Anda di halaman 1dari 19

MELAYU DELI

Disusun Oleh:
Muhammad Novriyansyah
1041311033

Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik
Universitas Bangka Belitung
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas
berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Melayu Deli yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Bahasa
Indonesia.
Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan tugas ini.
Dalam penulisannya, saya menyadari masih banyak kekurangan
dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya berharap berbagai masukan
yang bersifat membangun dari para pembaca dan semoga makalah ini
bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Balunijuk, 27 November 2013



Penulis











i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Maslah...................................................................................................... 1
1.3 Tujuan. ....................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat. ..................................................................................................................... 2
1.5 Metode Penelitian..................................................................................................... 2
BAB II MELAYU DELI............................................................................................. 3
2.1 Wilayah dan Bahasa ............................................................................................... 3
2.2 Sosial Budaya. .......................................................................................................... 4
2.3 Sejarah ....................................................................................................................... 5
2.3.1 Silsilah Raja.................................................................................................... 8
2.3.2 Periode Pemerintahan .................................................................................. 9
2.3.3 Kehidupan Sosial Budaya. ........................................................................... 9
2.4 Situs Peninggalan................................................................................................... 11
2.4.1 Istana Maimun.............................................................................................. 11
2.4.2 Masjid Raya Al-Mashun Medan. ............................................................... 12
BAB III PENUTUP ................................................................................................ 14
3.1 Simpulan. ................................................................................................................. 14
3.2 Saran ........................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 16



ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Budaya merupakan simbol peradaban. Apabila sebuah budaya
luntur dan tidak lagi dipedulikan oleh sebuah bangsa, peradaban bangsa
tersebut tinggal menunggu waktu untuk punah.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan
memiliki keberagaman suku, agama, ras, budaya dan bahasa daerah.
Indonesia meliliki lebih dari 300 suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki
kebudayaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Budaya dari suku negara Indonesia banyak diakui oleh negara lain
sebagai suku negara mereka penyebabnya tidak lain karena rendah
pengetahuan serta sedikitnya minat untuk mengetahui budaya sendiri.
Modernisasi membuat budaya bahkan suku asli di kota-kota besar
mulai dilupakan termasuk di kota Medan. Daerah yang didominasi suku
Batak tersebut mulai melupakan salah satu suku yang membangun kota
besarnya itu yaitu Suku Melayu Deli.
Oleh karena itu, dalam makalah ini saya mengangkat masalah suku
Melayu Deli. Dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuan, saya mencoba
merangkum berbagai tulisan yang berkaitan dengan suku Melayu dari
berbagai sumber.




1
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Dimana tempat kediaman suku Melayu ?
2. Bagaimana ciri khas dan adat suku Melayu Deli?
3. Bagaimana kehidupan sosial dan budaya suku Melayu Deli?
4. Bagaimana sejarah suku Melayu Deli?
5. Apa saja situs peninggalan dari Kerajaaan Suku Melayu Deli?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini, antara lain :
1. Mengetahui kediaman penduduk suku Melayu Deli.
2. Mengetahui ciri khas dan adat suku Melayu.
3. Mengetahui kehidupan sosial dan budaya suku Melayu Deli.
4. Mengetahui sejarah suku Melayu Deli.
5. Mengetahui situs peninggalan kerajaan Deli.

1.4 Manfaat
Mengenalkan Budaya Nusantara, diharapkan masyarakat
Indonesia bisa mengerti akan keanekaragaman suku, budaya, dan adat
istiadat yang ada di Indonesia. Sehingga masyarakat kita dapat menyadari
kekayaan yang ada di Indonesia ini dan mau ikut melestarikannya.,
terutama suku Melayu Deli yang merupakan suku yang tidak diperhatikan
lagi oleh masyarakat luas seta tidak banyak yang mengetahui bahwa suku
Melayu Deli adalah suku asli penduduk Medan dan Deli Serdang.

1.5 Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, saya
mencari bahan dan sumber-sumber dari media massa elektronik yang
berjangkau yaitu internet.

