Anda di halaman 1dari 30

PENGEMBALIAN ATAS INVESTASI MODAL DAN

ANALISIS PROFITABILITAS

Analisis
NOPAT = (Penjualan Beban Operasi) x (1 [Beban pajak/Laba sebelum pajak])
NOPAT tahun 2013 = $56.448.275 x (1 [$2.384.777/$8.815.605])
NOPAT tahun 2013 = $56.448.275 x (1-0,27)
NOPAT tahun 2013 = $41.207.240
NOA (dalam $)

Tahun 2013 Tahun 2012
Aset Total 2.953.784.952 2.517.997.766
Utang usaha (206.186.276) (173.468.631)
Utang lain-lain (16.271.886) (16.669.543)
Utang pajak (17.037.776) (20.407.652)
Pendapatan diterima di muka (169.265.396) (162.270.578)
Uang muka diterima (20.534.373) (20.417.066)
Liabilitas pajak tangguhan (16.987.753) (15.019.898)
Liabilitas imbalan kerja (128.743.051) (152.987.113)
Liabilitas tidak lancar lainnya (25.871.507) (7.244.913)
Aset Operasi Bersih 2.352.886.934 1.949.512.372

RNOA=NOPAT/Rata-rata NOA
RNOA=$41.207.240/[($2.352.886.934+$1.949.512.372)/2]
RNOA=$41.207.240/($4.302.399.306/2)
RNOA=$41.207.240/$2.151.199.653
RNOA=0,01915547=1,915%
a. Pengembalian atas Ekuitas Pemegang Saham Biasa
Pengembalian atas ekuitas biasa umumnya hanya memperhitungkan ekuitas pemegang saham biasa
dari seluruh investasi modal. Pengembalian atas ekuitas biasa dihitung sebagai berikut :
Laba bersih Dividien saham preferen
Rata-rata ekuitas pemegang saham biasa
ROCE terdiri dari dua komponen: pengembalian operasi RNOA dan pengembalian non-operasi(dampak positif
atau negatif dari leverage keuangan)

Menganalisis Pengembalian Atas Aset Operasi Bersih

RNOA 2013 =

= 1.915%
RNOA 2012 =

= 6.84%

Analisis Pengembalian atas Aset Operasi Besih (RNOA)
2013 2012
Penjualan 3.716.076.586 USD 3.472.468.962 USD
NOPAT 41.207.240 USD 123.028.780 USD
NOA 2.352.886.934 USD 1.949.511.372 USD
Margin NOPAT 0.01108891032 0.03542977096
Perputaran NOA 1.72744424 1.932797151
Pengembalian atas asset operasi bersih 1.915% 6.84%

Terjadi penurunan RNOA dari tahun 2012 ke tahun 2013 disebabkan oleh menurunnya nilai NOPAT sedangkan
nilai NOA mengalami peningkatan. Penyebab utama nilai NOPAT menurun adalah peningkatan jumlah biaya
yang terjadi sehingga nilai laba operasi di tahun 2013 pun menurun.
Nilai NOA meningkat disebabkan oleh peningkatan jumlah modal kerja operasi bersih dari tahun 2012 ke tahun
2013 masing-masing sebesar 243.331.748 USD dan 389.838.216 USD. Peningkatan aset operasi bersih jangka
panjang dari tahun 2012 ke tahun 2013 masing-masing sebesar 1.706.179.624 USD dan 1.963.048.718 USD.

Perputaran Piutang Usaha (Account Receivable Turnover)
Perputaran piutang usaha 2013 = penjualan / rata-rata piutang usaha
=

= 27,58
Perputaran piutang usaha 2012 =

= 22,77
Receivable turnover menggambarkan berapa kali dalam setahun perusahaan dapat menagih piutang-piutang
yang dimiliki.

Rata-rata pengumpulan piutang 2013 =

= 13 hari
Rata-rata pengumpulan piutang 2012 =

= 16 hari
Days of receivable menggambarkan jumlah rata-rata hari yang diperlukan customer untuk melakukan
pembayaran.


Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)

Perputaran persediaan 2013 = harga pokok penjualan / saldo persediaan rata-rata
=

= 42
Perputaran persediaan 2012 =

= 38
Inventory turnover memberikan informasi mengenai tingkat perputaran persediaan di perusahaan dalam setahun.

Days of inventory 2013 =

= 8 hari
Days of inventory 2012 =

= 9 hari
Days of inventory menunjukkan periode pemrosesan penjualan persediaan perusahaan. Periode yang terlalu
tinggi dapat berarti bahwa terlalu banyak modal perusahaan yang terikat di dalam persediaan dan bisa
menyebabkan barang-barang persediaan mengalami penurunan nilai harganya. Sedangkan periode yang terlalu
rendah juga bisa mengindikasikan bahwa perusahaan kekurangan dalam persediaan sehingga bisa berefek ke
penurunan penjualan.


Perputaran Aset Operasi Jangka Panjang ( Long Term Operating Asset Turnover)

Investasi modal merupakan sumber daya yang terbatas, jadi setiap dolar yang diinvestasikan dalam aset operasi
jangka panjang akan berarti berkurangnya satu dolar yang dapat diinvestasikan dalam aset yang dapat
menghasilkan laba lebih cepat.

