Anda di halaman 1dari 38

Sistem Distribusi Obat

di Rumah Sakit
FARMASI RUMAH SAKIT
Kelompok 3
Anggota:
Bella Puspa Wening 260110100075
Larasati Tunggadewi 260110100128
Ummu Faurikhah 260110100139
DEFINISI
Tatanan jaringan sarana, personel, prosedur, dan jaminan mutu
yang serasi, terpadu, dan berorientasi penderita dalam kegiatan
penyampaian sediaan obat beserta informasinya kepada
penderita.
Sistem Distribusi
ada tidaknya satelit/depo
farmasi
Sentralisasi
Desentralisasi
distribusi obat bagi
pasien rawat inap
Sistem distribusi (SD) obat
resep individu
SD obat persediaan lengkap di
ruangan
SD obat kombinasi resep individu
dan persediaan di ruang
SD obat dosis unit
Sistem Distribusi
ada tidaknya
satelit/depo
farmasi
Sentralisasi Desentralisasi
Sentralisasi adalah sistem
pendistribusian perbekalan farmasi
yang dipusatkan pada satu tempat
yaitu instalasi farmasi
Definisi
Instalasi
Farmasi RS
Sentral
Pasien
Rawat Inap
Pasien
Rawat
Jalan
Semua resep dikaji langsung oleh apoteker, yang
juga dapat memberi informasi kepada perawat
berkaitan dengan obat pasien
Memberi kesempatan interaksi profesional antara
apoteker-dokter-perawat-pasien
Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat
atas persediaan
Mempermudah penagihan biaya pasien
Keuntungan
Keterbatasan
Terjadinya delay time dalam proses penyiapan
obat permintaan dan distribusi obat ke pasien
yang cukup tinggi
Jumlah kebutuhan personel di Instalasi Farmasi
Rumah Sakit meningkat
Farmasis kurang dapat melihat data riwayat
pasien (patient records) dengan cepat
Terjadinya kesalahan obat karena kurangnya
pemeriksaan pada waktu penyiapan komunikasi
Desentralisasi adalah sistem pendistribusian
perbekalan farmasi yang mempunyai cabang di
dekat unit perawatan atau pelayanan. Cabang ini
dikenal dengan istilah depo farmasi atau satelit
farmasi.
Definisi
Instalasi
Farmasi
RS
Depo
Farmasi
Depo
Farmasi
Depo
Farmasi
Obat dapat segera tersedia untuk diberikan
kepada pasien
Apoteker dapat berkomunikasi langsung dengan
dokter dan perawat
Sistem distribusi obat berorientasi pasien sangat
berpeluang diterapkan untuk penyerahan obat
kepada pasien melalui perawat
Spesialisasi terapi obat bagi apoteker dalam
bidang perawatan pasien lebih efektif sebagai
hasil pengalaman klinik terfokus
Keuntungan
Keterbatasan
Semua apoteker klinik harus cakap sebagai penyedia
untuk bekerja secara efektif dengan asisten apoteker
dan teknisi lain
Apoteker biasanya bertanggungjawab untuk
pelayanan, distribusi dan pelayanan klinik
Pengendalian inventarisasi obat dalam IFRS
keseluruhan lebih sulit karena likasi IFRS cabang yang
banyak untuk obat yang sama, terutama untuk obat
yang jarang ditulis
Komunikasi langsung dalam IFRS keseluruhan lebih sulit
karena anggota staf berpraktek dalam lokasi fisik yang
banyak
Ruang lingkup depo farmasi desentralisasi
Pengelolaan
perbekalan farmasi
Pengelolaan
perbekalan farmasi
bertujuan untuk
menjamin
tersedianya
perbekalan farmasi
dalam jumlah dan
jenis yang tepat dan
dalam keadaan
siap pakai pada
waktu dibutuhkan
oleh pasien, dengan
biaya yang seefisien
mungkin
Pelayanan farmasi
klinik
bertujuan untuk
menjamin
kemanjuran,
keamanan dan
efisiensi
penggunaan obat
serta dalam rangka
meningkatkan
penggunaan obat
yang rasional
Administrasi
stock opname
perbekalan farmasi,
pencatatan
perbekalan farmasi
yang rusak/tidak
sesuai dengan
aturan kefarmasian,
pelaporan
pelayanan
perbekalan farmasi
dasar, pelaporan
pelayanan distribusi
perbekalan farmasi
dan pelaporan
pelayanan farmasi
klinik
Faktor-faktor yang menjadi dasar untuk mengadakan
pelayanan
Kebutuhan
Dokter
Kebutuhan
Apoteker
Kebutuhan
Perawat
Kebutuhan
Pasien
Kunjungan ke
ruang
perawatan
penderita
Wawancara
penderita
Pemantauan
Terapi Obat
Penderita
Pertanyaan
dokter
Pertanyaan
perawat
Pelayanan
terapi obat
yang diatur
apoteker
Informasi obat Farmakokinetik
Evaluasi
penggunaan
obat
Karakteristik praktek farmasi klinik apoteker dalam suatu IFRS
desentralisasi
SISTEM DISTRIBUSI OBAT UNTUK
PENDERITA RAWAT TINGGAL
SYARAT SISTEM DISTRIBUSI OBAT
UNTUK PENDERITA RAWAT TINGGAL
Ketersediaan obat yang tetap terpelihara
Mutu dan kondisi obat/sediaan obat tetap stabil dalam seluruh proses distribusi
Kesalahan obat minimal dan memberi keamanan maksimum pada penderita
Obat yang rusak & kadaluwarsa sangat minimal
Efisiensi dalam penggunaan sumber, terutama personel
Pencurian dan/ hilang dapat minimal
IFRS mempunyai akses dalam semua tahap proses distribusi untuk
pengendalian, pemantauan, dan penerapan pelayanan farmasi klinik.
Terjadi interaksi profesional dokter-apoteker-penderita-perawat
Pemborosan & penyalahgunaan minimal
Harga terkendali
Peningkatan penggunaan obat rasional
Jenis sistem distribusi obat untuk
penderita rawat tinggal
Sistem distribusi (SD) obat resep individu sentralisasi
SD obat persediaan lengkap di ruangan
SD obat kombinasi resep individu dan persediaan di ruang
SD obat dosis unit sentralisasi
Sistem distribusi (SD) obat resep
individu sentralisasi

