Anda di halaman 1dari 8

Manajemen Konstruksi

Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)


Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013 K - 243
STUDI HARGA PENAWARAN DAN FAKTOR PENENTU PEMENANG TENDER
PROYEK KONSTRUKSI DI DIY UNTUK KUALIFIKASI NON KECIL
(234K)
Zaenal Arifin
1
dan Dara Juwanti
2
1
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia,
Email: zaenal_pag@yahoo.com
2
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia
Email : joneti91@gmail.com
ABSTRAK
Salah satu upaya dalam mendapatkan proyek konstruksi adalah melalui proses pelelangan (tender).
Sebuah strategi penawaran yang bersaing sangat dibutuhkan untuk menjadi pemenang. Sebelum
merumuskan strategi tersebut maka kontraktor memerlukan berbagai data sebagai pertimbangan
pada saat memasukkan nilai penawaran pada suatu paket pelelangan. Selisih angka penawaran
terhadap Harga Perkiraan Sendiri (HPS) merupakan persentase yang akan diamati untuk menjadi
suatu kecenderungan kemenangan tender. Selisih prosentase yang diperoleh akan diolah dan
dijadikan studi kasus untuk mencari faktor-faktor penentu kemenangan pada proses tender. Hasil
yang didapat adalah rata-rata penurunan penawaran yang menang berkisar 20% terhadap HPS.
Sedangkan faktor yang sangat menentukan dalam evaluasi pemenang lelang adalah evaluasi
dministrasi kemudian evaluasi teknis dan berikutnya adalah evaluasi harga.
Kata kunci: Strategi, Faktor, Pengaruh, Penawaran, Pemenang, Lelang
1. PENDAHULUAN
Dalam memilih kontraktor yang berkualifikasi diperlukan proses pemilihan yang disebut pelelangan (tender).
Tender adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyeleksi, mendapatkan, menetapkan dan menunjuk perusahaan
yang paling layak untuk mengerjakan suatu paket pekerjaan (Alfian Malik,2010). Proses tender memiliki beberapa
tahapan, mulai dari tahap pengumuman, pendaftaran, pemberian penjelasan (aanwijzing), penyampaian, pembukaan,
hingga evaluasi dokumen penawaran. Tahapan evaluasi tender umumnya serupa baik itu proyek milik pemerintah
maupun swasta. Namun karena anggaran yang digunakan untuk pengadaan proyek konstruksi di pemerintah berasal
dari APBN, maka penggunaan dana tersebut mengikuti aturan dan prosedur yang mengikat sesuai dengan aturan
yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sehingga pada pelaksanaan tender, aturan dan alternatif sistem pengadaan
bersifat lebih terbatas. Banyak negara, termasuk di Indonesia pemilik proyek umumnya menggunakan sistem harga
terendah (low bid) dalam menentukan pemenang dalam tender proyek konstruksi. Hal ini tentu saja membuat
kontraktor perlu memiliki strategi penawaran kompetitif (competitive bidding strategy) untuk memenangkan tender
proyek. Kontraktor harus mampu memberikan harga penawaran yang terendah terhadap nilai HPS namun tetap
mendapatkan keuntungan yang maksimum.
Electronic Procurement (E-Procurement) merupakan proses pengadaan barang dan jasa pemerintah yang
dilakukan secara elektronik terutama berbasis web atau internet. Instrumen ini memanfaatkan fasilitas teknologi
komunikasi dan informasi meliputi pelelangan umum secara elektronik yang diselenggarakan LPSE. E-Proc adalah
salah satu cara prmerintah untuk menekan praktik kotor kontraktor yang biasa terjadi di pemerintahan dengan
menurunkan harga penawaran serendah-rendahnya demi memenangkan tender. Program ini juga memberikan
kemudahan bagi pemilik jasa konstruksi dari berbagai daerah untuk dapat berkompetisi dalam sebuah tender
sehingga akan meningkatkan persaingan nilai penawaran antar kontraktor.
Angka perbandingan antara nilai penawaran yang diberikan kontraktor pada saat tender dan nilai HPS yang
ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Propinsi DI Yogyakarta tahun anggaran 2011 dan 2012 pada
pelelangan proyek pemerintah merupakan persentase yang akan diamati dalam jurnal ini untuk menjadi suatu
kecenderungan kemenangan tender. Angka kecenderungan yang diperoleh akan diolah dan dijadikan studi kasus
untuk mencari faktor-faktor penentu kemenangan pada proses tender.
Berdasarkan latar belakang tersebut, timbul beberapa pertanyaan yang dijadikan rumusan masalah dalam
