Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa nifas atau post partum adalah masa setelah persalinan yang di perlukan untuk pulihnya
kembali alat-alat kandungan seperti sebelum hamil yang berlangsung selama 6 minggu.
Komplikasi masa nifas atau post partum adalah keadaan abnormal yang di sebabkan oleh
masuknya kuman-kuman pada alat genetalia pada waktu persalinan.
Masa ini rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian pada ibu terjadi setelah melahirkan dan hampir
50% dari kematian pada nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah persalinan, diantaranya
disebabkan oleh adanya komplikasi masa ini. Selama ini perdarahan pasca persalinan
merupakan penyebab kematian ibu, selain itu infeksi seperti jalan lahir dan mastiti juga menjadi
lebih menonjol sebagai penyebab kematian dan morbiditas ibu.

B. Rumusan Masalah.
1. Apakah yang dimaksud dengan perdarahan post partum?
2. Apakah yang dimaksud dengan infeksi jalan lahir ?
3. Apakah yang dimaksud dengan mastitis ?
4. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan dengan perdarahan post
partum, infeksi jalan lahir dan mastitis ?
C. Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien dengan perdarahan post partum,
infeksi jalan lahir dan mastitis.
Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui konsep dasar teoritis perdarahan post partum, infeksi jalan lahir, dan
mastitis
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan perdarahan post
partum, infeksi jalan lahir dan mastitis yang meliputi ; pengkajian, diagnosa keperawatan,
intervensi.
D. Manfaat
Memberikan wawasan kepada mahasiswa untuk lebih memahami tentang konsep post partum
dan menerapkan asuhan keperawatan dengan benar.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Perdarahan Post Partum
1. Pengertian
Perdarahan post partum (HPP) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml atau lebih dari
traktus genetalia (Palupi Widyastuti, 2001).
Perdarah post partum (HPP) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml/lebih setelah
persalinan (Kathyn A. Melson, 1999).
Perdarahan post partum (HPP) adalah perdarahan yang terjadi dalm 24 jam setelah
persalinan berlangsung (Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)
Klasifikasi perdarahan post partum :
a. Perdarahan post partum primer
Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir, disebut sebab
perdarahan pasca persalinan dini (early post partum hemorrhage) atau lazim disebut
Perdarahan pasca persalinan.
b. Perdarahan post partum sekunder
Perdarahan yang terjadi setelah > 24 jam bayi lahir disebut Perdarahan nifas (puerperal
hemorrhage).

2. Etiologi
a. Etiologi HPP primer
1) Atonia uteri (uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan)
2) Trauma genital (meliputi penyebab spontan dan trauma akibat penatalaksanaan atau
gangguan, misalnya: kelainan yang menggunakan peralatan yang termasuk seksio
sesaria, episiotomi, pemotongan ghisiri).
3) Retentio plasenta.
4) Sisa plasenta dan
5) Robekan jalan lahir.

b. Etiologi HPP sekunder
1) Fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan.
2) Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet (dapat terjadi diservik, vagina,
kandung kemih, rectum).
3) Terbukanya luka pada uterus (setelah seksio sesaria atau ruptur uterus)
3. Faktor resiko
a. Grande multipara.
b. Jarak persalinan kurang dari 2 tahun.
c. Persalinan yang dilakukan dengan tindakan: pertolongan kala uri sebelum waktunnya,
pertolongan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa, persalinan dengan narkosa,
terapi tokolitik.
d. Kelahiran sulit atau manual dari plasenta.
e. Persalinan lama atau di induksi.
f. Persalinan mendadak atau traumatik.
g. Penyakit yang diderita (Penyakit jantung,DM ,dan kelainan pembekuan darah).

