Anda di halaman 1dari 8

DEMAM TIFOID

Definisi
Demam tifoid dan paratifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus. Sinonim
dari demam tifoid dan paratifoid adalah typhoid dan paratyphoid fever, enteric fever,
tifus dan paratifus abdominalis. Demam paratifoid menunjukan manifestasi yang
sama dengan tifoid, namun biasanya lebih ringan.

Etiologi
Demam tifoid adalah Salmonella typhi. Sedangkan demam paratifoid disebabkan oleh
organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella paratyphi A, S.schottmuelleri,dan
S.hirschfeldii.
Penyakit ini erat kaitannya dengan kualitas higiene pribadi dan sanitasi lingkungan
yang kurang baik. Di Indonesia bersifat endemik dan merupakan masalah kesehatan
masyarakat. Dari telaah kasus di rumah sakit besar di Indonesia, tersangka demam
tifoid menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata
kesakitan 500/100.000 penduduk dan angka kematian antara 0.65% (KMK, 2006).

Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis
Pasien datang ke dokter karena demam. Demam turun naik terutama sore dan
malam hari (demam intermiten). Keluhan disertai dengan sakit kepala (pusing-
pusing) yang sering dirasakan di area frontal, nyeri otot, pegal-pegal, insomnia,
anoreksia dan mual muntah. Selain itu, keluhan dapat pula disertai gangguan
gastrointestinal berupa konstipasi dan atau diare, nyeri abdomen dan BAB
berdarah. Pada anak dapat terjadi kejang demam.
Demam tinggi dapat terjadi terus menerus (demam kontinu) hingga minggu
kedua.
2. Pemeriksaan Fisik
Dalam minggu pertama, pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan peningkatan
suhu badan.
Dalam minggu kedua, gejala-gejala menjad lebih jelas :
Suhu tinggi.
Bau mulut karena demam lama.
Bibir kering dan kadang pecah-pecah.
Lidah kotor dan ditutup selaput putih (coated tongue), jarang ditemukan
pada anak.
Ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor.
Nyeri tekan regio epigastrik (nyeri ulu hati).
Hepatosplenomegali.
Bradikardia relatif (peningkatan suhu tubuh yang tidak diikuti oleh
peningkatan frekuensi nadi).
Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut
Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan kesadaran
seperti berkabut. Bila klinis berat, pasien dapat menjadi somnolen dan
koma atau dengan gejala-gejala psikosis (organic brain syndrome).
Pada penderita dengan toksik, gejala delirium lebih menonjol.

3. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Rutin
Hitung lekosit total menunjukkan leukopeni (<5000 per mm3), limfositosis
relatif, monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia ringan. Pada minggu
ketiga dan keempat dapat terjadi penurunan hemaglobin akibat perdarahan
hebat dalam abdomen.
Laju endap darah pada demam tifoid dapat meningkat.
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi kembali menjadi normal setelah
sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan penanganan khusus.
- Uji Widal
Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman S.typhi. Maksud
uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita
tersangka demam tifoid yaitu:
a. Aglutinin O : dari tubuh kuman
b. Aglutinin H : flagel kuman
c. Aglutinin Vi : simpai kuman
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk
diagnosis demam tifoid. Dengan titer aglutinin O > 1/320 dan titer aglutini H
1/640 diduga kuat demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak menyingkirkan
diagnosis tifoid. Diagnosis demam tifoid dianggap pasti bila didapatkan
kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-7 hari.
- Tes TUBEX TF
Tes lain yang lebih sensitif dan spesifik terutama untuk mendeteksi infeksi
akut tifus khususnya Salmonella serogrup D dibandingkan uji Widal dan saat
ini sering digunakan karena sederhana dan cepat adalah tes TUBEX. Tes ini
menggunakan teknik aglutinasi dengan menggunakan uji hapusan (slide test)
atau uji tabung (tube test).
- Kultur Darah
Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid, akan tetapi hasil
negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin disebabkan
beberapa hal sebagai berikut:
a. Telah mendapat terapi antibiotik
b. Volume darah yang kurang (5cc)
c. Riwayat vaksinasi
d. Saat pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat aglutinasi
semakin meningkat.
Terapi
Non Farmakologis : Istirahat dan tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas
demam atau 14 hari; Diet lunak dan lauk pauk rendah selulosa, tinggi kalori dan
tinggi protein (pantang sayuran dengan serat kasar); Konseling dan edukasi.
Edukasi pasien tentang tata cara:
Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid yang harus
diketahui pasien dan keluarganya.
Diet, pentahapan mobilisasi, dan konsumsi obat sebaiknya diperhatikan
atau dilihat langsung oleh dokter, dan keluarga pasien telah memahami
serta mampu melaksanakan.
Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan keluarga
supaya bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan
Farmakologis :
Terapi suportif dapat dilakukan dengan:
o Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi.
o Diet tinggi kalori dan tinggi protein.
o Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas.
o Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran),
kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien.
Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi
keluhan gastrointestinal.
Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk
demam tifoid adalah kloramfenikol, ampisilin atau amoksisilin (aman untuk
penderita yang sedang hamil), atau trimetroprim-sulfametoxazole
(kotrimoksazol).
Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat
diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Ceftriaxone,
Cefotaxime (diberikan untuk dewasa dan anak), Kuinolon (tidak dianjurkan untuk
anak <18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).

