Anda di halaman 1dari 10

Asuhan Keperawatan Kanker Serviks

Posted: 18 November 2011 in Kumpulan Askep


Kaitkata:reproduksi, serviks
0

A. DEFINISI
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari
adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya
(FKUI, 1990; FKKP, 1997).
Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang abnormal dimana sel-sel
ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan. Kanker ini hanya
menyerang wanita yang pernah atau sekarang dalam status sexually active. Tidak pernah
ditemukan wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual pernah menderita kanker ini.
Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur, terutama paling banyak pada wanita
yang berusia 35-55 tahun. Akan tetapi, tidak mustahil wanita yang mudapun dapat menderita
penyakit ini, asalkan memiliki faktor risikonya.
B. ETIOLOGI
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan
predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus
semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
1. Jumlah kehamilan dan partus
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin
besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.
1. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor
resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
1. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata
diduga sebagai factor penyebab kanker serviks.
1. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial
ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan
sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi
imunitas tubuh.
1. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya
belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga
banyak kumpulan-kumpulan smegma.
1. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan
berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian
menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus
terbentuknya kanker serviks.

C. PATOFISIOLOGI
Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel, berubah menjadi
neoplastik, dan akhirnya menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih. Secara histopatologi
lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium displasia (ringan, sedang dan
berat) menjadi karsinoma insitu dan akhirnya invasif. Berdasarkan karsinogenesis umum, proses
perubahan menjadi kanker diakibatkan oleh adanya mutasi gen pengendali siklus sel. Gen
pengendali tersebut adalah onkogen, tumor supresor gene, dan repair genes. Onkogen dan tumor
supresor gen mempunyai efek yang berlawanan dalam karsinogenesis, dimana onkogen
memperantarai timbulnya transformasi maligna, sedangkan tumor supresor gen akan
menghambat perkembangan tumor yang diatur oleh gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel.
Meskipun kanker invasive berkembang melalui perubahan intraepitel, tidak semua perubahan ini
progres menjadi invasif. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak 3 -
35%.
Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi. Waktu yang
diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar antara 1 7 tahun, sedangkan
waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi invasif adalah 3 20 tahun (TIM FKUI,
1992). Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya perubahan
displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas
regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus
atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 10 tahun
perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma
serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka,
pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke
forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau
vesika urinaria. Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona
transformasi, dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital
yang tidak dapat diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat serta kontrol pertumbuhan sel normal
sehingga terjadi keganasan (Suryohudoyo, 1998; Debbie, 1998).

