Anda di halaman 1dari 22

PERTIMBANGAN ETIS DALAM KONSELING

Masalah-masalah etika seringkali menimbulkan situasi yang sangat sulit bagi orang-orang
dalam profesi membantu karena beberapa alasan. Yang pertama, praktek atau kode etik tertentu
yang
jelas harus dikembangkan yang memberikan pedoman yang memadai mengenai perilaku etis
dalam
berbagai macam situasi yang dihadapi dalam hubungan membantu.
Yang kedua, kebanyakan pekerja

dalam profesi membantu tidak dalam praktek pribadi. Yang terakhir, para pekerja dalam profesi

membantu pada dasarnya mungkin menemui situasi dimana kewajiban-kewajiban etis saling
melengkapi

atau bertentangan.


Sifat Kewajiban Etis
Etika adalah prinsip atau standar tingkah laku yang didasarkan pada beberapa perangkat nilai
yang

telah diterima secara umum. Kode-kode etik secara umum mengakui fakta bahwa koselor
memiliki

sejumlah jenis kewajiban etika yang berbeda-beda. Kebanyakan konselor akan mengakui jenis-
jenis

kewajiban berikut ini : kewajiban kepada klien, kewajiban kepada orang tua klien kecil,
kewajiban

kepada profesi, kewajiban kepada lembaga-lembaga yang mempekerjakan, dan kewajiban
kepada

komunitas atau masyarakat pada umumnya.
Pada hakikatnya, sebuah sistem etika menggambarkan sebuah hirarki nilai yang memungkinkan

konselor untuk membuat pilihan-pilihan berdasarkan tingkat yang berbeda antara baik atau
buruk.

Untuk bekerja secara sukses dan etis sebagai konselor, orang harus mampu hidup dengan sebuah

hirarki nilai yang memungkinkan dibuatnya keputusan-keputusan yang konsisten yang
melibatkan

kewajiban terhadap klien yang bertentangan dengan kewajiban-kewajiban lain. Konselor harus
mampu

memahami secara agak jelas tentang situasi-situasi dimana kesejahteraan kliennya akan

mengesampingkan nilai-nilai lain yang mungkin dilibatkan.
Tiga tingkat kerahasiaan yang berbeda dapat dibedakan dalam konseling, yaitu :
1. Tingkatan yang pertama meliputi penggunaan informasi profesional. Setiap pekerja

profesional memiliki kewajiban untuk mengelola informasi tentang klien atau calon klien hanya

dengan cara professional. Sumber informasi sebaiknya ditangani dengan cara-cara yang
menjamin

bahwa mereka tidak jatuh ke tangan orang-orang yang dapat menangani informasi dengan cara
non-

profesional.
2. Tingkat kerahasiaan yang kedua terkait dengan informasi yang timbul dari suatu hubungan

konseling. Dalam situasi semacam itu, klien harus memiliki suatu hak untuk berharap bahwa

informasi hanya akan digunakan untuk kesejahteraannya.
3. Tingkat kerahasiaan yang ketiga adalah kerahasiaan dimana konselor memegang sebuah

komunikasi dengan kerahasiaan yang sempurna. Pada level ini, komunikasi tidak akan
dibocorkan

tanpa persetujuan klien walaupun konselor sangat merasa bahwa itu akan menjadi kepentingan

terbaik klien untuk melakukannya.

Tanggung Jawab Hukum Konselor
Walaupun konselor biasanya tidak memiliki komunikasi yang istimewa, mereka memiliki hak-
hak hukum

tertentu seperti saksi yang seharusnya mereka pedulikan. Konselor seharusnya menjaga catatan

kasus rahasia dalam bentuk memorandum yang dialamatkan kepada dirinya sendiri dan tidak
tersedia

bagi orang lain.

Kejujuran & Ketidakjujuran Profesional
Proses membentuk dan menginternalisasi suatu dasar yang dapat dikerjakan dan etis untuk

berhubungan dengan orang lain dalam konseling adalah sebuah proses untuk mengumpulkan
keberanian

untuk jujur dengan dirinya sendiri. Hal ini memerlukan keberanian untuk meninggalkan
kebohongan

terhadap diri sendiri tentang kemampuan seseorang untuk menjadi segalanya bagi semua orang.

Sebagai gantinya, konselor harus menemukan keberanian yang sesuai didalam keterbatasan-

keterbatasannya sendiri dan untuk mengembangkan kepercayaan terhadap manfaat hubungannya
dengan

orang lain.

KONSELING DAN PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan pada Bidang Ekonomi
Ditandai dengan adanya revolusi industry di Eropa, yaitu dengan adanya perkembangan

penggunaan teknologi yang dimulai dengan penggunaan mesin dan bahan bakar untuk
menggantikan

kemampuan manusia di berbagai macam pekerjaan.
Dampak positifnya : penggunaan mesin yang memudahkan manusia untuk bekerja dan hasil
produksi pun

akan lebih banyak sehingga keuntungannya lebih besar dan terjadi peningkatan taraf hidup para

pekerjanya. Sebaliknya dampak negatifnya adalah : penggunaan teknologi dalam industry juga

memberikan masalah yang cukup besar, yaitu perkembangan teknologi ini hanya mampu
dinikmati oleh

negara-negara maju, terjadinya peningkatan angka pengangguran yang tinggi karena tiap
industri

menggunakan mesin untuk proses produksi.
Implikasi Perubahan Ekonomi pada Konseling. Dampak pada konseling dalam menghadapi
perubahan ini

akan sangat besar. Peran konselor adalah : membantu individu untuk menerima perubahan
ekonomi

yang sangat cepat, memberikan motivasi pada individu untuk dapat bersaing dan meningkatkan

kemampuan yang dimiliki.

