Anda di halaman 1dari 13

3 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Model Permukaan Digital
Konsep pembuatan model-model digital untuk permukaan tanah belum
terlalu lama ditemukan. Penggunaan istilah model permukaan digital baru
dipopulerkan oleh (dua orang) engineer Amerika Serikat (Miller dan La
Flamme) yang bekerja di laboratorium Fotogrametri MIT (Massachusetts Institute
of Technology) di akhir tahun 1950-an. Walaupun demikian, pada saat ini,
model permukaan digital telah memiliki pengertian detil yang beragam dan sering
dideskripsikan di dalam beberapa literatur dengan menggunakan kalimat- kalimat
baik yang masih bersifat umum maupun yang sudah cenderung definitif (relatif
detil). Oleh karena itu, walaupun pengertiannya secara umum dapat dikerucutkan,
tetapi teks atau clause-nya masih saja bervariasi. Sebagai contoh berikut ini
adalah beberapa deskripsi diantaranya (Prahasta, 2008).
1. Model kuantitatif (numerik) permukaan tanah (topografi)
aspek ketinggian dalam bentuk digital.
2. Merupakan data topografi (khususnya aspek ketinggian permukaan
bumi atau terrain features) dalam format dijital beserta beberapa
produk turunannya (slope dan aspect).
3. Merupakan sekumpulan (hasil) pengamatan data ketinggian di
beberapa lokasi yang terdistribusi di atas permukaan bumi.
4. Merupakan representasi statistik diwakili oleh sejumlah besar titik-
titik yang dipilih dan koordinat tiga dimensinya (x, y, z)
diketahui atau dihitung permukaan kontinyunya.
5. Sekumpulan titik-titik yang diketahui koordinat ruangnya (x, y, z)
yang diharapkan dapat mewakili karakteristik suatu permukaan fisik
(tanah/bumi) tiga dimensi.

4 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

Sebagaimana deskripsinya yang beragam, bahasan yang beragam, di
dalam banyak literatur sering pula dirujuk dengan menggunakan beberapa istilah
yang berbeda. Istilah-istilah yang dimaksud diantaranya adalah: digital terrain
model (DTM), digital elevation model (DEM), digital terrain data (DTD), digital
terrain elevation data (DTED), digital ground model (DGM), digital surface
model (DSM). Berikut definisi dari DTM, DEM, dan DSM :

2.1.1. Digital Terrain Model (DTM)
Untuk merepresentasikan suatu model permukaan, distribusi titik-titik
data yang bersangkutan juga perlu diperhitungkan. Titik-titik data ini harus
berjumlah cukup dan distribusinya sesuai dengan detil permukaan yang akan
dipresentasikannya. Sehubungan dengan ini, dilihat dari polanya, pengambilan
data DTM dapat dikelompokkan menjadi dua jenis menurut Tempfli (1976): (1)
irregular, dan (2) regular.
1. DTM Irregular.
Pada DTM irregular, titik-titik data dipilih oleh pengamat berdasarkan
prioritas objek atau unsur di dalam pandangan visualnya. Titik-titik data
yang diambil cenderung merupakan titik-titik yang menggambarkan
perubahan permukaan bumi. DTM irregular ini, dikelompokkan lagi
menjadi 2 bagian: DTM acak dan DTM kontur (Tempfli, 1976). Berikut
ini adalah penjelasan dari DTM acak dan DTM kontur.
DTM Acak
Pada umumnya DTM seperti ini didapat langsung dari hasil pengukuran
di lapangan atau survey terestris sebagaimana halnya pembuatan peta
situasi berkontur. Pada DTM ini, antara titik-titik sample kemungkinan
besar tidak terdapat selang atau jarak yang teratur. Selain itu, pada kasus
survey terestris, surveyor tidak perlu memfokuskan diri pada jarak-jarak
di antara titik-titik sample-nya. Surveyor memfokuskan atas dasar
kemampuan visualnya dalam melihat dan memilih unsur-unsur adalah

