Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemampuan pelayanan kesehatan suatu Negara ditentukan dengan perbandingan tinggi
rendahnya angka kematian ibu dan kematian bayi. Untuk itu dalam menurunkan angka
kematian perinatal dibidang pelayanan keperawatan memerlukan perhatian yang serius,
karena pelayanan yang tidak adekuat pada bayi baru lahir dapat menyebabkan meningginya
angka kematian pada perinatal.
Angka kematian neonatus di Negara-negara berkembang merupakan masalah besar,
namun angka kematian yang cukup besar ini tidak dilaporkan serta dicatat secara resmi dalam
statistik kematian neonatus. Menurut survey demografidan kesehatan Indonesia tahun 2008
angka kematian perinatal adalah 35 per 1000 kelahiran hidup, itu artinya dalam satu tahun
sekitar 175.000 bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun.
(http://www.kapanlagi.com)
Ikhterus adalah perubahan warna kulit / sclera mata (normal beerwarna putih) menjadi
kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Ikhterus pada bayi yang baru lahir
dapat merupakan suatu hal yang fisiologis (normal), terdapat pada 25% 50% pada bayi
yang lahir cukup bulan. Tapi juga bisa merupakan hal yang patologis (tidak normal) misalnya
akibat berlawanannya Rhesus darah bayi dan ibunya, sepsis (infeksi berat), penyumbatan
saluran empedu, dan lain-lain. (Widya,1999).
Di Negara maju seperti Amerika Serikat terdapat sekitar 60% bayi menderita ikhterus
sejak lahir, lebih dari 50% bayi tersebut mengalami hiperbilirubin, sedangkan di RSCM
proporsi ikhterus neonatorum pada bayi cukup bulan sebesar 32,1% dan pada bayi kurang
bulan sebesar 42,9%. Bagi tenaga kesehatan hal ini tidak dapat dianggap sepele, karena
kejadian ikhterus pada neonatus dapat berakibat buruk bagi kelangsungan hidup neonatus
nantinya. (www.artikelkedokteranpediatrik.com)
Berdasarkan hal tersebut, kami mahasiswa D III Kebidanan tertarik untuk menganalisis
kasus, agar dapat melakukan asuhan kebidanan dengan benar yaitu dengan menegakkan
diagnosa secara tepat, sehingga dapat mengetahui penanganan yang cepat dan tepat dari
kasus tersebut.


2

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari ikhterus?
2. Bagaimana klasifikasi ikhterus?
3. Bagaimana etiologi dan faktor risiko ikhterus?
4. Bagaimana patofisiologi ikhterus?
5. Apa tanda-tanda dan gejala ikhterus?
6. Bagaimana penilaian secara klinis ikhterus?
7. Bagaimana komplikasi ikhterus?
8. Apa pemeriksaan yang dapat dilakukan pada ikhterus?
9. Bagaimana penatalaksanaan ikhterus?

1.3 Tujuan
A. Tujuan Umum
Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui Ikhterus pada
Bayi Baru Lahir
B. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini :
1. Menjelaskan definisi dari ikhterus
2. Menjelaskan klasifikasi ikhterus
3. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko ikhterus
4. Menjelaskan patofisiologi ikhterus
5. Menjelaskan tanda-tanda dan gejala ikhterus
6. Menjelaskan penilaian secara klinis ikhterus
7. Menjelaskan komplikasi ikhterus
8. Menjelaskan pemeriksaan yang dapat dilakukan pada ikhterus
9. Menjelaskan penatalaksanaan ikhterus





3

1.4 Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematika terdiri dari :
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Sistematika Penulisan
BAB II : TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Ikhterus Neonatorum
2.2 Konsep Menejemen Asuhan Kebidanan
BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA




