4. Patofisiologi
Faktor resiko yang terdiri dari: Grande multipara, jarak persalinan kurang dari 2 tahun,
persalinan dengan tindakan: pertolongan dukun, tindakan paksa, dengan narkosa, kelahiran sulit
atau manual dari plasenta, penyakit yang diderita (Penyakit jantung, DM dan kelainan
pembekuan darah) dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri, trauma genital (perineum, vulva,
vagina, servik, atau uterus), retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir. Pada atonia
uterus ditandai dengan uterus tidak berkontraksi dan lembek menyebabkan pembuluh darah
pada bekas implantasi plasenta terbuka sehingga menyebabkan perdarahan. Pada genetalia
terjadi robekan atau luka episiotomi, ruptur varikositis, laserasi dinding servik, inversi uterus
menyebabkan perdarahan. Pada retensio plasenta ditandai plasenta belum lahir setelah 30 menit.
Sisa plasenta ditandai dengan plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah)
tidak lengkap dan robekan jalan lahir terjadi perdarahan segera setelah bayi lahir, jika ditangani
dengan baik dapat menimbulkan komplikasi. Tetapi, apabila perdarahan tidak ditangani dengan
baik dapat menimbulkan komplikasi : dehidrasi, hipovolemik, syok hipovolemik, anemia berat,
infeksi dan syok septik, sepsis purpuralis, ruptur uterus, kerusakan otak, trombo embolik,
emboli paru. Pada kehamilan berikutnya dapat mengalami aborsi spontan, hipoksia intra uterin,
retardasi pertumbuhan intra uteri dan dampak terakhir menimbulkan kematian.

5. Manifestasi klinik
a. Atoni uteri
1) Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
2) Perdarahan segera setelah anak lahir.
b. Trauma genital
1) Titik perdarahan terlihat pada perineum, vulva, dan vagina bagian bawah
2) Titik perdarahan tidak terlihat pada vagina bagian atas, servik dan uterus.
c. Retensio plasenta
1) Plasenta belum lahir setelah 30 menit.
2) Perdarahan segera setelah anak lahir.
3) Uterus kontraksi baik.
4) Tali pusat putus akibat traksi berlebihan.
5) Inversio uteri akibat tarikan.
6) Perdarahan lanjutan
d. Sisa plasenta
1) Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah ) tidak lengkap.
2) Perdarahan segera setelah anak lahir.
3) Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang
e. Robekan jalan lahir
1) Perdaraha segera setelah anak lahir.
2) Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir.
3) Uterus kontraksi baik.
4) Plasenta lengkap.
5) Pucat ,lemah
f. Fragmen plasenta
1) Nyeri tekan perut bawah
2) Sub involusi uterus
3) Perdarahan lebih dari 24 jam setelah persalinan (persalinan sekunder)perdarahan
bervariasi (ringan atau berat, terus menerus atau tidak beraturan) dan berbau jika disertai
infeksi
4) Anemia
5) Demam
g. Ruptura uteri
1) Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan intra abdominal dan atau vaginum)
2) Nyeri perut berat
3) Nyeri tekan perut
4) Denyut nadi ibu cepat

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah
Rh, golongan ABO, pencocokan silang.
b. Darah lengkap
Hb/Ht menurun, sel darah putih meningkat dan laju endap sedimentasi meningkat
c. Kultur uterus dan vaginal
Infeksi pasca partum
d. Koagulasi
FDP/FSP meningkat, fibrinogen menurun, masa protombin memanjang karena adanya
KID, masa tromboplastin parsial diaktivasi, masa tromboplastin parsial (APTT/PTT)
e. Sonografi
Menentukan adanya jaringan plasenta tertahan.

B. Konsep Dasar Infeksi Jalan Lahir atau Nifas
1. Pengertian Infeksi Nifas
Infeksi puerperalis atau infeksi nifas adalah semua peradangan yang di sebabkan oleh
masuknya kuman kuman kedalam alat genitalia pada waktu persalinan dan nifas (Sarono
Prawiroharjo, 2005 : 689)
Infeksi puerperalis adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia
dalam masa nifas (Mochtar Rustam, 1998 : 413).
Jadi yang di maksud infeksi puerperalis adalah infeksi bakteri yang terjadi pada traktus
genitalia yang terjadi setelah melahirkan, di tandai dengan kenaikan suhu hingga 38 C atau
lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan dengan mengecualikan 24 jam
pertama.
Masa nifas adalah masa setelah persalinan yang di perlukan untuk pulihnya kembali alat-alat
kandungan seperti sebelum hamil yang berlangsung selama 6 minggu

