksudkan sebagai gambaran
tentang diri pribadi guru yang diberikan appresiasi oleh
masyarakat. Penilaian yang diberikan oleh masyarakat terhadap
guru bisa positif atau negatif tergantung kepada kepribadian
maupun karakter yang muncul sebagai wujud profesi guru
secara utuh.
Citra Diri Positif (positive self-image) dapat membangun
dan mempermudah karir seseorang, karena dia memandang
positif kepada kemampuan diri, melihat kelebihan diri, bukan
kekurangannya. Dengan berpikir positif pada diri, membuat
dirinya berharga.
c. Pentingnya Citra Diri Positif
Anda adalah sebagaimana yang Anda pikirkan tentang
diri Anda sendiri Bingung? Versi aslinya, mungkin malah lebih
mudah dipahami: You are what you think. Maksudnya adalah
jika kita memiliki citra diri positif, maka kita akan mengalami
berbagai macam hal positif sesuai dengan apa yang kita pikirkan.
Banyak ahli percaya bahwa orang yang memiliki citra positif
adalah orang yang beruntung. Citra diri yang positif membuat
mereka menikmati banyak hal yang menguntungkan,
diantaranya orang sering diberi kepercayaan untuk mengemban
tugas tertentu dan sering pula mendapatkan pelayanan secara
khusus. Selanjutnya dengan citra diri positif akan dapat
membangun rasa percaya diri dan meningkatkan rasa juang.
Membangun Percaya Diri. Citra diri yang positif secara
alamiah akan membangun rasa percaya diri, yang merupakan
salah satu kunci sukses. Guru yang mempunyai citra diri positif
tidak akan berlama-lama menangisi nasibnya yang sepertinya
terlihat buruk. Citra dirinya yang positif mendorongnya untuk
melakukan sesuatu yang masih dapat ia lakukan. Ia akan fokus
pada hal-hal yang masih bisa dilakukan, bukannya pada hal-hal
yang sudah tidak bisa ia lakukan lagi. Dari sinilah, terdongkrak
rasa percaya diri orang tersebut.
Meningkatkan Daya Juang. Dampak langsung dari citra
diri positif adalah semangat juang yang tinggi. Guru yang
memiliki citra diri positif, percaya bahwa dirinya jauh lebih
berharga daripada masalah, ataupun penyakit yang sedang
dihadapinya. Ia juga bisa melihat bahwa hidupnya jauh lebih
indah dari segala krisis dan kegagalan jangka pendek yang harus
dilewatinya. Segala upaya dijalaninya dengan tekun untuk
Modul PLPG Penjaskes 2013
128
mengalahkan masalah yang sedang terjadi dan meraih kembali
kesuksesan yang sempat. Inilah daya juang yang lebih tinggi
yang muncul dari guru dengan citra diri positif.
d. Manfaat Citra Diri Positif
Seseorang yang memiliki citra diri yang positif akan
mendapatkan berbagai manfaat, baik yang berdampak positif
bagi dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya.
Manfaat-manfaat yang terasakan oleh si empunya citra diri
positif dan lingkungannya tersebut adalah:
Guru akan membawa Perubahan Positif
Guru yang memiliki citra diri positif senantiasa mempunyai
inisiatif untuk menggulirkan perubahan positif bagi
lingkungan tempat ia berkarya. Mereka tidak akan
menunggu agar kehidupan menjadi lebih baik, sebaliknya,
mereka akan melakukan perubahan untuk membuat
kehidupan menjadi lebih baik. Perubahan positif tidak hanya
terasakan oleh dirinya, namun juga oleh lingkungannya.
Mengubah Krisis Menjadi Keberuntungan
Selain membawa perubahan positif, guru yang memiliki citra
positif juga mampu mengubah krisis menjadi kesempatan
untuk meraih keberuntungan. Citra diri yang positif
mendorong guru untuk menjadi pemenang dalam segala hal.
Menurut orang-orang yang bercitra diri positif, kekalahan,
kegagalan, kesulitan dan hambatan sifatnya hanya
sementara. Fokus perhatian mereka tidak melulu tertuju
kepada kondisi yang tidak menguntungkan tersebut,
melainkan fokus mereka diarahkan pada jalan keluar.
Seringkali kita memandang pada pintu yang tertutup terlalu
lama, sehingga kita tidak melihat bahwa ada pintu-pintu
kesempatan lain yang terbuka untuk kita.
Kita seringkali memandang dan menyesali kegagalan,
krisis dan masalah yang menimpa terlalu lama, sehingga kita
kehilangan harapan dan semangat untuk melihat kesempatan
lain yang sudah terbuka bagi kita.
Sebagai contoh, John Forbes Nash, pemenang nobel di
bidang ilmu pengetahuan ekonomi dan matematika, justru
merasa tertantang ketika mengalami soal matematika atau
permasalahan ekonomi yang sulit. Kesulitan-kesulitan ini
menurut Forbes, merupakan kesempatan untuk membuktikan
kemampuannya memecahkan masalah tersebut. Kesulitan dan
masalah dalam matematika dan ekonomi, mendorongnya untuk
mencari cara-cara baru yang lebih efektif dan kreatif sebagai
solusi bagi permasalahan tersebut.



Modul PLPG Penjaskes 2013
129
e. Bagaimana caranya?
Setelah kita menyadari pentingnya memiliki citra diri
positif, dan manfaat memiliki citra diri positif, tentunya kita juga
ingin tahu bagaimana membangun citra diri yang positif. Berikut
ini hal-hal yang harus dilakukan untuk membentuk citra diri
yang positif:
Persiapan
Salah satu cara membangun citra diri positif adalah melalui
persiapan. Dengan persiapan yang cukup, kita menjadi lebih
yakin akan kemampuan kita meraih sukses. Keyakinan ini
merupakan modal dasar meraih keberuntungan. Dengan
melakukan persiapan, kita sudah berhasil memenangkan
separuh dari pertarungan. Persiapan menuntun kita untuk
mengantisipasi masalah, mencari alternatif solusi, dan
menyusun strategi sukses. Persiapan dapat diwujudkan
dengan mencari ilmu pengetahuan yang mendukung kita
dalam menyelesaikan suatu masalah.
Berpikir Unggul
Untuk membangun citra diri yang positif, kita harus berpikir
unggul. Cara berpikir unggul seperti ini akan mendorong kita
untuk senantiasa berusaha menghasilkan karya terbaik.
Mereka tidak akan berhenti sebelum mereka dapat
mempersembahkan sebuah mahakarya. Semua ini dapat
diraih guru jika selalu berpikir unggul. Setiap kali akan
berciptakarya, yang dipikirkan guru adalah kemenangan atas
keberhasilan belajar anak didiknya. Selalu berpikir kreatif
dan inovatif.
Belajar Berkelanjutan
Selain melalui persiapan yang tepat serta berpikir unggul,
citra diri positif juga bisa dibangun melalui komitmen pada
pembelajaran berkelanjutan. Hasil belajar akan membawa
perubahan positif dengan menambah nilai bagi orang yang
berhasil mendapatkan pengetahuan ataupun keterampilan
baru, yang bisa dijadikannya modal untuk maju meraih
sukses. Tanpa semangat untuk senantiasa mengembangkan
diri, guru yang sudah memiliki citra positif bisa saja lalu
kehilangan citranya tersebut karena tidak dianggap unggul
lagi atau tidak dianggap mampu menambah nilai bagi
masyarakat sekitar melalui karya-karya yangdihasilkannya.
Seringkali guru yang sudah lama mengajar maupun yang
berada di tingkat atas merasa tak perlu lagi untuk belajar. Ia
memandang remeh untuk belajar lagi, ia pikir, Toh, aku sudah
sukses. Tambahan, orang seperti ini lebih enggan lagi untuk
belajar pada orang yang lebih rendah dari dirinya. Hasilnya,
ketika ia dirundung masalah, keberhasilannya pun melorot.
Modul PLPG Penjaskes 2013
130
Guru yang lebih muda yang terus belajar akan menggantikannya
dan menangani masalah dengan lebih baik.
Hal yang paling penting juga dalam membahas tentang
citra diri ini adalah konsep diri, atau harga diri. Menurut
Bandura, jika selama ini kita merasa hidup telah sesuai dengan
standar-standar yang kita tentukan dan telah memperoleh
imbalan atau penghargaan, itu berarti kita telah memiliki konsep
diri (harga diri).
Guru yang memiliki kemampuan membangun citra diri
positif akan sukses dan mudah membangun karier. Ia selalu
melihat kelebihan diri, bukan kekurangan. Guru mampu
membuat dirinya berharga dimata orang lain. Contohnya antara
lain citra kejujuran, kesabaran, ketegasan, kedisiplinan dan
wibawa merupakan citra positif yang disukai siapapun. Di dalam
membangun citra diri ini dibutuhkan kemauan dan keseriusan
dan memang tidak mudah, sering tidak akan terlihat langsung
hasilnya. Karena citra diri merupakan produk pembelajaran dari
orangtua, pengasuh yang memberikan kontribusi terbesar pada
citra diri kita. Pengalaman lain dari guru, teman dan keluarga,
yang menjadi pantulan cermin dari orang yang berpengaruh
pada perkembangan kepribadian secara utuh.
2. Etika
Seringkali di dalam kehidupan sehari-hari kita
mendengarkan maupun menggunakan kata etika, etis, etiket, moral,
maupun akhlak.
Coba kita perhatikan kalimat-kalimat berikut ini!
Guru PPL itu tidak punya etika, masuk ruangan tidak
mengucapkan salam
Rupanya, moral guru itu rendah. Masak, anak didiknya ditendang
dan dimaki-maki karena tidak ikut upacara
Tidak etislah kalau kita yang menyampaikan perihal kekurangan
bapak pengawas
Mahasiswa supaya memakai pakaian yang pantas di hari wisuda,
jangan kita dikira tidak tahu etiket
Pada kalimat-kalimat di atas kita bisa melihat cara
berperilaku dari manusia yang dianggap tidak baik dan benar.
Mengapa kita sebagai guru perlu memahami tatacara hidup ini?
Perlu beretika, bermoral dan berakhlak baik?
Seperti yang kita ketahui, bahwa manusia adalah makhluk
ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia diberi akal budi,
perasaan dan kehendak. Dengan akal manusia bisa berpikir, dengan
rasa manusia bisa mengatur keharmonisan hidup ini, dengan
kehendak manusia bisa banyak berbuat amal kebaikan dan
membuat karya. Karunia Allah jua, manusia mampu berbahasa, bisa
mendidik dan dididik, berkehendak untuk menjadikan hidup ini

Modul PLPG Penjaskes 2013
131
lebih bermakna. Dengan kelebihan ini, manusia tentunya dapat
berperilaku baik (kepribadian) setiap saat.
Untuk memelihara keseimbangan kehidupan pribadi
maupun kehidupan bersama (sosial), manusia perlu mengetahui
aturan-aturan, nilai-nilai, norma-norma umum, maupun aturan
ajaran agamanya. Manusia yang selalu berpikir kritis akan mampu
menimbang perilaku, mana yang berdampak baik dan berdampak
buruk. Kesadaran diri, harus berperilaku bagaimana ini, yang
dikenal dengan ilmu etika.
Berikut ini, akan dibahas tentang etika, moral dan akhlak
secara singkat. Dimulai dari pengertian tentang etika, macam dan
hubungan etika dengan moral, etiket dan akhlak, sehingga
membawa kita pada suatu pengertian guru sebagai makhluk yang
beretika dan berakhlak mulia.
a. Etika dan Etiket
Etika yang dalam bahasa Inggris di sebut ethics. Secara
etimologi, etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti watak
kesusilaan atau adat. Secara terminologi etika adalah cabang
filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan
manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Dalam
batasan filsafat, Immanuel Kant yang dikutip dari Anshari (1982),
menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencari
jawaban dari empat persoalan pokok, salah satunya dijawab oleh
etika. Persoalan tersebut berkaitan dengan, Apakah yang boleh
dikerjakan manusia?Suseno dalam membahas etika dasar
(1997), menyatakan bahwa etika adalah ilmu yang mencari
orientasi. Salah satu kebutuhan fundamental manusia adalah
orientasi. Etika sebagai sarana orientasi bagi manusia dalam
menjawab pertanyaan: bagaimana saya harus hidup dan
bertindak? Begitu banyak yang dapat memberitahu kita apa yang
seharusnya kita lakukan; orangtua, guru, adat istiadat dan
tradisi, teman. Tetapi apakah benar apa yang mereka katakan?
Dan bagaimana kalau mereka masing-masing memberi nasihat
yang berbeda? Lalu siapa yang harus diikuti? Dalam situasi
seperti ini etika akan membantu kita untuk mencari orientasi.
Tujuannya agar kita tidak hidup dengan cara ikut-ikutan.
Etika sebagai ilmu tentang kesusilaan, yang menentukan
bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat, yang
dapat memahami apa yang baik dan yang buruk. Arti susila
dalam etika dimaksudkan kelakuan atau perbuatan seseorang
bernilai baik, sopan menurut norma-norma yang dianggap baik.
Etiket adalah tata cara dalam masyarakat, sopan dalam
memelihara hubungan baik antara sesama manusia. Arti etiket
disini sama dengan adat kebiasaan, yaitu sesuatu yang dikenal,
diketahui dan diulang-ulangi serta menjadi kebiasaan dalam
Modul PLPG Penjaskes 2013
132
masyarakat, berupa kata-kata atau macam-macam bentuk
perbuatan manusia dalam berinteraktif dengan manusia lainnya.
Agar seseorang dapat diterima oleh kelompok masyarakat
tertentu maka ia harus memahami etiket pergaulan berlaku pada
masyarakat itu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering ditutut untuk
membawakan diri kita berperilaku sesuai dengan etiket tertentu.
Seperti etiket berbusana, etiket di meja makan, etiket dalam
berbicara, mengikuti upacara resmi, saat menghadapi atasan,
dalam perjamuan resmi, dan sebagainya. Dengan demikian,
secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa etiket
merupakan aturan sopan santun dalam pergaulan hidup
bermasyarakat.
Etika sebagai bagian (cabang) filsafat menurut beberapa
ahli dinyatakan sebagai berikut:
The Liang Gie; etika adalah filsafat tentang pertimbangan
moral
Harry Hamersma; etika dan estetika merupakan filsafat
tentang tindakan
Aristoteles, memasukkan etika ke dalam cabang filsafat
praktis; ilmu etika yang mengatur kesusilaan dan kebahagian
dalam hidup perseorangan.
Menurut Suseno, ada empat alasan mengapa manusia
perlu beretika: Pertama, kita hidup dalam masyarakat yang
semakin pluralistik. Perlu kesatuan tatanan normatif. Kedua, kita
hidup dalam masa transformasi masyarakat yang sangat cepat.
Dalam transformasi ekonomi, sosial, intelektual, dan budaya itu
nilai budaya tradisional tertantang. Perubahan-perubahan
budaya terjadi begitu cepat akibat modernisasi. Dalam situasi
seperti ini, etika membantu kita agar jangan kehilangan orientasi,
dapat membedakan antara yang hakiki dan apa yang boleh
berubah dan dengan demikian tetap sanggup untuk mengambil
sikap yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, dengan etika
kita dapat menghadapi ideologi-ideologi baru dengan kritis dan
objektif untuk membentuk penilaian sendiri, agar kita tidak
mudah terpancing. Etika juga membantu agar kita jangan naif
atau ekstrem, tidak cepat bereaksi, terhadap suatu pandangan
baru, menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum biasa.
Keempat, etika juga perlu oleh agama untuk memantabkan
pemeluknya dalam keyakinan dan keimanan.
Dengan memperhatikan manfaat etika, diharapkan peran
Guru di manapun, dalam situasi apapun keberadaannya tetaplah
sebagai pembimbing, pembina perilaku, dan sekaligus model
berperilaku manusia beretika. Karena ini bagian dari tanggung
jawab sebagai pendidik.

Modul PLPG Penjaskes 2013
133
b. Moral dan Etika
Moral berasal dari kata latin mos jamaknya moses yang
berarti adat atau cara hidup. Berarti etika sama dengan moral?
Magnis Suseno (1987) membedakannya. Ajaran moral
dinyatakan Suseno sebagai wejangan, khotbah, peraturan lisan
atau tulisan tentang bagaimana manusia harus hidup dan
bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sedangkan etika
bukanlah ajaran, tetapi pemikiran kritis dan mendasar tentang
ajaran dan pandangan moral. Etika adalah ilmu, yang membuat
kita mengerti tentang ajaran tertentu, dan bagaimana kita
mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan
ajaran moral.
Kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia
sebagai manusia. Bukan berdasarkan perannya, seperti guru,
olahragawan, dai, pendeta, dokter, dan lainnya. Norma-norma
moral adalah tolok ukur segi baik-buruknya sebagai manusia
dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.
c. Etika dan Akhlak
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq
atau al-khulq, yang secara etimologis berarti: a) tabiat, budi
pekerti; b) kebiasaan atau adat; c) keperwiraan, kesatriaan,
kejantanan; d) agama. Akhlak dalam konsep agama Islam adalah
sebagai bukti amaliah dari keimanan dan ketaqwaan seseorang.
Sebagai kita kita pahami etika adalah usaha manusia
untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk memecahkan
masalah hidup kalau ia mau baik. Etika secara umum dikenal
sebagai kesepakatan manusia secara bersama-sama terhadap
suatu norma yang jadi pedoman berperilaku. Bagi pemeluk
agama Islam cara berperilaku manusia tidak boleh terlepas dari
ajaran agamanya. Manusia berbuat bukan hanya untuk
kebahagiaan di dunia saja, melainkan juga untuk kebahagiaan di
akherat. Etika beragama di dalam agama Islam disebut dengan
akhlak. Perilaku umat Islam haruslah berpedoman pada ajaran
Alquran sebagai kitab suci dan cara pelaksanaan dalam
kehidupan sehari-hari mencontoh akhlak guru besar nabi
Muhammad SAW.
Akhlak dalam agama Islam memiliki makna yang lebih
mendalam dalam hidup manusia, yaitu cara manusia
berperilaku yang merupakan pantulan dari tingkat keimanan
hidup beragama. Berdasarkan kajian QS an-Nahl 16: 126 dan QS
asy-Syuura 42:/40, KH Achmad Satori Ismail menjelaskan ada
empat tingkatan akhlak dalam Islam. Pertama, akhlak sayyiah
(tercela). Yaitu, semua yang dilarang Islam berupa keburukan
atau kejahatan yang merugikan manusia dan kehormatannya,
atau yang merusak makhluk secara umum. Misalnya.
Modul PLPG Penjaskes 2013
134
Bergunjing, mengadu domba, dan menipu. Kedua, akhlah
hasanah (baik), adalah akhlak di mana kebaikan dibalas dengan
kebaikan dan kejahatan dibalas dengan kejahatan yang serupa.
Ketiga, akhlak karimah (mulia), yaitu berperilaku sebagaimana
yang diperintahkan Islam. orang yang selalu mampu memaafkan
orang lain, walaupun orang tersebut mampu membalas hal yang
tidak baik tersebut yang menimpa dirinya. Keempat, akhlak
adzimah (agung). Kalau pada akhlak karimah ketika
mendapatkan keburukan dari orang lain, cuma sampai
memaafkan tersebut. Tapi, akhlak agung meningkat lebih tinggi,
yaitu dengan berbuat baik kepada orang yang menzoliminya.
Bahkan mendoakan orang tersebut untuk hal yang baik.
Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam
Islam, sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu
berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang
mulia, yang disebut al-akhlaq al-karimah. Hal ini tercantum
antara lain dalam sabda Rasulullah SAW:
Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia (HR. Ahmad, Baihaqi dan Malik).
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang
yang paling baik akhlaknya (HR. Tirmizi).
Orang yang paling baik keislamannya ialah orang yang
paling baik akhlaknya (HR. Ahmad).
Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik adalah
sesuatu yang paling banyak membawa manusia ke dalam surga
(HR. Tirmizi).
Tidak ada sesuatu yang lebih berat dari timbangan orang
mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang paling baik
(HR. Tirmizi).
Akhlak Nabi Muhammad SAW disebut juga akhlak Islam.
Karena akhlak ini bersumber dari Al-Quran, dan Al-Quran
datangnya dari Allah SWT, maka akhlak Islam mempunyai ciri-
ciri tertentu yang membedakannya dengan akhlak ciptaan
manusia (etika, moral, adat, dll).
Ciri-ciri tersebut antara lain:
Kebaikannya bersifat mutlak, yaitu kebaikan yang
terkandung dalam akhlak Islam merupakan kebaikan yang
murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat, di
dalam lingkungan, keadaan, waktu, dan tempat apapun.
Kebaikannya bersifat menyeluruh, yaitu kebaikan yang
terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh
umat manusia di segala zamn dan di semua tempat.
Tetap, langgeng, dan mantap, yaitu kebaikan yang
terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh
perubahan waktu dan tempat atau perubahan kehidupan

Modul PLPG Penjaskes 2013
135
masyarakat.
Kewajiban yang harus dipatuhi, yaitu kebaikan yang
terkandung dalam akhlak Islam merupakan hukum yang
harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi
orang-orang yang tidak melaksanakannya.
Pengawasan yang menyeluruh. Karena akhlak Islam
bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat dari
akhlak ciptaan manusia, sehingga seseorang tidak berani
melanggarnya kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan
menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertobat dengan
sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatan yang
salah lagi. Ini trejadi karena agama merupakan pengawas
yang kuat. Pengawas lainnya adalah hati nurani yang hidup
yang didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing
oleh agama serta diberi petunjuk.
Sebagai guru yang beragama Islam tentu pedoman
berperilakunya, akan meniru akhlaq guru besar Muhammad
SAW. Yang selalu mengisi kehidupannya dengan kebaikan-
kebaikan yang akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan
akherat
d. Kode Etik Guru
Kode etik merupakan bagian dari perilaku dan
pengetahuan yang sangat penting yang harus dikuasai dan
dimiliki oleh seorang guru. Kode etik suatu profesi merupakan
norma-norma yang harus diperhatikan oleh setiap anggota
profesi khususnya profesi guru di dalam melaksanakan tugas
profesinya dan dalam kehidupan di masyarakat. Seorang guru
akan mengetahui tentang aturan-aturan yang boleh dan tidak
boleh dilakukan dalam melaksanakan profesinya sebagai
seorang guru.
Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus
diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan
tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma-
norma tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota
profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan profesinya dan
larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang
tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, melainkan
juga menyangkut tingkah lakau anggota profesi pada umumnya
dalam pergaulan sehari-hari di dalam masyarakat.
Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah
untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi profesi
itu sendiri. Secara umum tujuan mengadakan kode etik adalah
untuk:
menjunjung tinggi martabat profesi
menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya
Modul PLPG Penjaskes 2013
136
meningkatkan pengabdian para anggota profesi
meningkatkan mutu profesi
meningkatkan mutu organisasi profesi
e. Kode Etik Guru Indonesia
Kode etik guru Indonesia dapat dirumuskan sebagai
himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru yang
tersusun dengan baik dan sistematis dalam suatu sistem yang
utuh dan bulat. Fungsi kode etik guru Indonesia adalah sebagai
landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru warga
PGRI dalam menunaikan tugas pengabdiannya sebagai guru,
baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat. Dengan demikian maka Kode Etik
Guru Indonesia merupakan alat yang amat penting untuk
pembentukan sikap profesional para anggota profesi keguruan.
Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan
berpedoman pada dasar-dasar antara lain guru:
berbakti membimbing peserta didik untk membentuk
manusia Indonesia yang seutuhnya berjiwa Pancasila.
memiliki dan melaksanakan kejuruan profesional.
berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik
sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang
menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.
memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan
masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa
tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan
meningkatkan mutu dan martabat prosesinya.
memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan,
dan kesetiakawanan sosial.
secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu
organisasi PGRI sebagai saran perjuangan dan pengabdian.
melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
Sembilan kode etik guru ini kalau kita simak satu per satu
sudah mengandung nilai bagaimana menjadi guru yang
profesional.
3. Etos Kerja
Etos kerja menurut kamus besar bahasa Indonesia diartikan
sebagai semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan
seseorang atau suatu kelompok. Kalau dikaitkan dengan profesi
guru, etos kerja guru adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas
guru dalam menjalankan profesinya.
Orang yang bekerja dilingkungan pendidikan, pendidik dan
tenaga kependidikan, seharusnya tidak hanya melihat pekerjaannya

Modul PLPG Penjaskes 2013
137
sebagai tempat mencari nafkah. Ia harus melihatnya sebagai tugas
yang mengemban esensi pendidikan. Menurut Isjoni dan Suarman
(2003) pendidikan itu bukan hanya untuk hari ini dan esok,
melainkan membangun kehidupan jauh kedepan. Esensi
pendidikan dalam hal ini bagaimana mencerdaskan SDM,
masyarakat dan bangsa, sehingga mampu beradaptasi sekaligus
melakukan pembaharuan dalam kehidupannya. Ilmu pengetahuan
dan teknologi perlu dikuasai. Yang mampu mengusainya adalah
orang yang cerdas IQ, EQ, AQ, CQ dan SQ.
Sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan didapat
dari guru yang memiliki berbagai kecerdasan tersebut. Guru yang
berkualitas akan terbentuk jika memiliki etos kerja yang tinggi.
Menurut Jansen Sinamo ada delapan etos kerja unggulan yang perlu
dipahami, yang dapat dikembangkan oleh guru dalam bertugas.
Etos kerja tersebut sebagai berikut:
Kerja itu suci, kerja adalah panggilan ku, aku sanggup bekerja
benar.
Kerja itu sehat, kerja adalah aktualisasiku, aku sanggup bekerja
keras.
Kerja itu rahmat, kerja adalah terima kasihku, aku sanggup
bekerja tulus.
Kerja itu amanah, kerja itu tanggungjawabku, aku sanggup
bekerja tuntas.
Kerja itu seni/permainan, kerja adalah kesukaanku, aku sanggup
kerja kreatif.
Kerja itu ibadah, kerja adalah pengabdiaanku, aku sanggup
bekerja serius.
Kerja itu mulia, kerja adalah pelayananku, aku sanggup bekerja
sempurna.
Kerja itu kehormatan, kerja adalah kewajibanku, aku sanggup
bekerja unggul.
Inilah wujud kecerdasan IQ, EQ, AQ, CQ dan SQ bagi seorang
pendidik guru. Hasil pekerjaaannya mendidik jauh ke depan. Jadi,
tugas dan tanggungjawabnya bukan hanya pada saat itu dilakukan,
akan tetapi menyiapkan pemimpin masa depan. Biasanya tenaga
profesional jarang mempermasalahkan agar gajinya dinaikkan,
melainkan kinerjanya sendirilah yang mengharuskan orang lain
membayar mahal. Menurut Isjoni dan Suarman orang-orang
profesional tidak menuntut gaji besar, namun mereka membuat gaji
besar dari karyanya.
Kerja seperti apapun dalam kehidupan di muka bumi harus
dilihat dan dijalankan dalam suatu keseimbangan yang bernuansa
ibadah. Islam menekankan pentingnya masyarakat muslim secara
umum menghabis sepertiga hari mereka untuk bekerja, sepertiga
Modul PLPG Penjaskes 2013
138
lainnya untuk tidur dan istirahat, dan sepertiga lainnya untuk shalat,
bersenang-senang, aktivitas keluarga serta masyarakat.
Ujian muslim setelah berkomitmen terhadap etos kerja,
kemudian perlu dipikirkan mengenai bagaimana rejeki didapat dan
dimanfaatkan. Dalam surat Albaqarah 212, Allah mengatakan akan
memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendakinya. Dari
ayat tersebut yang perlu disadari adalah kendati Allah memberikan
rezeki lewat berbagai cara dan dalam jumlah yang tak terbatas,
tetapi itu tak berarti rezeki datang dengan sendirinya, etos kerja
harus ditumbuhkan.
Layak diperhatikan bagaimana pendapatan atau hasil orang
per orang yang berupa rezeki bisa diperoleh. Tentu akhirnya
kembali kepada beberapa besar usaha kita untuk memperoleh rezeki
itu. Allah SWT juga banyak berfirman agar rezeki itu dimanfaatkan
dengan baik. Ini berarti terlihat mata rantai suatu aliran pendapatan
dari satu orang keorang lainnya, sehingga akhirnya bagaikan bola
salju dan jadilah suatu pertumbuhan bagi orang tersebut baik secara
moral maupun material.
Sebagai guru muslim, kita layak merenungkan bahwa segala
rezeki yang Allah berikan kepada kita, harus dimanfaatkan secara
baik. Di samping itu manusia yang beradab pasti ingin bekerja keras
dan cerdas, berusaha mencari rezeki dengan dilandasi oleh etos
Islam.
Allah telah meletakkan di dalam prinsip-prinsip
penciptaannya, bahwa bekerja dan berusaha merupakan daya
rahasia kemajuan dan pergerakkan. Alam telah mengajarkan kepada
manusia bahwa segala yang ada di alam ini senantiasa bergerak,
berkembang, dan bekerja untuk membangun sistemnya.
Ajaran Islam amat menekankan etos kerja tanpa melupakan
aspek spritual. Dengan keduanya, Islam mendorong manusia untuk
membangun peradaban yang mempunyai nilai spritual.
Menyalakan etos kerja di tengah krisis bangsa adalah langkah
konkrit untuk perbaikan negeri ini. Kehormatan dan kemuliaan
datang dari kerja dan usaha untuk ibadah.
Etos Kerja Cerdas berlandasan Spritual dapat dikembangkan
lagi oleh guru dan implementasikannya dalam kehidupan sehari-
hari, yakni Etos kerja sebagai mental rohani. Bagaimana kita
memandang tugas kita guru dari segi mental rohani, agar
didapatkan kepuasan kerja, pahamilah hal berikut ini:
Kerja adalah rahmat, kerja panggilan, kerja aktualisasi, kerja
ibadah, kerja adalah seni, kerja merupakan kehormatan, kerja
pelayanan.
Rahmat; jiwa besar, pikiran luas, hati baik, rejeki akbar, sumber
berkah, suka cita, ikhlas, bersyukur.

Modul PLPG Penjaskes 2013
139
Amanah; adil, benar, jujur, aman terpecaya, bertanggungjawab,
pembangun,dan pengembang.
Panggilan; responsif, ekspresif, unik, khas, berintegrasi, tuntas,
tumbuh menjadi bigger-higher, dan better.
Ibadah; penuh cinta, sayang, setia, komitmen, berbakti,
mengabdi, berserah.
Seni ; indah, estetik,artistik, imajinatif, kreatif,, inovatif,
Kehormatan ; harkat,martabat, mulia, hebat, berkualitas, unggul,
excellent.
Pelayan; fokus pada pelangganan, sempurna, paripurna, ramah,
simpatik, memuaskan.
Etos juga dikenali sebagai kebiasaan, berbasis pada state of
mind yang berhubungan kegiatan produktif. Etos kerja sebagai
seperangkat perlikaku kerja, yang berakar pada kesadaran yang
kuat, keyakinan yangjelas danmantab, serta komitmen yang teguh
pada prinsip,paradigma, dan wawasan kerja yang khas dan spesifik
Delapan kebiasaan (habitus) dalam bekerja cerdas
Bekerja ikhlas penuh rasa syukur
Bekerja penuh integitas
Bekerja keras penuh semangat
Bekerja serius penuh kecintaan
Bekerja cerdas penuh kreativitas
Bekerja tekun penuh keunggulan
Bekerja pari purna penuh kesabaran.
Bagaimana anda sebagai guru melaksanakan tugas
profesinya selama ini, coba nilai sendiri, lakukan penilaian diri
dengan jujur agar ke depan anda pantas menyadang gelar guru yang
profesinal.
4. Komitmen
a. Makna Komitmen
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14
tahun 2005 tentang Guru dan dosen, Pasal 7 menyatakan salah
satu prinsip profesionalitas butir c. Guru memiliki komitmen
untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan,
dan akhlak mulia.
Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003, Pasal 40 Ayat
(2)butir b. menyatakan pendidik dan tenaga kependidikan
berkewajiban mempunyai komitmen secara profesional untuk
meningkatkan mutu pendidikan dan butir c. memberi teladan
dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai
dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Komitmen adalah janji. Komitmen adalah janji pada diri
kita sendiri atau pada orang lain yang tercermin dalam tindakan
kita. Komitmen merupakan pengakuan seutuhnya, sebagai sikap
Modul PLPG Penjaskes 2013
140
yang sebenarnya yang berasal dari watak yang keluar dari dalam
diri seseorang.
Pilihan jadi guru hendaklah diperkuat dengan komitmen.
Komitmen akan mendororong rasa percaya diri, dan semangat
kerja, menjalankan tugas sebagai guru menuju perubahan ke
arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan peningkatan
kualitas phisik dan psikologi dari hasil kerja. Sehingga segala
sesuatunya menjadi menyenangkanbagi seluruh warga sekolah
Komitmen mudah diucapkan. Namun lebih sukar untuk
dilaksanakan. Mengiyakan sesuatu dan akan melaksanakan
dengan penuh tanggungjawab adalah salah satu sikap
komitmen. Komitmen sering dikaitkan dengan tujuan, baik yang
bertujuan positif maupun yang yang bertujuan negative.
Sudah saatnya kita selalu berkomitmen, karena dengan
komitmen sesorang mempunyai keteguhan jiwa. Stabilitas social
tinggi, toleransi,, mampu bertahan pada masa sulit, dan tidak
mudah terprovokasi.
Komitmen yang tinggi untuk mengembangkan
pendidikan. Memenuhi Komitmen (menepati janji sesuai dengan
hati nurani) merupakan sikap dasar guru profesional. Menurut
Pugach (2008) ada lima komitmen yang harus dilaksanakan
secara berkelanjutan oleh guru, berkaitan dengan gelar
profesional yang disandangnya.
Selalu belajar mengembangkan pengetahuan dari berbagai
sumber
Mengembangkan kurikulum dengan rasa tanggungjawab
Selalu memperhatikan keragaman latar belakang keluarga
peserta didik
Memenuhi kebutuhan individual dalam belajar di kelas
maupun di area sekolah
Aktif berkontribusi dalam tugas profesinya
Seorang guru tidak boleh berhenti belajar setelah
menyelesaikan program pendidikannya. Mereka harus terus
belajar melalui apa yang dipraktekkannya di kelas, belajar
melalui teman-teman seprofesi. Hal ini akan terjadi kalau guru
memiliki komitmen untuk membuka diri jadi yang terbaik,
mempunyai semangat dalam meningkatkan diri,
mengembangkan kariernya di dunia pendidikan.
Kurikulum bukanlah dokumen statis, dimana guru hanya
mengikuti tanpa perlu pertimbangan dan sikap bijaksana. Guru
diberi wewenang oleh pemerintah untuk mengembangkannya
pada tingkat satuan pendidikan, tingkat kelas, sesuai kebutuhan
dan kemampuan peserta didik. Oleh karena itu, dituntut
tanggung jawab guru dalam penggunaan kurikulum
pendidikan.

Modul PLPG Penjaskes 2013
141
Guru secara terus menerus, tahun berganti tahun,
bergantian angkatan, menerima anggota kelas yang berbeda-
beda. Siswa yang datang dari beragam latar belakangnya. Untuk
pembelajaran yang menyenangkan guru diharapkan selalu
kreatif mengelola kelasnya. Dimana, siswa dapat merasa
diterima keberadaannya, merasa aman dan nyaman, berada di
lingkungan kelas dan lingkungan sekolah.
Kegiatan belajar di kelas maupun lingkungan sekolah
hendaklah diorganisir secara tepat guna. Pengelompokan
kegiatan, pengelompokkan siswa perlu pertimbangan berbagai
kebutuhan individu siswa.
Mengajar bukanlah sekedar bekerja yang memperhatikan
jam masuk dan jam keluar selesai pembelajaran. Bekerja
bagaikan robot sesuai dengan apa yang diperintahkan. Guru
sendiri harus mampu mengelola dirinya, mengembangkan
profesinya, membutuhkan kesempatan untuk bergabung dengan
teman satu profesi, ikut bertanggung jawab atas profesinya.
b. Komitmen guru adalah akhlak guru
Menepati janji adalah salah satu pokok ajaran akhlak yang
harus dilaksanakan sebagai aktualisasi dari keimanan. Sewaktu
diangkat menjadi guru pegawai negeri komitmen yang
diucapkan (diambil sumpah) atas nama Tuhan dan
ditandatangani sebagai bukti tertulis kita berjanji. Apa yang
terjadi setelah kita guru memulai dunia kerja, janji tinggal janji.
Komitmen sering terlupakan. Janji akan lebih mengutamakan
tugas Negara daripada kepentingan pribadi, sering terbalik
dalam pelaksanaannya. Beratnya kesalahan kita, kita berjanji
dengan Allah.
Guru diharapkan akan menjadi seseorang yang menepati
janji, memegang ucapannya dan dapat dipercaya dan
diandalkan. Guru akan tampil dalam sikap, perkataan dan
perbuatan menepati janji betapapun kecilnya dan dapat
diandalkan, terpercaya, beriman dan bertakwa.
c. Komitmen dan Ketulusan-keikhlasan
Ketulusan dan keikhlasan dalam bekerja akan
memudahkan terlaksananya komitmen sebagai seorang guru.
Membicarakan tentang ikhlas, terkait dengan ketulusan niat.
Ikhlas itu adalah rahasia dari semua rahasia dan aku
menempatkannya di hati hamba yang menjadi kekasih-Ku.
Demikian firman Allah SWT sebagaimana disabdakan nabi
Muhammad SAW. Niat baik kita untuk melaksanakan tugas
sebaik-baiknya merupakan tujuan hasil kerja yang berkualitas.
Selalu ikhlas dalam bertindak dan niat karena Allah, diikuti
dengan doa, akan membuahkan kebahagiaan bagi pribadi guru
dan kesuksesan belajar siswanya.
Modul PLPG Penjaskes 2013
142
Bekerja sebagai pengajar bagian dari mencapai
kebahagian dalam kehidupan. Keikhlasan harus selalu
ditingkatkan dan dirawat. Menurut Sentanu dalam bukunya
Quantum Ikhlas: Mencari kebahagiaan hakiki dalam kondisi
ikhlas, manusia akan kuat, cerdas dan bijaksana jalan hidup yang
efektif dan produktif menjadi kekuatan pribadi yakni pribadi
dengan bantuan Allah (Power). Proses melatih diri secara
kualtiatif dan kuwantitatif-meningkatkan keikhlasan dengan
mengakses kekuatan dahsyat (Allah). Kebahagiaan hakiki tidak
hanya dipahami melalui pikiran tatapi harus melalui hati dengan
kelembutan tersendiri orang yang ikhlas: rela, sabar, bersyukur
akan meraih cita-cita yang tertinggi di dunia dan akhirat.
Manusia diciptakan dengan sebaiknya dengan berbagai
kelebihan dan kesempurnaan. Fitrah sempurna di zone ikhlas,
selalu berprasangka baik kepada orang lain dan bersyukur
kepada apa yang telah didapat. Manusia computer hayati;
hardware Otak Software Pikiran dan perasaan operating system
hati nurani self maintence system iklas gangguan virusnya putus
asa, nafsu, sombong dsb-prasangka buruk manfaat hidup
berkurang. Barsaing perang-bekerja sama. Kita sering diliputi
pada hal-hal yang kurang enak. Takut maka timbul pikiran hal-
hal yang menakutkan-usahakan tarik hal-hal yang
membahagiakan/menarik hal-hal yang anda inginkan ingin
sembuh focus pada kesehatan senang focus pada kebahagiaan
tenang focus pada kedamaian.
Selanjutnya Sentanu mengaitkan kerja otak dengan
keikhlasan dan pentinya doa. Hidup di dunia berpasangan ada
otak kiri dan otak kanan. Kiri berpikir analitik, logis, bahasa,
pengetahuan. Kanan Intuisi, kuasi, seni, musik dsb. Tiap orang
berbeda mana yang menonjol. Perlu kerja sama (kanan kiri),
menyeimbangkan diri. Perang besar melawan diri sendiri.
Pikiran positif yang rasanya enak dihati ketika anda beraktivitas,
lakukan dengan hati dengan cara penuh doa kepada Allah
SWT/ menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah SWT.
Kita telah diberikan motivasi yang berbicara Zone ikhlas High
energi syukur, sabar, tenang, Happy perasaan positive yang
berenergi tinggi positive feeling. Kebanyakan manusia melihat
lewat panca indera tetapi belum tentu memahami apa yang
dilihat. Doa adalah senjata orang yang beriman D = Direction
Minta yang jelas O = Obedience = yakin doa akan dikabulkan A
= Aceptance = syukur (menerima perasaan terkabulnya doa).
d. Komitmen dan Kesabaran
Pepatah popular mengatakan, Siapa yang bersabar akan
beruntung. Mengapa beruntung? Satu surat dalam Al-Quran
menuliskan yang artinya Sesungguhnya Allah beserta orang-

Modul PLPG Penjaskes 2013
143
orang yang sabar (QS 2:153). Jika Allah sudah menyertai
seseorang, tidak ada siapa pun akan mampu mencelakan dia.
Kebersertaan Allah dalam melaksanakan tugas sebagai guru
haruslah diusahakan. Sering kita dalam melaksanakan tugas
tidak sabar untuk meraih hasil terbaik.
Sabar, adalah salah satu sikap terpuji yang terkait dengan
kepribadian guru. Menurut Ubaedi kesabaran dalam konsep
agama Isalam (Konsep Al-Quran) dimaksudkan untuk membuat
manusia kuat menghadapi hidup. Konsep bagaimana
menghadapi realitas atau menjalani praktek hidup.
Seperti yang kita alami, menjalani hidup ini ternyata tidak
cukup dengan memiliki keinginan yang baik, keinginan untuk
menjadi orang baik, atau menjadikan orang lain disekitar kita
lebih baik. Setiap orang memiliki keinginan untuk jadi baik, yang
sering membuat kita tidak nyaman adalah realitas. Realitas yang
kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan, bertentangan
dengan keinginan atau yang telah direncanakan. Ada realitas
yang menuntut kita mencari solusi.
90% penyebab kegagalan manusia adalah kepasrahan
terhadap realitas. (Washington Irvin)
kesuksesan dilahirkan dari 99% kegagalan yang
dipahami dengan sikap anti menyerah, (james Dison)
keberhasilan seseorang itu 20% ditentukan oleh
kecerdasan intelektual dan yang 80% ditentukan oleh serumpun
kemampuan yang disebut Kecerdasan Emosinal. (Daniel
Goleman)
Ubaedi lebih lanjut menjelaskan, bahwa meski sebagian
besar kita sudah tahu arti kesabaran, tetapi dalam prakteknya
masih banyak yang belum berhasil membedakan antara
kesabaran dalam arti pasrah pada Tuhan dan kesabaran dalam
arti pasrah pada kenyataan. Misalnya guru punya komitmen
untuk meningkatkan hasil belajar siswanya. Kenyataannya, tidak
semua anak didiknya dengan cepat ambil bagian berpartisipasi
aktif dalam program yang sudah dirancang sedemikian rupa.
Ada guru yang pasrah pada kondisi siswa, dengan menyatakan
memang kemampuan dan kemauan siswa untuk belajar terbatas.
Yang jelas kita sudah melaksanakan komitmen dalam
menjalankan tugas mengajar. Sering pasrah pada realitas dengan
mengatas namakan kesabaran, nasib, takdir, kehendak Tuhan,
dan sebagainya.
Bila kita sedang mengusahakan ide-ide baru dalam
pendidikan (meningkatkan prestasi) lalu gagal ditengah jalan,
orang lain akan mengatakan kepada kita sabar. Sabar disini
mengandung konotasi menerima kegagalan itu apa adanya. Hal
ini tentu tidak sejalan dengan kesabaran yang diajarkan oleh
Modul PLPG Penjaskes 2013
144
agama. Ide-ide positif, jika gagal dilaksanakan, agama
memerintahkan kita bukan menerima apa adanya, melainkan
menerima untuk memperbaiki. Yang diperbaiki bisa jadi
rencana, proses, teknik, alat, sikap mental, dan lain-lain. Dengan
menerima dan memperbaiki maka jiwa kita akan terdidik untuk
menjadi kuat.
Kesabaran adalah kemampuan. Ubaedi mengelompokkan
kesabaran sebagai kemampuan:
Kemampuan menunggu
Kemampuan mempertahankan
Kemampuan menjalankan
Sikap-sikap tidak sabar, seperti mengambil jalan pintas
yang melanggar hukum, main seradak-seruduk, atau malah
apatis dan tidak melakukan apa-apa, hanya akan berakhir
dengan kegagalan dan penyesalan.
Komitnen kesabaran perlu ditingkatkan. Sabar dapat
mengundang kehadiran Allah bersama kita. Sabar sebagai cara
untuk meminta pertolongan Allah. Mendidik manusia tidaklah
mudah, guru sering kehilangan kesabaran, sehingga
komitmennya dalam menjalankan profesi sering berjalan tidak
mulus. Usaha untuk selalu memperbaiki diri, mencari jalan
terbaik dan doa kepada Allah merupakan kunci utama dalam
mencapai hasil kerja terbaik. Disamping itu, guru hendaklah
selalu berupaya menghadirkan Allah dan dipertahankan dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup individu maupun
komunitas, agar selalu menjadi orang yang beruntung.
5. Empati
a. Makna Empati
Empati dalam bahasa Yunani diartikan sebagai
ketertarikan fisik, yang didefinisikan sebagai kemampuan
seseorang untuk mengenali, mempersepsi dan merasakan
perasaan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan
seseorang berhubungan dengan perasaannya. Seseorang yang
berempati akan mampu mengetahui, pikiran dan mood orang
lain. Empati sering dianggap sebagai resonansi perasaan.
Empati adalah pondasi dari semua interaksi hubungan
antara manusia mampu merasakan emosi orang lain, yang akan
bermanfaat membina relationship yang akrab dengan orang lain.
b. Empati dan kecerdasan emosional
Empati adalah salah satu ciri kecerdasan emosional.
Emosi menurut Goleman (1996) merupakan suatu perasaan dan
pikiran-pikiran khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan
serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sejumlah kritikus
mengelompokan emosi dalam beberapa golongan, sebagai
berikut:

Modul PLPG Penjaskes 2013
145
Amarah; beringas, mengamuk, benci, jengkel, marah besar,
terganggu, rasa pahit, bermusuhan tindak kekerasan
Kesedihan; sedih, pedih, muram, melankolis, mengasihani
diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat.
Rasa takut; cemas, takut, gugup, khawatir, waspada, pobia,
panic, tidak tenang.
Kenikmatan; bahagia, gembira, riang, puas, senang, terhibur,
bangga, senang sekali, dan batas ujungnya, mania.
Cinta; penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan
hati, rasa dekat,, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
Terkejut; takjub, terpana, terkejut, terkesiap.
Jengkel; hina, jijik muak, mual, benci tidak suka, mau muntah,
Malu; rasa salah, malu hati, kesal hasil, sesal, hina, aib, dan
hati hancur lebur.
Guru yang memiliki empati tinggi, mampu membaca dan
memahami kondisi emosi peserta didiknya pada waktu tertentu.
Guru akan berusaha membantu, memberi bimbingan cara
mengelola emosi mereka.
Kecerdasan emosional: kemampuan seperti kemampuan
untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi
frustasi, menendalikan dorongan hati dan tidak berlebih-lebihan
dalam kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar
beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir;
berempati dan berdoa.
Empati adalah kemampuan membaca emosi
kemampuan menerima sudut pandang orang lain
kemampuan dalam mendengarkan orang lain
kemampuan kepekaan akan perasaan oranglain
Goleman menyebut empati sebagai keterampilan dasar
manusia. Orang memiliki empati kata Goleman adalah
pemimpin alamiah yang dapat mengekspresikan dan
mengartikulasikan sentiment kolektif yang tidak terucapkan,
untuk membimbing suatu kelompok menuju cita-citanya.
c. Menumbuhkan dan Mengembangkan Empati di kelas
Segal (2000) menyatakan, semakin banyak Anda
mempelajari melalui perasaan, semakin mudah Anda
memahami perasaan orang lain. Saya tidak dapat menemukan
alat yang lebih ampuh untuk menelusuri kerumitan hubungan
manusia, kecuali empati. Empati adalah keterampilan terakhir
yang Anda peroleh ketika mendidik hati anda.
Empati mengalir dari kesadaran aktif, rasakan setiap saat,
seimbangkan kebutuhan anda dan kebutuhan orang lain demi
kepuasan bersama untuk membetuk hubungan saling
menghormati yang langgeng. Kesadaran aktif akan membuat
anda cerdas. Empati membuat anda bijaksana dalam merasa.
Modul PLPG Penjaskes 2013
146
Memahami bahasa tubuh. Coba ingat dan catat bagaimana
anda bereaksi setiap anda merasakan atau melihat hal-hal berikut
ini pada orang-orang yang anda temui:
mulut cemberut
ringisan
mata berbinar-binar
irama suara
alis berkerut
senyum lebar
kelopak mata berat
nada suara melengking
cuping hidung mengembang
Apakah anda merasakan ledakan emosioanal pada diri
anda; Ketika anda melihat seseorang mengangis, Anda menangis
pula. Ketika seseorang sangat ceria, Anda tertawa geli. Itu bukan
empati sama sekali. Empati dapat dimaknai menyelami perasaan
orang lain, namun masih tetap terjaga beberapa keterpisahan.
Empati dapat merasakan kesedihan orang lain tanpa kehilangan
jati diri dan kesadaran diri.
Data penelitian menunjukkan bahwa empati merupakan
kekuatan yang hebat untuk kebaikan. Guru yang memiliki
tingkat empati yang tinggi dapat mengembangkan kemampuan
akademik yang lebih besar pada muridnya daripada guru yang
tingkat empatinya rendah. Carl Roger dalam Zuchdi (2008)
mengatakan bahwa, empati merupakan alat yang paling efektif
untuk membantu perkembangan pribadi dan meningkatkan
hubungan serta komunikasi dengan orang lain.
Empati guru merupakan kedekatan emosi dengan peserta
didiknya, ikatan emosi dengan siswanya. Guru sering gagal
mencerdaskan siswanya karena tidak memiliki empati pada
peserta didiknya.
Empati guru terhadap siswa dengan memahami
kebutuhan siswanya, diantaranya;
sensitive, penuh perhatian terhadap kebutuhan siswa
menunjukkan kemampuan berada pada posisi siswa
memahami kebutuhan siswa, tetapi tidak sentimental,
membedakan masalah-masalah pribadi anak dari masalah
umum.
Seorang guru harus bisa menyelami, apakah siswa telah
mengerti materi yang baru saja dijelaskan. Biasanya dari ekpresi
wajah mereka dapat terlihat.


Modul PLPG Penjaskes 2013
147
Berikut ini Hasyim Ashari (2007) mendeskripsikan tanda
yang bisa dibaca dari ekspresi wajah siswa.
Ekpresi Wajah/suara Artinya
Kepala manggut-manggut Memahami apa yang dijelaskan
Tersenyum sambil bilang oo Sangat memahami
Wajah tidak tergerak dengan tetap
memandang papan tulis
Belum mengerti
Mengerutkan dahi Susah memahami
Bel akhir pelajaran berbunyi, dan
siswa bilang kok cepat ya
Anda sukses berkomunikasi
dengan
siswa

Guru harus kreatif jika di kelas yang diajarnya ada siswa
yang ngobrol dengan temannya. Tidak melihat ke depan, atau
kalau ditanya tidak menjawab. Teramati tidak semangat
mengikuti pelajaran. Lakukan interaksi dengan memberi umpan
balik. Guru harus berusaha mencari akar permasalahannya,
jangan hanya focus menyelesaikan program pembelajaran hari
itu. Sikap empati yang tinggi dari guru akan mampu mengatasi
masalah belajar siswanya.


Modul PLPG Penjaskes 2013
148
BAB VI
PENDALAMAN MATERI ASAS DAN FALSAFAH
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN

A. Pokok-pokok Isi Materi
Mutu pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan sumber
daya manusia sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional.
Bahkan dapat dikatakan masa depan bangsa terletak pada keberadaan
pendidikan yang berkualitas pada masa kini. Pendidikan yang berkualitas
hanya akan muncul apabila terdapat lembaga pendidikan yang berkualitas.
Oleh karena itu, upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan titik
strategi dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di
bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya
peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh. Pemerintah
dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan Gerakan
Peningkatan Mutu Pendidikan.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (USPN) Nomor 20
tahun 2003 pasal 50 ayat 5 menyatakan pemerintah kabupaten/kota
mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta satuan
pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Sementara itu ayat 2
menegaskan bahwa Pemerintah menentukan kebijakan dan standar
nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.
Terbitnya USPN mendorong terjadinya upaya-upaya menjawab
tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga
dewasa ini banyak lembaga pendidikan menyelenggarakan Sekolah
Berbasis Keunggulan Lokal. Banyaknya penyelenggaraan sekolah
semacam ini memungkinkan munculnya disparitas penyelenggaraan dan
mutu pendidikan.
Realita tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang masih dalam
proses pembenahan ini diakui atau tidak, guru merupakan salah satu
komponen pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses
pembelajaran peserta didik. Guru merupakan salah satu komponen
pendidikan yang memiliki tanggungjawab dan pengaruh besar terhadap
pembentukan kualitas peserta didik. Bahkan dapat juga dikatakan jika guru
dalam proses pembelajarannya sesuai dengan tugas profesi yang di emban
baik dalam disiplin keilmuannya maupun dalam seni proses
pembelajarannya, maka dapat diprediksikan hasilnyapun akan menjadi
lebih baik.
Berbagai cara dilakukan untuk memperbaiki dunia pendidikan di
Indonesia, mulai dari perbaikan kurikulum, metode/strategi
pembelajarannya, dan upaya peningkatan mutu tenaga kependidikan.
Usaha perbaikan tersebut merupakan bentuk manifestasi dari upaya
meningkatkan mutu pendidikan. Di antara usaha memperbaiki mutu dunia
pendidikan yaitu dengan meningkatkan kualitas tenaga kependidikan.

