Anda di halaman 1dari 100

Laporan Kerja Praktek

Jurusan Teknik Industri



Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja Praktek
Dunia Industri pada saat ini perkembangannya sangat pesat sekali, ini
disebabkan karena akibat adanya kebutuhan atau tuntutan dari konsumen yang
semakin kompleks. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, pihak produsen dalam
hal ini perusahaan harus mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja,
sebab jika tidak, maka perusahaan tidak akan mampu bersaing dengan
perusahaan lainnya bahkan bisa tertinggal.
Dengan itu penguasaan teknologi harus benar- benar diikuti oleh
masyarakat umum, terlebih lagi masyarakat ilmiah (mahasiswa). Kampus
merupakan tempat pendidikan formal diharapkan mampu memberikan
masukan secara lebih intensif secara teoritis dan praktek kerja di lapangan
merupakan penerapan dalam dunia industri yang sebenarnya. Hal ini
merupakan indikasi bahwa antara teori dan penerapan di lapangan tidak bisa
dipisahkan.
Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi diperlukan kerja sama dan jalur komunikasi antara
perguruan tinggi, industri, instansi pemerintah dan instansi swasta. Kerja sama
ini dapat dilaksanakan dengan pertukaran informasi antara masing-masing
pihak antara ilmu di perguruan tinggi dan aplikasi di dunia industry yang
sebenarnya. CV. Sun Abadi Glove adalah perusahaan yang bergerak dalam
industri pembuatan sarung tangan. Perusahaan ini bertempat di Penambangan
RT.16 RW. 04 No.5 Krembangan, Taman Sidoarjo 61257. Pada tanggal 5 Mei
1998 perusahaan ini berdiri sampai sekarang.
Kami melakukan kerja praktek di perusahaan ini mengangkat masalah
mengenai peramalan permintaan dan pengendalian kualitas. Dengan kami
mengangkat masalah ini diharapkan kami memahami dan memberikan solusi
yang baik, sehingga dapat berguna nantinya bagi kami dan pihak manajemen
CV. Sun Abadi Glove.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 2
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dalam kerja praktek ini sebagai berikut:
1.2.1 Tujuan Umum
1. Menyiapkan mahasiswa yang memiliki wawasan luas dan memiliki
kemampuan akademik yang menunjang dalam menghadapi kondisi
nyata didalam dunia industri.
2. Untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik yang telah
ditetapkan oleh Jurusan Teknik Industri ITATS.
3. Meningkatkan kepekaan dan daya pikir serta bereaksi terhadap
masalah- masalah yang timbul di lapangan kerja.

1.2.2 Tujuan Khusus
1. Meramalkan permintaan produk sarung tangan CV. Sun Abadi Glove
menggunakan metode yang tepat dengan mempertimbangkan nilai
error yang dihasilkan.
2. Mengetahui dan menganalisa pengendalian kualitas pada CV. Sun
Abadi Glove.

1.3 Ruang Lingkup Kerja Praktek
Ruang lingkup kerja praktek diwajibkan melakukan kerja praktek di
suatu perusahaan industri, agar mahasiswa betul-betul dapat memahami dan
melihat peranan keilmuan teknik industri yang sebenarnya di suatu industri
atau pabrik dan dapat memecahkan masalah industri yang bersifat manufaktur
yang akan dihadapi nanti setelah lulus dengan berbekal pengetahuan teknik
industri

1.4 Manfaat Kerja Praktek
Adapun manfaat dilaksanakannya kerja praktek di CV. Sun Abadi
Glove :
1. Mengetahui jalanya pelaksanaan proses produksi produk sarung tangan
yang dikerjakan oleh CV. Sun Abadi Glove.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 3
2. Membandingkan teori yang didapat pada perkuliahan dengan kenyataan
yang ada di perusahaan tersebut.
3. Mempelajari masalah-masalah yang mungkin timbul di dalam
pelaksanaan proses produksi dan pemasaran produk khususnya produk
sarung tangan.

1.5 Sistematika Kerja Praktek
Dalam penyusunan laporan kerja praktek laporan dibagi menjadi 4
bab secara sistematik, yang mana tiap bab berisikan pengertian-pengertian
secara terperinci. Secara garis besar isi dari laporan kerja praktek ini adalah
sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisi tentang latar belakang perusahaan, manfaat dan tujuan,
batasan masalah, metodologi pengumpulan data dan sistematika penulisan
laporan kerja praktek.
BAB II : MATERI UMUM
Dalam bab ini akan diuraikan tentang sejarah singkat berdirinya perusahaan,
organisasi dan manajemen, pemasaran, proses produksi, teknilogi, dan tata
letak pabrik
BAB III: MATERI KHUSUS
Materi khusus yang akan dibahas dalam laporan ini adalah tentang
Perencanaan dan Pengendalian Produksi (Forecast), dan Seven Tools.
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini mencakup tentang rangkuman dari keseluruhan laporan kerja
praktek serta berisi beberapa saran yang ditujukan kepada perusahaan yang
mungkin bermanfaat bagi langkah selanjutnya.

1.6 Metodologi Pengumpulan Data
Untuk mengetahui permasalahan yang diperlukan, perlu adanya suatu
pendekatan yaitu dengan langkah- langkah untuk mendapatkan data yang

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 4
dibutuhkan dan berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Adapun
langkah- langkah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Survey dan Observasi lapangan
Dengan melakukan pengamatan secara langsung pada perusahaan dan
meminta keterangan terhadap pihak yang terkait di lapangan, sehingga
nantinya data yang diperoleh lebih akurat.
2. Wawancara dan Diskusi
Melakukan pengumpulan data dengan melalui tanya jawab dan diskusi
secara langsung terhadap pihak yang terkait.
3. Studi Kepustakaan
Dengan melakukan pencatatan data-data atau dokumen yang diperlukan
pada CV. Sun Abadi Glove serta literatur-literatur lain berupa buku-buku
yang berkaitan dengan teori-teori yang dibahas.



















Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 5
BAB II
MATERI UMUM

2.1 Gambaran Umum Perusahaan
2.2.1 Sejarah Umum Perusahaan
CV. Sun Abadi Glove adalah perusahaan yang bergerak dalam
industri pembuatan sarung tangan. Perusahaan yang sudah berjalan selama
kurang lebih 6 tahun ini berawal dari seorang karyawan pabrik biasa yang
memberanikan diri untuk mengasah kemampuan bisnisnya di era
globalisasi karena adanya jaringan bisnis yang dikenal dari Jepang. Beliau,
Titik Suparmi, pemimpin sekaligus pemilik perusahaan ini merekrut 15
karyawan untuk membantu dalam proses produksi pada tahun pertama
bisnisnya. Dengan menggunakan modal sendiri dan ditambah pinjaman
dari bank, beliau menjalankan usaha ini dengan bangunan satu lantai dan
38 unit mesin jahit. Awalnya, CV. Sun Abadi Glove hanya menerima jahit
sarung tangan saja karena masih belum mempunyai mesin cutting, namun
setelah beberapa bulan kemudian untuk memperlancar proses produksi
akhirnya beliau membeli 3 unit mesin potong dan membuka departemen
cutting.
CV. Sun Abadi Glove yang tepat tanggal 5 Mei 2008 didirikan ini
berada di Jalan Penambangan RT.16 RW. 04 No.5 Krembangan, Taman
Sidoarjo 61257. Pada tahun 2012, terjadi ekspansi lahan yaitu menjadikan
pabrik dengan dua lantai. Tahun berikutnya, beliau menambah 15 unit
mesin jahit dan 1 unit mesin cutting Atom untuk meningkatkan kinerja
perusahaan. Hingga sekarang jumlah karyawan ada 60 orang yang terdiri
dari 50 wanita dan 10 laki-laki. Sebagian besar karyawan merupakan
penduduk lokal yang berdomisili di sekitar pabrik.
Sesuai dengan bentuk perusahaannya yang berbadan hukum, CV.
Sun Abadi Glove yang berorientasi pada produk sarung tangan maka
memiliki misi untuk :
1. Selalu berinovasi untuk menyempurnakan produk.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 6
2. Meningkatkan kepercayaan konsumen akan produk.
3. Menguatkan sistem pemasaran dengan nilai-nilai kejujuran dan
ekonomis.
Tujuan CV. Sun Abadi Glove adalah untuk menciptakan lapangan
kerja terutama untuk penduduk sekitar dan memaksimalkan keuntungan
(profitability) sebagaimana perusahaan lainnya. Untuk mencapai semua itu
perusahaan tersebut menerapkan strategi yang relevan, yaitu :
1. Strategi jangka pendek, merupakan strategi yang tidak berdampak
pada perubahan kapasitas produksi.
2. Strategi jangka panjang, merupakan strategi yang berdampak pada
pengubahan kapasitas produksi.
Perusahaan ini selalu memegang teguh prinsip kekeluargaan
dengan menjalankan aktifitas perusahaan yang menjunjung tinggi rasa
tenggang rasa dan saling membantu diantara para karyawan. Selain itu,
seluruh karyawan selalu berusaha menjaga nama baik perusahaan di mata
rekan kerja dan para konsumen yang berada di luar negeri.

2.2.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha
Dalam kerja praktek yang kita lakukan yaitu di perusahaan industri
yang bersifat manufaktur. Perusahaan ini yaitu perusahaan pembuat sarung
tangan, akan tetapi sarung tangan yang dibuat oleh perusahaan ini yaitu
sarung tangan ekspor yang di ekspor ke negara Jepang.

2.2.3 Lokasi Perusahaan
Nama Perusahaan : CV. Sun Abadi Glove
Bentuk Perusahaan : Persekutuan Komanditer (CV)
Jenis Usaha Utama : Industri Sarung Tangan
Alamat : Penambangan RT. 16 RW. 4 No.5 Krembangan,
Taman Sidoarjo 61257
No. Telepon : 031-7883965
No. Faks : 031-7889824

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 7
2.2 Organisasi dan Manajemen
2.2.1 Struktur Organisasi Perusahaan







Gambar 2.1. Struktur Organisasi Perusahaan

2.2.2 Pembagian Tugas dan Wewenang
Berikut ini deskripsi pekerjaan masing-masing jabatan yang ada
dalam struktur organisasi.
1. Director
Bertanggungjawab untuk memimpin kelangsungan hidup perusahaan

2. Accounting
Mencatat semua kas masuk dank kas keluar
Melakukan pelaporan pajak ke kantor pajak
Melakukan pembayaran kepada supplier
Mengajukan order pembelian bahan baku

3. HRD
Melakukan control kepada tiap-tiap departemen yang
berhubungan dengan proses produksi
Melakukan penggajian karyawan
Mengontrol buku absen karyawan



DIRECTOR
ACCOUNTING HRD EXIM
WAREHOUSE CUTTING PREPARATION SEWING PACKING INSPECTION SECURITY CLEANING
SERVICE

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 8
4. Exim
Membuat dan melaporkan adminstrasi ke kantor bea cukai yang
berkenaan dengan ekspor dan impor
Menyiapkan dokumen yang di butuhkan oleh perusahaan
forwading

5. Warehouse
Melakukan pengecekan terhadap barang masuk
Membuat laporan stock tiap bulan
Membuat laporan pemakaian bahan baku tiap bulan
Menyiapkan bahan baku produksi ke bagian cutting, preparation,
sewing, inspection, dan packing
Mengajukan permohonan pembelian bahan baku local
Mengajukan permintaan atas kekurangan bahan baku impor
dalam proses produksi

6. Cutting
Memotong bahan baku berupa syntethic, leather, dan logo
Melakukan pengeleman lembaran tab logo
Menghitung tiap-tiap item hasil dari potongan dan selanjutnya
diserahkan kepada bagian preparation

7. Preparation
Bertanggungjawab melakukan persiapan bahan baku sebelum masuk
bagian sewing seperti penghitungan tiap item sesuai keperluan order,
pengeleman, dll.

8. Sewing
Melakukan proses penjahitan
Membuat laporan jumlah produk yang masuk proses produksi

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 9
Membuat sampel produk yang akan ditunjukkan kepada
pelanggan atau yang akan diikutkan pameran
Membuat laporan atas produk yang belum tercapai target
produksinya di setiap jenis sarung tangan
Membuat laporan atas produk yang sudah tercapai target
produksinyanya di setiap jenis sarung tangan

9. Inspection
Melakukan inspection dan quality control dari produk
Melakukan perbaikan terhadap sarung tangan yang rusak atau
tidak memenuhi standard ekspor dengan cara mengembalikannya
kepada pihak penjahit
Membuat laporan jumlah produk yang masuk proses inspection
Membuat laporan atas produk yang belum tercapai target
inspeksi nya di setiap jenis sarung tangan
Membuat laporan atas produk yang sudah tercapai target
inspeksi nya di setiap jenis sarung tangan

10. Packing
Melakukan pembungkusan sarung tangan yang akan di ekspor
Mendeteksi setiap sarung tangan bila kemungkinan ada jarum
patah di dalam sarung tangan
Melakukan stock atau menyimpan produk over yang tidak di
ekspor
Membuat laporan jumlah dan jenis produk yang telah di ekspor

11. Security
Menjaga tata tertib dan keamanan lingkungan pabrik
Mengontrol kartu absen para karyawan
Mengontrol jam masuk dan jam keluar karyawan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 10
Melakukan kontrol atas karyawan agar tidak membawa makanan
dan minuman berwarna ke ruang produksi

12. Cleaning Servise
Bertanggungjawab untuk menjaga kebersihan lingkungan pabrik

2.2.3 Tenaga Kerja dan Jam Kerja
Untuk memperlancar dalam aktivitas produksi, maka perusahaan
membutuhkan sumber daya manusia yang ahli dan terampil sesuai dengan
bidangnya masing-masing sebab tidak selamanya penerapan teknologi
tinggi dan penggunaan bahan baku berkualitas dalam suatu industri akan
berhasil jika tidak diikuti dengan keahlian dan keterampilan tenaga kerja
yang mengoperasikan peralatan dalam proses produksi tersebut.
Pada CV. Sun Abadi Glove kesemuanya adalah pekerja tetap,
dimana jumlah seluruh tenaga kerja yang ada yaitu 60 orang. Jam kerja
yang diberlakukan pada karyawan di masing-masing departemen hanya
satu shift yaitu 08.00 16.00.

2.2.4 Sistem Pengupahan
Sistem pengupahan yang diterapkan untuk karyawan adalah gaji
yang diberikan setiap dua minggu sekali sesuai dengan hasil produk yang
dihasilkan untuk perusahaan. Untuk meningkatkan kesejahteraan
karyawan, perusahaan mengadakan acara rekreasi setahun sekali. Selain
itu juga memberikan cuti hamil selama 3 bulan khusus tenaga kerja wanita.
Para karyawan juga mendapatkan uang fix overtime jika lembur dan
memberikan libur setiap hari minggu. Jika memang ada lembur pada hari
minggu, maka karyawan akan diberikan tambahan upah untuk transportasi
dan makan.




Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 11
2.3 Pemasaran
2.3.1 Hasil Produksi
CV. Sun Abadi Glove merupakan salah satu perusahaan penghasil
sarung tangan yang ada di Indonesia, maka perusahaan ini memproduksi
berbagai macam sarung tangan sesuai dengan kebutuhan konsumen, yaitu:
Sarung Tangan Untuk Golf
Sarung Tangan Untuk Sepeda Motor
Sarung Tangan Untuk Memancing
Sarung Tangan Untuk bersepeda

Gambar 2.2. Produk Sarung Tangan

2.3.2 Daerah Pemasaran
Sejauh ini CV. Sun Abadi Glove memasarkan produk sarung
tangan dengan cara mengekspor ke jepang. Dengan kata lain, produk
tersebut tidak dijual di indonesia melainkan langsung dikirim ke jepang
untuk konsumen yang ada disana khususnya klub-klub olahraga.

2.3.3 Strategi Pemasaran
Dengan bermodalkan pengalaman yang bertahun-tahun dari
pimpinan dan tenaga ahli para karyawan dalam hal pembuatan sarung
tangan, ini menjadi kekuatan yang ampuh untuk menghadapi persaingan
yang cukup ketat dari perusahaan-perusahaan lain yang juga memproduksi
sarung tangan. Untuk pemasaran sepenuhnya di lakukan promosi di jepang
dengan mengikuti pameran-pameran dan mengenalkan hasil sarung tangan
ke klub-klub olahraga.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 12
2.4 Uraian Proses Produksi
Proses produksi adalah cara, metode, dan teknik untuk menciptakan
atau menghasilkan kegunaan dari suatu barang atau jasa dengan
menggunakan sumber-sumber yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan
baku, modal, dan lain sebagainya. Secara umum prosedur proses produksi di
CV. Sun Abadi Glove adalah sebagai berikut :
1. Tahap pertama berawal dari gudang sebagai tempat penyimpan bahan
baku. Disini semua bahan baku dikeluarkan ke berbagai departemen
sesuai dengan kebutuhan tiap department. Bagian gudang mengeluarkan
polyester fabric, synthetic leather dan kulit ke departemen cutting untuk
di potong-potong dengan mesin cutting sesuai ukuran menggunakan
molding cutting.
2. Selanjutnya, hasil potongan material diberikan kepada departemen
persiapan untuk dilakukan pengeleman (glueing).
3. Setelah itu, bahan yang sudah dilem dan dipotong akan diberikan kepada
departmen jahit (sewing) untuk diproses lebih lanjut. Bahan baku seperti
label, benang, Pu-tape langsung diberikan kepada department jahit
(sewing) dari bagian gudang.
4. Setelah proses jahit selesai dan produk sudah jadi, semua sarung tangan
masuk department inspection untuk mengontrol kualitas produk (layak
dan tidaknya sarung tangan tersebut di kirim ke pembeli) menggunakan
mesin metal detector dan secara manual .
5. Terakhir, setelah produk melewati bagian inspection dan sudah
memenuhi kualitas dari standar akhir, semua sarung tangan masuk ke
bagian packing untuk di packing dengan kardus dan dikirim ke jepang.