D. KLASIFIKASI KANKER SERVIKS
Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978
Tingkat Kriteria
0 Karsinoma In Situ ( KIS), membran basalis utuh
I Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri
I a Karsinoma mikro invasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah
stroma tidak > 3 mm, dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau
pembuluh darah.
I b Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan
histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia
II Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan
parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul
II a Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infitrat tumor
II b Penyebaran ke parametrum, uni atau bilateral, tetapi belum sampai dinding panggul
III a Penyebaran sampai bagian distal vagina, sedang parametrium tidak dipersoalkan
asal tidak sampai dinding panggul.
III b Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah infiltrat antara
tumor dengan dinding panggul.
IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum
dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh
IV a Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari
pangul kecil, metastasi jauh belum terjadi
IV b Telah terjadi metastasi jauh.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Keputihan
Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan Fluor
albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari vagina ini
makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian,
pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.
1. Perdarahan
Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak)
merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak
ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid,
amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan
intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini
yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus
yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam
(vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna
merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Perdarahan rektum dapat
terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut.
1. Nyeri
Dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal. Pada tahap lanjut,
gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari vagina berwarna kuning,
berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan pervagina akan makin sering
terjadi dan nyeri makin progresif. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki,
hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.
1. Sitologi/pap smear
Keuntungan: murah, dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan: tidak dapat menentukan lokasi.
1. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glikogen karena tidak mengikat yodium. Kalau
porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang
terkena kaersinoma tidak berwarna.
1. Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-
40x.
Keuntungan: dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan
biopsi.
Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedangkan kelainan
pada skuamosa kolumnar junction dan intraservikal tidak terlihat.
1. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200x.
1. Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
1. Konisasi
2. Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng
dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak
tampak kelainan-kelainan yang jelas.
G. PENATALAKSANAAN
1. Irradiasi
1. Dapat dipakai untuk semua stadium
2. Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
3. Tidak menyebabkan kematian seperti operasi
4. Dosis: penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak di serviks
5. Komplikasi irradiasi: kerentanan kandungan kencing, diarrhea, perdarahan rectal,
fistula vesico atau recto vaginalis
6. Operasi
1. Operasi limfadektomi untuk stadium 1 dan 2
2. Operasi histerektomi vagina yang radikal
3. Kombinasi
1. Irradiasi dan pembedahan
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi,
oedema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering
menyebabkan fistula, disamping itu menambah penyebaran ke sistem limfe dan peredaran darah
1. Cytostatika
1. Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5% dari
ca.serviks adalah resisten terhadap radio terapi, dianggap resisten bila 8-10
minggu post terapi kedaan masih tetap sama.
Pembagian kanker seviks berdasarkan FIGO
Penatalaksanaan pengobatan kanker serviks uteri dapat dilakukan dengan berbagai modalitas
terapi. Terapi kanker serviks uteri berdasar stadiumnya adalah sebagai berikut :
- Stadium IA1
Histerektomi ekstrafasial. Bila fertilitas masih diperlukan dilakuan konisasi dilanjutkan
pengamatan lanjut.
- Stadium IA2
Histerektomi radikal atau modifikasi (tipe 2) dan limfadenektomi pelvis. Histerektomi
ekstrafasial dan limfadenektomi pelvis bila tidak ada invasi limfo vaskular3. Konisasi luas atau
trakhelektomi radikal dengan limfadenektomi laparoskopi, kalau fertilitas masih
dibutuhkan.Radioterapi: radiasi luar dan brakiterapi (dosis di titik A 75-80 Gy)
- Stadium IBI/IIA
Hindari gabungan operasi dengan radiasi untuk mengurangi morbiditas. Histerektomi radikal
dan limfadenektomi pelvis, sampel kgb para-aorta2. Pada usia muda, ovarium dapat
dikonservasi. Terapi adjuvan kemoradiasi pasca bedah (dengan cisplatin 5-FU) bila ada faktor
risiko kgb (+), parametrium (+), tepi sayatan (+)
Radioterapi: radiasi luar dan brakiterapi (dosis di titik A 80-85 Gy)
- Stadium IB2/IIA > 4 cm.
Kemoradiasi : Radiasi luar dan brakiterapi serta pemberian cisplatin 40 mg/m
2
/minggu selama
radiasi luar. Kalau kgb iliaka kommunis atau para-aorta (+) lapangan radiasi diperluas.
Operasi : Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis
Neoadjuvan kemoterapi : (cisplatin 3 seri) diikuti histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis
- Stadium IIB, III, IVA
Kemoradiasi : Radiasi luar dan brakiterapi serta pemberian cisplatin 40 mg/m
2
/minggu
selama radiasi luar. Kalau kgb iliaka kommunis atau para aorta (+) lapangan radiasi diperluas
Eksenterasi : Dapat dipertimbangkan pada IVA bila tidak meluas sampai dinding
panggul, terutama bila ada fistel rektovaginal dan vesikovaginal
- Stadium IVB atau residif
Residif lokal sesudah operasi1
Radiasi + kemoterapi (cisplatin 5-FU). 50 Gy bila lesi mikroskopik dan 64-66 Gy pada tumor
yang besar
2.
Eksenterasi kalau proses tidak sampai dinding panggul
H. PROGNOSA
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan
95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani
histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat
deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80%
rekurensi dalam 2 tahun.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN (P-E-S)

1. Perubahan pola seksualitas b.d deficit pengetahuan tentang respon alternative terhadap
perubahan kondisi kesehatan
2. Resiko infeksi b.d luka post operasi
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
4. Gangguan integritas kulit b.d tindakan khemoterapi
5. Kurangnya pengetahuan b.d kurangnya informasi
FORMAT INTERVENSI KEPERAWATAN
Tanggal
Diagnosa
Keperawatan (P-E-
S)
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Rencana (Intervensi)
Keperawatan
Rasional
28
Desember
2007

