Anda di halaman 1dari 2

NU Online

Ajaran Sunan Muria Meruwat Bumi


Sabtu, 31/05/2014 19:09
O/eh Istah/yyah--
Jauh sejak zaman Walisongo, Sunan Muria telah mengajarkan pengikutnya untuk bersama meruwat bumi. Hampir tak pernah
disebut dan memang jarang yang tahu ihwal kontribusi dakwah Walisongo terhadap pelestarian bumi. Walisongo selama ini
lebih banyak dipahami sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa yang hanya menyampaikan risalah ketauhidan semata.
Jauh di salah satu puncak gunung Muria yang terpencil, Raden Umar Said (nama asli Sunan Muria) memilih menetap. Di sana,
ia tak hanya menghambakan diri dengan mengajak para penduduk gunung beriman. Lebih dari itu, juga mengajarkan konsep
teologi yang bersifat holistik-integratif. Mafhum dengan kondisi geografis dan keberlanjutan bumi tempat mereka tinggal,
Sunan Muria mengarahkan energi keimanan pada konsentrasi hajat pelestarian alam.
Tauhid yang diajarkan Sunan Muria menyentuh tiga ranah, mulai dari dimensi ketuhanan yang eskatologis-transendental,
dimensi sosial-ijtima'iyyah (antroposentrisme), sampai dimensi lingkungan (ekosentrisme). Ketiganya meniscayakan
diferensiasi terhadap cara dakwah Sunan yang lain. Baik ranah ketuhanan, sosial hingga lingkungan, dapat menyatu dalam satu
konsep keimanan. Segenap khazanah lokal berupa kearifan lingkungan yang bersumber dari agama pun segera
diejawantahkan.
Hal ini terlacak dari jejak-jejak peninggalan berupa beberapa situs yang dikeramatkan. Antara lain; buah Pari Joto, kayu Pakis
Haji, Air Gentong yang terdapat di lokasi pemakaman, Ngebul Bulusan, pohon Kayu Adem Ati, serta hutan Jati Keramat.
Segenap mitologi situs keramat alami tersebut, hingga kini dipercaya masyarakat mengandung tuah buah karomah Sunan
Muria.
Memaknai Mitos
Pari Joto yakni sejenis buah yang menjadi oleh-oleh khas Muria terutama bagi perempuan hamil. Masyarakat percaya jika
memakannya akan menyebabkan tambahnya kebaikan pada si jabang bayi. Buah ini menyimpan kiasan makna atas apa yang
disebutkan oleh Rasulullah berupa jintan hitam (HR. Al Bukhori) dan madu lebah (QS. An-Nahl: 68-69). Bagi Sunan Muria,
Pari Joto memiliki kemiripan dengan keduanya dalam hal kandungan gizi untuk menjaga kesehatan. Kendati demikian,
pemaknaan ini tak lantas cenderung parsial dan antroposentris. Seruan hadits tentang manfaat jintan hitam, informasi
Al-Qur`an tentang manfaat madu lebah, maupun mitos Pari Joto, tak sekedar memberi perintah konsumtif (intifa'), melainkan
juga memuat seruan untuk melestarikannya. Artinya, menjaga keberlangsungan eksistensi tumbuhan dan hewan bertuah ini
sama halnya menjaga manfaat kebaikannya, sehingga dapat diwarisi umat di hari mendatang.
Mitos Pakis Haji dari Muria yang dipercaya dapat mengusir tikus pemakan padi memakna spiritual-mistik yang bernuansa
teologis-kosmologik, sebagai bukti karomah yang diberikan Allah kepada Sunan Muria. Strategi mengusir tikus dengan media
alami berupa kayu ini sama sekali tak menghendaki pemusnahan hama. Sunan Muria paham betul, bahwa bagaimanapun tikus
tetap memiliki posisi penting dalam putar rantai makanan, fitrah interdependensi alam. Tak hanya mempertimbangkan
efektifitas menjaga tanaman belaka, namun selayak mitos Pari Joto, konsepsi pemanfaatan Pakis Haji ini pun
mempertimbangkan aspek kelestarian alam.
NU Online
Kesalehan lingkungan dalam ajaran Sunan Muria berikutnya dapat ditemukan pada situs Air Gentong Keramat di lokasi
makam yang juga diyakini menyimpan tuah. Di balik keramatnya, Air Gentong ini mendedahkan simbol spiritual.
Keberkahannya menyembuhkan dan mencegah penyakit, membersihkan dari kotoran jiwa dan memberikan manfaat
kecerdasan, merupakan inspirasi spiritual Islam atas benda suci ini. Ini sekaligus merupakan multifungsi air tersebut sebagai
simbol spiritual, medis dan ilmiah. Meminjam hasil penelitian Masaru Emoto Jepang, bahwa air dapat mentransformasi segala
pesan yang masuk ke dalam dirinya, sehingga dapat membentuk kualitas fisik dan manfaatnya. Demikian halnya kasus Air
