Anda di halaman 1dari 1

Alternatif Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi Tahun 2006

Secara konseptual agar pemberian subsidi pupuk melalui harga sampai kepada petani secara utuh,
maka sistem distribusi (delivery system) dan sistem penerima (recieving system) harus bersifat
kompatibel, artinya sistem distribusi dan sistem penerima merupakan suatu sistem pipa tertutup dimana
pupuk bersubsidi yang disalurkan dari pabrik dapat sampai bermuara di lahan petani dengan memenuhi
kriteria lima tepat yaitu tepat harga, kualitas, dosis, tempat, dan waktu.
Kompatibilitas tersebut sangat penting karena walaupun sistem distribusinya baik tetapi sistem
penerimanya buruk, misalnya petani tidak mampu membeli harga pupuk bersubsidi, maka subsidi pupuk
tersebut tidak akan sampai juga ke petani.

5.2.2. Disain Pola Pengelolaan Pupuk Bersubsidi Tahun 2007
Untuk mengatasi kelemahan sistim distribusi saat ini, maka diusulkan disain pola pengelolaan
pupuk bersubsidi bersifat aktif dan lengkap, yang terdiri dari (1) sistem distribusi (delivery system);
(2) sistem penerimaan (receiving system) yang kompatibel dengan sistem penyaluran dalam sistem
pipa tertutup, tetapi ditangani oleh dua instansi yang berbeda kepentingan; dan (3) sistem
akuntabilitas (accountability system).
Fungsi utama sistem distribusi adalah mendistribusikan pupuk bersubsidi sampai kepada SPPB
(Stasiun Penjualan Pupuk Bersubsidi), yaitu tempat penjualan pupuk bersubsidi yang berlokasi di sentra
produksi pertanian rakyat sesuai dengan kebutuhan yang sudah direncanakan daerah. Sistem distribusi ini
menjadi tanggung jawab produsen pupuk dan menjamin SPPB menjual pupuk bersubsidi sesuai dengan
HET yang disepakati.
Fungsi utama sistem penerimaan adalah menjamin bahwa pupuk yang disalurkan sesuai
kebutuhan petani yang berhak memperoleh subsidi dan memfasilitasi perolehan pupuk sesuai dengan
rencana kebutuhan tersebut. Pelaku utama sistim ini ialah kelompok tani. Rencana pembelian pupuk
disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Pupuk Kelompok (RDKPK).
Fungsi utama sistem akuntabilitas adalah mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui
kendali penerbitan D.O (delivery order) untuk SPPB dan merekap realisasi penyaluran pupuk bersubsidi
sesuai dengan D.O yang telah diterbitkan. Sistem akuntabilitas ini menjadi tanggung jawab pengawas
yang berlokasi di kabupaten.

Sistem distribusi pupuk bersubsidi harus didukung oleh sistem perencanaan kebutuhan pupuk
yang akurat. Kebutuhan pupuk untuk masing-masing wilayah direncanakan sampai tingkat kecamatan dan
desa direkapitulasi sampai tingkat kabupaten dan diusulkan oleh Bupati/Walikota kepada Departemen
Pertanian. Perencanaan kebutuhan pupuk bersubsidi tersebut dilakukan setiap tahun melalui rapat
koordinasi yang melibatkan Dinas pembina sektor pertanian tingkat kabupaten, Produsen pupuk, Bank
dan unsur kelompok tani. Setelah kebutuhan pupuk bersubsidi ditetapkan oleh SK Menteri Pertanian,
maka dibuat rencana kebutuhan pupuk bersubsidi untuk masing-masing kecamatan dan desa yang
dituangkan dalam bentuk SK Bupati/Walikota. Dengan SK kebutuhan pupuk itulah, produsen pupuk
menyalurkan pupuk bersubsidi ke pengecer tingkat kecamatan di masing-masing kabupaten/kota.