Anda di halaman 1dari 3

Jenis-jenis Antibodi

Antibodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk
melindungi tubuh lewat proses kekebalan (immune). Ada lima macam immunoglobulin, yaitu IgG,
IgM, IgA, IgE, dan IgD.
a. Immunoglobulin G (IgG)
IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun
perlahan-lahan, dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. IgG beredar dalam
tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Senyawa ini akan terbawa
aliran darah langsung menuju tempat antigen berada dan menghambatnya begitu terdeteksi.
Senyawa ini memiliki efek kuat antibakteri maupun virus, serta menetralkan racun. IgG juga mampu
menyelinap diantara sel-sel dan menyingkirkan mikroorganisme yang masuk ke dalam sel-sel dan
kulit. Karena kemampuan serta ukurannya yang kecil, IgG merupakan satu-satunya antibodi yang
dapat dipindahkan melalui plasenta dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya untuk melindungi
janin dari kemungkinannya infeksi yang menyebabkan kematian bayi sebelum lahir. Selanjutnya
immunoglobulin dalam kolostrum (air susu ibu atau ASI yang pertama kali keluar), memberikan
perlindungan kepada bayi terhadap infeksi sampai sistem kekebalan bayi dapat menghasilkan
antibodi sendiri.
b. Immunoglobulin A (IgA)
Immunoglobulin A atau IgA ditemukan pada bagian-bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir,
misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus. IgA juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh
lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus.
Antibodi ini melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI
akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi
yang baru lahir.
c. Immunoglobulin M (IgM)
Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen
masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan
tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap
selama 1-3 bulan, kemudian menghilang.
Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika janin terinfeksi
kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. IgM banyak terdapat di dalam darah, tetapi
dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam organ maupun jaringan. Untuk mengetahui apakah
janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.
d. Immunoglobulin D (IgD)
Immunoglobulin D atau IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B,
tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada
permukaan sel-sel T, mereka membantu sel-sel T menangkap antigen.
e. Immunoglobulin E (IgE)
Immunglobulin E atau IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini kadang
juga menimbulkan reaksi alergi akut pada tubuh. Oleh karena itu, tubuh seorang yang sedang
mengalami alergi memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE penting melawan infeksi parasit, misalnya
skistosomiasis, yang banayk ditemukan di negara-negara berkembang.
ANAFILAKSIS
Anafilaksis adalah suatu respons klinis hipersensitivitas yang akut, berat dan menyerang
berbagai macam organ. Reaksi hipersensitivitas ini merupakan suatu reaksi
hipersensitivitas tipe cepat (reaksi hipersensitivitas tipe I), yaitu reaksi antara antigen
spesifik dan antibodi spesifik (IgE) yang terikat pada sel mast. Sel mast dan basofil akan
mengeluarkan mediator yang mempunyai efek farmakologik terhadap berbagai macam
organ tersebut. Selain itu dikenal pula istilah reaksi anafilaktoid yang secara klinis sama
dengan anafilaksis, akan tetapi tidak disebabkan oleh interaksi antara antigen dan
antibodi. Reaksi anafilaktoid disebabkan oleh zat yang bekerja langsung pada sel mast
dan basofil sehingga menyebabkan terlepasnya mediator.