Perputaran aset operasi jangka panjang 2013 = penjualan / saldo aset operasi jangka panjang rata-rata
=

= 2.02
Perputaran aset operasi jangka panjang 2012 =

= 2.38


Perputaran Utang Usaha (Accounts Payable Turnover)

Perputaran utang usaha 2013 = harga pokok penjualan / saldo utang usaha rata-rata
=

= 19.69
Perputaran utang usaha 2012 =

= 22.82
Accounts payable turnover merupakan tingkat perputaran utang usaha yang dibayar oleh perusahaan dalam
kurun waktu setahun.

Days of account payable 2013 =

= 18 hari
Days of account payable 2012 =

= 16 hari
Days of payable merupakan rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk membayarkan utang
usahanya.


Perputaran Modal Kerja Operasi Bersih

Modal kerja operasi bersih sama dengan aset operasi lancar dikurangi kewajiban operasi lancar. Perputaran
modal kerja operasi yang lebih tinggi mencerminkan investasi dalam modal kerja yang lebih kecil untuk setiap
dolar penjualan. Modal kerja operasi bersih berputar lebih cepat jika piutang dan persediaan juga berputar lebih
cepat.
Perputaran modal kerja operasi bersih 2013 = penjualan bersih / saldo modal kerja operasi bersih rata-rata
=

= 11.73
Perputaran modal kerja operasi bersih 2012 =

= 10.23
Analyzing Return On Common Equity
Fungsi dari ROCE Analysis adalah untuk menganalisis kesuksesan financial leverage perusahaan. Pengguna yang
mendapatkan manfaat dari analisis ini mencakup kreditor, preferred shareholders, dan common shareholders.
Disaggregating the Return on Common Equity
Kita mendisagregasikan ROCE menjadi 2 komponen, yakni:
1. Operating component;RNOA (Return on Net Operating Assets)
2. Nonoperating components;LEV (degree of financial leverage) dan Spread RNOA-NFR dimana NFR
adalah net financial return.
Pertama kita tentukan akun-akun yang termasuk ke dalam NOA:
2013 2012
Kas dan setara kas 475260630 325784942
Piutang usaha 139981363 129471098
Piutang lain-lain 8745081 7877613
Persediaan-bersih 90328457 83443877
Uang muka dan biaya dibayar di muka 89243446 84809542
Pajak dibayar di muka 15574946 5179146
Dana perawatan pesawat dan uang
jaminan
617623057 461933812
Uang muka pembelian pesawat 500366436 497157419
Aset pajak tangguhan 26209085 11462857
Aset tetap-bersih 863098897 798079135
Aset tak berwujud-bersih 6822881 7217106
Beban tangguhan-bersih 7219535 1319027
Aset lain-lain-bersih 73830432 68831805
Utang usaha (206186276) (173469631)
Utang lain-lain (16271886) (16669543)
Utang pajak (17037776) (20407652)
Beban akrual (160967081) (169268165)
Pendapatan diterima di muka (169265396) (162270578)
Uang muka diterima (20534373) (20417066)
Liabilitas pajak tangguhan (16987753) (15019898)
Liabilitas imbalan kerja (128743051) (152987113)
Liabilitas tidak lancar lainnya (25871507) (7244913)
TOTAL (2152439147) (1744812820)

Kemudian kita hitung/cari NFO, ETR, dan NOPAT
2013 2012
NOA 2152439147 1744812820
Equity 1117148117 1114960078
NFO (NOA-Equity) 1035291030 629852742
Effective Tax Rate (tax/taxable inc) 27,05 % 26,85%
NOPAT (56448275x(1-0,2705)) 41179016 (not applicable)

Kemudian kita cari RNOA, LEV, NFR, Spread, dan ROCE nya dengan rumus:

2013
RNOA 2,10 %
LEV 0,75 %
NFR 3,60 %
Spread -1,50 %
ROCE 1,00 %

NOA memberikan return sebanyak 2,10 % dari nilainya. LEV sebesar 0,75 % menandakan bahwa pembiayaan
dilakukan lebih banyak melalui stockholders equity dibandingkan dari net financial obligations. Sementara itu,
return dari aktivitas nonoperasi sebanyak 3,60 % dicerminkan melalui NFR. Return dari aktivitas nonoperasi >
return dari net operating assets. Spread bernilai -1,50 % . menurut Subramanyam financial leverage increases
ROE so long as the spread is positive. Artinya pada Garuda kondisi yang ada adalah sebaliknya. Walaupun
begitu, ROCE tetap bernilai positif, yakni 1,00 %.
Assessing Growth in Common Equity
Equity Growth Rate




Didapat angka berikut (berdasarkan Laporan Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk tahun 2013)
Net income 2013 11.200.380
Preferres dividends 2013 0
Common dividends 2013 0
Ekuitas akhir 2012 1.114.960.078
Ekuitas akhir 2013 1.117.148.117

Maka equity growth rate nya adalah 1,00 %. Artinya Garuda mampu tumbuh sebesar 1% tiap tahun tanpa
menambah aktivitas financingnya (asumsi bahwa profitability dan jumlah common stock dividends konstan).
Sustainable Equity Growth Rate

Didapat data berikut:
ROCE 1,00 %
Payout Rate 0,00 %

Maka sustainable equity growth rate Garuda sama dengan ROCE-nya yakni 1,00 %.
ANALISIS ARUS KAS
Analisis
Pada tanggal 31 Desember 2013, kas dan setara kas tercatat sebesar USD 475 juta, meningkat sebesar 45,9%
dibandingkan posisi pada 31 Desember 2012 yang tercatat sebesar USD 326 juta.