5 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

pengambilan titik-titik sample yang sekiranya merupakan titik-titik
dimana perubahan bentuk topografinya cukup menonjol dan bersifat
representatif atau titik-titik dimana perubahan dimulai (Tempfli, 1976).
DTM Kontur
DTM kontur juga termasuk ke dalam jenis DTM Irregular karena tidak
memiliki keteraturan jika dilihat dari sebaran planimetrisnya. Sebaran
planimetris DTM ini, pada kenyataannya, merupakan susunan koordinat
di sepanjang garis-garis kontur terkait. Susunan koordinat ini dihasilkan
dari suatu proses atau prosedur sampling dimana titik-titik tersebut
memiliki bilai bacaan ketinggian (z) yang di-set sama besar2. DTM
Regular.DTM regular adalah DTM yang (paling tidak) memiliki
sebuah komponen planimetris (baik arah absis ataupun ordinat atau
keduanya) dengan pola atau keteraturan jarak tertentu (Tempfli, 1976).
DTM ini dibagi menjadi 4 bagian: DTM grid, DTM rectangular, DTM
triangular, DTM profil. Di dalam penyajiannya DTM dapat
direpresentasikan menjadi beberapa metode sebagai berikut.

A. Representasi DTM
Pada umumnya, DTM disajikan dengan menggunakan tiga metode: garis-
garis kontur, grids, dan TIN (Tempfli, 1976). Berikut ini adalah uraian singkat
mengenai ketiga metode tersebut.
1. Garis-garis kontur
Garis-garis kontur adalah garis-garis khayal yang menghubungkan
titik-titik yang memiliki nilai ketinggian yang sama (konstan). Metode
ini merupakan bentuk representasi yang paling familiar untuk
permukaan tanah baik dalam format analog maupun dijital. Berikut ini
adalah gambaran dari garis kontur tersubut.

6 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l


Gambar 2.1 Garis-garis kontur (isoline)

2. Grids
Grids merupakan struktur matriks yang digunakan untuk merekam
relasi-relasi topologi yang terdapat di antara titik-titik data secara
implisit. Untuk mendapatkan kerapatan titik-titik grid yang regular,
dibutuhkan sejumlah besar titik-titik data untuk menyajikan
permukaan tanah dengan tingkat akurasi yang diinginkan. Sebagai
ilustrasi, berikut ini adalah contoh tampilan DTM raster based yang
nilai-nilai ketinggiannya dikelompokkan ke dalam beberapa kelas
warna.

Gambar 2.2 Tampilan DTM bentuk raster grids




7 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

3. TIN
Merupakan suatu model alternatif bagi DTM atau DEM biasa. Model
yang pertama kali dikembangkan di awal tahun 1970-an ini
merupakan cara yang sederhana dalam membangun sebuah
permukaan dijital dari sekumpulan titik-titik data yang terdistribusi
secara tidak teratur. Model ini sangat menarik karena
kesederhanaannya dan sifat ekonomisnya. Titik-titik sample yang
terdistribusi secara tidak teratur ini dapat digunakan untuk
merepresentasikan permukaan tanah dengan jumlah titik sample yang
lebih besar (rapat) untuk wilayah dengan detil yang banyak dan
bervariasi, dan jumlah titik sample yang lebih kecil untuk area dengan
jumlah detil yang minim. Pada model TIN ini, setiap titik sample
yang bersebelahan dihubungkan satu sama lain dengan garis-garis
untuk membentuk geometri segitiga-segitiga bebas tetapi non
overlapping (Tempfli, 1976). Sebagai ilustrasi, berikut adalah
contoh tampilan DTM dalam bentuk TIN yang nilai-nilai
ketinggiannya dibagi ke dalam beberapa kelas dan ditampilkan
bersama dengan lokasi-lokasi titik datanya dan garis-garisnya yang
membentuk segitiga-segitiga.