Modul PLPG Penjaskes 2013
149
Yakni membentuk guru yang belum profesional menjadi profesional.
Untuk menciptakan guru profesional dalam proses pembelajaran
dibutuhkan usaha keras dan sungguh-sungguh.
Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Asas dan
Falsafah Penjasorkes ini berisi tentang: penjelasan mengenai pengertian
pendidikan jasmani, perbandingan dan perbedaan antara pendidikan
jasmani dan pendidikan olahraga, penjelasan dasar falsafah pendidikan
jasmani dan penjelasan mengenai landasan ilmiah pelaksanaan pendidikan
jasmani dan olahraga di sekolah berdasarkan keilmuan yang benar.

B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Menguasai materi, struktur, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran Penjasorkes.

2. Kompetensi Dasar
Menjelaskan dimensi filosofis pendidikan jasmani termasuk etika
sebagai aturan dan profesi.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjas ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian pendidikan jasmani.
2. Membandingkan dan membedakan antara pendidikan jasmani dan
pendidikan olahraga.
3. Menjelaskan dasar falsafah pendidikan jasmani.
4. Menjelaskan mengenai landasan ilmiah pelaksanaan pendidikan
jasmani dan olahraga di sekolah berdasarkan keilmuan yang benar.

D. Uraian Materi
1. Pengertian Pendidikan Jasmani
Istilah Pendidikan merupakan kata yang tidak asing lagi untuk
hampir setiap orang. Namun demikian, istilah ini lebih sering diartikan
secara berbeda dari masa ke masa, termasuk oleh ahli yang berbeda pula.
Seseorang mungkin menerjemahkan pendidikan sebagai sebuah proses
latihan. Orang lain mungkin menerjemahkannya sebagai sejumlah
pengalaman yang memungkinkan seseorang mendapatkan pemahaman
dan pengetahuan baru yang lebih baik. Atau mungkin pula diterjemahkan
secara sederhana sebagai pertumbuhan dan perkembangan.
John Dewey, seorang pendidik yang mempunyai andil besar dalam
dunia pendidikan, mendefinisikan pendidikan sebagai rekonstruksi aneka
pengalaman dan peristiwa yang dialami dalam kehidupan individu
sehingga segala sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna.
Modul PLPG Penjaskes 2013
150
Definisi ini mengandung arti bahwa seseorang berpikir dan memberi
makna pada pengalaman-pengalaman yang dilaluinya.
Morse (1964) membedakan pengertian pendidikan ke dalam istilah
pendidikan liberal (liberal education) dan pendidikan umum (general
education). Ia mengatakan bahwa pendidikan liberal lebih berorientasi pada
bidang studi dan menekankan penguasaan materinya (subject centered).
Tujuan utamanya adalah penguasaan materi pembelajaran secara
mendalam dan bahkan jika mungkin sampai tuntas. Pemikiran pendidikan
seperti ini sudah tidak bisa lagi diterapkan dalam konteks pendidikan
jasmani sekarang ini, dan oleh karena itu, pengertian pendidikan seperti ini
dipandang bersifat tradisional.
Sementara itu, pendidikan modern lebih bersifat memperhatikan
pelakunya dari pada bidang studi atau materinya. Tujuan utamanya
adalah mencapai perkembangan individu secara menyeluruh sambil tetap
memperhatikan perkembangan perilaku intelektual dan sosial individu
sebagai produk dari belajarnya (child centered).
Pendidikan pada zaman sekarang lebih banyak menekankan pada
pengembangan individu secara total. Kebanyakan sekolah sekarang ini
menganut filsafat modern. Setiap individu memiliki kebutuhan yang
berbeda-beda. Pembelajaran secara individual pada dasarnya merupakan
pembelajaran untuk semua peserta didik, termasuk program untuk peserta
didik yang mempunyai kelambanan dalam perkembangannya, mengalami
gangguan emosional, dan peserta didik yang memiliki cacat fisik atau
mental.
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian
integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk
mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak,
keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas
emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan
lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan
terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan
kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan,
karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk
mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah
dengan perkembangan zaman.
Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna
mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan
kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek
moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan
diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk

Modul PLPG Penjaskes 2013
151
menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media
untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan
motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-
mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola
hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan
perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

a. Pandangan Tradisional
Pandangan pertama, atau juga sering disebut pandangan tradisional,
menganggap bahwa manusia itu terdiri dari dua komponen utama yang
dapat dipilah-pilah, yaitu jasmani dan rohani (dikhotomi). Pandangan ini
menganggap bahwa Pendidikan Jasmani hanya semata-mata mendidik
jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang, atau penyelaras pendidikan
rohani manusia. Dengan kata lain Pendidikan Jasmani hanya sebagai
pelengkap saja.
Di Amerika Serikat, pandangan dikhotomi ini muncul pada akhir
abad 19 atau antara tahun 1885 - 1900. Pada saat itu, Pendidikan Jasmani
di pengaruhi oleh sistem Eropa, seperti: Sistem Jerman dan Sistem Swedia,
yang lebih menekankan pada perkembangan aspek fisik (fitnes), kehalusan
gerak, dan karakter peserta didik, dengan gimnastik sebagai medianya.
Pada saat itu, Pendidikan Jasmani lebih berperan sebagai medicine
(obat) daripada sebagai pendidikan. Oleh karena itu, para pengajar
Pendidikan Jasmani lebih banyak dibekali latar belakang akademis
kedokteran dasar (medicine). Pandangan Pendidikan Jasmani berdasarkan
pandangan dikhotomi manusia ini secara empirik menimbulkan salah
kaprah dalam merumuskan tujuan, program pelaksanaan, dan penilaian
pendidikan. Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan Pendidikan
Jasmani ini cenderung mengarah kepada upaya memperkuat badan,
memperhebat keterampilan fisik, atau kemampuan jasmaniahnya saja.
Selain dari itu, sering juga pelaksanaan Pendidikan Jasmani ini justru
mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri, hingga akhirnya mendorong
timbulnya pandangan modern.

b. Pandangan Modern
Pandangan modern, atau sering juga disebut pandangan holistik,
menganggap bahwa manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian-
bagian yang terpilah-pilah. Manusia adalah kesatuan dari berbagai bagian
yang terpadu. Oleh karena itu Pendidikan Jasmani tidak hanya
berorientasi pada jasmani saja atau hanya untuk kepentingan satu
komponen saja.
Di Amerika Serikat, pandangan holistik ini awalnya dipelopori oleh
Wood dan selanjutnya oleh Hetherington pada tahun 1910. Pada saat itu
Pendidikan Jasmani dipengaruhi oleh progressive education. Doktrin
Modul PLPG Penjaskes 2013
152
utama dari progressive education ini menyatakan bahwa semua pendidikan
harus memberi kontribusi terhadap perkembangan anak secara
menyeluruh, dan pendidikan jasmani mempunyai peranan yang sangat
penting terhadap perkembangan tersebut. Pada periode ini Pendidikan
Jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui aktivitas jasmani (education
through physical).
Pandangan holistik ini, pada awalnya kurang banyak memasukkan
aktivitas sport karena pengaruh pandangan sebelumnya, yaitu pada akhir
abad 19, yang menganggap sport tidak sesuai di sekolah-sekolah. Namun
tidak bisa dipungkiri sport terus tumbuh dan berkembang menjadi
aktivitas fisik yang merupakan bagian integral dari kehidupan manusia.
Sport menjadi populer, peserta didik menyenanginya, dan ingin
mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sekolah-sekolah hingga
para pendidik seolah-olah ditekan untuk menerima sport dalam kurikulum
di sekolah-sekolah karena mengandung nilai-nilai pendidikan. Hingga
akhirnya Pendidikan Jasmani juga berubah, yang tadinya lebih
menekankan pada gimnastik dan fitness menjadi lebih merata pada seluruh
aktivitas fisik termasuk olahraga, bermain, rekreasi atau aktifitas lain dalam
lingkup aktivitas fisik.

c. Pandangan Indonesia
Di Indonesia, salah satu contoh definisi Pendidikan Jasmani yang
didasarkan pada pandangan holistik ini dikemukakan oleh Jawatan
Pendidikan Jasmani (sekarang sudah dibubarkan) yang dirumuskan tahun
1960, sebagai berikut, Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang
mengaktualisasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindak,
dan karya yang diberi bentuk, isi, dan arah menuju kebulatan pribadi
sesuai dengan cita-cita kemanusiaan.
Definisi yang relatif sama, juga dikemukakan oleh Pangrazi dan
Dauer (1992) sebagai berikut, Pendidikan Jasmani merupakan bagian dari
program pendidikan umum yang memberi kontribusi, terutama melalui
pengalaman gerak, terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara
menyeluruh. Pendidikan Jasmani didefinisikan sebagai pendidikan gerak
dan pendidikan melalui gerak, dan harus dilakukan dengan cara-cara yang
sesuai dengan definisi tersebut.
Definisi Pendidikan Jasmani dari pandangan holistik ini cukup
banyak mendapat dukungan dari para ahli Pendidikan Jasmani lainnya.
Misalnya, Siedentop (1990), mengemukakan, Pendidikan Jasmani modern
yang lebih menekankan pada pendidikan melalui aktivitas jasmani
didasarkan pada anggapan bahwa jiwa dan raga merupakan satu kesatuan
yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Pandangan ini memandang kehidupan
sebagai totalitas.
Wall dan Murray (1994), mengemukakan hal serupa dari sudut
pandang yang lebih spesifik, masa anak-anak adalah masa yang sangat
kompleks, dimana pikiran, perasaan, dan tindakannya selalu berubah-ubah.

Modul PLPG Penjaskes 2013
153
Oleh karena sifat anak-anak yang selalu dinamis pada saat mereka tumbuh
dan berkembang, maka perubahan satu elemen sering kali mempengaruhi
perubahan pada eleman lainnya.
Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa Pendidikan Jasmani pada
dasarnya merupakan pendidikan melalui aktivitas jasmani untuk mencapai
perkembangan individu secara menyeluruh. Namun demikian, perolehan
keterampilan dan perkembangan lain yang bersifat jasmaniah itu juga
sekaligus sebagai tujuan.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Pendidikan
Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang
didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan
keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif,
sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara
seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh
ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap peserta didik.

2. Perbandingan dan Perbedaan antara Pendidikan Jasmani dan
Pendidikan Olahraga
Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga
mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport),
sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan
dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu
para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi
pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai
hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal
yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik.
Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun
elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Olahraga di pihak lain adalah suatu teknik bermain yang terorganisir
dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-
mata suatu teknik permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya
lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang
lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan
aktivitas kompetitif.
Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif
yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah
disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki
beberapa teknik dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik
tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas
tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama
kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
Dari uraian di atas maka pengertian olahraga adalah aktivitas
kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan
kompetisi, sehingga tanpa kompetisi, olahraga berubah menjadi semata-
Modul PLPG Penjaskes 2013
154
mata bermain atau rekreasi. Bermain pada satu saat menjadi olahraga,
tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain;
karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari
bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja,
atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana
dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani
yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat
fisik dalam aktivitasnya dan pendidikan jasmani dilaksanakan untuk
mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun
keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan teknik-teknik
gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks
pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain
dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan,
seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya,
olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap
tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai
olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk
kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk
kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan
secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.
Sehubungan hal di atas sesuai dengan pendapat yang disampaikan
oleh Abdul Kadir Ateng, dalam mata kuliah azas dan falsafah pendidikan
olahraga tentang proposi olahraga dan pendidikan jasmani di sekolah,
adalah sebagai berikut:

Komponen Pendidikan Jasmani Sport (Olahraga)
Tujuan
Pendidikan keseluruhan,
kepribadian dan emosional
Kinerja motorik (motor
performance/kinerja gerak
untuk prestasi
Materi
Child centered (sesuai dengan
kebutuhan
anak/individualized)
Subject centered (berpusat
pada materi)
Teknik gerak
Seluas gerak kehidupan sehari-
hari
Fungsional untuk cabang
olahraga bersangkutan
Peraturan
Disesuaikan dengan keperluan
(tidak dibakukan)
Peraturannya baku (standar)
agar dapat dipertandingkan
Anak yang
lamban
Harus diberi perhatian ekstra
Ditinggalkan/untuk milih
cabang olahraga lain
Talen Skating (TS)
Untuk mengukur kemampuan
awal
Untuk cari atlit berbakat
Latihannya
Mutilateral (latihan yang
menyangkut semua otot)
Spesifik
Partisipasi Wajib Bebas

Modul PLPG Penjaskes 2013
155
Perbedaan pendidikan jasmani yang telah disampaikan oleh Abdul
Kadir Ateng, diperkuat oleh Syarifudin, dalam buletin pusat perbukuan,
yaitu :

Komponen Pendidikan Jasmani Olahraga
Tujuan Program yang dikembangkan
sebagai sarana untuk membentuk
pertumbuhan dan perkembangan
totalitas subjek.
Program yang dikembangkan
sebagai sarana untuk mencapai
prestasi optimal.
Orientasi Aktivitas jasmani berorientasi pada
kebutuhan pertumbuhan dan
perkembangan subjek
Aktivitas jasmani berorientasi
pada suatu program latihan
untuk mencapai prestasi optimal
Materi Materi perlakuan tidak dipaksa-
kan melainkan disesuaikan dengan
kemampuan anak.
Untuk mencapai prestasi optimal
materi latihan cenderung
dipaksakan.
Lamanya
perlakuan
Lamanya aktivitas jasmani yang
dilakukan dalam pendidikan
jasmani tiap pertemuan dibatasi
oleh alokasi waktu kurikulum. Di
samping itu juga disesuaikan
dengan kemampuan organ-organ
tubuh subjek.
Lamanya aktivitas jasmani yang
dilakukan dalam latihan olahrag
cenderung tidak dibatasi. Agar
individu dapat beradaptasi
dengan siklus per-tandingan,
aktivitas fisik dalam latihan harus
dilakukan men-dekati
kemampuan optimal.
Frekuensi
perlakuan
Frekuensi pertemuan belajar
pendidikan jasmani dibatasi oleh
alokasi waktu kurikulum. Namun
demikian diharapkan peserta didik
dapat mengulang-ulang
keterampilan gerak yang dipelajari
di sekolah pada waktu senggang
mereka dirumah. Diharapkan
mereka dapat melakukan
pengulangan gerakan antara 2
sampai 3 kali/minggu.

Agar dapat mencapai tujuan,
latihan harus dilakukan dalam
frekuensi yang tinggi.
Intensitas Intensitas kerja fisik disesuaikan
dengan kemampuan organ-organ
tubuh subjek
Intensitas kerja fisik harus
mencapai ambang zona latihan.
Agar subjek dapat beradaptasi
dengan siklus pertandingan
kelak, kadang-kadang intensitas
kerja fisik dilakukan melebihi
kemampuan optimal.
Peraturan Tidak memiliki peraturan yang
baku. Peraturan dapat dibuat
sesuai dengan tujuan dan kondisi
pembelajaran
Memiliki peraturan permainan
yang baku. Sehingga olahraga
dapat dipertandingkan dan
diperlombakan dengan standar
yang sama pada berbagai situasi
dan kondisi.
Modul PLPG Penjaskes 2013
156
Dengan adanya perbedaan pendidikan jasmani dan olahraga secara
konsep, baik yang dikemukakan oleh Abdul Kadir Ateng, dalam
perkuliahan, diperkuat oleh Syarifudin. dalam buletin pusat perbukuan,
maka secara sistimatis dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran
pendidikan jasmani dan olahraga akan memiliki perbedaan, hal ini sesuai
dengan contoh perbedaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga
yang dikemukakan oleh Syarifudin. dalam buletin pusat perbukuan, yaitu

Pendidikan Jasmani Olahraga
Berjalan
Pembelajaran berjalan pada pendidikan
jasmani ditujukan pada usaha untuk
membentuk sikap dan gerak tubuh yang
sempurna. Pembelajaran biasanya dilakukan
melalui materi baris-berbaris
Berjalan
Berjalan pada olahraga merupakan
salah satu nomor dalam cabang atletik.
Latihan berjalan dilakukan dengan
secepat-cepatnya melalui teknik dan
peraturan yang telah baku.
Lari
Materi lari pada pendidikan jasmani
dimaksudkanuntuk dapat mengembang-kan
keterampilan gerak berlari dengan baik.
Berlari dapat dilakukan dalam beberpa
teknik; lari zig-zag, lari kijang, lari kuda, dan
beberapa teknik lari lainnya
Lari
Lari pada olahraga merupakan salah
satu nomor dalam cabang atletik.
Latihan dilakukan untuk mencapai
prestasi optomal. Dalam cabang atletik
lari dibagi dalam beberapa nomor.
Lompat
Materi lompat dalam pendidikan jasmani
dimaksudkan untuk dapat mengembangkan
keterampilan gerak lompat dengan baik.
Lompat dapat dilakukan dalam beberapa
teknik ; lompat harimau, lompat kodok, dan
beberapa teknik lompat lainnya.
Lompat
Lompat pada olahraga merupakan salah
satu nomor dalam cabang atletik.
Latihan lompat pada cabang atletik
dilakukan untuk mencapai prestasi
optimal
Lempar
Materi lempar dalam pendidikan jasmani
dimaksudkan untuk dapat mengembangkan
ketermapilan gerak lempar dengan baik.
Melempar dapat dilakukan dengan beberapa
teknik; lempar bola, lempar sasaran, dan
beberpa teknik lempar lainnya.
Lempar
Lempar dalam olahraga merupakan
salah satu nomor dalam cabang atletik.
Latihan lempar pada cabang atletik
dilakukan untuk mencapai prestasi
optimal.


Modul PLPG Penjaskes 2013
157
3. Kedudukan, Fungsi dan Bentuk Kegiatan Pendidikan Jasmani
a. Kedudukan Pendidikan Jasmani dalam Olahraga

Gambar 1
Peta Konsep Kedudukan Pendidikan Jasmani dalam Olahraga


Modul PLPG Penjaskes 2013
158
b. Fungsi Pendidikan Jasmani

Gambar 2
Peta Konsep Fungsi Pendidikan Jasmani

Modul PLPG Penjaskes 2013
159
c. Bentuk Kegiatan Pendidikan Jasmani

Gambar 3
Peta Konsep Bentuk Kegiatan Pendidikan Jasmani

4. Falsafah Pendidikan Jasmani
a. Tujuan Pendidikan Jasmani
Mata pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya
pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola
hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang
terpilih.
2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang
lebih baik.
Modul PLPG Penjaskes 2013
160
3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi
nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan
5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab,
kerjasama, percaya diri dan demokratis
6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri
sendiri, orang lain dan lingkungan
7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang
bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang
sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki
sikap yang positif.

b. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan
SMK/SMAK adalah sebagai berikut :
1) Ruang Lingkup Mata Pelajaran Penjasorkes SD/MI meliputi aspek-
aspek sebagai berikut :
(1) Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional,
permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-
lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers,
sepakbola, bolabasket, bolavoli, tenis meja, tenis lapangan,
bulutangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
(2) Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh,
komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta
aktivitas lainnya.
(3) Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan
tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta
aktivitas lainnya.
(4) Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan
senam aerobik serta aktivitas lainnya.
(5) Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air,
keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.
(6) Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata,
pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki
gunung.
(7) Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam
kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan
perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang
sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah
dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan
berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan
merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam
semua aspek.

Modul PLPG Penjaskes 2013
161
2) Ruang Lingkup Mata Pelajaran Penjasorkes SMP/MTs meliputi
aspek-aspek sebagai berikut :
(1) Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional,
permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-
lokomotor, dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers,
sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan,
bulutangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
(2) Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh,
komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta
aktivitas lainnya.
(3) Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan
tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta
aktivitas lainnya.
(4) Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan
senam aerobik serta aktivitas lainnya.
(5) Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air,
keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.
(6) Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata,
pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki
gunung.
(7) Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam
kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan
perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang
sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah
dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan
berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan
merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam
semua aspek.

3) Ruang Lingkup Mata Pelajaran Penjasorkes SMA/MA dan
SMK/SMAK meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
(1) Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional,
permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-
lokomotor, dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers,
sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan,
bulutangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
(2) Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh,
komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta
aktivitas lainnya.
(3) Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan
tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta
aktivitas lainnya.
(4) Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan
senam aerobic serta aktivitas lainnya.
(5) Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air,
Modul PLPG Penjaskes 2013
162
keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.
(6) Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata,
pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki
gunung.
(7) Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam
kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan
perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang
sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah
dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan
berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan
merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam
semua aspek.

c. Fungsi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
1) Aspek Organik
(1) Menjadikan fungsi sistem tubuh menjadi lebih baik sehingga
individu dapat memenuhi tuntutan lingkungannya secara
memadai serta memiliki landasan untuk pengembangan
keterampilan.
(2) Meningkatkan kekuatan otot, yaitu jumlah tenaga maksimum
yang dikeluarkan oleh otot atau kelompok otot.
(3) Meningkatkan daya tahan otot, yaitu kemampuan otot atau
kelompok otot untuk menekan kerja dalam waktu yang lama.
(4) Meningkatkan daya tahan kardiovaskuler, kapasitas individu
untuk melakukan aktivitas yang berat secara terus menerus
dalam waktu yang relatif lama.
(5) Meningkatkan fleksibilitas, yaitu: rentang gerak dalam
persendian yang diperlukan untuk menghasilkan gerakan yang
efisien dan mengurangi cidera.
2) Aspek Neuromuskuler
(1) Meningkatkan keharmonisan antara fungsi saraf dan otot.
(2) Mengembangkan gerak dasar lokomotor, seperti: berjalan,
berlari, melompat, meloncat, meluncur, melangkah, mendorong,
menderap/mencongklang, berguling, menarik.
(3) Mengembangkan gerak dasar non-lokomotor, seperti:
mengayun, melengok, meliuk, bergoyang, meregang, menekuk,
menggantung, membongkok.
(4) Mengembangkan gerak dasar manipulatif, seperti: memukul,
menendang, menangkap, menghentikan, melempar, mengubah
arah, memantulkan, menggulirkan, memvoli.
(5) Mengembangkan komponen fisik, seperti: kekuatan, daya tahan,
kelentukan, kecepatan, keseimbangan, ketepatan, power.
(6) Mengembangkan kemampuan kinestetik seperti: rasa gerak,
irama, waktu reaksi dan koordinasi.

Modul PLPG Penjaskes 2013
163
(7) Mengembangkan potensi diri melalui aktivitas jasmani dan
olahraga, seperti: sepak bola, softball, bola voli, bola basket, bola
tangan, baseball, atletik, tennis, tennis meja, bela diri dan lain
sebagainya.
(8) Mengembangkan aktivitas jasmani di alam bebas melalui
berbagai kegiatan, seperti: menjelajah, mendaki, berkemah, dan
lainnya.
3) Aspek Perseptual
(1) Mengembangkan kemampuan menerima dan membedakan
isyarat.
(2) Mengembangkan hubungan-hubungan yang berkaitan dengan
tempat atau ruang, yaitu kemampuan mengenali objek yang
berada di depan, belakang, bawah, sebelah kanan, atau di
sebelah kiri dari dirinya.
(3) Mengembangkan koordinasi gerak visual, yaitu: kemampuan
mengkoordinasi-kan pandangan dengan keterampilan gerak
yang melibatkan tangan, tubuh, dan atau kaki.
(4) Mengembangkan keseimbangan tubuh (statis dan dinamis),
yaitu: kemampuan mempertahankan keseimbangan statis dan
dinamis.
(5) Mengembangkan dominasi (dominancy), yaitu: konsistensi
dalam menggunakan tangan atau kaki kanan/kiri dalam
melempar atau menendang.
(6) Mengembangkan lateralitas (laterility), yaitu: kemampuan
membedakan antara sisi kanan atau kiri tubuh dan diantara
bagian dalam kanan atau kiri tubuhnya sendiri.
4) Aspek Kognitif
(1) Mengembangkan kemampuan menemukan sesuatu, memahami,
memperoleh pengetahuan dan mengambil keputusan.
(2) Meningkatkan pengetahuan tentang peraturan permainan,
keselamatan, dan etika.
(3) Mengembangkan kemampuan penggunaan taktik dan strategi
dalam aktivitas yang terorganisasi.
(4) Meningkatkan pemahaman bagaimana fungsi tubuh dan
hubungannya dengan aktivitas jasmani.
(5) Menghargai kinerja tubuh, penggunaan pertimbangan yang
berhubungan dengan jarak, waktu, tempat, bentuk, kecepatan,
dan arah yang digunakan dalam mengimplementasikan
aktivitas dan dirinya.
5) Aspek Sosial
(1) Menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan dimana
berada.
(2) Mengembangkan kemampuan membuat pertimbangan dan
keputusan dalam kelompok.
(3) Belajar berkomunikasi dengan orang lain.
Modul PLPG Penjaskes 2013
164
(4) Mengembangkan kemampuan bertukar pikiran dan
mengevaluasi ide dalam kelompok.
(5) Mengembangkan kepribadian, sikap, dan nilai agar dapat
berfungsi sebagai anggota masyarakat.
(6) Mengembangkan rasa memiliki dan tanggungjawab di
masyarakat.
(7) Menggunakan waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat.
6) Aspek Emosional
(1) Mengembangkan respon positif terhadap aktivitas jasmani.
(2) Mengembangkan reaksi yang positif sebagai penonton.
(3) Melepas ketegangan melalui aktivitas fisik yang tepat.
(4) Memberikan saluran untuk mengekpresikan diri dan kreativitas.
7) Aspek Rehabilitasi
(1) Terapi dan koreksi terhadap kelainan sikap tubuh.
(2) Rehabilitasi terhadap cacat fisik dan penyakit fisik yang bersifat
sementara.
(3) Mengkoordinasikan berbagai hambatan melalui aktivitas
jasmani.

d. Struktur Materi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Struktur materi Pendidikan Jasmani dikembangkan dengan
menggunakan model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan
olahraga (Jewtt, Ennis, & Bain, 1995). Asumsi yang digunakan kedua model
ini adalah untuk menciptakan gaya hidup sehat dan aktif, dengan demikian
manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan
menggunakan konsep latihan yang benar.
Olahraga merupakan bentuk lanjut dari bermain dan merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian manusia. Untuk
dapat berolahraga secara benar, manusia perlu dibekali dengan
pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Pendidikan Jasmani
diyakini dapat memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk: (1)
Berpartisipasi secara teratur dalam kegiatan olahraga, (2) pemahaman dan
penerapan konsep yang benar tentang aktivitas-aktivitas tersebut agar
dapat melakukannya dengan aman, (3) pemahaman dan penerapan nilai-
nilai yang terkandung dalam aktivitas-aktivitas tersebut agar terbentuk
sikap dan perilaku sportif dan positif, emosi stabil, dan gaya hidup sehat.
Struktur materi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dari TK
sampai SMA dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Materi untuk TK sampai SD/MI kelas 3 SD meliputi kesadaran akan
tubuh dan gerakan, kecakapan gerak dasar, gerakan ritmik,
permainan, akuatik (olahraga di air/bila memungkinkan), senam,
kebugaran jasmani dan pembentukan sikap dan perilaku.
2) Materi pembelajaran untuk SD/MI kelas 4 sampai 6 adalah aktivitas
pembentukan tubuh, permainan dan modifikasi olahraga, kecakapan

Modul PLPG Penjaskes 2013
165
hidup di alam bebas, dan kecakapan hidup personal (kebugaran
jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku).
3) Materi pembelajaran untuk kelas 7 dan 8 SMP meliputi:
teknik/keterampilan dasar permainan dan olahraga, senam, aktivitas
ritmik, akuatik, kecakapan hidup di alam terbuka, dan kecakapan
hidup personal (kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan
perilaku).
4) Materi pembelajaran kelas 9 SMP sampai kelas 12 SMA/MA adalah
teknik permainan dan olahraga, uji diri/senam, aktivitas ritmik,
akuatik, kecakapan hidup di alam terbuka dan kecakapan hidup
personal (kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku).

e. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Penjasorkes
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Mata Pelajaran Penjasorkes
SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/SMAK dan SLB antara lain
sebagai berikut :
1) Standar Kompetensi Lulusan Penjasorkes SD/MI
(1) Mempraktekkan gerak dasar lari, lompat, dan jalan dalam
permainan sederhana serta nilai-nilai dasar sportivitas seperti
kejujuran, kerjasama, dan lain-lain.
(2) Mempraktekkan gerak ritmik meliputi senam pagi, senam
kesegaran jasmani (SKJ), dan aerobik.
(3) Mempraktekkan gerak ketangkasan seperti ketangkasan dengan
dan tanpa alat, serta senam lantai.
(4) Mempraktekkan gerak dasar renang dalam berbagai gaya serta
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
(5) Mempraktekkan latihan kebugaran dalam bentuk
meningkatkan daya tahan kekuatan otot, kelenturan serta
koordinasi otot.
(6) Mempraktekkan berbagai keterampilan gerak dalam kegiatan
penjelajahan di luar sekolah seperti perkemahan, piknik, dan
lain-lain.
(7) Memahami budaya hidup sehat dalam bentuk menjaga
kebersihan diri dan lingkungan, mengenal makanan sehat,
mengenal berbagai penyakit dan pencegahannya serta
menghindarkan diri dari narkoba.
2) Standar Kompetensi Lulusan Penjasorkes SMP/MTs
(1) Mempraktekkan variasi dan kombinasi teknik dasar permainan,
olahraga serta atletik dan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya.
(2) Mempraktekkan senam lantai dan irama dengan alat dan tanpa
alat.
(3) Mempraktekkan teknik renang dengan gaya dada, gaya bebas,
dan gaya punggung.
(4) Mempraktekkan teknik kebugaran dengan jenis latihan beban
Modul PLPG Penjaskes 2013
166
menggunakan alat sederhana.
(5) Mempraktekkan kegiatan-kegiatan di luar kelas seperti
melakukan perkemahan, penjelajahan alam sekitar dan piknik.
(6) Memahami budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari
seperti perawatan tubuh serta lingkungan, mengenal berbagai
penyakit dan cara pencegahannya serta menjauhi narkoba.

3) Standar Kompetensi Lulusan Penjasorkes SMA/MA
(1) Mempraktekkan keterampilan permainan dan olahraga dengan
menggunakan peraturan.
(2) Mempraktekkan rangkaian senam lantai dan irama serta nilai-
nilai yang terkandung di dalamnya.
(3) Mempraktekkan pengembangan mekanik sikap tubuh,
kebugaran jasnani serta aktivitas lainnya.
(4) Mempraktekkan gerak ritmik yang meliputi senam pagi, senam
aerobik, dan aktivitas lainnya.
(5) Mempraktekkan kegiatan dalam air seperti renang, permainan
di air dan keselamatan di air.
(6) Mempraktekkan kegiatan-kegiatn di luar kelas seperti
melakukan perkemahan, penjelajahan alam sekitar, mendaki
gunung, dan lain-lain.
(7) Memahami budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari
seperti perawatan tubuh serta lingkungan yang sehat, mengenal
berbagai penyakit dan cara mencegahnya serta menghindari
narkoba dan HIV.

4) Standar Kompetensi Lulusan Penjasorkes SMK/SMAK
(1) Mempraktekkan keterampilan permainan dan olahraga dengan
menggunakan peraturan.
(2) Mempraktekkan rangkaian senam lantai dan irama serta nilai-
nilai yang terkandung di dalamnya.
(3) Mempraktekkan pengembangan mekanik sikap tubuh,
kebugaran jasmani serta aktivitas lainnya.
(4) Mempraktekkan gerak ritmik yang meliputi senam pagi, senam
aerobik, dan aktivitas lainnya.
(5) Mempraktekkan kegiatan dalam air seperti renang, permainan
di air dan keselamatan di air.
(6) Mempraktekkan kegiatan-kegiatn di luar kelas seperti
melakukan perkemahan, penjelajahan alam sekitar, mendaki
gunung, dan lain-lain.
(7) Memahami budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari
seperti perawatan tubuh serta lingkungan yang sehat, mengenal
berbagai penyakit dan cara mencegahnya serta menghindari
narkoba dan HIV.

Modul PLPG Penjaskes 2013
167
E. Rangkuman
Penjasorkes merupakan bagian integral dari pendidikan secara
keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,
keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial,
penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat
dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan
kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan nasional.
Melalui Pendidikan Jasmani, peserta didik disosialisasikan ke dalam
aktivitas jasmani termasuk keterampilan berolahraga. Oleh karena itu
tidaklah mengherankan apabila banyak yang meyakini dan mengatakan
bahwa Pendidikan Jasmani merupakan bagian dari pendidikan
menyeluruh, dan sekaligus memiliki potensi yang strategis untuk
mendidik.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Pendidikan
Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang
didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan
keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif,
sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara
seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh
ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap peserta didik.


Modul PLPG Penjaskes 2013
168
F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!
1. Jelaskan pengertian Pendidikan Jasmani menurut Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP)!
2. Jelaskan perbandingan dan perbedaan antara pendidikan jasmani dan
pendidikan olahraga!
3. Jelaskan falsafah pendidikan jasmani!
4. Jelaskan landasan ilmiah pelaksanaan pendidikan jasmani dan
olahraga di sekolah berdasarkan keilmuan yang benar.
5. Sebutkan tujuan dan fungsi mata pelajaran Pendidikan Jasmani,
Olahraga dan Kesehatan!

Soal Latihan Pilihan Berganda
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang merupakan
jawaban paling benar!
1. Suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain
untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan
keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan
aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi merupakan . . . .
A. tujuan pendidikan jasmani
B. makna pendidikan jasmani
C. pengertian pendidikan jasmani
D. fungsi pendidikan jasmani

2. Pendidikan jasmani merupakan usaha pendidikan dengan
menggunakan jasmani sebagai . . . .
A. alat perantaranya
B. tujuan akhir kegiatan
C. hasil akhir kegiatan
D. materi proses pelaksanaannya

3. Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan
secara keseluruhan yang direncanakan secara sistematis dalam
rangka mencapai tujuan . . . .
A. pendidikan nasional
B. mata pelajaran pendidikan jasmani
C. harkat hidup orang banyak
D. sehat jasmani dan rohani

4. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang
berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting
yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat
langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas

Modul PLPG Penjaskes 2013
169
jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan
secara . . . .
A. berkelanjutan
B. berkesinambungan
C. terus-menerus
D. sistematis
5. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina
pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik dan
sekaligus membentuk . . . .
A. pola hidup yang teratur
B. pola hidup sehat secara menyeluruh
C. pola sehat dengan makanan yang seimbang
D. pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat

Kunci Jawaban
1. D
2. C
3. D
4. A
5. B
DAFTAR PUSTAKA
Jewet, A.E. (1994). Curriculum Theory and Research in Sport Pedagogy, dalam
Sport Science Review. Sport Pedagogy . Vol. 3 (1), h. 11-18.
Jewett; Bain; dan Ennis. (1995). The Curriculum Process in Physical Education,
Second Edition, Brown & Benchmark Publishers.
Lutan, Rusli. (1988). Belajar Keterampilan Motorik Pengantar Teori dan Metode.
Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi.
Lutan, Rusli. (2005). Pendidikan Jasmani dan Olahraga Sekolah: Penguasaan
Kompetensi Dalam Konteks Budaya Gerak.
Macdonald, D. (2000). Curriculum change and the postmodern world: The school
curriculum-reform project an anachronism.
Mahendra, Agus, dkk. (2006). Implementasi Movement-Problem-Based
Learning Sebagai Pengembangan Paradigma Reflective Teaching Dalam
Pendidikan Jasmani: Sebuah Community-Based Action Research Di
Sekolah Menengah Di Kota Bandung.
Makmun, Abin Syamsudin. (1981). Psikologi Kependidikan. Bandung : IKIP.
Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional. Bandung : ROSDA.
Siedentop, D., (1991). Developing Teaching Skills in Physical Education.
Mayfield Publishing Company.

Modul PLPG Penjaskes 2013
170
BAB VII
PENDALAMAN MATERI
BELAJAR GERAK (MOTOR LEARNING)

A. Pokok-pokok Isi Materi
Kemampuan untuk belajar merupakan keistimewaan mahluk hidup.
Belajar menjadikan organisme mampu mengadaptasi pada kondisi tertentu
dari lingkungan dan memanfaatkan keuntungan dari pengalamannya.
Untuk manusia, belajar menjadi lebih-lebih sangat penting. Bayangkan
kesukaran yang dihadapi manusia jika mereka dipaksa untuk menjalani
kehidupannya dengan dibekali semata-mata kemampuan yang dibawanya
sejak lahir. Jika demikian, manusia akan menjadi mahluk hidup yang
sangat sederhana; tidak dapat berjalan, berbicara, menulis, membaca,
apalagi melakukan gerak keterampilan kompleks yang termasuk ke dalam
olahraga, penampilan seni, atau kegiatan sehari-hari.
Banyak faktor yang menyumbang pada kemampuan manusia untuk
mempelajari keterampilan gerak. Ketika seorang anak tumbuh dan
kembang, kemampuan penampilannya juga bertambah. Sama halnya,
ketika manusia lebih kuat lagi atau meningkat daya tahan
kardiovaskularnya, merekapun dapat menampilkan aktivitas tertentu
secara lebih efektif. Akan tetapi, kematangan dan tingkat kebugaran tidak
harus selalu terkait dengan tingkat keterampilan. Sebuah faktor utama
yang nampaknya secara konsisten terkait dengan tingkat keterampilan
adalah yang datang sebagai hasil langsung dari latihan suatu tugas, atau
disebut pengalaman belajar.
Proses pembelajaran gerak merupakan fenomena yang paling
menarik yang terjadi pada diri manusia. Melalui belajar gerak seorang anak
yang sejatinya tidak bisa apa-apa, berubah menjadi individu yang berbeda
sama sekali, di luar apa yang bisa dibayangkan. Ia bisa menjadi pesenam
terampil, atau bahkan menjadi seorang pemain sirkus yang dapat
menampilkan gerakan-gerakan akrobatik yang kompleks. Di luar itu, tentu
saja, ia pun bisa menjadi apa saja dalam bidang profesi lain yang
memerlukan tingkat keterampilan yang tinggi, seperti pilot, dokter bedah,
atau pekerja seni sekalipun.
Proses pembelajaran gerak bukan hanya harus dimengerti oleh
seorang guru Penjas, akan tetapi oleh seorang pelatih dalam cabang
olahraga apapun. Oleh karena itu, tidak tepat sangkaan seorang pelatih top
dalam salah satu cabang olahraga kita yang menyatakan bahwa
pengetahuan tentang teori belajar gerak hanya cocok untuk dikuasai oleh
guru Penjas, akan tetapi tidak oleh pelatih. Pernyataan ini tentu keliru,
karena baik guru Penjas maupun pelatih sama-sama berhubungan dengan
tugas untuk menyebabkan seorang atau beberapa individu menguasai
keterampilan tertentu melalui proses pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru diharapkan
mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi

Modul PLPG Penjaskes 2013
171
permainan dan olahraga, intemalisasi nilai-nilai (sportivitas, jujur,
kerjasama), dan pembiasaan pola hidup sehat. Dalam pelaksanaan
pendidikan jasmani melalui pengajaran yang konvensional di dalam kelas
yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik, mental,
intelektual, emosi dan sosial. Selain itu, aktivitas yang diberikan dalam
pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik, sehingga
aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran.
Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) belajar gerak
(motor learning): ini berisi tentang: pengertian belajar gerak (motor learning),
tahap-tahap belajar gerak pada anak, dan karakter perkembangan serta
pengembangan pola gerak sesuai dengan tahap perkembangan.
B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Menguassai materi, struktur, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran Penjarorkes.
2. Kompetensi Dasar
a. Menganalisis perkembangan gerak dan belajar gerak peserta didik.
b. Memilih aktivitas dalam pengembangan pola gerak dasar.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru
(PLPG) Penjasorkes ini Bapak/Ibu akan memiliki kompetensi yang
tercermin dari indikator sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi tahap-tahap belajar gerak pada anak.
2. Mengidentifikasi karakter pola gerak pada setiap tahap perkembangan.
3. Melakukan pengembangan pola gerak melalui pembelajaran
penjasorkes.

D. Uraian Materi Modul
1. Pengertian Belajar Gerak
Pengertian istilah belajar gerak atau motorik tak terlepas dari
pengertian istilah belajar pada umumnya. Karena itu, dalam bagian ini
pengungkapan makna belajar pada umumnya dan belajar gerak pada
khusunya akan dibahas lebih mendalam.
Belajar dipahami oleh orang awam sebagai pemikiran pengetahuan
atau keterampilan baru. Definisi ini tentu tidak memadai sehingga perlu
dikembangkan definisi yang lebih lengkap. Oxendine (1968) yang dikutip
oleh Rusli (1988:101) menggambarkan belajar sebagai berikut: (1)
Akumulasi pengetahuan, (2) penyempurnaan suatu kegiatan, (3)
pemecahan suatu masalah, (4) penyesuaian dengan situasi yang berubah.
Konsep-konsep menjadi kunci dalam deskripsi tersebut adalah perubahan,
penyesuaian dan adaptasi.
Konsep belajar pada umumnya dan belajar motorik sebagai akibat
perilaku motorik pada khususnya, telah dirumuskan dalam berbagai
definisi oleh para ahli. Belajar dapat diartikan semacam seperangkat
Modul PLPG Penjaskes 2013
172
peristiwa, kejadian atau perubahan yang terjadi. Apabila seseorang berlatih
memungkinkan mereka menjadi semakin terampil dalam melaksanakan
suatu kegiatan.
Belajar adalah hasil langsung dari praktek atau pengalaman. Belajar
tidak dapat diukur secara langsung, karena proses yang mengantarkan
pencapaian perubahan perilaku berlangsung secara internal atau dalam
diri manusia tidak bisa diamati secara langsung, terkecuali ditafsirkan
berdasarkan perubahan perilaku itu sendiri. Belajar dipandang sebagai
proses yang menghasilkan perubahan relatif permanen dalam
keterampilan. Perubahan dalam perilaku yang menyebabkan perubahan
suasana emosi, motivasi, atau keadaan internal tidak dianggap sebagai
akibat belajar.
Dari penjelasan pengertian di atas, dapat disimpulkan pengertian
belajar adalah seperangkat proses yang bertalian dengan latihan atau
pengalaman yang mengantarkan ke arah perubahan permanen dalam
perilaku terampil. Meskipun tekanan belajar gerak ialah penguasaan
keterampilan, tidaklah berarti aspek lain, seperti peranan domain kognitif
diabaikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Meinel (1976) yang dikutip oleh
Rusli (1988:102) mengatakan sebagai berikut : Belajar gerak itu sendiri dari
tahap penguasaan, penghalusan, dan penstabilan gerak, atau keterampilan
teknik olahraga. Integrasi keterampilan di dalam perkembangan total dari
kepribadian seseorang. Karena itu penguasaan keterampilan baru
diperoleh melalui penerimaan dan pemilikian pengetahuan,
perkembangan koordinasi dan kondisi fisik sebagaimana halnya
kepercayaan dan semangat juang.
Berbeda halnya dengan orang-orang awam, atau mereka yang
menganggap proses belajar sebagai suatu kejadian yang berlangsung
dengan sendirinya. Mereka menganggap belajar merupakan suatu gejala
yang sederhana. Mereka mungkin mengatakan, pengalaman adalah guru
yang terbaik, atau peniruan (imitasi) merupakan cara yang terbaik bagi
seseorang untuk belajar. Dikalangan mereka, tak ada keinginan untuk
membangun suatu teori, karena mereka menganggap dalam banyak hal
teori itu tidak praktis dan hanya cocok untuk ilmuwan saja.
Dalam banyak hal, terdapat gambaran yang masih kabur tentang apa
yang dikerjakan oleh hewan. Atas dasar uraian sepintas itu, kita dapat
menyimpulkan, perilaku hewan cenderung lebih banyak dikendalikan oleh
naluri, sehingga kegiatan belajar pada tingkat yang lebih tinggi merupakan
bagian integral dari budaya manusia, sehingga manusialah yang memiliki
kapasitas belajar. Pernyataan ini cenderung mengatakan ungkapan yang
meremehkan kemampuan binatang untuk belajar, karena bagaimana
kemampuan mental binatang tak terungkap oleh para ilmuwan. Untuk
kebutuhan analisis, kita dapat mengatakan, binatang hanya memiliki
kapasitas untuk meniru perilaku tertentu.
Bagi orang awam, istilah belajar dipahami sebagai pemikiran
pengetahuan atau keterampilan baru. Definisi ini sudah barang tentu tak

Modul PLPG Penjaskes 2013
173
memadai, sehingga perlu dielaborasi suatu definisi yang agak lebih
lengkap. Oxendine (1968) misalnya menggambarkan (1) akumulasi
pengetahuan; (2) penyempurnaan dalam suatu kegiatan; (3) pemecahan
suatu masalah; dan (4) penyesuaian dengan situasi yang berubah.
Konsep-konsep yang menjadi kunci dalam deskripsi tersebut adalah
perubahan, penyesuaian, dan adaptasi. Sebagai pegangan, belajar
didefinisikan sebagai proses dimana perilaku dikembangakan dengan
sengaja melalui latihan. Karena itu, kita tak memasukkan gejala yang
terdapat pada belajar yang lebih rendah tingkatannya seperti belajar
memcoba dan salah atau belajar melalui reflex bersyarat.
Konsep belajar pada umumnya, dan belajar gerak sebagai belajar
perilaku motorik pada khususnya, telah dirumuskan dalam berbagai
definisi oleh para ahli. Sebagai kelanjutan pembahasan makna belajar yang
telah dipaparkan dalam paragrap di atas tadi, abilitas untuk menghasilkan
suatu keterampilan berbuat. Karena itu, belajar dapat diartikan semacam
seperangkat peristiwa, kejadian, atau perubahan yang terjadi apabila
seseorang berlatih yang memungkinkan mereka menjadi semakin terampil
dalam melaksanakan suatu kegiatan.
Kedua, belajar adalah hasil langsung dari praktek atau pengalaman.
Ketiga, belajar tak dapat diukur secara langsung, karena proses yang
mengantarkan pencapaian perubahan perilaku berlangsung secara internal
atau dalam diri manusia sehingga tak dapat diamati secara langsung,
kecuali ditafsirkan berdasarkan perubahan perilaku itu sendiri. Keempat,
belajar dipandang sebagai proses yang menghasilkan perubahan relatif
permanen dalam keterampilan; perubahan dalam perilaku yang
menyebabkan perubahan pada suasana emosi, motivasi, atau keadaan
internal tidak dianggap sebagai akibat belajar. Pandangan ini memang
bertendensi menganut aliran behaviorisme.
Sebagai sintetis dari keempat aspek tersebut, dihasilkan definisi
sebagai berikut: Belajar motorik adalah seperangkat proses yang bertalian
dengan latihan atau pengalaman yang mengantarkan kearah perubahan
permanen dalam perilaku terampil (Schmidt, 1982). Meskipun tekanan
belajar motorik ialah penguasaan keterampilan tidaklah berarti aspek lain,
seperti peranan domain kognitif diabaikan. Hal ini dapat kita ikuti dalam
penjelasan Meinel (1976) yang menggambarkan analisis spesifik dari
belajar dalam konteks olahraga. Menurut Meinel, belajar gerak itu terdiri
dari penguasaan, penghalusan, dan penstabilan gerak atau keterampilan
tekhnik olahraga.
Dia menekankan, integrasi keterampilan di dalam perkembangan
total dari kepribadian seseorang. Karena itu, penguasaan keterampilan
baru diperoleh melalui penerimaan dan pemilikan pengetahuan,
perkembangan koordinasi dan kondisi fisik sebagaimana halnya
kepercayaan, dan semangat juang. Ditambahkannya, belajar gerak dalam
olahraga mencerminkan suatu kegiatan yang disadari dimana aktivitas
belajar diarahkan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Modul PLPG Penjaskes 2013
174
Sebagai pendukung analisis Meinel tersebut, Schnabel (1983)
menjelaskan, karakteristik yang dominan dari belajar adalah kreativitas
ketimbang sikap hanya sekedar menerima di pihak siswa yang belajar.
Penjelasan tersebut, menegaskan pentingnya psoki-fisik sebagai suatu
kesatuan untuk merealisasi peningkatan keterampilan. Untuk kebutuhan
analisis, keempat karateristik belajar motorik yang dipaparkan oleh Schmidt
(1982), perlu dikupas lebih lanjut hal-hal sebagai berikut.

a. Belajar sebagai sebuah proses
Dalam psikologi kognitif dijelaskan, sebuah proses adalah
seperangkat kejadian atau peristiwa yang berlangsung bersama,
menghasilkan beberapa perilaku tertentu. Sebagai contoh, dalam membaca,
proses diasosiasikan dengan gerakan mata, menangkap kode dan simbol
dalam teks, memberikan pengertian sesuai dengan perbendaharaan kata
yang tersimpan dalam ingatan, dan seterusnya. Sama halnya dengan
belajar keterampilan motorik, di dalamnya terlibat suatu proses yang
menyumbang kepada perubahan dalam perilaku motorik sebagai hasil dari
berlatih. Karena itu, fokus belajar motorik ialah perubahan yang terjadi
dalam organisme yang memungkinkannya untuk melakukan sesuatu yang
berbeda dengan sebelum berlatih.
Penjelasan tersebut sangat berbeda dengan definisi belajar yang
menitikberatkan pada perubahan perilaku sebagai subjek kajian. Banyak
para ahli yang memaparkan definisi belajar sebagai perubahan yang relatif
permanen dalam perilaku sebagai hasil dan latihan atau pengalaman
(misalnya, Morgan and King, 1971).
Definisi ini dengan gamblang menyatakan bahwa perubahan perilaku
adalah belajar. Sepaham dengan Schmidt (1982), mengemukakan belajar
motorik itu adalah seperangkat proses yang mengantarkan ke arah
perubahan perilaku. Jadi, belajar bukan sebuah perubahan perilaku; belajar
merupakan proses yang mendukung terjadinya perubahan semacam itu.

b. Belajar gerak adalah hasil langsung dari latihan
Dalam modul ini, perubahan perilaku motorik berupa keterampilan
dipahami sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Hal ini perlu
dipertegas untuk membedakan perubahan yang terjadi karena faktor
kematangan dan pertumbuhan. Faktor-faktor juga menyebabkan
perubahan perilaku (seperti anak yang tua lebih terampil melakukan suatu
keterampilan yang baru daripada anak yang lebih muda), meskipun dapat
disimpulkan perubahan itu karena belajar. Sama halnya dengan persoalan
tersebut, peningkatan kemampuan fisik dapat menyebabkan peningkatan
keterampilan seseorang dalam suatu cabang olahraga, sehingga dapat
dibuat kesimpulan yang salah bahwa perubahan itu karena belajar.
c. Belajar gerak tak teramati secara langsung
Seperti dijelaskan di muka, belajar motorik atau keterampilan
olahraga tak teramati secara langsung. Proses yang terjadi di balik

Modul PLPG Penjaskes 2013
175
perubahan keterampilan itu mungkin sekali amat kompleks dalam system
persyaratan, seperti misalnya bagaimana informasi sensoris diproses,
diorganisasi, dan kemudian diolah langsung, dan karena itu, hanya dapat
ditafsirkan eksistensinya dari perubahan yang terjadi dalam keterampilan
atau perilaku motorik. Penjelasan tersebut menyebabkan kita sukar
mempelajari proses belajar motorik itu sendiri, termasuk penyusunan
design eksperimen yang memuaskan untuk mengamati perubahan
perilaku yang memungkinkan kita dapat suatu kesimpulan yang logis yang
berkaitan dengan perubahan dalam beberapa kondisi internal dalam jiwa
dan raga.

d. Belajar menghasilkan kapabilitas untuk bereaksi (kebiasaan)
Pembahasan belajar motorik juga dapat ditinjau dari munculnya
kapabilitas untuk melakukan suatu tugas dengan terampil. Keterampilan
tersebut dapat dipahami sebagai suatu perubahan dalam system pusat
syaraf. Tujuan latihan ialah untuk memperkuat atau memantapkan
jumlah perubahan yang terdapat pada kondisi internal. Kondisi internal
ini sering disebut dalam istilah kebiasaan.
Tujuan para peneliti itu ialah untuk memprediksi kadar atau kuatnya
kebiasaan itu, sementara para pelatih olahraga bertujuan untuk
menciptakan kebiasaan yang langgeng. Perlu disepakati, istilah kapabilitas
disini penting maknanya karena berimplikasi pada keadaan sebagai
berikut: jika telah tercipta kebiasaan dan kebiasaan itu kuat, keterampilan
dapat diperagakan jika terdapat kondisi yang mendukung; tapi, jika
kondisinya tidak mendukung (misalnya, lelah), keterampilan yang
dimaksud tak akan terjadi.
e. Belajar gerak relatif permanen
Ciri lain dari belajar motorik adalah relatif permanen. Hasil belajar itu
relatif bertahan hingga waktu relatif lama. Misalnya saja, seseorang yang
telah biasa mengendarai sepeda, meskipun selama beberapa tahun dia
tidak mengendarai sepeda, namun pada suatu ketika dia tetap dapat
mengendarai sepeda. Dalam kasus lain, perubahan itu terjadi dalam waktu
cepat, meskipun hanya menempuh waktu beberapa menit. Secara dramatis
dapat digambarkan, manakala kita belajar dan berlatih, maka kita tak
pernah sama dengan keadaan sebelumnya. Dan belajar menghasilkan
perubahan yang relatif permanen.
Persoalan berikutnya ialah, seberapa lama keterampilan itu melekat?
Memang sukar untuk menjawab, berapa lama hasil belajar itu akan
melekat. Meskipun sukar ditetapkan secara kuantitatif, apakah selama satu
bulan, bertahun-tahun atau hanya 2-3 hari, untuk kebutuhan analisis kita
dapat menegaskan, belajar akan menghasilkan beberapa efek yang melekat.

f. Belajar gerak bisa menimbulkan efek negatif
Kesan umum yang kita peroleh dari uraian terdahulu ialah bahwa
belajar akan menimbulkan efek positif, yakni penyempurnaan
Modul PLPG Penjaskes 2013
176
keterampilan, atau penampilan gerak seseorang. Namun demikian,
anggapan ini mengandung persoalan, karena apa yang disebut kemajuan
atau penyempurnaan tak terlepas dari persepsi si pengamat. Perubahan
perilaku perubahan pada seseorang bisa jadi dianggap sebagai peningkatan
bagi seorang pengamat, dan sebagai suatu kemunduran bagi yang lain.
Banyak contoh yang dapat kita kemukakan dari kegiatan olahraga,
seperti dalam loncat indah atau dalam senam, yang menggambarkan efek
negatif dari kegiatan belajar atau latihan. Coba bayangkan, misalnya
seorang pesenam belajar gerakan salto ke belakang. Pada suatu ketika,
lompatannya kurang tinggi dan putaran badannya terlampau banyak
sehingga dia jatuh terlentang.
Apa yang terjadi kemudian? Dia mengalami rasa takut untuk
mencoba kembali gerakan salto ke belakang. Rasa sakit pada bagian
punggungnya, menyebabkan dia tak berani lagi melakukan gerakan itu.
Rasa takut itu mungkin berlangsung selama beberapa lama, sampai
kemudian keberaniannya bangkit kembali. Contoh semacam itu, cukup
tepat dipakai sebagai ilustrasi tentang gejala kemunduran suatu
keterampilan sebagai rangkaian akibat kegiatan belajar pada waktu
sebelumnya.
Kesimpulan tersebut di atas memang mengandung peluang untuk
didiskusikan lebih lanjut. Kesan buruk terhadap pengalaman masa lampau,
kegagalan pahit dalam suatu kegiatan, atau ketidak berhasilan melakukan
satu jenis keterampilan dengan sempurna, justru bukan berakibat negatif,
tapi menjadi pendorong ke arah perubahan yang positif. Pengalaman
semacam itu menjadi cambuk bagi seseorang untuk lebih giat belajar atau
berlatih hingga mencapai hasil yang lebih baik.