Sistem distribusi (SD) obat resep
individu sentralisasi
k
e
u
n
t
u
n
g
a
n

- Semua resep dikaji
ulang oleh apoteker
- Memberi
kesempatan interaksi
pro: apoteker-dokter-
perawat-pasien
- Pengendalian yang
lebih dekat
- Mempermudah
penagihan biaya
obat pasien
K
e
t
e
r
b
a
t
a
s
a
n

- Keterlambatan
sediaan obat sampai
pada pasien
- Jumlah kebutuhan
personel IFRS
meningkat
- Memerlukan jumlah
perawat dan waktu
yang lebih banyak
untuk penyiapan
obat di ruang pada
waktu konsumsi obat
Sistem distribusi (SD) obat persediaan
lengkap di ruangan

Sistem distribusi (SD) obat
persediaan lengkap di ruangan
k
e
u
n
t
u
n
g
a
n

- Obat yang diperlukan
segera tersedia bagi
pasien
- Peniadaan
pengembalian obat
yang tidak terpakai ke
IFRS
- Pengurangan
penyalinan order obat
- Pengurangan jumlah
personel IFRS yang
diperlukan
k
e
t
e
r
b
a
t
a
s
a
n

- Kesalahan obat
meningkat
- Persediaan obat di unit
perawat meningkat
pencurian obat
meningkat
- Bahaya kerusakan obat
meningkat
- Diperlukan waktu
tambahan untuk
perawat menangani
obat
- Meningkatnya kerugian
karena kerusakan obat
SD obat kombinasi resep individu dan
persediaan di ruang

SD obat kombinasi resep individu dan
persediaan di ruang

k
e
u
n
t
u
n
g
a
n

- Semua resep individu
dikaji langsung oleh
apoteker
- Memberi
kesempatan interaksi
pro: apteker-dokter-
perawat-pasien
- Obat yang
diperlukan dapat
segera tersedia bagi
penderita (obat
persediaan di ruang)
- Beban IFRS berkurang
k
e
t
e
r
b
a
t
a
s
a
n

