Anda di halaman 1dari 18

Makalah Hukum Waris Adat

TUGAS MAKALAH
Hukum Waris Adat
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Adat
Dosen Pengampu : A. Turmudi, SH, Msi.




Disusun oleh :

Handika S. Diputra 122211035
M. Najib Himawan 122211056
Wahyu Supriyo 122211075


Fakultas Syariah & Ekonomi Islam
IAIN Walisongo Semarang
2013


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan adat, termasuk dalam hal
pewarisan, Indonesia memiliki berbagai macam bentuk waris diantaranya, diantaranya waris
menurut hukum BW, hukum Islam, dan adat. Masing-masing hukum tersebut memiliki karakter
yang berbeda dengan yang lain.

Hukum adat waris mempunyai sistem kolektif, mayorat, dan individual. Sistem waris
kolektif yaitu, harta warisan dimiliki secara bersam-sama, dan ahli waris tidak diperbolehkan
untuk memiliki secara pribadi. Jika ingin memanfaatkan harta waris tersebut, harus ada
musyawarah dengan ahli waris yang lain. Sistem waris mayorat yaitu, harta waris dimiliki oleh
ahli waris yang tertua, dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan ahli waris yang muda baik
perempuan atau laki-lak sampai merka dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri. Sistem
waris individual yaitu, harta warisan bisa dimliki secara pribadi oleh ahli waris, dan
kepemilikkan mutlak ditangannya.
Harta warisan menurut hukum adat bisa dibagikan secara turun-temurun sebelum pewaris
meninggal dunia, tergantung dari musyawarah masing-masing pihak. Hal ini sangat berbeda
dengan kewarisan hukum BW dan hukum Islam yang mana harta warisan harus dibagikan pada
saat ahli waris telah meninggal dunia. Apabila harta warisan diberikan pada saat pewaris belum
meninggal dunia, maka itu disebut pemberian biasa atau dalam hukum Islam bisa disebut sebagai
hibah.
Dengan adanya beragam bentuk sistem kewarisan hukum adat, menimbulkan akibat yang
berbeda pula, maka pada intinya hukum waris harus disesuaikan dengan adat dan kebudayaan
masing-masing daerah dengan kelebihan dan kekurangan yang ada pada sistem kewarisan
tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dari sedikit ulasan diatas dapat ditarik point pertanyaan yakni, bagaimana Hukum Waris
Adat dan pembagian-pembagiannya?

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukum Waris Adat
Di negara kita RI ini, hukum waris yang berlaku secara nasional belum terbentuk, dan
hingga kini ada 3 (tiga) macam hukum waris yang berlaku dan diterima oleh masyarakat RI,
yakni hukum waris yang berdasarkan hukum Islam, hukum Adat dan hukum Burgerlijk Wetboek
(BW)1[1]. Hal ini adalah akibat warisan hukum yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda
untuk Hindia Belanda dahulu.
Menggunakan hukum waris menurut hukum adat, menurut Wirjono Projodikoro (19911 :
58), hukum adat pada umumnya bersandar pada kaidah sosial normatif dalam cara berpikir yang
konkret yang sudah menjadi tradisi masyarakat tertentu2[2].
Menurut Ter Haar3[3], hukum waris adat adalah aturan-aturan hukum yang bertalian
dengan dari abad ke abad penerusan dan peralihan harta kekayaan yang berwujud dan tidak
berwujud dari generasi ke generasi. Selain itu, ada pendapat lain ditulis bahwa Hukum Adat
Waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan
barang-barang harta benda yang berwujud dan yang tidak berwujud, dari suatu angkatan generasi
manusia kepada keturunnya4[4].
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa Hukum Waris Adat mengatur
proses penerusan dan peralihan harta, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dari
pewaris pada waktu masih hidup atau setelah meninggal dunia kepada ahli warisnya.
Adapun sifat Hukum Waris Adat secara global dapat diperbandingkan dengan sifat atau
prinsip hukum waris yang berlaku di Indonesia, di antaranya adalah5[5] :
1. Harta warisan dalam sistem Hukum Adat tidak merupakan kesatuan yang dapat dinilai harganya,
tetapi merupakan kesatuan yang tidak dapat terbagi atau dapat terbagi tetapi menurut jenis
macamnya dan kepentingan para ahli waris, sedangkan menurut sistem hukum barat dan hukum
Islam harta warisan dihitung sebagai kesatuan yang dapat dinilai dengan uang.