2. Etiologi Infeksi Nifas
a. Berdasarkan masuknya kuman kedalam alat kandung
1) Eksasogen : kuman datang dari luar
2) Autogen : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh
3) Endogen : dari jalan lahir sendiri


b. Berdasarkan dari kuman yang sering menyebabkan infeksi.
1) Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat, khusus
nya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau kain yang tidak
steril).
2) Staphylococcus aerus masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak di temukan sebagai
penyebab infeksi di rumah sakit.
3) Eschercia coli sering berasal dari kandung kemih atau rektum dan bisa menyebabkan infeksi
terbatas pada perinium, vulva dan endometrium.
4) Clostridium welchii, bersifat anaerob. Jarang di temukan tetapi sangat berbahaya. Infeksi
lebih sering terjadi pada abortus kriminalis

3. Faktor-Faktor Predisposisi
a. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh ibu seperti perdarahan, anemia,
nutrisi buruk, status sosial ekonomi rendah dan imunosupresi
b. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama.
c. Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.
d. Tertinggalnya selaput plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah.
e. Proses persalinan bermasalah; partus lama/macet, korioamnionitis, persalinan traumatik,
kurang baiknya proses pencegahan infeksi, manipulasi yang berlebihan, dapat berlanjut
keinfeksi dalam masa nifas.

4. Patofisiologi
Setelah kala III daerah bekas insertio plasenta merupakan daerah bekas luka berdiameter
kira-kira 4cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol, karena banyaknya vena yang di tutupi
trombus dan merupakan area yang baik untuk perkembangbiakan kuman-kuman dan masuknya
jenis-jenis yang patogen dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan pada
persalinan, begitu juga vulva, vagina, perinium merupakan tempat masuknya kuman patogen.
Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya.
Adapun infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
a. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau
operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain
adalah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang di masukkan kedalam jalan lahir tidak
sepenuhnya bebas dari kuman-kuman.
b. Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi yang berasal dari hidung
atau tenggorokan dokter atau petugas yang lainnya yang berada di ruangan tersebut. Oleh
karena itu, hidung dan mulut petugas yang bertugas harus di tutupi dengan masker dan
penderita infeksi saluran nafas di larang memasuki kamar bersalin.
c. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari penderita dengan
berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa di bawah melalui aliran udara kemana-mana,
antara lain ke handuk, kain-kain yang tidak steril dan alat-alat yang di gunakan untuk
merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu nifas.
d. Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali jika
menyebabkan pecahnya ketuban.
e. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya
persalinan. Infeksi intrapartum basanya terjadi pada waktu partus lama, apalagi jika ketuban
sudah lama pecah dan beberapa kali di lakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejala ialah
kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin
dapat meningkat pula. Air ketuban biasanya menjadi keruh dan berbau. Pada infeksi
intrapartum kuman-kuman memasuki dinding uterus pada waktu persalinan, dan dengan
melewati amnion dapat menimblkan infeksi pula pada janin.
5. Gejala Klinis
Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi nifas antara lain
demam, sakit di daerah infeksi, warna kemerahan, fungsi organ terganggu.
Gambaran klinis infeksi nifas adalah sebagai berikut:
a. Infeksi lokal
Warna kulit berubah, timbul nanah, bengkak pada luka, lokia bercampur nanah, mobilitas
terbatas, suhu badan meningkat.
b. Infeksi umum
Sakit dan lemah, suhu badan meningkat, tekanan darah menurun, nadi meningkat,
pernafasan meningkat dan sesak, kesadaran gelisah sampai menurun bahkan koma,
gangguan involusi uteri, lokia berbau, bernanah dan kotor.
6. Klasifikasi
a. Infeksi terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium.
b. Infeksi yang penyebarannya melalui vena-vena (pembuluh darah).
c. Infeksi yang penyebarannya melalui limfe.
d. Infeksi yang penyebarannya melalui permukaan endometrium.
7. Manifestasi klinis
Infeksi postpartum dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu :
1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium.
a. Infeksi perinium vulva dan serviks
Tanda dan gejalanya :
Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, disuria, dengan atau tanpa distensi urine Jahitan luka
mudah lepas, merah dan bengkak
Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaan tidak berat, suhu sekitar 38 C, dan nadi kurang
dari 100x/menit
Bisa luka terinfeksi tertutup jahitan dan getah radang tidak bisa keluar, demam bisa meningkat
hingga 39-40 C, kadang-kadang di sertai menggigil.
b. Endometritis
Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban
yang disebut lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu.
Uterus agak membesar, nyeri pada perabaan dan lembek.
2. Penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, jalan limfe dan permukaan
endometrium.
Septikemia :
a. Sejak permulaan, pasien sudah sakit dan lemah.
b. Sampai 3 hari pasca persalinan suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai
menggigil.
c. Suhu sekitar 39-40 derajat selsius, keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140-160
kali per menit atau lebih).
d. Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari pasca persalinan.
Piemia :
a. Tidak lama pasca persalinan, pasien sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak
meningkat.
b. Gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman dengan
emboli memasuki peredaran darah umum.
c. Ciri khasnya adalah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil lalu
diikuti oleh turunnya suhu.
d. Lambat laun timbul gejala abses paru, pneumonia dan pleuritis.