2.4.1 Bahan Baku dan Bahan Penolong
Bahan baku untuk pembuatan sarung tangan langsung impor dari
jepang dan korea dengan proporsi 85 % yakni polyester fabric, synthetic
leather, leather/kulit, label/size, logo/brand, thread/benang, dan Pu

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 13
Tape/pita. Selain itu, adapun bahan penolong lokal dengan proporsi 15%
yaitu benang, velkro, label/size, logo/brand, dan lem.

2.4.2 Kapasitas Produksi
Pengiriman hasil produk ke Jepang seringkali dilakukan setiap 2
minggu sekali. Kapasitas produksi yang dimiliki oleh CV. Sun Abadi
Glove adalah 125.000 140.000 unit pertahun.

2.4.3 Flow Process Chart Produksi
Diagram aliran proses pembuatan sarung tangan dapat dilihat pada tabel
2.1.


















Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 14
Tabel 2.1. Flow Process Chart Pembuatan Sarung Tangan
Uraian Kegiatan
Lambang
J
a
r
a
k

(
m
)

J
u
m
l
a
h

(
p
r
s
)

W
a
k
t
u

(
m
n
t
)

Ket.



1. Bahan baku dibawa dari gudang ke dept. Cutting

4 650 5
2. Bahan baku dipotong dengan mesin aradachi

650 60
3. Bahan baku dipotong dengan mesin cutting menggunakan molding

650 120
4. Bahan baku potongan dibawa ke dept. Preparation

3 650 5
5. Bahan baku dilem

650 100
6. Bahan potongan dan yang sudah dilem dibawa ke dept. Sewing

5 650 5
7. Bahan baku dijahit sesuai bagian-bagian agar menjadi sarung tangan

650 200
8. Sarung tangan diberi label/size

650 20
9. Sarung tangan dibawa ke dept. Inspeksi

4 650 5
10. Sarung tangan diinspeksi secara manual

650 60
11. Sarung tangan diinspeksi dengan metal detector

650 90
12. Sarung tangan dibawa ke dept. Packing

2 650 5
13. Sarung tangan dikemas sesuai pesanan

650 150
14. Sarung tangan disimpan

650 -

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 15
2.5 Teknologi
2.5.1 Mesin-mesin dan Peralatan yang Digunakan
Mesin-mesin yang digunakan CV. Sun Abadi Glove dalam
menjalankan proses produksinya adalah sebagai berikut :
1. Mesin Aradachi (Juzi)
Mesin untuk memotong bahan baku (polyester fabric, synthetic
leather, dan kulit) sesuai ukuran molding yang diinginkan. Hasil
potongan dengan mesin ini masih dalam bentuk lembaran kain, belum
menjadi bagian-bagian sarung tangan. Mesin ini ada di gudang karena
agar mempermudah pengeluaran dan penyimpanan bahan baku
sebelum dan setelah dipotong.
2. Mesin Cutting Atom SE8
Mesin untuk memotong lembaran kain dengan cara mempreskan
masing-masing molding ke alas mesin hingga menjadi bagian-bagian
sarung tangan yang siap dilem dan dijahit. Mesin ini digunakan untuk
proses pemotongan sehingga diletakkan di departemen cutting.
3. Molding Cutting
Alat yang terbuat dari besi dan bentuknya menyerupai bagian-bagian
tangan, yang fungsinya untuk memotong kain sesuai bentuk molding.
4. Mesin Jahit Jarum 1
Mesin untuk menjahit bahan yang sudah dipotong dan dilem untuk
disatukan dengan hasil jahitan 1 garis.
5. Mesin Jahit Jarum 2
Mesin untuk menjahit bahan yang sudah dipotong dan dilem untuk
disatukan dengan hasil jahitan 2 garis.
6. Mesin Jahit Obras Jarum 1
Mesin untuk menjahit (mengobras) bahan bagian dalam untuk diobras
dengan menggunakan 1 jarum.
7. Mesin Jahit Obras Jarum 2
Mesin untuk menjahit (mengobras) bahan bagian dalam untuk diobras
dengan menggunakan 2 jarum.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 16
8. Mesin Jahit Zig-Zag
Mesin untuk menjahit sarung tangan dengan hasil jahitan zig-zag.
9. Mesin Jahit Pita
Mesin untuk menjahit sarung tangan bagian luar.
10. Metal Detector
Mesin untuk mendeteksi logam yang ada dalam sarung tangan,
misalnya jarum. Mesin ini digunakan saat inspeksi produk agar sesuai
standar yang diinginkan dan tidak membahayakan konsumen.
11. Steamer (Setrika Uap)
Alat untuk melicinkan sarung tangan agar terlihat tidak kusut dan rapi
saat dikemas.
12. Manual Heat Transfer Machine (Model HTM1510H)
Alat untuk mempres sarung tagan sepeda (cycling) yang
menggembung sebelum dilakukan packing.

2.5.2 Sistem Perawatan Mesin dan Peralatan
Perawatan mesin dan peralatan merupakan faktor yang paling
penting yang perlu diperhatikan perusahaan selain pengendalian kualitas.
Perawatan mesin dan peralatan akan mempengaruhi produk yang
dihasilkan dan juga mempengaruhi kelancaran proses produksi di CV. Sun
Abadi Glove.
Cara yang digunakan CV. Sun Abadi Glove dalam upaya
perawatan mesin dan peralatan adalah sebagai berikut :
1. Preventif maintenance atau perawatan dan penggantian spare part.
2. Apakah ada kerusakan yang mendadak, kerusakan tersebut diusahakan
seoptimal mungkin tidak terjadi lagi dalam jangka waktu 6 bulan.
3. Melakukan over rolling mesin.

2.6 Tata Letak Pabrik
Tata letak pabrik dapat didefinisikan sebagai suatu cara pengaturan
fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi. Fasilitas yang

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 17
dimaksud adalah gedung, mesin, dan peralatan lain termasuk peralatan
pendukung. Tata letak pabrik merupakan hal yang dapat dikatakan vital dan
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu proses produksi yang pada
akhirnya akan berpengaruh juga terhadap tingkat produktivitas perusahaan
yang bersangkutan.
Tata letak pabrik harus disesuaikan dengan jenis produk yang akan
dihasilkan dengan memperhatikan beberapa aspek yang mendukung proses
produksi seperti aspek pasar untuk memudahkan dan memperlancar
pemasaran hasil produksi, jauh dekatnya bahan baku, sarana transportasi,
serta aspek sosial dan lingkungan. Disamping itu, pengaturan tata letak pabrik
yang tepat dapat memberikan kenyamanan dalam bekerja dan mengurangi
resiko kecelakaan kerja.

2.6.1 Jenis dan Jumlah Mesin
Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi
pembuatan sarung tangan di CV. Sun Abadi Glove ini ada 12 jenis yang
ditempatkan pada masing-masing departemen sesuai kegunaannya. Mesin
aradachi ada 1 unit model CZD-B11, sedangkan untuk mesin cutting tipe
atom SE8 ada 5 unit namun sekarang sisa 4 unit karena salah satunya
rusak. Molding untuk mesin cutting ada 16 unit dengan ukuran yang
lengkap dari S, M, L, O, JS, JM, dan JL. Mesin jahit yang ada di
departemen sewing bermacam-macam, antara lain mesin jahit jarum 1
merk shunfa (39 unit), mesin jahit jarum 2 merk zoyee (5 unit), mesin jahit
obras jarum 1 merk yamata (2 unit), mesin jahit obras jarum 2 merk
mitsubishi (1 unit), mesin jahit zig-zag merk shanggong (2 unit), dan
mesin jahit pita merk yakumo (4 unit) dengan total keseluruhan ada 53
unit mesin jahit. Departemen inspeksi juga memiliki 1 unit metal detector
sebagai alat bantu. Kemudian, untuk departemen pengemasan memiliki 1
unit steamer dan 1 unit manual heat transfer machine.



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 18

Gambar 2.3. Mesin Aradachi


Gambar 2.4. Mesin Cutting


Gambar 2.5. Mesin Jahit


Gambar 2.6. Metal Detector

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 19

Gambar 2.7. Steamer

2.6.2 Penggambaran Pola Aliran Pemindahan Bahan
















Gambar 2.8. Pola Aliran Pemindahan Bahan




MATERIAL
PROSES CUTING
(PEMOTONGAN)
PROSES GLUEING
(PENGELEMAN)
PROSES
PENJAHITAN
PROSES
INSPEKSI 1
PROSES
PENGUAPAN
PROSES
PEMBALIKAN
PROSES
INSPEKSI 2
PACKING

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 20
2.6.3 Penggambaran Tata Letak Pabrik

Gambar 2.9. Layout Pabrik Lantai 1







Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 21


Gambar 2.10. Layout Pabrik Lantai 2









Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 22
BAB III
PERAMALAN PERMINTAAN

3.1 Pendahuluan
3.1.1 Latar Belakang
Pada umumnya tujuan didirikannnya suatu perusahaan adalah
untuk mencari laba semaksimal mungkin. Demi pencapaian tujuan
tersebut, perusahaan memerlukan perencanaan yang baik sebelum seluruh
kegiatan perusahaan dimulai. Suatu perusahaan dikatakan memiliki
perencanaan yang baik, bila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Rencana mempermudah tercapainya tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya.
2. Rencana bersifat dinamis, dalam arti mengandung kemungkinan
terjadinya perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan dan
situasi yang terjadi.
3. Rencana bersifat rasional, dalam arti disusun berdasarkan data dan
fakta, bukan merupakan khayalan dan dugaan.
Penyusunan rencana selalu berkaitan dengan keadaan masa depan.
Untuk itu penyusunan rencana didasarkan pada fakta dan data yang ada
sehingga hasil perencanaan itu mendekati kenyataan yang ada pada masa
depan. Prediksi atau ramalan atau sering disebut forecasting, menyangkut
keadaan atau situasi yang akan datang berdasarkan pada suatu data
penjualan masa lampau.
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan
para pemilik perusahaan untuk dapat mencapai suatu tujuan perusahaan
yaitu mendapatkan laba dengan volume penjualan yang terus meningkat.
Untuk mencapai volume penjualan perlu ditetapkan besarnya volume
penjualan yang harus dicapai, yang dapat dihitung dengan jobs forecasting
(suatu strategi untuk menentukan tingkat penjualan pada masa mendatang
yang didasarkan pada data penjualan masa lampau). Penetapan forecast
pada perusahaan besar maupun perusahaan kecil berarti perusahaan telah

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 23
berusaha untuk menekan resiko kerugian yang mungkin dapat terjadi di
masa mendatang. Cara dimaksudkan untuk menerapkan sistem
pengendalian yang baik sehingga tujuan dapat dicapai dengan efektif dan
efisien.
Dari data yang tercantum dan berdasarkan wawancara, ternyata
CV. Sun Abadi Glove belum menerapkan peramalan untuk produksinya
dengan benar. CV. Sun Abadi Glove melakukan aktivitas penjualan sarung
tangan tergantung pada tingkat permintaan konsumen. Artinya perusahaan
memproduksi berdasarkan data historis dan menambah atau mengurangi
volume hanya dengan memperkirakan saja. Tindakan ini dilakukan oleh
perusahaan hingga sekarang. Dapat disimpulkan bahwa pimpinan
perusahaan tidak menerapkan suatu metode peramalan yang pasti selama
perusahaan berjalan.
Selama ini perusahaan hanya menerapkan metode perhitungan
yang sangat sederhana. Namun, adanya perubahan permintaan terhadap
sarung tangan menyebabkan perusahaan harus mampu melakukan proses
manajerial yang baik dengan cara meramalkan tingkat permintaan pada
periode tertentu. Dengan demikian, perusahaan diharapkan mampu
bersaing dalam hal kualitas maupun kuantitas produk yang terjual.

3.1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana hasil plot data sarung tangan yang dihasilkan dari data
masa lalu CV. Sun Abadi Glove?
2. Apa metode peramalan yang paling cocok untuk digunakan dalam
meramalkan permintaan masing-masing sarung tangan CV. Sun Abadi
Glove?
3. Berapa hasil peramalan permintaan masing-masing sarung tangan tiap
bulan pada tahun 2014?


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 24
3.1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pola data dengan melihat hasil plot data sarung tangan
yang sudah dilakukan.
2. Menentukan metode peramalan yang paling cocok untuk meramalkan
permintaan masing-masing sarung tangan CV. Sun Abadi Glove
dengan mempertimbangkan nilai error yang dihasilkan.
3. Mengetahui hasil peramalan permintaan masing-masing sarung tangan
tiap bulan pada tahun 2014.

3.1.4 Batasan Penelitian
CV. Sun Abadi Glove memproduksi beberapa macam sarung
tangan dengan ukuran yang berbeda. Namun dalam pembahasan laporan
ini kami membatasi pada :
1. Terdapat 6 ukuran sarung tangan yang diproduksi CV. Sun Abadi
Glove antara lain ukuran S, M, L, O, JS, JM, dan JL. Tetapi, pada
penelitian ini kami hanya melakukan pengamatan pada ukuran L saja
karena ukuran tersebut paling sering diproduksi.
2. Data masa lalu yang digunakan untuk perhitungan peramalan tidak
selalu semua terpakai karena disesuaikan dengan metode peramalan
yang ada.
3. Alternative metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah nave,
moving average, moving averages with linear trend, exponential
smoothing, exponential smoothing with trend, holt-winter
multiplicative algorithm, regresi linier, dan regresi berganda.
4. Perhitungan peramalan ini menggunakan software WinQSB, kecuali
untuk metode nave dan metode regresi berganda dihitung secara
manual karena tidak ada di dalam software. Namun, perhitungan
analisis error untuk metode nave dan metode regresi berganda dibantu
dengan software POM-QM versi 3.


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 25
3.1.5 Asumsi yang Digunakan
Berdasarkan batasan penelitian diatas maka kami mengasumsikan
bahwa data masa lalu dan alternative metode yang digunakan dianggap
cukup mewakili untuk perhitungan permalan pada periode yang sudah
ditentukan.

3.2 Metodologi Penelitian
























Tahap
Pengolahan Data
Mulai
Studi Pendahuluan
Identifikasi Masalah
Tujuan Penelitian
Studi Lapangan Studi Pustaka
Tahap
Awal
Selesai
Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data penjualan sarung tangan
CV. Sun Abadi Glove
2. Data Sekunder
Berbagai sumber kepustakaan
Pengolahan Data
1. Melakukan plot data historis
2. Mengetahui nilai error pada
masing-masing alternative
metode time series
Analisa dan Hasil
1. Memilih metode time series
terbaik untuk dilakukan
peramalan
2. Mengetahui forecast demand
untuk periode yang ditentukan
Kesimpulan dan Saran
Tahap
Pengumpulan Data
Tahap
Analisa
Tahap
Kesimpulan dan Saran
Gambar 3.1. Flow Chart Metodologi Penelitian

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 26
3.3 Studi Kepustakaan
3.3.1 Pengertian Peramalan
Menurut Gaspersz (2004), aktivitas peramalan merupakan suatu
fungsi bisnis yang berusaha memperkirakan permintaan dan
penggunaan produk sehingga produk-produk itu dapat dibuat dalam
kuantitas yang tepat. Dengan demikian peramalan merupakan suatu
dugaan terhadap permintaan yang akan datang berdasarkan pada
beberapa variabel peramal, sering berdasarkan data deret waktu historis.
Menurut Supranto (1984), forecasting atau peramalan
adalah memperkirakan sesuatu pada waktu-waktu yang akan datang
berdasarkan data masa lampau yang dianalisis secara ilmiah, khususnya
menggunakan metode statistika. Menurut Sofjan Assauri (1993),
peramalan merupakan seni dan ilmu dalam memprediksikan kejadian
yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang. Dengan
digunakannya peralatan metode-metode peramalan maka akan
memberikan hasil peramalan yang lebih dapat dipercaya ketetapannya.
Oleh karena masing-masing metode peramalan berbeda-beda, maka
penggunaannya harus hati-hati terutama dalam pemilihan metode
untuk penggunaan dalam kasus tertentu.
Peramalan dapat menggunakan teknik-teknik peramalan yang
bersifat formal maupun informal. Aktivitas peramalan ini biasa
dilakukan oleh departemen pemasaran dan hasil-hasil dari peramalan ini
sering disebut sebagai ramalan permintaan. Bagian permintaan biasanya
melakukan perencanaan berdasarkan hasil-hasil ramalan permintaan,
sehingga informasi yang dikirim dari bagian permintaan ke bagian
Production Planning and Inventory Control (PPIC) semestinya
memisahkan antara permintaan yang dikembangkan berdasarkan
rencana permintaan yang umumnya masih bersifat tidak pasti dan
pesanan-pesanan yang bersifat pasti.
Sistem peramalan memiliki sembilan langkah yang harus
diperhatikan untuk menjamin efektifitas dan efisiensi. Langkah- langkah

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 27
tersebut termasuk dalam manajemen permintaan yang disebut juga
sebagai konsep dasar sistem peramalan, yaitu (Gaspersz 2004):
a. Menentukan tujuan dari peramalan.
b. Memilih item independent demand yang akan diramalkan.
c. Menentukan horison waktu dari peramalan (jangka pendek,
menengah, dan panjang).
d. Memilih model-model peramalan.
e. Memperoleh data yang dibutuhkan untuk melakukan peramalan.
f. Validasi model peramalan.
g. Membuat peramalan.
h. Implementasi hasil-hasil peramalan.
i. Memantau keandalan hasil peramalan.