1[1] Moch. Koesnoe, Perbandingan antara Hukum Islam, Hukum Eropa dan Hukum Adat. Seminar
Pembinaan KuRikulum Hukum Islam di Perguruan Tinggi, Badan Kerjasama PTIS, Kaliurang, 1980.hlm 1-20.
2[2] Saebani, Beni Ahmad, Fiqh Mawaris (Bandung; Cv. Pustaka Setia,2009), Hal. 86
3[3] Beliau merupakan seorang pakar hukum adat yang terkenal pada masa 1900an.
4[4] http://websiteayu.com/artikel/sistem-hukum-waris-adat2
5[5] Ibid.
2. Dalam Hukum Waris Adat tidak mengenal asas legitieme portie (bagian mutlak), sebagaimana
diatur dalam hukum waris barat dan hukum waris Islam.
3. Hukum Waris Adat tidak mengenal adanya hak bagi ahli waris untuk sewaktu-waktu menuntut
agar harta warisan segera dibagikan.
Berdasarkan ketentuan Hukum Adat pada prinsipnya asas hukum waris itu penting,
karena asas-asas yang ada selalu dijadikan pegangan dalam penyelesaian pewarisan. Adapun
berbagai asas itu di antaranya seperti asas ketuhanan dan pengendalian diri, kesamaan dan
kebersamaan hak, kerukunan dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, serta keadilan. Jika
dicermati berbagai asas tersebut sangat sesuai dengan kelima sila yang termuat dalam dasar
negara RI, yaitu Pancasila.
Di samping itu, menurut Muh. Koesnoe, di dalam Hukum Adat juga dikenal tiga asas
pokok, yaitu asas kerukunan, asas kepatutan dan asas keselarasan. Ketiga asas ini dapat
diterapkan dimana dan kapan saja terhadap berbagai masalah yang ada di dalam masyarakat, asal
saja dikaitkan dengan desa (tempat), kala (waktu) dan patra (keadaan). Dengan menggunakan
dan mengolah asas kerukunan, kepatutan dan keselarasan dikaitkan dengan waktu, tempat dan
keadaan, diharapkan semua masalah akan dapat diselesaikan dengan baik dan tuntas.
Hukum waris menurut hukum adat pada dasarnya merupakan sekumpulan hukum yang
mengatur proses pengoperan dari satu generasi selanjutnya. Unsur-unsur hukum mawaris adat
adalah sebagai berikut :
1. Proses pengoperan atau hibah atau pewarisan atau warisan.
Maksud dari proses disini berarti bahwa pewarisan hukum adat bukan selalu aktual
dengan adanya kematian, atau walaupun tak ada kematian proses pewarisan itu tetap ada,
mengenai penerusan, pengoperan dan penerusan kedudukan harta material dan immaterial,
penerusan itu dari generasi ke generasi berikutnya. Jadi pewarisan ini bukan merupakan
pewarisan individual.
2. Harta benda materiil dan imateriil.
Tiap kesatuan keluarga mesti ada benda-benda material yang dimiliki oleh keluarga itu,
yang disebut dengan kekayaan. Kekayaan yang biasa disebut harta keluarga (gezinsgoed), dapat
diperoleh dengan cara, antara lain : (1) harta suami istri yang diperoleh dari harta warisan dari
orang tuanya(toessheding), (2) harta suami istri yang diperoleh sendiri sebelum perkawinan, (3)
harta suami istri yang diperoleh bersama-sama semasa perkawinan, dan (4) harta yang ketika
menikah kepada pengantin (suami istri). Kekayaan dalam keluarga tersebut pada dasarnya
memiliki beberapa fungsi :
a. Kekayaan merupakan basis material dalam kehidupan keluarga yang dinamakan harta rumah
tangga bagi kesatuan rumah tangga.
b. Kekayaan berfungsi untuk memberi basis material bagi kesatuan-kesatuan rumah tangga yang
akan dibentuk oleh keturunan.
c. Karena harta kekayaan itu merupakan basis material dari pada kesatuan-kesatuan kekeluargaan,
maka dari sudut lain harta kekayaan itu merupakan alat untuk mempersatukan kehidupan
keluarga.
d. Karena harta kekayaan itu adalah pemersatu kehidupan keluarga, maka pada dasarnya dalam
proses pewarisan, tidak dilakukan pembagian atau pada dasarnya harta peninggalan tak dibagi-
bagi.
Berdasarkan ketentuan mengenai fungsi dari pada harta kekayaan, maka dalam hukum
waris di kenal dua harta macam peninggalan yaitu :
a. Harta peninggalan yang dapat dibagi yaitu, peninggalan yang dibagi-bagikan pada ahli warisnya
yaitu kepada anak-anaknya.
b. Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi yaitu, jika orang itu meninggal, maka : hartanya
menjadi harta pusaka yang dimiliki oleh komplek-famili yang dipimpin oleh kepala-famili, dan
hanya ada seorang anak saja yang berhak mewarisi. Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi di
golongkan menjadi dua yaitu, mayorat (sistem pewarisan dimana anak tertua yang menjadi ahli
waris) dan kolektif (suatu sistem kewarisan yang dimana harta pusaka yang dimiliki bersama,
yaitu dimiliki oleh keluarga didalam arti kerabat (famili)).
3. Satu generasi kegenerasi selanjutnya.
Pada dasarnya yang menjadi ahli waris dalam hukum adat adalah angkatan (generasi).
4. Tata cara penyelenggaraan pembagian warisan.
Tata cara penyelenggaraannya pembagian warisan menurut hukum adat meliputi tiga
cara yaitu sebagai berikut :
a) Waris, waris berdasarkan sistem tata tertib sanak yang terbagi dalam tiga sistem yaitu waris
parental, waris patrilineal, dan waris matrilineal.
b) Hibah, adalah perbuatan hukum yang dimana seseorang tertentu memberikan sutau
barang(kekayaan) tertentu kepada seseorang yang diingkan, menurut kaidah hukum yang
berlaku. Hibah dibagi emnajdi dua yaitu hibah biasa (pembagian barang milik seseorang yang
langsung diikuti dengan pnyerahan seketika barang), dan hibah wasiat (pembagian barang milik
seseorang yang tidak selalu diikuti penyerahan seketika itu, juga barang-barang itu kepada yang
mendapat barang masing-masing dan abru akan diserahkan apabila si pemberi sudah meninggal
dunai). Dengan kata lain hibah wasiat berlaku setelah si pemberi meninggal.