Antibiotik dan dosis penggunannya
ANTIBIOTIKA DOSIS KETERANGAN
Kloramfenikol Dewasa: 4x500 mg selama
10 hari
Anak 50-100 mg/kgBB/har,
maks 2 gr selama 10-14 hari
dibagi 4 dosis
Merupakan obat yang sering
digunakan dan telah lama
dikenal efektif untuk tifoid
Murah dan dapat diberikan
peroral serta sensitivitas
masih tinggi
Pemberian PO/IV
Tidak diberikan bila lekosis
<2000/mm3
Ceftriaxone Dewasa: 2-4gr/hari selama
3-5 hari
Anak: 80 mg/kgBB/hari
dalam dosis tunggal selama
5 hari
Cepat menurunkan suhu,
lama pemberian pendek dan
dapat dosis tunggal serta
cukup aman untuk anak.
Pemberian PO/IV
Ampicillin &
Amoksisilin
Dewasa: (1.5-2) gr/hr
selama 7-10 hari
Anak: 50 100 mg/kgbb/hari
selama 7-10 hari
Aman untuk penderita hamil
Sering dikombinasi dengan
kloramfenikol pada pasien
kritis
Tidak mahal
Pemberian PO/IV
Cotrimoxazole
(TMP-SMX)
Dewasa: 2x(160-800)
selama 7-10 hari
Anak: TMP 6-19
mg/kgbb/hari atau SMX 30-
50 mg/kgbb/hari selama 10
hari
Tidak mahal
Pemberian per oral
Quinolone Ciprofloxacin 2x500 mg
selama 1 minggu
Pefloxacin dan Fleroxacin
lebih cepat menurunkan
Ofloxacin 2x(200-400)
selama 1 minggu
suhu
Efektif mencegah relaps dan
kanker
Pemberian peroral
Pemberian pada anak tidak
dianjurkan karena efek
samping pada pertumbuhan
tulang
Cefixime Anak: 1.5-2 mg/kgbb/hari
dibagi 2 dosis selama 10
hari
Aman untuk anak
Efektif
Pemberian per oral
Thiamfenikol Dewasa: 4x500 mg/hari
Anak: 50 mg/kgbb/hari
selama 5-7 hari bebas panas
Dapat dipakai untuk anak
dan dewasa
Dilaporkan cukup sensitif
pada beberapa daerah


Indikasi demam tifoid dilakukan perawatan di rumah atau rawat jalan:
a) Pasien dengan gejala klinis yang ringan, tidak ada tanda-tanda komplikasi
serta tidak ada komorbid yang membahayakan.
b) Pasien dengan kesadaran baik dan dapat makan minum dengan baik.
c) Pasien dengan keluarganya cukup mengerti tentang cara-cara merawat serta
cukup paham tentang petanda bahaya yang akan timbul dari tifoid.
d) Rumah tangga pasien memiliki atau dapat melaksanakan sistem pembuangan
ekskreta (feses, urin, muntahan) yang mememenuhi syarat kesehatan.
e) Dokter bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan dan perawatan pasien.
f) Dokter dapat memprediksi pasien tidak akan menghadapi bahaya-bahaya
yang serius.
g) Dokter dapat mengunjungi pasien setiap hari. Bila tidak bisa harus diwakili
oleh seorang perawat yang mampu merawat demam tifoid.
h) Dokter mempunyai hubungan komunikasi yang lancar dengan keluarga
pasien.

Pendekatan Community Oriented
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat tentang aspek pencegahan
dan pengendalian demam tifoid, melalui:
Perbaikan sanitasi lingkungan
Peningkatan higiene makanan dan minuman
Peningkatan higiene perorangan
Pencegahan dengan imunisasi

Kriteria Rujukan
Telah mendapat terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.
Demam tifoid dengan tanda-tanda kedaruratan.
Demam tifoid dengan tanda-tanda komplikasi dan fasilitas tidak mencukupi.

