Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan masa transisi, dimana terjadi perubahan dan
perkembangan baik secara fisik, psikis, kognitif, maupun secara sosioemosional.
Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan rasa krisis, yang
ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi
tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku mengganggu.
Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif
dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai
penyimpangan perilaku dan berbagai perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar
aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan
kenakalan remaja.
Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja sangat beragam, mulai
dari perbuatan yang amoral dan anti sosial tidak dapat dikategorikan sebagai
pelanggaran hukum. Bentuk kenakalan remaja tersebut salah satunya adalah kabur
dari rumah.
Kabur dan pergi tanpa tujuan merupakan salah satu reaksi negatif kejiwaan
seorang anak. Sikap ini banyak terjadi di tengah-tengah sebagian anak-anak dan
kebanyakan anak remaja. ni terjadi karena mereka mengalami kondisi hidup
!berkeluarga" yang tidak harmonis atau menilai bahwa berlama-lama dalam
lingkungan keluarga tidak menguntungkan bagi dirinya. Kemudian, mereka
berusaha menjaga jarak dan menjauhinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku Kabur
Kabur atau pergi tanpa tujuan merupakan salah satu reksi negatif
kejiwaan yang di alami oleh sebagian remaja. Kecenderungan untuk
melarikan diri merupakan semacam mekanisme pertahanan dan reaksi
balasan yang mengarah pada sikap menyerah terhadap konflik yang
sedang dihadapi oleh seorang remaja.
Karen #orney berpendapat bahwa hakikat melarikan diri adalah
pertentangan, dari satu sisi seseorang ingin mandiri, sementara di sisi yang
lain ingin bekerja sama dengan orang lain. Kondisi pertentangan inilah
yang melahirkan kecenderungan untuk berperilaku kabur dari tekanan
yang dihadapi. Perilaku kabur merupakan salah satu bentuk dari
mekanisme pertahanan diri (self-protective). $alaupun remaja sering
menunjukkan kebingungan dan konflik yang muncul akibat adanya usaha-
usaha introspektif untuk memahami dirinya, remaja juga memiliki
mekanisme untuk melindungi dan mengembangkan dirinya !Santrock,
%&&', h. ()&".
*ari sudut pandang lain, hakikat perilaku kabur adalah gangguan
perilaku dan guncangan jiwa. Kecenderungan melarikan diri muncul dari
gangguan dan gejolak kejiwaan yang mendalam pada diri seseorang
sehingga memunculkan keinginan untuk keluar dari lingkungan peraturan
dan kondisi yang mengikat.
Kecenderungan perilaku kabur pada dasarnya mencerminkan
beberapa kondisi, yakni+
a. kondisi hidup yang tidak harmonis, terutama di dalam keluarga,
penganiayaan, dan kontradiksi batin seseorang.
b. keinginan untuk menyadarkan orang tua dan pendidik tentang
keadaan diri pelaku.
c. keinginan untuk meraih ketenaran.
d. sikap permusuhan terhadap orang tuanya.
e. sikap protes pelaku yang ingin menyatakan kepada orang tua dan
pendidik bahwa dirinya tidak puas terhadap kondisi yang sedang
dihadapi.
f. pelaku ingin menentramkan batinnya dari tekanan penderitaan.
g. keinginan memprotes peraturan dan ketentuan yang berlaku.
h. kesulitan hidup yang menghimpit pelaku.
i. keinginan untuk hidupmandiri dan bebas.
j. keinginan memberi peringatan kepada orang tua dan pendidik.
*engan cara ini, pelaku ingin mengubah kondisi dan situasi yang
tidak disukainya.
Bentuk-bentuk Perilaku Kabur
,erdapat beberapa kecenderungan bentuk atau pola yang tampak
pada perilaku kabur yang dilakukan oleh remaja. Beberapa bentuk perilaku
kabur adalah sebagai berikut+
a. meninggalkan suatu lingkungan atau daerah, misalnya sekolah,
rumah, asrama, dan sejenisnya.
b. masa kabur yang relatif singkat ataupun dalam jangka waktu yang
cukup lama. Pada remaja, perilaku kabur biasanya dalam jangka
waktu yang relatif lama.
c. dalam beberapa keadaan, melarikan diri dapat berbentuk kondisi
kejiwaan, misalnya menyakiti diri sendiri supaya terhindar dari
suatu masalah.
d. melarikan diri dari suatu hakikat. Misalnya, mengingkari sebuah
fakta atau permasalahan tertentu.
e. pada sebagian besar remaja dan orang dewasa, perilaku kabur di
tampakkan dalam bentuk penyimpangan seksual dan kecanduan
alkohol.
f. kecenderungan perilaku tersebut kadang juga ditampakkan pada
perilaku brutal atau anarkis dan keinginan untu melanggar aturan
tertentu.
