Anda di halaman 1dari 362

Pembahasan TO 2

Anak
1. E
Keywords: BB 6,1 kg dan PB 7,8 cm, mata terlihat sayu, otot hipotrofi,
edema pada dorsum pedis
Diagnosis gizi buruk ditegakkan atas dasar klinis dan atau antropometri
1. Terlihat sangat kurus dan atau edema
2. Antropometri
a. Anak usia <5 tahun (WHO): z-score BB/TB < -3,00 SD
b. Anak usia >5 tahun (CDC): persentil BB/TB < 70%
c. Anak dengan organomegali: LLA < 11,5 cm atau LLA/U < 70%
Klasifikasi
Kwashiorkor: edema, rambut kemerahan dan mudah dicabut, kurang
aktif, rewel, cengeng, pengurusan otot, crazy pavement dermatosis
Marasmus: wajah seperti orang tua, kulit terlihat longgar, iga
gambang, baggy pants, kulit paha berkeriput
Tipe Campuran
Jawaban: E. KEP tipe marasmik-kwashiorkor
Gizi Buruk Klasifikasi
Kwashiorkor:
Perubahan mental sampai apatis
Anemia
Perubahan warna dan tekstur rambut, mudah
dicabut/rontok
Gangguan sistem gastrointestinal
Pembesaran hati (dermatosis)
Atrofi otot
Edema simetris pada kedua punggung kaki, dapat
sampai seluruh tubuh

Gizi Buruk Klasifikasi
Marasmus:
Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat
kurus
Perubahan mental, cengeng
Kulit kering, dingin dan mengendor, keriput
Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit
berkurang
Otot atrofi sehingga kontur tulang terlihat jelas
Kadang-kadang terdapat bradikardia
Tekanan darah lebih rendah dibandigkan anak sehat
yang sebaya
Tipe Campuran

Gizi Buruk Diagnosis
Diagnosis gizi buruk ditegakkan atas dasar klinis dan atau
antropometri
1. Terlihat sangat kurus dan atau edema
2. Antropometri
a. Anak usia <5 tahun (WHO): z-score BB/TB < -3,00 SD
b. Anak usia >5 tahun (CDC): persentil BB/TB < 70%
c. Anak dengan organomegali: LLA < 11,5 cm atau LLA/U
< 70%

2. E
Keywords: bengkak seluruh tubuh, pertama
terjadi 1 tahun yang lalu, edema pitting (+),
albumin 2 mg/dl dan protein urin +3
Batasan term sindrom nefrotik
Remisi: proteinuria negatif atau trace (<4
mg/m
2
/LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1
minggu
Relaps: proteinuria 2+ (>40 mg/m
2
/LPB/jam) 3 hari
berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps jarang: relaps kurang dari 2x dalam 6 bulan pertama
setelah respons awal atau kurang dari 4x per tahun
pengamatan
Relaps sering: relaps 2x dalam 6 bulan pertama setelah
respons awal atau 4x dalam periode 1tahun


Dependen steroid: relaps 2x berurutan pada saat
dosis steroid diturunkan (alternating) atau dalam
14 hari setelah pengobatan dihentikan
Resisten steroid: tidak terjadi remisi pada
pengobatan prednison dosis penuh (full dose) 2
mg/kgbb/hari selama 4 minggu
Sensitif steroid: remisi terjadi pada pemberian
prednison dosis penuh selama 4 minggu

Sindroma Nefrotik Definisi,
Patogenesis
Definisi
Proteinuria masif (>40 mg/m
2
/jam atau
dipstik 2+),
Hipoalbuminemia (<2,5 g/dL),
Edema, dan
Hiperkolesterolemia >200 mg/dl
Patogenesis
Terjadi akibat kegagalan/gangguan
filtrasi di glomerulus yang kemudian
menyebabkan terjadinya albumin
leakage
Membran filtrasi glomerulus: endotel
kapiler (pores/fenestration) , GBM
(negative discharge), foot proces
podocyte (filtration slit)
Oval fat bodies patognomonik pada
urinalisis pasien sindrom nefrotik
Edema terjadi karena albumin
berkurang sehingga tekanan onkotik
menurun




3. IKA Sindrom Nefrotik
Keywords: bengkak seluruh tubuh, edema pitting (+),
albumin 2 mg/dl
Edema pada sindrom nefrotik terjadi akibat hipoalbumin.
Albumin merupakan protein paling utama di dalam
tubuh yang bertugas menjaga tekanan onkotik/osmotik.
Penurunan albumin menyebabkan penurunan tekanan
onkotik sehingga terjadi ekstravasasi cairan dari dalam
pembuluh darah ke ruang ketiga yang menyebabkan
edema pitting.
Edema non pitting hanya terjadi pada keadaan obstruksi
saluran limfe, misalnya: limfedema pada pasien post
mastektomi radikal.
Jawaban: E. Penurunan tekanan osmotik plasma


Sindroma Nefrotik Definisi,
Patogenesis
Definisi
Proteinuria masif (>40 mg/m
2
/jam atau
dipstik 2+),
Hipoalbuminemia (<2,5 g/dL),
Edema, dan
Hiperkolesterolemia >200 mg/dl
Patogenesis
Terjadi akibat kegagalan/gangguan
filtrasi di glomerulus yang kemudian
menyebabkan terjadinya albumin
leakage
Membran filtrasi glomerulus: endotel
kapiler (pores/fenestration) , GBM
(negative discharge), foot proces
podocyte (filtration slit)
Oval fat bodies patognomonik pada
urinalisis pasien sindrom nefrotik
Edema terjadi karena albumin
berkurang sehingga tekanan onkotik
menurun




4. IKA Anemia Defisiensi Besi
Keywords: menstruasi tidak teratur,
sebulan bisa 2 kali dan darah keluar
banyak, konjungtiva anemis (+), Hb
10 g/dl
Absorpsi besi dibagi menjadi 3 fase:
Fase luminal
Fase mukosal
Fase korporeal
Bahan pemacu absorpsi besi :
Vitamin C
Bahan penghambat absorpsi besi:
tanat, phytat dan serat
Jawaban: D. pH alkali, tanat pada
teh, besi non hewani, hepsidin


Absorpsi Besi
Fase luminal: makanan diolah dalam lambung
kemudian diserap di duodenum. Akibat adanya
asam lambung besi mengalami reduksi dari feri ke
fero yang lebih bisa diserap. Besi dalam makanan
ada jenis, yaitu
Besi heme: dari makanan hewani, lebih mudah
diserap
Besi non-heme: dari makanan nabati, sulit diserap
Fase mukosal: proses penyerapan aktif besi fero
di mukosa duodenum dan jejenum proksimal
Fase korporeal: besi diserap oleh enterosit
basal epitel usus kapiler usus darah (diikat
oleh apotransferin) transferin dilepaskan
pada RES melalui pinosistosis

Absorpsi Besi
Faktor yang mempengaruhi absorpsi besi
Jumlah kandungan besi dalam makanan
Jenis besi dalam makanan: besi heme atau non
heme
Adanya bahan penghambat atau pemacu absorpsi
dalam makanan
Jumlah cadangan besi dalam tubuh
Kecepatan eritropoesis
5. D. GNAPS
Keywords: keluhan kencing berwarna merah,
riwayat batuk, pilek dan demam 1 minggu yll,
edema, TD 130/70 mmHg, urin makroskopik
ditemukan hematuri minimal
GNAPS (Glomerulonefritis akut post
streptococcus) merupakan salah satu sindrom
nefritik yang ditandai oleh timbulnya
hematuria, edema, hipertensi dan penurunan
fungsi ginjal
GNAPS terjadi akibat deposisi kompleks imun
(Rx hipersensitifitas tipe 3) pada GBM dan
atau mesangium sehingga terjadi reaksi
inflamasi gangguan fungsi ginjal
komplikasi: ensefalopati hipertensif, gagal
jantung, edema paru dan gagal ginjal
Didahului oleh infeksi SBGA nefritogenik (tipe
4, 12, 16, 25, dan 49) di saluran napas atas.
Reaksi Ag-Ab terjadi setelah infeksi saluran
napas atas telah usai.
SN (Sindrom nefrotik)
Keluhan utamanya adalah edema yang masif. Keluhan
hematuria biasanya hanya mikroskopik
GNA (Glomerulonefritis akut)
Merupakan sebutan lain untuk glomerulonefritis akut
pasca streptococcus, namun karena di soal jelas
disebutkan kemungkinan infeksi streptococcus 1
minggu yang lalu, maka pilihan GNAPS lebih tepat
GNK (Glomerulonefritis kronik)
Contohnya pada nefritis lupus
6. A. Sindroma Rubella Kongenital
Keywords: bintik keputihan di kedua mata
sejak 1 minggu yang lalu, sangat tenang meski
ada suara pintu dibanting, Saat hamil, ibu
pernah mengalami demam, kemudian diberi
vitamin karena dicurigai terkena infeksi virus,
BB 2500 gram (-2 SD), PB 50 cm (-2 SD),
katarak bilateral

6. IKA Sindroma Rubella Kongenital
Infeksi virus Rubella saat kehamilan dapat
menyebabkan terjadinya Sindroma Rubella
Kongenital yang menyebabkan kematian janin,
kelahiran prematur dan cacat bawaan seperti:
Telinga: tuli kongenital
Mata: katarak, glaukoma, retinopati, mikroftalmia
Jantung: PDA, VSD, stenosis
SSP: retardasi mental
Lain: lesi tulang, splenomegali, hepatitis,
trombositopenia, purpura

7. IKA Asma Bronkial
Keywords: keluhan sesak nafas, memberat saat
berbaring malam hari, wheezing +/+
Diagnosis yang sesuai pada kasus ini adalah asma
bronkial.
Wheezing terjadi akibat adanya penyempitan
saluran napas (bronkus) sehingga terjadi bunyi
turbulensi udara. Penyempitan bronkus pada
asma terjadi akibat hipereaktivitas bronkus yang
dipicu oleh beberapa penyebab.
Jawaban: E. Asma bronkial
Asma Klasifikasi Derajat Asma pada anak
Parameter Klinis
Asma Episodik
Jarang
Asma Episodik
Sering
Asma Persisten
Frekuensi serangan <1 x/bulan >1 x/bulan Sering
Lama serangan <1 minggu 1 minggu
Sepanjang tahun,
remisi (-)
Intensitas serangan Ringan Sedang Berat
Di antara serangan Gejala (-) Sering ada gejala
Gejala siang dan
malam
Tidur & aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu
PF di luar serangan Normal
Mungkin ada
kelainan
Ada kelainan
Obat pengendali Tidak perlu Perlu Perlu
Uji faal paru PEF/FEV1 >80 % PEF/FEV1 60-80 % PEF/FEV1 <60 %
Variabilitas >15 % >30 % >50 %
Reliever: SABA, Teofilin lepas cepat
Controller: kromolin, steroid inh./oral, LABA
8. IKA Suspek Thalassemia
Keywords: demam, lemas, pucat sejak 2 hari yang lalu,
perkembangan anaknya lebih terlambat dan lebih kecil
dibandingkan dengan anak seusianya, pucat dan
hepatosplenomegali dengan Hb 8,5gr/dl
Diagnosis yang dipikirkan pada pasien ini adalah suspek
thalassemia mayor sehingga perlu dilakukan analisis
hemoglobin
Gejala dan tanda klinis thalassemia
Anemia kronis
Ikterik
Mudah infeksi, demam
Hepatosplenomegali, pertumbuhan terhambat
Riwayat keluarga (+)
Jawaban: D. Analisis hemoglobin
Thalassemia Patogenesis,
Patofisiologi
Hb A (22)
Hb F (22)
Hb A2 (2 2)
Hb Gower 2 (22)
Hb Portland (22)
Hb Gower 1 (22)
Anemia Mikrositik Hipokrom
Pendekatan Diagnosis
9. B. Gula darah
Keywords: BBL 4200gr, 10 jam pasca kelahiran bayi
terlihat lemah
Bayi yang terlahir dari ibu dengan DM
makrosomia (BBL >4000 gr). Pada bayi ini terjadi
sekresi insulin yang berlebihan semasa kehamilan
akibat keadaan hiperglikemia. Insulin yang
berlebih menyebabkan pertumbuhan janin
menjadi berlebih karena insulin memiliki efek
pertumbuhan (insulin like growth-factor). Pada
keadaan baru lahir, insulin berlebih ini dapat
menyebabkan hipoglikemia karena bayi tidak
mendapatkan suplai glukosa berlebih lagi dari ibu.
10. IKA - Intususepsi
Keywords: keluhan mencret disertai lendir dan
darah, tampak rewel dan menangis keras dan
terjadi berulang-ulang, teraba massa di
epigastrium
Ditemukan tanda intususepsi pada pasien ini
berupa nyeri abdomen (anak rewel dan
menangis keras) dan red currant jelly stool
Jawaban: B. Intususepsi
Intususepsi
INTUSUSEPSI
Invaginasi sebuah segmen usus ke
lumen usus sebelahnya

Gejala dan tanda
Trias intususepsi: Muntah, nyeri
abdomen, BAB darah bercampur
mukus (red currant jelly stool)
Letargi
Nyeri bersifat kolik. Pada bayi:
menangis melengking dan fleksi
pinggang saat nyeri.

PF
Massa berbentuk sosis di kuadran
kanan atas
Kekosongan di kuadran kanan
bawah (Dances sign)

Penunjang
USG abdomen: target sign

Tatalaksana
Enema terapeutik: hanya jika
Penyebab idiopatik
Bukan invaginasi usus halus-usus
halus
Tidak ada perforasi atau peritonitis
Bedah
Perforasi divertikel makel
Divertikel makel adalah kantung kongenital
abnormal yang menonjol keluar dari saluran usus,
dapat menyebabkan divertikulitis dan perforasi
Munculnya keluhan berhubungan dengan
perforasi yang terjadi
11. IKA Limfadenitis TB
Keywords: terdapat benjolan di leher kanan, sel
datia Langhans (+) dengan latar belakang nekrotik
Diagnosis deferensial benjolan di leher (yang
paling sering di Indonesia), yaitu
Karsinoma nasofaring
Limfoma
Limfadenitis TB
Ditemukan sel Datia Langhans dari FNAB
merupakan tanda patognomonik limfadenitis TB.
Jawaban: B. Limfadenitis TB
Tuberkulosis TB Primer
Kuman masuk jaringan paru fokus primer/sarang
primer/afek primer (dapat tumbuh di bagian mana saja di
paru) kuman menyebar melalui kelenjar limfe regional
(KGB hilus) limfangitis lokal dan limfadenopati regional
(KGB hilus membesar)
Fokus primer/sarang primer/afek primer + limfangitis +
limfadenitis regional = kompleks primer
Kompleks primer, punya 3 kemungkinan:
Sembuh tanpa cacat
Sembuh dengan cacat (sarang Gohn fibrotik, sarang perkapuran)
Menyebar
Per kontinuatum bronkus (epituberkulosis)
Bronkogen
Hematogen & limfogen TB milier, Men. TB, TB ginjal, dll
Tuberkulosis TB Primer
12. IKA KDK
Keywords: Kejang pada kedua tangan, kaki kaku
dan kelojotan. Kejang berlangsung selama kurang
dari 5 menit, dan berulang 2 kali
Kejang demam
KDS: kejang umum, singkat, 1x dalam 24 jam
KDK: kejang fokal, >15 menit, >1x dalam 24 jam
Diagnosis yang tepat pada kasus ini adalah kejang
demam kompleks
Jawaban: E. Kejang demam kompleks

Kejang Demam Tatalaksana
ALGORITME PENANGANAN KEJANG AKUT & STATUS KONVULSIF
3
Diazepam 5-
10mg/rekt max 2x
jarak 5 menit
Prehospital
Monitor
Airway
Breathing, O
2
Circulation
Diazepam 0,25-0,5mg/kg/iv/io
(kec 2mg/mnt, max dosis 20mg)
Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus
atau
atau
10-20 mnt
Tanda vital
Koreksi kelainan
EKG
Gula darah
Elektrolit serum
(Na, K, Ca, Mg, Cl)
Analisa Gas Darah
Fenitoin
20mg/kg/iv
(20mnt /50ml NS)
Max 1000mg
Phenobarbitone
30-60 mnt
Kadar obat darah
20mg/kg/iv
(rate >5-10min; max 1g)
Hospital/ED
Lorazepam 0,05-0,1mg/kg/iv
(rate <2mg/mnt)
0-10 mnt
20-30 mnt ICU/ED
ICU Refrakter
Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus
Dilanjut infus 0,02-0,4 mg/kg/jam
Pentotal - Tiopental
5 8 mg/kg/iv
Propofol 3-5mg/kg/infusion
NOTE : JIKA DIAZ RECTAL 1X PRE
HOSPITAL BOLEH RECTAL 1X
Note : Aditional
5-10mg/kg/iv
Note :
Jika preparat (+)
Pulse oxymetri
13. IKA Demam Rematik Akut
Keywords: poliartritis migrans, riwayat demam dan
faringitis, nodul kistik.
Demam rematik akut adalah kelainan imunologik yang
terjadi akibat reaksi lambat infeksi SBGA di faring yang
biasanya timbul 1-5 setelah infeksi primer.
Patogenesis berkaitan dengan mimics epitops Protein
M SBGA di berbagai jaringan tubuh
N-acetylglucosamine synovia artritis
Myosin dan tropomyosin miokardium karditis
Laminin katup jantung karditis
Vimentin synovia artritis
Keratin kulit eritema marginatum
Lysoganglioside n.caudatus dan subtalamik chorea
Diagnosis dengan kriteri Jones
Jawaban: E. ASTO
DRA Kriteria Jones
Kriteria mayor:
Karditis takikardia, murmur mitral regurgitasi, S
3
gallop, pericardial
friction rub, dan kardiomegali
Migratory polyarthritis
Sydenhams chorea
Nodul subkutaneus
Eritema marginatum
Kriteria minor:
Klinis: demam, artralgia
Lab : peningkatan reaktan fase akut, pemanjangan interval PR pada EKG
Bukti adanya suatu infeksi Streptococcus sebelumnya hapusan tenggorok
yang positif atau kenaikan titer tes serologi ASTO
Diagnosis
Highly probable: 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor; disertai bukti infeksi
SBGA
Doubtful diagnosis: 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor: tanpa bukti infeksi
SBGA
Exception: chorea saja atau karditis indolen saja