2
BAB II
MELAYU DELI
2.1 Wliayah dan Bahasa
Suku Melayu Deli adalah salah satu suku melayu yang mendiami
kabupaten Deli Serdang. Penyebaran meliputi kota Medan, Deli Tua,
daerah pesisir, pinggiran sungai Deli dan Labuhan. Di kota Medan suku
Melayu Deli banyak menempati daerah pinggiran kota. Populasi suku
Melayu diperkirakan lebih dari 2 juta orang.
Suku Melayu Deli berbicara dalam bahasa Melayu Deli. Sekilas
bahasa Melayu Deli mirip dengan bahasa Indonesia dengan logat melayu
yang kental dan pengucapan yang lebih singkat dan cepat. Pada
beberapa tempat, bahasa Melayu Deli menggunakan dialek 'e', mirip
dengan bahasa Maye-Maye dan bahasa Malaysia.
Bahasa Melayu Deli, memiliki sub-bahasa di kota Medan yang
berkembang menjadi salah satu dialek bahasa Melayu, yaitu bahasa
Medan. Bahasa Medan pada dasarnya sama dengan bahasa Melayu Deli,
namun banyak menyerap bahasa-bahasa lain, seperti dari bahasa Batak
Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, China, India, Arab, Minangkabau,
Inggris, Belanda dan lain-lain. Sedangkan logat bahasa Medan banyak
dipengaruhi logat batak, sehingga logatnya terdengar semi melayu dan
semi batak.
Dalam kesusasteraan Melayu Deli, terlihat adanya pengaruh ajaran
Hindu dan Budha, yang terlihat dari patung-patung yang mempunyai
tulisan aksara "nagari" atau "kawi." Pengaruh budaya Hindu juga terlihat
dalam "Hikayat Sri Rama", "Hikayat Perang Pandawa Jaja" dan "Hikayat
Sang Boma". Masyarakat Melayu Deli terkenal dengan seni berpantun
Melayu yang terkenal sampai saat ini. Dalam berpantun digunakan untuk
mengungkap isi hati mereka, karena orang Melayu umumnya segan
3
menyatakan sesuatu secara terus terang sehingga harus menggunakan
isyarat, perumpamaan atau kiasan yang terwujud dalam pantun tersebut.
Suku Melayu Deli ini juga memiliki teater tradisional, yaitu Makyong,
sayangnya teater tradisional Melayu Deli ini, sekarang sudah jarang
terdengar. Selain itu ada seni tari Main Lukah Menari, semacam tarian
bersifat magis dengan memakai Lukah (semacam orang-orangan) dan
membawakan nyanyian yang berisi mantra-mantra.

