Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM TELEKOMUNIKASI DIGITAL


FSK MODULATOR













Oleh :
Kelompok 1A 2D
Akhmad Faisol Fadli 1231130002
Dewi Sekar Putih 1231130042
Dinari Gustiana Cita D 1231130006


POLITEKNIK NEGERI MALANG
TEKNIK TELEKOMUNIKASI
2014
1.1 TUJUAN
1.1.1 Untuk memahami teori operasi FSK modulator.
1.1.2 Untuk memahami modulasi FSK dengan menggunakan teori matematika.
1.1.3 Untuk merancang dan mengimplementasikan modulasi FSK dengan
menggunakan VCO.

1.2 ALAT dan BAHAN
1) Generator Fungsi 2 buah
2) Oscilloscope 1 buah
3) BNC to Aligator 2 buah
4) Modul 1 buah
5) Power Supply 1 buah
6) Banana to banana kecil 8 buah
7) Banana to banana besar 6 buah
8) Kabel Power 3 buah
9) T connector 2 buah

1.3 DASAR TEORI
Dalam transmisisinyal digital, repeater digunakan untuk memulihkan sinyal
data, hal ini akan meningkatkan kekebalan terhadap kebisingan.Jadi teknikcoding
dapat digunakan untuk mendeteksi, memperbaiki dan mengenkripsi sinyal. Selama
transmisi jangka panjang,bagian frekuensi tinggi dari sinyal digital akan mudah
menipis dan menyebabkan distorsi. Oleh karena itu, sinyal harus dimodulasi sebelum
transmisi, dan salah satu metode adalah memasukkan frekuensi-shift (FSK) modulasi.
Teknik FSK adalah untuk memodulasi sinyal data kedua frekuensi yang berbeda
untuk mencapai transmisi efektif. Pada penerima, sinyal data akan pulih didasarkan
pada dua frekuensi yang berbeda dari sinyal yang diterima.
Hubungan sinyal FSK dan data sinyal ditunjukkan pada Gambar 7.1. Ketika
sinyal data 5V, setelah lulus sinyal melalui buffer, S1 switch akan ON, maka
frekuensi sinyal FSK adalah f1. Ketika sinyal data 0V, setelah lulus sinyal melalui
buffer, saklar S2 akan ON, frekuensi sinyal FSK adalah f2. Biasanya, perbedaan
antara frekuensi f1dan f2 harus sebesar mungkin. Hal ini karena korelasi kedua sinyal
rendah. Oleh karena itu, efek transmisi dan menerima akan lebih baik.
Namun,bandwidth yang dibutuhkan harus ditingkatkan. Gambar 7.2 adalah bentuk
gelombang sinyal modulasi FSK.

Gambar 13-1 Struktur Diagram FSK Modulator

Gambar 13-2 Relation diagram between data signal and FSK signal
Pada bagian ini, kami menggunakan teori matematika untuk memecahkan modulasi
FSK seperti yang ditunjukkan dalam persamaan(7.1). Ekspresia dalah sebagai berikut:

dimana
A : Magnitude of FSK signal.
Cos(ct) : Carrier frequency.
Cos(Dt) : Audio frequency.
Cos(c+D)t : This frequency represents as "0"
Cos(c-D)t : This frequency represents as "1"