14. IKA DBD
Keywords: IgG anti-dengue (+)
DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue
(serotipe 1-4). Menurut Hallstead (teori
secondary heterologous infection), DBD terjadi
apabila seseorang terinfeksi ulang virus dengue
tipe yang berbeda. Oleh karena itu kebanyakan
pasien DBD memiliki IgG anti-dengue (+).
Infeksi S.typhi bila didapatkan peningkatan titer
4x lipat atau Anti-O 1/320 atau anti-H 1/640
Jawaban: B. Infeksi virus dengue sekunder
DBD Patogenesis, Klasifikasi
DBD Patogenesis, Klasifikasi
15. IKA Sindrom Metabolik
Keywords: polifagia, polidipsi, poliuria,
penurunan BB, achantosis nigrican, adipomastia,
dislipidemia
Keadaan klinis pasien mengarahkan diagnosis
sindrom metabolik
Acanthosis nigrican hiperpigmentasi pada
daerah lipatan yang berhubungan dengan
gangguan metabolik (obesitas, DM, Cushing,
PCOS)
Jawaban: C. Sindrom Metabolik
16. IKA NKB SMK
Keywords: BBL 1600, Ballard sesuai gestasi 32
minggu
Aterm bila usia gestasi 37-42 minggu. Preterm
bila <37 minggu dan postterm bila >42 minggu.
Pasien ini 32 minggu NKB
BBL 1600gr menunjukkan perkembangan janin
dalam batas normal karena dikatakan kecil masa
kehamilan bila BBL <1000gr (Kurva Lubchenko).
Jadi pasien ini adalah SMK
Jawaban: E. NKB SMK
17. IKA Kurva BMI
Keywords: BMI > 95th %
Kriteria BMI CDC
Underweight: <5th %
Healthy weight: 5th-85th
%
Overweight: 85th-95th %
Obese: >95th %
Jawaban: C. Obesitas
18. IKA ISK
Keywords: disuria, frekuensi, demam, nyeri supra pubis (+)
Diagnosis pada anak ini adalah infeksi saluran kemih (ISK)
Penyebab tersering adalah E.coli per kontinuatum atau
hematogen.
Terapi empiris pilihan (diberikan selama 7 hari)
Fisrt line: ampisilin, kotrimoksazole, sulfisoksazol, asam
nalidiksat, nitrofurantoin dan sefaleksim
Second line: aminoglikosida (gentamisin, amikasin),
sefotaksim, karbenisilin, doksisiklin
Terapi definitif diberikan setelah ada hasil uji sensitivitas
bakteri
Jawaban: E. Kotrimoksazole
19. IKA Imunisasi Varisela
Keywords: demam, erupsi kulit berupa
makulovesikel
Diagnosis pada pasien ini adalah varisela
Vaksinasi varisel diberikan 2x pada sejak anak
menginjak usia 1 tahun (12 bulan)
Jawaban: E. 12 bulan
Jadwal Imunisasi IDAI 2011
Vaksin Varisela
Jadwal: usia 1-13 tahun,
diberikan 2x, jeda min 3 bulan
Usia 13-dewasa, diberikan 2x,
jeda min 4 minggu
Isi: live attenuated HZV strain
OKA
Dosis:
0,5 cc
Pada ada usia 13 tahun 2x
pemberian selang 1 bulan
Kontraindikasi
Demam tinggi
Limfosit <1200
Imunodefisiensi
Alergi thd neomisin

Perhatian
Boleh diberikan bersama vaksin
hidup lainnya, asal waktunya
bersamaan
Kalau ada jeda, harus min 4
minggu
Jangan hamil dalam 1 bulan
yang akan datang
Tidak efektif bila ada transfusi
20. IKA Aspirasi Mekonium
Keywords: warna ketuban hijau pekat, bayi
mengalami asfiksia
Dipikirkan terjadi aspirasi mekonium pada bayi
ini sehingga terjadi asfiksia
Jawaban: B. Aspirasi mekonium
Pneumonia neonatal
Infeksi paru pada neonatus, dapat merupakan
bagian dari sepsis neonatal
Penyakit membran hialin
Respiratory distress syndrome akibat kurangnya
surfaktan. Ciri khas: Gambaran retikulogranuler
pada Roentgen paru
Acute lung syndrome
Respiratory distress of any etiology
21. IKA - CP
Keywords: aterm e.c KPD, Apgar score 2/5,
tetraparesis, hiperrefleks, kaki menggunting
Kemungkinan penyebab keterlambatan
perkembangan pada anak ini adalah cerebral
palsy.
Jawaban: A. Cerebral Palsy
Distrofi muskuler Paling sering adalah
Duchenne muscular dystrophy
Diturunkan secara X-resesif
Diakibatkan tidak adanya distrofin (protein
skeletal) kelemahan progresif
Usia 3-5 tahun
Refleks otot tidak meningkat
22. A
Keywords: Kejang seluruh tubuh selama 5
menit, setelah kejang pasien sadar, kejang ini
adalah kejang kedua dalam bentuk yang sama,
dalam selang waktu 10 jam, status neurologi
dalam batas normal
Diagnosis pasien ini adalah Kejang Demam
Kompleks.
22. A
Tatalaksana pasca kejang untuk KDK adalah
terapi rumatan (OAE) dan terapi intermiten
(Antipiretik & Diazepam)
Terapi rumatan: asam valproat 15-40 mg/kgBB/hari
bid atau fenofarbital 3-6 mg/kgBB/hari bid
(diberikan sampai 1 tahun bebas kejang)
Terapi intermiten: parasetamol (bila demam),
diazepam (bila demam)

Kejang Demam Tatalaksana

ALGORITME PENANGANAN KEJANG AKUT & STATUS KONVULSIF
3
Diazepam 5-
10mg/rekt max 2x
jarak 5 menit
Prehospital
Monitor
Airway
Breathing, O
2
Circulation
Diazepam 0,25-0,5mg/kg/iv/io
(kec 2mg/mnt, max dosis 20mg)
Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus
atau
atau
10-20 mnt
Tanda vital
Koreksi kelainan
EKG
Gula darah
Elektrolit serum
(Na, K, Ca, Mg, Cl)
Analisa Gas Darah
Fenitoin
20mg/kg/iv
(20mnt /50ml NS)
Max 1000mg
Phenobarbitone
30-60 mnt
Kadar obat darah
20mg/kg/iv
(rate >5-10min; max 1g)
Hospital/ED
Lorazepam 0,05-0,1mg/kg/iv
(rate <2mg/mnt)
0-10 mnt
20-30 mnt ICU/ED
ICU Refrakter
Midazolam 0,2mg/kg/iv bolus
Dilanjut infus 0,02-0,4 mg/kg/jam
Pentotal - Tiopental
5 8 mg/kg/iv
Propofol 3-5mg/kg/infusion
NOTE : JIKA DIAZ RECTAL 1X PRE
HOSPITAL BOLEH RECTAL 1X
Note : Aditional
5-10mg/kg/iv
Note :
Jika preparat (+)
Pulse oxymetri
23. IKA Serangan Asma Akut
Keywords: sesak napas,
riwayat asma, wheezing
+/+, RR > 30x
Pada serangan berat,
nebulisasi 1x langsung
dengan beta agonis dan
antikolinergik
Jawaban: C. Nebulisasi
salbutamol +
ipratropium bromide
Asma Klasifikasi Serangan Asma
Gejala dan Tanda Berat Serangan Akut Keadaan
Ringan Sedang Berat Mengancam jiwa
Sesak napas Berjalan Berbicara Istirahat


Posisi Dapat tidur terlentang Duduk Duduk membungkuk
Cara berbicara Satu kalimat Beberapa kata Kata demi kata
Kesadaran Mungkin gelisah Gelisah Gelisah Mengantuk, gelisah,
kesadaran menurun
Frekuensi napas <20/ menit 20-30/ menit > 30/menit
Nadi < 100 100 120 > 120 Bradikardia
Pulsus paradoksus -
10 mmHg
+ / - 10 20 mmHg +
> 25 mmHg
-
Kelelahan otot
Otot Bantu Napas dan
retraksi suprasternal
- + + Torakoabdominal
paradoksal
Mengi Akhir ekspirasi paksa Akhir ekspirasi Inspirasi dan ekspirasi Silent Chest

APE > 80% 60 80% < 60%
PaO
2
> 80 mHg 80-60 mmHg < 60 mmHg
PaCO
2
< 45 mmHg < 45 mmHg > 45 mmHg
SaO
2
> 95% 91 95% < 90%
24. IKA Imunisasi DTP
Keywords: bayi 4 bulan datang untuk imunisasi DTP
ulangan, batuk pilek 1 hari yll, tidak demam (suhu 36,5C),
rhonki -/-, wheezing -/-
Kontraindikasi pemberian vaksin DTP
Riwayat anafilaksis pada pemberian imunisasi sebelumnya
Riwayat ensefalopati pada pemberian imunisasi sebelumnya
Kondisi precaution sebelum pemberian vaksin DTP
Riwayat hiperpireksia
Hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam
Inconsolable crying (3 jam)
Kejang (3 hari setelah pemberian vaksin)
Pada pasien ini tidak ditemukan adanya KI atau precaution
sehingga pemberian vaksin dapat dilanjutkan
Jawaban: C. Imunisasi dapat dilakukan dengan memberi
resep obat
Vaksin DTP
DTPw
Isi: toksoid difteri 40 Lf;
toksoid tetanus 15 Lf; whole
cell pertusis 24 OU
Metode pemberian: I.M.
Dosis: 1 ml
KIPI:
Ringan: reaksi lokal, demam
>38,5C, iritabel, lesu
Berat: inconsolable crying,
kejang, hipotonik
hiporesponsif, anafilaksis,
ensefalopati

DTPa
Isi: toksoid difteri 40 Lf;
toksoid tetanus 15 Lf;
acellular pertusis

25. IKA Paralisis Erb
Keywords: BBL 4200 gr, distosia, cukup bulan,
lengan atas kanan aduksi dan endorotasi,
lengan bawah kanan ekstensi dan pronasi.
Refleksi Moro asimetris, reflex genggam (+)
Dipirkan terjadi paralisis Erb pada pasien ini
akibat distosia
Jawaban: A. Neonatus Aterm/BMK + Paralisis
Erb

Brachial Plexophaty
Lesi Atas
Tipe Erb Duchene: Superior
trunk (C5-C6)
Proximal
Lengan atas aduksi dan
endorotasi
Bawah lengan di ekstensi dan
pronasi
Porters trip
Kehilangan sensibilitas di
daerah bahu
Refleks biceps menurun
Lesi Tengah
Medial trunk (C7)
Tanda gejala radiasi nervus
(Menurunnya reflek
triceps)
Kehilangan sensibilitas
(ekstensi area bawah
lengan dan bagian radial
tangan)
Brachial Plexophaty
Lesi Bawah
Tipe Klumpke: Inferior trunk
(C8-Th1)
Kelemahan otot dan atrofi
dari tangan dan jari.
Kehilangan sensibilitas di
bagian medial atas
lengan,bawah lengan,dan
bagian ulnar tangan.
Refleks ulnar menurun
Total Pleksus Palsy
Paralisis dari semua otot
bagian atas
Kehilangan sensibilitas
dibawah bahu
Kehilangan semua refleks
IPD
26 C - 27 C
Anamnesis Asma:
Gejala episodik
Reversibel, dengan atau tanpa pengobatan
Timbul/memburuk pada malam/dini hari
Respon terhadap bronkodilator
Terdapat faktor risiko yang bersifat individual
Pemeriksaan fisis:
PF dapat normal
Wheezing
Ekspirasi memanjang

Pemeriksaan Penunjang
Spirometri
Obstruksi: VEP1 < 80% nilai prediksi
Reversibilitas: perbaikan VEP1 15% secara spontan,
atau setelah inhalasi bronkodilator, atau bronkodilator
oral 10-14 hari, atau steroid oral/inhalasi 2 minggu
APE
Dinilai dengan spirometri atau peak expiratory flow
meter (PEF meter)
Reversibilitas: perbaikan VEP1 15% secara spontan,
atau setelah inhalasi bronkodilator, atau bronkodilator
oral 10-14 hari, atau steroid oral/inhalasi 2 minggu
Variabilitas harian (dinilai 1-2 minggu): > 20%
Pemeriksaan lain: uji provokasi bronkus, status
alergi

28.D
Esofagitis adalah peradangan dari esofagus,
dapat menyebabkan ulkus, kesulitan menelan.
Penyebab paling umum: refluks
gastroesofageal
Esofagitis Barrett
Paparan jangka panjang asam lambung
menyebabkan perubahan abnormal sel esofagus
Keadaan pramaligna untuk adenokarsinoma
esofagus
Esofagitis korosif: Peradangan akibat zat kimia
yang bersifat korosif misalnya asam kuat, basa
kuat
29. D. Hiperamonia
Kata kunci: Penurunan kesadaran, ascites,
sklera kuning, edema tungkai, vena kolateral
abdomen gangguan hati
Koma reversibel pada penderita gangguan hati
yang berat dan kronik, yang mengkonsumsi
protein berlebihan
Penyerapan hasil metabolisme protein yang
mengandung nitrogen dari usus kenaikan
amonia gangguan sistem saraf pusat
Gejala Uremia
30. B
Pasien riwayat infark miokard + Kolesterol
total 250, trigliserida 160, HDL 50, LDL 130
Diberikan golongan statin karena dapat
menurunkan kolesterol dan menstabilkan plak
Gemfibrozil diberikan untuk hipertrigliserid
31. B
Ulkus lambung
Nyeri ulu hati/di sebelah kiri perut, rasa tidak
nyaman, muntah
Timbul setelah makan
Ulkus duodenum
Nyeri di tengah-kanan membaik setelah makan
Nyeri bermula di satu titik (pointing sign), akhirnya
difus, menjalar ke punggung
Nyeri timbul saat merasa lapar, bisa
membangunkan pasien tengah malam (HPFR
Hunger Pain Food Relief)
32. C
Riwayat lomba lari, urin berwarna gelap,
hemoglobinuria, keluhan lain (-)
Kemungkinan:
Post-exercise hematuria
Rhabdomiolisis (mioglobinuria)
Post exercise
hematuria
Pada orang yang
melakukan olahraga
tertentu (mis:
marathon)
Akibat iritasi
berkepanjangan selama
olahraga
Akibat disfungsi
intrinsik sel otot yang
disebabkan overstress
otot skelet
berkepanjangan
memicu lepasnya
mioglonin ke dalam
sirkulasi darah
diekskresi melalu urin
Mioglobinuria
Untuk membedakan keduanya: Pemeriksaan mikroskopik
urin. Bila tidak ada darah mioglobinuria
33. A
Malaria Masa inkubasi
(hari)
Tipe demam
Falsiparum 9-14 Demam ireguler dan
tidak periodik
Vivax 12-17 48 jam
Malariae 18-40 72 jam
Demam pada malaria berhubungan dengan
pecahnya skizon matang dan keluarnya
merozoit ke peredaran darah
34.D
Pencegahan malaria:
Tidur dengan kelambu impregnated (dicelup
pestisida: permetrin atau deltametrin)
Menggunakan mosquitoes repellents
Mencegah di alam bebas saat nyamuk akan
menggigit atau memakai proteksi (jam 18.00-
06.00)
Memproteksi tempat tinggal/kamar dari nyamuk
dengan kawat anti nyamuk
Kemoprofilaksis
Doksisiklin 1x100 mg sejak 1 minggu sebelum masuk
sampai 1 bulan setelah kembali
Kontraindikasi: ibu hamil dan usia < 8 tahun
Mefloquine 250 mg/mgg, 2 mgg sblm1 bln stlh
KI: gangguan jiwa, epilepsi
Atovaquone/proguanil 1x1 tab, 1 hr sblm1 mgg stlh
KI: ibu hamil, menyusui bayi <5 kg, gagal ginjal berat
Chloroquine 300 mg/mgg, 1 mgg sblm1 bln stlh
Di Indonesia sudah resisten
Primaquine 1x30 mg, 1 hr sblm1 mgg stlh
Harus skrining defisiensi G6PD dulu
KI: ibu hamil, defisiensi G6-PD, menyusui bayi yang belum
diskrining G6PD
Rekomendasi WHO dan CDC, kemoprofilaksis
menggunakan:
Atovaquone/proguanine
Meflokuin
Doksisiklin
35. C
Infeksi H. Pylori (+)
Terapi (urutan prioritas) selama 4 minggu:
PPI + Amoksisilin + Klaritromisin
PPI + Metronidazole + Klaritromisin
PPI + Metronidazole + Tetrasiklin
Dosis:
PPI: Omeprazole 2x20 mg, lansoprazole 2x30 mg,
rabeprazole 2x10 mg, esomeprazole 2x20 mg
Amoksisilin: 2x1000mg/hari
Klaritromisin: 2x500mg/hari
Metronidazole: 3x500mg
Tetrasiklin: 4x250 mg
36. D
IMT= 85 / (1.65)
2
= 31,2
37. B
Angina Nyeri dada akibat iskemia otot
jantung
Stable angina: nyeri saat aktivitas dan stress,
membaik dengan istirahat dan nitrogliserin
Unstable angina
Sindrom Koroner Akut (Unstable angina,
NSTEMI, STEMI)
Angina timbul > 20 menit
Timbul saat aktivitas ringan
Meningkat dalam intensitas, frekuensi, durasi
Angina prinzmetal
Akibat coronary vasospasm
Biasa pada wanita muda dengan disfungsi endotel
Nyeri saat beristirahat dan muncul dalam pola
sirkadian (malam/subuh)
Diagnosis ditegakkan setelah menyingkirkan
diagnosis lainnya
38.D
Aspirin dapat menghambat agregasi
trombosit.
Aspirin mengurangi aktivasi trombosit dengan
menghambat kerja siklooksigenase, sehingga
sintesa prostaglandin dan tromboksan A2
menjadi terhambat.

39. A
Kemungkinan diagnosis pada pasien: Hepatitis
Akut
Biasanya hepatitis B akut tidak bergejala (atau
gejala ringan)
Yang membutuhkan pencegahan pada orang
yang tinggal serumah adalah hepatitis A
kontak fekal-oral

Profilaksis Hepatitis A
40.C
Drug Mechanism Comments
NSAIDs inflammation Gastritis; dose in renal
insufficiency
Colchicine Inhibit polymerization of
microtubules
prevention of
chemotaxis and
phagocytosis
Nausea, vomiting, diarrhea
IV and high PO doses bone
marrow suppresion, myopathy,
neuropathy
dose in renal insufficiency
Corticosteroids inflammation

Highly effective for recalcitrant
cases
Rule out joint infection first
Acute Treatment for Gout
Chronic Treatment for Gout
urate production
intake of meat and seafood
intake of lowfat dairy products
alcohol
Weight control
Avoid dehydration and hyperuricemic drugs (eg,
diuretics)
Antihyperuricemic therapy (start 2-4 weeks after
acute attack) allopurinol, probenecid,
sulfinpyrazone
41. D
Hipotiroidisme ini sering ditemukan di daerah
pegunungan.
Pegunungan dataran yang tinggi dan jauh
dari laut kandungan yodium dalam
tanahnya sangat rendah
Iodine bahan penting dalam sintesis
hormon tiroid
Kurangnya kadar hormon tiroid dalam darah
TSH yang dikeluarkan meningkat tidak
bisa memproduksi pembesaran tiroid
Tingkat pembesaran tiroid
Zat goitrogenik
Zat yang dapat menghambat pengambilan
iodium oleh tiroid, sehingga konsentrasi
iodium dalam kelenjar menjadi rendah.
Contoh: kubis, umbi singkong, daun singkong
dan kacang-kacangan
42. B
TB Milier
Lebih sering pada bayi dan anak kecil,
terutama usia di bawah 2 tahun, atau pada
orang dengan imunodefisiensi.
Selama fase akut diberikan prednisone dengan
dosis 30-40 mg per hari (atau 1-2
mg/kgBB/hari) selama 4-8 minggu kemudian
diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu
kemudian.
43. A
Nyeri perut, muntah, meteorismus
Peritonitis
Pasien peritonitis dengan riwayat demam
lama (2 minggu) kemungkinan disebabkan
oleh demam tifoid
44. B
Hb 9,8, MCV 72, MCH 28 MCHC 33
mikrositik hipokrom defisiensi Fe,
thalasemia, anemia hemolitik