2.2 Sosial Budaya
Suku Melayu Deli mendiami Kabupaten Deli serdang, Kotamadya
Medan, Propinsi Sumatera Utara. Orang Melayu Deli banyak tinggal di
daerah pesisir dan juga pinggiran sungai Deli dan Labuhan. Mereka
tersebar di berbagai tempat di pinggiran kota.
Bahasa mereka adalah bahasa Melayu Deli. Kesusasteraan Melayu
Deli menganut ajaran Hindu dan Budha, yang terlihat dari patung-patung
yang mempunyai tulisan aksara "nagari" atau "Kawi." Pengaruh budaya
Hindu juga terlihat dalam "Hikayat Sri Rama", "Hikayat Perang Pandawa
Jaja" dan "Hikayat Sang Boma", dll. Mereka senang dengan seni bahasa
berpantun Melayu yang terkenal sampai saat ini. Berpantun ini juga
mereka gunakan untuk mengungkapkan isi hati mereka, karena orang
Melayu umumnya segan menyatakan sesuatu secara terus terang
sehingga harus menggunakan isyarat, perumpamaan, kiasan yang
terwujud dalam pantun tersebut. Seni budaya lainnya adalah seni teater
tradisional Makyong dan tari Main Lukah Menari, yaitu suatu pertunjukan
bersifat magis dengan memakai Lukah (semacam orang-orangan) dan
membawakan nyanyian bersifat mantera.
Mata pencaharian suku Melayu Deli adalah bercocok tanam
dengan metode tradisional, menangkap ikan, berdagang dan ada juga
4
yang menjadi pegawai pemerintah. Di daerah mereka juga terdapat
perkebunan tembakau, teh, karet, kelapa sawit coklat yang dimiliki oleh
pemerintah dan swasta asing. Perkebunan ini dikelola dengan teknologi
modern.
Suku Melayu Deli terdiri atas dua golongan besar, yaitu golongan
atas atau asal bangsawan (aristokrasi) dan golongan rakyat jelata. Ditinjau
dari segi status terbagi sebagai berikut : Golongan aristokrasi yang paling
atas memerintah ialah raja dan anak-anak raja (Tengku). Lapisan di
bawahnya ialah turunan pembesar daeran (Wan, Orang Kaya, Datuk
Muda) dan golongan rakyat biasa turunan pembesar di kampung,
golongan ulama, cerdik pandai, dsb.
Rumah adat suku Melayu Deli, sepeti suku Melayu lainnya, berdiri
di atas tiang-tiang setinggi kurang lebih 2 m dari atas tanah. Jumlah tiang
menunjukkan martabat pemiliknya. Pola hidup kekeluargaannya ilah
parental/bilateral yang menurut mereka sesuai dengan agama Islam.
Perempuan dan laki-laki memiliki hal yang sama dalam keluarga,
sehingga laki-laki memilki hak yang sama dalam keluarga, sehingga laki -
laki tidak memiliki hak warisan 100% tapi wanita juga akan memperoleh
sebagian hak warisan itu.