4

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Ikhterus Neonatorum
2.1.1 Pengertian Ikhterus
Ikhterus neonatorum adalah menguningnya sklera, kulit, atau jaringan lain akibat
penimbunan bilirubin dalam tubuh. Keadaan ini merupakan tanda penting penyakit hati atau
kelainan fungsi hati, saluran empedu dan penyakit darah. Bila kadar bilirubin darah melebihi
2 mg%, maka ikhterus akan terlihat. Namun pada neonatus ikhterus masih belum terlihat
meskipun kadar bilirubin darah sudah melampaui 5 mg%. ikhterus terjadi karena peninggian
kadar bilirubin indirect (unconjugated) dan kadar bilirubin direct (conjugated). Bilirubin
indirect akan mudah melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan berat badan lahir
rendah, hipoksia dan hipoglikemia (Markum H, 2005).
Ikhterus neonatorum adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa oleh
karena adanya bilirubin pada jaringan tersebut akibat peningkatan kadar bilirubin dalam
darah. Ikhterus neonatorum ialah suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi baru
lahir. Ikhterus neonatorum ialah suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi baru lahir yang
terbagi menjadi ikhterus fisiologi dan ikhterus patologi.
Ikhterus disebabkan hemolisis darah janin dan selanjutnya diganti menjadi darah dewasa.
Pada janin menjelang persalinan terdapat kombinasi antara darah janin dan darah dewasa
yang mampu menarik O
2
dari udara dan mengeluarkan CO
2
melalui paru-paru. Pengahncuran
darah janin inilah yang menyebabkan terjadi icterus yang sifatnya fisiologis. Sebagai
gambaran dapat dikemukakan bahwa kadar bilirubin indirek bayi cukup bulan sekitar 15 mg
% sedangkan bayi cukup bulan 10 mg %. Di atas angka tersebut dianggap hiperbilirubinemia,
yang dapat membedakan kernikhterus. (Manuaba, 2010)
Kernikhterus adalah suatu sindroma neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunan
bilirubin tak terkonyugasi dalam sel-sel otak. Bahaya yang timbul pada bayi yang menderita
penyakit eritroblastosis foetalis berhubungan langsung dengan kadar bilirubin serum.
Mungkin hal ini sama untuk bayi yang mengalami hiperbilirubinemia, apapun penyebabnya
(Nelson, 1988)



5

2.1.2 Macam-macam Ikhterus
Macam-macam ikhterus menurut Ngastiyah (2005) adalah sebagai berikut :
1. Ikhterus Fisiologi
Ikhterus Fisiologi adalah ikhterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga yang
mempunyai dasar patologik, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan, atau
mempunyai potensi menjadi kern-ikhterus dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada
bayi. Ikhterus ini biasanya menghilang pada akhir minggu pertama atau selambat-lambatnya
10 hari pertama.
Ikhterus dikatakan Fisiologis bila :
1. Timbul pada hari kedua sampai ketiga kelahiran.
2. Kadar bilirubin indirek sesudah 2 - 24 jam tidak melewati 12 mg % pada
neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada neonatus kurang bulan.
3. Kecepatan peninakatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari.
4. Ikhterus menghilang pada 10 hari pertama
5. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik (kern ikhterus)
6. Tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.

2. Ikhterus Patologik
Ikhterus Patologik adalah ikhterus yang mempunyai dasar patologik atau kadar
bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Dasar patologik ini
misalnya, jenis bilirubin, saat timbulnya dan menghilangnya ikhterus dan penyebabnya.
Menurut Ngastiyah (2005) Ikhterus dikatakan Patologis bila :
1. Ikhterus terjadi dalam 24 jam pertama
2. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5
mg% pada neonatus kurang bulan.
3. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.
4. Ikhterus menetap 10 mg % pada neonatus cukup bulan dan 14 mg % pada
neonatus kurang bulan.
5. Kadar bilirubin direct melebihi 1 mg%.
6. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.




6

2.1.3 Etiologi dan Faktor Resiko
1. Etiologi
Etiologi ikhterus pada neonatus dapat berdiri sendiri atau disebabkan oleh beberapa
faktor menurut (Ngastiyah, 2005) :
1) Produksi yang berlebihan
Golongan darah Ibu - bayi tidak sesuai
Hematoma, memar
Spheratisosis kongental
Enzim G
6
PD rendah
2) Gangguan konjugasi hepar
Enzim glukoronil tranferasi belum adekuat (prematur)
3) Gangguan transportasi
Albumin rendah
Ikatan kompetitif dengan albumin
Kemampuan mengikat albumin rendah
4) Gangguan ekresi
Obstruksi saluran empedu
Obstruksi usus
Obstruksi pre hepatik
2. Faktor Resiko Ikhterus
Peningkatan kadar bilirubin yang berlebih (ikhterus nonfisiologis) menurut Moeslichan
(2004) dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dibawah ini :
a) Faktor Maternal
1) Ras atau kelompok etnik tertentu.
2) Komplikasi dalam kehamilan (DM, inkontambilitas ABO, Rh)
3) Penggunakan oksitosin dalam larutan hipotonik.
4) ASI
5) Mengonsumsi jamu-jamuan
b) Faktor perinatal
1) Trauma lahir (chepalhematom, ekamosis)
2) Infeksi (bakteri, virus, protozoa)
c) Faktor Neonatus
1) Prematuritas
7

2) Faktor genetik
3) Obat (Streptomisin, kloramfenikol, benzylalkohol, sulfisoxazol)
4) Rendahnya asupan ASI (dalam sehari min. 8 kali sehari)
5) Hipoglikemia
6) Hiperbilirubinemia