B. Pembagian Waris Menurut Hukum Adat
Dalam hal pembagiannya yaitu anak-anak dan atau keturunannya serta janda, seluruh
harta menurut pasal 852 BW harus di bagi sebagai berikut6[6]:
1. Apabila anak-anak dari si wafat masih hidup, anak-anak itu dan janda mendapat masing-masing
suatu bagian yang sama, misalnya ada 4 anak dan janda maka mereka masing-masing 1/5 bagian.
2. Apabila salah seorang anak sudah meninggal lebih dahulu, dan ia mempunyai anak (jadi cucu
dari si peninggal warisan), misalnya 4 cucu, maka mereka semua mendapat 1/5 bagian selaku
pengganti ahli waris (plaatsvervulling) menurut pasal 842 BW. Jadi masing masing cucu
mendapat 1/20 bagian.
Dalam hal ini tidak diperdulikan apakah anak-anak itu adalah lelaki maupun perempuan,
anak tertua atau termuda (zonder onderscheid van kunne of eerstegeboorte)7[7].
Menurut ketentuan Hukum Adat yang berkembang di dalam masyarakat, secara garis
besar dapat dikatakan bahwa sistem (pembagianya) hukum waris adat terdiri dari tiga sistem,
yaitu8[8]:
1. Sistem Kolektif, Menurut sistem ini ahli waris menerima penerusan dan pengalian harta warisan
sebagai satu kesatuan yang tidak terbagi dan tiap ahli waris hanya mempunyai hak untuk
menggunakan atau mendapat hasil dari harta tersebut. Contohnya seperti Minangkabau, Ambon
dan Minahasa.
2. Sistem Mayorat, Menurut sistem ini harta warisan dialihkan sebagai satu kesatuan yang tidak
terbagi dengan hak penguasaan yang dilimpahkan kepada anak tertentu saja, misalnya anak laki-

6[6] Saebani, Beni Ahmad, Fiqh Mawaris (Bandung; Cv. Pustaka Setia,2009),86-87
7[7] Ibid., 87
8[8] Anshori, Abdul Ghofur, Filsafat Hukum Kewarisan Islam (Yogyakarta: UII Press, 2005), hal. 78
laki tertua (Bali, Lampung, Teluk Yos Sudarso) atau perempuan tertua (Semendo/ Sumatra
Selatan), anak laki-laki termuda (Batak) atau perempuan termuda atau anak laki-laki saja.
3. Sistem Individual, berdasarkan prinsip sistem ini, maka setiap ahli waris mendapatkan atau
memiliki harta warisan menurut bagiannya masing-masing. Pada umumnya sistem ini dijalankan
di masyarakat di Jawa dan masyarakat tanah Batak.9[9]

C. Harta Waris Adat
Harta waris adalah harta yang ditinggalkan atau yang diberikan oleh pewaris kepada
warisnya, baik yang dapat dibagi maupun yang tidak dapat dibagi. Harta waris dapat dibagi
dalam empat bagian, yaitu : harta asal, harta pemberian, harta pencaharian, hak dan kewajiban
yang diwariskan.


1. Harta asal
Harta asal adalah harta yang diperoleh atau dimiliki oleh pewaris sebelum perkawinan
yang dibawa kedalam perkawinan, baik harta itu berupa harta peninggalan maupun harta
bawaan.
Harta peninggalan dapat dibedakan harta peninggalan yang tetap tak terbagi dan harta
peninggalan yang dapat dibagi, demikian juga harta bawaan ada harta bawaan di isteri dan harta
bawaan suami.
Harta peninggalan ada harta peningggalan yang tak terbagi dan harta peninggalan yang
dapat dibagi. Dalam pewarisan yang banyak membawa persoalan adalah harta peninggalan yang
tak terbagi, karena terhadap harta ini ada seolah-olah waris kehilangang haknya untuk memiliki
secara perseorangan atau menguasai secara penuh.Suatu harta peninggalan tidak terbagi dalam
hukum adat kita disebabkan karena sifat dan kedudukan dari harta itu. Dalam masyarakat
bilateral di Jawa, harta peninggalan dapat menjadi harta peninggalan yang tak terbagi bilamana
misalnya seorang janda atau anak-anaknya yang belum dewasa harus mendapat nafkahnya
daripadanya dan pemberian nafkah ini tidak akan terjamin bila diadakan pembagian.