Perubahan pada HAM
Ditandai dengan adanya revolusi besar dalam hak asasi manusia. Karena ini hasil perjuangan, itu

membebankan tanggung jawab berat pada perkembangan konselor untuk membantu orang-orang
yang baru

dibebaskan dari kendala diskriminasi dan penindasan untuk memanfaatkan peluang yang baru

dimenangkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu juga terjadi pada
perubahan

sikap dan pandangan terhadap wanita.
Implikasi perubahan HAM terhadap konseling, yaitu: sebagai seorang konselor kita memiliki
tugas

untuk lebih aktif dalam memperjuangkan dan memperoleh hak asasinya; dan juga kita harus

berpandangan netral terhadap klien (tidak rasisme, dan tidak membedakan klien dari ras, suku
dan

agama).

Perubahan pada Nilai-Nilai
Perubahan pada nilai-nilai ditandai dengan adanya kultur negara yang sangat dipengaruhi

oleh ekonomi masyarakat. Semakin tinggi ekonomi suatu negara, maka nilai-nilai juga akan

berkembang pesat dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut antara lain : nilai tradisional yang

terdiri dari kekuatan moral yang sangat kuat pada seseorang, sukses dalam bekerja dan orientasi

dalam penghargaan, nilai yang berkembang: nilai untuk berkembang terdiri dari sosialisasi dan

moral.

Perubahan Populasi
Perubahan penduduk yang cepat akan berdampak pada pola perilaku dan hubungan

interpersonal, contohnya: masyarakat sekarang cenderung mulai bersikap individual, egois, dan

mengabaikan nilai-nilai gotong royong (kekeluargaan). Kenaikan tingkat urbanisasi juga akan

mempengaruhi nilai kekeluargaan yang berakibat mengurangi tingkat kerukunan di masyarakat

perkotaan.
Implikasinya terhadap konseling yaitu konselor harus peduli untuk membantu sesame
manusia

dalam menentukan pola hubungan interpersonal dan orientasi terhadap nilai-nilai tanpa harus

mengabaikan komitmen dan tanggung jawab dalam masyarakat.

Perubahan dalam Kehidupan Keluarga
Perubahan kehidupan keluarga ditandai oleh dua perubahan nilai kultur yang penting, yaitu :

perubahan peran ekonomi dan perubahan struktur keluarga. Konselor perkembangan akan
semakin

terlibat dalam hubungan perkawinan, hubungan pernikahan yang sukses dalam masyarakat
menjadi

semakin penting dan penentu perkembangan yang optimal sehingga diperlukannya seorang
konselor

yang berkompeten dalam bidang ini.
Implikasinya terhadap konseling antara lain konselor perkembangan harus terlibat lebih dalam

terhadap masalah perkawinan dengan memberikan layanan konseling perkawinan, mengadakan
sebuah

layanan konseling keluarga, turut menyadarkan masyarakat akan peran vital keluarga dalam

pendidikan, serta harus menjadi pribadi yang berkompeten.

Perubahan pada Bidang Pendidikan dan Implikasinya terhadap Konseling
1) Program dan paket pembelajaran adalah suatu program dimana kita akan belajar secara

akademik dan staf pengajarannya pun tidak hanya dari guru melainkan juga dari orang yang
lebih

professional. Murid-murid diminta lebih mandiri, guru hanya sebagai fasilitator (bukan penentu

dalam pendidikan). Sedangkan paket pembelajaran adalah tingkatan pendidikan mulai dari SD,
SMP,

SMA, dan Perguruan Tinggi (semakin tinggi tingkatannya, maka akan semakin sulit pula hal
yang

mereka pelajari).
2) Konseling kelompok, dalam hal ini konselor harus menjadi pemimpin yang professional
dalam

kegiatan konseling kelompok.


KONSELOR SEBAGAI AHLI TINGKAH LAKU MANUSIA

Konselor perkembangan tertarik pada masalah-masalah, bukan pada disiplin-disiplin. Dia

pasti bersikap untuk mencari pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah
Ilmuan

behavioral adalah seseorang yang mampu melihat tingkah laku manusia, termasuk dirinya,
sebagai

sesuatu yang relevan, berpotensi untuk memahami, dan ketertarikan yang tidak dapat
dihindarkan.
Pandangan konselor tidak seluruhnya sebagai solusi dari masalah, tapi sebagai pendekatan,
metode

perspektif yang akan memungkinkan dirinya untuk menanyakan lebih banyak pertanyaan yang
berhasil

dalam proses konseling.Konselor perkembangan membutuhkan sebuah pemahaman dalam
kedalaman dari

konstribusi yang nyata dari disiplin ini.