3.3.2 Peramalan Dalam Horizon Waktu
Dalam hubungannya dengan horizon waktu peramalan, maka kita
bias mengklasifikasikan peramalan tersebut ke dalam 3 kelompok, yaitu :
a. Peramalan Jangka Panjang
Umumnya untuk jangka waktu antara 2 sampai 10 tahun. Peramalan
ini digunakan untuk perencanaan produk dan perencanaan sumber
daya.
b. Peramalan Jangka Menengah
Umumnya untuk jangka waktu 1 sampai 24 bulan. Peramalan ini lebih
focus dibandingkan peramalan jangka panjang, biasanya digunakan
untuk menentukan aliran kas, perencanaan produksi, dan penentuan
anggaran.
c. Peramalan Jangka Pendek
Umumnya untuk jangka waktu 1 sampai 5 minggu. Peramalan ini
digunakan untuk mengambil keputusan dalam hal perlu tidaknya
lembur, penjadwalan kerja, dan keputusan control jangka pendek
lainnya.


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 28
3.3.3 Jenis Pola Data
Menurut Taylor III (2005) dalam sebuah data terdapat pola atau
kecenderungan. Pola-pola yang ada adalah :
1. Pola Data Horizontal (H)
Terjadi apabila nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata yang
konstan. Deret seperti itu stasioner terhadap nilai rata-ratanya. Suatu
produk yang penjualannya tidak meningkat atau menurun selama
waktu tertentu termasuk jenis ini.

Gambar 3.2. Pola Data Horizontal
2. Pola Data Musiman (S)
Terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh factor musiman
(misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu
tertentu). Penjualan dari produk seperti minuman ringan, es krim, dan
bahan bakar pemanas ruangan semuanya menunjukkan pola jenis ini.

Gambar 3.3. Pola Data Musiman

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 29
3. Pola Data Siklis (C)
Terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka
panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis. Penjualan
produk seperti mobil, baja, dan peralatan utama lainnya menunjukkan
jenis pola data ini.

Gambar 3.4. Pola Data Siklis

4. Pola Data Trend (T)
Terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka
panjang dalam data. Penjualan banyak perusahaan, produk bruto
nasional (GNP) dan berbagai indicator bisnis atau ekonomi lainnya
mengikuti suatu pola data trend selama perubahannya sepanjang
waktu.

Gambar 3.5. Pola Data Trend



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 30
3.3.4 Metode-metode Peramalan
Menurut Pangestu (1986), forecasting adalah peramalan
(perkiraan) mengenai sesuatu yang belum terjadi. Metode peramalan
terdiri atas metode peramalan kualitatif dan metode peramalan kuantitatif.
Metode kuantitatif yang digunakan dalam memperkirakan atau
meramalkan dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu metode serial
waktu dan kausal. Berikut ini akan diuraikan dari jenis-jenis metode
kuantitatif (Herjanto, 1999).
a. Metode Serial Waktu
Metode deret berkala atau time series adalah metode yang
digunakan untuk menganalisis serangkaian data yang merupakan
fungsi dari waktu. Analisis serial waktu dimulai dengan memplotkan
data pada suatu skala waktu, mempelajari pola tersebut, dan akhirnya
mencari suatu bentuk atau pola yang konsisten atas data.
b. Metode Kausal
Metode Kausal atau disebut juga dengan metode eksplanatori
mengasumsikan adanya hubungan sebab akibat antara variabel bebas
dan variabel tidak bebas yang dipengaruhinya, atau dalam bentuk lain
antara input dan output dari suatu sistem. Sistem itu dapat berbentuk
makro (seperti perekonomian nasional) atau mikro (seperti dalam
perusahaan atau rumah tangga).

3.3.5 Macam-macam Metode Time Series
Metode ini membuat peramalan dengan menggunakan asumsi
bahwa masa depan adalah fungsi dari masa lalu. Tujuannya adalah untuk
menentukan pola dalam deret data historis dan menterjemahkan pola
tersebut ke masa depan. Menganalisis time series berarti membongkar
masa lalu menjadi komponen-komponen dan kemudian memproyeksikan
ke masa atau periode yang akan datang. Model ini sendiri memiliki 3
metode peramalan kuantitatif, yaitu :


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 31
1. Metode Nave
Metode naive merupakan metode yang paling sederhana, yaitu
dengan menganggap bahwa peramalan periode berikutnya sama dengan
nilai/aktual periode sebelumnya. Dengan demikian data aktual periode
waktu yang baru saja berlalu merupakan alat peramalan yang terbaik
untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang. Bentuk motode
naive adalah sebagai berikut:

Dimana

ramalan yang dibuat pada waktu untuk waktu


. Peramalan dengan metode naive untuk masing-masing periode
mendekati observasi yang terdahulu. Ramalan dengan metode naive
adalah ramalan yang kadang disebut dengan ramalan tanpa
perubahan karena ramalannya untuk setiap periode mendekati
observasi yang terdahulu.
Saat nilai data meningkat setiap waktu disebut tidak stasioner
atau mengandung trend. Jika persamaan (1) digunakan, proyeksinya
tetap rendah. Teknik yang dapat dipakai untuk mengambil
pertimbangan trend dengan menambah selisih antara periode sakarang
dan periode terakhir. Persamaan peramalannya adalah

Pola umum untuk peramalan data musiman yaitu

dengan s adalah periode musiman. Kelemahan utama dari


pendekatan ini adalah mengabaikan segala sesuatu yang telah terjadi
selama setahun yang lalu dan juga terdapat trend. Pola umum untuk
pola data yang merupakan penggabungan trend dan musiman adalah




Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 32
2. Metode Rata-rata Bergerak (Moving Average)
Moving average diperoleh dengan melihat rata-rata permintaan
berdasarkan beberapa data masa lalu yang tebaru. Tujuan utama dari
penggunaan metode ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan
variasi acak permintaan dalam hubungannya dengan waktu. Tujuan ini
dicapai dengan merata-ratakan beberapa nilai data secara bersama-
sama, dan menggunakan nilai rata-rata tersebut sebagai ramalan
permintaan untuk periode yang akan datang. Disebut rata-rata bergerak
karena setiap data actual permintaan baru deret waktu tersedia, maka
data actual permintaan paling terdahulu akan dikeluarkan dari
perhitungan, kemudian suatu nilai rata-rata baru akan dihitung. Secara
matematis rata-rata bergerak (MA) dapat dinyatakan dalam persamaan
berikut :

Oleh karena data actual yang dipakai untuk perhitungan MA
berikutnya selalu dihitung dengan mengeluarkan data yang paling
terdahulu, maka :


3. Metode Double Moving Averages
Metode double moving averages juga biasa disebut moving average
with linear trend. Menentukan ramalan dengan metode double moving
averages sedikit lebih sulit dibandingkan dengan single moving
averages. Ada beberapa langkah dalam menentukan ramalan dengan
metode double moving averages, antara lain sebagai berikut :
a. Menghitung moving average / rata-rata bergerak pertama, diberi
simbol

[]
, dihitung dari data historis yang ada. Hasilnya
diletakkan pada periode terakhir moving average pertama.



MA =




Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 33
b. Menghitung moving average / rata-rata bergerak kedua, diberi
simbol

[]
, dari rata-rata bergerak kedua. Hasilnya diletakkan
pada periode terakhir moving average kedua.
c. Menentukan besarnya nilai



d. Menentukan besarnya nilai



e. Menentukan besarnya forecast


4. Metode Exponential Smoothing
Metode peramalan dengan pemulusan eksponensial
biasanya digunakan untuk pola data yang tidak stabil atau
perubahannya besar dan bergejolak. Metode permalan ini bekerja
hampir serupa dengan alat thermostat. Apabila galat ramalan
(forecast error) adalah positif, yang berarti nilai aktual permintaan
lebih tinggi daripada nilai ramalan (A F > 0), maka model
pemulusan eksponensial akan secara otomatis meningkatkan nilai
ramalannya. Sebaliknya, apabila galat ramalan (forecast error) adalah
negatif, yang berarti nilai aktual permintaan lebih rendah daripada
nilai ramalan (A F < 0), maka metode pemulusan eksponensial
akan secara otomatis menurunkan nilai ramalan.
Proses penyesuaian ini berlangsung secara terus-menerus,
kecuali galat ramalan telah mencapai nol. Peramalan
menggunakan metode pemulusan eksponensial dilakukan
berdasarkan formula seperti di bawah ini (Gaspersz, 2004).


F
t

= F
t-1
+ (A
t-1
- F
t-1
)
h(t,m) =

. m

[]
-

[]
)

= 2

[]
-

[]


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 34
Keterangan
F
t
: nilai ramalan untuk periode waktu ke-t
F
t-1
: nilai ramalan untu satu periode waktu yang lalu, t-1
A
t-1
: nilai aktual untuk satu periode waktu yang lalu, t-1
: konstanta pemulusan (smoothing constant)
Cara yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana
keandalan dari model peramalan berdasarkan pemulusan eksponensial
harus menggunakan peta kontrol tracking signal dan membandingkan
apakah nilai-nilai ramalan itu telah menggambarkan atau sesuai
dengan pola historis dari data aktual permintaan (Gaspersz, 2004).

5. Metode Exponential Smoothing With Trend
Variasi peramalan ini disebut juga sebagai double exponential
smoothing atau metode Holts two-parameters linear-exponential-
smoothing. Sebuah koefisien smoothing digunakan untuk
memperhalus data dengan menghilangkan kecenderungan, dan
koefisien smoothing lain digunakan untuk memperhalus perkiraan
untuk kecenderungan. Smoothed data value (nilai data yang
diperhalus) dan smoothed trend (kecenderungan yang diperhalus)
digunakan untuk menghitung nilai perkiraan periode selanjutnya. Nilai
data awal (periode nol) dan sebuah perkiraan kecenderungan juga
dibutuhkan. Pada metode ini proses penentuan ramalan dimulai dengan
menentukan besarnya alpha secara trial dan error. Sedangkan tahap-
tahap dalam menentukan ramalan adalah sebagai berikut.
a. Menentukan Smoothing pertama (h
t
)

b. Menentukan Smoothing kedua (h
2,t
)

c. Menentukan besarnya konstanta (

)
h
2,t
= . h
t
+ . h
2,t-1

h
t
= . f
t
+ . h
t-1


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 35

d. Menentukan besarnya slope (

)

e. Menentukan besarnya forecast

Dimana m adalah jumlah periode kemuka yang diramalkan.
Metode double exponential smoothing ini biasanya lebih tepat untuk
meramalkan data yang mengalami trend kenaikan.

6. Metode Winters Exponential Smoothing
Metode Winters atau biasa disebut holt-winters multiplicative
algorithm ini merupakan metode exponential smoothing yang paling
populer digunakan jika terdapat data musiman pada permintaan.
Metode ini terdiri atas tiga komponen penghalusan yaitu komponen
stasioner, komponen trend, dan komponen musiman. Setiap komponen
secara kontinyu diperbarui dengan menggunakan aplikasi smoothing
constant (parameter) pada observasi terbaru dan estimasi terakhir.
Alpha (a) merupakan parameter yang mengontrol pembobotan
relatif pada pengamatan yang baru dilakukan. Jika alpha bernilai 1
maka hanya pengamatan terbaru yang digunakan secara eksklusif.
Sebaliknya bila alpha bernilai 0 maka pengamatan yang lalu
dihitung dengan bobot sepadan dengan yang terbaru.
Beta () merupakan parameter yang mengontrol pembobotan relatif
pada pengamatan yang baru dilakukan untuk mengestimasi
kemunculan trend seri. Nilai beta berkisar dari 0 sampai 1. Nilai
semakin besar menujukkan pemberian bobot yang semakin besar
pada pengamatan terbaru. Parameter beta digunakan pada model
yang memiliki komponen trend linier atau eksponensial dengan
tidak memiliki variasi musiman.
h(t,m) =

. m

(h
t
h
2,t
)

= 2 h
t
h
2,t

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 36
Gamma () merupakan parameter yang mengontrol pembobotan
relatif pada pengamatan yang baru dilakukan untuk mengestimasi
kemunculan variasi musiman. Nilai gamma berkisar dari 0 sampai
1. Nilai semakin besar menunjukkan pemberian bobot yang
semakin besar pada pengamatan terbaru. Parameter gamma
digunakan pada model yang memiliki variasi musiman.

Tahap-tahap dalam menentukan ramalan adalah sebagai berikut :
a. Menentukan nilai slope (

)

b. Menghitung konstanta

dari hasil perhitungan slope



c. Menentukan level (

)

d. Menghitung seasonal factors (C
t
) dimana nilai dari konstanta


adalah

- (2N)



e. Menentukan rata-rata seasonal factors (

)
f. Menghitung C
t
normalisasi, dengan syarat rata-rata

adalah 1

g. Menentukan besarnya forecast


7. Metode Regresi Linier
Metode regresi linier sering sekali dipakai untuk
memecahkan masalah-masalah dalam penaksiran tentunya hal ini
h(t) = (

) C
t
Normalisasi

Normalisasi =



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 37
berlaku juga dalam peramalan sehingga metode regresi linier menjadi
suatu metode yang mempunyai taksiran terbaik diantara metode-
metode yang lain. Metode regresi linier dipergunakan sebagai metode
peramalan apabila pola historis dari data aktual permintaan
menunjukkan adanya suatu kecenderungan menaik dari waktu ke
waktu. Istilah regresi linier berarti, bahwa rataan (
y|x
) berkaitan
linier dengan x dalam bentuk persamaan linier populasi (Hasan,
1999).

Koefisien regresi dan merupakan dua parameter yang
akan ditaksir dari data sampel. Bila taksiran untuk kedua parameter
itu masing-masing dinyatakan dengan a dan b maka
y|x
dapat
ditaksir dengan dari bentuk garis regresi berdasarkan sampel atau
garis kecocokan regresi (Hasan, 1999).

Keterangan
: nilai ramalan permintaan pada peiode ke-t
a : intersept
b : slope dari garis kecenderungan,merupakan tingkat perubahan
dalam permintaan.
x : indeks waktu (t = 1,2,3,...,n) ; n adalah banyaknya periode
waktu
Dengan taksiran a dan b masing-masing menyatakan
perpotongan dengan sumbu y dan kenaikannya. Lambang
digunakan di sini untuk membedakan antara taksiran atau nilai
prediksi yang diberikan oleh garis regresi sampel dan nilai y
amatan percobaan yang sesungguhnya untuk suatu nilai x. Slope dan
intersept dari persamaan regresi linier dihitung dengan
menggunakan formula berikut (Hasan, 1999):
= a + bx

y|x
= + x

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 38

Keterangan
b : slope dari persamaan garis lurus
a : intersept dari persamaan garis lurus
x : index waktu
: nilai rata-rata dari x
y : variabel permintaan (data aktual permintaan)
: nilai rata-rata permintaan per periode waktu, rata-rata dari y

8. Metode Regresi Berganda
Metode regresi sederhana dapat dikembangkan untuk mencari
koefisien-koefisien setiap persamaan regresi linier berganda. Dengan
menurunkan rumus SSE (Sum of Square Error) terhadap


maka diperoleh persamaan berikut :
... (1)
(2)
(3)
Dari 3 persamaan diatas bisa menggunakan eliminasi dan substitusi
untuk menemukan nilai

, dan

. Sehingga hasilnya dapat


menentukan forecast dengan rumus berikut :


3.3.6 Ketepatan Peramalan
Ketepatan peramalan adalah suatu hal yang mendasar dalam
peramalan, yaitu bagaimana mengukur kesesuaian suatu metode
peramalan tertentu untuk suatu kumpulan data yang diberikan. Ketepatan
h (t,t
2
)

. t +

. t
2

n .


a =

b =



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 39
dipandang sebagai criteria penolakan untuk memilih suatu metode
peramalan. Dalam pemodelan deret berkala (time series) dari data masa
lalu dapat diramalkan situasi yang akan terjadi pada masa yang akan
datang. Untuk menguji kebenaran ramalan ini digunakan ketepatan
ramalan. Beberapa criteria yang digunakan untuk menguji ketepatan
ramalan antara lain :
1. MAD (Mean Absolute Deviation)
Akurasi peramalan akan tinggi apabila nilai-nilai MAD, mean
absolute percentage error, dan mean squared error semakin kecil.
MAD merupakan nilai total absolut dari forecast error dibagi dengan
data. Atau yang lebih mudah adalah nilai kumulatif absolut error
dibagi dengan periode. Jika diformulasikan maka MAD adalah :


2. MSE (Mean Square Error)
Menurut Gaspersz (2004), mean squared error biasa disebut juga
galat peramalan. Galat peramalan ini juga dapat berfungsi untuk
menghitung nilai MAD yang telah dibahas pada sub bab sebelumnya.
Galat ramalan tidak dapat dihindari dalam sistem
peramalan, namun galat ramalan itu harus dikelola dengan benar.
Pengelolaan terhadap galat ramalan akan menjadi lebih efektif
apabila peramal mampu mengambil tindakan mengambil tindakan
yang tepat berkaitan dengan alasan-alasan terjadinya galat
ramalan itu. Dalam sistem peramalan, penggunaan berbagai
model peramalan akan memberikan nilai ramalan yang berbeda
dan derajat dari galat ramalan yang berbeda pula.
Rata-rata kesalahan kuadrat memperkuat pengaruh angka- angka
kesalahan besar, tetapi memperkecil angka kesalahan prakiraan yang
lebih kecil dari satu unit.