1. Aktivitas Operasional
Arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai USD 139 juta di tahun 2013 mengalami penurunan
sebesar 61,9% dibandingkan dengan USD 365 juta di tahun 2012, terutama berasal dari pengeluaran kas kepada
pemasok dan karyawan yang meningkat sebesar 24,7% dari USD 2.911 juta di tahun 2012 menjadi USD 3.630 juta
di tahun 2013.
2. Aktivitas Investasi
Arus kas yang digunakan untuk kegiatan investasi mencapai USD 383 juta di tahun 2013, mengalami penurunan
dibandingkan dengan USD 524 juta di tahun 2012. Hal ini terutama disebabkan oleh penerimaan pengembalian
uang muka pembelian atas pesawat yang delivery tahun 2013 meningkat sebesar 442,5% dari USD 73 juta di
tahun 2012 menjadi USD 399 juta di tahun 2013.
3. Aktivitas Pendanaan
Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan meningkat sebesar 472,9% dari USD 75 juta di tahun 2012
menjadi USD 432 juta di tahun 2013, terutama berasal dari pinjaman jangka panjang sebesar USD 813 juta,
dimana sebesar USD 431 juta dari pinjaman jangka panjang, sebesar USD 182 juta penerimaan uang bank dan
lembaga keuangan serta penerimaan obligasi sebesar USD 200 juta. Pada tahun 2013 perusahaan membayar
pinjaman jangka panjang dan utang bank dan lembaga keuangan masing-masing sebesar USD 228 juta dan USD
142 juta.















Laporan Arus Kas Konsolidasian


Laporan arus kas konsolidasian disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus
kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Analisis Implikasi Arus Kas

Keterbatasan Pelaporan Arus Kas
Tidak diharuskannya pengungkapan terpisah untuk arus kas yang terkait dengan pos luar biasa atau
operasi yang dihentikan.
Tahun 2013 tidak terdapat pos luar biasa di Garuda Indonesia sehingga tidak dapat dilihat bagaimana
perlakuan perusahaan atas pengungkapan untuk arus kas bila terdapat pos luar biasa.

Bunga dan dividen yang diterima serta bunga yang dibayarkan dikelompokkan sebagai arus kas operasi.
Banyak pengguna laporan menanggap bunga yang dibayar sebagai arus kas keluar pendanaan, serta
bunga dan dividen yang diterima sebagai arus kas masuk investasi.

Garuda Indonesia mengelompokkan bunga yang dibayarkan sebagai arus kas operasi.


Garuda Indonesia mengelompokkan bunga dan dividen yang diterima sebagai arus kas investasi.

Pajak dikelompokkan sebagai arus kas operasi.


Pemindahan laba atau rugi penjualan aset tetap atau investasi sebelum pajak dari aktivitas operasi
mendistorsi analisis atas aktivitas operasi dan aktivitas investasi. Hal ini disebabkan pajak yang terkait
tidak dipindahkan, melainkan tertinggal dalam total beban pajak dalam aktivitas operasi.


Interpretasi Arus Kas dan Laba Bersih
Fungsi laporan laba rugi adalah mengukur profitabilitas perusahaan untuk suatu periode. Laporan laba
rugi mencatat pendapatan saat dihasilkan dan beban saat terjadi. Namun, laporan laba rugi tidak menunjukkan
waktu arus kas masuk dan arus kas keluar maupun dampak operasi terhadap likuiditas dan solvabilitas. Informasi
ini tersedia dalam laporan arus kas yang menyajikan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan secara terpisah.
Arus kas dari operasi merupakan pandangan yang lebih luas atas aktivitas operasi dibandingkan dengan laba
bersih. Arus kas dari operasi meliputi seluruh aktivitas perusahaan yang terkait dengan laba.
Arus kas dari operasi sering dikaitkan dengan laba bersih untuk menilai kualitasnya. Beberapa pengguna
laporan menganggap bahwa angka rasio kas dari operasi dibagi dengan laba bersih yang lebih besar akan
menunjukan kualitas laba yang lebih baik.