Teknik FSK banyak digunakan dalam transmisi kawat komersial dan industri
dantransmisi nirkabel. Dalam percobaan ini , kita akan membahas bagaimana untuk
menghasilkan sinyal FSK. Di aplikasi tertentu, sinyal FSK adalah tetap.
Misalnya,untuk transmisi nirkabel, tanda sinyal 2124Hz dan sinyal ruang 2975Hz.
Untuk transmisi kawat seperti telepon,frekuensi adalah sebagai berikut:
Spasi = 1370Hz
Mark = 870Hz
atau
Spasi = 2225Hz
Mark = 2025Hz
Dalam FSK modulator, kami menggunakan data sinyal (gelombang Persegi)
sebagai sumber sinyal. Sinyal output frekuensi modulator di dasarkan pada tingkat
gelombang persegi dari sinyal data. Dalam hal ini eksperimen, frekuensi pembawa
adalah 870 Hz dan 1370 Hz. Kedua frekuensi dapat diproduksi dengan menggunakan
Voltage Controlled Oscillator(VCO). Output frekuensi sinyal yang bervariasi dengan
tingkat perbedaan dari pulsa masukan untuk menghasilkan dua frekuensi yang
berbeda. Masing masing frekuensi sinyal output sesuai dengan tingkat tegangan
input (yaitu "0" atau "1").
Dalam percobaan ini, kami menggunakan IC 2206 generator gelombang dan
LM566 tegangan dikendalikan osilator untuk menghasilkan sinyal termodulasi FSK.
Pertama-tama kita memperkenalkan karakteristik 2206 IC. 2206 IC adalah generator
gelombang, yang mirip dengan IC 8038. Gambar 7.3adalah sirkuit diagrammodulasi
FSK dengan menggunakan IC2206. Pada Gambar7.3, resistorR3, R4 terdiri tegangan
di bagi sirkuit. Fungsi utama dari tegangan di bagi sirkuit adalah membiarkan negatif
gelombang tegangan dari IC2206 beroperasi secara normal. Osilasi frekuensi2206IC
ditentukan oleh resistor R1 dan R5.Frekuensi osilasinya adalah


Ada komparator internal IC2206. Asumsikan bahwa ketika input 5V, output
frekuensi f1, dan ketika input 0V, frekuensi output f2. Kita bisa memanfaatkan TTL
sinyal pada pin 9 untuk mengontrol frekuensi output menjadi f1 atau f2. Jenis struktur
mirip dengan struktur pada gambar 7.1. Oleh karena itu, dengan menggunakan
karakteristik struktur ini, kita bisa mencapai modulasi FSK dengan mudah.

Gambar 13-3 Circuit diagram of FSK modulator by using 2206 IC
Operator akan menyebar dan menjadi daerah penipisan.Daerah penipisan jenis
membawa elektronion positif, maka daerah penipisan jenis membawa ion negatif. Kita
dapat menggunakan plat paralel kapasitor untuk mendapatkan ekspresi seperti yang
ditunjukkan sebagai berikut:

dimana:
: 11.8 o (dielectric constant of silicon)
o : 8.85 10-12
A : the cross section area of capacitor.
d : the width of depletion region.

Ketika membalikkan bias meningkat, lebar daerah penipisan dan akan meningkat
tetapi luas penampang A tetap, sehingga nilai kapasitansi akan berkurang. Di sisi lain
,nilai kapasitansi akan meningkat bila reverse bias menurun.



Gambar 13-4Kapasitansidiagramanalogvaractordioda.

Gambar 13-5Setarasirkuitdiagramvaractordioda.

Varactor dioda dapat setara dengan seri kapasitor resistor seperti yang ditunjukkan
pada gambar 13- 5. Dari gambar 13-5, Cj adalah persimpangan kapasitor semi
konduktor, yang hanya keluar dipersimpangan.Rs adalah jumlah perlawanan massal
dan resistansi kontak bahan semi konduktor yang berkaitan dengan kualitas varactor
diode(umumnya di bawah ohm sedikit)
Tuning rasio, TR adalah rasio nilai kapasitansi di bawah dua bias yang berbeda
untuk varactor dioda. Ekspresi ditunjukkan sebagai berikut:


dimana:
TR : tala rasio
CV1 : nilai kapasitansi dari dioda varactor di V1
CV2 : nilai kapasitansi dari dioda varactor di V2
Osilasi frekuensi LM566 adalah:

Dimana Vcc adalah catu daya tegangan input pada pin 8 dari LM566. Vin adalah
tegangan input LM566 di pin 5. Kondisi untuk menggunakan LM566 VCO adalah
sebagai berikut:
2 k R10 20 k
0,75 Vin Vcc
fo 500 kHz
10 V 24 V Vcc