Sosiologi dan Konseling
Sosiologi adalah salah satu ilmu sosial yang memiliki tujuan untuk menemukan struktur dasar
dari

masyrakat manusia, untuk mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi kelompok, dan
untuk

mempelajari kondisi yang mengontrol kehidupan sosial. Wilayah-wilayah besar dari sosiologi
adalah

berhubungan dengan konseling perkembangan (organisasi sosial, sosialisasi, kelompok primer,

kelompok referensi, stratifikasi sosial, serta populasi dan ekologi).

Organisasi Sosial
Organisasi sosial menunjuk pada kestabilan atau hubungan teladan antara individu-individu dan

kelompok-kelompok. Sebagai contoh dari oranisasi sosial seperti keluarga, komunitas, profesi
dan

kelompok formal dan institusi lainnya. Konselor perkembangan membutuhkan banyak sekali
kesadaran

terhadap pola organisasi sosial dalam perkembangan manusia menjadi berinteraksi.
Merton menguji pertanyaan pengaruh dari struktur sosial dalam individu dan metode adaptasi
yang

disana ada lima pengertian umum dengan yang dapat individu kuasai, antara lain :
1. Kecocokan: menggambarkan antara kecocokan terhadap tujuan masyarakat dan menjadi
adat

berarti bahwa masyarakat mengakui dengan tepat untuk mencapai tujuan.
2. Inovasi: biasanya terdiri dari masukan nilai-nilai sosial, tapi menggunakan metode yang

berbeda untuk cara mencapainya.
3. Ritualsme.
4. Retreatisme
5. Pemberontakan: adalah bentuk adaptasi diantara tujuan dan metode-metode organisasi
sosial

tertolak. Pemberontakan mencoba menghancurkan yang lama dan membangun sebuah struktur
sosial yang

baru.
Sosialisasi
Adalah proses menyambung nilai-nilai dan maksud dari kelompok disebarkan ke individu, yang

menjadi pola organisasi sosial. Sosialisasi menjadi hubungan sosial dan sebuah fungsi interaksi

sosial. Konselor perkembangan harus memiliki pemahaman yang tuntas akan sifat kontrol sosial
dan

proses sosialisasi dalam menjalankan kehidupan klien. Konselor perkembangan berperan dalam

mengontrol sosial dalam hidup sebuah perkembangan individu, konselor adalah sebuah bagian
dari

suatu proses sosialisasi yang dilakukan olehnya.

Kelompok Primer
Kelompok primer memainkan fungsi penting yang utama dalam perkembangan dua hal yaitu
kelompok

primer menyediakan keangotaan dan hubungan dalam sehingga anak bisa membangun
konsepnya sendiri

dan yang lainnya. Kelompok primer juga memainkan kunci peran dalam menyebarkan kontrol
sosial.

Memahami keaslian dari pengalaman kelompok primer klien adalah penting bagi konselor juga
karena

pengalaman-pengalaman itu akan sangat menentukan harapan klien dari pengalaman kelompok
primer

yan digambarkan dengan hubungan konseling itu sendiri.

Kelas menengah biasanya diajarkan untuk memuaskan kebutuhan sosial, psikologis, dan
biologis

hanya pada waktu dan tempat yang ditentukan secara sosial dan dalam cara-cara yang disetujui.

Konselor yang mampu memahami dan menerima individu yang latar belakang kelas sosial yang
berbeda

telah menghasilkan pola perilaku dan persepsi ini tampaknya tidak akan efektif dalam bekerja

dengan mereka.
Penduduk dan Ekologi
Dua fase penting dari penelitian sosiologis melibatkan studi populasi dan perubahan penduduk.

Termasuk dalam tahap ini adalah sosiologi ekologi fisik, atau studi tentang perubahan spasial
dan

kepadatan penduduk. Ekologi manusia melibatkan distribusi fisik dan geografis penduduk
merupakan

faktor yang penting dalam perkembangan.

Antropologi Dan Konseling
Antropologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menjelaskan tentang berbagai
macam

masalah yang dipelajari oleh ilmu perilaku kedisiplinan, khususnya sosiologi dan psikologi.

Antropologi mengamati manusia dari sudut pandang penemuan keadaan manusia dan adaptasi
dari

individu itu sendiri. Sumbangan yang terpenting dari antropologi dalam hal ini adalah
kesempatan

untuk mengamati perilaku manusia dari kebudayaan yang mereka lakukan dan pembatasan dari
budaya

yang dilarang. Perkembangan konselor memerlukan kacamata kebudayaan dari ahli antropologi
dalam

memandang perkembangan manusia. Mereka perlu melihat proses perkembangan dari luar nilai
-

nilai, prasangka, dan rintangan yang membentuk kebudayaan sebagai penentu proses
perkembangan itu

sendiri. Antropologi adalah proses pembelajaran ilmu pengetahuan tentang perilaku seseorang
yang

merupakan sesuatu hal yang paling penting. Tujuan mempelajari antropologi itu sendiri adalah

untuk memahami atau mengetahui perkembangan dari seorang individu.