Ferritin: Cadangan besi dalam tubuh
Male 20-250 g/L
Female 15-150 g/L

Serum iron: Penghitungan jumlah yang
berikatan ke transferin
Male 65177 g/dL (11.631.7 mol/L)
Female 50170 g/dL (9.030.4 mol/L)
TIBC: Kapasitas transferin serum mengikat besi
250370 g/dL (45-66 mol/L)
45. E
S3 gallop, murmur sistolik di ICS IV linea
midclavicularis sinistra, menjalar ke lateral kiri.
Batas jantung melebar ke lateral kiri.
Murmur Sistolik
Systolic ejection murmur
Stenosis aorta: Terdengar paling baik di area aorta
(ICS 2-3) menjalar ke arah leher
Stenosis pulmonal: Paling baik di ICS 2-3 kiri,
penjalaran bisa ke arah leher atau bahu kiri, tidak
seluas stenosis aorta
Murmur Sistolik
Holosistolik murmur
Regurgitasi mitral: Terdengar paling baik di apex
menjalar ke axilla kiri
Regurgitasi trikuspid: Terdengar paling balik di
linea sternalis kiri bawah, menjalar ke kanan
sternum
VSD: Paling baik di ICS 4-6, tidak ada penjalaran ke
axilla
Late systolic murmur
Regurgitasi oleh prolaps mitral
Murmur Diastolik
Early diastolik
Regurgitasi aorta: Di linea sternal kiri ICS 3-4
Regurgitasi pulmonal: Di area pulmonal
Mid to late diastolik
Stenosis mitral: Di apex
Stenosis trikuspid: Di bawah sternum, dekat
prosesus xifoideus
Murmur Kontinu
Pada Patent Ductus Arteriosus
46. B
Fase perjalanan HIV
Window period hasil pemeriksaan antibodi
masih negatif
Fase akut flu-like symptom
Fase laten tidak ada gejala dan pasien merasa
sehat
Infeksi oportunistik
AIDS HIV dengan CD4 <200

47. D
Kreatinin awal pasien 0,9, menjadi 3,4
peningkatan > 3x lipat
Diagnosis pasien: Gagal ginjal akut, Failure
stage
48. A
Sulfonilurea sebelum makan (tapi tidak boleh
>15 menit)
Metformin bersama makanan atau sesudah
makan
49. C
Batuk kering karena Bradikinin berlebihan
pada pemakaian ACE-inhibitor

Bradikinin merupakan hasil degradasi oleh
ACE. Bradikinin ini meningkatkan sensitisasi
saraf sensori saluran pernapasan refleks
batuk meningkat

50. B
Bintik-bintik merah setelah minum antibiotik
kemungkinan alergi
Segera hentikan antibiotik
51. C
Pada kasus susp. Infeksi cacing anemia
defisiensi besi

Anemia mikrositik : defisiensi Fe, thalassemia,
penyakit kronik (gangguan utilisasi Fe), anemia
hemolitik.
Anemia normositik : perdarahan akut, anemia
penyakit kronik, anemia aplastik, gagal ginjal
Anemia makrositik : defisiensi folat, defisiensi
B12

52. A
53. A
Nyeri perut kanan atas, demam, mata sclera
subikterik, Murphy sign (+) mengarah ke
kolesistitis
Kolelitiasis Koledokolitiasis Kolesistitis Kolangitis
Nyeri kolik
+ + +/- +/-
Nyeri
tekan/Murphys
sign
- - + +
Demam
- - + (low-grade) + (high-
grade)
Ikterus
- + - +
54.A
Keywords: Muntah darah hitam, riwayat
minum obat penghilang rasa nyeri,
konjungtiva anemis, Hb 8,9 mg/dl
Konsumsi obat penghilang rasa nyeri rutin
ulkus peptikum muntah darah hitam
anemia

55. B
Amforik suara seperti ditiup (blowing)
menandakan adanya kavitas
BEDAH
56. D. Tepat di sebelah medial tendon
m. carpi radialis
jari tengah tangan kanan kesemutan, saat
memegang barang sering jatuh nervus
medianus

Urutan dari medial ke
lateral
Tendon m. carpi
ulnaris
Nervus ulnaris
Tendon m. palmaris
longus
Nervus medianus
Tendon m. carpi
radialis

57. C. Cystotomi
Trauma perineum, tidak bisa BAK, meatal
bleeding cedera uretra
Pada defek/ruptur urtera baik anterior dan
posterior, kontraindikasi pemasangan kateter.
Untuk dekompresi urine lakukan tindakan
sistosomi



58. D. Pneumotoraks
Adanya udara di dalam
kavitas pleura
Gejala: sesak napas dan
nyeri dada akut
Tanda: dada tertinggal,
perkusi hipersonor, bunyi
napas menurun
Bila ada hipotensi, hipoksia,
trakea terdorong ke sisi yang
sehat, atau takikardia
tension pneumothorax
Ro toraks: radiolusensi,
terlihat pleural line
Tata laksana
Pneumotraks spontan primer
atau iatrogenik: aspirasi
jarum sederhana
Pneumotoraks spontan
sekunder/traumatik:
pemasangan chest tube dan
WSD
Tension pneumothorax:
dekompresi jarum darurat,
dilanjutkan dengan
pemasangan chest tube dan
WSD
Krepitasi: tanda emfisema subkutis yg dapat menyertai pneumotoraks,
namun yang menjadi masalah utama adalah pneumotoraks
59. D. Kalium sitrat
nyeri pinggang, BAK tersendat-sendat, nyeri
ketok di region lumbal, urinalisis: kristal
Obat untuk menghancurkan kristal asam urat
dan sistin: alkalisasi urin dengan natrium
bikarbonat dan kalium sitrat
Kalium sitrat lebih menjadi pilihan karena
tersedia dalam bentuk tablet slow release
mengurangi overload natrium

60. B. IIa
61. A. Colok dubur
tidak bisa buang angin, muntah, perut
kembung, hiperperistaltik, suara metalik,
hipertimpani ileus obstruktif
Pemeriksaan pertama dapat dilakukan adalah
colok dubur didapatkan ampula kolaps
Pilihan lainnya adalah pemeriksaan penunjang

62. C. Biopsi PA
Payudara kiri: tidak simetris, nipple discharge,
retraksi puting kemungkinan ca mammae
Baku emas (untuk hampir semua tumor
padat): biopsi (pemeriksaan histopatologi)


63. B. Osteosarkoma
Keyword: usia 14 tahun, massa padat imobil di
tibia, massa radioopak, Codmans triangle

Osteosarkoma
Tumor ganas mesenkimal yang menunjukkan
diferensiasi osteoblasik
usia dekade kedua
predileksi benjolan di proksimal tibia atau distal
femur.
X-ray: sun-burst appearance, Codmans triangle
Kondrosarkoma
Tumor ganas mesenkimal yang memproduksi kartilago
usia dekade kelima-keenam
Lebih sering di tulang aksial
X-ray: lesi lusen dengan kalsifikasi di dalamnya
Osteomielitis
Biasanya didahului trauma
Radiologi: Periosteal thickening, cortical thickening,
hilangnya struktur trabekular, osteolisis, pembentukan
tulang baru
Osteomalasia
Pelunakan tulang karena kurangnya mineralisasi tulang
akibat defisiensi kalsium dan fosfor
Radiologi: pseudofraktur
Osteokondroma
Tumor jinak tulang
Gambaran massa radioopak berongga-rongga

64. A. Volvulus
VOLVULUS
adalah terpuntirnya segmen
usus, bisa menyebabkan
obstruksi dan/atau nekrosis.

Gejala dan tanda
Muntah bilier
Nyeri abdomen akut
(awalnya kolik, lama-lama
menetap)
PF : tidak spesifik

Penunjang
X-ray: coffee bean sign
(volvulus sigmoid)
Barium meal: birds beak
sign, corkscrew
appearance

Tata laksana
Bedah
ATRESIA ESOFAGUS
bisa disertai fistula trakeoesofageal.
Paling sering (85%) fistul antara
trakea dan esofagus distal.
Komplikasi: aspirasi

Gejala dan tanda
Ibu polihidramnion (karena tidak
ditelan fetus)
Bayi liurnya banyak, tersedak saat
minum
Cari anomali kongenital lain (sindrom
VACTeRL)

Penunjang
X-ray polos: cari udara di bawah
diafragma untuk menilai ada fistul
trakeoesofageal distal atau tidak
Cari anomali lain (VACTeRL)

Tata laksana
Bedah
HERNIA DIAFRAGMATIKA
menyebabkan hipoplasia pulmonal dan
hipertensi pulmonal (karena gangguan
perkembangan paru saat masa fetus)

Gejala dan tanda
Gangguan napas, sianosis

PF
Abdomen skafoid
Bunyi napas menurun
Bising usus di toraks

Penunjang
Analisis gas darah
X-ray toraks

Tata laksana
Intubasi
Dekompresi NGT
Definitif: (bedah)
ATRESIA ANUS/ANUS IMPERFORATA
banyak disertai kelainan kongenital lain.

Gejala dan tanda
Tidak keluar mekonium >24 jam

PF
Cari fistul perineum
Periksa abdomen, genitalia, rektum,
dan vertebra untuk kelainan

Penunjang
Untuk mencari kelainan kongenital lain

Tatalaksana
Bedah

ENTEROKOLITIS NEKROTIKANS
kegawatdaruratan GI paling umum pada
neonatus

Gejala dan tanda
Umumnya pada bayi prematur di
minggu ke-2 atau ke-3
Gejala GI non-spesifik
Distensi abdomen
Eritema dinding abdomen
Hematokezia

PF
Bising usus menurun

Penunjang
X-ray polos: pneumatosis intestinalis
(udara di dalam dinding usus)

Tata laksana
NPO (nutrisi parenteral)
Dekompresi NGT
Antibiotik
Bedah jika ada perforasi atau nekrosis
Hidrokel:
A hydrocele is a collection of serous fluid that results from a
defect or irritation in the tunica vaginalis of the scrotum.
Gejala dan tanda:
Pembesaran skrotum Biasanya tidak nyeri
Pemeriksaan trasluminasi (seperti pada gambar) hasilnya
positif

Orchitisnyeri (karena ada inflamasi), transiluminasi (-)
Varikokela dilatation of the pampiniform venous plexus
and the internal spermatic vein. bag of worms.
Elephantiasistissue swelling+skin and tissue thickening
65. A Hidrocele
66. A. Greenstick fracture

67. E. Pembebasan jalan napas
Post KLL, penurunan kesadaran, syok,
terdengar gargling
Gargling sumbatan jalan napas oleh benda
cair
Tindakan awal: ABC tatalaksana airway


68. E stenosis pylorus hipertrofi
Keyword
S: bayi 3 minggu, muntah menyemprot seperti ada
bercak kopi, muntah setelah 30 menit minum susu
O: pyloric mass (olive), radiologi string sign
Diagnosis pada bayi ini adalah hypertrophic
pyloric stenosis (HPS)
Jawaban: E. Stenosis Pilorus Hipertrofi
MORBUS HIRSCHSPRUNG
adalah tidak adanya ganglion di kolon distal,
menyebabkan obstruksi fungsional.

Gejala dan tanda
Keterlambatan pengeluaran mekonium >24
jam
Pada anak yang lebih tua: konstipasi kronik
Tidak ada enkopresis (membedakan dengan
konstipasi fungsional)

PF
Distensi abdomen
Feses menyemprot saat RT

Penunjang
Barium enema: ditemukan zona transisional
Biopsi rektum (definitif)

Tata laksana
Prekolostomi: Hidrasi dan dekompresi gaster
Awal: kolostomi
Terapi definitif setelah BB >10kg:
Rectosigmoidectomi dilanjutkan dengan
anastomosis koloanal
INTUSUSEPSI
Invaginasi sebuah segmen usus ke lumen usus
sebelahnya

Gejala dan tanda
Trias intususepsi: Muntah, nyeri abdomen,
BAB darah bercampur mukus (red currant
jelly stool)
Letargi
Nyeri bersifat kolik. Pada bayi: menangis
melengking dan fleksi pinggang saat nyeri.

PF
Massa berbentuk sosis di kuadran kanan atas
Kekosongan di kuadran kanan bawah
(Dances sign)

Penunjang
USG abdomen: target sign

Tatalaksana
Enema terapeutik: hanya jika
Penyebab idiopatik
Bukan invaginasi usus halus-usus halus
Tidak ada perforasi atau peritonitis
Bedah
HIPERTROFI STENOSIS
PILORUS
adalah hipertrofi lapisan otot
pilorus gaster, menyebabkan
obstruksi

Gejala dan tanda
Muntah nonbilier mulai
usia 4 minggu setiap
setelah makan (<3 jam),
kalau berat bisa proyektil
Os tidak demam, nafsu
makan baik
PF
Pilorus teraba di epigastrium
seperti buah zaitun

Penunjang
USG: tebal dan panjang
pilorus
Enema barium: double track
sign, string sign, shoulder
sign

Tata laksana
Piloromiotomi
69. A. Hernia inkarserata
TIPE HERNIA MENURUT LOKASI
Hernia inguinal




Hernia femoralis
masuk melalui kanalis femoralis (di bawah kanalis
inguinalis)
Tipe Definisi
Hub. dgn arteri
epigastrik inferior
Bisa mencapai
skrotum?
Awitan
(umumnya)
Indirek
Akibat tidak tertutupnya cincin inguinal
interna. Viscera masuk melalui cincin tersebut
dan bisa mencapai skrotum.
Lateral Ya Kongenital
Direk
Masuk dari titik lemah pada fasia dinding
abdomen (segitiga Hesselbach)
Medial Tidak Dewasa
TIPE HERNIA MENURUT KONDISI
Reponibilis : bisa dimasukkan
Ireponibilis : tidak bisa dimasukkan
Inkarserata : terjadi obstruksi (muntah,
konstipasi)
Strangulata : terjadi iskemia (nyeri)

PF
Masukkan jari dari skrotum ke
arah kanalis inguinalis. Bila
hernia menyentuh ujung jari,
maka hernia tersebut adalah
indirek. Bila hernia menyentuh
sisi jari, maka hernia tersebut
adalah hernia direk.

Hernia femoralis teraba di
bawah ligamentum inguinal.
Penunjang
Tidak rutin dilakukan, kecuali
ada komplikasi atau untuk
menyingkirkan diagnosis
banding.

Tata laksana
Reduksi manual kalau
belum strangulata
Kalau gagal: herniorafi

Terapi pilihan adalah watchful
waiting, karena rendahnya
risiko inkarserasi dan tingginya
insiden nyeri pasca-herniorafi.
70. C. Raynauds disease
Keywords: nyeri, pucat, sianosis bila terpapar suhu
dingin

Raynauds disease
Vasospasme rekuren akibat kelainan fungsional pembuluh
darah, biasanya dipicu stres emosional dan suhu dingin
Bentuk serangan: pemicu (dingin) vasospasme (pucat,
biru, nyeri) reflow (hiperemia)
Muncul simetris di ujung jari kaki dan tangan, tidak ada
nekrosis, CRP normal
PF umumnya normal, boleh di-challenge dengan suhu
dingin
71. A. Sindrom Kompartemen
Compartment syndrome: iskemia di jaringan
distal suatu otot akibat peningkatan tekanan di
dalam fascia otot
Peningkatan tekanan dapat mengurangi aliran
darah, kemudian mencegah nutrien dan oksigen
mencapai sel saraf dan sel otot.
Ditandai dengan 5 gejala yang terjadi berurutan
(5P): pain, parastesia, pulseless, pallor,
poikilotermia
Penanda utama dari sindrom
kompartemen/Volkmans ischemia: pulseless
Sindrom kompartemen terjadi jika
pembengkakan atau perdarahan terjadi dalam
sebuah kompartemen tertutup.
Tekanan terhadap kapiler, saraf dan otot
dalam kompartemen tersebut meningkat.
Aliran darah ke sel otot dan saraf terganggu.
Tanpa suplai oksigen dan nutrients, sel saraf
dan otot rusak.

Akut: kegawatdaruratan medis; biasa
disebabkan cedera berat; tanpa penanganan
dapat menyebabkan kerusakan otot
permanen.
Kronik (disebut juga exertional compartment
syndrome): biasanya bukan kegawatdaruratan
medis; disebabkan athletic exertion (aktivitas
berlebihan).

Dalam keadaan akut, jika tekanan tidak segera
dikurangi dengan cepat, dapat mengakibatkan
disabilitas permanen dan kematian jaringan.
Hal ini biasanya tidak terjadi pada keadaan
kronik (exertional).
Paling sering terjadi pada anterior (front)
compartment of the lower leg (calf; dapat juga
terjadi pada kompartemen lain di leg, maupun
di lengan, tangan, kaki, dan bokong.

72. D. Fasiotomi
Tata laksana awal sindrom kompartemen
adalah membebaskan tekanan dalam fasia
otot dengna fasiotomi
Fasiotomi harus segera dilakukan. Bila
diagnosis sind. kompartemen terlambat
tidak ada benefit.
Bila terlambat >3 hari kontraindikasi,
karena otot telah nekrosis, fasiotomi justru
dapat menimbulkan infeksi
73. B. Clostridium Perfingens
Luka tertusuk benda tajam harus selalu dicurigai
adanya infeksi bakteri anaerob.
Pasien dengan keluhan kaki berbau busuk, keluar
nanah, dan kehitaman gangren
(nekrosis/kerusakaan jaringan karena bakteri
anaerob)
Penyebab clostridial gas gangrene
Dapat disebabkan trauma, post operasi, ataupun
spontan
Dalam prosesnya harus terjadi inokulasi jaringan dan
oksigen yang rendah

Clostridium dificile
Bakteri gram positif anaerobic, spore-forming
rods (bacilli), penyebab diare, biasanya muncul
akibat penggunaan antibiotik spektrum luas
Clostridium botulinum
Anaerobik gram positif batang
Menyebabkan botulism kelainan neurologik
akut yang menyebabkan neuroparalisis
Dapat melalui makanan (makanan
kaleng/pengawet) atau luka
Clostridium perfringens:
Anaerob, gram +, rod-
shaped, spore

Clostridium tetani:
Anaerob, gram +, rod-
shaped, endospore
Tennis racket/drumstick
appearance

Staphylococcus:
Facultative anaerob,
gram +, round
Grape-like clusters
Streptococcus
pyogenes:
Aerob, gram +, round
74. C. Teraba Nodul Prostat
BPH: kelainan pada zona transisional
Ca. prostat: kelainan pada zona perifer/tepi
Teraba nyeri pada prostat selain keganasan dapat
terjadi pada infeksi (prostatitis) atau inflamasi lainnya
Gejala pada BPH adalah Gejala LUTS :
Gejala Obstruksi (hesitansi, pancaran miksi lemah,
intermitensi, miksi tidak puas, menetes setelah miksi, atau
retensi urin total),
Gejala iritasi (frekuensi, nokturi, urgensi, disuri).
PF : rectal toucher (prostat membesar, permukaan rata)
Penunjang : USG.
Tatalaksana : alfa-bloker (tamsulosine), 5-alfa-
reduktase inhibitor (finasteride), tindakan bedah
(TURP, TUIP, prostatektomi)