Gambar 13-6 adalah diagram sirkuit modulasi FSK. Teori operasi adalah untuk
mengkonversi tingkat tegangan sinyal data (tingkat TTL) ke level tegangan yang
sesuai. Tegangan ini akan masukan ke terminal masukan dari LM566 VCO.
Kemudian, VCO akan menghasilkan dua frekuensi sehubungan dengan level tegangan
input (870 Hz dan 1370 Hz). Q1, Q2, R1, R2, R3, VR1 dan VR2 terdiri dari sebuah
konverter tegangan. Di sirkuit ini, Q1 akan beroperasi sebagai gerbang NOT. Ketika
input sinyal dasar Q1 tinggi, maka Q1 akan beralih pada. Pada saat ini, sinyal output
dari kolektor akan rendah (sekitar 0,2 V), sehingga Q2 akan mematikan. Ketika sinyal
input dari dasar Q1 rendah (0 V), Q1 akan mematikan. Pada saat ini, sinyal output
dari kolektor Q1 tinggi (5 V), jadi, Q2 akan mengaktifkan. Ketika Q2 saklar off,
tegangan input dari VCO adalah:



VCO sinyal frekuensi output f1. Ketika Q2 aktifkan, tegangan input dari VCO
(Asumsikan hambatan dari Q2 hanya beberapa ohm)

Pada saat ini, frekuensi sinyal output dariVCOf2. Jadi, kita hanya perlu menyesuaikan
VR1 dan VR2, maka output sinyal frekuensi VCO akan menjadi f1 dan f2 yang 1.370Hz
dan 870Hz, masing-masing. Dalam gambar7.6, dua A741, R5, R6, R7, R8, R9, R10, C3,
C4, C5 dan C6 terdiri order ke 4low-pass filter. Tujuannya adalah untuk menghilangkan
sinyal yang tidak diinginkan dari yang LM566output VCO(TP2), sehingga kita dapat
memperoleh sinyal gelombang sinusoidal.

Gambar 13-6 Circuit diagram of FSK modulator





















1.4 LANGKAH PERCOBAAN
Prosedur Percobaan dalam FSK modulator :
1.4.1 Percobaan 1 : XR2206 modulasi FSK
1) Lihat untuk mencari 13.3 dengan R1 = 1 k dan R5 = 10 k atau lihat
gambar DCT 13.1 pada ETEK DCS-6000-07 modul. Buat J2 dan J4
menjadi hubung singkat, J3 dan J5 menjadi rangkaian terbuka.
2) Dari gambar DCT13.1, biarkan terminal dua I / P menjadi sirkuit pendek
dan JP1 menjadi rangkaian terbuka, yaitu pada terminal input sinyal data
(data I / P), input 0 V DC tegangan. Dengan menggunakan osiloskop,
amati pada sinyal gelombang keluaran sinyal FSK (FSK O / P), lalu
mencatat hasil yang diukur pada tabel 13.1.
3) Dari gambar DCT 13.1, biarkan terminal dua I / P menjadi rangkaian
terbuka dan JP1 menjadi hubung singkat, yaitu pada terminal input sinyal
data (data I / P), masukan 5 V DC tegangan. Dengan menggunakan
osiloskop, amati pada sinyal gelombang keluaran sinyal FSK (FSK O / P),
lalu mencatat hasil yang diukur pada tabel 13.1.
4) Pada terminal input sinyal data (data I / P), masukan 5 V amplitudo, 100
Hz sinyal TTL. Dengan menggunakan osiloskop, amati pada sinyal
gelombang keluaran sinyal FSK (FSK O / P), kemudian mencatat hasil
pengukuran pada tabel 13.1
5) Menurut sinyal input dalam tabel 13.1, ulangi langkah 4 dan mencatat
hasil diukur dalam tabel 13.1.
6) Lihat untuk mencari 13,3 dengan R1 = 7,5 k dan R5 = 15 k atau lihat
gambar 13.1 di DCTGOTT DCT-6000-07 modul. Buat J2 dan J4 menjadi
rangkaian terbuka, J3 dan J5 menjadi sirkuit pendek.
7) Menurut sinyal input dalam tabel 13.2, ulangi langkah 2 sampai langkah 4
dan mencatat diukur hasil pada tabel 13.2.