Nilai Dari Kebudayaan
Masalah perilaku adalah satu-satunya pusat untuk perkembangan konselor. Nilai adalah hal
terbesar

yang dipelajari utamanya dalam konteks kebudayaan. Dalam menguji kebudayaan Amerika, Dr.
Du Bois

memiliki dasar alasan penting dari kebudayaan U.S.A. Dia menyusun tiga pusat posisi yang
dinilai

orang-orang Amerika, yaitu :
1. Alam semesta adalah sebuah susunan dan manusia adalah yang menguasainya.
2. Semua manusia pada dasarnya adalah sama derajatnya.
3. Semua manusia adalah sempurna.


Du Bois mempunyai 3 Fokal nilai yang terdiri dari:
1. Materialisme. Materi menjadi hal yang paling penting dalam budaya Amerika. Nilai ini

berasal dari alasan bahwa manusia dapat mengontrol dan menguasai sekitarnya.
2. Kesesuaian. Penyesuaian melalui perilaku adalah fokal nilai dari alasan persamaan.
3. Upaya optimis. Ini adalah fokal nilai dari prestasi, perbaikan diri, dan kerja keras.

Manusia adalah kesempurnaan dan oleh karena itu harus menyempurnakan dirinya. Menguasai
dunia ini

dan kerja keras serta usaha akan memberikan hasil. Berjiwa muda, semangat, dan antusiasme
sangat

dihargai. Cita cita yang tinggi dan prestasi tinggi memperlengkapi sifat baik.

Untuk perkembangan konselor, beberapa tujuan melihat bahwa nilai kebudayaan dan
pembentukan

nilai adalah penting. Konselor seharusnya dapat mengkonsepkan bagaimana mengenai nilai
budaya

dari individu dan perkembangannya. Dia seharusnya dapat mengerti bagimana struktur nilai dari

seorang individu yang berpengaruh terhadap kebudayaannya dan bagaimana konflik diantara
individu

dan nilai kebudayaan yang berpengaruh pada perkembangan. Seperti konflik yang terjadi ketika

individu atau bagian dari kelompok menentang nilai yang ada dalam kebudayaan yang dominan.

Kebudayaan yang Terputus
Konsep Antropologi lain yang sangat penting bagi perkembangan perkonselingan adalah

terputusnya sebuah keadaan. Terputusnya sebuah kebudayaan pada dasarnya dipengaruhi oleh
faktor

perbedaan hasil yang menyolok pada tahap perkembangan yang diharapkan.
Keller menyusun 4 faktor perkembangan terputusnya keadaan yang khususnya dapat menyelami

masyarakat Amerika, yaitu :
1. Keluarga dengan sosial yang tinggi
Dari sudut anak yang sedang berkembang, keluarga berarti sebuah pelindung yang
memisahkannya dari

masyarakat.Dalam sebuah keluarga, ibu adalah figur dewasa yang melengkapi sendiri figur
wibawa

dan model peran.
2. Ketergantungan dengan kemerdekaan.
Konseling perkembangan banyak dibutuhkan dalam pendidikan khusus karena adanya keadaan
yang

terputus yang disebabkan oleh kekomplekan , tingginya masyarakat modern
3. Kepatuhan dengan kekuasaan
Konselor perkembangan akan menjumpai keadaan yang terputus dalam kekuasaan kepatuhan
yang

menimbilkan konflik yang besar dan mungkin akan menghambat proses perkembangan.
4. Dorongan mengontrol diri dengan dorongan pemuasan diri.
Konselor perkembangan dibutuhkan untuk membawa keluar budaya kongkalikong yang
melingkupi

seksualitas dan membantu perkembangan manusia untuk mengambil keputusan mengenai
rangsangan

rangsangan yang tidak dapat ditolak dan mengontrolnya.

Psikologi Sosial Dan Konseling
Pengaruh sosial pada persepsi, Bruner menunjukkan bahwa psikologi sosial kontemporer telah
sangat

peduli dengan proses persepsi pada manusia.Psikolog sosial telah diteliti secara intensif

fenomena persepsi dari segi sosial. Mereka telah menggunakan stimulus situasi di mana
ambiguitas

dan faktor waktu yang terbatas digunakan untuk melebih-lebihkan efek dari persepsi selektif dan

kognisi. Contoh yang sering dikutip dari fenomena persepsi dicatat oleh Bruner adalah studi

tentang persepsi ukuran koin oleh anak-anak yang berbeda tingkat sosial ekonomi. penelitian ini

menunjukkan bahwa anak-anak miskin cenderung untuk memperbesar ukuran koin ke tingkat
yang lebih

besar dari yang relatif muda lebih istimewa.
Untuk konselor untuk memahami cara sebuah individu mengatasi lingkungannya, ia harus
mengerti apa

fungsi lingkungan untuknya. satu sisi, memasuki hubungan konseling dengan klien melibatkan

mencoba memahami pengalaman masa lalunya, keanggotaan kelompok sosial, dan
membutuhkan cukup

menyeluruh sehingga komunikasi dapat terjadi dalam pola persepsi.

