Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. JUDUL PRAKTIKUM
Produksi Biogas dari Limbah Industri

B. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mahasiswa mengetahui sumber limbah industri yag potensial sebagai
bahan baku produksi biogas.
2. Mahasiswa memahami proses dan desain produksi biogas dari limbah
industri
3. Mahasiswa mampu menghitung nilai tambah dari produksi biogas.

C. MANFAAT PRAKTIKUM
1. Dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pengolahan limbah
industri pertanian.
2. Dapat melakukan upaya hemat energi dengan menggunakan biogas.

BAB II
DASAR TEORI
Biogas adalah gas yang dihasilkan dari limbah rumah tangga, kotoran
hewan, kotoran manusia, sampah organik dan sebagainya, yang mengalami proses
penguraian atau fermentasi oleh mikroorganisme. Proses anaerobik adalah proses
yang terjadi karena aktivitas mikroorganisme pada saat tidak terdapat oksigen
bebas (Wagiman, 2014).
Biogas merupakan gas yang dihasilkan sebagai produk sampingan
fermentasi anaerobik atau gasifikasi. Sebagian negara mulai secara serius
menggarap biogas sebagai sumber energi bersih potensial. India dan Cina
merupakan contoh negara yang sudah berinvestasi secara ekstensif dalam
teknologi biogas untuk menyediakan bahan bakar bagi warga mereka. Bahan baku
dasar untuk biogas adalah bahan organik seperti sisa makanan dan kotoran yang
disimpan dalam kondisi anaerob. Tempat penyimpanan bisa berupa tangki
penyimpanan yang tidak berventilasi hingga perangkat yang dirancang khusus
untuk menghasilkan gas. Perangkat untuk menghasilkan biogas (metana) dikenal
sebagai biogas digester atau anaerobic digester. Kondisi tanpa udara ini akan
menarik bakteri anaerob, yang mulai menguraikan bahan organik tersebut dan
menghasilkan metana serta karbon dioksida sebagai produk sampingan. Gas lain
yang bisa dihasilkan meliputi hidrogen, nitrogen, dan karbon monoksida yang
diperoleh melalui gasifikasi biomassa seperti kayu atau sekam padi. Gas yang
diproduksi melalui fermentasi anaerob atau gasifikasi memiliki sifat mudah
terbakar sekaligus memiliki bau menyengat (Anonim,2014).
Prinsip terjadinya biogas adalah fermentasi anaerob bahan organik yang
dilakukan oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas yang mudah terbakar
(flammable). Secara kimia, reaksi yang terjadi pada pembuatan biogas cukup
rumit, meliputi tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik
(Simamora dkk, 2009).
Pengolahan limbah cairan isi rumen dan kotoran sapi dapat dilakukan
dengan cara fermentasi anaerob (tanpa kehadiran oksigen), merupakan salah satu
alternatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Kelompok bakteri
merupakan jenis mikroba yang jumlahnya paling banyak terdapat di dalam rumen.
Salah satu dari jenis bakteri yang hidup dalam rumen tersebut adalah bakteri
metanogenik, yang merombak zat organik menjadi gas metana (Ihsan dkk,2013).
Ada beberapa cara untuk memproses biomassa menjadi material padat,
car, atau gas sebagai sumber energi alternatif. Salah satunya adalah pembakaran,
transformasi termokimia melalui karbonisasi, pencairan atau proses pengubahan
menjadi gas, transformasi fisik-kimia dengan pemampatan, ekstraksi,
transesterifikasi, dan transformasi biokimia melalui fermentasi dengan alkohol
secara aerobik maupun anaerobik (Deublein and Angelika, 2011).
Peralatan yang digunakan untuk memproduksi biogas cukup sederhana,
berupa alat kedap udara yang terdiri dari bagian bagian pokok seperti bagian
pencerna (di-gester), lubang pemasukan bahan baku, lubang pengeluaran lumpur
sisa pencernaan (slurry), dan pipa penyalur biogas yang terbentuk (Hambali dkk,
2008).