PT Garuda Indonesia
Perbandingan antara pelaporan akrual dengan kas

Laporan laba rugi Arus kas operasi
Pendapatan usaha 3.716.076.586 3.828.013.062 Penerimaan kas dari pelanggan
Pendapatan lain-lain 50.121.919
3.766.198.505 3.828.013.062 Total penerimaan kas
Beban usaha (3.709.750.230) (3.204.353.979)


(425.242.885)
Pengeluaran kas kepada pemasok
Pengeluaran kas kepada karyawan
(35.040.542) Pembayaran beban
Laba usaha 56.448.275 163.375.656 Kas dari operasi

Tabel tersebut menggambarkan perbandingan dari laporan laba rugi dan laporan arus kas operasi
Garuda Indonesia. Pada laporan laba rugi terdapat pendapatan usaha yang serupa dengan penerimaan kas dari
pelanggan pada laporan arus kas aktivitas operasi. Dan pada laporan laba rugi terdapat pendapatan lain-lain.
Beban usaha menggambarkan seluruh biaya yang diperlukan perusahaan untuk melakukan penjualan kepada
customer. Untuk di laporan arus kas operasi yaitu pengeluaran kas kepada pemasok. Selain itu di laporan arus kas
investasi terdapat juga pengeluaran kas kepada karyawan dan pembayaran beban.
Di tahun 2013, nilai kas dari operasi Garuda lebih besar daripada labanya dikarenakan terjadinya
peningkatan beban usaha dan juga pengeluaran kas kepada pemasok terkait adanya ekspansi usaha yang
dilakukan perusahaan.
ANALISIS ARUS KAS



Pada tanggal 31 Desember 2013, kas dan setara kas tercatat sebesar USD 475 juta, meningkat sebesar 45,9%
dibandingkan posisi pada 31 Desember 2012 yang tercatat sebesar USD 326 juta.
1. Aktivitas Operasional
Arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai USD 139 juta di tahun 2013 mengalami penurunan
sebesar 61,9% dibandingkan dengan USD 365 jutadi tahun 2012, terutama berasal dari pengeluaran kas kepada
pemasok dan karyawan yang meningkat sebesar 24,7% dari USD 2.911 juta di tahun 2012 menjadi USD 3.630 juta
di tahun 2013.
2. Aktivitas Investasi
Arus kas yang digunakan untuk kegiatan investasi mencapai USD 383 juta di tahun 2013, mengalami penurunan
dibandingkan dengan USD 524 juta di tahun 2012. Hal ini terutama disebabkan oleh penerimaan pengembalian
uang muka pembelian atas pesawat yang delivery tahun 2013 meningkat sebesar 442,5% dari USD 73 juta di
tahun 2012 menjadi USD 399 juta di tahun 2013.
3. Aktivitas Pendanaan
Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan meningkat sebesar 472,9% dari USD 75 juta di tahun 2012
menjadi USD 432 juta di tahun 2013, terutama berasal dari pinjaman jangka panjang sebesar USD 813 juta,
dimana sebesar USD 431 juta dari pinjaman jangka panjang, sebesar USD 182 juta penerimaan uang bank dan
lembaga keuangan serta penerimaan obligasi sebesar USD 200 juta. Pada tahun 2013 perusahaan membayar
pinjaman jangka panjang dan utang bank dan lembaga keuangan masing-masing sebesar USD 228 juta dan USD
142 juta.

Rasio Arus Kas Khusus

Cash Flow Adequacy Ratio
Adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan uang yang cukup dari kegiatan
operasi untuk menutupi biaya pengeluaran modal, investasi pada persediaan, dan dividen kas. Rumusnya adalah:



Pada PT Garuda Indonesia Tbk, untuk tahun 2011, 2012, dan 2013 (dalam USD):



Maka cashflow adequacy ratio-nya adalah 2,34. Angka lebih dari 1 menunjukkan bahwa PT Garuda memiliki uang
yang cukup dari aktivitas operasi untuk mendanai pengeluaran modal, membeli persediaan, dan membayar
dividen kas.
Cash reinvestment ratio
Adalah rasio yang mengukur persentase investasi pada aset yang merepresentasikan kas dari aktivitas operasi
yang ditahan kemudian diinvestasikan kembali baik untuk mengganti aset maupun pertumbuhan operasi.
Rumusnya adalah sebagai berikut:



Pada PT Garuda Indonesia, untuk tahun 2011, 2012, dan 2013:
2011 2012 2013
Operating cashflow

Dividend 0 0 0
Gross plant 1.513.189.001 1.746.325.321 1.889.932.397
Investment (pada
entitas asosiasi dan
properti)
33.740.268 35.430.387 39.480.706
Other assets-net 67.953.994 68.831.805 73.830.432
Working capital 111.432.166 (117.640.834) (164.756.844)
Cash reinvestment ratio 14,1 % 21,04 % 7,56 %

Menurut Subramanyam, area 7 % - 11 % tergolong memuaskan. Dapat dilihat bahwa PT Garuda memuaskan
pada tahun 2013.
ANALISIS PROSPEKTIF
Perhitungan Analisis Prospektif terlampir dalam file excel
The Forecast of Statement of Financial Position

Perhitungan Awal















Forecast


























































Rasio
Perhitungan Awal


Forecast



The Forecast of Net Income

Perhitungan Awal



Forecast



















The Forecast of Cash Flows

Perhitungan Awal


Forecast

Trends in Value Drivers

Pada bagian ini, akan dipaparkan tren nilai perusahaan berdasarkan 3 pemicunya, yaitu Return on
Equity, Net Profit Margin, dan Total Asset Turnover. Pertama-tama, kami menghitung berdasarkan data
historis, yakni dari tahun 2011-2103. Setelah itu, kami melakukan proyeksi linear untuk sepuluh tahun ke
depan menggunakan fungsi FORECAST pada Microsoft Excel dengan asumsi bahwa growth stabil atau
tidak terlalu ekstrim perubahan per tahun nya.
Data berikut diambil dari Laporan Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (dalam USD):
2011 2012 2013
Net income 64.225.536 110.842.573 11.200.380
Shareholders Equity 967.761.161 1.114.960.078 1.117.148.117
ROE 6,63% 9,94% 1%