1.4.2 Percobaan 2 : LM566 modulasi FSK
1) Lihat diagram sirkuit pada gambar 13.6 atau angka DCT 13.2 pada GOTT
DCT-6000-07 modul.
2) Dari gambar DCT 13.2, biarkan terminal dua I / P menjadi sirkuit pendek
dan JP1 menjadi rangkaian terbuka, yaitu pada terminal input sinyal data
(data I / P), input 0 V DC tegangan. Dengan menggunakan osiloskop,
amati pada sinyal gelombang keluaran dari port output VCO (TP2) dari
LM 566. Sedikit menyesuaikan VR2 sehingga frekuensi TP2 adalah 1370
Hz. Sekali lagi amati di output sinyal gelombang dari biaya dan titik uji
discharge (TP1), urutan kedua low-pass filter (TP3) dan output sinyal FSK
port (FSK O / P). Akhirnya, mencatat diukur hasil pada tabel 13.3.
3) Dari gambar DCT 13.2, biarkan terminal dua I / P menjadi rangkaian
terbuka dan JP1 menjadi hubung singkat, yaitu pada terminal input sinyal
data (data I / P), masukan 5 V DC tegangan. Dengan menggunakan
osiloskop, amati pada sinyal gelombang keluaran dari port output VCO
(TP2) dari LM566. Sedikit menyesuaikan VR 2 sehingga frekuensi TP2
adalah 870 Hz. Sekali lagi amati di output sinyal gelombang dari biaya dan
titik uji discharge (TP1), urutan kedua low-pass filter (TP3) dan output
sinyal FSK port (FSK O / P). Akhirnya, mencatat diukur hasil pada tabel
13.3.
4) Pada terminal input sinyal data (data I / P), masukan 5 V amplitudo, 100
Hz sinyal TTL. Dengan menggunakan osiloskop, amati pada output sinyal
gelombang Data I / P, TP1, TP2, TP3 dan output FSK. Akhirnya, mencatat
hasil diukur dalam tabel 13.4.
5) Menurut sinyal input dalam tabel 7.4, ulangi langkah 4 dan mencatat hasil
diukur dalam tabel 13.4.

1.5 HASIL DATA dan ANALISA DATA
Tabel 13-1 Hasil Pengukuran Modulasi FSK dengan IC 2206
Input
Signal
0 V (I/P SC, J1 OC) 5 V (I/P OC, J1 SC)


J2,J4 SC
J3,J5 OC


Input
Signal
100 Hz 200 Hz


J2,J4 SC
J3,J5 OC



Pada praktikum FSK, seperti tabel diatas ketika J2 & J4 Short Circuit dan J3 & J5 Open
Circuit input frekuensinya sebesar 0 V dimana ( I/P SC , J1 OC ) maka hasil output pada CH
2 berupa gelombang sinus , sedangkan pada CH 1 hanya berupa garis lurus saja dengan T/div
= 100 s dengan volt/div pada CH 1 adalah 50 V dan CH 2 adalah 20 V.
Pada saat input frekuensinya 5V dengan ( I/P OC, J1 SC ) maka hasil output CH2 juga
berupa gelombang sinus, dengan CH 1 hanya berupa garis lurus saja. Ketika input pada
generator fungsi yaitu TTL yang diset dengan frekuensi sebesar 100 Hz menghasilkan
gelombang renggang rapat pada saat logic 1 menunjukkan amplitudo pada output gelombang
sinus yang sangat rapat dan saat logic 0 menunjukkan amplitudo gelombang sinus yang
renggang. Pada saat frekuensi dinaikkan menjadi 200 Hz hasil output gelombangnya menjadi
lebih rapat di bandingkan dengan frekuensi 100 Hz dimana besar T/div adalah 2,5 ms dan
V/div pada CH 1 adalah 50 V dan CH 2 adalah 20 V. Semakin besar nilai frekuensi , maka
hasil output gelombnag semakin rapat.