Faktor Penyebab
Banyak faktor yang menyebabkan seorang anak cenderung kabur
dari rumah. Beberapa faktor diantaranya adalah+
(. Perasaan
dimanja terlalu berlebihan sehingga anak merasa dipentingkan dan
selalu menganggap pendapatnya mutlak benar
merasa kurang mendapat kasih saying atau tidak adanya
perlindungan dari orang tua yang semestinya
merasa diasingkan dari lingkungan keluarga
sikap dingin orang tua dalam lingkungan keluarga
adanya perasaan takut dan tigak aman bagi keselamatan fisik dan
jiwanya
ingin membalas dendam dan meluapkan amarah sewaktu
meghadapi kesulitan dan kekacauan
gangguan perasaan yang menjadikan anak lupa dan membuang
kesempatan untuk kembali ke rumah
hubungan yang kurang harmonis dengan kedua orang tua
tidak adanya kepedulian orang tua terhadap perasaan anak
%. Kejiwaan
mengalami keresahan, kegundahan hati, dantekanan mental karena
telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral
gangguan kejiwaan yang medorong anak ingin pergi ke tempat
yang jauh. -ejalanya timbul bila anak, misalnya, menyimpan
kesedihan dan enggan membicarakannya dengan orang lain
membalas kekalahan-kekalahan dirinya serta inginmelepaskan diri
dari perasaan berdosa
adanya keinginan untuk membela diri atau menghindar dari
kondisi yang menyakitkan
kecenderungan memuaskan diri sendiri dan mendapatkan
kemandirin hidup
menghindar dari hinaan, rasa malu dan tekanan jiwa
merasa putus asa, kalah dan tidak mampu dalam menghadapi
masalah
kesombongan diri yang dibuat-buat
ingin menghibur hati dan menyenangkan diri sendiri
'. Sosial
tidak puas terhadap kondisi dan keadaan yang ada, serta merasa
bosan dan malas menjalani hidup
adanya pertengkaran dalam keluarga, keretakan rumah tangga,
pernikahan baru !poligami", dan terjadinya perceraian orang tua
adanya perasaan terasing dalam rumah
anak memiliki teman dan bentuk pergaulan yang merusak
merasa jenuh menghadapi persoalan keluraga
ingin meninggalkan tanggung jawab
merasa takut terjebak dalam masalah dan berusaha menghindari
kewajibannya
dasar-dasar pendidikan yang keliru yang diterima pada saat anak
masih balita
.. Peraturan
orang tua terlalu ketat dan tegas dalam memberlakukan peraturan
peraturan tersebut brada diluar batas kemampuan anak sehingga
anak merasa takut menaggungnya
merasa takut terhadap perlakuan kejan orang tua
perilaku buruk orang tua yang merusak mental dan kejiwaan anak
B. Tuga-tuga Perke!bangan "e!a#a $an Kebutu%an K%a "e!a#a
Menurut #a/ighurst, remaja mempunyai tugas-tugas
perkembangan sebagai berikut+
Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman
sebaya baik pria maupun wanita.
Mencapai peran sosial pria dan wanita.
Menerima keadaan fisik dengan menggunakan tubuh secara efektif.
Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung
jawab.
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa
lainnya.
Mempersiapkan karier ekonomi.
Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan
untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
Mampu berpikir abstrak, logis dan hipotetik.
&. Hubungan 'rang tua-"e!a#a
#ubungan pernikahan, pengasuhan, dan perilaku remaja dapat
saling memiliki efek langsung maupun tidak langsung terhadap satu sama
lain. Satu contoh efek langsung adalah pengaruh perilaku orangtua
terhadap remaja. 0ontoh efek tidak langsung adalah bagaimana hubungan
antara pasangan suami dan istri bertindak terhadap remaja. Misalnya,
konflik pernikahan dapat mengurangi efisiensi fungsi orang tua, yang
dapat memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perilaku remaja
!$ilson1-ottman, (223, dalam Santrock, %&&', h.(45".
Masa awal remaja adalah waktu di mana konflik antara orang tua
dengan remaja meningkat melebihi konflik antara orang tua dengan anak-
anak. Peningkatan ini dapat terjadi karena adanya peningkatan
kedewasaan orang tua dan remaja dalam berbagai aspek.
Perubahan-perubahan yang dapat mempengaruhi hubungan orang
tua dengan remaja adalah pubertas, penalaran logis yang berkembang,
penilaian idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan
di sekolah, rekan sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergerakan menuju
kebebasan !Santrock, %&&', h.(4)". Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa konflik antara orang tua dan remaja adalah yang
paling membuat tertekan selama puncak pertumbuhan pubertas.