Gambar 2.3 Tampilan DTM bentuk TIN

Untuk dapat memperoleh permukaan 3D (DTM) dapat dilakukan melalui

8 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

beberapa macam metode pengukuran. Berikut adalah metodel pengukuran di
dalam DTM.
B. Metode Pengukuran DTM
Metode di dalam pengukuran DTM sangat bervariasi. Menurut
Prahasta (2008), metode-metode tersebut sebagai berikut.
1. Survei Topografi (Terrestrial)
Dengan menggunakan alat-alat ukur sipat datar atau theodelit bahkan
total station, seorang surveyor dapat memperoleh peta situasi beserta
titik-titik ketinggian (x,y,z) di beberapa lokasi yang dipilih. Data-data
titik ketinggian (bersama koordinat planimetrisnya) merupakan hasil
hitungan (plus adjusment) surveyor, atau merupakan hasil hitungan-
hitungan (plus adjusment) otomatis pada program aplikasi yang
terdapat di perangkat lunak total station-nya. Berdasarkan keberadaan
sebaran titik-titik definitif ini, baik secara manual ataupun otomatis,
pengguna dapat membentuk DTM. Metode ini sangat baik dan
memiliki akurasi tinggi, tetapi hanya efisien jika dilakukan pada area
yang relatif sempit (Prahasta, 2008).
2. Fotogrametri (Foto Udara)
Fotogrametri sangat menjanjikan produk DTM/DEM dengan kualitas
yang baik dengan detil-detil yang lengkap dan beragam dengan
jangkauan skala kecil hingga besar.
3. Satelit pengindraan jauh (remote sensing)
Metode ini dengan memperhitungkan sejmlah koreksi dan beberapa
titik kontrol dan bantuan perangkat lunak tertentu, DTM dapat
diekstrak dari stereo image yang bersangkutan. Beberapa satelit yang
dapat menghasilkan citra-citra digital yang kemdian dapat diproses
menjadi DTM adalah SPOT, ASTER, IKONOS, Quickbird, dan lain
sebagainya.

9 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l


4. Metode kartografi
DTM dibuat dengan cara melakukan dijitasi manual atau scanning
terhadap garis-garis kontur yang ada.
5. Survey hidrografi dan batimetri
Metode ini memperoleh DTM melalui pengamatan yang terdapat di
atas platform untuk mengukur kedalaman di titik-titik sample
sepanjang jalur pemeruman dengan menggunakan alat echo-sounder.
Maka pasangan koordinat definitif yang diperoleh dapat membentuk
topografi dasar laut.

2.1.2. Digital Elevation Model (DEM)
Digital Elevation Model (DEM) merupakan data dijital dengan format
raster yang memiliki informasi koordinat posisi (x,y) dan elevasi (z) pada setiap
selnya. Data ini digunakan untuk menggambarkan kondisi topografi suatu
wilayah. Data DEM dapat dibuat berdasarkan data titik tinggi (spot height) yang
dapat diperoleh dari pengolahan foto udara, citra satelit secara fotogrametri atau
citra RADAR melalui proses interferometri. Data DEM ini dapat diperoleh
dengan beberapa cara seperti dengan pengolahan berbagai peta topografi atau.
peta rupa bumi. Namun secara konvensional DEM diperoleh melalui survey
lapangan dengan menggunakan berbagai alat survey (Hajar, 2006).
DEM berbeda dengan DTM (Digital Terrain Model) dan DSM (Digital
Surface Model). DEM merupakan informasi ketinggian permukaan bumi yang
ditampilkan dengan perbedaan warna (warna hitam memperlihatkan daerah
topografi rendah, sedangkan warna putih memperlihatkan daerah topografi
tinggi), DTM merupakan informasi ketinggian dari permukaan bumi tanpa
tutupan lahan diatasnya, sedangkan DSM merupakan informasi tutupan lahan
dari permukaan bumi beserta tutupan lahan diatasnya misal, daerah perkotaan

10 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

yang memperlihatkan 3D dari gedung-gedung (Trisakti, 2006).

