Anda di halaman 1dari 8

1

LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN INDOOR


MENGENAI ENTEROBIASIS

1. Latar Belakang
Penyakit cacingan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang memiliki angka kejadian relatif tinggi di Indonesia. Pada suatu studi
menemukan prevalensi sebesar 60-70%. Salah satu penyakit cacingan yang masih
banyak terjadi di Indonesia adalah infeksi cacing perut dari spesies Enterobius
vermicularis (cacing kremi). Hasil penelitian di daerah Jakarta Timur melaporkan
bahwa kelompok usia terbanyak yang menderita Enterobiasi sadalah kelompok
usia antara 5-9 tahun yaitu terdapat 46 anak (54,1%) dari 85 anak yang diperiksa.
Penularannya dapat terjadi dalam satu keluarga atau kelompok-kelompok yang
hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama, rumah piatu).
Survei kejadian infeksi cacingan khususnya infeksi cacing kremi pada
anak sekolah juga cukup tinggi. Angka kejadian yang ditemukan pada anak
sekolah ini mencapai 65,3 % yang terinfeksi cacing Enterobius vermicularis
(cacing kremi). Hal ini merupakan kondisi yang cukup memprihatinkan dan harus
mendapatkan penanganan. Kondisi higiene perorangan dan sanitasi lingkungan
rumah diprediksi menjadi faktor yang berpengaruh pada kejadian infeksi cacing
kremi pada anak tersebut.
Penyakit cacingan ini telah menginfeksi masyarakat dalam jumlah yang
relatif besar tetapi belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dalam
upaya penanggulangannya. Penyakit cacingan yang akan menyebabkan kematian
seketika merupakan salah satu alasan terabaiannya perhatian pada penyakit
menular ini, hingga penyakit cacingan menjadi salah satu penyakit menular yang
kurang diperhatikan (neglected diseases) oleh pemerintah di Indonesia.

2. Tempat : Puskesmas Jeulingke
Waktu : Sabtu, 26 April 2014
Peserta : Pasien yang datang ke puskesmas


2

3. Metode penyuluhan
Dilakukan penyuluhan pasien yang datang ke puskesmas yang sebelumnya
telah dibagikan brosur tentang penyakit enterobiasis. Terlebih dahulu
disampaikan secara ringkas mengenai penyakit cacingan, khususnya
enterobiasis. kemudian menjelaskan bagaimana cara pencegahan penyakit
dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
4. Penjelasan masalah kesehatan
DEFINISI
Penyakit infeksi cacing kremi atau enterobiasis sadalah infeksi usus pada
manusia yang disebabkan oleh cacing Enterobius vermicularis, merupakan infeksi
cacing yang terbesar dan sangat luas dibandingkan dengan infeksi cacing lainnya.
Enterobiasis merupakan penyakit keluarga yang disebabkan oleh
mudahnya penularan telur baik melalui pakaian maupun alat rumah tangga
lainnya. Anak berumur 5-14 tahun lebih sering mengalami infeksi cacing
Enterobius vermicularis dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih suka
menjaga kebersihan.
Klasifikasi cacing Enterobius vermicularis adalah:
Phylum : Nematoda
Class : Cecernentea
Subclass : Rhabditia
Order : Rhabditida
Suborder : Rhabditina
Superfamily : Oxyuroidea
Family : Oxyuridae
Genus : Oxyuris atau Enterobius
Spesies : O.vermicularis atau E.vermicularis

EPIDEMIOLOGI

Penyebaran cacing kremi lebih luas dari pada cacing lain. Penularan dapat
terjadi pada keluarga atau kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang
sama (asrama, rumah piatu). Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota
keluarga terifeksi E. vermicularis, telur cacing dapat dapat ditemukan 92% di
3

lantai, meja, kursi, toilet, bak mandi, alas kasur, dan pakaian. Angka prevalensi
pada berbagai golongan manusia 3% - 80% dengan kelompok terbanyak usia 5-9
tahun.
MORFOLOGI TELUR E. VERMIKULARIS
Telur E. vermicularis oval, tetapi asimetris (membulat pada satu sisi dan
mendatar pada sisi yang lain), dinding telur terdiri atas hialin, tidak berwarna dan
transparan, serta rerata panjangnya x diameternya 47,83 x 29,64 mm. Telur cacing
ini berukuran 50m - 60m x 30m, berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu
sisinya (asimetris). Telur jarang dikeluarkan di usus, sehingga jarang ditemukan di
tija. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan, pada
suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan
lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. Dinding telur bening dan agak tebal,
didalamnya berisi massa bergranula berbentuk oval yang teratur, kecil, atau berisi
embrio cacing, suatu larva kecil yang melingkar.

MORFOLOGI CACING E. VERMIKULARIS
Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior ada
pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Ekornya panjang dan
runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur 11.000
15.000 butir,bermigrasi ke daerah perianal utuk bertelur dengan cara kontraksi
uterus dan vaginanya.
Cacing jantan berukuran 2 5 mm,mempunyai sayap dan ekor melingkar
sehigga bentuknya seperti tanda tanya (?), spikulum pada ekor jarang ditemukan.