*alam hal perubahan kognitif, remaja dapat memberi alasan yang
lebih logis kepada orang tuanya daripada di masa kanak-kanak. *engan
kemampuan kognitif yang meningkat, remaja tidak lagi mau menerima
alasan yang tidak logis untuk mengikuti pendiktean orang tuanya. *imensi
lain dari perubahan kognitif remaja yang berhubungan dengan hubungan
orang tua-remaja adalah harapan orang tua terhadap remaja dan sebaliknya
!0ollins, (22', dalam Santrock, %&&', h.(42".
6emaja telah dapat mulai mempertanyakan dan mencari dasar dari
permintaan orang tua mereka. 7rang tua mungkin menganggap perilaku
ini sebagai penolakan dan pertentangan karena hal ini jauh dari perilaku
anak yang biasanya patuh. 7rang tua seringkali merespon ketidakpatuhan
ini dengan menambah tekanan agar peraturannya dipatuhi oleh remaja.
6emaja menghabiskan waktu lebih banyak dengan rekan sebaya
daripada ketika masih dalam masa kanak-kanak. 6emaja juga mulai
mendorong lebih keras untuk mendapat kebebasan. 8elasnya, orang tua
diminta untuk beradaptasi dengan perubahan dunia sekolah remaja,
hubungan dengan teman sebaya, dan dorongan untuk mendapatkan
kebebasan.
Perubahan orang tua yang memiliki andil pada hubungan orang
tua-remaja meliputi kepuasan pernikahan, beban ekonomi, peninjauan
ulang karier, dan pandangan mengenai waktu, kesehatan, dan
pemeliharaan tubuh !#ill, (2)&9 Mac*ermid 1 0router, (2239 Sil/erberg
1 Steinberg, (22&, dalam Santrock, %&&', h.(4)". Ketidakpuasan dalam
pernikahan semakin besar ketika pasangan memiliki anak remaja daripada
keturunannya adalah anak kecil atau orang dewasa. 7rang tua juga merasa
mendapat beban ekonomi yang semakin besar selama memelihara seorang
remaja. Selama itu pula orang tua bisa meninjau ulang apa yang telah
mereka capai dalam pekerjaan. Masalah kesehatan dan kekhawatiran atas
integritas tubuh serta daya tarik seksual menjadi perhatian bagi orang tua.
8udith Smetana !dalam Santrock, %&&', h.())" percaya bahwa
konflik orang tua-remaja dapat lebih dipahami dengan mempertimbangkan
kemampuan kognitif sosial remaja yang berubah. *alam penelitiannya, dia
menemukan bahwa konflik orang tua dengan remaja berhubungan dengan
pendekatan yang berbeda yang digunakan orang tua-remaja ketika
menghadapi berbagai pertentangan.
D. Pola Au%
Menurut Baumrind !dalam Santrock, %&&', h.())" ada tiga jenis
pola asuh, yakni otoriter, permisif, dan demokratis.
(. Pola asuh 7toriter (Authoritarian)
Pengasuhan autoritarian adalah gaya yang membatasi dan
dan bersifat menghukum yang mendesak remaja untuk mengikuti
petunjuk orang tua dan untuk menghormati pekerjaan dan usaha.
7rang tua yang bersifat autoritarian membuat batasan dan kendali
yang tegas terhadap remaja dan hanya melakukan sedikit
komunikasi /erbal. Pengasuhan autoritarian berkaitan dengan
perilaku sosial yang kurang baik !Santrock, %&&', h. ()3". 6emaja
yang memiliki orang tua yang otoriter seringkali merasa cemas
akan perbandingan sosial, tidak mampu memulai suatu kegiatan,
dan memiliki kemampuan komunikasi yang rendah.
*alam pola asuh ini, orang tua menjadi sentral, artinya
segala ucapan, perkataan, maupun kehendak orang tua dijadikan
patokan yang harus ditaati oleh anak. :gar taat, orang tua tak
segan-segan menerapkan hukuman yang keras pada anak. 7rang
tua beranggapan bahwa agar aturan itu stabil, maka seringkali
orang tua tak menyukai tindakan anak yang memprotes,
mengkritik, atau membantah.