Tabel 13-2 Hasil Pengukuran Modulasi FSK dengan IC 2206
Input
Signal
0 V (I/P SC, J1 OC) 5 V (I/P OC, J1 SC)


J3,J5 SC
J2,J4
OC

Input
Signal
100 Hz 200 Hz


J3,J5 SC
J2,J4
OC



Pada hasil praktikum , seperti tabel diatas ketika sinyal input dengan J3& J5 Short
Circuit serta J2 & J4 Open Circuit menunjukkan bahwa pada saat frekuensi sebesar 0 V (I/P
SC, J1 OC) menunjukkan hasil output dengan CH 2 adalah gelombang sinus sedangkan CH
1 hanya berupa garis lurus saja dengan besar Time/div adalah 500 s dengan besar Volt/div
adalah 50 V pada CH 1 dan CH 2 adalah 20 V. Pada saat frekuensi sebesar 5 V dengan (I/P
OC, J1 SC) menunjukkan hasil output berupa gelombang sinus pada CH 2 dan CH 1 berupa
garis lurus saja , seperti pada saat hasil ouput saat frekuensi 0 V.
Pada saat frekuensi 100 Hz menunjukkan bahwa output berupa sinus yang renggang rapat
pada saat logic 1 menunjukkan amplitudo pada output gelombang sinus yang rapat dan saat
logic 0 menunjukkan amplitudo pada gelombang sinyal yang renggang. Pada saat frekuensi
dinaikkan menjadi 200 Hz hasil output gelombangnya menjadi lebih rapat di bandingkan
dengan frekuensi 100 Hz dimana besar T/div adalah 2,5 ms dan V/div pada CH 1 adalah 20 V
dan CH 2 adalah 20 V. Output gelombang pada praktikum ini lebih renggang dari pada tabel
yang pertama, mungkin dikarenakan volt/div yang digunakan serta faktor penempatan
J3,J2,J4 dan J5.

Tabel 13-3 Hasil Pengukuran Modulasi FSK dengan menggunakan LM566
Input
Signal
TP 1 TP 2







0V


TP3 FSK O/P


Pada hasil praktikum ketika frekuensi sebesar 0V dengan TP 1 menunjukkan output
gelombang segitiga pada CH 2 , dan CH 1 menunjukkan gelombang kotak. Sedangkan, pada
saat TP 2 output gelombang pada CH 1 menunjukkan gelombang kotak dengan CH 2 adalah
gelombang kotak yang lebih rapat dari inputnya. Pada saat TP 3 menunjukkan output berupa
gelombang sinus, dengan rapat dan renggang. Pada TP 3 ini hasil output amplitudo lebih
rapat daripada dengan FSK O/P. Pada output FSK O/P menunjukkan hasil gelombang yang
sama dengan TP 3 , tetapi lebih renggang. Pada hasil output gelombang sinus pada TP 3 dan
FSK O/P saat logic 1 menunjukkan output amplitude pada gelombang sinus yang rapat dan
saat logic 0 menunjukkan amplitudo pada gelombang sinyal yang renggang. Hasil output
pada FSK O/P lebih renggang daripada hasil output gelombang pada TP3. Hal tersebut
diakibatkan karena selama transmisi jangka panjang, bagian frekuensi tinggi dari sinyal
digital akan mudah menipis dan menyebabkan distorsi. Oleh karena itu, sinyal harus
dimodulasi sebelum transmisi, dan salah satu metode adalah memasukkan frekuensi-shift
(FSK) modulasi.

Tabel 13-3 Hasil Pengukuran Modulasi FSK dengan menggunakan LM566
Input
Signal
TP 1 TP 2








5V

TP3 FSK O/P





Pada hasil praktikum diatas , menujukkan bahwa input frekuensi sebesar 5 V
pada TP1 menunjukkan output berupa gelombang segitiga dengan besar amplitude
sebesar 40 Vpp, Sedangkan, pada TP 2 menunjukkan output gelombang kotak
dengan besar amplitude 52 Vpp. Dimana , gelombang kotak lebih rapat dari inputnya.
Pada TP 3 dan FSK O/P menunjukkan gelombang sinus yang lebih rapat dari tabel
sebelumnya dengan input gelombang kotak yang telah maksimum.
Hal tersebut dikarenakan, Selama transmisi jangka panjang,bagian frekuensi
tinggi dari sinyal digital akan mudah menipis dan menyebabkan distorsi. Oleh karena
itu, sinyal harus dimodulasi sebelum transmisi, dan salah satu metode adalah
memasukkan frekuensi-shift (FSK) modulasi. Teknik FSK adalah untuk memodulasi
sinyal data kedua frekuensi yang berbeda untuk mencapai transmisi efektif. Pada
penerima, sinyal data akan pulih didasarkan pada dua frekuensi yang berbeda dari
sinyal yang diterima.

