Anda di halaman 1dari 15

TUGAS PRESENTASI

KOMUNIKASI EFEKTIF
MODUL EBP3KH
2014
Reci Maulita I11110032
Yosep Andrianu L. I11112050
Risci Intan P. I11113002
Gilang Pramanayudha I11113006
Zainul Arifin I11113008
R.R Syarifah Rafiqah I11113021
Suwenita I11113036
Khuswatun Hasanah I11113054
Wenni Juniarni T. I11113061
Peter Fernando I11113074
Dara Agusti M. I11113086

Pasien :Trus sebelumnya dia pernah ke dokter gigi juga tuh sakit disuntiknya gak jadi semua
malahan
Dokter : Itu mah Cuma perasaan mas aja.
Pasien : Ya mungkin juga cuman tidak bisa menenangkan kali..gitu..ya mungkin perlu ada.
Sekali dateng suntik suntik gitu cabut pake non verbal gitu kayak ngomong
Dokter yang kemaren sakit nih, dokter yang di Jl. XXX yang dokter menyuruh saya ke
dokter.. Yang ahli bedah mulut.
Mulai disuntik.
Ya saya pikir awalnya sih klo yang lain-lain gak pake ngomong ngomong mba
Maksudnya klo datang tanya-tanya..jadi terlalu teknis lah..
Biasanya ga, udah ga muda, udah ga tua-tua, udah gak ngelewatin yang ini. Jadi
dateng gak banyak ngomong. Langsung dicabut, disuntik, keringetan, gak
kekeluargaan, kurang komunikatif.
Supaya datang tu pertamanya kan harus seneng-seneng gitu, perlu nyaman
Pertama udah ngeri, abis sakit, males atu.
Dokter : Nyaman itu dari tempatnya?
Pasien : Bisa dari tempatnya, bisa dari cara komunikasi
Dokter itu kadang-kadang, kalo misalnya saya ke dokter anak, kerjanya kejar setoran.
5 menit gak perlu ngomong-ngomong terus udah 5 menit salaman, pulang.


Pasien : Banyak pasien ke dokter, bukan faktor maslaah biaya aja sih dok, ke dokter itu kita
bicara bukan dokter gigi aja ya, kita bicara secara luas, cuman dokter kadang-kadang
dia seolah- olah egonya tinggi gitu kan. seolah-olah dia yang dibutuhkan kan gitu.
Sebenarnya bukan masalah biaya aja, mungkin si pasien bisa pindah-pindah dokter
karena dia tidak merasa cocok dengan gayanya gitu kayaknya. kadang-kadang kalau
saya sendiri sering sakit gitu ya terus ke rumah sakit. Hampir 80% kelihatannya
egonya tinggi.
Karena rasa pengen tinggi gitu, saya pikir justru kebalik kan si dokter yang ngejual ke
si pasien, menjual jasanya ke pasien, sedangkan marketting kan, harus penjual dong
yang menunjukkan, mengeluarkan gimana caranya supaya si pasien ini betah atau
balik lagi atau gimana gitu.
Justru di Indonesia ini beda, kalau saya lihat seolah-olah benar-benar dibutuhkan
banget gitu. Padahal kalau dari segi marketting kan salah besar.
Jadi ada 2 alternatif yang bicara di pikiran saya.
Yang pertama dokter ini tidak tau gitu,jadi sebenarnya dokter menguasai gak sih.
Yang kedua jadi memang dokternya judes dan mungkin yang diharapkan sama pasien
bukan itu sebenarnya, tapi saya temukan selama saya ke dokter, mau dokter umum,
mau dokter spesialis, gitu-gitu juga, jawabannya pendek-pendek.
Saya enggak ngerti!!
KASUS 1
Pasien merasa kurang puas dengan pelayanan yang
diberikan oleh dokter gigi, pelayanan yang diberikan
tidak kekeluargaan dan kurang komunikatif. Pasien
memaparkan bahwa pada saat kunjungan, dokter
langsung menyuntik pasien tanpa banyak berbicara,
sehingga membuat pasien ngeri, sakit dan malas untuk
kembali ke tempat dokter tersebut
Pasien menilai bahwa kerja dokter anak adalah kerja
setoran, 5 menit gak perlu ngomong-ngomong terus
udah 5 menit, salaman, pulang.