Banyak anak yang dididik dengan pola asuh otoriter ini
cenderung tumbuh menjadi pribadi yang suka membantah,
memberontak, dan berani melawan arus terhadap lingkungan
sosial. ,erkadang anak tidak mempunyai sikap peduli, antipati,
pesimis, dan antisosial. #al ini adalah akibat dari tidak adanya
kesempatan bagi anak untuk mengemukakan gagasan, ide,
pemikiran, maupun inisiatifnya. :papun yang dilakukan anak tidak
pernah mendapat perhatian, penghargaan, penerimaan yang tulus
oleh lingkungan keluarga atau orang tuanya.
%. Pola :suh Permisif (Permisive)
-aya pengasuhan tidak peduli adalah suatu pola di mana
orang tua sangat tidak ikut campur dalam kehidupan remaja. #al
ini berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang kurang baik,
terutama kurangnya pengendalian diri.
Pengasuhan permisif memanjakan adalah suatu pola di
mana orang tua sangat terlibat dengan remaja tetapi sedikit sekali
menuntut atau mengendalikan mereka. Pengasuhan permisif
memanjakan berkaitan dengan ketidakcakapan sosial remaja,
terutama kurangnya pengendalian diri !Santrock, %&&', h.()5".
7rang tua yang bersifat permisif memanjakan mengijinkan anak
melakukan apa yang mereka inginkan dan akibatnya adalah remaja
tidak pernah belajar mengendalikan perilaku dan selalu berharap
mereka bisa mendapat semua keinginannya.
Bila anak mampu mengatur seluruh pemikiran, sikap, dan
tindakannya dengan baik, kemungkinan kebebasan yang diberikan
oleh orang tua dapat dipergunakan untuk mengembangkan
kreati/itas dan bakatnya, sehingga anak dapat berkembang menjadi
indi/idu yang dewasa, inisiatif, dan kreatif. ;amun hal yang sering
ditemui dalam kenyataan, sebagian besar anak tidak mampu
menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Mereka
justru menyalahgunakan kesempatan sehingga cenderung
melakukan tindakan-tindakan yang melanggar nilai-nilai, norma-
norma, dan aturan sosial.
'. Pola asuh *emokratis (Authoritative)
Pengasuhan autoritatif mendorong remaja untuk bebas
tetapi tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan-
tindakan mereka. Komunikasi /erbal timbal balik bisa berlangsung
dengan bebas dan orang tua bersikap hangatdan membesarkan hati
remaja. Pengasuhan autoritatif berkaitan dengan perilaku sosial
remaja yang kompeten.
Pola asuh ini adalah gabungan pola asuh permisif dan
otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap,
dan tindakan antara anak dan orang tua. 7rang tua dan anak
mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan suatu
gagasan, ide, atau pendapat untuk mencapai suatu keputusan.
*engan demikian, orang tua dan anak dapat berdiskusi,
berkomunikasi, atau berdebat secara konstruktif, logis, rasional,
demi mencapai kesepakatan bersama. Karena hubungan
komunikasi antara orang tua dan anak berjalan dengan
menyenangkan, maka terjadi pengembangan kepribadian yang
mantap pada diri anak. :nak tumbuh menjadi pribadi yang
mandiri, matang, dan dapat menghargai dirinya sendiri dengan
baik. Pola asuh demokratis akan dapat berjalan secara efektif bila+
7rang tua dapat menjalankan fungsi sebagai orang tua yang
memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan
pendapatnya.
:nak memiliki sikap yang dewasa yakni dapat memahami
dan menghargai orang tua sebagai tokoh utama yang tetap
memimpin keluarganya.
7rang tua belajar memberi kepercayaan dan tanggung
jawab pada anaknya.
E. Perke!bangan Ke(riba$ian "e!a#a
Pandangan yang kompleks dari <rikson mengenai identitas remaja
melibatkan tujuh dimensi !Bourne, (24), dalam Santrock, %&&', h.'.'"+
-enetik. <rikson menggambarkan perkembangan identitas sebagai
suatu hasil yang mencakup pengalaman indi/idu pada lima tahap
perkembangan yang telah dialami. Perkembangan identitas
merefleksikan cara indi/idu mengatasi tahap-tahap sebelumnya.
:daptif. Perkembangan identitas remaja dapat dilihat sebagai suatu
hasil atau prestasi yang adaptif. dentitas adalah penyesuaian diri
remaja mengenai keterampilan-keterampilan khusus, kemampuan,
dan kekuatan ke dalam masyarakat di mana mereka tinggal.
Struktural. Kebingungan identitas merupakan suatu kemunduran dalam perspektif
waktu, inisiatif, dan kemampuan untuk mengkoordinasikan perilaku masa kini
dengan tujuan yang ingin dicapai di masa depan.