Faktor yang berhubungan dengan ikhterus menurut Prawihardjo (2005) :
1. Usia Ibu
2. Tingkat pendidikan
3. Tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan bayi ikhterus
4. Riwayat kesehatan Ibu
5. Masa gestasi
6. Jenis persalinan
7. Inkomtabilitas Rhesus
8. Inkomtabilitas ABO
9. Berat badan lahir
10. Asfiksia
11. Prematur
12. APGAR score
13. Asupan ASI
14. Terpapar sinar matahari

2.1.4 Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang
sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang
terlalu berlebihan, hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit
polisitema, memendeknya umur eritrosit jalan/bayi. Meningkatnya bilirubin dari sumber lain,
atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik.
Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin
tubuh. Hal ini dapat terjadi bila kadar protein Y berkurang atau gangguan pada keadaan
protein Y dan protein Z terikat oleh anion lain dan pada gangguan konjugasi hepar (defisiensi
enzim glukoranil transperase) atau bayi yang menderita gangguan ekskresi. (Alimul Aziz,
2005)

8

2.1.5 Tanda dan Gejala
1. Tanda-Tanda
Tanda dan gejala yang timbul dari ikhterus menurut Surasmi (2003) yaitu :
a. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
b. Letargis (lemas)
c. Kejang
d. Tidak mau menghisap
e. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
f. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, episiototonus,
kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot
g. Perut membuncit
h. Pembesaran pada hati
i. Feses berwarna seperti dempul
j. Tampak ikhterus: sclera, kuku, kulit dan membrane mukosa.
k. Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap, warna tinja gelap.
2. Gejala
Gejala menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
a. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernicterus pada
neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
b. Gejala kronik : tangisan yang melenking (high pitch cry) meliputi hipertonus
dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis
serebral dengan atetosis, gangguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan
dysplasia dentalis).
Bila tersedia fasilitas, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
a. Pemeriksaan golongan darah ibu pada saat kehamilan dan bayi pada saat
kelahiran.
b. Bila ibu mempunyai golongan darah O dianjurkan untuk menyimpan darah tali
pusat pada setiap persalinan untuk pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan.
c. Kadar bilirubin serum total diperlukan bila ditemukan ikhterus pada 24 jam
pertama kelahiran.




9

2.1.5 Penilaian
Penilaian ikhterus secara klinis dengan menggunakan rumus KRAMER
(Sri agung Lestari, 2009) :
Derajat Luas Ikhterus Kadar bilirubin
(mg%)
1 Kepala dan leher 5
2 Daerah 1 dan badan bagian atas 9
3 Daerah 1,2 + badan bagian bawah
dan tungkai
11
4 Daerah 1,2,3 dan lengan dan kaki
di bawah dengkul
12
5 Daerah 1,2,3,4 + tangan dan kaki 16

2.1.6 Komplikasi (Kern Ikhterus)
Kernikhterus adalah suatu sindroma neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunan
bilirubin tak terkonyugasi dalam sel-sel otak. Bahaya yang timbul pada bayi yang menderita
penyakit eritroblastosis foetalis berhubungan langsung dengan kadar bilirubin serum.
Mungkin hal ini sama untuk bayi yang mengalami hiperbilirubinemia, apapun penyebabnya.
Kadar bilirubin indirek atau bilirubin bebas darah yang tepat, yang bila dilewati bersifat
toksik terhadap bayi, tidak dapat diramalkan (Nelson, 1988).
Tanda-tanda dan gejala-gejala kernikhterus biasanya mulai timbul 2-5 hari setelah
kelahiran bayi aterm dan sampai hari ke 7 pada bayi prematur, tetapi hiperbilirubinemia dapat
menimbulkan sindroma setiap saat selama periode neonatus dan sangat jarang selama masa
anak-anak lanjut. Tanda-tanda dini mungkin sangat ringan dan tidak dapat dibedakan dari
tanda-tanda akibat sepsis, asfiksia, hipoglikemia, perdarahan intracranial, dan penyakit
sistemik akut lain yang terdapat pada bayi neonatus. Letargi, nafsu makan buruk dan
hilangnya refleks moro merupakan tanda-tanda awal yang lazim ditemukan. Selanjutnya bayi
kelihatan sakit berat dan melemah badannya, disertai penurunan refleks tendon dan timbulnya
kesulitan pernapasan. Opistotonus, yang disertai dengan fontanela yang membonjol, kedutan
pada wajah dan anggota gerak dan tangisan yang melengking tinggi. Pada kasus yang lanjut
akan timbul kejang-kejang dan spasme, dengan bayi merentangkan lengan, disertai ekstensi
dan endorotasi lengandan tangan dikepalkan. Kekauan jarang ditemukan pada tingkat lanjut
ini (Nelson, 1988).
10