penulisan ini, yaitu berapa kecenderungan persentase perbandingan antara nilai penawaran dan nilai HPS proyek
konstruksi tahun anggaran 2011 dan 2012 sehingga dapat memenangkan tender? Serta faktor apa saja yang
mempengaruhi kemenangan kontraktor pada tender proyek konstruksi dilihat dari sisi kontraktor?
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
K - 244 Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013
Adapun tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui persentase nilai penawaran yang cenderung menang
dalam tender proyek konstruksi serta mengetahui faktor apa saja yang menetukan kemenangan tender. Sedangkan
manfaat dari penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai kecenderungan pemenang tender sehingga dapat
menjadi patokan untuk penetapan angka penawaran pada pelelangan yang akan diikuti.
2. KAJIAN PUSTAKA
Beberapa penelitian mengenai fakto-faktor yang menentukan kemenangan kontraktor saat tender telah
dibahas sebelumnya. Faktor-faktor ini ditinjau dari sisi penyedia jasa/kontraktor di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Mangintung (2006), faktor-faktor yang penting dalam sistem penilaian kompetensi kontraktor berdasarkan
persepsi kontraktor di Kota Palu adalah kepatuhan terhadap regulasi, kemampuan teknis dan menejerial, kinerja
proyek. Untuk kelompok faktor yang penting pada tingkat menengah adalah sebagian besar pada faktor pengalaman
proyek, kemampuan tenaga teknis dan menejerial, dan kepatuhan terhadap regulasi. Sedangkan faktor pada tingkat
terendah dinilai pada kemampuan keuangan.
Andy Noval (2007), melakukan Penelitian dengan mendistribusikan kuisioner pada 38 pengembang
perumahan di Surabaya berdasarkan data REI Jatim 2006 untuk memperoleh bobot kriteria penentuan kontraktor
pemenang. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kemenangan pada proses
tender diantaranya adalah faktor organisasi atau background perusahaan kontraktor (27,8%), faktor biaya (27,5%),
faktor waktu penyelesaian proyek (24,2%), dan faktor jaminan (20,5%).
Romi Piliando (2008), melakukan Identifikasi Faktor-faktor Dominan yang mempengaruhi Penentuan
Pemenang Lelang Jasa Konstruksi Proyek Pemerintah di Kota Depok. Metode penelitian yang dilakukan adalah
dengan pengumpulan sampel. Sampel tersebut diperoleh dengan mendistribusikan angket kuisioner kepada para
kontaktor yang merupakan anggota dari BPC Gapensi Kota Depok dan pernah mengikuti proses lelang di Dinas
Pekerjaan Umum Kota Depok. Penyebaran kuisioner dilakukan selama 2 bulan. Data hasil kuisioner dianalisa
dengan menggunakan metode SPSS 13. Dari hasi analisa tersebut di dapat faktor-faktor dominan yang
mempengaruhi penentuan pemenang lelang jasa konstruksi yaitu pengalaman kontraktor, hubungan baik dengan
pemilik proyek, dan referensi bank.
Ade Arfandi (2010), mengatakan bahwa bahwa terdapat faktor-faktor dominan yang mempengaruhi
penentuan pemenang lelang yang mempengaruhi kelolosan/kegagalan suatu perusahaan jasa konstruksi dalam
mengikuti proses lelang proyek Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar, Riau yaitu bidang administrasi terdiri dari
jaminan penawaran dan dokumen kualifikasi, bidang teknis terdiri dari pengalaman personil dan metode
pelaksanaan, dan bidang penyedia jasa adalah kualifikasi serta kemanpuan keuangan.
3. METODE PENELITIAN
Kerangka Dasar Pemikiran
Sebelum merumuskan strategi yang akan digunakan, maka kontraktor lebih dahulu harus memahami jenis
tender yang akan diikuti, persyaratan sebuah tender, kemampuan yang dimiliki juga kemampuan yang dimiliki oleh
pesaingnya yang dalam hal ini adalah peserta tender lainnya. Berdasarkan Hal tersebut, muncul suatu kerangka
pemikiran tentang masalah yang terjadi pada proses tender. Perlu adanya pengamatan terhadap kecenderungan nilai
penawaran yang diberikan oleh kontraktor yang menang tender pada tender-tender sebelumnya.
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013 K - 245
Gambar 3.1 Kerangka Dasar Pemikiran
Metode Pengolahan Data
A. Persentase Nilai Penawaran
Data yang diperoleh dari LPSE akan diolah menggunakan bantuan program microsoft excel. Setelah memasukkan
semua data, akan diambil nilai rerata penurunan nilai penawaran proyek menggunakan rumus:

n
xn x x x x
x
.... 4 3 2 1
(1)
dimana,
x = nilai rerata (mean)
x1= persentase penurunan nilai penawaran terhadap HPS paket 1
) 100
1
1
( % 100 x
HPS
penawaran

(2)
xn= persentase penurunan nilai penawaran paket ke-n
n= jumlah paket pekerjaan
Faktor Penentu Menang Tender
Data untuk mengetahui faktor-faktor yang menetukan kemenangan sebuah kontraktor dalam tender akan diolah
melalui olahan data kuisioner dengan bantuan program microsoft excel. Jawaban kuisioner yang akan dihasilkan
adalah berupa rangking yang nantinya akan diberikan bobot masing-masing sesuat rangking masing-masing.
Kemudian akan dihitung nilai rata-rata (mean).
1. nilai rerata:

n
Xxn xn xn xn
x
)... 4 ( ) 3 3 ( ) 2 2 ( ) 1 1 (
(3)
Masalah
- Penentuan harga
penawaran saat
mengikuti tender.
- Faktor yang
mempengaruhi
pemenang tender.
Landasan teori
- Perpres No. 70 th
2012
- Permen No.
07/PRT/M/2011
- (LPJK) No.02
Tahun 2011.
- E-procurement
Rumusan Masalah
- Berapa
kecenderungan
persentase harga
penawaran yang
menang tender?
- Faktor apa saja yang
mempengaruhi
kemenangan
kontraktor dalam
Metode
- Pengolahan data
pemenang lelang
- Studi literatur
- kuisioner
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
K - 246 Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013
dimana,
x = nilai rerata (mean), n1= jumlah responden dengan bobot 1 n2= jumlah responden dengan bobot 2,
n3= jumlah responden dengan bobot 3 n4= jumlah responden dengan bobot x
2. standar deviasi:
1
) (
2

n
x xi
s
n
n i
(4)
dimana,
s = standar deviasi (standart deviation), xi= besarnya nilai dari skala penilaian dari kuisioner x
= nilai rata-rata (mean) n = jumlah data kuisioner yang dianalisa
3. koefisien varian
100 x
x
s
v
(5)
dimana,
v = koefisien varian, s = standar deviasi (standart deviation), x= nilai rata-rata (mean)
4. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Persentase Nilai Penawaran
Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka akan dicoba mencari nilai rata-rata penurunan harga yang
diberikan kontraktor untuk berhasil menang dalam sebuah tender paket pekerjaan.
Tabel4.1 Paket tender pekerjaan konstruksi di bidang bangunan gedung tahun anggaran 2011
NC.
AGU
(m||yar)
nS
(m||yar)
LML
NANG
(m||yar)