- Kemungkinan
keterlambatan
sediaan obat sampai
ke pasien (obat resep
individu)
- Kesalahan obat
dapat terjadi (obat
persediaan di ruang)
SD obat dosis unit sentralisasi

Perencanaan Sistem Distribusi Obat
Perencanaan sistem distribusi obat dilakukan oleh:

IFRS
(Instalasi Farmasi
Rumah Sakit)
PFT
(Panitia Farmasi
& Terapi)
Perawat Unit lain
Perencanaan Sistem Distribusi Obat
Desain Sistem
Distribusi
Perencanaan
Spesifikasi
Pelaksanaan
Program
Percobaan Sistem
yang Dipilih
Perencanaan Sistem Distribusi Obat
Desain Sistem Distribusi
Tahapan:

1. Tetapkan lokasi
dan jumlah ruang
perawatan dan
buat petanya.
2. Pilih metode
distribusi obat ke
pengguna.
3. Kembangkan
rute penghantaran
yang mungkin,
dan ekonomis dan
susun jadwalnya.
Perencanaan Sistem Distribusi Obat
Perencanaan Spesifikasi
Proses perencanaan sistem distribusi obat juga mencakup
mengartikan kebutuhan konsumen (penderita dan staf
pelayanan kesehatan) menjadi:
- Spesifikasi pelayanan obat
- Spesifikasi penghantaran pelayanan obat
- Spesifikasi pengendalian mutu pelayanan obat.


Perencanaan Spesifikasi

Spesifikasi pelayanan obat
Spesifikasi pelayanan obat harus mengandung:

Uraian yang jelas dari karakteristik pelayanan
Standar untuk penerimaan dari tiap karakteristik
pelayanan
Spesifikasi penghantaran pelayanan obat
Spesifikasi penghantaran pelayanan obat harus mengandung:


Perencanaan Spesifikasi

1. Prosedur penghantaran pelayanan
2. Metode yang digunakan
3. Uraian dari karakteristik penghantaran
pelayanan
4. Standar untuk penerimaan dari karakteristik
penghantaran pelayanan
5. Persyaratan sumber untuk memenuhi
spesifikasi pelayanan
6. Persyaratan personel, jumlah, dan
keterampilan
Spesifikasi pengendalian mutu pelayanan obat
Mencakup:


Perencanaan Spesifikasi

1. Identifikasi kegiatan kunci dari tiap
proses yang mempunyai pengaruh
signifikan terhadap mutu pelayanan
2. Analisis dari kegiatan (pengukuran
dan pengendalian)
3. Menetapkan metode untuk mengevaluasi
karakteristik yang dipilih
4. Menetapkan sarana untuk mengendalikan
karakteristik dalam batas yang ditetapkan
Pelaksanaan Program Percobaan Sistem
Distribusi Obat yang Akan Dipilih
Tahap awal
pelaksanaan
percobaan
Di satu atau lebih daerah
perawatan penderita
Waktu tertentu
Secara terus menerus
dipantau, dievaluasi,
dilakukan perbaikan.
Tahap akhir
pelaksanaan
percobaan
Daerah perawatan
ditambah atau seluruh
daerah rumah sakit
Waktu diperpanjang
Dilakukan pematangan
semua prosedur spesifikasi,
perbaikan, dan evaluasi.
Daftar Pustaka
Siregar, C. 2004. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta:
EGC.

Pertanyaan: (Adilla Raihanisa)
kalo distribusi dosis unit yg terbaik saat ini kenapa tidak
semua rumah sakit menerapkannya?

Jawaban :
sampai saat ini sistem distribusi terbaik adalah distribusi dosis
unit, namun untuk pelaksanaannya perlu perombakan sistem
distribusi dan penambahan personel farmasi rumah sakit
yang lebih banyak, hal ini juga memerlukan biaya yang tidak
sedikit. Oleh karena itu di Indonesia hanya beberapa rumah
sakit besar yang sudah mulai menerapkan sistem distribusi
unit dosis.
THANK YOU
Sistem Distribusi Obat
di Rumah Sakit
FARMASI RUMAH SAKIT