9[9] Lihat Soekanto, Soerjono, Hukum Adat Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012),
hal 260
Di Minangkabau dikenal harta pusaka tinggi seperti rumah gadang, sawah atau
peladangan. Dalam masyarakat matrilinial ini harta pusaka adalah kepunyaan kaum dimana ibu
sebagai pusat pengusaannya. Harta peninggalan ini tidak mungkin dimiliki secara perseorangan
melainkan secara bersama memilikinya bagi para anggota kerabat dari pihak ibu tersebut.
Terhadap harta kerabat di Minangkabau atau di Hitu Ambon penguasaannya dipimpin
oleh mamak kepala waris di Minangkabau, kepala dati di Hitu. Selain faktor-faktor di atas, harta
peninggalan tak terbagi karena harta tersebut hanya diperuntukkan penguasaannya untuk diurus
seperti dalam masyarakat patrilinial beralih-beralih di Bali harta peninggalan dikuasai oleh anak
laki-laki yang tertua yang menggantikan kedudukan orang tua untuk mengurusi dan memelihara
saudara-saudaranya, atau di Semendo yang menganut sistim matrilinial harta peninggalan hanya
dikuasai dan diurus, tidak dapat dipindah tangankan, pada umumnya banyak harta peninggalan
tetap tinggal tidak dibagi-bagi dan disediakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan materiil
keluarga yang ditinggalkan. ( R,Soepomo, 1980 : hlm.81).
Sedangkan harta peninggalan yang dapat dibagi pada umumnya terdapat pada
masyarakat patrilinial di Batak, dan masyarakat bilateral di Jawa, dan tidak menutup
kemungkinan di daerah-daerah yang harta peninggalan tersebut di atas karena pergeseran zaman
dan merenggangnya sistim kekerabatan harta tersebut dibagi, namun pada prinsipya tidak dapat
dibagi. Demikian juga di Semende yang menjadi harta yang tak terbagi atau tetap terbagi-bagi
hanya harta tunggu tubang saja, sedangkan harta diluar harta tubang dapat dibagi. Harta yang
dapat dibagi biasanya merupakan harta pencaharian atau harta bawaan.
Harta bawaan adalah harta yang dimiliki oleh suami atau isteri sebelum perkawinan.
Oleh sebab itu dibagi antara harta bawaan suami dan harta bawaan isteri. Harta bawaan itu ada
yang terikat dengan kerabat dan ada yang tidak terikat dengan kerabat. Harta bawaan yang
terikat dengan kerabat seperti harta pihak suami yang dibawa pihak suami yang dibawa ke
tempat kediaman isterinya (matrilokal) dalam masyarakat matrilinial di Minangkabaum harta
yang diberikan kepada anak perempuan selagi masih gadis di Batak yang dibawa menetap di
tempat kediaman suaminya (patrilokal) yang dinamakan tano atau saba bangunan. Harta bawaan
yang tidak terikat dengan kerabat, karena harta itu hasil pencaharian si suami selagi masih
bujang (harta pembujangan, Sumatera Selatan), harta penantian bagi si isteri semasa gadis atau
guna kaya di Bali baik harta perempuan ataupun harta laki-laki.
Kedua harta ini dalam masyarakat kita mempunyai kedudukan yang berbeda sesuai
dengan bentuk masyarakat itu.
2. Harta pemberian
Harta pemberian adalah harta yang dimiliki oleh pewaris karena pemberian, baik
pemberian dari suami bagi si isteri, pemberian dari orang tua, pemberian kerabat, pemberian
orang lain, hadiah-hadiah perkawinan atau karena hibah wasiat. Harta pemberian dibedakan
dengan harta asal, sebab harta asal telah ada sebelum perkawinan sedangkan harta pemberian ada
setelah perkawinan. Harta pemberian orang tua, dalam beberapa masyarakat terikat dengan
kerabat, seperti harta pemberian si bapak kepada anak perempuannya sewaktu gadis ini Batak
atau selagi anak tersebut dalam perkawinan (saba bangunan, pauseang, indahan arian), bila si
isteri ini meninggal dan tidak mempunyai anak, maka harta ini akan kembali pada kerabatnya.
Harta pemberian orang lain, seperti pemberian dari teman sekerja.
Bila harta pemberian tersebut ditujukan kepada salah satu pihak suami-isteri, sama
halnya dengan pemberian kerabat hanya saja motif pemberiannya berbeda. Pemberian kerabat
biasanya didasarkan rasa kasihan, welas asih atau tolong-menolong, sedangkan pemberian orang
lain karena rasa persahabatan dan sebagainya.
3. Harta pencaharian
Harta pencaharian adalah harta yang diperoleh oleh suami-isteri, suami saja atau isteri
saja dalam perkawinan karena usaha dari suami-isteri atau salah satu pihak. Secara umum harta
yang diperoleh dalam perkawinan adalah harta bersama suami-isteri, tetapi dalam beberapa
masyarakat ada harta pencaharian suami saja, atau harta pencaharian si isteri saja disebabkan
bentuk perkawinan dan sistim kekerabatannya.
Di Minangkabau harta bersama dikenal harta suarang, di Jawa gono-gini, di Kalimantan
harta perpantanganm di Bugis dan Makasar dikenal cakkara. Harta bersama dapat bertambah
karena harta bawaan, harta pemberian, dan harta lain yang diperuntukkan untuk keluarga yang
diberikan tersebut.