BAB III
METODOLOGI PRKTIKUM
A. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Girigen
2. Selang
3. Gelas ukur
b. Bahan
1. Malam
2. Limbah industri tempe
B. Prosedur Praktikum
Prosedur Hasil
1. Menyiapkan limbah cair dan
starter


2. Mengukur pH limbah cair


3. Memasukkan limbah cair
(jika perlu encerkan terlebih
dahulu) kedalam girigen
(20L) sampai volume 7,1L.



4. Menambahkan starter
sebanyak 0,9 L.


5. Menyusun instalasi produksi
Limbah cair yang digunakan
yaitu limbah cair industri tempe
dengan starter buah alpukat dan
kubis busuk.
pH limbah sebesar


Limbah sebanyak 7,1 L dalam
girigen





Starter yang telah dihancurkan
dimasukkan kedalam girigen
sebanyak 0,9 L

Instalasi produksi biogas siap



biogas


6. Melakukan penamatan secara
periodik dan menentukan
kapasitas mulai muncul,
kemudian produksi biogas
selama 7 hari dicatat sejak
kemunculan gas pertama
kali.



7. Melakukan analisis:
menghitung laju produksi
biogas, jumlah biogas yang
dihasilkan, menghitung
besarnya energi yang
dihasilkan, dan melakukan
analisis potensi ekonominya.
digunakan.


Pengamatan dilakukan selama
4 minggu dilakukan setiap hari
setiap pukul 10.40






Hasil analisa dilaporkan
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Pembuatan Biogas. Dalam : http://www.amazine.co/26428/apa-
itu-biogas-proses-pembentukan-kegunaannya. Diakses pada 16 Maret
2014 pukul 17.18.
Deublein, Dieter and Angelika Steinhausser. 2011. Biogas from Waste and
Renewable Resources. Willey VCH. Weinheim.
Hambali, Erliza.2008. Teknologi Bioenergi. Jakarta : Agromedia Pustaka.
Ihsanm Arsul dkk. 2013. Produksi Biogas Menggunakan Isi Rumen Sapi dengan
Limbah Cair Tempe. FMIPA Universitas Tadulako. Dalam Jurnal :
Online Journal for Natural Science , Vol 2 (2) 27-35.
Simamora, Suhut dkk. 2009. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis : Membuat
Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak.
Yogyakarta : Kanisius.
Wagiman. 2014. Modul Praktikum Pengendalian Limbah Industri. Yogyakarta :
Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Tabel Hasil Pengamatan Biogas
Tabel 1. Hasil Pengamatan Laju Biogas
No Tanggal
Volume
Pengukuran
(ml)
Perubahan
Volume (ml)
1 17-Mar-14 22 0
2 18-Mar-14 34 12
3 19-Mar-14 39 17
4 20-Mar-14 46 24
5 21-Mar-14 47 25
6 22-Mar-14 47 25
7 23-Mar-14 47 25
8 24-Mar-14 49 27
9 25-Mar-14 49 27
10 26-Mar-14 49 27
11 27-Mar-14 49 27
12 28-Mar-14 50 28
13 29-Mar-14 51 29
14 30-Mar-14 51 29
15 31-Mar-14 52 30
16 1-Apr-14 53 31
17 2-Apr-14 53 31
18 3-Apr-14 53 31
19 4-Apr-14 53 31
20 5-Apr-14 53 31
21 6-Apr-14 54 32
22 7-Apr-14 55 33
23 8-Apr-14 55 33
24 9-Apr-14 56 34
25 10-Apr-14 57 35
26 11-Apr-14 57 35
27 12-Apr-14 57 35
28 13-Apr-14 57 35



2. Grafik Laju Biogas


Gambar 1. Grafik Laju Biogas

B. Pembahasan
Biogas adalah gas yang dihasilkan dari perombakan/penguraian
bahan organic oleh bakteri. Penguraian ini terjadi diruang yang kedap
udara atau tanpa udara, jadi prosesnya terjadi secara anaerobic. Biogas
merupakan gas yang mudah terbakar (flamable) yang dihasilkan dari
proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob.
Bahan organic yang bisa dijadikan biogas misalnya daun-daunan,
kotoran hewan ternak (sapi, kambing, ayam) atau bahan organic mudah
hancur. Gas yang banyak dihasilkan dari penguraian bahan organic adalah
gas metan dan gas karbondioksida. Tetapi gas yang hanya bisa dipakai
sebagai sumber energi adalah gas metan (rumus kimianya CH4).
Biogas antara lain terdiri dari : Metana sebesar 60%,
karbondioksida 38%, dan 2%nya O2, H2, N2 dan H2S. Biogas ini dapat
terbakar seperti gas elpiji, bahkan dalam skala besar bisa digunakan
sebagai pembangkit tenaga listrik.
Prinsip utama proses pembentukan biogas adalah pengumpulan
limbah dan starter ke dalam tangki plastik/pralon yang kedap udara, yang
0
5
10
15
20
25
30
35
40
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516171819202122232425262728
V
o
l
u
m
e