Ca. Prostat
Ca prostat: tumor ganas yang berasal dari sel kelenjar
prostat
Berada pada zona perifer/tepi
Adanya nyeri saat berkemih, hematuria, bisa disertai
adanya demam dan khas tanda keganasan lainnya: usia
lanjut, penurunan BB, penurunan nafsu makan,
anemia penyakit kronis
RT: nodul keras pada kelenjar prostat, nyeri (+)
PSA: tumor marker untuk Ca.prostat
Terapi: kemoterapi dan pembedahan
75. B. Eksisi
Kemungkinan diagnosis pada kasus ini adalah
FAM.
Teknik biopsi yang tepat untuk FAM: biopsi eksisi
The ultimate diagnostic biopsy is open excisional
biopsy of a lesion, normally performed
under general anesthesia. (Sumber:
http://emedicine.medscape.com/article/1947145
-workup)
OBSGYN
Pasien dengan obesitas dan hipertensi merupakan kontraindikasi
penggunaan kontrasepsi hormonal.
Tubektomi merupakan kontrasepsi mantap dan akan sulit lagi
dilakukan reanastomosis tuba kembali apabila masih ingin memiliki
anak
Kondom dapat terjadi kegagalan seperti karet yang bocor dan
pemakaian yang tidak tepat sehingga pencegahan kehamilan tidak
dapat diprediksi
IUD atau AKDR dapat bertahan 5-8 tahun dan mudah untuk kembali
ingin mempunyai anak (hanya dengan mengeluarkan AKDR dari
rahim) sehingga perencanaan kehamilan dapat diprediksi
76. B. AKDR/IUD
Kontrasepsi
Alamiah: koitus interuptus & pantang senggama
(metode kalender tengah siklus haid, lendir servix
lebih kental, dan peningkatan suhu basal)
Mekanik: kondom (wanita, pria), IUD (5-8 tahun).
IUD Cu-T dengan reaksi peradangan menghambat
fertilisasi dan implantasi ke endometrium
Hormonal: pil, suntik, implan, patch: bisa
progresteron saja, bisa kombinasi dengan
estrogen
Kontap (KB mantap): tubektomi, vasektomi
(untuk usia wanita >35 tahun)

PENGGUNAAN KONTRASEPSI
BERDASARKAN TUJUAN
166
77. D. 16-18 minggu
DJJ terdengar doppler 12 minggu
DJJ terdengar leneck 18-20 minggu
78. B. 27 Maret 2012
Keywords: HPHT 20 Juni 2011, siklus haid 28
hari, positif hamil.
Rumus Naegel : Tanggal + 7, bulan 3, tahun
+ 1, dengan catatan siklus menstruasi 28 hari

Contoh lain: Pasien HPHT 28 Maret 2013,
siklus haid 28 hari, taksiran partus?
Harusnya 35 Desember 2013 4 Januari 2014
79. A. Kala I fase aktif
Keywords: perut mulas, kencang, hamil aterm
(37-42 minggu), pembukaan 5 cm
Pengisian patograf dimulai sejak fase I aktif
< 37 minggu: preterm. Jika inpartu pada < 35
minggu lakukan pematangan paru dengan steroid
(dexametason)
> 42 minggu: posterm
Tanda aktif kala II: dorongan kuat ingin meneran,
perineum menonjol, sfingter ani dan vulva
membuka, pengeluaran lendir/darah yang banyak
Persalinan Normal
Kala I : proses membukanya serviks
Fase laten : bukaan 1-3 cm (selama 8 jam)
Fase aktif : bukaan 4-10 cm (lengkap) selama kira-kira 6 jam (1
cm/jam)
Kala II: proses melahirkan bayi
Dimulai sejak bukaan serviks lengkap hingga lahirnya bayi
Batas waktu 60 menit pada nullipara dan 30 menit pada
multipara
Kala III: proses melahirkan plasenta
Dimulai sejak lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta
Batas waktu 30 menit
Kala IV: pemantauan keadaan ibu (tanda-tanda vital)
Dimulai sejak lahirnya plasenta sampai 2 jam setelahnya
80. C. Ketuban pecah dini
KPD:
pecahnya membran amnion pada hamil aterm tanpa adanya
tanda persalinan (kontraksi)
Pecahnya membran amnion sebelum hamil 37 minggu
Cairan amnion: bening, tidak berbau amoniak, pH basa
Bila hamil aterm kebanyakan akan berlanjut masuk
persalinan dalam 24 jam, belum tentu butuh induksi
Risiko infeksi intrauterin
Terapi:
Hamil preterm: tokolisis, steroid untuk pematangan paru
Aterm: antibiotik

Pada soal, saat pemeriksaan pembukaan serviks 2 cm,
namun ketuban telah pecah sebelumnya. Diagnosis
dianggap KPD.
81. E. KET
Keywords: nyeri perut bawah akut, perdarahan dari
OUE, nyeri goyang portio (+), tanda gagal sirkulasi
(syok/presyok), anemia karengan perdarahan (8
gr%) kehamilan ektopik terganggu
Jika terdapat palpasi abdomen tegang, defans
muscular (+) ruptur kehamilan ektopik
Molahidatidosa perdarahan bergumpal
seperti anggur < 20 minggu, uterus lebih besar
dari usia kehamilan, ballotement (-), DJJ (-), b-
HCG urine sangat tinggi
Kehamilan Ektopik
A pregnancy that occurs outside the womb (uterus)
Life-threatening condition to the mother
The baby (fetus) cannot survive
Symptoms:
Early pregnancy symptoms, such as breast tenderness or nausea
Abnormal vaginal bleeding
Low back pain
Mild cramping on one side of the pelvis
No periods
Pain in the lower belly or pelvic area
Rupture shock emergency
Radang Panggul (PID)
Radang panggul adalah penyakit yang diakibatkan
infeksi ascending dari vagina atau serviks ke
endometrium, tuba falopii dan/atau struktur
disekitarnya.
Pada penyakit radang panggul pemberian
antibiotik spektrum luas menjadi penting
walaupun patogen belum dapat teridentifikasi
secara objektif.
Kombinasi cephalosporin generasi ke-3 atau
amoxicillin ditambah dengan tetracycline dan
metronidazol dapat menjadi pilihan utama.
Abortus (Berdasarkan Tingkatan), Hafal!
Abortus iminens: portio tertutup, jaringan (-)
Abortus insipiens: portio terbuka, jaringan (-)
Abortus inkomplit: portio terbuka, jaringan (+)
Abortus komplit: portio tertutup, jaringan (+)
Abortus habitualis: telah terjadi abortus
selama min 3 kali berturut-turut
Abortus septik: abortus yang diikuti dengan
komplikasi dan tanda-tanda infeksi

Mola Hidatidosa
Kadar bHCG yang tinggi serta ukuran uterus
yang lebih besar dari masa kehamilan
menunjukan diagnosis mola hidatidosa.
Mual serta muntah berlebihan yang dialami
pasien adalah akibat kadar beta-HCG yang
sangat tinggi.
Terapi: kuretase

82. D. Solutio plasenta
Keywords: kehamilan > 20 minggu, nyeri perut
hebat, tampak kesakitan, tanda gagal sirkulasi
ibu maupun janin (distress janin DJJ sulit
ditemukan/bagian janin sulit teraba): solutio
plasenta
Perdarahan < 20 minggu atau < 500 gram:
abortus
Perdarahan > 20 minggu: plasenta
previa/solutio plasenta (tersering)
Solutio plasenta : perdarahan pervaginam, warnanya akan
kehitam-hitaman dan sedikit sakit, perut terasa agak sakit,
atau terasa agak tegang yang sifatnya terus menerus
Plasenta previa : perdarahan tanpa nyeri, tiba-tiba, tanpa
penyebab, biasanya darah berwarna merah segar, VT teraba
plasenta atau presentasi janin
Varises vagina : terlihat pelebaran pembuluh darah di vagina
Abortus insipiens : Perdarahan per vaginam dengan kontraksi
makin lama makin kuat dan makin sering, serviks sudah
terbuka
Vasa previa : pembuluh darah janin melintasi atau berada di
dekat ostium uteri internum, perdarahan terjadi apabila
ketuban pecah.

Hemmoragic Antepartum (HAP)
Hemmoragic Antepartum (HAP)
Plasenta previa darah warna merah segar, tidak nyeri, janin tidak
distress (DJJ baik). Perdarahan 100 cc yg keluar darahnya 100cc.
Ibu tidak kesakitan. Sering terjadi pada hamil muda (30%). Prinsip:
tunggu sampai anak bisa hidup diluar, indikasi mutlak SC.
Pemeriksaan: USG. Jika perdarahan tidak boleh VT, inspekulo
terlebih dahulu. Ada 3 jenis: PP totalis, marginalis, dan subtotal
Solusio plasenta (lepasnya plasenta sebelum waktunya) darah
warna gelap/kecokelatan, perdarahan 500cc gak bisa keluar. Ibu
tampak sangat sakit perut dan pucat. DJJ janin tidak ada/distress,
tidak teraba bagian janin. Harus SC cito.
Plasenta letak rendahdi segmen bawah uterus
Ruptur sinus marginalispembuluh darah kecil, tidak berbahaya.
Keywords: perdarahan trimester 2 & 3 (> 20 minggu), warna merah
segar, tidak ada nyeri perut, tidak ada gagal sirkulasi ibu dan janin
(pre-syok/syok/distress), biasanya sesudah aktivitas, DJJ baik,
teraba bagian janin dengan baik
Solutio plasenta : perdarahan pervaginam, warnanya akan kehitam-
hitaman dan sedikit sakit, perut terasa agak sakit, atau terasa agak
tegang yang sifatnya terus menerus
Plasenta previa : perdarahan tanpa nyeri, tiba-tiba, tanpa penyebab,
biasanya darah berwarna merah segar, VT teraba plasenta atau
presentasi janin
Varises vagina : terlihat pelebaran pembuluh darah di vagina
Abortus insipiens : Perdarahan per vaginam dengan kontraksi makin
lama makin kuat dan makin sering, serviks sudah terbuka
Vasa previa : pembuluh darah janin melintasi atau berada di dekat
ostium uteri internum, perdarahan terjadi apabila ketuban pecah.

83. B. Plasenta previa
Haemorragic Antepartum (HAP): Usia
Kehamilan > 20 Minggu
Plasenta previa darah warna merah segar, tidak nyeri, janin tidak
distress (DJJ baik). Perdarahan 100 cc yg keluar darahnya 100cc. Ibu
tidak kesakitan. Sering terjadi pada hamil muda (30%). Prinsip:
tunggu sampai anak bisa hidup diluar, indikasi mutlak SC.
Pemeriksaan: USG. Jika perdarahan tidak boleh VT, inspekulo
terlebih dahulu. Ada 3 jenis: PP totalis, marginalis, dan subtotal
Solusio plasenta (lepasnya plasenta sebelum waktunya) darah
warna gelap/kecokelatan, perdarahan 500cc gak bisa keluar. Ibu
tampak sangat sakit perut dan pucat. DJJ janin tidak ada/distress,
tidak teraba bagian janin. Harus SC cito.
Plasenta letak rendahdi segmen bawah uterus
Ruptur sinus marginalispembuluh darah kecil, tidak berbahaya.

84. D. Observasi
Hamil 44 minggu postterm
Ketuban pecah, sisa ketuban hijau
mekonium
Pembukaan 7-8 cm, UUB Hodge II laju
persalinan normal

observasi dahulu, ga perlu induksi
Siap-siap resusitasi neonatus
Kehamilan Postterm
Hamil >42 minggu
Pada hamil >40 minggu namun <42 minggu,
dapat dilakukan induksi persalinan
Komplikasi kehamilan postterm
Turunnya aliran darah ke janin karena penuaan
plasenta (kalsifikasi)
Oligohidramnion
Aspirasi mekonium
Makrosomia distosia bahu, robekan jalan lahir, CPD
Diperlukannya ekstraksi forceps/vakum/SC
Stres pada ibu karena menanti persalinan
Penanganan: induksi persalinan, SC
85. B. Derajat 2
Pasien melahirkan bayi makrosomia (> 4000 gram).
Penyebab HPP tersering (4T): Tone, Tissue,
Trauma/Tear, Thrombine
Tone: Atonia uteri kontraksi uterus lemah.
Tatalaksana: uterotonika (oxytocin, metergin)
Tissue: Sisa plasenta jaringan plasenta tidak lengkap.
Th/ kuret
Trauma: Laserasi jalan lahir darahnya merah segar
(ruptur perineum grade I-IV atau ruptur uteri)
Thrombine: Gangguan koagulasi HELLP syndrome,
DIC
Derajat Ruptur Perineum
Derajat I: robekan pada mukosa & kulit vagina saja
Derajat II: derajat I + robekan kulit perineum hingga
otot dan fasia perineum (belum mengenai sfingter ani)
Derajat III: derajat II + robekan seluruh perineum
sampai m. sfingter ani:
- IIIa: robekan < 50% ketebalan m. sfingter ani
- IIIb: robekan > 50% ketebalan m. sfingter ani
- IIIc: hingga m. sfingter interna
Derajat 4: sudah melibatkan mukosa rektum dan epitel
anus (sudah bolong)
86. B. Mempercepat pematangan paru
Keywords: kehamilan preterm (<37 minggu), UK < 35
minggu (paru belum matang sempurna), bloody show
+ (tanda in partu)
Fungsi steroid sebagai pematangan paru janin
glukokortikoid (prednison, betametason,
deksametason) merangsang produksi surfaktan paru
janin krn bayi prematur produksi surfaktan masih
sedikit. Selain itu steroid untuk menurunkan komplikasi
perdarahan intraventricular, necrotising enterokolitis
(diare pada bayi prematur), & ductus arteriosus (PDA)
Siapkan surfaktan jika diperlukan pada neonatus untuk
mencegah hyaline membrane disease 7 RDS risiko
asfiksia karena paru tidak mengembang
87. A. Distosia bahu
Keyword: sakit perut postpartum, perdarahan (+), riw.
DM, melahirkan bayi besar pervaginam Diagnosis:
DMG
Komplikasi yang terjadi pada kelahiran tersebut:
Distosia bahu
Inversi uteri terdapat benjolan pada dinding vagina
karena perasat crade pada saat kelahiran plasenta (kala
III), tidak dilakukan peregangan tali pusat terkendali
dan penekanan arah dorsokranial di fundus uteri
Distosia bahu biasa terjadi pada bayi makrosomia >
4000 gram, perlu manuver khusus untuk lahir, paling
sering menyebabkan Erbs palsy atau cedera pleksus
brachialis
Retensio Plasenta
Plasenta belum lahir dalam setengah jam sesudah
janin lahir oleh karena vili korialis menembus
desidua sampai miometrium dibawah
peritoneum (plasenta akreta-perkreta)
Dapat menimbulkan perdarahan post partum dini
atau perdarahan post partum lambat (6-10 hari
pasca persalinan)
Penyebab: plasenta sukar lepas, sudah lepas tapi
belum keluar, atonia uteri
Pada ibu hamil dengan DM atau pun bayi besar
seringkali terjadi retensio plasenta
88. B. Nifedipine
Obat pilihan untuk menurunkan tekanan
darah pada preeklamsia:
Hidralazine (drug of choice)
Labetalol (lebih bagus dari hydralazine karena efek
samping hipotensi lebih rendah)
Nifedipine (secara internasional kurang disukai
karena short acting, sedangkan diperlukan obat
yang long acting)

Obat pilihan pada hipertensi dalam kehamilan
Lini 1: metildopa
Lini 2 (bila tidak responsif atau HT berat):
Labetalol: dpt menyebabkan IUGR
Nifedipin: penurunan TD terlalu drastis
Hidralazin: dapat menyebabkan trombositopenia neonatus
HCT: dapat menyebabkan hipovolemia dan gangguan
elektrolit
ACE-I (kaptopril) dan ARB (losartan, valsartan)
dikontraindikasikan karena bersifat teratogen
(defek pada jantung, agenesis ginjal)
89. C. Neonatus kurang bulan, sesuai
masa kehamilan
32 minggu, 1600
gram appropiate for
gestational age
< 37 minggu: preterm.
Jika inpartu pada < 35
minggu lakukan
pematangan paru
dengan steroid
(dexametason)
> 42 minggu: posterm

90. B. Hipotiroid kongenital
Setiap pasien Graves disease harus eutiroid
sebelum hamil dengan cara pembedahan,
ablasi radioaktif (radioactive iodine, RAI), atau
obat antitiroid
Setelah operasi dan RAI tunggu 6 bulan
baru boleh hamil
Obat
PTU pada trimester 1
Methimazole pada trimester 2-3
Risiko pada fetus
Bila hipertiroid tidak terkontrol transient central
hypothyroidism
Terapi dengan obat antitiroid fetal/neonatal
hypothyroidism
Tingginya antibodi reseptor tiroid (TRAb) maternal
fetal/neonatal hyperthyroidism

Pada soal pasien tidak menjalani pembedahan
atau terapi ablasi, kemungkinan terapi dengan
obat antitiroid dengan efek hipotiroid pada janin
91. B. Mikrositik Hipokromik
Wanita hamil, lemah, letih, lesu, Hb 9%
tersering anemia pada ibu hamil: anemia
defisiensi besi (Fe)
Berikan suplementasi rutin Fe selama kehamilan.
Jika terdapat anemia terapi dengan preparat
besi sebagai pengobatan
Normal Hb:
- Trimester I > 11gr%
- Trimester 2 > 10gr% (terjadi hemodilusi
maksimal/pengenceran plasma pada usia 20-22
minggu, seolah-olah anemia)
- Trimester 3 > 11gr%
Suplementasi Besi & Pengobatan
Kebutuhan besi pada umum: 15-30 mg/hari
Kebutuhan besi pada wanita hamil: 30-50
mg/hari
Profilaksis: 1-2 mg/KgBB/hari
Anemia def besi (+) ringan/sedang terapi
dengan preparat Fe dengan dosis 3
mg/KgBB/hari (dibagi dalam 1-2 dosis)
Anemia def besi (+) cukup berat terapi
dengan preparat Fe dengan dosis 4-6
mg/KgBB/hari (dibagi dalam 3 dosis)
92. D - flukonazole
Keputihan gatal, cairan kental, riwayat DM
vulvovaginal candidiasis

Terapinya: Flukonazole 150 mg PO dosis
tunggal
Flukonazole dosis tinggi (400-800 mg per hari)
dikontraindikasikan pada hamil
Flukonazole 150 mg single dose aman untuk hamil
93. A. kolposkopi
Keywords: wanita usia reproduksi, keputihan,
post-coital bleeding, menikah sudah 18 tahun
dan sering berganti pasangan suspect ca. servix
Pemeriksaan awal dengan inspekulo, lihat sumber
perdarahan, ada massa atau tidak
Gold standard biopsi PA CERVIX untuk
mengetahui jenis sel jinak/ganas dan asal
pertumbuhan sel
Awal: pap smear. Bila CIN maka lanjut kolposkopi
biasanya berbarengan dengan biopsi
Karsinoma Serviks
Kanker servix disebabkan 99,7% oleh HPV.
95% infeksi HPV oleh hubungan seksual
70% ca servix oleh strain ganas 16 dan 18
(onkogenik). Strain 6 dan 11 (jinak) lebih jarang
menimbulkan
Infeksi HPV menetap menjadi sel kanker butuh
waktu 3-17 tahun
Faktor risiko: hub seksual usia muda, kehamilan
sering, merokok, KB hormonal jangka panjang (10
tahun meningkatkan risiko 2 kali), infeksi HSV 2
dan chlamidya, pasangan tidak di sirkumsisi
Gejala
Post-coital/contact bleeding
Menometroragia spontan
Keputihan bercampur darah dan berbau
Nyeri panggul, gangguan BAK
Nyeri ketika berhubungan/dispaurenia
Diagnosis: deteksi dini: IVA, papsmear, thin-
prep/LBC, pap-net, hybrid capture
94. E. Hypermenorea
Di kasus: lama haid 12-14 hari
Menoragia: abnormally profuse menstrual flow
Profuse = >80 cc (N: 40-50 cc)
Hypermenorrhea: abnormally profuse or
prolonged menstrual flow
Metroragia: siklus tidak teratur, perdarahan di
luar siklus
Polymenorea: mens jadi sering, siklus <21 hari
Oligomenorrhea: mens jadi jarang, siklus >35
hari
95. A. Trichomonas vaginalis
Keywords: wanita sexually active, keputihan 1
minggu, BAK terus, nyeri, sekret kuning-kental
dan berbusa, organisme berbentuk buah peer,
berflagel di anterior dan posterior, memiliki inti 1
A parasicitic protozoan infection
Pada wanita menyebabkan vaginitis, pada pria
menyebabkan gejala uretritis
Tanda: "strawberry" cervix (colpitis macularis, an
erythematous cervix with punctate areas of
exudation) or vagina on examination.
Terapi: metronidazole, tinidazole