Sosial psikologis pengaruh pada motivasi
Mecelland dan rekan-rekannya melihat prestasi mereka butuhkan atau sebagai n Ach notate itu,

sebagai kecenderungan sosial terhadap perilaku belajar. Construct dari Ach n telah biasanya

diukur dengan menggunakan teknik proyektif seperti tes apperception themetic di mana subyek

cerita tentang gambar ambigu dianalisis.Berdasarkan jenis data tersebut, Mecelland membuat
daftar

tiga karakteristik dasar orang dengan ach.these n tinggi:
1. high n berprestasi seperti situasi di mana mereka mengambil tanggung jawab pribadi untuk

menemukan solusi untuk masalah.
2. n orang berprestasi tinggi cenderung menetapkan tujuan pencapaian moderat dan
mengambil

risiko dihitung. mereka termotivasi untuk mendapatkan kepuasan dari prestasi positif bukan
dengan

menghindari kegagalan.
3. prestasi tinggi n orang ingin umpan balik beton pada hasil usaha mereka, mereka ingin

dapat mengukur hasil dan mengevaluasi mereka.
Dalam budaya kita, perilaku kecenderungan seperti yang dikonseptualisasikan dalam Ach n ini
jelas

sangat penting bagi pengembangan individu dan kesejahteraan sosial. Individu yang sangat
rendah

dalam motivasi berprestasi tidak mungkin untuk mengembangkan bidang pendidikan dan juga
mungkin

tidak dapat berfungsi dalam masyarakat yang menempatkan premi yang besar pada usaha
individu dan

tanggung jawab. Konselor perkembangan perlu sensitif terhadap efek dari keluarga dan
pengaruh

sosial-kelas pada pertumbuhan motivasi anak muda, konselor mungkin harus menemukan
strategi untuk

campur tangan dalam memfasilitasi pengembangan motivasi.

Preferensial Perilaku dan Konseling
Konseling secara langsung berhubungan dengan alternatif konseptualisasi, pengambilan
keputusan,

memperkirakan konsekuensi dari program tindakan, dan menetapkan preferensi di antara
alternatif

dan konsekuensi dalam jangka waktu beberapa set nilai.

Teori Permainan
Teori permainan adalah suatu usaha untuk mengembangkan deskripsi matematis dari perilaku
manusia

dalam situasi kerjasama dan kompetisi dimana semua peserta informasi yang cukup dan
kompeten dan

tujuan bersama mencari sesuai dengan seperangkat aturan.
Secara praktis, tentu saja, dalam situasi konseling, klien tidak selalu jelas dan rasional dalam

pendekatan mereka untuk mereka atau lainnya, tujuan dan perilaku. Namun di satu sisi, konselor

terlibat dalam proses membantu klien untuk membuat pilihan dan untuk berperilaku rasional dan

dengan cara tujuan-diarahkan dalam kondisi yang optimal dapat mendekati yang
dikonseptualisasikan

dalam teori permainan.
Contoh penggunaan penggunaan teori permainan dalam pemecahan masalah manusia adalah
prinsip

minimax. Berdasarkan prinsip ini, seorang pemain dalam situasi permainan memilih strategi
yang

akan meminimalkan kerugian maksimum atau risiko dan tentu saja sebaliknya memaksimalkan

keuntungan dibandingkan dengan strategi alternatif lainnya. Dalam arti, siswa berusaha untuk

memilih perguruan tinggi dengan menggunakan informasi kemungkinan harapan tentang
keberhasilan

atau kegagalan dalam berbagai perguruan tinggi menghadapi situasi yang agak mirip. Dia
memiliki

peringkat perguruan tinggi alternatif dalam hal keinginan atau keuntungan. Dia ingin

memaksimalkan keuntungan ini, tetapi pada saat yang sama ingin meminimalkan kerugian atau
resiko

kegagalan. Dia harus memilih alternatif yang kompatibel dengan kedua elemen.

Teori Pengambilan Keputusan
Teori Keputusan ini bertujuan untuk mengkaji perilaku manusia dalam situasi di mana pilihan
harus

dibuat antara sejumlah alternatif diketahui. Teori keputusan meliputi pembentukan model

matematika, deskripsi proses dengan mana keputusan yang benar-benar tiba, dan evaluasi

konsekuensi yang melekat pada keputusan tertentu.

Nilai Inquiry
Nilai penyelidikan lain lain istilah yang menggambarkan perilaku disiplin didedikasikan untuk

mempelajari preferensi di antara pilihan alternatif dan kriteria yang terlibat untuk membangun

preferensi.
Proses konseling, bagaimanapun, memiliki kepedulian pusat untuk pengambilan keputusan,

pembentukan nilai, dan pemilihan program alternatif tindakan. Setiap usaha sistematis untuk

mempelajari aspek-aspek perilaku manusia berpotensi bermanfaat untuk konselor
perkembangan.

Konselor pasti akan dilihat oleh klien sebagai ahli dalam proses yang melibatkan pilihan dan

keputusan. Dia perlu menyadari kontribusi teoritis dan penelitian di bidang ini.

Ekonomi dan Konseling
Ekonomi adalah ilmu perilaku yang memiliki relevansi yang jelas bagi konselor. Karena salah
satu

tujuan utama dari seorang konselor adalah membantu klien mengembangkan ekonomi
swasembada dan

kecukupan, konselor perlu memahami sesuatu dari sistem ekonomi di mana kliennya akan hidup.

Ilmu Politik dan Konseling
Konselor perlu memahami secara menyeluruh struktur kekuasaan dalam institusi dan masyarakat
di

mana ia operates. Konselor harus memahami bagaimana kekuatan melanggar berbagai struktur
pada

klien, dan bagaimana struktur kekuasaan dapat dimanfaatkan untuk membawa perubahan yang

konstruktif di masyarakat.