D. Hukum Waris Adat Patrilineal
Patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak
ayah. Kata ini seringkali disamakan dengan patriarkat atau patriari, meskipun pada dasarnya
artinya berbeda. Patilineal berasal dari dua kata, yaitu pater (bahasa Latin) yang berarti "ayah",
dan linea (bahasa Latin) yang berarti "garis". Jadi, "patrilineal" berarti mengikuti "garis
keturunan yang ditarik dari pihak ayah".
Sementara itu patriarkat berasal dari dua kata yang lain, yaitu pater yang berarti "ayah"
dan archein (bahasa Yunani) yang berarti "memerintah". Jadi, "patriari" berarti "kekuasaan
berada di tangan ayah atau pihak laki-laki".10[10]
Di dalam sistem ini kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum waris sangat
menonjol, contohnya pada masyarakat Batak dan Bali. Yang menjadi ahli waris hanya anak laki-
laki sebab anak perempuan yang telah kawin dengan cara "kawin jujur" yang kemudian masuk
menjadi anggota keluarga pihak suami, selanjutnya ia tidak merupakan ahli waris orang tuanya
yang meninggal dunia. Dalam masyarakat tertib Patrilineal seperti halnya dalam masyarakat
Batak Karo, khususnya, dan dalam masyarakat Batak pada umumnya.11[11] Titik tolak
anggapan tersebut, yaitu :
1. Emas kawin (tukur), yang membuktikan bahwa perempuan dijual;
2. Adat lakoman (levirat) yang membuktikan bahwa perempuan diwarisi oleh saudara dari
suaminya yang telah meninggal.
3. Perempuan tidak mendapat warisan;
4. Perkataan naki-naki menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk tipuan, dan lain-lain.
Akan tetapi ternyata pendapat yang dikemukakan di atas hanya menunjukkan
ketidaktahuan dan sama sekali dangkal sebab terbukti dalam cerita dan dalam kesusasteraan
klasik, kaum wanita tidak kalah peranannya dibandingkan dengan kaum laki-laki.12[12]
Meskipun demikian, kenyataan bahwa anak laki-laki merupakan ahli waris pada
masyarakat patrilineal, dipengaruhi pula oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Silsilah keluarga didasarkan pada anak laki-laki. Anak perempuan tidak dapat melanjutkan
silsilah (keturunan keluarga);

10[10] http://id.wikipedia.org/wiki/PatRilineal
11[11] Eman Suparman, Hukum Waris Ri dalam Perspektif Islam Adat dan BW, (Bandung: Refika Aditama,
2005), hlm. 43

12[12] Ibid Hal. 66
2. Dalam rumah-tangga, isteri bukan kepala keluarga. Anak-anak memakai nama keluarga (marga)
ayah. Istri digolongkan ke dalam keluarga (marga) suaminya;
3. Dalam adat, wanita tidak dapat mewakili orang tua (ayahnya) sebab ia masuk anggota keluarga
suaminya;
4. Dalam adat, laki-laki dianggap anggota keluarga sebagai orang tua (ibu);
5. Apabila terjadi perceraian, suami-isteri, maka pemeliharaan anak-anak menjadi tanggung jawab
ayahnya. Anak laki-laki kelak merupakan ahli waris dari ayahnya baik dalam adat maupun harta
benda.
Di dalam pelaksanaan penentuan ahli waris dengan menggunakan kelompok keutamaan
maka harus diperhatikan prinsip garis keturunan yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu.
Pada umumnya masyarakat Bali menganut susunan kekeluargaan patrilinial, sehingga dalam
hukum adat di Bali terdapat persyaratan-persyaratan sebagai ahli waris menurut I Gde Pudja
adalah :
1. Ahli waris harus mempunyai hubungan darah, yaitu misalnya anak pewaris sendiri.
2. Anak itu harus laki-laki.
3. Bila tidak ada anak barulah jatuh kepada anak yang bukan sedarah yang karena hukum ia berhak
menjadi ahli waris misalnya anak angkat.
4. Bila tidak ada anak dan tidak ada anak angkat, hukum Hindu membuka kemungkinan adanya
penggantian melalui penggantian atas kelompok ahli waris dengan hak keutamaan kepada
kelompok dengan hak penggantian lainnya yang memenuhi syarat menurut Hukum Hindu13[13]
Apabila suatu keluarga hanya mempunyai anak perempuan tanpa ada anak laki-laki maka
anak perempuan itu dapat diangkat statusnya sebagai anak laki-laki (sentana rajeg) dengan cara
perkawinan ambil laki, sehingga anak perempuan tersebut dapat menjadi sebagai ahli waris dari
harta warisan orang tuanya. Anak angkat berdasarkan hukum waris adat di Bali dilakukan
bilamana suatu keluarga tidak mempunyai keturunan, sehingga fungsi anak angkat itu sebagai
penerus generasi atau keturunan, agar mantap sebagai penerus keturunan dan tidak ada keragu-

