Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas merupakan
1.2 Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan diversitas gen, diversitas spesies, dan
diversitas ekosistem?
2. Bagaimana pengaruh keanekaragaman genetik terhadap keanekaragaman
spesies?
3. Bagaimana keanekaragaman spesies membentuk kestabilan pada
keanekaragaman ekosistem?
1.3 Tujuan
1. Mendefinsikan diversitas gen, diversitas spesies, dan diversitas ekosistem.
2. Memahami pengaruh keanekaragaman genetik terhadap keanekaragaman
spesies.
3. Memahami pengaruh keanekaragaman spesies terhadap kestabilan
keanekaragaman ekosistem.















BAB II
DASAR TEORI

Keanekaragaman hayati (biodiversity) adalah atribut (ciri) suatu area yang
menyangkutkeragaman di dalam dan di antara organisme hidup, kumpulan
organisme, komunitas biotik dan proses biotik, yang masih bersifat alamiah
maupun yang sudah diubah oleh manusia. Keanekaragaman hayati dapat diukur
dari level genetik beserta identitasnya, jumlah spesies, kumpilan spesies,
komunitas biotik, proses biotik dan jumlah (seperti kelimpahan, biomasa,
penutupan, dan laju) serta struktur dari level-level tersebut (DeLong, 1996)
Gaston dan Spicer (1998) membagi keanekaragaman hayati menjadi tiga
tingkatan yang diacu hingga sekarang. Tiga tingkatan tersebut menurut skala
organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies, ekosistem, dan proses-proses
ekologi di mana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Istilah ini juga
diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem
atau bioma tertentu.
Adanya keanekaragaman hayati dan pola distribusinya merupakan hasil dari
proses evolusi selama miliaran tahun. Asal muasal kehidupan belum diketahui
secara pasti dalam sains. Hingga sekitar 600 juta tahun yang lalu, kehidupan di
bumi hanya berupa archaea, bakteri, protozoa, dan organisme uniseluler lainnya
sebelum organisme multiseluler muncul dan menyebabkan ledakan
keanekaragaman hayati yang begitu cepat, namun secara periodik pada waktu
tertentu juga terjadi kepunahan secara besar-besaran akibat aktivitas bumi, iklim,
dan luar angkasa (Leksono, 2011).
Sebuah ekosistem terbentuk melalui suksesi yang berlangsung melalui
banyak peristiwa yang sangat kompleks. Organisme perintis ekosistem
mengupayakan sumber daya yang ada di suatu tempat dan memanfaatkaannya
dengan baik sehingga organisme dapat melakukan aktivitas biologisnya. Ketika
organisme perintis sudah berhasil menciptakan produktivitas di ekosistem tersebut
seiring berjalannya waktu akan semakin banyak organisme lain yang bergabung
dalam suksesi, melakukan interaksi dengan anggota ekosistem yang sudah ada
dan melanjutkan perkembangan suksesi ekosistem. Perkembangan akan terus
terjadi sehingga semakin banyak spesies yang menjadi anggota ekosistem dan
interaksi yang terjadi semakin kompleks (Odum, 1993).
Keanekaragaman hayati sering kali digunakan sebagai ukuran kesehatan
sistem biologis. Semakin tinggi tingkat keanekaragaman hayati suatu area
semakin tinggi tingkat kesehatan area tersebut. Hal ini disebabkan semakin tinggi
keanekaragaman hayati semakin kompleks proses ekologis yang terjadi sehingga
semakin tinggi tingkat stabilitasnya (Leksono, 2011).