2.3 Sejarah
Di daerah Sumatera Utara, ada dua kerajaan atau kesultanan
Melayu yang terkenal, yaitu Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang.
Kesultanan yang pertama kali berdiri adalah Deli. Dalam
perkembangannya, kemudian terjadi friksi dan konflik internal antara
keluarga raja dalam kesultanan Deli tersebut. Akibatnya, muncul
kemudian kesultanan baru yang memisahkan diri dari Deli, yaitu Serdang.
Berdasarkan garis asal-usul ini, maka sebenarnya kedua kerajaan ini
5
pada awalnya adalah satu, dan Serdang tak lebih dari pecahan
Kesultanan Deli.
Sejarah berdirinya kesultanan Deli bisa dirunut dari Kerajaan Aceh.
Menurut riwayat, seorang Laksamana dari Kerajaan Aceh bernama Sri
Paduka Gocah Pahlawan, bergelar Laksamana Khoja Bintan, bersama
pasukannya pergi memerangi Kerajaan Haru di Sumatera Timur pada
tahun 1612 M. dan berhasil menaklukkan kerajaan ini. Pada tahun 1630,
ia kembali bersama pasukannya untuk melumpuhkan sisa-sisa kekuatan
Haru di Deli Tua. Setelah seluruh kekuasaan Haru berhasil dilumpuhkan,
Gocah Pahlawan kemudian menjadi penguasa daerah taklukan tersebut
sebagai wakil resmi Kerajaan Aceh, dengan wilayah membentang dari
Tamiang hingga Rokan. Dalam perkembangannya, atas bantuan Kerajaan
Aceh, Gocah Pahlawan berhasil memperkuat kedudukannya di Sumatera
Timur dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di daerah
tersebut.
Gocah Pahlawan menikah dengan adik Raja Urung (negeri)
Sunggal yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti. Sunggal
merupakan sebuah daerah Batak Karo yang sudah masuk Melayu (sudah
masuk Islam). Di daerah tersebut, ada empat Raja Urung Batak Karo yang
sudah masuk Islam. Kemudian, empat Raja Urung Raja Batak tersebut
mengangkat Laksamana Gocah Pahlawan sebagai raja di Deli pada tahun
1630 M. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan
Laksamana Gocah Pahlawan menjadi Raja Deli pertama. Dalam proses
penobatan Raja Deli tersebut, Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulon
Janji, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat
kepada raja. Kemudian terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat, dan
Raja Urung Sunggal merupakan salah seorang anggota Lembaga Datuk
Berempat tersebut.
6
Pada tahun 1669, Deli memisahkan diri dari Kerajaan Aceh,
memanfaatkan situasi Aceh yang sedang melemah karena dipimpin oleh
raja perempuan, Ratu Taj al-Alam Tsafiah al-Din. Setelah Gocah
Pahalwan meninggal dunia, ia digantikan oleh anaknya, Tuanku Panglima
Perunggit yang bergelar Kejeruan Padang. Tuanku Panglima Perunggit
memerintah hingga tahun 1700 M.
Dalam perkembangannya, pada tahun 1723 M terjadi kemelut
ketika Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3 mangkat. Kemelut ini
terjadi karena putera tertua Raja yang seharusnya menggantikannya
memiliki cacat di matanya, sehingga tidak bisa menjadi raja. Putera nomor
2, Tuanku Pasutan yang sangat berambisi menjadi raja kemudian
mengambil alih tahta dan mengusir adiknya, Tuanku Umar bersama
ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang.
Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar yang seharusnya
menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli , karena ia putera garaha
(permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena
masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Untuk
menghindari agar tidak terjadi perang saudara, maka 2 Orang Besar Deli,
yaitu Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembal, bersama seorang
Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong
Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu), lalu
merajakan Tuanku Umar sebagai Raja Serdang pertama tahun 1723 M.
Sejak saat itu, berdiri Kerajaan Serdang sebagai pecahan dari
Kerajaan Deli. Demikianlah, akhirnya Kesultanan Deli terpecah menjadi
dua: Deli dan Serdang.
Pada tahun 1780, Deli kembali berada dalam kekuasaan Aceh.
Tidak banyak catatan yang menjelaskan situasi dan kondisi Deli selama
lepas dari kekuasaan Aceh. Ketika Sultan Osman Perkasa Alam naik tahta
pada tahun 1825, Kesultanan Deli kembali menguat dan melepaskan diri
7
untuk kedua kalinya dari kekuasaan Aceh. Negeri -negri kecil sekitarnya
seperti Buluh Cina, Sunggal, Langkat dan Suka Piring ditaklukkan dan
menjadi wilayah Deli. Namun, independensi Deli dari Aceh tidak
berlangsung lama, pada tahun 1854, Deli kembali ditaklukkan oleh Aceh,
dan Raja Osman Perkasa Alam diangkat sebagai wakil kerajaan Aceh.
Setelah Raja Osman meninggal dunia pada tahun 1858, ia digantikan oleh
Sultan Mahmud Perkasa Alam yang memerintah dari tahun 1861 hingga
1873. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud ini, ekspedisi Belanda I
yang dipimpin oleh Netcher datang ke Deli.

2.3.1 Silsilah Raja
Urutan raja yang berkuasa di Deli adalah:
a) Sri Paduka Gocah Pahlawan (1632-1653)
b) Tuanku Panglima Perunggit (1653-1698)
c) Tuanku Panglima Paderap (1698-1728)
d) Sultan Panglima Gendar Wahid (1728-1761)
e) Tuanku Panglima Amaludin (1761-1824)
f) Sultan Osman Perkasa Alam (1824-1857)
g) Sultan Amaludin Mahmud Perkasa Alam Syah (1857-1873)
h) Sultan Mahmud al-Rasyid Perkasa Alam Syah (1873-1924)
i) Sultan Amaludin II Perkasa Alam Syah (1925-1945)
j) Sultan Osman II Perkasa Alam Syah (1945-1967)
k) Sultan Azmi Perkasa Alam Syah (1967-1998)
l) Sultan Osman III Mahmud Mamun Paderap Perkasa Alam Syah
(1998-2005)
m) Sultan Mahmud Arfa Lamanjiji Perkasa Alam Syah (2005-sekarang)