Diagnosis Banding Keputihan
1. Pikirkan fisiologis: jumlah sedikit, tidak berbau,
tidak gatal, sebelum/sesudah menstruasi, saat
kehamilan, sebelum/sesudah melahirkan
2. Pikirkan patologis:
- Infeksi menular seksual
- Efek samping DM/kondisi imunosupresi
(penggunaan steroid, antibiotik jangka lama, DM
dapat memicu pertumbuhan jamur/candida)
- Efek samping KB (salah satu efek samping KB
adalah keputihan)
- Lesi prakanker (Ca. servix) skrining dengan IVA
dan Papsmear yang sensitif dan mudah
Infeksi Menular Seksual (Gejala)
Candida: sangat gatal, berbau, warna putih
seperti susu, kondisi lembab dan hygiene buruk
Trichomonas: warna putih-kekuningan/kehijauan,
gatal, berbau, ada busa
Bacterial Vaginosis: putih-keabuan, bau amis
dominan
ISK/uretritis GO: warna putih-kekuningan, ISK
pasti ada nyeri berkemih, nyeri saat koitus, faktor
risiko pekerjaan
ISK/uretritis non-GO: warna putih-keabuan, ISK
pasti ada nyeri berkemih, nyeri saat koitus, faktor
risiko pekerjaan
Kandidiasis
A fungal infection (mycosis) of any of
the Candida species (all yeasts), of which Candida
albicans is the most common.
Infection of the vagina or vulva may cause severe
itching, burning, soreness, irritation, and a
whitish or whitish-gray cottage cheese-like
discharge, often with a curd-like appearance.
These symptoms are also present in the more
common bacterial vaginosis.
Bacterial vaginosis
Penyebab: Gardnerella vaginalis
Berbau amis, abu-abu homogen, tidak ada tanda
inflamasi
Pada sediaan basah ditemukan clue cells (sel epitel
vagina yang granular yang diliputi oleh kokobasil
sehingga batasnya tidak jelas). Pada pewarnaan gram
terlihat batang-batang kecil gram-negatif atau variabel
gram. pH vagina 4,5-5,5. Pada Sniff test (1 tetes KOH
10% pada sekret vagina) ditemukan bau amin.
Tatalaksana : metronidazole 2x500 mg (7 hari) ATAU
clindamycin 2x300 mg (7 hari)
Neiseria gonorea
Masa tunas Neisseria gonore sangat singkat, pada pria umumnya
berkisar antara 2-5 hari. Pada wanita masa tunas sulit untuk
ditentukan karena pada umumnya asimptomatik.
Pada pria keluhan dapat berupa rasa gatal, panas di bagian distal
uretra di sekitar OUE, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh
mukopurulen, dan nyeri waktu ereksi.
Pemeriksaan penunjang berupa apusan gram ditemukan
diplokokus gram negatif di dalam/luar leukosit PMN. Bila perlu,
dilakukan biakan dengan media Thayer-Martin.
Tata laksana:
Penisilin G 4,8 juta unit + 1 g probenesid
Regimen baru: Ceftriaxone 250 mg intramuscular (IM) single dose
PLUS, Azithromycin 1 g PO single dose OR Doxycycline 100 mg PO
twice a day for 7 days
Sifilis
Penyebab: Trepanoma pallidum
Gambaran klinis pd pasien menunjukkan ulkus
durum (ulkus yg bersih, soliter, dan tidak
nyeri), ditambah dgn VDRL (+) dan TPHA (+).
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi T.
pallidum sifilis.
Tata laksana (sifilis primer): Penicillin G
benzatin 2,4 juta U dosis tunggal

MATA
96. D. Konjungtiva gonnore
Konjugtivitis yang diakibatkan oleh bakteri N.
Gonorrea. Gejalablefarospasme, , biasanya
konsistensi sekret purulen berwarna putih
kehijauan, dan pada pemeriksaan gram
didapatkan diplokokus gram negatif.
Pada konjungtivitis klamidia : sekret kekuningan,
dan pada pemeriksaan giemsa didapatkan sel
epitel dg badan inklusi dari stutgardt, yg basofilik,
menyerupai trakoma, dan dikelilingi oleh monosit
dan PMN
Konjungtivitis Viral :
Penyebab : HSV, Zoster
Klinis : bayak folikel, hiperemis, mungkin ada
pseudomembran. Sering didapatkan
keratitis/infiltrat dendritikus
Konjungtivitis Alergi/Konjungtivitis Toksik :
Penyebab: pemakaian pilokarpin/eserin terlalu
lama dan toksis moluskum kontagiosum
Gejala: tanda radang tak nyata, banyak folikel, dan
keluhan yang dirasakan nyata adalah mata berair

97. A. Aspergillus sp.
Keywords: mata merah, nyeri, berair, riwayat terkena
ranting pohon, infiltrat bentuk lesi satelit di kornea,
hipopion

Keratitis fungal: infeksi kornea akibat jamur (fusarium,
aspergillus, candida)
Jamur tidak dapat menginvasi kornea seperti mikroba lain, harus
ada defek kornea
Biasa didahului trauma mata oleh materi tumbuh2an (ranting, daun)
Penggunaan contact lens
Penggunaan steroid topikal, pasien immunocompromised
Operasi kornea
Tanda/gejala: mata merah, nyeri, berair, perasaan mengganjal,
fotosensitivitas, injeksi konjungtiva, infiltrat dengan feathery
margin, tepi menonjol, lesi satelit, hipopion
Perlu rawat inap bila diduga ada ancaman perforasi kornea
Trychophyton dan epidermophyton
kelompok dermatofita menginfeksi kulit,
mata kaga
Keratitis bakterial
Streptococcus, Pseudomonas, Staphylococcus,
Klebsiella, Enterobacter
Peradangan tidak seheboh keratitis fungal
Bakteri mampu menginvasi kornea ulserasi
kornea
98. C Rectus lateralis
Tidak bisa melihat ke kiri di kedua mata, kerusakan pada...
mata kanan rectus medial
mata kirirectus lateral
99. A. Shadow test
Diagnosis pada pasien :
kataran senilis
Pemeriksaan yang
tepat Shadow test
Anel test untuk
mengetahui apakah
fungsi dari saluran ekresi
(kelenjar lakrimal) baik
atau tidak
Anel + : fungsi baik
Anel negatif -: terdapat
sumbatan/kelainan
saluran ekskresi

Schimmer
testpengukuran
produksi air mata
Fluorescence test
penentuan letak (lebar
dan dalamnya) ulkus
kornea (superfisial atau
non superfisial)
Heirsberg test
mengetahui kedudukan
pupil kedua mata/
mengukur derajat tropia

100. D. Iridosiklitis
Irodosiklitis : Inflamasi pada iris dan pars
plicata
Radang iris dan badan siliar menyebabkan
rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga
terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel
radang dalam humor akuos.
Pada pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal
ini tampak sebagai flare, yaitu partikelpartikel
kecil dengan gerak Brown (efek tyndall).


Gejala utama adalah fotofobia, nyeri, merah,
penglihatan menurun, dan lakrimasi.
Tanda-tanda adalah injeksi silier, keratic
precipitate (KP), nodul iris, sel-sel akuos, flare,
sinekia posterior, dan sel-sel vitreus anterior.
DD/ Konjungtivitis, keratokonjungtivitis
(keratic presipitate (-), efek tyndall (-)), dan
glaukoma akut

101. E. Sulfas atropin
Riwayat terciprat lumpur dan gambaran cakram
pada kornea disc Keratitis Disiformis dari
Wethoff
Disebut juga sawah keratitis, banyak ditemukan
pada petani. Ec virus yang berasal dari sayuran
atau binatang
Klinis : lakrimasi, fotofobia, gangguan visus,
blefarospasme. Di kornea tampak infitrat bulat-
bulat, ditengah lebih padat dibanding di pinggir,
terletak subepitelial, tes fluoresin (-)
Th/ SA 1% 3 kali/hari 1 tetes
Terapi umum
Sikloplegik - sulfas atropine karena efek kerja yang
lama (1-2 minggu)

Efek kerja sulfas atropine :
- painkiller.
- anti radang.
- memicu paralisis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.
mata tidak mempunyai daya akomodsi mata
dalan keadaan istirahat (midriasis) juga membantu
melepas sinekia posterior (apabila terbentuk)

102. A. Chalazion

Chalazionpembengkakakn
sebesar kacang, tanpa keluhan
apa2, rabaan keras, melekat
pada tarsus, akan tetapi lepas
dari kulit.
Th/ kecil dapat diberikan
kompres hangat, kalau besar
dilakukan eksisi dan kuretase
mengeluarkan isi GI. Meiboom

Hordeolum infeksi akut
dari kelenjar palpebra yg
disebabkan oleh
stafilokokus/streptokokus
Jika mengenai kel
Meibom, disebut
hordeolum internum
sedangkan mengenai Gl.
Zeis/Moll dst Hordeolum
eksternum
Tanda2: palpebra
bengkak, merah, sakit,
dan tonjolan di palpebra.

Hordeolum
Kalazion
103. D. Iridotomi
Trabekulotommi/Trabekuloplasti : indikasi untuk glaukoma
sudut terbuka (glaukoma kronik)
Goniotomi : untuk memotong jaringan mesenkim yang
menutupi trabekula atau memotong iris/m. Siliaris
longitudinalis yang berinsersi pada trabekula. Indikasi pada
glaukoma konggenital
Iridotomi : memotong iris (perifer), indikasi glaukoma
akut fase prodormal, stadium akut yang baru terjadi satu
hari, jadi belum ada sinekhia anterior perifer terapi
definit
Iridoplasti indikasinya sama dengan dengan iridotomi,
tetapi beberapa penelitian mengatakan bahwa iridoplasti
dapat dengan cepat menurunkan TIO dan membuat kornea
jernih sebelum dilakukan iridotomi*

Terapi Glaukoma sudut tertutp primer akut
dengan iridoplasti dan iridotomi laser oleh Edi
Efendi & Indriani (FKUI)
104. B. Subluksasi
Maka ada bagian yang afakia dan bagian yang ada
lensanya.
Keluhan berupa
Subyektif : visus berkurang
Objektif :
COA pada tempat yang ada lensanya dangkal, sedang
pada yang tak ada lensanya dalam. Pupil pada yang afakia
hitam, yang ada lensa keruh
Iris pada tempat yang tak ada lensanya terdapat
iridodonesis (iris tremulans) karena tak ada tahanan
dibelakang iris
Luksasi lensa: putusnya seluruh penggantung
lensa, maka lensa dapat masuk ke belakang ke
dalam badan kaca. COA menjadi dalam, iris
tremulans, pupil sangat hitam dan tak ada lensa
lagi (afakia)
Th/ pada subluksasi dan luksasi, kalau tidak ada
tanda2 iritasi, dibiarkan saa, hanya diberikan
lensa untuk memperbaikin visus. Kalau timbul
penyulit (uveitis/glaukoma), baru dilakukan
pengeluaran lensa
105. C. Astigmat Myopia Kompositus
Kasus : Visus VOD S-1,75 D, C-1,00, VOS S-2,00 D,
C-1,00 D
Contoh dari rumus penderita:
Astigmat mixtus
S-0,5, C+ 0,25 as 100 derajat
S+0,75, C- 0,25 as 10 derajat
Astigmat myopia simplex
C-0,25 as 100 derajat
Astigmat hipermetrop kompositus
S+1, C+0,75 as 75 derajat
Astigmat hipermetrop simplex
C+0,75 as 180 derajat

Astigmat : kelainan refraksi mata, dimana didapatkan bermacam-
macam derajat refraksi pada bermacam-macam meridian,
sehingga sinar sejajar yang datang pada mata itu akan
difokuskan pada macam-macam fokus pula
FORENSIK DAN ETIK
106 - D
Menjelaskan prosedur dan hasil pada pasien
namun terserah pasien melanjutkan
pengobatan atau tidak
Segala tindakan yang akan dilakukan oleh
dokter sebaiknya didahui dengan informed
consent

107 - C

108 - A
Informasi dalam RM merupakan milik pasien
sedangkan RM itu sendiri milik rumah sakit
Pasien/keluarga dapat meminta informasi
mengenai penyakit yang diderita pasien ke
dokter/ RS, dan kemudian dokter/RS akan
memberikan dalam bentuk surat keterangan

109 - B
Setiap dokter dalam prakteknya dihadapakan kondisi yang
terkadang membinggungkan dalam mengambil keputusan.
Prima facie dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan
keputusan tersebut
Justice
Non-Malaficence
Beneficence
Autonomy
Pada kasus ini, Dokter semetinya mengedukasikan pasien
agar mau menginformasikan penyakitnya ke istrinya terkait
penyakit yang diderita (AIDS dan TBC), mengingat penyakit
tersebut memiliki potensi penularan ke istri atau anggota
keluarga yang lain Beneficence

Beneficence lebih ke melindungi pasien
General beneficence :
mencegah terjadi kerugian pada yang lain,
menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang
lain,
Specific beneficence :
menolong orang cacat,
menyelamatkan orang dari bahaya.

110 - C
Hipoksia: Hipoksia adalah kekurangan O2
ditingkat jaringan.
Hipoksia hipoksik (anoksia anoksik) yaitu apabila PO2
darah arteri berkurang
Hipoksia anemik yaitu apabila O2 darah arteri normal
tetapi mengalami denervasi
Hipoksia stagnan; akibat sirkulasi yang lambat
merupakan masalah bagi organ seperti ginjal dan
jantung saat terjadi syok.
Hipoksia histotoksik; hipoksia yang disebabkan oleh
hambatan proses oksidasi jaringan paling sering
diakibatkan oleh keracunan sianida.


111 - A
Untuk tindakan life saving, jika tidak ada
keluarga pasien, boleh langsung melakukan
tindakan tanpa informed consent
Polisi maupun orang yang mengantar tidak
memiliki hak
112 - A
Hipoksia karena CO bersaing dengan O2 untuk
mengikat hemoglobin
Diagnosis keracunan CO anamnesis adanya
kontak dan ditemukan gejala keracunan CO
Gejala
Lebam mayat berwarna merah muda terang
(cherry pink colour) pada otot, visera, dan darah
Petekie di substansi alba bila korban dapat
bertahan hidup jam
Ditemukan juga ring hemorrhage dan ball
hemorrhage di otak
113 - D
Bila autopsi yang diinginkan, maka penyidik wajib
memberitahu kepada keluarga korban dan menerangkan
maksud dan tujuan pemeriksaan
Pasal 134 KUHAP autopsi dilakukan setelah keluarga
korban tidak keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada
tanggapan apapun dari keluarga keluarga korban, atau
keluarga korban tidak ditemukan
Tetapi dari jejas luka yang ditemukan pada pasien,
kemungkinan akibat penjeratan (tindakan pidana), oleh
karena itu kasus tersebut harus dilakukan penyidikan, dan
dokter dapat melakukan otopsi setelah diberikan mandat
berupa surat dari penyidik, jaksa/hakim (lembaga
peradilan)
Pasal 222 KUHP --> mereka yang menghalangi pemeriksaan
jenazah untuk kepentingan peradilan diancam hukuman.
Jadi pasal sebelumnya gugur.


Pembunuhan Bunuh Diri
Alat penjerat
Simpul
Jumlah lilitan
Arah
Jarat titik tumpu-simpul

Simpul mati
Satu
Datar
Dekat


Hidup
Satu/lebih
Serong ke atas
Jauh
Korban
Jejas jerat
Luka perlawanan
Luka-luka lain
Jarak dari lantai

Datar
+
Ada
Jauh

Meninggi ke arah simpul
-
-
Dekat
TKP
Lokasi
Kondisi
Pakaian

Variasi
Tidak teratur
Robek/tidak teratur

Sembunyi
Teratur
Rapi dan baik
Alat Dari si pembunuh Berasal dari TKP
Surat peninggalan - +
Ruangan Tak teratur, terkunci dari luar

114 - B

Luka tembak
LT tempel terdapat jejas laras
LT sangat dekat (maksimal 15 cm) terbentuk
akibat anak peluru, mesiu, jelaga dan panas/api
kelim api
LT dekat terbentuk akibat anak peluru dan
mesiu kelim jelaga (maksimal 30 cm), kelim
tato (maksimal 60 cm)
LT jauh (> 60 cm) terbentuk akibat komponen
anak peluru kelim kesat dan kelim lecet

Kelim lecet: bagian yang kehilangan kulit ari yang
mengelilingi lubang akibat anak peluru yang
menembus kulit
Kelim kesat: usapan zat yang melekat pada anak
peluru (pelumas, jelaga, dan elemen mesiu) pada
tepi lubang
Kelim tato: butir-butir mesiu yang tidak habis
terbakar yang tertanam pada kulit di sekitar kelim
lecet.
Kelim jelaga: penampilan jelaga/asap pada
permukaan kulit di sekitar lubang luka tidak
masuk
Kelim api: daerah hiperemi atau jaringan yang
terbakar yang terletak tepat di tepi lubang luka

115 - C
Cadaveric spasme/instantenous rigor mortis: kekakuan otot segera setelah
kematian somatis tanpa relaksasi primer
Decompotition: proses degradasi jaringan terutama protein akibat autolisis
dan kerja bakteri pembusuk terutama Klostridium welchii. Mulai tampak
24 jam setelah mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah.
Larva lalat muncul 36-48 jam setelah kematian, menetas 24 jam
kemudian.
Algor mortis: penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya produksi
panas dan pengeluaran panas secara terus-menerus
Livor mortis/lebam mayat: suatu bercak atau noda besar merah kebiruan
atau merah ungu (livide) pada lokasi terendah tubuh mayat akibat
penumpukan eritrosit. Mulai tampak 20-30 menit setelah meninggal,
menetap setelah 8-12 jam.
Rigor mortis/kaku mayat: kekakuan yang terjadi pada otot yang terjadi
setelah periode pelemasan/ relaksasi primer. Mulai tampak setelah 2 jam,
dari luar ke tengah, lengkap setelah 12 jam, dipertahankan setelah 12
jam, kemudian menghilang dalam urutan yang sama.
KULIT
116 - D
Lesi infiltrat difus, ada nodul, distribusi
simetris dan anestesi tidak jelas
Pemeriksaan BTA (+) dan globus
LEPROMATOSA (LL)
Untuk pembagian, tentukan dulu kira-kira PB atau MB

PB: 1-5 lesi, distribusi asimetris, anestesi jelas, kerusakan saraf hanya di satu cabang saraf
MB: >5 lesi, distribusi lebih simetris, anestesi kurang jelas, kerusakan di banyak cabang
saraf

Setelah itu, lihat lebih detil ciri-cirinya.
TUBERKULOID (TT)
Makula saja atau makula dibatasi
infiltrat
Jumlah satu, atau beberapa
Distribusi asimetris
Kering bersisik
Batas jelas
Anestesi jelas
BTA hampir selalu negatif
Tes lepromin (+) kuat

BORDERLINE TUBERCULOID (BT)
Makula dibatasi infiltrat atau infiltrat
saja
Jumlah beberapa (atau satu dengan
satelit)
Distribusi asimetris
Kering bersisik
Batas jelas
Anestesi jelas
BTA (-) atau hanya +1
Tes lepromin (+) lemah
MID BORDERLINE (BB)
Plakat, dome-shaped (kubah),
punched-out
Jumlah dapat dihitung
Distribusi asimetris
Agak kasar dan agak berkilat
Batas agak jelas
Anestesi agak jelas
BTA agak banyak
Tes lepromin biasanya negatif