Tabel 13-4 Hasil Pengukuran Modulasi FSK dengan LM566.
Input
Signal
Frequency
TP1 TP2







TTL
signal with

TP3 DATA I/P
Vp = 5V
F data =
200 Hz


FSK O/P


Pada Hasil Pengukuran Modulasi FSK menunjukkan bahwa, pada signal with Vp =
5V , Fdata = 200 Hz menunjukkan hasil output pada TP 1 berupa gelombang segitiga rapat
renggang dengan hasil input menunjukkan gelombang kotak. Pada saat 1 menunjukkan rapat
dan saat 0 adalah renggang. Sedangkan pada TP 2 menunjukkan gelombang kotak yang lebih
sempit lebar pulsanya, serta lebih rapat dari gelombang kotak pada inputannya. Pada TP 3
menunjukkan gelombang sinus. Sedangkan, pada DATA I/P adalah gelombang kotak dari
sinyal input pada CH 1. Untuk hasil output FSK O/P menunjukkan gelombang sinus rapat
renggang, dimana jika logic 1 ,maka output amplitudo gelombang sinus rapat dan logic 0
menunjukkan amplitudo gelombang sinus yang renggang. Hasil output pada FSK O/P lebih
renggang dari tabel dibawah dengan F data = 100 Hz . Hal tersebut dipengaruhi oleh besar
amplitude dan frekuensi data yang digunakan. Sehingga, semakin besar Fdata maka output
gelombang yang dihasilkan semakin renggang seperti hasil tabel diatas.

Tabel 13-4 Hasil Pengukuran Modulasi FSK dengan menggunakan LM566
Input Signal
Frequency
TP1 TP2




TTL
signal with
Vp = 5 V
F data =
100 Hz

TP3 DATA I/P


FSK O/P




Pada Hasil Pengukuran Modulasi FSK menunjukkan bahwa, pada signal with Vp =
5V , Fdata = 100 Hz menunjukkan hasil output pada TP 1 berupa gelombang segitiga rapat
renggang dengan hasil input menunjukkan gelombang kotak. Pada saat 1 menunjukkan rapat
dan saat 0 adalah renggang. Sedangkan pada TP 2 menunjukkan gelombang kotak yang lebih
sempit lebar pulsanya, serta lebih rapat dari gelombang kotak pada inputannya. Pada TP 3
menunjukkan gelombang sinus yang rapat dan renggang serta menunjukkan logic 1 dan 0.
Hasil output gelombang pada TP 3 dengan frekuensi 100 Hz ini lebih rapat daripada dengan
frekuensi 200 Hz. Sedangkan, pada DATA I/P menujukkan gelombang kotak dari sinyal
input pada CH 1. Untuk hasil output FSK O/P menunjukkan amplitudo gelombang sinus
rapat renggang, dimana jika logic 1 ,maka output amplitudo gelombang sinus rapat dan logic
0 menunjukkan gelombang sinus yang renggang. Hasil output pada FSK O/P dengan
frekuensi 100 Hz lebih rapat. Hal tersebut dipengaruhi oleh besar amplitude dan frekuensi
data yang digunakan. Sehingga, semakin kecil Fdata yang digunakan maka output gelombang
yang dihasilkan semakin rapat seperti hasil tabel diatas.

1.6 KESIMPULAN
1. Hasil output gelombang dipengaruhi oleh besar frekuensi dan amplitude.
2 Pada hasil output gelombang dihasilkan bahwa jika amplitudo sinyal pemodulasi
tinggi atau bernilai 1, maka sinyal FSK mempunyai amplitudo yang renggang,
sedangkan jika sinyal pemodulasi bernilai 0, maka sinyal FSK memiliki
amplitudo rapat.
3 Pada FSK sinyal pemodulasi (sinyal digital) menggeser outputnya antara dua
frekuensi yang telah ditentukan sebelumnya dengan melihat hasil inputnya
4 .