8
2.3.2 Periode Pemerintahan
Kerajaan Deli berdiri sejak paruh pertama abad ke-17 M, hingga
pertengahan abad ke-20, ketika bergabung dengan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Selama rentang masa yang cukup panjang tersebut,
kerajaan Deli mengalami masa pasang surut silih berganti. Selama dua
kali, Deli berada di bawah taklukan kerajaan Aceh. Ketika kerajaan Siak
menguat di Bengkalis, Deli menjadi daerah taklukan Siak, kemudian
menjadi daerah taklukan penjajah Belanda. Dan yang terakhir, Deli
bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.3.3 Kehidupan Sosial-Budaya
Penulisan sejarah yang terlalu berorientasi politik, dengan titik fokus
raja, keluarganya dan para pembesar istana menyebabkan sisi kehidupan
sosial masyarakat awam jadi terlupakan. Oleh karena itu, bukanlah
pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan data mengenai kehidupan
sosial-budaya pada suatu kerajaan secara lengkap. Kehidupan sosial
budaya berikut inipun sebenarnya tidak lepas dari pusat kekuasaan:
sultan dan keluarganya.
Sejarah telah lama mencatat bahwa, ketika Belanda menguasai
Sumatera Timur, perkebunan tembakau dibuka secara luas. Tak ada yang
menduga bahwa, dalam perkembangannya di kemudian hari, ternyata
tembakau Deli ini sangat disukai di negeri yang menjadi jantung
kolonialisme dunia: Eropa. Berkat perkebunan tembakau tersebut, sultan
Deli yang berkerjasama dengan Belanda dalam membuka dan mengelola
lahan perkebunan kemudian menjadi kaya raya.
Dengan kekayaan yang melimpah ini, para sultan kemudian hidup
mewah dan glamour dengan membangun istana yang mewah dan indah,
membeli kuda pacu, mobil mewah dan sekoci pesiar, serta mengadakan
9
berbagai pesta untuk menyambut para tamunya yang kebanyakan datang
dari Eropa. Saksi bisu kekayaan tersebut adalah Masjid Raya al-Mashun
Medan dan Istana Deli yang masih berdiri megah di kota Medan hingga
saat ini.
Berbeda dengan kehidupan para keluarga istana, masyarakat
awam tetap hidup apa adanya, dengan menggantungkan sumber
ekonominya dari perladangan yang sederhana. Ketika komoditas
tembakau sedang meledak di pasar Eropa, para petani tradisional
tersebut banyak yang berpindah menanam tembakau, sehingga petani
padi jadi berkurang. Komoditas pertanian lain yang banyak ditanam
masyarakat adalah kopi, karet, cengkeh dan nenas. Tidak semua orang
Deli menjadi petani, sebagian di antara mereka juga ada yang menjadi
buruh tani di perkebunan tembakau bersama orang-orang Jawa dan Cina.
Dalam sistem kekerabatan, orang Deli lebih dominan menganut
sistem patrilineal. Hal ini bisa dilihat dari kecenderungan para pasangan
muda untuk mendirikan rumah di dekat lingkungan keluarga suami,
terutama ketika pasangan muda tersebut telah dikarunia anak. Jika belum
memiliki rumah dan anak, pasangan muda tersebut biasanya lebih sering
tinggal bersama keluarga perempuan. Dari kenyataan ini, sebenarnya
pola kekerabatan matrilineal dan patrilineal telah diterapkan dengan cukup
seimbang oleh masyarakat Deli.