BORDERLINE LEPROMATOSA (BL)
Makula , plakat papul
Jumlah sukar dihitung, tapi masih ada
kulit sehat
Distribusi hampir simetris
Halus berkilat
Batas agak jelas
Anestesi tak jelas
BTA banyak
Tes lepromin (-)
LEPROMATOSA
Makula, infiltrat difus,
papul, nodus
Tidak terhitung, praktis
tidak ada kulit sehat
Distribusi simetris
Permukaan halus berkilat
Batas tidak jelas
Anestesi tidak jelas
BTA banyak, ada globus,
bahkan ada sekret
hidung
Tes lepromin (-)
Prinsip
Seseorang dengan sistem
imun baik gambaran
klinisnya akan ke arah
tuberkuloid
Seseorang dengan sistem
imun buruk akan
memberikan gambaran
lepromatosa
Tipe TT dan LL adalah tipe
polar, maksudnya tidak
mungkin berubah tipe
117 - A
Bayi 10 bulan, gatal, banyak berkeringat, demam,
papul eritema miliaria rubra
Miliaria disebabkan oleh retensi keringat akibat
sumbatan pada kelenjar keringat, biasa terjadi
bila ada peningkatan suhu atau kelembapan
Pada miliaria rubra, sumbatan terjadi di antara
stratum korneum dengan batas dermal-
epidermal, menyebabkan papul eritema yang
sangat gatal
Tata laksana: bedak salisil 2% dengan mentol
0,25-2%
MILIARIA KRISTALINA
Sumbatan di stratum
korneum
Bentuk berupa vesikel
bergerombol tanpa
tanda radang, tidak ada
keluhan
Tidak perlu pengobatan
MILIARIA PROFUNDA
Sumbatan di batas
dermis-epidermis
Papul warna kulit, tidak
gatal
Tata laksana: Losio
calamin dengan atau
tanpa mentol 0,25%

Istilah miliaria superfisialis
dan intermediat tidak ada
118 - E
NEURODERMATITIS SIRKUMSKRIPTA (LIKEN SIMPLEKS
KRONIK, LIKEN VIDAL)
Peradangan kulit kronis, sirkumskripta, terdapat
penebalan kulit dan likenifikasi
Terjadi karena kulit digaruk terus karena gatal sekali
(ingat, gatal muncul sebelum lesi, bukan karena lesi)
Gatal paling terasa saat pasien tidak ada kegiatan,
berhubungan dengan stres
Tata laksana: kortikosteroid topikal potensi kuat
(betametason, triamsinolon), kalau perlu bisa diberikan
antihistamin oral, umumnya yang sedatif
119 - C
Perempuan, 45 tahun, eksim pada mata kaki
kanan. Eksim pada eksim varikosa biasanya
berupa eritema dan/atau hiperpigmentasi
Pegal, gatal, dan diawali oleh kelainan pembuluh
darah seperti varises
Pasien obesitas dan mempunyai 6 orang anak
risiko insufisiensi vena meningkat
Dermatitis varikosa atau dermatitis stasis
Tata laksana: terapi kompresi, elevasi kaki,
kompres eksudat, lesi kering bisa diberi krim
kortikosteroid rendah-sedang (hidrokortison)
120 - A
Tukang kebun (kaki sering kontak dengan tanah), peradangan gatal
berupa eritema yang berkelok-kelok cutaneous larva migrans
(creeping eruption), penyebab utamanya adalah ancylostoma
brazilienze
Tata laksana: tiabendazol (DOC) atau albendazol
Ankilostomiasis? Infeksi ankilostoma secara umum (kurang spesifik)
Strongyloidasis? Urtikaria berkelok-kelok yang pergerakannya
sangat cepat (5-15 cm/jam), sehingga disebut larva currens
Skabies? Gejal berupa gatal malam hari dan ada terowongan bisa
mirip skabies, tapi pada skabies tidak selalu di kaki dan
terowongannya pendek
Loaiasis Loa Loa filariasis infeksi kulit dan mata akibat Loa loa,
di afrika

121 - B
VARICELLA (CACAR AIR)
Infeksi primer varisela-zoster
Demam diikuti vesikel bentuk
tetesan embun (tear drops)
multipel yang menyebar dari
badan ke muka dan
ekstremitas. Lesi polimorfik.
Penunjang: tes Tzanck sel
datia berinti banyak
Tata laksana:
<12 tahun: simptomatik
>12 tahun: Asiklovir 5x800 mg
(7 hari)
Risiko tinggi, imunosupresi: +
VZIG (varicella-zoster
immunoglobulin) dalam 96 jam
setelah gejala muncul
HERPES ZOSTER (DAMPA, CACAR
ULAR)
Reaktivasi virus varisela-zoster
Vesikel berkelompok dengan
dasar eritema dan edema,
nyeri (+)
Penunjang: tes Tzanck
Tata laksana:
Asiklovir 5x800 mg (7 hari) atau
valacsiklovir 3 x 1000 mg (1
hari), harus diberikan dalam 3
hari setelah gejala muncul
122 - B
Luka kemaluan tidak nyeri, sembuh sendiri ulkus durum (sifilis
primer)
Lesi kondilomatosa perineum, limfadenopati inguinal, ruam
makulopapular tidak gatal tanda-tanda sifilis sekunder
Stadium sifilis:
Dini menular (S1, S2, rekuren, laten dini), yaitu dalam 1 tahun sejak
infeksi
Lanjut tak menular (laten lanjut dan S3), yaitu di atas 1 tahun
setelah infeksi
Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan dengan mikroskop lapangan gelap
Pemeriksaan serologis:
VDRL, RPR (nontreponemal/tidak spesifik tapi sensitif). VDRL juga
dipakai untuk follow-up terapi.
TPHA (treponemal/spesifik tapi tidak sensitif)
Tata laksana: Penicilin G benzatin 2,4 juta U IM dosis tunggal untuk
stadium dini atau 3 dosis (1 dosis/minggu) untuk stadium lanjut.
123 - A
Makula putih-coklat-hitam dengan skuama halus,
asimtomatik/gatal ringan, hifa pendek dengan spora bulat
bergerombol pitiriasis versikolor
Etiologi: pitirosporum ovale/malassezia furfur
Penunjang: lampu Wood kuning keemasan
Tata laksana:
Selenium sulfida 2-3 x/minggu, gosokkan 30 menit sebelum
mandi
Derivat azol, baik oral maupun topikal

Pitiriasis alba? bercak kemerahan dengan skuama halus
yang menghilang dengan meninggalkan area depigmentasi

124 - B
Sensasi raba dengan kapas
Membedakan air dingin dan hangat? Sensasi suhu
Jarum tajam dan tumpul? Sensasi nyeri
Bersama dengan pemeriksaan sensasi vibrasi (garpu tala),
keempat tes di atas menilai sistem sensori perifer.

Menulis kata pada telapak tangan? Grafestesia (sensasi
taktil)
Bersama dengan tes sensasi posisi (menggerakkan sendi),
stereognosis (pasien mencoba menebak benda yang
dipegang), pemeriksaan di atas menilai sistem sensori
kortikal
125 - A
Sekret kekuningan dan berbuih, pada mikroskop
terdapat gambaran seperti buah pir dengan flagel
trichomonas vaginalis
Schistosoma, giardia, dan dientamoeba? Lebih
sering menyebabkan penyakit gastrointestinal
Gejala klinis trikomoniasis: sekret kuning-hijau,
bau busuk, berbusa; strawberry appearance
Tata laksana: Metronidazole PO 2 g dosis tunggal
ATAU 3x500 selama 7 hari
126 - A
Ketombe, skuama kekuningan dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik terjadi pada daerah kulit yang kaya
sebum di kepala, wajah, dan badan. Berhubungan
dengan Malassezia, kelainan imunologis, dan aktivasi
komplemen
Penyakit hilang timbul, kronik
Tata laksana:
Topikal: ketokonazol atau kortikosteroid
Sistemik (kalau berat): ketokonazol oral
Ketombe (nama lainnya pitiriasis sika): Selenium sulfida
127 - D
Vesikel berkelompok di atas kulit yang
eritematosa dan edematosa pada labia mayor
herpes genitalis
Penyebab: VHS tipe I (mulut dan hidung biasa
pada anak-anak) dan VHS tipe II (genital biasa
pada orang dewasa)
Penunjang: tes Tzanck (ditemukan sel datia
berinti banyak dan badan inklusi intranuklear)
Tata laksana:
Genitalis: Asiklovir 5x200 mg PO selama 5-10 hari
Mukokutaneus: biasanya simtomatik
128 - A
Sekret putih homogen dengan eritema, yeast dengan
budding kandidiasis vaginalis
Bacterial vaginosis? Sekret abu-abu, ditemukan clue cells
Klamidiasis? Keputihan non-spesifik

Gejala klinis kandidiasis vaginalis: keputihan berupa
gumpalan susu warna putih kekuningan
Penunjang: pada pemeriksaan KOH akan terlihat sel ragi,
blastospor, pseudohifa
Tata laksana: Flukonazol 150 mg PO dosis tunggal (DOC),
boleh ditambahkan kotrimazol 500 mg per vaginam dosis
tunggal. Kalau tidak ada flukonazol, boleh diberi
ketokonazol 2x200 mg selama 5 hari
129 - A
Nyeri berkemih, keluar nanah dari kelamin,
berhubungan dengan PSK gonorea
Masa inkubasi 2-5 hari. Karena pasien ini timbul
gejala 2 hari lalu, perkiraan waktu infeksi adalah
4-7 hari yang lalu.
Penunjang: pada sediaan langsung akan
ditemukan diplokokus gram negatif intraselular
dan ekstraselular seperti biji kopi
Tata laksana: Ceftriaxon 250 mg IM dosis tunggal
+ Azithromycin 1 g PO dosis tunggal/Doksisiklin
2x100 mg PO selama 7 hari

130 - B
Paparan setiap hari, ruam muncul setelah paparan kronik
dermatitis kontak iritan
Dermatitis kontak alergik? Cukup kontak sekali atau dua
kali, muncul dermatitis
Membedakannya paling tepat dengan patch test (uji
tempel)
Reaksi crescendo (semakin hari ruam semakin berat) DKA
Reaksi decresendo (semakin hari ruam semakin ringan) DKI
Tata laksana:
DKI: kompres larutan saline, kortikosteroid (oral dan topikal)
jangka pendek kalau perlu
DKA: Kortikosteroid topikal
NEUROLOGI
131 - C
Suara parau sejak 1 minggu, disertai sulit menelan dan
berbicara. Pasien juga mengeluh lemah di ekstremitas.
Keluhan yang dimulai dari daerah kranial dan menjalar ke
ekstremitas miastenia gravis
Tidak ada demam juga mengarah ke miastenia gravis.
Kalau sindrom Guillain-Barre ada riwayat demam, ISPA,
atau infeksi GI
Muscular dystrophy biasanya pada anak atau remaja,
keluhan berupa kelemahan otot tubuh dari proksimal ke
distal yang berlangsung secara kronik progresif (bulan
sampai tahun)
Stroke hemoragik sangat akut, ada penurunan
kesadaran, tanda-tanda peningkatan TIK, biasanya
hemiparesis
Tumor kronik progresif, ada lateralisasi, ada tanda-tanda
peningkatan TIK

Copyright (C) 2013 - PADI
MIASTENIA GRAVIS
Penyakit autoimun dimana terbentuk antibodi
terhadap reseptor asetilkolin nikotinik
pascasinaptik di neuromuscular junction otot
rangka. Berhubungan dengan timoma.

Gejala dan tanda
Kelemahan otot dari wajah (terutama
ptosis) yang kemudian menjalar ke
ekstremitas
Di pagi hari, kelemahan tidak terlalu berat.
Seiring berjalannya hari, kelemahan
bertambah parah
Kelemahan diperberat oleh aktivitas dan
membaik dengan istirahat
Kelemahan bertambah berat seiring
berjalannya waktu
Diagnosis
Tes antibodi anti-reseptor asetilkolin
X-ray/CT-scan toraks (untuk melihat
timoma)

Tata laksana
Umum
Inhibitor antikolinesterase (piridostigmin)
Obat-obat imunomodulator
(kortikosteroid, azathioprine, siklosporin)
Krisis miastenik (gawat napas)
Plasmaferesis atau imunoglobulin
intravena
Timoma
Timektomi
132 - B
Ada penurunan kesadaran, kaku kuduk, dan infeksi meningitis,
dengan atau tanpa ensefalitis
Jadi ensefalitis toksoplasma bisa kita singkirkan, karena pada
ensefalitis tidak ada kaku kudk
Sepertinya bukan TB karena tidak ada riwayat khas pasien TB
Dari telinga kiri keluar cairan mungkin OMSK, mungkin juga
cairan CSF yang keluar. Keduanya berhubungan dengan meningitis
bakterial.
Riwayat memakai narkoba mungkin maksudnya intravenous drug
use. Berhubungan dengan infeksi bakterial, tapi bisa juga
berhubungan dengan infeksi HIV, yang merupakan faktor risiko
untuk meningitis kriptokok
Terdapat leukositosis (> 11.000), jadi kita bisa singkirkan kriptokok
maupun meningoensefalitis viral

Jawaban paling tepat: meningitis bakterial

133 - D
Manuver Epley
untuk tatalaksana BPPV kanalis
posterior atau anterior

Gerakan Brandt-Darrof
Olahraga bagi pasien, untuk
mengurangi gejala vertigo
pada BPPV atau labirinitis

Manuver Semont
mengurangi gejala BPPV, tapi
tidak sebaik Epley
Tes Dix-Hallpike (Tes Nylen-
Barany)
untuk mendiagnosis BPPV

Kursi Barany
Untuk mendemonstrasikan
fisiologi sistem vestibular.
Kadang digunakan juga untuk
terapi motion sickness.
134 - B
PRINSIP TATA LAKSANA STROKE
HEMORAGIK

A-B-C. Intubasi kalau perlu.
Usahakan pasien normoglikemia
Antasid (untuk mencegah ulkus
gaster)
Kalau ada kejang, beri
benzodiazepine
Atasi hipertensi
Atasi peningkatan TIK
Naikkan kepala 20-30
o

Manitol
Tata Laksana Hipertensi pada Stroke
Hemoragik
Sistolik > 220 mmHg atau
Diastolik > 140 mmHg atau MAP >
145 mmHg, berikan nikardipin,
diltiazem atau nimodipin
Sistolik 180 220 mmHg atau
Diastolik 105-140 mmHg atau
MAP 130 145 mmHg, berikan
labetolol
TD tidak boleh diturunkan > 20-
25% dari MAP dalam 1 jam
pertama.
Sistolik < 180 mmHg dan Diastolik
< 105 mmHg, tunda pemberian
obat anti hipertensi

Tata Laksana Hipertensi Pada Stroke Iskemik
Tekanan darah diturunkan hanya jika sistolik >
220 mmHg atau diastolik > 120 mmHg

Pada pasien ini, tanda-tanda TIK belum jelas,
hanya ada penurunan kesadaran dan muntah
saja. Tidak ada papiledema, trias Cushing,
atau tanda-tanda lain.
Yang prominen adalah hipertensinya
135 - D
Ada riwayat ISPA. Keluhan dimulai dari ujung tangan dan
kaki, kemudian naik ke atas. sindrom Guillain-Barre
Pada GBS, protein CSF bisa meningkat sebagai hasil degradasi
mielin
Multiple sclerosis Gejala dan tanda gangguan SSP yang
muncul tiap beberapa bulan atau tahun.
MS adalah demielinisasi pada SSP, semtara GBS adalah
demielinisasi pada saraf perifer. Dua-duanya bersifat autoimun.
Mielitis transversa Peradangan pada sebuah potongan
transversus medula spinalis. Klinisnya berupa paralisis dan
parastesia bilateral di bawah segmen yang terkena.
Poliradikuloneuropati definisi umum untuk penyakit-
penyakit yang menyerang saraf
SINDROM GUILLAIN BARRE
Penyakit akibat reaksi-silang
antibodi terhadap agen
penginfeksi, biasanya C
jejuni, dengan mielin

Gejala dan tanda
Kelemahan otot
ekstremitas bawah yang
menjalar ke atas, secara
simetrik
Didahului 2-4 minggu
sebelumnya dengan ISPA
atau GE
Disestesia jari
Hati-hati gagal napas
Pemeriksaan fisis
Gangguan sensoris
minimal
Refleks menurun, refleks
patologis (-), hipotonia

Pemeriksaan penunjang
Umumnya tidak perlu

Tata laksana
Imunoglobulin intravena,
ATAU
Plasma exchange
136 - A
Tanda Lasegue
Pasien berbaring, lalu tungkai diangkat ke
atas dalam keadaan lutut ekstensi. Kalau
nyeri, maka kemungkinan ada herniasi
diskus.

Tes Patrick
Fleksi, abduksi, dan rotasi eksternal
tungkai. Bila nyeri ipsilateral anterior,
berarti ada gangguan sendi panggul
ipsilateral. Bila nyeri kontralateral
posterior di sendi sakroiliak, berarti ada
gangguan di sendi tersebut.
Tanda Bragard
Dilakukan jika tes Lasegue positif. Tungkai
diturunkan satu inci dari posisi yang nyeri
saat tes Lasegue, kemudian kakinya
didorsifleksikan secara pasif. Bila tetap
nyeri, berarti positif.

Tanda Kernig
Fleksikan paha 90
o
(baik di lutut maupun
panggul), kemudian ekstensikan lutut.
Bila nyeri (ada resistensi), maka ada
iritasi meningens.