*inamis. <rikson meyakini bahwa pembentukan identitas diawali
ketika manfaat dari identifikasi berakhir. Proses ini muncul dari
identifikasi masa kecil indi/idu dengan orang dewasa yang
kemudian menarik mereka ke dalam identitas baru.
Subjektif atau berdasarkan pengalaman. Pengalaman-pengalaman
yang diperoleh selama masa hidup akhirnya membentuk identitas
seorang remaja.
,imbal balik psikososial. <rikson menekankan hubungan timbal
balik antara remaja dengan masyarakat sosialnya.
Status eksistensialisme. <rikson berpendapat bahwa remaja
mencari arti dalam hidupnya sekaligus arti dari hidup secara
umum.
Ke(riba$ian) *atak) $an Te!(ra!en
-ordon $.:llport !dalam Sumadi Suryabrata, %&((, h.%&3"
memandang kepribadian sebagai organisasi dinamis didalam indi/idu
yang terdiri dari sistem-sistem psikofisis yang menentukan cara-caranya
yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Sistem
psikofisis terdiri dari kebiasaan, sikap, nilai, kepercayaan, keadaan emosi,
motif, dan sentimen.
*efinisi kepribadian ini memiliki tiga unsur pokok, yaitu+
Dynamic organization !organisasi dinamik" yaitu
kepribadian terus-menerus berkembang dan berubah, dan di
dalam diri indi/idu ada pusat organisasi yang mewadahi
semua komponen kepribadian.
Psichophysical systems !sistem psikofisik", kepribadian
bukan hanya konstruk hipotetik tetapi merupakan fenomena
nyata yang merangkum elemen mental dan neural.
Determine yakni bagian dari indi/idu yang berperan aktif
dalam tingkah laku seseorang.
Menurut :llport !dalam Sumadi Suryabrata, %&((, h.%&4"
temperamen adalah adalah disposisi perilaku indi/idu yang berkaitan erat
dengan determinan biologis atau fisiologis. 7leh sebab itu temperamen
sedikit sekali mengalami modifikasi di dalam perkembangan. *alam hal
ini peranan faktor keturunan pada temperamen lebih besar daripada
peranan faktor keturunan pada aspek-aspek kepribadian yang lain.
,emperamen merupakan sifat-sifat yang berhubungan dengan emosi
!perasaan", misalnya pemarah, penyabar, periang, pemurung, introvert,
ekstravert dan sebagainya. Sifat-sifat emosional adalah bawaan
!warisan=turunan", sehingga bersifat permanen dan tipis kemungkinan
untuk dapat berubah. Kepribadian, watak, dan temperamen berkaitan satu
sama lain. Kepribadian seseorang berhadapan dengan lingkungannya,
yang turut membentuknya hingga mencapai taraf kematangan tertentu.
Penentu utama tingkah laku dewasa adalah seperangkat sifat
(traits) yang terorganisir dan seimbang yang mengawali dan membimbing
tingkah laku sesuai dengan prinsip otonomi fungsional. *alam usia
dewasa, manusia dapat memperoleh kekuatan motifnya dari sumber
kekinian. Masa lalu tidak penting kecuali hal itu tampak dalam dinamik
akti/itas masa kini.
:llport !dalam :lwisol, %&&2, h.%'(" mengusulkan beberapa
penanda kualitas kemasakan kepribadian sebagai berikut+
Perluasan perasaan diri. Memiliki kemampuan berrpartisipasi dan
menyenangi rentang akti/itas yang luas. Memiliki kemampuan
masuk ke masa depan dan berharap merencanakan.
Mengakrabkan diri dengan orang lain+ kemampuan bersahabat dan
kasih sayang, keintiman yang melibatkan hubungan cinta dengan
keluarga dan teman.
Keamanan emosional, penerimaan diri+ Kemampuan menghindari
aksi berlebihan terhadap masalah yang menyinggung dorongan
spesifik dan mentoleransi frustasi, perasaan seimbang.
Persepsi, ketrerampilan, tugas yang realistis+ kemampuan dan
minat memecahkan masalah memiliki ketrampilan yang cukup
untuk meyelesaikan tugas yang dipilihnya.
7bjekti/itas diri+ insight dan humor + :dalah kemampuan untuk
memandang secara objektif diri sendiri dan orang lain.
Menyatukan filsafat hidup+ :da latar belakang alur keseriusan
yang lengkap yang memberi tujuan dan makna kepada apapun
yang dilakukan orang.
6emaja yang telah menunjukkan tanda-tanda kemasakan
kepribadian tersebut akan tumbuh sebagai seseorang yang dapat
menyelesaikan berbagai konflik yang dihadapinya. Berbeda dengan remaja
yang belum matang kepribadiannya, akan mengalami hambatan dalam
penyesuaian diri menghadapi konflik.