Kasus 2
Pasien merasa bahwa seorang dokter memiliki ego
yang sangat tinggi, seolah-olah hanya dokter lah yang
diperlukan. Dikarenakan pemikiran pasien tersebut,
pasien menyimpulkan 2 kemungkinan bahwa:
Dokter tidak tahu dan tidak menguasai profesinya
Pada dasarnya memang dokter tersebut judes dan tidak
memahami perasaan pasien
Pasien juga menerangkan bahwa dokter menjawab
pertanyaan pasien dengan jawaban pendek-pendek,
sehingga membuat pasien tidak mengerti
Pada dasarnya, setiap orang memerlukan komunikasi sebagai salah
satu alat bantu dalam kelancaran bekerjasama dengan orang lain
dalam bidang apapun.
Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau
informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara
tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang
dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi
(Komaruddin, 1994; Schermerhom, Hunt & Osborn, 1994; Koontz &
Weirich, 1998)
Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dan pasiennya adalah
untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat
untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien dengan
demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya (Kurtz, 1998)
Keberhasilan komunikasi antara dokter dan pasien pada umumnya
akan melahirkan kenyamanan dan kepuasaan bagi kedua belah
pihak.
Ada empat langkah yang terangkum dalam
satu kata untuk melakukan komunikasi, yaitu
SAJI (Poernomo,leda SS, Program Family
Health Nutrition, Depkes RI, 1999)
S = Salam
A = Ajak bicara
J = Jelaskan
I = Ingatkan
Salam
Beri salam, sapa pasien, tunjukkan bahwa dokter bersedia
meluangkan waktu untuk berbicara dengan pasien
Ajak Bicara
Melalui pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam usaha
menggali informasi
Jelaskan
Berikan penjelasan mengenai penyakit, terapi, atau apapun
secara jelas, detil, sampai kepada proses mendidik pasien serta
melakukan konseling
Ingatkan
Selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti
benar, maupun klarifikasi terhadap hal-hal yang masih belum
jelas bagi kedua belah pihak serta mengulang kembali akan
pesan-pesan kesehatan yang penting.
Kasus 1
Dokter gigi yang langsung melakukan penyuntikkan
dengan kurangnya komunikasi melanggar hak pasien
seperti yang tercantum pada UU No. 29 tahun 2004
tentang praktik Kedokteran, yang berbunyi :
mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan
medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (3)
Tidak terjadi komunikasi efektif dokter-pasien pada
kasus tersebut sehingga membuat pasien merasa
ngeri, sakit, dan jera untuk kembali ke tempat praktik
dokter tersebut.

Kasus 2
Komunikasi dokter-pasien yang kurang efektif lah yang
menyebabkan timbulnya pemikiran pasien bahwa dokter
tersebut memiliki ego yang sangat tinggi. Seharusnya dokter
bersifat lebih ramah terhadap pasien yang akan diperiksanya
dan berempati terhadap apa yang ia rasakan serta
mengesampingkan ego pribadi.
Jawaban dokter yang pendek-pendek membuat pasien tidak
mengerti tentang apa yang ingin disampaikan dokter
kepadanya, dalam komunikasi dokter-pasien yang efektif
seharusnya dokter harus mampu memberikan penjelasan
mengenai penyakit, terapi, atau apapun secara jelas, detil,
sampai kepada proses mendidik pasien serta melakukan
konseling hingga tercapai rasa nyaman dan kepercayaan antara
kedua belah pihak.



Dalam kedua kasus tersebut juga dapat disimpulkan bahwa
dokter tersebut belum melaksanakan secara maksimal
kewajiban umum seorang dokter sebagaimana dijelaskan
dalam KODEKI, yaitu pada pasal :
Pasal 2 : Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan
profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi
Pasal 7a : Setiap dokter harus dalam setiap praktik medisnya
memberikan pelayanan yang kompeten degan kebebasan teknis dan
moral sepenuhnya disertai rasa kasih sayang (commpassion) dan
penghormatan atas martabat
Pasal 7c : Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-
hak sejawatnya dan tenaga kesehatan lainnya dan harus menjaga
kepercayaan pasien

Komunikasi efektif dokter-pasien yang
berhasil terjalin dapat melahirkan
kenyamanan dan kepuasaan bagi kedua
belah pihak.
Seorang dokter seharusnya dapat
melaksanakan tugas pelayananya dengan
profesional dan memegang teguh kode etik
kedokteran sebagai bagian dari tanggung
jawab kepada masyarakat.

Konsil Kedokteran Indoensia. 2009. Manual
Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. Jakarta :
Lembaga Konsultan Peraturan Bisnis
Indonesia.