MSE =


MAD =



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 40
3. MAPE (Mean Absolute Percentage Error)
Rata-rata persentase kesalahan kuadrat merupakan pengukuran
ketelitian dengan cara persentase kesalahan absolute. MAPE
menunjukkan rata-rata kesalahan absolut prakiraan dalam bentuk
persentasenya terhadap data aktualnya.


3.4 Pengumpulan dan Pengolahan Data
3.4.1 Pengumpulan Data
Data masa lalu yang digunakan untuk meramalkan permintaan
masa yang akan datang adalah data penjualan bulanan selama 3 tahun
terakhir yaitu tahun 2011-2013. Berikut ini data penjualan sarung tangan
selama 36 bulan terakhir.

Table 3.1. Data Penjualan Sarung Tangan Motor Tahun 2011-2013
No. Bulan Tahun 2011 (prs) Tahun 2012 (prs) Tahun 2013 (prs)
1 Januari 2230 3180 4506
2 Februari 2340 3140 4812
3 Maret 2510 3294 4636
4 April2 2512 3354 4878
5 Mei 2950 3378 5008
6 Juni 2862 3522 5240
7 Juli 2716 3594 5286
8 Agustus 2690 3746 5412
9 September 3020 3782 5664
10 Oktober 3200 3788 5768
11 November 2976 3650 5470
12 Desember 2850 3804 5584


MAD =



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 41
Table 3.2. Data Penjualan Sarung Tangan Sepeda Tahun 2011-2013
No. Bulan Tahun 2011 (prs) Tahun 2012 (prs) Tahun 2013 (prs)
1 Januari 2614 4000 2668
2 Februari 3548 1076 1144
3 Maret 1546 1604 1238
4 April2 2220 2380 3080
5 Mei 2540 3130 2774
6 Juni 1180 1316 3992
7 Juli 1698 3348 1678
8 Agustus 3874 2202 3988
9 September 2742 2476 2896
10 Oktober 3110 2984 3038
11 November 1324 3892 2236
12 Desember 3048 1008 1972

Table 3.3. Data Penjualan Sarung Tangan Golf Tahun 2011-2013
No. Bulan Tahun 2011 (prs) Tahun 2012 (prs) Tahun 2013 (prs)
1 Januari 3584 3998 4210
2 Februari 3662 3876 4090
3 Maret 3400 3412 3758
4 April2 3002 3224 3554
5 Mei 2424 2998 3106
6 Juni 2550 2366 2882
7 Juli 2014 2292 2530
8 Agustus 1992 2060 2400
9 September 1640 1864 2226
10 Oktober 1332 1748 1885
11 November 1194 1652 1552
12 Desember 2766 2440 2570


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 42
Table 3.4. Data Penjualan Sarung Tangan Pancing Tahun 2011-2013
No. Bulan Tahun 2011 (prs) Tahun 2012 (prs) Tahun 2013 (prs)
1 Januari 2558 3412 3522
2 Februari 2418 3264 3320
3 Maret 2494 3358 3388
4 April2 1540 1874 2016
5 Mei 1422 1640 1924
6 Juni 1764 1778 1872
7 Juli 2856 3090 3140
8 Agustus 2794 2898 2876
9 September 2990 2806 2904
10 Oktober 1010 990 1146
11 November 1102 1214 1008
12 Desember 1368 1540 1388

3.4.2 Pengolahan Data
3.4.2.1 Plot Data
Dalam melakukan suatu peramalan, pemilihan metode yang tepat
merupakan hal yang penting agar memperoleh hasil ramalan yang tepat
pula. Pola data perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan metode
peramalan yang digunakan. Pola data historis penjualan CV. Sun Abadi
Glove menunjukkan bahwa sarung tangan motor membentuk pola trend
dan sarung tangan sepeda membentuk pola stasioner. Sedangkan sarung
tangan golf dan sarung tangan pancing membentuk pola musiman.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 43

Gambar 3.6. Plot Data Penjualan Sarung Tangan Motor


Gambar 3.7. Plot Data Penjualan Sarung Tangan Sepeda


Gambar 3.7. Plot Data Penjualan Sarung Tangan Golf
-
1,000
2,000
3,000
4,000
5,000
6,000
7,000
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
j
u
m
l
a
h

p
e
n
j
u
a
l
a
n

(
p
r
s
)

Bulan
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
J
u
m
l
a
h

P
e
n
j
u
a
l
a
n

(
p
r
s
)

Bulan
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627282930313233343536

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 44

Gambar 3.8. Plot Data Penjualan Sarung Tangan Pancing

3.4.2.2 Alternatif Metode Time Series
Setelah melakukan plot data maka dapat dilakukan pengujian
terhadap metode yang akan diterapkan untuk menentukan mana yang lebih
tepat dalam peramalan tersebut. Pemilihan metode terbaik didasarkan pada
keakurasian hasil peramalan dengan melihat parameter kesalahan yang
dihasilkan. Pengolahan data ini menggunakan software WinQSB untuk
mempermudah perhitungan peramalan pada masing-masing metode.
1. Sarung Tangan Motor
Plotting data sarung tangan motor menunjukkan adanya
kecenderungan trend sehingga metode yang bisa digunakan untuk
menghitung peramalan data ini juga harus memiliki pola trend.
Alternative metode peramalan yang akan digunakan adalah metode
linier regresi, metode exponential smoothing with trend, dan metode
moving average with linear trend.
a. Metode Linier Regresi

Gambar 3.9 Nilai Error Peramalan dengan Metode Regresi Linier
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 45

Gambar 3.10 Grafik Peramalan dengan Metode Regresi Linier

b. Metode Exponential Smoothing With Trend

Gambar 3.11 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Exponential Smoothing With Trend


Gambar 3.12 Grafik Peramalan dengan
Metode Exponential Smoothing With Trend

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 46
c. Metode Moving Average With Linear Trend

Gambar 3.13 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Moving Average With Linear Trend


Gambar 3.14 Grafik Peramalan dengan
Metode Moving Average With Linear Trend

2. Sarung Tangan Sepeda
Plotting data sarung tangan sepeda menunjukkan pola stasioner
sehingga metode yang bisa digunakan untuk menghitung peramalan
data ini juga harus memiliki pola tersebut. Alternative metode
peramalan yang akan digunakan adalah metode nave, metode
exponential smoothing, dan metode moving average.
a. Metode Nave
Berdasarkan plotting data yang menunjukkan pola stasioner maka
rumus metode nave yang dipakai adalah

. Sehingga data
historis yang dibutuhkan hanya data ke-36 (Desember 2013) yaitu
1972 prs sebagai acuan untuk periode yang akan datang. Dengan
mensubstitusikan data tersebut ke dalam rumus maka forecast

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 47
untuk Januari 2014 (

= 1972 prs. Berikut ini nilai error


yang dihasilkan dari peramalan tersebut yang dibantu dengan
software.

Tabel 3.5 Nilai Error Peramalan dengan Metode Nave
Measure Value
Bias (Mean Error) -18.34
MAD (Mean Absolute Deviation) 1201.66
MSE (Mean Squared Error) 2047133.0
Standard Error (denom=n-2=33) 1473.5
MAPE (Mean Absolute Percent Error) 0.63


Gambar 3.15 Grafik Peramalan dengan Metode Nave

b. Metode Exponential Smoothing

Gambar 3.16 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Exponential Smoothing

0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47
J
u
m
l
a
h

P
r
o
d
u
k

(
p
r
s
)

Bulan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 48

Gambar 3.17 Grafik Peramalan dengan
Metode Exponential Smoothing

c. Metode Moving Average

Gambar 3.18 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Moving Average


Gambar 3.19 Grafik Peramalan dengan
Metode Moving Average

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 49
3. Sarung Tangan Golf
Plotting data sarung tangan golf menunjukkan adanya pola musiman
sehingga metode yang bisa digunakan untuk menghitung peramalan
data ini juga harus memiliki pola musiman. Alternative metode
peramalan yang akan digunakan adalah metode nave, metode holt-
winters multiplicative algorithm, dan metode regresi berganda.
a. Metode Nave
Berdasarkan plotting data yang menunjukkan pola musiman
dengan periode musiman 12 bulan (s = 12) maka rumus metode
nave yang dipakai adalah rumus musiman. Sehingga seluruh data
historis akan dipakai sebagai acuan untuk periode yang akan
datang. Contoh untuk menghitung forecast bulan Januari 2014
(

) sebagai berikut :

4220,83 prs

Perhitungan untuk bulan-bulan berikutnya dilakukan dengan cara
yang sama seperti contoh diatas. Berikut ini nilai error yang
dihasilkan dari peramalan tersebut yang dibantu dengan software.

Tabel 3.6 Nilai Error Peramalan dengan Metode Nave
Measure Value
Bias (Mean Error) -0.8
MAD (Mean Absolute Deviation) 1464.2
MSE (Mean Squared Error) 3938135.0
Standard Error (denom=n-2=33) 2027.16
MAPE (Mean Absolute Percent Error) 0.3


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 50

Gambar 3.20 Grafik Peramalan dengan Metode Nave

b. Metode Holt-Winters Multiplicative Algorithm

Gambar 3.21 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Holt-Winters Multiplicative Algorithm

0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47
J
u
m
l
a
h

P
r
o
d
u
k

(
p
r
s
)

Bulan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 51

Gambar 3.22 Grafik Peramalan dengan
Metode Holt-Winters Multiplicative Algorithm

c. Metode Regresi Berganda
Peramalan dengan metode ini membutuhkan nilai total dari t,

, t .

dan

sehingga dapat
menemukan nilai-nilai

untuk menghitung forecast tahun


2014. Data historis yang akan digunakan untuk metode ini hanya
data terakhir tahun 2013 (n = 12). Berikut ini perhitungan
peramalan dengan metode regresi berganda secara detail.

Tabel 3.7 Perhitungan Dari Data Historis
t

t .


1 4210 1 4210 1 4210 1
2 4090 4 8180 8 16360 16
3 3758 9 11274 27 33822 81
4 3554 16 14216 64 56864 256
5 3106 25 15530 125 77650 625
6 2882 36 17292 216 103752 1296
7 2530 49 17710 343 123970 2401
8 2400 64 19200 512 153600 4096
9 2226 81 20034 729 180306 6561
10 1885 100 18850 1000 188500 10000
11 1552 121 17072 1331 187792 14641
12 1360 144 16320 1728 195840 20736
Total
78 33553 650 179888 6084 1322666 60710

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 52
Proses substitusi total diatas ke dalam persamaan dibawah ini.

n .


33553 12

+ 78

+ 650

.. (1)


179888 78

+ 650

+ 6084

.. (2)


1322666 = 650

+ 6084

+ 60710

. (3)

Proses eliminasi persamaan (1) dan persamaan (2) :
12

+ 78

+ 650

= 33553 [x6,5] 78

+ 507

+ 4225

= 218094,5
78

+ 650

+ 6084

= 179888 [x1] 78

+ 650

+ 6084

= 179888
- 143

- 1859

= 38206,5 (4)

Proses eliminasi persamaan (1) dan persamaan (3) :
12

+ 78

+ 650

= 33553 [x650] 7800

+ 50700

+ 422500

= 21809450
650

+ 6084

+ 60710

= 1322666 [x12] 7800

+ 73008

+ 728520

= 15871992
- 22308

- 306020

= 5937458 (5)

Proses eliminasi persamaan (4) dan persamaan (5) :
- 143

- 1859

= 38206,5 [x156] - 22308

- 290004

= 5960214
- 22308

- 306020

= 5937458 [x1] - 22308

- 306020

= 5937458
- 16016

= 22756

= 1,4208

Proses substitusi

= 1,420829 ke dalam persamaan (4) :


- 143

- 1859

= 38206,5
- 143

- 1859 (1,4208) = 38206,5


- 143

2641,321 = 38206,5
- 143

= 40847,821

= - 285,6491

Proses substitusi

= 1,4208 dan

= -285,6491 ke dalam pers. (1) :


12

+ 78

+ 650

= 33553
12

+ 78 (- 285,6491) + 650 (1,4208) = 33553


12

- 22280,6298 + 923.52 = 33553


12

= 54910,1098

= 4575,8425

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 53
Selanjutnya, proses proses terakhir yaitu mensubstitusikan nilai


= 1,4208 dan

= -285,6491 serta

= 4575,8425 ke dalam model


regresi berganda untuk menentukan forecast pada masa yang akan
datang.
h (t,t
2
)

. t +

. t
2

h (t,t
2
) 4575,8425 - 285,6491 t + 1,4208 t
2


Model tersebut bisa digunakan untuk menghitung forecast
bulan Januari 2014 dengan cara mensubstitusikan t = 1 dan t
2
= 1.
Secara matematis perhitungan tersebut dapat dijabarkan sebagai
berikut :
h (t,t
2
) = 4575,8425 - 285,6491 t + 1,4208 t
2

h (1,1) = 4575,8425 - 285,6491 (1) + 1,4208 (1)
h (1,1) = 4575,8425 - 285,6491 + 1,4208
h (1,1) = 4291,613 prs

Perhitungan untuk bulan-bulan berikutnya dilakukan dengan cara
yang sama seperti contoh diatas. Berikut ini nilai error yang
dihasilkan dari peramalan tersebut yang dibantu dengan software.

Tabel 3.8 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Regresi Berganda
Measure Value
Bias (Mean Error) 100.83
MAD (Mean Absolute Deviation) 160.73
MSE (Mean Squared Error) 128383.6
Standard Error (denom=n-2=33) 392.51
MAPE (Mean Absolute Percent Error) 0.06










Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 54

Gambar 3.23 Grafik Peramalan dengan
Metode Regresi Berganda

4. Sarung Tangan Pancing
Plotting data sarung tangan pancing menunjukkan adanya pola
musiman sehingga metode yang bisa digunakan untuk menghitung
peramalan data ini juga harus memiliki pola musiman. Alternative
metode peramalan yang akan digunakan adalah metode nave, metode
holt-winters multiplicative algorithm, dan metode regresi berganda.
a. Metode Nave
Berdasarkan plotting data yang menunjukkan pola musiman
dengan periode musiman 6 bulan (s = 6) maka rumus metode nave
yang dipakai adalah rumus musiman. Sehingga seluruh data
historis akan dipakai sebagai acuan untuk periode yang akan
datang. Contoh untuk menghitung forecast bulan Januari 2014
(

) sebagai berikut :

3059,33 prs
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
5000
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47
J
u
m
l
a
h

P
r
o
d
u
k

(
p
r
s
)

Bulan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 55
Perhitungan untuk bulan-bulan berikutnya dilakukan dengan cara
yang sama seperti contoh diatas. Berikut ini nilai error yang
dihasilkan dari peramalan tersebut yang dibantu dengan software.

Tabel 3.9 Nilai Error Peramalan dengan Metode Nave
Measure Value
Bias (Mean Error) 18.5
MAD (Mean Absolute Deviation) 896.12
MSE (Mean Squared Error) 1443144.0
Standard Error (denom=n-2=33) 1230.98
MAPE (Mean Absolute Percent Error) 0.32


Gambar 3.24 Grafik Peramalan dengan Metode Nave

b. Metode Holt-Winters Multiplicative Algorithm

Gambar 3.25 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Holt-Winters Multiplicative Algorithm
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47
J
u
m
l
a
h

P
r
o
d
u
k

(
p
r
s
)

Bulan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 56

Gambar 3.26 Grafik Peramalan dengan
Metode Holt-Winters Multiplicative Algorithm

c. Metode Regresi Berganda
Peramalan dengan metode ini membutuhkan nilai total dari t,

, t .

dan

sehingga dapat
menemukan nilai-nilai

untuk menghitung forecast tahun


2014. Data historis yang akan digunakan untuk metode ini hanya
data terakhir tahun 2013 (n = 12). Berikut ini perhitungan
peramalan dengan metode regresi berganda secara detail.