Sikap intro/ersi dan ekstro/ersi yang dimiliki oleh remaja dapat
menjadi faktor kuat mentukan kepribadian remaja. Sikap intro/ersi
mengarahkan pribadi ke pengalaman subjektif, memusatkan diri pada
dunia dalam dan pri/at di mana realita hadir dalam bentuk hasil amatan,
cenderung menyendiri, pendiam dan tidak ramah, bahkan antisosial.
>mumnya, orang yang intro/ert senang introspektif dan sibuk dengan
kehidupan internal mereka sendiri !:lwisol, %&&2, h..5".
Sikap ekstra/ert mengarahkan pribadi ke pengalaman objektif,
memusatkan perhatian ke dunia luar, cenderung berinteraksi dengan orang
di sekitarnya, aktif, dan ramah. 7rang yang ekstra/ert sangat menaruh
perhatian mengenai orang lain dan dunia ekitarnya, aktif, santai, atraktif.
Kedua sikap berlawanan tersebut ada di dalam kepribadian, namun
biasanya salah satunya dominan dan sadar, sedangkan lainnya kurang
dominan dan tak sadar. :pabila ego lebih bersifat ekstra/ert dalam
berhubungan dengan dunia luar, maka secara tidak sadar pribadi akan
intro/ert. Sebaliknya, jika ego introvert, mka secara tak sadar pribadinya
ekstrovert.
F. Perke!bangan E!oi "e!a#a
6emaja memiliki karakteristik pemunculan emosi yang berbeda
bila dibandingkan dengan masa kanak-kanak maupun dengan orang
dewasa. <mosi remaja seringkali meluap-luap !tinggi" dan emosi negatif
mereka lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak disebabkan
masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka dan lingkungan yang
menghalangi terpuaskannya kebutuhan tersebut !#urlock, (2)&". :da '
jenis emosi yang menonjol pada periode remaja, yaitu emosi marah, takut,
dan cinta.
6eaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum
terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi
maupun sosialnya. *ia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram
durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran
dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Perkembangan kemandirian emosional remaja, tidak terlepas dari
penerapan pengasuhan orang tua melalui interaksi antara ibu dan ayah
dengan remajanya. 7rang tua merupakan lingkungan pertama yang paling
berperan dalam pengasuhan anak remajanya, sehingga mempunyai
pengaruh yang paling besar pada pembentukan kemandirian emosional
remaja. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa gaya pengasuhan orang tua yang harmonis, hangat, penuh kasih
sayang !authoritative" menunjang perkembangan kemandirian emosional
remaja, namun sebaliknya gaya pengasuhan yang penuh dengan tuntutan,
orang tua tidak perhatian, penuh dengan sanksi, tidak pernah melibatkan
anak dalam pengambilan keputusan akan menghambat perkembangan
kemandirian remaja khususnya kemandirian emosional artinya remaja
tidak mampu melepaskan diri dari ketergantungan dan keterikatan secara
emosional dengan orang tua.
+. "aa Per,aya Diri $an Kone( Diri
6asa percaya diri !self esteem" adalah dimensi e/aluatif yang
menyeluruh dari diri. *ua sumber penting dukungan sosial yang
berpengaruh terhadap rasa percaya diri remaja adalah hubungan dengan
orang tua dan teman sebaya. *alam suatu penelitian yang mengukur
hubungan orang tua- anak dengan rasa percaya diri menyebutkan bahwa
ada beberapa atribut dari orang tua yang berhubungan dengan tingkat rasa
percaya diri, yaitu+
<kspresi kasih sayang
Perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh anak
Keharmonisan di rumah
Pertisipasi dalam akti/itas bersama keluarga
Kesediaan untuk memberikan pertolongan yang kompeten dan
terarah kepada anak ketika mereka membutuhkannya
Menetapkan peraturan yang jelas dan adil
Mematuhi peraturan-peraturan tersebut
Memberikan kebebasan kepada anak dengan batas-batas yang telah
ditentukan.
>ntuk sebagian besar remaja, rendahnya rasa percaya diri hanya
menyebabkan rasa tidak nyaman secara emosional yang bersifat
sementara. ;amun bagi beberapa remaja, rendahnya rasa percaya diri
dapat menimbulkan banyak masalah, seperti depresi, bunuh diri, anoreksia
ner/osa, delinkuesi, dan masalah penyesuaian diri lainnya. ,ingkat
kseriusan masalah tidak hanya tergantung pada rendahnya tingkat rasa
percya diri, namun juga kondisi-kondisi lain. Ketika tingkat percaya diri
yang rendah berhubungan dengan sekolah atau kehidupan keluarga yang
sulit, maka masalah yang muncul pada remaja menjadi meningkat
!Santrock, %&&', h. ''5".