2.1.7 Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan bilirubin serum
Pada bayi yang cukup bulan billirubin mencapai puncak kira-kira 6 mg/dl, antara 2 dan 4
hari kehidupan. Apabila nilainya diatas 10 mg/dl, tidak fisiologis. Pada bayi dengan
premature kadar billirubin mencapai puncaknya 10-12 mg/dl antara 5-7 hari kehidupan.
Kadar bilirubin yang lebih dari 14 mg/dl adalah tidak fisiologis.
Dari brown AK dalam text books of pediatric 1996 : ikhterus fisiologis pada bayi cukup
bulan, bilirubin indirek munculnya ikhterus 2-3 hari dan hilang 4-5 hari dengan kadar
bilibirum yang mencapai puncak 10-12 mg/dl. Sedangkan pada bayi dengan premature,
bilirubin indirek muncul 3-4 hari dan hilang 7-9 hari dengan bilirubin mencapai puncak 15
mg/dl/ hari. Pada ikhterus patologis meningkatnya bilirubin lebih dari 5 mg/dl/hari dan kadar
bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl. Dari Maisetes 1994 dalam Whaley dan wong 1999 :
Meningkatnya kadar serum total lebih dari 12-13 mg/dl.
2. Golongan darah ibu dan bayi untuk mengetahui golongan darah ABo dan Tipe Rh
terhadap kemungkinan inkompabilitas (Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009)
3. Hitung darah lengkap
Hb mungkin rendah (<14gr/dl) karena hemolisis. (Buku Ajar Bidan-Diane Fraser,
2009)
4. Uji Coombs direk untuk mendeteksi adanya antibodi maternal pada SDM janin
(Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009)
5. Uji Coombs indirek untuk mendeteksi adanya antibodi maternal dalam serum
(Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009)
6. Ultrasound untuk mengevalusi anatomi cabang kantong empedu
(Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009)
7. Radioisotope scan untuk membedaakan hepatitis dari atresia biliary
(Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009)

2.1.8 Penatalaksanaan Ikhterus
Pengobatan yang diberikan sesuai dengan analisa penyebab yang meungkin dan
memastikan kondisi ikhterus pada bayi kita masih dalam batas normal (fisiologis) ataukah
sudah patologis. Tujuan pengobatan adalah mencegah agar konsentrasi bilirubin indirect
dalam darah tidak mencapai kadar yang menimbulkan neurotoksisitas, dianjurkan dilakukan
transfuse tukar dan atau fisioterapi. Resiko cidera susunan saraf pusat akibat bilirubin harus
diimbangi dengan resiko pengobatan masing-masing bayi. Kriteria yang harus dipergunakan
11

untuk memulai fototerapi. Oleh karena fototerapi membutuhkan waktu 12-24 jam, sebelum
memperlihatkan panjang yang dapat diukur, maka tindakan ini harus dimulai pada kadar
bilirubin, kurang dari kadar yang diberikan. Penggunaan fototerapi sesuai dengan anjuran
dokter biasanya diberikan pada neonatus dengan kadar bilirubin tidak lebih dari 10 mg%.

1. Penatalaksanaan umum
Penatalaksanaan ikhterus secara umum menurut Surasmi (2003) antara lain yaitu :
a. Memeriksa golongan darah Ibu (Rh, ABO) dan lain-lain pada waktu hamil
b. Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir, yang
dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.
c. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan
kebutuhan bayi baru lahir imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.
d. Pengobatan terhadap faktor penyebab bila diketahui.

2. Penatalaksanaan berdasarkan waktu timbulnya ikhterus
Ikhterus neonatorum dapat dicegah berdasarkan waktu timbulnya gejala dan diatasi
dengan penatalaksanaan di bawah ini
a. Ikhterus yang timbul pada 24 jam pertama pemeriksaan yang dilakukan :
1) Kadar bilirubin serum berkala
2) Darah tepi lengkap
3) Golongan darah ibu dan bayi diperiksa
4) Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G6PD biakan darah/biopsy hepar
b. Ikhterus yang timbul 24-72 jam setelah lahir. Pemeriksaan yang perlu diperhatikan.
1) Bila keadaan bayi baik dan peningkatan tidak cepat dapat dilakukan
pemeriksaan darah tepi .
2) Periksa kadar bilirubin berkala.
3) Pemeriksaan penyaring enzim G6PD dan pemeriksaan lainnya.
c. Ikhterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama Ikhterus
yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya.
Pemeriksaan yang dilakukan :
1) Pemeriksaan bilirubin direct dan indirect berkala
2) Pemeriksaan darah tepi
3) Pemeriksaan penyaring G6PD
4) Biarkan darah, biopsy hepar bila ada indikasi
12