1. Perubahan
nutrisi kurang
dari
kebutuhan
berhubungan
dengan efek
samping
kemoradiasi






Tujuan :
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
324 jam
diharapkan
nafsu makan
pasien
meningkat
Kriteria hasil :
- Porsi
makan habis
- BB normal
- Kadar
albumin
1. Kolaborasi pemberian
antiemetik sebelum
kemoterapi
2. Anjurkan pasien makan
porsi kecil tapi sering
3. Jelaskan pada pasien
tentang kebutuhan nutrisi
4. Timbang berat badan
pasien setiap minggu
dengan menggunakan
timbangan yang sama
5. Instruksikan keluarga
untuk membantu pasien
meningkatkan masukan
makanan

1. Ciptakan hubungan
terapeutik atas dasar saling
percaya dan saling
menghargai, berikan
1. Mengurangi rasa
mual


1. Menghindari mual

1. Meningkatkan
motivasi klien
untuk memenuhi
kebutuhan
nutrisinya


1. Mengetahui

1. Perubahan
pola
seksualitas
b.d deficit
pengetahuan
tentang
respon
alternative
terhadap
perubahan
kondisi
kesehatan















normal








Tujuan :
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
124 jam
klien dan
pasangan
dapat
memahami
bahwa
seksualitas
tidak hanya
terbatas pada
aktivitas fisik
Kriteria hasil :
- Suami
memberikan
dukungan
psikologis
terhadap
pengobatan
istri
- Suami
privasi dan kepercayaan
diri klien
2. Anjurkan klien untuk
mengungkapkan ketakutan
dan menanyakan masalah
3. Diskusikan bentuk
alternatif ekspresi seksual
yang dapat diterima pada
klien sesuai kebutuhan
4. Libatkan pasangan dalam
diskusi



1. Bersihkan daerah yang
terluka dengan normal
salin dan air, peneringan
dengan udara atau ditepuk
2. Instruksikan kepada pasien
untuk menghindari
mencukur kulit yang iritasi,
memakai pakaian sempit,
penggunaan deodoran,
parfum, aktivitas berat
3. Pantau intregitas daerah
kulit yang diradiasi

1. Gunakan satu sistem
pendekatan yang tenang
dan meyakinkan
2. Motivasi pasien untuk
bersedia mengikuti segala
proses pengobatan.
1. Libatkan keluarga
untuk memberikan
motivasi kepada
pasien

kecukupan nutrisi
klien


1. Dukungan
keluarga dapat
meningkatkan
motivasi klien
dalam upaya
memenuhi
kebutuhan
nutrusisnya

1. Mempermudah
asuhan
keperawatan untuk
pasien



1. Menggali masalah
yang dihadapi
klien


1. Menyesuaikan
rencana tindakan
dengan kebutuhan
klien





1. Gangguan
integritas
kulit b.d.
tindakan
khemoterapi

















sering mejaga
istrinya di
rumah sakit









Tujuan :
setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 224
jam tidak
terjadi
kerusakan
yang berlebih,
klien ikut
memelihara
kulit
Kriteria hasil:
- Tidak ada
kerusakan
jaringan kulit
- Kulit tidak
tampak merah
- Kulit tidak

1. Akan
meningkatkan
motivasi klien
dalam proses
penyembuhan





1. Mensterilkan area
luka untuk
mengurangi resiko
terjadinya infeksi



1. Mengurangi
terjadinya
kerusakan
integritas kulit



1. 3. Evaluasi
terhadap
intervensi yang
diberikan

1. Kurang
pengetahuan
tentang
penatalaksana
an
pengobatan
berhubungan
dengan
terbatasnya
informasi






terasa gatal









Tujuan :
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
224 jam
pengetahuan
pasien adekuat
Kriteria hasil :
- Pasien
mengetahui
proses
penyakit dan
pengobatannya
- Kecemasan
berkurang
- Pasien
memiliki
koping yang
positif



1. Menanamkan rasa
percaya klien
terhadap perawat

1. Mempercepat
proses
kesembuhan


1. Dukungan
keluarga akan
memberikan
ketenangan dan
mempercepat
proses
kesembuhan

Anda mungkin juga menyukai