BAB III
PEMBAHASAN

Biodiversitas atau keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman dari
bermacam-macam tingkatan berdasarkan interaksi terbagi menjadi tiga tingkatan
dimulai dari tingkat terendah adalah diversitas atau keanekaragaman gen,
keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman ekosistem. Keanekaragaman
genetik membentuk keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman spesies dapat
tersebar keberbagai macam ekosistem yang beraneka ragam sehingga
menciptakan keanekaragaman ekosistem yang memiliki cirikhas. Setiap individu
dari berbagai spesies berinteraksi dengan lingkungannya, memanfaatkan sumber
daya yang ada dan memberi feedback pada lingkungan sehingga tebentuk sebuah
keseimbangan alam.
Keanekaragaman genetik dalam biodiversitas memiliki peran yang sangat
besar karena posisinya berada pada tingkatan paling dasar dari biodiversitas.
Keanekaragaman genetik dapat dilihat dari adanya variasi kromosomal atau lebih
mudah terlihat dari adanya variasi morfologi. Variasi-variasi yang ada saat ini
merupakan hasil dari suatu proses evolusi yang panjang. Umumnya variasi ini
berbeda-beda pada setiap lokasi geografis sehingga dapat dikelompokkan dalam
variasi geografis, dan jika variasi ini sangat spesifik maka dapat digolongkan
menjadi sebuah spesies, seperti perbedaan genetik antara kucing angora dan
kucing biasa.

1.Gambar Kucing Anggora 2.Gambar Kucing Hutan

Gen merupakan kode pembawa sifat yang menentukan sifat morfologis
organisme. Sifat ini diturunkan dari suatu organisme pada keturunannya.
Penurunan sifat ini terjadi pada saat proses pembentukan sel-sel gamet, yang
dalam pembentukannya menghasilkan gamet yang bervariasi. Variasi selanjutnya
akan tampak pada individu yang baru dalam bentuk karakter,warna kulit, rambut,
dan ciri lainnya. Perbedaan yang tampak dapat diamati dan dapat diekspresikan
ini disebut dengan fenotip. Perbedaan perbedaan yang tampak pada spesies
tersebut tisak murni keturunan dari satu macam induk, tetapi juga bisa dari proses
perkawinan silang seperti perkawinan silang pada bunga anggrek Vanda Tricolor
yang banyak terdapat di lereng gunung merapi dengan Vanda limbata yang
terdapat di Nusa Tenggara.

3.Vanda Tricolor 4.Vanda Limbata 5.Setelah Persilangan

Variasi morfologi terhadap suatu spesies bersifat sangat spesifik. Salah
satunya variasi yang terbentuk karena memiliki variasi geografis, sebagai contoh
manusia dengan karakter orang wilayah barat dan wilayah timur berbeda
sifatnya.Variasi-varisai ini akan berkembang sesuai dengan gen dan
lingkungannya, ketika ada ketidak-cocokan morfologi atau variasi suatu gen akan
mengalami proses mutasi, mutasi adalah suatu proses perubahan struktur
kromosom atau gen karena faktor eksternal.
Mutasi selalu terjadi di alam, mutasi sangat mempengaruhi keanekaragaman
spesies di suatu ekosistem untuk mereka bertahan hidup. Mutasi yang terjadi
berdasarkan genetiknya terbagi menjadi dua yaitu dominan dan mutasi resesif.
Mutasi dominan memperlihatkan pengaruh pada kondisi heterozigot dan mutasi
resesif adalah mutasi yang terjadi pada organisme diploid (misalnya manusia)dan
tidak diketahui dalam keadaan heterozigot, kecuali resesif pautan seks. Beberapa
mutasi yang terjadi seperti Anemia Sel sabit, Pada penyakit ini terlihat bahwa
homozigot-homozigot resesif mengandung sel-sel darah abnormal yang pada
kondisi tertentu misalnya tekanan oksigen rendah maka sel darah ini akan
kehilangan bentuknya yang normal dan berubah menjadi bentuk sabit.