Tabel 3.10 Perhitungan Dari Data Historis
t

t .


1 3522 1 3522 1 3522 1
2 3320 4 6640 8 13280 16
3 3388 9 10164 27 30492 81
4 2016 16 8064 64 32256 256
5 1924 25 9620 125 48100 625
6 1872 36 11232 216 67392 1296
7 3140 49 21980 343 153860 2401
8 2876 64 23008 512 184064 4096
9 2904 81 26136 729 235224 6561
10 1146 100 11460 1000 114600 10000
11 1008 121 11088 1331 121968 14641
12 1388 144 16656 1728 199872 20736
Total
78 28504 650 159570 6084 1204630 60710

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 57
Proses substitusi total diatas ke dalam persamaan dibawah ini.

n .


28504 12

+ 78

+ 650

.. (1)


159570 78

+ 650

+ 6084

.. (2)


1204630 = 650

+ 6084

+ 60710

. (3)

Proses eliminasi persamaan (1) dan persamaan (2) :
12

+ 78

+ 650

= 28504 [x6,5] 78

+ 507

+ 4225

= 185276
78

+ 650

+ 6084

= 159570 [x1] 78

+ 650

+ 6084

= 159570
- 143

- 1859

= 25706 (4)

Proses eliminasi persamaan (1) dan persamaan (3) :
12

+ 78

+ 650

= 33553 [x650] 7800

+ 50700

+ 422500

= 18527600
650

+ 6084

+ 60710

= 1322666 [x12] 7800

+ 73008

+ 728520

= 14455560
- 22308

- 306020

= 4072040 (5)

Proses eliminasi persamaan (4) dan persamaan (5) :
- 143

- 1859

= 38206,5 [x156] - 22308

- 290004

= 4010136
- 22308

- 306020

= 5937458 [x1] - 22308

- 306020

= 4072040
- 16016

= - 61904

= - 3,8651

Proses substitusi

= - 3,8651 ke dalam persamaan (4) :


- 143

- 1859

= 25706
- 143

- 1859 (- 3,8651) = 25706


- 143

+ 7185,2209 = 25706
- 143

= 18520,7791

= - 129,5159

Proses substitusi

= -3,8651 dan

= -129,5159 ke dalam pers. (1):


12

+ 78

+ 650

= 28504
12

+ 78 (- 129,5159) + 650 (- 3,8651) = 28504


12

10102,2402 - 2512,315 = 28504


12

= 41118,5552

= 3426,5463

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 58
Selanjutnya, proses proses terakhir yaitu mensubstitusikan nilai


= - 3,8651 dan

= -129,5159 serta

= 3426,5463 ke dalam model


regresi berganda untuk menentukan forecast pada masa yang akan
datang.
h (t,t
2
)

. t +

. t
2

h (t,t
2
) 3426,5463 129,5159 t - 3,8651 t
2


Model tersebut bisa digunakan untuk menghitung forecast bulan
Januari 2014 dengan cara mensubstitusikan t = 1 dan t
2
= 1. Secara
matematis perhitungan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
h (t,t
2
) = 3426,5463 129,5159 t - 3,8651 t
2

h (1,1) = 3426,5463 129,5159 (1) - 3,8651 (1)
h (1,1) = 3426,5463 129,5159 - 3,8651
h (1,1) = 3293,165 prs

Perhitungan untuk bulan-bulan berikutnya dilakukan dengan cara
yang sama seperti contoh diatas. Berikut ini nilai error yang
dihasilkan dari peramalan tersebut yang dibantu dengan software.

Tabel 3.11 Hasil Nilai Error Peramalan dengan
Metode Regresi Berganda
Measure Value
Bias (Mean Error) 0
MAD (Mean Absolute Deviation) 558.73
MSE (Mean Squared Error) 387379.3
Standard Error (denom=n-2=33) 681.8
MAPE (Mean Absolute Percent Error) 0.28


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 59

Gambar 3.27 Grafik Peramalan dengan
Metode Regresi Berganda

3.5 Analisa Dan Hasil
Peramalan suatu produk diharuskan menggunakan data penjualan
terdahulu. Peramalan untuk produk sarung tangan ini dilakukan selama 12
periode atau satu tahun. Perhitungan peramalan dilakukan dengan software.
Metode yang digunakan untuk masing-masing produk sarung tangan ada 3
macam sesuai pola data. Keakurasian hasil peramalan didasarkan parameter
kesalahan yang dihasilkan. Metode terbaik adalah metode yang memiliki nilai
error terkecil pada masing-masing parameter kesalahan.
Table 3.11 Rangkuman Perbandingan Parameter Kesalahan
Sarung
Tangan
Metode
Parameter Kesalahan
MAD MSE MAPE
Motor
Linier regression 225.98 71409.28 0.06
Exponential Smoothing with trend 280.97 110642.6 0.07
Moving Average with Linear Trend 174.86 61740.47 0.04
Sepeda
Nave 1201.66 2047133 0.63
Exponential smoothing 818.85 915276.3 0.43
Moving Average 836.34 965280.1 0.43
Golf
Nave 1464.2 3938135 0.3
Holt-Winter Multiplicative 199.0 63140.34 0.08
Regresi Berganda 160.73 128383.6 0.06
Pancing
Nave 896.12 1443144 0.32
Holt-Winter Multiplicative 387.43 192052.2 0.21
Regresi Berganda 558.73 387379.3 0.28

0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47
J
u
m
l
a
h

P
r
o
d
u
k

(
p
r
s
)

Bulan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 60
Berdasarkan perbandingan parameter kesalahan yang telah dilakukan
pada masing-masing metode untuk masing-masing sarung tangan maka
diperoleh metode moving average with linear trend adalah metode terbaik
untuk sarung tangan motor, mrtode exponential smoothing untuk sarung
tangan sepeda, metode regresi berganda untuk sarung tangan golf, dan metode
holt-winter multiplicative untuk sarung tangan pancing. Metode-metode
tersebut dipilih karena memiliki nilai kesalahan paling kecil jika dibandingkan
dengan metode lainnya.

Table 3.12 Demand Forecast Tahun 2014*
Tahun
2014
Sarung Tangan
Motor Sepeda Golf Pancing
Moving Average
with Linear Trend
Exponential
Smoothing
Regresi
Berganda
Holt-Winter
Multiplicative
Januari 5891 prs 2541 prs 4292 prs 3693 prs
Februari 5999 prs 2541 prs 4011 prs 3461 prs
Maret 6107 prs 2541 prs 3732 prs 3515 prs
April 6215 prs 2541 prs 3456 prs 2080 prs
Mei 6323 prs 2541 prs 3184 prs 1973 prs
Juni 6431 prs 2541 prs 2914 prs 1912 prs
Juli 6539 prs 2541 prs 2646 prs 3195 prs
Agustus 6647 prs 2541 prs 2382 prs 2918 prs
September 6755 prs 2541 prs 2121 prs 2936 prs
Oktober 6863 prs 2541 prs 1862 prs 1153 prs
November 6971 prs 2541 prs 1606 prs 1017 prs
Desember 7079 prs 2541 prs 1353 prs 1398 prs
*Data peramalan sudah dibulatkan keatas

Perhitungan demand forecast tersebut menggunakan software WinQSB kecuali
untuk metode regresi berganda dihitung secara manual dengan cara
mensubstitusikan nilai t sesuai periode yang ingin dihitung.





Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 61
BAB IV
PENGENDALIAN KUALITAS

4.1 Pendahuluan
4.1.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini perkembangan bisnis meningkat semakin ketat meskipun
berada dalam kondisi perekonomian yang cenderung tidak stabil. Hal
tersebut memberikan dampak terhadap persaingan bisnis yang semakin
tinggi dan tajam, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional.
Setiap usaha dalam persaingan tinggi dituntut untuk selalu berkompetisi
dengan perusahaan lain di dalam industri yang sejenis. Salah satu cara agar
bisa memenangkan kompetisi atau paling tidak dapat bertahan di dalam
kompetisi tersebut adalah dengan memberikan perhatian penuh terhadap
kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga bisa
mengungguli produk yang dihasilkan oleh pesaing. Permasalahan kualitas
telah mengarah pada taktik dan strategi perusahaan secara menyeluruh
dalam rangka untuk memiliki daya saing dan bertahan terhadap persaingan
global dengan produk perusahaan lain (La Hatani, 2007).
Kualitas suatu produk bukan suatu yang serba kebetulan (occur by
accident) (Suyadi Prawirosentono, 2007). Kualitas dapat diartikan sebagai
tingkat atau ukuran kesesuaian suatu produk dengan pemakainya, dalam
arti sempit kualitas diartikan sebagai tingkat kesesuaian produk dengan
standar yang telah ditetapkan (Juita Alisjahbana, 2005). Jadi, kualitas yang
baik akan dihasilkan dari proses yang baik dan sesuai dengan standar
kualitas yang telah ditentukan berdasarkan kebutuhan pasar. Kenyataan di
lapangan menunjukkan bahwa perusahaan yang sukses dan mampu bertahan
pasti memiliki program mengenai kualitas, karena melalui program kualitas
yang baik akan dapat secara efektif mengeliminasi pemborosan dan
meningkatkan kemampuan bersaing perusahaan.
Tujuan utama dari suatu perusahaan pada dasarnya adalah untuk
memperoleh laba yang optimal sesuai dengan pertumbuhan perusahaan

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 62
dalam jangka panjang. Namun disamping itu, tuntutan konsumen yang
senantiasa berubah menuntut perusahaan agar lebih fleksibel dalam
memenuhi tuntutan konsumen yang dalam hal ini berhubungan langsung
dengan seberapa baiknya kualitas produk yang diterima oleh konsumen. Hal
ini menyebabkan perusahaan harus dapat mempertahankan kualitas produk
yang dihasilkanya atau bahkan lebih baik lagi. Menghasilkan kualitas yang
terbaik diperlukan upaya perbaikan yang berkesinambungan (continuous
improvement) terhadap kemampuan produk, manusia, proses dan
lingkungan (La Hatani, 2007).
Kualitas dari produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan
ditentukan berdasarkan ukuran-ukuran dan karakteristik tertentu. Suatu
produk dikatakan berkualitas baik apabila dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan atau dapat diterima oleh pelanggan sebagai batas
spesifikasi, dan proses yang baik yang diberikan oleh produsen sebagai
batas kontrol. Barang yang kualitas atau prosesnya jelek menurut produsen
belum tentu ditolak oleh pelanggan, dan sebaliknya barang diluar batas
kontrol produsen, karena merupakan barang yang rusak atau cacat tetapi
oleh konsumen masih diterima. Sedangkan barang yang dikatakan baik oleh
produsen tetapi sudah ditolak oleh konsumen karena di luar batas spesifikasi
(Juita Alisjahbana,2005).
Produk yang berkualitas akan memberikan keuntungan bisnis bagi
produsen, dan tentunya juga dapat memberikan kepuasan bagi konsumen
dan menghindari banyaknya keluhan para pelanggan setelah menggunakan
produk yang dibelinya. Dengan memberikan perhatian pada kualitas akan
memberikan dampak yang positif kepada bisnis melalui dua cara yaitu
dampak terhadap biaya produksi dan dampak terhadap pendapatan
(Gaspersz, 2002 dalam Juita Alisjahbana,2005).
Dampak terhadap biaya produksi terjadi melalui proses pembuatan
produk yang memiliki derajat konformasi yang tinggi terhadap standar-
standar sehingga bebas dari tingkat kerusakan. Dampak terhadap
peningkatan pendapatan terjadi melalui peningkatan penjualan atas produk

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 63
berkualitas yang berharga kompetitif. Dengan memperhatikan aspek
kualitas produk, maka tujuan perusahaan untuk memperoleh laba yang
optimal dapat terpenuhi sekaligus dapat memenuhi tuntutan konsumen akan
produk yang berkualitas dan harga yang kompetitif. Namun, meskipun
proses produksi telah dilaksanakan dengan baik, pada kenyataannya
seringkali masih ditemukan ketidaksesuaian antara produk yang dihasilkan
dengan yang diharapkan, dimana kualitas produk yang dihasilkan tidak
sesuai dengan standar, atau dengan kata lain produk yang dihasilkan
mengalami kerusakan/ cacat produk. Hal tersebut disebabkan adanya
penyimpangan penyimpangan dari berbagai faktor, baik yang berasal dari
bahan baku, tenaga kerja maupun kinerja dari fasilitas-fasilitas mesin yang
digunakan dalam proses produksi tersebut. Agar supaya produk yang
dihasilkan tersebut mempunyai kualitas sesuai dengan standar yang
ditetapkan perusahaan dan sesuai dengan harapan konsumen, maka
perusahaan harus melakukan kegiatan yang berdampak pada kualitas yang
dihasilkan dan menghindari banyaknya produk yang rusak/cacat ikut terjual
ke pasar.
Salah satu aktifitas dalam menciptakan kualitas agar sesuai standar
adalah dengan menerapkan sistem pengendalian kualitas yang tepat,
mempunyai tujuan dan tahapan yang jelas, serta memberikan inovasi dalam
melakukan pencegahan dan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi
perusahaan. Kegiatan pengendalian kualitas dapat membantu perusahaan
mempertahankan dan meningkatkan kualitas produknya dengan melakukan
pengendalian terhadap tingkat kerusakan produk (product defect) sampai
pada tingkat kerusakan nol (zero defect).
Pengendalian kualitas penting untuk dilakukan oleh perusahaan agar
produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
perusahaan maupun standar yang telah ditetapkan oleh badan lokal dan
internasional yang mengelola tentang standarisasi mutu/ kualitas, dan
tentunya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Pengendalian
kualitas yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan dampak terhadap

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 64
kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Standar kualitas meliputi
bahan baku, proses produksi dan produk jadi (M.N. Nasution, 2005). Oleh
karenanya, kegiatan pengendalian kualitas tersebut dapat dilakukan mulai
dari bahan baku, selama proses produksi berlangsung sampai pada produk
akhir dan disesuaikan dengan standar yang tetapkan.
Banyak sekali metode yang mengatur atau membahas mengenai
kualitas dengan karakteristiknya masing-masing. Untuk mengukur seberapa
besar tingkat kerusakan produk yang dapat diterima oleh suatu perusahaan
dengan menentukan batas toleransi dari cacat produk yang dihasilkan
tersebut dapat menggunakan metode pengendalian kualitas dengan
menggunakan alat bantu statistik. Yaitu metode pengendalian kualitas yang
dalam aktifitasnya menggunakan alat bantu statistik yang terdapat pada
Statistical Process Control (SPC) serta Statistical Quality Control (SQC),
dimana proses produksi dikendalikan kualitasnya mulai dari awal produksi,
pada saat proses produksi berlangsung sampai dengan produk jadi. Sebelum
dilempar ke pasar, produk yang telah diproduksi diinspeksi terlebih dahulu,
dimana produk yang baik dipisahkan dengan yang jelek (reject), sehingga
produk yang dihasilkan jumlahnya berkurang.
Pengendalian kualitas dengan alat bantu statistik bermanfaat pula
mengawasi tingkat efisiensi. Jadi, dapat digunakan sebagai alat untuk
mencegah kerusakan dengan cara menolak (reject) dan menerima (accept)
berbagai produk yang dihasilkan mesin, sekaligus upaya efisiensi. Dengan
menolak (menerima) produk, berarti bisa juga sebagai alat untuk mengawasi
proses produksi sekaligus memperoleh gambaran kesimpulan tentang
spesifikasi produk yang dihasilkan secara populasi umum. Bila
gambarannya baik, berarti proses produksi dapat berlangsung terus karena
hasil produkya baik (Suyadi Prawirosentono, 2007).

4.1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 65
1. Bagaimana pelaksanaan pengendalian kualitas di CV. Sun Abadi Glove
dalam upaya menekan tingkat kerusakan produk (Misdruk)?
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan (Misdruk) pada
produk yang diproduksi oleh CV. Sun Abadi Glove?
3. Bagaimana penerapan alat bantu statistik dalam mengendalikan kualitas
produk CV. Sun Abadi Glove dan menekan terjadinya kerusakan
produk (Misdruk)?

4.1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis bagaimana pelaksanaan pengendalian kualitas di
CV. Sun Abadi Glove dalam upaya menekan tingkat kerusakan produk
(Misdruk).
2. Mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan
(Misdruk) pada produk yang diproduksi oleh CV. Sun Abadi Glove.
3. Untuk menganalisis bagaimana penerapan alat bantu statistik dalam
mengendalikan kualitas produk CV. Sun Abadi Glove dan menekan
terjadinya kerusakan produk (Misdruk).