13[13] I Gde Pudja Pedoman Penghayatan Dan Pengamalan Pancasila dan Ajaran Hindu Dharma, Cetakan
Keempat, Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha Departeman Agama INDONESIA,
(selanjutnya disingkat I Gde Pudja I) hlm. 42.
raguan maka pengangkatan anak ini haruslah diadakan upacara pemerasan dan diumumkan di
hadapan masyarakat.14[14]
Upacara penggangkatan anak ini dimaksudkan untuk melepaskan anak itu dari ikatan atau
hubungan dengan orang tua kandungnya dan sekaligus memasukkan anak itu ke dalam keluarga
yang mengangkatnya. Dalam sistem hukum adat waris patrilineal, pewaris adalah seorang yang
meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan, baik harta itu diperoleh selama
dalam perkawinan maupun harta pusaka, karena di dalam hukum adat perkawinan suku
bersistem patrilineal, yang memakai marga itu berlaku keturunan patrilineal maka orang tua
merupakan pewaris bagi anak-anaknya yang laki-laki dan hanya anak laki-laki yang merupakan
ahli waris dari orang tuanya.
Sifat masyarakat patrilinial adalah masyarakat yang anggota- anggotanya menarik garis
keturunan melalui garis bapak. Sifat kekeluargaan masyarakat adat ini disebut juga dengan
masyarakat Unilaterial. Pada masyarakat unilaterial diperlakukan kawin jujur. Pola pembagian
harta warisan masyarakat parental adalah :
a. Yang berhak mewarisi hanyalah anak laki- laki
b. Kakek, jika tidak memiliki anak laki- laki
c. Saudara laki- laki, jika kakek tidak ada

E. Hukum Waris Adat Matrilinial
Di RI hukum waris adat bersifat pluralistik menurut suku bangsa atau kelompok etnik
yang ada. Pada dasarnya hal itu disebabkan oleh sistem garis keturunan yang berbeda-beda, yang
menjadi dasar dari sistem suku-suku bangsa atau kelompok-kelompok etnik. Masalahnya adalah,
antara lain: Apakah ada persamaan antara hukum waris adat yang dianut oleh berbagai suku atau
kelompok tersebut, dan apakah hal itu tetap dianut walaupun mereka menetap di luar daerah
asalnya.15[15]
Menguraikan system hukum adat waris dalam suatu masyarakat tertentu, kiranya tidak
dapat terlepas dari system kekeluargaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan.

14[14] http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/5FHS1HUKUM/207711066/BAB%20II.pdf, hal. 17, 06-
11-2013, 07.10 WIB
15[15] Asri Thaher, S.H. Sistem Pewarisan dan Kekerabatan Adat Matrilinial. Tesis. Universitas
Diponegoro. Semarang. Hal. 4
Demikian pula halnya dengan system hukum adat waris dalam masyarakat matrilinial di
Minangkabau, ini berkaitan erat dengan system kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari
pihak ibu.
Hukum waris menurut hukum adat Minangkabau senantiasa merupakan masalah yang
aktual dalam berbagai pembahasan. Hal itu mungkin disebabkan karena kekhasannya dan
keunikannya bila dibandingkan dengan system hukum adat waris dari daerah-daerah lain di
Indonesia ini. Seperti telah dikemukakan, bahwa system kekeluargaan di Minangkabau adalah
system yang menarik garis keturunan dari pihak ibu yang dihitung menurut garis ibu, yakni
saudara laki-laki dan saudara perempuan, nenek beserta saudara-saudaranya, baik laki-laki
maupun perempuan.
Dengan system tersebut, maka semua anak-anak hanya dapat menjadi ahli waris dari
ibunya sendiri, baik untuk harta Pusaka Tinggi yaitu harta yang turun-temurun dari beberapa
generasi, maupun harta pusaka rendah yang harta yang turun dari satu generasi.

