Anda di halaman 1dari 16

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013/2014



MODUL : SEDIMENTASI
PEMBIMBING : Dr. Ir. Bintang Iwhan M, MT





Oleh :

Kelompok : IV (Susulan)
Nama : Fifin Muafiyah ,(121424013)
Kelas : 2A





PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2014

Praktikum : 20 Mei 2014
Penyerahan : 28 Mei 2014
(Laporan)
SEDIMENTASI
I. TUJUAN

Dapat menjelaskan pemisahan partikel dalam fluida menjadi fraksi masing-masing,
berdasarkan kecepatan pengendapan (kecepatan terminal) dengan proses sedimentasi
Menghitung kecepatan terminal dengan perhitungan slope garis singgung

II. LANDASAN TEORI
Sedimentasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk memisahkan/mengendapkan
zat-zat padat atau tersuspensi non koloidal dalam air. Pengendapan dapat dilakukan dengan
memanfaatkan gaya gravitasi. Cara yang sederhana adalah dengan membiarkan padatan
mengendap dengan sendirinya. Setelah partikel - partikel mengendap maka air yang jernih
dapat dipisahkan dari padatan yang semula tersuspensi di dalamnya. Cara lain yang lebih
cepat dengan melewatkan air pada sebuah bak dengan kecepatan tertentu sehingga padatan
terpisah dari aliran air tersebut dan jatuh ke dalam bak pengendap. Kecepatan pengendapan
partikel yang terdapat di air tergantung pada berat jenis, bentuk dan ukuran partikel,
viskositas air dan kecepatan aliran dalam bak pengendap. Pada dasarnya terdapat dua jenis
alat sedimentasi yaitu jenis rectangular dan jenis circular. Proses sedimentasi dapat
dikelompokkan dalam tiga klasifikasi, bergantung dari sifat padatan di dalam suspensi:
1. Discrete (free settling)
pengendapan dari partikel-partikel discrete adalah dipegaruhi oleh gravitasi dan gaya
geser.
2. Flocculent
Kecepatan pengadukan dari partikel-partikel meningkat, dengan setelah adanya
penggabungan diantaranya.
3. Hindered/Zone settling
Kecepatan pengendapan dari partikel-partikel di dalam suspensi dengan konsentrasi
padatan melebihi 500 mg/l.

Bak sedimentasi umumnya dibangun dari bahan beton bertulang dengan bentuk
lingkaran, bujur sangkar, atau segi empat. Bak berbentuk lingkaran umumnya berdiameter
10,7 hingga 45,7 meter dan kedalaman 3 hingga 4,3 meter. Bak berbentuk bujur sangkar
umumnya mempunyai lebar 10 hingga 70 meter dan kedalaman 1,8 hingga 5,8 meter. Bak
berbentuk segi empat umumnya mempunyai lebar 1,5 hingga 6 meter, panjang bak sampai 76
meter, dan kedalaman lebih dari 1,8 meter.
Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan partikel
untuk berinteraksi. Klasifikasi ini dapat dibagi ke dalam empat tipe (lihat juga Gambar 3.1),
yaitu:
Settling tipe I: pengendapan partikel diskrit, partikel mengendap secara individual dan
tidak ada interaksi antarpartikel
Settling tipe II: pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antarpartikel sehingga
ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan bertambah
Settling tipe III: pengendapan pada lumpur biologis, dimana gaya antarpartikel saling
menahan partikel lainnya untuk mengendap
Settling tipe IV: terjadi pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi
karena berat partikel

Clear Water Region

Kedalaman
Discrete settling region
Flocculant settling region

Hindered settling region

Mekanisme sedimentasi
Bila suatu slurry di endapkan dengan gaya gravitasi menjadi cairan bening dan slurry
dengan konsentrasi padatan yang tinggi, prosesnya disebut sedimentasi. Metode untuk
menentukan settling velocity dan mekanisme settling, digunakan batch settling test
menggunakan slurry dengan konsentrasi homogen dalam tabung silinder. Seperti yang
terlihat pada gambar berikut :
ho t = 0 t
1
t
n


