Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

STROKE


DISUSUN OLEH :
Hery Kurnia

PEMBIMBING :
Dr. Irfan Taufik Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN NEUROLOGI
RUMAH SAKIT RSIJ PONDOK KOPI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2013


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
lah penulis dapat menyelesaikan pembuatan laporan kasus yang berjudul stroke non
hemoraghik yang merupakan salah satu penyakit anak terbanyak yang terdapat di Rumah Sakit
islam Jakarta pondok kopi bagian neurologi.
Ucapan terima kasih tak lupa penulis ucapkan kepada Dr. Irfan Taufik Sp.S selaku
pembimbing dalam laporan ini dan rekan-rekan yang telah membantu penulis dalam pembuatan
laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan kasus ini masih banyak terdapat
kesalahan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna
perbaikan dalam pembuatan laporan kasus selanjutnya.
Semoga tinjauan pustaka ini dapat berguna bagi kita semua, khususnya bagi para
pembaca.


Jakarta, 1 Agustus 2013

Penulis,





BAB I
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. O
Jenis kelamin : Laki-laki
TTL : Jakarta, 11 Oktober 1971
Umur : 41 tahun
Alamat : Duren Sawit. Jakarta
Status : Menikah
Agama : Kristen
Tanggal Masuk : 29 Juli 2013

ANAMNESIS (AUTONAMNESIS)
Keluhan Utama : Lemah badan sebelah kanan sejak 4 jam SMRS.
Keluhan Tambahan : Pusing , bicara pelo , mulut mencong ke sebelah kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke RSIJ Pondok Kopi dengan keluhan lemah badan sebelah kanan sejak 4 jam
SMRS. Lemah badan dirasakan pada pada saat jam 6 pagi, diawali dengan kesemutan. Awalnya
pasien mengaku lemah timbul di tangan sebelah kiri, dimana tangannya masih dapat sedikit
digerakan namun terasa berat dan lemas kalau mengangkat tangannya keatas dan tanpa diawali
kesemutan. Pasien juga mengeluh sedikit pusing seperti berat dikepala dan tegang ditengkuknya.
Kemudian tidak lama berselang 2 jam pasien merasakan kelemahan sampai kebagian
bawah, terutama kaki.
Dan disaat bersamaan os juga merasa bahwa bicaranya pelo/susah bicara dan mulutnya
mencong kesebelah kanan. Pasien mengatakan bahwa keluhan yang ia rasakan ini terjadi secara
tiba-tiba.
Keluhan seperti mual, muntah dan penurunan kesadaran disangkal. Riwayat terdapat
trauma pada kepala disangkal. Riwayat kejang atau demam disangkal. Riwayat penurunan berat
badan disangkal. Penurunan penglihatan, dan gangguan menelan, gangguan penciuman dan
pendengaran juga disangkal. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Pasien mengaku bahwa baru
petama kali mengalami keluhan seperti ini.

Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat stroke disangkal
Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat DM disangkal
Riwayat Penyakit Jantung disangkal
Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung, hipertensi
ataupun kencing manis tidak diketahui.
Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku belum berobat sebelumnya.


Riwayat Psikososial
Pasien mengaku mengkonsumsi rokok 20 batang/hari.
Pasien mengaku mengkonsumsi alkohol

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital
Nadi : 82 x/menit, reguler, isi cukup, ekual
Pernapasan : 22 x/menit, reguler
Suhu : 37,2
0
C
TD : 110 / 70 mmHg

STATUS GENERALIS
Kepala : normocephal, distribusi rambut merata. Tanda-tanda trauma (-)
Mata : anemis (-/-), ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+)
Hidung : Deviasi septum (-), Sekret (-/-) napas cuping hidung (-)
Telinga : Normotia, Sekret (-/-)
Mulut
Terlihat mencong kesebelah kanan
Mukosa bibir lembab, sianosis (-),
Lidah : asimetris deviasi ke kiri, tremor (-)
Leher : Tidak terlihat pembesaran KGB atau pembesaran kelenjar tyroid.
Torax :
o Inspeksi :
Pergerakan dinding dada simetris.
Retraksi intercostal (-/-).
Penggunaan otot-otot bantu pernapasan (-)
o Palpasi :
Nyeri tekan (-/-) , tidak teraba massa
Vokal fremitus dextra-sinistra sama.
Iktus cordis teraba di ICS V linea midklavikularis kiri.
o Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
o Auskultasi : Vesikuler + / +, ronkhi -/- , wheezing -/- , murmur (-), gallop (-)
Abdomen
o Inspeksi : Supel
o Palpasi
Nyeri tekan : Tidak ada
Hepar : Tidak teraba
Splen : Tidak teraba
Ballotement : - / -
o Perkusi : Timpani
o Auskultasi : Bising usus (+) N