F. Hukum Waris Adat Parental/Bilateral
Sistem parental ini di Ri dianut di banyak daerah, seperti: Jawa, Madura, Sumatera
Timur, Riau, Aceh, Sumatera Selatan, seluruh Kalimantan, seluruh Sulawesi, Ternate, dan
Lombok. Berbeda dengan dua sistem kekeluargaan sebelumnya yaitu sistem patrilineal dan
sistem matrilinial, sistem kekeluargaan parental atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri
pula, yaitu bahwa yang merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan.
Mereka mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orangtuanya sehingga dalam proses
pengalihan sejumlah harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris, anak laki-laki dan
anak perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama. Tiga bentuk sistem kekeluargaan
yang sangat menonjol senantiasa merupakan contoh pembahasan.
Hal tersebut mungkin didasarkan pada pertimbangan, bahwa di antara ketiga sistem
kekeluargaan itu perbedaannya sangat prinsipil karena seolah-olah sistem patrilineal merupakan
kebalikan dari sistem matrilinial. Kemudian kedua sistemtersebut dirangkum oleh satu sistem
yang mengambil unsur dari kedua sistem tersebut, yaitu sistem parental atau bilateral.
Hukum warisan parental atau bilateral adalah memberikan hak yang sama antara pihak
laki-laki dan pihak perempuan, baik kepada suami dan istri, serta anak laki-laki dan anak
perempuan termasuk keluarga dari pihak laki-laki dan keluarga pihak perempuan. Ini berarti
bahwa anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama-sama mendapatkan hak warisan dari
kedua orang tuanya, bahkan duda dan janda dalam perkembangannya juga termasuk saling
mewarisi.
Bahkan proses pemberian harta kepada ahli waris khususnya kepada anak, baik kepada
anak laki-laki maupun anak perempuan umumnya telah dimulai sebelum orang tua atau pewaris
masih hidup. Dan sistem pembagian harta warisan dalam masyarakat ini adalah individual
artinya bahwa harta peninggalan dapat dibagi-bagikan dari pemiliknya atau pewaris kepada para
ahli warisnya, dan dimiliki secara pribadi.
Sifat sistem hukum kewarisan adat parental atau bilateral yang pada umumnya di pulau
Jawa, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta,
sebenarnya dapat dilihat dari beberapa segi; pertama segi jenis kelamin, ini dapat dibagi dua
kelompok, pertama kelompok laki- laki dan kelompok perempuan. Kedua segi hubungan antara
pewaris dengan ahli waris. Dari segi ini juga ada dua kelompok pertama yaitu kelompok ahli
waris karena terjadinya ikatan perkawinan suami dan istri. Kelompok kedua adalah kelompok
hubungan kekerabatan, karena adanya hubungan darah ini ada tiga yaitu kelompok keturunan
pewaris, seperti anak pewaris, cucu pewaris, buyut pewaris, canggah pewaris dan seterusnya ke
bawah sampai galih asem. Kelompok asal dari pada pewaris, yaitu orang tua dari pewaris, seperti
ayah dan ibu dari pewaris, kakek dan nenek pewaris, buyut laki-laki dan buyut perempuan
pewaris, dan seterusnya ke atas dari pihak laki-laki dan perempuan. Dan kelompok ketiga adalah
hubungan kesamping dari pewaris, seperti saudara-saudara pewaris, baik laki-laki maupun
perempuan seterusnya sampai anak cucunya serta paman dan bibi seterusnya sampai anak
cucunya, dan siwo atau uwa laki-laki dan perempuan sampai anak cucunya.
Dalam sistem hukum warisan parental atau bilateral juga menganut keutamaan sebagai
mana sistem hukum warisan matrilinial. Menurut Hazairin ada tujuh kelompok keutamaan ahli
waris parental atau bilateral, artinya ada kelompok ahli pertama, kelompok ahli waris kedua,
kelompok ahli waris ketiga dan seterusnya sampai kelompok ahli waris ketujuh. 16[16]
Dimaksud kelompok keutamaan disini, ialah suatu garis hukum yang menentukan di
antara kelompok keluarga pewaris, yang paling berhak atas harta warisan dari pewaris, artinya
kelompok pertama diutamakan dari kelompok kedua dan kelompok kedua diutamakan dari

