Anda di halaman 1dari 43

Seno Gumira Ajidarma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Seno Gumira Ajidarma

Pekerjaan Penulis, Fotografer, Kritikus Film Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Pasangan Ikke Susilowati
[1]

Anak Timur Angin
[1]

Kerabat Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo (Ayah) dr. Poestika
Kusuma Sujana (ibu)
[1]

Seno Gumira Ajidarma (lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958; umur 55 tahun)
[2]
adalah penulis
dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalahAtas Nama Malam, Wisanggeni
Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang
Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.
Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor-
Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman),
dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara(kumpulan esai).
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Perjalanan Hidup
2 Pendidikan Formal
3 Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain
4 Rujukan
5 Pranala luar
Perjalanan Hidup[sunting]
Seno Gumira Ajidarma adalah putra dari Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, seorang guru besar Fakultas
MIPA Universitas Gadjah Mada
[3]
. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak
belakang dengan pemikiran sang ayah.
Setelah lulus SMP, Seno tidak mau melanjutkan sekolah. Terpengaruh cerita petualanganOld
Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, dia pun mengembara mencari
pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin,
sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu
ke Sumatera. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, dia meminta
uang kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan
sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA Kolese De Britto yang boleh tidak pakai seragam. Komunitas yang
dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur
(UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di
Malioboro.Dia juga ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N selama 2 tahun.
Tertarik puisi-puisi karya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya
dan dimuat. Teman-teman Seno mengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. Seno tertantang untuk
mengirim puisinya ke majalah sastra Horison.Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
Pada usia 19 tahun, Seno bekerja sebagai wartawan, menikah, dan di tahun itu juga Seno masuk Institut
Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi.
[3]

Dia menjadi seniman karena terinspirasi oleh Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut
boleh gondrong.
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa.
Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya,
antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius(1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di
Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati(1999). Karya lain
berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang[ (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write
Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny OHearn Prize for Literary, 1997.
Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat
Dokumentasi Jakarta-Jakarta.
[4]
Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater.
Pendidikan Formal[sunting]
1994 Sarjana, Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta
2000 Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia
2005 Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia
Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain[sunting]
1987 SEA Write Award
1997 Dinny OHearn Prize for Literary
2005 Khatulistiwa Literary Award
2012 Ahmad Bakrie Award (tapi dia menolak)
[5]


SENO GUMIRA AJIDARMA
Lahir: Boston, 19 Juni 1958
Pendidikan Formal:
1994 Sarjana, Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta
2000 Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia
2005 Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia
Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain:
1987 SEA Write Award
1997 Dinny OHearn Prize for Literary
2005 Khatulistiwa Literary Award

Aktivitas dan kesibukan: Wartawan, Fotografer, Dosen, dan tentu saja
Penulis
*****************************************************
PROFIL
Seno Gumira Ajidarma
Sumber: Pusat Data dan Analisis TEMPO

SASTRAWAN yang satu ini sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA
Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi,
lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan
pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-
jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. Entah kenapa.
Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan, ujar
Seno. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar
membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai
penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia
mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil
guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju
dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut
pendek ia gondrong. Aku pernah diskors karena membolos, tutur Seno.
Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh
cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang
asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di
film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu
mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia
mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT
Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi
buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit
kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno
pulang dan meneruskan sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. Jadi
aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong.
Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di
lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya.
Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di
Malioboro. Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.
Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam
pimpinan Azwar A.N. Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak
pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang
menyenangkan, kata Seno.
Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung,
Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua
pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno
tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus
juga. Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku
merasa sudah jadi penyair, kata Seno bangga.
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk
itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta,
jurusan sinematografi. Nah, dari situ aku mulai belajar motret, ujar
pengagum pengarang R.A. Kosasih ini.
Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau
jadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra
yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong.
Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat
karya, ujar Seno disusul tawa terkekeh.
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di
beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai
cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain:
Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994),
Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta
(1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya
Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea
Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny OHearn
Prize for Literary, 1997.
Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan,
selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat
komik. Baru saja ia membuat teater.
Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni kalau dia naik taksi, sopir
taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir. Si sopir
disuruhnya tidur.

*********************************************

Transformasi Seno Gumira
Oleh: Maria Hartiningsih
Begitu lama ia merasa berada dalam keterbatasan yang membuatnya
berpikir bahwa pemahaman yang benar itu ada. Keterbatasan semacam
itu membuat Seno Gumira Adji Darma (47) menabrak-nabrak dan
menghayati pengalaman orang buta yang merayap dalam kegelapan.
Padahal, ketika matanya terbuka, ternyata dunia memang gelap.
Jalan ilmu pengetahuan terstruktur membukakan kesadaran bahwa realitas
yang benar adalah konvensi, kesepakatan; bahwa yang bernama realitas
sebenarnya merupakan konstruksi sosial-historis.
Segala sesuatu diciptakan karena ada kebutuhan. Teori juga begitu. Mereka
lahir dari yang sudah ada. Postmodernisme lahir karena modernisme,
dekonstruksi karena konstruksi, poststrukturalisme karena strukturalisme,
ujarnya.
Seno tenggelam di dalam samudra ketakterbatasan ilmu pengetahuan ketika
meneliti komik Panji Tengkorak untuk disertasi S-3-nya di Program
Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ia
tak lagi terpaku hanya pada filsafat komik, sesuatu yang hinggap di
benaknya setelah menyelesaikan S-2-nya di jurusan filsafat UI.
Ia menyelesaikan S-3-nya dalam delapan semester diselingi proses kreatifnya
melahirkan tiga novelsalah satu novelnya, Negeri Senja, mendapat
Khatulistiwa Literary Award 2004dua naskah drama, skenario, dan puluhan
cerita pendek, kolom, esai yang dimuat di berbagai media. Ia masih bisa
melakukan kegiatan yang ia gemari: memotret, bahkan sempat pameran
karena ada teman yang memintanya.
Oleh sebab itu, ia tak mempersoalkan predikat kelulusan sangat
memuaskan, karena melewati standar waktu, meski nilainya cumlaude.
Lagi pula aku sudah menerima diriku sebagai mediocre saja. Dari kecil aku
tak pernah terobsesi jadi nomor satu.
Waktu SD, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Boston, Amerika
Serikat, itu selalu duduk di baris tengah agak depan. Yang pintar duduk di
belakang, yang kurang bisa menangkap pelajaran duduk di depan,
kenangnya.
Itu membuatnya tidak pernah merasa hebat. Sebaliknya, selalu merasa
kurang. Konsekuensinya mahal, karena aku harus belajar keras.
Tuntas pada usia 20
Seno mulai menulis di SMA, tahun 1974. Aku mewajibkan diriku menulis
karena aku suka membaca, lanjutnya. Ia hidup dari menulis, meski tak
bercita-cita menjadi penulis. Aku hanya terobsesi menguasai tulisan,
katanya.
Dulu ia ingin jadi seniman biasa yang bisa merasa bahagia dengan apa
adanya. Ia merasa sudah mencapainya pada usia 17 tahun ketika mengikuti
rombongan Teater Alam. Pada usia 19 tahun ia sudah bekerja di koran
sehingga berani menikahi Ike. Pada usia 20 tahun, Timur Anginfotografer,
lulusan Institut Kesenian Jakarta, tempat ayahnya menyelesaikan S-1-nya di
bidang filmlahir.
Upacara dalam hidup sudah kutuntaskan pada usia 20 tahun. Aku tak punya
target lagi setelah itu, tambahnya. Semua kujalani dengan ringan.
Ia terus membaca, menulis, melanjutkan kerja jurnalistiknya. Jadi
tukang, katanya.
Tukang?
Ya, sergahnya. Bukan robot. Untuk jadi tukang keterampilan saja tak
cukup. Ada pergulatan intens. Tukang kayu harus kenal kayu secara
personal. Petani harus kenal cuaca, tanah, air, benih, secara personal.
Keangkuhan para intelektuallah yang membuat derajat tukang direndahkan.
Padahal, menurut Seno, di dalam pertukangan, ada perfection. Di dalam
kesempurnaan ada penghayatan, ada pengetahuan yang mendukungnya.
Juga dalam menulis. Untuk tulisan ilmiah, misalnya, harus masuk ke proses
seorang ilmuwan di mana subjektivitas sangat berperan. Itulah faktor
personal. Aku meneliti Panji Tengkorak juga karena faktor itu. Panji
Tengkorak lahir tahun 1968, aku lahir tahun 1958, katanya.
Tradisi keilmuwan ada di dalam keluarganya. Ayahnya, Mohammad Seti-Adji
Sastroamidjojo (alm), adalah PhD di bidang fisika, dikenal sebagai ahli
energi alternatif dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ibunya, Poestika
Kusuma Sujana (alm), adalah dokter spesialis penyakit dalam.
Jadi mungkin jeda sebelum ia memutuskan kembali ke bangku kuliah
hanyalah ancang-ancang melanjutkan perjalanannya menuju horizon tak
berbatas, seperti dalam impian masa kecilnya ketika membaca Karl May.
Foucault menghasilkan karya-karya luar biasa setelah menulis disertasinya
yang menjadi buku Madness of Civilization, ujarnya, seperti meminta lawan
bicaranya paham maksudnya.
Seno menerabas tantangan demi tantangan. Dan bertransformasi. Ia belajar
mengepakkan sayap dari kegetiran dan keangkuhan kekuasaan. Sekarang ia
sudah terbang. Jauh.
POTRET GAYA BAHASA DALAM CERPEN TERBANG KARYA AYU UTAMI: TINJAUAN
ILMU STILISTIKA
POTRET GAYA BAHASA DALAM CERPEN TERBANG KARYA AYU UTAMI: TINJAUAN ILMU STILISTIKA


Oleh Kelompok:

1. ERIECK NORMADIANSYAH (070210402098)
2. MOH. BADRUS SOLICHIN (080210402002)
3. FERI ANGGRIAWAN (080210402011)
4. ABDUL WARIS GUNAWAN (080210402033)
5. NUNUNG WAHYU HIDAYAT (080210402037)






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011



A. PENDAHULUAN

Cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang habis dibaca sekali duduk. Menurut Soeharianto (1982),
cerpen adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari
kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang. cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya
halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau sedikit tokoh yang terdapat di dalam cerita itu, melainkan lebih
disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra itu. Jadi jenis
cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan menjadi cerita pendek, jika ruang lingkup permasalahannya
tidak memenuhi persyaratan sebagai cerpen.
Di dalam penulisan karya sastra seperti cerpen untuk menyampaikan pikiran pengarang yakni melalui bahasa.
Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian atau
konvensi dari masyarakat. Bahasa yang digunakan di dalam karya sastra cenderung menyimpang dari kaidah
kebahasaan, bahkan menggunakan bahasa yang dianggap aneh atau khas. Penyimpangan penggunaan bahasa
dalam karya sastra, menurut Riffaterre (dalam Supriyanto, 2009: 2) disebabkan oleh tiga hal yaitu displacing of
meaning (pengganitan arti), dan creating of meaning (perusakan atau penyimpangan arti), dan creating of
meaning (penciptaan arti).
Oleh karena banyak penyimpangan arti di dalam karya sastra, maka pengamatan atau pengkajian terhadap karya
sastra (cerpen) khususnya dilihat dari gaya bahasanya sering dilakukan. Pengamatan terhadap karya sastra
(cerpen) melalui pendekatan struktur untuk menghubungkan suatu tulisan dengan pengalaman bahasanya
disebut sebagai analisis stilistika.
Salah satu cerpen yang sangat menarik untuk dikaji menggunakan analisis stilistika adalah cerpen Terbang karya
Ayu Utami. Cerpen ini menarik untuk dikaji karena mengandung banyak gaya bahasa. Sehingga dari kelebihan
itulah disini peniliti menentukan rumusan masalah berdasarkan analisa gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen
Terbang karya Ayu Utami yang ditinjau dari ilmu stilistika.