Reaksi hipersensitifitas tipe 1 timbul segera setelah adanya pajanan dengan alergen. Reaksi ini dapat
terjadi dalam hitungan menit setelah terjadi kombinassi antigen dengan antibodi yang terikat pada
sel mast pada individu yang telah tersensitisasi terhadap antigen. 3 Reaksi ini seringkali disebut
sebagai alergi dan antigen yang berperan disebut sebagai alergen. Alergen yang masuk ke dalam
tubuh akan menimbulkan respon imun berupa produksi IgE dan penyakit alergi seperti rinitis alergi,
urtiakria, asma dan dermatitis atopi. Reaksi tipe ini merupakan hipersensitifitas yang paling sering
terjadi.
Reaksi anafilaktik ini memiliki tiga tahapan utama berupa fase sensitisasi, fase aktivasi dan
fase efektor. Fase sensitisasi merupakan waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE
sampai diikat silang oleh reseptor spesifik pada permukaan. Fase aktivasi merupakan waktu
yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen spesifik dan sel mast/basofil melepas
isinya yang berisikan granul yang nantinya akan menimbulkan reaksi alergi. Hal tersebut
terjadi oleh ikatan silang antara antigen dan IgE. Fase efektor yaitu waktu terjadi respons
yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas oleh sel
mast/basofil dengan aktivitas farmakologik.
1. Fase Sensitisasi
Hampir 50% populasi membangkitkan respon IgE terhadap antigen yang hanya dapat
ditanggapi pada permukaan selaput mukosa saluran nafas, selaput kelopak mata dan bola
mata, yang merupakan fase sensitisasi. Namun, hanya 10% yang menunjuka gejala klinis
setelah terpapat alergen dari udara.
Jika pemaparan alergen masih kurang adekuat melalui kontak berulang, penelanan, atau
suntikan sementara IgE sudah dihasilkan, individu tersebut dapat dianggap telah mengalami
sensitisasi. IgE dibuat dalam jumlah tidak banyak dan cepat terikat oleh mastosit ketika
beredar dalam darah. Ikatan berlangsung pada reseptor di mastosit dan sel basofil dengan
bagian Fc dari IgE. Ikatan tersebut dipertahankan dalam beberapa minggu yang dapat terpicu
aktif apabila Fab IgE terikat alergen spesifik.
2. Fase Aktivasi
Ukuran reaksi lokal kulit terhadap sembaran alergen menunjukan derajat sensitifitasnya
terhadap alergen tertentu. Respon anafilaktik kulit dapat menjadi bukti kuat bagi pasien
bahwa gejala yang dialami sebelumnya disebabkan alergen yang diujikan.
Efektor utama pada hipersensitifitas tipe I adalah mastosit yang terdapat pada jaringan ikat di
sekitar pembuluh darah, dinding mukosa usus dan saluran pernafasan. Selain mastosit, sel
basofil juga berperan.
Ikatan Fc IgE dengan molekul reseptor permukaan mastosit atau basofil mempersiapkan sel
tersebut untuk bereaksi bila terdapat ikatan IgE dengan alergen spesifiknya. Untuk aktivasi,
setidaknya dibutuhkan hubungan silang antara 2 molekul reseptor yang mekanisme bisa
berupa:
1. hubungan silang melalui alergen multivalen yang terikat dengan Fab molekul IgE
2. hubungan silang dengan antibodi anti IgE
3. hubungan silang dengan antibodi-antireseptor
Namun, aktivasi mastosit tidak hanya melalui mekanisme keterlibatan IgE atau reseptornya.
Anafilatoksin C3a dan C5a yang merupakan aktivasi komplemen dan berbagai obat seperti
kodein, morfin dan bahan kontras juga bisa menyebabkan reaksi anafilaktoid. Faktor fisik
seperi suhu panas, dingin dan tekanan dapat mengaktifkan mastosit seperti pada kasus
urtikaria yang terinduksi suhu dingin.
Picuan mastosit melalui mekanisme hubungan silang antar reseptor diawali dengan
perubahan fluiditas membran sebagai akibat dari metilasi fosfolipid yang diikuti masuknya
ion Ca
++
dalam sel. Kandungan cAMP dan cGMP berperan dalam regulasi tersebut.
Peningkatan cAMP dalam sitoplasma mastosit akan menghambat degranulasi sedangkan
cGMP dapat meningkatkan degranulasi. Dengan begitu, aktivasi adenylate cyclase yang
mengubah ATP menjadi cAMP merupakan mekanisme penting dalam peristiwa anafilaksis.