Ekstremitas :
Edema : Negatif
Akral hangat
Sianosis : Negatif
RCT > 2 s

STATUS NEUROLOGIS
Kesadaran : Compos mentis
Kuantitatif (GCS) : E4V5M6
Mata : pupil isokor, reflek cahaya (+/+)
Orientasi
(tempat, waktu, orang, sekitar) : Baik
Daya ingat kejadian : Baik
Kemampuan bicara : Disartria
Meningeal sign :
Kaku kuduk : negative
Kernig dan leseague : negative
Burdinzki 1& 2 : negative

PEMERIKSAAN NERVUS CRANIALIS
Nervus I (Olfaktorius) Dextra Sinistra
Daya pembau Tidak dilakukan Tidak diilakukan
Nervus II (Optikus) Dextra Sinistra
Daya penglihatan N N
Pengenalan warna N N
Medan penglihatan Sulit dinilai Sulit dinilai
Fundus okuli Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Papil Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Arteri/vena Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Perdarahan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Nervus III
(Okulomotorius)
Dextra Sinistra
Ptosis - -
Gerak mata ke :

Medial + +
Atas + +
Bawah + +
Ukuran pupil 2mm 2mm
Bentuk pupil isokor I sokor
Refleks cahaya langsung + +
Refleks cahaya
konsensuil
+ +
Strabismus divergen negatif negatif
Diplopia negatif negatif
Nervus IV (Trokhlearis) Dextra Sinistra
Gerak mata ke lateral
bawah
+ +
Strasbismus konvergen Negatif Negatif
Diplopia - -
Nervus VI (Abdusen) Dextra Sinistra
Gerak mata ke lateral + +
Strasbismus konvergen negatif negatif
Diplopia - -
Nervus V (Trigeminus) Dextra Sinistra
Menggigit + +
Membuka mulut + +
Sensibilitas muka :

Atas + +
Tengah + +
Bawah + +
Refleks kornea Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refleks bersin Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refleks maseter Baik Baik
Trismus negatif negatif
N. VII ( Fasialis ) Dextra Sinitra
Mengerutkan dahi
Bersiul
Mengedip
Meringis
Menutup mata
Mengembungkan pipi
Kerutan dahi +
+
+
(+)
+
+
Kerut dahi +
+
+
(+)
+
+
Lakrimasi
Daya kecap 2/3 ant
R. Aurikulopalpebra
R. Visuopalpebra
Reflex glabella
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Nervus VIII (akustikus) Dextra Sinistra
mendengar suara berbisik + +
tes Rinne Tidak dilakukan Tidak dilakukan
tes Weber Tidak dilakukan Tidak dilakukan
tes Schwabach Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Nervus IX (Glosofaringeus) Dextra Sinistra
arkus farings Tidak Deviasi Tidak Deviasi
daya kecap lidah 1/3
belakang
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
reflek muntah Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sengau Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tersedak Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Nervus X (Vagus) Dextra Sinistra
Arkus farings Tidak Deviasi Tidak Deviasi
Nadi reguler reguler
Bersuara +(normal) +(normal)
Menelan + +
Nervus XI (Aksesorius) Dextra Sinistra
Memalingkan kepala +
+

Sikap bahu +
+

Mengangkat bahu + +
Trofi otot bahu Eutropia Eutropia
Nervus XII (Hipoglosus) Dextra Sinistra
sikap lidah Deviasi kekann
Artikulasi Terganggu (disartria)
tremor lidah - -
menjulurkan lidah + +
kekuatan lidah + +
atrofi otot lidah - -
fasikulasi lidah - -

ANGGOTA GERAK ATAS
Lengan Atas Lengan Bawah Tangan
D S D S D S
Gerakan Terbatas Bebas Terbatas Bebas Terbatas Bebas
Kekuatan 3 5 3 5 3 5
Tropi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
Tonus N N N N N N

SENSIBILITAS
Jenis
Rangsang
Lengan atas Lengan bawah Tangan
Kanan Kiri Kanan kiri kanan kiri
Termis Tdl Tdl tdl tdl tdl tdl
Taktil tdl tdl tdl tdl tdl tdl
Nyeri + + + + + +
Posisi N N N N N N
Vibrasi tdl Tdl tdl tdl tdl tdl