B. TINJAUAN TEORI

1. Definisi Stilistika
Analisis stilistika menaruh perhatian pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Persoalan yang menjadi fokus
perhatian stilistika adalah pemakaian bahasa yang menyimpang dari bahasa sehari-hari, atau disebut bahasa
khas dalam wacana sastra. Penyimpangan penggunaan bahasa bisa berupa penyimpangan terhaap kaidah
bahasa, banyaknya pemakaian bahasa daerah, dan pemakaian bahasa asing atau unsur-unsur asing.
Penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan tersebut diduga dilakukan untuk tujuan tertentu.
Pusat perhatian stilistika adalah penggunaan bahasa (gaya bahasa) secara literer dan sehari-hari. Sebagai stylist,
seseorang harus mampu menguasai norma bahasa pada masa yang sama dengan bahasa yang dipakai dalam
karya sastra. Penggunaan gaya bahasa juga diarahkan oleh bentuk karya sastra yang ingin dihasilkan. Misalnya,
gaya penataan prosa fiksi (cerpen) berbeda dengan gaya penataan bentuk puisi. Dalam cerpen, selain fokus
dalam alur cerita, penulis dapat menggunakan gaya bahasa dan bahasa kiasan agar cerpen yang dihasilkan lebih
hidup dan menarik pembaca.
Salah satu cerpen yang sarat dengan gaya bahasa dan bahasa kiasan adalah Cerpen Terbang karya Ayu Utami.
Hampir di setiap paragrafnya terdapat gaya bahasa yang menggunakan kata kiasan sehingga pembaca diajak
untuk menikmati kalimat demi kalimat, bukan hanya menikmati alur ceritanya saja. Jadi dari kelebihan cerpen
inilah peniliti mengambil

2. Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan pengungkapan ide, gagasan, pikiran-pikiran seorang penulis yang meliputi hierarki
kebahasaan yaitu kata, frasa, klausa, bahkan wacana untuk menghadapi situasi tertentu. Selain itu gaya bahasa
juga sebagai pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu,
keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik
secara lisan maupun tulis.
Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas citraan, pola rima, matra yang
digunakan sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra. Jadi majas merupakan bagian dari gaya bahasa.
Majas merupakan peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang
dari arti harfiah (Aminudddin. 1995). Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang
timbul atau hidup dalam hati pengarang.
Meskipun ada banyak macam gaya bahasa ataupun majas, di dalam analisis ini peniliti hanya menekankan pada
kenyataan macam majas yang terdapat dalam cerpen Terbang karya Ayu Utami ini. Berikut daftar gaya bahasa
yang terdapat dalam cerita.
a) Alegori
Adalah cara menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
b) Simile
Adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan
penghubung seperi layaknya, bagaikan, bagai dan seperti.
c) Metafora
Adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata
seperti, layaknya, bagaikan.
d) Aptronim
adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan.
e) Litotes
Adalah ungkapan berupa mengkecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan diri.
f) Hiperbola
Adalah cara pengungkapan dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk
akal.
g) Personifikasi
Adalah cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
h) Eksklamasio
Adalah ungkapan dengan menggunakan kata seru. Misalnya wah, ahh, ohh, lho, dll.






C. PEMBAHASAN

1) Hiperbola
Adalah cara pengungkapan dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk
akal. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa hiperbola:

Lagian, meski persentase lebih kecil pun, kalau kita kena lotre buruk, meledak ya meledak, nyemplung ke laut ya
nyemplung ke laut. Itu namanya sial, kalau bukan takdir. (Paragraf 6)

Analisis gaya bahasa hiperbola di atas begitu nampak pada maksud tokoh yang begitu melebih-lebihkan dugaan
yang belum dialaminya. Padahal kalau dipikir secara rasional dugaan itu hanyalah sebuah perasaan takut
(menghantu-hantui/ trauma) yang dialami tokoh hendak naik pesawat terbang.

2) Metafora
Adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata
seperti, layaknya, bagaikan. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa metafora:

Statistik mengatakan, moda transportasi pembunuh paling besar adalah lalu lintas darat. Begitu katanya.
Kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat. Itu statistik. (Paragraf 4)

Analisis metafora pada kutipan cerita di atas nampak pada usaha membandingkan kecelakaan maut motor lebih
banyak daripada kecelakaan pesawat hal ini dilakukan pengarang tanpa menggunakan kata-kata seperti, ataupun
bagaikan untuk menegaskan gaya bahasa metafora.

3) Personifikasi
Adalah cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia. Berikut
kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa personifikasi:

Adam Air terbang tanpa alat navigasi. Adam Air jeblug di laut. Mandala jatuh waktu lepas landas. Garuda
meledak ketika mendarat. Semua terjadi dalam satu tahun! (Paragraf 6)

Analisis personifikasi pada kutipan cerita di atas terbukti pada usaha penginsanan terhadap benda mati sebagai
manusia yang dilakukan pengarang nampak pada nama macam-macam pesawat yang mengalami kecelakaan.
Nama macam-macam pesawat itu diibaratkan manusia yang mengalami musibah tanpa adanya dugaan dan
perkiraan sebelum musibah menimpa.

4) Simile
Adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan
penghubung seperi layaknya, bagaikan, bagai dan seperti. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya bahasa
simile:

Mesin pesawat propeler sudah menyala. Derunya seperti makhluk hidup terkena bronkitis, penyakit yang sudah
lama tidak disebut-sebut di negeri ini. (Paragraf 8)

Analisis simile pada kutipan cerita di atas yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang
dinyatakan dengan menggunakan kata seperti sebagai pengibaratan mesin pesawat yang sudah menyala dengan
makhluk hidup yang terkena bronkitis.

5) Litotes
Adalah ungkapan berupa mengkecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan diri. Berikut kutipan cerita yang
terdapat gaya bahasa litotes:

Aku memandang ke bandara yang kecil, yang lebih pantas disebut rumah besar ketimbang pelabuhan. (Paragraf
7)

Analisis litotes pada kutipan cerita di atas nampak pada pengungkapan berupa mengkecilkan fakta dengan
tujuan untuk merendahkan. Hal ini dilukiskan pengarang pada pengungkapan tokoh dalam menilai bandara
yang seharusnya berukuran luas dan megah disamarkan berukuran kecil seperti rumah.

6) Alegori
Adalah cara menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Berikut kutipan cerita yang
terdapat gaya bahasa alegori:

Seorang peneliti lapangan. Seorang peneliti yang biasa di alam bebas. Di hutan. Bukan di lab. Di goa. Di padang
rumput berpasir. Ia mengenakan kaca mata. Perawakannya keras. Otot kedang tangannya tegas. Urat- urat pada
lengannya mencuat. (Paragraf 12)

Analisis alegori pada kutipan cerita di atas dilakukan pengarang dengan menggambarkan postur seorang peniliti
lapangan dengan menggunakan bahasa kiasan yang alamiah atau berkaitan dengan fenomena yang ada pada
seorang peniliti lapangan tersebut.

7) Aptronim
adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan. Berikut kutipan cerita yang terdapat gaya
bahasa aptronim:

Ia memiliki wajah lelaki baik. Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil atau sesumbar, tidak sok tahu atau
menggurui. Meski tidak berarti lelaki baik-baik. (Paragraf 17)

Analisis aptronim pada kutipan cerita di atas nampak pada pemberian nama salah satu tokoh cerita yang cocok
dengan sifat atau peringainya. Hal ini dilakukan pengarang dalam pemberian nama pada laki-laki yang memiliki
sifat baik.

8) Eksklamasio
Adalah ungkapan dengan menggunakan kata seru. Misalnya wah, ahh, ohh, lho, dll. Berikut kutipan cerita yang
terdapat gaya bahasa eksklamasio:

Ohhh, berhati haluskan dia. Jadi motret apa?

Analisis eksklamasio pada kutipan cerita di atas terdapat pada penggunaan kata Ohhh sebagai pengungkapan
rasa ketakjuban, kagum, atupun heran. Terungkap ketika seseorang melihat ataupun tahu akan sesuatu hal yang
baru atau beda.

D. KESIMPULAN
Dari analisis cerpen Terbang karya Ayu Utami yang ditinjau dari ilmu stilistika dapat disimpulkan bahwa di
dalam cerpen tersebut mengandung gaya bahasa yang terdiri dari hiperbola, personifikasi, metafora, simile,
litotes, alegori, aptronim dan eksklamasio. Gaya bahasa tersebut dimanfaatkan pengarang sebagai usaha
memberikan efek estetis atau keindahan dalam cerita. Walaupun sebenarnya, tema yang diangkat Ayu Utami
dalam cerpen Terbang ini merupakan tema yang sederhana, tetapi dengan kejelian dan teknik penulisan
pengarang yang begitu baik maka cerpen ini menjadi karya sastra yang luar biasa. Hal keluarbiasaan itu nampak
pada kekayaan gaya bahasa yang ada dalam cerita, sehingga begitu nikmat jika dibaca oleh pembaca. Hal ini
menjadikan karya Ayu Utami menjadi lebih hidup dan berbeda degan karya lainnya.


E. DAFTAR RUJUKAN
Aminudddin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.
http://beningembun-apriliasya.blogspot.com/2010/07/kajian-stilistika-terhadap-cerpen.html
http://cerpenkompas.wordpress.com/tag/ayu-utami/
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. 2002. Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimutri. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Semarang : IKIP Semarang Press.

Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.