16[16] http://www.kompasiana.com/posts/type/opinion/27 May 2013/ 12:16
kelompok ketiga dan seterusnya. Sehingga kelompok-kelompok ini mempunyai akibat hukum,
bahwa kelompok pertama menutup kelompok kedua, dan kelompok kedua menutup kelompok
ketiga seterusnya sampai kelompok ketujuh. Berdasarkan uraian tersebut di atas, tampaknya
hukum warisan parental itu tidak terlepas dari sistem kekerbatan yang berlaku, karena kelompok
ahli waris itu menghitungkan hubungan kekerabatan malalui jalur laki-laki dan jalur perempuan.
Sehingga kedudukan ahli waris laki-laki dan perempuan sama sebagai ahli waris
Atas dasar kesamaan hak antara laki-laki dengan perempuan, sehingga perolehan harta
warisannya tidak ada perbedaan, yaitu satu berbanding satu, maksudnya bagian warisan laki-laki
sama dengan bagian perolehan perempuan. Namun dalam perkembangannya hukum warisan
adat parental khususnya di Jawa kelompok laki-laki dengan kelompok perempuan bervariasi ada
dua berbanding satu, artinya laki-laki mendapat bagian dua bagian dan perempuan mendapat satu
bagian. Adanya variasi itu karena terpengaruh ajaran agama Islam, karena hukum warisan Islam
perolehan harta warisan antara laki-laki dengan perempuan dua berbanding satu, artinya laki-laki
mendapat dua bagian, sedangkan perempuan mendapat satu bagian, (lihat Quran Surat An-Nisa
ayat 11 dan 12).
Dengan adanya perubahan perolehan harta warisan antara laki-laki dengan perempuan,
ini membuktikan bahwa hukum warisan adat parental khususnya di Jawa telah mendapat resepsi
dari hukum Islam, meskipun dalam praktek belum seluruhnya mayarakat merecepsi hukum
warisan Islam.
Sifat masyarakat parental adalah masyarakat yang anggota- anggotanya menarik garis
keturunan melalui garis ibu dan garis bapak. Pola pembagian harta waris :
1. Pertama, jika salah satu meninggal, harta warisan dibagi menjadi dua, yaitu harta benda asal
ditambah setengah harta benda perkawinan. Ahli warisnya adalah :
a. Semua anak- anaknya (laki- laki atau perempuan) dengan bagian sama rata,
b. Bila tidak beranak, maka harta benda bersama jatuh pada yang masih hidup,
c. Bila ada anak, maka harta asal jatuh pada famili yang tertua dari yang meninggal (orang tua),
bila yang tertua tidak ada, harta asal jatuh pada ahliwaris kedua dari kedua orangtua tersebut
(saudara laki- laki).
2. Kedua, jika keduanya meninggal tanpa anak, harta benda bersama jatuh pada famili kedua belah
pihak.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Hukum adat waris mempunyai sistem kolektif, mayorat, dan individual. Hukum Waris
Adat mengatur proses penerusan dan peralihan harta, baik yang berwujud maupun yang tidak
berwujud dari pewaris pada waktu masih hidup atau setelah meninggal dunia kepada ahli
warisnya. Harta waris adalah harta yang ditinggalkan atau yang diberikan oleh pewaris kepada
warisnya, baik yang dapat dibagi maupun yang tidak dapat dibagi. Harta waris dapat dibagi
dalam empat bagian, yaitu : harta asal, harta pemberian, harta pencaharian, hak dan kewajiban
yang diwariskan.
Di dalam sistem patrinial kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum waris
sangat menonjol, contohnya pada masyarakat Batak dan Bali. Yang menjadi ahli waris hanya
anak laki-laki.
Dalam system matrilinial semua anak-anak hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya
sendiri baik untuk harta pusaka tinggi maupun untuk harta pusaka rendah. Jika yang meninggal
itu adalah seorang laki-laki maka anak-anaknya dan jandanya tidaklah ahli waris mengenai harta
pusaka tinggi, tetapi ahli warisnya adalah seluruh kemenakannya dari pihak laki-laki.
Sistem kekeluargaan parental atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri pula, yaitu
bahwa yang merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan. Mereka
mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orangtuanya sehingga dalam proses
pengalihan sejumlah harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris, anak laki-laki dan
anak perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama. Berikut perbandingan tiga sistem
kewarisan :

No. Sistem Kewarisan Ciri-ciri Kelebihan Kekurangan

1.

Individual
Harta peninggalan itu
dibagi-bagikan
kepemilik-annya
kepada para waris

Para waris dapat bebas
mengusai dan memiliki
harta warisan
bagiannya tanpa
dipengaruhi anggota-
anggota keluarga yang
lain
Pecahnya harta warisan
dan meregangnya tali
kekerabatan.

2.

Kolektif
Harta peninggalan
diteruskan dan dialih-
kan kepemilikan-nya
dari pewaris kepada
ahli waris sebagai
kesatuan yang tidak
Dapat terlihat apabila
fungsi harta kekayaan
itu diperuntukkan bagi
kelangsungan harta
anggota keluarga
tersebut.
menimbulkan cara
berpikir yang terlalu
sempit, kurang terbuka
karena selalu
terpancang pada
kepentingan keluarga
terbagi - bagi
penguasaannya dan
pemilikannya.

saja

3.

Mayorat
Harta peninggalan
diwarisi keseluruhan-
nya atau sebagian besar
(sejumlah harta pokok
dari suatu keluarga)
oleh seorang anak saja.
Terletak pada
kepemimpinan anak
tertua yang mengganti-
kan kedudukan orang
tuanya yang telah
meninggal untuk
mengurus harta.
Tampak apabila anak
tertua ini ternyata tidak
mampu mengurus harta
kekayaan orang tuanya
itu


DAFTAR PUSTAKA

Anshori, Abdul Ghofur, Filsafat Hukum Kewarisan Islam (Yogyakarta: UII Press,2005).
Asri Thaher, S.H. Sistem Pewarisan dan Kekerabatan Adat Matrilinial. Tesis. Universitas Diponegoro.
Semarang.
Eman Suparman, Hukum Waris RI dalam Perspektif Islam Adat dan BW, (Bandung: Refika Aditama,
2005).
http://websiteayu.com/artikel/sistem-hukum-waris-adat2
http://id.wikipedia.org/wiki/Patrilineal.
http://library.upnvj.ac.id/pdf/5FHS1HUKUM/207711066/BAB%20II.pdf, hal. 17, 06-11-2013, 07.10
WIB
http://kompasiana.com/post/opini
I Gde Pudja Pedoman Penghayatan Dan Pengamalan Pancasila dan Ajaran Hindu Dharma, Cetakan
Keempat, Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha Departeman Agama
INDONESIA, (selanjutnya disingkat I Gde Pudja I).
Saebani, Beni Ahmad, Fiqh Mawaris (Bandung; Cv. Pustaka Setia,2009).
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012)