2. Tahap-tahap Belajar Gerak pada Anak
a. Tahap-tahap belajar gerak
Ada kesamaan pendapat para ahli bahwa belajar keterampilan gerak
berkembang melalui beberapa tahap. Fitts (1964); Fitts dan Posner (1967)
yang dikutip oleh Rusli (1988:305) membahas tahap-tahap belajar gerak,
yaitu: (1) tahap kognitif, (2) tahap asosiatif, (3) tahap otomatis. Untuk lebih
jelasnya akan diuraikan satu persatu berikut ini:
1) Tahap kognitif
Tahap kognitif adalah tingkat permulaan belajar olahraga untuk
memahami teknik yang baru diperkenalkan, diperagakan dan diterangkan
oleh guru, pembina dan pelatih olahraga. Pada tahap kognitif ini, sering
juga terjadi kejutan berupa peningkatan yang besar jika dibandingkan
dengan kemajuan pada tahap-tahap berikutnya. Juga tidak mustahil siswa
yang bersangkutan mencoba-coba dan kemudian sering juga salah dalam
melaksanakan tugas gerak.
Gerakannya memang masih nampak kaku, kurang terkoordinasikan,
kurang efisien, bahkan hasilnya tidak konsisten. Sebagai contoh, seorang
pemula dalam permainan bolavoli mampu melakukan passing yang baik,

Modul PLPG Penjaskes 2013
177
namun keterampilan tersebut hanya sekali-kali dapat dilakukan. Si pelaku
masih mencari-cari hubungan cara melaksanakan dan hasil yang dicapai.
Karena itu, masih belum terbentuk satu pola gerak yang konsisten. Siswa
yang bersangkutan diharapkan dengan tugas yakni apa yang harus
dilakukan sehingga tahap pertama ini oleh Adams disebut tahap verbal-
motor.
2) Tahap asosiatif
Tahap asosiatif adalah tahap dimana belajar olahraga yang
didominasi oleh perencanaan dan pelaksanaan strategi-strategi latihan
yang efektif. Pada tahap asosiatif ini penampilan seseorang belum baik
benar dan harus terus meningkatkan pemahaman teknik. Permulaan dari
tahap ini ditandai oleh semakin efektif cara-cara siswa melaksanakan tugas
gerak dan dia mulai mampu menyesuaikan diri dengan keterampilan yang
dilakukan. Akan tampak, penampilan yang terkoordinasi dengan
perkembangan yang terjadi secara bertahap, dan lambat laun gerakan
semakin konsisten.
Jika seorang pemula belajar melakukan passing dalam permainan
bolavoli hanya mampu masuk ke melewati net 4 - 6 dari sepuluh
kesempatan, maka memasuki tahap asosiatif ini, dia makin paham tentang,
misalnya berapa kira-kira daya yang harus dikerahkan, atau bagaimana
peranan dari jari-jari tangan untuk mempassing bola.
Gerakannya tidak lagi untung-untungan, tapi makin konsisten.
Artinya makin berpola dan semakin menyadari kaitan antara gerak dan
hasil yang dicapai, pada tahap ini, seperti yang dikemukakan oleh beberapa
penulis, dan salah satunya Adams (1971); Fitts (1964) tahap verbal semakin
ditinggalkan dan si pelaku memusatkan perhatiannya pada aspek
bagaimana melakukan pola gerak yang baik, ketimbang mencari-cari pola
mana yang akan dihasilkan.
3) Tahap otomatisasi
Tahap otamatis adalah tahap dimana seseorang memahami dengan
baik keterampilan mereka, bahkan dapat mengoreksi diri sendiri, tetapi
kadang-kadang mereka tetap memerlukan pelatihan teknik untuk
melakukan perbaikan-perbaikan tertentu. Setelah seseorang berlatih
selama beberapa hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, dia
memasuki tahap otomatis.
Dikatakan demikian, karena keterampilan gerak yang dilakukannya,
dikerjakannya secara otomatis. Pelaksanaannya tugas gerak bersangkutan
tidak seberapa terganggu oleh kegiatan yang lainnya yang terjadi secara
simultan. Seorang pemain bolavoli dapat melakukan passing atas secara
efektif, meskipun dalam keadaan posisi yang sulit.
b. Macam-macam gerak dasar
Guna dapat menyiapkan secara baik untuk mengajarkan Pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan, maka perlu kiranya diperhatikan gerak
dasar untuk diberikan kepada peserta didik. Gerak dasar tersebut antara
lain sebagai berikut:
Modul PLPG Penjaskes 2013
178
1) Gerak dasar non lokomotor
Sebagai contoh untuk gerak dasar non-lokomotor yang dilakukan
pada gerak senam pemanasan yang gerakannya dilakukan di tempat saja,
mulai gerakan otot leher, pundak, pinggang dan tungkai serta lengan.
Dalam memberikan jenis latihan gerak dasar tersebut untuk memudahkan
guru dilakukan dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas, dengan
demikian akan variasi gerak yang dapat disiapkan oleh guru tersebut.
Struktur gerak dasar untuk non-lokomotor ini dapat dilakukan dengan
gerak: ayunan, putaran, direnggut-rengutkan sesuai kebutuhan dan
persendian yang digerakkan.
2) Gerak dasar lokomotor
Gerak dasar lokomotor adalah gerakan yang sangat disenangi oleh
para anak didik, karena mereka tidak tinggal di tempat, akan tetapi
bergerak berpindh-pindah tempat dengan bermacam-macam posisi: posisi
tidur terlentang, terlungkup untuk merayap, posisi jongkok, posisi
berlutut, posisi berdiri, dan sebagainya. Dengan mengawali pada posisi-
posisi tersebut guru dapat melakukan latihan dengan bermacam-macam
variasi.
Hal ini sudah tentu dengan memperhatikan pada situasi dan kondisi
tempat berlatihnya, serta rata menanjak, menurun, dan sebagainya. Gerak
dasar yang utama mulai dari merayap, berjalan, berlari, melompat dan
meloncat dapat dilakukan atau diajarkan oleh guru dengan bervariasi
sesuai dengan kreativitas guru tersebut.
3) Gerak dasar manipulatif
Struktur gerak dasar manipulatif yaitu gerakan yang dilakukan oleh
individu disebabkan adanya objek yang perlu digerakkan, baik untuk
didekatkan (menangkap) dan dijauhnya: dilempar, ditendang, disepak,
dipantulkan, dipukul, dan sebagainya.
Dari gerak dasar inti tersebut dapat dimanfaatkan oleh para guru
dalam menyusun suatu latihan yang akan diberikan kepada peserta
didiknya, bergantung pada daya kreativitas guru dalam membuat atau
menyusun gerakan dasar tersebut untuk lebih bervariasi.
Dengan memperhatikan struktur program tersebut, maka guru perlu
membuat bermacam-macam gerakan bervariasi berdasarkan gerak dasar
sebagai persiapan guru mengajarkan mata pelajaran Penjasorkes di kelas.

c. Klasifikasi keterampilan gerak
Keterampilan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam
keterampilan dan kelas-kelasnya. Pengkelasan ini dimaksudkan untuk
membantu para peneliti dan pendidik dalam upaya memerapkan
keterampilan dalam keperluan penelitian atau pengajarannya. Dengan
mengetahui perbedaan-perbedaan dalam keterampilan tersebut, maka
akan mudahlah para pendidik untuk membuat pentahapan pengajarannya.



Modul PLPG Penjaskes 2013
179
1) Keterampilan terbuka dan tertutup
Keterampilan bisa dibedakan antara keterampilan-keterampialn
terbuka dan tertutup. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan
(environment) pada saat keterampilan yang bersangkutan dilakukan.
Menurut Schmidt (1991) Keterampilan Terbuka (open skill) adalah
keterampilan yang jika dilakukan lingkungan yang berkaitan dengannya
bervariasi dan tidak dapat diduga. Ini hampir sama seperti yang
dikemukakan oleh Magil (1985) yang menyebutkan bahwa keterampilan
terbuka adalah keterampilan-keterampilan yang melibatkan lingkungan
yang selalu berubah dan tidak bisa diperkirakan.
Sebagai contoh dari keterampilan ini misalnya pukulan-pukulan pada
stroke tenis atau pukulan pada softball yang kedatangan bolanya dari
lawan sering tidak bisa diduga sebelumnya, baik dalam hal kecepatannya
maupun dalam hal arahnya. Dalam hal ini Gentile (1972) mengatakan
bahwa pelaku harus bertindak atas rangsangan yang datang.
Dengan demikian, pelaku tidak bisa menunggu atau berdiri di satu
titik saja atau memukul bola dengan jenis pukulan tertentu saja, tetapi lebih
ditentukan dengan arah dan kecepatan dari bola yang datang. Untuk bisa
berhasil dengan baik, maka pemain harus bergerak dan bertindak sesuai
dengan lokasi ruang dari bola serta tuntutan kecepatannya. Marilah kita
batasi saja keterampilan terbuka ini sebagai keterampilan yang
pelaksanaannya lebih ditentukan oleh lingkungan yang tidak tetap dan
tidak bisa diduga.
Keterampilan Tertutup (close skill) menunjukkan keterampilan yang
sebaliknya. Schmidt dan Magis sama-sama mendefinisikan keterampilan
tertutup ini sebagai keterampilan yang dilakukan dalam lingkungan yang
relatif stabil dan dapat diduga. Contohnya seperti keterampilan-
keterampilan yang menjadi ciri olahraga bowling, golf, panahan, senam
atau renang. Kesemua keterampilan dalam olahraga di atas merupakan
keterampilan yang ditentukan oleh pemain atua pelaku, tanpa harus
dibatasi oleh lingkungan sekitar.
Cobalah lihat pada olahraga panahan misalnya: Si pemanah hanya
melepaskan anak panahnya pada busur pada saat yang ia rasa tepat. Atau
lihat juga olahraga golf. Pegolf hanya memukul bola kapan saja ia mau.
Oleh karena itu kedua keterampilan ini sering juga dipertukarkan dengan
mudah dengan istilah self-paced skill (closed skill) dan external-paced skill (open
skill).
Dalam hal ini Gentile mengatakan bahwa kedua keterampilan di atas
bukanlah merupakan sebuah kontinum, yaitu adanya keterhubungan yang
semakin berubah dari ujung satu ke ujung yang lain, namun tidak
terpisahkan.
2) Keterampilan diskrit, kontinous, dan serial
Cara kedua dalam membedakan jenis keterampilan yakni dengan
menghubungkan-nya dengan berlangsungnya perilaku dari keterampilan
tersebut, antara keterampilan yang berlangsung terus-menerus menerima
Modul PLPG Penjaskes 2013
180
dengan waktu lama. Atau seperti dikemukakan di atas, keterampilan ini
dibedakan dengan melihat jelas tidaknya antara titik awal dan titik akhir
dari gerakan yang dimaksud.
Keterampilan Diskrit (discrete skill) diartikan oleh Schmidt sebagai
keterampilan yang dapat ditentukan dengan mudah awal dan akhir dari
gerakannya, yang sering berlangsung dalam waktu singkat, seperti
melempar bola, menendang bola, gerakan-gerakan dalam senam artistik,
atau menembak. Keterampilan-keterampilan semacam ini tentu saja
dianggap penting dalam olahraga dan permainan karena menentukan
pencapaian tujuan dalam olahraga yang bersangkutan.
Di ujung lain dari ukuran keterampilan tersebut yakni keterampilan
berkelanjutan (continuous skill), yang pelaksanaannya tidak
memperlihatkan secara jelas mana awal dan mana akhir dari suatu
keterampilan. Magil menyebutkan bahwa jika suatu keterampilan
mempunyai awal dan akhir gerakan yang selalu berubah-ubah, maka
keterampilan itu dikategorikan sebagai keterampilan berkelanjutan.
Lalu bagaimana dengan keterampilan serial? Keterampilan Serial
(serial skill) menurut Schmidt adalah keterampilan yang sering dianggap
sebagai suatu kelompok dari keterampilan-keterampilan diskrit, yang
digabung untuk membuat keterampilan baru atau keterampilan yang lebih
kompleks.
Namun demikian, kata serial disini juga menunjukkan bahwa urutan
dari keterampilan-keterampilan yang digabung tadi merupakan hal yang
penting dalam berhasilnya melakukan keterampilan ini. Jadi tidak
sembarangan asal menggabungkan. Memindahkan gigi (gear) dalam
mengendarai mobil misalnya, adalah keterampilan serial yang dibangun
oleh tiga macam keterampilan diskrit yang digabungkan.
3) Keterampilan gerak kasar dan keterampilan gerak halus
Pengklasifikasian yang terakhir dikenal dengan keterampilan gerak
kasar dan keterampilan gerak halus, di mana ketepatan menjadi penentu
dari keberhasilannya. Magil membatasi Keterampilan Gerak Kasar (gross
motor skill) sebagai keterampilan yang bercirikan gerak yang melibatkan
kelompok otot-otot besar sebagai dasar utama gerakannya. Dikatakan
demikian karena seluruh tubuh biasanya berada dalam gerakan yang besar,
menyeluruh, penuh, dan nyata (Singer, 1980 dan Malina and
Bouchard,1991).
Keterampilan Gerak Halus (fine motor skill) adalah keterampilan-
keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol otot-otot
kecil/halus untuk mencapai pelaksanaan keterampilan yang sukses.
Biasanya, menurut Magil (1985), keterampilan ini melibatkan koordinasi
neuromuscular yang memerlukan ketepatan derajat tinggi untuk
berhasilnya keterampilan ini. Keterampilan jenis ini sering juga disebut
sebagai keterampilan yang memerlukan koordinasi mata-tangan (hand-eye
coordination).


Modul PLPG Penjaskes 2013
181
Menulis, menggambar, dan bermain piano, adalah contoh- contoh dan
keterampilan tersebut. Malina (1991) menegaskan hal ini dengan
mengemukakan contoh pelaksanaan lambungan bola Softball (pitching)
yang membutuhkan baik ketepatan dan kecepatan. Ketepatan memerlukan
derajat ketelitian dan pengontrolan jari dan tangan, sedangkan kecepatan
memerlukan lebih banyak gerak kasar dari lengan dan tubuh untuk
memberikan daya lempar yang mencukupi.
4) Keterampiian gerak dan keterampilan kognitif
Schmidt memasukkan terhadap klasifikasi keterampilan ini
keterampilan-keterampilan yang dibedakan antara keterampilan gerak dan
keterampilan kognitif. Menurutnya, dalam Keterampilan gerak, penentu
utama dan keberhasilannya adalah kualitas dari gerakan itu sendiri tanpa
memperhatikan persepsi serta pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan keterampilan yang dipilih. Contohnya dalam olahraga lompat
tinggi pelompat tidak perlu memperhitungkan kapan dan bagaimana ia
harus bertindak untuk melompati mistar, tetapi yang harus ia lakukan
adalah melompat setinggi dan seefektif mungkin.
Dalam keterampilan kognitif hakikat dari gerakannya tidaklah
penting, tetapi keputusan-keputusan tentang gerakan apa dan yang mana
yang harus dibuat merupakan hal terpenting. Contohnya, dalam olahraga
catur. Bukanlah hal yang penting apakah buah catur digerakkan dengan
cepat atau pelan-pelan, tetapi yang penting adalah pemain mengetahui
buah catur yang mana yang harus digerakkan serta ke mana digerakannya.
Pendeknya,keterampilan kognitif terutama berkaitan dengan
pemilihan apa yang harus dilakukan, sedangkan keterampilan gerak
terutama berkaitan dengan bagaimana melakukannya. Ukuran ini, seperti
juga yang kini hanyalah merupakan kontinum, sebab tidak ada
keterampilan yang benar-benar keterampilan kognitif atau benar-benar
keterampilan gerak. Setiap keterampilan memerlukan kombinasi dari
keduanya. Kebanyakan keterampilan yang nyata biasanya berada di antara
kedua ujung dari pengkutuban kedua keterampilam ini dan merupakan
kombinasi kompleks dari perbuatan keputusan dan pelaksanaan gerakan.
d. Aplikasi teori belajar dalam belajar gerak
Banyak teori yang telah diungkapkan oleh para ahli tentang teori
belajar. Dalam modul ini hanya akan mengungkapkan salah satu dari teori
belajar, yaitu teori belajar Koneksional Thorndike yang dianggap penulis
lebih erat hubungannya dengan penelitian ini.
Teori Koneksional Thorndike, mengatakan bahwa asumsi dasar
tentang belajar ialah asosiasi antara stimulus diperoleh dari indera dan
inpuls untuk berbuat (respon). Asosiasi kedua elemen tersebut dikenal
sebagai bond atau koneksi. Thorndike percaya bahwa pengembangan
pengetahuan atau keterampilan memerlukan pengembangan kesatuan
antara stimulus dan respons yang serasi. Sehingga Oxendine (1968, 1984)
yang dikutip oleh Rusli (1988:125) menyusun sejumlah prinsip belajar trial
and error, sebagai berikut:
Modul PLPG Penjaskes 2013
182
1) Pada awal belajar, sedikit sekali keberhasilan yang diperoleh di antara
berbagai macam kegiatan.
2) Sukses yang pertama itu agaknya lebih bersifat kebetulan dan masih
belum nampak asosiasi antara stimulus dan respons yang diharapkan.
3) Respon yang salah dan aktifitas yang tak bermanfaat lambat laun
semakin berkurang.
4) Pelajar menjadi semakin sadar akan koneksi antara stimulus dan
respons, dan kemudian dia memperoleh pengertian atau feeling
tentang tindakan yang tepat.
5) Latihan memperkuat respons yang tepat dan tindakan atau gerakan
menjadi semakin efisien.

Beberapa hukum belajar yang dikemukakan oleh Thorndike yang
diduga berpengaruh besar terhadap hasil belajar olahraga, diantaranya
yaitu law of readiness, law of exercise, law of effect, yang dikemukakan oleh
Thorndike dikutip oleh Rusli (1988:126). Untuk lebih jelasnya akan
diuraikan satu persatu berikut ini:
1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness) menyatakan bahwa belajar akan
berlangsung paling efektif jika siswa yang bersangkutan telah siap
untuk memberikan respons. Dengan kata lain, hukum kesiapan itu
adalah semacam hukum tentang kesiapan untuk menyesuaikan diri
dengan stimulus, bukan hukum pertumbuhan. Para siswa akan
memperoleh kesulitan besar untuk berhasil passing atas dan passing
bawah dalam keadaan mereka masih belum matang untuk melempar
bola. Oleh karena itu, istilah kesiapan untuk belajar rupanya tidak
terpisahkan dari konsep kematangan.
2) Hukum Latihan (Law of Exercise) menyatakan bahwa dengan
pengulangan-pengulangan respons tertentu sampai beberapa kali
akan memperkuat koneksi antara stimulus dan respons. Pertautan
yang erat itu akan dikembangkan dan diperkuat melalui pengulangan
yang memadai jumlahnya. Intisari dari hukum latihan itu adalah
bahwa jumlah dan intensitas kegiatan latihan akan membuat hasil
belajar makin dikuasai atau makin sempurna.
3) Hukum Sebab Akibat (Law of Effect) diartikan sebagai penguatan atau
melemahnya suatu koneksi merupakan hasil dari konsekuensinya.
Menurut hukum Effect, koneksi antara elemen stimulus respons akan
diperkuat jika dialami pengalaman yang menyenangkan. Sebaliknya
jika suatu respons diikuti oleh pengalaman yang tidak menyenangkan
atau tidak memuaskan, koneksi antara elemen stimulus-respons
menjadi lemah.

3. Pengembangan Pola Gerak melalui Pembelajaran Penjasorkes
a. Pendidikan jasmani di sekolah sebagai media pembelajaran gerak
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari
sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu pelaksanaan

Modul PLPG Penjaskes 2013
183
pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan tersebut.
Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani,
tetapi juga mengembangkan seluruh potensi siswa (Singer and Dick, 1980:
193).
Secara lengkap, pendidikan jasmani bertujuan untuk
mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan
berpikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan
tindakall moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olahraga (Thomas,
Thomas and Lee, 1988:59). Selanjutnya dinyatakan bahwa pendidikan
jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan
motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan
nilai-nilai (sikap-mental-emosiollal-spiritual dan sosial), serta pembiasaan
pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan
perkembangan yang seimbang (Corbin, 1960: 16).
Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina,
sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat. Melalui
pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai
pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan,
kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan, dan memelihara kesegaran
jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia (Singer, 1975:36).
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru diharapkan
mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi
permainanlolahraga, intemalisasi nilai (sportivitas, jujur, kerjasama), dan
pembiasaan pola hidup sehat. Untuk itu dalam pelaksanaan pendidikan
jasmani tidak hanya melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang
bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik, mental, intelektual,
emosi dan sosial.
b. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar gerak
Pada dasarnya pencapaian keterampilan belajar gerak dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Menurut Macgill (1984:44) faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar gerak adalah: (1) memahami apa yang harus
dipelajari, (2) kesempatan untuk merespon, (3) adanya umpan balik, dan
(4) reinforcement.
Memahami apa yang harus dipelajari, merupakan hal penting saat
pembelajaran berlangsung. Kejelasan mengenai tujuan pembelajaran
berupa keterampilan yang harus dikuasai merupakan keadaan yang harus
diketahui oleh anak untuk membantu efektivitas pembelajaran. Dalam
pembelajaran situasi seperti ini sering disebut sebagai cara "memberi
stimulus". Meskipun terdengar sebagai suatu hal yang sederhana,
memberikan stimulus, menurut beberapa penelitian memberikan pengaruh
yang positif terhadap efektivitas pembelajaran.
Di satu sisi, kadang-kadang guru memberikan begitu banyak
instruksi, dan menjelaskan tugas dengan tidak jelas, sehingga sulit
dimengerti oleh anak-anak terutama keterampilan apa yang akan dicapai.
Setelah dilakukan koreksi sebagai umpan balik, barulah anak-anak
Modul PLPG Penjaskes 2013
184
memahami apa yang sebenamya diinginkan oleh guru. Di sisi lain guru
mungkin menganalisis keterampilan dengan jelasnya, sehingga terlalu
overload informasi, akibatnya anak tidak dapat merespon tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
Instruksi secara verbal, demonstrasi dan berbagai alat bantu mengajar
dapat digunakan sebagai alat untuk memperjelas tujuan belajar. Secara
umum dapat dikatakan bahwa anak belajar dengan baik ketika mereka
dapat menjelaskan atau mendemonstrasikan dengan baik keterampilan
yang diharapkan atau tujuan belajar yang ingin dicapai.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan di sekolah, jelas banyak
kesempatan untuk merespon merupakan faktor dominan yang
mempengarauhi penguasaan saat pembelajaran berlangsung. Dengan kata
lain dapat dijelaskan bahwa siswa harus termotivasi untuk mencapai
tujuan belajar dan mendapatkan umpan balik mengenai usahanya tersebut.
Hal ini menunjuk kepada respon yang berkualitas yang harus didapatkan
oleh anak. Karena kadang-kadang anak memimiliki banyak kesempatan
untuk merespon sepanjang pembelajaran, tetapi bukan respon yang
berkualitas.
Banyak studi yang telah dilakukan mengenai jadwal praktik, cara
mengorganisir anak dalam lingkungan belajar, ukuran kelas, dan alat-alat
pembelajaran, yang kesemuanya memberikan hasil yang signifikan karena
tingginya kualitas merespon dari anak-anak. Banyak juga pendapat yang
menyatakan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk
lebih terlibat dalam pembelajaran merupakan cara untuk mencapai tujuan
pembelajaran gerak.
Secara tradisional, guru sering menggunakan pendekatan drill
sehingga anak harus berdiri diam sambil menunggu giliran. Hal ini
berbeda dengan pendekatan pembelajaran gerak yang memberikan
kebebasan gerak secara aktif kepada anak, sehingga meningkatkan
kuantitas latihan, dan makin banyak anak memberikan respon makin
banyak anak tersebut belajar.
Apabila umpan balik berbunyi terlalu pendek atau terlalu panjang,
mungkin siswa dapat dengan cepat merespon untuk memperbaiki, tetapi
apabila umpan balik itu berbunyi 2 cm lebih pendek, maka siswa akan
merespon dengan terlebih dahulu mengira-ngira panjang 2 cm tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa umpan balik yang berbeda akan memberikan
presisi yang berbeda terhadap tugas yang diberikan. Untuk itu, dapat
dikatakan bahwa semakin tepat informasi yang diterima sebagai umpan
balik, maka semakin cepat siswa belajar.
Keuntungan dari pembelajaran gerak adalah kaya akan umpan balik.
Sebagian besar keterampilan gerak yang diberikan dalam pendidikan
jasmani di sekolah mempunyai tujuan, dan memberikan respon segera
setelah informasi mengenai tujuan tersebut dicapai. Untuk itu guru harus
belajar menjadi ahli dalam memberikan umpan balik, yang meliputi
kemampuan untuk menganalisis performa, jeli menetapkan kekurangan

Modul PLPG Penjaskes 2013
185
atau kelebihan penguasaan gerak serta memberikan koreksi yang sesuai
dengan kebutuhan anak berdasarkan analisis yang dilakukan.
Secara teoritik sulit untuk membedakan antara umpan balik dan
penguatan. Penguatan biasanya digambarkan sebagai rangkaian
penguatan yang mengikuti suatu perilaku tertentu dalam meningkatkan
kesempatan bahwa perilaku tersebut akan terulang. Sedangkan umpan
balik mengikuti respon yang tampak. Ketika guru berkata, "Bagus, Yanto,
pertahankan ayunan lenganmu". Pada dasarnya kata-kata tersebut
merupakan umpan balik sekaligus penguatan.

c. Kategori pembelajaran gerak
Sejak beberapa tahun yang lalu pembelajaran gerak telah
dikategorikan berdasarkan tahap-tahap pencapaian tujuan. Setiap kategori
menampilkan tujuan pembelajaran yang sangat jelas. Kondisi yang
diperlukan untuk mencapai tujuan berbeda antara kategori satu dengan
yang lain. Dengan memahami tujuan belajar untuk setiap kategori, guru
dapat merancang tugas-tugas yang sesuai dengan tahap pembelajaran
gerak (Sage, 1984: 16).
Menendang bola mungkin nampak sebagai keterampilan yang
berbeda dengan memukul bola dari batting tee pada softball, kenyataannya
perilaku pada masing-masing kemampuan gerak masuk ke dalam kategori
yang sama. Keuntungan menggunakan pendekatan kategori ini adalah
setiap kategori saling berhubungan atau mempunyai keterkaitan. Untuk
belajar pada tahap tertentu anak harus sudah menguasai kemampuan pada
tahap sebelumnya.

E. Rangkuman
Pengertian istilah belajar gerak atau motorik tak terlepas dari
pengertian istilah belajar pada umumnya. Karena itu, dalam bagian ini
pengungkapan makna belajar pada umumnya dan belajar gerak pada
khususnya akan dibahas lebih mendalam.
Belajar dipahami oleh orang awam sebagai pemikiran pengetahuan
atau keterampilan baru. Definisi ini sudah tentu tidak memadai sehingga
perlu dikembangkan suatu definisi yang lebih lengkap. Oxendine (1968)
yang dikutip oleh Rusli (1988:101) menggambarkan belajar sebagai berikut:
(1) Akumulasi pengetahuan, (2) penyempurnaan dalam suatu kegiatan, (3)
pemecahan suatu masalah, dan (4) penyesuaian dengan situasi yang
berubah. Konsep-konsep menjadi kunci dalam deskripsi tersebut adalah
perubahan, penyesuaian dan adaptasi.
Ada kesamaan pendapat para ahli bahwa belajar keterampilan gerak
berkembang melalui beberapa tahap. Fitts (1964); Fitts dan Posner (1967)
yang dikutip oleh Rusli (1988:305) membahas tahap-tahap belajar gerak,
yaitu: (1) tahap kognitif, (2) tahap asosiatif, (3) tahap otomatis.
Guna dapat menyiapkan secara baik untuk mengajarkan Pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan, maka perlu kiranya diperhatikan gerak
Modul PLPG Penjaskes 2013
186
dasar untuk diberikan kepada peserta didik. Gerak dasar tersebut antara
lain sebagai berikut: Gerak dasar non lokomotor, gerak lokomotor, dan
manipulatif.

F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!
6. Jelaskan yang dimaksud dengan belajar gerak!
7. Sebutkan tahap-tahap belajar gerak!
8. Sebutkan macam-macam pola gerak!
9. Jelaskan aplikasi teori belajar dalam belajar gerak!
10. Sebutkan faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar gerak!

Soal Latihan Pilihan Berganda
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang merupakan
jawaban paling benar!

6. Proses yang mengantarkan pencapaian perubahan perilaku
berlangsung secara internal atau dalam diri manusia tidak bisa
diamati secara langsung, terkecuali ditafsirkan berdasarkan
perubahan perilaku itu sendiri disebut . . . .
A. belajar
B. keterampilan
C. perubahan perilaku
D. proses pembelajaran

7. Seperangkat proses yang bertalian dengan latihan atau pengalaman
yang mengantarkan ke arah perubahan permanen dalam perilaku
terampil disebut . . . .
E. tujuan belajar
F. hakikat belajar
G. tahap-tahap pembelajaran
H. proses pembelajaran

8. Hasil belajar itu relatif bertahan hingga waktu relatif lama,
merupakan karakteristik belajar motorik ditinjau dari belajar sebagai
. . . .
A. hasil langsung dari latihan
B. tak teramati secara langsung
C. sebuah proses
D. gerak relatif permanen



Modul PLPG Penjaskes 2013
187
9. Tingkat permulaan belajar olahraga untuk memahami teknik yang
baru diperkenalkan, diperagakan dan diterangkan oleh guru,
pembina dan pelatih olahraga. Hal ini merupakan tahapan belajar
gerak . . . .
A. kognitif
B. asosiatif
C. otomatisasi
D. perioderisasi

10. Tahap dimana belajar olehraga yang didominasi oleh perencanaan
dan pelaksanaan strategi-strategi latihan yang efektif. Hal ini
merupakan tahapan belajar gerak . . . .
A. kognitif
B. asosiatif
C. otomatisasi
D. perioderisasi
Kunci Jawaban
1. A
2. B
3. D
4. A
5. B

DAFTAR PUSTAKA

Bucher, Charles A., Constance R. Koenig. (1983). Methods and materialsfor
Secondary School Physical Education. St. Louis. The CV. Mosby Company.
Callahan, Joseph F., Leonard H. Clark. (1983). Foundation of Education. New
York: Macmillan Publishing Company Inc.
Corbin, Charles B. (Ed.). (1980). ATexbook of Motor Development. 2nd Edition.
Dubuque, Iowa: Wm C. Brown Company Publishers.
Gagne, Robert M., Leslie 1. Briggs. (1979). Principles of Instructional Design.
New York: Holt, Rinehart and Winstoin.
Jewett; Bain; dan Ennis. (1995). The Curriculum Process in Physical Education,
Second Edition, Brown & Benchmark Publishers.
Lutan, Rusli. (1988). Belajar Keterampilan Motorik Pengantar Teori dan Metode.
Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi.
Lutan, Rusli. (2005). Pendidikan Jasmani dan Olahraga Sekolah: Penguasaan
Kompetensi Dalam Konteks Budaya Gerak.
Mahendra, Agus, dkk. (2006). Implementasi Movement-Problem-Based
Learning Sebagai Pengembangan Paradigma Reflective Teaching Dalam
Pendidikan Jasmani: Sebuah Community-Based Action Research Di
Sekolah Menengah Di Kota Bandung.
Modul PLPG Penjaskes 2013
188
Mahendra, Agus, Ma`mun, Amung. (1998) Teori Belajar dan Pembelajaran
Motorik. Bandung : IKIP Bandung Press.
Sage, George H.. (1984). Motor Learning and Control: A Neuropsychological
Approach. Dubuque, Iowa: Wm. C. Brown Publishers.
Schurr, Evelyn L.. (1980). Movement Experiences for Children: A Humanistic
Approach to Elementary School Physical Education. 3m Edition. Englewood
Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Siedentop, D., (1991). Developing Teaching Skills in Physical Education.
Mayfield Publishing Company.
Singer, Robert N. (1975). Motor Learning and Human Performance: An
Application to Physical Education Skills. 2ndEdition. New York:
Macmillan Publishing Co, Inc.
Singer, Robert N.and Walter Dick. (1980). Teaching Physical Education: A
System Approach. Boston: Houghton Miffin Company.
Sugiyanto, dan Sudjarwo. (1991). Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta:
Depdikbud, Proyek Penataran guru Setara D-II.
Thomas, Jerry R., Khaterine T. Thomas, Amelia M. Lee. (1988). Physical
Education for Children: Concepts into Practice.Champaign Illinois: Human
Kinetics Books.



Modul PLPG Penjaskes 2013
189
BAB VIII
PENDALAMAN MATERI PENGEMBANGAN AKTIVITAS
KEBUGARAN JASMANI

A. Pokok-pokok Isi Materi
Dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai pada saat ini,
secara tidak langsung telah menyediakan berbagai kemudahan bagi umat
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, kita harus
menyadari pola hidup kita yang dinamis tidak berubah menjadi pola hidup
yang statis. Dengan pola hidup yang dinamis memberikan kesempatan
pada seluruh sistem tubuh kita melaksanakan fungsinya secara normal.
Atau dengan kata lain pola hidup dinamis akan memberikan banyak
manfaat, karena kita memiliki derajat sehat dinamis.
Derajat sehat dinamis akan dicapai, manakala kita membiasakan
hidup dengan berolahraga secara teratur, sistematis, dan kontinu sesuai
dengan kualitas adaptasi tubuh kita. Oleh karena itu diperlukan
pemahaman tentang kebugaran jasmani. kebugaran jasmani dapat
diartikan sebagai kemampuan tubuh dalam melakukan berbagai macam
pekerjaan tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan dapat segera pulih
sebelum datangnya tugas pada keesokan harinya. Berdasar pada
pengertian tersebut, kebugaran jasmani sesungguhnya merupakan derajat
sehat dinamis tertentu yang diharapkan dapat menanggulangi tuntutan
jasmani dalam melaksanakan tugas hidup sehari-hari dengan selalu
mempunyai candangan energy untuk melakukan tugas tambahan lainnya.
Dengan memahami tentang kebugaran jasmani dengan baik maka
tujuan untuk mendapatkan sehat dinamis akan terhujud.

B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Menguasai materi secera teoritis ataupun praktek yang berkaitan
dengan kebugaran jasmani

2. Kompetensi Dasar
c. Menjelaskan komponen-komponen kebugaran jasmani yang mendukung
terhadap materi pembelajaran penjasorkes.
d. Menganalisis komponen-komponen kebugaran jasmani yang berkaitan
dengan proses pembelajaran.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjas ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian kebugaran jasmani.
2. Menjelaskan tentang komponen-komponen kebugaran jasmani.
Modul PLPG Penjaskes 2013
190
3. Menjelaskan tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
kebugaran jasmani.

D. Uraian Materi
a. Pengertian Kebugaran Jasmani
Istilah kebugaran jasmani sepertinya sudah tidak asing lagi bagi kita,
terlebih bagi para pemerhati kemajuan dunia olahraga. Ada beberapa
istilah yang maknanya sama untuk menjelaskan apa itu kebugaran jasmani.
Kebugaran jasmani sesuai dengan kata asalnya yaitu : Physical fitness atau
kesehatan fisik. Di Indonesia istilah ini dimasyarakat dengan sebutan :
kebugaran jasmani, kesamaptaan, kesegaran jasmani, dan kesanggupan
jasmani.
Secara harfiah, Physical fitness berarti kecocokan fisik atau kesesuaian
jasmani. Ini mengandung maksud adanya sesuatu yang harus cocok
dengan fisik atau jasmani itu, yaitu macam atau beratnya tugas yang harus
dilaksanakan oleh fisik tersebut. Oleh karena itu kebugaran jasmani dapat
diartikan sebagai kemampuan tubuh dalam melakukan berbagai macam
pekerjaan tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan dapat segera pulih
sebelum datangnya tugas pada keesokan harinya. Berdasar pada
pengertian tersebut, kebugaran jasmani sesungguhnya merupakan derajat
sehat dinamis tertentu yang diharapkan dapat menanggulangi tuntutan
jasmani dalam melaksanakan tugas hidup sehari-hari dengan selalu
mempunyai candangan energy untuk melakukan tugas tambahan lainnya.
Hasil kesepakatan Ikatan Ahli Faal Indonesia (IAFI), kebugaran
jasmani diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu : komponen
kebugaran jasmani yang berhubungan kesehatan dan komponen
kebugaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan motorik.
Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan terdiri dari : daya
tahan kardiovaskuler, kekuatan otot, daya tahan otot, kelentukan, dan
komposisi tubuh. Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan
keterampilan motorik adalah : keseimbangan, daya ledak, kecepatan,
kelincahan, koordinasi, dan kecepatan reaksi.
Dengan demikian terdapat tiga (3) indikator utama dari kebugaran
jasmani yaitu : kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik, tidak
mengalami kelelahan yang berlebihan atas tugas fisik tersebut, dan
kemampuan pulih asal yang segera setelah tugas fisik tersebut selesai.
Pengertian Kesehatan menurut wikipedia adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan Pengertian Kesehatan
menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948 menyebutkan
bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai suatu keadaan fisik, mental,
dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau
kelemahan
Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi
Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah sumber daya

Modul PLPG Penjaskes 2013
191
bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup. Kesehatan adalah konsep
positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik.
Pengertian Kesehatan Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2009. Dalam Undang-Undang ini yang pengertian kesehatan adalah:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

b. Syarat dan Macam Kebugaran Jasmani
Sesuai dengan pengertian dari physical fitness, maka perlu dijelaskan
bahwa kecocokan fisik terhadap pekerjaan sesuatu, memerlukan
persyaratan tertentu pula. Syarat tersebut dibagi menjadi dua bagian :
syarat anatomis dan syarat fisiologis. Oleh karena itu physical fitness terdiri
dari dua bagian yaitu : anatomical fitness dan physiological fitness. Dengan
demikian sesungguhnya kebugaran jasmani pun dibagi menjadi dua
macam, yaitu kebugaran jasmani yang bersifat anatomis dan kebugaran
jasmani yang bersifat fisiologis.
Anatomical fitness berhubungan dengan kondisi dan kualitas dari
indicator tinggi badan, berat badan, kelengkapan anggotan badan, dan
ukuran berbagai bagian badan sedangkan physiological fitness berkaitan
dengan tingkat kemampuan menyesuaikan fungsi alat-alat tubuh terhadap :
cuaca, tugas fisik, dan fungsi alat-alat tubuh. Pada saat ini pengertian
physical fitness dititikberatkan pada physiological fitness. Hal ini sangat
disadari, bila kita membina atau meningkatkan indicator anatomis
sangatlah sulit dan tidak efisien karena membutuhkan waktu yang lama
dengan hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan, tetapi pembinaan
yang ditujukan untuk peningkatan fisiologis lebih mudah, terukur
peningkatannya dan berhasil ganda ( fisiologisnya dan anatomis sekaligus
meningkat )
Berdasarkan paparan tersebut, maka pada dasarnya semua orang
memiliki tingkat kebugaran jasmani yang berbeda sesuai dengan
kecocokan jasmani dalam mengerjakan pekerjaan tertentu. Olehkarena itu
bila seseorang semakin mampu mengerjakan pekerjaan yang berat dan
rumit, berarti dia memiliki tingkat kebugaran jasmani yang tinggi dan
sebaliknya. Jadi, berat ringannya pekerjaan akan mempengaruhi dan
membentuk derajat kebugaran jasmani seseorang. Arti lainnya bahwa
derajat kebugaran jasm\ani seseorang bersifat relative dan tidak
bersifatmutlak.
Bila kita semakin menyadari betapa pentingnya dukungan fisioliogis
terhadap berbagai bentuk pekerjaan manusia, maka kita semua akan
berupaya bagaimana meningkatkan kemampuan fisik tersebut, agar
kehidupan semakin berarti. Olehkarena itu sesungguhnya kebugaran
jasmani merupakan derajat sehat dinamis tertentu yang diharapkan dapat
menghadapi tuntutan pekerjaan jasmani serta masih mempunyai cadangan
energy untuk mengerjakan tugas fisik lainnya. Dengan demikian derajat
kebugaran jasmani yang maksimal, sangat dimungkinkan untuk
Modul PLPG Penjaskes 2013
192
meminimalkan seseorang alami penyakit kronik-degeneratif pada usia
menjelang tua dan masih produktif pada usia tua.

c. Komponen Kebugaran Jasmani
Komponen kebugaran jasmani meliputi berbagai system tubuh,
mulai system otot (muscular), system saraf (nervorum), system tulang
(skelet), system pernapasan (respirasi), system jantung (cardio), system
ginjal (eksresi), dan kerja sama antar berbagai system tersebut secara
holistic. Berdasarkan pada system tubuh yang membentuknya maka,
komponen kebugaran jasmani meliputi : kekuatan otot, kelentukan, daya
tahan kardirespirasi dan daya tahan otot, daya ledak otot, kecepatan,
kelincahan, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, keseimbangan,
kecepatan reaksi, dan koordinasi, serta memiliki komposisi tubuh yang
ideal.
Hakikat kebugaran jasmani merupakan keadaan kemampuan
jasmani untuk dapat menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya terhadap
tugas jasmani tertentu dan /atau terhadap keadaan lingkungan yang harus
diatasi dengan cara efisien, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan,
telah pulih sempurna sebelum datang tugas yang sama pada keesokan
harinya, serta memiliki energy cadangan energy yang cukup untuk
melakukan kerja fisik tambahan lainnya. Berikut akan dipaparkan hal yang
berkaitan dengan komponen yang membentuk kebugaran jasmani secara
komprehensif.

1. Daya Tahan (Endurance)
Menurut Noer, dkk (1996:181) daya tahan dapat dibagi menjadi 2 macam
yaitu:
a. daya tahan otot setempat (muscular local endurance)
b. daya tahan jantung dan paru (cardiorespiratory endurance)

Daya tahan (endurance) yang akan diuraikan adalah daya tahan jantung dan
paru.
a. Pengertian
Daya tahan adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja
dalam waktu yang lama,tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah
menyelesaikan latihan tersebut (Harsono : 2001:8)

b. Kegunaan/manfaat daya tahan
PP.PBVSI (1995:43} Kegunaan memiliki daya tahan yang baik adalah
untuk :
1) Mencapai prestasi maksimal suatu cabang olahraga.
2) Menjaga stabilitas prestasi yang telah dimiliki.
3) Mempermudah belajar teknik-teknik.
4) Mencegah terjadinya cedera dalam olahraga
5) Memantapkan mental bertanding atlet


Modul PLPG Penjaskes 2013
193
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan (Badriah, 2009:34):
1) Keturunan (Genetik), yaitu tipe serabut otot yang dominan adalah jenis
otot slow twitch fiber (jenis serabut otot merah atau otot lambat) dan kadar
Haemoglobin (Hb).
2) Usia, mulai anak-anak sampai sekitar usia 20 tahun, daya tahan
kardiorespirasi meningkat dan mencapai maksimal pada usia 20 30 tahun.
3) Jenis kelamin, sampai usia pubertas tidak ada perbedaan daya tahan antara
laki-laki dan perempuan dan setelah itu perempuan kemampuannya lebih
rendah.
4) Aktivitas fisik, istirahat di tempat tidur selama 3 minggu dapat
menurunkan kemampaun daya tahan kardiovaskuler.

2) Bentuk-bentuk latihan daya tahan

a. Latihan Kontinu (continous training)
Latihan kontinu bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu ;
1) Latihan kontinu dengan intensitas rendah (low intensity training) 60 70%
dari DNM
2) Latihan kontinu dengan intensitas tinggi (high intensity training) 80 90%
dari DNM

b. Latihan Fartlek (speed play)
Fartlek atau speedplay adalah latihan yang berupa lari di alam terbuka untuk
selama 1 sampai 3 jam. Atlet bisa menentukan sendiri tempo larinya, cepat,
lambat ataupun jalan (Harsono, 2001:10).

c. Latihan Interval (interval training)
Secara mendasar, ada 2 bentuk interval training, yaitu :
1) Lambat akan tetapi dengan jarak jauh
2) Cepat akan tetapi dengan jarak pendek
Syarat latihan interval :
1) Lamanya latihan (jarak lari)
2) Beban atau intensitas latihan (kecepatan lari)
3) Ulangan (repetisi)
4) Masa istirahat (recovery interval) setelah setiap repetisi latihan

Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan daya tahan kardiovaskuler dapat
digunakan beberapa tes sebagai berikut :
1. Tes Balke, yaitu lari 15 menit
2. Lari 2,4 km
3. Lari 12 menit
4. Harvard step test
5. Ergometer sepeda (ergocycle)
6. Meniup Manometer air raksa


Modul PLPG Penjaskes 2013
194
2. Kekuatan (strength)
a. Pengertian
Kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan/force terhadap
suatu tahan (Harsono, 2001:24).
b. Kegunaan/Manfaat kekuatan
PP.PBVSI (1995:40) menjelaskan kegunaan kekuatan adalah untuk:
1) Mencapai prestasi maksimal.
2) Mempermudah mempelajari teknik-teknik.
3) Mencegah terjadinya cedera.
4) Memantapkan sikap percaya diri.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan
Badriah (2009:36) menjelaskan faktor fisiologis yang mempengaruhi
kekuatan otot adalah :
1) Usia, sampai usia 12 tahun peningkatan kekuatan otot terjadi akibat
peningkatan ukuran otot, pada laki-laki maupun wanita sama.
2) Jenis kelamin
3) Suhu otot, kontraksi otot akan lebih kuat dan cepat bila suhu otot
sedikit lebih tinggi daripada suhu normal tubuh.
4) bentuk-bentuk latihan kekuatan
5) Sesuai dengan batasan kekuatan, maka latihan yang cocok untuk
mengembangkan kekuatan adalah latihan-latihan tahanan
(resistance exercises) yang menurut tipe kontraksi ototnya dapat
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu kontraksi isometrik,
kontraksi isotonik, dan kombinasi dari kedua kontraksi tersebut
yaitu kontraksi isokinetik
Kontraksi isometrik
Kontraksi isometric adalah kontraksi otot-otot tetapi otot-otot tersebut
tidak mengadakan perubahan apa-apa jadi tidak memanjang atau
memendek, jadi otot tetap statis (kontraksi statis) (Noer, dkk, 1996;136)
Dalam kontraksi isometrik otot-otot ditegangkan, namun tidak
memanjang atau memendek sehingga tidak akan nampak suatu
gerakan yang nyata, atau dengan perkataan lain, tidak ada jarak yang
ditempuh. Oleh karena itu kontraksi ini disebut pula static contraction.
Kontraksi statisnya dipertahankan selama 6 10 detik. Contoh :
mendorong, mengangkat atau menghela suatu obyek atau benda yang
tidak dapat digerakkan seperti tembok, lemari besi, mobil, dsb (Harsono,
2001:25).
Kontraksi isotonik
Kontraksi isotonic adalah kontraksi dari otot yang membawa
perubahan pada otot yang sedang berkontraksi. Terlihat adanya
perubahan sikap atau gerakan-gerakan dari anggota tubuh yang
disebabkan memanjang dan memendeknya otot (Noer dkk, 1996:138).
Kontraksi isotonis akan nampak bahwa ada terjadi suatu gerakan dari
anggota-anggota tubuh kita yang disebabkan oleh memanjang dan

Modul PLPG Penjaskes 2013
195
memendeknya otot-otot, sehingga terdapat perubahan dalam panjang
otot. Tipe kontraksi ini disebut juga dynamic contraction. Contoh : weight
training atau latihan beban (Harsono, 2001:25). Dalam kontraksi
isotonik ada 2 macam kontraksi lagi yaitu pada waktu otot memendek
disebut kontraksi konsentrik, sedangkan pada waktu otot memanjang
kontraksinya disebut eksentrik (Harsono, 2001:26). Sebuah kontraksi
konsentris otot terjadi bila mana terjadi tegangan pada sebuah otot dan
otot itu mengerut. Misalnya pada otot bisep saat dumbbell digerakkan ke
atas ke arah pundak. Kontraksi eksentris terjadi jika terbentuk tegangan
pada otot tetapi ototnya memanjang, dimana serat-serat otot perlahan-
lahan memanjang untuk mengontrol kecepatan penurunan dumbbell
Baechle dan Groves (2003:6-7)
Kontraksi isokinetik
Para ahli dalam weight training berpendapat bahwa latihan kekuatan
dengan menganut metode kontraksi isokinetik, yang aplikasinya adalah
kombinasi kontraksi isometrik dan isotonik, adalah yang paling efektif
karena dalam gerakan isokinetik otot mendapat tahanan yang sama
melalui seluruh ruang geraknya, sejak dari ekstensi penuh s/d
kontraksi penuh, jadi berbeda dengan metode isokinetik (Harsono,
2001:27).

a. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan kekuatan dapat digunakan beberapa
tes sebagai berikut :
1. Hand dynamometer
2. Back dynamometer
3. Leg dynamometer
4. Grip dynamometer

3. Kelentukan (flexibility)
1. Pengertian
Kemampuan untuk bergerak dalam ruang gerak sendi (Harsono,
2001:15).
2. Kegunaan/Manfaat kelentukan
Menurut Harsono (2001:15) perbaikan dalam kelentukan akan dapat :
a. Mengurangi kemungkinan terjadinya cedera-cedera pada otot dan
sendi.
b. Membantu dalam mengembangkan kecepatan, koordinasi dan
kelincahan (agility)
c. Membantu memperkembangkan prestasi
d. Menghemat pengeluaran tenaga (efisien) pada waktu melakukan
gerakan-gerakan, dan
e. Membantu memperbaiki sikap tubuh


Modul PLPG Penjaskes 2013
196
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelentukan
Suharno (1993:53) menjelaskan tentang faktor-faktor penentu atau yang
mempengaruhi kelentukan adalah :
1. Elastisitas otot, ligamentum, tendo dan kapsula
2. Luas sempitnya ruang gerak sendi
3. Tonus otot, tendo, legamentum dan kapsula
4. Tergantung pada derajat panas di luar (temperatur)
5. Unsur kejiwaan : jemu, muram, takut, senang, semangat
6. Kualitas tulang-tulang yang membentuk persendian
7. Faktor umum dan jenis kelamin
4. Bentuk-bentuk latihan kelentukan
Lentuk tidaknya seseorang ditentukan oleh luas sempitnya ruang gerak
sendi-sendinya. Selain oleh ruang gerak sendi, kelentukan juga
ditentukan oleh elastis tidaknya otot-otot, tendon, dan ligamen di
sekitar sendi (Harsono, 2001:15). Berdasarkan penjelasan tersebut jelas
bahwa untuk meningkatkan kelentukan atlet bukan hanya
persendiannya saja yang harus dilatih tetapi juga otot, tendon dan
ligamen yang ada di sekitar persendian tersebut.