6. Perbandingan antara sel darah normal dan yang termutasi
Spesies atau jenis memiliki pengertian individu yang mempunyai persamaan
secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan
sesamanya (inter hibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil untuk
melanjutkan generasinya. Keanekaragaman hayati tingkat jenis adalah
keanekaragaman hayati yang menunjukkan seluruh variasi yang terdapat pada
makhluk hidup antar jenis. Contoh keanekaragaman tingkat jenis adalah dalam
keluarga kacang-kacangan, kacang tanah, kacang buncis, kacang hijau, kacang
kapri, dan lain-lain. Di antara jenis kacang-kacangan tersebut walaupun
ditemukan ciri khas yang sama, akan tetapi ukuran tubuh atau batang, kebiasaan
hidup, bentuk buah dan biji, serta rasanya berbeda. Adanya keanekaragaman
tingkat spesies ini tidak lain disebabkan karena adanya keanekaragaman tingkat
genetik yang memunculkan spesiasi-spesiasi dari perkembangan gen-gen yang
ada dalam populasi spesies.
Interaksi spesies terjadi dalam suatu ekosistem yang berbeda sesuai dengan
habitatnya. Interaksi antar speies juga terjadi baik sesama spesies maupun antar
spesies yang berbeda. Interaksi ini saling menguntungkan (mutualisme), saling
merugikan (kompetisi) , satu merasa untung dan yang satu dirugikan (Predasi) ,
satu diuntungkan dan yang satu tidak rugi dan tidak untung (komensalisme) , satu
merasa dirugikan dan yang satu tidak merasa untung maupun rugi (Amensalisme)
serta tidak terjadi keuntungan dan kerugian diantara keduanya (Netralisme).
Ekosistem adalah hubungan atau interaksi timbal balik antara makhluk
hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup
dengan lingkungannya. Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem adalah
keanekaragaman hayati yang menunjukan seluruh variasi interaksi antara makhluk
hidup dan interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.
Jadi, antara makhluk hidup dengan lingkungannya akan terjadi interaksi yang
dinamis. Perbedaan kondisi komponen abiotik (tidak hidup) pada suatu daerah
menyebabkan jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat beradaptasi dengan
lingkungan tersebut berbeda-beda. Akibatnya, permukaan bumi dengan variasi
kondisi komponen abiotik yang tinggi akan menghasilkan keanekaragaman
ekosistem. Macam-macam ekosistem antara lain ekosistem hutan hujan tropis,
hutan gugur, padang rumput, padang lumut, gurun pasir, sawah, ladang, air tawar,
air payau, laut, dan lain-lain. Suatu perubahan yang terjadi pada komponen-
komponen ekosistem ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan (homeostatis)
ekosistem tersebut. Sebagai suatu sistem, di dalam setiap ekosistem akan terjadi
proses yang saling terkait. Misalnya, pengambilan makanan, perpindahan energi
atau energetika, daur zat atau materi, dan produktivitas atau hasil keseluruhan
ekosistem.
Spesies-spesies yang terbentuk dari hasil adanya keanekaragaman genetik
bergabung dalam sebuah ekosistem dan melakukan interaksi. Dalam ekosistem
interaksi yang terjadi umumnya selalu bolak-balik sehingga setiap aktivitas
spesies akan mempengaruhi spesies lain dan komponen abiotik dalam ekosistem.
Spesies yang sangat banyak dalam ekosistem menciptakan banyak interaksi.
Kekompleksan interaksi yang terjadi inilah yang mengakibatkan sebuah
kestabilan pada ekosistem. Hal ini terjadi karena dalam ekosistem yang kompleks,
jika satu atau dua interaksi terganggu, tidak akan mempengaruhi garis besar
ekosistem yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan atau bisa mencapai tak
terhingga macam interaksi yang terjadi.


BAB IV
KESIMPULAN

Dari makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
Diversitas gen adalah tingkatan terendah dari bidoiversitas yang mencakup
keanekaragaman organisme tingkat genetik.
Diversitas spesies adalah tingkatan biodiversitas di atas diversitas gen
yang mencakup keanekaragaman hayati tingkat spesies.
Diversitas ekosistem adalah tingkat tertinggi dari biodiversitas yang
mencakup seluruh organisme beserta habitatnya dan interaksi yang terjadi
di dalamnya.
Diversitas genetik melalui adanya mutasi genetik, seleksi alam,
perkawinan sedarah, isolasi geografis, menyebabkan terjadinya spesiasi
sehingga diversitas spesies terbentuk.
Diversitas spesies dalam sebuah ekosistem menciptakan interaksi yang
kompleks antara faktor biotik dan abiotik sehingga kestabilan ekosistem
kuat karena susunan ekosistem yang kompleks tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

DeLong, D. C. 1996. Defining Biodiversity. Widl. Soc. Bull. 24 : 738 749.
Gaston, K. J. & J. I. Spicer. 1998. Biodiversity : an Introduction. Blackwell
Science, Oxford ; Malden, MA, USA.
Odum, E. P., 1997. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM Press.
Leksono, A. S. 2011. Keanekaragaman Hayati. Malang : UB Press.