h
1




hn


1 a 1 b 1 - c

(a) Suspensi homogen awal (original)
(b) Zone pengendapan setelah beberapa waktu
(c) Pemadatan zone D setelah zone B dan C tidak muncul, berubah menjadi cairan
bening dan padatan
(d) Kurva/grafik tinggi antar permukaan cairan bening (z) vs waktu pengendapan (t)
Pada saat awal dalam tabung silinder terdiri dari suspensi zone B yang homogen
dengan konsentrasi C0 (gambar 1-a). Partikel dalam zone B mulai mengendap dengan laju
homogen dan muncul cairan bening zone A (gambar 1-b). Penurunan tinggi z konstan. Zone
D mulai muncul. Setelah beberapa waktu zone B makin berkurang, di atas zone B cairan
bening zone A makin bertambah, di bawah zone B muncul lapisan transisi C ( zone antara B
dan D ) dan zone D makin bertambah. Setelah pengendapan berakhir zone B dan C tidak
muncul lagi (gambar 1-c). Terjadi pemadatan zone D dengan ketebalan zone D dan tinggi
cairan bening zone A makin bertambah.

Perhitungan Terminal Settling Velocity
Pada gambar 1-d adalah grafik/kurve tinggi cairan bening antar permukaan (z) di plot
terhadap waktu pengendapan (t). Ditunjukan bahwa settling velocity, dimana slope dari garis,
pertama konstan, sampai pada titik kritis C. Settling velocity dihitung dari gambar koefisien
arah dari garis singgung pada gambar-d, pada saat t1, maka dz/dt = v1. Pada titk dengan
tinggi z1 dan zi intersep dari garis singgung kurve :




Konentrasi c1 adalah konsntrasi rata-rata suspensi pada tinggi slurry zi, dapat di hitung
dari :


Dimana c0 = konsentrasi awal slurry kg/m3 dan z0 tinggi awal slurry (pada t = 0 )
Rumus-rumus untuk menghitung terminal settling velocity partikel di dalam fluida :
a. Pengendapan di zone laminar





b. Pengendapan di zone transisi




Cd = 0,44 s/d 24/NRe

c. Pengendapan di zone turbulen




Cd = 0,44

Dimana : g = percepatan gravitasi
Dp = diameter partikel
= densitas fluida
p = densitas partikel
CD = koefisien gerak
= viskositas fluida

III. PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan Bahan yang diperlukan
Gelas kimia 1 L (3 buah)
Gelas Ukur 1 L (3 buah)
Spatula
Ember
Ayakan
Viskometer
Neraca teknis
Piknometer
Aquades
Kapur
Kertas timbang

3.2 Diagram Alir Kerja


3.3 Data Pengamatan
Diameter tabung : 6,6 cm
Tinggi tabung untuk 100 mL : 3 cm
Siapkan larutan kapur dengan berbagai
konsentrasi (2%, 5%, 7%, 9% dan 11%)
dalam gelas kimia 1 L
Ukur viskositas dan densitas
masing-masing larutan
Masukkan masing-masing
larutan dalam gelas ukur 1 L
Amati waktu pengendapan
masing-masing larutan
Catat waktu pengendapan
partikel setiap 100 mL
Berat piknometer kosong : 29,01 gr
Berat piknometer + air : 52,19 gr
Berat air : 23,18 gr
Volume aquades : 23,18 ml
Faktor finder : 1000 (2;8)
Kecepatan Viskometer : 50 rpm
Konsentrasi
Larutan
Berat Piknometer +
Larutan Kapur
2 % 52,48
5% 52,78
7% 53,10
9% 53,27
11% 53,66

Konsentrasi
Larutan
Viskositas yang
Terbaca oleh Alat
2 % 3,7
5% 4,2
7% 4,4
9% 4,7
11% 5,0





















IV. PENGOLAHAN DATA
Perhitungan densitas Larutan
Konsentrasi
Larutan
Berat Piknometer +
Larutan Kapur
Berat Larutan
Kapur
Densitas Larutan
(


)
2 % 52,48
23,47 1,012511
5% 52,78
23,77 1,025453
7% 53,10
24,09 1,039258
9% 53,27
24,26 1,046592
11% 53,66
24,65 1,063417

Perhitungan Viskositas Larutan
Konsentrasi
Larutan
Viskositas yang
Terbaca oleh Alat
Viskositas Larutan
(cp)
2 % 3,7
29,6
5% 4,2
33,6
7% 4,4
35,2
9% 4,7
37,6
11% 5,0
40


Tinggi
(cm)
Waktu (detik)
CaCO3 2% CaCO3 5% CaCO3 7% CaCO3 9% CaCO3 11%
30 0 0 0 0 0
27 17 136 165 145 184
24 80 315 270 305 399
21 186 342 484 500 570
18 268 500 610 632 770
15 344 642 731 780 970
12 410 738 875 965 1154
9 484 808 1055 1130 1353
6 548 930 1200 1210 -
3 621 1043 1223 - -