3. Ragam Terapi
Jika setelah tiga-empat hari kelebihan bilirubin masih terjadi, maka bayi harus segera
mendapatkan terapi. Bentuk terapi ini macam-macam, disesuaikan kadar kelebihan yang ada.
a) Terapi Sinar (fototerapi)
Menurut Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009:
Fototerapi digunakan untuk mencegah konsentrasi bilirubin tak-terkonyugasi dalam
darah mencapai kadar yang menyebabkan terjadinya neurotoksisitas. Permukaan kulit
neonatus dipajankan terhadap cahaya dengan intensitas tinggi, yang secara fotokimiawi
mengubah bilirubin tak-terkonyugasi larut-lemak menjadi bilirubin larut air yang dapat
diekskresikan dalam empedu dan urin. Terapi dapat dilakukan intermitten, atau kontinyu
dengan fototerapi, dihentikan hanya untuk perawatan esensial.
Indikasi untuk fototerapi, didasarkan pada kadar bilirubin serum dan kondisi individu
setiap bayi, terutama jika ikhterus terjadi dalam 12-24 jam pertama:
- untuk bayi prematur <1500 gr, antara 85 dan 140mol/L ( 5 dan 8 mg/dl )
- untuk bayi prematur >1500 gr, bayi sakit dan bayi dengan hemolisis,
antara 140 dan 165mol/L ( 8 dan 10 mg/dl )
- untuk bayi aterm sehat yang ikhterus setelah 48 jam, antara 280 dan 365mol/L
( 17 dan 22 mg/dl )
Efek samping terapi (Fototerapi fluorosens konvensional, warna putih biru):
- hipertermia, peningkatan kehilangan cairan dan dehidrasi
- kerusakan pada retina karena intensitas cahaya tinggi
b) Terapi transfusi
Jika setelah menjalani fototerapi tidak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus meningkat
hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, perlu dilakukan terapi transfusi darah. Kelebihan
bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel saraf otak (kern ikhterus). Efek inilah yang harus
diwaspadai karena bayi bisa mengalami gangguan perkembangan, seperti: keterbelakangan
mental, cerebral palsy, gangguan motoric dan bicara, serta gangguan penglihatan dan
pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang teracuni akan dibuang dan ditukar dengan darah lain
yang dilakukan bertahap.
Bila dengan sekali tukar darah, kadar bilirubin menunjukkan angka yang
menggembirakan, maka terapi transfuse bisa berhenti. Tapi bila masih tinggi perlu dilakukan
proses transfusi lagi. Efek samping adalah masuknya kuman penyakit yang bersumber dari
darah yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi. Meski begitu, terapi ini efektif untuk
menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.
13

c) Terapi obat-obatan
Terapi lainya adalah dengan obat-obatan. Misalnya, obat Phenobarbital atau luminal
untuk meningkatkan pengikatan bilirubin di sel-sel hati sehingga bilirubin yang sifatnya
indirect berubah jadi direct. Ada juga obat-obatan yang mengandung plasma atau albumin
yang berguna untuk mengurangi timbunan bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ
hati. Biasanya terapi ini dilakukan bersamaan dengan terapi lain, seperti fototerapi. Jika
sudah tampak perbaikan maka terapi obat-obatan ini dikurangi bahkan dihenntikan. Efek
sampingnya adalah mengantuk. Akibatnya bayi jadi banyak tidur dan kurang minum ASI
sehingga dikhawatirkan terjadi kekurangan kadar gula dalam darah yang justru memicu
peningkatan bilirubin. Oleh karena itu, terapi obat-obatan bukan menjadi pilihan utama untuk
menangani hiperbilirubin karena biasanya dengan fototerapi bayi bisa ditangani (revel-
indonesia.com).
Metaloporfirin (tin-mesoporfirin/SnMP dan tin-protoporfirin/SnPP) sedang digunakan
secara eksperimen untuk mencegah dan menangani hiperbilirubinemia neonatus. Tidak
seperti terapi lain yang berusaha untuk menghilangkan pigmen empedu yang berlebihan, obat
ini mencegah pembentukan bilirubin. SnMP adalah inhibitor poten terhadap aktivitas
oksigenase hem, dan sekaligus produksi bilirubin (Kappas et al 2001, Steffensrud 1998 dalam
Buku Ajar Bidan-Diane Fraser, 2009).
d) Menyusui Bayi dengan ASI
Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urin. Untuk itu bayi
harus mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki zat-zat terbaik bagi bayi
yang dapat memperlancar buang air besar dan kecilnya.
e) Terapi Sinar Matahari
Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan. Biasanya dianjurkan
setelah bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi dijemur selama setengah jam
dengan posisi yang berbeda-beda. Seperempat jam dalam keadaan telentang, misalnya,
seperempat jam kemudian telungkup. Lakukan anatara jam 07.00 sampai 09.00 pagi. Inillah
waktu dimana sinar surya efektif mengurangi kadar bilirubin. Dibawah jam tujuh, sinar
ultraviolet belum cukup efektif, sedangkan di atas jam Sembilan kekuatannya sudah terlalu
tinggi sehingga akan merusak kulit. Hindari posisi yang membuat bayi melihat langsung ke
matahari karena dapat merusak matanya. Perhatikan pula situasi disekeliling, keadaan udara
harus bersih. (www.revell-indonesia.com)