F. CERPEN

TERBANG
Oleh: Ayu Utami

Aku yang ngotot agar kami terbang terpisah. Kubatalkan satu tiket yang telah dipesan suamiku. Tiket murah
pula, sehingga aku harus membayar besar untuk perubahan jadwal. Tapi, biar saja. Aku merasa lebih aman
begini. Terbang terpisah darinya.
Kamu terlalu dramatis, Ari. Katanya. Tidak. Aku ini sangat realistis, Jati. Bantahku.
Sejak dua anak kami sudah bisa tidak ikut dalam perjalanan, sejak kami telah bisa meninggalkan mereka di
rumah, aku memutuskan untuk tak akan terbang bersama suami dalam satu pesawat lagi. Atau terbang pada
waktu bersamaan. Salah satu di antara kami harus terbang lebih dulu. Setelah pesawatnya dipastikan mendarat
dengan selamat, barulah yang lain boleh berangkat. Ini keputusanku yang harus dilaksanakan. Jika suamiku
menelikung tidak menurutseperti kemarin ia mengurus tiket kamiia akan tahu rasa. Aku membatalkan
tiketku dan memesan sendiri.
Statistik mengatakan, moda transportasi pembunuh paling besar adalah lalu lintas darat. Begitu katanya.
Kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat. Itu statistik.
Statistik juga bilang, kalau kepalamu ditaruh di kompor dan kakimu dibekukan di freezer, suhu tubuh di perutmu
normal. Bantahku. Bagaimana kita mau mengabaikan fakta: Adam Air terbang tanpa alat navigasi. Adam Air
jeblug di laut. Mandala jatuh waktu lepas landas. Garuda meledak ketika mendarat. Semua terjadi dalam satu
tahun!
Lagian, meski persentase lebih kecil pun, kalau kita kena lotre buruk, meledak ya meledak, nyemplung ke laut ya
nyemplung ke laut. Itu namanya sial, kalau bukan takdir. Karena itulah, daripada dua-dua dari kita kena takdir,
lebih baik salah satu saja. Paling tidak, dengan begitu anak kita tidak jadi yatim piatu.
Tak ada lagi cerita terbang bersama atau bersamaan.
Titik.
Aku mengunci gesper sabuk pengaman. Mesin pesawat propeler sudah menyala. Derunya seperti makhluk hidup
terkena bronkitis, penyakit yang sudah lama tidak disebut-sebut di negeri ini. Kini orang lebih mengenal infeksi
saluran pernapasan atas alias ISPA. Kira-kira begitu aku merasa derau mesin baling-baling ini. Setiap saat bisa
batuk darah. Lalu kolaps. Aku memandang ke bandara yang kecil, yang lebih pantas disebut rumah besar
ketimbang pelabuhan. Suamiku tampak di sana, berdiri kacak pinggang, menunggu saat melambai hingga
pesawat lenyap di udara, di atas gunung-gunung yang berkeliling.
Aku menelan ludah. Terbang adalah menyetorkan nyawa kepada perusahaan angkutan umum. Kita bisa
mengambilnya kembali. Bisa juga tidak. Dan tak ada rente. Kalau untung, hanya ada tiba dengan selamat.
Aku sesungguhnya sangat takut. Penyiksaan akan berlangsung tujuh jam, termasuk transit dan ganti pesawat.
Tapi selalu ada cara untuk survive. Kusetorkan diriku yang cemas, yang bertanggung jawab, yang berkeringat
dingin membayangkan anak-anakku kehilangan ibu yang menghangatkan mereka dalam sayap-sayapku, yang
menitikkan air mata atas jerih payah suami bagi kami. Kusetorkan diriku yang itu bersama jiwaku ke kotak hitam
di kokpit. Jati, kalau ada apa-apa denganku, aku yang kamu miliki ada di kotak hitam itu, ya.
Yang duduk di kursi sekarang adalah aku yang lain. Aku yang kuat untuk menghadapi kengerian. Yaitu, aku yang
tak bertanggung jawab. Aku yang tak memiliki suami ataupun anak-anak. Aku yang lajang petualang.
Dan lihatlah. Seorang lelaki tergesa-tergesa melewati pramugari yang cemberut karena ia membuat penerbangan
telat jadwal. Ia meletakkan bagasi ke dalam kabin di atas kepalaku. Ia mengangguk kepadaku sebelum duduk di
kursi sebelahku. Terhidu bau tubuhnya. Bau hangat manusia. Aku membalas ringan dia, lalu mengalihkan
pandangan ke jendela. Pesawat mulai ber- gerak. Jati melambai di bawah sana. Aku membalas. Selamat tinggal!
Kira-kira dia adalah seorang peneliti. Seorang peneliti lapangan. Seorang peneliti yang biasa di alam bebas. Di
hutan. Bukan di lab. Di goa. Di padang rumput berpasir. Ia mengenakan kaca mata. Perawakannya keras. Otot
kedang tangannya tegas. Urat- urat pada lengannya mencuat. Itulah yang dapat terlihat jika aku tak mau jelas-
jelas menoleh kepadanya. Pada ransel yang diletakkan di bawah kursi depan, tersangkut botol minum aluminium
SIGG. Dengan stiker kurangi plastik. Ia mengenakan sepatu gunung Eiger.
Ataukah dia orang film. Film dokumenter lingkungan. Ah, aku tak bisa melihat lipatan perutnya, meskipun ia
mengenakan T-shirt kelabu yang dimasukkan di balik kemeja korduroi hitam yang terbuka. Ia pasti memiliki six-
pac yang lumayan. Dari kulit jemarinya, kira-kira ia empat puluhan.
Sebetulnya, sudah lama aku tak ingin ngobrol dengan orang seperjalanan. Sia-sia. Lebih baik baca buku daripada
menghabiskan waktu dengan makhluk yang tak memberi kita pengetahuan dan tak akan kita ingat lagi.
Setidaknya, buku menambah isi kepala. Manusia sering-sering cuma menghabiskan urat kepala.
Kukeluarkan buku. Kuletakkan di pangkuan, sebab aku sulit membaca ketika lepas landas dan lampu tanda
kenakan sabuk belum mati. Java Man. Garniss Curtis, Carl Swisher & Roger Lewin. Aku ingin memejamkan mata
dan berdoa, tapi kulihat lelaki di sebelahku bergerak. Gerakan mencontek judul buku, kutahu dengan sudut
mataku. Ah, tebakanku takkan jauh. Ia orang lapangan, bergerak di sekitar soal lingkungan.
Aku menyadari pesawat ini tak punya lampu tanda kenakan sabuk pengaman. Sialan. Kuno amat. Setelah burung
bronkitis ini terbang mendatar, aku menarik napas lega yang pertama, dan mulai membaca lagi. Kutangkap lagi
dengan sudut mataku, ia bereaksi terhadap bacaanku. Ah! Kupergoki saja dia. Sambil bisa kuperhatikan sekalian,
seperti apa mukanya.
Ia memiliki wajah lelaki baik. Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil atau sesumbar, tidak sok tahu atau
menggurui. Meski tidak berarti lelaki baik-baik. Lelaki baik-baik, yaitu yang setia kepada keluarga, bisa saja sa-
ngat menyebalkan dan suka membual demi menegakkan citra kepala keluarga. Lelaki baik adalah lelaki yang
menyenangkan untuk diajak ngobrol bersama, meski belum tentu baik untuk hidup bersama.
Nah! Ia tertangkap basah sedang mencontek!
Aku tersenyum padanya. Toh tadi juga kami sudah saling mengangguk.
Sudah pernah baca? tanyaku.
Boleh lihat?
Dan tentu saja kami jadi bercakap-cakap. Ia memang lelaki baik. Kebanyakan lelaki punya beban untuk tampak
lebih tahu dari perempuan. Tapi dia tidak. Dia banyak bertanya tentang duniaku. (Kebanyakan lelaki lebih suka
menjawab tentang diri sendiri. Jika kita tidak bertanya, mereka akan membikin pertanyaannya sendiri dan
menjawab sendiri.) Dari cara bertanyanya, ia mirip wartawan dari koran atau majalah yang baik pula. Jadi, apa
kerjanya?
Macam-macam sudah saya coba, katanya. Saya pernah kerja di pertambangan. Saya pernah kerja di kapal.
Di kapal?
Di kapal, jadi juru masak, jadi fotografer.
Jadi juru masak?
Iya. Jadi juru masak di kapal. Jadi fotografer di kapal.
Tak bisa tidak aku menyimak dia dari rambut ke sepatu, mencari jejak-jejak pekerjaan itu. Ia memiliki gestur
yang rendah hati. Barangkali ia lebih pekerja badan ketimbang peneliti.
Jadi penjahit juga pernah. Beternak ayam juga pernah. Mencoba kebun kelapa sawit kecil-kecilan pernah
juga.
Kini aku mencari-cari tanda jika ia berbohong. Atau sedikitnya bercanda. Tapi wajahnya tulus seperti hewan.
Jadi, kenapa ayam-ayam negeri itu bisa bertelur tanpa dijantani? Ayam kampung tidak begitu, kan? tanyaku,
juga tulus, tapi juga mengetes.
Ia kelihatan senang dengan kata itu. Dijantani. Sesungguhnya, buat saya itu juga misterius.
Ia tidak memberi aku jawaban yang memuaskan. Tapi ia menceritakan rincian pengalaman yang membuat aku
percaya bahwa ia tidak berbohong. Ia tidak mengaku-ngaku peternak ayam, berkebun kelapa sawit, juru masak,
fotografer. Jadi, apa yang dikerjakannya di kepulauan Indonesia timur ini? Memotret perburuan ikan paus?
Tebakanku tidak terlalu meleset.
Memotret. Tapi bukan ikan paus. Biar orang lain saja yang mengerjakan itu. Saya tidaklah saya motret
binatang dibunuh.
Oh, berhati haluskan dia. Jadi motret apa?
Saya, ia berdehem, saya mencari sebanyak-banyaknya orang pendek. Orang katai. Saya potret mereka. Pernah
dengar tentang Manusia Liang Bua?
Untuk siapa? Untuk proyek sendiri? Untuk satu majalah luar negeri.
Lalu ia bercerita betapa sarjana asing senang mencari jejak manusia purba di Indonesia. Persis yang saya baca di
buku ini, sahutku. Dan kami tenggelam sejenak dalam halaman-halaman dan referensi yang sempat diingat.
Tangan kami tanpa sengaja bersentuhan ketika menelusuri spekulasi yang terdedah, lembar demi lembar. Dan
pada lembar-lembar berikutnya aku tak tahu apakah persentuhan itu tetap tak sengaja.
Ia bercerita tentang dua spesies manusia pada sebuah zaman. Yang lebih purba dan yang lebih baru. Pada sebuah
titik, yang lebih purba punah. Dialah manusia neanderthal, dengan ciri-ciri bertulang kepala lebih ceper dan
tulang alis lebih menonjol. Tapi, sebelum mereka punah, dua spesies itu ada bercampur pula. Maka, keturunan
manusia yang lebih purba masih kadang-kadang ditemukan di kehidupan sekarang. Ciri-cirinya, bertulang
kepala lebih ceper dan tulang alis lebih menonjol. Seperti saya, barangkali. Ia nyengir lucu.
Aku memerhatikan dia. Ah, itukah yang membuat wajahnya tampak tulus seperti hewan? Penerbangan berganti
di Surabaya. Mendung menggantung.
Sekarang semua fotografer pakai digital, ya?
Kalau dari segi kualitas, film tetap lebih sensitif. Tapi, dari segi kepraktisan, digital memang tak terkalahkan.
Saya tidak suka teknologi. Teknologi membuat yang tua tidak dihargai. Semua barang elektronik cepat jadi tua
dan tak berguna. Tidak adil.
Kenapa kukeluhkan ini? Adakah diriku yang cemas dan menyadari bahwa aku tak terlalu muda lagi untuk
bergenit-genit dengan lelaki?
Kenapa, kataku agak grogi, mencari tema baru. kenapa kamera digital semakin tahun semakin biru pucat
gambarnya? Tapi ini bukan tema baru. Ini tema yang sama. Tentang kecemasan menjadi tua.
Itu jeleknya kamera digital. Setiap kamera digital memang hanya untuk memotret sejumlah kali tertentu.
Setelah sekian kali, kemampuannya turun sama sekali. Biasanya, sekitar seratus ribu kali. Sebetulnya, itu tertulis
di buku keterangan. Tapi tidak ada yang mau baca.
Jadi, setiap kamera digital lahir dengan kapasitas sekitar seratus ribu kali memotret?
Iya. Tertulis. Cuma orang enggak mau baca.
Ada yang bilang, setiap lelaki juga begitu. Lahir dengan sejumlah tertentu kapasitas orgasme.Ia diam sebentar.
Lalu tawanya meledak.
Kalau jumlah itu sudah terlewati, berarti jatahnya habis, kataku lagi.
Ia tertawa lagi. Tapi, sesungguhnya aku tidak melucu. Aku sendiri tak tahu apa motifku. Apakah aku ingin tahu
adakah teori itu benar. Ataukah, aku sesungguhnya sudah merasa intim dengan lelaki berbau manusia ini. Aku
tak tahu apa yang kukatakan.
Kutemukan ia menatapku lebih lama. Dan lebih dalam. Kubalas ia sebentar. Setelah itu aku merasa wajahku
hangat. Kubu- ang pandangan ke jendela. Aku lebih muda dari dia. Tapi tetap aku tak muda lagi. Dan aku
beranak dua. Meskipun diriku yang bertanggung jawab telah kutitipkan bersama nyawaku di kotak hitam.
Aku ingin bertanya padanya. Jatahmu sudah diboroskan belum?
Pesawat melonjak. Bagai ada lubang besar di jalanannya. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman menyala. Aku
merasa berayun ke kiri ke kanan. Seperti dalam bis malam yang mencicit di jalan licin berbatu. Aku mencoba
tidak mencengkeram dahan kursi. Tapi keringat dinginku merembes sedikit di dahi.
Tiba-tiba ia menangkupkan tangannya pada tanganku di tangkai kursi. Seperti seorang suami. Kalau ada apa-
apa, kita mengalaminya bersama-sama.
Aku memejamkan mata. Aku tak tahu, apakah dalam sisa perjalanan aku bersandar di bahunya.
Tapi, pesawat mendarat juga di Soekarno-Hatta. Ia membantuku mengemasi bagasi.
Aku telah di tanah lagi. Aku harus pergi ke kokpit mengambil kembali nyawa dan diriku dari kotak hitam. Nyawa
dan diriku yang lebih peka dan penakut ketimbang yang duduk tadi. Ingin rasanya aku meminta lelaki berwajah
baik itu menemaniku terus sampai sepotong jiwaku bergabung kembali. Sepotong yang dibawa Jati.
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM NOVEL PUDARNYA PESONA CLEOPATRA KARYA HABIBURRAHMAN
EL SHIRAZY
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM NOVEL


Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Fungsi bahasa sangatlah luas, dalam kehidupan sehari-hari bahasa berfungsi sebagai lambang bunyi
yang dipergunakan oleh sesuatu masyarakat untuk berinteraksi. Karya sastra adalah hasil karya
manusia baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan
memiliki nilai estetika yang dominan. Bahasa dan sastra memiliki hubungan erat. Melaluikarya sastra
pengarang berusaha menuangkan segala imajinasi yang ada melalui kata-kata. Sastra tidak lepas dari
bahasa.
Novel merupakan salah satu untuk mengungkapkan sesuatu cara bebas, melibatkan permasalahan
secara bebas, melibatkan permasalahan secarakompleks sehimgga menjadi sebuah dunia yang jadi
penuh. Sebuah novel jelas tidak akan selesai dibaca dalam sekali duduk, karena panjangnya sebuah
novel memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dala perjalanan
waktu.
Sastra lahir karena doronga keinginan dasar manusia untuk mengungkapkan diri, apa yang telah
dijalani dalam kehidupan dengan pengungkapan lewat bahasa. Unsure-unsur pembangun karya
sastra dapat dikelompokan menjadi dua unsure yaitu unsure intrinsic dan unsure ekstrisik. Unsure
intrinsic adalah unsure-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Unsure intrinsic meliputi
tema, alur, penokohan, seting, sudut pandang dan gaya bahasa. Unsure ekstrinsik adalah unsure-
unsur pembangun karya sastra dari luar karya sastra yang meliputi psikologi, biografi , social,
historis, ekonomi, ilmu,serta agama.
Pengarang mempunyai kebebasan dalam mengunakan bahasa sehingga akan menghasilkan karya
sastra yang menarik dan indah untuk dinikmati. Penyiasatan penggunaan bahasa di dalam karya
sastra disebut gaya bahasa. Adanya bahasa kiasan ini akan menyebabkan sajak menjadi menarik
perhatian , menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan
(Pradopo, 1987 : 62).
Salah satu untuk mendapatkan efek estetik dalam penggunaan gaya bahasa yaitu denga cara unsure
retorika. Retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu
pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2006 : 1). Pengunaan retorika berkaitan dengan semua
penggunaan unsure bahasa kiasan dan pemanfaatan bentuk citraan.
Unsure stilistika terdiri dari unsure leksikal, unsure gramatikal dan unsure retorika. Unsure leksikal
meliputi kata benda,kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Bertujuan untuk mengetahui ketepatan
pilihan kata yang dipilih oleh pengarang untuk tujuan estetik dan untuk mengungkapkan gagasan.
Unsure gramatikal meliputi pembalikan kata, pemendekan dan pengulangan kata. Bertujuan untuk
mengetahui hubungan kosa kata yang dipergunakan dalam penyusunan kalimat sehinnga jelas
maksudnya. Unsure retorika yaitu suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis.
Unsure retorika meliputi pemajasan, penyiasaan struktur, pencitraan dan kohesi.
Dalam hubungannya dengan stilistika, penulis mengambil novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya
Habiburrahman El Shirazy sebagai bahan analisis karena novel karya Habiburrahman El Shirazy yang
berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra ini merupakan novel yang benar-benar mengajak kita untuk
menyelami akan rindu dendam dan ungkapan pesona cinta suci karena illahi yang benar-benar
mampu memberikan kebahagiaan nyata. Cerita yang dikemas sedemikian rupa, penuh hikmah
bahkan membuat hati merindukan akan ungkapan cinta tulus-Nya.Tujuan analisis ini untuk
mengetahui kreatifitas yang digunakan pengarang. Penulis di dalam analisis ini lebih menitikberatkan
pada unsure retorika novel novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy.
1.2 Identifikasi Masalah
Pengkajian dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy ini terdapat
pokok-pokok permasalahan antara lain:
Gaya bahasa yang ada dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy.
Makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya
Habiburrahman El Shirazy.
Fungsi gaya bahasa yang digunakan dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman
El Shirazy?
1.3 Pembatasan Masalah
Gaya bahasa yang ada dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy.
makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya
Habiburrahman El Shirazy.
1.4 Rumusan Masalah
1. Apa saja gaya bahasa yang ada dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El
Shirazy?
2. Apakah makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya
Habiburrahman El Shirazy?
1.5 Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan gaya bahasa yang ada dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya
Habiburrahman El Shirazy.
2. Mendeskripsikan makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra
karya Habiburrahman El Shirazy.
2. landasan Teori
Stilistika adalah ilmu yang mempelajari tentang gaya bahasa. Dalam kamus linguistik, stilistika adalah
ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunaka dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara
linguistik dan kesusastraan (Kridalaksana, 2001: 202).
Gaya bahasa menurut Slamet muljono (dalam Pradopo, 2001: 93) adalah susunan perkataan yang
terjadi karena perasaan yang timbul dan hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu
perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara
khusus untuk mendapat efek tertentu. Dalam karya sastra efek ini adalah efek estetik yang akan
membuat karya sastra akan memiliki nilai seni. Nilai karya sastra bukan semata-mata disebabkan
oleh gaya bahasa, bias juga karena gaya cerita atau penyusunan alurnya. Namun demikian gaya
bahasa gaya bahasa sangat besar sumbangannya kepada pencapaian nilai seni karya sastra.
Suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetisadalah unsur retorika. Macam-
macam unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasan, struktur, pencintaan dan kohesi. Namun
dalam makalah ini penulis hanya menganalisis pemajasan saja. Jenis bahasa kiasan dalam bahasa
Indonesia ada bermacam-macam menurut keraf (2006: 115-145). Namun hanya beberapa jenis
majas yang sering dipergunakan pengarang dalam karya sastra. Diantaranya majas :
1. Simile adalah majas perbandingan yang langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain
kata perbandingan seperti, bagaikan, laksana dan lain-lain (Keraf : 138).
2. Metafora adalah majas perbandingan langsung yang tidak mempergunakan kata pembanding
(Keraf, 2006 : 138).
3. Personifikasi adalah majas yang menggambarkan atau memperlakukan benda-benda mati seolah-
olah memiliki sifat seperti manusia (Keraf, 2006 : 140)
4. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu
hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat, baik hubungan isi untuk menyatakan
kulitnya dan lain-lain (Keraf, 2006 : 142)
5. Paradok adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang
ada (Keraf, 2006 : 136)
6. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan
membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 2006 : 135)
7. Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan
diri (Keraf, 2006 : 132)
8. Sinekdok adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebagian dari sesuatu untuk menyatakan
keseluruhan (pars pro totot) keseluruhan untuk sebagian atau biasa diistilahkan totem proparte
(Keraf, 2006 : 143)
3. SINOPSIS
Aku dan Raihana harus disatukan oleh sebuah perjodohan yang mungkin akan terdengar konyol di
era abad 21 ini. Berbeda dengan Raihana yang benar-benar merupakan cermin wanita Jawa. Selalu
Manut dan pasrah pada keadaan dengan penuh kesabaran. Si Aku justru berbanding terbalik dalam
menyikapi takdir tersebut. Aku yang sempat mengeyam pendidikan dan hidup di Mesir.
Menjadikannya terlalu mendasarkan parameter kecantikan kepada figur-figur gadis Mesir
selayaknya Cleopatra. Meskipun begitu, kecintaannya dan bakti pada sang ibulah yang mengalahkan
dengan berbau keterpaksaan, hingga akhirnya keduanya menikah.
Setelah resmi menikah dan keduanya membangun hidup baru dengan tinggal di Malang, sebagai
konsekuensi pekerjaan aku yang seorang dosen. Aku semakin terbenam dalam khayalan tentang
aura kecantikan gadis-gadis mesir yang terus saja menggelayut dalam benaknya. Mengakibatkan
segala perilaku dan komunikasi dengan sang istri menjadi hambar. Raihana, dilandasi ketakwaan
terhadap Allah dengan penuh sabar berusaha terus membuktikan kecintaan dan kepatuhan sebagai
seorang istri. Seperti yang digariskan dalam ajaran agama. Walaupun semua itu tak mampu
sedikitpun mengetuk rasa cinta sang suami berpaling kepadanya. Satu hal yang dihindari oleh
Raihana adalah, jangan sampai sang suami menceraikannya. Karena dia tahu hal itu adalah neraka
baginya, menghalangi dia mendapatkan cinta hakiki dari Allah.
Sementara itu, Aku semakin lama semakin tenggelam dalam dunia fantasinya sendiri, bahkan timbul
kebencian pada sang istri yang dia anggap telah mematikan harapan merengkuh indahnya cinta
yang dia dambakan dengan wanita Mesir yang sering hadir dalam mimpi-mimpinya. Setelah sekian
lama, dengan segala derita berbeda yang mendera keduanya. Di satu sisi Raihana tidak pernah
mendapatkan cinta dari suami, di sisi lain aku tak mampu memalingkan cintanya pada sang istri,
bahkan dengan kehamilan istrinya sekalipun. Raihana memutuskan untuk tinggal dengan kedua
orang tuanya sendiri sambil menunggu saat kelahiran anak mereka. Saat-saat tanpa istri
disampinglah yang pelan-pelan mulai menyadarkan aku betapa penting kehadiran Raihana dalam
hidupnya. Ditambah kemudian cerita, petuah, dan curahan hati beberapa teman dosen yang didapat
aku di kampus.
Aku mendapat tugas untuk pelatihan selama sepuluh hari di Puncak. Kebetulan dalam pelatihan di
Puncak Ku bertemu dengan Pak Qulyubi yang mencurahkan pengalaman hidupnya yang pahit
dengan pernah menikahi gadis Mesir. Hal ini menghadirkan pemahaman baru dalam diri aku, bahwa
gadis-gadis Mesir tidaklah sesempurna yang dia bayangkan. Bahkan di beberapa sisi, wanita Jawa
jauh lebih baik untuk menjadi pendamping hidup. Aku akhirnya sadar, betapa beruntungnya dia
memiliki seorang Raihana. Istri yang Allah karuniakan meski dengan jalan yang dulunya dia anggap
sebagai produk keterbelakangan budaya. Dari situlah aku sadar, taringat dan ingin segera bertemu
dengan Raihana.
Sepulang pelatihan aku berniat member hadiah sebagai ungkapan maaf dan ingin melihat raihana
bahagia. Aku tak langsung ke rumah ibu mertua tapi kembali ke rumah kontrakan sesuai pesan
raihana untuk mencairkan uang tabungan. Setelah dibuka kasur untuk mengambil ATM. Aku kaget
karena di dapati puluhan surat curahan hari Raihana selama menjadi istri aku. Aku begitu merasa
berdosa kepada Raihana. Aku benar-benar bias mencintai Raihana dan memudarkan pesona
kecantikan Cleopatra. Aku langsung menuju tampat ibu mertuanya, namun yang ddi dapatinya
bukan Raihan malah tangis haru ibu mertuanya. Sebelum sempat aku membagi cintanya dengan
Raihana ternyata Raihana telah meninggal. Aku yang sangat mencintai Raihana sangat menyesal atas
apa yang telah diperbuatnya pada Raihana yang belum sempat bisa merasakan cintanya hingga
Raihana meninggal.
4. Pembahasan
Pemajasan merupakan suatu teknik penungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada
makna harafiah, tetapi menuju pada makna tersirat. Tujuan digunakan majas atau bahasa kiasan
dalam satu karya sastra dimaksudkan untuk memng-masingperoleh efek keindahan, kepuitisan dan
tujuan-tujuan lainnya sesuai dengan pengertian masing-masing majas tersebut. Adapun majas atau
gaya bahasa yang digunakan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novel Pudarnya Pesona
Cleopatra antara lain:
4.1 Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung (Keraf : 139).
Berikut contohnya:
Sehingga diriku tak ubahnya patung batu (hlm. 8).
Maksudnya adalah aku yang hanya diam tak bisa berbuat apa-apa seperti patung batu.
Jelaskan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membuatrumah ini penuh bunga-bunga indah
yang bermekaran? (hlm. 10).
Maksudnya si aku ingin membuat rumahnya wangi dan berwarna dan membuat bahagia seperti
dipenuhi bunga-bunga indah yang bermekaran.
Mona Zaki, aktris belia yang sedang naik daun itu? (hlm 13).
Kata terkenal dibandingkan menjadi naik daun
Dulu dia adalah bintang di kampus ini (hlm. 26).
Karena begitu pandai dan terkenal di kampus maka di sebut dengan bintang di kampus.
Menurut cerita Pak Soerdarmaji, Zaenab memang tidak secantik bintang film tapi untuk ukuran di
desanya bisa dikatakankembang desa (hlm. 26).
Sebagai gadis paling cantik di desanya dibandingkan dengan kata kembang desa.
4.2 Simile
Simile merupakan perbandingan yang bersifat eksplisit, maksudnya ialah bahwa ia lansung
mengatakan sesuatu sama dengan hal lain (Keraf: 138). Dalam hal ini bahasa yang membandingkan
mengunakan kata-kata perbandingan, terlihat dalam ketipan berikut:
a. menggunakan kata seumpama:
hari pernikahan itu datang. Aku datang seumpama tawanan yang digiring ke tiang gantungan (hlm.
4).
Dalam kalimat di atas, kata seumpama menjelaskan makna bahwa kedatangan si aku yang
diumpamakan seperti seorang tawanan yang digiring ke tiang gantungan yang berarti karena
terpaksa si aku melakukan itu.
b. Menggunakan kata seperti:
Dalam balutan jilbab sutera putih wajah gadis Mesir itu bersinar-
sinar, seperti permata Zabarjad yang bersih, indah berkilauan tertimpa sinar purnama (hlm. 3).
Dalam hal ini diartikan wajah gadis Mesir yang berbalut jilbab dibandingkan secantik
permata Zabarjad yang bersih, indah berkilauan tertimpa sinar.