Penentuan Kecepatan Terminal CaCO
3
2%

Kecepatan Terminal
V = -

= -0,040
V = 0,040 cm/det
V = 4.10
-4
m/det

Penentuan Kecepatan Terminal CaCO
3
5%
y = -0.0407x + 28.545
R = 0.9932
0
5
10
15
20
25
30
35
0 200 400 600 800
T
i
n
g
g
i

(
c
m
)

Waktu (detik)
Tinggi Permukaan Vs Waktu (CaCO3 2%)
Tinggi Permukaan Vs
Waktu
Linear (Tinggi
Permukaan Vs Waktu)

Kecepatan Terminal
V = -

= -0,026
V = 0,026 cm/det
V = 2,6.10
-4
m/det
Penentuan Kecepatan Terminal CaCO
3
7%

Kecepatan Terminal
V = -

= -0,020
V = 0,020 cm/det
V = 2,0.10
-4
m/det

Penentuan Kecepatan Terminal CaCO
3
9%
y = -0.0262x + 30.795
R = 0.9923
0
5
10
15
20
25
30
35
0 500 1000 1500
T
i
n
g
g
i

(
c
m
)

Waktu (detik)
Tinggi Permukaan Vs Waktu (CaCO3 5%)
Tinggi Permukaan Vs
Waktu (CaCO3 5%)
Linear (Tinggi
Permukaan Vs Waktu
(CaCO3 5%))
y = -0.0209x + 30.342
R = 0.9925
0
5
10
15
20
25
30
35
0 500 1000 1500
T
i
n
g
g
i

(
c
m
)

Waktu (detik)
Tinggi Permukaan Vs Waktu (CaCO3 7%)
Tinggi Permukaan Vs
Waktu (CaCO3 7%)
Linear (Tinggi
Permukaan Vs Waktu
(CaCO3 7%))

Kecepatan Terminal
V = -

= -0,019
V = 0,019 cm/det
V = 1,9.10
-4
m/det

Penentuan Kecepatan Terminal CaCO
3
11%

Kecepatan Terminal
V = -

= -0,015
V = 0,015 cm/det
V = 1,5.10
-4
m/det

Grafik konsentrasi CaCO
3
terhadap kecepatan terminal
y = -0.0191x + 30.026
R = 0.9968
0
5
10
15
20
25
30
35
0 500 1000 1500
T
i
n
g
g
i

(
c
m
)

Waktu(detik)
Tinggi Permukaan Vs Waktu (CaCO3 9%)
Tinggi Permukaan Vs
Waktu (CaCO3 9%)
Linear (Tinggi
Permukaan Vs Waktu
(CaCO3 9%))
y = -0.0155x + 29.976
R = 0.9998
0
5
10
15
20
25
30
35
0 500 1000 1500
T
i
n
g
g
i

(
c
m
)

Waktu (detik)
Tinggi Permukaan Vs Waktu (CaCO3 11%)
Tinggi Permukaan Vs
Waktu (CaCO3 11%)
Linear (Tinggi
Permukaan Vs Waktu
(CaCO3 11%))
V (m/det)
C (%)
0,0004
2
0,00026
5
0,0002
7
0,00019
9
0,00015
11



V. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini praktikan melakukan proses sedimantasi.
Sedimentasi merupakan suatu operasi yang mengurangi daya angkut dan daya
angkat air yang mengalir sehingga zat-zat tersuspensi dapat terendapkan oleh gaya
gravitasi dan endapan yang telah terjadi tidak terangkat kembali ke atas.
Praktikum sedimantasi ini bertujuan untuk dapat menjelaskan pemisahan partikel
dalam fluida menjadi fraksi masing-masing, berdasarkan kecepatan pengendapan
(kecepatan terminal) dengan proses sedimentasi, menjelaskan pemisahan
campuran partikel padat dengan mengggunakan fluida menjadi fraksi-fraksi murni
dan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan pengendapan (kecepatan
terminal) dengan proses sedimentasi serta menghitung kecepatan terminal dengan
perhitungan slope garis singgung.
y = -34031x + 14.968
R = 0.9066
0
2
4
6
8
10
12
0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005
k
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

(
%
)