ANGGOTA GERAK BAWAH

Tungkai atas Tungkai bawah Kaki
D S D S D S
Gerakan Terbatas Bebas Terbatas Bebas Terbatas Bebas
Kekuatan 3 5 3 5 3 5
Tonus N N N N N N
Trofi eu eu eu eu eu eu
Sensibilitas :
nyeri + + + + + +
termis tdl tdl tdl tdl tdl tdl
taktil + + + + + +
posisi N N N N N N
vibrasi tdl Tdl tdl tdl tdl tdl


REFLEX FISIOLOGI
Reflex Biceps : +/+
Reflex Trisep : +/+
Reflex Ulnaris: +/+
Reflex Patella : +/+
Reflex Achilles: +/+
Reflex Glabella : tdl
Refleks Patologik Dextra Sinistra
Babinski - -
Chaddocck - -
Oppenheim - -
Gordon - -
Schaeffer - -
Gonda - -
Rossolimo Tdk dilakukan Tdk dilakukan
Mendel-Bechterew Tdk dilakukan Tdk dilakukan

FUNGSI VEGETATIF
Miksi
Inkontinensia urin : Negatif
Retensio urin : Negatif
Poliuri : Negatif
Anuri : Negatif
Defekasi
Inkontinensia alvi : Negatif
Retensio alvi : Negatif




PEMERIKASAAN PENUNJANG
CT-Scan (29 Juli 2013)
Kesan :
Curiga infark didaerah cerebellum kanan
Parenkim otak masih baik, tak tampak lesi patologik




RESUME
Laki-laki 41 tahun
Hemiplegia dextra
Disatria, mulut mencong ke kanan
Pusing, lemas
Timbul tiba-tiba
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : compos mentis
TD : 110/70 mmHg

Status neurologis :
N. VII : Sudut nasolabialis asimetris
N.XII : Didapatkan deviasi lidah kekanan dan artikulasi terganggu ( disartria )
CT-Scan : Curiga infark di daerah cerebellum kanan


DIAGNOSIS
Diagnosis klinis : Hemiplegia Dextra
Diagnosis topik : Cerebellum Infark Dextra
Diagnosis etiologi : Iskemik stroke
Diagnosis patologi : stroke non hemorraghik
Diagnosis Banding : Stroke Hemorraghik


PENATALAKSANAAN
Airway
Bebaskan jalan nafas; jika diperlukan pasang gudel; kepala dan tubuh dalam posisi 30
dengan bahu pada sisi lemah diganjal dengan bantal.
Breathing
Periksa kadar oksigen, bila hipoksia berikan oksigen 2-4 ltr/mnt.
Circulation
Pasang infus pada sisi yang sehat; asering
FARMAKOTERAPI NONFARMAKOTERAPI
Aspilet 1 X 80 mg
Neurobion 1 x 500 mg

Infus Asering
Oksigen 3 ltr/menit
Diet makanan lunak
(peroral)


PROGNOSIS
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanantionam : Dubia ad bonam














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Defenisi Stroke
Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh
darah otak yang terjadi secara mendadak dan dapat menimbulkan cacat atau kematian.
2

Secara umum, stroke digunakan sebagai sinonim Cerebro Vascular Disease (CVD) dan
kurikulum Inti Pendidikan Dokter di Indonesia (KIPDI) mengistilahkan stroke sebagai penyakit
akibat gangguan peredaran darah otak (GPDO)
2
. Stroke atau gangguan aliran darah di otak
disebut juga sebagai serangan otak (brain attack), merupakan penyebab cacat (disabilitas,
invaliditas).
11