Beberapa bentuk latihan kelentukan :
a. Peregangan Dinamis (dynamic/ballistic stretch)
b. Peregangan Statis (static stretch)
c. Peregangan Pasif (passive stretching)
d. Peregangan PNF (Proprioceptive Neuromuscular Facilitation)

5. Alat Ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan daya tahan fleksibitas dapat digunakan
beberapa tes sebagai berikut :
1. The Modified Sit dan Reach Test
2. Bridge -Up
3. Shoulder elevation
4. Side Splite
5. Trunk Extention

4. Stamina
1. Pengertian
Kemampuan seseorang untuk nertahan terhadap kelelahan,
artinya meskipun berada dalam kondisi lelah masih mampu untuk
meneruskan latihan atau pertandingan. Kerja stamina adalah kerja
tingkat anaerobik yang intensitasnya tinggi, sehingga supply
pemasukan oksigen tidak cukup untuk meladeni kebutuhan pekerjaan
yang dilakukan oleh otot (Harsono, 2001:14).



Modul PLPG Penjaskes 2013
197
2. Kegunaan/Manfaat stamina
Suharno (1993:57) menjelaskan kegunaan stamina :
1) Untuk mencapai prestasi prima dalam olahraga.
2) Menjaga stabilitas prestasi puncak.
3) Mempermudah belajar teknik dan untuk mengembangkan taktik
dalam bertanding.
4) Mencegah terjadinya cedera dalam olahraga.
5) Meningkatkan tenaga aerobik dan anaerobik.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi stamina
Suharno (1993:57) faktor-faktor penentu baik tidaknya stamina :
a. Daya tahan aerobik dan anaerobik
b. Kekuatan otot
c. Banyak sedikitnya cadangan ATP, myohaemoglobin, glycogen dalam
otot dan alkali reserve dalam darah.
d. Kemampuan kerja pernapasan dan peredarah darah (paru-paru dan
jantung).
4. Bentuk-bentuk latihan stamina
Bentuk latihan untuk meningkatkan stamina adalah :
1. Interval training
Interval training yang digunakan untuk melatih daya tahan bisa
digunakan untuk melatih stamina. Harsono (2001:14) menjelaskan
beberapa cara meningkatkan daya tahan menjadi stamina:
a. Memperjauh jarak lari atau renang dengan tetap memperhatikan
tempo yang tinggi.
b. Mempertinggi tempo (kecepatan 80% sampai 90% maksimal)
c. Memperkuat otot-otot yang dibutuhkan untuk kerja tersebut.
2. Latihan sirkuit (Circuit training}
Circuit training ialah suatu sistem latihan yang dapat memperbaiki
secara serempak fitness keseluruhan dari tubuh, yaitu unsur-unsur
power, daya tahan, kekuatan, kelincahan, kecepatan, dan lain-lain
komponen fisik. Karena itu bentuk-bentuk latihan sirkuit biasanya
merupakan kombinasi dari semua unsur fisik. Misalnya, lempar bola,
naik turun tangga, lari bolak balik, berbagai bentuk latihan beban,
sit-up, pull-up, lompat-lompat, dsb. Bentuk-bentuk latihannya
biasanya disusun dalam lingkaran dan terdiri dari beberapa pos
(Harsono, 2001:39).
Latihan sirkuit dapat dilakukan dengan cara :
Menyelesaikan seluruh pos dengan waktu secepatnya dan
repetisi di setiap pos sudah ditentukan (ditentukan repetisi).
Menyelesaikan bentuk latihan sebanyak mungkin dengan waktu
yang sudah ditentukan di setiap pos-nya (ditentukan waktu).
5. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan stamina dapat digunakan Tes Balke,
yaitu lari 15 menit

Modul PLPG Penjaskes 2013
198
5. Daya Ledak Otot (power)
a. Pengertian
1) Power adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekutan
maksimal dalam waktu yang amat singkat (Harsono, 2001:24).
2) Kemampaun otot atau sekelompok otot melakukan kontraksi secara
ekplosif dalam waktu yang sangat singkat (Badriah, 2009:36)
b. Kegunaan/Manfaat daya ledak otot
PP.PBVSI (1995:59) menjelaskan kegunaan power adalah untuk:
1) Mencapai prestasi maksimal.
2) Dapat mengembangkan taktik bertanding dengan tempo cepat dan
gerak mendadak.
3) Mencegah Memantapkan mental bertanding atlet.
4) Simpanan tenaga anaerobik cukup besar.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya ledak otot
PP.PBVSI (1995:59) menjelaskan faktor-faktor penentu baik
tidaknya power adalah:
1) Banyak sedikitnya macam fibril otot putih (phasic) dari atlet.
2) Kekuatan dan kecepatan otot atlet.
3) Waktu rangsangan maksimal 34 detik, misalnya waktu rangsangan
hanya 15 detik, power akan lebih baik dibandingkan dengan waktu
rangsangan selama 34 detik.
4) Koordinasi gerakan yang harmonis antara kekuatan dan kecepatan
5) Tergantung banyak sedikitnya zat kimia dalam otot (ATP).
6) Penguasaan teknik gerak yang benar.
d. Bentuk-bentuk latihan daya ledak otot
1. Latihan beban (Weight training)
Pada prinsipnya latihan beban untuk power sama dengan kekuatan
yang membedakan adalah repetisinya adalah 12 15 RM.
2. Pliometrik
Cara yang paling baik untuk mengembangkan power maksimal pada
suatu kelompok otot tertentu adalah dengan meregangkan
(memanjangkan) terlebih dahulu otot-otot tersebut (kontraksi eksentrik)
sebelum mengkontraksi (memendekan) otot-otot itu secara eksplosif
(kontraksi konsentrik). Gerak yang eksplosif (pada waktu lompat,
jingkat, sit-up, pukul, tendang, dsb) harus dilakukan sesegera dan
semulus mungkin setelah gerakan ke arah yang berlawanan (jongkok,
berbaring, ayun lengan ke belakang, dsb) (Harsono, 2001:41).
e. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan power dapat digunakan beberapa
tes sebagai berikut :
1. Vertical jump
2. Standing broad jump
3. Two hand medicine ball put



Modul PLPG Penjaskes 2013
199
6. Daya Tahan Otot (muscle endurance)
a. Pengertian
1) Daya tahan otot setempat (muscular lokal endurance) yaitu: daya
tahan yang menunjukkan kemampuan otot dalam melaksanakan
tugasnya dalam waktu yang cukup lama (Noer, dkk, 1996:181).
2) Daya tahan otot mengacu kepada suatu kelompok otot yang
mampu untuk melakukan kontraksi yang berturut-turut untuk
waktu yang lama (misalnya dalam push-up atau sit-up) atau
mampu mempertahankan suatu kontraksi statis untuk waktu yang
lama (misalnya menggantung pada rekstok dengan lengan
bengkok, menahan beban dengan lengan lurus ke samping untuk
waktu yang lama (Harsono, 2001:24)
3) Daya tahan otot adalah kapasitas otot melakukan kerja aerobik
secara terus menerus (Badriah,2009:35).
b. Kegunaan/Manfaat daya tahan otot
PP.PBVSI (1995:43) Kegunaan memiliki daya tahan yang baik adalah
untuk :
1) Mencapai prestasi maksimal suatu cabang olahraga.
2) Menjaga stabilitas prestasi yang telah dimiliki.
3) Mempermudah belajar teknik-teknik.
4) Mencegah terjadinya cedera dalam olahraga
5) Memantapkan mental bertanding atlet.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan otot
Daya tahan otot tergantung pada jumlah serabut otot lambat, kadar
mioglobin, sumber energi yang tersedia, dan aktivitas enzim citrate
synthase ( Badriah, 2009:35).
d. Bentuk-bentuk latihan daya tahan otot
Bentuk latihan daya tahan otot adalah dengan latihan beban (weight
training) yang pada prinsipnya latihan untuk meningkatkan daya tahan
otot sama dengan latihan untuk meningkatkan kekuatan dan power
hanya yang membedakannya adalah repetisi latihan bebannya 20 25
RM.
e. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan daya tahan otot dapat digunakan
beberapa tes sebagai berikut :
1. Pull ups
2. Push ups
3. Sit ups
4. Squat jumps

7. Kecepatan (speed)
a. Pengertian
Kecepatan ialah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang
sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,
Modul PLPG Penjaskes 2013
200
atau kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang cepat
(Harsono, 2001:36).
b. Kegunaan/Manfaat kecepatan
Pada olahraga lari (berbagai jarak) atau cabang olahraga yang diukur
oleh waktu, kecepatan sangat dibutuhkan (Badriah,2009:37).
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan
Badriah (2009:37) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan adalah :
1) Kelentukan, kurangnnya kelentukan pada daerah pinggul dan
tungkai atas akan mengurang kecepatan lari karena hal tersebut
meningkatkan tahanan yang dibuat oleh otot antagonis di bagian
ekstremitas bawah.
2) Tipe tubuh, walaupun sukar untuk mencari hubungan kecepatan
gerak dengan tipe tubuh, namun kita dapat mengerti bahwa tubuh
yang gemuk bergeraknya sangat lambat.
3) Usia, peningkatan kecepatan sesuai dengan pertambahan usia.
Wanita mencapai puncaknya pada usia 13 18 tahun dan pada pria
pada usia 21 tahun.
4) Jenis kelamin, wanita mempunyai kecepatan sebesar 85% dari
kecepatan laki-laki.
d. Bentuk-bentuk latihan kecepatan
1) Interval sprint
2) Lari akselerasi deselerasi (lari cepat diselingi lari lambat)
3) Uphill (lari naik bukit) bertujuan untuk mengembangkan dynamic
strength dalam otot-otot tungkai dan Downhill (lari menuruni bukit)
bertujuan untuk melatih kecepatan frekuensi gerak kaki.
e. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan kecepatan dapat digunakan beberapa
tes sebagai berikut :
1) Lari 50 meter
2) Lari 100 meter
8. Kelincahan (agility)
a. Pengertian
Kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah dan posisi tubuh
dengan cepat dan tepat pada waktu sedang bergerak, tanpa kehilangan
keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuhnya (Harsono, 2001:21).
b. Kegunaan/Manfaat kelincahan
PP.PBVSI (1995:50) menjelaskan kegunaan secara langsung
kelincahan adalah untuk :
1) Mengkoordinasikan gerak-gerak berganda.
2) Mempermudah berlatih teknik tinggi
3) Gerakan dapat efisien dan efektif.
4) Mempermudah daya orientasi dan antisipasi terhadap lawan dan
lingkungan bertanding.
5) Menghindari terjadinya cedera.

Modul PLPG Penjaskes 2013
201
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelincahan
PP.PBVSI (1995:50) menjelaskan faktor-faktor penentu kelincahan
adalah :
1) Kecepatan reaksi dan kecepatan gerak.
2) Kemampuan berorientasi terhadap problem yang
dihadapi/kemampuan berantisipasi
3) Kemampuan mengatur keseimbangan.
4) Tergantung kelenturan sendi-sendi.
5) Kemampuan mengerem gerakan-gerakan.
d. Bentuk-bentuk latihan kelincahan
Bentuk-bentuk latihan untuk kelincahan antara lain : shuttle run, zigzag
run, envelop run, boomerang run, lompat hexagon, halang rintang, Three
corner drill, squat thrust. Bentuk-bentuk latihan ini bisa dipilih sesuai
dengan karakteristik cabang olahraga masing-masing.
Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan kelincahan dapat digunakan : Shuttle run

9. Keseimbangan (balance)
a. Pengertian
Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang
tepat pada saat melakukan gerakan (Badriah,2009:39). Keseimbangan
terdiri dari 2 macam yaitu : keseimbangan statis yaitu keseimbangan
pada saat kita tidak bergerak atau berdiri tegak, sedangkan
keseimbangan dinamis adalah keseimbangan pada saat kita bergerak
(Badriah, 2009:39).
b. Kegunaan/Manfaat keseimbangan
PP.PBVSI (1995:65) menjelaskan kegunaan dari keseimbangan adalah :
1) Untuk mencegah terjadinya cedera
2) Mempermudah belajar teknik
3) Membantu menyadari gerak yang dilakukan
4) Meningkatkan keterampilan gerak
5) Efisien gerak dalam meningkatkan prestasi olahraga
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan
Faktor-faktor penentu keseimbangan menurut PP.PBVSI (1995:65)
adalah :
1) Tingginya letak titik berat badan.
2) Sempitnya bidang tumpuan
3) Berat badan atlet.
4) Tergantung pada datangnya gaya.
5) Baik tidaknya koordinasi.
6) Labil tidaknya bidang tumpu
7) Memejamkan mata atu tidak
8) Tinggi rendahnya bidang tumpu
d. Bentuk-bentuk latihan keseimbangan
Modul PLPG Penjaskes 2013
202
a. Berdiri di atas dasar yang sempit (balok keseimbangan, rel kereta api),
melakukan handstand, mempetahankan keseimbangan setelah
berputar-puter di tempat (Harsono, 1988:223).
b. Menari, latihan pada kuda-kuda atau palang sejajar, ski air, skating,
sepatu roda dan sebagainya (Harsono, 1988:223)
Lebih lanjut Suharno (1993:67 mengemukakan cara-cara
mengembangkan keseimbangan adalah :
a. Mempertahankan keseimbangan dari yang mudah ke yang sulit
b. Tumpuan dari yang besar ke kecil, dari stabil ke labil.
c. Tumpuan makin lama makin tinggi dan kecil
d. Ketenangan berlatih secara kontinu
e. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan keseimbangan dapat digunakan
beberapa tes sebagai berikut :
1. Stork stand
2. Dynamic test of positional balance

10. Kecepatan Reaksi (reaction time)
a. Pengertian
Kecepatan reaksi adalah waktu tersingkat yang dibutuhkan untuk
memberi jawab kinetik setelah menerima suatu rangsangan (Badriah,
2009:39).
b. Kegunaan/Manfaat kecepatan reaksi
Dapat memberikan jawaban kinetik yang cepat setelah menerima suatu
rangsangan. Kecepatan reaksi ini sangat penting untuk setiap cabang
olahraga seperti pada saat start dalam lomba lari, start dalam balap
mobil atau motor melakukan blok dalam permainan bola voli dan
sebagainya.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi
Faktor yang mempengaruhi waktu reaksi adalah : uisa, jenis kelamin,
kesiapan, intensitas latihan, latihan, diet, dan kelelahan. Alkohol dan
rokok juga memperlambat waktu reaksi (Badriah, 2009:40).
d. Bentuk-bentuk latihan kecepatan reaksi
Bentuk bentuk latihan untuk meningkatkan kecepatan reaksi
diantaranya ; mendengar suara pluit, tepukan, siulan,langsung
bergerak, melihat warna tertentu, dan sebagainya. Intinya semua
disesuaikan dengan kebutuhan setiap cabang olahraga.

11. Koordinasi (coordination)
1. Pengertian
Kemampuan untuk memadukan berbagai macam gerakan ke dalam
suatu atau lebih pola gerak khusus (Harsono,2001:38).
2. Kegunaan/Manfaat koordinasi
PP.PBVSI (1995:61) menjelaskan kegunaan atau manfaat dari koordinasi
adalah :

Modul PLPG Penjaskes 2013
203
1) Mengkoordinasikan beberapa gerak agar menjadi satu gerakan yang
utuh dan serasi.
2) Efisien dan efektif dalam penggunaan tenaga
3) Untuk menghindari terjadinya cedera
4) Mempercepat berlatih, menguasai teknik
5) Dapat untuk memperkaya taktik dalam bertanding
6) Kesiapan mental atlet lebih mantap untuk menghadapi
pertandingan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi koordinasi
PP.PBVSI (1995:62) menjelaskan faktor-faktor penentu dari koordinasi
adalah :
1) Pengaturan saraf pusat dan saraf tepi, hal ini berdasarkan
pembawaan atlet dan hasil latihan-latihan.
2) Tergantung tonus dan elastisitas otot yang melakukan gerakan.
3) Baik tidaknya keseimbangan, kelincahan dan kelentukan atlet.
4) Baik dan tidaknya koordinasi kerja saraf, otot dan indera.
4. Bentuk-bentuk latihan koordinasi
Harre (1982) yang dikutip oleh Harsono (1988:223) menganjurkan
latihan-latihan koordinasi antara lain :
1) Latihan-latihan dengan perubahan kecepatan dan irama.
2) Latihan-latihan dengan kondisi lapangan yang berubah-ubah.
Memperkecil dan memperluas lapangan.
3) Kombinasi berbagai latihan senam.
4) Koordinasi berbagai permainan
5) Latihan-latihan untuk mengembangkan reaksi.
6) Lari halang rintang dalam waktu tertentu.
7) Latihan di depan kaca, latihan keseimbangan, latihan dengan mata
tertutup.
8) Melakukan gerakan-gerakan yang kompleks pada akhir latihan.
9) Latihan keseimbangan segera setelah melakukan koprol beberapa
kali atau setelah berputar-putar di tempat
5. Alat ukur atau Instrumen tes
Untuk mengukur kemampuan koordinasi dapat digunakan beberapa
tes sebagai berikut
1. Koordinasi mata dan tangan dengan cara lempar tangkap bola
2. Koordinasi mata dan kaki dengan cara menendang bola ke dinding

12. Latihan Rileksasi
Rileksasi (relaxation) adalah hilangnya atau mengurangnya tension
atau ketegangan, baik ketegangan fisik maupun mental. Rileksasi fisik
adalah masalah yang berhubungan dengan tinggi rendahnya tingkat
ketegangan (degree of tension ) yang ada dalam otot-otot. Sedangkan
rileksasi mental adalah masalah yang berhubungan dengan tinggi
rendahnya tingkat ketegangan yang ada dalam mental atlet. Rileksasi
Modul PLPG Penjaskes 2013
204
mental sering kali malah lebih penting dari rileksasi fisik (Harsono, 1988:
122-123).
Rileksasi dapat dilatih karena rileksasi adalah suatu proses belajar
membiasakan diri (conditioned learning) untuk rileks. Selama pertandingan
berlangsung atlet harus secara sadar mencurahkan konsentrasinya untuk
relax tanpa tahanan dan tegangan secara sadar misalnya dengan
mengatakan kepada dirinya sendiri relak, relax, relax. Dalam setiap
latihan pelatih mengatkan relax, relax ketika melihat atletnya tegang
dalam melakukan gerakan-gerakan. Dengan seringnya melakukan
stimulus relax dari luar, diharapkan atlet secara sadar dapat melakukannya
sendiri baik pada saat latihan maupun pertandingan (Harsono, 1988: 124-
125)
E. Rangkuman
Kebugaran jasmani dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh dalam
melakukan berbagai macam pekerjaan tanpa mengalami kelelahan yang
berarti dan dapat segera pulih sebelum datangnya tugas pada keesokan
harinya. Berdasar pada pengertian tersebut, kebugaran jasmani
sesungguhnya merupakan derajat sehat dinamis tertentu yang diharapkan
dapat menanggulangi tuntutan jasmani dalam melaksanakan tugas hidup
sehari-hari dengan selalu mempunyai candangan energy untuk melakukan
tugas tambahan lainnya.
Hakikat kebugaran jasmani merupakan keadaan kemampuan jasmani
untuk dapat menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya terhadap tugas
jasmani tertentu dan /atau terhadap keadaan lingkungan yang harus
diatasi dengan cara efisien, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan,
telah pulih sempurna sebelum datang tugas yang sama pada keesokan
harinya, serta memiliki energy cadangan energy yang cukup untuk
melakukan kerja fisik tambahan lainnya.
Komponen kebugaran jasmani meliputi berbagai system tubuh, mulai
system otot (muscular), system saraf (nervorum), system tulang (skelet),
system pernapasan (respirasi), system jantung (cardio), system ginjal
(eksresi), dan kerja sama antar berbagai system tersebut secara holistic.
Berdasarkan pada system tubuh yang membentuknya maka, komponen
kebugaran jasmani meliputi : kekuatan otot, kelentukan, daya tahan
kardirespirasi dan daya tahan otot, daya ledak otot, kecepatan, kelincahan,
keseimbangan, kecepatan, kelincahan, keseimbangan, kecepatan reaksi,
dan koordinasi, serta memiliki komposisi tubuh yang ideal.


F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!
1. Komponen-komponen kebugaran jasmani apa saja yang terdapat dalam
proses pembelajaran bola voli? Uraikan dan jelaskan!
2. Jelaskan pengertian kebugaran jasmani!

Modul PLPG Penjaskes 2013
205
3. Sebutakan komponen-komponen kebugaran jasmani!
4. Komponen-komponen kebugaran jasmani apa saja yang terdapat
dalam proses pembelajaran sepakbola.
5. Sebutkan fungsi kebugaran jasmani untuk kehidupan!

DAFTAR PUSTAKA

Dewi Laelatul Badriah, 2009, Fisiologi Olahraga edisi II, Pustaka Ramadhan,
Bandung

Hamidsyah Noer, dkk, 1996, Kepelatihan Dasar, Depdikbud-Dirjen
Dasmen, Jakarta

Harsono, 1988, Coaching dan asfek-asfek psikologis dlam coaching,
Tambak Kusuma, Jakarta

Harsono, 2001, Latihan Kondisi Fisik

Harsono, 2004, Perencanaan Program Latihan edisi kedua

Harsono, 2007,Teori dan Metodologi Pelatihan, Sekolah Pascasarjana
Program Magister (S2) Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

James C. Radcliffe and Obert C. Farentinos, 1999, High Powered
Plyometrics, Human Kinetics USA.

Kravitz, 2001, Panduan Lengkap Bugar Total, Raja Grafindo Persada,
Jakarta

Michael J. Alter, 2003, 300 teknik Peregangan Olahraga, Raja Grafindo
Persada, Jakarta

Sekretariat Umum PP. PBVSI, 1995, Metodologi Pelatihan

Suharno H.P, 1993, Metodologi Pelatihan, FPOK IKIP, Yogyakarta





Modul PLPG Penjaskes 2013
206
BAB IX
PENDALAMAN MATERI PENGEMBANGAN BAHAN
AJAR PENJASORKES

A. Pokok-pokok Isi Materi
Masalah penting yang sering dihadapi guru dalam kegiatan
pembelajaran adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau
bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu peserta didik mencapai
kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran, materi bahan ajar hanya dituliskan
secara garis besar dalam bentuk materi pokok. Menjadi tugas guru untuk
menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang
lengkap. Selain itu, bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar juga
merupakan masalah. Pemanfaatan dimaksud adalah bagaimana cara
mengajarkannya ditinjau dari pihak guru, dan cara mempelajarinya
ditinjau dari pihak peserta didik.
Berkenaan dengan pemilihan bahan ajar ini, secara umum masalah
dimaksud meliputi: cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup,
urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran, dan
sebagainya. Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah
memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan
sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku. Padahal banyak sumber
bahan ajar selain buku yang dapat digunakan. Bukupun tidak harus satu
macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini. Berbagai
buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar.
Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan
bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran
terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal,
urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak
sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh peserta didik. Berkenaan
dengan buku sumber sering terjadi setiap ganti semester atau ganti tahun
ganti buku.
Sehubungan dengan itu, perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan
pemanfaatan bahan ajar untuk membantu guru agar mampu memilih
materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat.
Rambu-rambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip
pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan
langkah-langkah pemilihan, perlakuan/ pemanfaatan, serta sumber materi
pembelajaran.
Penyusunan bahan ajar atau bahan pembelajaran merupakan
rangkaian program pendidikan yang utuh, dan merupakan satu kesatuan
yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk itu, perlu ada
model penyusunan bahan ajar yang dapat dijadikan sebagai salah satu

Modul PLPG Penjaskes 2013
207
acuan atau referensi oleh guru dan penyelenggaranya di jenjang sekolah
menengah pertama/madrasah tsanawiyah.
Modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) pengembangan
bahan ajar Penjasorkes ini berisi tentang: identifikasi landasan yuridis
penyusunan bahan ajar; konsep dasar penyusunan bahan ajar; dan
identifikasi jenis bahan ajar berdasarkan karakteristik kompetensi; serta
analisis kesesuaian bahan ajar. Secara praktik berisi tentang praktik
pemilihan bahan ajar berdasarkan karakteristik kompetensi; penyusunan
bahan ajar penjasorkes; dan pengembangan bahan ajar.

B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
3. Standar Kompetensi
Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.

4. Kompetnsi Dasar
a. Memahami standar kompetensi mata pelajaran yang diampu.
b. Memahami kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.
c. Memahami tujuan pembelajaran yang diampu.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjas ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi landasan yuridis penyusunan bahan ajar.
2. Menjelaskan konsep dasar penyusunan bahan ajar.
3. Mengidentifikasi jenis bahan ajar berdasarkan karakteristik
kompetensi.
4. Menganalisis kesesuaian bahan ajar.
5. Memilih bahan ajar berdasarkan karakteristik kompetensi.
6. Menyusun bahan ajar penjasorkes.
7. Melakukan pengembangan bahan ajar Penjasorkes.

D. Uraian Materi
1. Konsep dasar Penyusunan Bahan Ajar
a. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara
garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang
telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri
dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan
sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa
sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dan sebagainya (Ibu kota
Modul PLPG Penjaskes 2013
208
Negara RI adalah Jakarta; Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus
1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus,
komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk
berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).
Termasuk materi prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat,
teorema, atau hubungan antar konsep yang menggambarkan jika .
maka., misalnya Jika logam dipanasi maka akan memuai, rumus
menghitung luas bujur sangkar adalah sisi kali sisi.
Materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-
langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas.
Misalnya langkah-langkah mengoperasikan peralatan mikroskup, cara
menyetel televisi. Materi jenis sikap (afektif) adalah materi yang berkenaan
dengan sikap atau nilai, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-
menolong, semangat dan minat belajar, semangat bekerja, dan sebagainya.
Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan
atau disampaikan dalam kegiatan pembelajran. Ditinjau dari pihak peserta
didik bahan ajar itu harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan
menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator
pencapaian belajar.
b. Prinsip-prinsip bahan ajar
Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi: (1)
prinsip relevansi, (2) konsistensi, dan (3) kecukupan. Prinsip relevansi
artinya materi pembelajaran hendaknya relevan memiliki keterkaitan
dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip
konsistensi artinya adanya keajegan antara bahan ajar dengan kompetensi
dasar yang harus dikuasai peserta didik. Misalnya, kompetensi dasar yang
harus dikuasai peserta didik empat macam, maka bahan ajar yang harus
diajarkan juga harus meliputi empat macam. Prinsip kecukupan artinya
materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu
peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak
boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit
akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan
tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

2. Memilih Bahan Ajar Berdasarkan Karakteristik Kompetensi
a. Langkah-langkah memilih bahan ajar
Materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan
harus dipelajari peserta didik hendaknya berisikan materi atau bahan ajar
yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar
meliputi : (1) mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan
pemilihan bahan ajar, (2) mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar, (3)

Modul PLPG Penjaskes 2013
209
memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi, dan (4) memilih
sumber bahan ajar. Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Sebelum menentukan materi
pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau
dikuasai peserta didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap
aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis
materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Sejalan
dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran
juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci
dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan
prosedur (Reigeluth, 1987).
2) Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama
tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau
komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi konsep berupa
pengertian, definisi, hakekat, inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil,
rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.Materi jenis prosedur
berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya
langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau cara-
cara pembuatan bel listrik.Materi pembelajaran aspek afektif meliputi:
pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan
penilaian. Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan
awal, semi rutin, dan rutin.
3) Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi
apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau
gabungan lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi
jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan
kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi
pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis
materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. Identifikasi jenis
materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya.
Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi
pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian
yang berbeda-beda. Misalnya, metode mengajarkan materi fakta atau
hafalan adalah dengan menggunakan jembatan keledai, jembatan
ingatan (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan
prosedur adalah demonstrasi.
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah
ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup
Modul PLPG Penjaskes 2013
210
memadai sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai
standar kompetensi.
Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis
materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar
kompetensi dan kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan
diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis fakta, konsep,
prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis
materi.
Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka
guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya.
Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya
adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar
kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik.
Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan
mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran
memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem
evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode
mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan
jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics), sedangkan
metode untuk mengajarkan prosedur adalah demonstrasi.
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi
pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan
pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta
didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan
mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta,
konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik. Berikut
adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi
jenis materi pembelajaran :
(1) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
mengingat nama suatu objek, simbul atau suatu peristiwa? Kalau
jawabannya ya maka materi pembelajaran yang harus diajarkan
adalah fakta.
Contoh:
Nama-nama ibu kota kabupaten, peristiwa sejarah, nama-nama organ
tubuh manusia.
(2) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas
sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh
objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya ya berarti
materi yang harus diajarkan adalah konsep.
Contoh :
Seorang guru menunjukkan beberapa tumbuh-tumbuhan kemudian peserta
didik diminta untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan mana yang
termasuk tumbuhan berakar serabut dan mana yang berakar tunggang.

Modul PLPG Penjaskes 2013
211
(3) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut
atau membuat sesuatu? Bila ya maka materi yang harus diajarkan adalah
prosedur.
Contoh :
Langkah-langkah mengatasi permasalahan dalam mewujudkan
masyarakat demokrasi; langkah-langkah cara membuat magnit
buatan; cara-cara membuat sabun mandi, cara membaca sanjak, cara
mengoperasikan komputer, dsb.
(4) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan
hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya ya,
berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam
kategori prinsip.
Contoh :
Hubungan hubungan antara penawaran dan permintaan suatu barang
dalam lalu lintas ekonomi. Jika permintaan naik sedangkan penawaran
tetap, maka harga akan naik. Cara menghitung luas persegi panjang. Rumus
luas persegi panjang adalah panjang dikalikan lebar.
(5) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
memilih berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka
tidak suka, indah tidak indah? Jika jawabannya Ya, maka materi
pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek afektif, sikap, atau nilai.
Contoh:
Ali memilih mentaati rambu-rambu lalulintas meskpipun terlambat masuk
sekolah setelah di sekolah diajarkan pentingnya mentaati peraturan
lalulintas.
(6) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
melakukan perbuatan secara fisik? Jika jawabannya Ya, maka materi
pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek motorik.
Contoh:
Dalam pelajaran lompat tinggi, peserta didik diharapkan mampu melompati
mistar 125 centimeter. Materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah
teknik lompat tinggi.

a) Memilih sumber bahan ajar. Setelah jenis materi ditentukan langkah
berikutnya adalah menentukan sumber bahan ajar. Materi
pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai
sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media
audiovisual, dan sebagainya.
b. Cakupan dan urutan bahan ajar
Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan
penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan
dalam menentukan cakupan, ruang lingkup, dan kedalaman materi
pembelajaran akan menghindarkan guru dari mengajarkan terlalu
sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu mendalam.
Modul PLPG Penjaskes 2013
212
Ketepatan urutan penyajian (sequencing) akan memudahkan bagi
peserta didik mempelajari materi pembelajaran.
1) Penentuan cakupan bahan ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran
harus diperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep,
prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik, sebab
nantinya jika sudah dibawa ke kelas maka masing-masing jenis materi
tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.
Selain memperhatikan jenis materi pembelajaran juga harus
memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan
cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman
materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan berapa
banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi
pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail
konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai
oleh peserta didik.

2) Penentuan urutan bahan ajar
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk
menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang
tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan
yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam
mempelajarinya. Misalnya materi operasi bilangan penjumlahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian. Peserta didik akan mengalami
kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum dipelajari.
Peserta didik akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan
belum dipelajari.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta
kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok , yaitu:
pendekatan prosedural, dan hierarkis.
(1) Pendekatan prosedural
Urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan
langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah
melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah menelpon,
langkah-langkah mengoperasikan peralatan kamera video.
(2) Pendekatan hierarkis
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan
yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah.
Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk
mempelajari materi berikutnya.
Contoh : Urutan Hierarkis (berjenjang)
Soal ceritera tentang perhitungan laba rugi dalam jual beli Agar
peserta didik mampu menghitung laba atau rugi dalam jual beli
(penerapan rumus/dalil), peserta didik terlebih dahulu harus
mempelajari konsep/ pengertian laba, rugi, penjualan, pembelian,

Modul PLPG Penjaskes 2013
213
modal dasar (penguasaan konsep). Setelah itu peserta didik perlu
mempelajari rumus/dalil menghitung laba, dan rugi (penguasaan
dalil). Selanjutnya peserta didik menerapkan dalil atau prinsip jual
beli (penguasaan penerapan dalil).

3. Menyusun dan Mengembangkan Bahan Ajar Penjasorkes
a. Sumber bahan ajar
Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat
diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar, peserta didik dapat
dilibatkan untuk mencarinya. Misalnya, peserta didik ditugasi untuk
mencari koran, majalah, hasil penelitian, dsb. Hal ini sesuai dengan
prinsip pembelajaran peserta didik aktif (CBSA). Berbagai sumber
dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari
setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber
dimaksud dapat disebutkan di bawah ini:
1) Buku teks
Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk
digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan
sebagai sumber bahan ajar untuk suatu jenis matapelajaran tidak
harus hanya satu jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang
atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat
diperoleh wawasan yang luas.
2) Laporan hasil penelitian
Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian
atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber
bahan ajar yang atual atau mutakhir.
3) Jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah)
Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil
pemikiran sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan
ajar. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan
pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji
kebenarannya.
4) Pakar bidang studi
Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber
bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran
materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dan
sebagainya.
5) Profesional
Kalangan professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang
tertentu. Kalangan perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi
dan keuangan. Sehubungan dengan itu bahan ajar yang berkenaan
dengan eknomi dan keuangan dapat ditanyakan pada orang-orang
yang bekerja di perbankan.


Modul PLPG Penjaskes 2013
214
6) Buku kurikulum
Buku kurikulm penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar.
Karena berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi
dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang
tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi.
Gurulah yang harus menjabarkan materi pokok menjadi bahan ajar
yang terperinci.
7) Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan.
Penerbitan berkala seperti Koran banyak berisikan informasi yang
berkenaan dengan bahan ajar suatu matapelajaran. Penyajian dalam
koran-koran atau mingguan menggunakan bahasa popular yang
mudah dipahami. Karena itu baik sekali apa bila penerbitan tersebut
digunakan sebagai sumber bahan ajar.
8) Internet
Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet
kita dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan
satuan pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita
peroleh melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi.
9) Media audiovisual (TV, Video, VCD, kaset audio)
Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk
berbagai jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi,
kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi.
10) Lingkungan ( alam, sosial, senibudaya, teknik, industri, ekonomi)
Berbagai lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan social,
lengkungan seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi
dapat digunakan sebgai sumber bahan ajar. Untuk mempelajari abrasi
atau penggerusan pantai, jenis pasir, gelombang pasang misalnya kita
dapat menggunakan lingkungan alam berupa pantai sebagau sumber.
Perlu diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran berbasis
kompetensi, buku-buku atau terbitan tersebut hanya merupakan
bahan rujukan. Artinya, tidaklah tepat jika hanya menggantungkan
pada buku teks sebagai satu-satunya sumber abahan ajar. Tidak tepat
pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap pergantian
semester atau pergantian tahun. Buku-buku pelajaran atau buku teks
yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai
sumber yang relevan dengan materi yang telah dipilih untuk
diajarkan.
Mengajar bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu
peserta didik mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru
menggunakan banyak sumber materi. Bagi guru, sumber utama
untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku
penunjang yang lain.




Modul PLPG Penjaskes 2013
215
b. Strategi dalam Memanfaatan Bahan Ajar
Secara garis besarnya, dalam memanfaatkan bahan ajar terdapat dua
strategi, yaitu: (1) Strategi penyampaian bahan ajar oleh Guru dan (2)
Strategi mempelajari bahan ajar oleh peserta didik.
1) Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru
a) Strategi urutan penyampaian simultan
Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada
satu, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi
secara keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian
diperdalam satu demi satu (metode global). Misalnya guru akan
mengajarkan materi Sila-sila Pancasila yang terdiri dari lima sila.
Pertama-tama Guru menyajikan lima sila sekaligus secara garis besar,
kemudian setiap sila disajikan secara mendalam.
b) Strategi urutan penyampaian suksesif
Jika guru harus manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada
satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah
materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian
secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam
pula. Contoh yang sama, misalnya guru akan mengajarkan materi
Sila-sila Pancasila. Pertama-tama guru menyajikan sila pertama yaitu
sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah sila pertama disajikan secara
mendalam, baru kemudian menyajikan sila berikutnya yaitu sila
kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab.
c) Strategi penyampaian fakta
Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta
(nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang,
nama lambang atau simbol, dsb.) strategi yang tepat untuk
mengajarkan materi tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Sajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar.
(2) Berikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Bantuan diberikan
dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan
jembatan ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics, asosiasi
berpasangan, dsb. Bantuan penyampaian materi fakta secara
bermakna, misalnya menggunakan cara berpikir tertentu untuk
membantu menghafal. Sebagai contoh, untuk menghafal jenis-jenis
sumber belajar digunakan cara berpikir: Apa, oleh siapa, dengan
menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan seperti apa?
Berdasar kerangka berpikir tersebut, jenis-jenis sumber belajar
diklasifikasikan manjadi: Pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan
lingkungan. Bantuan mengingat-ingat jenis-jenis sumber belajar
tersebut menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan
(mnemonics) menjadi POBATEL (Pesan, orang bahan, alat, teknik,
lingkungan).


Modul PLPG Penjaskes 2013
216
d) Strategi penyampaian konsep
Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau
pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham,
dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan,
meng-generalisasi, dan sebagainya.
Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep,
kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan
bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa tugas
untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan kelima
berikan tes.

e) Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip
Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus,
hukum (law), postulat, teorema, dan sebagainya.
Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi
pembelajaran jenis prinsip adalah :
(1) Sajikan prinsip
(2) Berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip
(3) Berikan soal-soal latihan
(4) Berikan umpan balik
(5) Berikan tes.

f) Strategi penyampaian prosedur
Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan
atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau
hafal. Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-
langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-
langkah menyetel televisi.
Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:
(1) Menyajikan prosedur
(2) Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan
bagaimana cara melaksanakan prosedur
(3) Memberikan latihan (praktek)
(4) Memberikan umpan balik
(5) Memberikan tes.
g) Strategi mengajarkan/menyampaikan materi aspek afektif
Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom
(1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai,
internalisasi, dan penilaian.
Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain:
penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi,
penyampaian ajaran atau dogma.



Modul PLPG Penjaskes 2013
217
2) Strategi penyampaian bahan ajar oleh peserta didik
Ditinjau dari guru, perlakuan (treatment) terhadap materi
pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau
mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa,
perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau
berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus dalam
mempelajari materi pembelajaran, kegiatan siswa dapat
dikelompokkan menjadi empat, yaitu menghafal, menggunakan,
menemukan, dan memilih.

c. Materi prasyarat, perbaikan dan penyayaan
Dalam mempelajari materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi
dasar terdapat beberapa kemungkinan pada diri peserta didik, yaitu
peserta didik belum siap bekal pengetahuannya, peserta didik mengalami
kesulitan, atau peserta didik dengan cepat menguasai materi pembelajaran.
Kemungkinan pertama peserta didik belum memiliki pengetahuan psyarat.
Pengetahuan prasyarat adalah bekal pengetahuan yang diperlukan
untuk mempelajari suatu bahan ajar baru. Misalnya, untuk mempelajari
perkalian peserta didik harus sudah mempelajari penjumlahan. Untuk
mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan prasyarat,
guru harus mengadakan tes prasyarat (prequisite test).
Bahan pembekalan (matrikulasi) dapat diambil dari materi atau
modul di bawahnya. Dalam menghadapi kemungkinan kedua, yaitu
peserta didik mengalami kesulitan atau hambatan dalam menguasai materi
pembelajaran, guru harus menyediakan materi perbaikan (remedial).
Materi pembelajaran remedial disusun lebih sederhana, lebih rinci, diberi
banyak penjelasan dan contoh agar mudah ditangkap oleh peserta didik.
Untuk keperluan remedial perlu disediakan modul remidial.
Dalam menghadapi kemungkinan ketiga, yaitu peserta didik dapat
dengan cepat dan mudah menguasai materi pembelajaran, guru harus
menyediakan bahan pengayaan (enrichment). Materi pengayaan berbentuk
pendalaman dan perluasan. Materi pengayaan baik untuk pendalaman
maupun perluasan wawasan dapat diambilkan dari buku rujukan lain yang
relevan atau disediakan modul pengayaan. Selain pengayaan, perlu
dipertimbangkan adanya akselerasi alami di mana peserta didik
dimungkinkan untuk mengambil pelajaran berikutnya. Untuk keperluan
ini perlu disediakan bahan atau modul akselerasi.

E. Rangkuman
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara
garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang
telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri
dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan
Modul PLPG Penjaskes 2013
218
sikap atau nilai. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran
meliputi: (1) prinsip relevansi, (2) konsistensi, dan (3) kecukupan.
Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi : (1)
mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan
ajar, (2) mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar, (3) memilih bahan
ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang telah teridentifikasi tadi, dan (4) memilih sumber bahan ajar.
Secara garis besarnya, dalam memanfaatkan bahan ajar terdapat dua
strategi, yaitu: (1) Strategi penyampaian bahan ajar oleh Guru dan (2)
Strategi mempelajari bahan ajar oleh peserta didik.
Dalam mempelajari materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi
dasar terdapat beberapa kemungkinan pada diri peserta didik, yaitu
peserta didik belum siap bekal pengetahuannya, peserta didik mengalami
kesulitan, atau peserta didik dengan cepat menguasai materi pembelajaran.
Kemungkinan pertama peserta didik belum memiliki pengetahuan psyarat.

F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!

1. Jelaskan yang dimaksud dengan bahan ajar!
2. Sebutkan jenis-jenis materi bahan ajar pembelajaran!
3. Sebutkan prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran!
4. Sebutkan langkah-langkah penyusunan bahan ajar!
5. Jelaskan cara menyusun dan mengembangkan bahan ajar
Penjasorkes!
Soal Latihan Pilihan Berganda
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang merupakan
jawaban paling benar!
1. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara
garis besar terdiri dari . . . .
I. pengetahuan
J. keterampilan
K. sikap
L. pengetahuan, keterampilan, sikap
2. Materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai
kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat
belajar, semangat bekerja, dan sebagainya, merupakan materi bahan
ajar . . . .
A. sikap
B. pengetahuan
C. keterampilan
D. sikap, pengetahuan, keterampilan

Modul PLPG Penjaskes 2013
219
3. Materi pembelajaran hendaknya memiliki keterkaitan dengan
pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini
merupakan prinsip-prinsip pemilihan bahan ajar dilihat dari . . . .
A. relevansi
B. konsistensi
C. cakupan
D. kedalaman materi
4. Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu
peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Hal ini
merupakan prinsip-prinsip pemilihan bahan ajar dilihat dari . . . .
A. relevansi
B. konsistensi
C. cakupan
D. kedalaman materi

5. Langkah-langkah yang pertama dalam pemilihan bahan ajar
adalah . . . .
A. mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar
B. memilih bahan ajar yang sesuai dan relevan
C. memilih sumber bahan ajar
D. mengidentifikasi SK dan KD


Kunci Jawaban
1. D
2. A
3. A
4. C
5. D
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Gafur (1986). Disain instruksional: langkah sistematis penyusunan pola
dasar kegiatan belajar mengajar. Sala: Tiga Serangkai.
Abdul Gafur (1987). Pengaruh strategi urutan penyampaian, umpan balik, dan
keterampilan intelektual terhadap hasil belajar konsep. Jakarta : PAU - UT.
Bloom et al. (1956). Taxonomy of educational objectives: the classification of
educational goals. New York: McKay.
Center for Civics Education (1997). National standard for civics and
governement. Calabasas CA: CEC Publ.
Dick, W. & Carey L. (1978). The systematic desgin of instruction. Illinois: Scott
& Co. Publication.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2001). Kebijakan pendidikan
menengah umum. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Modul PLPG Penjaskes 2013
220
Edwards, H. Cliford, et.all (1988). Planning, teaching, and evaluating: a
competency approach. Chicago: Nelson-Hall.
Hall, Gene E & Jones, H.L. (1976) Competency-based education: a process for
the improvement of education. New Jersey: Englewood Cliffs, Inc.
Joice, B, & Weil, M. (1980). Models of teaching. New Jersey: Englewood Cliffs,
Publ.
Kemp, Jerold (1977). Instructional design: a plan for unit and curriculum
development. New Jersey: Sage Publication.
Kaufman, Roger A. (1992). Educational systems planning. New Jersey:
Englewood Cliffs.
Marzano RJ & Kendal JS (1996). Designing standard-based districs, schools, and
classrooms. Vriginia: Assiciation for Supervision and Curriculum
Development.
McAshan, H.H. (1989). Competency-based education and behavioral objectives.
New Jersey: Educational Technology Publications, Engelwood Cliffs.
Oneil Jr., Harold F. (1989). Procedures for instructional systems development.
New York: Academic Press.
Reigeluth, Charles M. (1987) Instructional theories in action: lessons illustrating
selected theories and models. New Jersey: Lawrence Erlbaum
Associates Publ.
Russell, James D. (1984). Modular instruction: a guide to design, selection,
utilization and evaluation of modular materials. Minneapolis: Burgess
Publishing Company.


Modul PLPG Penjaskes 2013
221
BAB X
PENDALAMAN MATERI EKSTRAKURIKULER DAN
AKTIVITAS LUAR KELAS

A. Pokok-pokok Isi Materi
Pendidikan aktivitas luar kelas merupakan suatu upaya untuk
mengeksplor semua kemampuan peserta didik dengan mengikuti secara
tekun, serius dan disiplin, dari seluruh program yang ada, dan dapat
memotivasi peserta untuk menciptakan karya-karya baru, baik program,
sistem penjadwalan dan jenis-jenis permainan yang berkualitas. Namun
tidak ada satu program kegiatan yang paling baik, kecuali kolaborasi dan
berbagai program kegiatan yang heterogen, terkemas dalam rangkaian
jadwal yang tertata rapi dengan kegiatan yang saling terkait satu dengan
yang lain dalam kurun waktu yang ditentukan.
Modul Ekstrakurikuler dan Aktivitas Luar Kelas ini berisi tentang:
penjelasan mengenai pengertian dan tujuan kegiatan ekstrakurikuler,
aktivitas luar kelas, macam dan jenis aktivitas luar kelas berdasarkan
keilmuan yang benar.
B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Pokok materi pendidikan aktivitas luar kelas, membahas tentang
pengetahuan teori dan praktek, manfaat, unsur-unsur yang harus
dipersiapkan, berbagai jenis program kegiatan dan sarana prasarana
pendukung, dan suatu program kegiatan di luar kelas atau alam bebas
2. Kompetensi Dasar
Pembekalan dan penguasaan kompetensi keterampilan mengajar
serta mampu menyusun model-model pembelajaran bidang pendidikan
jasmani dalam pendidikan aktivitas luar kelas yang meliputi : piknik
pariwisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah dan mendaki
gunung. Indikator setelah mempelajari materi ekstrakurikuler dan
pendidikan aktivitas luar kelas dalam buku ini diharapkan :
a. Peserta dapat memahami pengertian pendidikan aktivitas luar kelas.
b. Peserta dapat mengenal berbagal jenis materi pendidikan aktivitas luar
kelas.
c. Peserta dapat mengenal prinsip-prinsip kegiatan dan aktifitas materi
pendidikan luar kelas.
d. Peserta dapat mendeskripsikan hal-hal yang harus dicermati pada saat
persiapan, waktu melakukan dan setelah aktivitas dan kegiatan
pendidikan aktivitas luar kelas.
e. Peserta mengenal materi pendidikan aktivitas luar kelas.
f. Peserta dapat mengenal teknik-teknik pendidikan aktivitas luar kelas
hubungannya dengan PBM Penjaskes.
g. Peserta dapat membuat suatu program pendidikan aktivitas luar kelas,
hubungannya dengan materi kegiatan, penjadwalan/ alokasi waktu
desain evaluasi.
Modul PLPG Penjaskes 2013
222
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjas ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
5. Menjelaskan pengertian pendidikan luar kelas.
6. Memahami tentang tatacara berkemah.
7. Memahami tentang pelaksanaan Outbond.
8. Mempraktekan aktivitas berkemah dan aktivitas Outbond.
D. Uraian Materi
1. Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pengayaan dan
perbaikan yang berkaitan dengan program kokurikuler dan intrakurikuler.
Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai wadah bagi siswa yang memiliki
minat mengikuti kegiatan tersebut. Melalui bimbingan dan pelatihan guru,
kegiatan ekstrakurikuler dapat membentuk sikap positif terhadap kegiatan
yang diikuti oleh para siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti dan
dilaksanakan oleh siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah, bertujuan
agar siswa dapat memperkaya dan memperluas diri. Memperluas diri ini
dapat dilakukan dengan memperluas wawasan pengetahuan dan
mendorong pembinaan sikap atau nilai-nilai. Pengertian ekstrakurikuler
menurut kamus besar bahasa Indonesia (2002:291) yaitu:suatu kegiatan
yang berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum seperti
latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa.
Kegiatan ekstrakurikuler sendiri dilaksanakan diluar jam pelajaran
wajib. Kegiatan ini memberi keleluasaan waktu dan memberikan
kebebasan pada siswa, terutama dalam menentukan jenis kegiatan yang
sesuai dengan bakat serta minat mereka. Menurut Rusli Lutan (1986:72)
ekstrakurikuler adalah: Program ekstrakurikuler merupakan bagian
internal dari proses belajar yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan
anak didik. Antara kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler
sesungguhnya tidak dapat dipisahkan, bahkan kegiatan ekstrakurikuler
perpanjangan pelengkap atau penguat kegiatan intrakurikuler untuk
menyalurkan bakat atau pendorong perkembangan potensi anak didik
mencapai tarap maksimum.
Mengenai tujuan kegiatan dalam ekstrakurikuler dijelasken oleh
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995: 2) sebagai berikut:
Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan agar:
1. Siswa dapat memperdalam dan memperluas pengetahuan keterampilan
mengenai hubungan antara berbagai mata pelajaran, menyalurkan
bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia
seutuhnya yang:
a. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. berbudi pekerti luhur
c. memiliki pengetahuan dan keterampilan
d. sehat rohani dan jasmani

Modul PLPG Penjaskes 2013
223
e. berkepribadian yang mentap dan mandiri
f. memilki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
2. Siswa mampu memanfaatkan pendidikan kepribadian serta mengaitkan
pengetahuan yang diperolehnya dalam program kurikulum dengan
kebutuhan dan keadaan lingkungan.

Beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler yang diprogramkan di
sekolah dijelaskan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995: 3)
sebagai berikut :
a. Pendidikan kepramukaan
b. Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA)
c. Palang Merah Remaja (PMR)
d. Pasukan Keaman Sekolah (PKS)
e. Gema Pencinta Alam
f. Filateli
g. Koperasi Sekolah
h. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
i. Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)
j. Olahraga
k. Kesenian.