14

2.2 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan
Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan pada Bayi Baru Lahir dengan Ikhterus
I. PENGKAJIAN
Pengkajiandata :Dilakukan tanggal ..pukul
Tempat .... (Untuk mengetahui kapan dimulai dilakukan pengkajian pada klien)
A. Data Subyektif (Menurut Wiinkjosastro, 1999) :
a. Identitas
Nama bayi : untuk membedakan bayi yang satu dengan bayi yang lain
Umur bayi : untuk mengetahui hari keberapa dilakukan pengkajian/asuhan
dalam menentukan klasifikasi jenis ikterus(fisiologis/patologis)
Berat badan : untuk mengetahui apakah bayi lahir dengan berat rendah/
normal/ bayi besar. Bayi normal 2500 gr - 4000 gr. Pada bayi
ikhterus kemungkinan kecil masa kehamilan, BBLR dan besar
masa kehamilan
Nama Ibu/Ayah : untuk identifikasi bayi/pasien
Pekerjaan Ibu/Ayah: untuk mengetahui bagaimana taraf hidup/keadaan status
ekonomi dan mengetahui kemampuan akses serta usaha untuk
mendapatkan perawatan antenatal dan informasi
b. Alasan Datang
Ibu mengatakan kulit bayi kuning saat 2-3 hari pertama kelahiran (ikhterus
fisiologis) atau 24 jam setelah bayi lahir (ikhterus patologis)
c. Keluhan Utama
Ibu mengatakan kulit bayi kuning saat 2-3 hari pertama kelahiran (ikhterus
fisiologis) atau 24 jam setelah bayi lahir (ikhterus patologis)
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga meliputi mempunyai penyakit menurun seperti diabetes,
informasi mengenai kelainan hematologik, splenektomi, masalah kandung
empedu, anak sebelumnya pernah mengalami kelinan yang sama, status golongan
darah, dan antibody maternal.
e. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
1. Kehamilan : Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita ibu selama
kehamilan yang merupakan faktor terjadinya ikhterus (diabetes, golongan
darah ibu - bayi tidak sesuai, Rh/ABO incompatibility, sakit infeksi)
15

2. Riwayat persalinan sekarang :
a. Jenis persalinan : biasanya ikhterus terjadi persalinan dibantu vacum
eksraksi
b. Umur kehamilan : Pada ikhterus kemungkinan terjadi pada preterm, kecil
masa kehamilan, dan besar masa kehamilan..
c. Komplikasi persalinan : biasanya bayi ikhterus terjadi pada persalinan
dengan trauma.
d. Keadaan bayi baru lahir : nilai dengan APGAR 1 menit pertama dan 5
menit kedua
f. Pola Kebiasaan Sehari-hari
- Nutrisi : Dikaji, apabila bayi telah diberi ASI eksklusif namun kulit
teap berwarna kuning maka dapat disebut breast milk jaudince. Sedangkan
kurangnya asupan ASI merupakan faktor risiko terjadinya ikhterus.
Kebutuhan cairan yang dibutuhkan bayi (ml/kg), berat badan >1500 g :
1) Hari 1: 60cc/kgBB/hari
2) Hari 2: 80cc/kgBB/hari
3) Hari 3: 100cc/kgBB/hari
4) Hari 4: 120cc/kgBB/hari
5) Hari 5: 150cc/kgBB/hari
- Eliminasi : untuk mengetahui apakah pola eliminasi klien teratur/tidak.
Miksi : Kemungkinan warna urine gelap pekat- hitam
kecoklatan
Mekonium/feces : Kemungkinan lunak dan berwarna coklat kehijauan
- Aktifitas : Bayi dapat bergerak aktif (ikhterus fisiologis), bayi lemah dan
kurang bergerak aktif (ikhterus patologis)
B. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : cukup lemah
Kesadaran : composmentis/apatis/somnolen
TTV: Suhu : pada bayi ikhterus suhu tubuh tidak stabil karena
hipotermi/hipertermi (suhu normal ( 36,5-37C)
RR : normal 40-60x / menit
Nadi : normal 100-160x /menit
BBL : pada bayi ikhterus biasanya BB turun
16

b. Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
a) Kepala : Dilihat besar, bentuk, molding, sutura, adakah caput ikhterus
terjadi pada pendarahan intra kranial/ sefal hematom (sebagai faktor
resiko perinatal ikhterus)
- Muka : pucat, warna kulit muka kuning
- Mata : sklera kuning, konjungtiva pucat
- Telinga : warna pucat kekuningan
- Mulut : mukosa kering, bibir pucat
- Hidung : Ada sumbatan atau kelainan lain seperti cuping
hidung/tidak, warna kulit kuning
- Leher : warna kulit leher kuning
- Dada : pernafasan spontan/ tidak, warna kulit dada kuning
b) Tali pusat dan abdomen : Apakah ada tanda-tanda infeksi/ tidak, warna
kulit abdomen kuning
c) Genitalia : Pada bayi laki-laki testis sudah menurun/ belum dan
terdapat lubang uretra/ tidak pada bayi perempuan labia rnayora telah
menutupi labia minora/ belum, Lubang vagina ada/ tidak
d) Anus : Ada/ tidaknya lubang anus
e) Reflek Neurologis :
1. Mencari (rooting) : lemah
2. Menghisap (sucking) : lemah
3. Menelan : lemah
4. Moro : lemah
R/ : penyimpangan reflek tersebut menimbulkan ketidak adekuatan
masukan nutrien.
f) Ekstremitas : warna kuku pucat,kulit dan kaki kekuningan
2. Palpasi
Kepala : Teraba benjolan abnormal/tidak
(sebagai faktor resiko perinatal ikhterus)
Abdomen : pada ikhterus terdapat pembesaran limfe dan hepar
Integumen : turgor kulit baik/ tidak.


17

3. Auskultasi
Dada : Terdengar bunyi ronchi/ wheezing/ tidak,
detak jantung teratur/ tidak
Abdomen : Terdengar bising usus/ tidak

Pemeriksaan Penunjang
1. Bilirubin total
R/: Kadar direk (terkonjugasi) bermakna jika melebihi 1,0-1,5 mg/dl yang
mungkin dihubungkan dengan sepsis. Kadar indirek (tidak terkonjugasi) tidak
boleh melebihi 5mg/dl dalam 24 jam atau tidak boleh lebih dari 20mg/dl pada
bayi cukup bulan atau 1,5 mg/dl pada bayi praterm tergantung berat badan.
2. Hitung darah lengkap
R/: Hb mungkin rendah (<14gr/dl) karena hemolisis.
3. Tes Coombs pada tali pusat BBL
R/: Hasil positif test comb direk menandakan adanya antibody Rh-positif, anti-
A,anti-B dalam darah ibu dan adanya senstisasi (Rh-positif, anti-A,anti-B)
SDM dari neonatus.
4. Golongan darah ibu dan bayi :
R/: Mengidentifikasi incompatibilitas ABO.
5. Ultrasound
R/: untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu
6. Radioisotope scan
R/: untuk membedaakan hepatitis dari atresia biliary

C. ANALISA
Diagnosa : By Ny .. umurhari dengan (ikhterus fisiologis/patologis)
DS : Ibu mengatakan kulit bayi kuning saat 2-3 hari pertama kelahiran
(ikhterus fisiologis) atau 24 jam setelah bayi lahir (ikhterus patologis).
DO : reflek menghisap dan menelan lemah, sclera, konjuctiva,
kulit kelihatan kuning, bayi Nampak lemah (wiknjosastro,2002)
Masalah :
- gangguan sistem pernapasan
- reflek hisap dan menelan lemah
- kesadaran menurun dan sering tidur
18

Diagnosa potensial :
- Dehidrasi
Diagnosa potensial pada penyakit ikhterus adalah terjadi akumulasi bilirubin
dalam darah sehingga kulit (terutama) dan atau sklera bayi tampak kekuningan
dan muncul pewarnaan kuning pada permukaan kulit, bayi mengalami
Dehidrasi dan berpotensial terjadi kern ikhterus.
- Asfiksi (Nelson, 1988).

a. Kebutuhan :
1. KIE tentang penyakit bayi
2. Pemenuhan nutrisi yang adekuat (ASI)
3. Penyinaran (fototerapi)
4. Tansfusi tukar