Prognosis
Prognosis adalah bonam, namun ad sanationam dubia ad bonam, karena penyakit
dapat terjadi berulang.

Komplikasi
Biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam. Komplikasi antara lain
perdarahan, perforasi, sepsis, ensefalopati, dan infeksi organ lain:
a. Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati)
Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi yang disertai
dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai dari delirium
sampai koma.
b. Syok septik
Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta gejala-gejala toksemia yang
berat. Selain itu, terdapat gejala gangguan hemodinamik seperti tekanan darah
turun, nadi halus dan cepat, keringat dingin dan akral dingin.
c. Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)
Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematoschezia. Dapat juga diketahui
dengan pemeriksaan feses (occult blood test). Komplikasi ini ditandai dengan
gejala akut abdomen dan peritonitis. Pada foto polos abdomen 3 posisi dan
pemeriksaan klinis bedah didapatkan gas bebas dalam rongga perut.
d. Hepatitis tifosa
Kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan tes fungsi hati.
e. Pankreatitis tifosa
Terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan
amylase. Tanda ini dapat dibantu dengan USG atau CT Scan.
f. Pneumonia
Didapatkan tanda pneumonia yang Diagnosisnya dibantu dengan foto polos
toraks.

Sumber
PPK
Ilmu Penyakit Dalam Jilid III
Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1

Soal
1. Laki-laki dating dengan keluhan demam 2 minggu ini, demam disertai menggigil
dan berkeringat. BAK merah gelap, pasien tampak sakit berat delirium, pucat,
nadi lemah, pemeriksaan fisik hepar -1/3, lien S2, Hb 4 gr/dl, Trombosit
85.000, apa diagnose pada pasien ini??
a Demam berdarah
b Demam tifoid
c Malaria
d.Sistitis
e. Glomerulonefritis
2. Laki-laki 18 tahun datang dengan keluhan mual sejak 10 hari yang lalu. Mual
disertai dengan diare ringan, kepala pusing dan badan lemas. Pada pemeriksaan
didapatkan TD 130/90 mmHg, nadi 90x/menit, RR 21x/menit dan suhu 37,1 C.
pada palpasi didapatkan nyeri pada ulu hati. Diagnosis yang mungkin pada pasien
tersebut adalah?
a. Demam tifoid dan gastroenteritis
b. Gastroenteritis dan dyspepsia
c. Demam tifoid dan dyspepsia
d. Demam tifoid dan disentri
e. Kolera dan dyspepsia
3. Seorang anak laki-laki, umur 6 tahun diperiksakan ke poliklinik RS dengan
keluhan demam 1 minggu. Keluhan disertai pusing, lemas, mual, nafsu makan
menurun, dan nyeri ulu hati. Dari anamnesis didapatkan demam dirasakan naik
turun. Turun apabila minum obat penurun panas, kemudia naik lagi. Pasien belum
BAB sejak 2 hari ini. Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tensi : 110/80 mmHg,
RR : 16x/mnt, suhu tubuh : 39
0
c, frekuensi nadi : 70x/mnt, pemeriksaan abdomen
didapatkan distensi di regio kuadran kanan atas dan bawah. Nyeri tekan epigastric
(+). Hepar teraba - 1/4 blankhart. Lien tak teraba. Diagnosis yang paling
mungkin dari kasus diatas adalah:
a. Demam tifoid
b. Malaria
c. Hepatitis Akut
d. Leptospirosis
e. Demam dengue
4. Terjadi Demam tifoid massal di suatu desa. Diduga terdapat sumber
penyebaran..syarat menjadi penyebar adalah
a. Sekarang sedang terkena DT
b. Sekarang sudah sembuh total dari DT
c. Tinggal di daerah endemik
d. Yang mengeluarkan bakteri dari urin dan feses
e. Yang menularkan pertama kali
5. Anak laki-laki 10 tahun. Datang dengan keluhan demam tinggi. Demam
dirasakan terus menerus sejak 3 hari yang lalu disertai nyeri pada seluruh sendi.
Hasil pemeriksaan ditemukan suhu 39
0
C , HR 100 x/menit, RR 22 x/menit.
Pemeriksaan Lab didapati leukosit 4.000, trombosit 110.000, widal 1/320.
Diagnosis pasien ini adalah?
a. Demam Dengue
b. Demam Berdarah Dengue derajad I
c. Demam Berdarah Dengue derajad II
d. Demam Chikungunya
e. Demam Tifoid

Anda mungkin juga menyukai