Peritonitis :
a. Pada peritonotis umum terjadi peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan kecil, perut
kembung dan nyeri, dan ada defense musculaire.
b. Muka yang semula kemerah-merahan menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin;
terdapat fasies hippocratica.
c. Pada peritonitis yang terbatas didaerah pelvis, gejala tidak seberat peritonitis umum.
d. Peritonitis yang terbatas : pasien demam, perut bawah nyeri tetapi keadaan umum tidak
baik.
e. Bisa terdapat pembentukan abses.
Selulitis pelvik :
a. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan
nyeri pada pemeriksaan dalam, patut dicurigai adanya selulitis pelvika.
b. Gejala akan semakin lebih jelas pada perkembangannya.
c. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus.
d. Di tengah jaringan yang meradang itu bisa timbul abses dimana suhu yang mula-mula
tinggi menetap, menjadi naik turun disertai menggigil.
e. Pasien tampak sakit, nadi cepat, dan nyeri perut.
8. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
selama kehamilan
pencegahan infeksi selama kehamilan antara lain :
a) Perbaikan Gizi
b) Koitus pada kehamilan tua sebaiknya di larang karena dapat menyebabkan pecahnya
ketuban dan terjadinya infeksi
c) Personal Hygine
d) Selama persalinan
e) Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi
yang baik
f) Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama
g) Jagalah sterilisasi kamar bersalin dan pakai masker, alat-alat harus suci hama
h) Perlukaan jalan lahir karena tindakan pervaginam maupun perabdominan di bersihkan,
dijahit sebaik-baiknya supaya terjaga sterilisasi selama masa nifas.
i) Luka di rawat dengan baik, jangan sampai terkena infeksi, begitupula alat-alat dan
pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril.
j) Penderita dengan infeksi nifas sebaliknya di isolasi dalam ruangan khusus, tidak
tercampur dengan ibu sehat.
k) Tamu yang berkunjung harus di batasi

2. Pengobatan
a. Sebaiknya segera dilakukan pembiakan (kultur) dari sekret vagina, luka operasi dan
darah serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang sesuai dalam pengobatan.
b. Berikan dalam dosis yang cukup dan adekuat Karena hasil pemeriksaan memerlukan
waktu, maka berikan antibiotika spectrum luas menunggu hasil laboratorium.
c. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh penderita, infus / transfusi darah
Perhatikan diet : TKTP.
d. Lakukan transfusi darah.
e. Pengobatan kemoterapi dan antibiotika
f. Kemasan sulfanamid dosis inisial 2 gram diikuti 1 gram 4-6 jam kemudian peroral,
sediaan dapat berupa tablet biasa/force, bactrim.
g. Kemasan penisilin.
h. Tetrasiklin, eritromisin dan klorampenikol.
i. Jangan diberikan politerapi antibiotika yang sangat berlebihan.