#urlock !(2)&" mengemukakan bahwa konsep diri adalah
gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri yang merupakan gabungan
dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi
yang telah mereka capai dalam hidup. Santrock !%&&'" mengemukakan
bahwa konsep diri merupakan e/aluasi indi/idu terhadap domain yang
spesifik dari dirinya.
#arry Stack Sulli/an !dalam :lwisol, %&&2" menjelaskan bahwa
jika seseorang diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena
keadaan dirinya, maka indi/idu terebut akan cenderung menghormati dan
menghargai dirnya sendiri. Konsep diri merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam komunikai interpersonal, karena setiap orang
bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep diri yang
dimilikinya. 8ika seorang anak diberitahu bahwa ia cantik, pintar, dan
rajin, maka mereka akan mengembangkan konsep diri yang positif.
Kondisi yang berbeda akan dijumpai pada anak yang diberitahu bahwa
mereka jelek, bodoh, dan pemalas. Pada kondisi demikian, perasaan
negatif pada diri anak akan muncul, dan ke depan ia akan tumbuh dengan
konsep diri yang buruk.
BAB III
KASUS DAN PE-BAHASAN
Kau
S adalah seorang remaja berusia (. tahun. S merupakan anak kedua dari
dua bersaudara. >sia S dan kakak pertamanya berjarak . tahun. Sejak kecil
terutama ketika menginjak bangku sekolah, S merasa diperlakukan berbeda oleh
kedua orangtuanya. Kedua orangtua S memaksa S untuk selalu mendapat nilai
terbaik dan menempati rangking ( di kelas. *alam kesehariannya, S mengisi
waktunya dengan terus belajar bahkan tidak diberi waktu untuk bermain bersama
teman-teman sebayanya. Berbeda dengan kakaknya, orangtua S tidak
memberlakukan hal yang sama terhadap kakaknya. Sang kakak terlihat lebih
dibebaskan, sering keluar rumah, dan orangtua tidak terlalu mempermasalahkan
prestasi akademiknya.
Perilaku dari orangtua yang diterima S menjadikan S sering berbohong
bila ingin pergi bersama teman-temannya. Bila ingin keluar rumah, S memberikan
alasan ingin kerja kelompok atau berdiskusi mengenai tugas yang diberikan di
sekolah. Sampai pada suatu saat, orangtua S mengetahui kebohongan anaknya
tersebut dan sampai di rumah menghukumnya bahkan tidak segan-segan memukul
S sampai memar. S sempat protes dan bertanya pada orangtuanya mengapa
dirinya diperlakukan seperti ini sedangkan sang kakak tidak. ,etapi orangtua
hanya memberi jawaban ?8adi anak nurut aja sama orangtua, tidak usah bantah@
Mama tau yg terbaik buat kamuA S hanya terdiam dan menyimpan kekesalannya
dalam hati.
Sebagai respon kekecewaan, awalnya S memperlihatkan perilaku mogok
makan dan mengurung diri di kamar selama beberapa hari. ,etapi nyatanya tidak
juga merubah perilaku orangtuanya yang penuh tuntutan itu. Kedua orangtua
masih melihat hal itu wajar sehingga tidak begitu mempermasalahkan perbedaan
perilaku si anak. #ingga pada akhirnya, S merasa tidak tahan lagi dan
memutuskan untuk kabur dari rumahnya tanpa seijin orangtuanya. S menginap di
salah satu rumah temannya selama lebih dari ' minggu. S sengaja menyuruh
temannya tidak membuka mulut ketika kedua orangtua S menanyakan keberadaan
dirinya. S juga mematikan alat komunikasi sehingga orang rumah tidak ada yang
bisa menghubungi.
Pe!ba%aan
6emaja dihadapkan pada tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan
khas remaja yang unik dan ingin dipenuhi. 6emaja yang berperilaku kabur
memiliki kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, sehingga otomatis remaja mulai
merasa tidak aman (insecure) dengan lingkungannya tersebut dan berusaha
mencari tempat yang mampu memberikan rasa aman untuknya. Proses keluar dari
rumah tanpa pamit dan mencari tempat yang aman inilah yang dinamakan
perilaku kabur.
Perilaku kabur dalam kasus tsb disebabkan oleh beberapa faktor yang
saling berhubungan, yakni pola asuh terkait dengan hubungan antara orangtua-
remaja, pembentukan konsep diri, perkembangan emosi, serta kepribadian yang
dimiliki remaja. Baktor-faktor tersebut yang akhirnya menyebabkan remaja
mengalami kesulitan dalam menentukan perilakunya apabila aspek perkembangan
tidak berjalan dengan baik.