D. PENATALAKSANAAN
a. MANDIRI
1. Menjelaskan pada ibu dan suami bahwa bayinya mengalami ikhterus.
R/: agar orang tua mengetahui kondisi bayinya dan kooperatif dalam
memberikan asuhan
2. Melakukan pemeriksaan laboratorium kadar bilirubin dengan serum
bilirubin.
R/: untuk mengetahui keparahan ikhterus
3. Menganjurkan ibu tetap memberikan ASI sesering mungkin serta
memandu untuk menyusui bayi dengan posisi dan pelekatan yang benar,
agar menyusu efektif untuk mencegah agar gula darah tidak turun
R/: rendahnya asupan kalori dan atau keadaan dehidrasi berhubungan
dengan proses menyusui dapat menimbulkan ikhterus neonatorum.
Meningkatkan frekuensi menyusui dapat menurunkan kecenderungan
keadaan hiperbilirubinemia yang berta. Bilirubin dapat dipecah jika bayi
banyak mengeluarkan feses dan urin.
4. Memberikan nasehat tentang cara menjaga bayi agar tetap hangat dengan
cara mengeringkan bayi segera setiap kali bayi basah terkena air atau air
kencing dan tinja bayi, membungkus bayi dengan kain kering dan hangat,
memberi tutup kepala pada bayi.
19

R/: stess dingin berpotensi melepaskan asam lemak, yang bersaing pada
sisi ikatan pada albumin, sehingga meningkatkan kadar bilirubin.
5. Menganjurkan ibu agar menjemur bayinya setiap pagi dengan bayi
telanjang 1,5 jam
R/: sinar ultravioletefektif dapat mengurangi kadar bilirubin
6. Merujuk ke dokter
R/: apabila sudah diketahui tingkat keparahan ikhterus

b. KOLABORASI
1. Terapi sinar
R/: terapi sinar diberikan jika kadar bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol
yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam
air, dan dikeluarkan melalui urine, tinja, sehingga kadar bilirubin menurun.
2. Transfuse tukar (exchange transfusion)
R/: untuk menurunkan kadar bilirubin indirek, mengganti eritrosit
yangdapat dihemolisis, membuang antibody yang menyebabkan hemolisis
3. Fototerapi
R/: fototerapi adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi kadar
bilirubin dalam jangka waktu yang lama dibandingkan dengan transfusi
tukar. Bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah
larut dalam air tanpa harus diubah dulu oleh organ hati
4. Terapi obat dengan Phenobarbital
R/: untk meningkatkan pengkatan bilirubin yang sifatnya indirek berubah
menjadi direk.









20

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ikhterus adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa oleh karena adanya
bilirubin pada jaringan tersebut akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah. kadar
bilirubin lebih dari 5 mg/ml, yang timbul pada hari kedua dan ketiga, sampai hari kesepuluh
dengan tidak ada tanda-tanda patologis. Keadaan ini merupakan tanda penting penyakit hati
atau kelainan fungsi hati, saluran empedu dan penyakit darah. Ikhterus neonatorum ialah
suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi baru lahir. Ikhterus terbagi menjadi dua yaitu
ikhterus fisiologi (muncul pada hari kedua dan ketiga dan tanpa ada dasar patologis) dan
ikhterus patologis (muncul pada 24 jam pertama bayi lahir dan akan menetap selama 2
minggu dan kadar bilirubinnya melampaui batas kadar hiperbilirubinemia).
Komplikasi yang dapat ditimbulkan akibat hiperbilirubinemia adalah terjadinya
kernikhterus. Kernikhterus merupakan suatu sindroma kerusakan otak yang diakibatkan oleh
tingginya kadar bulirubin sehingga bersifat toksik terhadap otak, ditandai dengan athetoid
cerebral palsy, gangguan pendengaran hingga ketulian, gangguan penglihatan, dan mental
retardasi.
Penanganan pada bayi ikhterus bermacam-macam sesuai tingkatan dan kadar
bilirubinnya. Penanganan ikhterus harus mengikutsertakan semua aspek secara menyeluruh,
mulai dari peran orang tua, tenaga medis, maupun sarana kesehatan dalam rangka mencegah
timbulnya kernikhterus serta rehabilitasi pasca kernikhterus.






21

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan:
1. Bagi pembaca di sarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan
Ikhterus pada bayi, Sehingga dapat di lakukan upaya-upaya yang bermanfaat
untuk menanganinya secara efektif dan efisien.
2. Bagi ibu yang bayinya terkena ikhterus agar tetap dapat memberikan ASI dan
minuman yang cukup untuk bayi sehingga dapat menurunkan kadar ikhterus dan
membantu mempercepat penyembuhan
3. Diharapkan bagi Bidan jika menemukan kasus ikhterus neonatorum untuk dapat
melakukan pemeriksaan secara seksama dan mampu mengidentifikasi dan
memberiakan pertolongan pertama pada bayi ikterik dan merujuk kasus tersebut
ke tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.