Meskipun Cuma mimpi itu sangat indah dan seperti dalam alam nyata (hlm. 15).
Maksudnya adalah mimpinya terasa seperti kenyataan, munkin karena saking indahnya mimpi si aku
itu.
Kelembutannya seperti Dewi Sembodro tak juga membuatku jatuh cinta (hlm. 16).
Dewi Sembodro adalah tokoh pewayangan yang sangat lembut, hal inilah yang membuat pengarang
membandingkan kelembutan tokoh Raihana dengan Dewi sembodro.
Aku ingin mencintai isteriku seperti Ibnu Hazm mencintai isterinya. Dan aku ingin dicintai isteriku
seperti Ibnu Hazm dicintai isterinya (hlm. 19).
Si aku membandingan ia dapat mencintai isterinya seperti Ibnu Hazm mencintai isterinya. Dan aku
ingin dicintai isteriku seperti Ibnu Hazm dicintai isterinya
Dan jika ada sedikit letupan atau masalah antara kami berdua, maka rumah seperti neraka (hlm. 34)
.
Karena saking panasnya keadaan rumah jika terjadi masalah hingga dibandingkan seperti neraka.
Kini saya merasa menjadi lelaki paling malang di dunia. Dan hati saya seperti ditusuk-tusuk dengan
sembilu setiap kali mendengar si sulung mengigau meminta ibunya pulang tiap malam (hlm. 38).
Hati yang sakit di gambarkan dengan seperti ditusuk-tusuk dengan sembilu.
c. Menggunakan kata bagai:
Lalu duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa, tanpa cinta (hlm. 4).
Hal ini memperlihatkan adanya perumpamaan bahwa si aku hanya diam seperti mayat hidup.
d. Menggunakan kata bagaikan:
Kata-katanya terasa bagaikan ocehan penjual jamu yang tak kusuka (hlm. 10).
Dalam hal ini perkataan yang dianggap tidak penting dibandingkan seperti ocehan penjual jamu.
Kata-kata yasmin yang terdengar bagaikan geledek menyambar itu terasa perih menikam ulu hati
(hlm. 36).
Dalam hal ini kata-kata yang dilontarkan begitu keras dalam artian menyakitkan, dan mengagetkan
hingga dibandingkan dengan geledek yang pada hakikatnya suara geledek itu keras dan
mengagetkan.
4.3 Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang mangandung ungkapan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan
sesuatu hal (Keraf: 135). Contohnya:
Jika tersenyum lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya. Aura kecantikan gadis
Mesir titisan Cleopatra sedemikian kuat mengakar dalam otak perasaan dan hatiku (hlm. 3).
Bibit cinta yang kuharapkan malah menjelma menjadi pohon-pohon kaktus berduri yang tumbuh
mengganjal di dalam hatiku(hlm. 4).
Sinar wajah ibu berkilat-kilat, hadir di depan mataku (hlm. 4).
Hatiku bergetar hebat (hlm. 14).
Tangis Raihana tak juga mampu membuka jendela hatiku(hlm. 16).
Tangisku meledak (hlm. 42).
Di samping karena kecantikannya yang menyihir siapa saja yang melihatnya saya juga merasa sangat
prestise jika berhasil menyuntingnya (hlm. 32).
4.4 Personifikasi
Adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan banda-benda mati atau barang-barang
yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (Keraf : 140). Di sini kami mengambil
beberapa contoh gaya bahasa personiikasi yang digunakan pengarang.
Meskipun sesungguhnya dalam hatiku ada kecemasan-kecemasan yang mengintai (hlm. 3).
Dalam hal ini, kecemasan sebagai suasana hati atau perasaan seseorang yang digambarkan mamiliki
sifat seperti manusia yang mengintai.
Saat Raihana tersenyum mengembang, hatiku merintihmenangisi kebohongan dan kepura-puraanku
(hlm. 5).
Hatiku merintih merupakan bahasa kiasan dimana hati yang digambarkan bias merintih seperti
manusia.
Pertanyaan-pertanyaan itu menebas leher kemanusiaanku (hlm. 5).
Sukmaku menjeri-menjerit, mengiba-iba (hlm. 42).
4.5 Metonimia
Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu
hal lain karena memiliki pertalian yang sangat erat (Keraf : 142).
Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku (hlm.
2).
Dalam hal ini terjadi pertalian hubungan berupa sebab untuk akibat.
Aku justru melihat jika ada delapan gadis Mesir maka yang cantik ada enam belas karena
bayangannya juga ikut cantik (hlm. 17).
Dalam hal ini terjadi pertalian hubungan berupa akibat untuk sebab.
4.6 Litotes
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan untuk merendahkan diri.
Gaya bahasa ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut:
Gaji saya sebagai dosen hanya cukup untuk makan saja(hlm. 33).
Dalam hal ini terlihat segali, digambarkan dengan gaji seorang dosen yang hanya cukup untuk makan
saja.
4.7 Sinekdoke
Gaya bahasa ini terdiri atas dua macam, yaitu sinekdoke pars pro toto (mempergunakan sebagian
dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan) dan sinekdoke totem proparte (mempergunakan
keseluruhan untuk menyatakan sebagian) (Keraf : 142).
a. Sinekdoke pars pro toto. Misalnya:
Wajah-wajah yang cukup manis tapi tidak semanis dan seindah gadis-gadis lembah sungai Nil (hlm.
12).
Maksudnya, lembah sungai Nil mewakili untuk menyebutkan Mesir.
b. Sinekdoke totem proparte
Anda sangat beruntung orang Indonesia (hlm. 14).
Maksudnya, penunjukan orang Indonesia yang luas sesungguhnya hanya ditujukan pada satu orang.
4.8 Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang
ada.
Aku biasanya suka romantis kenapa bisa begini sadis (hlm. 7).
Dalam hal ini terjadi pertentangan yang nyata yang diperlihatkan melalui gambaran perasaan si aku.
4.9 Rujuk Silang
Aku dan Raihana nyarus hidup dalam kehidupan masing-masing. Aktivitas kami hanya sesekali
bertemu di meja makan dan saat sesekali shalat malam (hlm. 16).
Aku kembali larut dalam perjalanan hidup Imam Ibnu Hazm bersama istrinya, Samar. Mereka hidup
penuh cinta dan kasih sayang (hlm. 18-19).
Dia dan isterinya berangkat ke sana. Anak mereka yang berusia tiga tahun dibawa serta (hlm. 25).
5. KESIMPULAN
Karta sastra novel mempunyai nilai estetik yang tinggi yang dituangkan dalam tulisan yang
mengandung gaya bahasa atau atyle. Dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya
Habiburrahman El Shirazy banyak dijumpai unsure-unsur style dalam penggunaan gaya bahasanya.
Gaya bahasa yang digunakan pengarang antara lain;metafora, simile, personifikasi, hiperbola,
metonimia, sinekdoke, litotes, paradox, dan rujuk silang. Penggunaan gaya bahasa yang paling
dominan adalah simile, sedangkan yang sedikit dipakai adalah litotes.
Gaya bahasa yang dipakai dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El
Shirazy sangat seuai dalam perangkaiannya. Penggunaan kalimat serta klausa yang indah membuat
novel ini indah untuk dibaca dan dipelajari secara kusus tentang nilai kesasteraannya. tugas trimo
2009
Majas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk
memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam
menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis
[1]
.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Jenis-jenis Majas
o 1.1 Majas perbandingan
o 1.2 Majas sindiran
o 1.3 Majas penegasan
o 1.4 Majas pertentangan
2 Baca Juga
3 Rujukan
4 Catatan kaki
Jenis-jenis Majas[sunting]
Majas perbandingan[sunting]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-
kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti
ketika bertemu dengan laut.
1. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
1. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan
penghubung, seperti layaknya,bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa
saja.
1. Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena
mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
1. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan
manusia untuk hal yang bukan manusia.
2. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra lainnya.
3. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
4. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
5. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri
khas, atau atribut.
Contoh: Karena sering menghisap jarum, dia terserang penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum)
1. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan
karib.
2. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.
1. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi
tidak masuk akal.
Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar telah mencapai langit.
1. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada
sesuatu yang bukan manusia.
Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.
1. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
2. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.
1. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
contoh:Indonesia bertanding volly melawan Thailand.
1. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata
lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
contoh:Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?
1. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana
adanya.
2. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
contoh:Perilakunya seperti ular yang menggeliat.
1. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
2. Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
3. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
contoh:Kita bermain ke rumah Ina.
1. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan
maksud.
2. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut.
Majas sindiran[sunting]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari
fakta tersebut.
Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.
1. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
2. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada
manusia (lebih kasar dari ironi).
Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
1. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau
menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
2. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Majas penegasan[sunting]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan
keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh: Saya naik tangga ke atas.
1. Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
2. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
3. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
4. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
5. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
6. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
7. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
8. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting
meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
9. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting
menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
10. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
11. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
12. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur
tersebut seharusnya ada.
13. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat,
kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
14. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
15. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
16. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
17. Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
18. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
19. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
20. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
21. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
22. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam
lebih dari satu konstruksi sintaksis.
23. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi
sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Majas pertentangan[sunting]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun
sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang
lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian
sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan
waktunya.
6. Analisis gaya penulisan Ahmad Tohari dan
Anton Chekov
7. Gaya bahasa sesungguhnya terdapat dalam segala ragam bahasa: ragam lisan dan
ragam tulis, ragam nonsastra dan ragam sastra, karena gaya bahasa ialah cara
menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu dan untuk maksud
tertentu (Sobur, 2004:82). Maksud dari pernyataan itu ialah segala ragam bahasa
pasti di dalamnya terdapat unsur gaya bahasa. Berdasarkan cakupannya, gaya
bahasa memiliki beberapa bagian yaitu diksi (pilihan kata), struktur kalimat, majas
dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang
terdapat dalam sebuah karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14).
Akan tetapi analisis yang saya lakukan dari kumpulan cerpen Senyum Karyamin
karya Ahmad Tohari hanyalah gaya bahasa dan majasnya saja. Agar mempunyai
fokus pengkajian yang jelas.
Diksi, menurut Keraf(2006:22-23), bukan saja dipergunakan untuk menyatakan
kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan ide atau gagasan, tetapi juga
meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Diksi atau pilihan kata
dapat mempengaruhi penyampaian makna (Sudjiman, 1993:22).Pilihan kata yang
dimaksud tentunya bukan hanya mencari kemudian memasangkan kata yang puitis,
tetapi pilihan kata itu meliputi proses pencarian, penyelesaian dan pemanfatan kata-
kata tertentu yang dapat menimbulkan nilai estetika atau keindahan dalam arti luas
dan sekaligus sarat makna serta efisen dan mampu merefleksi tema yang dijabarkan.
Majas, menurut Keraf (2006:113), majas ialah cara mengungkapkan pikiran
melalui bahasa supaya bahasa terlihat imajinatif. Maksudnya pengarang
menggunakan majas untuk membangun karya tersebut menjadi menarik dan
memiliki nilai estetika yang tidak mudah untuk ditebak oleh pembaca. Biasanya setiap
penulis memiliki ciri khasnyamasing-masing dalam menggunakan majas.