Diagnosis, Prediksi, dan Kegunaan Tes dalam Konseling

Diagnosis bertujuan untuk menemukan penyebab masalah klien. Tingkat efektifitas menurut

Menninger ini didefinisikan dengan adanya tingkat kontrol bahwa individu tersebut dapat

menyesuaikan dengan lingkungannya dan dapat meresponnya. Dia mengemukakan bahwa ada
lima

tingkatan keberhasilan individu, antara lain :
1. Panic: hilangnya kontrol dalam merespon baik secara langsung dan bersifat sementara

terhadap lingkungannya.
2. Inertia: terdapat beberapa kontrol yang berlangsung secara singkat dengan lingkungan yang

memuat ada atau tidaknya ; banyak-sedikitnya control yang berlangsung lama dan mencakup
luas

dengan lingkungan.
3. Striving: memiliki tingkat kontrol yang lebih lama dan aspek yang lebih luas dalam

lingkungan, lebih aktif mencoba, memiliki perencanaan dan pengorganisasian yang lebih efektif.
4. Coping: adanya kontrol dalam segmen yang luas, dalam waktu yang lama serta komponen
waktu

yang lama yang bersifat emosional, menganggap sesuatu sebagai suatu tantangan.
5. Mastery: merupakan tingkatan tertinggi dari keefektifan individu yang berada dalam
segmen

dan control aktif yang penting dalam lingkungan, perencana yang matang, interaksi yang lebih

erat, serta kehidupan yang penuh gairah.
Kelima gagasan yang ada di atas sangat berguna bagi konselor perkembangan, sehingga wujud
tingkah

laku konselor yang tepat disesuaikan pada fungsi tingkatan dari klien sehingga ia tidak merasa

kesulitan. Diagnosis tersebut mengacu pada proses dimana konselor dating untuk memahami
klien,

dunia klien, dan pentingnya interaksi dengan dunia bagi dirinya. Menurut Koester, Mc Arthur,
dan

Parker menyarankan bahwa diagnosis yang paling efektif dilakukan secara terus menerus,
sementara,

dna bisa diuji hasilnya.



Diagnosis Perkembangan
1. Faktor panggung kehidupan: terkait dengan usia kronologis.
2. Faktor ruang kehidupan: terkait dengan keadaan fisik dan psikologis individu.
3. Factor gaya hidup: terkait dengan tingkah laku, yaitu karakteristik individu.

Prediksi
Konselor tertarik pada masalah prediksi sebab:
1. Untuk menguji pemahaman tentang klien tertentu.
2. Menyempurnakan teori konselor.

Penggunaan tes dalam konseling
Konselor perkembangan membantu untuk memastikan bahwa tes digunakan dalam
lingkungan

pendidikan untuk memfasilitasi pengembangan, dan bukan untuk merasionalisasi kegagalan
dalam

melakukannya. Pengujian dapat digunakan dengan tujuan, yaitu :
1. Menyangkut pengujian hipotesis dari konselor
2. Interpretasi informasi tes
Keduanya digunakan untuk memberikan informasi yang lebih memadai terhadap klien yang
bersifat

deskriptif atau prediktif tentang diri mereka sendiri dan kemungkinan yang terjadi terhadapnya.
Pemahaman tentang Konsep Pengukuran
a. Validitas: sejauh mana suatu tindakan instrumen yang memiliki tujuan yang dapat diukur.
- Validitas prediktif adalah kemampuan alat memprediksi suatu peristiwa atau peristiwa masa

depan.
- Validitas serentak berbeda dengan validitas prediktif dari segi waktunya, biasanya diukur

dengan perhitungan koefisien korelasi antara distribusi skor tes dan mengukur beberapa kriteria

yang ada secara bersamaan.
- Validitas konten, merupakan suatu validitas isi yang ditentukan melalui proses item yang

dipilih.
- Validitas konstruksi teoritis adalah jenis validitas yang memiliki skala angka pengukuran

yang kecil.
b. Kehandalan (reliable)
Dua aspek utama keandalan adalah konsistensi pengukuran dari waktu ke waktu dan konsistensi

antara dua pengukuran yang serupa.

Tes adalah instrumen yang berguna untuk membuat pengamatan dalam beberapa kasus, dan
merupakan

prediksi tentang perilaku manusia. Data tersebut hendaknya dikombinasikan dengan observasi
yang

lainnya, sehingga dapat berguna oleh seorang konselor. Jika konselor menggunakan tes sebagai

bagian penting dari teknik profesionalnya maka ia harus ahli dalam menggunakannya. Keahlian

tersebut dating melalui penelitian yang intensif dan pengalaman yang luas dengan instrumen
yang

digunakan.