LNUkUN
AN NILAI
LNAWAk
AN 1nD
nS
1 8p2,S 8p2,483 8p1,821 26,66
2 8p7 8p6,9S9 8p6,766 2,76
3 8p6,S78 8p6,479 8p4,674 27,8S
4 8pS,2 8pS,1S6 8pS,003 2,97
S 8p4,S64 8p4,SSS 8p3,673 19,36
6 8p9,69 8p9,69 8p7,638 21,17
7 8p3,816 8p3,816 8p3,138 17,7S
Mean 16,93
Sumber: http://eproc.jogjakarta.go.id
Nilai rerata (mean) dari paket tender pekerjaan konstruksi di bidang bangunan gedung tahun anggaran 2011.
) 100
1
1
( % 100 1 x
HPS
penawaran
x
% 66 , 26 ) 100
2483996000
1821724000
( % 100 1 x x

n
xn x x x x
x
.... 4 3 2 1
% 93 , 16
7
)% 75 , 17 17 , 21 36 , 19 97 , 2 85 , 27 76 , 2 66 , 26 (


x
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013 K - 247
Gambar 4.1 Grafik penurunan nilai penawaran tender pekerjaan konstruksi bidang bangunan gedung (anggaran
2011)
Rerata (mean) : 16,93%
Kecenderungan : antara 15% s.d. 25%
Tabel4.2 Rekapitulasi nilai rerata (mean) penurunan harga yang diberikan kontraktor pemenang tender
GEDUNG JALAN JEMBATAN
BANGU
NAN AIR
1A.
2011
16,93% 6,22%
hanya 1 paket peker
jaan
30,59%
1A.
2012
17,83% 3,92% 10,07% 13,39%
Berdasarkan data sekunder yang telah diperoleh dari LPSE Daerah Istimewa Yogyakarta, maka terdapat
kecenderungan persentase penurunan nilai penawaran terhadap HPS yang diberikan kontraktor saat menghadapi
tender. Penurunan nilai penawaran untuk proyek bangunan gedung tahun 2011 adalah antara 15% s.d. 25% dan
penurunan nilai penawaran untuk proyek bangunan gedung tahun 2012 adalah antara 15% s.d. 20%. Penurunan nilai
penawaran untuk proyek bidang jalan tahun 2011 adalah antara 3% s.d. 9% dan penurunan nilai penawaran untuk
proyek bidang jalan tahun 2012 adalah antara 3% s.d. 6%. Penurunan nilai penawaran untuk proyek jembatan tahun
2012 adalah antara 5% s.d. 15%. Penurunan nilai penawaran untuk proyek bangunan air tahun 2011 adalah antara
30% s.d. 40% dan penurunan nilai penawaran untuk proyek bangunan air tahun 2012 adalah antara 5% s.d. 15%
Dapat terlihat bahwa pekerjaan bangunan air memiliki persentase penurunan yang paling besar diantara
penurunan lainnya. Adapun faktor yang mempengaruhi penurunan nilai penawaran yang terlalu besar tersebut dapat
diketahui dan disingkronisasikan dengan kuisioner yang disebarkan kepada responden dari kontraktor di Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Faktor Penentu Menang Tender
Data untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemenang lelang, serta data primer untuk
mempertegas penilaian terhadap persentase penurunan nilai penawaran yang cenderung menang dalam tender
proyek konstruksi di Daerah Istimewa Yogyakarta, diperoleh dengan menggunakan penyebaran kuisioner ke
kontraktor. Kuisioner yang disebar sejumlah 35 buah dan yang bersedia mengisi ada 30 kuisioner. Waktu yang
dibutuhkan untuk menyebarkan dan mengambil kembali kuisioner adalah 1,5 bulan terhitung dari awal bulan
desember 2012.
Dalam pengolahan jawaban pertanyaan, terdapat 6 pertanyaan yang diajukan pada responden. Lima
pertanyaan tersebut secara umum menanyakan tentang faktor-faktor apa saja yang menentukan kemenangan tender
proyek konstruksi berdasarkan rankingnya. Ranking tertinggi menunjukkan tingkat kepentingan paling tinggi dari
ranking di bawahnya, begitu seterusnya hingga ranking terendah. Untuk mengetauhi pada ranking berapa tingkat
kepentingan suatu faktor, maka digunakan pengolahan data sederhana menggunakan program microsoft excel.
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
K - 248 Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013
Lvalua
sl
Admln
lsLrasl
ranklng boboL
respo
nden
1oLal
1 3 1S 4S
2 2 6 12
3 1 9 9
!umlah 30 66
8L8A1A (MLAn) 2,2000
L8CLn1 73
8AnklnC k. 1
skor LerLlnggl :90
skor Lerendah :30
Tabel 4.3 Tabel Pengolahan Data
No
1ahapan
Lva|uas|
rangk|ng
Iu
m|
ah
LkCL
LnAN
kANkI
NG
1 2 3
8obot
=3 =2 =1
1
Lvaluasl
AdmlnlsLrasl
1S 6 9 66 1
2
Lvaluasl
1eknls
S 18 7 S8 2
3
Lvaluasl
Parga
10 6 14 S6 3
Tabel 4.4 Tabel Penyebaran Data
ka
nk|
ng
1ahapan
Lva|uas|
lum/oh Meon
5tondort
deviotion
coeff
of
vorioti
on
erc
ent
konv
ers|
1
Lv.
Admlnls
Lrasl
66 2,200 0,886 14,778 73 37
2
Lv.
1eknls
S8 1,933 0,639 10,661 64 32
3 Lv. Parga S6 1,866 0,899 2,998 62 31
1C1AL
200