4

SIKLUS HIDUP
Manusia terinfeksi cacing ini bila menelan telur cacing ini. Telur yang termakan
menetas di duodenum dan larva yang keluar akan bermigrasi kebagian bawah
usus dan menjadi dewasa di situ. Bila cacing dewasa telah dibuahi akan
bermigrasi ke usus untuk bertelur. Telur yang dihasilkan betina per hari sekitar
11.000 butir, menjadi infeksius setelah 6 jam. Telur yang infeksius mengandung
protein yang mudah megiritasi dan mudah lengket baik pada rambut, kulit atau
pakaian. Telur akan tinggal di situ 2 6 minggu dan siap menginfeksi lagi. Siklus
dari telur sampai menjadi i nfeksius setelah 6 jam. Telur yang infeksius
mengandung protein yang mudah megiritasi dan mudah lengket baik pada
rambut,kulit atau pakaian. Telur akan tinggal di situ 2 6 minggu dan siap
menginfeksi lagi. Siklus dari telur sampai menjadi cacing dewasa yang bertelur
membutuhkan waktu minimum 15 hari.














CARA PENULARAN
Penularan dapat dipengaruhi oleh :
1. Penularan dari tangan kemulut sesudah menggaruk daerah perianal
(autoinfeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun
5

kepada diri sendiri karena memegang benda-benda atau pakaian yang
terkontaminasi.
2. Debu merupakan sumber infeksi karena mudah diterbangkan oleh angin
sehingga telur melalui debu dapat tertelan.
3. Retrofeksi melalui anus : larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali
masuk ke usus.

GEJALA KLINIS
Ciri- ciri terkena infeksi cacing kremi adalah: gatal pada anus terlebih pada
malam hari, gatal pada alat kelamin anak wanita apabila cacing masuk ketempat
tersebut, kurang tidur karena rasa gatal, rasa gatal ini harus dibedakan dengan rasa
gatal yang disebabkan oleh jamur, alergi, dan pikiran. Gejala lain adalah
anoreksia, badan menjadi kurus, sukar tidur dan pasien menjadi iritabel, seringkali
terjadi terutama pada anak. Pada wanita dapat menyebabkan vaginitis. Cacing
dewasa di dalam usus dapat menyebabkan gejal nyeri perut, rasa mual, muntah,
diare yang disebabkan karena iritasi cacing dewasa pada sekum, apendiks dan
sekitar muara anus besar.

DIAGNOSIS
Diagnosis dilakukan berdasarkan riwayat pasien dengan gejala klinis positif.
Diagnosis pasti dengan di temukannya telur dan cacing dewasa. Selain itu,
diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan tinja dan anal swab dengan metode
Scotch adhesive tape swab.
Pada pemeriksaan tinja dapat ditemukan adanya cacing dewasa. Cacing
jantan dewasa setelah kopulasi mati dan keluar bersama tinja. Sementara dengan
metodeScotch adhesive tape swab, dapat menemukan telur yang diletakkan di
daerah perianal.
Anal swab adalah suatu alat dari batang gelas atau spatel lidah yang pada
ujungnya dilekatkan scotch adhesive tape. Bila adhesive tape ini ditempelkan di
daerah sekitar anus, telur cacing akan menempel pada perekatnya. Kemudian
adhesive tape diratakan pada kaca benda dan dibubuhi sedikit toluol untuk
pemeriksaan mikroskopik. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tiga hari berturut-
6

turut. Pemeriksaan darah tepi umumnya normal, hanya ditemukan sedikit
eosinophilia.
PENCEGAHAN
Adapun pencegahan yang dapat dilakukan adalah: mencuci tangan
sebelum makan dan setelah BAB, memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku,
mencuci sprei minmal 1x/minggu, menncuci jamban setiap hari, menghindari
penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari tangan dan setiap benda
yang dipegang, menjauhkan jari tangan dari hidung dan mulut.

5. Tanya jawab dengan peserta.
a. Bagaimana cara mencegah supaya tidak terkena cacingan?
Jawab: Pastikan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum
makan/setiap habis dari toilet, jagalah selalu kuku untuk selalu bersih
dan terawat, hindari kebiasaan menggigit kuku/menggaruk anus,
menncuci jamban setiap hari, mencuci sprei minmal 1x/minggu
b. Bagaimana sebaiknya jika sudah terlanjur cacingan?
Jawab : Apabila ada anggota keluarga yang terkena cacingan, bawa
kedokter. Sebaiknya pengobatan juga diberikan untuk seluruh anggota
keluarga untuk mencegah terjadinya penularan cacing tersebut. Selama
masa pengobatan hindari penularan cacingan keanggota keluarga lain
dengan cara mencuci tangan dengan sabun setiap habis ke toilet atau
sebelum menyentuh makanan. Hindari juga menyentuh mulut dengan
tangan yang belum dicuci.

6. Penutup
Enterobiasis adalah penyakit akibat infeksi nematode, khususnya enterobius
vermikularis, merupakan infeksi cacing yang terbesar dan sangat luas
dibandingkan dengan infeksi cacing lainnya.
Enterobiasis merupakan penyakit keluarga yang disebabkan oleh mudahnya
penularan telur baik melalui pakaian maupun alat rumah tangga lainnya. Anak
berumur 5-14 tahun lebih sering mengalami infeksi cacing Enterobius
vermicularis dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih suka menjaga
kebersihan.
7



Banda Aceh, April 2014




























Mengetahui
Kepala UPTD Puskesmas Jeulingke


dr. Suraiya
NIP. 19681021 200212 2 001
Dokter Pembimbing


dr. Astimarningsih
PEG. 800/SPK/006/2014








8



Lampiran Dokumentasi Kegiatan