2. Aktivitas Luas Kelas
Pendidikan luar kelas merupakan aktivitas luar sekolah yang berisi
kegiatan di luar kelas/ sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti: bermain
di lingkungan sekolah, taman, perkampungan pertanian/ nelayan,
berkemah, dan kegiatan yang bersifat kepetualangan, serta pengembangan
aspek pengetahuan yang relevan (Arief Komarudin, 2007). Pendidikan luar
kelas tidak sekedar memindahkan pelajaran ke luar kelas, tetapi dilakukan
dengan mengajak siswa menyatu dengan alam dan melakukan beberapa
aktivitas yang mengarah pada terwujudnya perubahan perilaku siswa
terhadap lingkungan melalui tahap-tahap penyadaran, pengertian,
perhatian, tanggungjawab dan aksi atau tingkah laku. Aktivitas luar kelas
dapat berupa permainan, cerita, olahraga, eksperimen, perlombaan,
mengenal kasus-kasus lingkungan di sekitarnya dan diskusi penggalian
solusi, aksi lingkungan, dan jelajah lingkungan (Vincencia S, 2006).
Pendidikan luar kelas diartikan sebagai pendidikan yang
berlangsung di luar kelas yang melibatkan pengalaman yang
membutuhkan partisipasi siswa untuk mengikuti tantangan petualangan
yang menjadi dasar dari aktivitas luar kelas seperti hiking, mendaki
gunung, camping dll. Pendidikan luar kelas mengandung filosofi, teori dan
praktis dari pengalaman dan pendidikan lingkungan. Priest (1986) dalam
Tri IL (2008: 5) menyatakan Outdoor education is, an experimential
method of learning by doing, which takes place primarily through exposure
to the out-of-doors. In outdoor education, the emphasis for the subject of
Modul PLPG Penjaskes 2013
224
learning is placed on RELATIONSHIP: relationship concerning human and
natural resources.
Pendidikan luar kelas bertujuan agar siswa dapat beradaptasi
dengan lingkungan dan alam sekitar,dan, mengetahui pentingnya
keterampilan hidup dan pengalaman hidup di lingkungan dan alam
sekitar, dan memiliki memiliki apresiasi terhadap lingkungan dan alam
sekitar. Pendekatan Out-door learning menggunakan setting alam terbuka
sebagai sarana. Proses pembelajaran menggunakan alam sebagai media
dipandang sangat efektif dalam knowledge management dimana setiap
orang akan dapat merasakan, melihat langsung bahkan dapat
melakukannya sendiri, sehingga transfer pengetahuan berdasarkan
pengalaman di alam dapat dirasakan, diterjemahkan, dikembangkan
berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Pendekatan ini mengasah aktivitas
fisik dan social anak dimana anak akan lebih banyak melakukan kegiatan-
kegiatan yang secara tidak langsung melibatkan kerjasama antar teman dan
kemampuan berkreasi. Aktivitas ini akan memunculkan proses
komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, pengambilan keputusan,
saling memahami, dan menghargai perbedaan.
(http://www.plbjabar.com)
Beberapa konsep yang melandasi pendekatan Out-door learning :
1. Pendidikan selama ini tidak menempatkan anak sebagai subjek
2. Setiap anak berkebutuhan khusus dan unik. Mereka mempunyai
kelebihan dan kekurangan, sehingga proses penyeragaman dan
penyamarataan akan membunuh keunikan anak. Keunikan anak yang
berkebutuhan khusus harus mendapat tempat dan dicarikan peluang agar
anak dapat lebih berkembang.
3. Dunia anak adalah dunia bermain, tetapi pelajaran banyak
disampaikan tidak lewat permainan.
4. Usia anak merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup
manusia, namun dunia pendidikan kurang memberikan kesempatan bagi
pengembangan kreativitas.
Sedangkan elemen-elemen yang perlu diperhatikan dalam pendekatan Out
door learning adalah : 1) Alam terbuka sebagai sarana kelas; 2) Berkunjung
ke objek langsung; 3) Unsur bermain sebagai dasar pendekatan; 4) Guru
harus mempunyai komitmen. Disamping elemen di atas ada alasan
mengapa metode pendekatan outdoor learning dipakai sebagai
pengembangan karakter anak, yaitu : 1) Metode ini adalah sebuah simulasi
kehidupan komplek menjadi sederhana; 2) Metode ini menggunakan
pendekatan metode belajar melalui pengalaman; 3) Metode ini penuh
kegembiraan karena dilakukan dengan permainan.
Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Peranan sumber belajar sering dilupakan, padahal sumber belajar
dapat diperoleh dimana-mana termasuk di lingkungan sekitar anak.
Anggani S (2000: 7) menyatakan bahwa sumber belajar adalah bahan
termasuk juga alat permainan untuk memberikan informasi maupun

Modul PLPG Penjaskes 2013
225
berbagai keterampilan kepada siswa dan guru. Bentuk pembelajaran yang
menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar adalah dengan
permainan. Guru bias memilih bentuk permainan yang sesuai dengan
situasi dan kondisi lingkungan. Menurut Abulraihan (2008) lingkungan
bisa lingkungan sekolah dan luar sekolah, yang terpenting bahwa aktivitas
pembelajaran di luar kelas yang dilakukan siswa, guru harus pandai-
pandai memilih model atau jenis pembelajaran yang tepat sesuai situasi
lingkungan, memperhatikan factor keamanan karena di alam bebas
mempunyai tingkat keriskanan yang tinggi terhadap keselamatan siswa.
Model pembelajaran yang paling tepat di lingkungan luar sekolah adalah
dengan bentuk bermain atau permainan. Menurut Rijsdorp (dalam
Sukintaka 1992: 1), anak yang bermain kepribadiannya akan berkembang
dan wataknya akan terbentuk, berarti bermain merupakan wahana yang
baik untuk mengembangkan watak dan keprib Alam merupakan
Manisfestasi Pendidikan Luar Kelas.
Lahirnya konsep pendidikan di alam adalah manifestasi dari
pendidikan di luar ruangan. Alam sebagai media belajar merupakan solusi
ketika terjadi kejenuhan atas metodologi pendidikan di dalam kelas. Dari
pemikiran inilah Walt Whitmant mencoba memperbaharuhi metodologi itu
dengan penekanan pada proses aktivitas di luar kelas. Pendidikan dan
latihan di luar kelas dapat menggantikan proses pendidikan konvensional
(kelas/ ruangan) yang selama ini dilakukan secara masif. Akibatnya model
pendidikan tersebut lebih berorientasi pada nilai-nilai kuantitatif , bukan
pada proses pengenalan lebih dalam pada sumber-sumber pengetahuan ( F
Herry, 2008:2).adiannya.

Pengertian Berkemah
Berkemah merupakan suatu kegiatan yang menak, tidak saja bagi
orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak dan remaja, khususnya pada saat
liburan, mereka meninggalkan rumah, pergi ke alam bebas untuk
mendinkan tenda berkemah. Pemikhan tempat berkemah tergantung dan
rencana yang sudah diprogramkan, apakah daerah pantai yang indah, di
lereng pegunungan yang sejuk atau di lembah yang mempesona, kadang-
kadang juga dilakukan di tepi hutan dekat dengan sungai yang
menakjubkan,sebagai contoh gambar dibawah ini.

a. Maksud dan Tujuan Perkemahan:
1. Maksud
1. Mempraktekkan sistem beregu
2. Mempraktekkan prinsip swadaya dan keprasahajaan hidup
3. Mempraktekkan pembinaan jasmani dan rohani
4. Mempraktekkan pembinaan hidup beragama
5. Menjadikan alat untuk tolok ukur kemampuan pribadi
2.

Modul PLPG Penjaskes 2013
226
Tujuan
1. Meningkatkan keyakinan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
2. Membina mental dan kepercayaan pada diri sendiri
3. Meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh
4. Meningkatkan daya kreasi, ketangkasan dan keterampilan
5. Membina keija sama, gotong royong dan kerukunan
6. Melatih hidup prasahaja dan berswadaya
7. Memperluas pengetahuan dan menambah pengalaman
8. Menanamkan kecintaan pada tanah air dan menumbuhkan
kesadaran untuk berbakti ( httpll
images.google.coid/images?imgurl)

b. Macam Perkemahan
1. Menurut waktunya, perkemahan dibagi dalam:
a. Perkemahan satu han (siang hari saja), terkadang disebut
Perkemahan Sehan (PERSARI)
b. Perkemahan Sabtu Minggu( PERSAMI)
c. Perkemahan yang waktunya Iebih dan 3 hari
2. Menurut tempat berkemah, dibagi dalam:
a. Perkemahan, menetap (dan awal sampai akhir tetap ditempat itu)
b. Perkemahan safari (berpindah-pindah tempat)
3. Menurut tujuannya, dibagi dalam:
a. Perkemahan untuk lomba
b. Perkemahan untuk persahabatan dengan acara santai
c. Perkemahan untuk berkarya (menyelesaikan proyek)
d. Perkemahan untuk penyelidikan alam dan ltngkungan
e. Perkemahan untuk rekreasl
4. Menurut jumlah peserta dan tingkatnya yaltu:
a. Perkemahan 2 (dua) orang (perkemahan pengembaraan penegak)
b. Perkemahan satu regu Penggalang
c. Perkemahan satuan perindukan siaga, pasukan penggalang,
Ambalan Penegak atau Racana Pandega
d. Perkemahan tingkat Kwartir Ranting/Cabang/Daerah/Nasional,
Kawasan/Dunia

B. Pengertian Outbound
Out bound merupakan salah satu metode pembelajaran modem yang
memanfaatkan keunggulan alam. Para peserta yang mengikuti outbound
tidak hanya dihadapkan pada tantangan intelegensia, tetapi juga fisik dan
mental ( ) Dan mi akan terus terlatih menjadi sebuah pengalaman yang
membekali dirinya dalam menghadapi tantangan yang lebih nyata dalam
persaingan di kehidupan sosial masyarakat.
Kegiatan outbound bertujuan menumbuhkan dan menciptakan
suasana saling mendorong, mendukung serta memotivasi dalam sebuah
kelompok. Selain mengembangkan kemampuan apresiasi atau kreativitas

Modul PLPG Penjaskes 2013
227
dan penghargaan terhadap perbedaan dalam sebuah kelompok juga
memberikan kontribusi memupuk jiwa kepemimpinan, kemandirian,
keberanian, percaya din, tanggung jawab dan empati yang merupakan nilai
dasar yang hams dimiliki setiap orang. Yang diterjemahkan melalui
experiential learning yang akan memberikan pengalaman langsung kepada
peserta pelatihan dengan simulasi permainan. Peserta langsung merasakan
sukses dan gagal dalam pelaksanaan tugas.
Sisi menarik dad metode pembelajaran outbound adalah permainan
sebagai bentuk penyampaiannya. Dalam permainan skill, individu tidak
hanya ditantang berpikir rdas namun juga memiliki kepekaan sosial.
Dalam outbound peserta akan lebih banyak dituntut mengembangkan
kemampuan ESQ (emotional and spiritual quotient)nya, disamping lQ
(intellegent quotient).

a. Tujuan
Kegiatan ini diharapkan dapat memfasilitasi dan membantu
tercapainya salah satu atau beberapa aspek dibawah mi, antara lain:
1. Pengembangan tim (team building)
2. Pengembangan kepemimpinan (leadership)
3. Pengelolaan perubahan (managing change)
4. Pengembangan budaya organisasi (culture development)
5. Perencanaan strategis (strategic planning)
6. Pengembangan diri (personal development)

b. Manfaat
1. Mempertebal rasa kepercayaan dm1
2. Menumbuhkan rasa keberanian mengambil resiko
3. Meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan
4. Membangkitkan kepekaan dan saling pengertian antar
kelompok
5. Menumbuhkan motivasi dan berperan aktif
6. Mengembangkan rasa keyakinan untuk mengubah sesuatu yang
dianggap tidak mungkin menjadi mungkin
7. Melahirkan semangat baru yang nantinya menjadi energi baru

c. Target
1. Tersedianya wahana dan pengalaman kerjasama tim yang
menyenangkan bagi peserta
2. Peserta berani mengaktualisasikan potensi-potensi dalam dirinya
3. Peserta lebih optimis dalam menghadapi lingkungan kerja
selanjutnya.

d. Metode Pelatihan
1. Permainan kelompok
2. Kerja kelompok
Modul PLPG Penjaskes 2013
228
3. Petualangan individual
4. Ceramah (keterkaitan antara kegiatan simulasi dengan prinsmp-
pnnsip manajemen)
5. Diskusi (refleksi kegiatan)

1. Meluncur Tali
Merupakan suatu kegiatan meluncur dan ketinggian tertentu
dengan jarak luncuran yang harus diperhitungkan, disusualkan dengan
usia, jenis kelamin dan tingkat keberanian peserta. untuk tempat mendarat
dapat pilih sesual kebutuhan dengan iandasan tanah lapang biasa atau di
kolam atau air. Kalau di taruh biasa memang tidak begitu menantang dan
tidak perlu basah, namun jika di air beban mental cukup berat, sebab
mungkin mendarat tidak harus dengan kaki yang menapak, tapi dengan
kaki dan pantat yang serempak dengan kondisi badan yang basah justru
yang menantang.
Perlu diingat dalam kegiatan mi keberanian peserta untuk
melakukan luncuran sudah merupakan sensasi dan keberanian tersendin.
Dalam kegiatan ml persiapan dan pelaksanaan perlu ekstra hati-hati, juga
metode alat luncur dan gaya luncuran. Dibawah ml adalah alat dan sarana
yang dipergunakan dalam kegiatan meluncur tall dan salah satu teknik
posisi tubuh saat meluncur.

2. Turun Naik Tebing
Merupakan materi kegiatan yang menank tapi tetap menantang jugs
diperlukan stamina yang cukup, sebab proses saat melakukan harus dalam
artian jangan sampai stamina habis ditengag rute yang harus di tempuh.
Lokasi dapat dipilih sesuai dengan kondisi dan para peserta, hal yang perlu
diperhatikan ialah, jarak tempuh dan dinding yang harus dilewati sebagai
target, sudut kemiringan dan tebing dan juga keteijalan dan kondisi
dinding baik tanah atau bebatuannya atau tanaman yang dapat jadi
penghalang yang tumbuh di dinding tersebut. Keberanian dan peserta
untuk naik atau turun dan dinding yang telah dipilih dan disesuaikan
tingkat kesulitannya, sudah merupakan sensasi bagi peserta.

3. Merayap
Merupakan kegiatan mental dan fisik yang cukup mengasyikkan,
namun perlu diperhatikan keakuratan dan kecepatan waktu
melakukannya. Dalam kegiatan mi, dapat diberi variasi yang bermacam-
macam hubungannya dengan faktor kesulitan dan para peserta saat
melakukannya yang berupa faktor penghalang, juga ketinggian antara
tanah dengan tali dalam arti wang gerak yang terbatas, juga kondisi tanah
, berbatu kecil-kecil, tanah kering atau tanah basah dan berlumpur.
Kecepatan yang sangat minim tanpa kesuliatan sewaktu meaIui lintasan
tersubut merupakan sensasii bagi para peserta.


Modul PLPG Penjaskes 2013
229
4.Trust Fall
Merupakan maten kegiatan ml membutuhkan peserta yang
memfliki nyali yang luar biasa tangguh, sebab dalam pelaksanaan tidak
banyak hal yang hams dilukukan, tidak banyak tenaga yang hams kita
keluarkan, hanya konsentrasi penuh dan persiapan mental yang kuat untuk
penyerahan jiwa dan raga pada teman-teman, dengan posisi berdiri santai
membelakangi arah jatuhan dan menjatuhkan din ke belakang tanpa alat
bantu apapun kecuali tekat yang bulat. Teman-teman yang minimal tiga
pasang, membuat jalinan tangan sebagai kasur jatuhan, hams juga
konsentrasi dengan jalinan tangan yang sangat kuat, namun jangan kaku
dan keras, agar terkesan peserta mendarat diatas kasur yang tebal dan
empuk terbuat dan kapok kualitas nomor satu.

5. Menara Jatuhan
Perlu dipersiapkan suatu bangunan dart bambu atau kayu dengan
ketinggian kira-kira 120 cm atau lebih yang kuat dan kokoh, agar peserta
yang akan melakukan kegiatan ml dapat berdiri dengan mantap, tanpa ada
goyangan sedikitpun dart menara yang akan menciutkan nyali peserta
sebelum intl kegiatan mnjatuhkan dirt dilukukan. Pertu diketahul
kegiatan ml adalah yang paling menyiutkan nyali peserta, dalam
pelaksanaannya dapat divariasi dengan hal-hal lain yang lebih sensasional,
misalnya clengan ,menuttzp mata dengan kain hitam sehingga tidak dapat
melihat sebelum terjun. menambah ketinggian menara, namun faktor
keselamatan harus dinomor satukan.

6. Program Kegiatan Dengan Unsur Keseimbangan Tubuh.
Program keseimbangan tubuh adalah suatu kegiatan di luar kelas
yang menitik beratkan pada keseimbangan tubuh I peserta, dengan
berbagal variasi balk alat yang digunakan. tempat maupun cara dan aturan
main yang berbeda, yang intinya tervokus pada keseimbangan tubuh balk
secara individu maupun kelompok. Kegiatan ml sangat sederhana namun
tidak dapat dianggap mudah, sangat membutuhkan konsentrasi dan
keberanian yang stimewa. Adapun peralatan yang diperlukan adalah
bambu yang balk, furus dan kuat dan beberapa alat bantu seperti tall dan
lain-lain, dlsamping lahan yang tldak begitu luas dan datar atau jika ada
kolam yang tidak begitu dalam.
Materi yang terfokus pada keseimbangan untuk mengetahui skor
nilal keberhasilan dilihat dart keberhasilan peserta melewati jalur yang
terbuat dart bambu, dengan tingkat kesulitan yang bervariasi, balk
perorangan maupun beregu. Kegiatan ml dapat diwujutkan dengan
kegiatan permainan:
a. Bambu tidur.
b. Bandul Gandul.
c. Jembatan maut.
d. Tall Titi.
Modul PLPG Penjaskes 2013
230
e. Jaring jaring.
f. Rakit Merit.

7. Bambu Tidur
Adalah suatu kegiatan fisik yang membutuhkan keseimbangan yang
penuh, sebab apabila saat melakukan program kegiatan tersebut tanpa
konsentrasi, keseimbangan tidak akan diperoleh yang akhimya tidak dapat
menyelesaikan tugasnya dengan tuntas karena terhempas jatuh. Tugas
tersebut adalah ada dua batang yang terbentang sejajar kuat dengan
ketinggian yang cukup. Dua peserta berpasangan masing-masing berada
diatas batang bambu dan sating berpegangan, saling menjaga
keseimbangan untuk berjalan menuju ke ujung bambu yang lain bersama
sama. mudah memang kelihatannya, namun pedu diingat, sekuat kuatnya
bambu sewaktu menahan beban yang bergerak pasti mengalami pantulan
beban yang bergerak, disinilah keseimbangan dan dua peserta pasti
mengalami ujian, jatuh atau tidak karena hal tersebut

8. Bandul Gandul
Adalah maten kegiatan yang mengharuskan peserta berjalan diatas
jembatan dan batang bambu dengan nntangan sebelah kanan dan kin
terdapat bandul bandul bola yang siap diayunkan untuk mengganggu dan
menghambat perjalanan peserta menuju ke ujung bambu
9. Jembatan Maut
Jembatan Maut,adalah materi kegiatan yang cukup rnenantang,
sebab peserta aruskan melewati jembatan yang berpenampang sempit
dengan bantuan seutas tali yang terbentang di atasnya. Faktor yang
menjadi sulitnya melakukan kegiatan ml adalah, sewaktu jalan di atas
jembatan yang berpenampang sempit keseimbangan pasti teruji, juga
pantulan dail jembatan karena menopang beban yang berjalan, disisi lain
peserta diwajibkan berpegangan seutas tali diatasnya, hal ini kalau
keseimbangan tidak baik justru dapat menjadi tidak setimbang.
Menyeberang jembatan dengan rintangan bandul gandul

10.Tali Titi
Tali Titi, adalah suatu materi kegiatan yang sangat menantang dan
dibutuhkan suatu keberanian yang luar biasa dan keseimbangan badan
intinya, sebab tugas dan peserta harus melewati lebar sungai hanya dengan
menginjak seutas tall dengan berpegangan seutas tall pula. Jadi koordinasi
antara tangan dan kaki peserta harus benar-benar balk, kelentukan badan
juga sangat membantu. Dalam persiapan pertu diplllh dua utas tall yang
benar-benar kuat dan cukup bentangannya sepanjang lebar sungai yang
akan diseberangi Setelah tall utama dibentangkan dengan kuat, yang
berfungsi sebagai injakan kaki, baru kita pasang tall kedua sebagai
pegangan tangan juga keseimbangan badan, baru ldta coba kekuatan
maksimalnya, agar keselamatan peserta dapat teramin.

Modul PLPG Penjaskes 2013
231
11. Jaring Jaring
Jaring Jaring, adalah materi kegiatan yang cukup mengasyikkan
tetapi juga membutuhkan konsentrasi dan akurasi yang tinggi, sebab
apabila terlena dalam sedetikpun, kaki akan terperosok diantara rajutan tall
dan tidak menutup kemungkinan badan akan terjerembap jatuh ke tanah,
cederapun juga dapat terjadi, jika perlu dapat ditambahkan ikatan tali pada
tubuh peserta kegiatan.
Persiapan yang harus disediakan adalah rajutan tali yang cukup lebar
dibentangkan pada ketinggian yang cukup membentang kearah bawah
kanan dan kiri, dengan pertimbangan kekuatan rajutan tali untuk
menopang beban satu orang atau bahkan lebih dari satu orang, juga
ketinggian jaring harus disesuaikan dengan peserta kegiatan.

12. Rakit Merit
Rakit merit, adalah materi kegiatan yang membutuhkan
kesungguhan untuk beraktifitas secara fisik dan mental tanpa
memperhitungkan akibat yang muncul, misalnya pakaian yang dipakai
harus basah kuyup karena badan tercebur di air dan akibat lain. Namun
apabila dijakukan dengan penuh keseusan dalam suasana gembira,
kegiatan tersebut juga akan beqalan dengan baik dan mengasyikkan.
Adapun kegiatan tersebut berupa aktifitas menyeberangi kolam atau
sungai dengan menggunakan bermacam macam rakit yang terbuat daii
bahan yang berbeda dan bentuk yang bervariasi

13. Kegiatan Memupuk Kekompakkan
Kegiatan memupuk kekompakkan adalah kegiatan yang menitik
beratkan pada suatu kegiata difokuskan pada kekompakan beregu dan
kelompok peserta dalam melakukan aktivitasnya. Untuk mendapatkan
nilai atau skor yang tinggi ditentukan oleh hasil keqa dan kelompok
tersebut dan hasil kerja yang dilandasi gotong royong. Materi kegiatan
tersebut menurut ( Agustinus S, 2008 ) dapat diwujudkan dengan
permainan sebagai berikut:
a. Duduk bersama
b. Lingkaran rotan
c. Duduk berdiri

14. Jagongan (Duduk Bersama)
Jagongan (duduk bersama) adalah materi kegiatan yang menuntut
kerja sama dan gotong royong yang kompak antar anggota peserta dalam
kelompok tersebut. Dalam kegiatan ml seluruh peserta dan kelompok
tersebut berjajar ke belakang tanpa bantuan alat apapun, hanya saling
membelakangi dan merapatkan din dengan tangan berada pada pundak
teman yang ada di depannya. Aktivitas yang dilakukan dengan satu aba-
aba, seluruh peserta melakukan posisi jongkok yang akhirnya saling
menduduki paha atau lutut teman yang ada di belakangnya, apabila
Modul PLPG Penjaskes 2013
232
kegiatan mi tidak dilakukan dengan kekompakkan yang bersama (ada
peserta satu atau lebih yang tidak kompak), maka kelompok tersebut akan
goyah posisinya dan akhimya akan jatuh.

15. Lingkaran rotan
Lingkaran rotan adalah kegiatan yang membutuhkan kekompakkan
anatar peserta dalam satu kelompok saling bergandengan tangan, dalam
permainan mi sebagai sarana memindahkan lingkaran rotan dan peserta
dalam posisi awal yang melaju me!ewati tubuh! badan masing-masing
peserta fanpa pufus sampai pada peserta yang paling ujung. Permainan ml
membutuhkan konsentrasi, kerja sama dan kontrol yang baik, apabila
diantara peserta ada yang lengah, sehingga tangan tidak bergayut dengan
tangan peaserta yang fain maka Iingkaran rotan akan terjatuh dan
dianggap diskualifikasi untuk kelompok tersebut.

16. Duduk berdiri
Duduk berdiri adalah kegiatan yang membutuhkan kerja sama,
kekompakkan dan konsentrasi yang tinggi, tugas dan peserta adalah
duduk sambil bertolak punggung yang dilakukan oleh beberapa peserta
seolah-olah membentuk sebuah Iingkaran. Dengan satu penntah ( aba-aba
= yak! ) seluruh peserta serentak melakukan gerakan posisi berdiri, hal itu
dapat terjadi antar peserta dalam satu kelompok saling adu punggung
dengan kekuatan yang vertikal dibantu gerakan kaki masing-masing.
Apabila kekompakkan tercipta dengan balk maka peserta dalam satu regu
dapat berdiri dengan sempuma karena kerja gotong royong yang saling
mendukung.

17. Jelajah Alam
Jelajah alam merupakan suatu bentuk kegiatan yang dapat
dilakukan baik perorangan maupun ketompok. Kegiatan mi bertujuan
untuk menelusuri alam dan untuk mengetahul berbagai krkayaan alam
sekitar yang metiputi flora, fauna, gunung, bukit dan frmbah, sebagai
upaya penambahan wawasan pengetahuan bagi peserta.
Pelaksanaan jelajah alam ml salah satu upaya untik mengenal ciptaan
Tuhan, disamping mempunyal makna sebagal usaha pendekatan manusia
kepada Tuhan dan ciptaannya.Agar tebih jelas dalam mempetajari materi
kegiatan jelajah atam. berikut beberapa contoh dan materi kegiatan jelajah
alam:
a. Penyeberangan basah.
b. Telusur Sungai
c. Lintas Alam.

18. Penyeberangan Basah
Penyeberangan basah adalah salah satu bentuk keterampilan yang
hams dimiliki oieh seorang penjelajah alam, sebab kegiatan ml merupakan

Modul PLPG Penjaskes 2013
233
mata rantal dan kegiatan jelajah aam. Keterampilan penyeberangan basah
ml banyak membeilkan manfaat untuk pembinaan generasi muda,
terutama siswa Sekolah Lanjutan Atas. Aspek aspek yang terkandung
dalam kegiatan mi adalah sikap berani, tegar dan teliti dalam persiapan
maupun pelaksanaan daii kegiatan penyeberangan basah.
Kegiatan penyeberangan basah mi dapat digunakan sebagai satah
satu bentuk keterampilan yang dapat dilakukan dalam kegiatan wisata di
alam terbuka,
i mengisi waktu luang untuk siswa SLTA.

19. Menelusuri Sungai
Menyusun sungai adalah salah satu bagian dan kegiatan wisata
alam. Kegiatan mi sangat bermanfaat untuk memupuk rasa cinta setia
kawan, kerja sama dan rasa cinta pada alam semesta. Selain itu kegiatan ml
dapat menambah pengetahuan siswa tentang jenis dan nama-nama
tanaman maupun berbagal binatang yang ada disekitarnya.

20. Lari Lintas Alam
Lari lintas alam merupakan salah satu nomor dan cabang olahraga
atletik yang pelaksanaannya dilakukan di alam terbuka. Dalam kegiatan ml
peserta dituntut daya tahan, keterampilan dan power yang tinggi, karena
Ian hntas alam mi selalu melewati route dengan nntangan-iintangan
diantaranya tanjakan turunan dan menyeberangi sungal.
Secara tidak langsung jika kegiatan mi dalam pelaksanaanya
dilakukan dengan balk dan sungguh-sungguh, akan sangat berpengaruh
terdap tingkat kesegaran jasmani.Pentu diperhatikan. dalam pemilihan
route hendaknya diperhatikan faktor keamanan.

20. Keterampilan PPPK.
Kegiatan wisata alam disamping menyenangkan peserta, juga
dihadapkan dengan tantangan medan yang sanngat besar, maka bagi para
peserta kegiatan mi harus dipersiapkan dalam menghadapi tantangan alam
tersebut. Dalam kegiatan pelatih dilatih untuk menanggulangi keadaan
darurat jika salah satu anggota regunya mengalami kecelakaan atau dan
anggota regu mengalami cedera. Kegiatan mi peserta dilatih untuk
menanggulangi keadaan darurat jika salah satu anggota regunya
mengalami kecelakaan atau cedera. Kondisi mi dibuat seperti keadaan
sebenarnya yaitu melewati bukit, sungai dan semak belukar sambil
membawa korban ditandu menggunakan dragbar ke tempat aman.

21. Pendakian
Pendakian merupakan salah satu bentuk olahraga keras dan penuh
petualangan dan melatih kekuatan fisik serta daya tahan dan juang yang
tinggi. Kegiatan mi dapat menambah sikap keagungan ciptaan Tuhan, nasa
clnta tanah air dan secara tiadak Iangsun dapat pula meningkatkan rasa
percaya diri.
Modul PLPG Penjaskes 2013
234
22. Meluncur Berdiri
Meluncur berdiri merupakan salah satu bentuk ketangkasan yang
pertu dimilikI oleh seorang penje(ajah afam. Kegiatan mefuncur berdiri
merupakan suatu mata rantai dan kegiatan jelajah alam, sebab memberikan
banyak manfaat bagi generasi muda terutama siswa SLTA.
Aspek-aspek yang terkandung dalam kegiatan mi diantaranya
penanaman sikap berani, tegar serta teliti dalam persiapan maupun
pelaksanaan dan kegiatan meluncur, berdiri tersebut, juga dapat
digunakan sebagai salah satu bentuk keterampilan ya ng dapat dilakukan
dalam kegiatan wisata di alam terbuka, juga dapat mengisi waktu luang
disaat libur.

23. Kebut Gunung
Kebut gunung adalah salah satu acara dalam kegiatan wisata alam
yang hampir sama dengan mendaki gunung, hanya dibutuhkan waktu
secepat mungkin untuk mencapai puncak gunung tan pa merusak alam
dan Iingkungannya. Kegiatan mi dilakukan secara beregu untuk membina
keija sama. setia kawan dan kaberanian, juga sangat memerlukan
keterampilan khususnya penguasaan medan, keterampilan tali menali juga
PPPK.

E. Rangkuman
1. Jelajah alam adalah suatu kegiatan alam untuk mengenal flora, fauna,
gunung dan keadaan alam dengan kegiatan fisik dan mental.
2. Penyeberangan basah adalah suatu kegiatan untuk memupuk sikap
berani, tegar dan disiplin sebagai bekal hidup dengan membentuk sikap
percaya diii dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah.
3. Menelusuri sungai adalah suattu kegiatan di alam terbuka untuk
mengembangkan rasa cinta alam, setia kawan, pengembangan
flsik,mental, sosial dan spiritual.
4. Lalu lintas alam adalah suatu kegiatan fisik untuk melatih daya tahan,
keterampilan dan power yang tinggi di alam yang bebas.
5. Keterampilan PPPK adalah suatu kegiatan untuk melatih menaggulangi
kecelakaan dan cedera termasuk penyelamatan.
6. Pendakian adalah suatu kegiatan untuk memupuk percaya diii dengan
kegiatan penuh tantangan baik fisik maupun mental.

Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui
aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani,
mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup
sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar
diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif
setiap peserta didik.


Modul PLPG Penjaskes 2013
235
Didalam kurikulum pendidikan jasmani terhadap materi mengenai
pendidikan luar kelas yang bertujuan untuk menggali dan
mengaplikasikan tentang aktivitas luar kelas seperti berkemah, outbond
dan aktivitas luar kelas lainya.Melalui Pendidikan luar kelas peserta didik
diharapkan mampu mempraktekan tatacara melakukan berkemah dengan
baik dan dapat melaksanakan aktivitas outbond sesuai dengan lingkungan
sekitar.

F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!
1. Terangkan perencanaan dan modivikasi kegiatan dari
a. Jelajah alam
b. Penyeberangan basah
c. Telusur sungai
d. Lintas alam
e. Pendakian
2. Sebutkan kelebihan dan kekurangan masing-masing kegiatan tersebut
di atas cara rinci
3. Apakah difinisi dan berkemah?
4. Apakah tujuan, manfaat dan berekemah?
5. Apa yang harus dipersiapkan sebelum melakukan kegiatan berkemah?


DAFTAR PUSTAKA

---------------, 1984, Pedoman Wisata Alam, Direktur Bina Perjalanan
Wisata, 1984, Direktorat Jenderal Pariwisata, Jakarta.

---------------, 1999, Pedoman Berolahraga Panjat Tebing, Pusat Kesegaran
Jasmani dan Rekreasi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta.
---------------, 1999, Kegiatan Wisata Alam untuk Siswa SLTA, Pusat
Kesegaran Jasmani dan Rekreasi, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Jakarta.
1999
---------------, 1990, Pedoman Pertama pada Kecelakaan (P3K)- I, Markas
Besar Palang Merah Indonesia (PMI), Jakarta.

Rohn ke Karl, Cowstails & Cobras, 1977, A. Quide to Repes Courses,
I nitiative Games, and Other Adventure Activities. Project
adventure inc. Hamilton, 1977.


Modul PLPG Penjaskes 2013
236
BAB XI
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN
PENJASORKES

A. Pokok-pokok Isi Materi
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spritual, kepribadian, kecerdasan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak
mulia, serta kecakapan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Oleh karena itu, Sistem Pendidikan Nasional harus mampu
memberikan penjaminan bagi terwujudnya pemeratan dan perluasan akses
pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, efisiensi
pengelolaan pendidikan serta akuntabilitas publik. Penjaminan mutu
pendidikan menjadi kata kunci dalam upaya peningkatan mutu sumber
daya manusia yang cerdas dan kompetitif untuk menjawab berbagai
tantangan persaingan global yang menjadi ciri khas di era milenium.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab IV Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah
Daerah berhak mengarahkan, membimbing, dan mengawasi
penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Selanjutnya, Pasal 11 Ayat (1) juga menyatakan
bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan
kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu
bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan lahirnya Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, wewenang
Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah menjadi
semakin besar. Lahirnya kedua undang-undang tersebut menandai sistem
baru dalam penyelenggaraan pendidikan dari sistem yang cenderung
sentralistik menjadi lebih desentralistik.
Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu
didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan
pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa,
keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian,
sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan
menentukan materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil
pembelajaran.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas, guru harus
menggunakan model-model pembelajaran. Model-model pembelajaran
harus disusun secara terencana, terprogram, dan berkesinambungan.
Diharapkan dengan disusunnya model-model pembelajaran dalam
proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan ini
dapat membantu Guru Pendidikan Jasmani dalam melakukan Kegiatan
Pembelajaran di kelas, sehingga proses Pembelajaran menjadi lebih terarah

Modul PLPG Penjaskes 2013
237
dan lebih baik, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan Pendidikan
Nasional.
Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Mata Diklat ini
berisi tentang: menjelaskan konsep pengembangan model pembelajaran
Penjasorkes, menjelaskan macam-macam model pembelajaran
Penjasorkes, melakukan penyusunan pengembangan model pembelajaran
Penjasorkes, melakukan penerapan model pembelajaran Penjasorkes
berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan model pembelajaran yang
benar.

B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran.
2. Kompetnsi Dasar
Menganalisis berbagai pendekatan, strategi, metode, teknik
pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran
Penjasorkes.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjas ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep pengembangan model pembelajaran pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan.
2. Menjelaskan macam-macam model pembelajaran pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan.
3. Melakukan penyusunan pengembangan model pembelajaran
pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
4. Melakukan penerapan model-model pembelajaran pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan.

D. Uraian Materi
1. Konsep Pengembangan Model-model Pembelajaran Penjasorkes
a. Gambaran pelaksanaan pembelajaran Penjasorkes
Salah satu masalah utama dalam pendidikan jasmani di Indonesia,
hingga dewasa ini, ialah belum efektifnya pengajaran pendidikan jasmani
di sekolah-sekolah. Kondisi kualitas pengajaran pendidikan jasmani yang
memprihatinkan di sekolah dasar, sekolah lanjutan dan bahkan perguruan
tinggi telah dikemukakan dan ditelaah dalam berbagai forum oleh
beberapa pengamat pendidikan jasmani dan olahraga (Cholik Mutohir,
1990a: 1990b, 1993: Mujiharsono, 1993; Soediyarto, 1992, 1993). Kondisi ini
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah terbatasnya
kemampuan guru pendidikan jasmani dan terbatasnya sumber-sumber
yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani
(cf. Cholik Mutohir, 1990a; 1990b, 1993: Soediyarto, 1992, 1993).
Modul PLPG Penjaskes 2013
238
Kualitas guru pendidikan jasmani yang ada pada sekolah dasar dan
lanjutan pada umumnya kurang memadai. Mereka kurang mampu dalam
melaksanakan profesinya secara kompeten. Mereka belum berhasil
melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendidik siswa secara sistematik
melalui pendidikan jasmani. Tampak pendidikan jasmani belum berhasil
mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak secara menyeluruh
baik fisik. Mental maupun intelektual (Kantor Menpora, 1983).
Hal ini benar mengingat bahwa kebanyakan guru pendidikan jasmani
di sekolah adalah bukan guru khusus yang secara normal mempunyai
kompetensi dan pengalaman yang terbatas dalam bidang pendidikan
jasmani. Mereka kebanyakan adalah guru kelas yang harus mampu
mengajar berbagai mata pelajaran yang salah satunya adalah pendidikan
jasmani.Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktik
pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model metode-metode praktik
dipusatkan pada guru (Teacher Centered) dimana para siswa melakukan
latihan fisik berdasarkan perintah yang ditentukan oleh guru. Latihan-
latihan tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh anak sesuai dengan
inisiatif sendiri (Student Centered).
Guru pendidikan jasmani tradisional cenderung menekankan pada
penguasaan keterampilan cabang olahraga. Pendekatan yang dilakukan
seperti halnya pendekatan pelatihan olahraga. Dalam pendekatan ini, guru
menentukan tugas-tugas ajarnya kepada siswa melalui kegiatan fisik tak
ubahnya seperti melatih suatu cabang olahraga. Kondisi seperti ini
mengakibatkan tidak optimalnya fungsi pengajaran pendidikan jasmani
sebagai medium pendidikan dalam rangka pengembangan pribadi anak
seutuhnya.
Ditinjau dari konteks isi kurikulum, pembelajaran yang dilakukan
oleh guru pendidikan jasmani secara praktis tidak tampak tidak adanya
kesinambungan. Tugas ajar yang diberikan oleh guru untuk SD, SMP dan
SMA pada hakikatnya tidak berbeda. Demikian pula, ketidakjelasan dalam
tata urutan dan tingkat kesukaran tugas-tugas ajar tersebut.
Penerapan model pembelajaran pendidikan jasmani tradisional sering
mengabaikan tugas-tugas ajar yang sesuai degan taraf perkembangan anak.
Mengajar anak-anak SD disamakan dengan anak-anak SMP. Bentuk-
bentuk modifikasi baik dalam peraturan, ukuran lapangan maupun jumlah
pemain tidak terperhatikan. Karena tidak dilakukan modifikasi, sering
mereka tidak mampu dan gagal untuk melaksanakan tugas yang diberikan
dalam bentuk kompleks oleh guru.
Untuk itu kebutuhan akan modifikasi olahraga sebagai suatu
pendekatan alternatif dalam mengajar pendidikan jasmani mutlak perlu
dilakukan. Guru dalam ini harus memiliki kemampuan untuk melakukan
modifikasi keterampilan yang hendak diajarkan agar sesuai dengan tingkat
perkembangan anak.



Modul PLPG Penjaskes 2013
239
b. Karakteristik Proses Belajar Mengajar (PBM) yang Efektif
Pengajaran khususnya dalam pendidikan jasmani dapat dipandang
sebagai seni dan ilmu (art and science). Sebagai seni, pengajaran hendaknya
dipandang sebagai proses yang menuntut intuisi, kreativitas, improviasi,
dan ekspresi dari guru. Ini berarti guru memiliki kebebasan dalam
mengambil keputusan dan tindakan proses pembelajaran selama dapat
dipertanggung jawabkan sesuai dengan pandangan hidup dan etika yang
berlaku. Jadi guru tidak harus selalu terpaku dan terikat formula ilmu
mengajar.
Pengajaran dapat disebut sebagai ilmu apabila memenuhi
karakteristik sebagai berikut: (1) Memiliki daya ramal dan kontrol terhadap
pencapaian prestasi belajar siswa (Gage, 1978 di Brucher, 1983), (2) dapat
dievaluasi secara sistematik dan dapat dipecah menjadi rangkaian kegiatan
yang dapat dikuasai (Siedentop, 1976), (3) mengandung pemahaman
tentang tingkah laku manusia, pengubahan tingkah laku, rancangan
pembelajaran, penyampaian dan manajemen (Siedentop, 1976), (4)
berkaitan erat dengan prinsip belajar seperti kesiapan, motivasi, latihan,
umpan balik, dan kemajuan seta urutan (Siedentop, 1976), dan (5)
dimungkinkannya untuk mengkaji pengajaran dari sudut keilmuan
(Siedentop, 1976).
Menurut pendapat Siedentop (di Bucher, 1988:550) pengajaran dapat
dan harus dapat dipelajari dari sisi teori ilmiah untuk mengembangkan
teori pengajaran. Walaupun proses untuk membentuk teori pengajaran
pendidikan jasmani merupakan perjalanan yang panjang, namun upaya
untuk memahami tentang proses pengajaran merupakan arah yang harus
dituju, selama body of knowledge tentang pengajaran belum mapan, atau
selama pengajaran cenderung merupakan seni, maka perilaku guru dalam
pengajaran akan menjadi tetap menarik untuk dikaji oleh pengamat
tingkah laku setiap saat.
Pengajaran reflektif mencakup pengertian guru yang sukses atau
efektif dalam arti tercapainya kepuasan profesional. Pendekatan
pengajaran refleksi menekankan pada kreatifitas penumbuhan kondisi
pembelajaran yang kondusif melalui penerapan berbagai keterampilan
pengajaran yang disesuaikan dengan situasi (lingkungan) tertentu.
Pengertian pengajaran reflektif tidak menunjuk salah satu metodologi
atau model pengajaran tertentu, namun ia menunjuk pada berbagai
keterampilan mengajar yang diadaptasikan secara tepat oleh guru dalam
proses belajar mengajar. Guru yang reflektif selalu melakukan penilaian
terhadap lingkungan sekitar dalam upaya mengidentifikasi dan
memanfaatkan berbagai unsur-unsur secara optimum, guru tersebut
memanfaatkan berbagai unsur tersebut secara optimum, guru tersebut
kemudian membuat rencana proses pengajarannya.
Pengajaran reflektif ini berbeda dengan pengajaran tradisional atau
pengajaran invariant yang diberi ciri dengan penggunaan satu metode
dalam berbagai situasi pengajaran. Kategori model yang dikemukakan oleh
Modul PLPG Penjaskes 2013
240
Mosston (1966), sebagai contoh, dapat diterapkan selama model kategori
itu sesuai dengan tuntutan kegiatan-kegiatan dan kebutuhan situasional
saat itu.
Perbandingan pengajaran reflektif dengan pengajaran tradisional
(invariant) dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1
Karakteristik Guru Efektif dan Guru Tradisional
Variabel Guru Efektif Guru Tradisional
Perencanaan Sesuai rencana pelajaran
pada kelas dan anak yang
berbeda.
Gunakan rencana pelajaran
yang sama.
Kemajuan Didasarkan pada kondisi
faktor: (1) irama dan tingkat
perkembangan, (2)
kebutuhan keterampilan, (3)
perhatian dalam topik atau
aktivitas.
Didasarkan pada faktor
seperti: (1) Unit kegiatan 6
minggu, (2) jumlah materi
yang telah dicakup dalam
satu semester/tahun, (3)
rumus yang ditetapkan
sebelumnya.
Kurikulum Rancang setiap kelas yang
unik setelah diadakan
penilaian awal dari
kemampuan dan
kebutuhan.
Gunakan kurikulum yang
telah ditetapkan tanpa
faktor seperti kemampuan
anak, pengaruh masyarakat
atau minat anak.
Peralatan &
fasilitas
Modifikasi kegiatan dan
pelajaran sesuai peralatan
dan fasilitas yang ada di
lingkungan.
Mengajar sesuai dengan
peralatan dan fasilitas yang
tersedia.
Disiplin Berupaya memahami
masalah dan mencari
penyebab dan
pemecahannya,
memodifikasi prosedur
pengajarannya.
Mengasumsi anak bersikap
tidak pada tempatnya dan
berupaya mengatasi tingkah
laku individu/kelas.
Evaluasi Mengevaluasi anak secara
teratur dan mengevaluasi
keefektifan pengajarannya
lewat anak didik dan teman
sejawat.
Mengevaluasi secara
sporadik biasanya
berdasarkan pada kesukaan
anak dan minat anak
kebaikan perilaku anak
didik.

Selama dua dekade terakhir pengajaran pendidikan jasmani dengan
pendekatan refleksi telah berhasil dilaksanakan di beberapa negara seperti

Modul PLPG Penjaskes 2013
241
Amerika dan Australia. Hasil riset tentang pengajaran menunjukkan
bahwa ada tiga butir hal yang penting untuk diperhatikan agar pengajaran
pendidikan jasmani efektif dalam arti bahwa anak didik akan memiliki
keterampilan bergerak yang tinggi dengan sikap yang positif terhadap
kegiatan fisik. Ketiga hal itu meliputi: (1) Anak didik memerlukan latihan
praktek yang tepat dan memadai, (2) Latihan praktek tersebut harus
memberikan peluang tingkat sukses (rate of success) yang tinggi, dan (3)
Lingkungan perlu distrukturisasi sedemikian rupa sehingga
menumbuhkan iklim belajar yang kondusif.
Perubahan kurikulum khususnya kurikulum sekolah dasar pada
hakikatnya menuntut perubahan wawasan dan perilaku gurunya agar
kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dapat dilaksanakan sesuai
dengan yang diharapkan. Untuk itu sangat perlu direncanakan secara
matang mengenai strategi implementasi dari kurikulum tersebut.
Penataran dan pelatihan guru, pengadaan fasilitas dan peralatan yang
mendukung pelaksanaan kurikulum perlu direncanakan dan diadakan
guna mendukung keberhasilan implementasi kurikulum.
Upaya perbaikan dan pengembangan kurikulum SD, SMP dan SMA
yang baru ini harus dilakukan dengan cermat dan memperhitungkan
berbagai faktor termasuk faktor keterlaksanaannya. Pengalaman empirik
selama ini menunjukkan bahwa dari seluruh isi kurikulum pendidikan
jasmani yang tertulis itu hanya sebagian kecil saja yang dapat
diimplementasikan karena berbagai kendala termasuk terbatasnya sarana
dan prasarana pendukung dan keterbatasan wawasan dan kemampuan
guru.

2.Model-model Pembelajaran Penjasorkes
Dari literatur diperoleh gambaran tentang model pengajaran
pendidikan jasmani. Beberapa tahun terakhir ini dikembangkan berbagai
model pengajaran pendidikan jasmani dan diterapkan dengan berhasil di
lapangan. Beberapa model pengajaran tersebut dikemukakan oleh
Siedentop, Mand, dan Taggart (1986) sebagai berikut: (1) Pengajaran
langsung/perintah (Direct instruction); (2) pengajaran tugas/pos
(Task/station teaching); (3) pengajaran berpasangan kelompok
(Reciprocal/group teaching); (4) pengajaran sistem kontrak (Personalyzed
system of Instruction (PSI)/Mastery Teaching), dan (5) manajemen
Kontingensi (Contingensi Management).
Salah satu spectrum model pengajaran lain juga dikemukakan
Mosston (1996). Model Mosston ini didasarkan atas asumsi bahwa
keputusan terhadap proses dan produk pengajaran hendaknya bergeser
dari pengajaran terpusat pada guru ke terpusat pada anak, dari siswa
terikat menjadi siswa bebas (aktif). Mosston mengklasifikasi model
pengajaran berdasarkan hasil analisa siapa yang membuat keputusan.
Klasifikasi model pengajaran tersebut adalah sebagai berikut.

Modul PLPG Penjaskes 2013
242
a. Spectrum Gaya Belajar Mengajar
Pembahasan mengenai struktur belajar berkaitan dengan bagaimana
orang itu belajar. Struktur belajar meliputi matriks kontrak psikologis dan
fisiologis yang memberikan penjelasan tentang belajar tentang struktur
pelajaran atau pokok bahasan menggambarkan dan menyajikan suatu
upaya untuk menghubungkan komponen-komponen pengetahuan
dengan cara-cara logis dan berarti.
Mosston mengemukakan spectrum gaya mengajar sebagai upaya
menjembatani di antara pokok bahasan dan belajar. Spektrum ini
merupakan suatu konsepsi teoritis dan suatu desain atau rancangan
operasional mengenai alternatif atau kemungkinan gaya mengajar. Setiap
gaya mengajar memiliki struktur tertentu yang menggambarkan peran
guru, siswa dan mengidentifikasi tujuan-tujuan yang dapat dicapai jika
gaya mengajar ini dilakukan.
Gaya mengajar didefinisikan dengan keputusan-keputusan yang
dibuat oleh guru dan dibuat oleh siswa di dalam episode atau peristiwa
belajar yang diberikan. Jenis-jenis keputusan dibuat oleh guru dan siswa
yang menentukan proses dan hasil dari episode itu. Oleh karena itu,
spektrum gaya mengajar ini memberikan kepada guru suatu susunan atau
aturan tentang alternatif di dalam perilaku mengajar, yang memungkinkan
guru mencapai lebih banyak siswa dan memenuhi banyak tujuan.
Penemuan dan rancangan spetrum gaya mengajar, yaitu:

1) Masalah yang bertentangan
Kebanyakan guru telah dibanjiri dengan banyak ide, program,
penemuan-penemuan penelitian, dan bahan-bahan paket. Beberapa di
antaranya ada yang berguna, sedangkan yang lain ada yang tidak
bermanfaat, tetapi kebanyakan menimbulkan kontradiksi atau
pertentangan. Setiap ide telah menyajikan cara pemecahan tunggal
(singular) terhadap program pendidikan jasmani. Seperti, individualisasi
dengan pengajaran kelompok, pemecahan masalah (problem solving)
dengan belajar yang bersifat menghafal (tanpa berpikir), permainan bola
dengan aktivitas perkembangan, yang beberapa ide tersebut
menggambarkan permasalahan yang bertentangan.
Polaritas atau sifat berlawanan ini telah menimbulkan kebingungan
dan ketidakseimbangan di dalam desain program dan di dalam mengajar
pendidikan jasmani. Padahal siswa perlu berpengalaman dan
mengembangkan pada semua dimensi. Masalahnya adalah bagaimana
guru mengetahui, bagaimana menyatakan ide-ide tersebut di atas dengan
setiap diberikan ke dalam perilaku mengajarnya?
Pengamatan ini yang mendorong penemuan dan membuat desain
spectrum gaya mengajar ini. Spektrum ini didasarkan pada suatu ide yang
tidak saling bertentangan. Hal-hal pokok ini saling berhubungan di antara
gaya-gaya mengajar daripada perbedaannya.


Modul PLPG Penjaskes 2013
243
2) Belajar dan Mengajar
Pengaman kedua dialamatkan pada ketidaksesuaian yang ada di
antara belajar dan mengajar. Jiwa siswa di dalam cara yang berbeda atau
memperlihatkan perilaku belajar yang berbeda, maka yang sangat penting
untuk mengidentifikasi gaya mengajar yang akan dilakukan, dengan cara
yang teliti, yang mendatangkan perilaku belajar tertentu, khususnya jika
setiap perilaku belajar dan dapat mencapai seperangkat tujuan tertentu.
Spektrum gaya mengajar ini merupakan struktur mengajar yang
mengidentifikasi gaya-gaya tertentu. Spektrum mengidentifikasi struktur
setiap gaya dan hubungannya dengan gaya mengajar yang lain. Spektrum
ini mengidentifikasi prosedur penerapan pada berbagai kegiatan dan
pelaksanaan dan setiap gaya pada pertumbuhan dan perkembangan siswa
di dalam domain fisik, emosi, sosial, dan domain kognitif.
Masalah utamanya adalah bahwa apakah guru memiliki hubungan
intrinsik dan hubungan langsung dengan perilaku belajar. Spektrum gaya
mengajar ini memberikan kepada guru kemampuan untuk memilih gaya
mengajar tertentu yang akan meminta kesesuaian dengan gaya mengajar.
Hal ini memberikan kepada guru pengetahuan tentang bagaimana
melakukannya dengan berhati-hati dan teliti. Suatu pengajaran yang
bersifat umum, sewenang-wenang (sekehendak guru) dan yang bersifat
kebutuhan tidak dapat dilakukan dengan gaya mengajar Mosston ini.