HUBUNGAN PERKEMBANGAN

Whitaker dan Malone (20) mendefisinikan konseling sebagai suatu hubungan interpersonal yang

mempercepat perkembangan dari satu atau dua orang yang bersangkutan.
A. Karakteristik Hubungan Perkembangan
Rogers telah menyaring pertanyaan utama ini lebih jauh untuk mendefinisikan 3 faktor yang ia

sadari sebagi kondisi penting dalam mempelajari konseling, yaitu :
1. Keselarasan (congruence)
Keselarasan adalah umumnya mempertimbangkan kualitas menjadi dirisendiri bukan
memainkan suatu

bagian atau suatu peran atau dibuat-buat. Seperti yang ditunjuk Grinker peran sosial mungkin

dibayangkan sebagai jembatan antara kepribadian dan sikap sosial. Mereka berasal dari sikap
tidak

sadar dan dipengaruhi oleh banyak motivasi yang kompleks lebih tepatnya suatu keinginan
sederhana

untuk membuat suatu kesan khusus pada seorang individu pada suatu momen khusus.
2. Hal positif tanpa syarat penghargaan (unconditional positif regard)
Penerimaan berarti adalah suatu keyakinan bahwa seorang klien itu mempunyai nilai.
Penerimaan

bukan berarti tidak ada penilaian moral tentang perilaku klien. Penilaian terhadap perilaku

adalah suatu bagian yang tak terhindarkan untuk menjadi manusia yang bernilai. Pada dasarnya,

penerimaan berarti tertarik pada (interest in) dan berkonsentrasi untuk (concern for) seorang

klien, bukan menghakimi diri klien.
3. Pemahaman Empati (Emphatic understanding)
Empati mengandung sekurang-kurangnya dua komponen. Pertama, komponen kognitif yang
meliputi

pemahaman psikologi. Yang lainnya adalah komponen afektif perasaan dengan seseorang.
Bucheimer

mendiskusikan beberapa konteks dimensi dalam proses konseling. Interaksi dari konselor dan
klien

dalam istilah dimensi ini yang utama memfokuskan sebagai definisi operasional dari kualitas

empati hubungan konseling. Dimensi-dimensi ini adalah :
1) Nada (tone) adalah suatu dimensi yang ekspresif dan sering kali non-verbal berdasarkan

pada nuansa ekspresi dari kehangatan dan spontanitas.
2) Langkah (pace). Meliputi kecocokan dan kebersamaan pada waktu-waktu interview.
3) Pandangan (Perception). Berhubungan dengan kemampuan konselor untuk
mengabstraksikan

pusat yang menjadi perhatian klien dan untuk membentuk mereka pada istilah penerimaan

terhadapnya.
4) Strategi (strategy). Cenderung pada prediksi atau aspek permainan peran dari wawancara

yang tertutup pada Model Klien oleh Pepinsky.
5) Menuntun (Leading). Kecenderungan ini pada keberdayaan konselor dalam membentuk

sekumpulan atau satu set petunjuk yang akan menjalankan wawancara pada arah dari perhatian
klien.
4. Kepercayaan ( Trust )
Kepercyaan adalah dasar kemantapan dalam bertindak. Klien perlu mempercayai konselor,
dalam arti

jika mereka memungkinkan mengungkapkan permasalahan mereka sendiri dengan cara yang
sesuai.

Konselor sangat membutuhkan kepercayaan dari klien jika mereka mampu berperilaku konsisten
dan

percaya diri.

Penelitian dalam Hubungan Perkembangan
Dalam studinya Fiedler mencoba menjawab dua pertanyaan mengenai teori divergen dan
perbedaan

konsep mereka dari suatu hubungan terapeutik yang ideal dan yang kedua mengenai hubungan
manusia

yang ideal khusus pada psikoterapi. Dari studinya, Fiedler menyimpulkan bahwa terapis-terapis

dari orientasi yang berbeda tidak terbedakan dari masing-masing orang awam dalam
menjabarkan

konsep hubungan teraupetik yang ideal.
Sekumpulan studi penting lainnya adalah studi oleh Truax and carkhuff (19). Yang melaporkan

serangkaian studi yang dianalisa melalui wawancara klien yang berkisar antara mahasiswa
berkenaan

dengan penyakit skisofrenia. Hasil tes kepribadian dan criteria lainnya digunnakan untuk

menetukan peningkatan atau kemrosotan.
Truax and carkhuff menyimpulkan bahwa hubungan konseling mungkin berjalan sebagai dua
alat yang

tajam bisa melukai atau bahkan membantu klien, bergantung pada konsep hubungan.
Suatu studi oleh Combs and soper (5) relevan dengan karakteristik kepribadian konselor yang

dihubungkan dengan keefektifan konseling sebagai penilaian oleh seorang staf pendidikan
konselor.

Combs dan soper menginterpretasikan hasil mereka untuk mengindikasi bahwa sikap konselor
dan

proses perceptual adalah faktor penentu yang penting dari keefektifan konselor.