Net income 64.225.536 110.842.573 11.200.380
Sales Revenue 3.096.328.405 3.472.468.962 3.716.076.586
Net Profit Margin 2,07% 3,19% 0,30%
Net Sales 3.096.328.405 3.472.468.962 3.716.076.586
Average Total
Assets
1.874.783.770 2.322.983.980 2.735.891.359
Total Assets
Turnover
1,65 1,49 1,35



10%
1%
0%
-3%
-5%
-8%
-11%
-14%
-17%
-20%
-15%
-10%
-5%
0%
5%
10%
15%
1 2 3 4 5 6 7 8 9
ROE (%)
ROE (%)
2.1%
3.2%
0.3%
0.1%
-0.8%
-1.7%
-2.6%
-3.5%
-4.3%
-5.2%
-6.0%
-5.0%
-4.0%
-3.0%
-2.0%
-1.0%
0.0%
1.0%
2.0%
3.0%
4.0%
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
NPM (%)
NPM (%)

















1.65
1.49
1.36
1.21
1.07
0.92
0.78
0.63
0.49
0.34
0.00
0.20
0.40
0.60
0.80
1.00
1.20
1.40
1.60
1.80
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
TAT
TAT

ANALISIS DAN PENILAIAN EKUITAS
FCF Equity
Operating Revenue 3716076586
Taxes 929019146.5
Net Investment 390325455
Change in Working Capital -164756844
FCF 2013 2561488829



Free Cash Flow untuk tahun 2013 didapatkan dari (operating revenue-taxes-net investment-change in
working capital), diasumsikan tax rate sebesar 25% sehingga didapatkan free cash flow untuk tahun
2013 adalah USD2.561.488.829.
Adapun perhitungan cash flow selama 5 tahun ke depan diasumsikan growth rate sebesar 3% yang
didapatkan dari hasil sebelumnya, sehingga akan didapatkan free cash flow untuk 5 tahun ke depan,
seperti yang ditunjukkan pada table.
PT Garuda Indonesia Tbk's P/E Ratio
2011 2012 2013 2014 *F
Net earnings (USD) 64.225.536 110.842.573 11.200.380 10.188.448
Outstanding shares 22.640.996.000 22.640.996.000 22.640.996.000 22.640.996.000
Earnings per Share
(USD)
0,0029 0,00488 0,00049 0,00045

(in Rp) 2011 2012 2013 2014 * F
Share Price 475 660 500 452
Earnings per Share 33,4 56,21 5,64 5,2
P/E Ratio 14,22155689 11,74168297 88,65248227 86,9
Kesimpulan:
Price to Earning ratio pada PT. Garuda Indonesia mengalami fluktuasi, dimana mengalami penurunan
dari tahun 2011 ke tahun 2012, kemudian mengalami peningkatan ke tahun 2013 dan mengalami
penurunan kembali di tahun 2014. Terjadi peningkatan P/E ratio yang signifikan dari tahun 2012 ke
tahun 2013 dikarenakan laba yang didapat perusahaan mengalami penurunan yang signifikan sehingga
laba per saham di tahun 2013 mengalami penurunan juga. Penurunan laba karena adanya peningkatan
beban usaha selama tahun 2013 terkait dengan dilakukannya ekspansi usaha Garuda Indonesia.

PT Garuda Indonesia Tbk's P/B ratio
2011 2012 2013 2014 *F
Total equity (USD) 922.797.776 1.114.960.078 1.117.148.117 1.527.737.612
Outstanding shares 22.640.996.000 22.640.996.000 22.640.996.000 22.640.996.000
Book value per shares
(USD)
0,0407 0,0492 0,0493 0,0674
(in Rp) 2011 2012 2013 2014 * F
Share price 475 660 500 460
Book value per share 468,78 566,68 567,84 776,31
P/B Ratio 1,013268484 1,164678478 0,8805297267 0,5925467919
Kesimpulan :
Meningkatnya rasio price to book value, artinya nilai saham pada PT. Garuda Indonesia meningkat dari
tahun 2011 ke tahun 2012. Namun terjadi penurunan nilai saham dari tahun 2012 hingga ke tahun 2014
(bulan Mei).
Earning Power and Forecasting for Valuation
Earning power mengacu pada tingkat pendapatan sebuah perusahaan yang diperkirakan berlangsung di
masa depan terprediksi. Dalam mengukur earning power, diperlukan data berupa EPS (Earning per
Share) historis perusahaan. Kemudian, dibutuhkan asumsi sebagai berikut: bahwa seluruh informasi yang
ada pada Laporan Keuangan disajikan dengan wajar dan benar-benar mencerminkan keadaan dan
performa finansial perusahaan.
Metode yang digunakan dalam mengukur earning power adalah menggunakan pendekatan rumus
SLOPE dan INTERCEPT serta POWER pada Microsoft Excel. Terdapat dua pendekatan dalam menghitung
EPS masa depan yakni pendekatan linear dan pendekatan log. Pendekatan linear dilakukan untuk
mengukur tingkat pesimis pertumbuhan EPS dan pendekatan log dilakukan untuk mengukur tingkat
optimis pertumbuhan EPS. Cakupan dalam melakukan earnings power PT Garuda Indonesia Tbk adalah
sebagai berikut:
1. Data historis yang disajikan berasal dari Laporan Keuangan Diaudit Tahun 2010-2013.
2. Tahun yang diprediksi adalah tahun 2014-2020.
Berikut merupakan data historis EPS:
Tahun EPS (USD)
2010 0,0031
2011 0,0029
2012 0,00488
2013 0,00049
Rumus yang dipergunakan untuk EPS 2014-2020 adalah sebagai berikut:

m adalah slope dan b adalah y-int. Untuk tahun 2010, EPS menggunakan kurs BI 31 Desember 2010
yakni Rp 8.991/USD.
Kemudian kita menghitung m dan b untuk kedua pendekatan, linear dan log. m dihitung dengan fungsi
SLOPE dan b dihitung dengan fungsi INTERCEPT.
linear log
Slope -0.00059 -0.21775

y-int 1.17957 435.3322
Berikut merupakan prediksi setelah menggunakan rumus diatas. Fungsi POWER digunakan pada kolom
EPS log untuk mengambalikan nilai linear dari nilai LOG(EPS).
tahun EPS linear EPS log
2014 0.00138 0.0006148
2015 0.000795 0.0003724
2016 0.00021 0.0002255
2017 -0.00038 0.0001366
2018 -0.00096 0.0000827
2019 -0.00155 0.0000501
2020 -0.00213 0.0000304
Berikut merupakan chart untuk prediksi EPS:

Interpretasi: diagram di atas menunjukkan tren EPS yang menurun.









0.0006148
0.0003724
0.0002255
0.0001366
0.0000827
0.0000501
0.0000304 0.0000000
0.0001000
0.0002000
0.0003000
0.0004000
0.0005000
0.0006000
0.0007000
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
EPS 2014-2020 (USD)

ANALISIS KREDIT
LIKUIDITAS DAN MODAL KERJA
Ukuran Likuiditas Modal Kerja
Modal kerja adalah kemampuan perusahaan untuk mengembangkan kegiatannya dalam jangka pendek.
Ketika aset lancar lebih besar dari kewajiban lancar, maka modal kerja bernilai positif yang artinya
perusahaan memiliki uang tunai lebih dari utang jatuh tempo dalam jangka pendek. Sedangkan modal
kerja negatif mencerminkan ketidakseimbangan, yang belum tentu bahwa perusahaan itu bangkrut.
Tetapi menyiratkan kebutuhan untuk meningkatkan aset lancar. Hal ini dapat dilakukan melalui
penjualan bagian dari aktiva tetap atau aktiva lancar yang tersedia atau pembesaran modal atau
memperoleh utang jangka panjang.
2011 2012 2013
Aset Lancar 757.266.770 636.566.218 819.133.923
Kewajiban Lancar 645.834.604 754.207.052 983.890.767
Modal Kerja 111.432.166 - 117.640.834 - 164.756.844

Ukuran Likuiditas dengan Rasio Lancar
Rasio lancar (current ratio) =



2011 =

= 1,173
2012 =

= 0,844
2013 =

= 0,833
Relevansi Rasio Lancar
Kemampuan memenuhi kewajiban lancar : Makin tinggi aset lancar terhadap kewajiban lancar,
makin besar keyakinan bahwa kewajiban lancar dapat dibayar.
2011 = Terlihat dalam perhitungan bahwa aset lancar lebih besar daripada kewajiban lancar,
yakni sebesar 1,173; artinya 1 kewajiban lancar mampu dibayarkan dengan 1,173 aset
lancar.
2012 = Terlihat dalam perhitungan bahwa aset lancar lebih kecil daripada kewajiban
lancar, yakni sebesar 0,844; artinya 1 kewajiban lancar hanya mampu dibayarkan
dengan 0,844 aset lancar.
2013 = Terlihat dalam perhitungan bahwa aset lancar lebih kecil daripada kewajiban lancar,
yakni sebesar 0,833; artinya 1 kewajiban lancar hanya mampu dibayarkan dengan
0,833 aset lancar.
Kesimpulannya : rasio lancar tahun 2011 adalah sangat likuid, sedangkan 2012 dan 2013
likuiditasnya tidak likuid karena tidak mampu membayar hutang jangka pendeknya.
Penyangga kerugian : Makin besar penyangga, makin kecil risikonya. Rasio lancar menunjukkan
tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup penurunan nilai aset lancar non-kas pada saat
aset tersebut dilepas atau dilikuidasi.