Bentuk-bentuk pemajasan yang banyak digunakan pengarang adalah bentuk
pembandingan atau persamaan, yaitu membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang
lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya berupa ciri fisik, sifat, sikap,
keadaan, suasana, tingkah laku, dan sebagainya. Bentuk perbandingan tersebut
dilihat dari sifat kelangsungan pembandingan persamaannya dapat dibedakan ke
dalam bentuk simile, metafora dan personifikasi.
Simile menyarankan pada adanya perbandingan langsung dan eksplisit, dengan
menggunakan kata-kata: seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip dan lain
sebagainya.
Metafora, merupakan gaya perbandingan yang bersifat langsung dan implisit.
Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya
bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuka perbandingan eksplisit.
Personifikasi, merupakan gaya bahasa yang memberikan sifat-sifat benda dengan
sifat-sifat yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku
sebagaimana halnya manusia.
Berikut adalah hasil analisis kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad
Tohari,
Ahmad tohari membuka cerita dengan menggunakan gaya penulisan informatif dan
deskriptif dalam beberapa hal;
Kasdu terus berjalan. Lepas dari perkampungan dia menapaki jalan sempit yang
membelah perbukitan. Kiri-kanan jalan adalah tebing dengan cadasnya yang kering-
renyah berbongkah-bongkah. Kala musim hujan, jalan itu adalah sebuah kali yang
mengalirkan air dengan deras dari puncak bukit. Air yang keruh meluncur dari atas
menggerus tanah, sehingga jalan itu makin lama makin dalam. (Senyum
Karyamin:12, Si minem beranak bayi)
Pemilihan kata atau diksinya menimbulkan irama yang membuat pembaca menikmati
irama tersebut menjadi sebuah estetika pembuka yang enak. Menarik. Berikut ini
adalah contoh yang lain-lainnya:
Bunga-bunga api kecil melentik ke udara ketika tangan Suing mengusik perapian.
Tangn yang pucat dan bergerak lemah. Tengkuk dan dahi Suing berkeringat. Bukan
karena terik matahari atau panasnya perapian, melainkan keringat dingin hasil
pelepasan kalori terakhir sebekum seseorang jatuh pingsan karena kehabisan
tenaga. Senyum karyamin:17, Surabanglus)
8. Hari ini sebuah sumber berita yang amat terpercaya mengatakan bahwa Sutabawor
sedang mengadakan syukuran. Konon tiga ekor ayam yang tidak begitu besar
dipotong. Para tetangga diundang makan-makan. Sumber berita itu selanjutnya
mengatakan Sutabawor merasa perlu, amat eprlu menyelenggarakan syukuran
karena akhirnya dia berhasil menyingkirkan kekesalan hidup yang menghimpitnya
selama beberapa tahun. (Senyum Karyamin: 38, Syukuran Stabawor).
Ahmad tohari membuat kalimat pembuka dengan pilihan diksi yang membuat
penasaran pembaca untuk terus melanjutkan membaca.
Setelah melakukan pembukaan yang menarik, Ahmad Tohari membuat penutup yang
mencengangkan, yakni diakhiri dengan ironis.
. ketika melihat tubuh karyamin jatuh ke lembah Pak Pamong berusaha
menahannya. Sayang, gagal. (Senyum Karyamin:6, Senyum Karyamin)
Kita bisa bayangkan seseorang yang jatuh ke lembah dan tidak bisa diselamatkan
pasti sudah mati. Berikut penggalan akhir cerita kumpulan cerpen Ahmad Tohari yang
lainnya:
..,
Dengar, Suing! Kau makan jugakah singkong itu?
Suing bungkam, bahkan rebah ke tanah.(Senyum Karyamin:21, Surabanglus)
9. Dengan pilihan kata (Diksi) tersebut, kita bisa membayangkan keadaan Suing dan
temannya sangat buruk. Suing dalam ketidakberdayaan dan bahkan mungkin telah
mati.
10. Itu adalah contoh diksi yang bisa ditemukan di dalam kumpulan cerpen Ahmad Tohari
Senyum Karyamin tersebut. Keseluruhan cerita yang ada di dalam kumpulan
tersebut diawali dan diakhiri dengan gaya yang sama. Deskriptif untuk membuka dan
Ironis untuk mengakhiri. Meskipun secara umum, gaya bercerita Ahmad Tohari
mengalir dengan sangat menyenangkan seperti air mengalir dari hulu hingga ke hilir,
tetap saja Ahmad Tohari menyediakan kejutan diakhir air itu bermuara.
Berikut ini majas-majas yang digunakan oleh Ahmad Tohari untuk memperkaya
ceritanya, menjadi cerita imajinatif yang kreatif dan memiliki nilai estetika. Karena
Ahmad Tohari juga membawa kita pada suasana pedesaan yang kental dengan
lingkungan yang miskin kita bisa merasakannya lewat atmosfer diksi dan majas yang
digunakannya sangat tepat untuk menggambarkan situasi yang diinginkan.
Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. (Senyum Karyamin:1, Senyum
Karyamin) majas yang digunakan dalam kalimat ini ialah majas Metafora. Pilihan kata
merayap untuk membandingkan Karyamin dengan hewan melata sebenarnya untuk
membangun kesan di dalam benak pemabca bahwa Karyamin dalam keadaan yang
tak berdaya, kesakitan dan lemah.
.Angin di dengarnya bersenandung tembang mangayubaya. Kenthus telah
dilambungkan dari kelas terbawah ke atas panggung kehidupan. (Senyum
Karyamin:47, Kenthus)
Pilihan kata angin di dengarnya bersenandung, seolah-olah membawa pembaca untuk
membenarkan khayalan tokoh bernama kenthus bahwa angin mampu bernyanyi atau
bersenandung dalam penggalan cerita tersebut. Kesan lain yang ingin di sampaikan
oleh Ahmad Tohari melalui kalimat tersebut ialah bahwa suasana di dalam cerita
sangat menyenangkan, membuat hati tokoh bahagia dan lain sebagainya.
Berikut ini penggunaan majas personifikasi yang lainnya didalam cerpen Ahmad
Tohari. .Teriakannya di telan oleh bunyi mesin yang meraung-raung. (Senyum
Karyamin:65, Pengemis dan Salawat Badar)
Berbeda dengan pilihan kata berikut ini:
. Bahkan Dawet(istrinya) bukan hanya kelihatan demikian kerdil, melainkan juga
buruk tidak kepalang. Matanya sepele seperti mata laron. (Senyum Karyamin:47,
Kenthus) Jelas majas yang digunakan ialah majas simile, membandingkan mata
manusia (Dawet) dengan mata laron. Menggunakan kata seperti di dalamnya
menjadikan ciri majas simile semakin jelas adanya.
Ahmad tohari memang lihai dalam mendeskripsikan situasi yang ada di dalam
konflik sebuah cerita.
Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahn
ya tak ada sesuatu pun buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. (Senyum
Karyamin:5, Senyum Karyamin)
Hanya dengan kalimat tersebut diatas, Ahmad Tohari sudah mempu menunjukkan
keadaan yang sangat miskin.
Oalah Gustipanggilkan modin Kang Sanwirya hampir ajal kami berempat
mengintip ke dalam. Dukun sedang menyilangkan tangan Sanwirya lalu mengusap
kelopak matanya agar tertutup. Sampir menjadi sangat pucat. Ia hendak lari dan
kupengangi lehernya.
Kau sampir! Ada jasa yang masih dapat kau lakukan. Turuti permintaan Nyai
Sanwirya memanggil modin!
dan sampir lari ke sana. Di bawah pohon manggis, aku lihat dia jatuh tersandung
pongkor dan lari. (Senyum Karyamin:11,Jasa-jasa buat Sanwirya)
11. Terasa benar situasi yang tidak enak di dalam cerita. Sebuah kepanikan dan
kekagetan bergabung secara bersamaan di dalamnya.
Kecuali Rabu kemarin. Kemarin kami pulang dari surau kala pagi masih remang oleh
kabut, ada orang seberang kali sudah berdiri di halaman rumahku. (Senyum
Karyamin:53, Orang-orang Seberang Kali)
Ahmad Tohari menggunakan kalimat kala pagi masih remang oleh kabut, kita bisa
membayangkan suasana pagi diwaktu subuh disebuah desa yang masih dipenuhi oleh
pohon-pohon yang rindang. Di beberapa rumah sudah ada yang mulai memasak
sehingga mengepulkan asap dan terkesan seperti kabut tipis yang menyebar di
seluruh desa.
Ada lagi kalimat di bawah ini,
Lalu kalian mengiria titian batang pinang jarang dilalui orang karena siapa saja akan
takut tergelincir dan melayang jatuh ke bawah lalu hinggap diatas pasta
kuning?..(Senyum Karyamin:53, Orang-orang Seberang Kali)
pilihan kata dalam kalimat-kalimat tersebut sangat menarik, mampu membangun
sebauh imajinasi tentang suatu hal yang lucu terutama hinggap diatas pasta kuning.
Mengapa Ahmad Tohari tidak menggunakan kalimat tahi manusia? Karena dengan
menggunakan kata tahi manusia tentunya pembaca tidak perlu menebak-nebak
sehingga keindahan dalam cerita ini berkurang. Kesan lucu di dalamnya berkurang,
menjadi jijik yang berlebihan. Coba bandingkan dengan kalimat pasta kuning? Orang-
orang akan mengartikan sendiri kalimat tersebut dan diam-diam tertawa
membayangkan apa itu pasta kuning.
12. Demikianlah Ahmad Tohari membuat daya magis di dalam kumpulan cerpennya yang
berjudul Senyum Karyamin itu menjadi hidup dan menarik untuk dikajai. Tidak hanya
karena latar belakang sosial tokoh dalam cerpen adalah orang-orang kelas bawah
saja yang menarik, sehingga membawa kita kepada sebuah realitas yang mungkin
selama ini kita abaikan. Bahwa mereka ada. Dengan gaya hidup masing-masing.
Namun, Ahmad Tohari berhasil membangun suasana desa itu menjadi dekat kepada
pembaca dengan gaya berceritanya. Pilihan-pilihan kata dan majas yang dipilihnya
menimbulkan kesan estetis. Sapardi mengatakan, gaya bercerita dan tema pilihan
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Senja dalam Iblis Tidak Pernah Mati
Pada cerpen Tujuan: Negeri Senja, sebuah cerpen yang terdapat dalam antologi Iblis
Tidak Pernah Mati, dikisahkan suasana Stasiun Tugu Yogyakarta yang memiliki sebuah loket
istimewa. Di loket itu tidak dijual tiket ke Jakarta, Bandung, atau Surabaya; melainkan hanya
tiket ke satu tujuan, yakni Negeri Senja. Berbeda dengan loket yang lain, loket ini tempatnya
terpisah dan tampaknya selalu sepi pembeli. Padahal loket lainnya selalu ramai. Suasana realistikini
biasa-biasa saja. Secara referensial, di Stasiun Tugu Yogyakarta memang terdapat Kereta Api
Senja Utama jurusan Jakarta yang berangkat sore hari dan setelah sampai di Jakarta kembali lagi
ke Yogyakarta menjadi Kereta Api Fajar Utama kerena tiba di Yogyakarta pagi hari.
Cerpen Seno ini menjadi menarik karena kisah selanjutnya bergerak ke arah surealistik,
dengan sebuah deskripsi yang aneh tentang kereta api itu dan deskripsi Negeri Senja itu sendiri
yang penuh dengan enigma.
Setiap sore memang selalu ada kereta api ke jurusan Negeri Senja yang datang.
Tetapi tidak pernah ada kereta api datang dari Negeri Senja.
Mereka yang pergi ke Negeri Senja, tidak pernah kembali, kata penjaga loket.
Jadi, mereka yang membeli tiket ke Negeri Senja pasti sudah siap untuk tidak
kembali.
Aku heran, bagaimana semua ini mungkin?
Tapi orang-orang di Stasiun Tugu sudah terbiasa dengan kenyataan itu. Aku baru
tahu sekarang, karena selama ini aku kalau mondar-mandir JakartaYogya selalu
menggunakan pesawat terbang.
Setiap sore selalu muncul kereta api ke Jurusan Negeri Senja. Kereta api berwarna
perak itu muncul begitu saja dari arah Kali Code dengan pancaran cahayanya yang gilang
gemilang, seolah-olah seperti sebuah kereta kerajaan entah dari mana. Kereta api ini
bukan kereta api diesel, melainkan lokomotif biasa yang selalu mendengus-dengus, tapi
kereta api ini memang sangat menawan. Gerbong-gerbongnya bagaikan dibuat di negeri
dongeng. Bukan hanya karena mengkilap keperakan, tapi juga karena dari jendela kita
bisa melihat sebuah dunia yang tidak mungkin9)
.
Kisah cerpen ini makin surealistik manakala digambarkan bagaimana para penumpang itu
harus menandatangani sebuah surat untuk pergi ke Negeri Senja dan siap untuk tidak pernah
kembali.
Berapa harga tiket ke sana?
Oh, tidak perlu bayar.
Jadi?
Mereka yang datang ke loket ini cuma perlu tanda tangan.
Tanda tangan apa?
Artinya mereka setuju untuk tidak kembali.
Kalau mereka berubah pikiran, dan ingin kembali dari sana?
Tidak mungkin, dan tidak pernah terjadi.
Seperti apa Negeri Senja itu?
Tidak ada yang pernah tahu.
Lho, waktu membangun rel itu, sampai ke mana?
Wah, rel itu sudah ada sejak stasiun ini belum berdiri. Tidak ada catatan apa-apa
tentang hal itu, dan memang tidak pernah ada yang tahu.
Aneh sekali.
Ah, orang sini sudah biasa. Adik saja yang sibuk bertanya-tanya.
Aneh, orang tidak kembali kok biasa.
Apanya yang aneh? Ini kan cuma seperti kematian. Apa yang aneh dengan
kematian?10)
. Cerpen ini mengingatkan orang-orang yang diculik dan hingga kini ada empat belas
orang yang belum kembali dan tidak diketahui nasibnya. Peristiwa penculikan para aktivis pada
bulan-bulan awal 1998, penghujung akhir masa kekuasaan Soeharto, ini digambarkan dengan
metafora berupa keberangkatan ke Negeri Senja yang tidak pernah dapat kembali. Peristiwa
penculikan aktivis yang ditengarai oleh Tim Mawar Kopassus inilah yang secara gamblang
direfleksikan Seno dalam sebuah naskah drama yang berjudul Mengapa Kau Culik Anak
Kami?11). Para aktivis itu memang telah menyadari akan segala konsekuensi, termasuk diculik
atau tindakan represif lainnya, atas sikap politik yang diambilnya dengan mengkritisi
pemerintah. Itu artinya sama dengan memberi tanda tangan di loket kereta api ke Negeri Senja,
yang berarti siap untuk tidak kembali.
Apakah Negeri Senja menjanjikan suatu kebahagiaan yang abadi? Sebegitu jauh,
orang-orang yang datang ke stasiun ini lebih banyak yang memilih ke Jakarta daripada ke
Negeri Senja. Banyak di antaranya juga pergi ke Jakarta untuk memburu kebahagiaan,
memburu mimpi, memburu cita-cita yang terhampar di cakrawalameskipun Jakarta
sering terasa seperti neraka.
Di stasiun Tugu, aku termenung memandang senja. Kereta api yang gilang
gemilang dengan tujuan Negeri Senja itu tiba. Kalau aku menaiki kereta api itu, aku tidak
akan pernah kembali12)
.
Bukankah kasus penculikan para aktivis ini terbukti menjadi rangkaian akhir
kekuasaan
Orde Baru? Akhir dalam berbagai konteks kehidupan Indonesia sering kali
digambarkan dengan
senja kala. Apakah Negeri Senja dalam cerpen ini metafora dari akhir
pemerintahan Orde Baru?