Anatomi Pembuluh Darah Otak
Otak terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron, sel-sel penunjang yang dikenal sebagai sel
glia, cairan serebrospinal, dan pembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama
sekitar 100 miliar, tetapi koneksi di antara berbagi neuron berbeda-beda. Pada orang dewasa,
otak membentuk hanya sekitar 2% (sekitar 1,4 kg) dari berat tubuh total, tetapi mengkonsumsi
sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa yang ada di dalam darah arterial (Gambar 2.1.). Otak
harus menerima lebih kurang satu liter darah per menit, yaitu sekitar 15% dari darah total yang
dipompa oleh jantung saat istirahat agar berfungsi normal. Otak mendapat darah dari arteri. Yang
pertama adalah arteri karotis interna yang terdiri dari arteri karotis (kanan dan kiri), yang
menyalurkan darah ke bagian depan. otak disebut sebagai sirkulasi arteri serebrum anterior.
Yang kedua adalah vertebrobasiler, yang memasok darah ke bagian belakang otak disebut
sebagai sirkulasi arteri serebrum posterior. Selanjutnya sirkulasi arteri serebrum anterior bertemu
dengan sirkulasi arteri serebrum posterior membentuk suatu sirkulus willisi (Gambar 2.2).
Ada dua hemisfer di otak yang memiliki masing-masing fungsi. Fungsi-fungsi dari otak adalah
otak merupakan pusat gerakan atau motorik, sebagai pusat sensibilitas, sebagai area broca atau
pusat bicara motorik, sebagai area wernicke atau pusat bicara sensoris, sebagai area
visuosensoris, dan otak kecil yang berfungsisebagai pusat koordinasi serta batang otak yang
merupakan tempat jalan serabutserabut saraf ke target organ (gambar 2.3.)

Gambar 2.1. Sel Glia Pada Otak

Gambar 2.2. Pembuluh Darah di Otak

Gambar 2.3. Bagian Otak dan Fungsi Otak
Jika terjadi kerusakan gangguan otak maka akan mengakibatkan kelumpuhan pada anggota
gerak, gangguan bicara, serta gangguan dalam pengaturan nafas dan tekanan darah. Gejala di
atas biasanya terjadi karena adanya serangan stroke.



Stroke Non Hemoragik
Klasifikasi Stroke Non Hemoragik
Secara non hemoragik, stroke dapat dibagi berdasarkan manifestasi klinik dan proses patologik
(kausal):
a. Berdasarkan manifestasi klinik:
1. Serangan Iskemik Sepintas/Transient Ischemic Attack (TIA)
Gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang
dalam waktu 24 jam.
2. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND)
Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama dari 24 jam, tapi
tidak lebih dari seminggu.
3. Stroke Progresif (Progressive Stroke/Stroke In Evaluation)
Gejala neurologik makin lama makin berat.
4. Stroke komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke)
Kelainan neurologik sudah menetap, dan tidak berkembang lagi.
b. Berdasarkan Kausal:
1. Stroke Trombotik
Stroke trombotik terjadi karena adanya penggumpalan pada pembuluh darah di otak.
Trombotik dapat terjadi pada pembuluh darah yang besar dan pembuluh darah yang kecil.
Pada pembuluh darah besar trombotik terjadi akibat aterosklerosis yang diikuti oleh
terbentuknya gumpalan darah yang cepat. Selain itu, trombotik juga diakibatkan oleh
tingginya kadar kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL). Sedangkan pada
pembuluh darah kecil, trombotik terjadi karena aliran darah ke pembuluh darah arteri kecil
terhalang. Ini terkait dengan hipertensi dan merupakan indikator penyakit aterosklerosis.
2. Stroke Emboli/Non Trombotik
Stroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung atau lapisan lemak yang lepas.
Sehingga, terjadi penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan darah tidak bisa
mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak.



