Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN TINJAUAN PUSTAKA

SKABIES




DISUSUN OLEH
NAMA : Lona Permatasari, S. Ked.
NPM : 2009730139


PEMBIMBING : dr. Lidia Christina



STASE KEDOKTERAN KOMUNITAS I
KEPANITERAAN KLINIK PKM KELAPA GADING



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2013


KATA PENGANTAR


Assalamualaikum wr. wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT Penyusun ucapkan karena dengan rahmat dan
hidayahNya penyusun dapat menyelesaikan tugas tinjauan pustaka mengenai SKABIES tepat
pada waktunya.
Tinjauan pustaka ini disusun untuk meningkatkan pengetahuan dan memenuhi tugas pada
kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Komunitas I (IKAKOM I) di Puskesmas Kecamatan
Kelapa Gading Jakarta Utara. Terima kasih penyusun ucapkan kepada dr. Lidya Kristiani sebagai
pembimbing
Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih jauh dari sempurna dan
memiliki banyak kekurangan. Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak yang membaca ini, agar penyusun dapat mengoreksi diri dan dapat
membuat tinjauan pustaka yang lebih sempurna di lain kesempatan.
Semoga tinjauan pustaka ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, sekarang maupun masa
yang akan datang.
Wassalamualaikum wr.wb



Jakarta, 11 Maret 2013



Penyusun



SKABIES
I. DEFINISI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei var, hominis dan produknya.

II. EPIDEMIOLOGI
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor
yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah,
higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis,
dan perkembangan dermografik serta ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam
PHS (Penyakit akibat Hubungan Seksual).
Cara penularan (transmisi)
1. Kontak langsung, misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual.
2. Kontak tak langsung, misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain.
Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau
kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var, animalis yang
kadang-kadang dapat menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak
memelihara binatang peliharaan misalnya anjing.

III. ETIOLOGI
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima,
super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var.hominis. selain itu
terdapat juga pada kambing dan babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung
dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak
bermata. Ukuran yang betina antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang
jantan lebih kecil yaitu 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa memiliki 4
pasang kaki, 2 pasang kaki didepan sebagai alat untuk melekat dan kedua pasang kaki
kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga
berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di
atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam
terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali
terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil
meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk
betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya
dalam wktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat
tinggal dalam terowongan, tetapi juga dapat keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi
nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh
siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12
hari.

IV. PATOGENESIS
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap
sekreta dan ekskreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi.
Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,
urtika, dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasis, dan krusta.

V. GEJALA KLINIS
Ada 4 tanda kardinal :
1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas
tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuat keluarga
biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah
perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan
akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh
anggota keluarganya terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak
memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih
atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada
ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika terjadi infeksi sekunder
ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat
predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu
sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak
bagian depan, areola mamae, umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut
bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
4. Menemukan tungau, merupaka hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu
atau lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.

VI. DIAGNOSIS
Diagnosis skabies perlu dipertimbangkan apabila ditemukan riwayat gatal, terutma
pada malam hari, mungkin juga ditemukan pada anggota keluarga yang lain, dan
terdapatnya lesi polimorf terutama pada tempat predileksi. Diagnosis pasti ditegakkan
dengan ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskop, yang dapat dilakukan
dengan berbagai cara, yaitu :
1. Kerokan kulit
Diteteskan minyak mineral di atas papul atau terowongan baru yang utuh, kemudian
dikerok dengan skalpel steril untuk mengangkat atap papul atau terowongan yang
kemudian dipindahkan ke gelas obyek, ditutupi dengan kaca penutup dan diperiksa
dengan mikroskop. Hasil positif apabila tampak tungau telur, larva, limfa atau
skibala. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan hati-hati pada bayi dan anak atau
penderita non-koperatif.
2. Mengambil tungau dengan jarum
Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap (kecuali pada oarng
kulit hitam pada titik yang putih) dan digerakkan tangensial.
3. Epidermal shave biopsi
Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai diantara ibu jari dan jari telunjuk,
dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan skalpel yang dilakukan sejajar dengan
permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangan superfisial sehingga tidak terjadi
perdarahan dan tidak perlu anestesi. Spesimen diletakkan pada gelas objek lalu
ditetesi minyak mineral dan diperiksa dengan mikroskop.
4. Kuretasi terowongan (kuret dermal)
Kuretasi superfisial mengikuti sumbu panjang terowongan atau puncak papul
kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop, setelah diletakkan digelas obyek
dan ditetesi minyak mineral.
5. Tes tinta Burrow
Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol,
maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis yang kerakteristik, berbelok-belok
karena tinta yang masuk.
6. Tetrasiklin topikal
Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai. Setelah dikeringkan
selama 5 menit hapus larutan tersebut dengan isopropilalkohol. Tetrasiklin akan
berpenetrasi kedalam melalui kerusakan stratum korneum dan terowongan akan
tampak dengan penyinaran lampu Wood , sebagai garis linier berwarna kuning
kehijauan sehingga tungau dapat ditemukan dengan salah satu cara diatas.
7. Apusan kulit
Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakkan selotip pada lesi dan diangkat
dengan gerakan cepat. Selotip kemudian diletakkan diatas gelas obyek dan diperiksa
dengan mikroskop.
8. Biopsi plong
Pemeriksaan ini dlakukan apabila tungau dan produknya tidak dapat ditemukan
dengan cara-cara tersebut diatas. Dilakukan pada lesi yang tidak mengalami
ekskoriasi dan dikerjakan dengan potongan serial. Kemudian diperiksa dengan teliti
untuk menemukan tungau atau produknya dalam stratum korneum.