Cadangan dana lancar : Rasio lancar dijadikan ukuran tingkat keamanan terhadap
ketidakpastian dan kejutan atas arus kas perusahaan.
Pembilang Rasio Lancar

Kas dan Setara Kas

Kas dan Setara kas pada PT Garuda Indonesia tahun 2013 mengalami peningkatan dibanding tahun
2012 karena pada tahun 2013 sudah ada rekening baru pada Bank Syariah Mandiri dan Bank Rakyat
Indonesia Syariah.

Piutang Usaha



Jangka waktu rata-rata kredit penjualan adalah 30 - 60 hari untuk tahun yang berakhir 31 Desember
2013 dan 2012. Bunga tidak dikenakan kepada pelanggan yang umur piutang usaha telah jatuh tempo.
Persediaan


Hubungan persediaan dengan penjualan menekankan pengamatan bahwa penjualan memulai proses
konversi persediaan menjadi kas. Rasio lancar tidak mengakui tingkat penjalan atau margin laba, tetapi
keduanya merupakan penentu penting atas arus kas masuk masa depan.
Ukuran Likuiditas dengan Rasio Berbasis Kas
Rasio Kas Terhadap Aset Lancar
Rasio ini menunjukkan porsi jumlah kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Makin tinggi rasio ini,
makin likuid aset lancar.
Kas + Setara kas + Efek yang dapat diperjualbelikan
Aktiva lancar



Rasio Kas Terhadap Kewajiban Lancar
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus
segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih liquid.

Kas + setara kas + efek yang dapat diperjualbelikan
Kewajiban lancar


ANALISIS LIKUIDITAS BERDASARKAN AKTIVITAS OPERASI
Ukuran Likuiditas Piutang Usaha
Perputaran Piutang Usaha



Rasio perputaran piutang adalah sebesar 27.5, hal ini menunjukkan piutang yang diterima dan ditagih
sepanjang tahun di PT. Garuda Indonesia adalah sebanyak 27.5 kali.
Jumlah Hari untuk Menagih Piutang


Interprestasi Ukuran Likuiditas Piutang
Jangka waktu rata-rata piutang usaha adalah 30-60 hari, periode penagihan rata-rata selama 14 hari
mencerminkan kondisi berikut ini:
Upaya penagihan yang baik
Tidak ada penundaan pembayaran dari pelanggan
Pelanggan tidak dalam kesulitan keuangan

UKURAN LIKUIDITAS LAINNYA
Rasio Cepat
Rasio cepat mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang dengan segera dengan
menggunakan aktiva cepat yang dimilikinya. Aktiva cepat adalah aktiva yang dapat dengan cepat
dikonversi menjadi kas. Biasanya, sebuah perusahaan sebaiknya memiliki rasio cepat lebih dari 1. Rasio
yang kurang dari 1 mengindikasikan bahwa kewajiban lancar tidak mampu ditutupi oleh kas dan aktiva-
aktiva lancar lainnya.
Kas + setara kas + efek yang dapat diperjualbelikan + piutang usaha
Kewajiban lancar



Rasio Arus Kas
Rasio yang membandingkan arus kas operasi terhadap kewajiban lancar.

Arus kas operasi
Kewajiban lancar



Pada perhitungan di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2012, PT Garuda Indonesia mampu
menyediakan arus kas dari aktivitas operasi sebesar 48% untuk menutupi kewajiban lancar. Sementara
pada tahun 2013, perusahaan ini mampu menyediakan arus kas dari aktivitas operasi sebesar 14% untuk
menutupi kewajiban lancar.
Struktur Modal dan Solvabilitas
Komposisi Struktur Modal dan Solvabilitas

983,890,767
852,746,068
4,548,037
1,146,031,889
Analisis Common Size atas Struktur Modal
PT. Garuda Indonesia Tbk
Utang jangka pendek
Utang jangka panjang
Tambahan modal disetor
Modal saham

Ukuran Struktur Modal untuk Analisis Solvabilitas
Total Utang terhadap Total Modal
Total Utang = USD 1.836.636.835 = 62,18%
Total Modal USD 2.953.784.952
Dapat dikatakan, bahwa struktur modal PT. Nippon Indosari Corpindo 62% terdiri dari utang.
Total Utang terhadap Modal Ekuitas
Total utang = USD 1.836.636.835 = 1,644
Total Equity USD 1.117.148.117
Rasio ini menunjukkan bahwa total utang PT. Nippon Indosari corpindo adalah 1,644 dari total
equity.

Utang Jangka Panjang terhadap Modal Equitas
Utang Jangka Panjang = USD 852.746.068 = 76,33%
Total Equity USD 1.117.148.117

Rasio nya yaitu 63,33% menunjukkan pendanaan utang jangka panjang lebih kecil dari modal
ekuitas.