(
m
l
)

Pengamatan Ke-
Grafik Laju Biogas
Volume Gas
disebut dengan tanki digester. Di dalamnya limbah tersebut akan dicerna
dan difermentasi oleh bakteri-bakteri seperti disebutkan di atas. Gas yang
dihasilkan akan tertampung dalam digester. Terjadinya penumpukan
produksi gas akan menimbulkan tekanan sehingga dari tekanan tersebut
dapat disalurkan melalui pipa yang dipergunakan untuk keperluan bahan
bakar atau pembangkit listrik.
Beberapa bahan yang dapat terurai secara organik dapat digunakan
sebagai input prosesing biodigester. Namun, alasan teknis dan ekonomis,
beberapa bahan lebih dikehendaki sebagai input daripada bahan lainnya.
Jika input mahal atau perlu dibeli, kemudian keuntungan ekonomis luaran
seperti gas dan slurry akan rendah. Sebaliknya, jika limbah yang mudah
terurai secara organik dengan mudah tersedia digunakan sebagai input,
keuntungan yang didapatkan akan berlipat dua: (a) nilai ekonomis biogas
dan effluent, dan (b) harga pencemaran lingkungan dapat dihindari dengan
penguraian limbah secara organik dengan cara ditaburkan ke lahan
pertanian.Salah satu dari beberapa hal yang menarik pada teknologi biogas
adalah kemampuannya untuk membentuk biogas dari limbah organik yang
jumlahnya berlimpah dan tersedia secara bebas.
Dalam pembuatan biogas, terdapat tiga tahap utama yang
mendasari proses terbentuknya gas. Ketiga tahap tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Hidrolisis
Hidrolisis merupakan penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai
panjang menjadi senyawa yang sederhana. Pada tahap ini, bahan-bahan
organik seperti karbohidrat, lipid, dan protein didegradasi menjadi
senyawa dengan rantai pendek, seperti peptida, asam amino, dan gula
sederhana. Kelompok bakteri hidrolisa, seperti Steptococci, Bacteriodes,
dan beberapa jenis Enterobactericeae yang melakukan proses ini. Berikut
merupakan reaksi yang terjadi pada tahap hidrolisis.

2. Asidogenesis
Asidogenesis adalah pembentukan asam dari senyawa sederhana. Bakteri
asidogen,Desulfovibrio, pada tahap ini memproses senyawa terlarut pada
hidrolisis menjadi asam-asam lemak rantai pendek yang umumnya asam
asetat dan asam format. Berikut merupakan 2 persamaan reaksi yang
terjadi dalam tahap asidogenesis.

3. Metanogenesis
Metanogenesis ialah proses pembentukan gas metan dengan bantuan
bakteri pembentuk metan seperti Mathanobacterium, Mathanobacillus,
Methanosacaria, dan Methanococcus. Tahap ini mengubah asam-asam
lemak rantai pendek menjadi H2, CO2, dan asetat. Asetat akan mengalami
dekarboksilasi dan reduksi CO2, kemudian bersama-sama dengan H2 dan
CO2 menghasilkan produk akhir, yaitu metan (CH4) dan karbondioksida
(CO2). Berikut merupakan persamaan reaksi yang terjadi pada tahap
metanogenesis.