VII. PENATALAKSANAAN
Pada prinsipnya pengobatan dimulai dengan menegakkan diagnosis skabies.
Beberapa macam obat dapat dipakai pada pengobatan skabies :


1. Gama benzen heksaklorid (lindane)
Tersedia dalam bentuk sampo, cairan dan krim. Sediaan obat ini sebanyak 60
mg. Cara pemakaiannya adalah dengan dioleskan dan dibiarkan selama 8 jam.
Efek samping: toksik pada sistem saraf pusat dengan keluhan utama kejang.
2. Krotamiton
Krotamiton 10% dalam krim atau losio, merupaka skabisid dengan beberapa sifat
antipruritus.penuntun pemberian obat ini untuk pengobatan skabies disebut 2x
aplikasi ke seluruh bagian tubuh dimulai dari pipi kebawah dengan interval 24
jam, kemudian dibersihkan setelah 48 jam dari aplikasi terakhir. Dapat
menimbulkan iritasi apabila digunakan dalam jangka waktu lama atau pada kulit
yang menunjukkan iritasi akut.
3. Sulfur
Sulfur telah digunakan sejak lama, sebagai sulfur presipitatum 5-10% dalam
vaselin. Cara pemakaian dioleskan pada badan dan ekstremitas selama 3 hari
berturut-turut, kemudian dicuci (mandi) 24 jam setelah aplikasi berahir. Obat ini
dapat dipakai pada bayi, penderita hamil dan menyusui. Obat ini membunuh
larva, tungau, namun kerugian pemakaiannya adalah baunya yang tidak enak,
lekat, mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.
4. Permetrin
Permetrin 5% dalam bentuk krim adalah obat topikal anti skabies yang baru. Cara
pemakaian : dioleskan di permukaan tubuh mulai dari leher ke bawah untuk
orang dewasa dan pada bayi diseluruh tubuh. Setelah 8-12 jam kemudian
dibersihkan. Apabila belum sembuh dapat diulangi seminggu kemudian. Efek
sampingnya meliputi rasa terbakar sementara, bau dan gatal.

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi pada skabies yang sering dijumpai adalah infeksi sekunder, seperti lesi
impetiginosa, ektima, furunkulosis dan selulitis. Ladang-kadang dapat timbul infeksi
sekunder sistemik, yang memberatkan perjalanan penyakit. Stafilokokus dan
streptokokus yang berada dalam lesi skabies dapat menyebabkan pielonefritis, abses
internal, pneumonia piogenik dan septikemia.
IX. PROGNOSIS
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan
dan menghilangkan faktor predisposis (higiene), maka penyakit ini dapat diberantas dan
memberi prognosis yang baik.

















DAFTAR PUSTAKA

Handoko, R. Skabies. In : Djuanda, A. Hamzah, N. Aisah, S. Ilmu Penyakit Kult dan Kelamin
Edisi Kelima. Jakarta : FKUI. 2010


Infeksi Menular Seksual FKUI. Edisi keempat. 2011


Katzung, Bertram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : EGC


Makatutu, H. Penyakit Kulit oleh Parasit dan Insekta. In : Harahap, M. Penyakit Kulit. Jakarta :
PT. Gramedia. 1990.


Williams, hywel, dkk. 2008. Evidence Based Dermatology. Jakarta: Blackwell publishing.