100

Tabel 4.5 Rekapitulasi pengolahan data


1ahapan mean
5tondort
deviotion
coeff of
voriotion
{X)
ercent konvers| 1ota|
1ahapan
Lva|uas|
Lvaluasl AdmlnlsLrasl
2,2000 0,8867 40,3038 73 37
100 Lvaluasl 1eknls
1,9333 0,6397 33,0871 64 32
Lvaluasl Parga
1,8667 0,8996 48,1903 62 31
1ahap Lv.
Adm|n|s
kepemlllkan
persyaraLan
2,6667 0,479S 17,9799 89 16 37
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013 K - 249
tras| admlnlsLrasl
dukungan keuangan
2,0000 0,6948 34,7404 67 12
kelkuLserLaan dengan
Asoslasl erusahaan
1,3333 0,6609 49,S671 44 8
1ahap Lv.
1ekn|s
kepemlllkan SLaff
Ahll
4,6333 2,0412 44,0SS6 77 7
32
MeLode elaksanaan
4,1667 1,6348 39,2340 69 6
kepemlllkan 1enaga
1eknls
3,8000 1,09S4 28,827S 63 6
engalaman
erusahaan Lerhadap
proyek se[enls
3,4000 1,1S97 34,1079 S7 S
kepemlllkan
eralaLan
3,3667 2,04S7 60,7646 S6 S
eker[aan yang
sedang dllaksanakan
1,6333 1,1290 69,1244 27 3
1ahap Lv.
narga
konLrakLor dengan
penawaran harga
Lerendah
2,S667 0,6261 24,3920 86 13
31 konLrakLor dengan
harga yang pallng
mendekaLl PS
1,7667 0,S683 32,1691 S9 9
endapaL lalnnya 1,6667 0,9223 SS,3360 S6 9
enurunan
n||a|
penawaran
terendah
8angunan Alr
3,4333 0,93S3 27,2406 86 34
100
!alan
2,4667 1,0417 42,229S 62 2S
!embaLan
2,1000 0,6618 31,S126 S3 21
8angunan Cedung 2,0000 1,2034 60,1722 S0 20
Dalam 37% evaluasi administrasi, terdapat 3 komponen yang menjadi faktor penting yaitu, kepemilikan persyaratan
administrasi (16%), dukungan terhadap keuangan (12%), dan keikutsertaan dengan asosiasi perusahaan (8%).
Dalam 32% evaluasi teknis, terdapat 6 komponen yang menjadi faktor penting yaitu, kepemilikan staff ahli (7%),
metode pelaksanaan (6%), kepemilikan tenaga teknis (6%), pengalaman perusahaan terhadap proyek sejenis (5%),
kepemilikan peralatan (5%), dan pekerjaan yang sedang dilaksanakan (3%). Dalam 31% evaluasi harga yang paling
menentukan kemenangan adalah kontraktor dengan penawaran terendah yaitu sebesar 13%, kontraktor dengan
harga paling mendekati HPS sebesar 9% dan 9% lainnya mengemukakan pendapat lainnya. Diantaranya adalah
harga yang paling wajar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun kecenderungan penurunan nilai penawaran terhadap HPS yang diestimasikan, paling rendah dilakukan pada
penawaran proyek bangunan air. Pernyataan ini berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan, yaitu data yang
diperoleh dari LPSE bahwa proyek bangunan air biasanya dapat menurunkan harga penawaran jauh di bawah HPS