3) Perilaku yang unik dan universal
Pendekatan mengajar selalu memiliki keunikan yang bersandar pada
ide bahwa mengajar adalah bersifat intuitif, spontan, dan kadang-kadang
bersifat mistik, ini sebenarnya dikaitkan karena pemberian kebebasan
kepada para guru untuk melakukan sesuatu. Ide ini didorong oleh ungkapkan
seperti:
Kebebasan individu, Cara saya, Kerja saya, Mengajar kreatif,
mengajar adalah suatu seni dan sebagainya. Tidak ada upaya untuk
menyangkal keberadaan daya keunikan itu, serangkaian keunikan, tidak
menyajikan teori mengajar pada profesi yang dapat dibuat pegangan
profesi yang dapat dibuat pegangan.
Berdasarkan gambaran singkat itu, mengakibatkan adanya
perkembangan spectrum gaya mengajar adalah:
Tahap pertama, kita menentukan aksioma tentang aktivitas mengajar
adalah bahwa perilaku mengajar adalah suatu rangkaian pembuatan
keputusan. Pernyataan ini memberikan konsep universal, karena semua
guru di dalam bidang studi atau pokok bahasan sepanjang waktu itu
digunakan di dalam pembuatan keputusan.
Tahap kedua, adalah untuk mengidentifikasi kategori-kategori
keputusan yang harus selalu dibuat di dalam berbagai aktivitas belajar
mengajar. Ini merupakan keputusan tentang tujuan-tujuan, pokok bahasa,
Modul PLPG Penjaskes 2013
244
aktivitas tertentu, pengorganisasian materi, bentuk-bentuk feddback (umpan
balik) kepada siswa dan sebagainya.
Kategori-kategori keputusan itu diorganisasikan atau disusun di
dalam tiga perangkat yang memberikan rangkaian keputusan-keputusan
dalam berbagai transaksi belajar mengajar.
Perangkap pertama adalah pra-pertemuan (pre-impact), meliputi
keputusan-keputusan yang harus dibuat sebelum berhadapan di antara
guru dan siswa. Perangkat kedua adalah selama pertemuan (impact),
meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat selama penampilan atau
pelaksanaan tugas. Perangkat ketiga adalah pasca pertemuan (post-
impact),meliputi keputusan-keputusan yang harus dibuat yang berkaitan
dengan evaluasi pelaksanaan dan feedback kepada siswa.
Dengan kata lain, ketiga perangkat tersebut dapat dikatakan sebagai
(1) tahap perencanaan; (2) tahap pelaksanaan; dan (3) tahap evaluasi. Ketiga
perangkat ini membentuk suatu anatomi berbagai gaya mengajar.

b. Anatomi Gaya Mengajar
Anatomi gaya mengajarkan menyajikan konsep universal, karena
keputusan-keputusan dalam tiga perangkat ini biasanya dibuat di dalam
berbagai kegiatan mengajar. Struktur gaya mengajar individual dan
kedudukan spectrum ini ditentukan dengan mengidentifikasi yang
membuat keputusan tertentu di dalam tiap perangkat. Dengan demikian,
setiap gaya diidentifikasi dengan pembagian keputusan-keputusan
tertentu yang dibuat guru dan siswa di dalam episode yang diberikan.
Susunan gaya-gaya mengajar itu mulai dari gaya komando, yang
menggambarkan spectrum gaya-gaya mengajar.
Penampilan atau pelaksanaan yang telah dilakukan kemudian
dievaluasi dan keputusan-keputusan feedback yakni pada pasca pertemuan.
Rangkaian keputusan ini selalu berlangsung tanpa mengabaikan lamanya
episode atau pelaksanaan pelajaran. Rangkaian ini terjadi jika satu latihan
dilakukan, jika satu seri latihan terdiri dari episode, jika suatu keterampilan
tertentu dilakukan di dalam permainan bola, atau jika seluruh permainan
bola dilakukan.
1) Perangkat Pra Pertemuan
Sebelum berbagai penampilan atau pelaksanaan suatu keputusan
aktivitas pelajaran harus dibuat, maka pada perangkat pra-pertemuan
dibuat keputusan yang berkaitan.
a) Tujuan/sasaran pelajaran; yaitu keputusan harus dibuat untuk tujuan
kegiatan tertentu. Keputusan ini mengidentifikasi hasil yang dicapai
pada akhir pelajaran.
b) Penentuan (pemilihan gaya mengajar); yakni guru benar-benar
mengetahui kegiatan tertentu. Keputusan ini mengidentifikasi hasil
yang dicapai pada akhir pelajaran.

Modul PLPG Penjaskes 2013
245
c) Gaya belajar yang diharapkan; yakni dua keputusan pertama
mengarah pada realisasi gaya belajar di dalam episode yang
diberikan yang akan mengungkapkan gaya mengajar itu. Keputusan
tentang gaya belajar ditemukan untuk mempertinggi keputusan di
dalam dua kategori sebelumnya.
d) Siapa yang akan diajar; di dalam situasi kelas pelajaran, keputusan
harus dibuat kepada siapa dialamatkan pada saat porsi pelajaran yang
berbeda; apakah seluruh kelas? Satu kelompok? Atau untuk individu?
e) Pokok bahasan/pelajaran; keputusan harus dibuat apakah pokok
bahasan akan diajar oleh guru sendiri, atau apakah tugas akan
diberikan kepada siswa. Kategori ini meliputi empat keputusan
tambahan yaitu:
(1) Mengapa pokok bahasan ini disampaikan
(2) Ini meliputi dasar pemikiran atau alasan pemilihan tugas ini.
Apakah tugas ini menyelesaikan atau mencapai tujuan?
(3) Kuantitas; setiap tugas didalam pendidikan jasmani memiliki
kuantitas, misalnya, 10 kali menembak; 20 kali push-up; lari 1 km,
dan sebagainya. Oleh karena itu, keputusan kuantitas ini harus
dibuat.
(4) Kualitas; setiap tugas yang dilakukan menyajikan tingkat
kualitas yakni bagaimana tugas itu dilakukan?
(5) Urutan; setiap tugas di dalam pendidikan jasmani memiliki
urutan tertentu, yang menunjukkan urutan atau rangkaian
gerakan.
f) Di mana mengajar (lokasi); setiap aktivitas berlangsung pada
beberapa tempat, maka keputusan lokasi harus dibuat.
g) Kapan mengajar; kategori ini meliputi keputusan-keputusan yang
berkaitan dengan beberapa aspek waktu, yaitu:
(1) Waktu mulai; setiap tugas (misalnya; lari, loncat/lompat, lempar
dan sebagainya) memiliki waktu mulai.
(2) Kecepatan dan irama pelajaran, tidak ada gerakan tanpa
kecepatan dan irama pelajaran dalam pendidikan jasmani.
(3) Lama pelajaran; semua aktivitas termasuk pembagian waktu.

(4) Waktu berhenti; setiap tugas berakhir pada waktu yang
ditentukan.
(5) Interval (selang waktu antara tugas-tugas); yakni menunjukkan
pada waktu yang diperlukan diantara dan tugas.
(6) Waktu pengakhiran (terminasi).
h) Sikap tubuh (postur); semua tugas di dalam pendidikan jasmani
meliputi berbagai sikap tubuh untuk membantu atau menyelesaikan
tujuan dari setiap tugas.
i) Pakaian dan penampilan; keputusan ini menunjukkan pada pakaian
dan penampilan dari siswa did alam gedung olahraga, lapangan
permainan dan sebagainya.
Modul PLPG Penjaskes 2013
246
j) Komunikasi; suatu keputusan harus dibuat tentang komunikasi yang
digunakan selama episode, misalnya berbicara demonstrasi fisik dan
sebagainya.
k) Cara menjawab pertanyaan di dalam berbagai peristiwa belajar-
mengajar, berbagai pertanyaan mungkin muncul di antara siswa.
l) Rencana/susunan organisasi; kategori ini meliputi semua persiapan
logistik yang perlu untuk menyelesaikan atau mencapai tujuan dari
episode.
m) Parameter; suatu keputusan harus mengenai batas-batas yang
mungkin perlu di dalam kategori tersebut di atas, keputusan
parameter tentang tempat, waktu dan sebagainya.
n) Suasana kelas/pelajaran; kategori ini menunjukkan pada suasana
sosial dan sikap di dalam kelas/pelajaran selama episode. Suasana ini
ditentukan oleh jumlah total dari keputusan yang dibuat di dalam
kategori sebelumnya.
o) Materi dan prosedur evaluasi; suatu keputusan harus dibuat tentang
jenis evaluasi yang akan dilakukan setelah penampilan/pelaksanaan
tugas.
p) Lain-lain; seperangkat keputusan pra-pertemuan ini merupakan
suatu struktur tambahan. Jika ingin mengidentifikasi kategori
tambahan, maka dapat ditambahkan.

2) Perangkat Selama Pertemuan
Perangkat selama pertemuan meliputi keputusan-keputusan yang
berkaitan dengan penghantaran atau pengalihan dan penampilan tugas-
tugas. Keputusan-keputusan yang diambil selama pelajaran berlangsung
adalah :

a) Melaksanakan dan mengikuti keputusan-keputusan pra-pertemuan.
b) Menyesuaikan keputusan-keputusan
Ada beberapa keputusan yang dibuat di dalam kegiatan yang tidak
sesuai atau ketidakserasian di dalam berbagai kategori ini.
Kadang-kadang hal-hal yang tidak berjalan seperti yang diharapkan
di dalam kategori keputusan yang dibuat. Jika hal ini terjadi, maka
penyesuaian keputusan dibuat dan episode berjalan terus.
Penyesuaian itu tetap pada gerak guru ataupun siswa.
c) Lain-lain jika berbagai keputusan lain, sebelumnya tidak
diidentifikasi, maka dapat disisipkan atau dimasukkannya.

3) Perangkat Pasca Pertemuan
Serangkaian keputusan yang berkaitan dengan evaluasi dengan
evaluasi pelaksanaan dan feedback yang diberikan kepada siswa.
Keputusan-keputusan ini dibuat selama atau sesudah pelaksanaan tugas.
Kategori-kategori ini pada hakikatnya merupakan suatu rangkaian.

Modul PLPG Penjaskes 2013
247
a) Pengumpulan informasi tentang pelaksanaan; pertama guru harus
melihat pada pelaksanaan dan mengumpulkan informasi mengenai
penampilan atau pelaksanaan itu. Hal ini sebagai dasar membuat
keputusan untuk langkah selanjutnya.
b) Menilai informasi dengan kriteria
Hanya setelah guru mengamati pelaksanaan tugas siswa, guru dapat
membuat keputusan tentang apakah memenuhi kriteria yang
ditentukan standar dan tujuan yang ditetapkan.
c) Feedback, Informasi tentang pelaksanaan telah dikumpulkan, kualitas
pelaksanaan telah dinilai dengan kriteria yang ada, maka feedback
kepada siswa dapat diberikan. Feedback dapat diberikan dengan
berbagai cara, misalnya dengan sikap atau Sentuhan. Ini sebenarnya
merupakan cara komunikasi atau interaksi di antara guru dengan
siswa. Kebanyakan komunikasi atau interaksi di antara guru dengan
perhatian. Perkataan atau perilaku verbal.

3.Pelaksanaan dan Penerapan Spektrum Gaya Mengajar Penjasorkes
Pelaksanaan dan penerapan gaya-gaya mengajar dalam pendidikan
jasmani perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi belajar-mengajarnya.
Dougherly dan Bonanno mengemukakan padangannya terhadap gaya-
gaya mengajar dikemukakan oleh Mosston tentang karakteristik,
pertimbangan-pertimbangan mengajar tertentu, dan kelebihan dan
kekurangannya. Selanjutnya ia mengemukakan pendapatnya dalam
melaksanakan dan menerapkan gaya mengajar tersebut, adalah sebagai
berikut :
1) Tidak ada gaya mengajar yang paling baik untuk selamanya. Setiap
gaya mengajar memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu pada
gaya itu sendiri. Faktor-faktor ini harus ditekankan yang berkaitan
dengan tujuan-tujuan tertentu dari pelajaran, kesiapan siswa untuk
mengambil keputusan faktor lain.
2) Ada periode yang membuat atau menyebabkan berhenti yang harus
diamati, jika gaya mengajar beralih ke arah yang lebih menekan
kepada siswa pada akhir dari rangkaian kesatuan gaya mengajar.
Orang (siswa) yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk
membuat keputusan di dalam kelas/pelajaran tidak dapat
mengemukakan dasar pemikiran yang bersifat emosional dan
intelektual, diharapkan melakukan atau membuat lebih banyak
keputusan melakukan atau membuat lebih banyak keputusan tanpa
periode latihan dan pengembangan secara bertahap. Sebaliknya, guru
yang membiasakan mendominasi membuat keputusan seharusnya
berusaha mengekang perilaku ini dan memberikan lebih banyak
kesempatan (Keleluasaan) pada siswa untuk membuat dari gaya
mengajar komando. Transisi atau peralihan ini sangat efektif
dilakukan secara perlahan dan cermat. Ini jauh lebih meningkatkan
Modul PLPG Penjaskes 2013
248
dalam membuat keputusan-keputusan kecil atau sederhana daripada
diberikan terlalu banyak tetapi sulit dilakukan siswa.
3) Jika pelajaran ternyata tidak berhasil, maka dengan berhati-hati dalam
menilai semua variabel atau faktor did alam situasi mengajar
sebeluym menyalahkan gaya mengajar itu sendiri. Sebagaimana di
dalam berbagai pengajaran yang lain, terdapat banyak kemungkinan
kesulitan yang tidak tampak pada setiap gaya mengajar. Salah satu
diantaranya adalah alternatif atau kemungkinan pada gaya mengajar
itu. Jika pelajaran mengalami kegagalan, maka pertimbangan dan
meninjau kembali semua variabel atau faktor sebelum menyalahkan
kegagalan atau ketidaksesuaian pada gaya mengajar itu sendiri. Kita
dapat meninjau kembali dan mempertanyakan seperti:
a) Apakah siswa mempersiapkan untuk membuat jenis-jenis
keputusan sesuai dengan yang diharapkan?
b) Apakah guru menyampaikan informasi persiapan yang cukup
kepada siswa?
c) Apakah guru melakukan gaya mengajar dengan benar?
d) Apakah guru memberikan feedback tidak hanya berkaitan dengan
penampilan fisik, tetapi juga penyesuaian dengan gaya yang
digunakan?
e) Apakah gaya mengajar sesuai dengan pelajaran?
4) Jangan ragu atau takut untuk mengkombinasi gaya-gaya mengajar.
5) Jangan terpaku atau terkunci pada gaya mengajar tertentu.

4.Melakukan Penyusunan Model-model Pembelajaran Penjasorkes
a. Gaya Komando
6) Anatomi Gaya Komando
a) Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat
keputusan: pra-pertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan
pasca pertemuan. Keputusan yang dibuat guru dan yang akan
diteruskan kepada siswa dinyatakan sebagai berikut:
G = Keputusan Guru
S = Keputusan Siswa
b) Untuk gaya komando atau gaya perintah ini, semua keputusan
diambil oleh guru. Jadi diagram tentang keputusan-keputusan untuk
gaya komando ini adalah sebagai berikut:

A

Pra-pertemuan G
Dalam pertemuan G
Pasca pertemuan G


Modul PLPG Penjaskes 2013
249
7) Menyusun pelajaran gaya komando
a) Semua keputusan pra-pertemuan dibuat oleh guru
(1) Pokok bahasan
(2) Tugas-tugas
(3) Organisasi
(4) Dan lain-lain
b) Semua keputusan selama pertemuan berlangsung dibuat oleh
guru:
(1) Penjelasan peranan guru dan siswa
(2) Penyampaian pokok bahasan
(3) Penjelasan prosedur organisasi
(1) Regu, kelompok
(2) Penempatan dalam wilayah kegiatan
(3) Perintah yang harus diikuti
c) Urutan kegiatan
(1) Peragaan
(2) Penjelasan
(3) Pelaksanaan
(4) Penilaian
d) Keputusan pasca-pertemuan
(1) Umpan balik kepada siswa,
(2) Sasarannya: harus memberi banyak waktu untuk
pelaksanaan tugas.
8) Implikasi penggunaan gaya komando
a) Standar penampilan sudah mantap dan pada umumnya satu
model untuk satu tugas.
b) Pokok bahasan dipelajari secara meniru dan mengingat melalui
penampilan.
c) Pokok bahasan dipilih-pilah menjadi bagian-bagian yang dapat
ditiru.
d) Tidak ada perbedaan individual diharapkan menirukan model.
9) Unsur-unsur khas dalam pelajaran dengan gaya komando
a) Semua keputusan dibuat oleh guru
b) Menuruti petunjuk dan melaksanakan tugas merupakan
kegiatan utama dari siswa.
c) Menghasilkan tingkat kegiatan yang tinggi.
d) Dapat membuat siswa merasa terlibat dan termotivasi
e) Mengembangkan perilaku berdisiplin karena prosedur yang
telah ditetapkan.
10) Saluran-saluran pengembangan gaya komando
a) Menurut Mosston, selama masa belajar mengajar, setiap orang
memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-
keterampilan fisik, sosial, emosional, dan kognitifnya.
b) Mosston berbicara tentang empat saluran perkembangan:
Modul PLPG Penjaskes 2013
250
(1) Saluran fisik meningkatkan dengan pesat selama
menggunakan gaya komando.
(2) Saluran sosial-terbatas
(3) Saluran emosional terbatas
(4) Saluran kognitif terbatas.

b. Gaya Latihan
Dalam gaya latihan, ada beberapa keputusan selama pertemuan
berlangsung yang dipindahkan dari guru ke siswa. Pergeseran keputusan
ini memberi peranan dan perangkat tanggungjawab baru kepada siswa.
1) Anatomi gaya latihan
A B
Pra-pertemuan : G G
Pertemuan : S S
Pasca Pertemuan : G G
2) Implikasi gaya latihan
a) Satu-satunya keputusan siswa dalam gaya komando adalah
untuk bergerak sesuai dengan petunjuk. Dalam episode-episode
gaya latihan, siswa harus:
(1) Mengenal/mengetahui yang diharapkan dari kelas,
(2) Menerima pemberian tugas,
(3) Membuat keputusan sambil menjalankan tugas
(4) Menerima balikan
b) Sekarang disediakan waktu bagi siswa untuk mengatur: kapan
memulai, kapan berhenti, waktu sela antara tugas-tugas.
c) Siklus kegiatan adalah:
(1) Pencapaian tugas oleh guru (peragaan, penjelasan)
(2) Pelaksanaan tugas oleh siswa,
(3) Pengamatan dan penilaian oleh guru (umpan balik).
d) Peranan baru siswa, keputusan-keputusan dan peranan guru
harus dijelaskan di kelas.
(1) Karena perubahan dari perintah ke latihan, maka siswa
perlu memahami peranan mereka dan meyakininya oleh
guru.
(2) Perubahan menimbulkan ketegangan dan kadang-kadang
ketidakpastian, jadi harus diusahakan agar siswa merasa
enak dengan tanggung jawab baru mereka.
(3) Gaya latihan mungkin perlu dimulai dengan memakai satu
tugas saja dan menambah waktu bagi siswa untuk
mengambil keputusan dalam beberapa jam pelajaran.
Dengan demikian mereka berkesempatan untuk
menyesuaikan diri dengan peranan baru mereka.


Modul PLPG Penjaskes 2013
251
3) Merencanakan pelajaran dalam gaya latihan
a) Lembaran tugas atau kartu gaya latihan dibuat untuk
meningkatkan efisiensi gaya latihan. Ini dapat didesain untuk
ditempatkan didinding atau dibuat untuk masing-masing siswa.
(1) Membantu siswa untuk mengingat tugasnya (apa yang
harus dilakukan dan bagaimana melakukannya).
(2) Mengurangi pengulangan penjelasan oleh guru.
(3) Mengajar siswa tentang bagaimana mengikuti tanggung
jawab tertulis untuk menyelesaikan tugas-tugas.
(4) Untuk mencatat kesempatan mengabaikan peragaan dan
penjelasan oleh siswa, dan kemudian guru harus
menyisihkan waktu lagi untuk mengulangi penjelasan
yang telah diberikan. Manipulasi siswa secara demikian
akan mengurangi interaksi guru dalam:
(a) meningkatkan tanggung jawab siswa,
(b) guru mengarahkan perhatian siswa kepada keterangan
di lembaran tugas dan pada tugas-tugas lain yang
harus dilakukan.
b) Desain lembaran tugas
(1) Berisi keterangan yang diperlukan mengenai apa yang
harus dilakukan dan bagaimana melakukannya, dengan
berfokus pada tugas.
(2) Merinci tugas-tugas khusus
(3) Menyatakan banyaknya tugas
(a) Ulangan
(b) Jarak
(4) Memberi arah bagi siswa dalam melaksanakan tugas.
(5) Kriteria yang didasarkan atas hasil yang dapat diketahui
dan dilihat oleh siswa.
c. Gaya Resiprokal
Dalam gaya mengajar resiprokal, tanggung jawab memberikan
umpan balik bergeser dari guru ke teman sebaya. Pergeseran peranan ini
memungkinkan: Peningkatan interaksi sosial antara teman sebaya dan
umpan balik langsung.

1) Anatomi gaya resiprokal
Di dalam perangkat keputusan sebelum pertemuan. Pengadaan
umpan balik langsung digeser kepada seorang pengamat (a).
a) Kelas diatur berpasangan dengan peranan-peranan khusus
untuk setiap partner.
(1) Salah satu dari pasangan adalah pelaku (p)
(2) Lainnya menjadi pengamat (a)
(3) Guru (G) memegang peranan khusus untuk
berkomunikasi dengan pengamat.
Modul PLPG Penjaskes 2013
252

P
P a
G
P
G
(4) Peranan pelaku sama seperti dalam Gaya Latihan
(5) Peranan pengamat adalah memberikan umpan balik kepada
pelaku dan berkomunikasi dengan guru.
(6) Guru mengamati baik p maupun a tetapi hanya
berkomunikasi dengan a.
(a) Guru membuat semua keputusan sebelum pertemuan.
(b) Pelaku membuat keputusan selama pertemuan
(c) Pengamat membuat keputusan umpan balik sesudah
pertemuan
A U C
Pra Pertemuan G G G
Dalam Pertemuan G S P
Pasca Pertemuan G G a

2) Sasaran gaya resiprokal
Sasaran gaya resiprokal ini berhubungan dengan tugas dan peranan
siswa.
a) Tugas (pokok bahasan)
(1) Memberi kesempatan untuk latihan berulang kali dengan
seorang pengamat.
(2) Siswa menerima umpan balik langsung
(3) Sebagai pengamat, siswa memperoleh pengetahuan
mengenai penampilan tugas.
b) Peranan siswa
(1) Memberi dan menerima umpan balik
(2) Mengamati penampilan teman, membandingkan dan
mempertentangkan dengan kriteria yang ada,
menyampaikan hasilnya kepada pelaku.
(3) Menumbuhkan kesabaran dan toleransi terhadap kawan.
(4) Memberikan umpan balik.
3) Pelaksanaannya gaya resiprokal
a) Dalam gaya resiprokal ada tuntutan-tuntutan baru bagi guru
dan pengamat.
(1) Guru harus menggeser umpan balik kepada siswa (a).
(2) Pengamat harus belajar bersikap positif dan memberi
umpan balik.

Modul PLPG Penjaskes 2013
253
(3) Pelaku harus belajar menerima umpan balik dari teman
sebaya ini memerlukan adanya rasa percaya.
b) Keputusan-keputusan
(1) Sebelum pertemuan:
Guru menambahkan lembaran desain kriteria kepada
pengamat untuk dipakai dalam gaya ini.
(2) Selama pertemuan:
(a) Guru menjelaskan peranan-peranan baru dari pelaku
(p) dan pengamat (a).
(b) Perhatian bahwa pelaku berkomunikasi dengan
pengamat dan bukan dengan guru.
(c) Jelaskan bahwa peranan pengamat adalah untuk
menyampaikan umpan balik berdasarkan kriteria
yang terdapat dalam lembaran yang diberikan.
(3) Sesudah pertemuan:
(a) Menerima kriteria
(b) Mengamati penampilan pelaku
(c) Membandingkan dan mempertentangkan
penampilan dengan kriteria yang diberikan.
(d) Menyimpulkan apakah mengenai penampilan benar
atau salah.
(e) Menyampaikan hal-hal mengenai penampilannya
kepada pelaku.
(4) Peranan guru adalah :
(a) Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengamat.
(b) Berkomunikasi dengan pengamat saja.
Ini memungkinkan timbulnya saling percaya
antara pelaku dan pengamat.
Komunikasi guru dengan pelaku akan
mengurangi peranan pengamat.
(5) Pada waktu tugas telah terlaksana, pelaku dan pengamat
berganti peranan.
(6) Proses pemilihan partner dan pemantauan keberhasilan
proses adalah penting.
(7) Guru bebas untuk mengamati banyak siswa selama
pelajaran berlangsung.
c) Pemilihan pokok bahasan:
(1) Ini menentukan garis-garis pedoman untuk perilaku
pengamat.
(2) Lima bagian lembaran kriteria adalah:
(a) Uraian khusus mengenai tugas (termasuk pembagian
tugas secara berurutan).
(b) Hal-hal yang khusus yang harus dicari selama
penampilan (kesulitan yang potensial).
(c) Gambar atau sketsa untuk melukiskan tugas.
Modul PLPG Penjaskes 2013
254
(d) Contoh-contoh perilaku verbal untuk dipakai sebagai
umpan balik.
(e) Mengingatkan peranan pengamat (apabila siswa
telah memahami gaya ini, bagian ini bisa
dihapuskan).

d. Gaya Periksa Sendiri
Dalam Gaya Periksa Sendiri (self check), lebih banyak keputusan yang
digeser ke siswa. Kepada siswa diberikan keputusan sesudah
pertemuan, untuk menilai penampilannya.
1) Anatomi gaya periksa sendiri
Dalam gaya ini, keputusan-keputusan dibuat seperti dalam gaya
latihan, dan kemudian keputusan sesudah pertemuan, untuk diri
mereka sendiri. Siswa menyamakan dan membandingkan
penampilan dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh guru.
A B C D
Pra-Pertemuan
Dalam Pertemuan
Pasca Pertemuan
G
G
G
G
S
G
G
P
a
G
S
S
2) Penerapan gaya periksa sendiri
Gaya memungkinkan siswa menjadi lebih mandiri dalam
melaksanakan tugasnya. Keputusan dari Gaya Latihan
dipertahankan, dan keputusan tentang penilaian dalam Gaya
Resiprokal bergeser dari mengamati teman sebaya ke mengamati diri
sendiri.
a) Dalam gaya ini, siswa menjalankan tugas dengan menyamakan
dan membandingkannya dengan kriteria yang telah ditentukan
oleh guru. Hal ini merupakan tanggung jawab baru bagi siswa,
untuk menganalisis dan menilai tugasnya.
b) Keputusan sebelum pertemuan
Guru membuat keputusan ini menyusun lembaran kriteria.
c) Keputusan pada saat pertemuan berlangsung
(1) Menjelaskan tujuan gaya ini kepada kelas
(2) Menjelaskan peranan siswa dan tekanan penilaian diri.
(3) Menjelaskan peranan guru
(4) Menjelaskan tugas dan logistik
(5) Tentukan parameter-parameternya.
d) Keputusan sesudah pertemuan
Peranan guru di sini adalah :
(1) Mengawasi pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh siswa
(2) Mengawasi penggunaan lembaran kriteria

Modul PLPG Penjaskes 2013
255
(3) Mengadakan pembicaraan secara perorangan mengenai
kecakapan dan ketepatan dalam menggunakan proses
periksa sendiri.
(4) Di akhir pertemuan, berikan umpan balik secara umum.

3) Implikasi gaya periksa sendiri
a) Guru mendorong kemandirian siswa
b) Guru mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan
untuk memantau diri sendiri,
c) Guru mempercayai siswa,
d) Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada
proses periksa sendiri dan pelaksanaan tugas,
e) Siswa belajar sendiri,
f) Siswa mengenali keterbatasan, keberhasilan dan kegagalannya
sendiri.
g) Siswa memakai umpan balik dari periksa sendiri untuk berusaha
memperbaikinya.

4) Memilih dan menyusun pokok bahasan
Tidak semua tugas dalam pendidikan jasmani yang cocok untuk gaya
mengajar ini.
a) Tugas-tugas yang baru tidak cocok,
b) Apabila pusat perhatian diarahkan kepada tugas dan hasil akhir,
yaitu pada posisi badan dan postur yang untuk tugas ini tidak
cocok, misalnya:
(1) Senam,
(2) Menyelam,
(3) Menari (beberapa komponen),
(4) Apabila umpan balik yang diperlukan berasal dari sumber
luar, maka gaya mengajar ini tidak cocok.
c) Kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan pengetahuan tentang
hasil dari gerakan (pengetahuan tentang hasil) akan lebih cocok
dengan gaya mengajar ini (shooting dalam bola basket, tugas
yang menyangkut jarak dan kecermatan atau proyeksi yang
dapat diamati seperti penempatan servis tenis, tendangan ke
gawang dan sebagainya).

5) Memilih desain tugas gaya periksa sendiri
a) Ada dua pilihan
(1) Guru bisa memilih satu tugas untuk semuanya, atau
(2) Guru mendesain tugas yang berbeda-beda, menyediakan
berbagai tugas. Bisa juga dengan menyediakan tugas yang
berbeda untuk memenuhi perbedaan individual dalam
tingkat penampilannya.


Modul PLPG Penjaskes 2013
256
b) Lembaran kriteria
Lembaran kriteria untuk gaya latihan dapat juga dipakai untuk
gaya periksa sendiri ini.

5. Gaya Cakupan/Inklusi
Gaya mengajar Inklusi (cakupan) memperkenalkan berbagai
tingkat tugas. Sementara gaya komando sampai dengan gaya periksa
sendiri menunjukkan suatu standar tunggal dari penampilan, maka gaya
inclusion memberikan tugas yang berbeda-beda. Dalam gaya ini, siswa
didorong untuk menentukan tingkat penampilannya.
Suatu contoh yang menggambarkan contoh dari gaya ini dapat dilihat
pada penggunaan tali untuk melompat. Jika tali direntangkan setinggi satu
meter dari tanah, dan setiap siswa diminta untuk melompatinya, maka
semua akan berhasil. Akan tetapi keberhasilan ini tidak diperoleh semua
siswa dengan tingkat kesulitan yang sama. Sebagian siswa dapat
melompatinya dengan mudah, sedang sebagian lagi harus mengerahkan
kemampuannya untuk dapat melompatinya.
Bila ketinggian tali tadi dinaikkan, maka kesulitannya dalam tugas
akan meningkat dan akhirnya akan menyebabkan makin sedikit jumlah
siswa yang akan berhasil dalam penampilannya. Ini berarti kita telah
memberikan suatu standar tunggal bagi semua siswa, dan banyak siswa
yang akan dikeluarkan dengan menaikkan tingkat kesulitan dari tugas
tersebut.
Sekarang, jika tali tadi direntangkan miring dan para siswa
diperintahkan untuk melompat, para siswa akan menyebarkan diri
sepanjang rentangan tali tadi pada berbagai ketinggian. Hal ini akan
memungkinkan para siswa untuk menyesuaikan kemampuannya dengan
ketinggian tali tadi.

1) Anatomi gaya inklusi

A B C D E
Pra-Pertemuan
Dalam Pertemuan
Pasca Pertemuan
G
G
G
G
S
G
G
P
a
G
S
S
G
S
S

2) Pelaksanaan gaya inklusi
a) Menjelaskan gaya ini kepada siswa
b) Satu demonstrasi dengan menggunakan tali yang miring akan
memberikan ilustrasi yang sangat baik,
c) Siswa disuruh memulai,

Modul PLPG Penjaskes 2013
257
d) Memberi umpan balik kepada siswa tentang peranan siswa
dalam pengambilan keputusan, dan bukan penampilan tugas.
(1) Tanyakan bagaimana mereka memilih tugas-tugas ini.
(2) Fokuskan perhatian pada penggunaan umpan balik yang
netral, agar siswa dapat mengambil keputusan tentang
tingkat tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
(3) Amati kesalahan-kesalahan dalam penampilan siswa dan
kriteria untuk penampilan dalam tugasnya.
3) Implikasi gaya inklusi
a) Salah satu keuntungan yang sangat penting dari gaya ini adalah
memperhatikan perbedaan individu, dan memperhatikan
kemungkinan untuk lebih maju dan berhasil.
b) Memungkinkan siswa untuk melihat ketidaksamaan antara
aspirasi atau pengetahuan mereka dengan kenyataan.
Mereka akan belajar untuk mengurangi kesenjangan antara
kedua hal ini.
c) Fokus perhatian ditujukan kepada individu dan apa yang dapat
dilakukannya daripada membandingkannya dengan yang lain.
d) Siswa mengembangkan konsep mereka sendiri, yang berkaitan
dengan penampilan fisik.
4) Memilih dan merancang pokok bahasan
a) Konsep tentang tingkat kesulitan
Tugas-tugas yang dipilih harus dimulai dari yang sederhana ke
yang lebih unik, dengan setiap tugas mempunyai tingkat
kesulitan yang ditambahkan.

f. Gaya Penemuan Terpimpin
Gaya inklusi (cakupan) merupakan gaya yang terakhir dari kelompok
gaya yang memusatkan perhatian pada pengembangan keterampilan fisik
daripada siswa. Saluran tekanan dalam gaya komando sampai dengan
gaya inclusion yang akan kita bahas, adalah gaya penemuan terpimpin
(konvergen) dan gaya Divergen (berlainan), yang penekanannya terpusat
pada perkembangan kognitif. Mosston menyatakan bahwa dengan
menggunakan strategi-strategi mengajar tersebut ini, maka kita telah
melampaui ambang penemuan.
Gaya penemuan terpimpin ini disusun sedemikian rupa, sehingga
guru harus menyusun serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menurut
adanya serangkaian jawaban-jawaban yang disusun guru ini hanya ada
satu jawaban saja yang dianggap benar. Rangkaian pertanyaan-pertanyaan
tersebut harus menghasilkan serangkaian jawaban-jawaban yang
mengarah kepada penemuan konsep-konsep, prinsip atau gagasan-
gagasan.



Modul PLPG Penjaskes 2013
258
1) Anatomi gaya penemuan terpimpin

A B C D E F
Pra-Pertemuan
Dalam Pertemuan

Pasca Pertemuan
G
G

G
G
S

G
G
P

a
G
S

S
G
S

S
G
U
G
U
S
2) Penerapan penemuan terpimpin
a) Dalam menyusun pertanyaan bagi siswa, guru harus mengenali
prinsip, gagasan, atau konsep yang akan ditemukan. Kemudian
guru menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa
siswa ke rangkaian tanggapan yang menuju kepada gagasan
tersebut. Untuk hal ini perlu dimulai dari jawaban akhir, terus
mundur sampai kepada pertanyaan.
b) Dalam situasi mengajar yang sesungguhnya, guru harus
mengikuti prosedur berikut:
(1) Menyampaikan pertanyaan sesuai dengan susunan.
(2) Beri waktu untuk jawaban dari siswa
(3) Berikan umpan balik (netral atau menilai)
mengarahkannya lagi.
(4) Ajukan pertanyaan berikutnya
(5) Jangan berikan jawaban
(6) Bersikap sabar dan menerima
c) Merencanakan:
(1) Mengenali pokok bahasan yang khusus
(2) Menentukan urutan langkah-langkah (pertanyaan dan
petunjuk) menuju ke hasil akhir.
(a) Setiap langkah didasarkan atas jawaban sebelumnya.
(b) Perlu mengharapkan kemungkinan jawaban yang
akan diberikan oleh siswa, dan mengarahkan kembali
jawaban yang tidak tepat.
d) Yang harus dilakukan dengan jawaban yang tidak benar:
(1) Ulangi pertanyaan/petunjuknya. Kalau masih salah,
ajukan pertanyaan lain yang
menguatkan/menjabarkannya.
(2) Beri waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban.

3) Implikasi penemuan terpimpin
a) Gaya ini menuntut guru untuk menyediakan waktunya untuk
menyusun Pertanyaan-pertanyaan yang memaksa siswa untuk
berpikir.

Modul PLPG Penjaskes 2013
259
b) Tanggung jawab untuk menemukan merupakan kegiatan utama
dari siswa.
c) Siswa memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan
tanggungjawab baru ini.
4) Pokok Bahasan
a) Jenis-jenis informasi yang perlu ditemukan adalah: konsep,
prinsip, kaidah, hubungan, bagaimana, mengapa, dan batasan-
batasan.
b) Topik tidak boleh diketahui siswa sebelumnya, kalau tidak,
siswa tidak akan memperoleh penemuan.
c) Episode-episode dari gaya ini bisa dipakai untuk yang lain bisa
juga dipakai pada waktu memberi umpan balik kepada masing-
masing siswa.
d) Yang paling baik adalah episode yang pendek.
e) Ada baiknya menyusun pertanyaan-pertanyaan tersebut
sedemikian rupa, sehingga siswa harus mengerjakan
jawabannya secara fisik. Dengan demikian, siswa bisa memakai
gerakan sebagai media penemuan.
g. Gaya Divergen
Gaya mengajar Divergen merupakan suatu bentuk pemecahan
masalah. Dalam gaya ini siswa memperoleh kesempatan untuk mengambil
keputusan mengenai suatu tugas yang khusus di dalam pokok bahasan.
Gaya ini memungkinkan jawaban-jawaban pilihan. Ini berbeda dengan
gaya penemuan terpimpin, yang pertanyaan-pertanyaannya disusun untuk
mendapatkan jawaban-jawaban yang konvergen.
Gaya ini disusun sedemikian rupa sehingga suatu masalah
pertanyaan atau situasi yang dihadapkan kepada siswa akan memerlukan
pemecahan. Rancangan-rancangan yang diberikan akan membimbing
siswa untuk memenuhi pemecahan atau jawaban secara individual.
1) Anatomi gaya Divergen
A B C D E F G
Pra-Pertemuan
Dalam Pertemuan

Pasca Pertemuan
G
G

G
G
S

G
G
P

a
G
S

S
G
S

S
G
S
G
G
S
G
S

S
G

2) Sasaran gaya Divergen
a) Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan ganda melalui
pertimbangan-pertimbangan kognitif.
Modul PLPG Penjaskes 2013
260
b) Mengembangkan wawasan (insight) ke dalam struktur
kegiatan dan menemukan variasi-variasi.
c) Memungkinkan siswa untuk bebas dari guru dan melampaui
jawaban-jawaban yang diharapkan.
d) Mengembangkan kemampuan untuk memeriksa dan
menganalisis pemecahan-pemecahannya.
3) Penerapan gaya Divergen
a) Mula-mula, mungkin perlu menyakinkan siswa bahwa gagasan
dan pemecahan mereka akan diterima. Seringkali siswa sudah
terbiasa dengan mereka diberitahu tentang apa yang harus
mereka lakukan, dan tidak diperkenankan untuk menemukan
sendiri jawaban-jawaban yang benar.
b) Pada waktu siswa bekerja mencari pemecahan, guru harus
mengawasi dan menunggu untuk memberi kesempatan kepada
siswa untuk menyusun jawaban-jawaban mereka.
(1) Umpan balik harus dapat membimbing siswa kepada
masalah untuk menentukan jawaban yang tepat.
(2) Guru harus menahan diri untuk tidak memilih jawaban-
jawaban tertentu sebagai contoh. Sebab itu akan
mendorong penjiplakan dan bukan pemecahan masalah
secara individual.
Guru yang efektif akan mampu memilih dan menerapkan secara
kreatif model-model pengajaran yang tepat dan sesuai dengan situasi dan
kondisi. Apapun model tersebut yang digunakan oleh guru hendaknya
diperhatikan kesesuaian model tersebut dengan kondisi anak dan situasi
lingkungan. Pemilihan model pengajaran yang sesuai dengan kondisi dan
situasi lingkungan itu sering disebut model pengajaran refleksi atau
dikenal dengan model pendekatan modifikasi.

Peranan Pendekatan dan Strategi Pembelajaran
1. Pendekatan Pembelajaran
Efektivitas pembelajaran sangat ditentukan oleh pendekatan yang
dipilih guru, atas dasar pengetahuan guru terhadap siswa, dan sifat
keterampilan atau tugas gerak yang akan dipelajari siswa. Berdasarkan
karakteristik siswa serta sifat tugas gerak yang ada, pendekatan
pembelajaran bisa dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan
pembelajaaran langsung dan pendekatan tidak langsung langsung.
Dalam pendidikan jasmani, pendekatan pembelajaran langsung
memandang bahwa guru melakukan kontrol yang penuh terhadap apa
yang siswa pelajari dan bagaimana prosesnya berlangsung. Tugas guru

Modul PLPG Penjaskes 2013
261
penjas dengan menggunakan pendekatan pembelajaran langsung adalah
sebagai berikut:
Memecah keterampilan ke dalam bagian-bagian tertentu dan
berorientasi pada keberhasilan.
Merancang tugas yang terstruktur untuk siswa sehingga mudah
dipelajari.
Secara jelas menerangkan dan mendemonstrasikan tugas gerak yang
harus dilakukan siswa.
Mewajibkan siswa untuk bertanggung jawab pada tugasnya melalui
pembelajaran aktif, kreatif dan umpan balik khusus.
Menilai keberhasilan siswa dan pembelajarannya didasarkan pada apa
yang dipelajari siswa.
Di sisi lain, pendekatan pembelajaran tak langsung mengalihkan
tugas mengontrol pembelajaran kepada siswa. Artinya, guru tidak lagi
mengendalikan pembelajaran secara penuh, tetapi memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bersama-sama melakukan berbagai tugas
ajar. Pembelajaran tak langsung tidak mudah dijelaskan seperti
pembelajaran langsung; tetapi biasanya melibatkan satu atau beberapa
gambaran berikut:
Materi pelajaran disajikan secara menyeluruh. Materi tidak dipecah
menjadi bagian-bagian, karena dianggap bahwa satuan materi akan
lebih bermakna bagi siswa.
Tugas siswa dalam proses pembelajaran biasanya dikembangkan
sehingga pemikiran, perasaan, atau keterampilan berinteraksi dari
siswa dikembangkan ke dalam pengalaman belajar yang dirancang oleh
guru.
Sifat-sifat individual dari kemampuan, minat, dan kebutuhan siswa
memperoleh pertimbangan tersendiri.

2. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan suatu kesatuan pengertian dari
strategi dan pembelajaran. Dengan demikian, strategi pembelajaran secara
harfiah dapat diartikan sebagai menyiasati atau mengakali pelaksanaan
proses pembelajaran. Tujuannya tentu agar proses pembelajaran itu
berhasil. Dalam menyiasati itu terkandung pula pengertian memilih,
menetapkan dan menggabungkan berbagai kegiatan belajar siswa dalam
berusaha mencapai tujuan pembelajarannya. Startegi adalah operasi atau
gerakan sebelum kegiatan pembelajaran itu dilaksanakan seperti halnya
militer mengadakan operasi dan gerakan sebelum bertempur. Agar
mendapatkan informasi yang lebih jelas dan komprehensif mengenai
pengertian strategi pembelajaran mari kita simak pendapat para ahli
sebagai berikut:
Secara umum strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan
untuk menyelesaikan suatu tugas (Beckman, 2004:1)
Modul PLPG Penjaskes 2013
262
Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan
dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran (Gerlach dan
Elly, 1971:207).
Menurut Miarso (2004:530) strategi pembelajaran adalah pendekatan
menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa pedoman
umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum
pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori
belajar tertentu.
Seels dan Richey (1994:31) menyatakan bahwa strategi pembelajaran
merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa kegiatan
pembelajaran. Strategi pembelajaran ini terdiri dari metode-metode,
teknik-teknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan siswa
mencapai tujuan.
Strategi pembelajaran sebagai seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh
guru untuk mencapai tujuan tertentu (Kauchak dan Eggen, 1993:12).
Dari batasan-batasan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa
strategi pembelajaran merupakan pola umum kegiatan pembelajaran,
rangkaian perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan peristiwa
pembelajaran yang efektif untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Strategi pembelajaran pada hakikatnya berkenaan dengan:
(1) urutan kegiatan pembelajaran,
(2) metode atau teknik pembelajaran,
(3) media pembelajaran, dan
(4) pembagian peran (fungsi) antara guru dan siswa dalam proses
pembelajaran.
Dengan demikian, maka stategi pembelajaran bukan merupakan
proses yang pasti dan siap dipakai dalam segala situasi dan tujuan
pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah merupakan hasil pilihan yang
disesuaikan dengan situasi dan tujuan pembelajaran tertentu.

B. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
Secara garis besar terdapat sedikitnya tujuh strategi pembelajaran
yang berhubungan dengan penataan pengalaman belajar dalam penjas,
yaitu:
Strategi pembelajaran interaktif (interactive teaching)
Strategi pembelajaran berpangkalan/berpos (station teaching)
Strategi pembelajaran sesama teman (peer teaching)
Strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning)
Strategi pembelajaran diri (Self-instructional strategies)
Strategi pembelajaran kognitif (Cognitive strategies)
Strategi pembelajaran beregu (Team teaching)
Strategi di atas sama sekali tidak inklusif dan sulit ditampilkan
secara murni sebagai suatu strategi yang mandiri dalam pembelajaran.

Modul PLPG Penjaskes 2013
263
Kebanyakan dari strategi di atas dapat dikombinasikan dengan yang lain
untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda.
1. Pembelajaran Interaktif
Strategi yang benar-benar paling umum dalam perencanaan
pengalaman belajar dalam pendidikan jasmani adalah strategi yang bersifat
interaktif. Umumnya kita tidak akan kesulitan mengkonseptualisasikan
strategi interaktif. Pengertian pengajaran mempunyai makna guru
memberitahukan, menunjukkan, atau mengarahkan sekelompok anak
tentang apa yang harus dilakukan; lalu siswa melakukannya; dan guru
mengevaluasi seberapa baik hal itu dilakukan dan mengembangkan isi
pelajaran lebih jauh. Inilah tipe dari pengajaran interaktif. Dalam
pengajaran jenis ini, guru mengontrol proses pengajaran.
Dalam pengajaran interaktif, gerakan guru didasarkan pada respons
siswa pada gerakan guru sebelumnya. Rencana guru memudahkan proses
itu, tetapi gerakan guru selanjutnya didasarkan pada respons murid. Guru
sangat dominan dalam strategi ini dan yang paling bertanggung jawab
dalam untuk keempat fungsi pengajaran dalam menyusun pengalaman
pembelajaran yang dibicarakan di bagian sebelumnya. Biasanya seluruh
kelas bekerja pada tugas yang sama atau dalam kerangka tugas yang sama.
Bandingkan strategi ini dengan gaya komando; keduanya memiliki
perangkat ciri yang sama.
2. Strategi Pembelajaran Berpangkalan
Pengajaran berpangkalan menata lingkungan sehingga dua atau
lebih tugas bisa berlangsung dalam ruangan secara bersamaan. Biasanya,
setiap tugas harus dilakukan dalam pangkalan yang berbeda dengan tugas
lainnya, sehingga setiap tugas memiliki pangkalannya masing-masing.
Siswa berputar dari satu pangkalan ke pangkalan lain. Kadang-kadang,
pengajaran berpangkalan ini disebut juga pengajaran tugas.
Pengajaran ini telah menjadi strategi yang sangat populer dalam
pendidikan jasmani. Jika dilakukan secara efektif, strategi ini akan
menyediakan satu kerangka untuk pengalaman pembelajaran yang
memuaskan seluruh fungsi pengajaran. Strategi ini dalam tataran gaya
mengajar, serupa dengan gaya latihan (practice style).
3. Strategi Pembelajaran Sesama Teman (Peer Teaching)
Pengajaran sesama teman adalah strategi pengajaran yang
mengalihkan tanggung jawab guru dalam fungsi pengajarannya kepada
siswa. Strategi ini biasanya digunakan bersamaan dengan strategi lain
tetapi berharga untuk dieksplorasi secara terpisah. Sebenarnya, strategi
pengajaran sesama dapat digunakan dengan setiap fungsi pengajaran yang
sesuai, baik untuk keseluruhan pelajaran maupun hanya sebagian
pelajaran. Strategi ini tidak terlalu jauh berbeda dengan gaya berbalasan
(reciprocal style), dalam hal ini siswa sendiri memberikan pengarahan
kepada siswa lainnya. Bedanya, dalam pengajaran sesama teman, siswa
yang bertindak sebagai pengajar tidak hanya berhadapan dengan satu
siswa, tetapi bisa dengan sekelompok siswa.
Modul PLPG Penjaskes 2013
264
4. Strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif mulai populer sejak diperkenalkan
pertama kali oleh Johnson dan Johnson tahun 1975. Pembelajaran
kooperatif memiliki potensi untuk meningkatkan kegiatan belajar anak,
juga memberikan sumbangan yang cukup signifikan pada pengembangan
keterampilan sosial dan afektif.
Dalam pembelajaran kooperatif, sekelompok siswa diberi suatu
tugas pembelajaran atau suatu proyek untuk diselesaikan oleh
kelompoknya. Para siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan
pertimbangan yang berbeda seperti ras, kemampuan, atau kebutuhan
sosialnya. Kelompok, juga sebagai individu, dinilai sesuai dengan seberapa
baik mereka menyelesaikan tugasnya, di samping dari cara mereka bekerja
sama dengan yang lain.
Seperti juga strategi yang lain, keuntungan yang bisa diperoleh dari
strategi ini tidak bisa terjadi otomatis. Siswa harus dipersiapkan dengan
baik agar harapan untuk terlibat dalam bekerja sama bisa terbentuk. Hasil
yang positif dapat dicapai hanya jika tujuan yang diberikan kepada siswa
bermakna, siswa diajari bagaimana caranya bekerja sama, dan akuntabilitas
untuk proses dan hasil dari pengalaman belajar itu terbukti nyata kepada
siswa.
5. Strategi Pembelajaran Mandiri
Dalam arti sederhana, strategi pembelajaran mandiri melibatkan
program yang ditetapkan sebelumnya untuk pembelajaran yang boleh
melibatkan guru dalam peranan tutorial atau pengaturan tetapi pada
dasarnya mengurangi fungsi pengajaran guru yang lebih tradisional
selama prosesnya. Strategi pengajaran sendiri menyandarkan diri
sepenuhnya pada materi tertulis, media, dan prosedur evaluasi yang
ditetapkan sebelumnya. Strategi ini dapat dipakai untuk memenuhi satu
atau lebih, terkadang seluruhnya, fungsi pengajaran. Di samping dapat
digunakan untuk satu pelajaran tunggal atau sebagian dari pelajaran,
strategi pengajaran sendiri dapat dirancang untuk seluruh satuan pelajaran
dalam satu semester. Siswa dapat belajar, baik dalam batasan kelas maupun
mandiri dari periode kelas yang terstruktur. Materi yang mencakup
tahapan tugas, petunjuk untuk melakukan tugas, rekomendasi latihan, dan
alat penilaian, disediakan oleh guru. Siswa dan atau guru memutuskan di
mana siswa harus mulai masuk ke tahapan yang ada dan di mana siswa
akan mengakhirinya.
Amatlah jelas bahwa siswa yang diharuskan memanfaatkan strategi
pengajaran-sendiri haruslah siswa yang bermotivasi tinggi, bisa mengatur
diri, dan pada titik tertentu, banyak mengetahui dalam bagaimana
memanfaatkan waktu dan materi yang disediakan. Motivasi, pengaturan
diri, dan keterampilan dalam menggunakan materi pembelajaran akan
memakan waktu dalam mengembangkannya. Guru bisa dianggap kurang
bijaksana untuk menggunakan strategi ini jika belum mengembangkan
kemampuan-kemampuan di atas.