2.4 Situs Peninggalan
Berikut situs-situs peninggalan dari kerajaan Deli :
2.4.1 Istana Maimun
Istana Maimun merupakan salah satu bangunan warisan budaya
Melayu yang didesain oleh arsitek Negeri Pizza dan selesai pada 25
Agustus 1888 M di masa kekuasaan Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa
Alamsyah. Sultan Makmun sendiri adalah putra sulung Sultan Mahmud
10
Perkasa Alam, pendiri kota Medan. Warna istana Kesultanan Deli ini di
dominasi oleh kuning yang merupakan warna khas kerajaan Melayu.
Sejak tahun 1946, istana yang dirancang oleh arsitektur Itali ini dihuni oleh
para ahli waris Kesultanan Deli. Terkadang di istana ini diadakan
pertunjukan musik tradisional Melayu yang dihelat dalam rangka
memeriahkan perkawinan dan kegiatan lainnya.
Istana Maimun ini dibangun di atas tanah seluas 2.772 m persegi di
pusat kerajaan Deli, sekarang jalan Brigjen Katamso, Medan, Sumatera
Utara. Istana ini terdiri dari dua lantai dan terbagi dalam tiga bagian,
bagian pertama bangunan induk, kemudian bagian sisi kiri dan kanan.
Istana ini menjadi daya tarik bagi wisatawan karena keunikan desainnya
yang merupakan perpaduan dari tradisi islam dan Eropa. Ruang utama
istana terdiri dari 20 kamar tidur, 4 kamar mandi, gudang, dapur dan
penjara kecil. Ruangan utama digunakan sebagai tempat sultan menerima
sembah sujud dari anggota keluarga pada hari besar Islam. Di ruangan ini
juga terdapat beberapa foto keluarga besar kesultanan Deli.
Ada hal menarik mengenai Istana Maimun ini. Di komplek istana
terdapat berbagai jenis senjata dan meriam buntung yang memiliki cerita
legenda sendiri. Orang-orang Medan menyebut meriam ini dengan
sebutan Meriam Puntung. Pada saat ini Sultan tidak lagi memiliki
kekuasaan, tapi garis keturunan tahta kesultanan masih terus berlanjut.
Sultan terakhir adalah Tengku Mahmud Aria Lamanjiji yang berkuasa
delapan tahun. Ayahnya yang bernama Alam shah Ibni Al Marhum Sultan
Azmi Perkasa tewas dalam kecelakaan pesawat ketika melakukan
pekerjaan sosial di Aceh pada tahun 2005.
2.4.2 Masjid Raya Al-Mashun Medan
Mesjid Raya Al-Mashun adalah salah satu warisan Sultan Deli di
Sumatera Utara selain Istana Maimoon. Masjid ini masih dipergunakan
11
oleh masyarakat Muslim untuk melakukan ibadah setiap hari. Beberapa
bahan bangunan untuk dekorasi masjid ini dibuat di Italia.
Sultan Mamum Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin
Kesultanan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada
tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan
rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Syaban 1329 H) sekaligus
digunakan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jumat pertama di masjid
ini. keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta
Gulden. Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan
megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang
kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan
masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan.
Pada awalnya Masjid Raya Al-Mashun di rancang oleh Arsitek
Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian
proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke
pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam
proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Sebagian bahan
bangunan diimpor antara lain: marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia,
Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari
Prancis.
JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah
simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa
dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini
menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid-masjid
kebanyakan. Di ke empat penjuru masjid masing masing diberi beranda
dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di
atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda dilengkapi dengan
pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama
masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
12
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu,
gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi
delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat
beranda serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-
jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-
kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode
1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di
dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan
lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. di
depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan
tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat
sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.
Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang
berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik
beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan disain bangunan
kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sedangkan
kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah
bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-
masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya
mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh. Di bagian dalam
masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang
tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun
mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid
ini berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid
berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab.