Gambar 2.4 Perbedaan DTM, DEM, dan DSM

Akurasi dari data ini tergantung dari sumber titik tinggi dan resolusi
spasial suatu data DEM. Apabila titik tinggi diperoleh dari garis kontur peta pada
skala 1:50.000, maka ketelitian yang diperoleh dari data DEM ini nantinya
memiliki akurasi yang tinggi dan semakin tinggi resolusi spasial yang dimiliki
suatu data DEM, maka semakin tinggi akurasi data yang dihasilkan.
(Ermapper,2004). Pengolahan data DEM menggunakan data titik atau garis
tinggi dapat dilakukan melalui proses interpolasi dengan beberapa cara seperti
Inverse Distance Weigted Spline dan Kriging (Ermapper, 2004). Data ketinggian
suatu objek dari satelit bisa didapatkan dengan beberapa metode, yaitu
diantaranya:
DEM yang dihasilkan dari interpolasi, yaitu melakukan interpolasi terhadap titik
ketinggian (dimana titik berisi informasi ketinggian Z dan koordinat XY) atau
interpolasi terhadap garis kontur untuk menghasilkan DEM. Cara kedua yaitu
dengan penurunan DEM mengunakan citra stereo, yaitu menggunakan 2 atau
lebih citra yang diperoleh dari sudut pandang yang berbeda. Dan cara lainnya
yaitu dengan Radar Interferometri (InSAR) atau teknik dimana data dari sensor
radar dari satelit penginderaan jauh (contoh: ERS, JERS-1, RadarSAT dan
PALSAR-ALOS) digunakan untuk memetakan ketinggian (topografi) dari
permukaan bumi.


11 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l


2.1.3. Digital Surface Model (DSM)
DSM merupakan informasi tutupan lahan dari permukaan bumi beserta
tutupan lahan diatasnya misal, daerah perkotaan yang memperlihatkan 3D dari
gedung-gedung (Trisakti, 2006). Berikut ini adalah gambaran mengenai digital
surface model.

Gambar 2.5 Digital Surface Model (DSM)

2.2. Unmanned Aerial Vehicle (UAV)
UAV merupakan sistem tanpa awak (Unmanned System), yaitu sistem
berbasis elektro-mekanik yang dapat melakukan misi-misi terprogram, dengan
karakteristik: (i) tanpa awak pesawat, (ii) beroperasi pada mode mandiri baik
secara penuh atau sebagian, (iii) Sistem ini dirancang untuk dapat dipergunakan
secara berulang (Department of Defence, 2007, dalam Wikantika, 2009).
Teknologi pemetaan tanpa awak menjadi pilihan alternatif disamping teknologi
pemetaan lainnya seperti pemotretan udara baik skala besar dan kecil berawak
serta pemetaan berbasis satelit. Teknologi ini sangat menjanjikan untuk
diaplikasikan dikembangkan dan sesuai karakteristik topografis dan geografis
Indonesia (Wikantika, 2009).

12 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l


Gambar 2.6 Pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV)

UAV biasanya dilengkapi dengan alat atau sistem pengendali terbang
melalui gelombang radio, navigasi presisi Ground Positioning System (GPS) dan
Pengukuran Inertial Unit), dan elektronik kontrol penerbangan, dan peralatan
kamera resolusi tinggi. UAV dapat pula dilengkapi kamera multispektral untuk
penelitian pertanian. Kamera tersebut mempunyai band merah, hijau, dan Near
Infra-Red (NIR) mendekati band 2, 3, dan 4 pada citra Landsat TM, yang dapat
digunakan untuk menghitung nilai kehijauan tanaman,seperti Normalized
Differences Vegetation Index (NDVI), Soil Adjusted Vegetation Index(SAVI), dan
kanopi tanaman. Selain itu, penelitian yang dilakukan Lin (2008) menunjukkan
bahwa sistem UAV juga memungkinkan dilengkapi dengan sensor laser untuk
menghasilkan citra tiga dimensi, sebagai pendukung pemetaan elevasi lahan,
Digital Elevation Model (DEM). Sensor laser yang berupa kamera super
bersudut lebar (super-wide-angle) dari empat digital kamera yang dirancang
khusus dan dipasang di berbagai arah sumbu optik, untuk mengmbil gambar dari
4 sudut pandang yang berbeda agar gambar yang dihasilkan overlapping untuk
dapat menghasilkan citra foto tiga dimensi.