Gentong Sunan Muria, ketika ia mendapat stimulus yang baik berupa doa, harapan dan itikad baik dari pemercaya mitos
keramatnya, maka air itu akan mentransformasi diri menjadi kebaikan-kebaikan seperti diharapkan.
Jejak Sunan Muria yang keempat yakni Bulusan dan Kayu Adem Ati. Bulus (penyu) dan pohon keramat yang kembali nampak
pada 17 Agustus 1945 setelah ratusan tahun sebelumnya menghilang ini menyimpulkan kesetaraan relasi antara manusia dan
alam. Segenap ritual yang sampai hari ini masih dilestarikan mengajarkan masyarakat akan pentingnya menghormati keduanya
sebagai sesama makhluk. Mitos yang berkembang, Bulus tersebut adalah jelmaan manusia pada masa Sunan Muria. Sehingga
masyarakat segan melukai atau mengganggu kehidupan makhluk yang dipandang sebagai nenek moyang mereka itu. Hal ini
menjadi sarana pembelajaran agar memperlakukan makhluk lain dengan baik, sama halnya berperilaku terhadap sesama
manusia. Segenap tuntunan ini pun terdapat dalam berbagai riwayat hadits Rosulullah dan firman Allah dalam Al-Qur`an.
Terakhir, pohon Jati Keramat Masin yang konon mengisahkan cinta berdarah putri Sunan Muria bersama seorang muridnya.
Hutan jati ini berusia ratusan tahun terhitung sejak zaman Sunan Muria dan tetap dilestarikan. Tak pernah sekalipun orang
berani menebangnya, jika tak ingin kena sial. Sebab diyakini bahwa, pohon-pohon itu punya ruh, dan merupakan hal yang tak
patut orang merusak dan melukainya. Akhirnya, hingga kini mereka dibiarkan terus tumbuh dan dijaga kelangsungannya. Ini
sesungguhnya mengandung teladan akan pentingnya konservasi hutan, agar bumi yang kian renta ini tetap terjaga
kesehatannya.
Wali Lingkungan
Menafsirkan segenap situs tersebut, berarti membaca pikiran Sunan Muria yang sarat dengan kesalehan lingkungan.
Setidaknya terdapat lima bangunan religius, yakni konsep Tauhid Lingkungan, Fikih Lingkungan, Tasawuf Lingkungan,
Filanekoreligi, dan Akidah Muttahidah, yang semuanya merujuk pada hajat pelestarian alam semesta.
Tauhid Lingkungan dalam segenap kajian mitos di atas bermakna akan hakikat alam ini adalah bentuk teofani Tuhan. Alam
menjelaskan segala sifat ketuhanan, sejak ke-Esa-an, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rizki, dan yang lain.
Karenanya, alam ini hal yang sakral dan wajib dijaga. Fikih Lingkungan menerjemahkan prinsip Maqashid Al Syari'ah (tujuan
ditetapkannya syariat) yang menghendaki terwujudnya kemanusiaan berbasis ekoreligi. Sementara, Tasawuf Lingkungan
merupakan bangunan etika terhadap lingkungan yang berkembang dari paradigma sufisme; dari religius-teosentris dan
antroposentris menjadi religius-ekosentris.
Istilah filanekoreligi yang tersematkan dalam ajaran Sunan Muria bermakna membangun keadilan dan kesejahteraan
lingkungan. Ini merupa kedermawanan lingkungan yang pada akhirnya memunculkan konsekuensi logis; kontribusi positif
terhadap eksistensi nilai-nilai kemanusiaan. Puncak ajaran Sunan Muria adalah Akidah Muttahidah. Yakni memaknai ibadah
tak sebatas dimensi mahdhah, melainkan sampai menyentuh persoalan lingkungan.
Maksudnya, akidah Islam diejawantahkan ke dalam tiga ranah hubungan sekaligus, yakni antara manusia, Tuhan, dan alam.
Terbentuk semacam segi tiga yang menunjukkan relasi antar ketiganya. Dalam hal ini, Tuhan menjadi titik paling atas sebagai
pusat hubungan. Sementara itu, alam merupakan mitra manusia dalam melaksanakan ibadah, sekaligus alam sebagai wujud
teofani Tuhan yang dengannya memancar segenap sifat ketuhanan. Demikian, tugas manusia sebagai seorang khalifah di muka
bumi (khalifah fil Ardl), yang di antaranya adalah mengelola alam, maka termasuk dimaknai juga sebagai ibadah. Perlu
dipahami, khalifah di sini berarti pemimpin, dan bukan penguasa. Artinya, tugas manusia adalah mengelola alam dengan arif,
bukan mengeksploitasinya secara serampangan. Begitu.

Istahiyyah, Pemimpin Redaksi Majalah Paradigma, tinggal di kaki Muria, Kudus


Tulisan ini diadaptasi dari buku Napak Jejak Pemikiran Sunan Muria. Dari Ekoreligi hingga Akidah Muttahidah` karya Widi
Muryono.