4.1.4 Batasan Penelitian
CV. Sun Abadi Glove memproduksi beberapa macam sarung
tangan dengan ukuran yang berbeda. Namun dalam pembahasan laporan
ini kami membatasi pada :
1. Dari beberapa jenis sarung tangan yang diproduksi yaitu sarung tangan
motor, sarung tangan sepeda, sarung tangan golf, dan sarung tangan
pancing maka kami lebih memfokuskan pada sarung tangan golf sebagai
obyek pengamatan kami.
2. Terdapat 6 ukuran sarung tangan yang diproduksi CV. Sun Abadi Glove
antara lain ukuran S, M, L, O, JS, JM, dan JL. Tetapi, pada penelitian ini
kami hanya melakukan pengamatan pada ukuran L saja karena ukuran
tersebut paling sering diproduksi.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 66
3. Data masa lalu yang digunakan untuk perhitungan peramalan adalah data
bulanan selama 1 tahun terakhir.
4. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah seven tools.
5. Metode seven tools yang digunakan tidak seluruhnya dikarenakan ada
beberapa yang tidak bisa digunakan.

4.1.5 Asumsi yang Digunakan
Berdasarkan batasan penelitian diatas maka kami mengasumsikan
bahwa data dan metode yang digunakan dianggap cukup mewakili untuk
pengendalian kualitas pada CV. Sun Abadi Glove.






















Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 67
4.2 Metodologi Penelitian


























Gambar 4.1 Metodologi Penelitian



Study Pustaka Study Lapangan
Analisa dan
Pembahasan
Identifikasi
Permasalahan
Pengambilan Data
Selesai
Mulai
Penarikan
Kesimpulan


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 68
4.3 Studi Pustaka
4.3.1 Pengertian Kualitas
Pengertian atau definisi kualitas mempunyai cakupan yang sangat
luas, relatif, berbeda-beda dan berubah-ubah, sehingga definisi dari kualitas
memiliki banyak kriteria dan sangat bergantung pada konteksnya terutama
jika dilihat dari sisi penilaian akhir konsumen dan definisi yang diberikan
oleh berbagai ahli serta dari sudut pandang produsen sebagai pihak yang
menciptakan kualitas. Konsumen dan produsen itu berbeda dan akan
merasakan kualitas secara berbeda pula sesuai dengan standar kualitas yang
dimiliki masing-masing. Begitu pula para ahli dalam memberikan definisi
dari kualitas juga akan berbeda satu sama lain karena mereka
membentuknya dalam dimensi yang berbeda. Oleh karena itu definisi
kualitas dapat diartikan dari dua perspektif, yaitu dari sisi konsumen dan sisi
produsen. Namun pada dasarnya konsep dari kualitas sering dianggap
sebagai kesesuaian, keseluruhan ciri-ciri atau karakteristik suatu produk
yang diharapkan oleh konsumen.
Adapun pengertian kualitas menurut American Society For Quality
yang dikutip oleh Heizer & Render (2006:253): Quality is the totality of
features and characteristic of a product or service that bears on its ability to
satisfy stated or implied need. Artinya kualitas/mutu adalah keseluruhan
corak dan karakteristik dari produk atau jasa yang berkemampuan untuk
memenuhi kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi.
Kualitas yang baik menurut produsen adalah apabila produk yang
dihasilkan oleh perusahaan telah sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditentukan oleh perusahaan. Sedangkan kualitas yang jelek adalah apabila
produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi standar yang telah
ditentukan serta menghasilkan produk rusak. Namun demikian perusahaan
dalam menentukan spesifikasi produk juga harus memperhatikan keinginan
dari konsumen, sebab tanpa memperhatikan itu produk yang dihasilkan oleh
perusahaan tidak akan dapat bersaing dengan perusahaan lain yang lebih
memperhatikan kebutuhan konsumen. Kualitas yang baik menurut sudut

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 69
pandang konsumen adalah jika produk yang dibeli tersebut sesuai dengan
dengan keinginan, memiliki manfaat yang sesuai dengan kebutuhan dan
setara dengan pengorbanan yang dikeluarkan oleh konsumen. Apabila
kualitas produk tersebut tidak dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan
konsumen, maka mereka akan menganggapnya sebagai produk yang
berkualitas jelek.
Kualitas tidak bisa dipandang sebagai suatu ukuran sempit yaitu
kualitas produk semata-mata. Hal itu bisa dilihat dari beberapa pengertian
tersebut di atas, dimana kualitas tidak hanya kualitas produk saja akan tetapi
sangat kompleks karena melibatkan seluruh aspek dalam organisasi serta
diluar organisasi. Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang
diterima secara universal, namun dari beberapa definisi kualitas menurut
para ahli di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen
sebagai berikut (M. N. Nasution, 2005:3):
a. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
b. Kualitas mencakup produk, tenaga kerja, proses dan lingkungan.
c. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang
dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang
berkualitas pada masa mendatang).

Sifat khas mutu/ kualitas suatu produk yang andal harus
multidimensi karena harus memberi kepuasan dan nilai manfaat yang besar
bagi konsumen dengan melalui berbagai cara. Oleh karena itu, sebaiknya
setiap produk harus mempunyai ukuran yang mudah dihitung (misalnya,
berat, isi, luas) agar mudah dicari konsumen sesuai dengan kebutuhannya.
Di samping itu harus ada ukuran yang bersifat kualitatif, seperti warna yang
unik dan bentuk yang menarik. Jadi, terdapat spesifikasi barang untuk setiap
produk, walaupun satu sama lain sangat bervariasi tingkat spesifikasinya.
Secara umum, dimensi kualitas menurut Garvin (dalam Gazperz, 1997:3)
sebagaimana ditulis oleh M. N. Nasution (2005: 4-5) dan Douglas C.
Montgomery (2001:2) dalam bukunya, mengidentifikasikan delapan dimensi

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 70
kualitas yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik kualitas
barang, yaitu sebagai berikut:
1. Performa (performance)
Berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan
karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin
membeli suatu produk.
2. Keistimewaan (features)
Merupakan aspek kedua dari performansi yang menambah fungsi dasar,
berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya.
3. Keandalan (reliability)
Berkaitan dengan kemungkinan suatu produk melaksanakan fungsinya
secara berhasil dalam periode waktu tertentu di bawah kondisi tertentu.
4. Konformasi (conformance)
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang
telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan.
5. Daya tahan (durability)
Merupakan ukuran masa pakai suatu produk. Karakteristik ini berkaitan
dengan daya tahan dari produk itu.
6. Kemampuan Pelayanan (serviceability)
Merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, keramahan/
kesopanan, kompetensi, kemudahan serta akurasi dalam perbaikan.
7. Estetika (esthetics)
Merupakan karakteristik yang bersifat subjektif sehingga berkaitan
dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan
individual.
8. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality)
Bersifat subjektif, berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam
mengkonsumsi produk tersebut.




Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 71
4.3.2 Pengendalian Kualitas
Dengan semakin banyaknya perusahaan yang berkembang di
Indonesia dewasa ini, maka bagi manajemen, kualitas produk menjadi lebih
penting dari sebelumnya. Persaingan yang sangat ketat menjadikan
pengusaha semakin menyadari pentingnya kualitas produk agar dapat
bersaing dan mendapat pangsa pasar yang lebih besar. Perusahaan
membutuhkan suatu cara yang dapat mewujudkan terciptanya kualitas yang
baik pada produk yang dihasilkannya serta menjaga konsistensinya agar
tetap sesuai dengan tuntutan pasar yaitu dengan menerapkan sistem
pengendalian kualitas (quality control) atas aktivitas proses yang dijalani.
Dalam menjalankan aktivitas, pengendalian kualitas merupakan
salah satu teknik yang perlu dilakukan mulai dari sebelum proses produksi
berjalan, pada saat proses produksi, hingga proses produksi berakhir dengan
menghasilkan produk akhir. Pengendalian kualitas dilakukan agar dapat
menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang sesuai dengan standar
yang diinginkan dan direncanakan, serta memperbaiki kualitas produk yang
belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan sedapat mungkin
mempertahankan kualitas yang telah sesuai.

4.3.3 Pengertian Pengendalian Kualitas
Menurut Sofjan Assauri (1998:25), pengendalian dan pengawasan
adalah: Kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar kegiatan produksi
dan operasi yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan dan
apabila terjadi penyimpangan, maka penyimpangan tersebut dapat dikoreksi
sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai.
Sedangkan menurut Vincent Gasperz (2005:480), pengendalian
adalah: Control can mean an evaluation to indicate needed corrective
responses, the act guilding, or the state of process in which the variability is
atribute to a constant system of chance couses. Jadi pengendalian dapat di
artikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk memantau aktivitas dan
memastikan kinerja sebenarnya yang dilakukan telah sesuai dengan yang

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 72
direncanakan. Selanjutnya pengertian pengendalian kualitas dalam arti
menyeluruh adalah sebagai berikut : Pengertian pengendalian kualitas
menurut Sofjan Assauri (1998:210) adalah : Pengawasan mutu merupakan
usaha untuk mempertahankan mutu/ kualitas dari barang yang dihasilkan,
agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan
kebijaksanaan pimpinan perusahaan. Menurut Vincent Gasperz (2005:480),
pengendalian kualitas adalah: Quality control is the operational techniques
and activities used to fulfill requirements for quality.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa pengendalian kualitas adalah suatu teknik dan aktivitas/ tindakan
yang terencana yang dilakukan untuk mencapai, mempertahankan dan
meingkatkan kualitas suatu produk dan jasa agar sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan dan dapat memenuhi kepuasan konsumen.

4.3.4 Tujuan Pengendalian Kualitas
Tujuan dari pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri
(1998:210) adalah:
1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang telah
ditetapkan.
2. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
3. Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses dengan
menggunakan kualitas produksi tertentu dapat menjadi sekecil
mungkin.
4. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.
Tujuan utama pengendalian kualitas adalah untuk mendapatkan
jaminan bahwa kualitas produk atau jasa yang dihasilkan sesuai dengan
standar kualitas yang telah ditetapkan dengan mengeluarkan biaya yang
ekonomis atau serendah mungkin.
Pengendalian kualitas tidak dapat dilepaskan dari pengendalian
produksi, karena pengendalian kualitas merupakan bagian dari pengendalian
produksi. Pengendalian produksi baik secara kualitas maupun kuantitas

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 73
merupakan kegiatan yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Hal ini
disebabkan karena semua kegiatan produksi yang dilaksanakan akan
dikendalikan, supaya barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan, dimana penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
diusahakan serendah-rendahnya.
Pengendalian kualitas juga menjamin barang atau jasa yang
dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan seperti halnya pada pengendalian
produksi. Dengan demikian antara pengendalian produksi dan pengendalian
kualitas erat kaitannya dalam pembuatan barang.

4.3.5 Faktor-faktor Pengendalian Kualitas
Menurut Douglas C. Montgomery (2001:26) dan berdasarkan
beberapa literatur lain menyebutkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi pengendalian kualitas yang dilakukan perusahaan adalah:
1. Kemampuan proses
Batas-batas yang ingin dicapai haruslah disesuaikan dengan
kemampuan proses yang ada. Tidak ada gunanya mengendalikan suatu
proses dalam batas-batas yang melebihi kemampuan atau kesanggupan
proses yang ada.
2. Spesifikasi yang berlaku
Spesifikasi hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku,
bila ditinjau dari segi kemampuan proses dan keinginan atau kebutuhan
konsumen yang ingin dicapai dari hasil produksi tersebut. Dalam hal ini
haruslah dapat dipastikan dahulu apakah spesifikasi tersebut dapat
berlaku dari kedua segi yang telah disebutkan di atas sebelum
pengendalian kualitas pada proses dapat dimulai.
3. Tingkat ketidaksesuaian yang dapat diterima
Tujuan dilakukan pengendalian suatu proses adalah dapat
mengurangi produk yang berada di bawah standar seminimal mungkin.
Tingkat pengendalian yang diberlakukan tergantung pada banyaknya
produk yang berada di bawah standar yang dapat diterima.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 74
4. Biaya kualitas
Biaya kualitas sangat mempengaruhi tingkat pengendalian kualitas
dalam menghasilkan produk dimana biaya kualitas mempunyai
hubungan yang positif dengan terciptanya produk yang berkualitas.
a. Biaya Pencegahan (Prevention Cost)
Biaya ini merupakan biaya yang terjadi untuk mencegah terjadinya
kerusakan produk yang dihasilkan.
b. Biaya Deteksi/ Penilaian (Detection/ Appraisal Cost)
Adalah biaya yang timbul untuk menentukan apakah produk atau
jasa yang dihasilkan telah sesuai dengan persyaratan-persyaratan
kualitas sehingga dapat menghindari kesalahan dan kerusakan
sepanjang proses produksi.
c. Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)
Merupakan biaya yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan
persyaratan dan terdeteksi sebelum barang atau jasa tersebut dikirim
ke pihak luar (pelanggan atau konsumen).
d. Biaya Kegagalan Eksternal (Eksternal Failure Cost)
Merupakan biaya yang terjadi karena produk atau jasa tidak sesuai
dengan persyaratan-persyaratan yang diketahui setelah produk
tersebut dikirimkan kepada para pelanggan atau konsumen.

4.3.6 Langkah-langkah Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas harus dilakukan melaului proses yang terus-
menerus dan berkesinambungan. Proses pengendalian kualitas tersebut
dapat dilakukan salah satunya dengan melalui penerapan PDCA (plan do
check action) yang diperkenalkan oleh Dr. W. Edwards Deming, seorang
pakar kualitas ternama berkebangsaan Amerika Serikat, sehingga siklus ini
disebut siklus deming (Deming Cycle/ Deming Wheel).
Siklus PDCA umumnya digunakan untuk mengetes dan
mengimplementasikan perubahan-perubahan untuk memperbaiki kinerja
produk, proses atau suatu sistem di masa yang akan datang.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 75









Gambar 4.2 Siklus PDCA
Sumber : Richard B. Chase, Nicholas J. Aquilano and F. Robert Jacobs, 2001

Penjelasan dari tahap-tahap dalam siklus PDCA adalah sebagai
berikut (M. N. Nasution, 2005:32):
1. Mengembangkan rencana (Plan)
Merencanakan spesifikasi, menetapkan spesifikasi atau standar kualitas
yang baik, memberi pengertian kepada bawahan akan pentingnya
kualitas produk, pengendalian kualitas dilakukan secara terus-menerus
dan berkesinambungan.
2. Melaksanakan rencana (Do)
Rencana yang telah disusun diimplementasikan secara bertahap, mulai
dari skala kecil dan pembagian tugas secara merata sesuai dengan
kapasitas dan kemampuan dari setiap personil. Selama dalam
melaksanakan rencana harus dilakukan pengendalian, yaitu
mengupayakan agar seluruh rencana dilaksanakan dengan sebaik
mungkin agar sasaran dapat tercapai.
3. Memeriksa atau meneliti hasil yang dicapai (Check)
Memeriksa atau meneliti merujuk pada penetapan apakah
pelaksanaannya berada dalam jalur, sesuai dengan rencana dan
memantau kemajuan perbaikan yang direncanakan. Membandingkan
kualitas hasil produksi dengan standar yang telah ditetapkan,

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 76
berdasarkan penelitian diperoleh data kegagalan dan kemudian ditelaah
penyebab kegagalannya.
4. Melakukan tindakan penyesuaian bila diperlukan (Action)
Penyesuaian dilakukan bila dianggap perlu, yang didasarkan hasil
analisis di atas. Penyesuaian berkaitan dengan standarisasi prosedur baru
guna menghindari timbulnya kembali masalah yang sama atau
menetapkan sasaran baru bagi perbaikan berikutnya.
Untuk melaksanakan pengendalian kualitas, terlebih dahulu perlu
dipahami beberapa langkah dalam melaksanakan pengendalian kualitas.
Menurut Roger G. Schroeder (2007:173) untuk mengimplementasikan
perencanaan, pengendalian dan pengembangan kualitas diperlukan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Mendefinisikan karakteristik (atribut) kualitas.
2. Menentukan bagaimana cara mengukur setiap karakteistik.
3. Menetapkan standar kualitas.
4. Menetapkan program inspeksi.
5. Mencari dan memperbaiki penyebab kualitas yang rendah.
6. Terus-menerus melakukan perbaikan.