Gejala Stroke Non Hemoragik
Gejala stroke non hemoragik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di
otak bergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasi tempat
gangguan peredaran darah terjadi, maka gejala-gejala tersebut adalah:
a. Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna.
Buta mendadak (amaurosis fugaks).
Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan (disfasia) bila gangguan
terletak pada sisi dominan.
Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan (hemiparesis kontralateral) dan dapat
disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan.
b. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior.
Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih menonjol.
Gangguan mental.
Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh.
Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air.
Bisa terjadi kejang-kejang.
c. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media.
Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih ringan. Bila tidak di
pangkal maka lengan lebih menonjol.
Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh.
Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia).
d. Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar.
Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.
Meningkatnya refleks tendon.
Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh.
Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan (tremor), kepala berputar (vertigo).
Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia).
Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga pasien sulit bicara
(disatria).
Kehilangan kesadaran sepintas (sinkop), penurunan kesadaran secara lengkap (strupor),
koma, pusing, gangguan daya ingat, kehilangan daya ingat terhadap lingkungan
(disorientasi).
Gangguan penglihatan, sepert penglihatan ganda (diplopia), gerakan arah bola mata yang
tidak dikehendaki (nistagmus), penurunan kelopak mata (ptosis), kurangnya daya gerak
mata, kebutaan setengah lapang pandang pada belahan kanan atau kiri kedua mata
(hemianopia homonim).
Gangguan pendengaran.
Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah.
e. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior
Koma
Hemiparesis kontra lateral.
Ketidakmampuan membaca (aleksia).
Kelumpuhan saraf kranialis ketiga.
Gejala akibat gangguan fungsi luhur
Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa. Aphasia dibagi dua yaitu,
Aphasia motorik adalah ketidakmampuan untuk berbicara, mengeluarkan isi pikiran
melalui perkataannya sendiri, sementara kemampuannya untuk mengerti bicara orang lain
tetap baik. Aphasia sensorik adalah ketidakmampuan untuk mengerti pembicaraan orang
lain, namun masih mampu mengeluarkan perkataan dengan lancar, walau sebagian
diantaranya tidak memiliki arti, tergantung dari luasnya kerusakan otak.
Alexia adalah hilangnya kemampuan membaca karena kerusakan otak. Dibedakan dari
Dyslexia (yang memang ada secara kongenital), yaitu Verbal alexia adalah
ketidakmampuan membaca kata, tetapi dapat membaca huruf. Lateral alexia adalah
ketidakmampuan membaca huruf, tetapi masih dapat membaca kata. Jika terjadi
ketidakmampuan keduanya disebut Global alexia.
Agraphia adalah hilangnya kemampuan menulis akibat adanya kerusakan otak.
Acalculia adalah hilangnya kemampuan berhitung dan mengenal angka setelah terjadinya
kerusakan otak.
Right-Left Disorientation & Agnosia jari (Body Image) adalah sejumlah tingkat
kemampuan yang sangat kompleks, seperti penamaan, melakukan gerakan yang sesuai
dengan perintah atau menirukan gerakan-gerakan tertentu. Kelainan ini sering bersamaan
dengan Agnosia jari (dapat dilihat dari disuruh menyebutkan nama jari yang disentuh
sementara penderita tidak boleh melihat jarinya).
Hemi spatial neglect (Viso spatial agnosia) adalah hilangnya kemampuan melaksanakan
bermacam perintah yang berhubungan dengan ruang.
Syndrome Lobus Frontal, ini berhubungan dengan tingkah laku akibat kerusakan pada
kortex motor dan premotor dari hemisphere dominan yang menyebabkan terjadinya
gangguan bicara.
Amnesia adalah gangguan mengingat yang dapat terjadi pada trauma capitis, infeksi
virus, stroke, anoxia dan pasca operasi pengangkatan massa di otak.
Dementia adalah hilangnya fungsi intelektual yang mencakup sejumlah kemampuan.

Diagnosis Stroke Non Hemoragik
Diagnosis didasarkan atas hasil:
a. Penemuan Klinis
1. Anamnesis
Terutama terjadinya keluhan/gejala defisit neurologik yang mendadak. Tanpa
trauma kepala, dan adanya faktor risiko stroke.
2. Pemeriksaan Fisik Adanya defisit neurologik fokal, ditemukan faktor risiko
seperti hipertensi, kelainan jantung dan kelainan pembuluh darah lainnya.
b. Pemeriksaan tambahan/Laboratorium
1. Pemeriksaan Neuro-Radiologik Computerized Tomography Scanning (CT-Scan),
sangat membantu diagnosis dan membedakannya dengan perdarahan terutama
pada fase akut. Angiografi serebral (karotis atau vertebral) untuk mendapatkan
gambaran yang jelas tentang pembuluh darah yang terganggu, atau bila scan tak
jelas. Pemeriksaan likuor serebrospinalis, seringkali dapat membantu
membedakan infark, perdarahan otak, baik perdarahan intraserebral (PIS) maupun
perdarahan subarakhnoid (PSA).
2. Pemeriksaan lain-lain Pemeriksaan untuk menemukan faktor resiko, seperti:
pemeriksaan darah rutin (Hb, hematokrit, leukosit, eritrosit), hitung jenis dan bila
perlu gambaran darah. Komponen kimia darah, gas, elektrolit, Doppler,
Elektrokardiografi (EKG).