Aspek Lain dalam Hubungan Konseling :
1. Batasan ( Limits )
Keterbatasan pada suatu hubungan membatasi perilaku baik konselor maupun klien.
Perilaku konselor dipengaruhi oleh seperangkat kode etik klien, sebagai contoh. Disisi lain klien

terbatas dalam istilah waktu perjanjian pertemuan (time of appointments), lamanya perjanjian

(length of appointments), konsep interaksi dengan konselor, dan sebagaimya.
2. Ketergantungan (Dependency)
Beberapa klien mengembangkan rasa ketergantungan pada konselor. Mereka mungkin merasa
suatu

kebutuhan bagi konselor untuk memberi lebih dan lebih dari waktunya untuk membagi waktu

pertemuan dengan klien yang lain untuk bertemu dengan mereka,untuk melakukan wawancara
melalui

telefon atau di tempat yang bebas atau bagi konselor untuk member mereka nasehat atau
memberi

pertanggungjawab untuk keputusan mereka. Permintaan seperti itu adalah bukti ketergantungan

klien.
3. Pemindahan (Transference)
Fenomena hubungan yang lainnya adalah pemindahan (transference). Ketika dalam suatu
hubungan

konseling, baik klien maupun konselor terjadi perasaan kearah sesutau yang tidak logis.Rasa

Pemindahan (tramsference) mungkin bisa positif atau negatif. Klien berusaha untuk melindungi

dirinya dari tekanan tanpa benar-benar menjadi sadar akan apa yang telah dia lakukan.
4. Pertahanan (Resistance)
Pertahanan (resistance), terdiri dari perilaku klien yang nampak diarahkan pada hambatan dalam

proses konseling.Seringkali ketika proses konseling dimulai untuk menyentuh area yang sangat

sensitive dan area yang menyakitkan dari kehidupan klien, dia mencoba untuk melindungi
dirinya

dari tekanan tanpa benar-benar menjadi sadar akan apa yang telah dia lakukan.


PERKEMBANGAN WAWANCARA

Berbicara mengenai wawancara biasanya menyangkut pertanyaan pertanyaan teknik. Dalam

konseling perkembangan proses konseling melibatkan hubungan interpersonal antara konselor
dan

klien. Dalam wawancara perkembangan ini, akan dibahas mengenai :
1. Perumusan Tujuan
Perumusan tujuan dalam konseling perkembangan berasal dari dua sumber utama, yaitu :
sumber

pertama teori pribadi konselor dan filosofi konseling; dan sumber kedua datang dari diri klien.

Aspek teknik dari perumusan tujuan atau kontrak perkembangan adalah suatu proses yang
disebut

structuring /penyusunan. Penyusunan pada dasarnya proses komunikasi dan berbagai harapan
tentang

proses hakikat konseling itu sendiri. Tujuan umum penyusunan adalah menyediakan dasar untuk

hubungan satu sama lain. serta membantu mengembangkan empati, kualitas berpikir dan
merasakan

bersama. Itu adalah kondisi dasar untuk hubungan konseling.
2. Dimensi Proses Konseling
Relevansi khusus dalam dimensi yang tersusun selama proses konseling, yaitu: pembagian
tanggung

jawab, makna ambigu (ganda), dan ukuran intelektual afektif.
3. Keterampilan Persepsi
Ketrampilan wawancara yang utama bagi seorang konselor adalah mengatakan hal yang benar.
Namun,

keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh konselor dalam wawancara konseling adalah

mendengarkan. Untuk menjadi pendengar yang selektif, setidaknya memiliki 3 dimensi, antara
lain:

kebutuhan pribadi yang relevan, idiasional daripada seleksi afektif, seleksi komunikasi yang

positif daripada yang negatif.
4. Penelitian tentang Wawancara
Dua penelitian oleh Strupp (8,9) menyoroti tentang penggunaan teknik wawancara oleh terapis

dengan latar belakang yang berbeda dan tingkat pengalaman yang berbeda.
Robert Wrenn (10) membandingkan tanggapan dari lima puluh empat konselor untuk satu set

pernyataan klien sengaja dipilih untuk menyoroti perbedaan teoretis .
Tujuan dari wawancara perkembangan adalah untuk membantu klien mencari dan mencoba
alternatif

baru dan cara berperilaku yang akan berorientasi pada tujuan baginya.
5. Keterbukaan Komunikasi
Dalam pertemuan membutuh seorang konselor yang mungkin mampu memberikan respon
dengan cara yang

kreatif dan berbeda yang mencerminkan keluwesan pemikiran atau keterbukaan komunikasi.
Ada tiga

aspek sebagai tolak ukurnya, yaitu :
a) Sedikit banyaknya percobaan yang menggolongkan usaha konselor untuk memahami klien,
b) Keterbukaan atau kemampuan untuk memunculkan hipotesis atau data baru tentang klien
yang

konselor pertahankan, dan
c) Keragaman teknik-teknik atau pendekatan yang digunakan konselor dalam penanganan
klien.
6. Konsistensi Komunikasi
Konselor berkomunikasi dengan klien secara verbal dan non-verbal. Kekonsistenan komunikasi

konselor dapat di ketahui dari mengamati banyak sedikitnya perilaku verbal dan non-verbalnya
yang

sesuai, yaitu yang mereka sampaikan mempunyai arti yang sama.
7. Keterlibatan Perseorangan dalam Komunikasi
Salah satu aset konselor adalah kemampuannya untuk masuk lebih dekat dengan hubungan
secara

spontan dengan kliennya. Ada dua aspek utama sebagai tolak ukur dalam kegiatan konseling :
a. Sejauh mana si konselor menunjukkan perasaan yang sebenarnya penerimaan dan
perawatan

bagi klien, dan
b. Sejauh mana konselor menyatakan terus terang dan terang-terangan sebagaimana manusia