13
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

Suku Melayu Deli adalah salah satu suku melayu yang mendiami
kabupaten Deli Serdang. Penyebaran meliputi kota Medan, Deli Tua,
daerah pesisir, pinggiran sungai Deli dan Labuhan.
Sekilas bahasa Melayu Deli mirip dengan bahasa Indonesia
dengan logat melayu yang kental dan pengucapan yang lebih singkat dan
cepat. Pada beberapa tempat, bahasa Melayu Deli menggunakan dialek
'e', mirip dengan bahasa Maye-Maye dan bahasa Malaysia.
Suku Melayu Deli ini juga memiliki teater tradisional, yaitu Makyong,
sayangnya teater tradisional Melayu Deli ini, sekarang sudah jarang
terdengar. Selain itu ada seni tari Main Lukah Menari, semacam tarian
bersifat magis dengan memakai Lukah (semacam orang-orangan) dan
membawakan nyanyian yang berisi mantra-mantra.
Suku Melayu Deli terdiri atas dua golongan besar, yaitu golongan
atas atau asal bangsawan (aristokrasi) dan golongan rakyat jelata. Ditinjau
dari segi status terbagi sebagai berikut : Golongan aristokrasi yang paling
atas memerintah ialah raja dan anak-anak raja (Tengku). Lapisan di
bawahnya ialah turunan pembesar daeran (Wan, Orang Kaya, Datuk
Muda) dan golongan rakyat biasa turunan pembesar di kampung,
golongan ulama, cerdik pandai, dsb.
Rumah adat suku Melayu Deli, sepeti suku Melayu lainnya, berdiri
di atas tiang-tiang setinggi kurang lebih 2 m dari atas tanah. Jumlah tiang
menunjukkan martabat pemiliknya. Pola hidup kekeluargaannya ilah
parental/bilateral yang menurut mereka sesuai dengan agama Islam.
Perempuan dan laki-laki memiliki hal yang sama dalam keluarga,
14
sehingga laki-laki memilki hak yang sama dalam keluarga, sehingga laki -
laki tidak memiliki hak warisan 100% tapi wanita juga akan memperoleh
sebagian hak warisan itu.
Di daerah Sumatera Utara, ada dua kerajaan atau kesultanan
Melayu yang terkenal, yaitu Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang.
Kesultanan yang pertama kali berdiri adalah Deli. Dalam
perkembangannya, kemudian terjadi friksi dan konflik internal antara
keluarga raja dalam kesultanan Deli tersebut. Akibatnya, muncul
kemudian kesultanan baru yang memisahkan diri dari Deli, yaitu Serdang.
Berdasarkan garis asal-usul ini, maka sebenarnya kedua kerajaan ini
pada awalnya adalah satu, dan Serdang tak lebih dari pecahan
Kesultanan Deli.
Ada 2 situs peninggalan sejarah yang terkenal dari kerajaan suku
Melayu Deli yaitu Istana Maimun dan Masjid Raya Al-Mashun.
3.2 Saran
Mempelajari sejarah suku-suku Indonesia sangat penting agar tidak
ada kesalahan dan keraguan beragumentasi tentang tempat suatu
daerah. Banyak yang tidak mengetahui sejarah daerahnya sendiri.
Pemuda-pemuda Nusantara lebih mempunyai rasa ingin tahu akan
budaya luar negeri dari pada budaya dalam negeri bahkan daerahnya
sendiri, sehingga membuat banyak kesalahan dalam menilai tradisi adat
dan budaya di Indonesia sendiri.Dalam hal ini, pemerintah harus
menyikapinya dengan serius agar budaya Nusantara tetap menjadi daya
tarik bagi remaja dan wisatawan asing, serta menumbuhkan rasa bangga
dan rasa ingin tahu akan budaya adat sendiri.



15
DAFTAR PUSTAKA


Anonymous.2011. Batak Pesisir Deli dalam http://batak-
people.blogspot.com.,diakses pada 25 November 2013

Anonymous.2013.Suku Melayu Deli dalam http://coretan
infosingkat.blogspot.com,diakses pada 25 November 2013

Anonymous.2003. Suku Melayu Deli dalam
http://www.sabda.org/misi/profilo_isi.php?id=46, diakses pada 25
November 2013

Anonymous.2011. Istana Maimun dalam
http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.com. ,diakses pada
25 November 2013
16