Utang Jangka Pendek terhadap Total Utang
Utang Jangka Pendek = USD 983.890.767 = 53,57%
Total Utang USD 1.836.636.835
Rasio ini menunjukkan bahwa PT. Nippon mengalami kekurangan kebutuhan kas jangka
pendek hanya sebesar 53,57%, atau ketergantungan PT. Nippon terhadap pendanaan jangka
pendek sebesar 53,57%.
Interprestasi Ukuran Struktur Modal
Analisis ini pada umumnya untuk mengukut risiko struktur modal perusahaan. Dapat dilihat, dari
pendanaan PT. Nippon, 62,18% nya berasal dari utang, sementara sisanya dari ekuitas.
Dapat dilihat lagi, bahwa rasio utang terhadap modal ekuitas PT. Nippon relative besar yaitu 1,644,
artinya utang PT. Nippon ini merupakan bagian penting dari kapitalisasi.
Analisis likuiditas jangka pendek PT. Nippon menyatakan bahwa ketergantungan perusahaan ini
terhadap pendanaan jangka pendek sebesar 53,57%.
Ukuran Solvabilitas Berdasarkan Aset
Komposisi dalam Analisis Solvabilitas


Dari diagram diatas dapat disimpulkan bahwa distribusi aset pada PT. Garuda Indonesia Tbk. Dengan
menilai distirbusi aset dan struktur modal terkait, terlihat bahwa proporsi aset tertinggi adalah aset tetap
( bagian dari aset jangka panjang).
Cakupan Laba
Hubungan antara laba dengan beban tetap merupakan bagian dari analisis cakupan laba. Ukuran
cakupan laba berfokus pada hubungan antara beban tetap yang terkait utang dengan ketersediaan laba
perusahaan untuk melunasi beban ini. Ukuran rasio laba terhadap beban tetap umumnya adalah:



Sementara itu, hubungan Arus Kas dengan Beban Tetap dirumuskan sebagai berikut:



Yang dimaksud dengan penyesuaian di sini adalah beban bunga, amortisasi diskonto, dan net income
attributable to NCI. Laba yang tersedia untuk memenuhi beban tetap untuk PT Garuda Indonesia Tbk
menurut kami adalah laba yang dihasilkan dari aktivitas operasi perusahaan (kurs BI PADA 31 Des 2010
adalah 8.991):
2011 2012 2013
Cashflow from
operation
244.265.953 364.685.555 139.025.923
Income before tax 96.933.268 151.530.554 8.815.603
Beban bunga 19.801.370 25.224.919 59.840.088
Amortisasi diskonto 2.314.260 2.428.958 3.483.000
Net income
attributable to NCI
357.806 244.203 161.537
Laba yang tersedia
untuk memenuhi
beban tetap
119.406.704 179.428.634 72.300.228
Sementara itu untuk beban tetap, pos-pos yang terlibat dihitung dari kas keluar aktivitas pendanaan
sebagai perkiraan jumlah beban tahun berjalan:
2011 2012 2013
Pembayaran biaya 18.491.510 6.559.941 6.677.864
475,260,630
148,726,444
90,328,457
89,243,446
617,623,057
500,366,436
863,098,897
Analisis Common Size Komposisi Aset
PT. Garuda Indonesia Tbk
Kas
Piutang
Persediaan
Uang muka dan biaya dibayar di
muka
Dana perawatan pesawat dan
uang jaminan
Uang muka pembelian pesawat
Aset tetap

pengembalian pesawat
Pembayaran pinjaman
jangka panjang
95.327.587 124.540.535 228.479.260
Pembayaran utang
bank dan lembaga
keuangan
54.111.386 37.336.500 142.398.200
Pembayaran untuk
aktivitas pendanaan
lainnya
0 1.191.279 1.776.784
total 167.930.483 169.628.255 379.332.108
Untuk cakupan laba atas dividen saham preferen, rumusnya adalah sebagai berikut:

(


)

Akan tetapi, untuk PT Garuda Indonesia Tbk, dikarenakan tidak terdapat saham preferen, maka earnings
coverage of preferred dividends ratio sama dengan earnings to fixed charges ratio.
Maka rasionya adalah sebagai berikut:
2011 2012 2013
earnings to fixed
charges
0.71 1.06 0.19
earnings coverage
of preferred
dividends
0.71 1.06 0.19
Cashflow to fixed
charges
1.59 2.31 0.53
Diagramnya adalah sebagai berikut:

Untuk periode penagihan bunga, yang dipergunakan untuk penghitungannya adalah times interest
earned ratio. Laba + beban pajak + beban bunga disebut juga EBIT atau pada Laporan Keuangan PT
Garuda Tbk adalah income from operation. Beban bunga disebut finance cost.



1.59
2.31
0.53
0.71
1.06
0.19
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
2.50
2011 2012 2013
cashflow to fixed
charges
earnings to fixed
charges
earnings coverage of
preferred dividends

Maka diperoleh interest earned ratio sebesar:
2011 2012 2013
times interest earned
ratio
4.66 6.66 0.94



Interpretasi untuk ke semua rasio adalah sebagai berikut:
Kelipatan bunga
dihasilkan
Tingkat gagal
bayar
Imbal janji yang
dihasilkan
Imbal hasil yang
direalisasikan
Tingkat kerugian
>3 2.1% 4% 4.9% -0.9%
2-2.9 4% 4.3% 5.1% -0.8%
1.5-1.9 17.9% 4.7% 5% -0.3%
1-1.4 34.1% 6.8% 6.4% 0.4%
<1 35% 6.2% 6% 0.2%



4.66
6.66
0.94
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
2011 2012 2013
times interest earned ratio
times interest earned
ratio