Modul PLPG Penjaskes 2013
265
6. Strategi Pembelajaran Kognitif
Strategi kognitif adalah nama yang diberikan pada sekelompok
strategi pembelajaran yang dirancang untuk melibatkan siswa secara
kognitif dalam isi pelajaran melalui penyajian tugasnya. Istilah gaya
pemecahan masalah, penemuan terbimbing (Mosston, 1986), dan gaya lain yang
memerlukan fungsi kognitif anak, seperti pembelajaran melalui pertanyaan
(Siedentop, 1991), atau inquiry learning. Semua model di atas pada dasarnya
menggambarkan pendekatan yang melibatkan siswa dalam
memformulasikan respons sendiri dari pada hanya meniru apa yang sudah
diperlihatkan guru sebelumnya. Guru menggunakan strategi kognitif
karena strategi ini mendukung salah satu atau beberapa dari hal berikut:
Proses pembelajaran sama pentingnya dengan apa yang dipelajari.
Siswa diperkirakan akan terlibat dengan isi pelajaran pada tingkat yang
lebih tinggi jika peranan mereka dalam proses pembelajaran diperluas.
Strategi kognitif memungkinkan isi pelajaran lebih individual.
Strategi kognitif merupakan cara yang baik untuk mengajarkan konsep
kepada siswa, dan konsep memiliki potensi untuk ditransfer pada isi
pelajaran lain yang serupa.
Tingkat keterlibatan siswa bervariasi sesuai dengan tingkat respons
kognitifnya. Ketika guru mengetengahkan masalah yang memerlukan
jawaban benar yang tunggal, pemecahan masalah itu biasanya disebut
convergent problem solving. Ketika masalah tersebut bersifat terbuka dan
tidak memerlukan satu jawaban terbaik, maka pemecahan masalah
tersebut disebut divergent problem solving.
7. Strategi Pembelajaran Beregu
Pengajaran beregu adalah strategi pengajaran yang melibatkan lebih
dari satu orang guru yang bertanggung jawab untuk menyajikan pelajaran
kepada sekelompok siswa. Ketika pelajaran pendidikan jasmani bersifat co-
educational (melibatkan siswa putra dan putri), banyak pendidik melihat
bahwa team teaching sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan baik putra
maupun putri yang terkelompokkan secara heterogen dengan mendapat
guru pria dan wanita di saat bersamaan.
Namun demikian, potensi atau keuntungan team teaching bukan
hanya itu, melainkan sangat diperlukan dalam pengajaran yang membagi
siswa menjadi beberapa kelompok pada saat bersamaan, dan harus
melakukan kegiatannya di tempat-tempat yang terpisah. Keuntungan team
teaching yang paling mencolok adalah dalam hal: Pengelompokkan yang
fleksibel. Keuntungan utama dari team teaching adalah pengelompokkan
yang fleksibel, dengan penggunaan strategi yang sudah dikemukakan di
atas. Dalam cara ini, siswa dapat dibagi secara berbeda dalam setiap
periode pelajaran tertentu untuk keperluan mengindividualisasikan
program, didasarkan pada tingkat keterampilan, minat, kebutuhan sosial,
atau kriteria apapun yang dipandang guru penting. Ukuran kelompok
dapat tetap dipertahankan fleksibel, sehingga bisa berubah manakala
diperlukan. Peranan guru dapat bergantian, sekali waktu menjadi guru
Modul PLPG Penjaskes 2013
266
utama, dan di lain kali menjadi guru pendukung. Guru pendukung dapat
dimanfaatkan dalam pengajaran untuk mengidentifikasi siswa yang
memerlukan bantuan dan segera memberikannya tanpa harus
bertanggung jawab untuk seluruh pelajaran. Umpan balik dan penilaian
agak sulit dalam pengajaran kelompok dengan hanya satu orang guru.
Memenuhi kebutuhan individual siswa merupakan potensi kekuatan dari
team teaching ini.

C. Gaya-Gaya Mengajar
Pada tahun 1966, Muska Mosston telah membuat sumbangan yang
sangat monumental terhadap metodologi pembelajaran pendidikan
jasmani. Mosston telah mengidentifikasi bahwa dalam pembelajarannya
cara guru bisa dibedakan dari bagaimana ia memperlakukan dan
melibatkan siswa dalam pembelajaran. Cara guru melibatkan siswa ini
akhirnya lajim disebut gaya mengajar (teaching style), yang bergerak dari
gaya yang disebut komando hingga gaya pengajaran diri sendiri.
Karena gaya pembelajaran intinya memberikan kesempatan pada
murid untuk mengambil keputusan, di manakah siswa dan guru dapat
berbagi kesempatan tersebut? Menurut Mosston, guru dan siswa dapat
saling tawar menawar dalam memperoleh kesempatan dalam perihal
perencanaan, pelaksanaan, dan dalam penilaian pelaksanaannya. Atau
dalam istilah yang di pakainya, Mosston menyebutnya setting pre-impact,
impact, dan post-impact.



Gaya Penmbelajaran Pendidikan Jasmani
Gaya A Komando (Command Style) Semua keputusan dikontrol guru. Murid hanya melakukan apa yang
diperintahkan guru. Satu aba-aba, satu respons siswa.

Gaya B Latihan (Practice Style) Guru memberikan beberapa tugas, siswa menentukan di mana, kapan,
bagaimana, dan tugas mana yang akan dilakukan pertama kali. Guru memberi umpan balik.

Gaya C Berbalasan (Reciprocal Style) Satu siswa menjadi pelaku, satu siswa lain menjadi pengamat dan
memberikan umpan balik. Setelah itu, bergantian.

Gaya D Menilai diri sendiri (Self Check Style) Siswa diberi petunjuk untuk bisa menilai penampilan dirinya
sendiri. Pada saat latihan, siswa berusaha menentukan kekurangan dirinya dan mencoba
memperbaikinya.

Gaya E Partisipatif atau Inklusif (Inclusion Style) Guru menentukan tugas pembelajaran yang memiliki target
atau kriteria yang berbeda tingkat kesulitannya, dan siswa diberi keleluasaan untuk
menentukan tingkat tugas mana yang sesuai dengan kemampuannya. Dengan begitu, setiap anak
akan merasa berhasil, dan tidak ada yang merasa tidak mampu.

Gaya F Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) Guru membimbing siswa ke arah jawaban yang benar
melalui serangkaian tugas atau permasalahan yang dirancang guru. Guru setiap kali meluruskan atau
memberikan petunjuk untuk mengarahkan anak pada penemuan itu.

Gaya G Pemecahan Masalah (Problem Solving) Guru menyediakan satu tugas atau permasalahan yang akan
mengarahkan siswa pada jawaban yang bisa diterima untuk memecahkan masalah itu. Oleh karena
itu, jawaban atau pemecahan yang diajukan siswa bisa bersifat jamak.
Gaya H, I, J Program yang dirancang siswa/Inisiatif siswa/Pengajaran diri Sendiri (Learner designed
program/learner initiated/self-teaching) Siswa mulai mengambil tanggung jawab untuk apa pun yang
akan dipelajari serta bagaimana hal itu akan dipelajari.

Kotak 6-1

Modul PLPG Penjaskes 2013
267
Prosedur Pembelajaran
a. Pre-impact set, mencakup semua keputusan yang harus dibuat sebelum
terjadinya tatap muka antara guru dengan murid. Keputusan dalam
setting ini mencakup tugas gerak yang harus dipelajari, waktu,
pengorganisasian alat, tempat berlangsungnya gerak, kriteria
keberhasilan, serta prosedur dan materi penilaiannya. Keputusan ini
menegaskan tentang maksud.
b. Impact set, meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan
pelaksanaan maksud di atas, atau hal-hal yang diputuskan pada tahap
pre-impact set. Keputusan dalam tahap ini menentukan aksi.
c. Post-impact set, memasukkan keputusan yang berhubungan dengan
penilaian penampilan atau pelaksanaan tugas pada masa impact set
serta kesesuaian antara maksud dan aksi. Pemberian koreksi dan umpan
balik serta penilaian, termasuk pada setting ini.

D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran secara umum meliputi keseluruhan cara atau
teknik dalam menyajikan bahan pelajaran kepada siswa serta bagaimana
siswa diperlakukan selama pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, secara
umum, pembahasan tentang metode mengajar bukan hanya
bersinggungan dengan disikusi tentang apakah pelajaran perlu diberikan
secara keseluruhan (whole method) ataukah sebagian-sebagian (part
method), tetapi juga tentang metode yang berhubungan secara langsung
dengan memperlakukan siswa dan pengaturan waktu.
1. Metode Bimbingan
Teknik atau metode bimbingan adalah metode yang paling umum
dalam proses pembelajaran, di mana siswa dituntun dengan berbagai cara
melalui pemolaan gerak. Dalam penggunaannya metode ini mempunyai
beberapa tujuan, dan yang paling utama adalah untuk mengurangi
kesalahan serta memastikan bahwa pola gerak yang tepat sudah dilakukan.
Penggunaan metode bimbingan amat penting terutama dalam cabang
olahraga yang berbahaya seperti senam sehingga memerlukan bantuan
untuk mengurangi timbulnya bahaya. Demikian juga dalam renang, ketika
siswa pertama kali mempelajarinya dan merasa takut. Di sini siswa tentu
perlu dibantu, baik secara langsung oleh bimbingan guru atau lewat
pemakaian alat-alat penolong.
Jenis belajar terbimbing. Metode bimbingan bisa dilakukan dengan
berbagai cara tergantung setting pembelajarannya. Beberapa bentuk
bimbingan sedikit longgar, sehingga hanya memberikan sedikit bantuan
untuk tampil kepada siswa. Contohnya adalah pada pembelajaran sepak
bola atau menari ketika guru hanya memberikan tanda-tanda verbal untuk
membantu siswa mengerti tugas yang dilakukannya. Bimbingan dalam
jenis ini bisa kontak langsung dengan guru atau dengan alat tertentu seperti
pada senam.
Modul PLPG Penjaskes 2013
268
Efektivitas metode latihan terbimbing. Penelitian menyatakan
bahwa metode bimbingan memang efektif dalam membantu siswa
melakukan tugas geraknya. Namun demikian, kemampuan siswa dalam
menampilkan tugasnya itu segera hilang ketika bimbingan yang semula
diterimanya itu ditiadakan. Hal ini menandakan bahwa metode ini hanya
efektif jika keberadaannya tetap dipertahankan terus. Tetapi, kita pun tahu
bahwa tidaklah mungkin bahwa siswa tetap tergantung terus pada adanya
bimbingan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode
bimbingan kurang dapat dipertanggung jawabkan.
Namun begitu bukan berarti bahwa latihan terbimbing tidak perlu
digunakan lagi. Keuntungannya tetap ada jika metode bimbingan
diterapkan pada dua kondisi di bawah ini:
a. Latihan dini. Dalam latihan yang sangat dini, ketika siswa sedang
mengembangkan gagasan tugas yang sangat primitif, prosedur
bimbingan dapat sangat berguna. Prosedur itu akan dapat membantu
siswa memperjelas gambaran dasar suatu keterampilan, memberikan
petunjuk tentang apa yang harus dilakukan, serta memicu perhatian
siswa kapan ia harus memulai gerak tubuhnya. Untuk menghindari efek
buruk dari metode ini, maka bantuan harus segera dihilangkan ketika
siswa mulai mampu melakukan tugasnya secara mandiri.
b. Tugas berbahaya. Kekecualian lain penggunaan prosedur bimbingan
adalah pada situasi yang berbahaya. Bimbingan fisik, seperti sabuk
penopang yang sering digunakan siswa ketika mempelajari
keterampilan senam, dapat mencegah terjadinya salah gerak yang
membahayakan. Jika alat tidak tersedia, guru harus mampu
memberikan bimbingan fisik pada saat-saat kritis. Ketika siswa berhasil
menambah kemampuannya, besaran bantuan secara bertahap
dikurangi, hingga akhirnya dihilangkan sama sekali. Dalam kondisi ini,
prosedur bimbingan mempunyai manfaat lain, yaitu mengurangi rasa
takut dan keraguan siswa. Keyakinan siswa bahwa dirinya tidak akan
cedera dapat menambah kefektifan konsentrasi pada gerak yang sedang
dipelajarinya.
2. Metode Latihan Padat dan Terdistribusi
Guru pendidikan jasmani harus membuat keputusan sekaitan
dengan seberapa lama dalam satu episode pembelajaran siswa harus
melatih suatu keterampilan, dan bagaimana waktu yang tersedia ini
dimanfaatkan, apakah langsung dihabiskan sekaligus atau diselingi
istirahat.
Umumnya, unit pengajaran dalam pendidikan jasmani
menghabiskan waktu latihannya hanya untuk menguasai satu
keterampilan, misalnya pass bawah pada permainan voli. Hari lain,
keterampilan yang dipelajari dari voli ini sudah berbeda, misalnya jadi pass
atas, dan tidak pernah lagi secara khusus kembali melatih pass bawah. Jika
ini yang dilakukan, guru mempunyai pilihan, apakah keterampilan akan
dilatih oleh anak secara terus menerus, sampai waktu habis, atau

Modul PLPG Penjaskes 2013
269
menetapkannya dalam satuan waktu tertentu diselingi istirahat. Pilihan
yang pertama disebut massed practice atau sering disebut latihan padat,
sedangkan pilihan kedua disebut distributed practice atau latihan
terdistribusi.
3. Metode Latihan Terpusat dan Acak
Di samping latihan bisa dibedakan secara padat dan terdistribusi,
latihan pun bisa dibedakan secara terpusat (blocked practice) dan acak
(random practice). Latihan terpusat dan acak biasanya digunakan untuk
pembelajaran gerak yang melatih beberapa keterampilan dalam satu
pertemuan.
Latihan disebut terpusat jika dua atau tiga keterampilan yang dilatih
dilaksanakan satu persatu hingga jumlah ulangan atau waktu yang
ditentukan terselesaikan, sebelum dilanjutkan ke keterampilan lain.
Contohnya, tiga buah keterampilan dalam badminton dijadikan isi
pelajaran, misalnya serve, smes, dan cop. Guru akan meminta siswa
melatih dulu serve, misalnya 20 kali, kemudian pindah ke gerakan smes,
juga 20 kali, baru pindah ke cop, 20 kali. Intinya, latihan terpusat
dilaksanakan dengan mendahulukan satu tugas hingga selesai sebelum
berpindah ke tugas lain.
4. Metode Keseluruhan versus Bagian
Beberapa keterampilan terdiri dari beberapa gerakan yang sangat
kompleks. Dari kenyataan tersebut cukup jelas bahwa alangkah sulitnya
bagi guru untuk menampilkan semua aspek keterampilan tersebut
sekaligus kepada siswa. Terhadap tugas yang demikian tentunya guru
harus mampu menyesuaikan prosedur dan pendekatan yang tepat.
Metode yang sering digunakan manakala menghadapi gerakan
tersebut, biasanya guru akan membagi tugas tadi menjadi bagian-bagian
kecil (sesuai teknik dasarnya). Setiap bagian tersebut dilatih satu persatu
sesuai urutan teknik dasarnya, untuk kemudian disatukan setelah semua
bagian terkuasai agar menjadi satu keterampilan yang utuh. Jika ini yang
ditempuh guru, maka ia sedang menerapkan metode bagian (part method).
Satu hal yang diakui para ahli, bahwa menyatukan bagian-bagian menjadi
keseluruhan ternyata tidak mudah. Anak akan menemukan kesulitan
dalam mempersatukan konsep, bagaimana bagian-bagian yang terpisah
tadi bisa membentuk gambaran yang utuh?
5. Metode Pengajaran yang Berdasarkan pada Bahan Ajaran
Bahan ajar mempunyai pengaruh nyata terhadap keberhasilan
belajar siswa. Bahan ajar yang berbelit-belit dan tidak keruan strukturnya
akan sulit diserap siswa. Sebaliknya bahan ajar yang berstruktur ketat
denagan poko bahasan yang banmyak akan menyulitkan siswa untuk
belajar. Bahan ajar yamg mengandung hal-hal yang jelek tantu saja akan
menyebabkan siswa turut jelek dalam belajarnya.
Metode ini disebut metode global gestalt. Eggen (1979:132-139)
menjelaskan tentang garis besar langkah-langkah utama metode global
adalah sebagai berikut:
Modul PLPG Penjaskes 2013
270
a. Penyajian konsep /generalisasi. Pada langkah ini dikemukakan
definisi, konsep, keterangan, penjelasan tentang keterampilan uang
menjadi bahan ajar. Penyajian yang berupa lnformasi itu dapat
disampaikan melalui pelbagai media dan alat bantu pengajaran yang
cocok untuk bahan ajar terdebut. Dalam hal gerak, media yang paling
cocok adalah media slide, film, dan orang yang mampu
mempertunjukan baik sebagai contoh didepan siswa atau benar-benar
melakukan yang sebenarnya seperti dalam pertandingan, festival, atau
pertunjukan. Sebagai contoh dalam belajar renang dapat disampaikan
melalui gambar-gambar, slide, film, demonstrasi oleh guru atau anak
yang mahir, perenang atau melihat pertandingan renang itu sendiri.
Berdasarkan efisiensi waktu, yang paling cocok untuk pendidikan
jasmani adalah demonstrasi oleh guru, anak yang mahir, atau perenang
didepan siswa.
b. Penjelasan tentang definisi. Pada tahap ini istilah-istilah yang
terkandung dalam konsep tersebut digunakan. Dalam hal pelajaran
renang istilah-lstilah yang terkandung dalam renang itu dijelaskan.
Penjelasan mengenai gerakan-gerakan dasar merupakan hal poko yang
harus diterangkan.
c. Penyajian bahan ajar . Pada tahap ini bahan dasar ini disajikan untuk
dicoba dn dialami para siswa. Kegiatan belajar siswa dalam tahap ini
ialah berlatih semua bahan ajar itu sampai dikuasai secara keseluruhan.
Secara garis besarnya metode global-parsial ini dikemukakan
sebagai berikut.
a. Penyajian konsep. Pada langkah ini konsep gerakan atau keterampilan
gerak itu disampaikan melalui pelbagai media pembelajaran. Tujuannya
ialah membentuk persepsi yang utuh dan jelas. Slide, film, dan
demonstrasi biasanya digunakan dalam langkah ini.
b. Praktek secara keseluruhan. Gerak atau keterampilan fisik yang menjadi
pokok bahasan itu dipraktekan secara utuh. Maksudnya ialah
menanamkan kesan motorik atau gerak secara umum kepada siswa.
c. Berlatih bagian. Langkah ini berisi latihan-latihan yang menekankan
pada bagian-bagian dari gerak atau keterampilan motorik yang menjadi
pokok bahasan. Tujuannya adalah agar siswa menguasai bagian ini
dengan tepat.
d. Praktek secara keseluruhan. Setelah berlatih bagian-bagian, siswa
kembali mempraktekan gerakan atau keterampilan motorik yang
dipelajarinya secara utuh.
e. Berlatih bagian. Setelah praktek secara keseluruhan, siswa kembali
dengan latihan bagian. Pada kesempatan ini guru mengadakan
perbaikan secara individual. Langkah praktek global dan parsial itu
dapat dilakukan silih berganti sampai dianggap cukup.
6. Metode Permainan
Pendekatan ini juga sering disebut metode bermain, berlandaskan
anggapan dasarnya pada sifat manusia yang hakiki yaitu suka

Modul PLPG Penjaskes 2013
271
bermain.sifat ini merupakan suatu segi dari manusia sebagai mahluk sosial,
karena keterlibatan dalam permainan ini menuntut kesediaan mematuhi
dan menjalankan peraturan dan sanksi yang pada hakikatnya berasal dari
budaya masyarakat.
Anggapan dasar dari proses belajar pendekatan bermain ini adalah
anak-anak di masyarakat telah bisa melakukannya. Hal ini disebut
sosialisasi yang berlaku secara informal dan dalam bentuk permainan.
Demikian pula pelajaran pendidikan jasmani di kelas-kelas rendah itu
dapat dilakukan dengan kebiasaan sosialisasi di masyarakat. Pada garis
besarnya pendekatan permainan ini meliputi jenis-jenis berikut :
1) Permainan meniru. Gerakan atau pokok bahasan meniru perilaku
hewan, manusia atau mesin yang bergerak.
2) Permainan peran. Tugas gerak atau pokok bahasannya dikemas dengan
peranan-peranan suatu pekerjaan. Kadang-kadang juga hanya
diandaikan saja menyerupai peranan satu jabatan atau pekerjaan seperti
supir, kusir atau petani sedang mencangkul atau suatu profesi, jabatan,
atau pekerjaan lain.
3) Permainan fantasi. Gerakan atau pokok bahasan yang diajarkan dikemas
dengan dunia dongeng atau imajinasi yang lain.
4) Permainan dramatisasi. Tugas-tugas gerak disusun dalam suatu lakon
dengan kerangka kerja drama.
7. Metode Perlombaan
Pendekatan ini sama dengan permainan. Perlombaan ini merupakan
cerminan budaya masyarakat. Perlombaan merupaka alat untuk sosialisasi
generasi muda dalam melestarikan warisan budaya masyarakatnya. Pada
dasarnya perlombaan ini merupakan suatu persaingan dalam bentuk
sederhana atau individu, kelompok, atau masyarakat. Bentuk yang lebih
kompleks adalah pertandingan bisa terdapat dalam dunia olahraga.
Perlombaan dan pertandingan ini bersumber dari kinginan naluriah
manusia untuk menonjolkan diri di antara sesamanya. Dalam belajar naluri
ini dianggap sebagai motivator perilaku pelajar.
Secara garis besarnya langkah-langkah penerapan metode
perlombaan dikemukakan sebagai berikut ini;
a. Tetapkan sasaran yang akan dicapai
b. Jelaskan cara-cara mencapai sasaran tersebut
c. Tetapkan criteria keberhasilan dan kemenangan
d. umumkanlah siapa-siapa yang menang
Keuntungan yang dapat diperoleh dari metode ini anatara lain ialah:
1. Memberikan kesempatan mengembangkan segi-segi sosial siswa yang
sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat.
2. Suasana yang cenderung bebas dan informal memberikan kemungkinan
kebebasan dan membuat keputusan.
Sedangkan kelemahan metode ini antara lain :
1. Terlalu banyak waktu sehingga kurang efisien dalam membina
keterampilan teknik gerakan.
Modul PLPG Penjaskes 2013
272
2. Karena bebas dan informal sering terjadi kehilangan sasaran dan
cenderung menekankan pada segi hura-hura ketimbang peningkatan
keterampilan geraknya.

E. Rangkuman
Salah satu masalah utama dalam pendidikan jasmani di Indonesia,
hingga dewasa ini, ialah belum efektifnya pengajaran pendidikan jasmani
di sekolah-sekolah. Kondisi kualitas pengajaran pendidikan jasmani yang
memprihatinkan di sekolah dasar, sekolah lanjutan dan bahkan perguruan
tinggi telah dikemukakan dan ditelaah dalam berbagai forum oleh
beberapa pengamat pendidikan jasmani dan olahraga. Kondisi ini
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah terbatasnya
kemampuan guru pendidikan jasmani dan terbatasnya sumber-sumber
yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani.
Sebagai akibat dari kondisi seperti ini, anak dapat menjadi kurang
senang terhadap Pelajaran pendidikan jasmani. Tugas-tugas ajar yang
merupakan keterampilan kompleks itu sesungguhnya hanya mampu
dilakukan upaya memodifikasi tugas gerak yang memodifikasi tugas gerak
yang kompleks menjadi tugas gerak yang sederhana maka dapat
diramalkan tingkat keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas yang
harus dipelajari tergolong rendah.
Tujuan utama pengajaran pendidikan jasmani di sekolah adalah
memantau peserta didik agar meningkatkan keterampilan gerak mereka,
disamping agar mereka merasa senang dan mau berpartisipasi dalam
berbagai aktivitas.
Salah satu spectrum model pengajaran lain juga dikemukakan
Mosston (1996). Model Mosston ini didasarkan atas asumsi bahwa
keputusan terhadap proses dan produk pengajaran hendaknya bergeser
dari pengajaran terpusat pada guru ke terpusat pada anak, dari siswa
terikat menjadi siswa bebas (aktif).

F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!

1. Jelaskan yang dimaksud dengan model-model pembelajaran!
2. Sebutkan macam-macam model-model pembelajaran Penjasorkes!
3. Jelaskan berbagai langkah yang harus ditempuh dalam
mengembangkan model-model pembelajaran Penjasorkes!
4. Jelaskan mengapa seorang guru dituntut untuk mengembangkan
model-model pembelajaran dalam proses pembelajaran!
5. Buatlah salah satu materi pembelajaran Penjasorkes dengan
menggunakan model pembelajaran gaya resiprokal!
6. Jelaskan dengan singkat anggapan dasar mengapa guru menjadi pusat proses belajar.

Modul PLPG Penjaskes 2013
273
7. Menurut pendapat anda, keuntungan-keuntungan apa yang dapat
diperoleh dari prinsip guru sebagai pusat proses belajar mengajar.
8. Jelaskan dengan singkat anggapan dasar prinsip siswa sebagai pusat
proses belajar mengajar.
9. Keuntungan-keuntungan apa yang dapat diperoleh dari prinsip siswa
sebagai pusat proses belajar mengajar.
10. Gambarkanlah dengan garis linier proses belajar dengan metode
praktek padat dan metode praktek didistribusikan.

Soal Latihan Pilihan Berganda
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang merupakan
jawaban paling benar!
6. Salah satu masalah utama dalam proses pembelajaran Penjasorkes di
Indonesia dewasa ini adalah . . . .
M. mutu guru Penjas
N. sarana dan prasarana
O. standar isi
P. belum efektifnya pengajaran
7. Model metode-metode praktik yang sering dilakukan oleh guru
Penjas saat ini adalah dimana para siswa melakukan latihan fisik
berdasarkan perintah yang ditentukan oleh guru. Latihan-latihan
tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh anak sesuai dengan
inisiatif sendiri. Hal ini merupakan jenis metode . . . . .
A. school centered
B. teacher centered
C. student centered
D. teacher centered dan student centered
8. Guru pendidikan jasmani yang dalam proses pembelajaran
cenderung menekankan pada penguasaan keterampilan cabang
olahraga dan pendekatan yang dilakukan seperti halnya pendekatan
pelatihan olahraga. Tipe guru Penjas seperti ini merupakan
menerapkan model . . . .
A. tradisional
B. moderen
C. situasional
D. kondisional
9. Akibat penerapan model pembelajaran yang kurang tepat dan
menarik, maka proses pembelajaran Penjasorkes akan . . . .
A. menerima apa adanya
B. kurang berkembang
C. tidak disenangi oleh anak
D. tidak berhasil sesuai dengan tujuan
Modul PLPG Penjaskes 2013
274
10. Pelaksanaan proses pembelajaran dimana semua keputusan diambil
oleh guru. Hal ini merupakan gaya mengajar . . . .
A. komando
B. latihan
C. resiprokal
D. cakupan/inklusi
Kunci Jawaban
1. D
2. B
3. A
4. C
5. A



DAFTAR PUSTAKA
Buccher, Charles A. (1983). Foundation of Physical Education & Sport. Ninth
Edition. St. Louis: Te C.V. Mosby Company.
Cholik Mutohir. T. (2002). Gagasan-gagasan tentang Pendidikan Jasmani dan
Olahraga, Surabaya, Unesa University Press.
__________, Pengembangan Model Pengajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah
Dasar. Surabaya: Pusat Penelitian IKIP Surabaya.

Mosston, M. (1996). Teaching Physical Education, Columbus, Ohio: Merill.
Siedentop, Daryl: Mand, Charles, Taggart, Andrew. (1986). Physical
Education: Teaching and Curriculum Strategies for Grades 5-12. California:
Mayfield Publishing Company.



Modul PLPG Penjaskes 2013
275
BAB XII
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
PENJASORKES

A. Pokok-pokok Isi Materi
Ditinjau dari aspek pengadaannya, para guru dapat menggunakan
media yang sudah ada yang dibuat oleh pihak tertentu (produsen media)
dan dapat langsung menggunakannya. Demikian pula media yang sifatnya
alamiah (tersedia di lingkungan sekolah) juga dapat langsung digunakan.
Selain itu, para guru dapat mengembangkan media sendiri sesuai
dengan kebutuhan. Dalam mengembangkan media itu diperlukannya
perencanaan produksi media pembelajaran. Dalam membuat perencanaan
media ada beberapa hal yang perlu duiperhatikan, diantaranya : (1)
mengapa kita ingin membuat program media itu?, (2) apakah pembuatan
media tersebut ada kaitannya dengan kegiatan pembelajaran tertentu
untuk mencapai tujuan tertetu?; (3) Untuk siapakah ( Siswa SD, SMP, atau
SMA) program media tersebut kita buat?, (4) bagaimana karakteristik
sasaran siswa tersebut?, (5) betulkan media yang dikembangkan betul-
betul dibutuhkan oleh mereka?; dan (6) perubahan perilaku apa yang
diharapkan akan terjadi pada diri siswa setelah menggunakan media
tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus ditindak lanjuti dengan
cara menuliskannya sehingga akan terwujud sebuah dokumen
perencanaan media.
Modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) pengembangan
media pembelajaran Penjasorkes ini berisi tentang: konsep dasar
pengembangan media dan sumber belajar, peran media dalam
pembelajaran, rasional penggunaan media, fungsi media dalam
pembelajaran, klasifikasikan media pembelajaran, analisisis kelebihan dan
keterbatasan beberapa media, dan prosedur perencanaan pengembangan
media pembelajaran.

B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
mengembangkan diri.
2. Kompetensi Dasar
a. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam
berkomunikasi.
b. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
pengembangan diri.



Modul PLPG Penjaskes 2013
276
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjas ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep dasar pengembangan media dan sumber belajar.
2. Menjelaskan peran media dalam pembelajaran.
3. Mengidentifikasikan rasional penggunaan media.
4. Menjelaskan fungsi media dalam pembelajaran.
5. Mengklasifikasikan media pembelajaran.
6. Menganalisisis kelebihan dan keterbatasan beberapa media.
7. Menjelaskan prosedur perencanaan pengembangan media
pembelajaran.

D. Uraian Materi
1. Konsep Dasar Pengembangan Media dan Sumber Belajar
Apakah yang dimaksud dengan media? Secara singkat dapat
dikatakan, media adalah sarana fisik yang berisi pesan atau sarana untuk
menyampaikan pesan. Menurut konsep dan kawasan teknologi
pendidikan/pembelajaran, media termasuk sumber belajar. Seperti
diketahui, menurut definisi dan kawasan teknologi pendidikan tahun 1977,
sumber belajar meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan.
Tabel 1 menunjukkan klasifikasi sumber belajar dilengkapi contoh-
contohnya.
Tabel 1: Klasifikasi Sumber Belajar
No. Jenis Sumber
Belajar
Contoh
1. Pesan (Message)
Kurikulum, matapelajaran, matakuliah, pokok
bahasan, topik, subtopik. Pengetahuan, sikap, dan
ketrampilan. Fakta konsep, prinsip, dan prosedur
2. Orang (Men)
Dosen, guru, fasilitator, instruktur, tutor, asisten,
penyiar, khotib.
3. Bahan (Software)
Kertas tulis, kertas gambar, film, CD/VCD Blank,
kaset audio, video, kanvas, gypsum.
4. Alat (Hardware)
Pesawat TV, pesawat radio, komputer, laptop.
LCD, OHP, proyektor filem, video palyer, DVD
palyer.
5.
Teknik
(Technique)
Strategi, metode, teknik, misalnya ceramah,
diskusi, debat, naratif, tanyajawab, simulasi,
permainan, dramatisasi.
6.
Lingkungan
(Setting)
Ruang kelas, ruang lab, perpustakaan, kebun
percobaan, tempat magang, workshop, ruang
studio.

Modul PLPG Penjaskes 2013
277
Klasifikasi sumber belajar tersebut (untuk memudahkan disingkat
POBATEL) disusun dengan menggunakan kerangka pikir: Apa (pesan),
oleh siapa (penyampai pesan), menggunakan bahan, alat, teknik, dan
lingkungan seperti apa sumber belajar itu difungsikan untuk membantu
proses pembelajaran peserta didik. Dari klasifikasi sumber belajar tersebut,
biasanya yang termasuk kategori media adalah bahan dan alat. Bahan berisi
pesan misalnya transparansi, sedangkan alat digunakan untuk
menyampaikan atau memproyeksikan pesan (misalnya Overhead Projector).
Sumber belajar dapat dibedakan menjadi sumber belajar yang
direncanakan (learning resource by design) dan digunakan (learning resource
by utilization). Sumber belajar yang direncanakan adalah segala sesuatu
yang sejak dibuat memang dimaksudkan untuk digunakan sebagai sumber
belajar. Misalnya kaset pelajaran bahasa Inggris, filem pendidikan,
program TV Pendidikan, ruang kelas, perpustakaan sekolah, dan
sebagainya.
Ditinjau dari segi bahasa, istilah media (jamak) medium (tunggal)
mengandung arti perantara. Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, istilah
media sering diartikan sebagai alat peraga. Dalam hubungannya dengan
komunikasi, media diartikan sebagai alat atau saluran komunikasi. Dalam
hubungannya dengan pembelajaran, media diartikan sebagai sarana fisik
yang digunakan untuk mengkomunikasikan atau menyampaikan pesan
pembelajaran kepada siswa (Gagne & Reiser, 1983, p. 5).
Media sebagai alat atau sarana fisik penyampai pesan dibedakan
menjadi dua, yaitu perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras
lazim disebut sebagai alat penampil pesan, misalnya pesawat radio,
pesawat televisi yang digunakan sebagai alat untuk menampilkan pesan
berupa suara, gambar, dan kombinasi gambar dan suara. Perangkat lunak
adalah sarana untuk menuangkan atau menyimpan pesan, misalnya kaset
untuk untuk menyimpan suara, filem untuk menyimpan gambar, buku
untuk menyimpan tulisan atau gambar.
Secara tradisional sejak zaman pra-sejarah, media dalam bentuknya
yang sedarhana sudah lama digunakan sebagai sarana komunikasi dan
sarana mengajarkan keterampilan. Ketika orang-orang masih hidup dalam
gua-gua, pahat, pasir, paku atau pisau dari batu, busur dan anak panah
telah digunakan untuk mengajarkan keterampilan sesuai dengan fungsi
atau kegunaan peralatan tersebut (Gafur, 1984, p. 2).
Dewasa ini, media sebagai produk teknologi komunikasi memegang
peranan penting dalam membantu tercapainya proses belajar mengajar.
Dunia sekarang boleh dikatakan adalah dunia media. Kegiatan belajar
mengajar sekarang telah bergerak menuju dikuranginya sistem
penyampaian ceramah, dan berpindah ke arah digunakannya banyak
media. Bahkan di negara-negara maju, media ini telah dikhawatirkan akan
menggeser fungsi pendidik.


Modul PLPG Penjaskes 2013
278
2. Peran Media dalam Pembelajaran
1) Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan perubahan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan
yang disebabkan oleh adanya interaksi antara individu peserta didik
dengan informasi atau lingkungan (Molenda, 1996:9). Terjadi proses belajar
jika terjadinya perubahan itu disebabkan oleh adanya interaksi peserta
didik dengan lingkungan belajar, bukan karena faktor pertumbuhan atau
kedewasaan (maturity). Proses belajar terjadi pada setiap saat. Belajar dapat
terjadi pada saat kita berjalan, menonton TV, mendengarkan radio,
bercakap-cakap dengan orang lain, dsb. Peristiwa belajar secara incidental
tersebut bukan yang menjadi titik perhatian para pendidik. Para pendidik
menekankan proses belajar yang terjadi dalam usaha kegiatan
pembelajaran.
2) Peran Media dalam Pembelajaran
Media mempunyai banyak peran dalam porses belajar mengajar atau
pembelajaran. Bentuk pembelajaran dapat berpusat pada guru (instructor-
directed instruction) atau berpusat pada siswa (student-centered learning).
Dalam bentuk pembelajaran berpusat pada guru, media digunakan oleh
guru sebagai alat bantu ajar (teaching aid). Dalam pembelajaran yang
berpusat pada siswa, media berperan sebagai media yang dapat mengajar
sendiri dengan tanpa atau sedikit bantuan guru (self instructional media).

3. Rasional Penggunaan Media
a. Rasional Penggunaan Media menurut Teori Komunikasi
Mengapa dalam proses pembelajaran diperlukan media? Proses
pembelajaran pada dasarnya mirip dengan proses komunikasi, yaitu proses
beralihnya pesan dari suatu sumber, menggunakan saluran, kepada
penerima, dengan tujuan untuk menimbulkan akibat atau hasil (Gafur,
1986, p.16). Model komunikasi terebut dikenal dengan nama model: Source
Message Channel Reciever Effect. Dalam proses pembelajaran, pesan
itu berupa materi pelajaran, sumber diperankan oleh pendidik, saluran
berupa media, penerima adalah siswa, sedangkan hasil berupa
bertambahnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
b. Rasional penggunaan media menurut teori informasi
Proses informasi adalah proses menerima, menyimpan dan
mengungkap kembali informasi. Dalam proses pembelajaran, proses
menerima informasi terjadi pada saat siswa menerima pelajaran. Proses
menyimpan informasi terjadi pada saat siswa harus menghafal,
memahami, dan mencerna pelajaran. Sedangkan proses mengungkap
kembali informasi terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat
siswa harus menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam
kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran,
penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke

Modul PLPG Penjaskes 2013
279
kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan
penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak
digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual
(gabungan media audio dan visual). Belakangan berkembang konsep
multimedia, yaitu penggunaan secara serentak lebih daripada satu media
dalam proses komunikasi, informasi dan pembelajaran. Konsep
multimedia diasarkan atas pertimbangan bahwa penggunaan lebih dari
pada satu media yang menyentuh banyak indera akan membuat proses
komunikasi termasuk proses pembelajaran lebih efektif.
c. Rasional penggunaan media menurut teori kerucut pengelaman
(cone experience)
Idealnya dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan
pengalaman nyata dan langsung kepada siswa. Semakin nyata, kongkrit
dan langsung, semakin mudah pula siswa dapat menangkap materi
pelajaran. Namun karena keadaan, tidak selamanya pendidik dapat
memberikan pengalaman secara langsung dan nyata. Karena itu sesuai
dengan teori kerucut pengalaman karya Edgar Dale, dalam mengajar jika
pengalaman langsung tidak mungkin dilaksanakan, maka digunakan
tiruan pengalaman, pengalaman yang didramatisaikan, demonstrasi,
karya wisata, pameran, televisi pendidikan, gambar hidup, gambar mati,
radio dan rekaman, lambang visual, dan lambang verbal (Gafur, 1984, p.
102).
Berhubung dengan itu pula, maka para pengembang sistem
pengajaran, para pendidik maupun dosen, dituntut untuk memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang berkenaan dengan media ini. Dalam
kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) atau
lembaga penghasil tenaga Pendidik/kependidikan, masalah media ini
termasuk dalam kelompok mata kuliah Proses Belajar Mengajar (PBM)
dengan beberapa sebutan, misalnya matakuliah Teknologi Pengajaran,
Media Pembelajaran, Produksi Media, Teknologi Informasi, dsb.
3. Fungsi Media Dalam Pembelajaran
Teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran lazimnya selalu
diasosiasikan dengan media TV, radio, slide tape, film, dan sebagainya,
yang kesemuanya termasuk dalam kategori perangkat keras dan perangkat
lunak (hardware dan software). Sebenarnya, pengertian teknologi pendidikan
lebih daripada sekedar perangkat keras dan perangkat lunak yang
digunakan untuk pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari salah satu definisi
teknologi pendidikan yang berbunyi "proses sistematis dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keseluruhan proses belajar
mengajar, dan proses komunikasi dengan melibatkan manusia dan sumber
belajar yang lain dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas
pembelajaran" (Anderson, 1976, p. 19).
Teknologi pendidikan merupakan bidang garapan yang berupaya
membantu proses belajar manusia dengan menggunakan sumber belajar
melaui fungsi pengembangan dan pengelolaan, naik pengelolaan
Modul PLPG Penjaskes 2013
280
organisasi maupun pengelolaan personalia (AECT, 1977). Teknologi
pembelajaran merupakan teori dan praktek tentang disain, pengembangan,
pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi terhadap proses dan sumber
untuk belajar (AECT 1994).
Penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan atas konsep dan
prinsip teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan seperti dikemukakan
di depan merupakan bidang garapan yang berusaha membantu proses
belajar manusia dengan jalan memanfaatkan secara optimal sumber-
sumber belajar melalui fungsi pengembangan dan pengelolaan, baik
pengelolaan organisasi maupun pengelolaan personel ( Gafur,dkk. 1986, p.
2).
Sumber belajar dimaksud meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik,
dan lingkungan (POBATEL). Sumber belajar dapat kelompokkan menjadi
dua, yaitu pertama sumber belajar yang direncanakan (misalnya TV
Pendidikan, Kaset Pendidikan, Modul, Transparansi), dan kedua sumber
belajar karena dimanfaatkan (misalnya ruang sidang pengadilan yang
digunakan oleh mahasiswa yang mempelajari cara mengadili).
Dengan menggunakan media sebagai produk teknologi pendidikan,
diharapkan dapat dipetik beberapa keuntungan, antara lain: pendidikan
menjadi lebih produktif, efektif, efisien, berdaya mampu tinggi, aktual,
serempak, merata, dan menarik.
Secara garis besar, fungsi media dalam pembelajaran dapat
dibedakan menjadi dua yaitu pertama sebagai alat bantu pembelajaran
(teaching aids), dan kedua sebagai media yang dapat digunakan untuk
belajar sendiri tanpa bantuan pendidik (self instructional media). Media
sebagai alat bantu pengajaran mengandung makna bahwa penggunaan
media tersebut tergantung pada pendidik. Media tersebut digunakan
untuk membantu pendidik dalam mengajar.
Contoh media sebagai alat bantu pembelajaran misalnya, kapur,
papan tulis, peta, bola dunia, bagan, grafik, proyektor slide,transparansi,
OHP, dsb. Semua media tadi merupakan alat bantu bagi pendidik dalam
mengajar. Media yang dapat digunakan untuk belajar sendiri dengan
sedikit atau tanpa bantuan Pendidik, misalnya modul, komputer
multimedia, paket pengajaran berprograma, buku resep, buku petunjuk
pengoperasian suatu peralatan (user manual),dan sebagainya.
Secara terperinci, media berguna atau berfungsi untuk:
a. Memperjelas konsep
Dengan menggunakan media, konsep yang abstrak dapat disajikan
menjadi nampak kongkit sehingga mudah dipahami. Misalnya definisi
di bidang filsafat, hukum, agama dengan kalimat yang panjang-
panjang dan abstrak, jika disajikan dengan media akan menjadi jelas.
b. Menyederhanakan materi pelajaran yang kompleks
Materi pelajaran yang kompleks susah untuk dipahami. Dengan
menggunakan media, materi pelajaran yang kompleks dapat
disederhanakan. Misalnya letak gedung pertemuan di suatu kota, jika

Modul PLPG Penjaskes 2013
281
disajikan dengan menggunakan denah akan mudah dicari letaknya.
c. Menampakdekatkan yang jauh, menampakjauhkan yang dekat
Obyek yang jauh maupun yang sangat dekat akan susah diamati.
Dengan menggunakan media teropong atau tele-lense, maka obyek
yang jauh akan nampak dekat. dan mudah diamati. Misalnya
penggunaan teropong bintang untuk mengamati bintang-bintang di
langit. Obyek yang terlalu dekat juga sulit diamati. Dengan
menggunakan mekanisme zoom in dan zoom out atau menggunakan
wide-angle lense maka obyek dapat dinampakjauhkan sehingga
mudah diamatyi. Contoh, pengambilan gambar dalam suatu ruangan
yang sempit. Dengan menggunakan wide-angle lense ataiu camera zoom
in dan zoom out, pemotret ataupuin cameramen dapat mengambil
gambar seluruh isi ruangan.
d. Menampakbesarkan yang kecil, menampakkecilkan yang besar
Obyek yang sangat kecil sulit diamati. Begitu pula obyek yang sangat
besar. Dengan menggunakan mikroskup maka obyek yang kecil seperti
bakteri dapat diamati. Obyek yang besar seperti bangunan gedung
bertingkat dan candi Borobudur, sulit diamati secara menyeluruh.
Dengan membuatkan model atau miniature, maka obyek-obyek yang
besar tersebut dapat diamati.
e. Menampakcepatkan dan menampaklambatkan proses
Dalam pembelajaran , pendidik akan mengalami kesulitan kalau harus
menjelaskan proses secara alami yang memakan waktu lama, misalnya
pertumbuhan tanaman. Untuk mempercepat pengamatan, maka
digunakan media video yang bias menampakcepatkan proses (fast
motion).
f. Obyek yang bergerak cepat sulit diamati gerakannya secara mendetail.
Dengan menggunakan video yang dapat memperlambat gerakan (slow
motion), maka gerakan obyek dapat diamati.
g. Menampakgerakkan yang statis, menampakstatiskan yang gerak
Obyek yang mempunyai fungsi gerak, misalnya roda, gigi versnelling,
zecker pada mesin sepeda motor, agar diketahui bagaimana
gerakannya dapat digunakan media video. Sebaliknya, kuda balap
yang sedang lari, dapat diamati dengan membuat gambar video dalam
keadaan berhenti (pause).
h. Menampilkan suara dan warna sesuai aslinya
Dengan suara atau gambar yang disajikan oleh pendidika belum tentu
dapat diperoleh suara dan warna yang jelas. Dengan menggunakan
rekaman suara dan potret berwrna maka suara dan warna dapat
disajikan dengan jelas. Misalnya rekaman ucapan bahasa Inggris oleh
native speaker. Foto warna daun, warna bendera berbagai Negara,
warna bunga, dan sebagainya.
4. Klasifikasi Media Pembelajaran
Klasifikasi berbagai jenis media perlu dipelajari agar kita dapat
memilih media dengan tepat. Media dapat diklasifikasikan dengan
Modul PLPG Penjaskes 2013
282
menggunakan berbagai kriteria. Ditinjau dari segi indera yang paling
banyak menerima rangsang media, maka media dapat diklasifikasikan
menjadi media audio, visual, dan audiovisual. Wilbur Schramm (1978)
mengklasifikasikan media menjadi dua kelomok, yaitu media besar dan
media kecil.
Heinich (1996, p.99, dan p.137) mengklasifikasikan media menjadi
dua kelompok yaitu pertama media yang tidak diproyeksikan, dan kedua
media yang diproyeksikan. Media yang tidak diproyeksiksn misalnya:
benda nyata, tiruan benda, model, mock-up, multimedia kit, bahan cetak,
alat peraga, herbarium, insectarium, benda pajangan, dan sebagainya.
Sedangkan media yang diproyeksikan misalnya: Overhead Projector (OHP),
komputer multimedia yang diproyeksikan, filem suara, slide suara,
filemstrips, video, opaque, presentasi multimedia, dan sebagainya.
Media dapat pula dikalsifikasikan sesuai fungsinya dalam
pembelajaran, yaitu media sebagai alat bantu pembelajaran atau media
yang digunakan untuk belajar mandiri. Di negara-negara maju dewasa ini,
pengelompokan media menjadai dua yaitu media berbasis komputer dan
media berbasis non komputer.
Berikut disajikan beberapa klasifikasi media ditinjau dari dari
berbagai segi:
a. Klasifikasi media ditinjau dari segi fungsi
Ditinjau dari segi fungsinya, media dapat diklasifikasikan menjadi
dua yaitu pertama sebagai alat bantu mengajar (teaching aid) dan dua
sebagai media yang digunakan untuk belajar sendiri tanpa bantuan
Pendidik (self instructional media):
Tabel 2: Klasifikasi Media Menurut Fungsinya
Kelompok media Media Pembelajaran Mandiri
(self instructional media)
Alat Bantu Pengajaran
(teaching aids)
1. Audio (suara)

- Audio tape (open reel,
casette tape)
- Telepon
- Intercom
2. Bahan cetak (termasuk
gambar/foto)
- Teks Terprogram,
- Manual
- Modul
- Buku pedoman/petunjuk

- Hand out
- Papan tulis
- Grafik
- Transparansi
- Peta
- Globe
3. Gambar mati yang
diproyeksikan
- Slide, film strip (bisa
disertai narasi/penjelasan)
- Slide
- Transparansi
- Film strip
4. Audio-cetak (kombinasi
1 dan 2)
- Lembaran kerja disertai
tape
- Peta/diagram disertai
narasi
- Lembarankerja disertai
audio tape
- Peta/diagram disertai
narasi
5. Audio visual yang
diproyeksikan
- Film strip diberi narasi
- Sound-slide
-
6. Gambar bergerak - Film tanpa suara - Film tanpa suara
7. Gambar/film bersuara - Film bersuara
- Video-tape
- Film bersuara, video tape

Modul PLPG Penjaskes 2013
283
Kelompok media Media Pembelajaran Mandiri
(self instructional media)
Alat Bantu Pengajaran
(teaching aids)
- Audio-vision (Video disertai
alat peraga benda nyata)
8. Obyek/benda - Benda nyata
- Model/tiruan benda
- Specimen
- Benda nyata
- Model/tiruan benda
9. Hubungan antar pribadi
dan pengalaman
langsung (Pendidik,
teman sejawat)
- - Permainan
- Simulasi
- Kunjungan lapangan
- Diskusi kelompok
10. Komputer Komputer Alat Bantu Ajar
(CAI)
Internet
Web Course Tool (WBCT)
- Komputer multimedia

b. Klasifikasi media berdasar digunakan atau tidaknya alat penampil
1) Media yang diproyeksikan
Media yang diproyeksikan adalah media yang pemanfaatannya
memerlukan alat penampil (proyektor). Misalnya overhead
transparansi memerlukan OHP, filem memerlukan proyektor filem;
slides, slide suara, filmstrip, proyektor opaque, bahan presentasi
powerpoint, LCD.

2) Media yang tidak diproyeksikan
Media yang tidak diproyeksikan adalah media yang pemanfaatannya
tidak memerlukan alat penampil (proyektor). Misalnya benda tiga
dimensi, benda nyata, tiruan benda, model, kit multimedia, bahan
cetak, gambar, bagan, peta, dsb.

c. Klasifkasi media berdasar kompleksitasnya
1) Media kecil
Media kecil adalah media yang ditinjau dari segi pembuatan maupun
pemanfaatannya relatif sederhana. Ditinjau dari segi harga tidak
terlalu mahal. Misalnya alat peraga matematika sederhana.
2) Media besar
Media besar adalah media yang segi pembuatan maupun
pemanfaatannya bersifat kompleks atau rumuti. Ditinjau dari segi
biaya memerlukan biaya besar. Contoh media besar: komputer,
televisi, internet.
d. Klasifikasi media dalam hubungannya komputer
11) Media berbasis komputer
Media berbasis komputer adalah media yang pembuatan maupun
pemanfaatannya menggunakan komputer. Contoh: VCD, DVD, CAI,
internet, web pembelajaran, e-learning.
Modul PLPG Penjaskes 2013
284
12) Media berbasis nonkomputer
Media berbasis nonkomputer adalah media yang pembeuatan
maupun pemanfaatan-nya tidak memerlukan komputer. Misalnya:
kaset audio, kaset video, OHP/OHT.

5. Analisis Kelebihan Dan Keterbatasan Beberapa Media
Kelebihan dan keterbatasan berbagai jenis media perlu kita pelajari
agar kita dapat memilih media yang tepat, yaitu media yang memiliki
banyak keunggulan dengan sedikit mungkin keterbatasan. Beberapa media
yang klasifikasinya telah dikemukakan di atas memiliki kelebihan atau
keunggulan di samping keterbatasan masing-masing.
Berikut disajikan hasil identifikasi kelebihan dan keterbatasan
beberapa media:
a. Media Radio
1) Kelebihan media radio
a) Meningkatkan kemampuan murid untuk berkomunikasi secara
lisan (misalnya kemampuan mendengarkan, intonasi, ucapan,
dan sebagainya)
b) Mampu menyampaikan pesan-pesan yang karena sifatnya lebih
menarik kalau disajikan atau disampaikan secara auditif
(menyentuh indera pendengaran).
c) Mengembangkan imaginasi murid.
d) Menyampaikan suara atau bunyi asli yang tidak bisa diperoleh
secara langsung dan segera, misalnya suara toke-toke, bunyi
binatang, suara mesin pesawat jet, dan sebagainya.
e) Memiliki jangkauan yang luas dan dalam waktu yang relatif
singkat.
f) Program radio dipersiapkan dengan lebih baik oleh team ahli,
dengan bahan-bahan yang relatif lebih luas sehingga kualitas
materi pelajaran dan isinya lebih bermutu.
g) Mudah dijangkau oleh daya beli masyarakat karena harganya
yang relatif murah.
h) Harga dan biaya pemeliharaan cukup murah.
i) Program radio relatif mudah di buat.
j) Radio mampu menyampaikan kebijaksanaan, informasi
secara cepat dan akurat.
k) Pesawat radio mudah dibawa kemana-mana.
2) Keterbatasan media radio
a) Sarana komunikasi satu arah.
b) Sarana penyampai program yang hanya satu kali, tak dapat
dihentikan untuk diulang (diluar kontrol pendengaran/
audience ).
c) Terikat oleh alat pemancaran dan waktu.
d) Terlalu peka terhadap gangguan sekitar.
e) Hanya dapat didengar saja/menjangkau indera ya ng terbatas.

Modul PLPG Penjaskes 2013
285
f) Terbatasnya bahan pelajaran yang dapat disampaikan dalam
satu program karena terbatasnya intensitas daya dengar murid.

b. Media Kaset Audio
1) Kelebihan media kaset
Selain kelebihan-kelebihan yang sama dengan media radio, media
kaset, memiliki kelebihan lain :
a) Kaset mulai membudaya dalam masyarakat Indonesia
b) Program kaset dapat digunakan secara perseorangan maupun
kelompok.
c) Dapat diulang setiap waktu
d) Mudah diperbanyak.
e) Mudah menggunakannya.
2) Keterbatasan media kaset
a) Media untuk didengar saja
b) Media satu arah
c) Tidak memiliki jangkauan yang luas.

c. Media Slide-Suara
1) Kelebihan media slide-suara
a) Sebagai pengganti pengalaman langsung
b) Untuk memperjelas dan melengkap informasi yang memerlukan
banyak visualisasi.
c) Untuk memberikan pematangan pada bagian-bagian yang
dipandang perlu.
d) Membuat pelajaran lebih menarik dan menghindari kebosanan.
e) Sebagai bagian pengayaan.
f) Dapat menampilkan di layar sesuatu yang tak mungkin
disaksikan dengan mata biasa.
g) Dapat dilihat dan didengar (menjangkau lebih dari satu indera).