13 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l


Gambar 2.7 Pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di Pertanian

McGeer dan Holland (1993) dalam Waugh dan Mowlem (2010)
menyebutkan salah satu jenis UAV, Aerosonde, telah dikembangkan secara
komersial sejak tahun 1993 dan diperuntukkan untuk berbagai misi ilmiah. UAV
ini dapat membawa berbagai jenis sensor (Holland, 2001) termasuk pencitraan
pankromatik, inframerah dan barometric.

2.3. Ground Control Point (GCP)
GCP (Ground Control Point) atau titik kontrol tanah adalah proses
penandaan lokasi yang berkoordinat berupa sejumlah titik yang diperlukan untuk
kegiatan mengkoreksi data dan memperbaiki keseluruhan citra yang akhirnya
disebut sebagai proses rektifikasi. GCP terdiri atas sepasang koordinat x dan y,
yang terdiri atas koordinat sumber dan koordinat referensi. Koordiant-koordinat
tersebut tidak dibatasi oleh adanya koordinat peta. Tingkat akurasi GCP sangat
tergantung pada jenis GPS yang digunakan dan jumlah contoh GCP terhadap
lokasi dan waktu pengambilan. (Darmawan, 2008).

14 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l


Gambar 2.8 Ground Control Point (GCP)

Rektifikasi merupakan suatu proses mentransformasi data dari suatu
sistem grid menggunakan transformasi grid atau proses koreksi/perbaikan
geometrik citra yang belum terkoreksi yang sudah memiliki titik titik referensi
(GCP). Rektifikasi adalah untuk membandingkan dua citra atau lebih untuk
lokasi tertentu, membangun SIG dan melakukan pemodelan spasial,
membandingkan citra dengan data spasial lainnya yang mempunyai skala yang
berbeda, membuat peta dengan skala yang teliti, meletakkan lokasi-lokasi
pengambilan training area sebelum melakukan klasifikasi, melakukan overlay
citra dengan data-data spasial lainnya, membuat mozaik citra, dan melakukan
analisis yang memerlukan lokasi geografis dengan presisi yang tepat. (Alhamlan,
2002).
Dalam pembuatan peta yang dikenal dengan istilah pemetaan dapat
dicapai dengan melakukan pengukuranpengukuran di atas permukaan bumi yang
mempunyai bentuk tidak beraturan. Kerangka dasar pemetaan untuk pekerjaan
rekayasa sipil pada kawasan yang tidak luas, sehingga bumi masih bisa dianggap
sebagai bidang datar, umumnya merupakan bagian pekerjaan pengukuran dan
pemetaan dari satu kesatuan paket pekerjaan perencanaan dan atau perancangan
bangunan. (Purwaamijaya, 2008).


15 | L a p o r a n F o t o g r a m e t r i D i g i t a l

2.4. Software Agisoft PhotoScan Profesional.
Agisoft PhotoScan Professional merupakan software pengolahan foto
udara yang dikembangkan oleh AgiSoft LLC Suport dari Rusia. Agisoft PhotoScan
Professional memungkinkan kita untuk menghasilkan orthophotos resolusi tinggi
bergeorefrensi (ketelitian sampai 5 cm dengan GCP) dengan Digital Elevation
Model yang sangat rinci. Dalam pengunaannya memungkinkan seseorang untuk
memproses ribuan foto udara pada PC/Laptop untuk menghasilkan data
fotogrametri kelas professional.