Manuver Phalen
Pasien diminta untuk memfleksikan
penuh pergelangan tangannya selama
30-60 detik. Bila nyeri, maka curiga CTS.
137 - C

137 - B
Cedera kepala ringan: GCS 13-15
observasi
Cedera kepala sedang: GCS 9-12
rawat inap
Cedera kepala berat: GCS < 8
ICU
138 - C
Ini adalah gejala meningoensefalitis akibat
Naegleria fowleri, sebuah amuba yang
ditemukan dalam air tawar
Menyerang SSP melalui mukosa olfaktorius
Tata laksana: amphotericin B
139 - B
Nyeri unilateral di daerah frontotemporal dan
okular, ada aura Migraine headache
Tension headache Nyeri seperti tertekan dan diikat
di bagian frontal dan oksipital
Cluster headache nyeri berat seperti ditusuk, mata
seperti didorong keluar yang unilateral di daerah
orbital dan temporal
Inflammatory headache berhubungan dengan
peradangan akibat penyakit lain, misalnya meningitis
Secondary headache ada penyakit penyebabnya,
misalnya tumor atau aneurisma. Bedakan dengan
tension, cluster, atau migraine headache, yang
merupakan primary headache.
Tension headache Migraine headache Cluster headache
Kualitas Ditekan/diikat Berdenyut Menusuk
Intensitas Ringan atau sedang Sedang atau berat Berat sekali
Lokasi Bilateral Unilateral Unilateral
Memberat dengan
aktivitas
Tidak Ya Tidak
Mual Ada/tidak Ada Tidak ada
Muntah Tidak ada Ada Tidak ada
Fotofobia Ada/tidak Ada Tidak ada
Fonofobia Ada/tidak Ada Tidak ada
Aura Tidak ada Ada
(common)/tidak
(classic)
Tidak ada
Gejala penyerta Lakrimasi, injeksi
konjungtiva,
rinorea, dan
perspirasi wajah
yang ipsilateral
Tata laksana
Tension headache
Akut: NSAID (ibuprofen adalah DOC), aspirin, dan parasetamol
Preventif: antidepresan trisiklik (amitriptilin atau nortriptilin)
Migraine headache
Akut: triptan dan ergot
Kronik: asam valproat
Cluster headache
Akut: triptan atau ergot dengan metoclopramide
Preventif: Calcium channel blockers
Neuralgia trigeminal
Carbamazepine
Arteritis kranial
Prednison

140 - B
Pasien ini mengalami trauma
serebri
Pupil anisokor + refleks mata
tidak simetris hati-hati
herniasi beri manitol
Elevasi kepala juga betul, tapi
tidak spesifik untuk
peningkatan TIK atau herniasi
Kalau pertanyaannya adalah
tindakan yang pertama
dilakukan, maka jawabannya
adalah elevasi kepala
Tekanan darah tidak ada
hubungannya pada trauma
serebri

Prinsip Tata Laksana Trauma
Serebri
Intubasi kalau perlu (tentu
dengan sedasi)
Elevasi kepala 30
o

Sedasi adekuat umumnya bisa
menurunkan TIK, namun bila
tidak ada perbaikan atau ada
risiko herniasi, berikan manitol
Tanda-tanda herniasi: dilatasi
pupil, refleks cahaya (-),
paralisis abducens, trias
Cushing (hipertensi sistolik,
tekanan nadi melebar,
bradikardia, pola napas
abnormal)
141 - C
Ada kejang dan penurunan
kesadaran yang berat, tapi
tidak ada kaku kuduk
Ensefalitis
Meningitis? Tidak ada kaku
kuduk
Tumor otak? Tidak ada
demam, bersifat kronik,
harusnya ada lateralisasi
Epilepsi? Selain kejang,
tidak ada gejala atau tanda
lain
LCS jernih sesuai dengan
penyebab paling sering
ensefalitis, yaitu virus
Tes Nonne dan Pandy
kalau salah satu positif,
berarti ada protein
(peradangan)
Tata laksana ensefalitis virus
suportif saja, kecuali kalau
penyebabnya virus herpes
simpleks atau varicella
zoster, maka bisa diberi
acyclovir
142 - E
Pemeriksaan motorik tidak cukup spesifik
untuk menentukan letak lesi
Sensorik proprioseptif hanya berfungsi untuk
menentukan posisi tubuh
Lebih spesifik dengan nosiseptif, karena ada
dermatom-dermatomnya
143 - E
Paraparesis ekstremitas bawah lebih mungkin
disebabkan spondilolistesis. Pada spondilolistesis,
sebuah segmen vertebra selip ke arah anterior.
Akibatnya, terjadi penekanan radiks saraf, baik kiri
maupun kanan
Spondilitis? Umumny mengacu pada ankylosing
spondylitis, yaitu sebuah penyakit inflamasi pada
vertebra dan sendi-sendinya. Gejalanya berupa LBP
kronik, berat di pagi hari, membaik dengan aktivitas.
(Seperti artritis rematoid, tapi pada vertebra)
AS yang berat akan menyebabkan fusi vertebra, dengan
gambaran radiologis khas yaitu bamboo spine
Tumor medula spinalis? Gejalanya kronik, ada tanda-
tanda keganasan lain
Hernia nukleus pulposus? Gejalanya berupa sciatica
(LBP yang menjalar ke ekstremitas bawah) unilateral,
disertai kelemahan otot, perubahan refleks, dan
hipestesia. Nyeri dipicu aktivitas.
Trauma? Harusnya ada riwayat trauma

Selain itu, ada juga yang namanya:
Spondilosis: Degenerasi pada vertebra, bisa menyebabkan
penyempitan foramen neural. Ditandai dengan
pembentukan osteofit. (Seperti osteoartritis, tapi pada
vertebra)
Spondilolisis: Defek/fraktur pada pars interartikularis

144 - B
Bila terdapat lesi pada L2-
L4, maka persarafan di
bagian bawah bilateral
akan terkena gangguan
paraplegi
Beda plegi dengan paresis?
plegi lebih berat (total)
145 - B
Fraktur basis kranii posterior
otorrhea
tanda Battle
Fraktur basis kranii anterior
rhinorrhea
Raccoon eyes
Tidak ada fraktur basis kranii media
PSIKIATRI
146. E
Pasien mengalami distonia.
Apa penyebabnya?
Dua hari lalu, pasien datang
dengan gaduh gelisah.
Umumnya, pasien gaduh
gelisah akan diterapi
dengan lorazepam IM atau
haloperidol IM.
Bila penyebabnya withdrawal
alkohol atau benzodiazepine,
lorazepam lebih baik. Hati-
hati depresi napas.
Bila penyebabnya psikosis,
haloperidol atau CPZ lebih
baik. Hati-hati akathisia,
distonia, atau kejang.
Dari kedua obat tersebut,
haloperidol-lah yang
memiliki efek samping
berupa reaksi distonia akut
Tata laksana reaksi distonia
akut akibat obat adalah
antikolinergik. Bisa
diberikan benztropine
IV/IM atau difenhidramin
IV/IM (lebih cepat IV).

147. A
Lengan kanan bergerak-gerak sendiri
diskinesia
Akathisia adalah salah satu efek samping obat
antidopaminergik seperti domperidon atau
metoclopramide
Tata laksana:
Lini 1: propanolol atau antikolinergik (difenhidramin)
Lini 2: mirtazapine atau miaserin
Lini 3: diazepam
148. E
Katalepsi: fiksasi tubuh pada postur tertentu
yang tidak dapat diubah dengan stimulus
eksternal (contohnya pada skizofrenia
katatonik)
Katapleksi: hilangnya tonus otot secara
mendadak dan sesaat, biasanya akibat emosi.
Sering ditemukan pada penderita narkolepsi.
Ekolalia: mengulang kata yang didengarkan
Ekopraksia: mengulang gerakan yang dilihat
149. A
Sindrom Ekstrapiramidal sering
dihubungkan dengan sindrom
neuroleptic maligna, keduanya
disebabkan oleh penggunaan
obat neuroleptic (haloperidol)
4 gejala ekstrapiramidal utama
Pseudoparkinsonisme:
tremor, rigiditas, bradikinesia,
akinesia, hipersalivasi, muka
topeng, jalan diseret
Akathisia: perasaan gelisah
yang menyebabkan pasien
tidak bisa diam
Distonia: kontraksi spastis otot
(bisa terjadi di mata, leher,
punggung, dan lain-lain)
Diskinesia tardif: gangguan
gerakan involunter (mioklonus,
tik, korea, dll.)
Manifestasi klinis sindrom
neuroleptik maligna adalah:
Tubuh kaku
Hipertermia
Instabilitas otonom
(hipertensi, takipnea,
takikardia, diaforesis)
Penurunan kesadaran
Pada pasien ini, memang
ada gejala mendelikkan
mata (distonia) dan sering
mengeluarkan air liur
(pseudoparkinsonisme) yang
mengarah ke sindrom
ekstrapiramidal, pernyataan
kejang dari keluarga pasien
tidak jelas apakah seperti
gerakan kedutan wajah atau
kaku badan. Tapi, sindrom
neuroleptic maligna HARUS
ada hipertermia dan
kekakuan tubuh
150. B
Tata laksana intoksikasi
Kokain: benzodiazepin
Antikolinergik (atropin, antihistamin, antipsikotik,
antidepresan trisiklik): cuci lambung dengan
arang aktif + fisostigmin (inhibitor
asetilkolinesterase)
Kolinergik (organofosfat): atropin
Opiat: nalokson
Benzodiazepin: flumazenil

151. E
Pasien seperti ini sebaiknya mendapatkan
terapi kelompok bersama pasien-pasien TB
lain di bawah bimbingan seorang psikiater
Kenapa tidak A? Kalau hanya kumpul-kumpul
saja tidak ada manfaatnya
Tidak perlu antidepresan karena tidak
memenuhi kriteria depresi
152. A
Skizofrenia
Diagnosis
Minimal dua gejala ini: waham, halusinasi, bicara tidak teratur, perilaku tidak
teratur atau katatonik, gejala negatif (afek datar, kehilangan gairah)
Atau satu gejala ini: waham bizarre, halusinasi auditorik dimana suara
mengkomentari perilaku pasien terus, atau halusinasi auditorik dimana dua
atau lebih suara berbicara satu sama lain
Gejala lebih dari satu bulan
Fungsi sosial atau pekerjaan terganggu
Klasifikasi:
Paranoid (waham dan halusinoasi)
Hebefrenik (bicara dan perilaku tidak teratur, afek datar)
Katatonik (postur aneh)
Tata laksana:
Antipsikotik gen. 1: chlorpromazine, haloperidol
Antipsikotik gen. 2: aripiprazole, clozapine, olanzapine, risperidone
Gangguan waham menetap
Waham nonbizarre minimal satu bulan, tidak ada
gejala skizofrenia, fungsi tetap baik
Tata laksana: antipsikotik

153. D
Mekanisme Pertahanan Ego
Acting out adalah melakukan tindakan-tindakan
impulsif dengan tujuan meringankan tekanan batin
Represi adalah melupakan hal yang memberatkan
perasaan
Proyeksi adalah memindahkan perasaan yang tidak
kita sukai ke orang lain. Akibatnya, kita akan membenci
orang tersebut, padahal yang kita benci sesungguhnya
ada di dalam diri kita sendiri
Delusi adalah waham tentang realitas
Supresi adalah menunda memikirkan sebuah perasaan
yang tidak enak
154. B
Hiperventilasi dapat menyebabkan
hipokapnea
Dengan bernapas ke dalam kantong kertas,
kadar CO
2
dalam darah bisa dijaga
155. B
Early insomnia: Sulit mulai tidur, sering berhubungan
dengan gangguan cemas
Middle insomnia: sulit untuk tetap tidur, sering terbangun.
Berhubungan dengan penyakit somatis, nyeri, atau depresi.
Late insomnia: bangun terlalu cepat, sering berhubungan
dengan depresi mayor
Somnambulisme: tidur sambil berjalan
Parasomnia: adanya pengalaman motorik, verbal, atau
mental selama tidur. Mimpi buruk, sleep terror, dan
somnambulisme termasuk dalam parasomnia

Tata laksana insomnia: flurazepam, temazepam,
quazepam, estazolam, triazolam
IKK & RISET

156. IKK Incidence Rate
Incidence Rate =
Jumlah penderita baru
Jumlah penduduk

=
10+15+10+5+10+10+20
110.000

= 0,07%
Jawaban: C. 0,07%
157. Riset Studi Etiologi/Kasus-Kontrol
Keywords
Dipilih sampel dari pasien sakit kepala (kasus) dan tidak sakit kepala (kontrol)
Peneliti ingin mencari faktor risiko sakit kepala (diduga: konsumsi makanan
berformalin)
Studi etiologi ada 3 jenis, yaitu
Studi kohort (follow up; asosiasi +, kasualitas +)
Studi kasus-kontrol (trohok; asosiasi +, kasualitas +)
Studi cross-sectional (menilai pada satu waktu tertentu; tidak memerlukan
banyak waktu; asosiasi +, kasualitas -)
Pada kasus ini, penelitian dimulai dari output berupa ada tidaknya sakit
kepala (kelompok kasus dan kontrol) menuju faktor risiko kemungkinan
penyebab (ada tidaknya konsumsi makanan berformalin). Untuk menilai
hubungan pada studi kasus kontrol digunakan perhitungan odds ratio (OR)
Jawaban: D. Kasus kontrol

Studi Kasus Kontrol Konsep
158. E- Cross sectional
Studi etiologi ada 3 jenis, yaitu
Studi kohort (follow up; asosiasi +, kasualitas +)
Studi kasus-kontrol (trohok; asosiasi +, kasualitas +)
Studi cross-sectional (menilai pada satu waktu
tertentu; tidak memerlukan banyak waktu; asosiasi +,
kasualitas -)
Pada kasus ini, peneliti seperti melakukan survey,
ciri khas untuk cross sectional
Jawaban: E. Cross sectional
Studi Kohort Konsep
159. Riset Studi Etiologi/Kohort
PJK
Tanpa
PJK
Perokok 75 225 300
Bukan
Perokok
50 650 700
125 825 1000
Studi kohort
resikorelatif (RR)
RR =

=
75
300

50
700

= 3,5
Risikokelompokperokoku
ntukmengalami PJK
adalah 3,5x
lebihbesardaripadakelom
pokbukanperokok.
Jawaban: B. 3,5
160. Riset Studi Etiologi/Kohort
Keywords: kemudian mengikuti dan mengamati
Studi etiologi ada 3 jenis, yaitu
Studi kohort (follow up; asosiasi +, kasualitas +)
Studi kasus-kontrol (trohok; asosiasi +, kasualitas +)
Studi cross-sectional (menilai pada satu waktu tertentu;
tidak memerlukan banyak waktu; asosiasi +, kasualitas -)
Pada kasus ini, penelitian dimulai faktor risiko berupa
konsumsi minuman keras menuju hasil/output berupa
kanker hati.
Studi kohort dapat menjelaskan hubungan kasualitas
antara faktor risiko dan output/penyakit
Jawaban: C. Kohort
Studi Kohort Konsep
161. IKK - Posyandu
Klasifikasi posyandu:
Posyandu pratama (warna merah)
Masih belum mantap
Kegiatannya belum bisa rutin tiap
bulan
Kader aktifnya terbatas
Posyandu madya (warna kuning)
Kegiatan lebih dari 8 kali per tahun
Jumlah kader tugas 5 orang atau
lebih
Cakupan program utamanya (KB,
KIA, Gizi dan Imunisasi) masih
kurang dari 50%
Posyandu purnama (warna
hijau)
frekuensinya lebih dari 8 kali
pertahun
rata-rata jumlah kader tugas 5
orang atau lebih
cakupan 5 program utamanya lebih
dari 50%
sudah ada program tambahan
seperti dana sehat tetapi masih
sederhana
Posyandu mandiri (warna biru)
Ada program tambahan dan dana
sehat telah menjangkau lebih dari
50% KK
Jawaban: B. Mandiri

162. IKK - Outbreak
Tersebarnya penyakit pada banyak orang di
suatu lingkup daerah yang kecil Outbreak
Jawaban: D. Outbreak

163. IKK Prevalensi Penyakit
Prevalensi penyakit menular sudah menurun
dan penyakit jantung meningkat,
kemungkinan dikarenakan meningkatnya
sosial ekonomi dan pelayanan kesehatan
sehingga angka harapan hidup masyarakat
meningkat banyak usia tua penyakit
degeneratif meningkat
Jawaban: C. Meningkatnya sosial ekonomi dan
pelayanan kesehatan
164. Riset Statistika
RR = 0,69 menurunkan angka kematian
0,69 kali dibanding kontrol
IK 95% 0,52 0,92 (tidak melewati angka 1)
dan p = 0,01 (<0,05) bermakna secara
statistik
Jawaban: A. Dexametason meurunkan risiko
kematian sebanyak 0,69 dan secara statistik
bermakna

165. IKK Konsep Prevensi
Levels of disease prevention
Jawaban: A. Early diagnosis & prompt treatment

Level Pencegahan Intervensi Penjelasan
Pencegahan primer
(sebelum penyakit
terjadi)
Health promotion
Pada populasi tanpa faktor risiko (co: penyuluhan
tidak merokok)
Specific protection
Pada populasi dengan faktor risiko (co: imunisasi)
Pencegahan
sekunder
(di awal penyakit)
Early diagnosis & prompt
treatment
Penyakit sudah terjadi, tapi baru tahap awal.(co:
skrining hipertensi)
Pencegahan tersier
(di pertengahan
sampai akhir
penyakit)
Disability limitation
Mencegah komplikasi. (co: mencegah pasien ulkus
DM diamputasi)
Rehabilitation
Sudah terjadi komplikasi, tapi berupaya
mengembalikan kemampuan fungsionalnya. (co: kaki
buatan)
166. IKK Puskesmas Pembantu
Daerah dengan wilayah luas, jarak yang jauh,
dan waktu tempuh yang lama sebaiknya
memiliki puskesmas pembantu untuk
mengatasi masalah tersebut.
Jawaban: B. Pengadaan Puskesmas Pembantu
167. IKK - KLB
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No.
451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa.
Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak
dikenal
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih
dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan,
tahun).
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali
lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam
tahun sebelumnya.
Timbulnya lagi suatu penyakit yang sudah lama tiada. (misal, Difteri)

Jawaban: E. Flu Burung

168. Riset Studi Etiologi/Cross
sectional
Mengetahui sebaran usia ( deskriptif) dan
mencari hubungannya dapat dilakukan
dengan metode penelitian cross sectional
Jawaban: D. Cross sectional
169. IKK Promosi Kesehatan
Permasalahan pelaksanaan pola hidup sehat
dapat diatasi salah satunya dengan promosi
kesehatan
Jawaban: B. Memberikan promosi kesehatan
sehingga penyakit degeneratif berkurang

170. IKK Prevensi
Penyemenan lantai dapat mencegah faktor
risiko beberapa penyakit infeksi
Jawaban: D. Pencegahan faktor risiko
171. IKK - AKI
Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia:
80 % karena komplikasi obstetri dan 20 % oleh
sebab lainnya
penyebab tidak langsung:
3 Terlambat: mengambil keputusan, sampai ke
tempat rujukan, dan mendapat pelayanan di fasilitas
kesehatan
4 Terlalu : muda, tua, banyak anak, dan dekat jarak
melahirkan.
Jawaban: D. Adanya faktor penyulit dalam
persalinan
172. IKK AKB
Berat lahir rendah merupakan penyebab
tersering kematian pada bayi. (yang kedua:
prematuritas)
Penyebab berat lahir rendah: lahir prematur,
malnutrisi ibu, kurangnya ANC, ibu sakit saat
hamil.
Program puskesmas yang paling mempengaruhi:
program makanan tambahan pada ibu hamil
Jawaban: A. Program makanan tambahan pada
ibu hamil

173. Riset Uji Hipotesis
Komparatif
Kategorik-kategorik Komparatif kategorik
Tidak berpasangan
2 kelompok

Chi square
Jawbaan: A. Chi square

Analisis Univariat/Bivariat dan
Multivariat
Analisis Univariat atau Bivariat
Disebut Univariat karena hanya terdapat 1 (satu)
variabel bebas yang diteliti
Disebut Bivariat karena ada 2 variabel yang diteliti
(1 variabel bebas dan 1 variabel tergantung)
Univariat = bivariat; hanya berbeda pandangan
definisi saja
Analisis Multivariat
Disebut Multivariat karena terdapat >1 (lebih dari
satu) variabel bebas yang diteliti
Uji Hipotesis Analisis Univariat/Bivariat
Variabel Bebas
(Faktor Risiko)
Variabel Tergantung
(Penyakit)
Uji Hipotesis yang
digunakan
Contoh
VB Bold; VT Bold+Italic
Nominal Nominal
Kai-kuadrat,
Fischer*
Pengaruh merokok dengan kejadian Ca Paru
Nominal (dikotom) Numerik
Uji t
#
(berpasangan,
tidak berpasangan)
Pengaruh merokok dengan kadar LDL
Nominal (> 2 nilai) Numerik Anova
Efikasi suplemen Fe
2+
, Zn
2+
dan Fe
2+
&Zn
2+

terhadap kadar Hb ibu hamil
Numerik Numerik Regresi/Korelasi
@
Tekanan darah dan kadar LDL (korelasi); IMT
dan kapasitas fungsi paru (regresi)
Catatan tambahan:
- *Uji Fischer digunakan apabila syarat uji Kai-kuadrat tidak terpenuhi dimana:
(a) Jumlah subyek total n<20, atau
(b) Jumlah subyek antara 20-40 dengan nilai expected <5
-
#
Uji T berpasangan digunakan bila sampel diambil berpasangan. Disebut berpasangan:
(a) Intervensi Pre- dan Post-, atau
(b) Ada matching sampel
-
@
Regresi digunakan untuk merumuskan suatu formula untuk meramalkan hasil