Penghasilan biogas dapat mencapai kondisi optimum jika bakteri-bakteri
yang terlibat dalam proses tersebut berada dalam lingkungan yang nyaman.
Beberapa waktu ini kita dipusingkan oleh kenaikan harga bahan bakar
minyak (terutama minyak tanah) dan gas elpiji untuk rumah tangga maupun
industri. Di sisi lain, dengan meningkatnya kebutuhan persediaan BBM juga
sempat langka di beberapa tempat di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu faktor
mengapa biogas menjadi alternatif yang paling mungkin untuk dikembangkan.
Selain karena didasari dari faktor harga, pembuatan biogas memiliki banyak
manfaat terutama dalam upaya pemanfaatan limbah industri yang semakin hari
semakin meresahkan masyarakat. Pembuatan biogas dapat dimanfaatkan industri
terutama yang industri meghasilkan limbah organik. Dengan adanya pemanfaatan
limbah industri untuk pembuatan biogas, volume dari limbah organik yang
dibuang dapat berkurang karena digunakan sebagai bahan baku pembuatan
biogas. Pembuatan biogas juga menghasilkan gas metan yang dapat dimanfaatkan
industri untuk bahan bakar dalam proses produksi. Meskipun tidak dapat
menyokong kebutuhan listrik secara menyeluruh, penggunaan biogas dapat
menjadi salah satu langkah penghematan energi listrik industri.
Proses pengendalian limbah dengan pembuatan biogas memiliki
kelebihdan dan kekurangan. Kelebihan dari pengendalian limbah industri dengan
biogas adalah sebagai berikut :
1. Meminimalisir limbah yang dihasilkan industri sehingga resiko penyakit
dan bahaya dari limbah yang dihasilkan industri menjadi berkurang.
2. Biogas mampu membantu upaya meminimalkan pemanasan global dengan
membakar gas metana yang berasal dari limbah organik. Lebih baik gas
metana tersebut digunakan dibandingkan dibiarkan lepas ke atmosfer.
3. Sisa limbah yang dikeluarkan dari biodigester dapat dijadikan pupuk
organik yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman,
Sedangkan kekurangan dari pengendalian limbah industri dengan biogas:
1. Memerlukan dana tinggi untuk aplikasi dalam bentuk instalasi biogas skala
besar.
3. Sifat CH
4
yang tidak berbau maka sulit mendeteksi bila ada kebocoran
4. Mudah terbakar