2) Keterbatasan media slide suara
a) Pembuatannya relatif sulit dan mahal daripada program radio
dan kaset.
b) Penggunaannya lebih sulit daripada radio dan kaset.
c) Visualisasinya tidak bisa menggambarkan gerakan.
d) Pemeliharaan dan penyimpangannya relatif sukar.
e) Daya jangkau terbatas.
f) Memerlukan fasilitas dan perlengkapan yang khusus (ruang
gelap, layar, tenaga listrik).

d. Media komputer
1) Kelebihan/keunggulan
a) Menghemat waktu
b) Kendali belajar pada siswa
Modul PLPG Penjaskes 2013
286
c) Dapat memberikan umpan balik dan penguatan secara
otomatis
d) Bisa untuk belajar secara individual/mandiri
e) Dapat menyesuaikan dengan kecepatan, kesempatan, dan
kebutuhan siswa
f) Mempunyai daya tarik visual, audio, maupun audiovisual
terutama pada computer multimedia
g) Dapat mengelola dan mencatat informasi secara teratur
h) Dapat memberi pengalaman belajar yang berbeda-beda.
i) Konsisten
j) Efektif dan efisien
k) Ketepatan komunikasi
2) Kelemahan
a) Biaya mahal
b) Kompatibiltas kurang
c) Kurang membantu terjadinya interaksi social
d) Kurangnya perangkat lunak yang tersedia di pasaran
e) Pemeliharaan mahal dan perlu keahlian
f) Ketergantungan pada pasokan listrik.
g) Perlu keahlian untuk pembuatan program.

6. Prosedur Perencanaan Pengembangan Media Pembelajaran
Secara umum perencanaan pengembangan media dapat
diidentifikasi sebagai berikut: (1) mengidentifikasi kebutuhan dan
karakteristik siswa (2) merumuskan tujuan pembelajaran, (3)
mengembangkan materi, (4) menetapkan alat pengukur keberhasilan, (5)
menuliskan naskah media, (5) merumuskan instrumen dan tes dan revisi.
Untuk lebih jelasnya, terlihat pada flow chart berikut ini.

Gambar: Prosedur Pengembangan Media
Identifikasi
Kebutuhan &
Karakteristik
Siswa

Perumusan
Tujuan
Mengembangkan
Materi
Menetapkan Alat
Pengukur
Keberhasilan

Penulisan Naskah
Media
Tes / Uji Coba
REVISI

NASKAH
siap produksi
Tidak
ya
GBPM

Modul PLPG Penjaskes 2013
287
a. Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa
Sebuah perencanaan media didasarkan atas kebutuhan. Kebutuhan
terjadi karena terdapat kesenjangan (gap). Kesenjangan adalah adanya
ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan
dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan
kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan
dan sikap siswa yang kita inginkan dengan kemampuan, keterampilan dan
sikap siswa yang mereka miliki sekarang. Jika yang kita inginkan siswa
menguasai 1000 kosa kata bahasa Inggris, sedangkan siswa hanya
menguasai 500 kata, maka terjadi kesenjangan 500 kata lagi. Dalam hal ini
dibutuhkan sebuah pembelajaran bagaimana meningkatkan kemampuan
penguasaan kosa kata sehingga sampai pada target 500 kata.
Kebutuhan akan media dapat didasarkan atas tuntutan kurikulum.
Siswa kelas enam SD pada akhir tahun diharapkan memiliki sejumlah
kemampuan, keterampilan dan sikap yang telah dirumuskan dalam
kurikulum. Pada awal tahun ajaran tentulah guru menghadapi
kesenjangan untuk mencapai target kurikulum sehingga pada akhir tahun
kemampuan itu sudah dapat dimiliki siswa.
Media yang digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan
yang dimiliki siswa. Misalnya seorang siswa yang ingin belajar ucapan dan
percakapan dalam bahasa Inggris melalui kaset audio, hanya akan dapat
mengikutinya jika siswa tersebut telah memiliki kemampuan awal berupa
penguasaan kosa kata dan dapat menyusun kalimat sederhana. Jika kita
tidak memperhatikan kemampuan tersebut ketika diberikan media
tersebut siswa akan mengalami kesulitan.
b. Perumusan Tujuan Program
Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan
karena dengan tujuan akan mempengaruhi arah dan tindakan kita. Dengan
tujuan itu pulalah kita dapat mengetahui apakah target sudah dapat
tercapai atau tidak. Berangkat dari tujuan, baik guru maupun siswa
memiliki kejelasan apa yang harus dicapai, apa yang harus dilakukan
untuk mewujudkan tujuan tersebut, materi apa yang harus disiapkan guru,
dan bagaimana menyampaikannya.
Untuk memudahkan merumuskan tujuan pembelajaran, Degeng
(1989) membuat formula rumusan tujuan dengan rumus ABCD dengan
penjelasan sebagai berikut :

A
Audience, artinya sasaran sebagai pebelajar yang perlu dijelaskan
secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan tersebut diberikan.
Sasaran yang dimaksud di sini misalnya, siswa SMA kelas XII dan
lain-lain
B
Behaviour, adalah perilaku spesifik yang diharapkan dilakukan atau
dimunculkan siswa setelah pembelajaran berlangsung. Behaviour ini
di rumuskan dalam bentuk kata kerja, contohnya : menjelaskan,
menyebutkan, merinci, mengidentifikasi, memberikan contoh dan
sebagainya
Modul PLPG Penjaskes 2013
288
C
Conditioning, Sesuatu yang diberikan atau tidak diberikan ketika
siswa menampilkan perilaku, misalnya : dengan cara mengamati,
tanpa membaca kamus, dengan menggunakan kalkulator
D
Degree, adalah batas minimal tingkat keberhasilan yang harus
dipenuhi dalam mencapai perilaku yang diharapkan. Ada jenis 5
derajad keberhasilan, yakni: waktu, kesesuaian prosedur, kualitas,
kuantitas, kecermatan. Penentuan ini tergantung pada jenis bahan
materi, penting tidaknya materi. Contoh : 3 buah, minimal 80%, sesui
dengan prosedur, dan sebagainya
c. Perumusan Materi
Perumusan materi berkaitan dengan substansi isi pelajaran yang
harus diberikan. Materi perlu disusun dengan memperhatikan kriteria
kriteria tertentu. Pertama, sahih atau valid, materi yang dituangkan dalam
media untuk pembelajaran benar-benar telah teruji kebenarannya dan
kesahihannya. Hal ini juga berkaitan dengan keaktualan materi sehingga
materi yang disiapkan tidak ketinggalan jaman, dan memberikan
kontribusi untuk masa yang akan datang. Kedua, tingkat kepentingan
(significant), dalam memilih materi perlu dipertimbangkan pertanyaan
sebagai berikut, sejauhmana materi tersebut penting untuk dipelajari?
Penting untuk siapa? Dimana dan mengapa?.Dengan demikian materi
yang diberikan kepada siswa tersebut benar-benar yang dibutuhkannya.
Ketiga, kebermanfaatan (utility) kebermanfaatan yang dimaksud
haruslah dipandang dari dua sudut pandang yaitu kebermanfaatan secara
akademis dan non akademis, secara akademis materi harus bermanfaat
untuk meningkatkan kemampuan siswa, sedangkan non akademis materi
harus menjadi bekal berupa life skill baik berupa pengetahuan aplikatif,
keterampilan dan sikap yang dibutuhkannya dalam kehidupan keseharian.
Keempat, Learnability artinya sebuah program harus dimungkinkan untuk
dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah, sulit
ataupun sukar) dan bahan ajar tersebut layak digunakan sesuai dengan
kebutuhan setempat. (5) Menarik minat (interest) materi yang dipilih
hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk
mempelajarinya lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa
harus menimbulkan keingin tahuan lebih lanjut, sehingga memunculkan
dorongan lebih tinggi untuk belajar secara aktif dan mandiri.

d. Perumusan Alat Pengukur Keberhasilan
Pembelajaran yang kita lakukan haruslah diukur apakah tujuan
pembelajaran sudah tercapai atau tidak? Untuk mengukur hal tersebut,
maka diperlukan alat pengukur hasil belajar, misalnya berupa tes,
penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan belajar ini
perlu dikembangkan dengan berpijak pada tujuan yang telah dirumuskan
dan harus sesuai dengan materi yang sudah disiapkan. Yang perlu dikur
adalah tiga kemampuan utama yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap
yang telah dirumuskan secara rinci dalam tujuan. Dengan demikian

Modul PLPG Penjaskes 2013
289
terdapat hubungan yang erat antara tujuan, materi dan tes pengukur
keberhasilan.

e. Penulisan Garis Besar Program Media (GBPM)
GBPM merupakan petunjuk yang dijadikan pedoman oleh para
penulis naskah di dalam penulisan naskah program media. GBPM dibuat
dengan mengacu pada analisis kebutuhan, tujuan, dan materi. Untuk
program media, GBPM disusun setelah dilakukan telaah topik yang akan
dibuat programnya. Kegiatan telaah topik ini perlu dilakukan, karena tidak
semua topik yang ada dalam GBPP cocok untuk dibuat media tertentu
misalnya video atau radio. Misalnya topik-topik yang berisi materi
pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
psikomotorik yang memerlukan penjelasan visual. Topik-topik yang
menampilkan kemampuan psikomotorik lebih cocok diproduksi untuk
media video atau media cetak atau tatap muka di kelas. misalnya: Rumus-
rumus yang sulit yang menghendaki waktu lama untuk penjelasannya bila
ditampilkan di layar TV. Rumus ini akan lebih jelas kalau disajikan di
depan kelas.

E. Rangkuman
Media adalah sarana fisik yang berisi pesan atau sarana untuk
menyampaikan pesan. Menurut konsep dan kawasan teknologi
pendidikan/pembelajaran, media termasuk sumber belajar. Seperti
diketahui, menurut definisi dan kawasan teknologi pendidikan tahun 1977,
sumber belajar meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan.
Sumber belajar dapat dibedakan menjadi sumber belajar yang
direncanakan (learning resource by design) dan digunakan (learning resource
by utilization). Sumber belajar yang direncanakan adalah segala sesuatu
yang sejak dibuat memang dimaksudkan untuk digunakan sebagai sumber
belajar. Misalnya kaset pelajaran bahasa Inggris, filem pendidikan,
program TV Pendidikan, ruang kelas, perpustakaan sekolah, dan
sebagainya.
Penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan atas konsep dan
prinsip teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan seperti dikemukakan
di depan merupakan bidang garapan yang berusaha membantu proses
belajar manusia dengan jalan memanfaatkan secara optimal sumber-
sumber belajar melalui fungsi pengembangan dan pengelolaan, baik
pengelolaan organisasi maupun pengelolaan personel.

F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!

6. Jelaskan yang dimaksud dengan media pembelajaran!
Modul PLPG Penjaskes 2013
290
7. Sebutkan jenis-jenis media pembelajaran!
8. Jelaskan peran media dalam proses pembelajaran!
9. Sebutkan klasifikasi media pembelajaran!
10. Jelaskan prosedur perencanaan pengembangan media pembelajaran!
Soal Latihan Pilihan Berganda
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang merupakan
jawaban paling benar!
11. Kurikulum, mata pelajaran, mata kuliah, pokok bahasan, topik, sub topik,
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan merupakan sumber pembelajaran
jenis . . . .
Q. pesan
R. orang
S. bahan
T. alat
12. Segala sesuatu yang sejak dibuat memang dimaksudkan untuk
digunakan sebagai sumber belajar adalah jenis sumber belajar . . . .
A. digunakan
B. direncanakan
C. dimanfaatkan
D. difungsikan
13. Proses sistematis dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
keseluruhan proses belajar mengajar, dan proses komunikasi dengan
melibatkan manusia dan sumber belajar yang lain dengan tujuan
untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran . . . .
A. sumber pembelajaran
B. alat pembelajaran
C. teknologi pendidikan
D. media pembelajaran
14. Overhead Projector (OHP), komputer multimedia yang diproyeksikan,
filem suara, slide suara, filemstrips, video, opaque, presentasi
multimedia, dan sebagainya merupakan jenis media. . . .
A. besar
B. kecil
C. tidak diproyeksikan
D. diproyeksikan
15. Mempunyai daya tarik visual, audio, maupun audiovisual
merupakan kelebihan jenis media . . . .
A. radio
B. televise
C. computer
D. slide



Modul PLPG Penjaskes 2013
291
Kunci Jawaban
1. A
2. B
3. C
4. D
5. C

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Gafur (1986). Disain Instruksional : Suatu Langkah Sistematis
Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar, Sala : Tiga
Serangkai, 1986.
Abdul Gafur (1986) Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali.
Abdul Gafur (1985) Media Besar Media Kecil : Alat dan Teknologi Pengajaran
(Terjemahan) Semarang: IKIP Semarang Press.
AECT (1986) Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali.
Abdul Gafur (2001) Pengorganisasian dan Pengadministrasian Lab-Site.
Jakarta: Universitas Terbuka.
American Association of School Librarians & AECT (1995). Media Programs:
District and School. Washington: ALA & AECT Publications.
Anglin Gary J. (1991). Instructional Technology: Past, present,
and Future. Colorado: Englewood.
Anderson, Ronald (1983) Selecting and developing media for instruction. New
Jersey: Van Nortrand & Reinhold Co.
Aitken, Peter G. (1994) Panduan cepat menggunakan Microsoft Ofrfice.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Heinich, R., Molenda, M., Russel J, Smaldino, S. (1996). Instructinal media
and technologies for learning. Sydney: Printice-Hall International.

Modul PLPG Penjaskes 2013
292
BAB XIII
SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN PENJASORKES

A. Pokok-pokok Isi Materi
Pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan
wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini diikuti
dengan perubahan pengelolaan pendidikan dari bersifat sentralistik ke
desentralistik. Desentralisasi pengelolaan pendidikan ini diwujudkan
dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Selanjutnya tuntutan globalisasi dalam bidang pendidikan juga
perlu dipertimbangkan agar hasil pendidikan nasional dapat bersaing
dengan hasil pendidikan negara-negara maju.
Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu
didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan
pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa,
keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian,
sekolah atau daerah sekolah memiliki cukup kewenangan untuk
merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, pengelolaan
pengalaman belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan suatu proses
belajar dan mengajar.
Secara lengkap di dalam PP RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan dijelaskan : (1) Kurikulum dan silabus
SD/MI/SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat menekankan
pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan
berhitung serta kemampuan berkomunikasi (pasal 6 ayat 6). (2) Sekolah dan
Komite Sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan
kurikulum tingkat satuan tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di
bawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang bertanggung
jawab terhadap pendidikan untuk TK, SMP, SMA, dan SMK, dan
Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk
MI, MTs, MA, dan MAK (pasal 17 ayat 2), (3) Perencanaan proses
pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang
memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode
pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal 20).
Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang
gerak yang seluas-luasnya untuk melakukan modifikasi dan
mengembangkan variasi-variasi penyelenggaraan pendidikan sesuai
dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah serta kondisi siswa.
Materi pendidikan jasmani pada era terkini dikelompokkan pada;
aktivitas olahraga dan permainan (atletik, permainan bola besar dan kecil,
dangan dan tanpa alat, serta bela diri), uji diri/senam, aktivitas ritmik,

Modul PLPG Penjaskes 2013
293
akuatik (aktivitas air), dan pendidikan luar kelas (outdoor). Pemahaman
akan konsep berbagai kelompok materi tersebut diharapkan memberi
peluang kepada peserta didik untuk menyadari mengapa manusia
bergerak, cara melakukan berbagai gerak tersebut secara aman, efisien, dan
efektif. Kesadaran ini perlu ditumbuhkan melalui proses pembelajaran
yang terencana, bertahap, dan berkelanjutan, sehingga tujuan akhir proses
tersebut dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Keberhasilan suatu proses (apapun itu), akan sangat tergantung pada
kualitas perencanaannya, tidak terkecuali proses pembelajaran. Atas dasar
pertimbangan ini maka perlu disampaikan berbagai informasi yang terkait
dengan perencanaan pembelajaran yaitu pengembangan silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran.
Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pengembangan
perencanaan pembelajaran Penjasorkes ini berisi tentang: landasan yuridis
pengembangan perencanaan pembelajaran, analisis standar isi, analisis SK-
KD dalam penjasorkes, konsep pengembangan perencanaan pembelajaran,
dan konsep silabus dan RPP. Secara praktik berisi tentang silabus dan RPP
sesuai dengan langkah dan prosedur yang benar.

B. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
1. Standar Kompetensi
Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
2. Kompetensi Dasar
a. Menganalisis prinsip perancangan pembelajaran yang
mendidik.
b. Menyusun rancangan pembelajaran yang lengkap untuk
kegiatan di lapangan.
c. Melaksanakan rancangan pembelajaran yang lengkap untuk
kegiatan di lapangan.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
Penjasorkes ini Bapak/ibu akan memiliki kompetensi yang tercermin dari
indikator sebagai berikut:
a. Menjelaskan landasan yuridis pengembangan perencanaan
pembelajaran.
b. Menganalisis standar isi dan analisis SK-KD dalam penjasorkes.
c. Menjelaskan konsep pengembangan perencanaan pembelajaran
dengan berbagai model, dan konsep pengembangan silabus dan RPP.
d. Melakukan pengembangan silabus dan RPP dengan berbagai model
pembelajaran Penjasorkes.

D. Uraian Materi
Modul PLPG Penjaskes 2013
294
1. Konsep Perencanaan Pembelajaran
a. Pengertian Silabus
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi
dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dengan demikian, silabus pada
dasarnya menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: (1) apa
kompetensi yang harus dicapai siswa yang dirumuskan dalam standar
kompetensi, kompetensi dasar dan materi pokok; (2) bagaimana cara
mencapainya yang dijabarkan dalam pengalaman belajar beserta alokasi
waktu dan alat sera sumber belajar yang diperlukan; dan (3) bagaimana
mengetahui pencapaian kompetensi yang ditandai dengan penyusunan
indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan
dinilai.


Selain pengertian tersebut dapat dipahami pengertian berikut, bahwa
silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan
sumber belajar. Pada konteks ini, yang dimaksud mata pelajaran tersebut
adalah pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.

b. Landasan Perencanaan Pembelajaran
1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor
78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 32. tahun 2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5410);
3) Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan
Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 141); 4.
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan,
Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi,
Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 92
Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011

Modul PLPG Penjaskes 2013
295
Nomor 142); 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P
Tahun 2009 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden
Nomor 5/P Tahun 2013;
4) PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 17 Ayat (2); Sekolah dan komite
sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan
kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan
kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di
bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan
departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama
untuk MI. MTs, MA, dan MAK.
5) PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20; Perencanaan proses pembelajaran
meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang
memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar,
metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar
6) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 65 tahun 2013 Tanggal 04 Juni 2013 Standar Proses Untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah


c. Prinsip Perencaan Pembelajaran
1) Ilmiah; Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan
dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
keilmuan. Prinsip berpikir ilmiah adalah bahwa suatu kegiatan
penyusunan didasari dengan landasan teoretik yang benar, melalui
tahapan yang seharusnya ditempuh, dan hasil yang diperoleh dapat
diterapkan dalam pengalaman nyata di sekolah.
2) Relevan; silabus yang dikembangkan memiliki kesesuaian dengan
mata pelajaran, materi pokok yang akan diajarkan, serta kebutuhan
peserta didik. Pertimbangan akan tingkat perkembangan fisik,
intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik memberi
arah kesesuaian ini, selain berbagai hal yang terkait dengan proses
pembelajaran misalnya tersedianya sumber, media, bahan, serta
lingkungan belajarnya . Jika berbagai hal tersebut telah dilakukan,
pengembang kemudian mencermati cakupan, kedalaman, tingkat
kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus.
3) Sistemis dan Sistematis; komponen-komponen di dalam silabus
saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, baik secara
struktur maupun fungsi dalam upaya mencapai kompetensi yang
dimaksud. Sebagai sebuah sistem, keberadaan komponen-
komponen minimal tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan
lainnya. Penulisan berbagai komponen tersebut sesuai dengan tata
urutannya, sehingga yang perlu didahulukan diletakkan di awal dan
yang lainnya dikemudiankan. Namun demikian jika tidak
Modul PLPG Penjaskes 2013
296
berurutanpun tidak menjadi sebuah masalah yang berarti, karena
masing-masing memiliki alasan tersendiri, berdasarkan prinsip
keilmiahannya.
4) Konsisten; Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar,
sumber belajar, dan sistem penilaian.
5) Memadai; silabus yang dianggap memadai adalah silabus yang
memiliki kecukupan dan ketercakupan. Kecukupan berkaitan
dengan kedalaman materi yang dituliskan dalam silbus tersebut,
sedangkan ketercakupan adalah ukuran yang menyatakan keluasan
jangkauan dari materi yang dituliskan pada silabus. Materi yang
dituliskan dalam silabus meliputi; indikator, materi pokok,
pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup
untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6) Aktual dan Kontekstual; ilmu pengetahuan berkembang secara
dinamis. Perkembangan ini membawa konskwensi akan kebutuhan
informasi yang bersifat kekinian (up to date), yang benar-benar
diperlukan oleh peserta didik, tidak terkecuali dalam mata pelajaran
pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Untuk memenuhi
tuntutan tersebut, maka cakupan indikator, materi pokok, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian haarus pula
memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7) Fleksibel; silabus disusun untuk memberi rambu-rambu kegiatan
apa yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran, baik oleh peserta
didik maupun guru. Rambu-rambu yang dipakai tidak sedemikian
rupa kaku, atau dengan kata lain memiliki daya adaptasi, sehingga
mampu disesuaikan dengan berbagai kondisi yang terjadi saat
berlangsungnya pembelajaran. Keseluruhan komponen silabus
harus dapat mengakomodir berbagai kondisi tersebut, yaitu variasi
karakteristik peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan lain
yang terjadi di sekolah maupun tuntutan di lingkungan yang lebih
luas (masyarakat).
8) Menyeluruh; tujuan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga,
dan kesehatan tidak hanya bersentuhan dengan ranah keterampilan
saja, melainkan juga meliputi aspek pengetahuan, dan pembentukan
sikap, untuk itu komponen silabus yang dituliskan hendaknya juga
mencakup keseluruhan ranah kompetensi tersebut (kognitif, afektif,
psikomotor).
d. Pengembangan Perencanaan Pembelajaran
Pengembangan perencanaan pembelajaran dapat dilakukan oleh para guru
secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa
sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau
Kelompok Kegiatan Guru (KKG), dan Dinas Pendidikan.

Modul PLPG Penjaskes 2013
297
1) Guru; sebagai tenaga profesional yang memiliki tangung jawab
langsung terhadap kemajuan belajar peserta didik, seorang guru
diharapkan mampu mengembangkan silabus sesuai dengan
kompetensi mata ajarnya secara mandiri. Guru adalah orang yang
paling tahu dan mengenal karakteristik peserta didik dan kondisi
sekolah serta lingkungan belajarnya, sehingga guru harus mampu
mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik tersebut. Terkait
dengan ini maka sudah menjadi kewajiban, bahwa seorang guru
pendidikan jasmani harus mampu melakukan penyusunan atau bahkan
mengembangkan silabus sebagai sebuah rencana dalam rangka
memenuhi kebutuhan belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi
yang diinginkan.
2) Kelompok Guru; kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran dapat
melakukan pengembangan silabus secara bersama-sama sebagai sebuah
kelompok pengemabang silabus. Hal ini dilakukan ketika belum semua
guru dapat melakukan pengembangan silabus secara mandiri. Sekolah
harus bertanggung jawab untuk memfasilitasi upaya ini, karena
bagaimanapun hasil dari tim pengembang ini merupakan hasil dari
sekolah tersebut.
3) Musyawarah Guru Mata Pelajaran atau Kelompok Kerja Guru
(MGMP/KKG); Pengembangan silabus yang dilakukan di
MGMP/KKG dimaksudkan untuk mengantisipasi beberapa guru
maupun tim pengembang di berbagai sekolah yang belum mampu
mengembangkan silabus secara mandiri. Selain tujuan tersebut,
kegiatan ini dilakukan agar ditemukan kesepakatan bersama bahwa
bentuk, format, maupun isi silabus yang akan digunakan dalam satu
wilayah yang memiliki karakter peserta didik dan kondisi lingkungan
yang hampir sama, akan diseragamkan, sehingga memudahkan dalam
pengorganisasian dokumen dan pengawasannya. Sekali lagi perlu
dipertegas, kondisi ini sebaiknya dilakukan hanya jika guru mata
pelajaran memang benar-benar tidak mampu mengembangkan silabus
pembelajaran, serta karakter peserta didik dan kondisi lingkungan yang
cenderung sama.
4) Dinas Pendidikan; Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi
penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari
para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.
Dalam pengembangan silabus penjasorkes ini sekolah, kelompok kerja
guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari
perguruan tinggi, LPMP, PPPPTK atau unit utama lain yang ada di
Depatemen Pendidikan Nasional.


Modul PLPG Penjaskes 2013
298
e. Komponen Silabus
Silabus merupakan acuanpenyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap
bahan kajian mata pelajaran. Silabus paling sedikitmemuat:
a. Identitas mata pelajaran (khususSMP/MTs/SMPLB/Paket
BdanSMA/MA/SMALB/ SMK/MAK/Paket C/ Paket C Kejuruan);
b. Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas;
c. Kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai
kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan
mata pelajaran;
d. Kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata
pelajaran;
e. Tema(khususSD/MI/SDLB/Paket A);
f. Materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan
indikator pencapaian kompetensi;
g. Pembelajaran,yaitukegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta
didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan;
h. Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi
untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;
i. Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur
kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan j. sumber belajar,
dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau
sumber belajar lain yang relevan.

Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan
dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai
dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu.Silabus
digunakan sebagaiacuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Komponen ini dapat diletakkan secara berurutan dari
nomor 1 hingga 9, atau dapat saja bertukar tempat asalkan memiliki alasan
yang tepat dan tidak menyalahi prinsip pengembangan.

f. Format Penyajian Silabus
Dalam menyusun silabus, penyusun silabus dapat memilih salah satu
model format di antara beberapa contoh format berikut ini:
SILABUS
Nama Sekolah : .
Mata Pelajaran : .
Kelas/Semester : / .


Modul PLPG Penjaskes 2013
299
Standar Kompetensi : .......

Kompetens
i Dasar
Mater
i
Pokok
Pengalama
n Belajar
Indikato
r
Penilaia
n
Alokas
i
Waktu
Sumber
/
Bahan/
Alat
... ... ... ... ... ... ...

g. Tahapan Pengembangan Silabus
1) Perencanaan; guru sebagai perorangan maupun anggota tim yang
ditugaskan untuk menyusun dan mengembangkan silabus terlebih
dahulu perlu mengumpulkan informasi dan mempersiapkan
kepustakaan atau referensi yang sesuai untuk mengembangkan
silabus. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan
perangkat teknologi dan informasi seperti multi-media dan internet.
Selain kegiatan tersebut, juga dilakukan rencana kegiatan tahap
demi tahap sehingga seluruh kegiatan berlangsung efektif dan tepat
waktu.
2) Pelaksanaan pengembangan; dalam melaksanakan penyusunan
silabus perlu dipahami semua perangkat yang berhubungan dengan
penyusunan silabus tersebut, seperti Standar Isi dan Standar
Kompetensi Lulusan sesuai dengan mata pelajaran pendidikan
jasmani, olahraga, dan kesehatan dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan. Pelaksanaan penyusunan silabus sesuai dengan
prinsip-prinsip pengembangan silabus, mencakup keseluruhan
komponen silabus, mulai dari identitas silabus kolom pertama
tentang kompetensi dasar hingga kolom terakhir yang berisi tentang
sumber, bahan, dan alat pembelajaran.
3) Uji kelayakan; kegiatan ini dilakukan untuk menjamin bahwa
silabus yang dikembangkan telah sesuai dengan prinsip-prinsip
pengembangan. Uji ini dilakukan melalui penilaian ahli atau pakar
di bidang pengembangan silabus, atau pihak terkait lain yang
memahami betul seluk-beluk pengembangan silabus. Misalnya
wakil kepala sekolah bidang kurikulum, para spesialis kurikulum,
ahli mata pelajaran, ahli didaktik-metodik, ahli penilaian, psikolog,
guru/instruktur, kepala sekolah, pengawas, staf profesional dinas
pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik, atau pengawas
bidang studi penjasorkes dari Dinas Pendidikan setempat.
4) Perbaikan; silabus yang masih berupa draft, setelah dilakukan
pengujian oleh pakar perlu dikaji ulang dan dilakukan perbaikan
sesuai rekomendasi yang diberikan oleh para pakar atau ahli
tersebut, sebelum diujicobakan dan digunakan dalam kegiatan
pembelajaran.
Modul PLPG Penjaskes 2013
300
5) Uji coba penerapan silabus; uji coba ini dilakukan untuk melihat
tingkat keterbacaan dan keterlaksanaan berbagai komponen yang
dituliskan. Kelebihan dan kekurangan dokumen tersebut dicatat
untuk kemudian dijadikan sebagai pedoman untuk memperbaiki
silbus tersebut.
6) Penyempurnaan; berbagai catatan yang didapat dari hasil
pengkajian ulang dan uji coba dapat dijadikan bahan pertimbangan
untuk memperbaiki draft silabus. Apabila telah memenuhi kriteria
dengan cukup baik dapat segera disampaikan kepada kepala
sekolah, Dinas Pendidikan dan komunitas sekolah lainnya.
7) Penilaian silabus; penilaian silabus perlu dilakukan secara berkala
dengan menggunakan model-model penilaian kurikulum. Hal ini
untuk menjaga validitas silabus dengan proses pembelajaran yang
akan dilakukan. Kegiatan ini merupakan titik tolak untuk
mengembangkan silabus secara berkelanjutan. Silbus selanjutnya
dijabarkan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.
8) Silabus diterapkan dalam proses pembelajaran, dievaluasi, dan
ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Pengkajian dan
pengembangan secara berkelanjutan dilakukan dengan
memperhatikan catatan dari hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi
proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi rencana
pembelajaran secara menyeluruh.
h. Langkah-langkah Penyusunan/penulisan Silabus
1) Mengisi identitas; Identitas adalah sesuatu yang akan diuraikan
atau penanda silabus, seperti nama sekolah, mata pelajaran,
kelas/jurusan, dan semester. Identitas silabus ditulis di atas matriks
silabus.
2) Memilih dan menuliskan standar kompentensi; Standar
Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan atau
semester untuk mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi yang
dipilih atau digunakan sesuai dengan yang terdapat dalam Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran.
Sebelum menentukan atau memilih Standar Kompetensi, penyusun
terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar
mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut; (1) urutan
berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi; (2) keterkaitan antar standar kompetensi dan
kompetensi dasar dalam mata pelajaran; (3) keterkaitan standar
kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran; (4)
menuliskan Standar Kompetensi di dalam kolom matriks silabus
yang tersedia.
3) Memilih dan menuliskan kompentensi dasar; Kompetensi Dasar
merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik

Modul PLPG Penjaskes 2013
301
dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun
indikator kompetensi. Kompetensi dasar yang digunakan atau
dipilih sesuai dengan yang tercantum dalam Standar Kompetensi
dan Kompetesi Dasar Mata Pelajaran.
Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun
terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar
mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut; (1)
urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi; (2) keterkaitan antarstandar kompetensi dan
kompetensi dasar dalam mata pelajaran; (3) keterkaitan standar
kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
4) Mengidentifikasi materi pokok; Dalam mengidentifikasi materi
pokok harus dipertimbangkan: (1) tingkat perkembangan fisik,
intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik; (2)
kebermanfaatan bagi peserta didik; (3) struktur keilmuan; (4)
kedalaman dan keluasan materi; (5) relevansi dengan kebutuhan
peseta didik dan tuntutan lingkungan; (6) alokasi waktu.
Selain itu juga harus diperhatikan:
a) kesahihan (validity): materi memang benar-benar teruji
kebenaran dan kesahihannya
b) tingkat kepentingan (Significancy): materi yang diajarkan
memang benar-benar diperlukan oleh siswa
c) kebermanfaatan (utility) : materi tersebut memberikan dasar-
dasar pengetahuan dan keterampilan pada jenjang berikutnya.
d) layak dipelajari (learnability): materi layak dipelajari baik dari
aspek tingkat kesulitan maupun aspek pemanfaatan bahan ajar
dan kondisi setempat.
e) menarik minat (interest) : materinya menarik minat siswa dan
memotivasinya untuk mempelajari lebih lanjut.
5) Mengembangkan kegiatan pembelajaran; Pengalaman belajar
adalah kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam
berinteraksi dengan bahan ajar. Kriteria mengembangkan
pengalaman belajar sebagai berikut : (1) kegiatan belajar disusun
bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik,
khususnya guru, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan
proses pembelajaran secara propesional sesuai dengan tuntutan
kurikulum; (2) kegiatan belajar disusun berdasarkan atas satu
tuntutan kompetensi dasar secara utuh; (3) kegiatan belajar memuat
rangkaian kegiatan yan harus dilakukan oleh siswa secara berurutan
untuk mencapai kompetensi dasar; (4) kegiatan belajar berpusat
pada siswa (student centered). Guru harus selalu berfikir kegiatan apa
yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah di
tetapkan; (5) materi (content) pengalaman belajar dapat berupa
pengetahuan, sikap dan keterampilan; (6) perumusan kegiatan
belajar harus jelas materi/konten yang ingin dikuasai siswa; (7)
Modul PLPG Penjaskes 2013
302
penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi
materi-materi yang memerlukan prasyarat tertentu; (8) pendekatan
pembelajaran yang di gunakan bersifat spiral (mudah ke sukar;
konkret ke abstrak; dekat ke jauh) dan juga memerlukan urutan
pembelajaran yang berstruktur; (9) rumusan pernyataan dalam
pengalaman belajar minimal mengandung dua unsur penciri yang
mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu
kegiatan siswa dan materi.
Dalam memilih kegiatan siswa mempertimbangkan hal sebagai
berikut: (1) memberikan peluang bagi siswa untuk mencari,
mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan, di bawah
bimbingan guru; (2) mencerminkan ciri khas dalam pegembangan
kemapuan mata pelajaran; (3) disesuaikan dengan kemampuan
siswa, sumber belajar dan sarana yang tersedia; (4) bervariasi
dengan mengkombinasikan kegiatan individu/perorangan,
berpasangan, kelompok dan klasikal; (5) emperhatikan pelayanan
terhadap perbedaan individual siswa seperti: bakat, minat,
kemampuan, latar belakang keluarga, sosial-ekomomi dan budaya
serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan.
6) Merumuskan indikator; Indikator merupakan penjabaran dari
kompetensi dasar yang nenunjuk tanda-tanda, perbuatan dan atau
respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik.
Indikator dirumuskan sesuai dengan karakteristik satuan
pendidikan, potensi daerah dan peserta didik dan dirumuskan
dalam kata kerja operasioanl yang terukur dan atau dapat
diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar dalam menyusun
alat penilaian.
Kriteria penulisan indikator adalah; sesuai tingkat perkembangan
berfikir siswa, berkaitan dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar, memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan
sehari-hari (Life Skills), harus dapat menunjukan pencapaian hasil
belajar siswa secara utuh (kognitif, afektif dan psikomotor),
memperhatikan sumber-sumber belajar yang relevan, dapat
diukur/dapat dikuantifikasi, memperhatikan ketercapaian standar
lulusan secara nasional, berisi kata kerja operasional, tidak boleh
mengandung pengertian ganda (ambigu).
7) Menetukan Alokasi waktu; Alokasi waktu adalah waktu yang
dibutuhkan untuk ketercapaian satu Kompetensi dasar, dengan
memperhatikan: (1) minggu efektif per semester; (2) alokasi waktu
mata pelajaran; (3) jumlah kompetensi per semester.
8) Menentukan Sumber /Fasilitas/Alat;
a) Sumber; Merupakan rujukan, referensi atau literatur yang
digunakan dalam menyusun silabus atau pembelajaran.
b) Bahan;

Modul PLPG Penjaskes 2013
303
c) Alat; Alat adalah segala sesuatu yang digunakan pembelajaran
yang sifatnya mudah dipindahkan, misalnya: bola, net, satelkok,
matras, boks senam, simpai, tongkat, pita.

i. Penentuan Penilaian; Di dalam kegiatan penilaian ini terdapat tiga
komponen penting, yang meliputi: (a) teknik penilaian, (b) bentuk
instrumen, dan (c) contoh instrumen.
1) Teknik Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar siswa yang
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Adapun yang
dimaksud dengan teknik penilaian adalah cara-cara yang ditenmpuh untuk
memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan
pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. Ada beberapa teknik
yang dapat dilakukan dalam rangka penilaian ini, yang secara garis besar
dapat dikategorikan sebagai teknik tes dan teknik nontes.
Teknik tes merupakan cara untuk memperoleh informasi melalui
pertanyaan yang memerlukan jawaban betul atau salah, sedangkan teknik
nontes adalah suatu cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan
yang tidak memerlukan jawaban betul atau salah.
Untuk melaksanakan teknik penilaian diperlukan adanya berbagai
kriteria berikut ini; (1) Penulisan jenis penilaian harus disertai dengan
aspek-aspek yang akan dinilai sehingga memudahkan dalam pembuatan
soal-soalnya; (2) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian
indikator; (3) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa
yang bisa dilakukan siswa setelah siswa mengikuti proses pembelajaran,
dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya; (4)
Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya
dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan
yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa; (5) Hasil penilaian
dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi.
Apabila siswa belum menguasai suatu kompetensi dasar, ia harus
mengikuti proses pembelajaran lagi, sedang bila telah menguasai
kompetensi dasar, ia diberi tugas pengayaan; (6) Siswa yang telah
menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi tugas
untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya; (7) Dalam sistem
penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan
rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan
menggunakan teknik penilaian yang tepat; (8) Penilaian dilakukan untuk
menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran (kognitif, afektif dan
psikomotorik), dengan menggunakan berbagai model penilaian, formal
dan tidak formal secara berkesinambungan; (9) Penilaian merupakan suatu
proses pengumpulan pelajaran dan penggunaan informasi tentang hasil
Modul PLPG Penjaskes 2013
304
belajar siswa dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, bukti-bukti
otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik; (10) Penilaian
merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar
yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang
harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan hasil belajar siswa;
(11) Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi, Kompetensi dasar
dan indikator dengan demikian hasil akan memberikan gambaran
mengenai perkembangan pencapaian kompetensi; (12) Penilaian dilakukan
secara berkelanjutan (direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna
mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan
kompetensi oleh siswa, baik sebagai efek langsung (main effect) maupun
efek pengiring (nurturant effect) dari proses pembelajaran; (13) Sistem
penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh
dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan
pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik
pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun
produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang
dibutuhkan.

2) Bentuk Instrumen
Bentuk instrumen yang dapat dikembangkan dapat meliputi
instrumen-instrumen yang erat terkait dengan jenis tes. Oleh karena itu,
bentuk instrumen dapat dibedakan menjadi: (1) Instrumen Tes, dapat
berbentuk: esai/uraian, objektif, isian, menjodohkan, unjuk kerja; (2)
Instrumen Nontes, dapat berupa: lembar observasi, penugasan, kuesioner,
Penentuan dan pencantuman bentuk instrumen ini dapat
diperhatikan jenis tes apa yang akan digunakan. Sesudah penentuan
instrumen tes telah dipandang tepat, selanjutnya instrumen tes itu
dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia.

3) Contoh Instrumen
Instrumen yang sudah tersusun, selanjutnya diberikan contoh yang
dapat dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Namun,
apabila dipandang hal itu menyulitkan karena kolom yang tersedia tidak
mencukupi, selanjutnya bentuk instrumen penilaian diletakkan di dalam
lampiran.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
a. Pengertian Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran
dari silabus yang telah disusun pada langkah sebelumnya. RPP disusun
untuk setiap kali pertemuan. Di dalam RPP tercermin kegiatan yang
dilakukan guru dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah
ditetapkan.

Modul PLPG Penjaskes 2013
305
Selain pengertian tersebut, juga dikemukakan pengertian lain tentang
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) ini, yaitu; rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan
telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup rencana pelaksanaan
pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri
atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau
lebih.


b. Landasan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20; Perencanaan proses pembelajaran
meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat
sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode
pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Permendiknas
Nomor 41tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan
Dasar Dan Menengah.
RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar
peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan
pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis
agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan
dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP
untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan
pendidikan.

c. Prinsip Pengembangan RPP
Sebagaimana prinsip-prinsip yang ada pada pengembangan silabus,
pada rencana pelaksanaan pembelajaran ini juga memiliki prinsip Ilmiah
(prinsip berpikir ilmiah adalah bahwa suatu kegiatan penyusunan didasari
dengan landasan teoretik yang benar, melalui tahapan yang seharusnya
ditempuh, dan hasil yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengalaman
nyata di sekolah).
Relevan (rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
dikembangkan memiliki kesesuaian dengan mata pelajaran, materi pokok
yang akan diajarkan, serta kebutuhan peserta didik).
Sistemis dan Sistematis (sebagai sebuah sistem, keberadaan
komponen-komponen minimal tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan
lainnya. Penulisan berbagai komponen tersebut sesuai dengan tata
urutannya, sehingga yang perlu didahulukan diletakkan di awal dan yang
lainnya dikemudiankan. Namun demikian jika tidak berurutanpun tidak
Modul PLPG Penjaskes 2013
306
menjadi sebuah masalah yang berarti, karena masing-masing memiliki
alasan tersendiri, berdasarkan prinsip keilmiahannya).
Konsisten (adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber
belajar, dan sistem penilaian); Memadai (rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) memiliki kecukupan dan ketercakupan; Aktual dan
Kontekstual (up to date dan yang benar-benar diperlukan oleh peserta
didik).
Fleksibel (memiliki daya adaptasi, sehingga mampu disesuaikan
dengan berbagai kondisi yang terjadi saat berlangsungnya pembelajaran);
Menyeluruh (bersentuhan dengan ranah keterampilan, aspek
pengetahuan, dan pembentukan sikap).

d. Pengembang RPP
Pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dapat
dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah
sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) atau Kelompok Kegiatan Guru (KKG), dan Dinas
Pendidikan.
Sebagaiman pada pengembangan silabus, pengembangan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) penjasorkes ini sekolah, kelompok kerja
guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari
perguruan tinggi, LPMP, PPPPTK atau unit utama lain yang ada di
Depatemen Pendidikan Nasional.

e. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana pelaksanaan pembelajaran paling tidak memuat komponen-
komponen;
1) Tujuan Pembelajaran; Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan
kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran
dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari
kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah
operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam
merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri
atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.
2) Materi Pembelajaran; Materi ajar adalah materi yang digunakan
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi ajar dikembangkan
dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.
3) Metode Pembelajaran; Metode dapat diartikan benar-benar sebagai
metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan
pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau
strategi yang dipilih.

Modul PLPG Penjaskes 2013
307
4) Sumber Belajar; Pemilihan alat dan sumber belajar mengacu pada
perumusan yang ada dalam silabus dan dituliskan secara lebih
operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku
teks, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut,
pengarang, dan halaman yang diacu.
5) Penilaian Hasil Belajar; Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian,
bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk
mengumpulkan data. Apabila penilaian menggunakan teknik tes
tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek
harus disertai rubrik penilaian

f. Format RPP
Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 Tentang Standar Proses Untuk
Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah menjelaskan mengenai
pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran,
SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian
kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. RPP disusun
untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau
lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang
disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
Komponen RPP terdiri atas:
1) identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan
2) identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
3) kelas/semester;
4) materipokok;
5) alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian
KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam
pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
6) tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur,
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
7) kompetensi dasar dan indicator pencapaian kompetensi;
8) materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur
yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan
rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
9) metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai
KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang
akan dicapai;
Modul PLPG Penjaskes 2013
308
10) media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran;
11) sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
12) langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan
13) pendahuluan, inti, dan penutup; dan penilaian hasil pembelajaran.

g. Tahapan Pengembangan RPP
Pengembangan RPP merupakan kelanjutan dari pengembngan
silabus sebagai satu kesatuan rangkaian penyusunan perencanaan
pembelajaran. RPP merupakan jabaran lebih operasional silabus yang telah
disusun melalui tahap perencanaan, pelaksanaan pengembangan, uji
kelayakan, perbaikan, uji coba penerapan, penyempurnaan, serta Penilaian
RPP.

h. Langkah-langkah Menyusun Rencana Pelaksanaan Pelaksanaan
1) Mengisi kolom identitas; sebagaimana tertulis pada silabus, dentitas
pada RPP adalah sesuatu yang akan diuraikan atau penanda silabus,
seperti nama sekolah, mata pelajaran, kelas/jurusan, dan semester.
Identitas silabus yang ditulis sebelumnya dapat dipindahkan pada
RPP ini.
2) Menentukan alokasi waktu yg dibutuhkan utk pertemuan yg telah
ditetapkan; penentuan waktu pada RPP merujuk pada alokasi waktu
yang ada pada silabus, yang didasarkan pada potensi awal
kemampuan peserta didik, tingkat kerumitan tugas gerak, serta daya
dukung maupun daya hambat yang mungkin terjadi saat
dilaksanakannya pembelajaran.
3) Memindahkan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan; hal ini
juga terdapat pada silabus yang telah disusun.
4) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator
yg telah ditentukan; tujuan pembelajaran ini merupakan uraian lebih
rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu rumusan
indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator sudah
sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.
5) Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/
pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan
uraian dari materi pokok/pembelajaran.
6) Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan; penentuan
metode pembelajaran ini mempertimbangkan karakter peserta didik,
karakter dari materi pembelajaran, serta media pembelajarannya dan
berbagai hal yang terkait dengan proses pembelajaran.
7) Merumuskan langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal,
inti, dan akhir; perumusan langkah pembelajaran didasari dengan
berbagai landasan teoretik, misalnya; tiga tahap pembelajaran Fitts

Modul PLPG Penjaskes 2013
309
dan Possner; (1) Tahap kognitif, (2)
Assosiatif/akuisisi/penyatuan/latihan, (3) Tahap
autonomous/otomatisasi. Atau nine events instruction-nya Gagne,
yaitu; pencarian perhatian (gain attention), penjelasan tujuan (describe
the goal), merangsang pemanggilan kembali pengetahuan yang
relevan yang diperoleh sebelumnya (stimulate recall of prior knowledge),
mempersembahkan materi pembelajaran untuk dipelajari (present the
material to be learned), menyiapkan/ menyediakan panduan untuk
pembelajaran (provide guidance for learning), merangsang peserta didik
untuk melatih kinerjanya (elicit performance practice), pemberian
balikan informative (provide informative feedback), melakukan penilaian
pembelajaran (assess performance) serta pemberian informasi kemajuan
pembelajaran secara umum, dan yang terakhir adalah melakukan
penguatan dan pengalihan (enhance retention and transfer)
8) Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan sesuai
dengan keperluan proses pembelajaran.
9) Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik
penskoran, dll.

E. Rangkuman
Pada era pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini,
penyusunan silabus hendaknya dilakukan oleh guru mata pelajaran
pendidikan jasmani secaara mandiri, karena guru tersebutlah yang tahu
secara pasti karakter dan kebutuhan anak didiknya. Namun demikian jika
guru yang bersangkutan merasa belum mampu maka dapat bekerja sama
dengan guru bidang studi lain atau sesama guru penjas pada satu wilayah
atau satuan kerjanya, dengan difasilitasi oleh sekolah maupun dinas
pendidikan setempat.
Silabus dikembangkan berdasarkan landasan, dan prinsip
pengembangan yang memadai melalui tahapan dan langkah yang sistemik
dan sistematik. Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara
berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi belajar,
evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran) dan evaluasi rencana
pembelajaran.
Pada era pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini,
penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hendaknya
dilakukan oleh guru mata pelajaran pendidikan jasmani secaara mandiri,
karena guru tersebutlah yang tahu secara pasti karakter dan kebutuhan
anak didiknya. Namun demikian jika guru yang bersangkutan merasa
belum mampu maka dapat bekerja sama dengan guru bidang studi lain
atau sesama guru penjas pada satu wilayah atau satuan kerjanya, dengan
difasilitasi oleh sekolah maupun dinas pendidikan setempat.
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dikembangkan
berdasarkan landasan, dan prinsip pengembangan yang memadai melalui
tahapan dan langkah yang sistemik dan sistematik.
Modul PLPG Penjaskes 2013
310
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) harus dikaji dan
dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan
hasil evaluasi belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran) dan
evaluasi rencana pembelajaran.

F. Soal-soal Latihan
Soal Latihan Uraian
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!

1. Jelaskan tahap-tahap yang harus dilalui dalam mengembangkan
silabus!
2. Menurut saudara seberapa pentingkah peran silabus dan RPP dalam
keberhasilan proses pembelajaran, sehingga perlu disusun dan
dikembangkan?
3. Bagaimanakah mekanisme pengembangan silabus jika silabus disusun
oleh guru secara mandiri, dan jika silabus disusun bersama dalam
kelompok kerja guru?
4. Mengapa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebaiknya
dikembangkan oleh guru yang bersangkutan?
5. Susunlah silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai
dengan prisip pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP)!

Soal Latihan Pilihan Berganda
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D yang merupakan
jawaban paling benar!

1. Rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber belajar disebut . . . .
A. standar kompetensi mata pelajaran
B. indikator pencapaian pembelajaran
C. silabus
D. rencana pelaksanaan pembelajaran

2. PP No 19 Tahun 2005 Pasal 20; menyatakan bahwa perencanaan proses
pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
yang memuat sekurang-kurangnya . . . .
A. tujuan, materi ajar, metode, sumber
B. materi, metode, sumber, penilaian
C. metode, sumber, penilaian, tujuan
D. tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber
belajar, dan penilaian hasil belajar

Modul PLPG Penjaskes 2013
311

3. Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus
harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Hal
ini merupakan prinsip pengembangan silabus dilihat dari unsur . . . .
A. ilmiah
B.relevan
C. sistemis dan sistematik
D. konsisten

4. Tujuan pembelajaran Penjasorkes tidak hanya bersentuhan dengan
ranah keterampilan saja, melainkan juga meliputi aspek pengetahuan,
dan pembentukan sikap, untuk itu komponen silabus yang dituliskan
hendaknya juga mencakup keseluruhan ranah kompetensi tersebut
(kognitif, afektif, psikomotor). Hal ini merupakan prinsip
pengembangan silabus dilihat dari unsur . . . .
A. menyeluruh
B. relevan
C. fleksibel
D. konsisten

5. Penjabaran dari silabus yang telah disusun pada langkah sebelumnya
disebut ....
A. standar kompetensi mata pelajaran
B. indikator pencapaian pembelajaran
C. tujuan pembelajaran
D. rencana pelaksanaan pembelajaran

Kunci Jawaban
1. C
2. D
3. A
4. A
5. D
DAFTAR PUSTAKA
____________, Undang-Undang Negara Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun
2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta; Depdiknas, 2003
____________, Undang-undang Negara Republik Indonesia, Nomor 3 Tahun
2005, Tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Jakarta: Menegpora 2005
____________, Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Standar Isi/Standar
Kompetensi Dan Kompetensi Dasar SMP-MTs-SMPLB, Jakarta:
Depdiknas, 2006
___________, Bahan Sosialisasi KTSP Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang
Standar Kompetensi Lulusan, Jakarta: Depdiknas, 2007
Modul PLPG Penjaskes 2013
312
___________, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan
Pendidikan Dasar Dan Menengah
__________, Pengembangan Model Pengajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah
Dasar. Surabaya: Pusat Penelitian IKIP Surabaya
Buccher, Charles A. Foundation of Physical Education & Sport. Ninth Edition.
St. Louis: Te C.V. Mosby Company, 1983
Cholik Mutohir. T. Gagasan-gagasan tentang Pendidikan Jasmani dan Olahraga,
Surabaya, Unesa University Press, 2002
Mosston, M. Teaching Physical Education, Columbus, Ohio: Merill. 1966

Modul PLPG Penjaskes 2013
313
BAB XIV
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

A. Pokok-pokok Isi Materi
Pendidikan, perlu ada perhatian secara khusus dari berbagai aspek.
Aspek tersebut meliputi profesionalisme guru, perkembangan dan
pertumbuhan peserta didik, tujuan pendidikan dan pengajaran, program
pendidikan dan kurikulum, perencanaan pengajaran, strategi belajar
mengajar, media pembelajaran.
Media pembelajaran memiliki bermacam-macam bentuk dan
fungsinya, Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu media cetak
yang digunakan sebagai pedoman di dalam pembelajaran serta berisi tugas
yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam kajian tertentu.
Kebanyakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang ada di sekolah atau institusi
pendidikan hanya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang memindah sebuah
jawaban dari materi yang terurai pada awal halaman.
Lembar Kerja Siswa (LKS) semacam ini tidak ef