E. Konsep Dasar Mastitis
1. Pengertian Mastitis
Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2 % wanita yang menyusui.
Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan terutama pada primipara. Infeksi
terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Mastitis
ditandai dengan nyeri pada payudara, kemerahan area payudara yang membengkak, demam,
menggigil dan penderita merasa lemah dan tidak nafsu makan. Terjadi beberapa minggu
setelah melahirkan. Penyebab adalah infeksi Stapilococus aureus. Mastitis ditangani dengan
antibiotika.
Infeksi payudara atau mastitis perlu diperhatian oleh ibu-ibu yang baru melahirkan. Infeksi
ini biasanya terjadi kira-kira 2 minggu setelah melahirkan yang disebabkan adanya bakteri
yang hidup di permukaan payudara. Kelelahan, stres, dan pakaian ketat dapat menyebabkan
penyumbatan saluran air susu dan dari payudara yang sedang nyeri, jika tidak segera diobati
bisa terjadi abses.
2. Etiologi
Mastitis disebabkan oleh :
a) Tidak menyusui secara adekuat
b) Puting lecet sehingga mudah masuk kuman, payudara bengkak
c) BH yang terlalu ketat
d) Ibu diet yang jelek, kurang istirahat anemia infeksi
e) Tersumbatnya saluran ASI
Tanda dan gejala
1. Bengkak, nyeri
2. Kemerahan pada payudara
3. Payudara keras dan merongkol
4. Badan panas
5. Infeksi terjadi 1-3 minggu pasca persalinan
3. Macam-macam mastitis
1. Mastitis gravidarum : infeksi yang terjadi pada masa hamil
2. Mastitis puerperalis : infeksi yang terjadi pada masa nifas.
4. Tingkatan mastitis
1. Tingkat awal peradangan
a. Merasa nyeri setempat
b.Cukup diberi support mamma dengan kain tiga segi
2. Abses
a. Nyeri yang berambah hebat di payudara
b. Warna kulit merah
c. Suhu tinggi (39-40oC)
d. Terdapat pembengkakan
e. Di bawah kulit teraba cairan.
5. Penatalaksanaan
Penanganan
a. Banyak istirahat dan makan
b. Banyak minum, setidaknya 8 gelas air sehari
c. Kompres panas payudara untuk menghilangkan nyeri
d. Infeksi payudara tidak mengkontaminasi air susu, oleh karena itu anda bisa terus
menyusui
e. Mulailah menyusui dengan payudara yang tidak terinfeksi dan biarkan payudara yang
terinfeksi menetes
f. Payudara yang terinfeksi harus dikosongkan, apabila menyusui terasa sangat tidak
nyaman, gunakan pompa air susu sebagai alternatif
g. Beritahukan kepada dokter bahwa anda ingin terus menyusui karena hal ini akan
mempengaruhi pemilihan antibiotika apabila anda memang memerlukan
h. Jangan meminum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu
i. Bila ada abses dirujuk
Pencegahan
Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah
mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan puting susu dengan sabun sebelum dan
sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu
yang memberi pertolongan kepada ibu yang menyusui bayinya harus bebas dari infeksi
stapilococus. Bila ada kerak atau luka pada puting sebaiknya bayi jangan menyusu pada
mamae yang bersangkutan sampai luka itu sembuh. Air susu ibu dikeluarkan dengan pijatan.
Pengobatan
Segera setelah mastitis ditemukan, pemberian susu kepada bayi dari mamae yang sakit
dihentikan dan diberi antibiotika. Dengan tindakan ini terjadinya abses sering kali dapat
dicegah karena biasanya infeksi disebabkan oleh Stapilococus aureus. Penicilin dalam dosis
cukup tinggi dapat diberikan. Sebelum pemberian penicilin dapat diadakan pembiakan air
susu, supaya penyebab mastitis benar-benar diketahui. Bila ada abses dan nanah dikeluarkan
sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses agar nanah dapat keluar terus. Untuk mencegah
kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus itu

6. Teknik menyusui bayi yang benar
1. Menyusui bayi setiap 2 jam siang dan malam hari dengan lama menyusui 10-15 menit di
setiap payudara
2. Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan duduklah selama
menyusui
3. Pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dan didengarkan suara yang
aktif
4. Susui bayi di tempat yang tenang dan nyaman serta minumlah setiap kali menyusui
5. Tidurlah bersebelahan dengan bayi.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Perdarahan post partum (HPP) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml atau lebih dari
traktus genetalia (Palupi Widyastuti, 2001).
2) Infeksi puerperalis atau infeksi nifas adalah semua peradangan yang di sebabkan oleh
masuknya kuman kuman kedalam alat genitalia pada waktu persalinan dan nifas
(Sarono Prawiroharjo, 2005 : 689)
3) Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2 % wanita yang menyusui.
Masa ini rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian pada ibu terjadi setelah melahirkan dan
hampir 50% dari kematian pada nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah persalinan.
B. Saran