yang disediakan. Hal ini dikarenakan pada proyek bangunan air, terdapat banyak item pekerjaan yang lebih ringan,
harga meterial yang lebih murah, dan pekerja yang diperlukan tidak harus terampil dalam bidang tertertu seperti
pada proyek bangunan gedung. Inilah yang membuat kontraktor berani menurunkan harga sangat rendah dalam
proses tender.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan studi yang telah dilakukan pada data sekunder pada LPSE Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat
disimpulkan bahwa kecenderungan penurunan nilai penawaran terendah dilakukan pada proyek bangunan air, yaitu
antara 30%-40% di tahun 2011 dan antara 5-15% pada tahun 2012.
Berdasarkan studi yang telah dilakukan pada data primer, dapat disimpulkan bahwa dari tiga tahapan evaluasi yang
ada dalam aturan pelelangan, maka tahapan yang paling penting menurut penyedia jasa/kontraktor adalah pada
Manajemen Konstruksi
Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7)
K - 250 Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, 24-26 Oktober 2013
tahapan evaluasi administrasi yaitu sebesar 37%. Selanjutnya dilanjutkan dengan tahapan evaluasi teknis sebesar
32%, dan evaluasi harga sebesar 31%. Persentase penurunan nilai penawaran terhadap HPS yang diestimasikan,
terendah dilakukan pada penawaran proyek bangunan air. Data ini berbanding lurus dengan data sekunder yang
diperoleh di lapangan.
Adanya aturan yang mengikat untuk proyek di lingkungan pemerintah akan mempengaruhi proses penilaian
terhadap kontraktor. Untuk itu, sebelum menentukan strategi dalam pengajuan harga penawaran dalam tender
proyek, ada baiknya kontraktor: mengetahui dan mempelajari peraturan yang ada tentang tender proyek,
mempelajari lebih dalam mengenai kecenderungan nilai penawaran yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya,
memperhatikan faktor-faktor yang berperan penting pada saat tender.
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi. http://www.lpjk.net/
Malik, Alfian. (2010). Pengantar Bisnis Jasa Pelaksana Konstruksi. Andi Offset, Yogyakarta.
Ridwan. (2009). Pengantar Statistika Sosial. Alfabeta. Bandung.
________. http://www.sertifikasi.biz/kualifikasikontraktor.htm.
________. http://www.konsultasi.lkpp.go.id/index.php?mod=browseP&pid=108.
________. http://www.duniakontraktor.com/personil-inti/.html.
________. http://eproc.jogjakarta.go.id/eproc/app.
.