4.3.7 Tahapan Pengendalian Kualitas
Untuk memperoleh hasil pengendalian kualitas yang efektif, maka
pengendalian terhadap kualitas suatu produk dapat dilaksanakan dengan
menggunakan teknik-teknik pengendalian kualitas, karena tidak semua hasil
produksi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Menurut Suyadi
Prawirosentono (2007;72), terdapat beberapa standar kualitas yang bisa
ditentukan oleh perusahaan dalam upaya menjaga output barang hasil
produksi diantaranya:
1. Standar kualitas bahan baku yang akan digunakan.
2. Standar kualitas proses produksi (mesin dan tenaga kerja yang
melaksanakannya).
3. Standar kualitas barang setengah jadi.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 77
4. Standar kualitas barang jadi.
5. Standar administrasi, pengepakan dan pengiriman produk akhir tersebut
sampai ke tangan konsumen.
Dikarenakan kegiatan pengendalian kualitas sangatlah luas, untuk itu
semua pengaruh terhadap kualitas harus dimasukkan dan diperhatikan.
Secara umum menurut Suyadi Prawirosentono (2007;74), pengendalian atau
pengawasan akan kualitas di suatu perusahaan manufaktur dilakukan secara
bertahap meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Pemeriksaan dan pengawasan kualitas bahan mentah (bahan baku, bahan
baku penolong dan sebagainya), kualitas bahan dalam proses dan
kualitas produk jadi. Demikian pula standar jumlah dan komposisinya.
2. Pemeriksaan atas produk sebagai hasil proses pembuatan. Hal ini
berlaku untuk barang setengah jadi maupun barang jadi. Pemeriksaan
yang dilakukan tersebut memberi gambaran apakah proses produksi
berjalan seperti yang telah ditetapkan atau tidak.
3. Pemeriksaan cara pengepakan dan pengiriman barang ke konsumen.
Melakukan analisis fakta untuk mengetahui penyimpangan yang
mungkin terjadi.
4. Mesin, tenaga kerja dan fasilitas lainnya yang dipakai dalam proses
produksi harus juga diawasi sesuai dengan standar kebutuhan. Apabila
terjadi penyimpangan, harus segera dilakukan koreksi agar produk yang
dihasilkan memenuhi standar yang direncanakan.
Sedangkan Sofjan Assauri (1998:210) menyatakan bahwa tahapan
pengendalian/ pengawasan kualitas terdiri dari 2 (dua) tingkatan antara lain:
1. Pengawasan selama pengolahan (proses)
Yaitu dengan mengambil contoh atau sampel produk pada jarak
waktu yang sama, dan dilanjutkan dengan pengecekan statistik untuk
melihat apakah proses dimulai dengan baik atau tidak. Apabila mulainya
salah, maka keterangan kesalahan ini dapat diteruskan kepada pelaksana
semula untuk penyesuaian kembali. Pengawasan yang dilakukan hanya
terhadap sebagian dari proses, mungkin tidak ada artinya bila tidak

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 78
diikuti dengan pengawasan pada bagian lain. Pengawasan terhadap
proses ini termasuk pengawasan atas bahan-bahan yang akan digunakan
untuk proses.
2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan
Walaupun telah diadakan pengawasan kualitas dalam tingkat-
tingkat proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil
yang rusak atau kurang baik ataupun tercampur dengan hasil yang baik.
Untuk menjaga supaya hasil barang yang cukup baik atau paling sedikit
rusaknya, tidak keluar atau lolos dari pabrik sampai ke konsumen/
pembeli, maka diperlukan adanya pengawasan atas produk akhir.

4.3.8 Alat Bantu Dalam Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas secara statistik dengan menggunakan SPC
(Statistical Process Control) dan SQC (Statistical Quality Control),
mempunyai 7(tujuh) alat statistik utama yang dapat digunakan sebagai alat
bantu untuk mengendalikan kualitas sebagaimana disebutkan juga oleh
Heizer dan Render dalam bukunya Manajemen Operasi (2006:263-268),
antara lain yaitu; check sheet, histogram, control chart, diagram pareto,
diagram sebab akibat, scatter diagram dan diagam proses.

Gambar 4.3 Alat Bantu Pengendalian Kualitas

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 79
4.3.8.1 Lembar Pemeriksaan (Check Sheet)
Check Sheet atau lembar pemeriksaan merupakan alat pengumpul
dan penganalisis data yang disajikan dalam bentuk tabel yang berisi data
jumlah barang yang diproduksi dan jenis ketidaksesuaian beserta dengan
jumlah yang dihasilkannya.
Tujuan digunakannya check sheet ini adalah untuk mempermudah
proses pengumpulan data dan analisis, serta untuk mengetahui area
permasalahan berdasarkan frekuensi dari jenis atau penyebab dan
mengambil keputusan untuk melakukan perbaikan atau tidak.
Pelaksanaannya dilakukan dengan cara mencatat frekuensi munculnya
karakteristik suatu produk yang berkenaan dengan kualitasnya. Data
tersebut digunakan sebagai dasar untuk mengadakan analisis masalah
kualitas. Adapun manfaat dipergunakannya check sheet yaitu sebagai alat
untuk:
1. Mempermudah pengumpulan data terutama untuk mengetahui
bagaimana suatu masalah terjadi.
2. Mengumpulkan data tentang jenis masalah yang sedang terjadi.
3. Menyusun data secara otomatis sehingga lebih mudah untuk
dikumpulkan.
4. Memisahkan antara opini dan fakta.

4.3.8.2 Diagram Sebar (Scatter Diagram)
Scatter diagram atau disebut juga dengan peta korelasi adalah
grafik yang menampilkan hubungan antara dua variabel apakah hubungan
antara dua variabel tersebut kuat atau tidak yaitu antara faktor proses yang
mempengaruhi proses dengan kualitas produk. Pada dasarnya diagram
sebar merupakan suatu alat interpretasi data yang digunakan untuk
menguji bagaimana kuatnya hubungan antara dua variabel dan
menentukan jenis hubungan dari dua variabel tersebut, apakah positif,
negatif, atau tidak ada hubungan. Dua variabel yang ditunjukkan dalam

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 80
diagram sebar dapat berupa karakteristik kuat dan faktor yang
mempengaruhinya.

4.3.8.3 Diagram Sebab-akibat (Cause and Effect Diagram)
Diagram ini disebut juga diagram tulang ikan (fishbone chart) dan
berguna untuk memperlihatkan faktor-faktor utama yang berpengaruh
pada kualitas dan mempunyai akibat pada masalah yang kita pelajari.
Selain itu kita juga dapat melihat faktor-faktor yang lebih terperinci yang
berpengaruh dan mempunyai akibat pada faktor utama tersebut yang dapat
kita lihat dari panah-panah yang berbentuk tulang ikan pada diagram
fishbone tersebut.
Diagram sebab akibat ini pertama kali dikembangkan pada tahun
1950 oleh seorang pakar kualitas dari Jepang yaitu Dr. Kaoru Ishikawa
yang menggunakan uraian grafis dari unsur-unsur proses untuk
menganalisa sumber-sumber potensial dari penyimpangan proses. Faktor-
faktor penyebab utama ini dapat dikelompokkan dalam :
1) Material / bahan baku.
2) Machine / mesin
3) Man / tenaga kerja
4) Method / metode
5) Environment / lingkungan

Adapun kegunaan dari diagram sebab akibat adalah:
1) Membantu mengidentifikasi akar penyebab masalah.
2) Menganalisa kondisi yang sebenarnya yang bertujuan untuk
memperbaiki peningkatan kualitas.
3) Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah.
4) Membantu dalam pencarian fakta lebih lanjut.
5) Mengurangi kondisi-kondisi yang menyebabkan ketidaksesuaian
produk dengan keluhan konsumen.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 81
6) Menentukan standarisasi dari operasi yang sedang berjalan atau yang
akan dilaksanakan.
7) Sarana pengambilan keputusan dalam menentukan pelatihan tenaga
kerja.
8) Merencanakan tindakan perbaikan.

Langkah-langkah dalam membuat diagram sebab akibat adalah
sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi masalah utama.
2. Menempatkan masalah utama tersebut disebelah kanan diagram.
3. Mengidentifikasi penyebab minor dan meletakannya pada diagram
utama.
4. Mengidentifikasi penyebab minor dan meletakannya pada penyebab
mayor.
5. Diagram telah selesai, kemudian dilakukan evaluasi untuk
menentukan penyebab sesungguhnya.

4.3.8.4 Diagram Pareto (Pareto Analysis)
Diagram pareto pertama kali diperkenalkan oleh Alfredo Pareto
dan digunakan pertama kali oleh Joseph Juran. Diagram pareto adalah
grafik balok dan grafik baris yang menggambarkan perbandingan masing-
masing jenis data terhadap keseluruhan. Dengan memakai diagram Pareto,
dapat terlihat masalah mana yang dominan sehingga dapat mengetahui
prioritas penyelesaian masalah.
Fungsi diagram pareto adalah untuk mengidentifikasi atau
menyeleksi masalah utama untuk peningkatan kualitas dari yang paling
besar ke yang paling kecil. Kegunaan diagram pareto adalah :
1. Menunjukkan masalah utama.
2. Menyatakan perbandingan masing-masing persoalan terhadap
keseluruhan.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 82
3. Menunjukkan tingkat perbaikan setelah tindakan perbaikan pada
daerah yang terbatas.
4. Menunjukkan perbandingan masing-masing persoalan sebelum dan
setelah perbaikan.
Diagram Pareto digunakan untuk mengidentifikasikan beberapa
permasalahan yang penting, untuk mencari cacat yang terbesar dan yang
paling berpengaruh. Pencarian cacat terbesar atau cacat yang paling
berpengaruh dapat berguna untuk mencari beberapa wakil dari cacat yang
teridentifikasi, kemudian dapat digunakan untuk membuat diagram sebab
akibat. Hal ini perlu untuk dilakukan mengingat sangat sulit untuk mencari
penyebab dari semua cacat yang teridentifikasi. Apabila semua cacat
dianalisis untuk dicari penyebabnya maka hal tersebut hanya akan
menghabiskan waktu dan biaya dengan sia-sia.

4.3.8.5 Diagram Alir/ Diagram Proses (Process Flow Chart)
Diagram Alir secara grafis menyajikan sebuah proses atau sistem
dengan menggunakan kotak dan garis yang saling berhubungan. Diagram
ini cukup sederhana, tetapi merupakan alat yang sangat baik untuk
mencoba memahami sebuah proses atau menjelaskan langkah-langkah
sebuah proses. Diagram Alir dipergunakan sebagai alat analisis untuk:
1. Mengumpulkan data mengimplementasikan data juga merupakan
ringkasan visual dari data itu sehingga memudahkan dalam
pemahaman.
2. Menunjukkan output dari suatu proses.
3. Menunjukkan apa yang sedang terjadi dalam situasi tertentu sepanjang
waktu.
4. Menunjukkan kecenderungan dari data sepanjang waktu.
5. Membandingkan dari data periode yang satu dengan periode lain, juga
memeriksa perubahan-perubahan yang terjadi.



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 83
4.3.8.6 Histogram
Histogram adalah suatu alat yang membantu untuk menentukan
variasi dalam proses. Berbentuk diagram batang yang menunjukkan
tabulasi dari data yang diatur berdasarkan ukurannya. Tabulasi data ini
umumnya dikenal sebagai distribusi frekuensi. Histogram menunjukkan
karakteristik-karakteristik dari data yang dibagi-bagi menjadi kelas-kelas.
Histogram dapat berbentuk normal atau berbentuk seperti lonceng yang
menunjukkan bahwa banyak data yang terdapat pada nilai rata-ratanya.
Bentuk histogram yang miring atau tidak simetris menunjukkan bahwa
banyak data yang tidak berada pada nilai rata-ratanya tetapi kebanyakan
datanya berada pada batas atas atau bawah. Manfaat histogram adalah:
Memberikan gambaran populasi.
Memperlihatkan variabel dalam susunan data.
Mengembangkan pengelompokkan yang logis.
Pola-pola variasi mengungkapkan fakta-fakta produk tentang proses.

4.3.8.7 Peta Kendali (Control Chart)
Peta kendali adalah suatu alat yang secara grafis digunakan
untuk memonitor dan mengevaluasi apakah suatu aktivitas/ proses
berada dalam pengendalian kualitas secara statistika atau tidak
sehingga dapat memecahkan masalah dan menghasilkan perbaikan
kualitas. Peta kendali menunjukkan adanya perubahan data dari waktu
ke waktu, tetapi tidak menunjukkan penyebab penyimpangan
meskipun penyimpangan itu akan terlihat pada peta kendali. Manafaat
dari peta kendali adalah untuk:
1. Memberikan informasi apakah suatu proses produksi masih berada
di dalam batas-batas kendali kualitas atau tidak terkendali.
2. Memantau proses produksi secara terus- menerus agar tetap stabil.
3. Menentukan kemampuan proses (capability process).
4. Mengevaluasi performance pelaksanaan dan kebijaksanaan
pelaksanaan proses produksi.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 84
5. Membantu menentukan kriteria batas penerimaan kualitas produk
sebelum dipasarkan.
Peta kendali digunakan untuk membantu mendeteksi adanya
penyimpangan dengan cara menetapkan batas-batas kendali:
1) Upper control limit / batas kendali atas (UCL)
Merupakan garis batas atas untuk suatu penyimpangan yang masih
diijinkan.
2) Central line/ garis pusat atau tengah (CL)
Merupakan garis yang melambangkan tidak adanya penyimpangan
dari karakteristik sampel.
3) Lower control limit / batas kendali bawah (LCL)
Merupakan garis batas bawah untuk suatu penyimpangan dari
karakteristik sampel. Terdapat 2 kondisi yang dapat terjadi pada
saat berada dalam proses yaitu:
Proses Terkendali
Suatu proses dapat dikatakan terkendali (process control)
apabila pola-pola alami dari nilai-nilai variasi yang diplot pada
peta kendali memiliki pola:
1. Terdapat 2 atau 3 titik yang dekat dengan garis pusat.
2. Sedikit titik-titik yang dekat dengan batas kendali.
3. Titik-titik terletak bolak-balik di antara garis pusat.
4. Jumlah titik-titik pada kedua sisi dari garis pusat seimbang.
5. Tidak ada yang melewati batas-batas kendali.
Proses Tidak Terkendali
Beberapa titik pada peta kendali yang membentuk grafik,
memiliki berbagai macam bentuk yang dapat memberitahukan
kapan proses dalam keadaan tidak terkendali dan perlu
dilakukan perbaikan. Perlu diperhatikan, bahwa adanya
kemungkinan titik-titik tersebut dapat menjadi penyebab
terjadinya penyimpangan pada proses berikutnya.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 85
1. Deret. Apabila terdapat 7 titik berturut-turut pada peta
kendali yang selalu berada di atas atau di bawah garis
tengah secara berurutan.
2. Kecenderungan. Bila dari 7 titik berturut-turut cenderung
menuju ke atas atau ke bawah garis tengah atau membentuk
sekumpulan titik yang membentuk garis yang naik atau
turun.
3. Perulangan. Dari sekumpulan titik terdapat titik yang
menunjukkan pola yang hampir sama dalam selang waktu
yang sama.
4. Terjepit dalam batas kendali. Apabila dari sekelompok titik
terdapat beberapa titik pada peta kendali cenderung selalu
jatuh dekat garis tengah. atau batas kendali atas maupun
bawah (CL/Central Line, UCL/Upper Control Limit,
LCL/Lower Control Limit).
5. Pelompatan. Apabila beberapa titik yang jatuh dekat batas
kendali tertentu secara tiba-tiba titik selanjutnya jatuh di
dekat batas kendali yang lain.














Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 86
4.4 Pengumpulan dan Pengolahan data
4.4.1 Pengumpulan data
Data yang diperoleh yaitu data reject sarung tangan golf pada tahun
2013, datanya sebagai berikut :
Tabel 4.1 Data Reject Sarung Tangan Golf Pada Tahun 2013
No. Bulan
Produksi
Sarung
Tangan Golf
( Prs )
Jenis Misdruk (Reject)
Total
Misdruk
(Reject)
Presentase
Reject
(%)
Jarum
tertinggal
jahitan
tidak
rapi
sarung
tangan
kisut
1 Januari 4.210 10 67 21 98
2,33
2 Februari
4.090
5 20 10 35
0,86
3 Maret 3.758 8 28 7 43
1,14
4 April
3.554
3 31 13 47
1,32
5 Mei
3.106
7 41 25 73
2,35
6 Juni 2.882 6 20 5 31
1,08
7 Juli
2.530
2 33 12 47
1,86
8 Agustus 2.400 3 15 8 26
1,08
9 September
2.226
1 5 1 7
0,31
10 Oktober
1.885
3 8 4 15
0,80
11 Nopember 1.552 3 7 5 15
0,97
12 Desember
1.360
2 10 4 16
1,18
Total 33.553 53 285 115 453

4.4.2 Pengolahan Data
4.4.2.1 Check Sheet
Dalam melakukan pengendalian kualitas secara statistik, langkah
pertama yang akan dilakukan adalah membuat check sheet. Check sheet
berguna untuk mempermudah proses pengumpulan data serta analisis.
Selain itu pula berguna untuk mengetahui area permasalahan berdasarkan
frekuensi dari jenis atau penyebab dan mengambil keputusan untuk
melakukan perbaikan atau tidak.





Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 87
Tabel 4.2 Check Sheet Reject Sarung Tangan Golf Pada Tahun 2013
No. Bulan
Produksi
Sarung
Tangan Golf
( Prs )
Jenis Misdruk (Reject)
Total
Misdruk
(Reject)
Presentase
Reject
(%)
Jarum
tertinggal
jahitan
tidak
rapi
sarung
tangan
kisut
1 Januari 4.210 10 67 21 98
2,33
2 Februari
4.090
5 20 10 35
0,86
3 Maret 3.758 8 28 7 43
1,14
4 April
3.554
3 31 13 47
1,32
5 Mei
3.106
7 41 25 73
2,35
6 Juni 2.882 6 20 5 31
1,08
7 Juli
2.530
2 33 12 47
1,86
8 Agustus 2.400 3 15 8 26
1,08
9 September
2.226
1 5 1 7
0,31
10 Oktober
1.885
3 8 4 15
0,80
11 Nopember
1.552
3 7 5 15
0,97
12 Desember
1.360
2 10 4 16
1,18
Total 33.553 53 285 115 453

4.4.2.2 Histogram
Kemudian untuk memudahkan dalam melihat lebih jelas misdruk
yang terjadi sesuai dengan tabel diatas, maka langkah selanjutnya adalah
membuat histogram. Data produk reject tersebut disajikan dalam bentuk
grafik balok yang dibagi berdasarkan bulan dan jumlah rejectnya masing-
masing.