Kecepatan (m/s)
Konsentrasi CaCO3 Vs Kecepatan Terminal
Konsentrasi CaCO3 Vs
Kecepatan Terminal
Linear (Konsentrasi
CaCO3 Vs Kecepatan
Terminal)
Percobaan sedimentasi ini merupakan suatu operasi yang mengurangi daya
angkut dan daya angkat air yang mengalir sehingga zat-zat tersuspensi dapat
terendapkan oleh gaya gravitasi dan endapan yang telah terjadi tidak terangkat
kembali ke atas. Proses sedimentasi kali ini dilakukan dengan sangat sederhana.
Kapur (CaCO
3
) yang dilarutkan dalam air disimulasikan sebagai limbah cair yang
akan diendapkan padatan terlarutnya. Larutan kapur dengan berbagai konsentrasi
(2%, 5%, 7%, 9% dan 11%) kemudian diendapkan dalam gelas ukur dan diamati
perubahan tinggi padatan yang mengendap terhadap waktu. Sebelum dilakukan
proses sedimentasi, larutan kapur terlebih dahulu diukur viskositas dan
densitasnya. Besar viskositas dan densitas larutan kapur berbanding lurus dengan
konsentrasinya. Semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula densitas dan
viskositasnya.
Dari data pengamatan yang praktikan catat, maka diperoleh kurva tinggi
permukaan padatan terhadap waktu. Slope yang didapat dari kurva tersebut
merupakan kecepatan terminal dari masing-masing proses sedimentasi yang
dilakukan untuk setiap konsentrasinya. Pada sampel 1 (CaCO
3
2%) kecepatan
terminalnya sebesar 4.10
-4
m/det, sampel 2 (CaCO
3
5%) kecepatan terminalnya
sebesar 2,6.10
-4
m/det, sampel 3 (CaCO
3
7%) kecepatan terminalnya sebesar
2,0.10
-4
m/det, sampel 4 (CaCO
3
9%) kecepatan terminalnya sebesar 1,9.10
-4

m/det, dan sampel 5 (CaCO
3
11%) kecepatan terminalnya sebesar 1,5.10
-4
m/det.
Kecepatan terminal larutan kapur berbanding terbalik dengan konsentrasi.
Semakin tinggi kecepatan terminal suatu larutan maka semakin kecil konsentrasi
larutan tersebut. Karena semakin kecil konsentrasi maka waktu yang dibutuhkan
untuk melakukan pengendapan semakin cepat. Akan tetapi, waktu pengendapan
ataupun kecepatan terminal dapat diperbesar dengan penambahan koagulan pada
larutan yang akan dilakukan proses pengendapan (sedimentasi). Contoh dari
koagulan tersebut yaitu tawas. Dari pengolahan data yang praktikan buat,
diperoleh kurva yang menunjukkan bahwa konsentrasi berbanding terbalik dengan
kecepatan terminal , yaitu sebagai berikut :

Dibandingkan dengan kelompok sebelumnya, proses pengendapan yang
dilakukan oleh kelompok ini relatif lebih lama. Hal ini disebabkan karena
perbedaan penggunaan bahan pelarut yang digunakan. Kelompok ini
menggunakan aquades sebagai pelarut dari kapur, sedangkan kelompok
sebelumnya menggunakan air keran sebagai pelarut.

y = -34031x + 14.968
R = 0.9066
0
2
4
6
8
10
12
0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005
k
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

(
%
)

Kecepatan (m/s)
Konsentrasi CaCO3 Vs Kecepatan Terminal
Konsentrasi CaCO3 Vs
Kecepatan Terminal
Linear (Konsentrasi
CaCO3 Vs Kecepatan
Terminal)
VI. KESIMPULAN
Kecepatan terminal dari masing-masing konsentrasi larutan adalah sebagai
berikut :
V (m/det) C (%)
0,0004 2
0,00026 5
0,0002 7
0,00019 9
0,00015 11

Kecepatan terminal larutan kapur berbanding terbalik dengan konsentrasi,
semakin besar konsentrasi maka semakin kecil kecepatan terminalnya. Hal
ini dapat dibuktikan dengan kurva sebagai berikut :


VII. DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, C., Transport Process and Unit Operation. Third Edition Prentice-
Hall Inc Englewood Clifts, New Jarsey, 1993.



y = -34031x + 14.968
R = 0.9066
0
2
4
6
8
10
12
0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005
k
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

(
%
)

Kecepatan (m/s)
Konsentrasi CaCO3 Vs Kecepatan Terminal
Konsentrasi CaCO3 Vs
Kecepatan Terminal
Linear (Konsentrasi
CaCO3 Vs Kecepatan
Terminal)