Jenis-jenis gaya bahasa
Posted 13 April 2011 by danriris in Artikel, Tata Bahasa. Ditandai:Gaya
Bahasa, Jenis Gaya Bahasa. 30 Komentar

53

6

Rate This

Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa
gaya umum itu dapat ditambah , diperbesar dengan salah satu cara. Tiap
cara atau proses ini akan menghasilkan sejemlah corak dengan nama-
nama khususnya. Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa
dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum
dengan cara-cara mengadakan:
1. Perbandingan; 2. Pertentangan; 3. Pertukaran; 4. Perulangan; 5.
Perurutan.
Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk
menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan
keindahan (http://esastra.com/kurusu/kepenyairan.htm#Modul 11).
Hal itu terjadi karena dalam karya sastralah ia paling sering dijumpai,
sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam
berekspresi.
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiranmelalui bahasa secara
khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai
bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113). Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-
bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana
sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang
dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas.
Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-
xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni:
Pengertian, sendi, jenis-jenis gaya bahasa
1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
a. Gaya bahasa resmi
b. Gaya bahasa tak resmi
c. Gaya bahasa percakapan
2. Gaya bahasa berdasarkan nada:
a. Gaya sederhana
b. Gaya mulia dan bertenaga
c. Gaya menengah.
2. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat
a. Klimaks
b. Antiklimaks
c. Paralelisme
d. Antitesis
Repetisi

3. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna
a. Gaya bahasa retorika terdiri dari:
1) Aliterasi
2) Asonansi
3) Anastrof
4) Apofasis/preterisio
5) Apostrof
6) Asidenton
7) Polisindenton
8.) Kiasmus
9) Elipsis
10) Eufimismus
11) Litotes
12) Histeron proteron
13) Pleonasme dan tautologi
14) Perifrasis
15) Prolepsis/antisipasi
16) Erotesis/pertanyaan retoris
17) Silepsis dan Zeugma
18) Koreksio Epanotesis
19) Hiperbol
20) Paradoks
21) Oksimoton
b. Gaya bahasa kiasan
1. Persamaan/simile
2. Metafora
3. Alegori, Parabel dan Fabel
4. Personifikasi
5. Alusi
6. Eponim
7. Epitet
8. Sinekdoke
9. Metonimia
10. Antomonasia
11. Hipalase
12. Ironi
13. Satire
14. Iniendo
15. Antifrasis
16. Paronomasia
Uraian mengenai pengertian bermacam-macam gaya bahasa tersebut
dan contoh-contohnya bisa dibac dalam buku Diksi dan Gaya Bahasa
karya Gorys keraf, juga karya Henry Guntur Tarigan, Rahmat Joko
Pradopo dan dijumpai di segenap buku yang membicarakan gaya bahsa
untuk SMP dan SMA/SMK.
Pengertian Masing-masing Jenis Gaya Bahasa dan Contoh
Pemakaiannya
Di bawah ini disampaikan pengertian dari jenis-jenis gaya bahasa di atas
yang dirumuskan secara bebas oleh peneliti berdasarkan pemahaman
yang penulis peroleh dari berbagai sumber:
1. Klimaks, yang disebut juga gradasi, adalah gaya bahsa berupa
ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makn lama
makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya.
Contoh:
Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di
TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau
mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula.
b. Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang
pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-
ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus
mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita
mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya, syukur juga
terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra.
2. Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa
berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas,
kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama
makin ke bawah.
Contoh:
Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus
ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih
dihitung-hitung.
b. Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena
2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara
nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan
pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW.
3. Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-
frase yang menduduki fungsi yang sama.
Contoh: Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan
banyakmorang, membuat menderita kurban-kurbannya.
4. Antitesis adalah gaya bahsa yang menghadirkasn kelompok-
kelompok kata yang berlawanan maksudnya.
Contoh:
Kau yang berjani kau pula yang mengingkari
Kau yang mulai kau pula yang mangakhiri
Di timur matahari terbit dan di barat ia tengggelam
5. Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulanmg pengunaan
kata atau kelompok kata tertentu.
Contoh:
Seumpama eidelwis akulah cinta abadi yang tidak akan pernah layu
Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji
Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara
Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh
kesah segala muara
6. Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan.
Contoh:
Widyawan Wisik Wahyu Wastika suka menekuni spiritualitas.
Sahabatku bernama Fajar Firman Firdaus Filosofi.
Jadilah jantan jujur jenius!
Nama mahasiswi itu Cici Cantika Cangggih Cendikiawati
7. Asonansi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal
Contoh:
Gita Cinta dari SMA, lagu rindu dari SMU
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu
8. Anastrof adalah gaya bahasa berupa pembalikan susunan kalimat
dari pola yang lazim, biasanya dari subjek-predikat jadi predikat-subjek
Contoh:
Terlalu kecil anak itu untuk bekerja seberat itu
Berbahagialah wisudawan-wisudawati dalam perayaan yang diadakan di
kampus mereka.
9. Apofasis/preterisio adalah gaya bahasa yang dipakai oleh
pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang megandung unsur
kontradiksi, kelihatannya menolak tapi sebenarnya menerima,
kelihatannya memuji tapi sebenarnya mngejek, nampaknya
membenarkan tapi sebenarnya menyalahkan, kelihatannya
merahasiakan tapi sebenarnya membeberkan.
Contoh :
- Saya tidak ingin membongkar kesalahan masa silammu bahwa dulu
kamu pernah melakukan pemalsuan ijazah dan menjadi plagiator.
- Jangan repotrepot membawa sesuatu ke sini, tapi tidak baik bukan
kalau orang menolak rejeki?
10. Apostrof adalah gaya bahsa berupa pengalihan pembicaraan kepada
benda atau sesuatu yang tidak bisa berbicara kepada kita terutama
kepada tokoh yang tidak hadir atau sudah tiada, dengan tujuan lebih
menarik atau memberi nuansa lain.
Contoh:
- Wahai Nabi Suci yang kami cintai dan hormati, malam ini kami
berkumpul disini untuk melantunkan shalawat dan kasidah nan syahdu
untukmu, terimalah sayang, kekasihku.
- Hai burung-burung betapa merdu nyanyianmu, wahai bunga-bunga
betapa indah dan semerbak aromamu, wahai embun pagi, betapa jernih
berkilau kamu laksana butiran-butiran intan tertimpa hangat sinar
surya.
11. Asidenton adalah gaya bahsa dengan jalan menghadirkan kata/frasa
yang berfungsi sama, berkedudukan sejajar tanpa menggunakan kata
penghubung hanya menggunakan koma.
Contoh:
Untuk menjadi insan kamil, kita harus punya imtak yang prima, iptek
yang andal, akhlak yang solid, amal salih yang semarak produktif banyak
berkarya, kreatif penuh cipta.
12. Polisidenton adalah gaya bahasa berupa penyampaian sesuatu
dengan menggunakan kata sambung secara berulang.
Contoh:
- Kepada bulan, kepada bintang-gemintang, kepada langit biru, kepada
malam yang syahdu, aku bertanya kepadamu adakah kau lihat hamba-
hamba Allah yang beriman bangun tengah malam untuk berdzikir,
untuk berdoa, untuk bersujud?
- Kita harus giat menuntut ilmu dari berbagai sumber agar cerdas
cendikia agar berwawasan luas agar bisa bnyak berkiprah agar tidak
ketinggalan zaman.
13. Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua klausa yang
berimabang namun dipertentangkan satu sama lain.
Contoh:
Sebenarnya mereka orang-orang yang sabar, namun akhirnya berontak
terhadap orang-orang yang terus mengencetnya.
14. Elipsis adaklah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang
mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa
diisi oleh pembaca/penyimak.
Contoh:
- Pembangunan mencakup dua hal yakni pembangunan material dan
.,pembangunan lahiriah dan .., pembangunan individual dan
.
- Apa saja yang ada di dunia serta berpasangan ada siang ada , ada
baik ada.., ada terang ada , ada pertemuan ada .., roda
berputar kadang di atas kadang
15. Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya
menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam.
Contoh:
-Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya
dikenai pension dini.
(Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK)
-Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti
pelajaran.
(Bodoh)
16. Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak
sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tidak punya
maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu
apa yang sebenarnya ia maksudkan.
Contoh:
-Kalau Anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami di Jalan
Pemuda No. 100 Surakarta.
- Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak.
17. Histeron Proteron adalah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat
yang mengandung pembalikan dari logika yang wajar.
Contoh:
Silakan membaca terus sampai jadi kutu buku agar kebodohanmu tidak
berkurang, kepandaianmu tidak bertambah.
-Pegang teguhlah sifat jujur maka kamu bakal hancur, bertindaklah adil
maka justru kamu akan terpencil.
18. Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara
berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh
pengertian yang lebih mendalam, misalnya:
Tak ada badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah.
So pasti, buku-buku bermutu banyak memberikan manfaat bagi
pembacanya.
19. Pleonasme adalah sarana retorika semacam tautologi dengan kata
kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama.
Contoh:
Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas.
Hujan yang basah menyuburkan tanah-tanah rekah
20. Perifrasis adalah gaya bahasa sejenis pleonasme yang merupakan
keterangan berulang namun proporsinya lebih banyak daripada yang
sebenarnya.
Contoh:
Dengan sungguh terpaksa karena tak berdaya, tidak punya kekuatan
apa-apa tidak bisa berbuat dan melakukan sesuatu saya hanya diam saja
ketika kawanan perampokitu menggasak dan menguras ludes barang-
barang berharga di rumah sebelah.
21. Prolepsis/antisipasi adalah gaya bahasa berupa kalimat yang diawali
dengan kata-kata yang sebenarnya baru ada setelah suatu peristiwa
terjadi.
Contoh:
-Keluarga yang ditimpa kemalangan itu akhirnya tercerai berai dan
tewas entah di mana jenazah tersapu gelombang Tsunami hanyut
bersama rumah mereka.
-Pada tahun 571 Masehi di Mekah, lahirlah seorang Nabi Besar bernama
Muhammad S.A.W.
22. Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan
pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki
jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini
acap digunakan oleh para orator.
Contoh:
Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil
menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah
kalau bukan kaum berada?
23. Silepsis dan Zeugma adalah gaya bahasa berupa konstruksi rapatan
yang diikuti dengan kata-kata yang tidak sejenis atau tidak relevan atau
hanya tepat untuk salah satunya.
Contoh:
Saya menyukai musik dan ketulusan hati.
Bacalah buku yang bermutu dan nyanyian sentimental yang mengalun
itu.
24. Koreksio/Epanotesis adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang
terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas
kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan.
Contoh:
Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah
selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?
Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan 45 yaitu Rendra,
ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.
25. Hiperbola adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja
dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan.
Contoh:
-Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu
menghadiri undangan panitia.
- Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu,
hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa
bahagia.
26. Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung
kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran.
Contoh:
-Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di
kota sehiruk-pikuk Jakarta.
-Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-
mahasiswi saya.
27. Oksimoran adalah gaya bahasa semacam paradoks yang lebih singkat
dan padat, mengandung kata-kata yang berlawanan arti alam frase yang
sama.
Contoh:
-Sang pemberang sangat khusuk menyembah Dewa Kemarahan
-Dia milyander miskin karena sangat pelitnya
-Penyair Emha pernah dijuluki Kyai Mbeling.
28. Persamaan/simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal
dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding.
Contoh:
-Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam
-Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah
segala muara.
29. Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun todak
menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara
langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya.
Contoh:
Kesabaran adalah bumi
Kesadaran adalah matahari
Keberanian menjelma kata-kata
Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata(sebuah bait dalam puisi
Rendra)
30. Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan,
merupakan metafora yang dikembangkan.
Contoh:
Sanjak Menuju Ke Laut karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya
bersifat simbolis
31. Parabel (Parabola) adalah gaya bahasa berupa cerita-cerita fiktif
dengan tokoh manusia dengan tema moral yang kental.
Contoh:
Hikayat Kalilah dan Daminah
32. Fabel adalah metafora berbentuk cerita dengan tokoh-tokoh
binatang yang esensinya menggambarkan perilaku dan karakter
manusia.
Contoh:
Dongeng Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau dan lain-lain.
33. Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang
mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat,
kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami
oleh manusia.
Contoh:
Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik
embun.
-Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari
bangsaku.
34. Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan
dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal
pembaca.
Contoh:
Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.
Bung Karno Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam
lomba pidato membawakan fragmen Di Bawah bendera Revolusi.
35. Eponim adalah gaya bahasa berupa penyebutan nama-nama tertentu
untuk menyatakan suatu sifat atau keberadaan.
Contoh:
-Perkenalkan, inilah Zidanenya kesebelasan kita.
\Silakan Aa Gym Ketua Rois kita menyampaikan kultum!
36. Epitet adalah gaya bahasa berupa frasa reskriptif untuk
menggantikan nama seseorang, binatang, atau suatu benda.
Contoh:
Raja siang bertahta di angkasa raya (=Matahari)
Sang raja sehari mendapatkan ucapan selamat dari segenap rekan
kerjanya. (=pengantin)
-Penyair si Burung Merak masih kreatif tampil membaca puisi-puisinya
pada usia menjelang 70 tahun. (=Rendra)
- Di kta ukir pembuatan mebel menjadi home industri penduduk kota
itu. (=Jepara)
37. Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu
bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula
sebaliknya keseluruhan digunakan untuk menyebut yang sebagian
(totum pro parte)
Contoh totum pro parte:
Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.
Karya-karya menjadi cindera mata bagi dunia
Contoh pars pro toto:
Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 jiwa
lebih.
Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10
ekor kambing.
38. Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama
atas sesuatu.
Contoh:
Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok
permai ini
Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu.
39. Antonomasia adalah gaya bahasa berupa penyebutangelar resmi dan
semacamnyauntuk menggantikan nama diri.
Contoh:
Megawati Soekarno Putrid an Meutia Hatta adalah puteri-puteri Sang
Proklamator yang aktif di budang pemerintahan.
Dalam penciptaan lagu dan pentas-pentasnya, Raja Dangdut tidak
pernah lupa menyisipkan pesan dakwah
40. Hipalase adalah gaya bahasa yang mengandung pemakaian karta
yang menerangkan kata yang bukan sebaharsnya.
Contoh:
Di hari yang berbahagia ini jangan lupamensyukuri segenap nikmat
karuna Allah.
Sudah lama mesjid Agung Baitur Rahman Banda Aceh menungu-nunggu
untaian dzikir dari K.H. Muhammad Arifin Ilham.
41. Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata
denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi
pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu.
contoh:
Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.
42. Sinisme hakikatnya sama dengan ironi namun biasanya lebih keras.
Contoh:
Tanpa belajar pun, kalau anak jenius seperti kamu tentu bisa
mengerjakan soal-soal ujian dengan hasil memuaskan.
43. Sarkasme merupakan gaya bahasa berupa pengucapan-pengucapan
yang kasar, caci maki sebagai ekspresi, amarah yang membuat yang
terkena sakit hati.
Contoh:
Dasar otaku dang! Mana mungkinbisa kau kerjakan soal itu!
44. Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas
kelemahan manusia agar terjadi kebaikan . tidak jarang satire muncul
dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran
untuk berbenah diri.
Contoh:
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta
(Bait II puisi Menyesal karya M. Ali Hasymi)
45. inuedo adalah gaya bahasa berupa sindiran dengan cara mengecilkan
kenyataan yang sesungguhnya, mengandung kritik tidak langsung.
Contoh:
Hanya dengan sedikit melakuan KKN, banyak pejabat menjadi
milyander.
Mobil yang dikemudikannya masuk jurang karena sebelum berangkat
sopir itu menegak segelas miras sampai sedikit mabuk.
46. Antifrasis adalah gaya bahasa sejenis iron dengan menggunakan kata
yang maknanya berlawanan dengan realita yang ada.
Contoh:
Dia dikenal jenius dikelas ini (padahal bodoh)
Alangkah abar dan penyayangnya majikan itu terhadap pembantu-
pembantunya yang selalu berganti-ganti karena tidak tahan. (pemarah
dan pelit)
47. Paronomasia adalah gaya bahasa dengan menggunakan permainan
kata-kata yang artinya sangat berlainan.
Contoh:
Ada gempa dahsyat, suasana genting. Genting-genting rumah pun
berjatuhan pecah berderai.
Anggota dewan yang pulang balik studi banding ke luar negeri itu kini
kaya mendadak. Kaya keralah mereka!