Gambar 4.4 Histogram Reject Sarung Tangan Golf Tahun 2013
0
50
100
150
200
250
300
Jarum tertinggal jahitan tidak rapi sarung tangan kisut
J
u
m
l
a
h

M
i
s
d
r
u
k

Jenis Misdruk
Misdruk Sarung Tangan Golf

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 88
4.4.2.3 Analisa dengan menggunakan Peta Kendali p
1. Menghitung Prosentase Kerusakan
p =



Keterangan : np = Jumlah gagal dalam subgroup.
N = Jumlah yang diproduksi dalam subgroup
Subgroup = bulan ke-
Maka perhitungannya sebagai berikut :
Subgroup 1 : p =

= 0,023
Subgroup 2 : p =

= 0,009
Subgroup 3 : p =

= 0,011
Subgroup 4 : p =

= 0,013
Subgroup 5 : p =

= 0,024
Subgroup 6 : p =

= 0,011
Subgroup 7 : p =

= 0,019
Subgroup 8 : p =

= 0,011
Subgroup 9 : p =

= 0,003
Subgroup 10 : p =

= 0,008
Subgroup 11 : p =

= 0,0097
Subgroup 12 : p =

= 0,012

2. Menghitung Garis Pusat (Central Line)
Garis pusat yang merupakan rata-rata kerusakan produk ( p ).
CL = p =


Maka perhitungannya adalah :
CL = p =

= 0,014

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 89
3. Menghitung batas kendali atas atau upper control limit (UCL)
Untuk menghitung batas kendali atas atau UCL dilakukan dengan rumus :

= + 3


Keterangan = = rata-rata ketidak sesuaian produk
n = jumlah produksi

maka perhitungannya sebagai berikut :
Subgroup 1 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 2 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 3 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 4 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 5 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 6 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 7 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 8 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 9 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 10 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 11 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020
Subgroup 12 : UCL = 0,014 + 3

= 0,020



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 90
4. Menghitung Batas Kendali Bawah Atau Lower Control Line (LCL)
Untuk menghitung batas kendali atas atau UCL dilakukan dengan rumus :

= - 3


Keterangan = = rata-rata ketidak sesuaian produk
n = jumlah produksi

maka perhitungannya sebagai berikut :
Subgroup 1 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 2 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 3 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 4 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 5 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 6 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 7 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 8 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 9 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 10 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 11 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009
Subgroup 12 : LCL = 0,014 - 3

= 0,009



Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 91
Table 4.3 Perhitungan Batas Kendali
No. Bulan
Jumlah
Seluruh
produksi
( Prs )
Jumlah
reject sarung
tangan golf
( Prs )
Proporsi
Reject
(p)
CL UCL LCL
1 Januari 1560
98
0,023 0,014 0,020 0,009
2 Februari 1340
35
0,009 0,014 0,020 0,009
3 Maret 1468
43
0,011 0,014 0,020 0,009
4 April 2150
47
0,013 0,014 0,020 0,009
5 Mei 2652
73
0,024 0,014 0,020 0,009
6 Juni 1320
31
0,011 0,014 0,020 0,009
7 Juli 2305
47
0,019 0,014 0,020 0,009
8 Agustus 1108
26
0,011 0,014 0,020 0,009
9 September 2549
7
0,003 0,014 0,020 0,009
10 Oktober 1552
15
0,008 0,014 0,020 0,009
11 Nopember 1885
15
0,0097 0,014 0,020 0,009
12 Desember 1360
16
0,012 0,014 0,020 0,009
Total 21249 453

Dari table 4.3 maka dapat di buat peta kendali p yaitu sebagai berikut :

Gambar 4.5 Peta Kendali Proporsi Reject Tahun 2013
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
P
r
o
p
o
r
s
i

p chart misdruk
Proporsi Reject (p)
CL
UCL
LCL

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 92
4.4.2.4 Diagram Alir/ Diagram Proses (Process Flow Chart)
Diagram Alir secara grafis menyajikan sebuah proses atau sistem
dengan menggunakan kotak dan garis yang saling berhubungan. Diagram
ini cukup sederhana, tetapi merupakan alat yang sangat baik untuk
mencoba memahami sebuah proses atau menjelaskan langkah-langkah
sebuah proses. Diagram Alir pada CV. Sun Abadi Glove adalah sebagai
berikut :














Gambar 4.6 Aliran Proses Produksi CV. Sun Abadi Glove

4.4.2.5 Diagram Pareto
Diagram pareto adalah diagram yang digunakan untuk mengidentifikasi,
mengurutkan dan bekerja untuk menyisihkan kerusakan produk (misdruk) secara
permanen. Dengan diagram ini, maka dapat diketahui jenis misdruk yang paling
dominan pada hasil produksi selama tahun 2013.
Pada tabel 4.2 dapat dilihat jenis-jenis misdruk yang sering terjadi pada
produk Sarung Tangan Golf. Jenis-jenis misdruk tersebut terjadi pada saat proses
produksi sedang berlangsung dan langsung terdeteksi, sehingga bisa direject atau
MATERIAL
PROSES CUTING
(PEMOTONGAN)
PROSES GLUEING
(PENGELEMAN)
PROSES
PENJAHITAN
PROSES
INSPEKSI 1
PROSES
PENGUAPAN
PROSES
PEMBALIKAN
PROSES
INSPEKSI 2
PACKING

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 93
dipisahkan dari produk yang baik agar tidak sampai ke tangan konsumen. Berikut
ini merupakan tabel dari jumlah misdruk selama tahun 2013 :
Tabel 4.4
Jumlah Jenis Produk Misdruk Tahun 2013
No Jenis Misdruk Jumlah
1 Jarum Tertinggal 53
2 Jahitan Tidak Rapi 285
3 Sarung Tangan Kisut 115
Total 453
Langkah selanjutnya yaitu data pada tabel 4.4 harus diurutkan berdasarkan
jumlah misdruk, mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil dan dibuat
persentase kumulatifnya. Persentase kumulatif berguna untuk menyatakan berapa
perbedaan yang ada dalam frekuensi kejadian diantara beberapa permasalahan
yang dominan.
Tabel 4.5 Jumlah Frekuensi Misdruk (Berdasarkan Urutan Jumlah) Pada
Tahun 2013
No Jenis Misdruk Jumlah Presentase
Presentase
Komulatif
1 Jahitan Tidak Rapi 285 62,9% 62,9%
2 Sarung Tangan Kisut 115 25,4% 88,3%
3 Jarum Tertinggal 53 11,7% 100%
Total 453 100%
Berdasarkan data diatas maka dapat disusun sebuah diagram pareto seperti
terlihat pada gambar berikut :


Gambar 4.7 Diagram Pareto Misdruk Tahun 2013
62.91390728
88.30022075
100
0
20
40
60
80
100
120
Jahitan Tidak
Rapi
Sarung Tangan
Kisut
Jarum
Tertinggal
Presentase
Presentase Komulatif

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 94
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa kerusakan (misdruk) yang
terjadi pada produksi Sarung Tangan Golf pada tahun 2013 didominasi oleh jenis
misdruk yaitu karena Jahitan Tidak Rapi dengan persentase 62,9.
Jadi perbaikan dapat dilakukan dengan memfokuskan pada jenis misdruk
terbesar yaitu karena jahitan tidak rapi. Hal ini dikarenakan jenis misdruk tersebut
mendominasi dari total kerusakan (misdruk) yang terjadi pada Sarung Tangan
Golf pada tahun 2013.

4.4.2.6 Diagram Tebar (Scatter Diagram)
Scatter diagram atau disebut juga dengan peta korelasi adalah grafik yang
menampilkan hubungan antara dua variabel apakah hubungan antara dua variabel
tersebut kuat atau tidak yaitu antara faktor proses yang mempengaruhi proses
dengan kualitas produk. Pada dasarnya diagram sebar merupakan suatu alat
interpretasi data yang digunakan untuk menguji bagaimana kuatnya hubungan
antara dua variabel dan menentukan jenis hubungan dari dua variabel tersebut,
apakah positif, negatif, atau tidak ada hubungan.
Pada perusahaan yang saya amati diagram scatter yang menghubungkan
yaitu antara jumlah produksi sarung tangan golf pada tahun 2013 dengan jumlah
misdruk sarung tangan golf pada tahun 2013, hasilnya sebagai berikut :

Gambar 4.8 Hasil Diagram Tebar
Dari hasil diagram sebar dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi
(hubungan) antara jumlah produksi dengan jumlah misdruk akan tetapi juga bisa
terdapat factor lain yang mempengaruhi.
0
20
40
60
80
100
120
0 2000 4000 6000
Total Misdruk
(Reject)

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 95
4.4.2.7 Diagram Sebab Akibat (Fishbone Chart)
Diagram sebab akibat memperlihatkan hubungan antara permasalahan
yang dihadapi dengan kemungkinan penyebabnya serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi
penyebab kerusakan produk secara umum dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Man (manusia)
Para pekerja yang melakukan pekerjaan yang terlibat dalam proses
produksi.
2. Material (bahan baku)
Segala sesuatu yang dipergunakan oleh perusahaan sebagai komponen
produk yang akan diproduksi tersebut, terdiri dari bahan baku utama
dan bahan baku pembantu.
3. Machine (mesin)
Mesin-mesin dan berbagai peralatan yang digunakan dalam proses
produksi.
4. Methode (metode)
Instruksi kerja atau perintah kerja yang harus diikuti dalam proses
produksi.
5. Environment (lingkungan)
Keadaan sekitar perusahaan yang secara langsung atau tidak langsung
mempengaruhi perusahaan secara umum dan mempengaruhi proses
produksi secara khusus. Setelah diketahui misdruk yang terjadi, maka
CV. Sun Abadi Glove perlu mengambil langkah-langkah perbaikan
untuk mencegah timbulnya kerusakan yang serupa. Hal penting yang
harus dilakukan dan ditelusuri adalah mencari penyebab timbulnya
kerusakan tersebut. Sebagai alat bantu untuk mencari penyebab
terjadinya misdruk tersebut, digunakan diagram sebab akibat atau yang
disebut fishbone chart. Adapun penggunaan diagram sebab akibat
untuk menelusuri jenis misdruk yang sering terjadi adalah sebagai
berikut :


Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 96
kebisingan
Jenis benang
yang digunakan
Terburu-
buru
Udara
panas
Macet karena
kurang
pelumas
Warna
pudar





















Gambar 4.8 Diagram Sebab Akibat Misdruk Sarung Tangan Golf


4.5 Analisa dan hasil
Berdasarkan hasil check sheet yang sudah ada dan peta kendali p
diatas dapat dilihat bahwa data yang diperoleh tidak seluruhnya berada
dalam batas kendali yang telah ditetapkan yang keluar dari batas kendali,
hanya 8 (delapan) titik yang berada didalam batas kendali, sehingga bisa
dikatakan bahwa proses terkendali. Akan tetapi dalam diagram pareto
terdapat jenis misdruk yang harus diperbaiki dikarenakan sering terjadi
Mesin
Manusia
Material
Lingkungan
Jahitan
Tidak Rapi
Kurang
terampil teledor
Settingan
mesin

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 97
misdruk di jenis tersebut. Hal tersebut menyatakan bahwa pengendalian
kualitas di CV. Sun Abadi Glove memerlukan adanya perbaikan. Karena
adanya titik berfluktuasi sangat tinggi dan tidak beraturan yang
menunjukkan bahwa proses produksi masih mengalami penyimpangan.
Kemudian pada hasil diagram sebab akibat (fish bone) dari gambar
tersebut faktor-faktor penyebab terjadinya reject (misdruk) yaitu :
1. Manusia
a. Terburu-burunya karyawan dalam pengerjaan pembuatan dapat
membuat produk termaksud produk misdruk.
b. Karyawan teledor dalam menggunakan mesin, dan tidak mengecek
keadaan mesin.
c. Kurangnya keterampilan sehingga membuat produk sarung tangan
menjadi misdruk.
2. Material
a. Jenis benang yang digunakan kurang berjualitas sehingga produk
mengalami misdruk.
b. Warna yang pudar dikarenakan penyimpanan bahan baku yang
terlalu lama atau kurang terjaga.
3. Mesin
a. Settingan mesin yang tidak sesuai sehingga produk tidak sesuai
standard.
b. Kurangnya pelumas sehingg mesin jahit menjadi macet.
4. Lingkungan
a. Kebisingan yang mengurangi fokus operator dalam menjalankan
mesin.
b. Suhu udara yang panas dapat merubah mood karyawan sehingga
sering terjadi kecerobohan karena kurangnya kenyamanan.




Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 98
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan dan hasil analisa data pada CV. Sun Abadi
Glove maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Pola data historis penjualan menunjukkan bahwa sarung tangan motor
membentuk pola trend dan sarung tangan sepeda membentuk pola
stasioner. Sedangkan sarung tangan golf dan sarung tangan pancing
membentuk pola musiman.
2. Perbandingan parameter kesalahan yang telah dilakukan pada masing-
masing metode untuk masing-masing sarung tangan menunjukkan bahwa
metode moving average with linear trend adalah metode terbaik untuk
sarung tangan motor, mrtode exponential smoothing untuk sarung tangan
sepeda, metode regresi berganda untuk sarung tangan golf, dan metode
holt-winter multiplicative untuk sarung tangan pancing.
3. Hasil peramalan permintaan sarung tangan motor CV. Sun Abadi Glove
pada bulan Januari 2014 adalah sebanyak 5891 prs, Februari sebanyak
5999 prs, dan seterusnya. Peramalan permintaan sarung tangan sepeda
pada tahun 2014 adalah sebanyak 2541 prs karena stasioner. Peramalan
permintaan sarung tangan golf pada bulan Januari 2014 adalah sebanyak
4292 prs, Februari sebanyak 4011 prs, dan seterusnya. Sedangkan
peramalan permintaan sarung tangan pancing pada bulan Januari 2014
adalah sebanyak 3693 prs, Februari sebanyak 3461 prs, dan seterusnya.
4. Berdasarkan data produksi yang diperoleh dari CV. Sun Abadi Glove
diketahui jumlah reject (misdruk) pada tahun 2013 adalah sebesar 453 prs.
Rata-rata misdruk dalam setiap produksi adalah sebesar 2,0 %. Nilai ini
apabila dibandingkan dengan target misdruk perusahaan dalam setiap kali
kegiatan produksi sebesar 4 % masih dibawah toleransi yang sudah
ditetapkan perusahaan, meskipun dalam beberapa kali produksi sempat
terjadi misdruk yang melebihi target 4 % dari jumlah produksi.

Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 99
5. Dari analisis diagram sebab akibat dapat diketahui faktor penyebab
kerusakan atau misdruk dalam produksi yaitu berasal dari faktor manusia/
pekerja, mesin produksi, material/ bahan baku dan lingkungan kerja.
6. Penggunaan alat bantu statistik dengan peta kendali p dalam pengendalian
kualitas produk dapat mengidentifikasikan bahwa ternyata kualitas produk
berada di luar batas kendali yang seharusnya, meskipun jika berdasarkan
data produksi jumlah misdruk yang terjadi sebagian besar memenuhi
target dibawah 4 %. Hal tersebut seperti yang ditunjukkan pada grafik
kontrol yang memperlihatkan bahwasanya titik berfluktuasi sangat tinggi
dan tidak beraturan, serta banyak terdapat titik yang keluar dari batas
kendali yang mengindikasikan bahwa proses berada dalam keadaan tidak
terkendali atau masih mengalami penyimpangan.

5.2 Saran
Dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan beberapa saran
kepada CV. Sun Abadi Glove sebagai masukan untuk perkembangan usaha di
masa yang akan datang, antara lain :
1. Menerapkan ilmu-ilmu manajemen yang ada agar perusahaan lebih
terkontrol dalam hal apapun sehingga produktivitas perusahaan meningkat.
2. Meningkatkan kualitas produk dan memperluas daerah pemasaran
sehingga dapat meningkatkan penjualan.











Laporan Kerja Praktek
Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya 100
DAFTAR PUSTAKA

Arman Hakim Nasution Ir., M.Eng. 1999. Perencanaan dan Pengendalian
Persediaan. Jakarta : PT. Candimas Metropole.
Dwi Santoso, Ketut, dkk. 2004. Laporan Kerja Praktek Di PT. Lotus Indah
Textile Industries. Surabaya : ITATS
Sritomo Wigjosoebroto. 1993. Pengantar Teknik Industri Edisi Pertama Jilid
1. Jakarta : PT. Guna Widya.
http://eprints.uns.ac.id/3256/1/65391706200901011.pdf
http://eprints.undip.ac.id/23023/1/Skripsi_Full_Version.pdf