Etiologi
- Infark otak (80%)
a. Emboli
b. Aterotrombotik
- Perdarahan intraserebral (15%)
c. Hipertensi
d. Malformasi arteri-vena
e. Angiopati amiloid
- Perdarahan subarachnoid (5%)
2. Faktor resiko

Faktor risiko yang
tidak dapat diubah
Faktor risiko yang dapat diubah
Usia
Jenis kelamin pria
Ras
Riwayat keluarga
Riwayat TIA atau
stroke
Penyakit Jantung
Koroner
Fibrilasi atrium
Heterozigot/homozigot
homosistinemia
Hipertensi
Diabetes mellitus
Merokok
Penyalahgunaan alcohol dan obat
Kontrasepsi oral
Hematokrit meningkat
Bruit karotis asimptomatis
Hiperurisemia dan dislipidemia

Gejala Klinis Perdarahan
Intraserebral
(PIS)
Perdarahan
Subarachnoid
(PSA)
Stroke Non
Hemoragik

Diagnosis dengan sistem skoring

Skore Stroke Siriraj

Gejala defisit
fokal
Berat Ringan Berat/ringan
TIA
sebelumnya
- - +
Onset Menit-jam 1-2 menit Pelan (jam-
hari)
Nyeri kepala Hebat Sangat hebat Ringan/tidak
ada kecuali
lesi di batang
otak
Muntah pd
awalnya
Sering Sering -
Hipertensi +++ - ++
Penurunan
Kesadaran
++ + +/-
Kaku kuduk +/- + -
Hemiparesis Sering sejak
awal
Permulaan
tidak ada
Sering sejak
awal
Deviasi mata ++ + +/-
Gangguan
bicara
++ +++ ++
Perdarahan
subhialoid
++ + -
Paresis/
gangguan
N.III
- + -
Keterangan
Derajat kesadaran Nyeri kepala
Komposmentis = 0 - Ada = 1
Somnolen = 1 - Tidak ada = 0
Sopor/koma = 2
Vomitus Ateroma (diabetes, angina, penyakit
Ada = 1 pembuluh darah )
Tidak ada = 0 - Ada = 1
- Tidak ada = 0
Hasil
Skor > 1 : perdarahan supratentorial

Skor < 1 infark serebri

Skor stroke Gadjah Mada

Penurunan
kesadaran
Nyeri
kepala
Babinski Jenis stroke
+ + + Perdarahan
+ _ _ Perdarahan
_ + _ Perdarahan
_ _ + Iskemik
_ _ _ Iskemik





Tatalaksana Umum Stroke Akut
a. Stabilisasi fungsi kardiologis melalui ABC
b. Posisi kepala dan badan atas 20-30
o

c. Bebaskan jalan nafas, bila perlu berikan oksigen 1-3 L/ menit sampai ada hasil
pemeriksaan gas darah
d. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, sebaiknya dengan kateterisasi intermiten
e. Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus
f. Hiperglikemia atau hipoglikemia harus segera dikoreksi
g. Suhu tubuh harus dipertahankan normal
h. Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan
i. Cairan intravena 24 jam pertama RL, NaCl 0,9%, Asering, dan dilanjutkan 24 jam
berikutnya kristaloid atau koloid
j. Asupan nutrisi per oral setelah hasil tes fungsi menelan baik dan apabila gangguan
menelan atau kesadaran menurun pipa nasogastrik dengan 1500 kalori
k. Mencegah infeksi sekunder traktus respiratorius dan urinarius
l. Mecegah timbulnya stress ulcer obat antasida/proton pump inhibitor
m. Mencegah dekubitus dengan trombosis vena dalam heparin subkutan 5000 IU 2 kali
sehari /LMWH
n. Mobilisasi terbatas untuk mencegah dekubitus

Prognosis
a. Sekitar 50% penderita yang mengalami kesembuhan dan kembali menjalankan fungsi
normalnya.
b. Penderita lainnya mengalami kelumpuhan fisik dan mental dan tidak mampu bergerak,
berbicara atau makan secara normal.
c. Sekitar 20% penderita meninggal di rumah sakit.





DAFTAR PUSTAKA
Lionel Ginsberg. Neurologi edisi ke delapan. Jakarta : Erlangga Medical Series.
Lumbantobing.Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental.FKUI.Jakarta.2008.
Mahar Mardjono. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke -11. PT.Dian Rakyat.
Jakarta.2006
Ratna Mardiati. Buku Kuliah Susunan Saraf Otak Manusia. Sagung Seto. Jakarta. 1996.
Snell RS. Clinical Anatomy for Medical Student. 6th ed. Sugiharto L, Hartanto H,
Listiawati E, Susilawati, Suyono J, Mahatmi T, dkk, penerjemah. Anatomi Klinik
Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2006; 740-59.

Anda mungkin juga menyukai