Untuk melakukan pembuatan biogas pada praktikum pengendalian limbah
ini langkah pertamanya adalah menyiapkan limbah cair industri yaitu limbah cair
industri tempe. Limbah cair industri tempe yang digunakan adalah limbah hasil
cucian kedelai, limbah ini diambil sebanyak 17,1 L dan diwadahi dalam girigen.
Langkah berikutnya adalah menyiapkan starter yang berfungsi sebagai sumber
bakteri penghasil gas metan. Starter yang digunakan berupa buah-buahan busuk
dan sayuran busuk. Buah dan sayuran busuk tersebut dihancurkan kemudian
diukur sebanyak 0,9 L dengan menggunakan gelas ukur. Proses penghancuran
starter dilakukan agar proses pembentukan bakteri menjadi lebih cepat. Setelah itu
starter dimasukkan kedalam girigen yag berisi limbah kemudian girigen ditutup
dan dilapisi dengan vaselin rangkaian limbah dan starter ini biasa disebut
biodigester. Penutupan girigen ini dilakukan agar bakteri metagenik dapat hidup
dan berkembang dengan menciptakan lingkungan tanpa oksigen atau anaerob.
Sebelum girigen ditutup, terlebih dahulu dipasang selang pada bagian atas
permukaan dalam girigen. Pemasangan selang dilakukan agar gas metan yang
dihasilkan dapat keluar. Selanjutnya dilakukan pemasangan instalasi biogas
seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 1. Instalasi Biogas
Alat ukur biogas yang dipasang terdiri atas gelas ukur, wadah berisi
air,selang dan kawat. Air dalam wadah digunakan sebagai indikator penambahan
gas metan. Gelas ukur dipasang tebalik dan didalamnya terdapat selang yang
terhubung dengan biodigester. Selang dimasukkan kedalam gelas ukur dengan
hati-hati agar tidak ada air yang masuk kedalam selang. Volume air dalam gelas
ukur diusahakan sama dengan volume air dalam wadah agar memudahkan dalam
pengukuran volume gas metan yang keluar. Kawat digunakan untuk mengikat
rangkaian sehingga rangkaian kuat dan tidak berubah-ubah karena ragngkaian
harus dipertahankan selama 4 minggu. Setelah semua rangkaian siap, dilakukan
pengamatan secara periodik setiap hari selama 4 minggu dengan jam untuk setiap
pengamatan sama. Hal ini dilakukan agar hasil dari pengamatan tidak bias karena
perlakuan untuk setiap pengamatan sama.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh pada pengamatan hari
pertama yaitu pada tanggal 17 Maret belum ada pengurangan volume air sehingga
biogas untuk hari pertama sebesar 0 ml. Pada pengamatan hari kedua diperoleh
hasil biogas sebanyak 12 ml hal ini menandakan pertumbuhan bakteri yang sangat
pesat pada hari kedua sehinga produksi gas metan yang dikeluarkan jumlahnya
tinggi. Pada hari ketiga pengamatan diperoleh volume biogasnya sebesar 17 ml
atau bertambah 5 ml dari hasil hari kedua. Pada tiga hari pertama laju
pertambahan biogas yang tinggi dibandingkan dengan hari-hari setelahnya. Hal ini
dikarenakan pada periode tiga hari awal bakteri mengalami pertumbuhan yang
sangat pesat dengan demikian produksi gas metannya juga besar. Untuk hari
keempat hingga hari ke dua puluh delapan, laju pertambahan biogas rata-rata
setiap harinya sebesar 1 ml. Namun demikian tidak pasti setiap hari terjadi
penambahan. Seperti dapat dilihat pada hari ke-5 hingga hari ke-7 volume biogas
tetap pada 25 ml, pada hari ke-8 hingga hari ke-11 biogas tetap pada volume 27
ml, pada hari ke-16 hingga hari ke-20 volume tetap pada 31 ml dan pada hari ke-
28 volume biogas akhir sebesar 35 ml. Pada hari-hari terakhir laju pertambahan
biogas lebih sedikit dan cenderung konstan, hal ini dikarenakan siklus hidup
bakteri yang sudah berada pada fase dewasa dan menujuke fase kematian.
Pembuatan biogas di Indonesia sudah mulai banyak dilakukan oleh banyak
pihak. Selain dari pemerintah biogas sudah mulai banyak digunakan sebagai
alternatif pengolahan limbah industri. Salah satu industri yang melakukan
pembuatan biogas adalah PTPN V Riau yang melakukan pengolahan kelapa
sawit. PTPN V Riau menggunakan genset yang berbahan bakar biogas yang
mereka olah dari limbah pengolahan kelapa sawit (PKS). Bahan dasar biogas itu
diambil dari limbah kelapa sawit Tandung yang jaraknya sekitar 2 Km dari PKO
Tandun. Di sana, sebuah limbah cair PKS baunya menyengat. Kolam limbah
berukuran 110m x 50m dengan kedalam 6 meter, kini telah disulap menjadi bahan
dasar biogas. Biogas yang ditangkap kemudian dibersihkan dari kandungan H2S
dan diturunkan kadar airnya untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar
guna menggerakkan Biogas Generator dengan kapasitas 1000 kW/jam, yang
membutuhkan bahan bakar biogas sebesar 9.795,92 M
3
/ hari atau 489,80M
3
/jam
Listrik.
Pengolahan limbah industri dengan pembuatan biogas merupakan salah
satu upaya recycle dari pengendalian limbah. Karena peggunaan kembali limbah
yang telah dibuang menjadi gas metan yang dapat dimanfaatkan untuk baha bakar
hasil sampingnya juga bisa dijadikan pupuk.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan
biogas adalah adalah limbah terutama yang cair dari proses
produksi baik di industri komersil maupun dari kegiatan rumah
tangga. Seperti limbah cucian kedelai, limbah perebusan beras,
limbah pencucian ikan dan lain sebagainya.
2. Dalam proses pembuatan biogas, bahan yang diperlukan adalah
limbah cair organik dan starter yang berupa sayuran dan buah
busuk. Bahan tersebut digunakan sebagai tempat tumbuh bakteri
metanogen. Pemasangan instalasi pembuatan biogas terdiri atas
biodigester yaitu tempat tumbuh bakteri yang disusun sedemikian
rupa hingga dalam kondisi anaerob.
3. Dengan bahan baku pembuatan biogas yang berupa limbah yang
dapat didapatkan secara gratis dapat menghasilkan 35 ml gas
metana.

B. Saran
Volume dari pembuatan biogas bisa ditambah lagi sehingga hasil
yang didapatkan lebih banyak bisa sekaligus digunakan sebagai bahan
bakar pengganti.




LAMPIRAN