Uji Hipotesis Analisis Multivariat
Variabel Bebas
(Faktor Risiko)
Variabel Tergantung
(Penyakit)
Uji Hipotesis yang digunakan
Nominal Numerik Anova
Numerik Numerik Regresi multipel
Nominal & Numerik Nominal Regresi logistik
174. IKK Rumah Sehat
Syarat Ventilasi yang baik:
Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5 % dari luas
lantai ruangan. Sedangkan luas lubang ventilasi
insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5 %.
Jumlah keduanya menjadi 10 % kali luas lantai ruangan.
Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari
oleh asap dari sampah atau dari pabrik, dari knalpot
kendaraan, debu dan lain-lain.
Aliran udara diusahakan cross ventilation

Jawaban: E. Terdapat cross ventilation

175. IKK Konseling Keluarga
Kondisi pasien memerlukan peran serta
keluarga. Mulai dari mengawasi menelan obat,
pencegahan penularan, sampai tentang
kondisi rumah yang harus dibenahi. Hal ini
diharapkan akan dapat dicapai dengan
konseling keluarga
Jawaban: B. Konseling keluarga

FARMAKOLOGI


176. Farmakologi Obat penghancur
kristal
Keyowrds: nyeri pinggang, BAK tersendat-
sendat, nyeri ketok di region lumbal, urinalisis
kristal (+) diagnosis kerja: nefrolitiasis
Obat untuk menghancurkan kristal: natrium
bikarbonat dan kalium sitrat. Kalium sitrat
lebih menjadi pilihan karena tersedia dalam
bentuk tablet slow release mengurangi
tingginya natrium.
Jawaban: D. Kalium sitrat

177. Farmakologi ES OAT
Pengobatan OAT aktif, nyeri dan bengkak pada sendi,
peningkatan asam urat hiperurisemi adalah salah
satu efek samping pirazinamid
Jawaban: D. Pirazinamid
178. Farmakologi KI OAT
Ibu hamil, pengobatan TB, obat TB yang
menyebabkan gangguan pendengaran
streptomisin
Jawaban: E. Streptomisin
179. Farmakologi ISK
Keywords: disuria, frekuensi, demam, nyeri supra pubis (+)
Diagnosis pada anak ini adalah infeksi saluran kemih (ISK)
Penyebab tersering adalah E.coli per kontinuatum atau
hematogen.
Terapi empiris pilihan (diberikan selama 7 hari)
Fisrt line: ampisilin, kotrimoksazole, sulfisoksazol, asam
nalidiksat, nitrofurantoin dan sefaleksim
Second line: aminoglikosida (gentamisin, amikasin), sefotaksim,
karbenisilin, doksisiklin
Terapi definitif diberikan setelah ada hasil uji sensitivitas
bakteri
Jawaban: E. Kotrimoksazole
180. Farmakologi KS
Keywords: kehamilan preterm (<37 minggu), UK < 35 minggu (paru
belum matang sempurna), bloody show + (tanda in partu)
Fungsi steroid sebagai pematangan paru janin glukokortikoid
(prednison, betametason, deksametason) merangsang produksi
surfaktan paru janin krn bayi prematur produksi surfaktan masih
sedikit. Selain itu steroid untuk menurunkan komplikasi perdarahan
intraventricular, necrotising enterokolitis (diare pada bayi
prematur), & ductus arteriosus (PDA)
Siapkan surfaktan jika diperlukan pada neonatus untuk mencegah
hyaline membrane disease 7 RDS risiko asfiksia karena paru tidak
mengembang
Jawaban: B. Mempercepat Pematangan Paru
PARASITOLOGI

181. Parasitologi - Balantidiasis
Keyword: diare berdarah, kembung,
flatus meningkat, parasit ada tonjolan
runcing dan inti gerak cepat
B. coli, rute fecal-oral (sanitasi air &
lingkungan buruk) termasuk filum
ciliophora, bersilia. Parasit terbesar
yang menyerang manusia, parasit
pada babi. Hidup pada kolon
manusia, babi, marmut, tikus,
mamalia lain perforasi usus:
disentri
Morfologi: kista lonjong, mempunyai
2 inti, terdapat silia yang aktif
bergerak di dalamnya
Jawaban: A. Balantidium coli
182. Parasitologi Ascariasis
Cincing silindris ukuran 25 cm A. lumbricoides
Diagnosis: Loofler Syndrome (Pneumonia
Eosinofilik Simpleks): demam, sesak nafas,
eosinofilia, pada foto thorax terdapat infiltrat
yang akan menghilang dalam 3 minggu.
Eosinofil menumpuk dalam paru melalui darah,
alergi ditimbulkan oleh protein pada permukaan
tubuh cacing
Jawaban: A. Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Cacing jantan: 10-30 cm
Cacing betina: 22-35 cm
Daur Hidup
Telur dewasa masuk lewat
mulut larva menetas di
lambung masuk ke vena
porta hepatica masuk ke
sirkulasi paru-paru
berkembang di dalam paru-
paru (10-14 hari)
menembus dinding alveolar
Naik ke atas melalui trakea
Tertelan dan masuk
sampai ke usus kecil dan
berkembang menjadi cacing
dewasa cacing dewasa
betina menghasilkan telur
dan dikeluarkan melalui feses

183. Parasitologi Giardiasis
Keywords: Diare,
kembung, flatus sering,
feses berminyak
(steatorhea) dan berbau
busuk. Parasit kista
berinti 4, parabasal,
axostol tanda yang khas
pada infeksi Giardia
Lamblia.
Obat pilihannya adalah
metronidazole, dapat juga
diberikan tinidazole.
Jawaban: A. Giardiasis

Giardiasis (1)
Morfologi
Stadium trofozoit seperti
buah jambu monyet yang
bagian anterior memburat
dan posteriornya meruncing.
Permukaan dorsal cembung
dan ventral pipih. Memiliki 4
pasang flagel yang berasal
dari 4 blefaroplas.
Kista dinding tipis dan
kuat. Sitoplasma berbutir dan
terpisah dari dinding. Kista
baru berinti 2, sedangkan
dewasa berinti 4.

Daur Hidup
Kista masuk melalui mulut
Asam lambung aktivasi kista
menjadi trofozoit trofozoit
menempel pada usus halus
dan menyebabkan gejala dan
tanda menghasilkan kista
yang keluar melalui feses


Giardiasis (2)
Gejala dan Tanda
Asimtomatik tidak ada
kelainan pada mukosa
Simtomatik atrofi vili,
hyperplasia kripta,
kerusakan sel epite,
infiltrasi PMN
Diare, flatulence,
steatorrhea, kram perut,
mual penurunan berat
badan anak dapat
menjadi gagal tumbuh
Urtikaria, kolesistitis,
pankreatitis, dispepsia

Diagnosis
Paling sedikit diambil 3
feses dengan interval 2 hari
untuk memeriksa
terdapatnya kista dan
trofozoit dalam kurun
waktu 10 hari
Pengobatan
Metronidazole 3 x 250-750
mg untuk 7-10 hari
(Dewasa), 3 x 5 mg/KgBB
(Anak) selama 7 hari


184. Parasitologi Malaria
Keyword: demam menggigil 2 minggu, Kupang
endemis malaria, apusan darah tepi: eritrosit normal
tidak membesar, bentuk cincin, inti pucat.
Gametosit P. falciparum uniform, 1 bentuk, bisa
berbentuk pisang, cincin, accole, bulan sabit, sosis
disebabkan Plasmodium falciparum
Pada P. falciparum eritrosit berukuran normal dan
tidak membesar
Jawaban: B. Plasmodium falciparum

Malaria Daur Hidup, Patofisiologi
Malaria Ringkasan
P.falsiparum P.vivax P.ovale P.malariae
Penyakit
Malaria
falsiparum/tropika/
tersiana maligna
Malaria
vivax/tersiana
Malaria ovale
Malaria
malariae/kuartana
Vektor Anopheles sp.
Distribusi geografik
di Indonesia
Seluruh kepulauan
di Indonesia
Seluruh kepulauan
di Indonesia
Irian Jaya, Pulau
Timor
Papua Barat, NTT,
Sumatera Selatan
Hipnozoit - + + -
Daur eritrosit Tiap 48 jam Tiap 48 jam Tiap 48 jam Tiap 72 jam
Eritrosit yang
dihinggapi
Muda, normosit,
tua
Retikulosit,
normosit
Retikulosit,
normosit muda
Normosit
Pembesaran
eritrosit
- ++ + -
Titik-titik di eritrosit Maurer Schuffner Schuffner (James) Ziemann
Bentuk trofozoit
intra eritrosit
Cincin, marginal,
accole (
1
/
6
eritrosit)
Cincin (
1
/
3
eritrosit)
Bulat/oval (
1
/
3

eritrosit)

Band/pita,
basket/keranjang,
rossete, bulat
Bentuk gametosit Pisang Bulat/lonjong Bulat Bulat
Pigmen warna Hitam Kuning tengguli Tengguli tua Tengguli hitam
185. Parasitologi Schistosomiasis
Keywords: diare, tidak
berdarah, nyeri BAB, mual
muntah, nafsu makan
turun, hepatomegali, telur
cacing dengan duri
rudimenter di lateral dari
analisis feses
Jawaban: D. Schistosoma
Schistosoma Japonicum
Daur Hidup
Telur menetas menjadi
miracidia Miracidia
memasuki jaringan di keong
menjadi sporokista di dalam
keong keong mengeluarkan
serkaria serkaria menembus
kulit manusia menjadi
skistosomulae karena
kehilangan ekor saat
menembus kulit masuk ke
sirkulasi migrasi ke
peredaran darah porta liver
menjadi dewasa dan tinggal di
vena mesentrika usus halus
mengeluarkan telur yang dapat
keluar bersama feses

Stadium
Stadium I: Gatal, giant urtikaria,
demam, hepatomegaly,
eosinophilia tinggi
Stadium II: Sindrom disentri
Stadium III: Sirosis,
splenomegaly, hipertensi portal
Diagnosis
Menemukan telur dalam
tinja/biopsy jaringan
Reaksi serologi: COPT, IHT, CFT,
FAT, ELISA
Pengobatan
Prazikuantel


RADIOLOGI

186. Radiologi Sinusitis
Keywords:
S: sakit kepala di daerah pipi, hidung tersumbat, batuk, pilek,
demam
O: nyeri tekan sinus maksilaris
Dipikirkan diagnosis kerja berupa sinusitis maksilaris.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah foto
polos kepala posisi waters atau CT scan kepala (gold
standard)
Dilihat apakah ada perselubungan atau gambaran air fluid level
pada foto
Karena ketersediaan CT scan yang jarang, maka disarankan
dilakukan foto polos posisi waters
Jawaban: A. Foto polos kepala posisi waters
187. Radiologi Foto Thorax PA
Keywords: arah sinar dari posterior ke anterior
Foto thorax PA
Arah sinar dari posterior ke anterior
Kaset di depan dada pasien
Dilakukan pada pasien yang dapat berdiri
Kelebihan: tidak terjadi magnifikasi (pembesaran) jantung
Foto thorax AP
Arah sinar dari anterior ke posterior
Kaset di belakang punggung pasien
Dilakukan pada pasien yang hanya dapat tidur
Kekurangan: ada magnifikasi jantung (kesan jantung membesar,
padahal tidak)
Jawaban: B. PA (Posterior Anterior)
188. Radiologi Susp. Nefrolitiasis
Keywords:
S: anuria, mual, muntah, riwayat nyeri pinggang sejak 1 tahun yang lalu
O: nyeri ketok CVA kiri (+)
Dipikirkan diagnosis kerja nefrolitiasis sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang radiologis
Modalitas pemeriksaan batu saluran kemih
Foto polos abdomen (BNO): hanya (+) jika batu radioopaque
BNO+IVP: dilakukan bila pada BNO tidak ditemukan gambaran batu DAN bila
fungsi ginjal pasien baik
USG: dilakukan bila pada BNO tidak diteukan gambaran batu DAN terjadi
penurunan fungsi ginjal; dapat mendeteksi batu radioopaque dan radiolusens
Pada pasien ini terjadi penurunan fungsi ginjal yang ditandai dengan
anuria. Sehingga modalitas yang dipilih adalah USG ginjal.
Jawaban: D. USG
189. Radiologi Ileus Obstruktif
Keywords:
S: perut semakin membesar
O: riwayat tumor ovarium
Foto polos abdomen menunjukkan adanya
gambaran udara usus yang menyebar
sepanjang usus yang mengarah pada
kemungkinan ileus obstruktif
Jawaban: A. Ileus
190. Radiologi Susp. TB Paru
Keywords
S: batuk 3 bulan
O: LED 40 mm/jam, foto thorax PA: infiltrat di apex
dengan hiperselularitas costae dan klavikula
Kemungkinan diagnosis kerja pada pasien ini
adalah susp. TB paru.
Untuk melihat apex paru lebih jelas perlu
dilakukan foto thorax top lordotik untuk
menghilangkan superposisi costae dan klavikula
Jawaban: B. Top lordotik
THT
191. THT Korpus Alienum
Hidung sebelah kanan berbau busuk, ingus
(+), demam (-) sejak 1 minggu
Anak laki-laki usia 5 tahun
kemungkinan benda asing
Jawaban: E. Korpus alienum
192. THT Rhinitis Alergi
Perempuan 30 tahun , beringus encer + bersin +
mata gatal berair selama 5 tahun jika terpapar
debu, riwayata asma (+)
Ini adalah rhinitis alergi
Gambaran rhinoskopi :
Mukosa hidung pucat, sekret encer
Pemeriksaan penunjang :
Hitung eosinofil dan total IgE serum
Tes IgE spesifik dengan RAST atau ELISA (lebih baik)
Skin prick test, uji provokasi
Jawaban: A. Mukosa hidung pucat, sekret encer
193. THT Sinusitis e.c. P.Aeruginos
Sinusitis maksilaris ec. Pseudomonas aeruginosa
Penyebab sinusitis akut :
S pneumoniae
H influenzae
M catarrhalis
Penyebab sinusitis kronik :
P aeruginosa
Group A Streptococcus
Staphylococcus aureus
Anaerobes
(Bacteroides species, Fusobacterium species, Propionibacterium acnes)
Pilihan terapi : piperasilin
Jawaban: E. Piperasilin
194. THT - Angiofibroma Nasofaring
Juvenile
Laki-laki 16 tahun
Epistaxis anterior dan posterior
Riwayat hidung tersumbat perlahan dan
semakin memberat
Angiofibroma nasofaring juvenile
Jawaban: B. Angiofibroma nasofaring juvenile

195. THT Tonsilitis Kronik
Indikasi Absolut
a) Pembengkakan tonsil yang
menyebabkan obstruksi saluran
napas, disfagia berat, gangguan
tidur dan komplikasi
kardiopulmoner
b) Abses peritonsil yang tidak
membaik dengan pengobatan
medis dan drainase
c) Tonsilitis yang menimbulkan
kejang demam
d) Tonsilitis yang membutuhkan
biopsi untuk menentukan
patologi anatomi


Indikasi Relatif
a) Terjadi 3 episode atau lebih
infeksi tonsil per tahun dengan
terapi antibiotik adekuat
b) Halitosis akibat tonsilitis kronik
yang tidak membaik dengan
pemberian terapi medis
c) Tonsilitis kronik atau berulang
pada karier streptokokus yang
tidak membaik dengan
pemberian antibiotik -
laktamase resisten
Jawaban: A. Kesulitan tidur
selama 1 bulan
196. THT Meniere Disease
Keywords
S: pusing berputar, berdenging di telinga,
pendengaran menurun
Trias gejala yang dapat ditemukan pada Meniere
disease
Vertigo
Tinitus
Tuli sensorineural yang fluktuatif
Meniere disease disebabkan oleh hidrops
endolimfe.
Jawaban: D. Meniere disease
Vertigo Perifer vs. Sentral
Vertigo Perifer (Vestibuler) Vertigo Sentral (Non-Vestibuler)
Sifat vertigo Rasa berputar Rasa melayang, hilang keseimbangan
Gangguan di Kanalis semisirkularis Batang otak atau serebelum
Serangan Episodik Kontinyu
Mual/muntah + -
Gangguan pendengaran -
Gerakan pencetus Gerakan kepala Gerakan objek visual
Situasi pencetus - Keramaian lalu lintas
Penyebab Neuritis vestibuler
BPPV
Meniere disease
Trauma
Fisiologis (mabuk)
Obat-obatan
Neuroma akustik
Stroke batang otak
TIA vertebrobasiler
Migren basiler
Trauma
Perdarahan serebelum
Infark batang otak/serebelum
Degenerasi spinoserebral
Nistagmus Horizontal atau rotatoar Vertikal
197. THT BPPV post trauma
Patologi penyebab vertigo pada pasien post
trauma adalah BPPV
Cara pemeriksaan : Dix- Hallpike manuver
Jawaban: C. Dix-Hallpike manuver

198. THT Benda Asing di Telinga
Serangga dalam liang telinga
Prinsip : binatang dimatikan dengan
meneteskan pantokain, silokain, minyak atau
alkohol sebelum dikeluarkan
Jawaban: C. Matikan kecoa lalu dikeluarkan
199. THT OMA
Keywords:
S: Keluar cairan dari telinga kanan, riwayat batuk pilek
O: demam, telinga kanan: sekret mukopurulen (+),
perforasi sentral (+)
Dipikirkan diagnosis kerja OMA stadium perforasi
th/ Antibiotik, antipiretik, dekongestan, dan
ear toilet H
2
O
2
3%
Jawaban: B. Antibiotik, antipiretik, dekongestan,
dan ear toilet H
2
O
2
3%

OMA Patogenesis
OMA Manifestasi Klinis dan
Tatalaksana
OTITIS MEDIA AKUT
Manifestasi klinis, tergantung stadium
Oklusi: retraksi membran timpani
Hiperemis: MT hiperemis dan edema
Supurasi: Telinga bulging, sangat
nyeri, nadi dan suhu meningkat
Perforasi: Ruptur MT, nadi dan suhu
menurun, nyeri reda
Resolusi: MT menutup, sekret hilang.
Kegagalan stadium resolusi
menyebabkan OMSK.
Seluruh gejala sering disertai riwayat ISPA
dan gangguan pendengaran.
Tata laksana
Oklusi: obat tetes hidung (Efredin HCl
0,5%) + antibiotik
Hiperemis: antibiotik + obat tetes
hidung + analgetik + miringotomi
Supurasi: antibiotik + miringotomi
Perforasi: antibiotik + obat cuci
telinga
Resolusi: antibiotik

Setelah miringotomi atau perforasi
lakukan cuci telinga dengan H
2
O
2
3%
selama 3-5 hari.

Antibiotik lini-1: Amoxicillin 80-90
mg/kg/hari PO dibagi 2x/hari selama 10
hari
200. THT PF Tes Penala
Keywords
O: Swabach memendek
telinga kanan, Rinne (+)
kedua telinga, Weber
lateralisasi ke kiri
Jadi pada pasien ini
terjadi tuli sensorineural
telinga kanan dan telinga
kiri normal
Jawaban: E. Telinga kiri
normal, telinga kanan
tuli sensorineural