Masa awal remaja adalah waktu di mana konflik antara orang tua dengan
remaja meningkat melebihi konflik antara orang tua dengan anak-anak.
Peningkatan ini dapat terjadi karena adanya peningkatan kedewasaan orang tua
dan remaja dalam berbagai aspek. *i satu sisi, indi/idu pada usia remaja
menginginkan kebebasan melihat tugas perkembangan remaja yang berada pada
masa pencarian identitas. ,etapi di sisi lain, orangtua menjadi sangat khawatir
dengan perubahan sikap remaja yang kadang terkesan terlalu bebas dan tidak ada
batasannya. #al ini juga berkaitan dengan penerapan pola asuh yang diberikan
orangtua pada remaja.
Pola asuh memiliki peranan penting bagi perkembangan kepribadian
remaja. Pola asuh yang otoriter menjadikan remaja merasa tertekan sehingga sulit
untuk mengungkapkan pendapatnya dengan bebas karena orang tua tidak
memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya.
6emaja yang memiliki orang tua yang otoriter merasa cemas akan perbandingan
sosial, tidak mampu memulai suatu kegiatan, dan memiliki kemampuan
komunikasi yang rendah. Situasi yang demikian membuat remaja tidak mampu
mengatasi masalah yang dihadapi sehingga membentuk konsep diri dan
kepercayaan diri yang rendah. Konsep diri dan kepercayaan diri remaja yang
rendah akan menimbulkan banyak masalah, salah satunya adalah remaja akan
merasa tidak berdaya dalam menyelesaikan konfliknya. Sehingga bila remaja
tidak dapat menyelesaikan masalahnya, maka yang terjadi adalah memutuskan
untuk keluar dari lingkungan tersebut dan mencari lingkungan baru yang
membuatnya aman.
Berdasarkan perkembangan emosinya, remaja memiliki reaksi-reaksi dan
ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali sehingga berdampak
pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. <mosi remaja seringkali meluap-luap
!tinggi" dan emosi negatif mereka lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak
disebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka dan lingkungan yang
menghalangi terpuaskannya kebutuhan tersebut !#urlock, (2)&". Perkembangan
kemandirian emosional remaja, tidak terlepas dari penerapan pengasuhan orang
tua melalui interaksi antara ibu dan ayah dengan remajanya. 7rang tua merupakan
lingkungan pertama yang paling berperan dalam pengasuhan anak remajanya,
sehingga mempunyai pengaruh yang paling besar pada pembentukan kemandirian
emosional remaja. -aya pengasuhan otoriter yang penuh dengan tuntutan,
paksaan, penuh dengan sanksi, tidak pernah melibatkan anak dalam pengambilan
keputusan akan menghambat perkembangan kemandirian remaja khususnya
kemandirian emosional sehingga remaja cenderung mengambil jalan pintas yaitu
kabur dari rumah mencari tempat lain yang dirasa lebih nyaman sebagai respon
kekecewaan remaja. #al ini juga terlihat dari pengelolaan emosi remaja yang
belum matang sehingga mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
Selain itu, pengendalian diri, penyesuaian diri, dan pengambilan keputusan
merupakan bagian dari pembentukan kepribadian remaja yang berpengaruh juga
pada tempramen masing-masing indi/idu. ,idak semua remaja mampu berpikir
jernih pada situasi yang diinginkan=tertekan. *alam perkembangannya, remaja
yang telah menunjukkan tanda-tanda kemasakan kepribadian akan tumbuh
sebagai seseorang yang dapat menyelesaikan berbagai konflik yang dihadapinya.
Berbeda dengan remaja yang belum matang kepribadiannya, akan mengalami
hambatan dalam penyesuaian diri menghadapi konflik, seperti yang dialami
remaja pada kasus tsb.
DAFTA" PUSTAKA
:lwisol. %&&2. Psikologi Kepribadian. Malang+ >MM Press
#urlock, <.B. (2)&. Psikologi Perkembangan+ Suatu Pendekatan Sepanjang
6entang Kehidupan. 8akarta+ <rlangga
Santrock, 8ohn $. %&&%. Cife Span *e/elopment+ Perkembangan Masa #idup.
8ilid %. 8akarta+ <rlangga
Santrock, 8ohn $. %&&'. :dolescence Perkembangan 6emaja. 8akarta+ <rlangga
Suryabrata, Sumadi. %&((. Psikologi Kepribadian. 8akarta+ 6ajawali Press